KATA PENGANTAR
Buku “ Profil Daerah Kota Semarang Tahun 2016 ” merupakan bagian
dari Sistem Informasi Pembangunan Daerah merupakan sarana untuk membangun
data base profil daerah Kota Semarang yang dapat menggambarkan seluruh
potensi dan sumber daya yang dimiliki Kota Semarang.
Penghargaan dan ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak
yang telah membantu hingga terwujudnya publikasi ini, kami ucapkan terima
kasih. Diharapkan dukungan ini akan terus berlanjut sehungga kualitas dan
kuantitas data dan informasi yang tersaji dalam publikasi ini akan semakin baik.
Tanggapan dan saran dari pengguna data sangat kami harapkan demi
kesempurnaan publikasi di masa yang akan datang.
Semoga buku ini dapat bermanfaat dalam memberikan dukungan data dan
informasi bagi pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan serta
menciptakan efektivitas sistem perencanaan pembangunan di Kota Semarang.
Semarang, 2016
KEPALA BAPPEDA
KOTA SEMARANG
TTD
BAMBANG HARYONO
Pembina Utama Muda
NIP. 19580410 198603 1 010
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
A. Sejarah Kota Semarang .................................................................... 1
B. Lambang Daerah dan Slogan Kota Semarang ................................. 7
1. Lambang Daerah Kota Semarang ............................................. 7
2. Slogan Kota Semarang .............................................................. 8
C. Kondisi Geografis ............................................................................ 9
1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi ...................................... 9
2. Letak .......................................................................................... 10
3. Topografi ................................................................................... 10
4. Geologi ...................................................................................... 12
5. Hidrologi .................................................................................... 13
6. Klimatologi ................................................................................ 14
7. Penggunaan Lahan ..................................................................... 15
D. Kondisi Demografis ......................................................................... 16
1. Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk ...................... 16
2. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin ......... 22
3. Komposisi Penduduk Menurut Status Perkawinan ................... 25
E. Kondisi Ekonomi ............................................................................. 28
1. Pertumbuhan Ekonomi / PDRB ................................................ 28
F. Kondisi Pemerintahan ...................................................................... 36
1. Legislatif .................................................................................... 36
2. Eksekutif .................................................................................... 36
G. Potensi Daerah ................................................................................. 44
1. Infrastruktur ............................................................................... 44
2. Potensi Wisata ........................................................................... 52
ii
PROFIL DAERAH
KOTA SEMARANG
BAPPEDA KOTA SEMARANG
TAHUN 2016
PROFIL DAERAH
KOTA SEMARANG
A. SEJARAH KOTA SEMARANG
Sebagai salah satu kota besar di Indonesia dan lbu kota Jawa Tengah,
Semarang memiliki sejarah yang panjang. Mulanya dari dataran lumpur,yang
kemudian hari berkembang pesat menjadi lingkungan maju dan
menampakkan diri sebagai kota yang penting. Dalam perjalanan sejarah,
terbentuknya Kota Semarang dimulai sejak kedatangan seseorang yang
berasal dari Kesultanan Demak bernama Pangeran Made Pandan bersama
putranya Raden Pandan Arang, yang meninggalkan Demak menuju ke daerah
Barat (daerah tersebut yang kemudian bernama Pulau Tirang). Di daerah itu
Pangeran dan putranya membuka hutan dan kemudian mendirikan pesantren
untuk menyiarkan agama Islam. Dari waktu ke waktu daerah itu menjadi
semakin subur. Dari sela-sela kesuburan muncullah pohon – pohon asam
yang jarang (bahasa Jawa : Asem Arang), sehingga mereka memberikan
nama daerah itu menjadi Semarang.
Sebagai pendiri daerah, kemudian beliau menjadi kepala daerah
setempat dengan gelar Kyai Pandan Arang I. Sepeninggal beliau, pimpinan
daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II, daerah
Semarang makin menunjukkan pertumbuhan yang meningkat, sehingga
menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan
peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan
Semarang setingkat dengan Kabupaten. Akhirnya, setelah Sultan Pajang
melakukan konsultasi dengan Sunan Kalijaga, Pandan Arang II dinobatkan
menjadi Bupati Semarang yang pertama. Penobatan tersebut bertepatan
dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awal
954 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1547 M. Pada tanggal tersebut
”secara adat dan politis berdirilah Kabupaten Semarang”. Berdasarkan
momentum itulah, Pemerintah Kota Semarang dengan persetujuan DPRD
1
dalam sidangnya pada tanggal 29 April 1978 menetapkan bahwa setiap
tanggal 2 Mei diperingati sebagai ”Hari Jadi Kota Semarang”.
Masa pemerintahan Raden Pandan Arang II menunjukkan kemakmuran
dan kesejahteraan yang dapat dinikmati penduduknya. Kawasan Semarang
pada waktu itu meliputi: Inderono (Gisik Drono), Tirang Amper, Jurang
Suru, Tinjomoyo, Wotgalih, Gajah Mungkur, Sejonilo dan Gedung Batu.
Namun masa itu tidak dapat berlangsung lama karena sesuai dengan nasihat
Sunan Kalijaga, Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri dari kehidupan
duniawi yang melimpah-ruah. Ia meninggalkan jabatannya, meninggalkan
Kabupaten Semarang bersama keluarga menuju arah Selatan melewati
Salatiga dan Boyolali, akhirnya sampai kebukit yang bernama Jabalkat di
daerah Klaten. Di daerah ini, beliau menjadi seorang penyiar agama Islam
dan menyatukan daerah Jawa Tengah bagian Selatan dan bergelar Sunan
Tembayat. Beliau wafat pada tahun 1553 dan dimakamkan di puncak
Gunung Jabalkat.
Sesudah Bupati Pandan Arang II mengundurkan diri lalu diganti oleh
Raden Ketib, Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586),
kemudian disusul pengganti berikutnya yaitu Mas R. Temanggung Tambi
(1657-1659), Mas Tumenggung Wongsorejo (1659-1666), Mas Tumenggung
Prawiprojo (1666-1670), Mas Tumenggung Alap-Alap (1670-1674), Kyai
Mertonoyo, Kyai Tumenggung Yudonegoro atau Kyai Adipati
Suromenggolo (1674-1701), Raden Martoyudo (1743-1751), Marmowijoyo
atau Sumowijoyo atau Raden Martoyudo (1743-1751), Marmowijoyo atau
Sumowijoyo atau Sumonegoro atau Surohadimenggolo (1751-1773),
Surohadimenggolo IV (1773-?), Adipati Surohadimenggolo V atau Kanjeng
Terboyo (?), Raden Tumenggung Surohadiningrat (1841), Putro
Surohadimenggolo (1841-1855), Mas Ngabehi Reksonegoro (1855-1860),
RTP Suryokusumo (1860-1887), RTP Reksodirjo (1887-1891), RMTA
Purbaningrat (1891-?), Raden Cokrodipuro (?-1927), RM Soebiyono (1897-
1927), RM Amin Suyitno (1927-1942).
Pada periode 1500-1700 Masehi, Kota Semarang mulai dikenal,
terutama oleh orang-orang asing yang singgah dan berdagang di pelabuhan
Semarang. Status kawasan yang semula berada dibawah kekuasaan
2
Susuhunan Surakarta akhirnya berubah mejadi daerah kekuasaan Belanda.
Karena letaknya yang strategis, maka pada tahun 1678 Kota Semarang
dijadikan tempat pertahanan militer dan daerah perniagaan. Kemudian untuk
kepentingan politik kolonial Belanda, Kota Semarang dijadikan kota kedua
setelah Batavia.
Pada periode 1700-1906, Kota Semarang mulai menampakkan dirinya
sebagai bentuk fisik sebuah kota. Wilayah pemukimannya semakin diperluas
dengan adanya Kampung Jawa di Kaligawe, Pengapon, dan Poncol,
Kampung Pecinan di sekitar Bubakan, Kampung Melayu di Melayu Darat.
Kehidupan sosial masyarakat Semarang pada waktu itu didominasi oleh
kegiatan perniagaan dan pertahanan militer Belanda (VOC). Fasilitas sosial
yang ada pada waktu itu : Mesjid, Gereja, Klenteng, Pasar-pasar, dan Jalan-
jalan lingkungan. Sedangkan Jalur transportasi masih menggunakan jalur kali
Semarang dan cabang-cabangnya. Peristiwa penting yang terjadi pada masa
itu adalah pelantikan Bupati Semarang oleh pihak Belanda pada tanggal 6
Juli 1704. Bupati tersebut adalah Kyai Adipati Surahadimenggolo ke IV
menjadi Bupati Semarang ke 21.
Pada pertengahan abad ke 18, perkembangan Kota Semarang semakin
pesat yaitu dengan tumbuhnya perkantoran-perkantoran Pemerintahan
Belanda. Kantor-kantor dagang, fasilitas-fasilitas sosial dan lain-lain. Dengan
demikian pemerintahan pada masa itu terdiri dari pemerintahan pribumi dan
pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda di dalam benteng kota yang
bernama Gubernur Jenderal Jawa Utara.
Lebih dari 2 (dua) abad Kota Semarang dapat bertahan sebagai pusat
pemerintah Belanda di Jawa Tengah, yaitu sejak Gubernur Pantai Utara
menjadikan Semarang sebagai daerah pemerintahan dan sekaligus sebagai
daerah kemiliteran serta berperan dalam perdagangan dunia. Pelabuhan
Semarang pada saat itu juga mampu mengambil alih peranan pelabuhan lain
disekitarnya termasuk pelabuhan Jepara yang merupakan pelabuhan utama
pada waktu itu di Jawa Tengah. Posisi komersial Semarang yang menonjol
disebabkan fungsinya sebagai pelabuhan ekspor hasil bumi dan impor
barang-barang dari luar yang semakin mantap.
3
Pada tahun 1864 Nederlandsch Indisch Spoorrwagen (NIS),
membangun jalan kereta api yang pertama kali di indonesia, yaitu rute
Semarang-Yogyakarta, dengan stasiunnya di Tambak Sari. Kemudian pada
tahun 1872 telah dibangun jalan kereta api jurusan Semarang – Kedung Jati
dan Solo dengan mempertimbangkan transportasi tradisional yang semakin
pesat. Pada tahun 1900, jumlah ekspor meningkat, sehingga membuat kota
perdagangan Semarang menjadi semakin makmur. Jaringan kereta api
ditambah yaitu jurusan Semarang - Juwana dan Semarang - Cirebon. Dengan
adanya peninggalan bangunan-bangunan kuno dan tempat-tempat bersejarah
seperti Gedung Lawang Sewu, Kantor Pos, Gereja Blenduk, Klenteng Gang
Lombok, Gedung Batu, Stasiun Tawang, dan lain-lain, menunjukkan bahwa
Kota Semarang telah ada sejak beberapa abad yang lalu.
Pada tanggal 1 April 1906 dengan Statblat Nomor 120 tahun 1906
dibentuk dan diresmikanlah Pemerintah Gemeente, yang berarti Semarang
menjadi Kotapraja (Stads Gemeente Van Semarang). Sehingga sejak saat itu
kota Semarang terlepas dari Kabupaten dan memiliki batas kekuasaan
Pemerintah Kotapraja. Terdapat keterangan bahwa adanya Gemeente itu
maka sejak tahun 1906 Semarang dipimpin oleh dua macam Pemerintahan.
Yang menyangkut Pemerintahan Bumiputra dipimpin oleh Bupati, sedang
yang menyangkut pemerintah Kota Semarang dipimpin oleh Burgermeester
(Walikota). Pemerintah Kota Besar Semarang buatan Belanda ini berakhir
ketika tentara Jepang menduduki Indonesia tahun 1942. Tentara Jepang
membentuk Pemerintahan Daerah Semarang yang dipimpin seorang militer
(Shitjo). Didampingi dua orang wakil, seorang Jepang dan seorang bangsa
Indonesia. Pemerintahan dijalankan secara sentral dibawah pimpinan Kepala
Daerah Karesidenan, sehingga Bupati Semarang saat itu RMAA Sukarman
Mertohadinegoro (1942-1945) tidak mempunyai kedudukan atau tugas sama
sekali.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada
tanggal 17 Agustus 1945, tidak lama kemudian yaitu tanggal 14 sampai 20
Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan pemuda-pemuda Semarang
yang bertempur melawan bala tentara Jepang yang bersikeras tidak bersedia
menyerahkan diri kepada pasukan Republik. Perjuangan ini dikenal dengan
4
nama Pertempuran Lima Hari. Sampai beberapa saat lamanya, Pemerintah
Daerah Kota Semarang belum dapat menjalankan tugasnya karena kota
Semarang masih diduduki Belanda. Pada tanggal 16 Mei 1946, Inggris atas
nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda. Pada
tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menangkap Mr.
Imam Sudjahri, Walikota Semarang sebelum Proklamasi Kemerdekaan.
Selama masa pendudukan Belanda hingga pemulihan kedaulatan yaitu
tanggal 27 Desember 1949 tidak ada Pemerintahan Daerah di Kota
Semarang. Namun para pejuang di bidang pemerintah tetap menjalankan
pemerintahan di daerah pedalaman atau pengungsian di luar kota sejak tahun
1946 sampai dengan bulan Desember 1948 dengan tugas utama mengurus
soal gaji dan kedudukan para pegawai yang diperintahkan meninggalkan
daerah pendudukan Belanda. Pemerintah Daerah Kota Semarang dalam
pengungsian tersebut dapat berjalan hingga bulan Desember 1948,
berpindah-pindah mulai dari daerah Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga,
dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang
oleh R. Patah, R. Prawoto Soedibyo dan Mr. Ichsan.
Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba
berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti dimasa
kolonial dahulu di bawah pimpinan R. Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak
berhasil, karena pada masa pemulihan kedaulatan harus menyerahkan kepada
komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950 Mayor Suhardi,
Komandan KMKB menyerahkan kepemimpinan Pemerintah Daerah
Semarang kepada Mr. Koesoebijono, seorang pegawai tinggi Kementrian
Dalam Negeri di Yogyakarta. Beliau menyusun kembali Pemerintahan
Daerah Kota Besar Semarang sampai terbentuknya Undang-undang Nomor
16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kota Besar dalam
Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Daerah
Istimewa Yogyakarta.
Pesatnya pertumbuhan dan perkembangan Kota Semarang, maka saat
kepemimpinan Walikotamadya Kol. Hadijanto Kotamadya Semarang
dimekarkan dari 5 Kecamatan menjadi 9 Kecamatan yaitu pada tanggal 19
Juni 1976 dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1976 tentang
5
Perluasan Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dimana pemekaran
tersebut sampai ke wilayah Tugu, Gunung Pati, Mijen, dan Genuk. Kemudian
berlanjut dengan terbitnya Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 1992
tentang Pembentukan Kecamatan di Wilayah Kabupaten-Kabupaten Daerah
Tingkat II Purbalingga, Cilacap, Wonogiri, Jepara dan Kendal serta Penataan
Kecamatan di Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dalam
Wilayah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah, dimana secara administratif
dari 9 Kecamatan yang ada di Kota Semarang diadakan penataan menjadi 16
Kecamatan.
6
B. LAMBANG DAERAH DAN SLOGAN KOTA SEMARANG
1). Lambang Daerah Kota Semarang
Lambang Daerah Kota Semarang ditetapkan dengan Peraturan Daerah
oleh DPRDGR (sekarang DPRD) pada tanggal 9 Maret 1965. Lambang
Daerah Kota Semarang berbentuk perisai terbagi 2 (dua) dengan bagian
warna dasar yaitu :
Bagian tengah perisai berwarna dasar merah berisi Tugu, Bintang
bersudut lima, dan Bambu Runcing.
Bagian pinggir perisai berwarna dasar hitam berisi Bukit atau
Candi, Air, dan Dinding Benteng, Padi, Kapas, serta Ikan.
Diantara kedua bagian warna dasar dan pada pinggir keliling perisai
terdapat garis tebal warna kuning sebagai pembatas. Isi dari lambang Daerah
Kota Semarang berjiwakan 3 (tiga) prinsip, yaitu :
1. Kekhususan / ke- Semarangan.
2. Tradisi revolusioner Kota Semarang.
3. Kepribadian Nasional.
Lambang Daerah Kota Semarang tersebut memiliki beberapa makna,
yaitu :
1. Bentuk Perisai melambangkan pertahanan dan kekuatan
kepribadian rakyat Semarang dalam segala bidang.
7
2. Kota Semarang dilambangkan dengan keberadaan Tugu yang
dikenal dengan nama Tugu Muda. Lambang Tugu Muda
mencerminkan sikap patriotisme warga Kota Semarang saat
bertempur melawan bala tentara Jepang, yang kemudian dikenal
dengan “Pertempuran Lima Hari di Semarang”.
3. Bukit atau Candi melambangkan bahwa Kota Semarang selain
dataran rendah juga memiliki perbukitan (Kota Atas)
4. Air dan Dinding Benteng melambangkan bahwa Kota Semarang
merupakan Kota Pelabuhan (Kota Pantai).
5. Padi dan Kapas melambangkan bahwa Semarang murah sandang
dan pangan.
6. Ikan melambangkan bahwa Kota Semarang sejak dahulu terkenal
dengan ikan lautnya.
2). Slogan Kota Semarang
Seperti halnya dengan daerah-daerah lain, Kota Semarang juga
memiliki slogan kota yaitu “ Semarang Kota ATLAS ”, artinya Pemerintah
Kota bersama Warga Kota Semarang berupaya untuk mewujudkan Kota
Semarang menjadi Kota yang :
Aman : Bebas dari tekanan dan gangguan keamanan,
ketertiban, dan ketentraman.
Tertib : Kehidupan yang tertib di segala bidang termasuk
tertib berlalu lintas.
Lancar : Dalam hal pelayanan yang mudah termasuk
Asri kelancaran lalu lintas.
Sehat : Lingkungan yang bersih, indah dan nyaman.
: Tercapainya kehidupan masyarakat sehat jasmani dan
rohani.
8
C. KONDISI GEOGRAFIS
1). Luas dan Batas Wilayah Administrasi
Luas wilayah Kota Semarang seluas 373,70 km2 dan merupakan 1,15%
dari total luas daratan Provinsi Jawa Tengah dengan batas wilayah sebelah
barat adalah Kabupaten Kendal, sebelah timur dengan Kabupaten Demak,
sebelah selatan dengan Kabupaten Semarang dan sebelah utara dibatasi oleh
Laut Jawa dengan panjang garis pantai mencapai 13,6 kilometer. Secara
administrasi Kota Semarang terbagi atas 16 Kecamatan, secara rinci luas
masing-masing kecamatan adalah Kecamatan Semarang Tengah seluas 6,14
km2, Semarang Utara seluas 10,97 km2, Semarang Timur seluas 7,70 km2,
Semarang Selatan seluas 5,93 km2, Semarang Barat seluas 21,74 km2,
Gayamsari seluas 6,18 km2, Pedurungan seluas 20,72 km2, Genuk seluas
27,39 km2, Gajahmungkur seluas 9,07 km2, Candisari seluas 6,54 km2,
Banyumanik seluas 25,69 km2, Tembalang seluas 44,20 km2, Gunungpati
seluas 54,11 km2, Ngaliyan seluas 37,99 km2, Mijen seluas 57,55 km2, dan
Tugu seluas 31,78 km2.
Wilayah Administrasi Kota Semarang (km2)
Tugu, Ngaliyan, Mijen,
31,78 37,99 57,55
Smg. Barat, Tembalang, Gunungpati,
21,74 44,20 54,11
Smg. Tengah, Banyumanik,
6,14
25,69
Smg. Utara,
10,97 Gajah Mungkur,
Smg. Timur, Candisari, 9,07
7,70 Smg. Selatan,
6,54 5,93
Gayamsari,
6,18 Genuk,
27,39
Pedurungan,
20,72
Sumber: Kota Semarang dalam Angka 2014, BPS Kota Semarang
9
2). Letak
Kota Semarang merupakan kota strategis yang berada di tengah-tengah
Pulau Jawa yang terletak antara garis 60 50’ – 70 10’ Lintang Selatan dan
garis 1090 35’ – 1100 50’ Bujur Timur. Kota Semarang memiliki posisi
geostrategis karena berada pada jalur lalu lintas ekonomi pulau Jawa, dan
merupakan koridor pembangunan Jawa Tengah yang terdiri dari empat
simpul pintu gerbang yakni koridor pantai Utara; koridor Selatan ke arah
kota-kota dinamis seperti Kabupaten Magelang, Surakarta yang dikenal
dengan koridor Merapi-Merbabu, koridor Timur ke arah Kabupaten
Demak/Grobogan; dan Barat menuju Kabupaten Kendal.
Lokasi Kota Semarang
3). Topografi
Secara topografis Kota Semarang terdiri dari daerah perbukitan, dataran
rendah dan daerah pantai, dengan demikian topografi Kota Semarang
menunjukkan adanya berbagai kemiringan dan tonjolan. Daerah pantai
65,22% wilayahnya adalah dataran dengan kemiringan 25% dan 37,78 %
merupakan daerah perbukitan dengan kemiringan 15-40%. Kondisi lereng
10
tanah Kota Semarang dibagi menjadi 4 jenis kelerengan yaitu Lereng I (0-
2%) meliputi Kecamatan Genuk, Pedurungan, Gayamsari, Semarang Timur,
Semarang Utara dan Tugu, serta sebagian wilayah Kecamatan Tembalang,
Banyumanik dan Mijen. Lereng II (2-5%) meliputi Kecamatan Semarang
Barat, Semarang Selatan, Candisari, Gajahmungkur, Gunungpati dan
Ngaliyan. Lereng III (15-40%) meliputi wilayah di sekitar Kaligarang dan
Kali Kreo (Kecamatan Gunungpati), sebagian wilayah kecamatan Mijen
(daerah Wonoplumbon) dan sebagian wilayah Kecamatan Banyumanik, serta
Kecamatan Candisari. Sedangkan lereng IV (> 50%) meliputi sebagian
wilayah Kecamatan Banyumanik (sebelah tenggara), dan sebagian wilayah
Kecamatan Gunungpati, terutama disekitar Kali Garang dan Kali Kripik.
Kota Bawah yang sebagian besar tanahnya terdiri dari pasir dan lempung.
Pemanfaatan lahan lebih banyak digunakan untuk jalan, permukiman
atau perumahan, bangunan, halaman, kawasan industri, tambak, empang dan
persawahan. Kota Bawah sebagai pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan,
perindustrian, pendidikan dan kebudayaan, angkutan atau transportasi dan
perikanan. Berbeda dengan daerah perbukitan atau Kota Atas yang struktur
geologinya sebagian besar terdiri dari batuan beku. Wilayah Kota Semarang
berada pada ketinggian antara 0 sampai dengan 348,00 meter dpl (di atas
permukaan air laut). Secara topografi terdiri atas daerah pantai, dataran
rendah dan perbukitan, sehingga memiliki wilayah yang disebut sebagai kota
bawah dan kota atas. Pada daerah perbukitan mempunyai ketinggian 90,56 -
348 mdpl yang diwakili oleh titik tinggi yang berlokasi di Jatingaleh dan
Gombel, Semarang Selatan, Tugu, Mijen, dan Gunungpati, dan di dataran
rendah mempunyai ketinggian 0,75 mdpl. Kota bawah merupakan pantai dan
dataran rendah yang memiliki kemiringan antara 0% sampai 5%, sedangkan
dibagian Selatan merupakan daerah dataran tinggi dengan kemiringan
bervariasi antara 5%-40%.
Kota Semarang sangat dipengaruhi oleh keadaan alamnya yang
membentuk suatu kota yang mempunyai ciri khas yaitu terdiri dari daerah
perbukitan, dataran rendah dan daerah pantai. Dengan demikian topografi
Kota Semarang menunjukkan adanya berbagai kemiringan tanah berkisar
antara 0% - 40% (curam) dan ketinggian antara 0,75 – 348,00 mdpl.
11
4). Geologi
Kondisi Geologi Kota Semarang berdasarkan susunan stratigrafinya
adalah terdiri dari Aluvium (Qa), Batuan Gunungapi Gajahmungkur (Qhg),
Batuan Gunungapi Kaligesik (Qpk), Formasi Jongkong (Qpj), Formasi
Damar (QTd), Formasi Kaligetas (Qpkg), Formasi Kalibeng (Tmkl), Formasi
Kerek (Tmk). Pada dataran rendah berupa endapan aluvial sungai, endapan
fasies dataran delta dan endapan fasies pasang – surut. Endapan tersebut
terdiri dari lapisan pasir, pasir lanauan dan lempung lunak, dengan sisipan
lensa-lensa kerikil dan pasir vulkanik. Sedangkan daerah perbukitan sebagian
besar memiliki struktur geologi berupa batuan beku.
Berdasarkan struktur geologi yang ada di Kota Semarang terdiri atas
tiga bagian yaitu struktur joint (kekar), patahan (fault), dan lipatan. Daerah
patahan tanah bersifat erosif dan mempunyai porositas tinggi, struktur lapisan
batuan yang diskontinyu (tak teratur), heterogen, sehingga mudah bergerak
atau longsor. Pada daerah sekitar aliran Kali Garang merupakan patahan Kali
Garang, yang membujur arah utara sampai selatan, di sepanjang Kaligarang
yang berbatasan dengan Bukit Gombel. Patahan ini bermula dari Ondorante,
ke arah utara hingga Bendan Duwur. Patahan ini merupakan patahan geser,
yang memotong formasi Notopuro, ditandai adanya zona sesar, tebing terjal
di Ondorante, dan pelurusan Kali Garang serta beberapa mata air di Bendan
Duwur. Daerah patahan lainnya adalah Meteseh, Perumahan Bukit Kencana
Jaya, dengan arah patahan melintas dari utara ke selatan.
Sedangkan wilayah Kota Semarang yang berupa dataran rendah
memiliki jenis tanah berupa struktur pelapukan, endapan, dan lanau yang
dalam. Jenis Tanah di Kota Semarang meliputi kelompok mediteran coklat
tua, latosol coklat tua kemerahan, asosiasi alluvial kelabu, Alluvial
Hidromorf, Grumosol Kelabu Tua, Latosol Coklat dan Komplek Regosol
Kelabu Tua. Kurang lebih sebesar 25% wilayah Kota Semarang memiliki
jenis tanah mediteranian coklat tua. Sedangkan kurang lebih 30% lainnya
memiliki jenis tanah latosol coklat tua. Jenis tanah lain yang ada di wilayah
Kota Semarang memiliki geologi jenis tanah asosiasi kelabu dan alluvial
coklat kelabu dengan luas keseluruhan kurang lebih 22% dari seluruh luas
12
Kota Semarang. Sisanya merupakan jenis tanah alluvial hidromorf dan
grumosol kelabu tua.
5). Hidrologi
Kondisi Hidrologi potensi air di Kota Semarang bersumber pada sungai
– sungai yang mengalir di Kota Semarang antara lain Kali Garang, Kali
Pengkol, Kali Kreo, Kali Banjirkanal Timur, Kali Babon, Kali Sringin, Kali
Kripik, Kali Dungadem dan lain sebagainya. Kali Garang yang bermata air di
gunung Ungaran, alur sungainya memanjang ke arah Utara hingga mencapai
Pegandan tepatnya di Tugu Soeharto, bertemu dengan aliran Kali Kreo dan
Kali Kripik. Kali Garang sebagai sungai utama pembentuk kota bawah yang
mengalir membelah lembah-lembah Gunung Ungaran mengikuti alur yang
berbelok – belok dengan aliran yang cukup deras. Setelah diadakan
pengukuran, debit Kali Garang mempunyai debit 53,0 % dari debit total dan
kali Kreo 34,7 % selanjutnya Kali Kripik 12,3 %. Oleh karena Kali Garang
memberikan airnya yang cukup dominan bagi Kota Semarang, maka langkah
– langkah untuk menjaga kelestariannya juga terus dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan air minum warga Kota Semarang.
Air Tanah Bebas ini merupakan air tanah yang terdapat pada lapisan
pembawa air (aquifer) dan tidak tertutup oleh lapisan kedap air. Permukaan
air tanah bebas ini sangat dipengaruhi oleh musim dan keadaan lingkungan
sekitarnya. Penduduk Kota Semarang yang berada di dataran rendah, banyak
memanfaatkan air tanah ini dengan membuat sumur-sumur gali (dangkal)
dengan kedalaman rata-rata 3 - 18 m. Sedangkan untuk peduduk di dataran
tinggi hanya dapat memanfaatkan sumur gali pada musim penghujan dengan
kedalaman berkisar antara 20 - 40 m.
Air Tanah Tertekan adalah air yang terkandung di dalam suatu lapisan
pembawa air yang berada diantara 2 lapisan batuan kedap air sehingga
hampir tetap debitnya disamping kualitasnya juga memenuhi syarat sebagai
air bersih. Debit air ini sedikit sekali dipengaruhi oleh musim dan keadaan di
sekelilingnya. Untuk daerah Semarang bawah lapisan aquifer di dapat dari
endapan alluvial dan delta sungai Garang. Kedalaman lapisan aquifer ini
13
berkisar antara 50 - 90 meter, terletak di ujung Timur laut Kota dan pada
mulut sungai Garang lama yang terletak di pertemuan antara lembah sungai
Garang dengan dataran pantai. Kelompok aquifer delta Garang ini disebut
pula kelompok aquifer utama karena merupakan sumber air tanah yang
potensial dan bersifat tawar. Untuk daerah Semarang yang berbatasan dengan
kaki perbukitan air tanah artois ini terletak pada endapan pasir dan
konglomerat formasi damar yang mulai diketemukan pada kedalaman antara
50 - 90 m. Pada daerah perbukitan kondisi artosis masih mungkin ditemukan,
karena adanya formasi damar yang permeable dan sering mengandung
sisipan-sisipan batuan lanau atau batu lempung.
6). Klimatologi
Secara Klimatologi, Kota Semarang seperti kondisi umum di Indonesia,
mempunyai iklim tropik basah yang dipengaruhi oleh angin monsun barat
dan muson timur. Dari bulan November hingga Mei, angin bertiup dari arah
Utara Barat Laut (NW) menciptakan musim hujan dengan membawa banyak
uap air dan hujan. Sifat periode ini adalah curah hujan sering dan berat,
kelembaban relatif tinggi dan mendung. Lebih dari 80% dari curah hujan
tahunan turun di periode ini. Dari Juni hingga Oktober angin bertiup dari
Selatan Tenggara (SE) menciptakan musim kemarau, karena membawa
sedikit uap air. Sifat periode ini adalah sedikit jumlah curah hujan,
kelembaban lebih rendah, dan jarang mendung.
Curah hujan di Kota Semarang mempunyai sebaran yang tidak merata
sepanjang tahun, dengan total curah hujan rata-rata 9.891 mm per tahun. Ini
menunjukkan curah hujan khas pola di Indonesia, khususnya di Jawa, yang
mengikuti pola angin muson SENW yang umum. Suhu minimum rata-rata
yang diukur di Stasiun Klimatologi Semarang berubah-ubah dari 21,1 °C
pada September ke 24,6 °C pada bulan Mei, dan suhu maksimum rata-rata
berubah-ubah dari 29,9 °C ke 32,9 °C. Kelembaban relatif bulanan rata-rata
berubah-ubah dari minimum 61% pada bulan September ke maksimum 83%
pada bulan Januari. Kecepatan angin bulanan rata-rata di Stasiun Klimatologi
Semarang berubah-ubah dari 215 km/hari pada bulan Agustus sampai 286
km/hari pada bulan Januari. Lamanya sinar matahari, yang menunjukkan
14
rasio sebenarnya sampai lamanya sinar matahari maksimum hari, bervariasi
dari 46% pada bulan Desember sampai 98% pada bulan Agustus.
7). Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kota Semarang meliputi penggunaan lahan sawah,
lahan non sawah dan lahan kering. Penggunaan lahan sawah terdiri dari
irigasi teknis (198 Km2), setengah teknis (530 Km2), irigasi sederhana/irigasi
desa/non PU (45 Km2), tadah hujan (2,031 Km2), dan yang tidak diusahakan
(267 Km2). Penggunaan lahan sawah dan lahan non sawah meliputi lahan
pekarangan (38%), ladang (21%), tegalan (14%), lainnya (11%), perkebunan
(5%), tambak dan kayu-kayuan (4%), padang rumput (2%), tidak diusahakan
(1%). Sedangkan lahan kering meliputi pekarangan dan bangunan (42%),
padang gembala (5%), tambak/rawa, tegalan dan kebun (27%),
tambak/kolam, lainnya/tanah kering (26%).
Penggunaan lahan, sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Daerah
Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah, rencana pola pemanfaatan ruang meliputi: Kawasan lindung yakni
kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian
lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan;
dan Kawasan Budidaya yakni kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
15
D. KONDISI DEMOGRAFIS
1). Jumlah, Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk
Jumlah penduduk Kota Semarang pada tahun 2014 tercatat sebesar
1.584.906 jiwa. Dengan jumlah sebesar itu Kota Semarang termasuk dalam 5
(lima) besar Kabupaten/Kota yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak
di Provinsi Jawa Tengah, sedangkan 4 (empat) wilayah lainnya adalah
Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, dan
Kabupaten Tegal.
Perkembangan jumlah penduduk dalam kurun waktu 5 tahun (2010 –
2014) terus mengalami peningkatan, dengan laju pertumbuhan cenderung
berfluktuasi. Pertumbuhan penduduk secara bertahap terus menurun dari
Tahun 2010 – 2014. Walaupun dikatakan laju pertumbuhan penduduk
mengalami penurunan dari Tahun 2010 – 2014, tetap saja terjadi kenaikan
jumlah penduduk ditunjukkan dengan tingkat atau laju pertumbuhan
penduduk yang bernilai positif. Pertumbuhan penduduk yang terus menurun
dalam empat tahun terakhir, dimungkinkan memiliki korelasi, baik dengan
tingkat kelahiran kasar dan tingkat migrasi masuk yang juga menurun,
maupun dengan tingkat migrasi keluar yang nilainya meningkat.
Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Kota Semarang
Tahun Jumlah Penduduk Pertumbuhan
(%)
(1) (2)
(3)
2011 1.544.358
1,11
2012 1.559.198 0,96
2013 1.572.105 0,83
2014 1.584.906 0,81
2015 1.595.267 0,65
Sumber : BPS Kota Semarang
16
Pertumbuhan penduduk dibedakan atas tingkat pertumbuhan alamiah
dan tingkat pertumbuhan karena migrasi atau perpindahan. Tingkat
pertumbuhan alamiah secara sederhana dihitung dengan membandingkan
jumlah penduduk yang lahir dan mati. Pada periode waktu tertentu
digambarkan dengan Angka Kelahiran Kasar atau Crude Birth Rate (CBR)
dan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) yang merupakan
perbandingan antara jumlah kelahiran dan kematian dengan jumlah
penduduknya selama periode satu tahun.
Geospasial Jumlah Penduduk Kota Semarang
17
Jumlah Kelahiran dan Kematian Penduduk Kota Semarang
Tahun Kelahiran Kematian CBR CDR
(1) (2) (3) (4) (5)
2011 24.910 10.454 16,09 6,76
10.012 15,23 6,45
2012 23.634 10.249 15,18 6,55
10.860 15,63 6,80
2013 23.765 10.803 14,01 6,69
2014 24.979
2015 22.624
Sumber : BPS Kota Semarang
Selama periode lima tahun terakhir ( tahun 2011 – 2015 )
perkembangan kelahiran menunjukkan tren yang fluktuatif, tahun 2012 dan
2015 mengalami penurunan sedangkan untuk tahun 2011, 2013 dan 2014
mengalami kenaikan. Sedangkan kematian penduduk selama kurun waktu
lima tahun memiliki pola yang sama dengan kelahiran dengan jumlah
penduduk meninggal tiap 1000 penduduk dalam kurun waktu tersebut
berkisar antara 6 sampai dengan 7 orang per tahun.
CDR dan CBR merupakan indikator kasar tentang kematian dan
kelahiran penduduk di suatu wilayah pada periode tertentu, pada tahun 2015
angka CBR sebesar 14,01, angka ini dapat diartikan bahwa setiap 1.000
penduduk bertambah sekitar 14 orang karena kelahiran. Sedangkan angka
CDR sebesar 6,69 , angka ini dapat diartikan bahwa setiap 1.000 penduduk
selama kurun waktu satu tahun jumlah penduduk berkurang 6 jiwa karena
meninggal. Dengan demikian selisih dari keduanya adalah sebesar 8 orang
tiap seribu penduduk, bila angka tersebut dinyatakan dalam persen maka
nilainya menjadi 0,76 %, merupakan angka pertumbuhan penduduk alamiah
atau Rate of Natural Increase (RNI).
Tingkat pertumbuhan karena perpindahan (net migration), dihitung
dengan melihat selisih antara angka penduduk yang datang (in migration) dan
18
angka penduduk yang pergi (out migration). Pada tahun 2015 tingkat migrasi
masuk sebesar 20,26 (yang berarti setiap 1.000 penduduk selama 1 tahun
penduduk bertambah sebesar 20 orang), sedangkan tingkat migrasi keluar
sebesar 21,27 per 1.000 penduduk. Bila migrasi masuk dikurangi dengan
migrasi keluar diperoleh angka sebesar 0,04, angka inilah yang dinamakan
dengan angka pertumbuhan penduduk karena migrasi (net migration rate).
Keadaan ini tentu saja sangat logis, mengingat Kota Semarang sebagai
ibukota provinsi berpotensi sebagai daerah tujuan penduduk baik dalam hal
pemerintahan, perdagangan, pendidikan dan lain-lain.
Geospasial Kepadatan Penduduk Kota Semarang
19
Bila dilihat pertumbuhan penduduk menurut kecamatan pada periode
2011 – 2015 kondisinya sangat bervariasi. Hal ini terjadi karena dari 16
kecamatan yang ada di Kota Semarang masing-masing mempunyai
karakteristik yang berbeda, ada kecamatan yang terletak dipusat kota
sehingga pertumbuhannya cenderung kecil bahkan negatif, sebaliknya
kecamatan-kecamatan di pinggir kota banyak diantaranya merupakan
pengembangan areal perumahan atau pengembangan industri sehingga
pertumbuhan penduduknya cukup tinggi.
Yang mempunyai pertumbuhan penduduk tertinggi yaitu Kecamatan
Mijen sebesar 3,33 %, kemudian berturut-turut diikuti oleh Kecamatan
Genuk (2,44%), Kecamatan Gunung Pati (1,69 %), Kecamatan Tembalang
(1,40 %), Kecamatan Ngaliyan (1,31 %) dan Kecamatan Tugu (1,15 %).
Kecamatan-kecamatan diatas merupakan daerah pengembangan areal
perumahan dan areal industri sehingga banyak terjadi arus perpindahan
penduduk masuk ke kecamatan-kecamatan tersebut.
Sedangkan kecamatan yang mempunyai pertumbuhan penduduk rendah
atau bahkan mempunyai pertumbuhan penduduk negatif diantaranya adalah
Kecamatan Semarang Timur (-0,88%), Kecamatan Semarang Tengah (-
0,66%), Kecamatan Candisari (-0.49%) dan Kecamatan Semarang Selatan (-
0,42%), Kecamatan Semarang Barat (-0.34%), Kecamatan Semarang Utara (-
0.21%) . Keenam kecamatan diatas merupakan daerah pusat kota yang
daerahnya sudah jenuh artinya tidak ada area untuk pengembangan
perumahan, selain itu juga wilayah tersebut sering mengalami banjir,
sehingga justru penduduk di daerah tersebut banyak yang pindah mencari
rumah didaerah lain.
Penyebaran penduduk yang tidak merata perlu mendapat perhatian
karena berkaitan dengan daya dukung lingkungan yang tidak seimbang.
Secara geografis wilayah Kota Semarang terbagi menjadi dua yaitu daerah
dataran rendah (Kota Bawah) dan daerah perbukitan (Kota Atas). Kota
bawah merupakan pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan dan industri
sedangkan kota atas lebih banyak dimanfaatkan untuk perkebunan,
persawahan, hutan . Sedangkan ciri masyarakatnya juga terbagi dua yaitu
masyarakat dengan karakteristik perkotaan yang menempati daerah sekitar
20
pusat kota dengan lingkungan pemukiman yang bercirikan perkotaan dan
masyarakat dengan karakteristik pedesaan yang menempati daerah
perluasan/pinggiran dengan kondisi yang lebih tradisional.
Dengan kondisi seperti diatas maka penyebaran penduduk di Kota
Semarang terkonsentrasi di kota bawah sehingga mengakibatkan daya
dukung lingkungan menjadi rendah karena kepadatan yang tinggi. Oleh
karena itu kebijakan Pemerintah Daerah Kota Semarang diarahkan pada
pengembangan daerah kota atas, beberapa hal yang sudah ditempuh selain
memindahkan UNNES Semarang ke wilayah Kecamatan Gunungpati
beberapa waktu lalu adalah dengan memindahkan Universitas Diponegoro
Semarang ke wilayah Kecamatan Tembalang serta pengembangan
pemukiman-pemukiman baru di daerah tersebut.
Sebagai salah satu kota metropolitan Semarang boleh dikatakan cukup
padat, pada tahun 2015 ini kepadatan penduduknya sebesar 4.269 jiwa per
km2, sedikit mengalami kenaikan dibandingkan dengan keadaan tahun 2014.
Bila dilihat menurut Kecamatan yang mempunyai kepadatan penduduk
paling rendah adalah Kecamatan Tugu sebesar 1.005 jiwa per km2 diikuti
dengan Kecamatan Mijen (1.067) dan Kecamatan Gunungpati (1.453).
Ketiga Kecamatan tersebut dua diantaranya merupakan daerah
pertanian/perkebunan dan juga wilayahnya yang tergolong paling luas
diantara kecamatan kecamatan lain di Kota Semarang sehingga meski
memiliki pertumbuhan penduduknya tergolong tinggi namun tingkat
kepadatannya masih relatif rendah., sedangkan Kecamatan Tugu merupakan
daerah pengembangan industri sehingga banyak terdapat bangunan-bangunan
dan lahan industri yang menyita sebagian besar wilayahnya.
Namun sebaliknya untuk Kecamatan-Kecamatan yang terletak di pusat
kota, dimana luas wilayahnya tidak terlalu besar namun jumlah penduduknya
banyak kepadatan penduduknya sangat tinggi. Yang paling tinggi kepadatan
penduduknya adalah Kecamatan Semarang Selatan (13.431 jiwa/km2)
kemudian Kecamatan Candisari (12.119), Kecamatan Gayamsari (12.009),
diteruskan dengan Kecamatan Semarang Utara (11.646) dan Kecamatan
Semarang Tengah (11.433).
21
Bila dikaitkan dengan banyaknya keluarga atau rumahtangga, maka bisa
dilihat bahwa rata-rata setiap keluarga di Kota Semarang memiliki 3 sampai
4 anggota keluarga, dan kondisi ini terjadi pada hampir seluruh Kecamatan.
2). Komposisi Penduduk menurut Umur dan Jenis Kelamin
Selain jumlah, kepadatan maupun pertumbuhan penduduk, hal lain yang
perlu diketahui adalah komposisi penduduk, antara lain komposisi penduduk
menurut umur dan jenis kelamin. Dikatakan penting karena kejadian
demografis maupun karakteristiknya berbeda menurut umur dan jenis
kelamin baik untuk kelahiran, kematian maupun perpindahan penduduk.
Kelahiran menurut jenis kelamin jelas berbeda, pada saat dilahirkan
umumnya jumlah bayi pria lebih banyak dari bayi wanita.
Tingkat kematian juga berbeda menurut umur, yaitu resiko kematian
sangat tinggi pada kelompok umur kurang dari satu tahun. Usia harapan
hidup juga berbeda menurut jenis kelamin yaitu wanita cenderung lebih
tinggi dibandingkan laki-laki. Sementara perpindahan penduduk lebih banyak
dilakukan oleh kelompok usia produktif dan lebih banyak dilakukan laki-laki
dibandingkan perempuan terutama migrasi untuk jarak tempuh yang jauh.
Dan sepertinya pola ini akan mengalami pergeseran seiring dengan
meningkatnya jumlah tenaga kerja wanita yang bekerja di luar negeri.
Struktur Umur Penduduk
Berbagai cara dilakukan untuk menggambarkan struktur
penduduk menurut umur, diantaranya adalah dengan distribusi
frekwensi, distribusi presentase, rasio dan grafik batang atau piramida
penduduk. Dari penduduk menurut umur tersebut dapat dihasilkan
beberapa indikator yang salah satunya adalah Angka Beban
Ketergantungan (dependency ratio), yang menggambarkan beban
penduduk produktif terhadap penduduk yang tidak produktif.
22
Piramida Penduduk Kota Semarang Tahun 2015
42,500 32,673
18,954 17,904
30,869 33,785
45,403 45,370
55,640 51,613
61,953 57,976
64,053 62,314
70,678 69,952
75,735 75,059
78,683 77,340
75,689 72,127
59,813 63,727
61,042 66,254
61,357 66,803
100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000
Perempuan Laki - laki
Salah satu cara yang biasa digunakan untuk menggambarkan
komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin adalah dengan
piramida penduduk. Bentuk piramida penduduk dari suatu wilayah pada
tahun tertentu dapat mencerminkan dinamika kependudukan diwilayah
tersebut, seperti kelahiran, kematian dan migrasi. Suatu wilayah dengan
tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi biasanya ditandai dengan
bentuk piramida yang alasnya besar kemudian berangsur mengecil
hingga ke puncak piramida. Sedangkan pada wilayah dengan tingkat
kelahiran dan kematian yang rendah mempunyai bentuk piramida
dengan alas yang tidak begitu besar dan tidak langsung mengecil hingga
puncaknya.
Bentuk piramida penduduk Kota Semarang pada tahun 2014
terlihat alas piramidanya tidak terlalu besar, hampir sama dengan
bagian tengah piramida. Hal ini bisa diartikan bahwa tingkat kelahiran
dan migrasi masuk walaupun masih cukup tinggi namun sudah ada
pengendalian. Sedangkan bagian puncak piramida tidak terlalu runcing
yang berarti pengendalian terhadap kematian penduduk cukup berhasil.
23
Angka Beban Ketergantungan
Angka beban ketergantungan memberikan gambaran
perbandingan antar jumlah penduduk yang produktif (15-64 tahun)
dengan yang tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun keatas). Untuk
penduduk yang mempunyai struktur muda atau sangat tua sekali, maka
beban ketergantungannya sangat tinggi. Di negara-negara berkembang
karena struktur umur penduduknya muda, maka angka beban
ketergantungannya biasanya relatif tinggi.
Angka beban ketergantungan untuk Kota Semarang pada tahun
2015 sebesar 39,80 persen, sedangkan angka ketergantungan penduduk
muda sebesar 33,21 persen dan angka ketergantungan penduduk tua
sebesar 6,59 persen. Bila dibandingkan dengan keadaan tahun
sebelumnya, angka beban ketergantungan total, ketergantungan muda
maupun ketergantungan tua tidak menunjukkan perbedaan yang
signifikan, yakni masing-masing sebesar 39,80 persen; 33,21 persen dan
6,59 persen.
Rasio Jenis Kelamin
Selain menurut umur komposisi penduduk juga dapat dilihat
menurut jenis kelamin. Perbandingan antara penduduk laki-laki dengan
penduduk perempuan akan menghasilkan suatu ukuran yang disebut
dengan rasio jenis kelamin (sex ratio). Dari 1.595.267 jiwa penduduk
Kota Semarang pada tahun 2015, sebanyak 792.898 jiwa diantaranya
adalah penduduk laki-laki dan 802.369 penduduk perempuan. Dengan
demikian rasio jenis kelamin yang merupakan perbandingan antara
penduduk laki-laki dan perempuan di Kota Semarang sebesar 99, yang
artinya jumlah penduduk perempuan 1 persen lebih banyak dari
penduduk laki-laki atau setiap 100 penduduk perempuan terdapat 99
penduduk laki-laki. Sedangkan wilayah kecamatan yang mempunyai
rasio jenis kelamin diatas 100 ada sebanyak 8 (delapan) kecamatan,
yaitu, Kecamatan Mijen, Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Gajah
Mungkur, Kecamatan Tembalang, Kecamatan Genuk, Kecamatan
Gayamsari, kecamatan Tugu dan Kecamatan Ngaliyan.
24
3). Komposisi Penduduk menurut Status Perkawinan
Status perkawinan penduduk dibedakan atas belum kawin (single),
kawin (married), cerai (divorce), janda dan duda (widow). Penduduk menurut
status perkawinan dapat pula dibedakan menurut jenis kelamin, tempat
tinggal serta kelompok umur tertentu.
Persentase Penduduk 10 Tahun keatas menurut Status Perkawinan
Cerai Mati 6.28
Cerai Hidup 5.73
1.32
1.83
Kawin 56.29
56.94
Belum Kawin 36.12
35.50
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00
2015 2014
Gambar diatas menunjukkan bahwa komposisi penduduk umur 10
tahun keatas menurut status perkawinan relatif tidak mengalami perubahan
dari tahun-ketahun. Sedangkan jika dibandingkan antar tahun pada tiap-tiap
status perkawinan, tampak tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Status perkawinan penduduk wanita, utamanya pada kelompok umur
15-49 tahun sangat penting untuk dianalisis, hal ini berkaitan dengan
potensinya untuk melahirkan yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan
penduduk.
25
Persentase Wanita Umur 15 – 49 Tahun Menurut Status Perkawinan
Status Perkawinan Tahun 2014 Tahun 2015
(1) (2) (3)
1. Belum Kawin 33.02 33.23
2. Kawin 63.23 62.75
3. Cerai Hidup 1.99 1.53
4. Cerai Mati 1.77 2.48
Sumber : BPS Kota Semarang
Komposisi penduduk wanita usia 15-49 tahun menurut status
perkawinan masih memiliki pola yang sama dengan tahun sebelumnya.
Selisih persentase tahun 2014 dan 2015 pada masing-masing status
perkawinan tidak lebih dari 0,5 poin, kecuali pada status perkawinan cerai
mati yakni sebesar 0.71 poin.
Indikator lain yang berkaitan dengan masalah perkawinan adalah umur
wanita pada perkawinan pertama. Ada dua hal yang menjadi perhatian yaitu
apakah umur perkawinan pertamanya sudah sesuai dengan ketentuan
Undang-Undang Perkawinan dan semakin tua atau muda umur perkawinan
pertama ini akan sangat berdampak pada tingkat kelahiran penduduk.
Rata-rata umur perkawinan pertama wanita di Kota Semarang dapat
diketahui dengan suatu indikator yang dinamakan SMAM (singulate mean
age of marriage) yaitu rata-rata umur pada perkawinan pertama. Pada tahun
2014 nilai SMAM wanita di Kota Semarang sebesar 24,55 tahun, sedangkan
pada tahun 2015, secara rata-rata wanita di Kota Semarang mengakhiri masa
lajangnya diusia 25,12 tahun, 1 (satu) tahun lebih muda dibandingkan tahun
sebelumnya.
Umur rata-rata perkawinan pertama pada kisaran 25 tahun bagi wanita,
erat kaitannya dengan tingkat pendidikan yang semakin tinggi, dan
pemahaman terhadap perkawinan yang semakin baik, serta karena tuntutan
ekonomi atau perkembangan jaman yang mengharuskan wanita untuk bekerja
26
yang pada akhirnya akan berdampak pada tingkat kelahiran penduduk karena
masa suburnya semakin berkurang.
Dari sisi gender perkembangan diatas memberikan arti bahwa peran
wanita sudah menunjukkan kemajuan yang sangat berarti, terutama pada
kemampuan dan kemandirian yang sangat mempengaruhi posisi tawar wanita
terhadap segala aspek kehidupan. Namun jangan terbuai dengan kondisi
diatas karena nilai SMAM adalah nilai rata-rata yang tidak menutup
kemungkinan masih terdapat wanita dengan usia perkawinan pertamanya
masih muda bahkan dibawah umur minimal yang sudah ditentukan oleh
Undang-Undang Perkawinan. Sehingga usaha untuk memberdayakan wanita
dalam segala hal agar terus ditingkatkan, karena usaha ini akan berdampak
langsung pada kualitas penduduk yang dihasilkan.
27
E. KONDISI EKONOMI
1). Pertumbuhan Ekonomi / PDRB
Kegiatan ekonomi suatu daerah secara umum dapat digambarkan
melalui kemampuan daerah tersebut menghasilkan barang dan jasa yang
diperlukan bagi kebutuhan hidup masyarakat yang diindikasikan dengan
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakan salah satu
indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah dalam
suatu periode tertentu. PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang
dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah, atau merupakan
jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi.
Penyajian PDRB dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga konstan.
PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa
yang dihitung menggunakan harga pada tahun berjalan. Nilai PDRB harga
berlaku nominal menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang
dihasilkan oleh suatu daerah pergeseran dan struktur perekonomian daerah.
Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan dapat mencerminkan
perkembangan riil ekonomi secara keseluruhan dari tahun ke tahun yang
digambarkan melalui laju pertumbuhan ekonomi.
Laju pertumbuhan PDRB Kota Semarang tahun 2014 mencapai 5,30
persen, lebih lambat dibandingkan tahun 2013 dengan pertumbuhan 6,64
persen. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha
Informasi dan Komunikasi sebesar 12,41 persen. Lapangan usaha Pertanian,
Kehutanan dan Pertanian merupakan satu-satunya lapangan usaha yang
mengalami kontraksi 0,13 persen.
Laju pertumbuhan tertinggi kedua yaitu lapangan usaha Jasa Kesehatan
dan Kegiatan Sosial sebesar 11,20 persen, diikuti lapangan usaha Jasa
Pendidikan tumbuh sebesar 11,14 persen, Transportasi dan Pergudangan
tumbuh sebesar 8,88 Persen, Jasa lainnya tumbuh sebesar 7,13 persen, Jasa
Perusahaan tumbuh sebesar 7,08 persen, Industri Pengolahan tumbuh sebesar
6,70 persen, Penyediaan Akomodasi dan Makan minum tumbuh sebesar 6,52,
Real Estat tumbuh sebesar 6,46 persen, pertambangan dan penggalian
mengalami pertumbuhan sebesar 0,96 persen.
28
Secara lebih rinci, PDRB Kota Semarang berdasarkan perhitungan yang
dilakukan oleh BPS dapat dilihat pada tabel berikut ini :
PDRB Kota Semarang Tahun 2013 – 2014 ( Milyar Rupiah )
Kategori Kategori / Subkategori Kota Provinsi PDB
Semarang Jawa Nasional
(1) (2) Tengah
Atas Dasar Harga Berlaku : (3) (5)
(4)
A Pertanian, Kehutanan, dan 1.191,74 136.857,72 1.410.657,10
Perikanan
B Pertambangan dan Penggalian 237,36 19.621,17 1.035.120,90
34.014,76 336.070,89 2.215.753,60
C Industri Pengolahan
115,32 793,87 114.121,90
D Pengadaan Listrik, Gas 106,01 601,32 7.703,60
32.419,24 93.449,79
E Pengadaan Air 1.041.949,50
F Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran, 17.109,72 124.378,28 1.410.932,00
G reparasi dan perawatan mobil dan
sepeda motor
H Transportasi dan Pergudangan 4.443,06 27.484,36 450.600,00
I Penyediaan Akomodasi & Makan 4.193,19 27.991,03 330.672,40
Minum
368.943,00
J Informasi dan Komunikasi 8.613,39 28.403,00 408.646,70
5.182,18 25.667,35 294.573,40
K Jasa Keuangan 3.302,29 15.037,14 165.990,60
3.027,95
L Real Estate 712,30
M, N Jasa Perusahaan
Administrasi Pemerintahan, 4.031,88 26.406,08 404.379,60
O Pertahanan dan Jaminan Sosial
Wajib
P Jasa Pendidikan 3.329,44 38.656,23 346.557,80
902,19 7.535,88 109.069,70
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 13.680,63 163.548,80
1.358,82
R, S, T Jasa lainnya
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTTO 121.262,902 925.662,69 10.542.693,50
(PDRB)
29
Kategori Kategori / Subkategori Kota Provinsi PDB
Semarang Jawa Nasional
(1) (2) Tengah
Atas Dasar Harga Konstan 2010 : (3) (5)
(4)
1.128.448,00
A Pertanian, Kehutanan, dan 955,37 106.029,38 789.329,70
Perikanan
1.856.310,60
B Pertambangan dan Penggalian 180,99 15.542,65 93.755,90
27.693,43 274.971,47 6.788,00
C Industri Pengolahan 826.615,60
123,65 836,74
D Pengadaan Listrik, Gas 100,36 567,98 1.172.362,60
26.606,79 76.681,88
E Pengadaan Air 333.190,90
258.161,00
F Konstruksi 384.129,90
321.525,50
Perdagangan besar dan eceran, 15.307,23 110.357,19 256.440,20
G reparasi dan perawatan mobil dan 137.795,30
sepeda motor 296.145,00
H Transportasi dan Pergudangan 3.718,91 24.802,18 267.633,30
91.287,80
I Penyediaan Akomodasi & Makan 3.238,50 23.465,64 134.070,10
Minum 8.568.115,60
J Informasi dan Komunikasi 9.498,19 30.130,16
4.048,69 20.207,82
K Jasa Keuangan 3.026,68 13.776,86
2.534,62
L Real Estate 597,79
M, N Jasa Perusahaan
Administrasi Pemerintahan, 3.198,84 21.075,65
O Pertahanan dan Jaminan Sosial
Wajib
P Jasa Pendidikan 2.312,70 27.466,22
711,49 5.907,51
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 11.917,82
1.181,77
R, S, T Jasa lainnya
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTTO 102.501,39 766.271,77
(PDRB)
Sumber : BPS Kota Semarang
Jika dibandingkan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Nasional, PDRB
Kota Semarang untuk harga berlaku sebesar 13,10 % dari PDRB Prov. Jateng
dan 1,15 % dari PDB Nasional. Sedangkan PDRB untuk harga konstan 2010
sebesar 15,83% dari PDRB Prov. Jateng dan 1,42 dari PDB Nasional.
30
Berdasarkan sumbangan atau kontribusi terhadap pembentukan PDRB
tahun 2014, sebagaimana terlihat pada grafik di bawah bahwa sektor
perdagangan, hotel dan restoran memberikan kontribusi yang terbesar, yaitu
31,71 %, disusul kemudian sektor industri sebesar 26,63 %, sektor bangunan
sebesar 15,51 % dan sektor jasa-jasa sebesar 12,01 %. Sedangkan sektor yang
memberikan kontribusi terkecil adalah sektor pertambangan dan penggalian
sebesar 0,13 %. Hal tersebut dapat terlihat pada tabel dibawah ini :
Distribusi Persentase PDRB Di Kota Semarang Tahun 2010 – 2014
Kategori Kategori / Subkategori 2010 2011 2012 2013 2014
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
A Pertanian, Kehutanan, dan 1,05 1,03 1,00 1,04 0,98
Perikanan
B 0,20 0,19 0,19 0,18 0,20
C Pertambangan dan Penggalian 24,79 26,70 27,15 27,24 28,05
D 0,12 0,12 0,11 0,11 0,10
E Industri Pengolahan 0,12 0,11 0,10 0,09 0,09
F 27,79 26,46 26,71 26,56 26,73
G Pengadaan Listrik, Gas 16,19 16,19 15,18 14,91 14,11
H Pengadaan Air 3,39 3,26 3,27 3,48 3,66
I 3,06 3,07 3,24 3,41 3,46
Konstruksi
J 8,14 7,93 7,66 7,33 7,10
K Perdagangan besar dan eceran, 4,46 4,31 4,41 4,42 4,27
L reparasi dan perawatan mobil 2,92 2,79 2,70 2,70 2,72
M, N dan sepeda motor 0,53 0,55 0,55 0,59 0,59
O 3,72 3,46 3,53 3,47 3,32
Transportasi dan Pergudangan
P 1,73 2,07 2,46 2,68 2,75
Q Penyediaan Akomodasi dan 0,60 0,64 0,69 0,71 0,74
Makan Minum
R, S, T 1,20 1,13 1,05 1,09 1,12
Informasi dan Komunikasi 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Jasa Keuangan
Real Estate
Jasa Perusahaan
Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial
Wajib
Jasa Pendidikan
Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial
Jasa lainnya
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTTO
(PDRB)
Sumber : BPS Kota Semarang
31
Apabila dilihat pertumbuhan tiap sektor atas dasar harga konstan 2010
di Kota Semarang, lapangan usaha yang mencapai pertumbuhan paling tinggi
adalah sektor Informasi dan Komunikasi sejumlah 12,41 disusul Jasa
Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 11,14 sektor Transportasi dan
Pergudangan sejumlah 8,88. Sedangkan lapangan usaha dengan pertumbuhan
terendah adalah sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sejumlah 0,13.
Pertumbuhan PDRB adh Konstan 2010 Di Kota Semarang
Tahun 2010 – 2014
Kategori Kategori / Subkategori 2010 2011 2012 2013 2014
(3)
(1) (2) - (4) (5) (6) (7)
A Pertanian, Kehutanan, dan - 6,45 1,72 3,78 0,13
Perikanan -
B - 3,23 4,29 3,61 0,96
C Pertambangan dan Penggalian - 9,60 7,95 9,51 6,70
D - 7,29 9,41 7,94 0,36
E Industri Pengolahan - 1,59 -2,04 -0,61 1,85
F 2,51 6,27 5,08 3,49
G Pengadaan Listrik, Gas - 9,31 0,73 3,92 2,26
-
H Pengadaan Air 5,04 7,70 10,22 8,88
I - 7,36 8,11 6,05 6,52
Konstruksi -
J - 8,14 9,96 7,96 12,41
K Perdagangan besar dan eceran, - 2,57 2,97 4,00 2,19
L reparasi dan perawatan mobil - 6,22 5,39 7,68 6,46
M, N dan sepeda motor 9,69 6,62 12,25 7,08
O - 2,74 0,84 3,16 -0,53
Transportasi dan Pergudangan -
P 17,76 18,36 9,22 8,80
Q Penyediaan Akomodasi dan - 9,97 11,17 7,09 11,14
Makan Minum
R, S, T - 3,14 0,60 9,99 7,13
Informasi dan Komunikasi
Jasa Keuangan
Real Estate
Jasa Perusahaan
Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial
Wajib
Jasa Pendidikan
Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial
Jasa lainnya
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTTO 6,58 5,97 6,64 5,30
(PDRB)
Sumber : BPS Kota Semarang
32
Pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku dari tahun ke tahun
menunjukkan peningkatan. Bila pada tahun 2000 adalah sebesar 9.180.071,90
rupiah, pada tahun 2013 telah mencapai 37.143.011,64 rupiah, berarti telah
terjadi peningkatan sebesar 4 kali lipat selama 13 tahun. Dan jika dilihat
berdasarkan harga konstan 2000, pertumbuhan pendapatan per kapita dalam
periode 2000 - 2013 juga mengalami peningkatan sebesar 70,18 persen. Pada
tahun 2013, pendapatan per kapita penduduk Kota Semarang berdasarkan
perhitungan dari Badan Pusat Statistik adalah sebesar Rp. 32.136.359,30
untuk atas dasar harga berlaku dan Rp. 13.522.923,10 untuk atas dasar harga
konstan tahun 2000.
PDRB Per Kapita Kota Semarang Tahun 2010 – 2014
Tahun ADH Harga Berlaku ADH Harga Konstan 2010
(1) (2) (3)
2010 51.804.774,72 51.804.774,72
54.232.266,96
2011 57.311.533,89 56.465.578,95
59.181.042,47
2012 61.705.999,74 61.268.049,56
2013 *) 66.137.764,12
2014 **) 72.482.351,82
Sumber : BPS Kota Semarang
Keterangan : *). Angka diperbaiki
**). Angka sementara
Selain dari PDRB, kondisi ekonomi suatu wilayah dapat dilihat adri laju
inflasi. Laju inflasi merupakan ukuran untuk menggambarkan
kenaikan/penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang
berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Inflasi memiliki
dampak positif dan dampak negatif, tergantung dari tingkat keparahan inflasi
tersebut. Apabila inflasi itu ringan justru mempunyai pengaruh yang positif
dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan
pendapatan daerah dan mendorong masyarakat untuk bekerja, menabung dan
33
mengadakan investasi. Namun sebaliknya pada inflasi yang tinggi
masyarakat menjadi tidak bersemangat untuk bekerja, menabung atau
mengadakan investasi dan produksi yang disebabkan harga meningkat
dengan cepat.
Laju Inflasi Di Kota Semarang Tahun 2011 – 2015
Bulan 2011 2012 Tahun 2014 2015
(2) (3) 2013 (5) (6)
(1) 0,60 0,42 0,90 (0,48)
Januari (0,12) 0,37 (4) 0,24 (0,67)
Pebruari (0,11) 0,33 0,99 0,27 0,25
Maret (0,54) 0,14 0,90 (0,04) 0,17
April 0,13 0,36 0,95 0,25 0,54
Mei 0,43 0,68 (0,43) 0,85 0,64
Juni 0,67 0,83 (0,17) 0,62 0,91
Juli 0,57 1,26 0,86 0,41 0,28
Agustus 0,51 (0,10) 3,50 0,41 (0,18)
September (0,19) 0,07 1,25 0,55 (0,16)
Oktober 0,51 (0,01) (0,61) 1,35 0,21
November 0,38 0,41 0,12 2,40 1,04
Desember 2,87 4,85 0,42 8,53 2,56
0,21
Y.O.Y 8,19
Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Desember) 2015 dan tahun ke
tahun (Desember 2015 terhadap Desember 2014) Kota Semarang lebih
rendah apabila dibandingkan angka inflasi Nasional, tercatat 2,56 persen
untuk Kota Semarang dan 3,35 persen untuk angka inflasi Nasional. Angka
inflasi tersebut masih tergolong dalam kategori inflasi ringan (creeping
inflation) karena besarnya masih kurang dari 10 persen. Seperti fenomena
inflasi Nasional, inflasi Kota Semarang tertinggi terjadi pada bulan Desember
(1,04 persen), diikuti Juli (0,91 persen) dan Juni (0,64 persen).
34
Kebijakan Pemerintah menyesuaikan harga BBM (Bahan Bakar dan
Minyak) dengan harga minyak dunia menjadi salah satu penyumbang utama
terjadinya deflasi di bulan Januari dan Februari 2015. Seperti telah diketahui,
Pemerintah menetapkan penurunan harga premium dan solar sebanyak dua
kali pada bulan Januari 2015. Selain BBM, komoditas utama penyumbang
deflasi lainnya adalah cabai merah, cabai rawit, cabai hijau dan apel pada
bulan Januari; cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras dan bahan bakar
rumah tangga pada bulan Februari.
Pada bulan Maret 2015, kenaikan harga BBM sebanyak dua kali dalam
bulan Maret menjadi salah satu pemicu utama inflasi bulan Maret 2015
menjadi 0,25 persen selain bawang merah, beras, bahan bakar rumahtangga
dan tarif dokter dpesialis. Kendati bensin merupakan komoditas utama
penyumbang inflasi April 2015, namun inflasi bulanan April terkendali
sebesar 0,17 persen, di bawah kondisi Maret 2015.
Memasuki bulan puasa, inflasi terus meningkat pada bulan-bulan
berikutnya, bulan Mei tercatat 0,54 persen, bulan Juni 0,64 persen dan bulan
Juli menjadi sebesar 0,91 persen. Seperti halnya kondisi inflasi Nasional,
inflasi bulanan untuk bulan Desember 2015 merupakan yang tertinggi
sepanjang tahun 2015. Meningkatnya harga secara umum yang menjadi
penyebab inflasi bulan Desember ditunjukkan oleh naiknya hampir seluruh
indeks kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran terbesar penyumbang
angka inflasi Desember 2015 adalah kelompok bahan makanan yang
mencapai 3,60 persen, menyusul kemudian kelompok makanan, minuman,
rokok, dan tembakau yang mencapai 0,93 persen. Kelompok transpor,
komunikasi dan jasa keuangan menjadi kelompok terbesar ke tiga
penyumbang angka inflasi bulan Desember, yaitu sebesar 0,53 persen.
35
F. KONDISI PEMERINTAHAN
Penyelenggara pemerintahan daerah Kota Semarang terdiri dari unsur
legislatif, yaitu DPRD dan unsur eksekutif, yaitu Walikota, Wakil Walikota
Semarang serta Perangkat Daerah.
1). Legislatif
Pada akhir tahun 2014 jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kota Semarang sebanyak 49 orang, terdiri dari 38 orang
laki-laki dan 11 orang perempuan. DPRD Kota Semarang terdiri dari unsur :
Ketua dan 3 wakil ketua, serta 4 Komisi, yaitu : Komisi A yang membidangi
Pemerintahan dan Hukum, Komisi B yang membidangi Perekonomian,
Komisi C yang membidangi Pembangunan, dan Komisi D yang membidangi
Kesejahteraan Rakyat. Apabila dilihat berdasarkan fraksi, anggota DPRD
terdiri dari 7 Fraksi, yaitu Fraksi PDI Perjuangan yang merupakan fraksi
gabungan antara PDI Perjuangan dan Partai Nasdem, Fraksi Gerindra, Fraksi
Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Demokrat, Fraksi Golkar, Fraksi Partai
Amanat Nasional yang merupakan fraksi gabungan antara PAN dan PPP, dan
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Sedangkan jumlah anggota dewan
berdasarkan partai politik terdiri dari : 15 orang dari PDI Perjuangan; 7 orang
dari Partai Gerindra; 6 orang dari PKS; 6 orang dari Partai Demokrat; 5 orang
dari Partai Golkar; 4 orang dari PKB; 4 orang dari PAN; 2 orang dari PPP
dan 1 orang dari Partai Nasdem.
2). Eksekutif
Pemerintah Kota Semarang dipimpin oleh seorang Walikota dengan
dibantu oleh seorang Wakil Walikota dan perangkat daerah. Organisasi
perangkat daerah Kota Semarang terdiri dari :
a]. Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, sebagai unsur staf yang
membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi Walikota Semarang
dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 11
Tahun 2008. Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah dan
terdiri dari :
i. Bagian Otonomi Daerah
ii. Bagian Tata Pemerintahan
36
iii. Bagian Hukum
iv. Bagian Perekonomian
v. Bagian Pembangunan
vi. Bagian Kesejahteraan Rakyat
vii. Bagian Humas
viii. Bagian Pengolahan Data Elektronik (PDE)
ix. Bagian Kerjasama
x. Bagian Organisasi
xi. Bagian Umum dan Protokol
xii. Bagian Rumah Tangga dan Santel
xiii. Bagian Perlengkapan
b]. Dinas Daerah, sebagai unsur pelaksana urusan daerah dibentuk
berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 12 Tahun 2008.
Terdapat 19 dinas daerah di lingkungan Pemerintah Kota Semarang :
i. Dinas Pendidikan
ii. Dinas Kesehatan
iii. Dinas Bina Marga
iv. Dinas PSDA dan ESDM
v. Dinas Kebakaran
vi. Dinas Tata Kota dan Perumahan
vii. Dinas Penerangan Jalan dan Pengelolaan Reklame
viii. Dishubkominfo
ix. Dinas Kebersihan dan Pertamanan
x. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
xi. Dinas Sosial, Pemuda dan Olah Raga
xii. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
xiii. Dinas Koperasi UMKM
xiv. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
xv. Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
xvi. Dinas Pertanian
xvii. Dinas Kelautan dan Perikanan
xviii. Dinas Pasar
xix. Dinas Perindustrian dan Perdagangan
37
c]. Lembaga Teknis Daerah, sebagai unsur pendukung tugas Walikota
dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat
spesifik dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor
13 Tahun 2008. Pada tahun 2010, terdapat perubahan struktur
organisasi perangkat daerah Pemerintah Kota Semarang dengan
perubahan pada Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Semarang dan
menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010, guna
membentuk lembaga baru yaitu Badan Penanggulangan Bencana
Daerah Kota Semarang. Sebelumnya, penanggulangan bencana
merupakan sub-organisasi (bidang) pada Dinas Kebakaran. Selain itu,
dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang
Badan Narkotika Nasional, maka perangkat daerah yang berupa Badan
Narkotika yang ada di Kabupaten dan Kota, berubah statusnya menjadi
instansi vertikal. Perubahan – perubahan tersebut mulai diterapkan
secara efektif pada tahun 2011. Perubahan terakhir adalah berpindahnya
fungsi Linmas, yang sebelumnya pada Badan Kesatuan Bangsa, Politik
dan Perlindungan Masyarakat, ke Satuan Polisi Pamong Praja
berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2012. Pada tahun 2013,
terdapat 13 Lembaga Teknis Daerah di lingkungan Pemerintah Kota
Semarang, dengan perincian 10 lembaga dipimpin oleh pejabat eselon 2
dan 3 lembaga dipimpin oleh pejabat eselon 3. Berikut ini Lembaga
Teknis Daerah di lingkungan Pemerintah Kota Semarang :
i. Bappeda
ii. Badan Kesbangpol
iii. Bapermas, Per dan KB
iv. Badan Lingkungan Hidup
v. Inspektorat
vi. Badan Kepegawaian Daerah
vii. Badan Pelayanan Perijinan Terpadu
viii. Satuan Polisi Pamong Praja
ix. Rumah Sakit Umum Daerah
x. Badan Penanggulangan Bencana Daerah
xi. Kantor Pendidikan dan Pelatihan
38
xii. Kantor Perpustakaan & Arsip Daerah
xiii. Kantor Ketahanan Pangan
d]. Kecamatan dan Kelurahan, sebagai unsur kewilayahan dibentuk
berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2008.
Saat ini, terdapat 16 Kecamatan di Kota Semarang, yaitu :
1). Kecamatan Semarang Selatan terdapat 10 Kelurahan, yaitu
: Bulustalan, Barusari, Randusari, Mugasari, Pleburan,
Wonodri, Peterongan, Lamper Kidul, Lamper Lor dan
Lamper Tengah.
2). Kecamatan Semarang Timur terdapat 10 Kelurahan, yaitu :
Karangturi, Karang Tempel, Rejosari, Sarirejo, Kebon
Agung, Bugangan, Mlatiharjo, Mlatibaru, Rejomulyo dan
Kemijen.
3). Kecamatan Semarang Utara terdapat 9 Kelurahan, yaitu :
Bululor, Plombokan, Panggung Kidul, Panggung Lor,
Kuningan, Purwosari, Dadapsari, Bandarharjo dan
Tanjungmas.
4). Kecamatan Semarang Tengah terdapat 15 Kelurahan, yaitu
: Pekunden, Karang Kidul, Jagalan, Brumbungan, Miroto,
Gabahan, Kranggan, Purwodinatan, Kauman, Bangunharjo,
Kembangsari, Pandansari, Sekayu, Pendrikan Kidul dan
Pendrikan Lor.
5). Kecamatan Semarang Barat terdapat 16 Kelurahan, yaitu :
Kembangarum, Manyaran, Ngemplak Simongan, Bongsari,
Bojongsalaman, Cabean, Salaman Mloyo, Gisikdrono,
Kalibanteng Kidul, Kalibanteng Kulon, Krapyak,
Tambakharjo, Tawangsari, Karangayu, Krobokan dan
Tawang Mas.
6). Kecamatan Mijen terdapat 14 Kelurahan, yaitu : Cangkiran,
Bubakan, Karangmalang, Polaman, Purwosari, Tambangan,
Jatisari, Mijen, Jatibarang, Kedungpani, Pesantren,
Ngadirgo, Wonolopo dan Wonoplumbon.
39
7). Kecamatan Gunungpati terdapat 16 Kelurahan, yaitu :
Gunungpati, Plalangan, Sumurejo, Pakintelan, Mangunsari,
Patemon, Ngijo, Nongkosawit, Cepoko, Jatirejo, Kandri,
Pongangan, Kalisegoro, Sekaran, Sukorejo dan Sadeng.
8). Kecamatan Banyumanik terdapat 11 Kelurahan, yaitu :
Pudakpayung, Gedawang, Jabungan, Padangsari,
Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Sumurboto,
Srondol Kulon, Tinjomoyo dan Ngesrep.
9). Kecamatan Gajahmungkur terdapat 8 Kelurahan, yaitu :
Sampangan, Bendan Duwur, Karangrejo, Gajahmungkur,
Bendan Ngisor, Petompon, Bendungan dan Lempongsari.
10). Kecamatan Candisari terdapat 7 Kelurahan, yaitu :
Jatingaleh, Karang Anyar Gunung, Jomblang, Candi,
Kaliwiru, Wonotingal dan Tegalsari.
11). Kecamatan Tembalang terdapat 12 Kelurahan, yaitu :
Rowosari, Meteseh, Kramas, Tembalang, Bulusan,
Mangunharjo, Sendangmulyo, Sambiroto, Jangli, Tandang,
Kedungmundu dan Sendangguwo.
12). Kecamatan Pedurungan terdapat 12 Kelurahan, yaitu :
Gemah, Pedurungan Kidul, Plamongansari, Penggaron
Kidul, Pedurungan Lor, Tlogomulyo, Pedurungan Tengah,
Palebon, Kalicari, Tlogosari Kulon, Tlogosari Wetan dan
Muktiharjo Kidul.
13). Kecamatan Genuk terdapat 13 Kelurahan, yaitu :
Muktiharjo Lor, Gebangsari, Genuksari, Bangetayu Kulon,
Bangetayu Wetan, Sembungharjo, Penggaron Lor, Kudu,
Karangroto, Banjardowo, Trimulyo, Terboyo Wetan dan
Terboyo Kulon.
14). Kecamatan Gayamsari terdapat 7 Kelurahan, yaitu :
Pandean Lamper, Gayam Sari, Siwalan, Sambirejo, Sawah
Besar, Kaligawe dan Tambakrejo.
15). Kecamatan Tugu terdapat 7 Kelurahan, yaitu : Jerakah,
Tugurejo, Karanganyar, Randugarut, Mangkang Wetan,
Mangunharjo dan Mangkang Kulon.
40
16). Kecamatan Ngaliyan terdapat 10 Kelurahan, yaitu :
Podorejo, Wates, Beringin, Ngaliyan, Bambankerep,
Kalipancur, Purwoyoso, Tambakaji, Gondoriyo dan
Wonosari.
Struktur organisasi dan tata kerja Pemerintah Kota Semarang apabila
digambarkan dalam sebuah bagan adalah sebagai berikut :
Pegawai Negeri Sipil yang bertugas di lingkungan Pemerintah Kota
Semarang secara kuantitatif per 31 Desember 2013 sejumlah 14.745. Apabila
dirinci berdasarkan Jabatan Struktural dan Jabatan Fungsional Khusus,
berdasarkan golongan dan berdasarkan pendidikan adalah sebagai berikut :
41
Jumlah Pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Semarang
NO Jenis Jabatan Jumlah PNS Persentase
(Orang) (%)
(1) (2)
1. Eselon I (3) (4)
- -
2. Eselon II 37 1,82
3. Eselon III 205 10,11
4. Eselon IV 1.730 85,31
2,76
5. Eselon V 56
100,00
Jumlah 2.028
Sumber : BKD Kota Semarang, Tahun 2016
Jumlah PNS Berdasarkan Golongan Di Lingkungan Pemerintah Kota
Semarang
NO Jenis Jabatan Jumlah PNS Persentase
(Orang) (%)
(1) (2)
(3) (4)
1. Golongan I
264 1,83
2. Golongan II 2.546 17,66
3. Golongan III 6.721 46,62
4. Golongan IV 4.886 33,89
Jumlah 14.597 100,00
Sumber : BKD Kota Semarang, Tahun 2016
42
Jumlah PNS Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Lingkungan Pemerintah
Kota Semarang
NO Jenis Jabatan Jumlah PNS Persentase
(Orang) (%)
(1) (2)
(3) (4)
1. S-3
4 0,03
8,13
2. S-2 1.172 56,52
12,35
3. S-1 8.148 18,30
2,94
4. D-1 / D-2 / D-3 1.780 1,74
100,00
5. SLTA 2.638
6. SLTP 424
7. SD 251
Jumlah 14.417
Sumber : BKD Kota Semarang, Tahun 2016
43
G. POTENSI DAERAH
Dengan luas wilayah 373,70 km2, Kota Semarang memiliki potensi
alam yang dapat menjadi modal pembangunan yang berharga. Kota
Semarang memiliki tanah pertanian, perkebunan hutan jati, tambak, bahan-
bahan material untuk bangunan dan lain-lain. Kondisi alam Kota Semarang
yang meliputi unsur tanah daratan, laut, dan udara dari arah Utara, Barat,
Timur, dan Selatan atau sebaliknya. Perpaduan antara laut, dataran rendah
dan perbukitan juga potensi untuk pembangunan dan pengembangan
pariwisata. Kota Semarang memiliki prasarana perhubungan yang lengkap
(darat, laut, udara) dengan jaringan jalan raya ke berbagai jurusan dan
menjadi lintasan utama hubungan darat Jakarta - Surabaya, sehingga
berpotensi sebagai Kota Transit.
Terdapat beberapa kedudukan strategis Kota Semarang yang berakibat
pada perkembangan kota. Sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah, Kota
Semarang salah satu fungsinya adalah sebagai pusat kegiatan regional, baik
pemerintahan maupun perdagangan dan jasa yang semakin lama semakin
kuat. Sebagai Kota Industri, Kota Dagang dan Kota Jasa, investasi yang
ada di Kota Semarang mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar bagi
pembangunan Kota Semarang. Sebagai Kota Pendidikan dan Kota
Budaya, Kota Semarang mampu meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan
dan teknologi serta pelestarian dan pengembangan budaya bangsa. Sebagai
Kota Transit, yang lengkap fasilitasnya dan mampu mendukung dengan
jaringan jalan raya ke berbagai jurusan, prasarana perhubungan yang lengkap
(darat, laut, udara). Sebagai Kota Tujuan Wisata, terdapat beberapa
alternatif potensi wisata yang bisa dikembangkan antara lain : 1) Wisata
Sejarah, 2) Wisata Religi, 3) Wisata Alam, 4) Wisata Tradisi / Budaya 5)
Wisata Kuliner dan 6) Wisata Belanja.
1). Infrastruktur
Untuk menunjang tercapainya visi dan misi Kota Semarang, yang
bertitik tumpu pada pemberian pelayanan prima di semua aspek dan bidang,
sarana dan prasarana kota telah tersedia dan representatif. Sebagai bagian
44
dari pemberian pelayanan itu pula, Pemerintah Kota Semarang terus
menyelenggarakan pembangunan infrastruktur secara berkesinambungan.
Beberapa sarana dan prasarana yang tersedia di Kota Semarang ini antara lain
Jalan
Infrastruktur jalan merupakan salah satu prioritas pembangunan di
Kota Semarang. Pada tahun 2015, sebagian besar jalan dalam kondisi
baik dan sedang, sedangkan jalan yang rusak sepanjang 14,01 KM atau
1,94 %. Kondisi jalan Kota Semarang secara lebih detail dapat dilihat
pada tabel berikut ini :
45
Profil Kondisi Jalan Kota Semarang Tahun 2015
Kondisi Jalan
No Kecamatan Panjang Baik Sedang Rusak
Jalan (m)
(1) (2) (4) (5) (6)
1. BANYUMANIK (3) 26,75 11,73 0,00
2. CANDISARI 38,48 19,15 1,38 0,00
3. GAJAH MUNGKUR 20,53 22,14 13,55 0,00
4. GAYAMSARI 35,69 16,56 6,77 0,00
5. GENUK 23,33 23,96 21,95 1,62
6. GUNUNGPATI 47,53 32,13 44,25 2,22
7. MIJEN 78,59 48,67 69,58 3,97
8. NGALIYAN 24,87 20,99 1,43
9. PEDURUNGAN 122,22 22,87 10,23 0,00
10. SMG BARAT 47,28 33,25 12,40 0,55
11. SMG SELATAN 33,10 20,91 4,47 0,00
12. SMG TENGAH 46,20 30,58 34,92 2,13
13. SMG TIMUR 25,38 0,00 17,93 1,08
14. SMG UTARA 67,62 2,84 17,11 0,53
15. TEMBALANG 19,00 46,73 12,21 0,50
16. TUGU 20,48 7,97 29,72 0,00
59,44
37,69
Total (km) 722,55 379,37 329,18 14,01
Panjang
Jalan
Sumber : Dinas Bina Marga Kota Semarang
46