Jurnal Planologi Vol. 17 No. 1, April 2020 Available : http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/psa Eppy Yuliani, Megita Aprilina I 119 Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Upaya … Gambar 1. Peta Sumberdaya air di Desa Lerep Sumber: Hasil Analsisi,2019 1. Curug Indrokilo Curug Indrokilo adalah air terjun yang berada di sebelah barat Dusun Indrokilo yang merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Lerep. Curug Indrokilo ini merupakan wisata alam yang masih alami dan dijaga oleh masyarakat Desa Wisata Lerep untuk dijadikan potensi sumberdaya air maupun untuk Daya Tarik Wisata Alam. Aksesibiltas menuju curug adalah jalan setapak yang dapat dilalui dengan berjalan kaki. Gambar 2. Curug Indrokilo di Desa Wisata Lerep Sumber: gpswisataindonesia.info Pada saat ini masyarakat desa memnafaatkan air dari curug untuk keperluan mandi cuci dan pengairan tanaman perkebunan pada areal dibawahnya, ataupun keperluan ternak maupunperikanan air tawar. Namun curug ini juga menjadi daya tarik wisata lokal maupun asing untuk berekreasi. Aksesibilitas menuju Curug Indrokilo ini melewati jalanan yang sangat terjal dengan banyak pepohonan rindang dan hutan bambu namun dapat dilewati oleh kendaraan a. kenampakan sungai di dekat curug b. kenampakan ketinggian curug Curug Indrokilo Embug Sebligo
Jurnal Planologi Vol. 17 No. 1, April 2020 Available : http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/psa Eppy Yuliani, Megita Aprilina I 120 Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Upaya … bermotor roda dua. Terdapat tempat parkir kendaraan roda dua dan lokasi curug dari tempat parkir dapat ditempuh dengan berjalan kaki melewati perkebunan kopi milik warga Desa Wisata Lerep. 2. Embung Sembligo Embung Sembligo adalah sebuah danau buatan yang terletak di tengah Desa Lerep yang dibangun oleh masyarakat Desa Lerep dengan kedalaman 5 meter dan daya tampung air sekitar Sembilan belas juta liter. Embung Sembligo ini dijadikan tempat penampungan air pada saat musim hujan tiba untuk kemudian di manfaatkan pada musim kemarau. Pembangunan Embung ini mendapatkan bantuan dari pertamina. Air di Embung Sembligo ini dimanfaatan sebagai sumber pengairan pada area sawah yang dibudidayakan di Desa Lerep pada saat musim kemarau tiba agar pertanian tetap berjalan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat Desa Lerep. Selain itu Embung ini juga dimanfaatan sebagai wisata air dan terdapat permainan air seperti perahu karet dan bebek air serta di sekitar Embung Sembligo ini dilengkapi dengan gazebo untuk bersantai Gambar 3. Embung Sembligo di Desa Lerep Sumber: Hasil Dokumentasi, 2019 Kearifan lokal “Tradisi Iriban” Masyarakat Desa Lerep Tradisi yang masih di kembangkan oleh warga Desa Lerep ada tiga kegiatan diantaranya iriban, kadeso dan sadranan Di Desa Lerep memiliki tradisi turun temurun yang masih dilestarikan oleh masyarakat. Tradisi tersebut menjadi ciri khas dari Desa Lerep itu sendiri dan masyarakatnya masih berupaya melestarikan karena turun temurun dari para leluhurnya. Berikut adalah penjelasan terkait tradisi yang ada di Desa Lerep untuk lebih jelasnya.
Jurnal Planologi Vol. 17 No. 1, April 2020 Available : http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/psa Eppy Yuliani, Megita Aprilina I 121 Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Upaya … “Kearifan lokanya ada kaya semacam tradisi gitu Kegiatan iriban atau bersih mata air, ada kadeso itu semacam sedekah bumi dan juga sadaranan berdoa dan slametan yang dilakukan di makam desa” SUS/20.11.19/KL1 Kegiatan tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh warga desa di beberapa lokasi yang ada di Desa Lerep, Berikut ini adalah uraian lengkap mengenai kearifan lokal dalam bentuk tradisi yang ada di Desa Lerep. Dalam kajian ini akan dideskripsikan kearifan lokal Iriban. Iriban dari kata Irib (bahasa Jawa artinya “emper”) dalam bahasa indonesia bisa diartikan mirip. Yang dimaksud mirip dalam hal ini adalah tradisi yang dilakukan oleh orang tua ataupun nenek moyangnya melakukan tradisi. Tradisi iriban yang ada di Desa Lerep adalah kegiatan pembersihan mata air yang dilakukan dengan serangkaian acara dan diikuti oleh warga Desa Lerep dengan tokoh masyarakat dan juga perangkat desa, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut ini. “Tradisi Iriban yang dijalankan untuk mengelola mata air yang ada di Desa Lerep sebagai wujud menjaganya dengan melakukan bersih-bersih mata air atau sungai dan bancaan dengan membakar ayam untuk di makan bersama-sama setelah bersih-bersih. Disini ada empat mata air tapi yang dilakukan iriban ada dua yaitu si udel dan si domble” AMD/15.11.19/KL Tradisi Iriban adalah pembersihan sumber mata air yang ada di Desa Lerep untuk daerah irigasi mintorogo maupun sumber mata air lainya. Kegiatan pembersihan mata air ini dilakukan pada saat akan tanam padi atau pada rabu kliwon dan bulan rajab. Ada dua mata air yang dijadikan tempat untuk kegiatan iriban yaitu mata air si udel dan si domble, lokasinya berada di Dusun Soka dan Susun lerep, berikut adalah lokasi dari mata air tersebut. Makna dari tradisi Iriban ini menunjukkan adanya bentuk pengelolaan sumberdaya air yang dilakukan oleh masyarakat secara periodik di Desa Lerep. Pengelolaan sumberdaya air mencakup pembersihan sumber mata air dari sampah yang menyumbaat aliran air; pengaturan distribusi pengairan untuk pertanian dan pemeliharaan bangunan disekitar Embung Sembligo.
Jurnal Planologi Vol. 17 No. 1, April 2020 Available : http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/psa Eppy Yuliani, Megita Aprilina I 122 Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Upaya … Gambar 4. Peta Lokasi Mata Air Dalam Kegiatan Iriban Sumber:Hasil Analisis,2020 Ritual yang dilakukan pada saat proses iriban yaitu dengan memotong ayam di atas aliran sumber air yang mengalir. Sehingga darah dari ayam yang dipotong akan mengalir dengan air tersebut. Maksud dari kegiatan ini adala sebagi bentuk pembersihan sumber mata air yang ada di Desa Wisata Lerep. Selanjutnya ayam tersebut akan dibakar dan dimasak sedangkan yang lainnya membersihkan sumber mata air dan sekitarnya Selanjutnya setelah besih-bersih diadakan selamatan dengan doa bersama kemudian makan bersama para warga dan sesepuh desa yang melakukan ritual iriban tersebut. Hal tersebut sesuai dengan kearifan lokal Tunggu Gunung Kudu Wareg dimana memanfaatkan kegiatan wisata dengan tetap menjaga kelestarian lingkungannya. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut ini. “Acaranya itu ada sembelih ayam di atas sumber air, nanti darah ayam itu ikut aliran airnya, itu maksudnya biar bersih aliran airnya. Ayam yang udah di sembelih tadi di masak, di kasih bumbu sedehana terus dimasaknya dibakar, nanti kita kita makan bareng-bareng di atas daun pisang, ada urap juga itu penting. Namanya itu sego iriban” SUS/20.11.19/KL3 Dimana untuk melengkapi tradisi ini digelar Bancaan Klubanan terdiri dari nasi urap dilengkapi dengan ayam kampung yang dibakar dengan ditusuk bambu sebelum dibakar dibumbui terlebih dahulu. Selain Ayam Kampung yang berjumlah sekitar 70 ekor, iriban juga menyajikan daun kopi muda yang dibakar dalam kolongan bambu kemudian Iriban Mata Air Si Udel Iriban Mata Air Si Domble
Jurnal Planologi Vol. 17 No. 1, April 2020 Available : http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/psa Eppy Yuliani, Megita Aprilina I 123 Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Upaya … dicampur dengan nasi urap.. Tradisi iriban ini juga merupakan wujud syukur atas pembersihan mata air yang ada di Desa Wisata Lerep. Gambar 5. Kegiatan Iriban Desa Wisata Lerep Sumber: Profil Deswita Lerep,2019 Terlepas dari kegiatan tradisi Iriban yang dilaksanakan masyarakat, makna dari kegiatan ini yaitu adanya kebersamaan masyarakat untuk memperhartikan keberadaan sumberdaya air di Desa Lerep. Melalui kearifan lokal ini, masyarakat melakukan bersihbersih sumber air,mebersihkan embung, memperbaiki saluran pengairan, menghilangkan sumbatan-sumbatan sampah yang menghambat aliran air. Dengan demikian maka yang air berasal dari 2 sumber mata air akan tetap terjaga, dan berfungsi sebagai pengairan tanaman pertanian pangan maupun perkebunan yang ada di kawasan bawahnya. Sedangkan embung tetap dikelola sebagai penampungan air di musim penghujan, sehingga pada musim kemarau embung ini dapatdimanfaatkan untuk pengairan pertanian. Menjelang musim tanam , masyarakat mempersiapkan prasarana air untuk budidaya tanaman pertanian. Pada saat musim tanam khususnya masyarakat petani tidak mengalami kekurangan air untu budidaya tanaman. Demikian pula kebutuhan air utuk rumah tangga masyarakat dapat terpenuhibaik dari aliran air yang dari curug maupun air dari embung Sembligo.
Jurnal Planologi Vol. 17 No. 1, April 2020 Available : http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/psa Eppy Yuliani, Megita Aprilina I 124 Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Upaya … 4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Kehidupan masyarakat Desa Lerep erat kaitannya dengan aktivitas tradisi yang menjadi kearifan loka masyarakat desa. Bentuk kearifan lokal Iriban merupakan upaya masyarakat dalam mengelola sumberdaya air bagi kehidupan masyarakat baik untuk kepentingan rumah tangga,maupun pertanian. Makna dari tradisi Iriban ini menunjukkan adanya bentuk pengelolaan sumberdaya air yang dilakukan oleh masyarakat secara periodik di Desa Lerep. Pengelolaan sumberdaya air mencakup pembersihan sumber mata air dari sampah yang menyumbaat aliran air; pengaturan distribusi pengairan untuk pertanian dan pemeliharaan bangunan disekitar Embung Sembligo. Dengan demikian sumberdaya air di Desa Lerep senantiasa terjaga. 4.2. Saran Pemerintah daerah perlu melestarikan kearifan lokal masyarakat. Melalui kearifan lokal dapat mejadi sarana dalam pelaksanaan program pembangunan di wilayah pedesaan. Perlunya dikaji partisipasi generasi milenial dalam pembangunan berbasis kearifan lokal. 5. DAFTAR PUSTA Abdullah, Idi. (2011). Sosiologi Pendidikan Individu, Masyarakat dan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press Anonim, 2019. Kecamatan Ungaran Barat dalam Angka. Badan Pusat Statistik, Kabupaten Semarang Aziz, Agus. (2015). Studi Dinamika Masyarakat Desa Dalam Pembangunan Berbasis Kearifan Lokal. Salatiga : Thesis Pascasarjana Magister Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana Basrowi, Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta Muhadjir, Noeng. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik dan Realisme Metaphisik Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama. Yogyakarta: Bayu Indra Grafika. Mohamad Wakhyudin dan Juhadi, Heri Tjahjono (2017). Kearifan Lokal Sebagai Upaya Ketahanan Pangan Di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang Tahun Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Jurnal Planologi Vol. 17 No. 1, April 2020 Available : http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/psa Eppy Yuliani, Megita Aprilina I 125 Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Upaya … Nasiwan, dkk. (2012). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Yogyakarta: Ombak Sedyawati, Edi. (2006). Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sibarani, Robert. (2012). Kearifan Lokal: Hakikat, Peran dan Metode Tradisi Lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan. Sartika, M. (2018). Kajian Praktik Budaya Religi di Desa Nyatnyono, 20(1), 109–128.
Abdi Masyarakat http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/PB/issue/archive Vol. 1. No. 1. Juni 2019 p-ISSN: 2715-8799 e-ISSN: 2715-9108 Abdi Masyarakat 29 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Seloto dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Di Danau Lebo Iwan Doddy Dharmawibawa Dosen Pendidikan Biologi IKIP Mataram [email protected] Abstrak: Kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat disuatu tempat dan merupakan warisan nenek moyang dalam tata nilai kehidupan yang menyatu dalam bentuk religi, budaya,dan adat-istiadat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis kearifan local masyarakat Desa Seloto dalam pengelolaan sumberdayaalam d iDanau Lebo. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, dokumentasi, dan Observasi. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Desa Seloto ditemukan kearifan local yaitu budaya mali atau pamali, budaya mali tersebut diantaranya larangan menangkap ikan malam juam’at (No Roa Tu Bau Empa Petang Jemat), larangan menangkap ikan kecil (Bau Anu Rango Lepas Anu Ode) dan di bulan purnama (Bulan Buntar). Sementara di desa Air Suning dan Meraran memiliki kearifan local berupa kepercayaan kepada mahluk gaib penguasan perairan (Dea Bide). Katakunci: Kearifan lokal, sumberdaya alam PENDAHULUAN Kearifan lokal merupakan budaya yang dimiliki oleh masyarakat tertentu ditempat tertentu yang dianggap mampu bertahan dalam menghadapi arus globalisasi, karena kearifan local tersebut mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa. Yunus Rasid (2014), menyebutkan bahwa kearifan lokal merupakan tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat hidupnya secara arif. Makadari itu kearifan local tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda. Sementara itu Keraf (2002) dalam Suhartini (2009), menegaskan bahwa kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Semua bentuk kearifan lokal ini dihayati, dipraktekkan, diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi sekaligus membentuk pola perilaku manusia terhadap sesame manusia. Sumber daya alam merupakan kekayaan yang dimiliki oleh alam yang harus di jaga kelestarian demi kelangsungan hidup umat manusia. Beberapa kebiasaan masayarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam antara lain: menggunakan pupuk dan pestisida sesuai kebutuhan, membatasi penggunaan sumberdaya alam, tidak membuang zat pencemar dan racun kesaluran air, membuat terasering atau sengkedan pada lahan miring. Danau Lebo atau danau Rawa Taliwang memiliki sumberdaya alam yang melimpah yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Danau Rawa Taliwang terdapat di Kecamatan Taliwang dan Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasinya tak jauh dari kota Taliwang, ibu kota Kabupaten Sumbawa Barat. Danau Rawa Taliwang berada pada ketinggian 7,5 m diatas permukaan laut dengan keadalaman perairan antara 0,70m sampai 3,5m dengan luas 1.406ha dan merupakan daratan basah alami terluas di Provinsi Nusa Tenggara Barat. POTENSI DAERAH Desa Seloto merupakan sebuah desa yang yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Luas wilayah Desa Seloto adalah 1100Ha yang terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Brang Bulu, Dusun Brang Pandang, dan Dusun Lenang Lateh. Secara goeografis, Desa Seloto terletak tidak jauh dari Danau Lebo tepatnya disebelah timur Danau lebo, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Alas
Abdi Masyarakat http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/PB/issue/archive Vol. 1. No. 1. Juni 2019 p-ISSN: 2715-8799 e-ISSN: 2715-9108 Abdi Masyarakat 30 Barat, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Brang Rea, sebelah selatan berbatsan dengan Kelurahan Sampir Kecamatan Taliwang dan sebelah Barat berbatsan dengan Kecamatan Seteluk. Masyarakat Desa Seloto hidup sebagai petani dan nelayan dengan memanfaatkan Sumber daya alam yang ada di Danau Lebo dengan cara menangkap ikan yang ada di danau untuk dikonsumsi sehari-hari dan dijual sebagai penambah penghasilan. Dalam mengelola sumber daya alam yang ada di danau supaya tetap terjaga dengan baik, masayarakat Desa Seloto memiliki aturan atau awig-awig yang berlaku ketika masyarakat Desa Seloto akan memanfaatkan sumber daya alam yang ada didanau tersebut. Adapun awiq-awiq tersebut dalam Bahasa daerah disebut dengan NoRoaTuBau Empa Petang Jemat, Mali, Bauanurangokelepa sanuode, dan bulan buntar. Pengabdian masyarakat ini mengkaji kearifan lokal yang dipelihara di Desa Seloto untuk menjaga sumber daya alam yang ada di danau tetap lestari sehingga dapat dimanfaatkan oleh generasi penerus Desa Seloto. Berdasarkan hal diatas maka keberadaan kearifan local perlu dilestarikan. TINJAUAN PUSTAKA 1) Tinjaun Tentang kearifan Lokal Kearifan setempat (lokal wisdom) yang dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan local yang bersifat bijaksana, penuhkearifan, memiliki nilai moral yang tertanam dan diikuti oleh warga masyarakatnya. Dalam konsep antropologi, kearifan local dikenal pula sebagai pengetahuan setempat (indigenous or local knowledge), atau kecerdasan setempat (local genius), yang menjadi dasar identitas kebudayaan. Kearifan lokal juga disebut sebagai perwujudan atas tradisi masyarakat setempat berupa aktivitas sekitar daur kehidupan, lingkungan alam, dan lingkungan sosial yang kemudian diinterperetasi sebagai pengetahuan lokal. Yunus Rasid (2014), kearifan lokal merupakan tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya hidup secara arif. Makadari itu kearifan local tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda. Sementara itu Keraf (2002) dalam Suhartini (2009), menegaskan bahwa kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Semua bentuk kearifan lokal ini dihayati, dipraktekkan, diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi sekaligus membentuk pola perilaku manusia terhadap sesama manusia, alam maupun gaib. Sartini (2006) dalam Taprianto (2013) menyatakan bahwa bahwa fungsi kearifan lokal adalah sebagai berikut: 1. Berfungsi sebagai konservasi dan pelestarian sumber daya alam. 2. Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia 3. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan 4. Berfungsi sebagai petuah kepercayaan satra dan pantangan 5. Bermakna sosial misalnya upacara intergrasi komunal/kerabat 6. Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian 7. Bermakna etika dan moral 2) Tinjauan Tentang Sumber Daya Alam Sumber daya alam adalah suatu bentuk bahan atau energi yang diperoleh dari lingkungan fisik yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. (Agoes Soegianto, 2010). Undang-Undang No.32 Tahun 2009 juga menjelaskan tentang pengertian sumber daya alam yaitu unsure lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan non hayati yang secara keseluruhan membentuk ekosistem. Cara pandang manusia terhadap sumber daya alam sangat mempengaruhi kesadaran lingkungan dan cara mengelola sumber daya alam yang dilakukannya. Kesadaran lingkungan merupakan suatu proses mental yang membentuk pengertian tertentu atas sumber daya alam dan lingkungan sekitar kita. 1. Klasifikasi Sumber DayaAlam Ada berbagai cara mengklasifikasi sumber daya alam. Diantaranya adalah dengan berdasar pada bagaimana sumber daya alam tersebut dapat terbarukan dan siapa yang mendapatkan manfaat dari sumber daya alam tersebut.
Abdi Masyarakat http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/PB/issue/archive Vol. 1. No. 1. Juni 2019 p-ISSN: 2715-8799 e-ISSN: 2715-9108 Abdi Masyarakat 31 1) Prepartual resources: merupakan sumber daya yang tersedia secara terus-menerus contohnya adalah matahari. 2) Renewable orflow resources: merupakan sumber daya yang terbarukan misalnya hutan, air, dan sumber daya perikanan. 3) Nonrenewable orstock resources: merupakan sumber daya yang tidak terbarukan misalnya sumber daya mineral. 4) Potential resources: sumber daya masa depan. Adalah sumberdaya yang tidak dapat digantikan oleh proses alam atau laju pergantiannya lebih rendah dari laju pemanfaatannya 2. Konservasi sumber daya alam. Salah satu pemahaman tentang konservasi sumber daya alam adalah penggunaan sumber daya alam untuk kebaikan secara optimal, dalam jumlah terbanyak dan utuk jangka waktu yang paling lama, konservasi sumber daya alam diartikan sebagai pengurangan atau peniadaan penggunaan karena lebih mengutamakan bentuk penggunaan lain dalam hal sumber daya memiliki penggunaan bermacam macam (multiple use resources). Undang-undang No. 32 Tahun 2009 juga menjelaskan tentang konservasi sumber daya alam yaitu pengelolaaan sumber daya alam untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana serta berkesinambungan ketersediaanya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya. METODE PELAKSANAAN Instrumen Pengamatan Instrumen yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah 1. Pengamat sebagai instrument (human instrument) Artinya peneliti sendiri yang berfungsi menentukan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, analisis data,dan membuat kesimpulan atas temuannya. 2. Wawancara Merupakan kegiatan tanyajawab dengan narasumber untuk mendapatkan data mengenai fokus penelitian. Dalam melakukan wawancara menggunakan instrument berupa: a) Buku catatan, yang digunakan untuk mencatat hasil wawancara, b) Tape recorder yang digunakan untuk merekam hasil wawancara masyarakat. 3. Dokumentasi Merupakan kegiatan mengambil gambar atau potret ketika saat sedang melakukan pengamatan. Dalam melakukan kegiatan dokumentasi menggunakan instrument diantaranya: a. Kamera yang digunakan sebagai alat dokumentasi b. Handycam yan gdigunakan untuk membuat video dokumentasi Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan: 1. Teknik wawancara atau interview yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan mewawancarai narasumber atau informan untuk mendapatkan data-data mengenai kearifan lokal 2. Dokumentasi yaitu dengan mendokumentasikan data-data, kegiatan dan lingkungan sekitar yang biasa berbentuk gambar dan tulisan yang merupakan pelengkap dari metode wawancara. Teknik Analisa Data 1. Wawancara Yaitu dengan mendeskripsikan data yang telah didapat dari proses pengumpulan data dengan teknik wawancara 2. Dokumentasi yaitu dengan mendeskripsikan data yang telah didapat berdasar hasil dokumentasi yakni berupa gambar gambar dan dokumen lainnya. HASIL PENGAMATAN Hasil Pengamatan Wawancara dengan narasumber dari beberapa wilayah di sekitar Danau Lebo termasuk Desa Seloto, Seran dan Air Suning. 1. Ustadz M Suud selaku tokoh agama sekaligus adat Desa Seloto 2. Bapak Amrin selaku nelayan Desa Seloto 3. Bapak Rosadi selaku nelayan DesaSeloto 4. Bapak Aminullah selaku nelayan Desa Meraran 5. Bapak Jamaluddin selaku nelayan Desa Seran 1. Pentingnya Kearifan Lokal Masayarakat Desa Seloto yang
Abdi Masyarakat http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/PB/issue/archive Vol. 1. No. 1. Juni 2019 p-ISSN: 2715-8799 e-ISSN: 2715-9108 Abdi Masyarakat 32 memanfaatkan Danau Lebo sebagai sumber mata pencahariannya sangat memahami betul akan pentingnya kearifan lokal, karena kearifan lokal merupakan komponen yang sangat penting dalam pengelolaan sumber daya alam dan merupakan perwujudan pengetahuan atau ide, norma adat yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi pedoman dalam pengelolaan sumber daya alam, setelah dilakukannya pegamatan dan wawancara terhadap beberapa nelayan Desa Seloto ditemukannya kearifan lokal dan mitos-mitos yang masih berlaku dan diterapkan di Danau Lebo. Kearifan lokal yang masih diterapkan di Danau Lebo hingga saat ini adalah Mali atau dalam Bahasa Indonesianya pamali, Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai budaya mali dalam Pengelolaan sumber daya alam maka marilah kita lihat pada tabel di bawah ini. Tabel Budaya Mali dalam Pengelolaan sumber Daya Alam. No Budaya mali dalam pengelolaan sumber daya alam Terjemahan dalam Bahasa Indonesia 1 No bau tub au empapetang jemat. Tidak boleh keluar maupun menangkap ikan pada malam jum’at 2 Bau anu rango, lepasanu odena. Tangkap ikan yang besar, Lepas yang kecil. 3 Bulan buntar Bulan purnama. Tabel Bentuk Kearifan Lokal yang diterapkan di Danau Lebo Kearifan lokal Budaya Pamali Nilai Kepercayaan terhadap kekuatan gaib dan supranatural. Norma Pelestarian sumber daya alam Pelarangan menangkap ikan kecil Pelarangan menangkap ikan malam Jum’at Aktor Seluruh masyarakat Desa Seloto Sanksi Seluruh pelanggaran terhadap mali (pamali) dapat menyebabkan terjadinya musibah bukan saja kepada pelanggar tapi juga mengenai seluruh masyarakat desa 2. Perilaku Manusia Keberadaan kearifan lokal dalam pengelolaan Sember daya alam di Danau Lebo menjadi suatu aturan yang harus dipatuhi dan menjadi acauan masayarakat dalam mengelola Danau Lebo. Masyarakat desa Seloto kebanyakan menangkap ikan di Danau Lebo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Rosadi dan Amrin menjelaskan bahwa Masyarakat Desa Seloto yang menangkap ikan di Danau lebo terikat oleh budaya mali diantaranya: Masyarakat tidak diperbolehkan menangkap ikan pada hari dan malam Jum’at dan masyarakat juga tidak diperbolehkan menangkap ikan pada saat bulan purnama selain itu terdapat juga kebiasaan lainnya yang harus dilakukan oleh masyarakat yaitu masyarakat hanya menangkap ikan besar dan tidak menangkap ikan kecil. Kebiasaan masyarakat Desa Seloto dalam menangkap ikan yakni masih menggunakan alat alat tradisional seperti jaring, rageng (tombak), panah, dan kodong dan tidak menggunakan alat berbahaya seperti racun bom dan sebagainya karena dapat merusak lingkungan. 3. Tantangan Terhadap Kearifan Lokal Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang nara sumber bahwa masyarakat memiliki hambatan dan tantangan dalam melestarikan kearifan lokal diantaranya jumlah penduduk yang terus meningkat, sehingga kebutuhan akan sumber daya alam begitu besar, adanya teknologi modern dan budaya baru masuk yang dibawa oleh pendatang baru, sehingga dikawatirkan akan terpengaruh dengan teknologi dan budaya baru dan melupakan kearifan lokal yang ada. 4. Upaya Masyarakat dan Pemerintah Dalam Pelestarian Sumber Daya Alam Upaya masyarakat Desa Seloto dalam menjaga kelestarian sumber daya alam khususnya di Danau Lebo yakni dengan adanya awiq-awiq atau kearifan lokal masyarakat, salah satunya yakni budaya mali atau pamali yang di terapkan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam. Budaya mali itu sendiri memiliki tiga aturan yang harus dipatuhi oleh masyarakat desa diantaranya: larangan menangkap ikan pada hari dan malam Jum’at, larangan menangkap ikan saat bulan purnama dan larangan menangkap ikan-ikan kecil di Danau Lebo Pemerintah desa juga mengatur tentang pelestarian sumber daya alam dalam peraturan desa tentang pelestarian lingkungan hidup yaitu pada pasal 5 yang berbunyi setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku,dan pada pasal 6 berbunyi setiap orang berkewajiban memelihara fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup Upaya pemerintah dalam dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam ini tertuang dalam UURINO 32 Tahun 2009
Abdi Masyarakat http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/PB/issue/archive Vol. 1. No. 1. Juni 2019 p-ISSN: 2715-8799 e-ISSN: 2715-9108 Abdi Masyarakat 33 pasal 67 yang berbunyi setiap orang berkewajiban memelihara fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara dan diskusi dengan tokoh agama Desa bahwa Masyarakat Desa Seloto memiliki kearifan lokal yang sudah diwariskan oleh leluhur mereka. Kearifan lokal masih tetap dijalankan sampai saat ini karena sifatnya amanah sehingga harus dilaksanakan sesuai dengan aturan main yang ada di Desa Seloto. Bentuk kearifan lokal yang sudah dijalankan masyarakat Seloto tersebut yaitu budaya Mali (pamali). Pamali (mali) adalah suatu aturan atau norma yang mengikat kehidupan Masyarakat desa. Budaya mali dianggap sebagai kearifan tradisional atau kearifan lokal karena berasal dari warisan leluhur yang telah berlaku secara turun-temurun. Di Desa Seloto, prinsip tradisional tersebut masih berlaku aturan sosial masyarakat yang dapat mengendalikan prilaku manusia dalam berinteraksi dengan alam maupun dengan sesama manusia Budaya mali atau pamali memiliki aturan yang harus ditaati oleh masyarakat desa. Setiap orang yang melanggarnya selalu mendapat balasan, pelanggaran terhadap mali (pamali) dapat menyababkan terjadinya musibah bukan saja melanda kepada pelanggar tapi juga untuk seluruh penduduk desa. Bentuk-bentuk musibah yang dating dapat bermacam-macam seperti penyakit, kesialan kecil seperti jatuh dari motor, perahu pecah, kehilangan sesuatu, serangan hama tanaman, tanah longsor, angin kencang, banjir bahkan kematian. Desa Seloto memiliki sumber daya alam yaitu Danau Rawa Taliwang atau dikenal dengan istilah Lebo atau Danau Lebo. Danau Lebo merupakan danau yang unik karena dipenuhi oleh tumbuhan yang mengapung di air, yang bisa bergerak ke mana saja sesuai kemana arah angin bertiup masyarakat Desa Seloto menyebutnya dengan istilah Pruyu. Pruyu-pruyu ini menjadi tempat hidup ikan dan sekaligus menjadi sumber makanan bagi ikan dan juga berfungsi sebagai tempat persembunyian ikan dari para pemburu. Masyarakat Desa Seloto yang menangkap ikan di danau Lebo terikat oleh awiga-wigat aturan yang telah ada sejak dahulu dan menjadi acuan dalam menangkap ikan dan mengelola danau Lebo itu sendiri. Selain larangan menangkap ikan malam Jum’at, adapula kearifan yang lainnya yaitu Bauanurango, lepasanuodena. Artinya kita hanya menangkap ikan yang besar saja, apabila ada ikan kecil yang sengaja tertangkap maka akan dilepaskan kembali. Kearifan ini dijalankan oleh masayrakat desa dengan dengan cara menggunakan alat alat tradisional dalam menangkap ikan tidak menggunakan bahan berbahaya seperti potas, bom, strum ikan dan jenis lainnya. Sementara itu ada juga kearifan yang masyarakat menyebutnya Bulan Buntar atau dikenal dengan istilah bulan terang atau bulan purnama, ini sebenarnya merupakan bulan dimana para nelayan tidak menangkap ikan karena mereka percaya pada saat bulan purnama hasil tangkap anakan sangat sedikit, setelah diamati ternyata pada malam bulan purnama cahaya bulan purnama cahaya tersebar di seluruh perairan sehingga ikan pun tidak berpusat di satu tempat, jadi tingkah laku inilah yang mejadi dasar para nelayan menggunakan lampu petromak saat menangkap ikan, karna ketika bulan gelap, maka cahaya sedikit saja terlihat di permukaan air maka ikan dan biota air lainnya akan berkumpul di cahaya tersebut. Hal ini diperkuat oleh pendapat dari Fadli Husain (2011) dalam jurnalnya dengan judul sistem budaya bahari komunitas nelayan lungkak Lombok Timur mengatakan bahwa pada malam hari nelayan akan menggunakan lampu agar menarik ikan-ikan bermunculan di sekitar cahaya lampu. Pada saat bulan purnama, ikan yang muncul berkurang. Hal ini karena terangnya cahaya bulan bercampur dengan cahaya lampu nelayan mampu menembus sampai ke dalam laut yang membuat ikan bergerak ke sana kemari, sehingga sulit untuk ditangkap. Tabel. Alat-alat Tangkap yang Digunakan Masyarakat
Abdi Masyarakat http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/PB/issue/archive Vol. 1. No. 1. Juni 2019 p-ISSN: 2715-8799 e-ISSN: 2715-9108 Abdi Masyarakat 34 No Alat-alat Tangkap Keterangan 1 jaring Alat tangkap paling sering digunakan Masayarakat biasanya masyarakat menggunakan jarring dengan ukuran tertentu 2 Rageng/Tombak Alat tangkap yang terlihat mirip seperti tombak terbuat dari besi dan bambu 3 PistolPanah Alat tangkap berupa panah yang dibuat berbentuk pistol yang terbuat dari kayu besi dan gabungan dari beberapa pipa plastik 4 Kodong Merupakan perangkap yang terbuat dari bilah bambu dengan cara dianyam Dengan menggunakan alat tangakap diatas maka bisa dipastikan ramah lingkungan karena tidak merusak lingkungan, masyarakat juga dilarang menggunakan racun atau sejenisnya dalam menangkap ikan karena akan mencemari danau dan merusak ekosistem danau. Alat tangkap yang paling sering digunakan oleh masyarakat adalah jaring, tetapi menggunakan jaring dengan ukuran ukuran tertentu, kebanyakan masayarakat hanya menggunakan jaring berukuran besar saja sehingga ikan kecil bisa lolos tidak terperangkap dalam jaring. Kearifan lokal budaya pamali diturunkan dari generasi ke generasi, yaitu dari generasi tua ke generasi muda sejak mereka kecil yang dilakukan dengan lisan melalui cerita-cerita yang disampaikan melalui dengeng. Pendekata nmelalui keluarga menjadi bentuk sosialisasi yang efektif dalam menjaga kearifaan lokal pamali . Kearifan lokal yang berupa budaya pamali berhasil menjaga kelestarian Danau Lebo. Kearifan lokal ini merupakan suatu bentuk aplikasi konservasi sumber daya alam di Danau Lebo. Masyarakat secara sadar melakukan pengelolaan sumber daya alam di Danau Lebo dengan berlandaskan budaya pamali yang telah dilakukan secara turuntemurun. Manfaat yang dapat dirasakan dari keberhasilan masyarakat Desa Seloto dalam menjaga dan melestarikan lingkungan dan sumber daya alam di Danau Lebo yaitu: 1. Menumbuhkan pola hidup taat aturan 2. Kerusakan lingkungan dapat dikendalikan 3. Lestarinya sumber daya alam di Danau Lebo 4. Memiliki potensi kawasan wisata Danau Lebo 5. Tumbuhnya rasa hormat baik sesame manusia maupun dengan alam Dalam penerapan dan pelestarian kearifan lokal masyarakat memiliki hambatan dan tantangan seperti: jumlah penduduk yang terus meningkat, sehingga kebutuhan akan sumber daya alam begitu besar, adanya teknologi modern dan budaya baru masuk yang dibawa oleh orang pendatang baru, sehingga dikawatirkan orang orang akan terpengaruh dengan teknologi dan budaya baru dan melupakan kearifan lokal yang ada, dan yang paling berpengaruh ialah kemiskinan, dimana kemiskinan juga mempengaruhi orang untuk bertindak memenuhi kebutuhan dasarnya meskipun tindakan tersebut bertentangan dengan norma yang sudah ada ataupun berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Salah satu contoh tantangan tantangan terhadap kelestarian dan keberadaan kearifan lokal yaitu: beberapa orang masyarakat DesaSeloto dalam menangkap ikan sudah mulai menggunakan alat yang namanya strum yang terbuat dari aki mobil, strum ini sangat berbahaya karena dapat membunuh bibit ikan dan juga kalau terjadi kesalahan, strum ini juga dapat membunuh pemakainya. Dalam menjaga kelestarian sumber daya alam khususnya di Danau Lebo masyarakat Desa Seloto memiliki awiq-awiq atau kearifan lokal, salah satunya yakni budaya mali atau pamali yang diterapkan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam. Budaya mali itu sendiri memiliki tiga aturan yang harus dipatuhi oleh masyarakat desa diantaranya: larangan menangkap ikan pada hari dan malam Jum’at, larangan menangkap ikan saat bulan purnama dan larangan menangkap ikan-ikan kecil di Danau Lebo. Selain budaya mali, pemerintah desa juga mengatur pengelolaan dan pelestarian sumber daya alam tersebut dalam peraturan desa tentang pelestarian lingkungan hidup yaitu pada pasal 5 yang berbunyi setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan pada pasal 6 berbunyi setiap orang berkewajiban memelihara fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan
Abdi Masyarakat http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/PB/issue/archive Vol. 1. No. 1. Juni 2019 p-ISSN: 2715-8799 e-ISSN: 2715-9108 Abdi Masyarakat 35 pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. DAFTAR PUSTAKA Anwari. 2014. Pengembangan Modul Pembelajaran Biologi Berbasis Kearifan Lokal di Taman Nasional Gunung Merapi untuk SMA Kelas X Materi Keanekaragaman Hayati, Jawa Timur. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Ariska, A. 2015. Pengembangan Modul Biologi Berbasis Gambar Pada Materi Ekosistem Untuk Siswa SMA. Skripsi. Mataram: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram. Aulia dan Dharmawan. 2010. Kearifan Lokal dalam Penegelolaan Sumberdaya Air di Kampung Kuta. Jurnal Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor. Vol. 4, No. 3. 25 November 2010. Burhani, A. 2014. Anlisis Morfometrik Ikan Nila di Kelurahan -SayangSayang Kota Mataram Sebagai Bahan Ajar Mata Kuliah Taksonomi Hewan II. Skripsi. Mataram: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram. Fajriani, U. 2009. Peranan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter. Jurnal, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta Vol. 1, No. 2 Holilah, M. 2015. Kearifan Ekologis Budaya Lokal Masyarakat Adat Cugugr Sebagai Sumber Belajar IPS. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. Edisi. Desember 2015. Vol. 24, No. 2 Husain, F.2011. Sistem Budaya Bahari Komunitas Nelayan Lungkak Lombok Timur. Jurnal. Universitas Negeri Semarang Hal. 40-50 MuhA, M, 2012. Pengantar Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Nasruddin, H.S.B Purwana & S.D. Kusuma 2011. Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Jakarta: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Prasetyo, E.R.S. Dewi. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Biologi Bentuk Cerpen Berorientasi Character Building Berbasis Kearifan Lokal, Jurnal. Jurusan Pendidikan Biologi IKIP PGRI Semarang Prastowo, 2014. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Jakarta: Kencana Soegianto, A. 2010. Ilmu Lingkungan Sarana Menuju Masyarakat Berkelanjutan. Surabaya: Airlangga University Press Soerjani, M. 2009. Pendidikan Lingkungan Sebagai Dasar Kearifan Sikap dan Perilaku Bagi Kelangsungan Kehidupan Menuju Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press) Suhartini. 2009. Kajian Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengenlolaan Sumber Daya Alam. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. 15 Mei 2009: 206-218 Sugiyono, 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Taprianto, T. 2013. Pengembangan Materi Pembelajaran Menyimak Informasi Bermuatan Kearifan Lokal Pada Siswa SMP, Skripsi. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang Tilaar. H.A.R. 1999. Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Utami,U. 2008. Konservasi Sumber Daya Alam Perspektif Islam dan Sains. Malang: UIN Malang Press Wangiran. 2011. Pengembangan Model Pendidikan Kearifan Lokal dalam Mendukung visi Pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta 2020, Jurnal Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Vol. III, No. 3, Hal. 85-100 Wikantiyoso dan Tutuko. 2009. Kearifan Lokal dalam Perencanaan dan Perancangan Kota. Malang: Malang Group Konservasi Arsitek dan Kota. Yunus, R. 2014. Nilai Nilai Kearifan Lokal (Local Genius) Sebagai Penguat Karakter Bangsa: Studi Empiris Tentang Huyula, Edisi1, cetakan 1
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 20 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya Pemakalah Utama 4 Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Using Culture and Local Wisdom in Soil and Water Conservation Maridi Prodi P. Biologi FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jl. Ir. Sutami No. 36 Kentingan, Surakarta E-mail: [email protected] / [email protected] Abstrak: Kualitas lingkungan hidup saat ini sebagian besar mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang tangguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan. Berbagai asas dipergunakan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Salah satu asas tersebut adalah budaya dan kearifan lokal. Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. Kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat. Salah satu permasalahan yang menjadi perhatian saat ini adalah krisis air yang diakibatkan berkurangnya sumber air dan menurun-nya kualitas tanah dan air yang mengancam ketersediaan air di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka konservasi tanah dan air baik oleh pemerintah maupun pemerhati lingkungan. Pengelolaan sumber daya air dan tanah bukan hanya tanggung jawab pemerintah yang dituangkan dalam berbagai kebijakan tertulis, namun juga tanggung jawab masyarakat setempat yang nampak dalam pengetahuan dan pengalaman masyarakat dalam aktivitas menjalankan berbagai aktivitas pengelolaan air dan tanah. Sinergi yang baik antara pemerintah, pemerhati lingkungan, serta budaya dan kearifan lokal yang telah lama berkembang dan dipertahankan di masyarakat diharapkan dapat menjadi strategi konservasi tanah dan air yang efektif. Kata Kunci: kearifan lokal, perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, nilai-nilai luhur, budaya, air dan tanah 1. PENDAHULUAN Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya untuk mewujudkan dan meningkatkan peri kehidupan dan kualitas hidup makhluk hidup secara alami dan berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan hidup bagi individu atau sekelompok masyarakat secara nasional berpegang pada peraturan yang telah disepakati bersama. Peraturan tersebut dikemas dengan berbagai cara, melalui undangundang yang harus difahami dan ditaati bersama. Pemerintah Indonesia telah menetapkan peraturan tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam bentuk Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah secara nasional. Di tingkat daerah, peraturan-peraturan tersebut dijabarkan ke dalam peraturan daerah. Sedangkan untuk masalah yang spesifik secara khusus diatur dalam Keputusan Menteri ataupun Peraturan Menteri yang membidangi masalah dari sektor khusus tersebut. Undang-undang dan Peraturan Pemerintah tentang lingkungan dan pembangunan, diantaranya: (1) Undang-Undang tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan tahun 1982; (2) Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan; serta (3) Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pelaksanaan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah di lapangan didukung oleh kebiasaankebiasaan positif yang bernuansa melindungi dan melestarikan lingkungan hidup. Kebiasaan-kebiasaan positif itu dapat dilakukan secara individual atau kelompok masyarakat di daerah tertentu yang bersifat lokal. Kebiasaan-kebiasaan tersebut selanjutnya dikenal sebagai kearifan lokal. Kearifan lokal menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Hal ini tercantum dalam UU No. 32 Tahun 2009 bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum dimana seluruh kegiatan yang berhubungan dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan beberapa hal diantaranya: (1)
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 21 keragaman karakter dan fungsi ekologis; (2) sebaran penduduk; (3) sebaran potensi sumber daya alam; (4) kearifan lokal; (5) aspirasi masyarakat; dan (6) perubahan iklim. Salah satu permasalahan yang saat ini menjadi perhatian di Indonesia adalah masalah krisis air, sehingga diperlukan upaya konservasi tanah dan air. Air menurut Sulastriyono (2009) merupakan sumber daya alam yang mutlak diperlukan bagi makhluk hidup. Tidak satupun makhluk di bumi ini yang tidak memerlukan air. John (2013) menambahkan bahwa air merupakan salah satu komponen penting kebutuhan makhluk hidup yang harus diatur penggunaannya secara seimbang. Keberadaan air sebagai sumber utama di bumi mengalami ancaman yang ditunjukkan dengan terjadinya krisis air. Krisis air umumnya disebabkan karena adanya perubahan iklim, sistem penggunaan lahan yang buruk, kerusakan ekosistem daerah tangkapan air hujan, serta kebutuhan konsumsi air terus meningkat (Sancayaningsih et al, 2013). Krisis air dapat berupa ancaman terhadap kekurangan air di musim kemarau, banjir di musim penghujan dan terjadinya pencemaran air. Sumber air dapat berupa mata air, air tanah, sungai, danau, telaga, dan lain sebagainya sehingga kualitas tanah dan air mutlak diperlukan dalam upaya untuk konservasi tanah dan air. Beberapa masalah yang mengancam ketahanan air di Indonesia menurut Direktorat Pengkajian Bidang Sosial dan Budaya (2013) antara lain: a. Bertambahnya luas lahan kritis (13,1 juta ha pada tahun 1992 dan 18,5 juta ha pada tahun 2009) b. Berkurangnya daerah resapan air karena diubah menjadi kawasan kota dan industri (alih fungsi lahan pertanian sebesar 35000 ha/th mengancam ketahanan pangan dan krisis air) c. Tingginya pemakaian air tanah (di beberapa kota besar, 73% penduduk menggunakan air tanah) d. Bertambahnya penggunaan air karena pertumbuhan penduduk dan peningkatan kualitas kehidupan e. Tercemarnya sumber-sumber air (sungai, danau, air tanah) karena tidak tersedia sarana pengolah air limbah di perkotaan f. Pemanasan global/kenaikan muka air laut yang menimbulkan gangguan pertambakan, abrasi, dan memperberat masalah banjir kota-kota tepi pantai (mengancam 450.000 ha tambak, 10.666 desa pantai dengan 16 juta penduduk yang tinggal di kawasan pantai) g. Belum terpadunya program kewenangan dan tanggungjawab antar lembaga/kementerian dalam hal pengelolaan lahan dan air (Kementerian Kehutanan, Pekerjaan Umum, Pertanian, Lingkungan Hidup, Energi dan Sumber Daya Mineral/ Air, serta Dalam Negeri) Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah dan pemerhati lingkungan untuk melaksanakan program konservasi tanah dan air. Upaya-upaya tersebut diantaranya melalui peraturan perundang-undangan yang ada, salah satunya pada UU Nomor 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air. UU Nomor 37 Tahun 2014 pasal 2 menyebutkan bahwa penyelenggaraan konservasi tanah dan air berdasarkan pada beberapa asas yaitu: (1) partisipatif; (2) keterpaduan; (3) keseimbangan; (4) keadilan; (5) kemanfaatan; (6) kearifan lokal; serta (7) kelestarian. Lebih lanjut pada pasal 46 disebutkan bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan serta dalam penyelenggaraan Konservasi Tanah dan Air yang dilakukan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Pelaksanaan peran serta masyarakat dilakukan dengan memperhatikan kearifan lokal yang dapat dilakukan dalam penyusunan perencanaan, pendanaan, pengawasan, dan atau pengajuan gugatan perwakilan/kelompok. Direktorat Pengkajian Bidang Sosial dan Budaya (2013) menyatakan bahwa kebijakan sistem pengelolaan air nasional harus diarahkan pada terwujudnya penyediaan air bagi seluruh rakyat Indonesia secara adil dan merata baik untuk kebutuhan sehari-hari (domestik) maupun untuk mendukung pembangunan nasional (pertanian, produksi, energi, dan lain-lain. Salah satu strategi yang dilakukan untuk mewujudkan kebijakan tersebut adalah membangun mindset masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan, bahwa air bukan merupakan sumberdaya alam yang tak terbatas. Oleh karena itu, sumber daya air perlu dikelola secara baik dan bertanggung jawab melalui beberapa upaya yang melibatkan masyarakat dan memperhatikan kearifan lokal yang telah berkembang di masyarakat. Pengelolaan sumberdaya air menurut Aulia dan Dharmawan (2010) harus disesuaikan dengan kondisi lokal dan kearifan lokal pada setiap daerah karena setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda beda. Kearifan lokal yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam sebagai tata pengaturan lokal yang telah ada sejak masa lalu dengan sejarah dan adaptasi yang lama dapat ditemukan pada beberapa komunitas tertentu di Indonesia. Keterpaduan yang sinergis dan harmonis dalam pengelolaan sumber daya tanah dan air antara pemerintah, pemerhati lingkungan, serta kearifan lokal dan budaya yang berlaku di masyarakat diharapkan dapat menjadi strategi yang efektif konservasi tanah dan air.
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 22 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya 2. DEFINISI BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL Budaya diambil dari bahasa Sansekerta buddhayah, yang berarti segala sesuatu yang ada hubungannya dengan akal budi manusia. Pengertian budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) dikatakan sebagai pikiran atau akal budi, adat istiadat, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Budaya secara umum merupakan cara hidup yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat yang telah diwariskan secara turun menurun kepada generasi berikutnya. Ishak (2008) menyatakan bahwa budaya mengacu pada pola sikap dan mental dan fisik menurut sistem nilai kepercayaan yang dianut bersama oleh suatu kelompok manusia. Dalam hal ini budaya dipandang sebagai sesuatu yang netral dan bebas nilai. Antropolog terkemuka Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski (dalam Dimyati, 2010) mengemukakan bahwa cultural determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu. Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang “superorganic”. Hal ini karena kebudayaan yang turun temurun lintas generasi. Antropolog lain yaitu E.B. Tylor (1871) dalam Dimyati (2010) menyatakan bahwa budaya adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan kesenian, moral, hukum, adat istiadat, serta berbagai kemampuan lain dan kebiasaan yang diperoleh oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Secara etimologis, kearifan lokal terdiri dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Pada KBBI, lokal berarti setempat, sedangkan kearifan sama dengan kebijaksanaan. Sehingga jika dilihat secara etimologis, kearifan lokal (local wisdom) dapat diartikan sebagai gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Istilah kearifan lokal pertama kali dikenalkan oleh HG. Quaritch Wales (dalam Budiwiyanto 2006) yang menyebut kearifan lokal sebagai “local genius” yang berarti sejumlah ciri kebudayaan yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat sebagai suatu akibat pengalamannya di masa lalu. Yunus (2012) mengartikan kearifan lokal sebagai budaya yang dimiliki oleh masyarakat tertentu dan ditempattempat tertentu yang dianggap mampu bertahan dalam menghadapi arus globalisasi, karena kearifan lokal tersebut mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa. Pengertian kearifan lokal yang lain dikemukakan oleh Suhartini (2009) yang menyatakan bahwa kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat di suatu tempat atau daerah yang merujuk pada lokalitas dan komunitas tertentu. Sedangkan Fajarini (2014) mengartikan kearifan lokal sebagai pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Negara (2011) menyatakan bahwa kearifan lokal bukan hanya menyangkut pengetahuan atau pemahaman masyarakat adat/lokal tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik diantara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman, dan adat kebiasaan tentang manusia, alam, dan bagaimana relasi diantara semua, dimana seluruh pengetahuan itu dihayati, dipraktikkan, diajarkan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi. Bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada di masyarakat menurut Aulia dan Dharmawan (2010) dapat berupa nilai, norma, kepercayaan, dan aturanaturan khusus. Bentuk yang bermacam-macam ini mengakibatkan fungsi kearifan lokal menjadi bermacam-macam pula. Fungsi kearifan lokal tersebut antara lain untuk: (1) konservasi dan pelestarian sumber daya alam; (2) mengembangkan sumberdaya manusia; (3) pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan; serta (4) petunjuk tentang petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan. Selain itu, ditambahkan oleh Sartini (2004) yang mengemukakan fungsi dan makna kearifan lokal diantaranya: (1) berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam; (2) berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia misalnya berkaitan dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate; (3) berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya pada upacara Saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura Panji; (4) berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan; (5) bermakna sosial, misalnya upacara integrasi komunal/kerabat; (6) bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan penyucian roh leluhur; serta (7) bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron client. Beberapa definisi kearifan lokal di atas pada dasarnya memiliki konsep yang sama, dimana kearifan lokal diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang berupa nilai, norma, dan aturanaturan khusus yang berkembang, ditaati, dan
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 23 dilaksanakan oleh masyarakat di suatu tempat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuanpengetahuan tersebut bersifat lokal, dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain, meskipun memiliki makna yang sama. Berkaitan dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup terdapat beberapa pengertian kearifan lokal yang lain. Pengertian kearifan lokal pada UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yaitu nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. Pada pasal 2 disebutkan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan beberapa asas yang salah satunya adalah asas kearifan lokal. Kemudian pada penjelasan Pasal 2 huruf (l) disebutkan yang dimaksud dengan “asas kearifan lokal” adalah bahwa dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat. Lebih lanjut dalam undang-undang tersebut, pada Pasal 70 ayat (1) disebutkan bahwa masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluasluasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan hidup yang pada ayat (3e) disebutkan salah satu peran masyarakat adalah mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pada hubungannya dengan kehidupan manusia sebagai bagian dari sistem ekologis, Keraf (2002) dalam Iskandar (2014) menyatakan istilah kearifan ekologi yang diartikan sebagai pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan, serta adat kebiasaan yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Pada umumnya, kearifan ekologi tersebut dimiliki dan disebarluaskan secara kolektif kepada semua anggota komunitas. Berbagai pengetahuan tersebut menyangkut banyak aspek misalnya tentang jenisjenis tanaman, binatang, batuan dan mineral, topografi, tata guna lahan, jenis-jenis dan kesuburan tanah, tipe vegetasi, penggunaan tumbuhan dan binatang untuk bahan obat-obatan, penyakit manusia dan hewan, gejala meteorologis, dan lain sebagainya. Kearifan ekologi diturunkan dan disebarluaskan antar generasi pada satu komunitas tertentu melalui berbagai media dengan menggunakan “bahasa indung” atau “ bahasa ibu”. Kearifan lokal yang berkaitan dengan konservasi tanah dan air dapat diartikan sebagai berbagai bentuk pengetahuan baik nilai, norma, maupun aturan khusus yang sampai saat ini masih dilakukan, ditaati, dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat di suatu tempat untuk menjaga kelestarian sumber daya air, mencegah kerusakan tanah, serta mengatur penggunaan sumber daya air dan tanah yang berada di lingkungannya. Kearifan lokal dalam hubungannnya dengan konservasi air dan tanah dapat berupa nilai-nilai yang diwujudkan dalam praktek ritual dan upacara adat atau norma baik berupa anjuran maupun larangan untuk menggunakan sumberdaya air dan tanah secara berlebihan, atau bahkan dapat berupa sanksi bagi yang tidak menaatinya. Nilai-nilai luhur tersebut berawal dan berasal dari nilai luhur yang disepakati oleh rakyat penduduk wilayah tertentu. 3. BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL INDONESIA YANG MENUNJANG KONSERVASI TANAH DAN AIR Upaya menjaga keseimbangan dengan lingkungannya masyarakat memiliki norma-norma, nilai-nilai atau aturan-aturan yang telah berlaku turun temurun yang merupakan kearifan lokal setempat. Beberapa contoh praktek-praktek budaya dan kearifan lokal di Indonesia yang menurut Suhartini (2009) antara lain sebagai berikut. a. Pranoto mongso Salah satu kearifan lokal yang terdapat di Jawa yaitu Pranoto Mongso. Pranoto Mongso atau aturan waktu musim digunakan oleh para petani pedesaan yang didasarkan pada naluri dari leluhur dan digunakan sebagai patokan untuk mengolah pertanian. Pranoto Mongso dapat memberikan arahan pada petani untuk bercocok tanam mengikuti tandatanda alam dalam mongso yang bersangkutan, tidak memanfaatkan lahan seenaknya sendiri meskipun sarana prasarana mendukung seperti air dan saluran irigasinya. Melalui perhitungan pranoto mongso maka alam dapat terjaga keseimbangannya. Pranoto Mongso dipelopori oleh raja Surakarta Pakubuwono VII dan mulai dikembangkan sejak 22 Juni 1856. Secara umum gambaran kalender Pranoto mongso yang terdapat di Jawa tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 24 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya Gambar 1. Kalender Pranoto Mongso yang Berlaku di Jawa (Satriaji, 2010) b. Nyabuk Gunung Nyabuk Gunung merupakan cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis kontur. Cara ini banyak dilakukan di lereng bukit sumbing dan sindoro. Cara ini merupakan suatu bentuk konservasi lahan dalam bercocok tanam karena menurut garis kontur. Hal ini berbeda dengan yang banyak dilakukan di Dieng yang bercocok tanam dengan membuat teras yang memotong kontur sehingga mempermudah terjadinya longsor. c. Pohon keramat Pada hampir semua daerah di Jawa, dan beberapa wilayah lain di Indonesia, terdapat budaya menganggap suatu tempat dengan pohon besar (misal beringin) adalah tempat yang keramat. Kearifan lokal ini memberikan dampak positif bagi lingkungan dimana jika suatu tempat dianggap keramat misal terdapat pohon beringin, maka hal ini merupakan salah satu bentuk konservasi karena dengan memelihara pohon tersebut menjaga sumber air, dimana beringin memiliki akar yang sangat banyak dan biasanya di dekat pohon tersebut ada sumber air. Salah satu contoh nyata kearifan lokal ini nampak pada masyarakat di Desa Beji, Ngawen, Gunungkidul. Hasil penelitian Alanindra (2012) menunjukkan bahwa masyarakat di desa Beji, memiliki hutan adat Wonosadi dimana di dalamnya terdapat mataair Wonosadi. Berbagai potensi baik flora, fauna, maupun sumberdaya air di mata air ini sangat terjaga dengan baik sebagai tempat resapan air hujan. Hal ini menyebabkan di hutan Wonosadi terdapat tiga mata air yang mengalir sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar desa Beji. Terjanyanya kelestarian hutan adat ini tidak lepas dari kearifan lokal yang sampai saat ini dipertahankan oleh masyarakat yang salah satunya diwujudkan dalam pembentukan kelompok “Jagawana”. Jagawana merupakan kelompok masyarakat yang bertugas untuk menjaga dan memelihara vegetasi di daerah tangkapan air mata air Wonosadi. Masyarakat tidak pernah mengambil kayu dan merusak aneka tumbuhan langka. Pohon-pohon yang mati tersambar petir tidak ditebang melainkan dibiarkan menjadi humus. d. Kearifan lokal komunitas adat Karampuang di Sulawesi Komunitas adat Karampuang memiliki beberapa cara tersendiri yang merupakan bagian dari sistem budaya dalam mengelola hutan dan sumberdaya alam. Hutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan alam sehingga untuk menjaga keseimbangan ekosistem di dalamnya terdapat aturan dan norma yang harus dipatuhi oleh semua warga masyarakat. Dewan adat Karampuang sebagai simbol penguasa tradisional, sepakat untuk mengelola hutan adat yang ada dengan menggunakan pengetahuan yang bersumber dari kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Karampuang. Kearifan lokal tersebut diwujudkan dalam bentuk larangan dan sanksi. Salah satu contoh kearifan lokal dalam bentuk larangan yaitu “Aja’ muwababa huna nareko depa na’oto adake, aja’ to muwababa huna nareko matarata’ni manuke” yang artinya “jangan menyadap
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 25 enau di pagi hari dan jangan menyadap enau di petang hari”. Hal ini berhubungan dengan keseimbangan ekosistem, khususnya hewan dan burung karena menyadap enau pada pagi hari dikhawatirkan akan mengganggu ketenteraman beberapa jenis satwa yang ada pada pohon enau, demikian pula pada sore hari akan mengganggu satwa yang akan kembali ke kandangnya. e. Baduy Dalam Masyarakat Baduy memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah orang pertama yang diciptakan sebagai pengisi dunia dan bertempat tinggal di pusat bumi. Segala tingkah laku masyarakat Baduy harus berpedoman kepada buyut yang telah ditentukan dalam bentuk pikukuh karuhuh. Seseorang tidak berhak dan tidak berkuasa untuk melanggar dan mengubah tatanan kehidupan yang telah ada dan sudah berlaku turun temurun. Beberapa pikukuh yang harus ditaati oleh masyarakat Baduy atau masyarakat luar yang berkunjung ke Baduy antara lain: (1) dilarang masuk hutan larangan (leuweung kolot) untuk menebang pohon, membuka ladang, atau mengambil hasil hutan lainnya; (2) dilarang menebang sembarang jenis tanaman, misalnya buahbuahan, dan jenis jenis tertentu; (3) dilarang menggunakan teknologi kimia seperti pupuk dan pestisida untuk meracuni ikan; serta (4) berladang harus sesuai dengan ketentuan adat. f. Budaya pamali di Kampung Kuta Ciamis Aulia dan Dharmawan (2010) menambahkan kearifan lokal masyarakat di Kampung Kuta Ciamis dalam mengelola sumberdaya air. Masyarakat yang tinggal di kampung Kuta memiliki kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur yang masih ditaati sampai saat ini. Bentuk kearifan lokal yang sudah dijalankan masyarakat Kuta salah satunya adalah budaya pamali. Pamali (tabu) adalah suatu aturan atau norma yang mengikat kehidupan masyarakat adat. Berkaitan dengan sumberdaya air, sumberdaya air di kampung Kuta digunakan dalam dua fungsi yaitu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk ritual adat. Air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari diperoleh dari empat mata air yaitu Cibungur, Ciasihan, Cinangka, dan Cipanyipuhan. Masyarakat dilarang untuk menggali sumur sendiri yang bertujuan untuk menjaga kondisi air bawah tanah agar selalu baik, yang merupakan salah satu budaya pamali. Sumberdaya air yang digunakan untuk upacara adat ritual nyipuh adalah sumber air yang ada di dalam Hutan Keramat. Sumberdaya air yang ada di dalam hutan Keramat tidak dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari karena terdapat larangan untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada di Hutan Keramat. Adanya budaya pamali dalam pengelolaan Hutan Keramat terbukti menjaga kelestarian ekosistem di dalamnya sehingga sumberdaya air yang ada di dalamnya juga terjaga dengan baik. g. Pembagian hutan di masyarakat nagari Paninggahan Danau Singkarak Gadis (2010) mengemukakan nilai-nilai lokal yang berkembang dalam masyarakat nagari Paninggahan di sekitar Danau Singkarak dalam menjaga hutan dan lingkungannya yaitu dengan membagi hutan. Hutan dibagi menjadi: Rimbo Tuo yang merupakan hutan larangan yang berfungsi sebagai konservasi demi keberlangsungan hidup masyarakat di sekitarnya terutama demi menjaga sumber air dan mempertahankan keanekaragaman hayati yang ada. Sementara Palak dipergunakan untuk kepentingan ekonomi dan kebutuhan keluarga namun, pemanfaatannya tetap secara wajar dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan. Pembagian hutan ini juga terdapat di kearifan masyarakat Sunda. Hal ini seperti diungkapkan oleh Indrawardana (2012) bahwa masyarakat adat Sunda secara empirik membagi lingkungan tempat tinggal menjadi batasan alam yang: (1) disucikan berupa kabuyutan; (2) boleh digarap atau dimanfaatkan untuk kehidupan tetapi tidak boleh mendirikan tempat tinggal; serta (3) boleh mendirikan tempat tinggal. Beberapa jenis kearifan lokal masyarakat di Indonesia dalam mengelola hutan dan lingkungan dikemukakan oleh Sartini (2004) antara lain: a. Papua, terdapat kepercayaan te aro neweak lako (alam adalah aku). Gunung Erstberg & Grasberg dipercaya sebagai kepala mama, tanah dianggap sebagai bagian dari hidup manusia. Dengan demikian maka pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara hati-hati. b. Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kamali. Kelestarian lingkungan terwujud dari kuatnya keyakinan ini yaitu tata nilai tabu dalam berladang dan tradisi tanam tanjak. c. Dayak Kenyah, Kalimantan Timur, terdapat tradisi tana’ ulen. Kawasan hutan dikuasai dan menjadi milik masyarakat adat. Pengelolaan tanah diatur dan dilindungi oleh aturan adat. d. Masyarakat Undau Mau, Kalimantan Barat mengembangkan kearifan lokal dalam pola penataan ruang pemukiman, dengan mengklasifikasi hutan dan memanfaatnya. Perladangan dilakukan dengan rotasi dengan menetapkan masa bera, dan mengenal tabu sehingga penggunaan teknologi dibatasi pada teknologi pertanian sederhana dan ramah lingkungan.
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 26 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya e. Masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, Kampung Dukuh Jawa Barat yang mengenal upacara tradisional, mitos, tabu sehingga pemanfaatan hutan dilakukan dengan hati-hati. Tidak diperbolehkan eksploitasi kecuali atas ijin sesepuh adat. f. Bali dan Lombok, masyarakat mempunyai awigawig. Praktek kearifan lokal yang lain dapat ditemukan pada berbagai ritual adat di Bali yang mayoritas penduduknya menganut agama Hindu. Beberapa praktek kearifan lokal di Bali menurut Utama dan Kohdrata (2011) antara lain: a. adanya organisasi adat yang mengelola lansekap alam seperti organisasi subak dalam mengelola sistem irigasi pertanian; b. budaya menandai pohon besar dengan lilitan kain belang hitam-putih yang menandai bahwa pohon tersebut tidak dapat ditebang sembarangan; c. ritual tumpek wariga/tumpek uduh yang digunakan sebagai sarana untuk mewujudkan rasa syukur atas pemanfaatan keanekaragaman hayati yang telah diperoleh; dan lain-lain. Berkaitan dengan konservasi tanah dan air, terdapat beberapa budaya dan kearifan lokal masyarakat di berbagai tempat di Indonesia yang bertujuan untuk menjaga keberlangsungan air dan tanah di sekitarnya yang dirangkum pada Tabel 1. Tabel 1. Pemetaan Budaya dan Kearifan Lokal Berkaitan dengan Konservasi Air dan Tanah di Indonesia No Jenis Kearifan Lokal Penyebaran Keterangan 1 Pranoto mongso (“pengaturan musim”) Seluruh masyarakat suku Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta), Sunda (Jawa Barat), juga dikenal di Bali (disebut “Kerta Masa”), di Sumatera Selatan dikenal dengan “Ke-Kean” Penanggalan yang dikaitkan dengan usaha pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam, pencarian ikan. Memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan dalam menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktuwaktu tertentu 2 Nyabuk gunung (terasering) Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Barat (dikenal dengan sebutan “ngais gunung”), Bali (dikenal dengan sebutan “sengkedan”) Cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang dibetuk menurut garis kontur. Merupakan kearifan lingkungan untuk memanfaatkan hujan sekaligus melindungi tanah dari ancaman erosi dan longsor karena air hujan 3 Susuk wangan Desa Setren kawasan hutan Girimanik, Slogohimo, Wonogiri (Jawa Tengah) Upacara adat sebagai wujud rasa syukur atas anugrah berupa sumber mata air sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Rasa syukur diwujudkan dengan menjaga hutan suci di Girimanik sebagai pengendali segala aktivitas eksploitasi sumber daya huta dan air di hutan tersebut untuk mencegah rusaknya hutan dan lahan sehingga sumber mata air dapat selalu terjaga 4 Merti desa (disebut juga dengan “merti gunung”, “meti bumi”, atau “bersih desa” atau “nyadran”) Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur Khusus di desa Bendosewu Jawa Timur dikenal dengan sebutan “wewaler”. Di Sunda disebut dengan Seren Taun (Kasepuhan Sirnaresmi Jawa Barat) Mengandung nilai silaturahmi, guyib rukun, gotong royong, kebersamaan, keakraban, tepa selira, dan harmonis. Upacara adat sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah yang diberikan Tuhan berupa melimpahnya kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan masyarakat. 5 Berkembangnya mitos “Babad Tanah Jawa” Menjadi kepercayaan masyarakat di pulau Jawa Bentuk-bentuk penghormatan terhadap gunung dan hutan sebagai ruang yang diyakini “berpenghuni” atau terdapat kekuatan gaib (angker). Menimbulkan perilaku menghormati
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 27 No Jenis Kearifan Lokal Penyebaran Keterangan dan menjaga alam sehingga dapat menjaga keseimbangan ekosistem 6 Budaya pamali Sunda, Banjar Kalimantan Selatan (disebut “kapamalian”) Aturan-aturan adat yang memberikan batasan terhadap penggunaan air dan sumberdaya alam lainnya yang berdampak pada lestarinya sumber sumber mata air 7 Tradisi dzikir/doa di tepi pantai dan makan “Bejambe” Nagari Ulakan, Nagari Paninggahan (Pariaman), beberapa wilayah di Sumatera Barat Ritual doa sebagai wujud rasa syukur atas limpahan berkah yang dianugerahkan Allah SWT dan sebagai bentuk perlindungan terhadap bencana alam karena di dalamnya terdapat ritual menanam pohon cemara dan bakau (Mangrove) di sekitar pantai 8 Awig-awig Lombok barat dan Bali Aturan adat yang harus ditaati oleh setiap warga masyarakat sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak terutama dalam berinteraksi dan mengelola sumberdaya alam dan lingkungan 9 Sasi Maluku Aturan adat yang menjadi pedoman dalam mengelola lingkungan dan memanfaatkan sumberdaya alam 10 Pahomba Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur Larangan untuk memasuki dan mengambil hasil hutan pada gugus Pahomba karena pepohonan di pahomba di sekitar batang sungai berfungsi sebagai filter materi erosi sekaligus sebagai sempadan alamiah sungai dan untuk pelestarian air sungai 11 Subak Bali Teknologi tradisional pemakaian air secara efisien dalam pertanian. Pembagian air berdasarkan luas sawah dan masa pertumbuhan padi 12 Pill Pasenggiri Lampung Falsafah hidup atau pedoman dalam bertindak yang terdiri dari: “menemui muimah” (ramah lingkungan), “nengah nyappur” (keseimbangan lingkungan), “sakai sambayan” (pemanfaatan lingkungan), dan “jaluk adek” (pertumbuhan lingkungan) 13 Maccera Tasi Luwu-Sulawesi Selatan Upacara adat yang pesannya tentang tanggung jawab untuk menghormati laut, menjaga kebersihannya, tidak merusak, dan tidak menguras potensi ikan laut secara berlebihan 14 Kepercayaan terhadap Tomanuru atau Karampua (Tuhan pencipta alam semesta) dan berlakunya Palia Masyarakat di sekitar Taman Nasional Lore Lindu Kepercayaan diwujudkan dalam bentuk palia (larangan) salah satunya larangan menebang pohon ‘nunu’, ‘sarao’, dan pohon yang akarnya menggantung karena pohon-pohon tersebut dapat menjadi penahan erosi, longsor, dan sebagai penyangga mata air. 15 Ibeiya (rumah adat Suku Moile, Pegunungan Arfak, Distrik Minyambouw) Papua Barat Pada proses pembangunan rumah Ibeya, pohon yang akan digunakan kayunya untuk membuat rumah tidak langsung ditebang melainkan dilucuti dulu daun-daunnya kemudian ditinggal selama dua bulan untuk kemudian ditebang. Hal ini untuk menjaga tanah dari erosi atau tanah longsor
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 28 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya 4. AGAMA, KEPERCAYAAN, DAN KONSERVASI Nilai-nilai moral dan religius serta etika sering memberikan petunjuk yang sangat berharga bagi perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Permasalahan-permasalahan lingkungan tidak hanya dipecahkan dengan teknologi dan metode ilmiah saja akan tetapi juga perlu dibantu dengan kekuatankekuatan lain yaitu religius (agama), kepercayaan, dan etika pengaruh sikap manusia terhadap alam. Manusia sebagai makhluk individu dan sosial mengambil segala sesuatu dari lingkungannya sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna terkadang merasa paling berhak untuk menguasai dan mengeksploitasi alam melebihi batas kebutuhannya. Hal ini yang kemudian menyebabkan terjadinya krisis global. Keadaan ini menurut Zuhri (2013) diperparah dengan pandangan hidup positivisme yang ditawarkan oleh Auguste Comte (1798-1857) dan para pendahulunya (Rene Descartes, Thomas Hobes, John Locke, dan Davide Hume). Pandangan positivisme ini menafikkan segala dimensi spiritual. Salah satu akibat dari pandangan positivisme, manusia merasa dapat berbuat apa saja dalam menguasai dan mengeksploitasi alam dan sesama manusia tanpa ada perasaan khawatir akan mempertanggung jawabkannya dihadapan Tuhan. Eksploitasi alam dan sesama manusia ini akan tumbuh subur terutama dalam masyarakat kapitalis yang lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi. Kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan, termasuk di dalamnya sumberdaya air dan tanah, pada pandangan semua agama dan aliran kepercayaan merupakan kewajiban seluruh umat manusia sehingga norma-norma agama juga menjadi peraturan yang mengikat dalam melaksanakan konservasi. a. Konservasi Menurut Ajaran Islam Misbahkhunur (2010) mengemukakan bahwa menurut pandangan Islam, terdapat empat konsep penting yang harus dipahami untuk membangun pemahaman agama terhadap ekologi atau lingkungan yaitu taskhir (penundukan), ‘abd (kehambaan), khalifah (pemimpin), dan amanah (dipercaya). Keempat konsep tersebut berasal dari konsep tujuan penciptaan alam semesta dan manusia. Pandangan yang komprehensif terhadap empat konsep tersebut secara seimbang akan memberikan pandangan yang baik mengenai relasi manusia dan lingkungan dalam kaitannya dengan keseimbangan alam. Lingkungan merupakan segala sesuatu yang terdapat di sekitar manusia meliputi binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah air, dan lain sebagainya. Al-Qur’an mengajarkan akhlak manusia untuk menjaga lingkungan yang pada dasarnya merupakan fungsi manusia sebagai khalifah di bumi. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Islam sebenarnya telah memiliki pandangan (konsep) yang sangat jelas tentang konservasi dan penyelamatan lingkungan. Islam memandang lingkungan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keimanan seseorang terhadap Tuhan sehingga perilaku manusia terhadap lingkungan merupakan manifestasi dari keimanan seseorang. Terkait dengan kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi, Farkhani (2007) mengungkapkan bahwa manusia memiliki tugas menciptakan perdamaian, kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia. Dalam Al-Qur’an ditemukan larangan untuk berbuat kerusakan di bumi dalam susunan redaksi ayat “Laa tufsiduuna fi al-ard” sebanyak tiga kali, yaitu dalam QS. Al-Baqarah ayat 11, QS. AlA’raf ayat 56 dan 85. Oleh karena itu, jika manusia tidak dapat mempertahankan kelestarian alam, dalam pandangan Islam manusia tersebut telah gagal dalam mengemban tugas sebagai seorang khalifah di muka bumi. Khalid (2010) dalam Al-Qur’an Ciptaan dan Konservasi menyatakan bahwa tidak seperti spesies lain dalam penciptaan, manusia secara istimewa dianugerahi kemampuan bernalar dan merumuskan pikiran-pikirannya yang rumit. Pada QS. Ar-Rahman (55): 1-7 Allah SWT berfirman: “(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarkannya pandai bicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohonpohonan keduanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)”. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa terdapat keteraturan dan makna dalam penciptaan. Jika matahari dan bulan tidak mengikuti orbit yang tetap dan ciptaan-ciptaan lain tidak berfungsi sebagaimana yang telah dirancang, kehidupan di muka bumi ini akan menjadi sebuah ketidakmungkinan. Terdapat keseimbangan yang melekat dan kecenderungan terhadap stabilitas dalam susunan alam. Ada cara lain untuk mengatakan bahwa seluruh ciptaan tunduk kepada satu Pencipta. Karena itu, sebagai khalifah Allah di bumi, manusia bertanggungjawab untuk bertindak adil, secara aktif memelihara keseimbangan dan keteraturan yang melingkupinya dan melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan keseimbangan lingkungan tersebut.
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 29 Hal itu jelas merupakan perintah untuk menjaga keseimbangan lingkungan. b. Konservasi Menurut Ajaran Kristen dan Katolik Pada tahun 1967, sejarawan Lynn White Jr. melalui publikasinya dalam paper “The Historic Roots of Our Ecological Crisis” mengatakan bahwa masyarakat kristiani sangat berhati-hati dalam mengeksploitasi sumber daya alam karena dalam Injil dikatakan bahwa Tuhan mengutus Adam dan Ave untuk menguasai alam: “Berhasil melipat gandakan, menundukkan, dan mengisi bumi, serta menguasai ikan-ikan di laut, unggas-unggas di udara, dan semua yang ada di bumi” (Terjemahan bebas dari Genesis 1:28). Pada Kejadian 1:1—2:3 memperlihatkan bahwa seluruh ciptaan Allah pada hakikatnya adalah baik. Hal ini berarti pada setiap ciptaanNya terdapat harkat dan martabat yang harus dihargai oleh ciptaan lainnya karena Allah telah memberikan dan menyatakannya. Selain itu, pada segenap ciptaanNya, Ia menetapkan struktur keseimbangan dan saling ketergantungan antara satu ciptaan dengan ciptaan lain-nya. Pada ajaran Kristen, baik pada kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dikatakan bahwa manusia mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan dengan alam semesta. Manusia berhubungan dengan hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terhadap segala makhluk ciptaanNya, seharusnya manusia bersikap menghargai dan memperlakukannya sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam makhluk ciptaanNya. Mengingat manusia adalah berkodrat sosial maka kebanyakan tindakan manusiawi mencakup kerjasama dan hubungan manusia dengan segala ciptaan Tuhan (Sinaga, 1994). Kehidupan manusia merupakan pusat perhatian setiap agama termasuk dalam agama Kristen. Keseluruhan ajaran agama Kristen pada intinya bertujuan untuk mengarahkan manusia untuk memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan mutu kehidupan (Setianingsih, 2004). Ajaran agama Kristen menurut Dian,dkk. (2011) memahami kerusakan lingkungan hidup sebagai bagian dan wujud dari perilaku manusia yang tidak sejalan dengan tujuan Tuhan menciptakan alam semesta. Memelihara bumi dan tidak merusak ekosistem adalah bukti penguasaan diri manusia. Dunia adalah tempat tinggal bersama yang sesama penghuninya hidup bergantung. Wujud kuasa manusia atas alam terlihat dalam batasan mandat untuk memeliharanya. Perilaku ramah lingkungan adalah bagian dari iman, salah satu ujian iman yang membumi. Maka, berbagai bencana alam yang menimpa bukan hanya fenomena alam, tetapi karena kelalaian manusia sebagai pelaksana mandat Allah untuk mengelola bumi ini sebaik mungkin. Romualdus (2013) menyatakan bahwa: “Masalah lingkungan hidup dimasukkan dalam agenda gereja Katolik. Paus Pulus IV, dalam suratnya pada kesempatan Konferensi BangsaBangsa tentang Lingkungan Hidup Manusia di Stockholm tahun 1972 menegaskan bahwa antara manusia dengan lingkungan alamiahnya saling terpaut dan perlu pembatasan dalam penggunaan kekayaan alam yang sama. Paus Paulus VI dalam pesan terakhirnya pada hari lingkungan hidup se dunia V tahun 1977 menyampaikan tentang krisis lingkungan hidup dan ancaman akibat-akibat yang ditimbulkan oleh polusi industrial dan mendesak sejumlah perubahan tingkah laku kita yang boros dan mengaitkan lingkungan hidup dengan perkembangan dalam perspektif kerjasama internasional”. c. Konservasi Menurut Ajaran Hindu Konservasi keanekaragaman hayati dan perlindungan terhadap alam dan lingkungan juga merupakan bagian dari ajaran agama Hindu. Utama dan Kohdrata (2011) menyatakan bahwa ajaranajaran agama Hindu yang dituangkan ke dalam upacara atau yadnya berlandaskan pada filsafat Tri Hita Kirana (THK). THK terdiri dari tiga aspek yang dijalankan dalam kehidupan harmonis berkelanjutan yaitu: (1) Palemahan, yang mengatur keharmonisan manusia dengan lingkungannya, termasuk lingkungan hayati; (2) Parahyangan, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (religius); serta (3) Pawongan, yang mengatur hubungan antara manusia dengan masyarakat (aspek sosial kemasyarakatan). Secara filosofis, ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan telah menjadi tradisi komunal yang dimanifestasikan dalam berbagai kegiatan religius. d. Konservasi Menurut Ajaran Budha Agama Budha sebagai salah satu agama yang diakui di Indonesia juga mengajarkan manusia untuk menyayangi dan melindungi alam beserta isinya baik makhluk hidup maupun makhluk tak hidup. Agustini (2010) mengemukakan konsep pelestarian alam dan lingkungan berdasarkan agama Budha. Agama Budha memandang ada hubungan antara kemoralan seseorang dengan kelestarian alam, karena peristiwa yang terjadi di alam ini saling berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap komponen-komponen lainnya (hukum paticcasamuppada). Hal ini berarti bahwa perilaku yang dilakukan oleh manusia sangat berpengaruh terhadap lingkungan hidup, dan lingkungan juga memberikan pengaruh terhadap manusia. Jika manusia merusak lingkungan, secara cepat dan
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 30 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya lambat akan menimbulkan dampak buruk bagi manusia. Berbagai macam bencana, seperti tanah longsor, banjir, kekeringan, merupakan hasil dari tindakan manusia sendiri terhadap alam. e. Konservasi Menurut Aliran Kepercayaan Lain Salah satu aliran kepercayaan yang sampai saat ini berkembang di Indonesia adalah Komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu atau yang lebih sering dikenal dengan Dayak Indramayu. Ma’mun (2014) mengemukakan bahwa aliran kepercayaan ini merupakan aliran kepercayaan yang mempunyai pandangan teologis tersendiri yang berbeda dengan agama lain. Mereka meyakini bahwa alam adalah sumber kehidupan, alam menjadi tempat tumbuh, dan matinya semua makhluk hidup termasuk manusia. Alam juga merupakan pencipta kehidupan. Manusia lahir dari saripati alam. Seorang bayi lahir dari pertemuan sel ovum dan sperma kedua orang tuanya, sel tersebut tercipta dari saripati makanan, dan makanan manusia diperoleh dari alam sehingga alam menjadi pusat proses kehidupan. Pemahaman Dayak Indramayu tersebut merupakan pandangan yang berbeda dengan agama mayoritas di Indonesia. Keyakinan mereka terhadap keabadian alam merupakan titik pangkal keyakinannya. Mereka tidak meyakini adanya Tuhan yang diyakini agama lain yang Maha Tunggal dan Maha Besar. Implikasi dari pemahaman ini adalah penghormatan yang luar biasa terhadap alam. Semua aktifitas hidup yang dilakukan masyarakat adalah untuk mengabdi dan menghormati alam. Manusia menjadi bagian dari alam dan merupakan faktor penjaga keseimbangan alam. 5. MENGANGKAT NILAI-NILAI KEAGAMAAN DAN KEARIFAN LOKAL DALAM KONSERVASI TANAH DAN AIR Air dan tanah merupakan bagian dari komponen abiotik ekosistem yang kualitas dan kuantitasnya menentukan keseimbangan dalam suatu ekosistem. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari ekosistem memiliki kewajiban untuk menjaga air dan tanah. Adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penggunaan dan pengelolaan sumberdaya air dan tanah tidak cukup untuk memberikan perlindungan terhadap sumberdaya air dan tanah. Seluruh komponen baik pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat sebagai pelaku utama pengguna sumberdaya air dan tanah harus bekerjasama secara baik untuk melaksanakan konservasi air dan tanah. Berbagai upaya tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya air dan tanah yang berkelanjutan dan demi mewujudkan cita-cita kemakmuran rakyat. Beberapa ajaran agama dan kepercayaan yang dikemukakan di atas secara umum memberikan satu gambaran bahwa konservasi sumberdaya alam dan lingkungan merupakan kewajiban semua umat manusia, yang didalamnya termasuk kewajiban dalam mengelola dan melakukan konservasi air dan tanah. Nilai-nilai ajaran agama ini penting ditanamkan sebagai pondasi kehidupan manusia dalam mengelola alam sekitarnya. Nilai-nilai kearifan lokal dan ajaran agama penting untuk disemai dan disebarluaskan, agar manusia merasa bahwa menjaga alam dan lingkungan adalah bagian dari ajaran agama sehingga alam dapat memberikan kekayaannya untuk kemakmuran umat manusia yang mau berupaya untuk menjaga dan menghormati hak-hak alam. Kesadaran untuk mengangkat dan menggali kembali pengetahuan lokal atau kearifan budaya lokal dilatarbelakangi oleh kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat dunia yang saat ini telah diiringi oleh berbagai kerusakan lingkungan, termasuk di dalamnya krisis air, lahan kritis, dan berbagai peristiwa yang mengindikasikan kerusakan sumberdaya air dan tanah. Semakin hari, semakin dirasakan terjadinya peningkatan baik luas maupun intensitas adanya degradasi sumberdaya lahan dan lingkungan serta pencemaran baik di biosfer, hidrosfer, maupun atmosfer. Pengetahuan indigenous atau kearifan budaya lokal sebagai sebuah akumulasi pengalaman kolektif dari generasi ke generasi perlu dikembangkan sebagai bagian dalam memperkaya dan melengkapi rakitan inovasi teknologi masa depan yang berkelanjutan, termasuk untuk konservasi air dan tanah. Manusia merupakan faktor utama penyebab banyaknya kerusakan lingkungan yang berkaitan dengan sumberdaya air dan tanah seperti sedimentasi sungai dan waduk, pencemaran tanah, dan lain sebagainya. Tidak disadari, kegiatan hidup manusia sehari-hari akan merusak lingkungan yang disebabkan oleh tekanan ekonomi dan rendahnya tingkat pendidikan (Maridi, 2012). Interaksi antara manusia dan lingkungannya tidak selalu berdampak positif bagi lingkungan. Interaksi tersebut menurut Suparmini, dkk. (2013) dapat menimbulkan dampak negatif yang dapat menimbulkan bencana, malapetaka, dan kerugian-kerugian lainnya. Pada kondisi yang demikian inilah kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat dapat meminimalisir dampak negatif yang ada. Dengan mengikuti, melaksanakan, dan meyakini nilai-nilai lokal yang ada, yang dilakukan secara turun-temurun, secara
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 31 langsung ataupun tidak memiliki peranan yang besar terhadap pelestarian lingkungan. Pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dan ajaran agama yang berkaitan dengan perlindungan sumber daya alam dan lingkungan merupakan salah satu wujud konservasi secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat. Nababan (1995) dalam Suhartini (2009) mengemukakan prinsip-prinsip konservasi secara tradisional oleh masyarakat: (1) rasa hormat yang mendorong keselarasan hubungan manusia dengan alam sekitarnya karena masyarakat tradisional lebih condong memandang dirinya sebagai bagian dari alam itu sendiri; (2) rasa memiliki atas suatu kawasan atau jenis sumberdaya alam tertentu sebagai hak kepemilikan bersama sehingga menimbulkan kewajiban untuk menjaga dan mengamankan sumberdaya bersama; (3) sistem pengetahuan masyarakat setempat yang memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang terbatas; (4) daya adaptasi dalam penggunaan teknologi sederhana yang tepat guna dan hemat energi sesuai dengan kondisi alam setempat; (5) sistem alokasi dan penegakan aturan adat yang dapat mengamankan sumberdaya milik bersama dari penggunaan berlebihan baik oleh masyarakat maupun pendatang yang diatur dalam pranata dan hukum adat; serta (6) mekanisme pemerataan hasil panen atau sumberdaya milik bersama yang dapat mencegah munculnya kesen-jangan berlebihan di dalam masyarakat. Pendekatan pemberdayaan kearifan lokal diharapkan dapat menimbulkan terjadinya perubahan dasar perilaku sosial yang berkaitan dengan perilaku konservasi air dan tanah. Perubahan tersebut hanya dapat terlaksana apabila secara penuh didasarkan pada kesadaran, keikhlasan, dan kesungguhan dari seluruh pihak (stakeholders) dalam proses mobilisasi sosial. Perubahan perilaku dan struktur sosial dalam hal ini berkaitan dengan nilai, norma, dan pranata yang menjadi nafas kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik dan permanen (Stanis, 2005). Kearifan lokal, budaya, dan norma agama yang dianut dan ditaati oleh masyarakat harus dijaga dan dilestarikan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempertahankannya menurut Siswadi, dkk. (2011) antara lain: (1) penguatan semangat komunitas adat dan agama melalui berbagai tenaga penggerak seperti pemerintah, ahli lingkungan, dan tokoh agama; (2) peningkatan kesadaran, pemahaman, kepedulian, dan partisipasi masyarakat menuju masyarakat yang arif lingkungan; serta (3) penyediaan payung hukum. Maridi (2012) pada hasil penelitiannya menambahkan beberapa upaya pemberdayaan masyarakat dalam konservasi air dan tanah antara lain meningkatkan partisipasi masyarakat dengan membangun dialog dan kesepakatan dengan instansi pemerintah dna pihakpihak terkait serta menyelenggarakan penyuluhan, pendampingan, dan pelatihan kepada masyarakat dalam pemanfaatan dan pelestarian sumber daya air dan tanah. 6. PENUTUP Pengelolaan dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan, termasuk di dalamnya konservasi tanah dan air, menjadi isu yang penting karena permasalahan mengenai isu tersebut mengancam kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Berbagai upaya telah dilakukan di seluruh tingkatan mulai dari pemerintah pusat sampai daerah. Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan konservasi air, tanah, dan keanekaragaman hayati di Indonesia. Salah satu peran masyarakat adalah mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Berbagai praktek kearifan lokal dan budaya nenek moyang yang sampai saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Indonesia dapat menjadi salah satu strategi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dan ajaran agama yang berkaitan dengan perlindungan sumber daya alam dan lingkungan merupakan salah satu wujud konservasi secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal dan ajaran agama penting untuk disemai dan disebarluaskan, agar manusia merasa bahwa menjaga alam dan lingkungan adalah bagian dari ajaran agama sehingga alam dapat memberikan kekayaannya untuk kemakmuran umat manusia yang mau berupaya untuk menjaga dan menghormati hak-hak alam. 7. DAFTAR PUSTAKA Agustini, K. 2010. Bencana Alam dalam Pandangan Bhikku Agama Budha: Studi Kasus di Vihara Dhammacakka Jaya Jakarta. Jakarta: Prodi Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah. Alanindra, S. 2012. Analisis Vegetasi Pohon di Daerah Tangkapan Air Mata Air Cokro dan Umbul Nila Kabupaten Klaten, Serta Mudal dan
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 32 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya Wonosadi Kabupaten Gunungkidul. Tesis tidak diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Aulia, T.O.S; A.H., Dharmawan. 2010. Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Air di Kampung Kuta. Sodality: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia. 4 (3): 345-355. Budiwiyanto. 2005. Tinjauan Tentang Perkembangan Pengaruh Local Genius dalam Seni Bangunan Sakral (Keagamaan) di Indonesia. Ornamen. 2(1): 25-35. Dian, Aditya, Yordan, Widiya, Setya. 2011. Lingkungan Hidup. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana. Dimyati. 2010. Manusia dan Kebudayaan. (Online), (dimyati.staff.gunadarma.ac.id/.../bab2-manusiadan-kebudayaan), diunduh pada 1 Agustus 2015. Direktorat Pengkajian Bidang Sosial dan Budaya. 2013. Pengelolaan Sumber Daya Air Guna Mendukung Pembangunan Nasional dalam Rangka Ketahanan Nasional. Jurnal Kajian Lemhanas RI. Edisi 15: 50-61. Fajarini, U. 2014. Peranan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter. Sosio Didaktika 1(2): 123- 130. Farkhani. 2007. Islam dan Konservasi Sumber Daya Air. Profetika Jurnal Studi Islam. 9(2): 177-191. Gadis, M. 2010. Nilai-Nilai Lokal Masyarakat Nagari Paninggahan dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan. (Online), (http://repository. unand.ac.id/articles), diunduh pada 20 Juli 2015. Hematang, Y.I.P., Erni, S., Gagoek, H. 2014. Kearifan Lokal Ibeiya dan Konservasi Arsitektur Vernakular Papua Barat. Indonesian Journal of Conservation. 3(1): 16-25. Hendrawati, L.Z. 2011. Kearifan Budaya Lokal Masyarakat Maritim untuk Upaya Mitigasi Bencana di Sumatera Barat. Padang: Jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas. Iskandar, J. 2014. Manusia dan Lingkungan dengan Berbagai Perubahannya. Yogyakarta: Graha Ilmu. John,V.W. 2013. Water Conservation and Management in the Upper Catchment of Lake Bogoria Basin. European International Journal of Science and Technology. 2(4): 76-84. Indrawardana, I. 2012. Kearifan Lokal Adat Masyarakat Sunda dalam Hubungan dengan Lingkungan Alam. Komunitas. 4(1): 1-8. Ishak, M. 2008. Penentuan Pemanfaatan Lahan: Kajian Land Use Planning dalam Pemanfaatan Lahan untuk Pertanian. Bandung: Jurusan Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Universitas Padjajaran. Khalid, F.M. 2010. Al-Qur’an Ciptaan dan Konservasi. Jakarta: Conservation International Indonesia. Ma’mun, S. 2014. Relevansi Agama dan Alam dalam Pandangan Aliran Kebatinan Dayak Indra-mayu. Kontekstualita. 29(1):1-13. Siombo, M.R. 2011. Kearifan Lokal dalam Perspektif Hukum Lingkungan. Jurnal Hukum. 18(3):428- 443. Maridi. 2012. Penanggulangan Sedimentasi Waduk Wonogiri Melalui Konservasi Sub DAS Keduang dengan Pendekatan Vegetatif Berbasis Masyarakat. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Misbahkhunur. 2010. Modul 8: Tanggungjawab terhadap Alam dan Lingkungan. (Online), (endraya .lecture.ub.ac.id), diunduh pada 29 Juli 2015. Muharam. 2011. Pengembangan Model Konservasi Lahan dan Sumberdaya Air dalam Rangka Pengentasan Kemiskinan. Majalah Ilmiah Solusi Unsika. 10(20): 1-13. Negara, P.D. 2011. Rekonstruksi Kebijakan Pengelolaan Kawasan Konservasi Berbasis Kearifan Lokal sebagai Kontribusi Menuju Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Indonesia. Jurnal Konstitusi. IV(2): 91-138. Nurroh, S. 2014. Studi Kasus: Kearifan Lokal (Local Wisdom) Masyarakat Suku Sunda dalam Pengelolaan Lingkungan yang Berkelanjutan.Yogyakarta: Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Noor, M., A., Jumberi. 2010. Kearifan Budaya Lokal dalam Perspektif Pengembangan Pertani-an di Lahan Rawa. (Online), (balittra.litbang.pertanian.go.id/lokal/Kearipan-1%20M...), diunduh pada 31 Agustus 2015. Romualdus, G. 2013. Perspektif Agama Katolik Terhadap Pelestarian Alam dan Perlindungan Hutan. Sancayaningsih, R.P., Alanindra, S., Fatimatuzzahra. 2014. Tree Vegetation Analysis Around Springs that Potentially to Springs Conservation. ICGRC 2014 Proceedings. Sartini. 2004. Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat. 37(2): 111-120. Satriaji, A.A. 2010. Kalender Pranata Mongso. (Online), (http://cimg.beritaloka.com), diakses pada 29 Juli 2015. Setianingsih, S. 2004. Pemeliharaan Lingkungan Hidup (Suatu Studi Komparasi Pandangan Islam dan Kristen). Semarang: Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Walisongo.
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 33 Sinaga, M.L. 1994. Menembus Ciptaan: Konferensi Tingkat Tinggi Bumi Rio: Tantangan Bagi Gereja. Jakarta: Gunung Mulia. Siswadi, T., Taruna, H., Purnaweni. 2011. Kearifan Lokal dalam Melestarikan Mata Air (Studi Kasus di Desa Purwogondo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal). Jurnal Ilmu Lingkungan. 9(2): 63-68. Stanis, S. 2005. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Melalui Pemberdayaan Kearifan Lokal di Kabupaten Lembata Propinsi Nusa Tenggara Timur. Semarang: Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Suhartini. 2009. Kajian Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan, dan Penerapan MIPA. Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta yang diselenggarakan pada 16 Mei 2009. Sulastriyono. 2009. Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Air di Telaga Omang dan Ngloro Kecamatan Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Mimbar Hukum. 21(2): 203-408. Suparmini, S., Setyawati, D.R.S., Sumunar. 2013. Pelestarian Lingkungan Masyarakat Baduy Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Penelitian Humaniora. 18(1):8-22. Utama, I.M.S., N, Kohdrata. 2011. Modul Pembelajaran Konservasi Keanekaragaman Hayati dengan Kearifan Lokal. Denpasar: Tropical Plant Curriculum Project USAID-TEXAS A&M University dengan Universitas Udayana. Wiganingrum, A., Leo, A.S., Sri, W. 2010. Nilai Kearifan Upacara Tradisional Susuk Wangan sebagai Bentuk Solidaritas Sosial dan Pelestarian Lingkungan di Desa Setren Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri. Surakarta: Prodi P. Sejarah FKIP UNS. Yunus, R. 2012. Nilai-Nilai Kearifan Lokal (Local Genius) sebagai Penguat Karakter Bangsa: Studi Empiris tentang Huyula. Yogyakarta: CV. Budi Utama. Zuhri, A. 2013. Tasawuf Ekologi (Tasawuf sebagai Solusi dalam Menanggulangi Krisis Lingkungan) Jurnal Religia. 12(2):1-20.
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 34 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 35
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 36 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 37
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air 38 Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya
Maridi. Mengangkat Budaya dan Kearifan Lokal dalam Sistem Konservasi Tanah dan Air Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 39 Penanya: Prof. Utami Sri Hastuti, Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang Pertanyaan: Kegiatan manusia yang sebagian besar dilatar belakangi dorongan ekonomi kebanyakan menimbulkan kerusakan tanah yaitu dengan pendirian bangunan untuk pemukiman bahkan industri sehingga menghabiskan tanaman penutup tanah, juga menyebabkan bagian top soil tanah yang merupakan bagian tanah paling subur hilang karena diganti dengan semen, hal ini tentunya dapat menyebabkan banjir. Bagaimana cara menanamkan kearifan lokal pada anak didik kita agar tidak terus menerus melakukan kerusakan tersebut? Jawaban: Alih fungsi lahan baik untuk kepentingan pemukiman maupun kepentingan industri harus mengikuti rencana tata ruang, jika tata ruang tidak memungkinkan maka lahan hijau tidak akan dialih fungsikan sebagai pemukiman maupun daerah industri. Dalam suatu daerah juga sudah memiliki peta wilayah industri masing-masing, yang mana suatu daerah tersebut dikhususkan untuk keperluan bisnis dan industri. Namun, permasalahan politik di Indonesia juga merupakan salah satu penyebab alih fungsi lahan yang terjadi tidak sebagaimana mestinya. Permasalahan yang kedua yaitu permasalahan perut (permasalahan ekonomi) penduduk Indonesia, dimana lahan yang seharusnya ditanami tanaman tak cabut menjad ditanami tanaman cabut oleh karena faktor ekonomi tersebut, hal ini dimisalkan dengan dijadikannya kebun jati menjadi lahan tanam kacang tanah atau lahan tebu yang masa panennya singkat. Benar seperti yang telah diutarakan Prof. Utamu bahwa tanaman penutup tanah penting peranannya, bahkan tidak hanya di daerah pemukiman namun juga di hutan-hutan yang masih alami. Penanya: Iswanto, UMP Jawa Timur Pertanyaan: Dewasa ini setiap daerah ingin menjadi daerah industri atau perkotaan sehingga mengesampingkan keasrian lingkungan. Bagaimana solusi agar suatu daerah seimbang antara kota industri dan lingkungan yang tidak rusak? Jika ada solusi mengapa belum diterapkan secara ketat? Jawaban : daerah suka untuk menjadi kota atau daerah industri karena sekarang ini ada sistem yang bernama otonomi daerah sehingga setiap daerah dibebaskan oleh pemerintah untuk mengatur dan mengembangkan potensi daerahnya masing-masing. Hal ini mengakibatkan setiap desa untuk berlomba-lomba untuk membangun modernisasi dan industri dalam rangka mempermudak perolehan kebutuhan masyarakatnya. Seharusnya, peraturan dari pemerintah yang harus lebih diperketat, misalnya dengan adanya sistem renovasi dan urbanisasi.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM PENGARUH MODERNISASI DALAM KEARIFAN LOKAL PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM (Studi Kasus : Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat) BIDANG KEGIATAN: PKM-AI Diusulkan Oleh : Astatin Fitriani I34060682 Tahun 2006 (Ketua Kelompok) Muhammad Reza Maulana I34051520 Tahun 2005 (Anggota Kelompok) Lussi Susanti I34050675 Tahun 2005 (Anggota Kelompok) INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009
2 LEMBAR PENGESAHAN 1. Judul Kegiatan : Pengaruh Modernisasi dalam Kearifan Lokal Pengelolaan Sumberdaya Alam (Studi Kasus : Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat) 2. Bidang Kegiatan : () PKMAI ( ) PKMGT 3. Ketua Pelaksana Kegiatan 4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 orang 5. Dosen Pendamping Bogor, 30 Maret 2009 Menyetujui Ketua Jurusan/Program Studi Ketua Pelaksana Kegiatan ( Dr. Ir. Lala M. Kolopaking, MS ) ( Astatin Fitriani ) NIP. 131 284 865 NIM. I34 060 682 Wakil Rektor Bidang Dosen Pendamping Kemahasiswaan ( Prof. Dr. Ir. H. Yonny Kusmaryono, MS ) ( Martua Sihaloho, SP, MSi ) NIP. 131 473 999 NIP. 131 321 421
3 I. Judul Pengaruh Modernisasi terhadap Kearifan Lokal Pengelolaan Sumberdaya Alam (Studi Kasus: Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat) II. Nama Penulis 1. Nama : Astatin Fitriani Alamat : Institut Pertanian Bogor, Darmaga Bogor 2. Nama : Muhammad Reza Maulana Alamat : Institut Pertanian Bogor, Darmaga Bogor 3. Nama : Lussi Susanti Alamat : Institut Pertanian Bogor, Darmaga Bogor III. Abstrak Kearifan lokal adalah pengetahuan yang secara turun-temurun dimiliki oleh masyarakat dalam mengolah lingkungan hidupnya. Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya memiliki kearifan lokal yang masih dipertahankan namun juga telah mulai mengalami modernisasi. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh modernisasi terhadap kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam di Kasepuhan Cipta Mulya. Strategi observasi lapang yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan teknik PRA (Parsitipatory Rural Appraisal). Kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya yang mengatur pola pengelolaan sumberdaya alam berupa hutan dibagi ke dalam tiga bentuk berdasarkan fungsinya, yaitu hutan titipan (Leuweung Titipan), hutan tutupan (Leuweung Tutupan) dan hutan garapan (Leuweung Garapan). Modernisasi dalam pengelolaan sumberdaya alam yang terjadi pada masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya mempunyai dampak positif. Dampak positif yang dirasakan diantaranya adalah masyarakat merasa akses transportasi dan akses informasi ke desa menjadi lebih mudah, sehingga masyarakat lebih mudah mendistribusikan hasil pertaniannya dan lebih mudah berkomunikasi dengan pihak lain di luar desa. Kata kunci: modernisasi, kearifan lokal, pengelolaan sumberdaya alam. IV. Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan dengan keragaman budaya yang begitu kaya. Kebudayaan yang beragam ini lahir dari pola adaptasi masyarakat terhadap lingkungan sekitar. Karakteristik alam yang berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lain membuat kebudayaan di tempat yang satu dengan tempat yang lain mempunyai ciri khasnya masing-masing. Dewasa ini pola pengelolaan hutan pada masyarakat lokal mulai berubah, hal ini disebabkan terjadinya proses modernisasi pada sendi-sendi kehidupan masyarakat lokal. Menurut Hutomo dan Amech (1995), kearifan lokal adalah pengetahuan yang secara turun-temurun dimiliki oleh masyarakat dalam mengolah lingkungan hidupnya, yaitu pengetahuan yang melahirkan perilaku sebagai hasil dari adaptasi mereka terhadap lingkungannya, yaitu mempunyai implikasi positif terhadap kelestarian lingkungan hidup. Sejalan dengan itu Susilo (2008) menjelaskan
4 bahwa kearifan-kearifan lokal memiliki fungsi positif bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan kearifan lokal lebih berorientasi ekologis dibanding kepentingan pasar. Kasepuhan Cipta Mulya berada di Desa Sirna Resmi, Gunung Halimun, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Masyarakat di Kasepuhan Cipta Mulya sejak turun-temurun hidup selaras dengan alam, hal ini dibuktikan dengan kearifan lokal yang mereka miliki dalam pengelolaan sumber daya alam. Pola pengelolaan sumber daya alam merupakan salah satu sendi dalam kehidupan yang mendapatkan pengaruh dari arus modernisasi. Pesatnya arus modernisasi ternyata tidak membuat masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya lupa akan kearifan lokal yang mereka pegang teguh, bahkan masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya dapat pula menerima inovasi yang merupakan hasil dari proses modernisasi yang mereka anggap baik. Melihat fenomena tersebut, maka permasalahan yang diteliti adalah bagaimana pengaruh modernisasi terhadap kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam di Kasepuhan Cipta Mulya. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dari perumusan masalah diatas adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh modernisasi terhadap kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam di Kasepuhan Cipta Mulya. Selain itu penelitian ini pun merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa dalam rangka membantu melestarikan kearifan lokal masyarakat adat, khususnya dalam pengelolaan sumberdaya alam. V. Pendekatan Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirna Resmi, Gunung Halimun, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat pada tanggal 12 – 14 Desember 2008. Unit analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunitas dan social artifacts. Komunitas yang diambil dalam penelitian adalah komunitas masyarakat yang terdapat di Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirna Resmi sedangkan social artifacts juga menjadi unit analisis dari penelitian ini dengan lebih menekankan pada benda-benda tradisional serta tingkah laku dari masyarakat itu sendiri. Strategi observasi lapang yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, yaitu penelitian dilakukan secara terfokus dan mendalam untuk mengetahui apa dan bagaimana suatu peristiwa atau gejala yang sedang terjadi atau menjelaskan mengapa suatu peristiwa atau gejala sosial terjadi. Data kualitatif dikumpulkan dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara mendalam. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi kasus, dalam hal ini di Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirna Resmi, Kasepuhan Cipta Mulya, Gunung Halimun, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden dan informan yang akan kami kunjungi dengan menggunakan panduan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya serta pengamatan secara langsung dilapangan. Data sekunder yang diperoleh dari dokumen hasil penelitian sebelumnya yang terkait serta literatur yang didapat melalui sumber pustaka.
5 Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskripsi yaitu menggambarkan dan memaparkan fakta sesuai dengan fenomena yang terjadi di lapang. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik PRA (Parsitipatory Rural Appraisal) sebagai teknik dalam memahami “desa” secara partisipatif. Dalam teknik PRA ini penulis mengambil beberapa metode, yaitu PRA, Pemetaan, Transek dan Wawancara Semi-Terstruktur. Metode ini digunakan untuk merinci segala sesuatu yang berkaitan dengan subtopik yang telah dirumuskan dalam penelitian ini. VI. Hasil dan Pembahasan Kearifan Lokal Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya memiliki kearifan lokal yang masih dipertahankan hingga saat ini. Kasepuhan Cipta Mulya dipimpin oleh pemimpin adt yang sangat dihormati dan dipatuhi bernama Abah Uum. Kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya, mengatur pola pengelolaan sumberdaya alam. Untuk itu, masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya membagi lahan berupa hutan ke dalam tiga bentuk berdasarkan fungsinya, yaitu hutan titipan (Leuweung Titipan), hutan tutupan (Leuweung Tutupan) dan hutan garapan (Leuweung Garapan). I. Hutan Titipan (Leuweung Titipan) Leuweung Titipan berarti kawasan hutan yang sama sekali tidak boleh diganggu oleh manusia, sebab merupakan amanat dari para leluhur dan juga Tuhan. Sehingga masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya sama sekali tidak memanfaatkan hutan ini untuk digarap. II. Hutan Tutupan (Leuweung Tutupan) Leuweung Tutupan adalah kawasan hutan cadangan untuk suatu saat nantinya akan digunakan jika memang diperlukan. Hal ini disebab karena pengertian tutupan berarti dapat diolah, dibuka dan ditutup. III. Hutan Garapan (Leuweung Garapan) Leuweung Garapan adalah kawasan hutan yang telah dibuka menjadi lahan yang dapat diusahakan oleh masyarakat, baik untuk bersawah, berladang atau kebun yang terdiri dari areal pesawahan, huma atau ladang, dan kebun. Berikut ini akan dibahas mengenai pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki oleh Kasepuhan Cipta Mulya. a. Sawah Sawah ditanami dengan dengan tanaman padi, namun kadang diselingi tanaman palawija. Panen padi dilakukan hanya sekali dalam setahun. Hal ini disebabkan adanya suatu kepercayaan bahwa tidak akan baik hasilnya apabila panen dilakukan dua kali atau lebih dalam setahun, selain itu juga untuk menjaga kondisi tanah agar tetap subur serta untuk mengurangi serangan hama. Setelah panen, masyarakat secara bersama-sama memutuskan apakah lahan bekas panen tersebut akan digunakan kembali atau tidak. Hal ini didasarkan pada kondisi tanah dan kandungan air setelah panen. Jika kandungan air setelah panen mencukupi kebutuhan untuk menanam padi kembali, maka masyarakat akan kembali menanam padi. Namun jika kandungan air tidak mencukupi maka tanah tersebut akan dijadikan tanah jami, tanah khusus untuk tanaman sekunder seperti pisang dan durian.
6 Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya sebelum menanam padi di sawahnya, akan melaksanakan upacara seren taun terlebih dahulu. Upacara seren taun dilakukan dengan tujuan agar diberkati dan hasil panen melimpah. Jenis padi yang biasa ditanam oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya yaitu jenis pare gede atau gogo ranca. Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya memegang teguh prinsip bahwa padi merupakan komoditi utama. Sehingga masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya dilarang untuk memperjualbelikan beras, mereka hanya diperbolehkan meminjamkannya, baik pada sesama masyarakat adat atau kepada masyarakat non-adat. Tahapan-tahapan dalam kegiatan menanam hingga memanen padi pada masyarakat adat Kasepuhan Cipta Mulya, yaitu macul ( kegiatan menyangkul tanah yang akan ditanami sawah, meliputi macul badag dan macul alus), ngalur garu (membajak sawah dengan menggunakan alat bantu garu dan hewan ternak kerbau), ngoyos (membersihkan tanaman pengganggu seperti rumput liar yang menghambat pertumbuhan tanaman padi), patangkeun (meratakan seluruh permukaan tanah di sawah yang belum rata), sebar (menumbuhkan benih padi pada tahap pembibitan awal), tandur (menanam bibit padi yang sudah tumbuh setelah sebar), ngabungkil (memberikan sedikit pupuk kimia pada tanaman agar tanaman padi tumbuh dengan baik), ngoyos kadua (membersihkan kembali tanaman pengganggu seperti rumput liar yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman padi), babad (membersihkan rumput atau tanaman pengganggu yang terdapat di pematang sawah), nunggu dibuat (menjaga padi yang sudah mulai tumbuh dari gangguan, seperti burung-burung pemakan padi), dibuat (panen tanaman padi yang sudah matang), ngalantai (menjemur padi yang sudah dipanen hingga kering), mocong (mengikat padi dari jemuran sebelum dimasukkan ke dalam leuit atau lumbung padi), asup leuit (memasukkan padi yang sudah kering ke dalam leuit). Kemudian yang terakhir adalah nganyaran (mengadakan acara selamatan untuk padi yang baru dipanen dan memasak padi menjadi nasi yang panen pada tahun tersebut). b. Huma (ladang kering) Ngahuma merupakan sebutan lain dari persawahan di lahan kering. Dalam bahasa kasepuhan, ngahuma sendiri berasal dari kata imah (rumah, dalam Bahasa Indonesia). Tahapan-tahapan ngahuma, yaitu dimulai dengan nebang (membersihkan lahan dari tanaman yang tumbuh pada lahan yang akan dijadikan huma), ngaduruk (membakar bekas-bekas tanaman yang ditebang pada lahan yang akan dijadikan huma, tetapi menunggu sampai sisa-sisa tanaman tersebut kering), ngaseuk (menanam padi pada lubang-lubang yang telah dibuat dengan menggunakan alat aseuk, yaitu kayu dengan ukuran sekepalan tangan yang bagian ujungnya diruncingkan), ngored kahiji (tahapan pertama untuk membersihkan tanaman pengganggu yang dapat menghambat pertumbuhan padi huma), ngored kadua (tahapan kedua untuk membersihkan tanaman pengganggu yang dapat menghambat pertumbuhan padi huma), terakhir adalah panen dibuat (memanen tanaman padi yang sudah matang atau layak diambil padinya). Huma umumnya ditanami dengan padi huma. Selain untuk ditanami padi huma, huma juga ditanami dengan berbagai macam tanaman seperti pisang dan singkong. Dalam satu area huma, biasanya masyarakat tidak hanya menanam satu jenis tanaman, tetapi menanam beberapa jenis tanaman, agar jika terjadi kegagalan panen satu jenis tanaman, masyarakat tidak terlalu kehilangan penghasilan dari berladang.
7 c. Dudukuhan (kebun) Dudukuhan (kebun) merupakan lahan yang ditanami berbagai jenis sayursayuran, buah-buahan seperti pisang serta tanaman kayu lainnya seperti kayu manis dan kapuk. Pengelolaan lahan garapan haruslah disesuaikan dengan ketentuan atau aturan adat yang disepakati sebelumnya oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya. Salah satu diantaranya adalah diberlakukannya suatu pola, yaitu pola ragem. Pola ragem adalah waktu yang disepakati untuk melakukan penanaman. Sebelum penanaman, lokasi lahan garapan ditentukan terlebih dahulu. Dalam hal ini biasanya penentuan lokasi lahan garapan ditentukan oleh Abah Uum. Pola pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya sangat dipengaruhi oleh kearifan lokal yang mereka miliki. Adapun contoh kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya diantaranya adalah: 1. Adanya pepatah-pepatah lokal Terdapatnya pepatah-pepatah lokal dalam masyarakat diharapkan dapat menciptakan kemaslahatan dalam kehidupan masyarakat di Kasepuhan Cipta Mulya. Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat beberapa pepatah yang sering dipakai, antara lain: ◘ Tilu sapunulu, dua saka rupa, nu hiji eta-eta keneh. Artinya adalah keterkaitan antara tiga rangkaian. Rangkaian yang pertama yaitu tekad, ucapan dan tingkah laku. Rangkaian kedua yaitu buhun, nagara dan syara. Rangkaian ketiga yaitu nyawa atau ruh, raga serta papakayan. Dua sakarupa adalah rangkaian ketiga yang apabila hilang salah satunya akan berbeda maknanya. Nyawa atau ruh dimana logikanya sebagai masyarakat adat dan raga sebagai pemerintah dan papakayan adalah agama. Nu hiji eta-eta keneh artinya terdapat pada rangkaian nyawa atau ruh raga dan papakaian yang merupakan gerak tingkah manusia. Menurut penciptaannya, manusia diberi “pola” oleh Tuhan yaitu pola Rosul maksudnya adalah pola kebajikan sesuai dengan prinsip nu hiji eta-eta keneh atau pola syaiton yaitu hawa nafsu dan keserakahan. ◘ Nyang hulu ka hukum (menjunjung tinggi hukum dan memberikan wewenang kepada negara). Artinya adalah hidup harus berpedoman pada hukum yang berlaku dan memberikan wewenang pada negara. Pada masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya, prinsip tersebut tercermin dari pemakaian ikat kepala bagi kaum laki-laki. Ikat kepala tersebut yaitu dengan menggunakan kain egi empat yang melambangkan empat arah mata angin, yaitu timur, barat, selatan dan utara. Kemudian dilipat menjadi bentuk segitiga yang melambangkan tiga hukum yang berlaku dan dipatuhi oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya yaitu hukum adat, hukum negara dan hukum agama. ◘ Ibu bumi, bapak langit, tanah ratu Artinya adalah bahwa masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya hendaknya selalu menjaga keutuhan bumi beserta isinya sehingga keseimbangan alam tetap terjaga. ◘ Mipit Kudu Amit, Ngala Kudu Menta (memetik harus ijin, memanen harus memohon). Maksud dari pepatah ini, adalah jika seseorang ingin mengambil sesuatu, dalam hal ini, memetik hasil panen, harus meminta izin kepada pemiliknya. Tidak dibenarkan mengambil sesuatu tanpa izin pemiliknya.
8 ◘ Gunung Teu Meunang dilebur, Lebak Teu Meunang dirusak. Gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak. Pepatah ini mengandung arti bahwa lingkungan alam tidak boleh dirusak dan dihancurkan. Hal ini dikarenakan mereka hidup bergantung dari alam. Selain itu, cadangan air juga berada di alam, sehingga lingkungan mereka tidak beleh dirusak. 2. Leuit Leuit adalah tempat penyimpanan padi. Dalam masyarakat, besar kecilnya leuit atau tempat penyimpanan padi ini akan mencerminkan perekonomian suatu keluarga sehingga terdapat stratifikasi penduduk yang kuat dalam kesepuhan tersebut. Hampir semua keluarga memiliki leuit. Semakin besar dan mewah leuit tersebut, dapat dipastikan perekonomian keluarga tersebut makmur atau menengah keatas. Seperti leuit milik Abah Uum lebih besar dan diberi hiasan pada waktu seren taun dibandingkan dengan leuit-leuit lain yang ada dibelakangnya. Leuit menggambarkan kedaulatan pangan yang ada di Kasepuhan Cipta Mulya sehingga mereka tidak pernah kekurangan pangan karena terdapat cadangan pangan yang disimpan di leuit tersebut walaupun mereka hanya panen satu kali selama satu tahun. 3. Seren taun Seren taun adalah suatu kegiatan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kasepuhan atas hasil panen pertanian yang telah mereka peroleh. Upacara ini merupakan titik awal untuk kembali mengupayakan hasil pertanian yang lebih baik pada tahun berikutnya. Biasanya pemilihan hari seren taun bendasarkan bintang penuntun pertanian dan melalui ritual tertentu. Seren taun biasanya dilakukan 49 hari setelah musim panen dan dilangsungkan selama 9 hari. Seren taun rutin dilakukan masyarakat di Kasepuhan Cipta Mulya setelah panen. Dalam kegiatan serentaun ini pula, hasil panen padi dimasukkan pada leuit. Kegiatan seren taun termasuk didalamnya hiburan, seringkali dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bersilaturahmi satu sama lain. Fungsi kelembagaan adat akan terlihat jelas terutama dalam penyelenggaraan upacara seren taun. Dalam pelaksanaan upacara tersebut, sesepuh (ketua adat) memberikan petuah atau nasihat kepada masyarakat adat Kasepuhan Cipta Mulya. 4. Serah ponggohan Ritual ini dilaksanakan seminggu sebelum ritual seren taun. Baris kolot berkumpul untuk membahas jumlah jiwa dihitung berdasarkan pajak per jiwa. Kemudian masyarakat menyerahkan biaya seren taun yang disepakati. 5. Bentuk rumah panggung Bentuk rumah di Desa Sirna Resmi, termasuk di daerah kasepuhan Cipta Mulya memiliki keunikan. Hal ini bisa dilihat dari bentuk rumahnya yang menyerupai panggung. Menurut beberapa narasumber, bentuk rumah seperti ini memang tradisi sejak dulu kala, tetapi ada pula yang dikarenakan pemilik rumah memiliki hewan ternak seperti ayam dan bebek. 6. Acara pernikahan Umumnya pesta pada resepsi pernikahan dilakukan dirumah pihak laki-laki sebanyak dua kali. Selain itu, kedua mempelai biasanya keliling kampung, terlebih ke rumah Abah dan kokolot lembur lainnya (tokoh masyarakat). Para mempelai dan keluarga harus meminta restu kepada Abah dengan membawa ayam hitam yang diberi doa oleh Abah agar pernikahan mereka awet sampai akhir hayat.
9 7. Sistem pertanian Kasepuhan Cipta Mulya menggunakan sistem pertanian gotong royong. Maksudnya adalah pemilik tanah atau lahan tidak harus turun langsung untuk mengelola lahan pertaniannya, artinya dalam mengelola lahan yang dimilikinya tururt dibantu oleh warga lainnya. Pemilik lahan kelak akan memberi hasil panen atau imbalan yang lainnya. Selain itu dalam pengelolaan lahan, laki-laki adalah pihak yang pertama kali menentukan posisi menanam, kemudian baru diikuti dan dilanjutkan oleh pihak perempuan. Padi merupakan komoditas unggulan dalam masyarakat ini. Dalam kehidupan sehari-harinya, terdapat suatu tradisi dimana masyarakat dilarang menjual padi kepada orang lain. Pengaruh Modernisasi dalam Kearifan Lokal Pengelolaan Sumberdaya Alam Kasepuhan Cipta Mulya saat ini sedang mengalami proses modernisasi. Pengelolaan sumberdaya alam merupakan contoh sendi kehidupan masyarakat yang dipengaruhi oleh modenisasi. Kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam yang mengalami perubahan karena dampak modernisasi dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Aspek yang Terpengaruh Modernisasi No Aspek yang Terpengaruh Modernisasi Sebelum Sesudah 1. Sistem pengairan sawah Bambu sebagai saluran air Selang pipa sebagai saluran air 2. Penggunaan pupuk Pupuk kandang Pupuk kimia 3. Sistem transportasi Kuda Motor, mobil, dan truk 4. Sistem komunikasi Dari mulut ke mulut Penggunaan telepon selular 5. Sistem informasi Sulit mengakses informsi Lebih mudah mengakses informasi 6. Mata pencaharian Petani Tukang ojek, kuli bangunan, dll. 7. Upacara seren taun Bernilai upacara adat Bernilai upacara adat dan hiburan (dangdutan) 8. Migrasi penduduk Dilarang Diperbolehkan Aspek yang terkena dampak modernisasi di masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya adalah kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam. Aspek tersebut diantaranya adalah masyarakat mengganti penggunaan bambu menjadi selang atau pipa sebagai saluran air, hal ini disebabkan masyarakat merasa lebih praktis dan awet menggunakan selang atau pipa dibandingkan menggunakan bambu. Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya dahulu menggunakan pupuk kandang untuk menyuburkan lahan mereka namun kini masyarakat mengganti pupuk kandang menjadi pupuk kimia karena mereka menganggap pupuk kimia lebih praktis dan mudah dibandingkan pupuk kandang yang harus dibuat terlebih dahulu. Dalam
10 memasarkan hasil pertanian masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya sekarang mulai mengalami kemudahan dengan adanya modernisasi sistem transportasi serta modernisasi sistem komunikasi dan informasi. Pemasaran hasil pertanian masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya mulai mengalami kemudahan. Diantaranya adalah kemajuan teknologi dapat dilihat dari masuknya alat-alat transportasi modern seperti motor, mobil, truk dan sebagainya. Sebelumnya, masyarakat masih menggunakan alat transportasi tradisional seperti kuda sehingga waktu yang diperlukan untuk memasarkan hasil pertanian lebih singkat, lebih mudah membawanya dan lebih praktis. Selain itu, masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya dalam memasarkan hasil pertaniannya tidak lagi sekedar dari mulut ke mulut saja, akan tetapi sudah menggunakan telepon seluler. Telepon seluler sudah dapat digunakan di wilayah kasepuhan karena telah dibangun tower salah satu provider telepon seluler. Sehingga masyarakat lebih mudah berkomunikasi dengan pihak diluar kasepuhan dan mendapatkan informasi untuk memasarkan hasil pertanian mereka. Perubahan akses transportasi dan komunikasi masyarakat Kasepuhan Cipta Muyla turut berimbas pada perubahan mata pencaharian masyarakat. Pada awalnya seluruh masyarakat kasepuhan bermata pencaharian sebagai petani, namun sekarang telah banyak yang berubah mata pencahariannya, contohnya menjadi tukang ojek, kuli bangunan, dan sebagainya. Migrasi penduduk dan arus modernisasi yang terus masuk ke wilayah Kasepuhan Cipta Mulya selain mempengaruhi pengelolaan sumber daya alam dan mata pencaharian masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya juga turut mempengaruhi upacara adat yang ada, salah satu contohnya adalah adat seren taun. Seren taun awalnya merupakan upacara adat yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat karena hasil panen yang melimpah. Namun, saat ini acara seren taun tidak hanya semata menjalankan upacara adat saja akan tetapi telah ditambahkan dengan hiburan musik dangdut. Musik dangdut mulai diketahui oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya semenjak mereka berinteraksi dengan pihak luar desa dan mendapatkan informasi melalui media elektronik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa di Kasepuhan Cipta Mulya terjadi akulturasi antara budaya lama (budaya adat mereka) dengan budaya baru (budaya modern). VII. Kesimpulan Kearifan lokal adalah pengetahuan turun-temurun yang dimiliki oleh suatu masyarakat dalam mengelola lingkungan hidupnya. Manusia memiliki ikatan yang kuat dengan alam. Adanya ikatan tersebut memberikan pengalaman dan pengetahuan tentang bagaimana memperlakukan lingkungan. Sistem pengelolaan sumberdaya alam yang telah dikembangkan masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya merupakan suatu sistim pengelolaan sumberdaya alam yang berorientasi pada kepentingan masyarakat adat yang tinggal di dalam dan atau disekitarnya. Modernisasi merupakan proses transformasi dimana terjadi perubahan masyarakat dalam segala aspek. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi biasanya dibuktikan dengan adanya penggunaan pupuk kimia dalam bidang pertanian. Masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya telah menggunakan pupuk kimia (NPK). Selain itu, di Kasepuhan Cipta Mulya juga sudah menggunakan selang atau pipa yang dapat membantu masyarakat dalam sistem pengairan sawah dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Padahal sebelumnya, masyarakat mengambil air secara manual. Dalam bidang transportasi, terjadi perubahan
11 penggunaan transportasi. Saat ini, masyarakat Kasepuhan telah menggunakan kendaraan bermotor dalam mendistribusikan hasil pertanian. Kamudian di bidang komunikasi dan informasi adalah masuknya telepon selular sehingga memudahkan dalam pemasaran hasil pertanian hingga ke daerah lain. Kasepuhan Cipta Mulya kini telah terjadi akulturasi antara budaya lama (budaya adat mereka) dengan budaya baru (budaya modern) karena upacara seren taun kini juga diadakan acara dangdutan. Modernisasi yang terjadi pada masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya tidak selamanya berdampak negatif, dampak positif juga mereka rasakan. Dampak positif yang dirasakan diantanya adalah masyarakat merasa akses transportasi ke desa menjadi lebih mudah, lebih mudah mendistribusikan hasil pertanian serta lebih mudah mendapatkan informasi dan hiburan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat dilihat bahwa modernisasi dapat mempengaruhi kearifan lokal, khususnya dalam pengelolaan sumberdaya alam suatu masyarakat adat. Apabila dilihat dari dampak yang disebabkan oleh modernisasi tersebut saat ini maka di masa mendatang bukan tidak mungkin kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya akan semakin luntur atau bahkan berubah karena tuntutan zaman. Untuk menjaga kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya, khususnya dalam pengelolaan sumberdaya alam, seyogyanya dilakukan pengawasan dan pembinaan kepada masyarakat adat untuk menjaga kearifan lokal mereka. Pengawasan dan pembinaan ini dapat dilakukan oleh pemerintah daerah setempat dan juga oleh para tetua adat agar modernisasi yang terjadi dapat disaring dampak negatifnya dan diambil dampak positifnya guna menjaga kearifan lokal mereka yang selaras dengan alam serta dapat mensejahterakan masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya. VIII. Ucapan Terima Kasih Tim penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Abah Uum selaku pemimpin adat Kasepuhan Cipa Mulya yang telah menerima dan membimbing kami selama di Cipta Mulya. 2. Martua Sihaloho, SP, Msi selaku dosen pembimbing yang senantiasa meluangkan waktunya dan dengan penuh kesabaran memberikan bimbingan, kritik dan saran dalam penyempurnaan proposal penelitian ini. IX. Daftar Pustaka Hutomo, Prioyulianto dan Lamech. 1995. Keraifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Daerah Irian Jaya di Kabupaten Jayapura dan Biak Numfor dalam Pemeliharaan Lingkungan Hidup (Irian Jaya:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Susilo, Rachmad K. Dwi. 2008. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
12 X. Lampiran Gambar 1. Abah Uum (pemimpin adat Gambar 2. Abah Uum bersama Aa Kasepuhan Cipta Mulya) Asep (anaknya) Gambar 3. Leuit (lumbung padi) Gambar 4. Huma (Ladang kering) Gambar 5. Petani memanggul pupuk kimia Gambar 6. Menara telepon selular
JGG-Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol. 8 No. 2 Desember 2019 p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.082.02 80 PENGELOLAAN LAHAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DESA PENGLIPURAN Desta Ardiyanto1 , Nadiroh2 1Manajemen Lingkungan, Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Komplek Universitas Negeri Jakarta Gedung M. Hatta, Jl. Rawamangun Muka, Jakarta Timur, Indonesia 13220, email: [email protected] 2Dosen Manajemen Lingkungan, Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Komplek Universitas Negeri Jakarta Gedung M. Hatta, Jl. Rawamangun Muka, Jakarta Timur, Indonesia 13220 Abstrak Pemanfaatan atau penggunaan lahan yang sudah menjadi warisan leluhur masyarakat desa penglipuran benar-benar dijaga kelestarian dan kearifan lokalnya dengan baik, dengan dipertahankannya kearifan lokal tersebut membuat kelestarian wilayah desa penglipuran ini menjadi berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan lahan berbasis kearifan lokal di Desa pengelipuran. jenis penelitian yang digunakan adalah analisis deskripsi dengan menentukan modus, median dan mean serta standar deviasi dari setiap indikator. hasil penelitian ini mengatakan bahwa Bentuk dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan informasi merupakan cara masyarakat dalam mengelola lahan yang berbasis kearifan lokal, dukungan emosional (52,9%), penghargaan (76,1%), dan informasi (56,6%) lebih banyak laki-laki daripada perempuan sedangkan dukungan instrumental (59,1%) )lebih banyak perempuan daripada laki-laki.. Kata Kunci : pengelolaan lahan, kearifan lokal, penglipuran Abstract Utilization or use of land that has become the ancestral heritage of penglipuran villagers is well preserved and their local wisdom well, with the preservation of local wisdom makes the sustainment of this penglipuran village becomes sustainable. The purpose of this study is to know the local wisdom-based land management in Village pengelipuran. the type of research used is descriptive analysis by determining mode, median and mean and standard deviation of each indicator. The results of this study say that the form of emotional support, award support, instrumental support and information support is the way the community in managing land based on local wisdom, emotional support (52.9%), awards (76.1%), and information (56, 6%) more men than women while instrumental support (59.1%)) more women than men. Key Words : land management, local wisdom, penglipuran
JGG-Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol. 8 No. 2 Desember 2019 p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.082.02 81 PENDAHULUAN Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia, seperti untuk pertanian, daerah industri, daerah pemukiman, jalan untuk transportasi, daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk keberlanjutan. Sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan (FAO dalam Arsyad, 1989). Lahan dapat dipandang sebagai suatu sistem yang tersusun atas komponen struktural yang sering disebut karakteristik lahan, dan komponen fungsional yang sering disebut kualitas lahan. Kualitas lahan ini pada hakekatnya merupakan sekelompok unsur-unsur lahan (complex attributes) yang menentukan tingkat kemampuan dan kesesuaian lahan (FAO, 1976). Lahan sebagai suatu "sistem" mempunyai komponen- komponen yang terorganisir secara spesifik dan perilakunya menuju kepada sasaran-sasaran tertentu. Komponen-komponen lahan ini dapat dipandang sebagai sumberdaya dalam hubungannya dengan aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Sys (1985). (Maman Djumantri 2011) Salah satu kelebihan dari masyarakat lokal/tradisional/ adat yaitu mempunyai pengetahuan lokal atau indigenous (environmental) knowledge: suatu pengetahuan bagaimana melestarikan alam/lingkungan dan mengelola sumberdaya alam secara berkelanjutan berdasarkan: pengenalan, pemahaman, dan transfer pengetahuan ekologi setempat secara turun-temurun; kemampuan cosmological spiritual; kekuatan religious; kemampuan menginterpretasikan mitologi yang dipercayainya, kemampuan mengimplementasikan falsafah hidup; sensitifitas bahasa alam; penghargaan pada etika lingkungan; kepatuhan memegang hukum adat; integritas budaya tradisional setempat; dan faktor-faktor indigenous lainnya; yang proses internalisasinya berjalan sangat lama. Menurut Purwowidodo (1983) lahan mempunyai pengertian “Suatu lingkungan fisik yang mencakup iklim, relief tanah, hidrologi, dan tumbuhan yang sampai pada batas tertentu akan mempengaruhi kemampuan penggunaan lahan. dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi, pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang
JGG-Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol. 8 No. 2 Desember 2019 p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.082.02 82 bijaksana dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga kelestariannya semakin terancam akibatnya, sumberdaya lahan yang berkualitas tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada sumberdaya lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). Hal ini berimplikasi pada semakin berkurangnya ketahanan pangan, tingkat dan intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. Dengan demikian, secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun. Untuk itu perlu pengelolaan lahan yang efektif, efisien dan optimal sehingga kelestarian lahan juga dapat terjaga dan kebutuhan manusia akan lahan dapat tercukupi. Desa Penglipuran merupakan desa adat bali yang sangat kental dengan kearifan lokalnya. Untuk tetap menjaga kondisi lingkungan dan tata ruang, Masyarakat Adat Penglipuran melakukan pelestarian lewat, (1) pembuatan hukum adat, (2) meletakkan pengelolaan tata ruang pada lembaga adat, (3) memberikan tangungjawab kepada semua anggota masyarakat dalam melestarikan lingkungan, (4) menetapkan hutan lindung, (5) menetapkan wilayah pekarangan dan arsitektur bangunan yang menunjukkan nilai-nilai lokal, dan (6) menetapkan sanksi pada warga masyarakat yang melanggar ketentuan hukum ada yang berlaku (Atmaja, 2015) Desa pengelipuran memiliki luas keseluruhan sekitar 112 Hektar. Desa ini telah dianugrahi penghargaan kalpataru. Selain mendapatkan penghargaan kalpataru, desa penglipuran juga ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah kabupaten bangli pada tahun 1995, masyarakat desa ini menyebutnya dengan sebutan dewi penglipuran. Semenjak saat itu, desa ini semakin ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin mengetahui bagaimana kearifan yang terjadi di desa penglipuran ini. Desa atau perdesaan sering dikaitkan dengan pengertian rural dan village dengan memiliki ciri hubungan antara penduduk atau masyarakatnya akrab, sifatnya yang cenderung mengikuti tradisi ( Salmina W.G , 2015). Tradisi dan nilai budaya merupakan hal yang turun temurun dijaga dan dilestarikan oleh masyarakatnnya. (Siregar & Nadiroh, 2016) mengatakan untuk melestarikan nilai-nilai budaya suku sasak diperlukan peran keluarga, terutama orang tua untuk mewarisi kebiasaan dan perilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku di suku tersebut. Menurut masyarakat sekitar, kata penglipuran diambil dari kata Pengeling Pura yang memiliki makna tempat suci yang ditujukan untuk mengenang para leluhur.
JGG-Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol. 8 No. 2 Desember 2019 p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.082.02 83 Masyarakat yang tinggal di desa ini sangat menjun-jung tinggi amanat dari para leluhur mereka, itu terbukti dari terbentuknya desa penglipuran yang sangat mengutamakan kerukunan ini. Ciri khas yang sangat menonjol dari desa ini adalah arsitektur bangunan tradisional di desa ini rata-rata memiliki arsitektur yang sama persis dari ujung desa ke ujung lainnya. Keunikan ini membuat desa penglipuran sangat indah dengan kesimetrisan yang amat tertata rapi antara satu rumah dengan rumah lainnya. Pintu gerbang di setiap rumah saling berhadapan satu sama lain yang hanya di batasi oleh jalan utama kecil di tengahnya. Desa Penglipuran merupakan salah satu desa yang memiliki ciri khas tersendiri sebagai desa wisata di Bali. Keberadaan desa wisata ini didukung oleh beberapa keunikan yang tidak dimiliki oleh desa-desa lain pada umumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai keunikan ini mencakup sejarah desa, tata letak, sistem organisasi dan keunikan lainnya. Keunikan yang dimiliki Desa Penglipuran menjadikan daya dukung yang sangat baik dalam mengembangkan Desa Penglipuran sebagai desa wisata yang berbasis kerakyatan (Nurjaya, 2011). Desa penglupuran ini sejuk dikarenakan tidak ditemukannya polusi yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor di kawasan desa penglipuran, karena di desa ini tidak diizinkan kendaraan melintasi wilayah ini. Masyarakat didesa ini memegang teguh prinsip keep clean, clear and green. Dalam hal pengelolaan sampah didesa ini disetiap sudut desa ini akan ada banyak bak sampah yang disediakan untuk menampung sampah dan setiap sampah yang ada dikelola oleh bank sampah. Salah satu dari sekian banyak hal yang khas di desa penglipuran ini adalah masyarakat mengelola desa ini dengan kearifan lokal. Menggunakan setiap lahan yang ada dengan baik, benar dan maksimal. Di sebelah utara desa ini juga terdapat hutan bambu, dimana lahan hutan bambu itu dibuat untuk menyerap air agar tidak terjadinya banjir, selain itu daun bambu dimanfaatkan dan dikelola oleh masyarakat setempat sebagai pupuk atau kompos. Pupuk tersebut digunakan oleh masyarakat untuk pertanian dan perkebunan masyarakat itu sendiri, juga dijual ke luar desa penglipuran. Selain menghasilkan pupuk kompos masyarakat didesa penglipuran juga mayoritas mendapatkan penghasilan dari tiket masuk pengunjung wisata dan menjual souvenir. Model pengelolaan desa wisata ini diharapkan menjadi salah satu strategi pengentasan kemiskinan berbasis kearifan lokal. Upaya pengentasan kemiskinan sesuai dengan program dari Bank Dunia dilakukan melalui tiga strategi pengentasan kemiskinan Memperluas kesempatan