Majalah Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023
2 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 SPACE AVAILABLE
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 3 Salam Setengah Merdeka! BAK kawan lama yang bersua kembali, setelah sekian purnama menghilang tanpa kabar, akhirnya kami bisa menyapa kalian, para pembaca setia Majalah INOVASI. Mensana In Corpore Sano, dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat. Begitu kira-kira adagium yang pas untuk menggambarkan bagaimana kondisi Majalah INOVASI secara khusus, dan UAPM INOVASI secara kelembagaan pers mahasiswa, sebelum majalah edisi ini terbit. Pandemi yang beberapa tahun belakangan melanda, secara telak memberikan dampak terhadap proses regenerasi yang ada di dalamnya. Mungkin alasan tersebut terkesan klise, namun, dengan berat hati, kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Barangkali, di antara kalian sempat menunggununggu terbitan Majalah INOVASI di dua tahun sebelumnya. Proses Kreatif Penyusunan Majalah INOVASI XXXVII ini sebenarnya dimulai sejak periode kepengurusan 2022 lalu, terkhusus proses liputan mendalam yang tersedia dalam majalah ini. Namun, hingga akhir periode kepengurusan tersebut, majalah ini tidak kunjung bisa kami usahakan untuk terbit. Sangat mengecewakan memang. Hingga kemudian, di kepengurusan yang baru, periode 2023, kami memutuskan untuk kembali melanjutkannya dan memperbaharui data-data liputannya. Majalah INOVASI XXXVII ini banyak mengangkat isu yang berkaitan dengan lingkungan. Misal, dalam Laporan Utama, membahas tentang ancaman tambang panas bumi yang rencananya akan dibangun di daerah kaki Gunung Panderman. Desa Pesanggrahan, salah satu desa yang terdampak kebijakan Proyek Strategi Nasional milik pemerintah tersebut, masih menggantungkan hidup pada Hutan Kasinan yang ada di wilayah tersebut. Bagi mereka, alam juga ikut marah jika ada yang mengusik kelestariannya. Cerita tentang sisisisi histori-kultural masyarakat Pesanggrahan tentang Kasinan juga dibahas dalam tulisan ini. Begitu pula, di rubrik Sejarah, juga membahas bagaimana cerita Masyarakat Surorowo, Pasuruan pernah terjangkit penyakit Yersenia pestis, yang umumnya disebut penyakit pes. Pada konteks sejarah, Surorowo sangatlah penting karena daerah ini merupakan daerah pertama terdeteksinya penyakit menula tersebut di Indonesia pada kurun waktu 1987 silam. Dengan demikian, aspek sejarah bagaimana proses penyebaran pes dan suasana masa lampau ketika peristiwa tersebut melanda daerah tersebut sangatlah dominan dalam tulisan ini. Selanjutnya, rubrik Agraria, membahas bagaimana alih fungsi lahan di Kota Malang terjadi secara masif dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Tentunya, dampak alih fungsi tersebut sangat dirasakan oleh petani-petani kota yang khawatir terhadap masa depan mereka. Tercatat, lahan persawahan yang masih tersedia di kota ini tidak sampai seribu hektar dari total 11.006 hektar lahan secara keseluruhan. Bagi kalian yang mengikuti Majalah INOVASI, pasti menyadari adanya perubahan komposisi rubrik dalam edisi kali ini. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk menghilangkan beberapa rubrik yang ada dalam majalah edisi terakhir. Namun, secara keseluruhan, kami masih mempertahankan rubrik-rubrik lainnya seperti edisi-edisi sebelumnya seperti rubrik Koloni, yang masih diisi oleh alumni UAPM INOVASI. Begitu pula, SALAM REDAKSI
4 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 kami juga menambahkan rubrik baru yang diberi nama Hikayat. Rubrik ini diisi oleh pelatih UAPM INOVASI yang nantinya membahas seputar naik-turunnya kondisi lembaga pers mahasiswa ini dari sebelum pandemi, ketika pandemi, hingga pasca pandemi. Tujuannya tidak lain memberikan gambaran secara utuh bagaimana lembaga ini bertransformasi, struggling, dan ia bertahan hingga detik ini. Sebagai penutup, majalah edisi kali ini bisa dikatakan jauh dari kata sempurnya. Setidaknya basa-basi tersebut yang perlu kami tekankan kepada kalian semua, para pembaca setia Majalah INOVASI. Kritik dan saran sangat kami harapkan dari kalian untuk menjadi bekal bagi proses kreatif produksi edisi selanjutnya . Salam Setengah Merdeka! SALAM REDAKSI KONTRIBUTOR Ajmal Fajar Sidiq | Faris Rega Riswana | Moh. Wildan Firdausi Romadhani | Asrur Rodzi | Mohammad Lutfi Maula | Nola Amalia Rosyada | Aris Syaiful Anwar
MAJALAH INOVASI EDISI XXXVII DITERBITKAN OLEH UNIT AKTIVITAS PERS MAHASISWA (UAPM) INOVASI UIN MALIKI MALANG PERIODE 2022-2023 Penanggung Jawab: Ajmal Fajar Sidiq (Pemimpin Umum) | Pemimpin Redaksi: Moh. Wildan Firdausi Romadhani | Sekretaris Redaksi: Faris Rega Riswana | Staff Redaksi: Muhammad Rasyid, Faidyah Nur Ainina, Shafly Arafat Ali Yaafi, Nola Amalia Rosyada, Muhammad Rizky Nurdiansyah, Ihsanul Mukminin | Ilustrator: Mohamad Rizaldy Pratama Aruna Putra | Infografis: Rakhan Wardhanni | Layouter: Moh. Wildan Firdausi Romadhani | Alamat Redaksi: Gedung Soeharto Lantai 1 UIN Maulana Malik Ibrahim, Jalan Gajayana No. 50 Kota Malang (65144), Jawa Timur, Indonesia. Sampul depan oleh Mohamad Rizaldy Pratama Aruna Putra Ikuti Portal Berita dan Media Sosial UAPM INOVASI | Instagram & X: @uapminovasi | Website: www.uapminovasi.com DARTAR ISI SALAM REDAKSI DAFTAR ISI SURAT PEMBACA POTRET INOVASI LAPORAN UTAMA | Dari Kaki Gunung Panderman, Desa Pesanggrahan Bertaruh Nasib Hutan atas Ancaman Tambang Panas Bumi KARIKATUR SEJARAH | Kilas Balik Teror Yersinia pestis: Bakteri Mematikan yang Merenggut Nyawa Masyarakat Surorowo AGRARIA | Petani Kota dan Lahan-Lahan yang Hilang HIKAYAT | Cerita dari Dapur Redaksi CERPEN | Sebuah Cerpen Heroik yang Gagal Dituliskan PUISI | Puisi-Puisi Nola Amalia Rosyada KOLONI | Limbung Pangan 3 5 6 8 16 29 30 38 46 50 56 58 Majalah Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023
6 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 SURAT PEMBACA Acara Kopi Darat (Kopdar) yang diadakan oleh Kementrian Keagamaan (Kemenag) pada 6-8 november 2023 tentang penguatan moderasi beragama dan pembuatan sindikasi lembaga pers di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), menghadirkan berbagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di seluruh Indonesia. Suasana acara tersebut turut menyatukan seluruh pengelola/pengurus Lembaga Pers Mahasiswa PTKI untuk memperkuat moderasi beragama dan membangun sindikasi lembaga pers. Namun sangat disayangkan, kasus represi terhadap salah satu LPM PTKIN tahun lalu, yakni LPM Lintas yang dilakukan kampus sendiri IAIN Ambon sama sekali tidak disinggung oleh mereka. Hal ini menunjukkan kebebasan pers mahasiswa di PTKI yang masih rentan. Kasus represi terhadap LPM Lintas adalah salah satu bukti ketidakmerdekaan pers mahasiswa di PTKI di Indonesia. Hal ini menggambarkan kebebasan pers yang terjadi di lembaga keagamaan masih perlu mendapat perhatian serius. Sebagai lembaga pengawas dan pendukung PTKI, Kemenag melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) seharusnya memiliki peran penting dalam memastikan kebebasan pers dan hak berekspresi mahasiswa dijaga dengan baik di seluruh PTKI di Indonesia. Perlunya tanggapan serius Kemenag terhadap kasus-kasus seperti ini, khususnya karena PTKI yang berada di bawah naungan Kemenag. Penguatan moderasi beragama, seperti yang telah diadvokasi dalam acara tersebut, seharusnya diiringi dengan keberlanjutan dan perlindungan terhadap kebebasan pers mahasiswa. Dalam upaya membangun sindikasi kebebasan LPM dilingkup PTKI, Kemenag harus dapat terus melakukan koordinasi yang lebih erat dengan PTKI untuk memastikan bahwa nilai-nilai kebebasan pers tidak hanya ditekankan dalam acara, tetapi juga diimplementasikan dengan Seruan Kebebasan Pers Mahasiswa nyata di setiap PTKI. Dengan tindakan tegas dan proaktif dari Kemenag akan memberikan sinyal positif bahwa kebebasan pers di PTKI adalah sesuatu yang tak bisa ditawar. Melalui tindakan tegas dan koordinasi yang efektif, kita dapat membangun lingkungan akademik yang lebih inklusif dan menghormati hak mahasiswa untuk menyuarakan pendapat mereka. Saya berharap agar upaya positif dalam memperkuat kebebasan pers di PTKI terus dilanjutkan. Rakhan Wardhanni, Reporter UAPM INOVASI Mari Bersuara! Kampus adalah miniatur kehidupan bernegara dan lembaga pers mahasiswa adalah wajah kebebasannya. Lembaga pers mahasiswa menjadi wadah yang mampu menampung dan mewakili suara mahasiswa. Bukan hanya itu, lembaga ini didesain untuk melihat secara kritis potensi masalah yang ada di lingkungan kampus untuk kemudian disuarakan. Sebagai mahasiswa, kita perlu memanfaatkan ruang yang telah dibangun oleh lembaga pers mahasiswa ini dengan turut menyalurkan suara kita. Jika kita memiliki kemampuan menelurkan karya untuk menjawab permasalahan yang kita jumpai maka lakukanlah. Namun, jika tidak memiliki kemampuan tersebut kita tetap bisa menyampaikan kepada pers dalam bentuk informasi mentah. Misalnya saja ketika kita menjumpai fasilitas kampus yang masih jauh di bawah standar kelayakan, kita dapat menyuarakannya dalam bentuk sindiran maupun kritikan secara langsung. Atau kita menjumpai teman kita mengalami diskriminasi, pelecehan seksual, atau bentuk-bentuk kejahatan lainnya kita dapat membantunya dengan mengangkat isu-isu tersebut.
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 7 SURAT PEMBACA Ketika saya masih SMA, impian untuk kuliah di Malang, yang terkenal sebagai Kota Pendidikan, begitu memikat. Namun, kini, realitasnya tidak seindah yang saya bayangkan. Meskipun saya mahasiswa di UIN Maliki Malang, yang notabene kampus negeri bernuansa keislaman, bukan di UM (Universitas Negeri Malang) atau UB (Universitas Brawijaya) Malang, keluh kesah saya tidak terelakkan. Terutama terkait dengan pengalaman saat mengikuti mata kuliah yang sebelumnya saya kira akan memberikan wawasan mendalam. Saya ingin menyampaikan keluh kesah yang menurut saya sangat menjengkelkan di kampus ini, terutama berkaitan dengan dosen di mata kuliah yang dulu pernah saya ikuti. Ada satu dosen yang memiliki jabatan yang mentereng di fakultas. Pada awal beliau mengajar, saya merasa kagum dengan prinsip dan kontrak belajar yang dibuatnya, antara lain, pemberian toleransi terlambat 15 menit ketika mata kuliah telah dimulai. Lebih dari itu maka mahasiswa yang terlambat tidak diperbolehkan masuk kelas. Saat itu saya bertanya, “maaf Pak, semisal saya terlambat dan tetap masuk untuk mengikuti perkuliahan namun rela untuk dialpha boleh apa Apa yang Diharapkan dari Dosen Ghoib di UIN Maliki Malang? tidak?” Ia lantas menjawab dengan tegas, “tidak boleh, justru itu hukuman sesungguhnya kalian ketika terlambat, bukan mendapatkan alpha, melainkan tidak mendapat ilmu yang ada di kelas”. Sungguh jawaban yang menarik bagi saya. Namun, kekaguman saya segera berubah menjadi kekecewaan. Bagaimana tidak, dosen tersebut malah sering tidak masuk kelas alias absen. Mungkin wajar karena beliau sibuk mengikuti konferensi maupun kegiatan di dalam maupun luar kampus. Namun, apakah beliau tidak kasihan melihat mahasiswanya ini dirugikan karena tidak mendapatkan ilmu seperti semestinya karena kealphaan beliau. Walaupun sejatinya fokus mahasiswa adalah belajar mandiri, kami juga memerlukan dampingan selama proses belajar, Pak! Belum lagi saat tiba-tiba ada pemberitahuan mendadak kalau kelas diliburkan. Puyeng, Pak! Jelasnya berapa banyak mahasiswa yang ter-PHP, bensin ikut hilang hanya karena perlu berjaga-jaga untuk berangkat ke kampus, ditambah harus menunggu pesan dan kabar terbaru yang tidak jelas dari beliau. Bagi saya yang tinggal di kos karena merantau jauh dari rumah, jarak ke kampus dari kos itu lumayan melelahkan. Teman saya bahkan dari Lawang, ada juga yang dari Singosari. Jauhjauh ke kampus, eh, pulang cuma bawa totebagnya aja. Mengutip penjelasan kontrak belajar awal yang sangat bermutu dari beliau, alangkah indahnya jika beliau berhalangan memberikan solusi terbaik seperti prinsip disiplin beliau kepada mahasiswa. Bukan seenaknya sendiri ketika ia yang menjadi penyebab permasalahan. Qaidulumam, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Angkatan 2019 Mari bersuara untuk setiap masalah yang tampak di sekitar kita. Mari tetap bersuara meski terkadang aspirasi kita tidak diindahkan. Mari terus bersuara melalui opini, puisi, cerpen dan karya-karya lainnya. Karena permasalahan ada untuk diselesaikan, bukan untuk ditutupi, dimaklumi atau dinormalisasi dengan dalih “menjaga nama baik institusi”. M. Muhson Al Farizi, Mahasiswa Program Studi Biologi dan sedang aktif sebagai Jurnalis Media Santri NU Redaksi UAPM INOVASI menerima tulisan dari civitas akademika UIN Maliki Malang, baik berupa tanggapan, saran, hingga kritik untuk pengembangan kampus. Tulisan bisa dikirim melalui email [email protected].
8 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 POTRET INOVASI
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 9 POTRET INOVASI PESAN poster pada bagian belakang sepeda motor salah satu massa aksi konvoi peringatan Setahun Tragedi Kanjuruhan. Ribuan Massa Aksi dengan masing-masing kendaraan mereka berkumpul di Stadion Gajayana, Kota Malang dan menuju Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang (01/10/2023). Foto oleh Moh. Wildan Firdausi Romadhani/ UAPM INOVASI WE ARE WATCHING YOU!
10 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 POTRET INOVASI
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 11 POTRET INOVASI FOTO-FOTO korban Tragedi Kanjuruhan dibawa para keluarga korban dalam peringatan Empat Puluh Hari Tragedi Kanjuruhan (10/11/2022). Menuju Balai Kota Malang, pada aksi ini juga diwarnai dengan hujan deras hingga sampai jam 14.00 WIB. Namun, gema kalimat tahlil dari mereka masih bisa terdengar di sela-sela hujan tersebut. Foto oleh Muhammad Rizky Nurdiansyah/ UAPM INOVASI PATANG PULUH DINA KANJURUHAN
12 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 POTRET INOVASI
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 13 POTRET INOVASI KOREOGRAFI Jas Mob pada Acara Pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Universitas (PBAK-U) UIN Maliki Malang 2023. Acara tersebut juga turut dibuka langsung oleh A. Muhtadi Ridwan, selaku Ketua Senat UIN Maliki Malang (21/08). Foto oleh Faidyah Nur Ainina/UAPM INOVASI JAS MOB PBAK 2023
14 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 POTRET INOVASI
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 15 POTRET INOVASI SEJUMLAH mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UIN Malang melakukan demonstrasi di depan Rektorat, Senin (25/07/2022). Aksi tersebut salah satunya menuntut pihak birokrasi untuk memberikan perpanjangan UKT kepada seluruh mahasiswa UIN Maliki Malang. Foto oleh Ihsanul Mukminin/UAPM INOVASI MENUNTUT REKTORAT
16 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Batu Dakon di salah satu latar halaman penduduk Desa Pesanggrahan. Batu Dakon adalah Batu peninggalan zaman Megalitikum untuk menandakan masa tanam dan panen hasil tani. Dengan adanya Batu ini, Kurun waktu 1000-3500 SM masyarakat Desa Pesanggrahan kemungkinan sudah memiliki tradisi agrikultur. Foto oleh Ajmal Fajar Sidiq/UAPM INOVASI LAPORAN UTAMA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 17 Dari Kaki Gunung Panderman, Desa Pesanggrahan Bertaruh Nasib Hutan atas Ancaman Tambang Panas Bumi Ajmal Fajar Sidiq DESA Pesanggrahan, Kota Batu, terletak di bawah kaki Gunung Panderman. Orang mengenal tempat ini sebagai tempat parkir pendakian Gunung Buthak. Gunung yang terletak di bagian Pegunungan Gunung Kawi. Di desa itu, hidup seseorang bernama Pak Khan. “Kalo mau tanya tentang cerita mistis tanya orang itu,” ujar Udin ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Desa Pesanggrahan. Kami menemuinya Bulan Juli. Melalui Nada, salah seorang teman yang memiliki konsentrasi pada isu lingkungan, kami mewawancarai Pak Kan. Rumahnya hanya berjarak kurang dari 2 kilometer dari tempat parkir motor matic di pendakian Panderman. Kami mewawancarainya setelah mendengar keterangan Udin bercerita tentang konflik antara masyarakat Desa Pesanggrahan dan Ekowisata Alaska. Menurut keterangan Mashudin, salah satu perantara yang menjelaskan tentang fungsi hutan Kasinan terhadap masyarakat Desa Pesanggrahan adalah Pak Kan. Penjelasan Pak Kan melalui kacamata mitologi setempat. Setidaknya menurut keterangan Udin, sapaan karib Mashudin, kurun waktu konflik antara Alaska dan Masyarakat Desa Pesanggrahan terjadi dalam kurun waktu 2 tahun antara 2019-2020. Alaska adalah proyek wisata yang ditujukan untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia masyarakat sekitar, sekaligus memberikan lahan untuk membuat edukasi alam. Inilah yang dimaksud dengan ekowisata. Dalam dua tahun itu, akhirnya proyek Alaska ditutup. 11 September 2020, Pemerintah Kota Batu menutup Alaska dengan alasan utama mata air sekitar Kasinan telah lama dikelola masyarakat dan pertimbangan seiring semakin surutnya jumlah mata air di Kota Batu, beserta alasan turunan mengenai regulasi perizinan. Hutan Kasinan, Gunung Panderman dan Masyarakat Desa Pesanggrahan. KASINAN adalah sumber kehidupan masyarakat Desa Pesanggrahan. Kurang lebih 100 Kartu Keluarga hidup dari mata air hutannya. Udin adalah koordinator pengelola mata air Desa Pesanggrahan. Melalui Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) per setiap bulan, masyarakat pemakai (konsumen) hanya diminta sepuluh ribu rupiah guna kepentingan biaya perawatan pipa dan mesin mata air. Jika sudah jatuh tempo masa pembayaran, Udin sering berkeliling menagih iuran. Berbeda jika rumah tangga tersebut menggunakan jasa dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Para pengguna PDAM ini memiliki beban domestik lebih tinggi: per satu KK ditaksir bisa mencapai tiga sampai lima puluh ribu rupiah per bulan. Harganya jauh lebih besar. Memang saat kami temui, bagi Udin mengelola Mata air dan sekaligus hutannya bukan hal mudah. Seringkali bahkan ia harus menyisihkan sebagian pendanaan pribadinya guna kepentingan keberlanjutan mata air. Belum lagi jika ada konflik kepentingan antar dusun terhadap kepentingan Mata air dan Hutan. Misalnya, konflik antara dusun pemakai air di daerah dataran rendah dengan dusun yang terletak di dataran tinggi seperti Desa Toyomerto yang notabene jenis pekerjaannya adalah peternak sapi. Seringkali, limbah kotoran sapi ini masuk ke aliran air dan mencemarinya. Belum lagi tambahan masalah yang datang dari peternak dengan sumber pakan jenis rumput gajah. Rumput LAPORAN UTAMA
18 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 yang banyak membutuhkan mineral air hingga menyerap mata air sekitar, memengaruhi debit mata air. “Ya tapi untuk menjelaskan ke mereka itu sulit, segala macam cara,” ujar Udin. Bertemu dengan Udin, bagi kami seperti bertemu simpul cerita Desa Pesanggrahan. Hari ini atau masa lampau, ingatan Udin adalah lorong cerita masyarakat desa. Satu pintu terbuka, lorong lain memanjang. Segalanya bermula saat Udin mendapat mandat dari sang bapak untuk mengelola HIPPAM tanpa perencanaan. Menjadi koordinator lembaga tersebut, bukan bagian dari rencana hidupnya. Sambil mengenang, pria bertubuh gempal itu bercerita, saat sang bapak memberi mandat, dirinya masih sibuk menunggu Arema juara. Kendati sebenarnya sejak tahun 90-an, saat mengenyam masa SMP Udin sudah mengenal bahwa kehidupan masyarakat Desa Pesanggrahan tergantung dengan mata air ini. Apalagi sang bapak merupakan salah seorang pengelola mata air ini. Dalam tahun tersebut, masyarakat mulai memanfaatkan air untuk kepentingan rumah tangga. Saat Udin menjejak kisaran usia 15 tahunan. Memang, jauh sebelum itu, sebetulnya Kasinan sudah lebih dulu dimanfaatkan pada tahun 60-an. Udin belum lahir. Namun menurut ceritanya, tetua Punokawan Desa, Haji Umar, adalah orang pertama yang memulai inisiasi babad alas guna kepentingan Masjid Nurul Hidayah. Masjid pertama di Desa Pesanggrahan yang memiliki corak arsitektur ala kerajaan Mataram Kuno ini, sekarang menjadi pusat pendidikan Agama Islam dan aktivitas sosial di Desa Pesanggrahan. Bahkan hingga kini masjid itu masih mengelola aktivitasnya secara mandiri tanpa donasi dari pemerintah kota. Pemanfaatan air pertama ini, kini dikelola Muhsin. Sumbernya berada jauh di wilayah atas hutan Kasinan, melewati bangkai proyek ekowisata Alaska yang hancur. Bagi Muhsin, bicara Kasinan dan Desa Pesanggrahan cerita pasti bermula dari Masjid Nurul Hidayah. Mulanya status tanah masjid ini dimiliki oleh orang Belanda yang tinggal di Desa Pesanggrahan. Sambil mengorek sisa ingatannya, Muhsin menyebut nama pemilik itu: Perempuan bernama Elizabeth. Muhsin menambahkan, itu terjadi pada periode 1960-an. Haji Umar mengakuisisi lahan untuk membangun aktivitas keagamaan, lantas mendirikan masjid. Umar sadar aktivitas agama membutuhkan air. Empat Punokawan Desa: Haji Umar, bapak dari Muhsin, dan dua orang lainnya mulai babad alas. Dengan teknologi kombinasi bambu dan pipa, akhirnya air mulai mengalir turun dari Kasinan menuju Masjid Nurul Hidayah. Perlu dicatat, kata Muhsin, bahwa saat masjid Nurul Hidayah berdiri, akhirnya tempat ini menjadi salah satu pusat kegiatan sosial bukan hanya agama. Alasannya adalah Air yang turun dari Kasinan. Sebelumnya, sistem pengelolaan air masyarakat Desa Pesanggrahan tidak berbentuk kolektif. Jenis mata air di Kasinan adalah resapan (rembesan), dari sumber mata air Panderman dan berujung pada Kawi. Karena bukan jenis mata air umbul, sulit pada masanya, mengaliri aliran air rembesan menuju rumah secara langsung. Masyarakat waktu itu, bila membutuhkan air maka harus pergi menuju rembesan. Sebagian besar menggunakan tadah air seperti ember untuk dibawa menuju rumah-rumah. Saat Nurul Hidayah mempermudah LAPORAN UTAMA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 19 LAPORAN UTAMA jalur pengambilan air, maka masyarakat berbondongbondong mengalihkan jalur menuju masjid. Sejak saat itu, Nurul Hidayah berkembang sekaligus menjadi pusat Pendidikan agama islam untuk masyarakat desa. Seiring berkembangnya masyarakat desa. Interaksi antar dusun semakin rutin. Maka ada sebagian dusun yang memutuskan untuk mencari sumber mata air lalu mengelola mata airnya sendiri. Proses pemanfaatannya sama. “Awalnya pake bambu-bambu, kemudian urunan beli pipapipa itu. Sama saja di Mashudin pun seperti itu. Karena kalo dicover semua sama Nurul Hidayah itu sendiri kan, gak mampu,” tutur Muhsin. Sumber yang dikelola Masjid Nurul Hidayah menurut catatan Muhsin saat ini menaungi 500 lebih anggota pengelola dan pelanggan. Pelanggan dalam arti donasi yang ditarik guna kepentingan aktivitas masjid seperti kegiatan sekolah agama. Inilah cerita proses interaksi masyarakat Desa Pesanggrahan dengan Hutan Kasinan. Bila ditaksir, saat ini pengelola mata air telah meningkat kurang lebih 10 lembaga pengelola di dusun yang berbeda-beda, di bawah naungan tiga lembaga desa yang memiliki fokus berbeda pula. HIPPAM, Himpunan Pengelola Pemakai Air (HIPPA) untuk pengelolaan mata air pertanian, Tradisi Pepet Sumber masyarakat Desa Pesanggrahan. Acara ini dilakukan satu tahun sekali untuk kepentingan merawat sumber masyarakat. Foto oleh Ajmal Fajar Sidiq/ UAPM INOVASI dan Sistem Pengelolaan Mata Air (SPAM) yang berfungsi sebagai Lembaga koordinasi desa yang mempertemukan dua fungsi mata air dari tiga daerah yang berbeda; SPAM Desa Pesanggrahan, SPAM Mayangsari, dan SPAM Wonomulyo. Menurut catatan Thalib, selaku ketua HIPPA sekaligus SPAM Mayangsari kini sejumlah 11 kelompok turut serta mengelola mata air. Puncak pelembagaan ini berakhir pada Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) yang kini dikepalai Udin. Muhsin tak sempat membayangkan jika kelak pengelola akan semakin banyak. Sambil mengenang masa lampau, Muhsin bercerita tentang Alaska, lagi dan lagi. Menurut cerita Udin, konflik ini memiliki dampak positif terhadap masyarakat Desa Pesanggrahan, sebab melalui konflik Alaska masyarakat memiliki tingkat kesadaran lebih terhadap mata air, hutan dan lingkungan sekitar. Khususnya Mahrus, anak dari Haji Umar yang sering berdiri paling depan ketika konflik Alaska berlangsung. Dari empat anak Haji Umar, menurut Muhsin, Mahrus-lah yang paling mengerti tentang Kasinan. Tentang Alaska saat itu, melalui nama Wasis, selaku ketua LMDH Wana Tani dan Imam Wahyudi Kepala Desa Pesanggrahan pada tahun 2018, Alaska mengajukan proposal atas nama Proposal Peningkatan
20 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Lanskap pemetaan Rencana Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Arjuno dan Kawasan Cangar. Diakses dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam. Proyek ini termasuk dalam Program Strategis Nasional Sarana Desa Wisata. Proposal itu ditujukan kepada Perhutani Kota Malang. Tercatat lokasi pemetaan dipetakan seluas 5,0 hektar untuk pembangunan. Sesaat setelah pembangunan dimulai, Masyarakat Desa Pesanggrahan mulai merasakan kejanggalan yang memicu konflik antara masyarakat dengan Alaska “Debit air yang biasanya per satu menit itu bisa mengisi setengah dari ember. Setelah konflik, drastis menurun hanya tetesan,” ujar Udin. “Alamnya juga ikut marah,” tutur Kan. Bagi Kan, setiap desa di mana pun letaknya pasti memiliki penunggu. Kan menyebutnya tentara layaknya serdadu yang menjaga negara. Demikian juga Kasinan. Mbah Mayangsari adalah penunggu Kasinan. Jika ada kerusuhan dan mereka merasa terusik, maka akan menegur manusia yang hidup di sekitarnya. “Pokoknya kalo mau main jangan ngomong aneh-aneh, berbuat macammacam, dan lain-lain,” ujar Kan, sambil menuturkan bahwa tak ada larangan memanfaatkan Kasinan dan mata air selama tidak berbuat kerusakan. Dalam kasus Alaska, keributan yang hadir saat itu bertepatan dengan adanya Tradisi Pepet Sumber, tradisi rutinan masyarakat Desa Pesanggrahan sebagai bentuk rasa syukur dengan adanya Kasinan dan Mata airnya. Nada Melati, seorang teman tadi berbincang lama perihal Kasinan di masa lampau. Kan sebagai penuturnya layaknya Mpu Sindok Desa Pesanggrahan bercerita. Kasinan dulu pernah jaya. Jamannya Raja Gajayana. Rame tempat Sanggar Pemujaan. Mungkin ada pertemuaan, dll sampai ada adipati yang dari kerajaan Solo. Kasinan sering menjadi tempat singgah para selir untuk mandi di Tirta Amerta yang diyakini memiliki berkah. Tak ada bukti artefak yang kami pegang. Bahkan dokumen sekalipun. Cerita ini, menurut Udin boleh diyakini atau tidak. Sekalipun cerita ini tidak diyakini, Kan dan moyangnya sering memelihara LAPORAN UTAMA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 21 LAPORAN UTAMA cerita legenda setempat. Konon menurut Udin, Kan juga yang bisa berkomunikasi langsung dengan Makhluk Halus di Kasinan, wilayah Gunung Buthak, dan Panderman. Namun, “Inilah menariknya Panderman,” ujar Dwi Cahyono, seorang Sejarawan Kota Malang. Menentukan catatan sejarah bukan perkara mudah. Disiplin verifikasi bukti baik berupa dokumen, prasasti dan jenis bukti lain perlu ada. Mendengar tuturan cerita Kan membuat saya bertanya-tanya. Jika Kasinan memang tempat istimewa pada era kerajaan, jika tempat itu disakralkan pada masa Gajayana, maka ada dua kemungkinan yang saya tangkap. Tempat itu merupakan sentral kegiatan tertentu, seperti tempat penyucian dengan asumsi banyaknya mata air yang dianggap pembawa berkah, sehingga dikuasai oleh kekuasaan Kanjuruhan dan atau Mataram Islam. Alasannya menurut Kan, itu zaman Gajayana, maka ada kemungkinan Kasinan masuk ke dalam kekuasaan itu. Asumsi kedua, di sana tak ada jejak bekas peninggalan sejarah yang menjelaskan bahwa pernah ada kerajaan yang mengakui Kasinan dan sekitarnya sebagai bagian dari kuasa kerajaan. Maka konsekuensinya terdapat bentuk kekuasaan lain selain kerajaan pada masanya. Dalam kata lain, apakah ada Negara di dalam Negara. Apakah Kanjuruhan dan Mataram Islam mengekspansi teritorial kekuasaan Kasinan sekaligus. “Kamu Mahasiswa kan, kesampingkan statement si bapak atau ibu yang gak jelas itu, [Kan, maksudnya],” tegas Dwi sembari mengejek saya. Menurut Dwi, budaya lisan boleh dijadikan sumber referensi, tapi validitasnya sangat kurang. Perlu ada bukti lain. Maka dalam kasus Kasinan, atau wilayah Panderman sekaligus Kota Batu keseluruhan kita perlu kembali kepada bukti-bukti yang telah ditemukan. Panderman mau bagaimanapun, ia memang disucikan. Bukan karena alasan di sana banyak leluhur dewata, namun karakter gunungnya yang membuat Panderman istimewa dan peranannya terhadap masyarakat sekitar. Mari kembali ke teks Kitab Tantu Panggelaran. Prosa yang hadir pada zaman Majapahit berkisah tentang penciptaan Masyarakat Jawa dan aturan hidup ditulis dalam Bahasa Kawi. Teks yang lahir pada abad 15. Rep, kahucapa ta sang watek dewata sama sumambah ri bhatara Guru, sakweh ning dewata kabeh, rsigana, curanggana, widyadara, gandarrwa, pada ngimpunaken lebuni padadwaya bhatara Mahakarana. Uwusnira mawwat sembah, pada macila mataraptap manangkil ri bhatara Guru: “uduh kamu kita hyang dewata kabeh, rsigana, curanggana, widyadara, gandarrwa, laku, pareng Jambudipa, tanayangku kita kabeh, alihakna Sang Hyang Mahameru, paranakna ring Nusa Jawa, [makatitindih paknanya] marapwan apageh mari enggangenggung ingkang nusa Jawa, lamun tka ngke Sang Hyang Mandaragiri. Laku. Tanayangku kabeh” Kuutus kamu semua para Dewa, golongan resi, bidadari, bidadara, gandarwaa, berjalanlah ke Jambdwipa (India). Anak-anakku semua, pindahkanlah Sang Hyang Mahameru, dibawa ke Pulau Jawa. Gunanya untuk menekkan agar Pulau Jawa menjadi kuat, berhenti bergoyang-goyang. Jika Sang Hyang Mandaragiri sudah tiba nanti. Berjalanlah anakku semua. Inilah muasal Panderman. Gunung menjulang di India yang kini bernama Himalaya, adalah istilah lain dari Mahameru, atau Gunung Meru. Puncak tertinggi Everest setinggi 8400 Meter Dari Permukaan Laut, dibelah sebagian. Rompalan atau potongan dari Himalaya itu dibawa ke Pulau Jawa oleh para ajudan Dewata. Rompalannya pecah menjadi 7 bagian. Rompalan pertama itu menjadi Gunung Lawu, kedua menjadi Gunung Wilis, ketiga menjadi Gunung Kawi, keempat menjadi Arjuno, kelima menjadi Welirang, keenam menjadi Penanggungan, dan yang terakhir menjadi Semeru atau Mahameru. Kasinan terletak di bawah kaki Panderman. Jika Anda melakukan perjalanan menuju
22 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 LAPORAN UTAMA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 23 Kota Batu, sepanjang jalan Sengkaling menuju Kota Batu, maka akan tampak gunung Arjuno menjulang tinggi. Namun, ketika sampai di Kota Batu, arah pusat pandangan Anda akan berbelok menuju Panderman. Pandermanlah yang menjadi petanda alam (landmark) kehidupan masyarakat Kota Batu. Gunung ini, terletak di Kawasan Pegunungan Kawi. Masyarakat Desa Pesanggrahan meyakini bahwa jika Kawi adalah ibu, maka Panderman adalah anak. Demikianlah alasan mengapa Panderman disucikan menurut Dwi Cahyono. Sebab ia berada di antara Gunung suci hasil rompalan Gunung Kawi yang berasal dari Gunung Meru. Ada sebab lain di luar mitologi. Alasan mengapa Panderman, Kawi, dan pegunungan lain sekitarnya disucikan. Di sekeliling pegunungan itu, masyarakat bertumpu pada sumber alam mereka. Adanya mitologisasi suatu tempat bagi masyarakat dahulu erat kaitannya dengan bentuk ekspresi rasa syukur mereka terhadap alam. Sebab hubungan mereka demi menjaga sumber daya alamnya, maka masyarakat menciptakan relasi kepada alam. Kendati bentuknya adalah mitologi. Dari Gunung Kawi, turun menuju Panderman, lalu menuju Kasinan dan berakhir di rumah warga Desa Pesanggrahan inilah air suci dari gunung suci itu mengalir. Tirta Amerta istilahnya. Tak ayal jika di Desa Pesanggrahan terdapat tradisi Pepet Sumber. Lantas bagaimana keterangan Kan? Apakah memang sejak era kerajaan Kanjuruhan dan atau Mataram Islam, Kasinan sudah menjadi tempat istimewa. Belum ada kepastian mengenai ini. Namun, Dwi Cahyono memiliki asumsi, jika Kasinan memang telah ditempati sejak lama. Hanya saja, perihal siapa yang berkuasa pada era kerajaan belum ada bukti. Dengan kata lain, peradaban keterikatan antara masyarakat Desa Pesangrahan dengan Kasinan dan Panderman sudah berlangsung lama. Bukan hanya saat ini, namun sejak zaman pra-aksara. Bila Anda berkunjung menuju Kasinan, ambil arah kanan menuju Villa Holland. Sebelum naik, ambil arah kanan dan Anda akan menemukan gang kecil yang diapit dua buah pohon durian. Di sana terdapat rumah Mufidah. Di teras halaman Mufidah terdapat batu Dakon. Batu Dakon adalah penanda bahwa kehidupan masyarakat Desa Pesanggrahan telah hadir sejak zaman Megalitikum atau abad Pra-aksara 1000 Sebelum Masehi. Dengan kata lain, Batu ini penanda masyarakat Desa Pesanggrahan telah mengenal tradisi cocok tanam sejak zaman Pra-aksara. Segalanya bermula dari Tanah, Air dan Hutan THALIB adalah petani. Sejak kecil hingga memiliki dua anak, Thalib menggantungkan kehidupannya dari pertanian. Siapapun yang mengerti dunia pertanian, agaknya juga mengerti bahwa ihwal permasalahan pertanian bak Gudang persenjataan. Air dan tanah adalah mesiu pertanian. Sedikit tersentuh, maka berubahlah skala produksi pertanian. Maka Thalib yang dipercaya menjadi ketua HIPPA, bersama masyarakat desa lain memutuskan untuk membagi porsi. Porsi pertama, mata air yang difungsikan sebagai aliran irigasi dan porsi kedua aliran air yang ditujukan untuk konsumsi rumah tangga. Segalanya bermula dari tanah, air dan hutan. Usia Thalib bila ditaksir, dari rambut yang sudah beruban sudah menginjak lebih 50 tahun. Ingatannya sedikit pudar. Namun ia masih dapat bercerita, jika dahulu konflik horizontal antara HIPPAM dan HIPPA seringkali terjadi. Terlebih bila kemarau tiba. Bahkan antar sesama petani, Thalib mengingat tidak sedikit petani yang membawa parang dan perkakas tajam lain guna menyelesaikan permasalahan aliran irigasi. Namun bagi Thalib inilah perjuangan petani Desa Pesanggrahan. Dengan segala upaya, kini pembagian mata air melalui SPAM lebih mudah dikelola saat konflik berlangsung. Alaska hadir. Konflik ini berasal dari luar masyarakat Desa Pesanggrahan. LAPORAN UTAMA
24 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 “Alamnya juga ikut marah,” tutur Kan. Bagi Kan, setiap desa di mana pun letaknya pasti memiliki penunggu. Kan menyebutnya tentara layaknya serdadu yang menjaga negara. Maksudnya adalah mereka yang tidak memiliki kedekatan kepentingan langsung dengan mata air. Beruntung saat Alaska hadir HIPPAM dan HIPPA segera melakukan koordinasi. Kedua lembaga itu berdialog, namun melalui dialog Alaska tidak menggubris. Maka masyarakat bersama Walhi Jawa Timur dan teman mahasiswa lain saling membahu melakukan advokasi litigasi. Hasilnya terwujud. Dewanti selaku pengganti Edy Rumpoko yang dijerat korupsi membatalkan perizinan Alaska. Hanya saja, Alaska bukan akhir. Kejadian itu hanya permulaan untuk rentetan ancaman konflik lain di masa mendatang untuk Kasinan. 17 November 2020, Joko Widodo menandatangani Perubahan Proses Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional yang diturunkan dalam produk Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja (CILAKA) 2020, yang kemudian ditentang ribuan masyarakat Indonesia. Kasinan masuk dalam target investasi. Mengenai Kasinan, hal ini berkaitan erat dengan sumber daya yang berada dalam kawasan sekitar lingkungan tersebut. Dalam catatan Perpres Nomor 8 tahun 2019, tercantum bahwa proyek strategis nasional yang berada di Kota Batu adalah Kereta Gantung. Dalam catatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RMPJD) Kota Batu 2017-2022, setidaknya proyek ini memiliki jumlah investasi sebesar 300 Miliar. Think-thank pengelolaannya dibagi antara APBD dan Swasta. Adapun pengelolaan perusahaan swasta yang dimaksud adalah dikelola oleh PT. Among Tani Indonesia (ATI). Masih dalam dokumen yang sama. Penjelasan tentang jalur lintas kereta gantung dalam RMPJD ini akan mengambil wilayah Jalibar sebagai stasiun dan menuju – BNS (panderman) – Jatim Park – Alun-alun – Songgoriti – Sidomulyo – dan terakhir adalah Selecta. Alasan logis adanya proyek ini, menurut catatan tersebut adalah sebagai sarana peningkatan pemasaran wisata Kota batu menuju wisata taraf internasional. Perubahan dalam RPMJD, secara otomatis merubah Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Batu. Kendati dokumen perencaan perubahan RTRW Kota Batu belum disahkan, para pemerhati lingkungan Kota Batu, salah satunya seperti Walhi telah memberikan catatan. Catatan ini ditujukan untuk memberikan pertimbangan pembangunan ekonomi dengan kondisi ekologi Kota Batu kini. Catatan ini juga sekaligus menegaskan proyek Kereta Gantung. Pada kurun dua tahun 2021 - 2022 beberapa segmen gerakan Mahasiswa dan pemerhati lingkungan menyoroti fokus utama pembangunan dalam kaca mata ekologi Kota Batu. Aliansi Selamatkan Malang Raya, dalam catatan, “Bad Governance Mendorong Kerentanan Ruang”, 2021 lalu mencatat, bahwa sejak ditetapkannya RTRW Kota Batu pada 2011, prosesnya terbilang memiliki potensi perusakan lingkungan. Logika perubahan Hutan Suaka Alam dan Cagar Budaya, yang berada dalam Tahura, Cagar Budaya dan Kawasan Taman Wisata Alam menjadi kawasan Konservasi, dengan menyisakan Tahura saja akan melibatkan banyak alih fungsi lahan. Bagi Aliansi Selamatkan Malang Raya logika keberpihakan pada investasi ini justru akan menyebabkan banyak kerusakan ekologi di Kota Batu. Demikian juga kereta gantung yang belum memiliki proyeksi jelas, dan melewati kawasan wilayah LAPORAN UTAMA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 25 Kasinan atas yang mungkin dan tidak mungkin berpotensi menimbulkan kerusakan ekologi. Junaidi, Manajer Umum PT. Inka, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditengarai sebagai penyedia alat jasa Kereta Api gantung menuturkan dua rute alternatif kereta gantung. Rute pertama rute yang melintasi Sengkaling, Jawa Timur Park 3, Gangsiran Puthuk, Jawa Timur Park 2, Kusuma Agrowisata, Gunung Seruk, Pos Pendakian Gunung Panderman, dan berakhir di Gunung Punuk Sapi. Rute kedua adalah meliputi Selecta, Putuk Gendero, Puncak Kalindra, Coban Talun dan Bukit Jengkoang. Di mana kedua rute antara Lor Brantas dan Kidul Brantas ini tidak terhubung. Junaidi, dalam rilis wawancara Malang Times Oktober lalu menyatakan bahwa dua rute ini telah direncanakan matang. Melewati Panderman, maka menyentuh wilayah Hutan Kasinan atas. Wahyu Eka Setyawan, direktur Walhi Jatim menegaskan bahwa dengan adanya proyek ini maka dengan secara langsung akan merubah ekosistem keterikatan antara masyarakat Desa Pesanggrahan dan Hutan Kasinan. Perubahan ruang dengan adanya proyek wisata secara tak langsung membawa perubahan sosial. Sementara dengan letak kerentanan wilayah Hutan Kasinan yang mencapai kategori, “rawan” juga menjadi faktor pendukung hadirnya perubahan ekosistem yang radikal. Hutan Kasinan berikut kandungan mata airnya yang dekat dengan masyarakat Desa Pesanggrahan ini berada dalam kontur kemiringan 45 derajat. Dengan kontur kemiringan sebesar itu, maka potensi longsor terbilang tinggi. Hal ini sejalan dengan catatan RTRW Kota Batu Pasal 45 ayat (2) yang berbunyi, Kawasan Lanskap pemetaan Rencana Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Arjuno dan Kawasan Cangar. Diakses dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam. Proyek ini termasuk dalam Program Strategis Nasional LAPORAN UTAMA
26 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Lanskap pemetaan Rencana Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Arjuno dan Kawasan Cangar. Diakses dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam. Proyek ini termasuk dalam Program Strategis Nasional rawan bencana tanah longsor dan banjir meliputi : b. Wilayah Kota Batu bagian selatan terdiri dari kawasan Gunung Panderman, Gunung Bokong, Gunung Punuksapi, Gunung Srandil di Desa Oro-oro ombo “. Selain itu, dalam dokumen yang sama, Pasal 20, Kasinan merupakan kawasan yang air dan tanahnya wajib dilindungi. Polemik perdebatan lingkungan, mata air, dan rantai ekologi di Kota Batu bukan hanya kereta gantung saja. Sejak Juni 2014, tepat pada tanggal 3, Jaro Wacik Menteri Energi Dan Sumber Daya Manusia tertanda mengesahkan Wilayah Kerja Tambang Panas Bumi (WKP) Songgoriti. Proyek ini, dalam lanskap pemetaan proyeksi menunjukkan mengambil empat titik kawasan panas bumi dari wilayah Malang, Blitar, dan Kota Batu. Adapun target perencanaan pertambangan ini akan berjalan pada tahun 2025 dengan estimasi surplus listrik sebesar 35 megawatt. Ada kemungkinan besar, setelah Menteri ESDM memberikan kuasa proyek terhadap PT. Geodipa untuk WKP ArjunoWelirang, Songgoriti segera diambil alih juga. Empat titik proyeksi Geothermal Songgoriti Tidak Lain Mencakup Hutan Hutan Kasinan berikut kandungan mata airnya yang dekat dengan masyarakat Desa Pesanggrahan ini berada dalam kontur kemiringan 45 derajat. LAPORAN UTAMA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 27 Kasinan Dalam catatan penelitian Laode Bagus Pratama, Mahasiswa Institut Teknologi Surabaya pada artikel Pemetaan Geologi dan Identifikasi Manifestasi Panas Bumi di daerah Songgoriti, Kota Batu Jawa Timur, tercatat bahwa Kasinan memiliki tingkat suhu panas sebesar 40 derajat selsius dengan catatan sumber air ini berasal dari jenis air pegunungan vulkanik tua. Dalam rangkuman peta sederhana, kawasan ini akan menyasar kawasan timur Gunung Kawi, kawasan Timur Gunung Buthak, dan wilayah Selatan Gunung Panderman. Dalam catatan tambahan, titik ini juga akan mengambil luas lokasi hutan produksi sebesar 3.000 hektar dan hutan lindung sebesar 9.000 hektar. “Karena ekosistem kan bukan hanya mata air, tapi keterikatan antara satu tempat dengan tempat lainnya. Antara pohon dengan tanah. Tanah dengan air,” tandas Wahyu kepada saya. Maksudnya adalah ekosistem dengan kata lain menurut Wahyu tidak dapat dipisahkan dari politik ruang. Hubungan relasional antara individu, masyarakat sekitar, dan kepentingan ekonomi di dalamnya. Segalanya bermula dari tanah, air dan hutan. Kasinan dalam ancaman konflik ANDAI, sesuai catatan proyek strategi nasional, pemerintah akan menyelesaikan seluruh bauran proyeksi geothermal dalam kurun waktu 2025-2040, bagaimana Desa Pesanggrahan akan menghadapinya? Akankah Pulau Jawa bergeser lalu Dewata melihat Kasinan hancur berkeping, dan Brahma turun mengatasinya sebab kesucian wilayah sekitar Kawi hingga Panderman telah dirusak? Atau secara perlahan, masyarakat Desa Pesanggrahan harus menelan nasib perang saudara? Menurut Wahyu Eka, kiranya inilah yang akan terjadi. Saat geothermal mulai ekspansi, konflik kepentingan khususnya dalam pemakaian dan pengakuan hak atas air akan menyebabkan konflik skala kecil maupun besar. Konflik yang terjadi antara masyarakat secara horizontal dan konflik antara masyarakat, korporasi dan pemerintah secara vertikal, “Nah inikan akan menambah bebannya, nah kondisi ini, selain akan menimbulkan kerentanan wilayah juga akan memicu konflik antar masyarakat. Hak atas air. Karena ketika berpindahtangan, otomatis masyarakat akan membeli air, dan ketika membeli air dengan harga yang lebih mahal itu juga akan meningkatkan eksploitasi yang ada di masyarakat sekitar,” tegas Wahyu. Keterancaman hak atas air, dapat dilacak melalui rencana Proyek Strategi Nasional (PSN) yang menyasar Kasinan. Kereta Gantung kendati belum menemui kejelasan, kewaspadaan ini menurut Wahyu perlu tetap dijaga. Kemungkinan terdekat yang sudah pasti adalah ancaman Geothermal. Kasinan yang memilki muara urat sumber air yang sama dari Kawi, diapit dua Wilayah Kerja Panas Bumi. WKP Songgoriti dan WKP Arjuno-Welirang. Ancaman ini menurut Wahyu disebabkan oleh cara kerja Geothermal. Kendati pemerintah menyebutnya sebagai energi terbarukan, cara kerjanya tak berbeda jauh dengan penambangan Batu Bara, yakni melalui tahap drilling, penyerapan air, penguapan lalu pemutaran turbin. Ancaman hak atas air datang sebab letak Kasinan yang rentan. Bila wilayah sekitar Kasinan dijadikan titik proyeksi, maka kemungkinan besar akan menyebabkan gempa skala kecil yang dapat memicu longsor. Jika kejadian longsor terjadi, maka kemungkinan besar tingkat kejadian banjir di wilayah Malang Raya akan meningkat. Belum lagi proses pencairan ekspansi titik tambang yang akan melibatkan kegiatan buka hutan. Besar kemungkinan ini mempengaruhi potensi Banjir Bandang sebagaimana terjadi di wilayah kecamatan Bumiaji pada November 2021 lalu. Tentu ini kemungkinan makro. Barang tentu kejadian ini dampaknya tak secara langsung dirasakan oleh masyarakat dengan cepat. Namun, geothermal lebih lanjut akan menyasar penggunaan air. Dalam catatan dampak Geothermal di Desa Ngebel LAPORAN UTAMA
28 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Ponorogo misalnya, awak pers Mahasiswa Al-Millah, IAIN Ponorogo mengalkulasi jumlah kebutuhan geothermal untuk menghasilkan listrik setara dengan konsumsi 200 galon/Mwh* (38.000 liter/ Mw per jam). Sementara untuk konsumsi rata-rata masyarakat, kebutuhan orang per satu hari adalah 70 liter. Bila dijumlah konsumen mata air yang dikelola Udin, maka jumlah rata-rata konsumsi masyarakat adalah 7000 liter per hari. Maka muatan serapan yang dieksploitasi oleh Geothermal lima kali lipat lebih banyak. Hasil drilling memang dikembalikan ke tanah lagi, namun berkaca pada kasus WKP Ngebel yang dikelola oleh PT. Dharmakarya Energi, air yang telah digunakan untuk kepentingan tambang, mengakibatkan air tercampur zat arsenik. Salah satu zat penyebab kanker dalam tubuh manusia. Desa Pesanggrahan, yang notabene mata pencaharian kesehariannya dekat dengan air, seperti petani dan peternak, maka besar kemungkinan menyebabkan gesekan besar antar masyarakat. Dari raut wajah setengah serius, Thalib mengatakan, “Intinya warga masyarakat Pesanggrahan, bukan hanya kelompok pengelola air, tapi masyarakat Pesanggrahan keseluruhan berkomitmen bahwa daerah hutan Kasinan benar-benar terjaga untuk daerah tangkapan air, jangan sampai ada kegiatan yang mengarah pada perusakan hutan, entah itu perusakan secara legal atau ilegal,” ujarnya LAPORAN UTAMA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 29 KARIKATUR Karikatur oleh Mohamad Rizaldy Pratama Aruna Putra/UAPM INOVASI
30 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Pemandangan Dusun Surorowo, Kecamatan Tutur, Kabupatern Pasuruan dilihat dari jalan utama pada sore menjelang maghrib (12/09/2022). Foto oleh Faris Rega Riswana/ UAPM INOVASI SEJARAH
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 31 Kilas Balik Teror Yersinia pestis: Bakteri Mematikan yang Merenggut Nyawa Masyarakat Surorowo | Faris Rega Riswana “DULU malah Pak Le saya mau diculik, dibunuh saja. Garagara mereka mengira penyebab kematian di sini [Surorowo] karena penghuni di situ [hutan larangan] gak terima pohonnya ditebang.” Sambil mengisap rokok kreteknya, Ponari mengisahkan bagaimana kepercayaan masyarakat Surorowo di tahun 1987 terhadap penyakit pes. Surorowo merupakan salah satu dusun di Desa Kayu Kebek yang terletak di sudut terpencil Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Butuh waktu sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Malang hingga sampai ke dusun tersebut. Jika Anda mengunjungi Surorowo dari Kota Malang, maka dua per tiga dari perjalanan yang Anda tempuh, Anda akan disuguhi oleh pemandangan alam yang hijau. Setelah memasuki kawasan Pasuruan dan memasuki Jalan Nongkojajar, Anda dapat merasakan suhu dingin yang membuat bulu-bulu di tangan Anda berdiri dan bibir Anda sedikit memucat. Suhu dingin tersebut telah dirasakan oleh masyarakat Surorowo sejak mereka masih berkebun jagung dan menginap di ladang hingga saat ini mereka beralih mengelola perkebunan apel. Ketinggian letak Surorowo inilah yang menyebabkan suhu cenderung berputar pada kisaran tensi 18-20 derajat celcius. Dalam kondisi ini, daerah lembab. Indikasi umum adanya lokasi yang terkena pes adalah kelembaban daerah. Begitupula yang terjadi pada tahun 1987 saat pes masuk ke Surorowo: masih dalam kondisi dingin dan lembab yang serupa. Tiga puluh menit kemudian, Anda akan menemui titik pusat Dusun Surorowo, Anda tidak akan lagi terlalu fokus menikmati pemandangan alam, karena akses jalan yang dilalui sudah mulai sulit untuk dilewati kendaraan bermotor. Anda harus melewati jalanan yang menanjak dan tanpa aspal. Hanya kerikil-kerikil dan batu besar yang menjadi lintasan untuk ban-ban kendaraan. Jika Anda berkunjung di bulan September, mungkin di tepian jalan rusak itu Anda akan disuguhi oleh pemandangan perkebunan apel dengan pohon yang masih rendah dan belum berbuah. Pemandangan tersebut terhitung sejak melalui jalan berbatu hingga SEJARAH
32 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 sampai ke pusat desa. Setidaknya itulah suasana yang hadir di satu-satunya jalur keluar masuk warga Surorowo di tahun 1987 saat membawa korban-korban pes menuju puskesmas terdekat. “Dulu gak ada jalan, yang meninggal itu dulu dibawa ke puskesmas, dimasukkan sarung, digotong kayak hewan,” kenang Ponari. Pemandangan yang tersaji saat memasuki Dusun Surorowo adalah bangunan-bangunan rumah warga yang kokoh dan besar. Sulit untuk menjumpai rumah yang terbuat dari kayu atau bambu, kebanyakan terbuat dari semen dan bata. Di depan jalan utama, berdiri masjid dua tingkat yang memiliki luas tidak kurang dari seperempat lapangan sepak bola. Jika dilihat dari segi bangunanbangunan yang berdiri, tidak ada bedanya desa terpencil ini dengan desa-desa lainnya yang umum ditemui di sudut-sudut Pasuruan. Dusun Surorowo saat ini telah terisi oleh setidaknya 125 rumah dilengkapi infrastruktur tambahan lain seperti sekolah, masjid, dan tempat ibadah lainnya. Hampir sulit dibayangkan bahwa dahulu, dusun ini adalah dusun terpencil yang kotor, tempat bersarangnya bakteri mematikan, sekaligus menjadi pusat penyebaran penyakit pes di Pasuruan. Kasus pes pertama di Pasuruan ditemukan di Surorowo yang sekaligus juga menjadi pusat penyebaran pes terbesar di Pasuruan sejak tahun 1987 hingga tahun 2000an. Kuswanto dan Ponari, yang merupakan surveilans pes pada hewan vektor mengisahkan bagaimana perjalanan hidupnya sebagai warga yang juga turut memerangi teror pes di daerah tempat tinggalnya. Kuswanto bercerita, dahulu Dusun Surorowo memang merupakan dusun yang kecil dan bisa dikatakan kurang memperhatikan terkait kesehatan baik kesehatan diri sendiri maupun lingkungan. Dusun kecil itu bahkan hingga tahun 1999 masih belum memiliki akses listrik. Listrik masuk ke desa sekitar tahun 2000-2002 dan tidak berupa akses penuh. Listrik hanya dinyalakan di waktu tertentu saja. Selain itu, akses jalan Dusun Surorowo saat itu juga sangat terbatas, baik akses masuk maupun akses keluar. Tidak banyak masyarakat Surorowo yang keluar dari desa, namun bukan berarti mereka tidak pernah keluar desa sama sekali. Masyarakat umumnya memiliki jadwal tertentu, setiap satu minggu sekali keluar desa untuk membeli kebutuhan pangan secara besar-besaran di pasar yang berada di Nongkojajar. “Orang dulu turun ke bawah [Nongkojajar] seminggu sekali, beli tempe besar, ditempelkan ke tembok gitu sama ikan asin digantung di tungku [sebagai upaya pengawetan],” jelas Kus, sapaan akrab dari Kuswanto. Penyakit pes mulanya dipercayai sebagai penyakit kutukan oleh masyarakat Surorowo. Menurut kepercayaan masyarakat saat itu, penyakit pes disebabkan karena beberapa masyarakat melakukan penebangan pohon di area hutan terlarang. Mereka mempercayai bahwa pohon besar yang ditebang tersebut memiliki penunggu dan ia tidak menerima perlakuan tidak sopan dari masyarakat sehingga mengirimkan penyakit kutukan, berupa penyakit pes. Pon menyebutkan bahwa pada saat tahun 1987 itu tidak ada masyarakat Surorowo SEJARAH
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 33 Batu yang terletak di jalan masuk menuju hutan larangan Dusun Surorowo tempat pertama kali dipercayai munculnya pagebluk penyakit pes. Foto oleh Faris Rega Riswana/UAPM INOVASI yang mengenal istilah medis untuk penyakit pes, mereka hanya menyebutnya sebagai pagebluk. Hingga saat ini, area penebangan pohon tersebut menjadi lokasi yang disakralkan oleh masyarakat. Mereka masih memiliki keyakinan bahwa ketika ada sesuatu yang dibawa keluar dari area dekat pohon itu, maka akan membawa musibah seperti musibah wabah pes di masa lalu. “Ranting kecil pun gak boleh dibawa keluar dari sini, memang begitu kepercayaannya,” tegas Pon selaku penduduk asli Dusun Surorowo. Hutan larangan yang disakralkan oleh masyarakat Surorowo terletak di pusat permukiman. Dari jalan utama dapat terlihat jelas membentang sepetak hutan yang rimbun dan asri, beberapa pepohonan yang didominasi pohon tinggi tidak membuat hutan tersebut berbeda dengan hutan-hutan lainnya. Tampak seperti biasa saja, kecuali hal-hal mistik yang lahir dan hidup di dalamnya. Di dalam hutan larangan tersebut, berdiri sebuah bangunan yang konon dihuni Danyang Surorowo. Danyang (jawa: dhanyang) dalam kebudayaan jawa dipercaya sebagai roh halus yang melindungi suatu tempat. Tempat tinggal Danyang ini memiliki halaman yang cukup luas untuk menaruh sajen, hanya memiliki satu pintu untuk menuju ruangan kecil, dan bangunan tersebut dicat dengan warna hijau yang kini telah sedikit luntur. “Nah yang bisa dilihat cuma ini [halamannya]. Setiap jumat legi ada upacara, sebulan sekali.” Pon menerangkan kegiatankegiatan yang rutin dilakukan di Danyang Surorowo sejak wabah pes hingga saat ini. Kegiatankegiatan yang diceritakan Pon adalah berupa penaruhan sajen dan pembacaan surat Yasin. Pembacaan Yasin dilakukan di lokasi lain yang disebut sebagai makam panjang. Meskipun Pon selaku warga Surorowo telah jarang terlibat dalam kegiatan tersebut, tapi ia mampu menjelaskan dengan sangat lancar seolah memang kegiatan tersebut adalah hal yang sudah pasti dihapal dan diketahui oleh siapapun yang tinggal di Surorowo. Masyarakat masih mematuhi larangan untuk menjamah hutan tersebut karena ketakutan akan teror penyakit yang mungkin bisa muncul kembali sebagai balasan karena tidak menghormati alam. Teror mengerikan sejak tahun 1987 sudah cukup membekas di ingatan masyarakat Surorowo, salah satunya adalah Pon. Ia mengingat betul bagaimana dusun kecilnya dahulu yang memang hanya ditempati 43 rumah, kemudian berubah selama beberapa waktu menjadi “Ranting kecil pun gak boleh dibawa keluar dari sini, memang begitu kepercayaannya,” tegas Pon selaku penduduk asli Dusun Surorowo. SEJARAH
34 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Bangunan Dahnyang Surorowo yang berada di dalam hutan larangan. Merupakan tempat diadakannya upacara pemberian sajen setiap Jumat Legi. Foto oleh Faris Rega Riswana/ UAPM INOVASI tempat yang semakin sepi penduduk. Banyak penduduk yang memutuskan untuk mengungsi sementara ke sanak saudaranya yang berada di desa lain hingga berhari-hari. “Sampe 40 hari ngungsi,” terang Pon. Saat wabah pes memasuki Surorowo, Pon bersama keluarganya tetap memilih untuk tinggal di desa, tidak mengikuti para tetangganya yang memutuskan mengungsi. “Wah gak ada orang di sini, banyak yang ngungsi, tirah. Tirak ke Ledok, ke Wadurejo,” jelas Pon. Masih melekat dalam ingatan Pon bagaimana keadaan desanya saat itu, setiap malam ia menyaksikan Somantri, ketua RT-nya berjalan-jalan telanjang dada mengelilingi kampung, dengan keyakinan bahwa hal tersebut perlu dilakukan sebagai penangkal semakin mewabahnya penyakit kutukan yang mereka percayai. Selain itu, kepercayaan lain yang dipegang oleh masyarakat Surorowo saat itu adalah bahwa korban pes yang meninggal juga ketika dimakamkan harus ditandu oleh para perempuan. “Itu katanya penangkalnya,” ucapnya. Masuknya Penyakit Zoonosis Pes ke Surorowo PENYAKIT pes merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau disebut sebagai penyakit zoonosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang endemik pada rodent yang hidup di alam liar dan dapat menyebar melalui gigitan pinjal. Pinjal sebagai vektor utama memiliki peran untuk menularkan bakteri Yersinia pestis yang terdapat di dalam daerah tikus yang terjangkit kepada hewan lain atau manusia melalui gigitannya. Mengutip dari Kemenkes RI (2014) bahwa Yersinia pestis pertama kali masuk ke negara Indonesia pada tahun 1910 melalui pelabuhan Surabaya. Bakteri tersebut masuk terbawa oleh pinjal pada tikus dari pelabuhan Rangoon di negara Myanmar. Penyakit pes kemudian menyebar dari Surabaya dan meluas ke daerah Surakarta pada tahun 1915 dan Yogyakarta pada tahun 1916. Selanjutnya, pes terus menyebar melalui pelabuhan Semarang di tahun 1916, pelabuhan Cirebon 1923, serta pelabuhan Tegal pada 1927. Wabah pes pertama kali ditemukan di Pasuruan pada tahun 1987 yakni di daerah Surorowo, kemudian 1997 dengan status KLB karena terdapat 13 orang suspek. Saat diwawancarai, Kus menyebutkan bahwa memang sulit memahami bagaimana penyakit pes bisa masuk dan tersebar di daerah Surorowo yang bahkan minim sekali akses menuju ke sana. Surorowo yang merupakan daerah terpencil tidak pernah ada pertukaranpertukaran besar seperti di SEJARAH
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 35 pelabuhan sebagaimana tempat penyebaran pes pada umumnya. Namun, mengingat penyakit pes merupakan penyakit zoonosis, maka tidak dapat dipungkiri bahwa kemungkinan penyakit ini menginfeksi manusia bisa terjadi melalui berbagai cara. Seperti dalam buku Guns, Germ, & Steel karya Jared Diamond, manusia pertama yang terinfeksi penyakit zoonosis pneumonia terjadi karena suatu kejadian yang gila. Diamond menuliskan kasus yang merepresentasikan satu topik besar terkait penyebaran penyakit zoonosis, yakni mikroba patogen yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit ini pertama diidentifikasi pada sepasang suami istri yang mengunjungi dokter dengan keluhan sang suami memiliki penyakit misterius yang tak bisa mereka tangani. Sayangnya, sang suami merupakan seorang yang pemalu dan tidak bisa berbahasa Inggris dengan fasih, hingga akhirnya kesulitan untuk berkomunikasi langsung dengan dokter. Oleh karena itu, percakapan antara sang suami sebagai pasien dengan dokter hanya berlangsung melalui perantara sang istri. Minimnya komunikasi dan misteriusnya penyakit yang diderita sang suami membuat dokter ikut mengalami stress karena sudah hampir seminggu bekerja ia masih belum dapat mendiagnosis penyakit apa yang diderita oleh pasiennya. Karena stress dan menyebabkan dokter putus asa, akhirnya ia melupakan sesuatu yang seharusnya ia jaga, yakni terkait kerahasiaan pasien. Ia melakukan kesalahan, yakni menyuruh sang istri untuk menanyai suaminya apakah dia pernah memiliki pengalaman seksual yang mungkin bisa menyebabkan terjadinya infeksi penyakit yang dideritanya. Sang suami, dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang terbatas akhirnya menjelaskan beberapa hal yang kemudian perlahan memunculkan jawaban, sang suami mengaku bahwa ia berhubungan seksual berulangulang dengan domba saat mengunjungi peternakan keluarga, dan hal ini diduga merupakan penyebab ia tertular mikroba misterius yang Bangunan bekas Laboratorium Lapangan yang digunakan para surveilans pes pada tahun 1987. Foto oleh Faris Rega Riswana/ UAPM INOVASI kemudian saat ini kita kenal sebagai mikroba penyebab penyakit pneumonia. Kasus yang ditulis oleh Diamond merupakan kasus nyata bahwa kemungkinan penyebaran penyakit zoonosis memang sulit untuk dideteksi. Perlu usaha yang lebih detail untuk mengetahui dari mana asal mulanya, yang mungkin begitu pula harus diterapkan untuk mendeteksi bagaimana awal mulanya salah satu warga di desa terpencil bisa terserang penyakit misterius seperti pes. Tidak menutup kemungkinan dapat terjadi hal-hal gila lainnya yang menjadi penyebab SEJARAH
36 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Yersinia pestis dapat mewabah di Surorowo. Teror Mengerikan Yersinia pestis PENYAKIT misterius pes yang dikenal oleh warga Surorowo sebagai penyakit kutukan ini memakan korban jiwa yang cukup banyak. Menurut kesaksian Pon, yang saat kejadian di tahun 90an bertahan untuk tetap berada di Surorowo menyebutkan bahwa banyak warga yang meninggal dalam waktu singkat, korban yang mengalami gejala di siang hari bisa meninggal di malam hari. “Dulu sebelah sana RT 01 nangis [ada warga] meninggal, kemudian sorenya RT lainnya,” jelas Pon. Informasi tersebut dikonfirmasi oleh data Kemenkes RI yang menyebutkan bahwa pada bulan Februari 1987 secara kumulatif ditemukan 20 kasus kematian dari 24 penderita demam tinggi di Surorowo, yang diduga disebabkan oleh penyakit pes. Pon menyebutkan bahwa pada saat itu, warga Surorowo tetap mempercayai penyakit tersebut sebagai penyakit kutukan sehingga tidak ada satupun dari warga terjangkit yang memutuskan untuk berobat ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas. Masyarakat hanya berobat ke dukun, sesuai kepercayaannya. Bahkan, ada beberapa yang menutupnutupi penyakit di keluarganya, terutama jika yang terinfeksi penyakit tersebut adalah anakanak. Anak-anak yang terjangkit penyakit masih sering dibawa ke ladang oleh ibu mereka. “Misal ada anak kecil sakit dulu itu tetap dibawa ke ladang. Kalau ada yang tanya, mereka jawabnya gak apa-apa, anak saya gak apa-apa.” Kus selaku surveilans menyebutkan bahwa bakteri Yersinia pestis pertama kali berhasil ia temukan pada tahun 1997, yakni pada serum darah pasien bernama Sujiati. Mulanya, Sujiati didiagnosis menderita HIV oleh R.S. Marsudi Waluyo Malang, namun berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan pada serum darah dan tikus yang berhasil ditangkap dari rumahnya oleh tim surveilans puskesmas Nongkojajar, menunjukkan hasil bahwa terdapat infeksi bakteri Yersinia pestis. “Kita istilahnya kecolongan, karena ga periksa ke Puskesmas Nongkojajar,” jelas Kus. Kabupaten Pasuruan menurut data dari Kemenkes RI telah berkali-kali menyandang status Kejadian Luar Biasa (KLB) karena pes. Pertama adalah pada 1987 dengan 224 suspek pes, kemudian terjadi KLB kembali di tahun 1997 dengan 13 suspek pes, dan di tahun 2007 dengan 82 suspek pes. Beberapa kecamatan di Pasuruan dikelompokkan menjadi daerah fokus dan terancam. Daerah fokus adalah daerah di mana ditemukannya kasus pes sedangkan daerah terancam adalah daerah yang berbatasan dengan daerah fokus. Dusun Surorowo merupakan daerah fokus pengamatan pes. SEJARAH
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 37 SEJARAH Akankah sejarah kembali terulang? PENYAKIT pes merupakan salah satu penyakit yang tercatat dalam International Health Regulations (IHR) sebagai re-emerging disease atau penyakit lama yang berpotensi muncul kembali serta dapat menyebabkan wabah atau kejadian luar biasa (Riyanto, 2019). Penyakit pes seperti yang disampaikan oleh Riyanto (2019) juga telah disadari oleh para surveilans seperti Kus dan Pon sebagai penyakit tahunan yang muncul, yakni tepatnya dengan pola sepuluh tahun sekali. “Kalau sekarang semuanya hanya daerah pengamatan saja, karena sudah lama tidak ditemukan kasus pes,” jelas Kus saat diwawancarai di kantor Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP). Kus dan Pon masih aktif melakukan pengamatan. Setiap hari mereka melakukan proses pengambilan serum darah tikus-tikus yang ditangkap dari rumah warga, dari setiap dusun di Nongkojajar. Kus sudah sangat ahli mengambil serum darah tikus, cara ia mengendalikan dan menganestesi tikus-tikus sangat terlihat mudah dan terampil. Tim survelians Nongkojajar mengaku bahwa jika mereka menemukan bakteri Yersinia pestis kembali, mereka merasa tidak takut karena telah mengetahui bagaimana cara penanganannya sehingga kasus kematian pasti akan bisa Pemandangan Surorowo dilihat dari Hutan Larangan. Foto oleh Faris Rega Riswana/ UAPM INOVASI “Kalau sekarang semuanya hanya daerah pengamatan saja, karena sudah lama tidak ditemukan kasus pes,” jelas Kus saat diwawancarai di kantor Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP). dicegah. Teguh Suranta Sinulingga, kepala Laboratorium Vektor Penyakit BBTKLPP Surabaya, juga mengonfirmasi bahwa mengingat surveilans penyakit pes yang berjalan baik dan meningkatnya kesadaran sekaligus taraf hidup masyarakat di wilayah pengamatan, maka kemungkinan terjadinya wabah pes dapat diminimalisir. “Saat ini, semua wilayah pengamatan pes termasuk Surorowo, berdasarkan assessment WHO tahun 2019 memiliki resiko pes yang sangat kecil sekali dan terlokalisir,” jelas Lingga saat diwawancarai mengenai status penyakit pes di tahun 2022 ini.
38 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 39
40 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Petani Kota dan Lahan-Lahan yang Hilang | Moh. Wildan Firdausi Romadhani Pemandangan lahan tidak produktif di Tunjungsekar, Lowokwaru, Kota Malang. Foto oleh Moh. Wildan Firdausi Romadhani/ UAPM INOVASI (03/11/2022) BURUNG-BURUNG pipit anteng mematuk padi-padi yang sebagian sudah menguning, ketika Miskun (83), seorang buruh tani Tunjungsekar, Lowokwaru, Kota Malang sedang rehat sejenak di gubuk setelah seharian mengurusi sawahnya. Sepertinya, ia memang tidak ada niatan untuk mengusir burung-burung itu. Ia memilih untuk menghisap sebatang rokok sisa pemberian petani lain yang telah pulang lebih dahulu. Miskun yakin, menjadi petani bukan sekedar profesi. Menjadi petani, adalah salah satu jalan hidup untuk menumbuhkan rasa menyayangi makhluk ciptaan-Nya; manusia, hewan, dan lain-lain, termasuk dengan alam. “Aslinya [ada dalam kata] “SURO” [Sukmo, Urip, Roso, Obah]. Itu sudah semua ada pada badan kita sendiri.” Apa yang dia lakukan di awal dengan tidak mengusir burungburung pipit adalah termasuk Roso, rasa, sesama makhluk yang hidup. Sedangkan Obah, jalan hidup, ia pilih dengan cara bertani. “Semua sudah diatur. Barangkali, itu sudah rezeki mereka [burung-burung pipit],” jelasnya ketika ditemui kala siang di sawahnya (3/08/22). Perjuangan hidup Miskun sudah dimulai sejak masa sebelum proklamasi. Ia telah menjadi seorang gerilyawan sejak berumur delapan tahun. Ia juga pernah ikut bertempur di berbagai daerah guna mengusir penjajah. Selepas kemerdekaan, meskipun menyandang gelar sebagai pensiunan gerilyawan, Miskun sadar, ia tidak berharap lebih dari status yang ia miliki tersebut. Sehingga, beberapa tahun kemudian saat putra sulung Miskun mendapat tawaran untuk menjadi TNI, Miskun dengan mantap menolak tawaran tersebut. Keluarga Miskun lebih memilih untuk mencoba menggantungkan nasib hidup di profesi lainnya. Sebelumnya, Miskun sempat berprofesi menjadi sopir sebelum akhirnya ia menemukan jalan hidupnya sebagai seorang petani. Profesi sebagai seorang petani adalah satu-satunya harapan Miskun di usia senjanya kini. Tidak ada pekerjaan lain yang menurutnya cukup untuk beralih profesi lagi. Meskipun permasalahan pertanian seperti sulitnya pupuk subsidi, mahalnya harga komoditas benih, dan lain-lain, ia tetap percaya, bertani adalah jalan hidup terbaik yang ia pilih. “[Sebenarnya] semua banyak yang tani [petani], ya [ada juga] sawahnya dijual buat perumahan-perumahan itu,” sambil menunjuk ke ujung kompleks perumahan yang masih separuh jadi. Jaraknya cukup dekat dengan sepetak sawah yang digarap Miskun ini. Awalnya, ia menggarap sawah tersebut dengan beberapa petani lainnya. Namun, AGRARIA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 41 AGRARIA kemudian seiring dengan alih fungsi lahan, sawah-sawah yang dikelola masyarakat setempat tersebut hilang digantikan oleh kompleks perumahan. Sudah berlangsung lima tahun Miskun menggarap sawah berukuran 1.100 meter persegi ini. Sepetak sawah tersebut adalah titipan dari seseorang yang sedang tinggal di Singapura. Awalnya, lahan ini tidak ada yang menggarap karena memang dipenuhi oleh rumput-rumput liar dan pohon-pohon tinggi. Membutuhkan waktu setahun penuh untuk ia kemudian membersihkan lahan hingga siap ditanami. “Terus satu tahun agak bersih, terus coba saya cangkul. Saya tanami sayur,” ceritanya. Tahun pertama setelah dibersihkan, terdapat sekitar enam petak lahan yang bisa ditanami. Miskun mencoba menanam berbagai macam sayur seperti sawi, kubis, buncis, dan kacang panjang. Hasil panen dari mengelola lahan ini ia ambil sendiri untuk keperluan keluarganya di rumah. Selang beberapa lama, ia mulai beralih ke tanaman padi karena dirasa hasil panen sayur tidak maksimal akibat kontur tanah yang tidak cocok ditanami sayur-sayuran. Mengingat, lahan Miskun memang berada di antara komoditas tanaman padi yang memiliki jenis tanah lempung, pertimbangan yang dipilihnya memang dirasa tepat. Asam garam mengurus sepetak lahan garapan ini sudah banyak Miskun rasakan. Sekilas, ketika melihat sekitar lokasi lahan Miskun, seakan-akan ini bukan di daerah perkotaan. Sebelah timur dari lahan ini terdapat sungai kecil yang biasa ia pakai untuk santai sejenak sehabis mencangkul. Biasanya pula, ia memanen pisang yang tumbuh di pinggiran sungai tersebut. Kemudian, ia membersihkan diri di tempat yang sama sebelum pulang ke rumah. Rutinitas itu lazim ia lakukan saban hari. “Dulunya [lahan ini]
42 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 hutan. Namanya hutan kota. Kalau itu [menunjuk ke arah samping sungai] punya ABM susah diapa-apakan.” Maksud Miskun, lahan persawahan samping sungai kecil tersebut sudah diakuisisi oleh sebuah yayasan pendidikan yang ada di Kota Malang. Kurang lebih dua hektar luas lahan sudah diakuisisi oleh pihak yayasan tersebut dan akan dijadikan kompleks perumahan. Lahanlahan di sekitar sudah mulai beralih ke pihak lain. Tentunya, tidak menutup kemungkinan, hal itu terjadi juga pada lahan persawahan yang sedang dikelola oleh Miskun. Tahun demi tahun, alih fungsi lahan kerap terjadi di Kota Malang. Coffee Shop mulai marak ‘tumbuh’ terutama di kawasan sekitar kampus, bahkan hingga di tengah-tengah pemukiman. Selain itu, seiring dengan pertambahan jumlah Miskun (83), Buruh Tani asal Tunjungsekar, Lowokwaru, Kota Malang. Foto oleh Moh. Wildan Firdausi Romadhani/ UAPM INOVASI mahasiswa setiap tahunnya, kompleks perumahan yang menjadi rumah-rumah kost juga semakin merajalela. Termasuk lahan sawah Miskun pun kini menjadi incaran para investor dan para makelar tanah. Sawah yang dikelola Miskun juga hendak dijual oleh pemilik lahan tersebut. Hal itu diketahui Miskun ketika si pemilik menelponnya beberapa minggu sebelumnya. “[Katanya si pemilik lahan] laku besok ya besok [berhenti tani], pokok sudah cocok harganya,” begitu kira-kira apa yang Miskun ceritakan. Ia tidak bisa berbuat banyak dengan keputusan tersebut. Ia hanya berpikir, mengapa sawah-sawah tidak bisa bertahan di wilayah perkotaan, demikian pula para petaninya. Jika lahan ini sudah diambil alih, ia sudah memiliki Luas Lahan dan Penggunaan Lahan di Kota Malang (ha). Total lahan yang tersedia sebanyak 11.006 ha. Sumber: Badang Pusat Statistika (BPS) Kota Malang. pilihan lain untuk melanjutkan hidupnya. Istirahat di rumah dan mengerjakan kesibukan yang lain adalah pilihan yang ia putuskan. “Istirahat di rumah, tapi aku ada kesibukan banyak. Ya ngarit, wong punya kambing. Punya kambing delapan mau manak lagi,” terangnya sambil memandang ke arah sawah. Ia tidak menyangka, sesulit ini melawan kehendaknya sendiri untuk terus bertani. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika (BPS) Kota Malang, terjadi penurunan luas lahan persawahan dalam kurun waktu 2018 hingga 2020. Pada 2020 hanya tersisa sembilan persen lahan persawahan dari total 11.006 hektar lahan yang ada di kota ini. Bandingkan dengan meningkatnya lahan bukan pertanian pada tahun yang sama. Lahan bukan pertanian pada tahun 2020 mencapai 75 persen dari total lahan yang tersedia, naik sebanyak 67 hektar lahan dari tahun 2019. Sedangkan sisanya, seluas 16 persen merupakan lahan Pertanian Bukan Sawah. “Iya [luas lahan persawahan] AGRARIA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 43 menyusut, malah banyak menyusutnya,” sambung Miskun ketika ditanyakan perihal luas lahan persawahan di daerahnya (21/11/2022). Padahal, daerah Miskun tersebut merupakan daerah yang memiliki luas lahan persawahan terbanyak kedua setelah Kedungkandang. Lowokwaru, daerah persawahan yang digarap Miskun, masih memiliki lahan persawahan yang lebih luas dari lima kecamatan lain di Kota Malang selain Kecamatan Kedungkandang. Perlu diketahui, bahwa di dua kecamatan lain, yakni Blimbing hanya terdapat 75 hektar luas persawahan yang tersisa, dan Klojen sama sekali tidak mempunyai lahan persawahan. Artinya, pasokan pangan hasil pertanian Kota Malang hanya bergantung pada Lowokwaru, Kedungkandang, dan Sukun, yang masih memiliki lahan persawahan di atas 100 hektar. Tentunya, dengan hanya mengandalkan jumlah luas lahan sawah yang tersisa saat ini saja sudah tidak mencukupi pasokan pangan di kota ini, bagaimana jika jumlah lahan sawah ini semakin berkurang lagi dan lagi? Ada tiga jenis lahan pertanian menurut pembagiannya; lahan pertanian sawah, lahan pertanian bukan sawah, dan lahan bukan pertanian. Pertama, lahan pertanian sawah merupakan lahan pertanian yang umumnya berbentuk petak-petak (pematang), terdapat saluran irigasi, dan biasanya ditanami padi. Lahan jenis pertama ini yang menjadi sorotan pada cerita Miskun. Kedua, lahan pertanian bukan sawah, dipakai untuk pertanian namun dengan penggunaan air yang terbatas. Biasanya, jenis lahan ini mengandalkan curah hujan di sekitarnya untuk keperluan pengairan. Berbeda dengan jenis lahan pertama yang memiliki pasokan air melimpah sehingga mendukung untuk komoditas padi, lahan jenis kedua biasanya dipakai untuk ditanami jagung, ubi, atau stroberi. Sedangkan, ketiga, lahan bukan pertanian adalah lahan yang sama sekali tidak dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, seperti perumahan, industri, dan sebagainya. Jenis suatu lahan akan memungkinkan berubah-ubah, tergantung bagaimana lahan tersebut dikelola. Apa yang ditakutkan petani seperti Miskun tentang alih fungsi lahan memang menjadi ketakutan yang paling sering menghantui para petani pada umumnya, lebih-lebih petani di perkotaan. Konversi lahan terjadi terus menerus tanpa bisa ditebak, sehingga sulit untuk memprediksi kapan, dan bagaimana para petani harus bersikap. Termasuk, apabila pemerintah kota, dengan k ebijak an-k ebijak anny a , lebih berorientasi pada sektor riil, seperti sektor industri, perdagangan, dan jasa. Hal tersebut akan cenderung menggeser sektor pertanian, terkhusus pertanian pangan yang berbasis persawahan. Konon, semakin berkurangnya lahan pertanian akan semakin menguatkan posisi sebuah kota menuju Kota Modern. Keresahan terhadap alih fungsi lahan persawahan juga turut menghantui petani lainnya. Pailan, petani Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang, beberapa kali mempertanyakan, mengapa alih fungsi lahan sebegitu masifnya terjadi. Ia menggarap sepetak sawah yang luasnya tidak sampai satu hektar, hanya Luas Lahan dan Penggunaan Lahan di Kota Malang (ha). Total lahan yang tersedia sebanyak 11.006 ha. Sumber: Badang Pusat Statistika (BPS) Kota Malang. AGRARIA
44 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 sekitar 5000 meter persegi. Berbeda dengan persawahan yang digarap Miskun, Pailan mengelola sawah yang berada di tengah-tengah kompleks perumahan Joyo Agung. Bahkan, sebelah timur dekat sawah tersebut telah mulai ada proses pengosongan lahan untuk dibangun kompleks perumahan lainnya. Pailan menceritakan akan perubahan-perubahan yang terjadi di daerah persawahan yang ia garap. Saat daerah tersebut sepenuhnya masih menjadi persawahan, terdapat jalan poros yang selalu dilalui para petani saat panen, jalan tersebut memiliki lebar yang hanya cukup untuk dilalui satu gerobak pengangkut hasil panen saja. Namun, saat ini, seiring dengan berubahnya lahan persawahan menjadi kompleks perumahan, jalan tersebut mulai semakin melebar hingga mencapai lebar lima meter, kini jalan poros tersebut sudah cukup untuk dilalui kendaraan roda empat yang keluar masuk menuju kompleks perumahan, termasuk dilalui oleh truk-truk pengangkut bahan material guna pembangunan perumahan tersebut. “Dulu, sebelum ada perumahan ini, lebih dulu ada jalan ini. Sudah ada. Untuk orang-orang tani dulu kalau panen. Kalau pulang, ya ini jalan pertama dulu,” jelas Pailan. Pailan mengingat dengan baik, bagaimana dahulu sawah-sawah masih ramai di sekitar lokasinya. Kompleks Pailan, Petani Cabai Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Foto oleh Muhammad Rasyid/ UAPM INOVASI perumahan masih tidak seramai sekarang. Selepas dari sawah, iya masih sering berpapasan dengan petani-petani lain di jalan. Tentunya, dengan pengalaman yang demikian, ia paham betul seluk-beluk perihal pertanian. Keluarga Pailan adalah petani sejak zaman pemerintah Soeharto. Sejak kecil, ia bersama ayahnya turut menggarap lahan bengkok milik pemerintah setempat. Termasuk pula, lahanlahan yang pernah ia garap kini menjadi kampus Universitas Brawijaya dan Taman Singha Merjosari. Mulai tahun 1984 hingga 1998, ia menggarap bengkok di dua wilayah tersebut. Bapaknya juga dahulu memiliki banyak lahan sawah yang bisa digarap. Tak ayal, jika Pailan lantas menceritakan bagaimana susahnya menjadi petani hari ini daripada dahulu ketika ia masih aktif menggarap banyak sawah tersebut. Pailan adalah petani tanaman cabai. Sepetak sawah yang sedang ia garap saat ini, adalah sisa lahan peninggalan dari orang tuanya. Dalam setahun, ia bisa menanami sawahnya sebanyak dua kali. Sekali tanam, ia membutuhkan dua kwintal pupuk. Sehingga, ia membutuhkan empat kwintal untuk satu tahun tersebut. Selain pupuk, Pailan juga membutuhkan benih cabai, plastik, obat tanaman dan lainnya. Untuk satu plastik roll saja ia harus menghabiskan uang sebanyak 750 ribu rupiah. Dan ia membutuhkan tiga roll plastik untuk seluas lahan yang ia garap. Kadang kala, ketika terdapat beberapa benih cabai yang gagal panen, ia ganti dengan tanaman jagung. Dalam mengganti tanaman itu, ia harus mengeluarkan biaya yang tidak sama pula. Kurang lebih, biaya yang dikeluarkan untuk sekali tanam hampir mencapai AGRARIA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 45 Foto Atas: Jalan poros yang sering dilalui petani Joyoagung keluar masuk persawahan. Foto oleh Muhammad Rasyid/UAPM INOVASI Foto Bawah: Ruas jalan poros tersebut kini semakin lebar guna akses material bangunan kompleks perumahan yang ada di daerah tersebut. Foto oleh Moh. Wildan Firdausi Romadhani/UAPM INOVASI (02/11/2023) dua puluh juta rupiah. “Ya itu untuk nutup [modalnya] itu susah. Sekarang uang satu juta itu cuma dapat 4 botol 4 liter [pupuk cair]. Ada yang 300 [ribu] ada yang 190 [ribu] pupuk cairnya. [Itu] untuk seperti daunnya kuning, dan lain-lain,” keluhnya. “Banyak [petani] yang males [kesal] gara-gara harganya dari pupuk [harga pupuk naik], nanti kalau pengobatan mahalmahal obatnya terus penjualan hasil itu nggak sebanding.” “Nggak nyukupi!” tegasnya. Meskipun terdapat tantangan-tantangan dalam menjalani profesinya sebagai petani, Pailan tetap teguh bertahan. Menurutnya, memilih untuk tetap menekuni bidang tersebut adalah keputusan yang hadir sebab sejak kecil Pailan memang telah dibentuk oleh keluarganya untuk menjadi seorang petani. “Tahun 1970 saya sudah diajari kerja sama orang tua. Jadi sekolah itu cuma kelas dua SD, itu sudah putus. Soalnya jaman dulu kalau gak punya harapan kan disuruh tani sama orang tua. Itu lho, awalnya dari situ,” jelas Pailan. Kehendak Menekan Laju Alih Fungsi LAJU alih fungsi lahan persawahan seperti yang dikhawatirkan Miskun dan Pailan sebenarnya bisa ditekan bila pemerintah kota, melalui kebijakannya, berkehendak untuk melakukan hal tersebut. Dengan kata lain, apabila pemerintah merasa lahan AGRARIA
46 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 persawahan sangat berarti untuk dipertahankan, maka mereka akan mengeluarkan kebijakan untuk mendukung pelestarian lahan persawahan itu sendiri. Hal tersebutlah, yang menurut Muhammad Izzuddin, Ketua Aliansi Petani Indonesia (API) harus terus dipertanyakan. “Dalam pendekatan Kota Malang dilihat dari tata ruang, yang pembangunan nggak bisa ditahan, [khususnya] alih fungsi [lahan persawahan]. Dari aspek pemerintahan, political will atau kemauan politik [dari pemerintah] tidak ada untuk menekan laju alih fungsi lahan,” ucapnya ketika ditemui oleh UAPM INOVASI (22/11/22). Political Will yang dimaksud oleh Izzuddin adalah pemerintah Kota Malang sebagai stakeholder merumuskan sebuah kebijakan. Dalam konteks alih fungsi lahan persawahan, pemerintah provinsi sebenarnya telah merumuskannya dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Dalam Perda tersebut ditulis, perlindungan atas petani dilakukan pula terhadap lahan yang dimuat dalam sistem informasi Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi. Dalam kata lain, luas lahan yang tercatat dalam sistem tersebut seharusnya dilindungi oleh pemerintah dari upaya-upaya alih fungsi. Namun, Perda Jatim tersebut dirasa kurang mengikat karena tidak ada spesifikasi luas lahan pertanian seperti apa yang dilindungi dari upaya alih fungsi lahan tersebut. Sebenarnya, menurut Izzuddin, terdapat peraturan di tingkat kabupaten/kota yang lebih spesifik membahas perihal alih fungsi lahan, yakni Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). LP2B ini mengatur bidang pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. “Kalau sudah lahan pertanian diikat LP2B maka tidak boleh alih fungsi lahan dalam bentuk apapun, selain kepentingan umum atau PSN [Proyek Strategi Nasional],” jelasnya. Wilayah Jawa Timur sendiri, masih terdapat 14 daerah yang memiliki Perda LP2B. Daerah-daerah berikut antara lain Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Ngawi, Kota Batu, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, Kabupaten Madiun, Kabupaten Gresik, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Lumajang. “Itukan Perda-nya [LP2B] nggak ada di [Kota] Malang. Kabupaten Malang, Kota Batu itu [sudah] ada Perda-nya. Artinya, ini secara political will,” terang sosok yang juga pernah menempuh studi di Kota Malang tersebut. “Kalau gak ditekan laju alih fungsi ini dengan regulasi ya, LP2B itu, Perda-nya itu, ya ini gak akan bisa terkontrol. Apalagi petani-petani itu dalam kondisi tersandera ya,” imbuhnya. Ia mengibaratkan, apabila ada yang mempunyai inisiatif menjadi petani atau membuka usaha pertanian, orang tersebut akan memikirkan terlebih dahulu seberapa luas lahan yang ia miliki. Di samping luas lahan, ia harus benar-benar berani untuk bertaruh dengan permasalahan pupuk yang mahal, gabah yang dihargai rendah, dan perubahan iklim yang nanti ia rasakan ketika ia sudah memutuskan untuk terjun ke usaha pertanian. Dengan beban yang seperti itu, banyak kemudian yang urung untuk menjadi petani. Setidaknya, ketika dikorelasikan dengan fungsi LP2B, orang yang terjun dalam usaha pertanian (petani) mempunyai jaminan atas permasalahan pertanian tersebut. Katakanlah, dalam tujuan LP2B Kabupaten Malang yang dirumuskan dalam Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2015 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Kabupaten Malang, terdapat pasal yang menjamin tersedianya lahan pertanian pangan, melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani, hingga meningkatkan kemakmuran AGRARIA
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 47 AGRARIA serta kesejahteraan petani dan masyarakat. Sehingga, dengan adanya kepastian hukum ini, sekurang-kurangnya dapat meyakinkan penyelesaian masalah-masalah yang sering dirasakan oleh petani tersebut. Pada praktiknya, Rancangan LP2B Kota Malang mulai sempat dibahas oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang pada 21 Oktober 2019 di Hotel Sahid Montana 2, Malang. Namun lagi-lagi, hingga tahun 2023, rancangan tersebut belum kunjung disahkan oleh pemerintah kota. Alih-alih merampungkan, pemerintah Kota Malang mengeluarkan kebijakan baru Nomor 6 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Malang Tahun 2022-2042. Peraturan tersebut lebih dikenal dengan istilah Perda RTRW. Dalam perda tersebut, pemerintah mengklaim telah mengikat sebanyak 400 hektar lahan sawah untuk dilindungi dari total 803 lahan sawah yang ditanami padi di Kota Malang. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi usai pembukaan Gelar Teknologi Pertanian dan Pameran hasil Pertanian di Halaman Mini Block Office Balai Kota Malang (6/3/2023). “Di RTRW sudah mengikat kawasan sawah yang dilindungi, yakni sekitar 400 hektae yang tidak boleh dialihfungsikan dan tersebar di wilayah Kecamatan Kedungkandang, Sukun, dan Lowokwaru,” ungkap Slamet, dikutip dari situs resmi pemerintah Kota Malang. Padahal, menurut Izzuddin, Perda RTRW belum sepenuhnya cukup untuk mengakomodir permasalahan alih fungsi lahan yang kerap kali terjadi tersebut. “Logikanya kan statement pejabat bilang Kota Malang itu sama seperti Surabaya yang memang tidak diwajibkan penetapan lahan pertanian permanen berkelanjutan. Bahasanya begitu,” ia mempertanyakan, jika permasalahan pertanian yang berkaitan dengan distribusi pangan terbatas seperti pandemi beberapa waktu yang lalu, itu akan rentan terhadap kesejahteraan petani. Hal tersebut yang menurutnya kerap kali luput menjadi perhitungan. Selaras dengan Izzuddin, beberapa kalangan mempertanyakan nasib lahan pertanian dalam Perda RTRW tersebut. Salah satunya, M. Fahrudin Andriyansyah, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang (UNISMA), merasa pembentukan Perda RTRW terbaru tersebut minim keterlibatan masyarakat. “Padahal kehadiran masyarakat atau organisasi masyarakat sipil, akan sangat berguna dalam memberikan masukan terhadap penyusunan Ranperda Tata Ruang Wilayah,” ujarnya, dikutip dari laman rri. go.id (2/11/2023). [] “Itukan Perda-nya [LP2B] nggak ada di [Kota] Malang. Kabupaten Malang, Kota Batu itu [sudah] ada Perda-nya. Artinya, ini secara political will,” terang sosok yang juga pernah menempuh studi sarjana di Kota Malang.
48 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Cerita dari Dapur Redaksi Asrur Rodzi* ADA argumen dari seorang kawan ketika dia mau keluar dari keanggotaan pers mahasiswa. Katanya peran pers mahasiswa terbatasi sama anggaran. Pemberitaan dan proses redaksi yang panjang nan melelahkan kalah dengan argumentasi struktural kampus. Dan, tementemen lain tak berkutik dengan argumentasi tersebut. Itu pernyataan yang saya dengar beberapa tahun silam. Saya tak punya kesempatan membantahnya dan menghormati pilihan dia. Tapi jika ruang imajiner dialog dimunculkan, ada beberapa argumentasi yang ingin saya lontarkan. Tapi, sebelum itu saya coba jelaskan pertanyaan yang sering muncul di khalayak ramai, kenapa sebuah lembaga yang dibiayai sepenuhnya oleh kampus ini justru punya kecenderungan pemberitaan yang kontra terhadap kampus? Yang membedakan pers mahasiswa dari kebanyakan organisasi adalah perannya sebagai media, yakni dengan memberitakan informasi kepada khalayak ramai utamanya civitas akademi UIN Maliki Malang. Bagaimana pemberitaan diibuat, informasi seperti apa dan bagaimana menjadi diskusi yang rutin di meja keredaksian. Pemilahan fakta inilah yang jadi ruh utama proses jurnalistik. Sebelum ada istilah banjir informasi yang membuat orang kesulitan mengolah informasi, proses pemilihan informasi jadi kegiatan rutin di organisasi ini. Informasi dipilih untuk melihat mana yang paling proposional. Namun kemudian, tolok ukur jadi pembahasan berikutnya; proposional seperti apa? dan mengapa demikian? Media, apalagi yang sekarang, biasa berpatokan dengan jumlah pembacaan. Semakin banyak berita dibaca maka semakin relevan. Tak heran ada istilah click bait agar orang penasaran dan mengunjungi halaman berita tersebut. Proposional, relevansi berita jadi urusan belakangan. Media “konvensional” seperti koran dan majalah punya pola yang mirip. Judul sensasional dihadirkan di depan. Proporsi kehebohan jadi daya tarik utama untuk menggaet pembaca. HIKAYAT
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 49 HIKAYAT Kadang, di media yang lebih banal, tragedi, kesadisan sampai seksualitas jadi daya pancing utama untuk merebut perhatian pembaca. Di sini, fungsi proporsional berubah makna menjadi asal dibaca. Perlu dan tidaknya gak ada pembahasan sama sekali. Lalu bagaimana Persma? Nah, ini yang menjadi poin polemiknya. Keuangan Persma sepenuhnya ditopang dari kampus, sehingga ada pandangan yang menyebut kegiatan jurnalistik pers mahasiswa harus sesuai dengan yang membiayainya. Ini argumentasi yang tak sepenuhnya salah tapi tak bisa ditafsirkan secara tunggal. Relevan menurut kampus berbeda dengan relevan menurut redaksi Persma. Perbedaan perspektif ini hadir karena keseluruhan redaksi adalah mahasiswa. Kampus sebagai wahana pendidikan memang punya peran yang mulia. Tapi media juga punya fungsi lain yaitu kontrol. Fungsi kontrol ini biasanya hadir dalam memberitakan peristiwa yang melibatkan beberapa pihak. Proporsi seperti apa yang sebaiknya dihadirkan. Apakah memberikan ruang kepada semua pihak dengan porsi yang sama adalah tindakan yang tepat? Apakah dengan seperti itu objektivitas bisa dicapai dengan menerapkan prosedur yang tepat? Media pada dasarnya tak pernah bisa netral dan tak pernah bisa untuk tak berpihak. Jika konteks sekarang, netralitas pada perkara Israel dan Palestina dianggap memihak dominasi agresi Israel. Pembahasan soal netralitas dalam media juga punya paradigma yang sama. Proses keredaksian dari pemilihan kata, diksi, narasumber sampai foto punya muatan dan kecenderungan ke arah tertentu. Inilah yang disebut framing, atau bingkai yang kita pilah dalam menceritakan kembali fakta. Proses pemberitaan yang sepenuhnya condong ini membuat media perlu memikirkan secara tegas keberpihakannya. Di sinilah kampus dilihat secara berbeda. Perannya sebagai lembaga pendidikan punya unsur dominasi jika disejajarkan dengan unit lain seperti mahasiswa. Inilah juga alasan kenapa pers mahasiswa sering melihat kekuasaan kampus atau unsur dibawahnya seperti dewan eksekutif mahasiswa punya kecenderungan untuk mendominasi dan perlu diawasi kekuasaannya. Dominasi ini yang kami identifikasi dan dijadikan acuan dalam memilah keberpihakan. Perspektif pers mahasiswa yang saling bertentangan dengan kampus kemudian diselesaikan secara administratif; penyensoran produk majalah, pembekuan anggaran, jadi cerita umum ketika membicarakan sejarah pers mahasiswa. Nah di sini poin perdebatan di awal tulisan muncul. “Serangan” administrasi pada lembaga juga bisa diikuti dengan serangan ke individu. Ketakutan dan kekhawatiran jadi makanan umum ketika keredaksian mulai membahas kasus yang mengusik kekuasaan. Mukadimah inilah yang jadi latar di awal paragraf. Anggaran yang menopang kegiatan pers mahasiswa malah dijadikan alat untuk menyandera kegiatan jurnalistik. Melawan jelas adalah opsi yang luhur. Dengan demikian, pendekatan ke arah sana yang menjadi sajian utama, kenapa tulisan ini hadir. Membicarakan Independensi STRUKTUR di pers mahasiswa atau pers secara umum cukup unik. Ada kekuasaan ganda yang sengaja dipisahkan. Ada unit perusahaan dan unit keredaksian. Keduanya dipisahkan untuk menanggulangi intervensi modal dalam pemberitaan. Motede ini digunakan sebagai bentuk tanggung jawab bahwa media punya idepedensi terhadap sponsor atau kepemilikan perusahaan. Pendekatan struktural ini hadir karena perlunya semangat indepedensi dalam pemberitaan. Keberpihakan atas kepentingan publik harus diutamakan dan menjaga jarak terhadap kepentingan pengusa, entah modal ataupun negara, adalah sesuatu yang perlu. Persma di satu sisi justru bertopang secara finansial dan legalitas pada lembaga yang paling berpotensi melanggengkan kekuasaan di lingkungan kampus. Pertanyaan yang sering muncul, apakah indepedensi itu juga berarti harus keluar dari keorganisasian kemahasiswaan (pers mahasiswa
50 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 HIKAYAT secara struktural di bawah kemahasiswaan) dan menjadi lembaga yang otonom, yang dengan begitu independensi sepenuhnya terjamin? Perlu dilihat kembali, intervensi juga bisa diaplikasikan ke individu. Kampus punya sumber daya untuk memaksa mahasiswa untuk patuh pada otoritas. Ada perangkat nilai atau proses studi yang bisa diintervensi. Belum lagi aturan hukum macam UU ITE yang mengikat kita sebagai warga negara Indonesia. Regulasi dan kepastian hukum terkait kerja jurnalistik ada tapi hanya mengikat lembaga berbadan hukum. Persma sendiri merupakan lembaga yang dibawah naungan universitas yang tidak termasuk lembaga berbadan hukum. Mungkin ada tafsiran lain dan tulisan lain yang membahas kegiatan jurnalistik kampus dan legalitasnya, namun saya sendiri tak punya kapasitas untuk mengulasnya lebih dalam. Yang perlu diperhatikan bagaimana proses pemberitaan bertransformasi. Sekarang, “penerbitan” bisa diakses semua orang. Media sosial jadi platform yang jauh lebih berdampak dan bisa diakses setiap individu. Kalau kita lihat bagaimana kiprah pers mahasiswa mengkritisi kampus, bisa kalah populer dengan platform anonim macam shitposting yang menyajikan meme yang satir terhadap kebijakan kampus. Di sinilah poinnya. Bagaimana metode pemberitaan yang diolah secara akademis bersaing dengan konten seperti itu? Proses pemilihan informasi yang banyak verifikasi serta diskusi panjang bersaing dengan “kritik spontanitas” ala konten shitposting yang begitu cepat. Media semacam Persma juga perlu bertransformasi dengan gaya pembaca yang memang terus berubah. Kembali ke pembahasan awal, independensi seperti apa yang perlu dihadirkan di dalam kegiatan jurnalistik kampus? Menjadi lembaga Persma yang tetap berada dalam naungan universitas seperti menunggu bola panas akan intervensi kampus yang berlangsung seiring keaktifan organisasi. Kampus dengan leluasa meletakkan kuasanya dan memberedel aktivitas organisasi. Rasanya perlu pola yang berbeda untuk membuat perubahan yang berbeda pula. Ada beberapa ide dari kawan lain dengan melakukan sosialisasi peran pers mahasiswa ke stakeholder kampus baik, ke organisasian mahasiswa sampai tingkat universitas. Perjanjian mungkin bisa diupayakan atau publikasi sosialisasi seperti tulisan ini. Yang perlu dilihat juga kampus adalah lembaga pendidikan di mana budaya pendidikan seharusnya diutamakan. Proses pengawasan yang dilakukan pers mahasiswa bisa diletakkan dalam proses pendidikan, di mana proses pendidik syarat dengan koreksi dan perbaikan. Pendekatan ini mungkin bisa dilakukan walaupun tak mudah. Terakhir mungkin sedikit refleksi dari pengalaman saya di pers mahasiswa. Relevansi persma dihadapan mahasiswa didik baru makin ke sini terlihat semakin sulit diminati. Bergabung dengan organisasi yang menjadi anjing penjaga kekuasaan mungkin terlihat heroik di awal tapi memakan banyak energi dan ketakutan setelahnya. Untuk sekedar menyalakan lilin optimisme, relevansi persma bisa hadir dari bagaimana kita terbiasa melihat kekuasaan seperti kampus ataupun negara secara lebih proporsional. Kritik dan pengawasan itu perlu bukan karena kita berburuk sangka, tapi karena kita meletakkan tiap manusia secara setara, yakni yang bisa abai dan melampaui batas. Ya, seperti abainya rezim yang memerintah negeri ini sekarang. *Pelatih UAPM INOVASI, pernah pula berproses di dalamnya sebagai Anggota Redaksi.