The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tika Dani_Bait Awal Lalu Karya_Kumpulan Puisi (Terbit Tahun 2020)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tikadani01, 2023-02-11 08:24:48

Bait Awal Lalu

Tika Dani_Bait Awal Lalu Karya_Kumpulan Puisi (Terbit Tahun 2020)

Keywords: Kumpulan Puisi

BAIT AWAL LALU


2 | Penulis


Judul Buku | 3 BAIT AWAL LALU Tika Ayu Widyaningrum Wardani


4 | Penulis Bait Awal Lalu Karya : Tika Ayu Widyanngrum Wardani ISBN : 978-623-7796-55-8 Desain cover : Akido Akida Tata Letak : Hidayatul Hasanah Editor : Hida Diterbitkan oleh : MADINA PUBLIKA Kupi-kupi Jl. Brigjend Katamso, Bakalan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah – 57168 | [email protected]. Telp. 08998620895 | IG : madinapublika | FB : madinapublika Cetakan Pertama, maret, 2020 Hak Cipta dilindungi Undang-undang All Rights Reserved Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa seizin tertulis dari penerbit.


Judul Buku | 5 Kata Pengantar Terimakasih yang pertama untuk allah SWT atas limpahan karuniaNya buku ini bisa terbit. Terimakasih untuk kakak ipar yang telah mengenalkan “Ngoas Puisi” Terimakasih untuk Mama, Bapak dan kedua kakakku yang selalu mensupport pada setiap hal yang saya lakukan. Terimakasih untuk teman-teman terdekat yang selalu setia menemani. Terimakasih, Ngoas Puisi yang sudah sangat membantu melancarkan challenge ini. Semoga Ngoas Puisi, bisa menjembatani penulis pemula sampai pada titik ini. Salam Aksara!


6 | Penulis Daftar Isi Kata Pengantar .................................................................... 5 Daftar Isi.............................................................................. 6 #1 Mesin Waktu.................................................................. 9 #2 Merindu Bersamamu .....................................................10 #3 Cerita Panjang Diwaktu Yang Singkat ..........................12 #4 Nyanyian Rindu .............................................................14 #5 Selamat Hari Ibu.............................................................16 #6 Langkah..........................................................................18 #7 Aku Akan....................................................................... 20 #8 Pergi Tak Kembali......................................................... 22 #9 Lekaslah Membaik......................................................... 23 #10 Pendewasaan................................................................. 24 #11 Fatamorgana Menjelma................................................ 25 #12 Perpisahan..................................................................... 26 #13 Gulma Senja.................................................................. 27 #14 Bunga Tetap Bunga....................................................... 28 #15 Selamat Tahun Baru...................................................... 29 #16 Hidupmu Milikmu......................................................... 31 #17 Jangan Terluka Lagi...................................................... 32


Judul Buku | 7 #18 Tetap Bersamaku............................................................ 34 #19 Bicara Jangan Asal......................................................... 35 #20 Senja Ciptaanmu............................................................. 36 #21 Bebaskan Aku!................................................................ 37 #22 Rindu Hujan.................................................................... 38 #23 Kembalilah...................................................................... 39 #24 Rindu Masih Kamu......................................................... 40 #25 Sugar............................................................................... 41 #26 Tolong! Pulanglah........................................................... 42 #27 Datang............................................................................. 43 #28 Happy Anniversary......................................................... 44 #29 Cukup Egois.................................................................... 45 #30 Ampuni Hambamu......................................................... 46 #31 Pergi Tak Berpesan......................................................... 47 #32 Lepaskan ........................................................................ 48 #33 Baik................................................................................. 49 #34 Aku Harap....................................................................... 50 #35 Jangan Takut.................................................................... 51 #36 Sehelai Budi..................................................................... 53 #37 Kalimat Klasik................................................................. 55 #38 Nyanyian Rindu............................................................... 56 #39 Bunglon............................................................................ 57 #40 Masa Lalu......................................................................... 58 #41 Kusuka Senja.................................................................... 60


8 | Penulis #42 Jangan Hanya Diam........................................................... 61 #43 Ibu...................................................................................... 62 #44 Hanya Rindu...................................................................... 63 #45 Tetap Di Tempatmu........................................................... 64 Tentang Penulis......................................................................... 65


Judul Buku | 9 #1 MESIN WAKTU Waktu memuai begitu hebatnya Pembelaan diri tak bisa terus ditutupi Aku sadar, akar pokok logaritma rindu Mengarah kepada adab, abad dan jarak Berlaku selayaknya adab Karena ia tersusun apik diselembar kertas temu Menjelma sebagai melow drama bertokoh orang pertama pelaku utama Dia mengambil pesan dan kesan mengasyikan Terkadang, dia membuatku menunggu tanpa tahu Permulaan berawal sejak abad keberapa Sepersekian abad, dia datang beribu hirauan Mengubah jarak menjadi tatap Dan lalu Saling mengenggam Namun, entahlah Sampai kapan semua enyah Hingga kapan pula? Semua seperti sediakala Hanya saja yang terpetik kali ini adalah berdasarkan rindu persoalanmu Sukoharjo, 18 Desember 2019


10 | Penulis #2 MERINDU BERSAMAMU Hey, kau apa kabar? Aku rasa kian apik, tapi Apakah kau tahu dan lalu mengabarkan bahwa kau baikbaik saja Huft! Tidak aku rasa, sebab kau telah membiru bagai nyiur rintik hujan selepas semerbak harum bunga lili Petikanmu untukku Kini, semua melebat begitu saja Hingga semak belukar Adalah peradunmu dalam algojo seperaduanku Titik tempuh rindu yang bagaimana lagi, Yang menundukkanmu? Aku tanya sekali lagi, kau minta apa? Dari kedatanganmu baik-baik yang seakan menamparku Habis-habisan didalam seminya pelangi saat senja akan mengucap janji perpisahan Aku benar muak untuk dihadapkan dengan angkuhmu dalam menuntunku Tapi aku ingin selalu bersamamu Seirama nada lirih angin sepoi di pesisir pantai ARGH!! Aku harus apa, untuk mencapai puncak tanpa genggammu secepat kilat Aku kira, aku tengah berbincang mesra dengan hati Tapi tanpa gubris kau mencuatkan nada pesan mengelora HAH, ini apa? Dan kau sebenarnya siapa? Hati, tolong!


Judul Buku | 11 Sampaikan keadilan untukku, untukmu dan untuknya Agar aku segera hengkang dengan baik Tanpa harus semuanya menangis Sukoharjo, 19 Desember 2019


12 | Penulis #3 CERITA PANJANG DIWAKTU YANG SINGKAT Semua akan menjadi cerita panjang diwaktu yang singkat Entah cerita yang mengelitik dijiwa atau cerita yang paling memalukan sepanjang sejarah Tapi, setiap langkah yang melaju Pada dunia yang mengecamnya pecundang Itulah hak yang tetap harus ditawar dengan perbaikan Dimulai dari mananya, tergantung hati yang memimpin Karena aku percaya bahwa hati adalah alarm paling tepat waktu untuk memaparkan Sebuah rasa, cinta dan bahagia Bukan mantra yang orang-orang anggap kunci dari lagu yang bervokal merdu Karena apa? Karena mantra bukan kunci cerita yang pantas orang lain dengar Setiap detik berlalu dari waktu dimana aku dilahirkan


Judul Buku | 13 Aku selalu menilai bahwa presepsi orang lain hambatan Untuk menaklukkan hati yang tengah berjuang melerai perkelahian antar rindu dan sendu Untuk itu, sudah sepantasnya aku melepas ambang batas yang membantingku hingga tak tahu malu Sudah seharusnya kini, aku memperlakukan isyarat hati sebagaimana mestinya bukan seperti apa akibatnya Sukoharjo, 20 Desember 2019


14 | Penulis #4 NYANYIAN RINDU Terima kasih Untuk rindu yang selalu kau ungkit Untuk rindu yang tak pernah ada tepinya Untuk rindu yang sempat tak tuntas ini Sungguh, aku sangat murka Apabila kau kerap kali melayangkan surat rindu yang begitu sendu T A P I Ada luka disini, bukan luka yang kau sempat buat Namun, luka yang harusnya mengering dan berangsur pulih Justru sekarang masih berlubuk disana dan belum punah sama sekali


Judul Buku | 15 Aku tak tahu harus dengan rumus berapa kuadran lagi agar aku dapat menjajaki sebuah tempat dimana aku dapat menari dengan irama lagumu Sukoharjo, 21 Desember 2019


16 | Penulis #5 SELAMAT HARI IBU Kau Adalah cinta disekujur tubuh ini Kau Luka dari liku yang membiru Kau Pergi untuk petang Dan kau Petang dari sebuah malam Segala hadir telah berpihak padamu Kau rindu yang merdu Kau pula sedih yang terurai Aku tak tahu lagi, bagaimana cinta selalu indah untukku Sementara kasihmu sederhana dalam mengutarakan rasa


Judul Buku | 17 Aku tak paham, dimana nalarmu disaat aku mengkafirkan lajumu hanya dengan beralasan asal aku bahagia Hanya itu Aku terlalu busuk untuk menerima kekalahan ini Aku selalu memuji bahwa aku ini paling baik dan palingpaling yang lainnya lagi Nyatanya aku bukan apa-apa tanpamu Bahkan aku terlalu amatir mengulas sebuah perjuangan Secarik pesan dan selembar cerita Aku terlalu remeh untuk mencerna penerimaan buruk dari seluruh dunia tapi kau hadir Kau pondasi yang kokoh Kau akar yang kuat Kau cinta yang sesumgguhnya Sukoharjo,22 Desember 2019


18 | Penulis #6 LANGKAH Harap tak kuasakan membendung segala yang membujur Guyup berikut serta merta dalam menua Semua belahan bumi barat daya takjub akan dewasa yang membaik Tentang pikir yang membijak dan Sebuah mata yang redup penuh kehangatan Alunan musik klasik favorit beriring Penjuru tertuju satu sudut Menyaksikan, mulut yang kian lihai Bak atlet lincah dalam geraknya Buncah, semua ambruk tak terelakkan Hingga kedatangan angin mengubah lembut menjadi ribut Laut berkabut mengirim isyarat Pesan hangat untuk disyiarkan dengan terang-terangan Ketidakpastian mengiur diseluruh gelombang pasang Dan nyarisnya


Judul Buku | 19 Surut menjelma bagai dua muka terombang-ambing riuh kerumunan Lalu pulang penuh kepercayaan Pergi tanpa meniadakan Serbuk-serbuk embun mengugurkan ragu yang kian goyah Pada akhirnya, Semua tenang Bersemayam dalam doa mengubah harap Dengan yang lebih menyenangkan Sukoharjo, 23 Desember 2019


20 | Penulis #7 AKU AKAN Aku, Akan menjadi yang paling peduli disaat semuanya tak acuh Aku, Akan menjadi yang terdepan disaat semua orang mundur perlahan Aku, Akan menjadi pemenang disaat semua orang mengabaikan Aku, Akan tetap disisimu meskipun orang-orang melewatkanmu Tunggu dan lihatlah, siapa yang akan kembali Setelah semuanya pergi? Siapa yang akan menjadi kuat setelah semuanya melemahkanmu? Siapa? Aku tanya sekali lagi Siapa yang paling berani memeluk erat disaat orang tersayangmu mulai melepaskan?


Judul Buku | 21 A K U Dan hanya aku bukan? Kau memberanikan diri untuk nekat tak mengakui Dan kekeh menyembunyikan jilidan-jilidan ceritaku bersamamu Kau sungguh lucu HAHAHAHA Hingga mengelitik perutku Kau ini persisi public figure Mampu memutar balik kata hina menjadi bina Dasar! Kau sungguh mirip dengan aktor dan semacamnya Yang mampu merubah luka menjadi tawa Sementara hatimu kian perih dan lara Pada saat itu, aku mengajukan sebuah tanya Kamu apa kabar? Kau tetap nekat berkata sangat bahagia Apakah itu sebuah cinta? Sukoharjo, 24 Desember 2019


22 | Penulis #8 PERGI TAK KEMBALI Menyongsong harap berimbuhan semoga Penuh alegori dalam bermajas Huft! Hela nafas seolah membuang karbondioksida kepenatan Kau pun datang, beribu seru kau hamburkan Jari kelingking tak lagi mau mengucap janji Kau mengelak, menolak segala gundah seperaduanmu Kerak bermekaran seolah merekah Namun kenyataannya membusuk begitu saja Angin sepoi mengugah raga yang sempat tak tenang Datang dan pulang selalu diikrarkan Alhasil, kau tak kembali Bagai tersembunyi dalam akuarium Berlumut didasar laut Kau meronta, Namun semesta tertawa lepas Saat tahu kau telah membiru bersama penghuni benua baru Sukoharjo, 25 Desember 2019


Judul Buku | 23 #9 LEKASLAH MEMBAIK Bilur muncul seketika sipumu meredup Pemecah hening, khawatir bertubrukan Alergi macam apa lagi yang kau timbulkan? Sampai pulang kau berangsur-angsur sempit Tidak tahu malu kau ini Aku saja, tetap diam dalam sejuta bahasamu Mempertunjukkan aksimu yang begitu gila Aku benci, Derapmu menetes Melihat embunmu menembus segubrak rentetan cerita Menuai sesal Seiring kalimat metaforamu terucap Aku benar beranjak melangkah pergi Tanpa peduli kau terluka parah atau tengah Berpura-pura melemah dari ketidaktahuanku Yang hanya menimbulkan suatu kecemasan tanpa tahu Adalah gaya bahasamu yang menepis segala raguku untuk berat melangkah pulang Yang kutahu sekedar ingin kau baik Dan membaik selayaknya sedia kala tanpa segudang pengandaian Sukoharjo, 26 Desember 2019


24 | Penulis #10 PENDEWASAAN Berbenahlah agar kau tahu rasanya pendewasaan Agar kau paham bagaimana mempersiapkan lagu merdu di penghujung malam penuh bintang Tanpa memandang remeh orang-orang yang kau anggap bedebah Agar kau tahu makna dari mencintai dan dicintai Kau melihat apik saat anak kecil bermain balon Kala hujan lebat di jalanpedesaanmu Dan kau pikir buruk ketika sang bocah merengek Meminta padamu untuk mengambilkan balon yang tersangkut ranting pohon Kau malah mencercah bahwa anak itu sangat manja Namun kau putar ulang masa 18 tahun yang lalu Kau mengakui, dia bukan anak kecil yang manja Sebaliknya kau melaksanakan permintaan si anak dengan baik Kau tersenyum hangat Kala anak kecil seusia adikmu berterimakasih padamu dengan kepolosannya Kau hanya mengatakan “lain kali hati-hati ya dik” Sambil mengusap rambutnya yang berponi itu Wahai hati terimakasih banyak atas hangatmu yang menyejukkanku, begitu katamu dalam hati sembari melangkah pulang Sukoharjo, 27 Desember 2019


Judul Buku | 25 #11 FATAMORGAN MENJELMA Surya kian baligh Memboyong asa pada senja Bergeming seolah bisu Indah kilau bak siluet Pendasaran menakjubkan bagai cindra mata Busur mengembang kempis Pulang terseser tak berupa, membentuk kiasan yang bernyawa Aurora berbinar bak bidadari tersenyum mesra, hijau melambai Ratapan memanas, sudut kiprah mengelegar Menjurus kearah atap berkecamuk Oleh rintih Berduri, benar sangat berduka cita Hingga senyawa kimia sengaja meresap Tanpa gubris secuilpun Janggal, ada yang tertumpuk dan terlewatkan Fatamorgana? Bukan Hanya hiasan pelupuk yang memburuk Sepekan tarian lihai berserak Tak tertata permanen Serupa perumpamaan sebuah drama kolosal ringkas diulas Terang bersemayam, hembus menghela Tidak sirna melainkan ramai dengan presepsi ribuan hujatan Sukoharjo, 28 Desember 2019


26 | Penulis #12 PERPISAHAN Dentuman piano kembali mencuat Damai terusik, gundah reda Lirih nada tergubah, merasuk jiwa berupa tawa Nadi tertawan gerusan pada tiap-tiap rongga Beranjak! Namun diam Pergi! Tapi disini Jauh! Tetap berdiri Kuatkan! Kian ambyar Haduh! Teriak keras bergelora Ada hati bergejolak Sejengkalpun tak beralih Derap hilir mudik Bakiak meneruskan papasan angin Tiada elak, hanya merayap Terkesan senyum berukir kisah belum lenyap Ada hari berkesan melodrama yang terngiang Bulan bertajuk bintang tak menetes kali pertama Embun bersinar fajar, Siang teramat terik untuk mencerna sebuah nurani Malam begitu dingin untuk menyambut upacara rindu Selepasnya, sumpah serapah sudah sah Tiada bantah segera berubah Sukoharjo, 29 Desember 2019


Judul Buku | 27 #13 GULMA SENJA Kerumunan tercipta sedari komunitas datang Seleksi alam bercagar Harum, nampak kiasan dalam dongeng Pujian hanya sekedar cover pembuka novel Aliran senja dan surya Kabar, baiknya ketika baris demi baris dari sederet angka sederhana kolaborasi antar susunan kalimat cacat berdendang dan bait berirama balok bervokal merdu Gurindam seakan peperangan Seduhan, teh melati tersaji kala kelopak mata mulai menerka meja dihadapan Selepas reda, fajar bangkit dengan gamblang Porak-poranda dalam bilik bambu yang redup Seisi relung berserak tanpa terkecuali Tamat begitu saja, usai memar berkecamuk dan meradang Merajalela bak gulma yang mengerombol terkoyak riuh angin Lantang kau padamkan Selesai dalam kebut semalam Kini kau bersahaja hangat dalam peluk Sang Pencipta Sukoharjo, 30 Desember 2019


28 | Penulis #14 BUNGA TETAP BUNGA Berulang kau kibaskan Seperti bacaan salin Salinan copy paste Tiruanmu melenakan Bujukmu berupa tawa ganda yang zigzag Pemanasan melatimu menjadi punggung disaat hilir Mudik debit air sungai meluap tak terbendung Terbengkalai sebuah doa bersyair cinta dalam serpihan harap Terapung bebas, melaju tak kenal lelah Berpapasan dengan salam dan sapaan lembut yang persis seperti presisimu kala itu Kau tetap nekat menyambutnya Merangkul dalam pelukan Kau korbankan lagi di taman penuh bintang Kau hamburkan waktu terseok-seok untuknya lagi Kau terluka lagi dan kau menepis gelisah sendirian lagi Kau move on seorang diri, tanpa dia harus kau panggil kembali Kau berdiam diri, tanpa tuntutan atau cercahan dalam pesanmu kepadanya Kau baikan lalu dia datang Kau tetap bersalam seperti serupa berurutan Kau masih meladeni senyumnya yang kau anggap anggun itu Sukoharjo, 31 Desember 2019


Judul Buku | 29 #15 SELAMAT TAHUN BARU Sepucuk surat menari bebas di alam luas Dengki lagi yang kau ucap? Pikuk menyengsarakan saja . Bermuka dua adalah milikmu Sisanya, buruk rupa kau namakan padaku . Durhaka! Kau melampaui batas nalar Kau berontak melebihi amuk . Memudar Kau berpamitan . Bulan memutar searah jarum jam Tampak serupa Karaktermu tak berevormasi sepercik pun . Menit bergerombol metamorfosis tanpa kutik Serupa batuan terjal tak terkira . Salam kepergian akhir tahun Kembang api berserta terompet itu Terngiang senada . Kau meredup, menampakkan kesan kepedihan Menarik bukan? Januari yang kau mulai Kau anggap projectmu


30 | Penulis . Ambisimu mengelegar Meracuni segenap insan Kau berpamitan pada malas * Selamat tinggal 2019 So HAPPY NEW YEAR BE BETTER AND BLESSING Sukoharjo, 1 Januari 2020


Judul Buku | 31 #16 HIDUPMU MILIKMU Menualah, Tapi satu hal, Jangan menyebalkan! Tetaplah dewasa seperti maumu, Seperti inginmu dan lurus dengan jalanmu Tumbuhlah sebagai circle yang membusur berdasarkan Kata hati bukan kata mereka Jadilah, sejadi-jadinya kau ingin menjadi Terserah apa maumu Di sini doa beriring saat kau pulang dan berpergian Dewasadengan passion dan tekadmu Kalau kau benci tinggalkan Senang? Tinggallah Sekarang bukan saatnya beratok pada “seandainya” Atau bahkan “katanya” Melainkan berlaku adil pada hidup sebagaimana mestinya Tanpa tekanan dan kekangan Kau adalah penentu hidupmu! Jadi tetaplah bisu dan tuli dengan mulut sampah yang berserakan itu Jadilah buta pada semua mata yang menghardikmu Sukoharjo, 2 Januari 2020


32 | Penulis #17 JANGAN TERLUKA LAGI Harap-harap mimpi kembali kau layangkan Sedini ini iming-iming kau taburkan Sekilat ini kau melobi hati tanpa ketakutan Secuat ini pula kau berjanji tanpa menanti / Inikah lelucon si kancil pencuri timun ladang pak Mansyur? Atau dialog roman tak bertuan? Ataukah cerita sapi dungu yang egois / Sekiranya memilukan lantas aku keheranan Ribuan sesal tak pernah datang Bilamana kau mengambur bak debu dilautan sebrang / Proses penjaringan kau ragukan Yang nyata kau tinggalkan Nampak jelas kau malah malas / Terlihat kaku, kau ini batu! Lugumu tak lucu, kau tetap batu Kanakmu segan, tapi beku Bersajak arogan tema jenaka / Hey, menggubris? Tidak lagi, gula dibibirmu terlalu manis bak permen kapas sayang Jadi lekas rapikan /


Judul Buku | 33 Dulu, Teguhku kau lemahkan Kuatku kau siakan Anggunku kau injakkan Masihkah kau adalah suatu kepantasan? / Bahkan suatu kebetulan tak cukup memenangkan peradilan Fasemu bak praduga tak bersalah Mencari saksi akan luka yang terhakimi / Sudahi saja! Kau akan lebih terluka Biar, Dulu aku yang paling terluka / Jadi berhenti dan membaiklah Penciptamu tengah merindu larut malammu memeluk erat sajadah itu Untuk itu, pergilah tanpa bergejolak Sukoharjo, 3 Januari 2020


34 | Penulis #18 TETAP BERSAMAKU Kau adalah cinta Iya, cinta yang kutemukan Cinta yang kau pilih Rasamu apik dan harmonis dalam sambut Senyum dan sapaan lembut nian Bercucuran keringat kau usapkan penuh perasaan Cinta rasamu begitu nyaman Penuh kasih sayang dan kebahagiaan Cinta perihal lara kau sudah kerap kali haturkan “jangan terluka saat aku tak disisi atau aku akan khawatir” Selalu begitu, Seakan edisi cinta adalah zat penenang disaat semua tak lagi berpihak padaku Semua mentertawakanku tentang bagaimana aku bertahan untukmu Kaulah cinta yang kian membuatku takjub Kuasa penciptamu sungguh indah Lebih dari indah tatapmu Kau tetap yang terbaik versi Tuhanku Kaulah kalimat rindu penuh temu dalam cinta yang terlampau sering berbisik merdu ditelingaku Dan aku, tak perlu menjadi dungu karena ucapanmu Aku hanya akan membiarkan kata cinta kau lantunkan Tiap bait langkahku bersamamu Sukoharjo, 4 Januari 2020


Judul Buku | 35 #19 BICARA JANGAN ASAL Aku tidak pernah tahu kalimat bodoh apalagi yang akan kau siramkan untukku sore nanti Malam nanti dan esok hari Bila nanti setelah ucapmu berakhir akan timbul tetesan air mata lagi Tolong! Pertegas apa maumu?! untuk sekedar menghilang? Aku lebih bisa dari kata bisa dihatimu! Jika hanya ingin membuat penilaian pecundang Silakan, itu hakmu Aku hanya akan tuli dihadapmu dan bisu saat kau tanya mengapa Tapi, satu tanya dariku Dimana rasa kasihmu? Camkan itu! Jangan hanya remehan dan lalu eyelan yang selalu kau ciptakan Sekali ini saja, Malapetaka apalagi yang akan kau doakan untukku? Sebelum presepsimu kau simpulkan Tolong sejenak berkaca! Sudahkah kau adil, bertindak demikian? Embrio saja tidak kuasa memperlihatkan betapa bengisnya kalimat-kalimat yang tersusun seenaknya dari mulutmu Sukoharjo, 5 Januari 2020


36 | Penulis #20 SENJA CIPTAANMU Aku mencintaimu! Maaf, salah Aku mencintai senja Ya, meskipun dia indah sesaat Tapi, dia mengajarkanku seperti enzim yang menguatkan benteng hati yang mudah rapuh ini Aku juga ingin seperti senja Karena datang dan perginya salalu jadi semoga Meskipun pagi harus hadir dengan sebutan lain Tapi aku suka Lebih dari jingganya nan indah Tapi juga membuatku selalu berucap syukur pada penciptaku Yang menghadirkan senja kalau siang menghilang Parahnya, embun bukan sebuah alasan untuk senja tak hadir Namun, hujan kurasa akan menghentikan laju senja sore hari Karena mendungnya menomor duakan senja dalam tatapku Huft! Hampir saja aku membenci hujan Guntur beserta kumpulan mendungnya Tapi semua itu atas izin sang pencipta Jadi, aku tetap mengagumi kuasa dan ciptaanmu Tuhanku Sukoharjo, 6 Januari 2020


Judul Buku | 37 #21 BEBASKAN AKU Perdebatan yang membuatku muak untuk bertahan bahkan aku sanggup untuk meniadakan Tapi apakah mungkin? Perkataanya memang mengores Perlakuannya yang selalu menghina dan mencemooh setiap tindakanku Benar! Aku lelah! Sangat! Kalau ada dua pilihan antara maju atau mundur, Bila mundur memang diharuskan Aku mantap memilih mundur Tapi bukankah kita akan tetap berjalan? Tapi aku bisa apa? Aku mengakui kekalahan ini Tapi apa tidak adakah satu pilihan lagi? Agar aku bisa menyatukan kembali yang telah saling meninggalkan? Tolong! Kalau tidak biarkan aku menjadi garam dilautan Agar aku bisa minimal dengan menjadi garam dilautan dapat berkenan dihati para pengepul garam Sukoharjo, 7 Januari 2020


38 | Penulis #22 RINDU HUJAN Disini, Aku mengais rindu lewat hujan Aku mengapai waktu yang diterjang angin Lalu menerjang jarak pada dentuman rintik yang mengetuk keras Aku memang rindu hujan, sangat Karena dirasa hadirnya mampu membuat semu dalam pilu Tapi aku tak suka dengan caranya yang begitu tiba menampilkan debit di muka bumi cukup banyak Seharusnya, Kau hadir kala aku terluka Agar tangis ini mampu kau basuh Harusnya kau gemercik mesra Agar teriakan luka lara ini dapat kau bisukan dengan apik Aku mohon hadirlah dengan tenang untuk ku Agar aku bisa menari dalam tetesanmu Aku tak tahu seberapa sulit ilmu yang kau pelajari dalam derap yang kuingini Tapi aku memohon Agar pencipta benar menjadikanmu demikian Dalam perjalanan kau selalu mampu menyibak tangisku Dan sederet cerita kelabu dalam hari-hari Dalam waktu yang terus melaju dan aku Di dalamnya untuk tetap maju Sukoharjo, 8 Januari 2020


Judul Buku | 39 #23 KEMBALILAH Pulang! Iya, pulangkan aku dalam istana megah itu Tempat dimana aku menghabiskan sore lalu Menuntun senja bersamamu Menelaah waktu yang kian rancu untukku Menerka jawab dari arti sebuah kegalauan Mungkin memang baik untuk kita, agar dapat menari di bawah hujan tanpa merasakan kedinginan Sungguh, sebagai seorang gadis peminta hujan Aku keheranan Dibiarkan kenang menyerap keakar-akar bumi Meredup dan menetas dengan apik melampaui batas pandang yang seharusnya Ah Aku anggap hanya sebuah mimpi Tapi yang nyata terjadi Sukoharjo, 9 Januari 2020


40 | Penulis #24 RINDU MASIH KAMU Tentang kalimat cinta yang kerap kali kau tuturkan Di kedai itu dalam kenduri Aku tak tahu lagi, alasan apa yang akan layak untuk kau hinggapi Sementara aku, masih dalam hiruk pikuk yang sama Iya atau tidak Permintaan itu hanya memabukkanku saja Dan kau tetap bersahaja Kau melantunkan doa-doa atas jawaban iya yang kau aamiinkan Tapi apa memang benar? Kalau misal saja aku gundah tak disisimu Dan apa iya? Kedatanganmu adalah jawaban atas rindu yang mengebu? Sukoharjo, 10 Januari 2020


Judul Buku | 41 #25 SUGAR Rindu Rindu Dan rindu Aku selalu ingin dan akan berucap lafal untuk nama yang tetap kokoh bersarang di dalam kalbuku Aku tak mudah! Tak mudah pergi dan tak mudah bertahan Semua atas dasar sebuah pencitraan? HAHA Aneh-aneh saja Ini semua milikmu, untukmu Jangan brutal seperti itu Aku benar tetap untukmu Kalau masih ragu, yakinlah Jujur aku sungguh ragu, namun kini mencoba kuat Oh, tidak Kini menguat selepas kau datang beribu sapa dan berjuta tawa Persembahanmu untukku Jadi tetap bersamaku ya, my sugar? Sukoharjo, 11 Januari 2020


42 | Penulis #26 TOLONG! PULANG I LOVE YOU Aksara kuno yang kerap di haturkan Membabibuta di telinga Di setiap pagi dan malamnya Perumpamaan rasa dari helat pernikahan raja Sebagai hamba sahaya abad purba Sekian purnama, kau tak hadir Sebagai kalimat cacat yang terlupakan Nenek moyang saja tidak tahu perihal kepergian Apalagi masa silam Dialog homo sapiens sebagai spesies makhluk paling perasa di bumi ini Tak mendahului kehendak seperti ucapmu Seberapa berani kau bicara? Hingga tiada jawab lagi yang musti terucap Entah itu penolakan atau sebuah penerimaan Tiadalah yang tahu Karena yang tersisa sedini ini hanyalah seklamit harap kepergian yang mungkin tak lagi berpulang dan mengikut sertakan sayang selangkah demi selangkah Sukoharjo, 12 Januari 2020


Judul Buku | 43 #27 DATANG Senja menghantarkan cinta pada pelupuk mata Menjelma, seolah dermaga kian menghanyut Tapi ternyata bukan Berhamburan seolah tidak ada sederet luka Dan lagi Setiap kali pertama disetiap paginya Bertaburan mesra pada setiap gerak-gerik mata Hingga pada akhirnya Semua nampak biasa saja Setelahnya aku tidak tahu lagi Luka semacam apa yang akan menggores hebat Pada segenap hirauan yang tak mungkin Kau anggap perlahan Atau mungkin sebuah perantara yang menelanmu dalam jenjang menakutkan Oh, aku sungguh terluka parah Lihatlah! Tidakkah kau buta untuk menyambut dengan apik? Tolong! Sukoharjo, 13 Januari 2020


44 | Penulis #28 HAPPY ANNIVERSARY Serumu dari kejauhan bak merampas logam Hologram yang terkandung didalam tangkai serupa Senyum berbalut tebal dan riang Ringan sekali dalam langkah Nampak rindang dan menghitam Mengadudomba cerita yang tak sempat ada usainya ini Kau berlomba-lomba seperti riuh pasar Deburan orang tawar-menawar harga sembako Mengingatkan kau pada pada desir angin pantai Saling bergilir menambah kesejukan hebat nan melekat ditubuh Ada pundak yang tertegun berdiri kokoh Pada sandaran hati yang rapuh dan meredup Ada bahu yang kuat menahan tekanan teramat hebat Ada mata yang berbinar menyimpan rasa kesakitan Terbayar sudah berulang kejutan Yang menguncangkan alam sadar Jadilah yang paling indah dan bahagia Hingga hembusan puncak selamat tinggal Sukoharjo, 14 Januari 2020


Judul Buku | 45 #29 CUKUP EGOIS Jangan karena kamu tidak ingin terluka lagi Justru malah kamu membuat luka Di hati orang-orang yang kau cinta Kau hampir saja, Membuat liku menjadi luka Membuat sekarat luka yang mengering Kerap kali angin berpapasan lembut Hangat menyambut pori-pori Luka itu pun mengelupas Meniadakan bercak sisa kemarahanmu Dan memar membiru Sambut payah macam apa yang akan membuat gugur Bahkan patah sementara gading itu sudah tidak melekat erat Aku harus apa Bagaimana? Agar kamu bersedia mengulas minimal secercah Kemesraan satu atau dua tahun silam Aku tidak pernah memaksa Apalagi meminta lebih terlepas dari dugaan yang pernah kau curigai Sekarang, terulang kembali Kau menelan cercahan dari segumpal kerumunan detik sebelum ini Kau rampas hingga tulang-tulangnya Sukoharjo, 15 Januari 2020


46 | Penulis #30 AMPUNI HAMBAMU Ampun katamu, Doa penghantar tidur Tangis menderai begitu hebat Dermaga para pendosa terpancarkan malam dini hari Keras mendalam, bertubi dalam ratapan Sesal, sesak, sakit Campur aduk dalam adonan donat kreasimu Wahai dosa Masihkah ada ampun untukjiwa raga Masihkah terbuka lebar dalam maaf Terlampau jauh, langkah menolak baik di hati Hingga Buih-buih dilautan adalah isyarat kepedihan Kaki melangkah tangan memilah Dosa tak mampu menerima tebusan sereceh Rangkaian bunga selamat tinggal Namun, harus apa Agar doa menjadi pelipur lara paling ampuh sebagai lantunan kata maaf Sukoharjo, 16 Januari 2020


Judul Buku | 47 #31 PERGI TAK BERPESAN Petikan senar gitar Lagi kau gesekkan Sampai aku lupa ilmu tafsir yang harus tela’ah lagi Pelan perlahan pudar Memutih lalu menghilang Tanpa kabar secuil pun Resah dalam syahdu ini lebat Tak ada sayatan hebat pada kulit tebalnya Namun, senyumannya berarti luka Dan sedikit cerita hingga terlampau pedas Perlakuan dia kepadaku Kepalaku pening berdenyutan Aku hilang akal, sementara dia entah kemana ARGH! Sukoharjo, 17 Januari 2020


48 | Penulis #32 LEPASKAN Ceh! Seenaknya saja kau memberi tagar Aku kecewa sama kamu Kaum muda yang terlena akan sebuah perjumpaan Indah mata redupnya berbentuk oval kemerahan Sentuhan lembutnya menjadikanku panas dingin Oh betapapun Aku memangkas habis semua jejeran ombak Esok akan tetap sama Mungkin tertawa atau kecewa lagi tentunya Aku rasa masih terlalu berudu Untuk merasakan inovasi dalam bertindak Sangat polos untuk tangguh dalam pertikaian Teluk samudra apakah masih ada, Kepingan harap bertajuk senyuman? Sukoharjo, 18 Januari 2020


Judul Buku | 49 #33 BAIK Sepenggal cerita layu mengusik Dengan ketukan keras membuat relung kelabakan Menyaksikan diri terlukis bak gambaran cacat dihadapan Iya, aku tahu Kenang yang menghadang Adalah tragedi kecil dari banyaknya lara Apik bukan Seribu langkah seolah bukan apa-apa yang berarti Sekarang, menua Hingga semua kabar baik tertunda Dulu waktu belia tidak pernah Walau hanya satu ketukan datang dengan kalimat kebaikan Hanya satu hal saja, sisa sesal yang terpendam Jangan sampai menjadi gulma dan berakar tumpang Sukoharjo, 19 Januari 2020


50 | Penulis #34 AKU HARAP Angin penuh deru Berhembus hingga sisi terdalam kulit Sejuk menghujam, meremas hampa dalam relung Seru tanyamu, berhasil membobol Pondasi yang tersusun kokoh Aku berhenti sampai pada titik ini Aku tak melanjutkan apalagi melaju sangat kencang Berduyun-duyun rampok mengerogoti prosesku Aku malu, sungguh Kirab terakhir yang aku sematkan Kala sebuah kepergian telah tiba Menghela nafas seolah hanya lelucon Sementara, perjalanan menuju puncak tidaklah enak Terjal dan miring Apa iya, sekejam ini melatih diri? Capek! Aku sudahi semua ini Tentang apa yang telah terjadi, biarkan membaik pada persemayaman cinta terbaik versi Allah Sukoharjo, 20 Januari 2020


Click to View FlipBook Version