The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by aninda ayu, 2022-05-27 05:54:37

E-MODUL PBL-RWA SISWA KLS 8-ANINDA

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Penyelidikan individu/ kelompok


Untuk membuktikan hipotesis yang telah kalian buat, marilah kita
melakukan penyelidikan mengenai jenis-jenis zat adiktif!


a. Tujuan
- Mengetahui jenis-jenis zat adiktif dan dampaknya terhadap tubuh
pengkonsumsi.







v
Sumber: politicspa.com Sumber: adf.org.au Sumber: hellosehat.com Sumber:dok. pribadi
Ganja Opium Heroin Teh








Sumber:healthdetik.com
Sumber: cnnindonesia.com
Sumber: pixabay.com Sumber: hellosehat.com
Kopi Alkohol Sabu-sabu Rokok


Berilah tanda centang (✔) pada tabel di bawah ini dan kelompokkan gambar
-gambar di atas berdasarkan jenis zat adiktif yang sesuai!

Zat Bukan
No Nama Narkotika Psikotropika Narkotika dan
Psikotropika
1
2

3
4
5
6

7
8






36

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Tuliskan pengaruh /dampak masing-masing zat adiktif pada gambar di atas
terhadap tubuh kita!

No Nama Pengaruh
1

2
3

4
5

6
7

8
Pertanyaan :

1. Apa saja yang termasuk ke dalam narkotika, psikotropika dan zat adiktif
lainnya pada gambar di atas?
2. Mengapa beberapa jenis zat adiktif pada gambar dapat dikelompokkan
sebagai narkotika, psikotropika atau zat adiktif lainya?
3. Apa dampak dari penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif
lain?



Jawaban :


……………………………………………………………………………


……………………………………………………………………………

………………………………………………..……………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………



Kesimpulan :

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

………………………………………………..……………………………


……………………………………………………………………………







37

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Pengembangan & penyajian hasil karya


Buatlah sebuah poster yang menarik tentang pencegahan penggunaan
narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya!presentasikan!




























Analisis & evaluasi pemecahan masalah


Narkotika dan psikotropika merupakan obat-obatan yang diharamkan oleh
agama dan dilarang oleh pemerintah. Menurut kalian apa alasan agama dan
pemerintah melarang penggunaan narkotika dan psikotropika tersebut? Jelaskan
apa dampak bagi tubuh kita? Sebutkan upaya apa yang dapat dilakukan untuk
untuk menghindari penyalahgunaan zat tersebut!

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

………………………………………………..…………………………


……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

……………………………………………………………………….……
..……………………………………………………………………….…







38

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Aplikasi di Dunia Nyata (Real World Application)


Efek Kecanduan Pil PCC Menyebabkan Halusinasi hingga
Kematian


Jakarta (2017) - Penggunaan obat PCC (paracetamol, caffeine, dan
carisoprodol) membuat heboh warga Kendari. Beberapa penggunanya ada yang
berhalusinasi, lari ke laut hingga tenggelam. Obat itu juga telah merenggut nyawa
sejumlah orang. Seperti kejadian yang dialami seorang siswa SD berinisial R asal
Kendari yang tewas akibat overdosis PCC. Bocah itu juga mencampur PCC
dengan Somadril dan Tramadol.
Efek mengerikan dari PCC juga dialami Riski (20), warga Kendari, Sulawesi
Tenggara. Ayah Riski, Rauf, mengatakan anaknya diketahui mengonsumsi obat
bersama adiknya. Awalnya Riski berhalusinasi hingga melompat ke got depan
rumah. Korban kakak-adik ini merasa kepanasan, efek dari obat yang
dikonsumsinya. Sang kakak berlari ke arah laut dan menceburkan diri.
Sayangnya, ia tenggelam dan ditemukan sudah tidak bernyawa.
Dari keterangan Menteri Kesehatan Nila Moeloek, obat PCC dapat
menyebabkan beberapa masalah kesehatan. Data Dinas Kesehatan Sulawesi
Tenggara mengatakan saat ini sudah terdapat 60 korban penyalahgunaan obat
PCC yang dirawat di tiga RS. Korban dirawat di RSJ Kendari (46 orang), RS Kota
Kendari (9 orang), dan RS Provinsi Bahteramas (5 orang). Pasien yang dirawat
berusia antara 15-22 tahun mengalami gangguan kepribadian dan gangguan
disorientasi, sebagian datang dalam kondisi delirium setelah menggunakan obat
berbentuk tablet berwarna putih bertulisan 'PCC' dengan kandungan obat belum
diketahui.
dr Hari Nugroho dari Institute Of Mental Health Addiction and Neurosience
(IMAN) mengatakan obat PCC sebenarnya merupakan obat yang bersifat
relaksan atau yang berfungsi untuk melemahkan otot-otot kejang. Jika dikonsumsi
berbutir-butir, efek yang ditimbulkan adalah perasaan 'fly'. PCC sendiri termasuk
obat keras. Obat tersebut tidak bisa dikonsumsi sembarangan dan harus dengan
izin dokter. Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari mengatakan
PCC digunakan sebagai penghilang rasa sakit dan obat sakit jantung. Selain itu,
Arman menegaskan PCC berbeda dengan Flakka, meski efeknya disebut-sebut
hampir mirip, yakni membuat pemakainya berhalusinasi.
PCC merupakan obat yang terdiri dari tiga komponen, yaitu paracetamol,
caffeine, dan carisoprodol yang masing-masing memiliki efek berbeda.














39

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA
















Sumber : wartakota.tribunnews.com
Gambar 3.3 Pil PCC (paracetamol, caffeine, dan carisoprodol)
1. Paracetamol
Paracetamol merupakan obat yang berkhasiat analgetik dan antipiretik.
Obat ini dijual bebas di apotek dan biasanya digunakan untuk mengatasi demam,
sakit kepala, sakit gigi, dan segala nyeri lainnya.Analgetik merupakan obat
penghilang rasa sakit, sementara antipiretik merupakan obat penurun suhu badan.
Jadi paracetamol bisa digunakan untuk menghilangkan nyeri dan menurunkan
suhu badan pada anak maupun orang dewasa. Mengenai efek samping
penggunaan paracetamol, antara lain : ruam, hipotensi, atau tekanan darah
rendah serta alergi dan kesulitan bernapas, namun hal itu jarang terjadi. Selama
jangka panjang, penggunaan paracetamol dapat menyebabkan kerusakan hati
dan ginjal.
6. Caffeine
Caffein merupakan senyawa kimia berupa alkaloid xantin yang dihasilkan
oleh tanaman. Salah satu tanaman yang mengandung banyak kafein adalah biji
kopi. Dalam dunia kesehatan, kafein atau caffeine berguna untuk meningkatkan
fungsi otak dan bekerja dengan memberikan rangsangan pada sistem saraf pusat.
Kafein bisa meningkatkan daya pikir, makanya banyak yang senang minum kopi
agar bisa fokus bekerja. Selain itu, caffeine juga membantu menghilangkan nyeri
otot dan pemulihan cedera," ucapnya.
Mengenai efek samping, konsumsi caffeine dapat meningkatkan produksi
urine berkat khasiat diuretiknya dan juga mampu menaikkan tekanan darah. Untuk
itu, seseorang yang terkena hipertensi disarankan untuk menghindari kopi dan
makanan yang mengandung caffeine lainnya seperti teh, cokelat, dan minuman
berenergi.
3. Carisoprodol
Carisoprodol merupakan obat yang berfungi merelaksasi otot. Obat ini
biasanya harus dibeli dengan resep dokter, tapi sejak 2013 obat ini ditarik izin
edarnya karena diduga lebih banyak efek sampingnya dibanding kegunaannya.
Carisoprodol bekerja dengan mengurangi rasa sakit pada saraf dan otak. Namun,
efeknya ini yang bahaya karena bisa menyebabkan halusinasi dan kejang. Obat
ini mampu mempengaruhi pikiran dan akhirnya mempengaruhi tindakan. Seperti
yang terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara, beberapa waktu lalu. Selain itu, obat








40

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



ini bersifat adiktif sehingga bisa menyebabkan kecanduan. Kecanduan obat ini
bisa menyebabkan overdosis dan kematian.
Obat PCC merupakan kombinasi penghilang rasa sakit. Setiap obat yang
diminum bersamaan atau dikombinasikan akan saling memperkuat efek melawan
penyakit. Namun apabila obat bekerja saling bertentangan maka efeknya akan
berlawanan. Jadi, saat meminum paracetamol, caffein dan carisoprodol, nyeri
yang hebat akan teratasi. Namun, karena efek carisoprodol yang bisa
mempengaruhi saraf dan otak ini, efeknya jadi tak karuan, apalagi kalau sekali
minum tiga sampai lima tablet.
Dengan mempengaruhi saraf, akibatnya perilaku juga akan terpengaruh,
Salah satu contohnya anak-anak yang mengamuk di Kendari. Penyebabnya
adalah reaksi dari saraf pusat yang menyebabkan halusinasi dan menurunkan
hingga menghilangkan kesadaran. Saking besar pengaruhnya ke saraf, orang
yang meminum obat ini mudah merasa panik, mengalami perubahan emosi dan
kehilangan kontrol, seperti anak yang berani loncat ke laut dan bertingkah seperti
zombie.
Sumber :


https://news.detik.com/berita/d-3644113/efek-mengerikan-pil-pcc-bikin-nge-fly-
halusinasi-hingga-tewas

https://www.liputan6.com/health/read/3099320/kandungan-obat-pcc-dan-
bahayanya




































41

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA




Uraian Materi

C. Zat Adiktif
Zat adiktif adalah zat yang dapat menyebabkan efek ketagihan bagi
pemakainya sehingga dapat mempengaruhi pengguna untuk terus
mengkonsumsinya. Efek yang paling berpengaruh bagi pengguna adalah efek
secara psikologis yang dapat menyebabkan ketergantungan terhadap zat
tersebut, selanjutnya akan berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Zat adiktif
dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu 1) zat adiktif bukan narkotika dan
psikotropika; 2) zat adiktif narkotika; dan 3) zat adiktif psikotropika.
1. Zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika
Zat adiktif jenis ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan
mungkin juga sering kita konsumsi pada bahan makanan atau minuman yang
mengandung zat adiktif tersebut. Adapun yang termasuk dalam zat adiktif bukan
narkotika dan psikotropika, yaitu :
a. Kafein
Bagi kalian penggemar teh atau
kopi, mungkin kalian sudah tahu tentang
kandungan kafein yang terdapat pada
teh dan kopi. Teh yang mengandung
kafein membuat hampir sebagian besar
dari kita menjadi terbiasa untuk
mengkonsumsinya setiap hari. Tetapi Sumber : liputan6.com
teh aman dan baik untuk dikonsumsi Gambar 3.4 biji kopi yang mengandung
setiap hari dalam jumlah yang wajar dan kafein
tidak berlebihan.

b. Nikotin
Nikotin terdapat dalam rokok yang dibuat dari daun tembakau melalui
proses tertentu dan dicampur dengan bunga cengkeh serta beberapa macam
bahan aroma. Kandungan nikotin pada rokok inilah yang menyebabkan orang
menjadi berkeinginan untuk mengulang dan terus-menerus merokok. Selain
mengandung nikotin, rokok juga mengandung tar. Kita juga sudah mengetahui
tentang bahaya rokok pada kesehatan, yaitu dapat merugikan organ-organ
tubuh bagian luar, seperti perubahan warna gigi dan kulit, maupun organ tubuh
bagian dalam yang dapat memicu kanker paru-paru
2. Zat adiktif narkotika
Narkotika merupakan zat adiktif yang sangat berbahaya dan penggunaannya
dilarang di seluruh dunia. Penggunaan narkotika tidak akan memberi efek positif
pada tubuh tetapi malah akan memberikan efek negatif. Jika digunakan maka
penggunanya akan mengalami penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi bahkan menghilangkan rasa nyeri, tetapi setelah itu
penggunanya akan merasa tergantung dan akan mengulangi secara terus-






42

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



menerus untuk menggunakan narkotika yang memiliki banyak jenis ini, sehingga
pengguna akan sulit untuk lepas dari jerat narkotika yang hanya akan memberi
siksaan pada penggunanya. Narkotika hanya diperbolehkan dalam dunia medis
yang biasanya digunakan sebagai obat bius untuk orang yang akan dioperasi, dan
penggunaannya pun sesuai prosedur yang telah ditentukan dalam standar
kesehatan internasional.


Narkotika menurut tujuan penggunaan dan tingkatan risiko ketergantungannya
terbagi dalam 3 golongan, yaitu:

a. Golongan I, narkotika hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan
dan tidak digunakan dalam terapi serta memiliki potensi sangat tinggi untuk
mengakibatkan sindrom ketergantungan.
b. Golongan II, narkotika untuk pengobatan yang digunakan sebagai pilihan
terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta memiliki potensi kuat untuk mengakibatkan sindrom
ketergantungan.
c. Golongan III, narkotika untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam
terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta berpotensi ringan
mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Berikut ini beberapa macam yang termasuk ke dalam golongan zat adiktif
narkotika yang telah dikenal di seluruh dunia :

a. Ganja
Ganja atau mariyuana merupakan zat
adiktif narkoba dari golongan kanabionoid. Ganja
terbuat dari daun, bunga, biji, dan ranting muda
tanaman mariyuana (Cannabis sativa) yang
sudah kering, contoh pohon ganja. Ganja dipakai
dalam bentuk rokok lintingan, campuran
tembakau, dan damar ganja. Tanda-tanda
penyalahgunaan ganja, yaitu gembira dan Sumber : cnnindonesia.com
tertawa tanpa sebab, santai dan lemah, banyak
bicara sendiri, pengendalian diri menurun, Gambar 3.5 daun ganja
menguap atau mengantuk, tetapi susah tidur, dan
mata merah, serta tidak tahan terhadap
cahaya. Tanda-tanda gejala
putus obat (ganja), yaitu sukar tidur, hiperaktif, dan hilangnya nafsu makan.
Tanda tanda gejala overdosis, yaitu ketakutan, daya pikir menurun, denyut
nadi tidak teratur, napas tidak teratur, dan mendapat gangguan jiwa.









43

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



b. Opium
Opium merupakan narkotika dari golongan
opioida, dikenal juga dengan sebutan candu, morfin, heroin,
dan putau. Opium diambil dari getah buah mentah Pavaper
sommiverum. Opium mengandung lebih dari dua puluh
macam senyawa. Morfin kali pertama diisolasi dari getah
buah pada 1905 oleh Friedrich Seturner. Pada waktu itu,
morfin digunakan oleh para tentara untuk menghilangkan
Sumber : adf.au.org rasa sakit karena luka atau menghilangkan rasa nyeri pada
Gambar 3.6 buah penderita kanker. Setelah itu, banyak tentara yang
Pavaper sommiverum
mengalami adiksi (efek ketergantungan).
Pemakaian dosis morfin yang berlebihan dapat menyebabkan kematian.
Heroin merupakan senyawa turunan (hasil sintesis) dari morfin yang
dikenal dengan sebutan putau. Kodein merupakan senyawa turunan dari
morfin, tetapi memiliki kemampuan menghilangkan nyeri lebih lemah, demikian
pula efek kecanduannya (adiksinya) lebih lemah.
Kodein biasa dipakai dalam obat batuk dan obat penghilang rasa nyeri.
Penggunaannya yang menyalahi aturan dapat menimbulkan rasa sering
mengantuk, perasaan gembira berlebihan, banyak berbicara sendiri,
kecenderungan untuk melakukan kerusuhan, merasakan nafas berat dan
lemah, ukuran pupil mata mengecil, mual, susah buang air besar, dan sulit
berpikir. Jika pemakaian obat ini diputus, akan timbul hal-hal berikut: sering
menguap, kepala terasa berat, mata basah, hidung berair, hilang nafsu makan,
lekas lelah, badan menggigil, dan kejang-kejang. Jika pemakaiannya melebihi
dosis atau overdosis, akan menimbulkan hal-hal berikut: tertawa tidak wajar,
kulit lembap, napas pendek tersenggal-senggal, dan dapat mengakibatkan
kematian.
c. Kokain
Kokain termasuk ke dalam salah satu jenis
dari narkotika. Kokain diperoleh dari hasil
ekstraksi daun tanaman koka (Erythroxylum
coca). Zat ini dapat dipakai sebagai anaestetik
(pembius) dan memiliki efek merangsang jaringan
otak bagian sentral. Pemakaian zat ini
menjadikan pemakainya suka bicara, gembira
yang meningkat menjadi gaduh dan gelisah, Sumber : nationalgeographic.com
detak jantung bertambah, demam, perut nyeri, Gambar 3.7 daun tanaman koka
mual, dan muntah. Seperti halnya narkotika jenis (Erythroxylum coca)
lain, pemakaian kokain dengan dosis tertentu
dapat mengakibatkan kematian.








44

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



d. Sedativa dan Hipnotika (Penenang)
Beberapa macam obat dalam dunia kedokteran, seperti pil BK dan
magadon digunakan sebagai zat penenang (sedativa-hipnotika). Pemakaian
sedativa-hipnotika dalam dosis kecil dapat menenangkan, sedangkan dalam
dosis besar dapat membuat orang yang memakannya tertidur. Gejala akibat
pemakaiannya adalah mula-mula gelisah, mengamuk lalu mengantuk, malas,
daya pikir menurun, bicara dan tindakan lambat. Jika sudah kecanduan,
kemudian diputus pemakaiannya maka akan menimbulkan gejala gelisah,
sukar tidur, gemetar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan darah
naik, dan kejang-kejang. Jika pemakaiannya overdosis maka akan timbul
gejala gelisah, kendali diri turun, banyak bicara, tetapi tidak
jelas,sempoyongan, suka bertengkar, napas lambat, kesadaran turun, pingsan,
dan jika pemakaiannya melebihi dosis tertentu dapat menimbulkan kematian.
e. Nikotin
Nikotin dapat diisolasi atau dipisahkan
dari tanaman tembakau. Namun, orang
biasanya mengonsumsi nikotin tidak dalam
bentuk zat murninya, melainkan secara tidak
langsung ketika mereka merokok. Nikotin
yang diisap pada saat merokok dapat
menyebabkan meningkatnya denyut jantung Sumber : indolah.com
dan tekanan darah, bersifat karsinogenik
sehingga dapat meningkatkan risiko Gambar 3.8 rokok yang
terserang kanker paru-paru, kaki rapuh, mengandung nikotin
katarak, gelembung paru-paru melebar
(emphysema), risiko terkena penyakit jantung
koroner, kemandulan, dan gangguan
kehamilan.
f. Alkohol
Alkohol diperoleh melalui proses peragian
(fermentasi) sejumlah bahan, seperti beras ketan,
singkong, dan perasan anggur. Alkohol ini sudah
dikenal manusia cukup lama. Salah satu
penggunaan alkohol adalah untuk mensterilkan
berbagai peralatan dalam bidang kedokteran.
Alkohol yang terkandung dalam minuman dapat
berasal dari hasil fermentasi bahan minuman itu
sendiri (contohnya, alkohol yang terdapat dalam Sumber : hellosehat.com
minuman hasil fermentasi sari buah anggur) atau Gambar 3.9 minuman
sengaja ditambahkan ke dalam suatu minuman beralkohol
olahan.








45

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Semua jenis minuman yang mengandung alkohol (etanol) disebut
minuman keras. Berdasarkan kandungan alkoholnya, minuman keras
dikelompokkan menjadi golongan: berkadar etanol 1–5 %; berkadar etanol 5–
20 %; danberkadar etanol 20–50 %.Tanda-tanda gejala pemakaian alkohol,
yaitu gembira, pengendalian diri turun, dan muka kemerahan. Jika sudah
kecanduan meminum minuman keras, kemudian dihentikan maka akan timbul
gejala gemetar, muntah, kejang-kejang , sukar tidur, dan gangguan jiwa.
Jika overdosis akan timbul gejala perasaan gelisah, tingkah laku menjadi
kacau, kendali turun, dan banyak bicara sendiri.
3. Zat adiktif psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetik, bukan
narkotika dan berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psi
kotropika menurut tujuan penggunaan dan tingkatan risiko ketergantungannya
terbagi dalam 4 golongan, yaitu:
a. Golongan I, psikotropika yang hanya digunakan untuk tujuan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta memiliki potensi kuat
mengakibatkan sindrom ketergantungan.
b. Golongan II, psikotropika yang berkhasiat sebagai obat dan dapat
digunakan dalam terapi dan tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi
kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan.
c. Golongan III, psikotropika yang berkhasiat sebagai obat dan banyak
digunakan dalam terapi dan tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi
sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan.
d. Golongan IV, psikotropika yang berkhasiat sebagai obat dan sangat luas
digunakan dalam terapi dan tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi
ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan. Zat adiktif hampir
semuanya termasuk ke dalam psikotropika, tetapi tidak semua psikotropika
menimbulkan ketergantungan.
Berikut ini termasuk ke dalam golongan psikotropika, yaitu LSD (Lysergic
Acid Diethylamide) dan amfetamin. Penyalahgunaan kedua golongan psikotropika
ini sudah meluas di dunia.
a. LSD (Lysergic Acid Diethylamide)
LSD merupakan zat psikotropika yang dapat menimbulkan halusinasi
(persepsi semu mengenai sesuatu benda yang sebenarnya tidak ada). Zat ini
dipakai untuk membantu pengobatan bagi orang-orang yang mengalami
gangguan jiwa atau sakit ingatan. Zat ini bekerja dengan cara membuat oto-
totot yang semula tegang menjadi rileks. Penyalahgunaan zat ini biasanya
dilakukan oleh orang-orang yang menderita frustasi dan ketegangan jiwa.
b. Amfetamin
Kita seringkali mendengar pemberitaan di media massa mengenai
penjualan barang-barang terlarang, seperti ekstasi dan shabu. Ekstasi dan






46

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



shabu adalah hasil sintesis dari zat kimia yang disebut amfetamin. Jadi, zat
psikotropika, seperti ekstasi dan shabu tidak diperoleh dari tanaman melainkan
hasil sintesis.
Pemakaian zat-zat tersebut akan menimbulkan gejala-gejala berikut:
siaga, percaya diri, euphoria (perasaan gembira berlebihan), banyak bicara,
tidak mudah lelah, tidak nafsu makan, berdebar-debar, tekanan darah
menurun, dan napas cepat. Jika overdosis akan menimbulkan gejala-gejala:
jantung berdebar-debar, panik, mengamuk, paranoid (curiga berlebihan),
tekanan darah naik, pendarahan otak, suhu tubuh tinggi, kejang, kerusakan
pada ujung-ujung saraf, dan dapat mengakibatkan kematian. Jika sudah
kecanduan, kemudian dihentikan akan menimbulkan gejala putus obat sebagai
berikut: lesu, apatis, tidur berlebihan, depresi, dan mudah tersinggung.
4. Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika Dan Psikotropika
Zat adiktif dan psikotropika akan memberikan manfaat jika dipakai untuk
tujuan yang benar, misalnya untuk tujuan ilmu pengetahuan dan pelayanan
kesehatan. Dalam bidang kedokteran, misalnya satu jenis narkotika diberikan
kepada pasien yang menderita rasa sakit luar biasa karena suatu penyakit atau
setelah menjalani suatu operasi. Contoh lain, satu zat jenis psikotropika diberikan
kepada pasien penderita gangguan jiwa yang sedang mengamuk dan tak dapat
ditenangkan dengan cara-cara lain. Jika pemakaian zat adiktif dan psikotropika
dipakai di luar tujuan yang benar, itu sudah termasuk penyalahgunaan dan harus
diupayakan pencegahannya.














Sumber : health.detik.com
Gambar. 3.10 Penyalahgunaan narkoba dan psikotropika dapat menyebabkan
kematian

Penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika sangat berbahaya bagi diri
sendiri, keluarga, maupun kehidupan sosial di sekitar kita. Dampak negatif
pemakaian zat adiktif dan psikotropika pada diri sendiri, yaitu rusaknya sel saraf,
menimbulkan ketergantungan, perubahan tingkah laku, dan menimbulkan penyakit
(jantung, radang lambung dan hati, merusak pankreas, dan berisiko mengidap HIV
positif). Pada dosis yang tidak tepat akan mengakibatkan kematian. Dalam
kehidupan sosial, penyalahgunaan pemakaian zat adiktif dan psikotropika, di
antaranya: sering membuat onar atau perkelahian (misalnya, perkelahian pelajar),









47

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



melakukan kejahatan (pencurian dan pemerkosaan), kecelakaan, timbulnya
masalah dalam keluarga, dan mengganggu ketertiban umum.
Kita semua harus berupaya untuk terhindar dari penyalahgunaan zat adiktif
dan psikotropika. Pencegahan penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika
memerlukan peran bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
a. Peran Anggota Keluarga
Setiap anggota keluarga harus saling menjaga
agar jangan sampai ada anggota keluarga yang
terlibat dalam penyalahgunaan zat adiktif dan
psikotropika. Kalangan remaja ternyata
merupakan kelompok terbesar yang
menyalahgunakan zat-zat tersebut. Oleh karena
itu, setiap orang tua memiliki tanggung jawab
membimbing anakanaknya agar menjadi manusia
yang bertaqwa kepada Tuhan. Karena ketaqwaan Sumber : id.theasianparent.com
inilah yang akan menjadi perisai ampuh untuk Gambar 3.11 peran orang tua
membentengi anak dari menyalahgunakan obat- dalam membimbing anaknya agar
bertaqwa keapda Tuhan
obat terlarang dan pengaruh buruk yang mungkin
datang dari lingkungan di luar rumah.
b. Peran Anggota Masyarakat
Kita sebagai anggota masyarakat perlu mendorong peningkatan pengetahuan
setiap anggota masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan obat-obat terlarang.
Selain itu, kita sebagai anggota masyarakat perlu memberi informasi kepada pihak
yang berwajib jika ada pemakai dan pengedar narkoba di lingkungan tempat
tinggal.
c. Peran Sekolah
Sekolah perlu memberikan wawasan yang cukup kepada para siswa tentang
bahaya penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika bagi diri pribadi, keluarga,
dan orang lain. Selain itu, sekolah perlu mendorong setiap siswa untuk
melaporkan pada pihak sekolah jika ada pemakai atau pengedar zat adiktif dan
psikotropika di lingkungan sekolah. Sekolah perlu memberikan sanksi yang
mendidik untuk setiap siswa yang terbukti menjadi pemakai atau pengedar
narkoba.
d. Peran Pemerintah
Pemerintah berperan mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika dan
psikotropika dengan cara mengeluarkan aturan hukum yang jelas dan tegas. Di
samping itu, setiap penyalahguna, pengedar, pemasok, pengimpor, pembuat, dan
penyimpan narkoba perlu diberikan sanksi atau hukuman yang membuat efek jera
bagi si pelaku dan mencegah yang lain dari kesalahan yang sama.










48

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Soal Evaluasi


Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas dan tepat!

1. Zat adiktif terbagi menjadi 3 jenis yaitu zat adiktif bukan narkotika dan
psikotropika, zat adiktif narkotika dan zat adiktif psikotropika. Teh merupakan
salah satu produk yang mengandung zat adiktif yaitu kafein yang disebut
theine. Analisislah mengapa theine dalam teh termasuk dalam zat adiktif
bukan narkotika dan psikotropika!

……………………………………….………………………………

……….……………………………………….………………………
……………….……………………………………….………………

……………………….………………………………………………


2.








Paru- paru bukan Paru-paru perokok
perokok
Sumber : carahidupsehat.web.id

Rokok mengandung lebih dari 4.000 bahan yang berbeda. Sebagian besarnya
dapat menimbulkan racun dan kerusakan pada sel di tubuh. Salah satu zat
adiktif yang terkandung dalam rokok adalah nikotin. Gambar diatas
merupakan perbandingan antara paru-paru perokok dan bukan perokok.
Berdasarkan gambar diatas, analisislah pengaruh rokok terhadap kesehatan
tubuh!

……………………………………….………………………………


……….……………………………………….……………………
………………….……………………………………….…………
…………………………….…………………………………………

…………………………………………….…………………………

…………….……………………………………….………………








49

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA


3. Perhatikan grafik pengguna narkoba dan kasus AIDS berikut ini!

Keterangan :
Sumbu x = jumlah kasus AIDS
Sumbu Y = jumlah pengguna narkoba

50
40

30

20 40
25
10
10
0
AIDS 1 AIDS 2 AIDS 3

Analisislah hubungan antara jumlah penderita AIDS dan pengguna narkoba
pada grafik diatas!

……………………………………….………………………………

……….……………………………………….………………………
……………….……………………………………….………………

……………………….………………………………………………

4. Sebagai penerus bangsa Indonesia, generasi muda harus menghindarkan diri
dari NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya). Menurut kalian
upaya apa yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan penggunaan zat
adiktif?

……………………………………….………………………………
……….……………………………………….………………………


……………….……………………………………….………………
……………………….………………………………………………






















50

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Soal Evaluasi Akhir


1. Minuman berkarbonasi adalah minuman yang
mengandung karbondioksida sehingga dapat
menghasilkan gelembung-gelembung dalam
air yang menempel pada dinding wadahnya.
Minuman berkarbonasi ini biasanya memiliki
warna yang bermacam-macam seperti gambar
disamping sehingga dapat menarik perhatian
konsumen. Sumber: kumparan.com
a. Analisislah zat aditif atau bahan tambahan pangan apa yang mungkin
ditambahkan pada minuman berkarbonasi tersebut?
b. Selain agar terlihat menarik apa fungsi zat pewarna yang ditambahkan
pada minuman tersebut?

……………………………………….……………………………………
.……………………………………….…………………………………

…….……………………………………….……………………………
………….…………………………………………………………………
…………………….……………………………………….……………
………………………….……………………………………….………

2. Beberapa macam zat pewarna dilakukan pengujian untuk menyeldiki zat
pewarna tersebut termasuk ke dalam zat pewarna alami atau buatan. Zat
pewarna ditetesi larutan sabun cuci piring.

Jenis pewarna Sebelum ditetesi sabun Setelah ditetesi sabun

Brilliant blue Biru Biru
Ponceau 4R Merah Merah
x Hijau Hijau pekat

y Kuning Kuning kecoklatan

Berdasarkan hasil uji diatas, evaluasilah jenis pewarna tersebut termasuk ke
dalam zat pewarna alami atau buatan!


……………………………………….……………………………………
….……………………………………….………………………………

……….……………………………………….…………………………

…………….………………………………………………………………

……………………….……………………………………….…………
…………………………….……………………………………….……





51

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



3.
Hasil Pengamatan
Adonan
Sebelum Dikukus Setelah Dikukus
a Adonan A hijau hijau muda
b Adonan B merah Merah
c Adonan C oranye oranye
d Adonan D kuning kuning muda
Berdasarkan uji makanan diatas,analisislah makanan yang mengandung
pewarna sintetik dan pewarna alami? jelaskan alasannya!


……………………………………….……………………………………

….……………………………………….………………………………
……….……………………………………….…………………………

…………….………………………………………………………………

……………………….……………………………………….…………


4. Perhatikanlah poster tentang
penyalahgunaan rhodamin b
pada pangan disamping!
Berdasarkan poster diatas
rhodamin b biasanya
digunakan sebagai pewarna
tekstil dan kertas, analisislah
bahaya apa yang terjadi pada
tubuh kita apabila rhodamin b
digunakan sebagai pewarna
makanan!







Sumber : https://twitter.com/bpom_ri

……………………………………….……………………………………

….……………………………………….………………………………
……….……………………………………….…………………………

…………….………………………………………………………………

……………………….……………………………………….…………

……………………………………….……………………………………
….……………………………………….………………………………





52

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



5. Setelah mengetahui bahaya dari penggunaan pewarna buatan terutama
pewarna yang dilarang digunakan dalam makanan seperti pewarna rhodamin
b, sebagai konsumen kita pasti akan lebih teliti dalam memilih makanan
terutama yang berwarna mencolok. Menurut kalian, bagaimana solusi
alternatif pengganti zat pewarna buatan?

……………………………………….……………………………………

….……………………………………….………………………………
……….……………………………………….…………………………
…………….………………………………………………………………
……………………….……………………………………….…………

6.







Sumber: dok. pribadi


Makanan kaleng siap saji dapat kamu jadikan sebagai alternatif jika memiliki
kesibukan yang sangat padat. Tingginya aktivitas terkadang membuat
sebagian orang menyukai beberapa kepraktisan. Salah satunya dengan
menyimpan makanan kaleng siap saji. Makanan kaleng adalah makanan yang
dikemas dalam wadah kaleng yang kedap udara. Berdasarkan gambar diatas,
makanan kaleng juga mengandung natrium nitrit. Analisislah apa fungsi dari
natrium nitrit pada produk makanan kaleng tersebut!


……………………………………….……………………………………
….……………………………………….………………………………
……….……………………………………….…………………………

…………….………………………………………………………………

……………………….……………………………………….…………

7. Penggunaan boraks sebagai zat tambahan (aditif) dalam makanan sudah
dilarang dalam undang-undang di banyak negara. Termasuk juga di
Indonesia. BPOM telah melarang penggunaan zat kimia ini untuk ditambahkan
pada makanan. Namun, masih banyak oknum pedagang yang menggunakan
boraks sebagai pengawet makanan, contohnya pada mie basah, bakso,
kerupuk, dll.









53

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



a. Menurut kalian, bagaiamana cara untuk menganalisis adanya bahan
pengawet berbahaya seperti boraks berdasarkan ciri-cirinya?
b. Analisislah perbedaan antara makanan yang menggunakan pengawet
alami dan pengawet buatan!
c. Analisislah pengaruh dari penggunaan boraks dalam makanan terhadap
kesehatan kita!
d. Menurut kalian, bagaimana solusi alternatif pengganti dari penggunaan
pengawet buatan yang berbahaya bagi tubuh?



……………………………………….……………………………………
….……………………………………….………………………………
……….……………………………………….…………………………
…………….………………………………………………………………

……………………….……………………………………….…………
……………………………………….……………………………………
….……………………………………….………………………………
……….……………………………………….…………………………

8. Zat adiktif terbagi menjadi 3 jenis yaitu zat adiktif bukan narkotika dan
psikotropika, zat adiktif narkotika dan zat adiktif psikotropika. Kopi merupakan
salah satu produk yang mengandung zat adiktif yaitu kafein. Analisislah
mengapa kafein dalam kopi termasuk dalam zat adiktif bukan narkotika dan
psikotropika!

……………………………………….……………………………………
….……………………………………….………………………………
……….……………………………………….…………………………
…………….………………………………………………………………

……………………….……………………………………….…………
……………………………………….……………………………………


9.






Sumber : news.unair.ac.id
Hati sehat Hati pecandu alkohol






54

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Minuman beralkohol aadalah minuman yang mengandung etanol. Etanol
adalah bahan psikoaktif yaitu dapat menyebabkan pengkonsumsi mengalami
penurunan kesadaran. Gambar diatas menunjukkan perbandingan hati sehat
dan hati pecandu alkohol. Berdasarkan gambar diatas, analisislah pengaruh
alkohol terhadap kesehatan tubuh!

……………………………………….…………………………………

…….……………………………………….……………………………
………….……………………………………….………………………

……………….…………………………………………………………
…………………………….……………………………………….……

…………………………………………….……………………………
………….……………………………………….………………………


10. Perhatikan grafik pengguna narkoba dan kasus AIDS berikut ini!
Keterangan :
Sumbu x = jumlah kasus AIDS
Sumbu Y = jumlah pengguna narkoba

50 45
Pengguna narkoba 30 15 30
40

20
10
0
AIDS 1 AIDS 2 AIDS 3

a. Analisislah hubungan antara jumlah penderita AIDS dan pengguna
narkoba pada grafik diatas!
b. Sebagai penerus bangsa Indonesia, generasi muda harus menghindarkan
diri dari NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya). Menurut
kalian upaya apa yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan
penggunaan narkotika dan psikotropika?

……………………………………….…………………………………

…….……………………………………….……………………………

………….……………………………………….………………………

……………….…………………………………………………………
…………………………….……………………………………….……

…………………………………………….……………………………
………….……………………………………….………………………








55

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Glosarium




Amfetamin Obat golongan stimultansia yang biasa digunakan
untuk mengobai gangguan hiperaktif karena kurang
perhatian atau Attention- deficit- Hyperactivity
Disorder (ADHD)

Anastetik Obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa
sakit ketika melakukan pembedahan dan prosedur
lainnya yang dapat menimbulkan rasa sakit pada
tubuh

Anthosianin Zat pewarna yang berasal dari tumbuhan yang
menghasilkan warna merah, jingga atau biru

Boraks Campuran garam mineral konsentrasi tinggi yang
sering disalah gunakan sebagai pengawet pada
makanan

Bakterisida Bahan atau substansi yang dapat membunuh bakteri


Certified colour Bahan pewarna yang diijinkan untuk digunakan



Dosis Kadar dari sesuatu (kimiawi, fisik, biologis) yang
dapat mempengaruhi suatu organisma secara
biologis

Euforia Perasaan atau keadaan kegembiraan dan
kebahagian yang berlebihan

Ekstasi Zat adiktif psikotropika yang menimbulkan

halusinasi pada penggunanya

Ganja Zat adiktif narkotika yang diekstrak dari daun, bunga,
tunas Cannabis sativa

Heroin Bubuk kristal putih yang dihasilkan morfin; jenis
narkotika yang memabukkan
Hipnotika Obat yang diberikan pada malam hari dalam dosis
terapi yang dapat mempermudah tidur

Kafein Zat adiktif yang tergolong pada bukan narkotika dan
psikotropika; terdapat pada teh atau kopi









56

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Kakao Tanaman yang menghasilkan biji cokelat

Karamel Gula-gula yang terbentuk dari proses karamelisasi
yang menghasilkan cairan lengket berwarna krem
sampai cokelat

Karsinogenik Zat yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel
kanker

Kodein Zat adiktif turunan morfin yang memiliki kemampuan
menghilangkan nyeri tetapi lebih lemah
dibandingkan morfin

Kokain Zat adiktif narkotika yang diekstrak dari daun koka

LSD Zat adiktif psikotropika yang dapat menimbulkan
halusinasi

Monosodium glutamat (MSG) Bahan tambahan makanan berfungsi menambah
cita rasa

Morfin Zat adiktif yang bekerja langsung pada sistem saraf
pusat untuk menghilangkan nyeri

Narkotika Zat adiktif yang dapat menimbulkan kecanduan pada
penggunanya

Nikotin Zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika, zat
racun dalam tembakau


Opium Getah buah Papaver Sommiferum yang belum
masak dan dikeringkan; mempunyai daya
memabukkan

Otak Organ sistem saraf pusat tempat informasi diolah
dan diintegrasikan

Overdosis Gejala keracunan akibat obat yang melebihi dosis
yang bisa diterima oleh tubuh

Paranoid Masalah psikologis yang ditandai dengan munculnya
rasa curiga atau takut berlebihan

Pewarna alami Bahan pewarna yang langsung diambil dari alam

Pewarna buatan/ sintetis Bahan pewarna yang dibuat di pabrik dengan proses
tertentu

Pewarna tekstil Bahan pewarna yang dipakai pada produk- produk
tekstil







57

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Pengawet Bahan tambahan pangan yang berfungsi
mengawetkan makanan agar tidak rusak disebabkan
oleh mikroorganisme

Psikoaktif Suatu bahan atau zat yang bekerja secara selektif
terutama pada otak sehingga dapat menimbulkan
perubahan perilaku, emosi, dan persepsi

Psikotropika Zat adiktif yang dapat bersifat alamiah atau sintetis
yang dapat menyebabkan perubahan khas pada
aktivitas mental dan perilaku

Reagen Bahan yang dipakai dalam reaksi kimia

Rhodamin B Pewarna pakaian/tekstil sintetis berbentuk serbuk
kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan

Sabu Zat adiktif psikotropika yang menimbulkan halusinasi

Sedativa Obat yang menimbulkan depresi ringan pada sistem
saraf pusat tanpa menyebabkan tidur tetapi memberi
efek menenangkan dan mencegah kejang-kejang
Tar Komponen pada sisa asap rokok sesudah
komponen nikotin dan cairan dihilangkan, bersifat
karsinogenik

Zat adiktif Bahan yang dapat menimbulkan kecanduan bagi
pemakainya

Zat aditif Bahan tambahan pada makanan



































58

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



Daftar Pustaka




Arifin, M., Wijaya, A.E., Kusumawardani, A.S., Lutfatin, R.I., Astuti, E.D. 2012.

Laporan Akhir PKM-P Curcumax Reagen Praktis Penguji Kandungan Boraks
pada Bakso. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.


Cahyadi, Wisnu, 2012. Analisis & Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Edisi 2,
Cetakan 3. Jakarta : Bumi Aksara.


Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan. 2006. Pemanfaatan Zat Aditif
Secara Tepat. Lampung: Badan Pengendalian Obat dan Makanan (BPOM).


Food and Drug Administration (FDA). 2010. Overview of Food Ingredients, Additives &
Colors. International Food Information Council Foundation.


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2015. Ilmu Pengetahuan Alam/ Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tranggono dan Sudarmadji S. 1988. Buku dan Monograf Bahan Tambahan Makanan

(Food Additives). Yogyakarta : Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi,
Universitas Gadjah Mada.


Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan
pangan. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.


Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1168/MENKES/PER/X/1999 tentang Tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722/Menkes/Per/Ix/1988

Tentang Bahan Tambahan Makanan. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 033 Tahun 2012 Tentang Bahan

Tambahan Pangan. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Zubaidah Siti, dkk, 2014. Ilmu Pengetahuan Alam / Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.












59

Aninda Ayu K., dkk E-Modul PBL-RWA



BIOGRAFI





Aninda Ayu Kartina, S.Pd. Lahir di Ngawi, 26 April
1995. Lulus S1 di Program Studi Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Surakarta tahun 2017. Penulis saat
ini sedang menyelesaikan Pendidikan Program
Magister Pendidikan Sains di Universitas Sebelas
Maret.




Prof. Dr. Suciati, M.Pd. Lahir di Kediri, 23 Juli 1958.
Lulus S1 pada Program Studi Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Pasundan Bandung tahun 1992. Beliau melanjutkan
Pendidikan S2 dan S3 Program Studi Pendidikan
Sains di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bandung. Saat ini Beliau aktif sebagai Dosen tetap
di S1 Program Pendidikan Biologi dan Program
Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas
Maret.


Dr. Harlita, S.Si, M.Si. Lahir di Padang, 1 April
1969. Lulus S1 pada Program Studi Biologi di
Universitas Andalas tahun 1993. Beliau melanjutkan
Pendidikan S2 dan S3 Program Studi Biologi di
Universitas Gadjah Mada. Beliau pernah menjabat
sebagai ketua laboratorium Program studi
Pendidikan Biologi Universitas Sebelas Maret. Saat
ini Beliau aktif sebagai Dosen tetap di S1 Program
Pendidikan Biologi Universitas Sebelas Maret.
















60


Click to View FlipBook Version