Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 51 HIKAYAT Kritik dan pengawasan itu perlu bukan karena kita berburuk sangka, tapi karena kita meletakkan tiap manusia secara setara, yakni yang bisa abai dan melampaui batas. Asrur Rodzi, Cerita dari Dapur Redaksi Majalah INOVASI Edisi XXXVII/Th.37/Desember,2023 “
52 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 Sebuah Cerpen Heroik yang Gagal Dituliskan | Mohammad Lutfi Maula* ‘Dune landscape’ painted by Fons Heijnsbroek commons.wikimedia.org in acryl paint in 1990. CERPEN
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 53 CERPEN PADA awal 2129 Masehi, ketika Presiden Jayanesia semakin gencar mengampanyekan program “Revolusi Intelektual”, sebuah program yang mewajibkan penduduk Jayanesia untuk menanggalkan organ dalam tubuh mulai dari jantung, liver, paru-paru, dan ginjal, untuk kemudian dipasang kembali pada robot seri 2-XX-2129 sebagai penadahnya—sebuah model robot yang digarap selama dua tahun oleh Institut Kemajuan Bangsa Jayanesia guna meminimalisir krisis ekonomi dan pangan, terjadi demonstrasi besar-besaran di halaman Istana Negara. Beberapa kilometer dari situ, di sudut perpustakaan tua negara, Eric Halid menyaksikan kericuhan tersebut melalui siaran langsung berita di tabnya, dengan bulu kuduk yang meremang dan peluh yang mengucur di dahi sekaligus dadanya. Pemandangan tersebut, bagi Eric Halid, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Sejak satu dekade lalu, lebih tepatnya ketika ia masih asyik-khusyuk bergumul dengan bukubuku bertemakan ekologi di perpustakaan kampusnya, ia telah memperkirakan kericuhan tersebut akan terjadi. Melalui analisanya terhadap krisis iklim Jayanesia yang mencapai titik darurat, ia membuat beberapa hipotesis tentang pelbagai kemungkinan fenomena yang akan terjadi satu dekade ke depan. Dan analisanya yang cemerlang itu, hampir tidak meleset sedikit pun. Yang mengejutkan baginya— dan bagi hampir seluruh penduduk Jayanesia, tentu saja—adalah keputusan yang dipilih oleh Presiden Jayanesia di tengah kericuhan tersebut. Alih-alih mendinginkan suasana, kebijakan yang disahkan pejabat pemerintahan Jayanesia justru membikin keadaan kian kisruh. Semua bermula ketika pada 2126 lalu, melalui pidatonya di Hari Kesehatan dan Ketahanan Iklim Jayanesia, Presiden Jayanesia menggagas program “Revolusi Intelektual” guna meredam kritik-kritik yang dilontarkan para akademisi dan aktivis lingkungan terkait krisis iklim di Jayanesia yang berdampak pada krisis ekonomi sekaligus pangan. Konon, menurut seorang filsuf, tragedi melulu berulang; pertama sebagai tragedi dan kedua sekaligus setelahnya menjadi lelucon. Tetapi tidak ada yang bisa dijadikan lelucon di Jayanesia. Sebab segalanya telah menjelma tragedi, begitulah pikir Eric Halid sebagai jurnalis muda Jayanesia yang turut memprotes gagasan revolusi tersebut. Meskipun ia yakin bahwa usaha menentang gagasan tersebut akan sia-sia belaka, ia tetap melayangkan gugatan dengan menuliskan puluhan opininya di media massa. Tetapi jalan yang ia pilih tentu bukan sama sekali tanpa resiko. Eric Halid sadar tulisantulisannya serupa peluru—atau mungkin bumerang? Dan setiap peluru yang ia tembakkan, sejatinya hanya akan mengenai dirinya seorang. *** KETIKA kericuhan di hampir setiap penjuru Jayanesia, khususnya di muka Istana Negara tak terbendung lagi, bertentangan dengan yang Eric Halid harapkan—meski ia sudah menduga hal ini akan terjadi, Presiden Jayanesia memerintahkan ribuan polisi yang telah berevolusi menjadi manusia-setengah-robot untuk tidak hanya menangkap para demonstran yang membikin ricuh di halaman Istana Negara, tetapi juga memburu para jurnalis-jurnalis serta membredel puluhan media massa yang punya pengaruh besar, baik yang berbasis daring atau luring sekalipun. Ini kali kedua nama Eric Halid masuk daftar utama buronan negara. Tiga tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya ia membaui sikap otoriter Presiden Jayanesia, ia menulis sebuah esai. Ia mengkritik rencana Presiden Jayanesia membuat Perppu yang berkaitan dengan undang-undang jurnalistik. Saat itu, dengan bahasa yang disamar-samarkan, Presiden Jayanesia berencana membuat suatu kebijakan yang dapat menginterupsi kebebasan pers. Usai melancarkan kritik tersebut dan tulisannya ramai diperbincangkan warga, ratusan surel dan pesan suara anonim masuk ke dalam tabnya. Kebanyakan pesan itu memiliki
54 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 muatan yang sama: sebuah ancaman. “Kau mulai gila, Bung.” demikian komentar Syaifudin Gozali, karib terdekatnya, dan satu-satunya orang yang menyapanya dengan sapaan ‘Bung’, setelah berhari-hari mendapat teror serupa di gawainya. Sejak teror-teror tersebut berdatangan, keduanya meninggalkan kantor media tempat mereka bekerja sekaligus tinggal. Mereka memutuskan untuk menyewa sebuah rumah—dengan identitas palsu tentu saja—di bilangan Molokasi, tak jauh dari pusat Kota Eskolokarta dan bermukim di sana dua bulan lamanya. Namun, berada di tempat tinggal baru, teror-teror baru pun berdatangan. Raut wajah tetangga atau siapa saja yang berada dekat rumah mereka, selalu mengundang rasa waswas. Keduanya merasa hidup di tengah barikade yang nyaris hancur seluruhnya dalam medan peperangan; hanya mampu mengawasi apa yang tampak sejauh mata memandang dan mencurigai hampir setiap gerakan; seraya bersiap diri mencegah berbagai kemungkinan buruk yang akan datang. Ketika hari silih berganti, dan waktu selalu terasa berjalan lamban, di tengah kegamangan itu, Syaifudin Gozali sampai pada titik jenuhnya. Ia muak menjalani hari dengan tidur yang tak pernah tenang, diiringi lapar yang tak pernah terpuaskan. Dan, sialnya, hal itu diperparah dengan tekanan darah dalam tubuhnya yang terasa kian meninggi tiap harinya. Maka sepanjang hari ia melulu mengeluhkan keadaan. Tetapi berlainan dengan Syaifudin Gozali, Eric Halid tetap berusaha tenang menghadapi situasi itu. Bukan berarti sama sekali ia tak pernah mengeluhkan keadaan tersebut, namun ia adalah seseorang yang berpegang teguh pada prinsip. Ia telah siap menerima segala konsekuensi, meski tak jarang terbesit dalam pikirannya untuk menyudahi segala derita itu, lalu pergi dan bersembunyi di antah berantah. Hingga tiba suatu hari, Eric Halid muak mendengar keluhan-keluhan yang dilontarkan sahabatnya. “Aku ingin melakukan apa yang harus aku lakukan. Kalau kau takut, pergilah dari negara ini seperti yang dilakukan para jurnalis pengecut yang pernah bekerja sama dengan kita itu!.” Eric Halid tak pernah menyangka bahwa ucapannya tersebut menjadi ucapan perpisahannya dengan Syaifudin Gozali. Sebab sampai saat ini ia tak pernah mendengar kabar perihal keberadaan Syaifudin Gozali lagi. Laiknya perjumpaan pertama mereka, kepergian Syaifudin Gozali pun meninggalkan kesan misterius di benak Eric Halid. Eric Halid ingat, suatu pagi saat sedang khusyuk membaca opini yang ia tulis dan kirimkan pada surat kabar dengan nama samaran di pelataran tukang koran, seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya. “Tulisanmu bagus, Bung. Saya suka. Sangat bernas dan cergas. Panggil saja Syaifudin Gozali. Saya penggemar berat Anda. Boleh duduk?” Eric Halid belum lagi sepenuhnya sadar atas keterkejutan itu saat seorang lelaki berdada bidang dengan raut wajah serta nada bicara yang ramah, yang memperkenalkan dirinya sebagai Syaifudin Gozali itu duduk di sebelahnya. Ia ingat betul, tak pernah memberitahukan pada siapa pun perihal nama samarannya. Ia punya puluhan nama samaran dan ia yakin tak seorang pun tahu bahwa namanama itu hasil gubahannya. Tetapi Eric Halid seolah tak ingin ambil pusing saat itu. Ia bersikap sewajarnya dan mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Mulai dari bunuh diri para novelis terkenal hingga ekspansi Alien ke Bumi yang gagal empat dasawarsa lalu. Meskipun diam-diam, bahkan sampai saat ini, Eric Halid masih memikirkan kejanggalan pertemuan awal mereka tersebut. Tentu saja ia pernah bertanya secara langsung pada Syaifudin Gozali terkait hal itu dalam beberapa kesempatan. Tapi selalu dengan mudahnya Syaifudin Gozali mengalihkan pembicaraan mereka, dan dengan mudahnya pula membikin ia tak memedulikan CERPEN
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 55 kembali pertanyaan-pertanyaan yang sejatinya terarsip rapi di kepalanya. Dan tak dapat ia mungkiri, dengan kepergian Syaifudin Gozali, daftar pertanyaan di kepalanya makin bertambah. Namun kehidupan mesti berlanjut, dan perjuangan melawan pemerintah otoriter tak boleh berhenti, dengan atau tanpa Syaifudin Gozali, pikir Eric Halid. Bukan berarti ia tak bersedih dengan kepergian Syaifudin Gozali, tetapi perasaan cintanya akan bangsa Jayanesia jauh lebih besar. Pikirnya, seorang terpelajar mesti tabah menghadapi dilema semacam itu. Akhirnya, sejak kepergian Syaifudin Gozali, Eric Halid mulai memikirkan tempat persembunyian yang aman. Ia merasa rumahnya sudah tak aman lagi. Semakin derasnya pesan-pesan teror yang ia terima tiap harinya, semakin ia ingin cepat minggat dari rumahnya. Dan pada momenmomen itulah, ketika ia mengerahkan segala pikiran cerdiknya untuk memikirkan tempat persembunyian di kota kecil ini, terlintas di benaknya kisah seorang proklamator Indonesia yang pernah sesumbar mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah merasa kesepian saat berada di penjara seandainya ditemani buku-buku. Tetapi sebelum benar-benar memutuskan tempat persembunyiannya, dengan mengesampingkan rasa kecewanya, Eric Halid terlebih dulu meminta saran kepada rekan-rekan jurnalisnya yang telah kabur dari daratan Jayanesia. Tetapi rekanrekannya justru membalas pesannya lewat pesan singkat dengan pin-hologram-biru, yang berarti pesannya sangat rahasia dan hanya bisa dibaca oleh penerima pesan, dan menganjurkan Eric Halid untuk segera kabur dari Jayanesia. Tapi Eric Halid tetap teguh pada pendiriannya. Beberapa hari usai membaca pesan-pesan dari rekan jurnalisnya, Eric Halid telah memilih tempat persembunyian yang menurutnya akan sulit ditemukan oleh para polisi negara, baik yang telah berevolusi atau yang belum sekalipun. Karenanya, di dalam sebuah gedung di sudut kota Eskolokarta, saat ini, kau sudah tahu, tanpa sedikit pun merasa gamam akan tertangkap, Eric Halid duduk membaca sebuah kumpulan cerpen karya penulis Indonesia berinisial SGA. Gedung itu adalah sebuah perpustakaan tua milik negara. Di dalamnya tersimpan arsiparsip tulisan beberapa abad lalu karya penulis-penulis belahan dunia. Di tempat itulah Eric Halid membaca arsip-arsip penting yang kertas-kertasnya telah meruapkan bau tak sedap dan membikin ruangan itu terasa sumpek. Dan di tempat itu pula ia berhasil menelurkan opini-opininya yang mampu memobilisasi massa untuk memprotes gagasan “Revolusi Intelektual” Presiden Jayanesia. Tentu saja Eric Halid percaya bahwa ia akan merasa tentram memenjarakan dirinya di sebuah perpustakaan, tetapi itu bukanlah satu-satunya alasan ia memilih perpustakaan sebagai tempat persembunyian. Bagaimanapun, ia telah meneliti sejumlah riset dari arsip-arsip kuno yang banyak mewartakan kabar bahwa sejak puluhan abad lalu sampai saat ini, dari berbagai daftar kelompok orang yang malas membaca, polisi selalu menduduki daftar teratas. Adapun alasan lainnya, dan yang terpenting, perpustakaan tua ini belum dilengkapi kamera pengintai dan hanya dijaga oleh seorang penulis tua—seorang ekspatriat Indonesia—yang telah lama menjadikan perpustakaan itu sebagai tempat tinggalnya. Maka di sebuah gedung tua, di tengah-tengah arsip kuno yang, ia percaya, baik Presiden atau bawahannya pun tak pernah menengoknya sepanjang hidup mereka. Tetapi pertaruhan ini hanya masalah waktu. Jika Eric Halid beruntung, maka ia bisa tinggal untuk waktu yang cukup lama. Dan, sebaliknya. *** TIBALAH malam itu. Suatu malam di mana saat asyikkhusyuk membaca cerpencerpen penulis Indonesia, tibatiba terbesit di benak Eric Halid untuk menulis sebuah cerpen. Ide itu melintas ketika ia baru saja merampungkan cerpen bertajuk “Pembunuhan” dan “Corat-Coret di Toilet”. Tanpa CERPEN
56 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 sadar, kedua cerpen itu berhasil membikin ia terobsesi menulis cerpen. Sebab, pikirnya, dua cerpen itu terasa begitu relevan dengan cerita yang ingin ia gubah selekas mungkin untuk kemudian ia sebarkan kepada para demonstran. “Lagi pula tak ada salahnya seorang esais sesekali menulis cerpen,” batinnya. Tak berlama-lama, ia mulai mengguratkan pena di tabnya. Ia berencana menulis kisah seorang diktator yang ditembak dari belakang oleh seorang aktivis oposisi yang menyamar jadi polisi bawahannya ketika sang diktator itu sedang terpaku membaca tulisan-tulisan subversif di tembok-tembok yang mengelilingi Istana Negara. Ia telah menemukan alur, latar, sudut pandang serta berbagai anasir yang ajek. Dan tak luput juga, ia telah mendapatkan gambaran tokohtokoh yang akan memainkan peran signifikan dalam cerpennya. Namun demikian, nahas baginya, semua itu seperti tak membantu pikirannya yang tiba-tiba saja membeku ketika ia hendak menuliskan paragraf pembuka. Selagi ia masih berusaha untuk menulis kalimat pembuka cerpennya, tiga orang polisi manusia-setengah-robot mendobrak pintu perpustakaan tua itu. Ruang yang semula hening seketika bising. Langkah-langkah datang menghampiri jiwa yang resah. Lantai pualam beradu gesek dengan kaki-kaki aluminium, meninggalkan decit yang membikin telinga ngilu, juga tetes cairan yang tak sedap dihidu. Tak lama kemudian, seorang di antara tiga polisi itu telah menodong senjata laser seri 9-P2108 ke dahi Eric Halid yang tampak masih asyik-masyuk berpikir. Polisi itu berbisik dengan suara yang terdengar mirip desing radio usang. “Sudah cukup menulisnya, Bung!” Di tengah keterkejutannya itu, Eric Halid hanya bergeming. Ia memandangi tiga polisi yang menciduknya. Ia merasa telah mengenali sesuatu, tapi ia luput. Kelebatan-kelebatan ingatannya serupa helai-helai benang yang kusut: dan ia berusaha menarik sehelai. Sehelai ingatan yang melela di kepalanya ialah sepotong kalimat pembuka cerpennya yang belum lagi rampung, sepotong kalimat cerpen pertamanya, sepotong kalimat cerpen yang tak akan pernah bisa ia selesaikan: “Pada awal 2129 Masehi, ketika Presiden Jayanesia semakin gencar mengampanyekan program “Revolusi Intelektual”...” (*) Serang, 2022 Biodata Penulis: Mohammad Lutfi Maula. Lahir di Jakarta 08 Februari 2000. Saat ini sedang menyelesaikan studi S1 di jurusan Filsafat UIN SMH Banten. Beberapa tulisannya dimuat di media cetak dan daring seperti Jawa Pos, Koran Jakarta, Kedaulatan Rakyat, Detik.com, Mojok.co, dll. Email: [email protected] CERPEN
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 57 PUISI Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan. Leila S. Chudori, Laut Bercerita “
58 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | Puisi-Puisi Nola Amalia Rosyada* Tikus-Tikus Serakah Yang satu kejar tujuan kekuasaan Merangkak naik dengan dukungan Pasukan tikus-tikus bodoh yang dimanfaatkan Acuh akan korban-korban Yang disenggol kiri kanan Hingga tak bisa makan Hingga tiada pendidikan Bahkan korban hingga ke Tuhan Dasar tikus-tikus serakah Hewan kotor tapi maunya hidup mewah Padahal kerja nyata pun tak pernah Kerjanya berulah Janjinya tiada yang amanah Bisanya mencekik yang bawah Tak mau dicap salah Kritikan sukanya dibantah Dasar tikus-tikus serakah Yang bukan haknya diambil paksa Yang bukan miliknya dicuri Bahkan kuatnya pondasi digerogoti Mengusirnya justru berbahaya Karena serius serangan pasukannya Bisa mati digigiti Oleh tikus-tikus tak tahu diri Dasar tikus-tikus serakah Kelakuannya macam bedebah Takkan pernah merasa puas Akan terus-terusan memeras Hingga mereka bisa berada paling atas Tak peduli meski aksinya ganas Asal semua penghalang bisa mereka hempas Kehidupan tikus memang selalu culas Jingga Kelana Mulanya kami nikmati eloknya panorama berdua Mulanya kami terbiasa saksikan senja bersama Mulanya kami terbiasa berdua Hingga akhirnya aku dipaksa tuk bisa Melanjutkan perkelanaan yang tersisa Hanya seorang saja... Kususuri lembah gunung samudra Demi lupakan rasa lara kumulai berkelana Tak terasa kumulai pencarianku pada senja Tak ingin ku terlena dengan nestapa Ku hanya ingin bersuka cita Hingga ku lupa bahwa ku punya luka Pencarian senja tak jarang sakitkan daksa Pencarian yang bahkan buatku luka Namun, senja menjadi satu-satunya alasanku bisa bersuka Suasana senja yang amat mempesona Senja yang selalu berhasil tenangkan lara Senja yang ingatkanku padanya Kukira pencarian bisa mengisi lakuna Kukira senja bisa buatku terlena Ternyata semua kembali seperti semua Eloknya senja ingatkanku padanya Senja yang selalu jadi kenangan kita rupanya tak sanggup ku lupa Hingga semakin berkelana buru senja semakin aku merindukannya. First abstract watercolor, painted by Wassily Kandinsky, 1913 PUISI
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 59 PUISI Padahal telah lama berpisah Pertemuan tak lagi bisa ditanggalkan Hanya potretan gambar yang tersisa Momen-momen tak bisa lagi diulang Ia hidup dalam kenangan Tapi ia tak pernah pergi Ia selalu disini Ia selalu menemani Tertulis dalam sajak-sajak puisi Terpatri dalam intonasi Tak ada lagi raga yang bisa digenggam Tak ada lagi rasa yang kurasakan Tak ada lagi momen yang bisa diciptakan Tak ada lagi tempat untukku pulang Lagi-lagi hanya ada di ingatan Tapi ia tak pernah mati Ia selalu hidup di hati Dibalik lagu-lagu bermelodi Dibalik lukisan-lukisan seni Dibalik sajak-sajak puisi Apakah Itu Cinta Ia Tak Pernah Mati Telah lama ku kesepian Akrablahku dengan kesendirian Kadang tenang kadang bosan Namun tidaklah aku menyesal Kadang jatuh cinta itu sesat Bisa buat orang jadi payah Tak jarang hilang arah Tersesat akal tersesat rasa Menjadi bodoh pada masanya Doktrin “cinta adalah segalanya” menempel di kepala Terjebak euforia sesaat Beruntung jika tak sentuh maksiat Tapi sedikit yang sependapat Sisanya terjerumus kesesatan cinta Syaitan melekat amat kuat Birahi pun bisa lepas Ada yang merasa dosa Bertaubat dan menyesalinya Ada yang biasa saja Tak dirasa kesalahaannya Ada juga yang meneruskannya Katanya “wajar anak muda memadu cinta” Ya sudah, terserah Arti cinta tiap orang berbeda Tak bisa dipaksa Biodata Penulis: Nola Amalia Rosyada. Lahir di Batu 02 April 2003. Saat ini sedang menyelesaikan studi S1 Sastra Inggris di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Email: [email protected] commons.wikimedia.org
60 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 MOOD saya telah berubah setelah tidak menjadi wartawan koran mainstream, lima tahun berhenti menulis berita. Tiba-tiba INOVASI merayu saya untuk ikut berkontribusi dengan menulis esai untuk Majalah INOVASI. Pertama, saya menolak karena cuma diberikan waktu satu hari. Eh, kedua, tiba-tiba si INOVASI berubah pikiran, mereka memberikan waktu hampir dua minggu, akhirnya saya terima dengan berbagai pikiran, khawatir tidak bisa menulis yang bagus. Saking lamanya tidak menulis, saya grogi. Untuk itu mari membahas yang ada di sekitar kita saja. Misalnya mengenai ketahanan pangan. Apa itu? Kriteria ketahanan pangan yakni terpenuhinya kebutuhan pangan bagi setiap rumah tangga. Hal itu tercermin dari tersedianya pangan yang cukup. Artinya tercukupi dalam jumlah dan soal mutu pangannya. Selain itu juga ketahanan pangan harus aman, merata, dan terjangkau. Barangkali kondisi ketahanan pangan di sekitar kita baik-baik saja, gejolak naiknya harga pangan juga biasa. Ibu-ibu dan bapak-bapak masih bisa belanja beras, tempe, ayam, dan lainnya di pasar atau mlijo. Kalian yang hidup di kos-kosan masih bisa membeli nasi di warung nasi kesayangan. Jika kondisi dompet menipis, kalian masih bisa makan mie instan yang terjangkau. Data dari Index Ketahanan Pangan Global yang dirilis oleh The Economist dan Corteva (perusahaan sains bidang pangan) menempatkan ketahanan pangan Indonesia di urutan 69 dari 113 negara. Capaian ini sungguh dibawah ratarata indeks global yakni 62,2. Apa maksudnya dari data di atas? Kalian pasti tahu jika Indonesia adalah negara agraris. Akan tetapi, negara yang kaya akan sumber daya alamnya ini tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Beras yang menjadi makanan pokok rakyat masih bergantung dari impor. Tidak hanya beras, bahan pangan lainnya juga impor seperti, gula, kedelai, gandum, bahkan garam. Fakta bahwa Indonesia menjadi negara agraris namun tidak bisa menghasilkan bahan pokok yang cukup merupakan sebuah ironi. Hal ini tidak baik-baik saja seperti kondisi di sekitar kalian. Asal tahu saja, pertumbuhan sektor pertanian sangat rendah. Pemerintah berupaya memenuhi sektor pangan dengan melakukan impor. Beras didatangkan dari negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor beras ke Indonesia mencapai 1,59 juta ton selama periode JanuariAgustus 2023. Beras dari Thailand, mencapai 802 ribu ton atau berkontribusi 50,36% dari total impor beras. Urutan kedua, ditempati oleh Vietnam dengan volume impor sebesar 674 ribu ton atau menyumbang 42,33%. Negara pegimpor beras lainnya adalah India dan Pakistan. Lahan produktif untuk pertanian menjadi sumber utama mengenai belum tercukupinya ketahanan pangan. Kalian amati di sekitar kampus UIN Maliki Malang, dahulu masih ada beberapa petak di tengah pemukiman yang menjadi sawah. Namun sekarang sudah beralih fungsi menjadi lahan bangunan permanen. Alih fungsi lahan sangat sulit dibendung. Tercatat oleh Kementerian Pertanian sebanyak 90-100 ribu hektare per tahun. Alih fungsi lahan terus menerus terjadi karena meningkatnya jumlah populasi dan kebutuhan rakyat, misalnya pembangunan pemukiman, industri, tempat wisata, pendidikan, jalan raya, dan infrastruktur Limbung Pangan Aris Syaiful Anwar* KOLONI
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 61 lainnya. Sementara itu, usaha pemerintah untuk membuka lahan untuk sawah yang diberi nama food estate terbukti gagal total. Hutan di Kalimantan Tengah dan Merauke, Papua ditebangi, namun alih fungsi lahan gagal untuk persawahan. Tanaman singkong yang ditanam di atas lahan bekas hutan, tepatnya di Kabupaten Gunung Emas Kalimantan Tengah belum bisa dipanen, setelah dua tahun. Masyarakat yang berada di sekitar food estate merasakan dampaknya. Sebagian besar mereka memiliki profesi berburu dan meramu, hutan memberikan pangan yang melimpah. Namun, ketika pohon-pohon ditebangi untuk dijadikan sawah, mereka bingung untuk ketahanan pangan. Fenomena di atas memaksa masyarakat yang terbiasa berburu dan meramu beralih ke sumber pangan instan dan olahan. Beras dan mie instan berhasil menggeser pangan tradisional seperti umbi-umbian, dan sagu. Barangkali kalian pernah membaca atau mendengar berita anak Papua menukar pisang, bayam atau hasil ladang dengan mie instan. Sekarang mudah dijumpai anak-anak pedalaman Papua mengonsumsi makanan instan dan minuman instan serba manis. Inilah fenomena memilukan, dahulu mereka berdaulat pangan dari hutan, kini ketergantungan sumber pangan dari luar, tentunya dengan kualitas pangan yang buruk karena instan. Barangkali limbungnya ketahanan pangan berkat kontribusi bahwa makanan pokok rakyat harus nasi. Ungkapan jika belum makan nasi maka tidak kenyang terpatri di dalam otak setiap warga. Padahal sumber pangan selain nasi sangat berlimpah. Semoga pemerintah yang baru nanti bisa memanfaatkan sumber pangan selain nasi agar ketahanan pangan bisa tercapai. *bekas pemred majalah INOVASI lupa tahunnya, sekarang berprofesi sebagai tukang goreng kopi di warung Mbak Yah 3. KOLONI Ketika sensor berkuasa, ketika kekuasaan menindas akal sehat, maka jurnalisme harus melawan. Andreas Harsono, Agama Saya Adalah Jurnalisme “
62 INOVASI | Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 SPACE AVAILABLE
Edisi XXXVII/Th.37/Desember 2023 | INOVASI 63
Majalah ini gratis! Karena sudah ditanggung oleh biaya pendidikan kita yang kian waktu kian mahal.