E-Modul PBL-RWA
(Problem Based Learning
Berbasis Real World Application)
Untuk kelas VIII SMP/MTs
Penulis :
Aninda Ayu Kartina, S.Pd
Prof. Dr. Suciati, M.Pd
Dr. Harlita, S.Si, M.Si
Untuk
Siswa
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN SAINS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2021
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
ZAT ADITIF DAN ZAT ADIKTIF
E-Modul Problem Based Learning
Berbasis Real World Application
ii
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Halaman Francis
Penulis
Aninda Ayu Kartina, S.Pd
Prof. Dr. Suciati, M.Pd
Dr. Harlita, S.Si., M.Si
Validator
Ahli Materi
Dr. Endang Susilowati, S.Si, M.Si
Ahli Instrumen Pembelajaran
Dr. Sarwanto, S.Pd, M.Si
Ahli Media Pembelajaran
Dr. Mohammad Masykuri, M.Si
Ahli Bahasa
Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum
Desain dan ilustrasi E-Modul : Aninda Ayu Kartina, S.Pd
Sumber gambar cover E-Modul :
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.klipartz.com%2Fen%2Fsticker-png-
ogoqp&psig=AOvVaw1XP33QBEcsltf8x5x7eYBU&ust=1613743360758000&source=images&cd=v
fe&ved=0CAMQjB1qFwoTCMjtlsXM8-4CFQAAAAAdAAAAABAJ
iii
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Kata pengantar
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya
sehingga penyusun dapat menyelesaikan e-modul untuk SMP/MTs kelas VIII
materi Zat Aditif Makanan Dan Zat Adiktif.
E-Modul ini disusun berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 22 Tahun 2006 dan kurikulum 2013 yang menyisyaratkan bahwa bahwa isi
mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) pada tingkat SMP/MTs merupakan
IPA terpadu. Sesuai dengan konsep Kurikulum 2013, buku ini disusun mengacu
pada pembelajaran IPA secara terpadu dan utuh, sehingga setiap pengetahuan
yang diajarkan, pembelajarannya harus dilanjutkan sampai membuat siswa
terampil dalam menyajikan pengetahuan yang dikuasainya secara konkret dan
abstrak, dan bersikap sebagai makhluk yang mensyukuri anugerah alam semesta
yang dikaruniakan kepadanya melalui pemanfaatan yang bertanggungjawab.
E-Modul ini menggunakan model Problem Based Learning sesuai dengan
pendekatan yang digunakan dalam Kurikulum 2013 yaitu pendekatan saintifik. E-
Modul ini dikembangkan secara khusus untuk menstimulasi kemampuan berpikir
kreatif melalui langkah pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Siswa didorong
untuk menggali informasi sendiri dari masalah yang ada untuk dapat
menyelesaikannya dengan solusi yang didapat berdasarkan eksperimen yang
dilakukan dan hasil pemikiran kreatif siswa, Siswa diberanikan untuk mencari
sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru
sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap siswa dengan
ketersediaan kegiatan pada buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi
dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari
lingkungan sosial dan alam. Setelah mempelajari e-modul ini, siswa diharapkan
dapat menemukan manfaat dari materi yang telah dipelajari tentang zat aditif
makanan dan zat adiktif, sehingga siswa dapat terampil dalam memecahkan
permasalah yang terjadi dilingkungan nyata.
Penyusun menyadari sepenuhnya, e-modul ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun
harapkan. Penyusun berharap semoga e-modul ini dapat memberikan manfaat
bagi pengguna.
Januari, 2020
Penyusun
iv
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Daftar Isi
Halaman Francis .......................................................................................... iii
Kata pengantar ........................................................................................... iv
Daftar Isi ..................................................................................................... v
Gambaran Isi E-Modul ............................................................................... vii
Sintaks Model Problem Based Learning .................................................... x
A. Kompetensi Inti ...................................................................................... xi
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi ............... xi
PETA KONSEP MATERI ............................................................................. xiv
Zat Aditif Pewarna ............................................................................... 1
Orientasi Masalah .................................................................................... 2
Pengorganisasian kelas........................................................................... 2
Penyelidikan individu/ kelompok ........................................................... 4
Pengembangan & penyajian hasil karya ................................................ 7
Analisis & evaluasi pemecahan masalah ................................................ 7
Aplikasi di Dunia Nyata (Real World Application) .................................. 8
Uraian Materi .......................................................................................... 10
Soal Evaluasi ........................................................................................... 15
Zat Aditif Pengawet .......................................................................... 17
Orientasi Masalah ................................................................................ 18
Pengorganisasian kelas ...................................................................... 18
Penyelidikan individu/ kelompok ....................................................... 20
v
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Pengembangan & penyajian hasil karya ......................................... 23
Analisis & evaluasi pemecahan masalah ........................................ 23
Aplikasi di Dunia Nyata (Real World Application) .......................... 24
Uraian Materi ......................................................................................... 26
Soal Evaluasi ........................................................................................... 31
Zat Adiktif .............................................................................................. 33
Orientasi Masalah .................................................................................. 34
Pengorganisasian kelas......................................................................... 34
Penyelidikan individu/ kelompok ......................................................... 36
Pengembangan & penyajian hasil karya .............................................. 38
Analisis & evaluasi pemecahan masalah .............................................. 38
Aplikasi di Dunia Nyata (Real World Application) ................................ 39
Uraian Materi ......................................................................................... 42
Soal Evaluasi .......................................................................................... 49
vi
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Gambaran Isi E-Modul
Sampul sub bab
Berisi judul sub bab sekaligus tema utama
Tujuan pembelajaran
Berisi tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh
siswa setelah mempelajarai sub bab tersebut.
Orientasi masalah
Merupakan sintaks pertama dalam PBL (Problem
Based Learning) dimana Siswa didorong untuk
mencari informasi untuk menyelidiki masalah yang
disediakan dalam gambar
Pengorganisasian kelas
Merupakan sintaks kedua dalam PBL (Problem Based
Learning) dimana Siswa mendefinisikan dan
mempelajari masalah tersebut dengan membuat
rumusan masalah dan hipotesis
vii
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Penyelidikan individu/ kelompok
Merupakan sintaks ketiga dalam PBL (Problem
Based Learning) dimana Siswa melakukan
penyelidikan secara mandiri dan kelompok dengan
mencari informasi yang sesuai, melakukan
eksperimen, mencari penjelasan dan solusi.
Pengembangan dan penyajian hasil karya
Merupakan sintaks keempat dalam PBL (Problem
Based Learning) dimana Siswa mengembangkan
hasil karya berupa sebuah poster
Analisis dan evaluasi pemecahan masalah
Merupakan sintaks keempat dalam PBL (Problem
Based Learning) dimana Siswa memikirkan kembali
hasil penyelidikan mereka dengan menjawab
pertanyan yang berkaitan dengan masalah sebagai
evaluasi
Aplikasi di dunia nyata (Real World Application)
Berisi artikel/ berita terkait sub materi sehingga siswa
dapat mengaitkan dan mengaplikasikan materi dalam
dunia nyata
viii
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Uraian materi
Memuat ringkasan materi dalam pembelajaran
Soal Evaluasi
Memuat pertanyaan berbentuk essay sebagai
evaluasi siswa pada pokok bahasan ini
Rangkuman
Memuat rangkuman materi dari semua pokok
bahasan
Soal Evaluasi Akhir
Memuat pertanyaan berbentuk essay sebagai
evaluasi siswa pada semua pokok bahasan
Glosarium
Memuat daftar- datar istilah penting dalam modul
berserta penjelasannya
Daftar Pustaka
Memuat sumber-sumber rujukan yang digunakan
penulis dalam menulis e-modul
ix
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Sintaks Model Problem Based Learning
Siswa didorong untuk mencari
Orientasi siswa pada informasi untuk menyelidiki
masalah masalah yang disediakan
dalam gambar
Siswa mendefinisikan dan
mempelajari masalah tersebut
Pengorganisasian Siswa dengan membuat rumusan
masalah dan hipotesis.
Siswa melakukan
penyelidikan secara mandiri
dan kelompok dengan
Penyelidikan individu mencari informasi yang
atau kelompok sesuai, melakukan
eksperimen, mencari
penjelasan dan solusi.
Pengembangan dan Siswa mengembangkan
Penyajian Hasil Karya sebuah poster
Siswa memimikirkan kembali
Analisis dan Evaluasi hasil penyelidikan mereka
Proses Pemecahan dengan menjawab pertanyan
Masalah yang berkaitan dengan
masalah sebagai evaluasi
x
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
A. Kompetensi Inti
1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,
peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan
pergaulan dan keberadaannya.
3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan
prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan,
mengurai,merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak
(menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai
dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut
pandang/teori
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
No Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
3.6 Menjelaskan 3.6.1. Menganalisis jenis-jenis zat aditif
berbagai zat aditif yang digunakan dalam makanan
dalam makanan dan 3.6.2. Mengkategorikan jenis-jenis zat
minuman, zat adiktif, aditif berdasarkan fungsinya pada
serta dampaknya makanan
terhadap kesehatan 3.6.3. Menganalisis perbedaan bahan
alami dan bahan kimia buatan yang
dapat digunakan sebagai pewarna.
3.6.4. Menganalisis pengaruh zat aditif
pewarna buatan terhadap
3
kesehatan
3.6.5. Menemukan solusi pengganti
pewarna buatan
3.6.6. Menganalisis jenis-jenis zat aditif
yang digunakan dalam makanan
3.6.7. Mengkategorikan jenis-jenis zat
aditif berdasarkan fungsinya pada
makanan
3.6.8. Menganalisis perbedaan bahan
alami dan bahan kimia buatan yang
xi
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
No Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
dapat digunakan sebagai pengawet
3.6.9. Menganalisis pengaruh zat aditif
pengawet buatan terhadap
kesehatan
3.6.10. Menemukan solusi pengganti
pengawet buatan
3.6.11. Menganalisis jenis-jenis zat adiktif
yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari
3.6.12. Menganalisis jenis-jenis zat adiktif
berdasarkan ciri-ciri dan
pengaruhnya terhadap tubuh
3.6.13. Menganalisis pengaruh zat adiktif
terhadap kesehatan
3.6.14. Mengemukakan gagasan upaya
pencegahan penyalahgunaan zat
adiktif
4.6 Menyajikan data, 4.6.1. Mengkreasi rancangan percobaan
informasi, dan tentang perbedaan bahan makanan/
mengusulkan ide minuman yang mengandung bahan
pemecahan masalah pewarna alami dan buatan
untuk menghindari 4.6.2. Mengamati perbedaan bahan
terjadinya makanan/minuman yang
penyalahgunaan zat mengandung bahan pewarna alami
aditif dalam dan buatan berdasarkan perubahan
makanan dan warna pada kain/benang
minuman serta zat 4.6.3. Mempresentasikan hasil penyelidikan
adiktif-psikotropika tentang perbedaan bahan makanan/
minuman yang mengandung bahan
pewarna alami dan buatan
4.6.4. Membuat poster solusi pencegahan
penyalahgunaan zat aditif buatan dan
4
zat adiktif.
4.6.5. Mengkreasi rancangan percobaan
tentang perbedaan bahan makanan/
minuman yang mengandung bahan
pengawet alami dan buatan
4.6.6. Mengamati perbedaan bahan
makanan/minuman yang
mengandung bahan pengawet alami
dan buatan berdasarkan perubahan
warna pada reagen kunyit
4.6.7. Mempresentasikan hasil penyelidikan
tentang perbedaan bahan makanan/
minuman yang mengandung bahan
pengawet alami dan buatan
4.6.8. Membuat poster solusi pencegahan
xii
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
No Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
penyalahgunaan zat pengawet
buatan
4.6.9. Mengkreasikan rancangan
penyelidikan untuk mengetahui jenis-
jenis zat adiktif dan dampaknya
terhadap tubuh
4.6.10. Mengamati perbedaan macam-
macam zat adiktif berdasarkan ciri-
ciri dan dampaknya terhadap tubuh
4.6.11. Mempresentasikan hasil
penyelidikan tentang perbedaan
berbagai jenis zat adiktif beserta
pengaruhnya
4.6.12. Membuat poster upaya pencegahan
penyalahgunaan zat adiktif
xiii
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
PETA KONSEP MATERI
xiv
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
xv
Sumber : saintif.com
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Kegiatan Belajar 1
Zat Aditif Pewarna
Tujuan pembelajaran :
1. Siswa dapat menganalisis jenis-jenis zat aditif yang digunakan dalam
makanan berdasarkan fungsinya melalui penyelidikan secara
langsung dengan teliti
2. Siswa dapat mengevaluasi jenis-jenis zat aditif berdasarkan ciri-ciri
melalui pengamatan secara langsung dengan tepat
3. Siswa dapat menganalisis perbedaan bahan alami dan bahan kimia
buatan yang dapat digunakan sebagai pewarna pada makanan
melalui percobaan tentang perbedaan zat aditif alami dan buatan
secara rinci
4. Siswa dapat menganalisis pengaruh zat aditif buatan terhadap
kesehatan melalui diskusi kelompok secara aktif dan bahasa yang
komunikatif
5. Siswa dapat menemukan solusi pengganti bahan aditif melalui diskusi
kelompok secara aktif dan kreatif
Pernahkah kalian menjumpai minuman bersoda yang berwarna- warni?
Atau makanan dengan beraneka ragam warna? Apakah makanan/ minuman yang
berwarna – warni tersebut lebih menarik perhatian kalian? Tahukah kalian bahwa
makanan/ minuman tersebut bisa jadi mengandung pewarna buatan yang
berbahaya bagi tubuh? lantas, bagaimana cara kita dapat membedakan
makanan/minuman yang mengandung pewarna buatan atau pewarna alami? Mari
kita pelajari!
1
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Orientasi Masalah
Amatilah gambar di bawah ini!
Gambar A
Sumber : mommyasia.com Sumber : globaltv news Sumber : posmetropadang.co.id
Gambar 1.1. Pengaruh zat pewarna bagi tubuh (1) anak sekolah dasar jajan di depan
gerbang sekolah, (2) saus sambal berwarna merah menyala, (3) siswa sekolah dasar
keracunan makanan.
Gambar B
Sumber :dok. pribadi Sumber :dok. pribadi Sumber : brilio.net
Gambar 1.2. Pengaruh zat pewarna bagi tubuh (1) daun pandan, (2) kue tradisional
klepon, (3) anak sekolah dasar tumbuh sehat.
Pengorganisasian kelas
Berdasarkan gambar di atas, buatlah rumusan masalah! ! (boleh lebih
dari satu)
1.………………………………………………………………………………………..
2.………………………………………………………………………………………..
3.………………………………………………………………………………………..
4.……………………………………………………………………………………….
5……………………………………………………………………………….……….
2
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Pilihlah rumusan masalah yang berkaitan dengan kandungan zat
pewarna pada makanan/ minuman!
1. …………………………………………………………………………………………
2. …………………………………………………………………………………………
3. …………………………………………………………………………………………
Buatlah hipotesis yang sesuai dengan rumusan masalah yang
telah kalian buat!
1. …………………………………………………………………………………………
2. …………………………………………………………………………………………
3. …………………………………………………………………………………………
3
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Penyelidikan individu/ kelompok
Untuk membuktikan hipotesis yang telah kalian buat, kalian perlu melakukan
penyelidikan. Sebelum itu, terlebih dahulu marilah kita merancang
percobaan yang berkaitan dengan zat pewarna makanan dengan petunjuk
sebagai berikut!
Uji Kandungan Zat Pewarna Alami dan Buatan pada Makanan dan Minuman
a. Tujuan
- Mengetahui perbedaan ciri-ciri zat pewarna alami dan buatan pada
makanan atau minuman
Susunan rancangan alat dan bahan untuk percobaan zat pewarna pada
makanan/minuman
Sumber :dokumen pribadi
Gambar 1.3 Susunan rancangan alat dan bahan untuk percobaan zat pewarna
pada makanan/minuman
Berdasarkan gambar di atas, tulislah alat dan bahan yang diperlukan untuk
percobaan uji kandungan zat pewarna pada makanan/ minuman!
ALAT & BAHAN
1. ……………………………………
2. ……………………………………
3. ……………………………………
4. ……………………………………
5. ……………………………………
6. ……………………………………
4
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
7. ……………………………………
8. ……………………………………
9. ……………………………………
10. ……………………………………
Berdasarkan gambar rancangan alat dan bahan untuk percobaan zat
pewarna pada makanan/minuman, tulislah susunan cara kerja percobaan
kandungan zat pewarna pada makanan/minuman yang urut dan sesuai!
Cara Kerja :
1. …………………………………………………………………………………………………………
2. …………………………………………………………………………………………………………
3. …………………………………………………………………………………………………………
4. …………………………………………………………………………………………………………
dst.
Link video percobaan zat pewarna :
https://drive.google.com/file/d/1hcfJYTpZjIJm5p71g56vlzS_ul-H0ueq/view?usp=drivesdk
Setelah mengamati percobaan, tuliskanlah hasil yang kalian dapat pada
tabel di bawah ini!
Tabel 1.1 Hasil percobaan menyelidiki pewarna alami dan buatan pada makanan
dan minuman
No Jenis Bahan Warna Benang Wol Warna Benang Wol
Sebelum Dicuci Setelah Dicuci
1. Saus Tomat
2. Jus Mangga
Pertanyaan
1. Bagaimana perbedaan hasil pada benang wol yang dicelupkan pada ketiga
bahan makanan/ minuman yang diuji?
2. Mengapa benang wol yang direbus dengan salah satu bahan makanan/
minuman yang diuji ketika dicuci warna yang terserap tidak dapat hilang?
3. Apa saja jenis zat aditif yang terkandung dalam makanan yang telah kalian
teliti?
5
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Jawaban :
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
………………………………………………..…………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
…………………..………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………..……
……………………………………………………………………………
Kesimpulan :
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
………………………………………………..……………………………
……………………………………………………………………………
6
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Pengembangan & penyajian hasil karya
Buatlah sebuah poster yang menarik tentang pencegahan penggunaan zat
pewarna buatan dalam makanan atau pencegahan konsumsi makanan
dengan zat pewarna buatan! Presentasikan!
Analisis & evaluasi pemecahan masalah
Setelah kalian mempelajari zat pewarna dalam makanan Apabila kalian memilih
makanan, bagaimana cara kalian dalam memilih makanan yang sehat?Jelaskan
alasannya! Apa solusi pengganti dari penggunaan zat pewarna buatan?
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
………………………………………………..……………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
………………..……………………………………………………………
7
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Aplikasi di Dunia Nyata (Real World Application)
Penggunaan pewarna tekstil pada makanan membahayakan kesehatan
Sumber: iStockphoto
Gambar 1.4 Ilustrasi pewarna makanan
Dilansir dari Badan POM, Rhodamin B (C 28H 31ClN 2O 3) merupakan
pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan,
tidak berbau dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar.
Rhodamin B merupakan zat warna yang lazim digunakan pada industri tekstil dan
kertas, sebagai pewarna kain, kosmetika, produk pembersih mulut, dan sabun.
Rhodamin B termasuk salah satu pewarna sintetis yang dilarang digunakan
sebagai bahan tambahan pangan. Namun faktanya masih saja ditemukan
makanan dengan bahan pewarna ini. Penggunaan rhodamin B dalam pangan
tentunya berbahaya bagi kesehatan.
Adanya produsen pangan yang masih menggunakan rhodamin B pada
produknya mungkin dapat disebabkan oleh pengetahuan yang tidak memadai
mengenai bahaya penggunaan bahan kimia tersebut pada kesehatan dan juga
karena tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah.Selain itu, rhodamin B
sering digunakan sebagai pewarna makanan karena harganya relatif lebih murah
daripada pewarna sintetis untuk pangan, warna yang dihasilkan lebih menarik dan
tingkat stabilitas warnanya lebih baik daripada pewarna alami.Rhodamin B sering
disalahgunakan pada pembuatan kerupuk, terasi, cabe merah giling, agar-agar,
aromanis/kembang gula, manisan, sosis, sirup, minuman, dan lain-lain.
Sumber: batamnews.co.id
Gambar 1.5 kerupuk dengan warna menyala
8
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Menurut WHO, rhodamin B berbahaya bagi kesehatan manusia karena
sifat kimia dan kandungan logam beratnya. Rhodamin B mengandung senyawa
klorin (Cl). Senyawa klorin merupakan senyawa halogen yang berbahaya dan
reaktif. Jika tertelan, maka senyawa ini akan berusaha mencapai kestabilan
dalam tubuh dengan cara mengikat senyawa lain dalam tubuh, hal inilah yang
bersifat racun bagi tubuh. Selain itu, rhodamin B juga memiliki senyawa
pengalkilasi (CH 3-CH 3) yang bersifat radikal sehingga dapat memengaruhi
protein, lemak, dan DNA dalam tubuh. Konsumsi rhodamin B dalam jangka
panjang dapat terakumulasi di dalam tubuh dan dapat menyebabkan gejala
pembesaran hati dan ginjal, gangguan fungsi hati, kerusakan hati, gangguan
fisiologis tubuh, atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati. Dilansir
dari Badan POM, pada umumnya bahaya akibat pengonsumsian rhodamin B
akan muncul jika zat warna ini dikonsumsi dalam jangka panjang. Tetapi, perlu
diketahui pula bahwa rhodamin B juga dapat menimbulkan efek akut jika tertelan
sebanyak 500 mg/kg BB, yang merupakan dosis toksiknya. Efek toksik yang
mungkin terjadi adalah iritasi saluran cerna.
Agar lebih waspada, penting untuk mengetahui ciri makanan dan minuman
dengan pewarna berbahaya. Tanda makanan dan minuman dengan pewarna
berbahaya dapat dilihat dengan ciri-ciri:
1. Warna makanan atau minuman terlihat cerah mengkilap dan lebih mencolok
serta cenderung berpendar.
2. Terkadang warna terlihat tidak homogen atau rata. bila dilihat dengan teliti akan
terlihat gumpalan warna pada makanan atau minuman.
3. Bila dikonsumsi, makanan atau minuman akan terasa lebih pahit.
4. Tenggorokan terasa gatal atau tidak nyaman usai mengonsumsi makanan
dengan pewarna tersebut.
5. Biasanya produk pangan yang mengandung rhodamin B tidak mencantumkan
kode, label, merek, atau identitas lengkap lainnya. Namun, ada beberapa oknum
yang mencoba memalsukan kode produk dari BPOM. Untuk mengetahui
kebenaran suatu izin produk, Anda dapat mengeceknya melalui laman
cekbpom.pom.go.id.
Sumber :
https://hot.liputan6.com/read/3979846/ciri-makanan-menggunakan-pewarna-
tekstil-waspada-bahayanya
9
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Uraian Materi
A. Zat Pewarna
Pewarna (Colour) adalah bahan tambahan pangan berupa pewarna alami
dan pewarna sintetis, yang ketika ditambahkan atau diaplikasikan pada pangan
mampu memberi atau memperbaiki warna. Meskipun nilai gizi merupakan faktor
yang amat penting, dalam kenyataannya daya tarik suatu jenis makanan lebih
dipengaruhi oleh penampakan, bau dan rasanya. Sebelum mengetahui bau dan
rasa, manusia akan menilai makanan berdasarkan warnanya.
Pewarna makanan pada umumnya digunakan dengan tujuan-tujuan sebagai
berikut:
a. Memperbaiki penampakan dari makanan yang warnanya memudar akibat
proses termal atau yang warnanya diperkirakan akan menjadi pudar selama
penyimpanan, misalnya sayuran.
b. Memperoleh warna yang seragam pada komoditi yang warna alamiahnya
tidak seragam. Dengan penambahan pewarna diharapkan penampakan
produk tersebut akan lebih seragam dengan demikian penerimaan produk
tersebut oleh konsumen juga akan lebih mantap. Contoh : pewarnaan kulit
jeruk.
c. Memperoleh warna yang lebih tua dari aslinya. Misalnya pada produk-produk
seperti minuman ringan dan yogurt yagn diberi tambahan flavor tertentu
konsumen seringkali mengasosiasikan flavor tersebut dengan suatu warna
yang khas.
d. Melindungi zat-zat flavor dan vitamin-vitamin yang peka terhadap cahaya
selama penyimpanan. Dalam hal ini pewarna tersebut berfungsi sebagai
penyaring cahaya/tirai yang menghambat masuknya cahaya.
e. Memperoleh penampakan yang lebih menarik dari bahan aslinya, misalnya
pewarnaan agar-agar.
f. Untuk identifikasi produk, misalnya margarin berwarna kuning.
g. Sebagai indikator visual untuk kulitas. Sehubungan dengan ini pewarna juga
dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses pengolahan, penyimpanan
dan pengawasan kualitas.
Zat pewarna berdasarkan sumbernya dibedakan menjadi dua golongan yaitu
pewarna alami dan pewarna sintetis.
10
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
1. Pewarna Alami
Sumber : dokumen pribadi sumber: mesincoklat.wordpress.com
(a) (b) (c)
Gambar 1.6 Pewarna alami dari (a) kunyit, (b) daun pandan, dan (c) biji coklat.
Pewarna alami adalah zat warna yang berasal dari ekstrak tumbuhan (seperti
bagian daun, bunga, biji), hewan dan mineral lainnya. Zat warna ini telah sejak
dahulu digunakan untuk pewarna makanan dan sampai sekarang umumnya
penggunaannya dianggap lebih aman daripada zat warna sintetis.
Banyak sekali bahan-bahan di sekitarmu yang dapat dipakai sebagai pewarna
alami. Daun suji dan daun pandan dipakai sebagai pewarna hijau pada makanan.
Selain memberi warna hijau, daun pandan juga memberi aroma harum pada
makanan. Kakao sering digunakan untuk memberikan warna cokelat pada
makanan. Pewarna alami mempunyai keunggulan, yaitu umumnya lebih sehat
untuk dikonsumsi daripada pewarna buatan. Namun, pewarna makanan alami
memiliki beberapa kelemahan, yaitu cenderung memberikan rasa dan aroma khas
yang tidak diinginkan, warnanya mudah rusak karena pemanasan, warnanya
kurang kuat (pucat), dan macam warnanya terbatas.
Tabel 1.2 Contoh-Contoh Bahan Pewarna Alami
Kelompok Warna Sumber
Karamel Coklat Gula dipanaskan
Anthosianin Jingga, Merah,Biru Tanaman
Batalain Kuning-merah Tanaman
Quinon Kuning-hitam Tanaman bakteria lumut
Xanthan Kuning Tanaman
Karotenoid Tanpa kuning- Tanaman/hewan
merah
Klorofil Hijau, coklat Tanaman
Heme Merah, coklat Hewan
Sumber : Tranggono,dkk (1989)
11
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
2. Pewarna Sintetis
Pewarna Sintetis (Synthetic food colour) adalah pewarna yang diperoleh
secara sintesis kimiawi. Bahan pewarna buatan dipilih karena memiliki beberapa
keunggulan dibanding pewarna alami, yaitu harganya murah, praktis dalam
penggunaan, warnanya lebih kuat, macam warnanya lebih banyak, dan warnanya
tidak rusak karena pemanasan.
Penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur
dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan
tambahan pangan. Selain itu penggunaan zat pewarna tersebut juga dibatasi
jumlahnya disesuaikan dengan jumlah maksimum bahan tambahan pangan dalam
miligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari selama
hidup tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan. Atau yang disebut
asupan harian yang dapat diterima atau Acceptable Daily Intake, yang selanjutnya
disingkat ADI.
Tabel.1.3 Kelas-kelas zat warna sintetis yang diizinkan untuk digunakan
No Nama Warna
Azo
1 Tartrazin Kuning
2 Sunset Yellow FCF Oranye
3 Allura Red AC Merah (Kekuningan)
4 Ponceau 4R Merah
5 Red 2G Merah
6 Azorubine Merah
7 Fast Red E Merah
8 Amaranth Merah (Kebiruan)
9 Brilliant Black BN Ungu
10 Brown FK Kuning Coklat
11 Brown HT Coklat
Triarylmethane
12 Brilliant Blue FCF Biru
13 Patent Blue V Biru
14 Green 5 Biru Kehijauan
15 Fast Green Fcf Hijau
Quinoline
12
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
16 Quinoline Yellow Kuning Kehijauan
Xanthone
17 Erythrosine Merah
Indigoid
18 Indigotine Biru Kemerahan
Sumber : Tranggono,dkk (1989)
Sumber : arranirykimia.blogspot.com
Gambar 1.7 Pewarna sintetis (a) Metanyll Yellow dan (b) Rhodamin b
Beberapa pewarna terlarang dan berbahaya yang sering ditemukan pada
pangan, terutama pangan jajanan, adalah Metanil Yellow (kuning metanil) yang
berwarna kuning, dan Rhodamin B yang berwarna merah. Bahan pewarna kuning
dan merah tersebut sering digunakan dalam berbagai macam pangan seperti
sirup, kue-kue, agar, tahu, pisang, tahu goreng, dan lain-lain. Kedua pewarna ini
telah dibuktikan menyebabkan kanker yang gejalanya tidak dapat terlihat langsung
setelah mengkonsumsi. Oleh karena itu dilarang digunakan dalam pangan
walaupun jumlahnya sedikit. Selain kedua zat pewarna yang telah disebutkan
masih terdapat beberapa zat pewarna lain yang dilarang untuk digunakan yang
diantaranya :
Tabel 1.4 Zat Pewarna yang Dilarang untuk Digunakan (Tranggono,dkk (1989)
Pewarna Yang Tidak Diijinkan Untuk Digunakan
Auramine Fast Yellow AB Orange G
Orange RN Black 7984 Magenta
Methanyl Yellow Ponceau SX Chrysoine
Chocolate Brown Oil Yellow AB Sudan 1
FB
Alkanet Guinea Green B Orange GGN
Orchil And Orcein Burn Umber Violet 6 B
Oil Orange SS Ponceau 6R Citrus Red No.2
13
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Fast Red E Oil Yellow OB Butter Yellow
Indathrene Blue RS Ponceau 3 R Chrysoidine
Alternatif lain untuk menggantikan penggunaan pewarna sintesis adalah
dengan menggunakan pewarna alami seperti ekstrak daun pandan atau daun suji,
kunyit dan ekstrak buah-buahan yang pada umumnya lebih aman. Penggunaan
bahan pewarna alami juga ada batasnya sesuai dengan peraturan yang telah
ditetapkan.
Berdasarkan sifat kelarutannya, zat pewarna makanan dikelompokkan
menjadi dye dan lake. Dye merupakan zat pewarna makanan yang umumnya
bersifat larut dalam air. Dye biasanya dijual di pasaran dalam bentuk serbuk,
butiran, pasta atau cairan. Lake merupakan gabungan antara zat warna dye dan
basa yang dilapisi oleh suatu zat tertentu. Karena sifatnya yang tidak larut dalam
air maka zat warna kelompok ini cocok untuk mewarnai produk-produk yang tidak
boleh terkena air atau produk yang mengandung lemak dan minyak.
Berdasarkan penjelasan diatas terlihat beberapa perbedaan antara
pewarna alami dan buatan. Perbedaan keduanya dapat dilihat pada tabel 1.5.
Tabel 1.5 Perbedaan pewarna alami dan buatan
Pewarna Alami Pewarna Buatan
Lebih aman dikonsumi Kadang-kadang memiliki efek
negatif tertentu
Warna yang dihasilkan kurang Dapat mengembalikan warna asli,
stabil dan mudah berubah oleh kestabilan warna lebih tinggi
pengaruh tertentu sehingga tahan lama
Diperlukan bahan pewarna Praktis dan ekonomis
dalam
jumlah banyak. Warna yang dihasilkan lebih
Keanekaragaman warnanya
terbatas beraneka ragam
Kadang-kadang memberi rasa Biasanya tidak menghasilkan rasa
dan dan aroma yang mengganggu.
aroma yang agak mengganggu.
14
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Soal Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas dan tepat!
1. Getuk lindri merupakan kue tradisional jawa
yang banyak terdapat di pasar-pasar
tradisional maupun toko kue di perkotaan.
Gethuk lindri merupakan makanan yang
terbuat dari bahan utama singkong yang
ditambahkan dengan bahan tambahan
makanan. Gethuk lindri biasanya dibuat
dengan berwarna-warni, misalnya merah,
hijau, kuning, coklat dan sebagainya agar Sumber : dok. pribadi
terlihat menarik. Zat aditif atau bahan
tambahan pangan apa yang mungkin
ditambahkan pada gethuk lindri tersebut?
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
2 Beberapa macam zat pewarna dilakukan pengujian untuk menyeldiki zat
pewarna tersebut termasuk ke dalam zat pewarna alami atau buatan. Zat
pewarna ditetesi larutan sabun cuci piring.
Jenis pewarna Sebelum ditetesi Setelah ditetesi
sabun sabun
tartazine Kuning Kuning
Amaranth Merah Merah
x Hijau Hijau pekat
y Kuning Kuning
kecoklatan
Berdasarkan hasil uji diatas, evaluasilah jenis pewarna tersebut termasuk ke
dalam zat pewarna alami atau buatan!
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
15
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
3.
Hasil Pengamatan
Adonan
Sebelum Dikukus Setelah Dikukus
a Adonan A hijau hijau muda
b Adonan B merah Merah
c Adonan C oranye oranye
d Adonan D kuning kuning muda
Berdasarkan uji makanan diatas,analisislah makanan yang mengandung
pewarna sintetik dan pewarna alami? jelaskan alasannya!
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
4. Bu Siti mengajak Rani anaknya untuk belanja ke pasar. Rani merengek
meminta dibelikan kue yang warnanya merah menyala tetapi Bu Siti
menolaknya. Jelaskan kemungkinan alasan Bu Siti menolak permintaan
anaknya!
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
5. Tidak sedikit orang yang membeli suatu jenis makanan hanya karena melihat
warnanya yang menarik. Namun, kita sebagai konsumen tidak mengetahui zat
pewarna yang digunakan dalam makanan/minuman tersebut apakah aman
dan dosis yang digunakan sudah sesuai atau tidak. Menurut kalian,
bagaimana solusi alternatif sebagai pengganti zat pewarna buatan?
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………
16
Sumber :liputan6.com
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Kegiatan Belajar 2
Zat Aditif Pengawet
Tujuan pembelajaran :
1. Siswa dapat menganalisis jenis-jenis zat aditif yang digunakan dalam
makanan berdasarkan fungsinya melalui penyelidikan secara langsung
dengan teliti
2. Siswa dapat menganalisis jenis-jenis zat aditif berdasarkan ciri-ciri
melalui pengamatan secara langsung dengan tepat
3. Siswa dapat menganalisis perbedaan bahan alami dan bahan kimia
buatan yang dapat digunakan sebagai pengawet pada makanan melalui
percobaan tentang perbedaan zat aditif alami dan buatan secara rinci
4. Siswa dapat menganalisis pengaruh zat pengawet buatan terhadap
kesehatan melalui diskusi kelompok secara aktif dan bahasa yang
komunikatif
5. Siswa dapat menemukan solusi pengganti zat pengawet buatan melalui
diskusi kelompok secara aktif dan kreatif
Apakah kalian sering mengkonsumsi makanan kalengan? apa yang membuat
makanan kalengan dapat awet meskipun disimpan dalam waktu yang lama?
Makanan dapat awet disimpan dalam waktu lama karena adanya zat pengawet.
Produk makanan atau minuman tersebut biasanya mencantumkan tanggal
kadaluarsa, tanggal kadaluarsa tersebut menunjukkan sampai kapan makanan
atau minuman tersebut dapat dikonsumsi tanpa membahayakan kesehatan.
Namun, konsumsi pengawet buatan secara berlebihan dapat berefek pada
kesehatan. Terlebih jika zat pengawet tersebut merupakan zat yang dilarang untuk
digunakan pada makanan. Lalu, bagaimana cara kita dapat membedakan
makanan yang mengandung pengawet buatan yang berbahaya atau tidak? Mari
kita cari tahu!
17
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Orientasi Masalah
Amatilah gambar dibawah ini!
Sumber: dokumen pribadi Sumber : hellosehat.com
Gambar 2.1 Pengaruh zat pengawet bagi tubuh (1) Mi instan, (2) seorang anak
yang mengalami sakit perut
Sumber : sahabatnestle.co.id Sumber : tipsanakcerdas.com
Gambar 2.2 Pengaruh zat pewarna bagi tubuh (1) Manisan buah alami, (2) anak
yang tumbuh sehat
Pengorganisasian kelas
Berdasarkan gambar di atas, buatlah rumusan masalah yang sesuai! (boleh
lebih dari satu)
1. …………………………………………………………………………………………
2. …………………………………………………………………………………………
3. …………………………………………………………………………………………
4. …………………………………………………………………………………………
5. …………………………………………………………………………………………
18
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Pilihlah rumusan masalah yang berkaitan dengan kandungan zat
pengawet pada makanan/ minuman!
1. …………………………………………………………………………………………
2. …………………………………………………………………………………………
3. …………………………………………………………………………………………
Buatlah hipotesis yang sesuai dengan rumusan masalah yang
telah kalian buat!
1. …………………………………………………………………………………………
2. …………………………………………………………………………………………
3. …………………………………………………………………………………………
19
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Penyelidikan individu/ kelompok
Untuk membuktikan hipotesis yang telah kalian buat, kalian perlu melakukan
penyelidikan. Sebelum itu, terlebih dahulu marilah kita merancang
percobaan yang berkaitan dengan zat pengawet makanan dengan petunjuk
sebagai berikut!
Uji Kandungan Boraks pada Makanan
a. Tujuan
- Mengetahui perbedaan ciri-ciri zat pengawet alami dan buatan pada
makanan atau minuman
Susunan rancangan alat dan bahan untuk percobaan zat pengawet pada
makanan/minuman
Bakso tanpa pengawet
Bakso dengan pengawet
Sumber : dok. pribadi
Gambar 2.3 Susunan rancangan alat dan bahan untuk percobaan zat pengawet pada
makanan/minuman
Berdasarkan gambar di atas, tulislah alat dan bahan yang diperlukan untuk
percobaan uji kandungan zat pengawet pada makanan/ minuman!
ALAT & BAHAN
1. ……………………………………
2. ……………………………………
3. ……………………………………
4. ……………………………………
5. ……………………………………
dst.
20
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Berdasarkan gambar rancangan alat dan bahan untuk percobaan zat
pengawet pada makanan/minuman, tulislah susunan cara kerja percobaan
kandungan zat pengawet pada makanan/minuman yang urut dan sesuai!
Cara Kerja :
1. ………………………………………………………………………………………………………
2. ………………………………………………………………………………………………………
3. ………………………………………………………………………………………………………
4. …………………………………………………………………………………………………………
5. …………………………………………………………………………………………………………
dst.
Link video percobaan zat pengawet :
https://drive.google.com/file/d/1Np69phnp3NWK-U4RcHoFRQhEs9P_CJjO/view?usp=drivesdk
Setelah mengamati percobaan, tuliskanlah hasil yang kalian dapat pada
tabel di bawah ini!
Tabel 2.1 Hasil percobaan menyelidiki pengawet alami dan buatan pada makanan
dan minuman
Peubahan Warna Kunyit pada
No Jenis Bahan Tusuk Gigi
Sebelum Sesudah
1. Bakso tanpa pengawet
2. Bakso berpengawet
Pertanyaan :
1. Bagaimana perbedaan hasil pada tusuk gigi yang ditusukkan pada bahan
makanan/ minuman yang diuji?
2. Mengapa tusuk gigi yang ditusukkan pada bahan makanan yang diuji
memiliki perbedaan hasil?
3. Apa saja jenis zat aditif yang terkandung dalam makanan yang telah kalian
teliti?
21
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Jawaban :
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
…………………………………………..…………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
……..………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
Kesimpulan :
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
…………………………………………..…………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
22
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Pengembangan & penyajian hasil karya
Buatlah sebuah poster yang menarik tentang pencegahan penggunaan zat
pengawet buatan dalam makanan atau pencegahan konsumsi makanan
dengan zat pengawet buatan! Presentasikan!
Analisis & evaluasi pemecahan masalah
Akhir-akhir ini banyak pemberitaan mengenai sidak BPOM terhadap
penggunaan boraks dan formalin pada makanan. Berdasarkan penemuan di
lapangan boraks dan formalin banyak di temukan pada berbagai bahan makanan
seperti; mie basah, bakso, tahu, dan lain-lain. Menurut kalian, mengapa
penggunaan boraks dan formalin dilarang? Apa solusi pengganti dari boraks dan
formalin sebagai pengawet makanan tetapi yang bersifat alami dan tidak
berbahaya bagi kesehatan? Jelaskan!
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
………………………………………………..……………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
23
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Aplikasi di Dunia Nyata (Real World Application)
Efek Penggunaan Boraks pada Makanan dan Slime terhadap Kesehatan
Sumber : Grid.id Sumber: motherandbaby.id
Gambar 2.4 efek penggunaan slime yang mengandung boraks pada tubuh (1)
slime yang mengandung boraks (2) tangan yang terbakar karena
bermain slime
Sebuah kasus yang terjadi di Massachusets, Amerika Serikat seorang
anak mengalami luka bakar ditangannya saat bermain slime. Setelah melalui
pemeriksaan dokter, hasilnya menunjukkan bahwa tangan anak tersebut
mengalami luka bakar akibat bahan kimia boraks yang ada di dalamnya. Boraks
atau yang juga disebut tetrasodium borate (Na 2B 4O 7∙10H 2O) akan memberikan
tekstur kenyal pada slime. Bahan kimia ini ternyata juga sering dipakai dalam
produk deterjen pencuci pakaian menilik laporan yang diterbitkan The Asian
Parent 2017 silam. Sehingga akan menimbulkan efek panas pada tangan jika
terlalu lama digunakan.
Boraks tidak jarang digunakan sebagai bahan tambahan dalam berbagai
makanan. Hal itu karena boraks dinilai dapat mengawetkan produk, serta dapat
meningkatkan kerenyahan makanan. Di Indonesia, penambahan boraks pada
makanan sudah dilarang. Meski begitu, masih dapat dijumpai makanan yang
mengandung boraks di pasaran. Mulai dari bakso, mie, kerupuk, dan beberapa
jenis jajanan pasar. Boraks dalam dosis tinggi dapat meracuni semua sel-sel
tubuh ketika tertelandan menyebabkan kerusakan usus, hati, ginjal, dan
otak. Ginjal dan hati adalah dua organ yang mengalami kerusakan yang paling
parah akibat mengonsumsi makanan yang mengandung boraks.Dikutip dari
laman Badan POM RI, efek jangka panjang yang akan dialami manusia jika
mengonsumsi makanan mengandung boraks adalah kerusakan hati bahkan
kanker.
Dalam satu penelitian yang dilakukan pada hewan, ilmuan menemukan
bahwa tikus jantan yang diberi zat kimia ini mengalami penyusutan jaringan testis
sementara efeknya pada tikus betina dapat memengaruhi sistem reproduksi yang
menyebabkan gangguan kesuburan. Pada tikus yang sedang hamil, paparan zat
kimia ini dapat masuk ke dalam plasenta yang pada akhirnya mengganggu
perkembangan janin dalam rahim. Bahkan efek zat kimia satu ini juga diketahui
24
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
dapat menyebabkan berat badan lahir rendah pada janin dari induk tikus yang
hamil.
Paparan boraks meski hanya sedikit pada orang yang sensitif mungkin
akan menyebabkan serangkaian gejala. Beberapa gejala yang bisa ditimbulkan
jika seseorang terpapar boraks adalah:
Sakit kepala
Demam
Tidak enak badan (malaise)
Mual atau muntah terus-terusan
Nyeri hebat pada perut bagian atas
Diare Sumber :hellosehat.com
Lemah, lesu, dan tak bertenaga Gambar 2.5 efek konsumsi
Perdarahan di usus atau lambung disertai boraks terhadap tubuh
dengan muntah darah
Dalam kasus yang parah, zat kimia ini bahkan dapat menyebabkan
kematian.
Ada berbagai alasan yang mendorong produsen pangan untuk
menambahkan boraks dalam makanan. Di antaranya, boraks mudah diperoleh di
pasaran, harganya relatif murah, membuat makanan tampak lebih menarik, tidak
langsung menimbulkan efek negatif, dan informasi bahwa boraks merupakan
bahan berbahaya masih relatif terbatas, sementara bahan ini telah digunakan
sejak lama.Makanan yang mengandung boraks dapat dikenali dari ciri-ciri berikut
ini:
Bentuk dan tekstur lebih kenyal dan padat.
Memiliki bau menyengat atau mencurigakan.
Makanan tidak rusak sampai tiga hari, pada suhu kamar sekitar 25 derajat
Celcius
Makanan dapat bertahan lebih dari 15 hari, pada suhu lemari es sekitar 10
derajat Celcius
Konsumen seharusnya berhati-hati dalam memilih produk pangan. Jangan
hanya menilai makanan dari tampilan yang menggugah selera. Ketika membeli
makanan dalam kemasan, bacalah label produk dan pastikan makanan tersebut
telah terdaftar di BPOM. Apabila Anda produsen makanan, hindari mencampurkan
boraks pada produk Anda. Ingatlah bahwa boraks dapat menyebabkan berbagai
gangguan kesehatan yang berbahaya.
Sumber:
https://www.alodokter.com/makanan-mengandung-boraks-ini-efeknya
https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/bahaya-boraks-adalah/
https://www.grid.id/read/04197623/mulai-dari-keracunan-hingga-menyebabkan-
kematian-inilah-akibat-jika-terlalu-sering-bermain-slime?page=all
25
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Uraian Materi
B. Zat Pengawet
Pengawet adalah bahan tambahan makanan yang mencegah atau
mengharnbat fermentasi, pengasaman atau peruraian lain terhadap makanan
yang disebabkan oleh mikroorganisme. Bahan pengawet umumnya digunakan
untuk mengawetkan pangan yang mempunyai sifat mudah rusak. Karena
penambahan zat aditif, berbagai makanan dan minuman masih dapat
dikonsumsi sampai jangka waktu tertentu, mungkin seminggu, sebulan, setahun,
atau bahkan beberapa tahun. Pengawet makanan pada umumnya digunakan
dengan tujuan-tujuan sebagai berikut:
a. mengawetkan bahan pangan selama transportasi dari produsen ke
konsumen
b. memperbaiki penampilan makanan agar tidak mudah hancur
c. mengatasi kekurangan produksi akibat musim
d. menjamin agar kelebihan produksi tidak terbuang
e. memudahkan penanganan dengan berbagai bentuk kemasan
Dalam makanan atau minuman yang dikemas dan dijual di toko-toko atau
supermarket biasanya tercantum tanggal kadaluarsanya, tanggal yang
menunjukkan sampai kapan makanan atau minuman tersebut masih dapat
dikonsumsi tanpa membahayakan kesehatan.
1. Pengawet alami
Pengawetan secara alami dapat berupa pemanasan, pengasapan, pengeringan,
dan pembekuan. Pengawet alami biasanya membutuhkan proses yang lama,
seringkali efek dari pengawetan tidak mampu bertahan lama, dapat mengubah
rasa/warna pada makanan atau minuman. Penggunaan zat pengawet alami lebih
aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek yang berbahaya bagi tubuh apabila
dikonsumsi dalam jangka waktu lama. Zat pengawet alami berasal dari alam,
contohnya gula, garam dan bawang putih.
a. Gula
Gula pasir adalah butiran menyerupai kristal yang merupakan hasil
pemanasan dan pengeringan sari tebu. Bentuk gula pasir yaitu berupa
butiran berwarna putih. Selain dijual dalam bentuk butrian, gula pasir
juga dijual dalam bentuk tepung yang popular dengan sebutan gula
halus.
Fungsi gula pasir biasanya ditambahkan ke dalam makanan dan
minuman untuk memberikan rasa manis. Namun, selain memberikan
rasa manis, gula pasir juga berfungsi sebagai pengawet. Sifat gula sama
dengan garam yang bersifat higroskopis atau menyerap air sehingga sel-
sel bakteri akan dehidrasi dan akhirnya mati.
26
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Gambar 2.6 . Salah satu produk pengawetan dengan gula yaitu manisan
Sumber : hellosehat.com
Penggunaan gula sebagai pengawet, lazim disebut dengan istilah
penggulaan. Penggunaannya bisa ditaburkan atau dicampur dan
dilarutkan dengan bahan makanan atau minuman yang akan diawetkan.
Contoh produk yang diawetkan dengan penggulaan adalah manisan,
selai, dodol, permen, sirup dan jeli.
b. Garam
Garam dapur adalah senyawa kimia Natrium Chlorida (NaCl). Garam
dapur merupakan bumbu utama setiap masakan yang berfungsi
memberikan rasa asin. Selain meningkatkan cita rasa garam juga
berfungsi sebagai pengawet. Sama halnya seperti gula, garam juga
bersifat higroskopis atau menyerap air, sehingga adanya garam akan
menyebabkan sel-sel mikroorganisme mati karena dehidrasi.
Cara penggunaannya sederhana,
hanya menambahkan gram dalam jumlah
tinggi ke dalam bahan pangan yang akan
diawetkan. Pengaraman biasa dilakukan
pada proses pembuatan ikan asin, telur
asin atau asinan sayuran dan buah.
Sumber : m.brilio.net
Gambar 2.7 Proses pengasinan ikan
c. Bawang putih
Bawang purih (Allium sativum)
merupakan bumbu dapur yang yang sangat
efektif digunakan sebagai pengawet. Hal ini
dikarenakan bawang putih mengandung
allicin yang dapat menghambat
pertumbuhan jamur dan bakteri.
Penggunaannya dengan menambahkan Sumber: dok. pribadi
bawang putih ke dalam potongan daging Gambar 2.8 bawang putih
atau ikan dan disimpang di dalam freezer. sebagai zat pengawet alami
27
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
d. Rempah- rempah
(a) (b)
Sumber :dok. pribadi
Gambar 2.9 Rempah-rempah sebagai pengawet alami (a) kayu manis dan (b)biji pala
Bahan makanan selanjutnya yang bermanfaat sebagai pengawet
makanan alami adalah kayu manis. Kayu manis bersifat bakterisida
hingga mampu menghambat tumbuhnya khamir atau kapang pada
makanan dan mencegahnya membusuk atau basi.
Selain kayu manis, para ahli mengungkapkan jika biji pala
mengandung senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri
dan kuman penyebab rusaknya makanan. Sejak zaman dulu, biji pala
digunakan sebagai pengawet alami baik untuk makanan atau bahan-
bahan lainnya. Biji pala bahkan bernilai jual sangat tinggi di zaman dulu
karena manfaatnya yang luar biasa.
e. Kluwak
Kluwak (Pangium edule Reinw) selain sebagai bumbu dan pemberi
warna juga dapat digunakan sebagai pengawet. Kluwak biasanya digunkan
sebagai pengawet ikan segar.
Cara penggunaannya, buah kluwak
dicincang halus, dikeringkan kemudian
dimasukkan ke dalam perut ikan yang telah
dibersihkan isi perutnya. Biasanya pengawetan
ikan segar dengan kluwak dilakukan oleh Sumber: dok. pribadi
nelayan di daerah Banten. Nelayan biasanya Gambar 2.10 buah kluwak
mengawetkan ikan untuk pengiriman jarak jauh. sebagai pengawet alami
2. Pengawet buatan
Pengawet buatan adalah pengawet yang terbuat dari bahan-bahan kimia
yang dapat mengawetkan produk secara kimiawi. Pengawet buatan biasanya
bersifat lebih pekat, lebih murah dan cepat bereaksi, tidak mempengaruhi rasa/
warna pada makanan atau minuman. Penggunaan pengawet buatan membuat
produk (makanan/ minuman) mampu bertahan lebih lama dibandingkan pengawet
alami. Sering terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat
yang berbahaya bagi kesehatan dan kadang bersifat karsinogenik. Pengawet yang
banyak dijual dipasaran dan digunakan untuk mengawetkan berbagai pangan adalah
28
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
benzoat, yang umumnya terdapat dalam natrium benzoat atau kalium benzoat yang
bersifat lebih mudah larut. Benzoat sering digunakan untuk mengawetkan berbagai
pangan dan minuman seperti sari buah, minuman ringan, saus tomat, saus sambal,
jem dan jeli,manisan, kecap dan lain-lain.
a. Pengawet buatan yang diizinkan digunakan pada makanan
Tabel 2.2 Pengawet yang diizinkan digunakan dalam pangan
No Nama Zat Jenis Makanan Batas Maksimum
Pengawet Buatan Penggunaan
1 Asam Benzoat Kecap/makanan 600 mg/kg
ringan
Saus Tomat 1 g/kg
2 Asam Propionat, Keju 3 g/kg
kalsium propionat Roti 2 g/kg
3 Asam Sorbat Keju 3 g/kg
4 Belerang Selai, jeli 100 mg/kg
Dioksida Sari buah 350 mg/kg
sirup 70 mg/kg
sosis 450 mg/kg
5 Kalium benzoat Keju, margarin, selai, 1 g/kg
jeli, sirup, saus tomat,
daging dan ikan
6 Kalium Nitrat, Daging 500 mg/kg
Natrium Nitrat Keju 50 mg/kg
7 Kalium Nitrit/ Daging 125 mg/kg
Natrium Nitrit korned 50 mg/kg
8 Kalium propionat keju 3 g/kg
9 Kalium sorbat Keju, margarin 1 g/kg
10 Kalsium Benzoat Saus tomat, sirup, 1 mg/kg
sari buah
b. Pengawet buatan yang dilarang digunakan pada makanan
Tabel 2.3 Pengawet yang dilarang digunakan dalam pangan
No Nama bahan
1 Asam borat dan senyawanya (Boric acid)
2 Asam salisilat dan garamnya (Salicylic acid and its salt)
3 Dietilpirokarbonat (Diethylpyrocarbonate, DEPC)
4 Dulsin (Dulcin)
5 Formalin (Formaldehyde)
6 Kalium bromat (Potassium bromate)
29
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
7 Kalium klorat (Potassium chlorate)
8 Kloramfenikol (Chloramphenicol)
30
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Soal Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas dan tepat!
Banyak Ikan Asin di Pasar Yogya Terbukti Mengandung Formalin
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ikan asin yang dijual di pasar
tradisional di Kota Yogyakarta terbukti mengandung bahan pengawet berbahaya
yaitu formalin. Bahkan kandungan formalin di ikan asin tersebut terbilang cukup
tinggi. Hal ini terlihat dari hasil pengecekan yang dilakukan Stasiun Karantina Ikan
Pengendalian Mutu (KIPM) Kelas I Yogyakarta di Pasar Beringharjo
Yogyakarta, Jumat (28/4).
Menurut Kepala Sub Seksi Tata Pelayanan KIPM Kelas I Yogyakarta, Maria
Thresia, pihaknya mengambill 20 sampel dari tiga jenis ikan asin yaitu ikan
jambal, teri nasi, dan teri kering. "Semua produk olahan dari tiga jenis ini terbukti
mengandung formalin," ujarnya. Bahkan menurutnya dari uji labolatorium diketahui
kandungan formalin yang terdapat pada tiga produk olahan tersebut mencapai
diatas 100 ppm. Artinya dari satu kilogram olahan perikanan tersebut terdapat
satu miligram kandungan formalin. Dia mengakui, penggunaan formalin sendiri
sudah dilarang dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 33 tahun 2012.
Penggunaan bahan pengawet mayat ini bisa menimbulkan dampak serius pada
kesehatan. Dalam jangka panjang, kata dia, efeknya bisa mengganggu
pencernaan hingga menimbulkan penyakit kanker.
Menurutnya, ikan asin yang tidak mengandung formalin itu sering dikerubuti
lalat. Sedangkan yang mengandung formalin dijauhi lalat. Bau ikan asin yang tidak
berformalin lebih amis. Ikan asin yang diberi formalin kata dia lebih kaku dari ikan
asin tak berformalin. "Belilah yang masih segar dan tidak kaku," katanya. Sebelum
dimasak, ia juga menyarankan agar pembeli mencuci ikan asin terlebih dahulu.
Sebab formalin bisa larut dalam air.
Sumber : https://republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/04/28/op43k9382-
banyak-ikan-asin-di-pasar-yogya-terbukti-mengandung-formalin
1. Dari wacana di atas, Analisislah fungsi dari formalin dalam produk ikan asin!
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
31
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
2. Menurut kalian, sebagai konsumen bagaimana cara yang paling mudah dan
sederhana untuk menganalisis adanya bahan pengawet berbahaya seperti
formalin/boraks berdasarkan ciri-cirinya?
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
..
3. Berdasarkan artikel diatas, analisislah perbedaaan ikan asin yang
menggunakan pengawet alami dan yang menggunakan pengawet buatan!
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
4. Penggunaan formalin sendiri sudah dilarang dengan Peraturan Menteri
Kesehatan nomor 33 tahun 2012. Hal ini dikarenakan penggunaan bahan
pengawet mayat ini bisa menimbulkan dampak serius pada kesehatan.
Analisislah pengaruh penggunaan formalin pada makanan terhadap tubuh!
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
..
5. Bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan dalam wacana di
atas?
…………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
…..
32
Sumber : kumparan.com
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Kegiatan Belajar 3
Zat Adiktif
Tujuan pembelajaran :
1. Siswa dapat menganalisis jenis-jenis zat adiktif berdasarkan
pengaruhnya terhadap tubuh melalui literasi baca tulis dan atau literasi
digital dengan teliti
2. Siswa dapat mengevaluasi jenis-jenis zat aditif berdasarkan ciri-ciri
melalui literasi baca tulis dan atau literasi digital dengan teliti.
3. Siswa dapat menganalisis pengaruh zat adiktif terhadap kesehatan
melalui diskusi kelompok secara aktif dan bahasa yang komunikatif
4. Siswa dapat mengemukakan gagasan upaya pencegahan
penyalahgunaan zat adiktif melalui diskusi kelompok secara aktif dan
kreatif
Adakah diantara keluarga kalian yang setiap pagi atau sore selalu meminum kopi?
Para pecinta kopi biasanya akan merasa ada yang kurang atau bahkan pusing
apabila belum meminum kopi dalam sehari. Berdasarkan beberapa penelitian
menunjukan bahwa kopi mengandung zat yang dapat memberi efek kecanduan.
Kecanduan adalah suatu kondisi ketergantungan secara fisik atau pikiran
terhadap suatu zat adiktif. Berbahayakah bagi tubuh kita? Bagaimana dengan
kecanduan terhadap zat adiktif yang dilarang untuk dikonsumsi, seperti narkotika
dan psikotropika? Apa bedanya dengan zat adiktif yang dikandung dalam kopi?
Bagiamana upaya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan zat adiktif yang
berbahaya seperti narkotika dan psikotropik? Mari kita pelajari bersama!
33
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Orientasi Masalah
Amatilah gambar di bawah ini!
Sumber : liputan6.com Sumber : fajar.co.id Sumber : daerah.sindonews.com
Gambar 3.1. Pengaruh zat adiktif bagi tubuh (1)salah satu jenis zat adiktif yaitu pil
PCC, (2) seorang anak yang tidak dapat mengontrol tubuhnya karena
pengaaruh pil PCC, (3) pengedar pil PCC yang tertangkap polisi.
Sumber : gaya.tempo.co Sumber :hot.grid.id Sumber :pngimg.com
Gambar 3.2. Pengaruh zat adiktif bagi tubuh (1)rokok yang mengandung zat adiktif
berupa nikotin, (2) nikotin dapat menyebabkan peradangan paru-paru
hingga memicu kanker, (3) kemudian dapat menyebabkan kematian
Pengorganisasian kelas
Berdasarkan gambar di atas, buatlah rumusan masalah! (boleh lebih
dari satu)
1. …………………………………………………………………………………………
2. …………………………………………………………………………………………
3. …………………………………………………………………………………………
4. …………………………………………………………………………………………
5. …………………………………………………………………………………………
34
Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
Pilihlah rumusan masalah yang berkaitan dengan zat adiktif!
1. …………………………………………………………………………………………
2. …………………………………………………………………………………………
3. …………………………………………………………………………………………
Buatlah hipotesis yang sesuai dengan rumusan masalah yang
telah kalian buat!
1. …………………………………………………………………………………………
2. …………………………………………………………………………………………
3. …………………………………………………………………………………………
35