HALAMAN FRANCIS
Keanekaragaman Hayati dan Konservasi
Untuk Kelas X SMA/ MA
Berdasarkan Kurikulum 2013
Penyusun :
Reza Fahlevi
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya
sehingga penyusun dapat menyelesaikan Modul ini.
Modul ini disusun untuk memenuhi tugas Penerapan Budaya dan Potensi Lokal
untuk Program Studi Pendidikan Biologi serta memenuhi kebutuhan sumber belajar
peserta didik.
Pembahasan modul ini dimulai dengan menjelaskan pembelajaran biologi berbasis
wisata mangrove Bontang, Kalimantan Timur. Modul ini juga disertai dengan soal-
soal yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian dan ketuntasan.
Penyusun menyadari bahwa di dalam pembuatan modul masih banyak kekurangan.
Untuk itu penyusun sangat membuka saran dan kritik yang sifatnya membangun.
Samarinda, 14 Oktober 2021
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
Halaman Francis ................................................................................................ i
Kata Pengantar ...................................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................................iii
Peta Konsep .......................................................................................................iv
Pendahuluan .......................................................................................................1
A. Standar Kompetensi ...................................................................................1
B. Deskripsi.....................................................................................................1
C. Waktu .........................................................................................................1
D. Prasyarat....................................................................................................1
E. Petunjuk Penggunaan Modul .....................................................................1
F. Tujuan Akhir ...............................................................................................2
Kegiatan Pembelajaran.......................................................................................3
A. Kompetensi Dasar ......................................................................................3
B. Tujuan Pembelajaran .................................................................................3
Materi I ................................................................................................................4
Materi II ...............................................................................................................8
Materi III ..............................................................................................................24
A. Jenis-jenis mangrove......................................................................................25
B. Manfaat mangrove..........................................................................................27
C. Ekosistem mangrove ......................................................................................28
D. Struktur dan Adaptasi Mangrove ....................................................................30
E. Faktor Lingkungan yang Berperan dalam Ekosstem Mangrove .....................32
Materi IV ............................................................................................................................................ 34
A. Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodiveritas .............................................................. 34
B. Upaya-upaya pelestarian keanekaragaman hayati di indonesia ............ 39
Daftar Pustaka........................................................................................ 50
iii
Peta Konsep
iv
PENDAHULUAN
A. Standar Kompetensi
2. Berbagai Tingkat Keanekaragaman Hayati Indonesia
B. Deskripsi
Modul ini berisi pembelajaran biologi berbasis wisata mangrove
Bontang Kalimantan Timur. Bagaimana kaitannya dengan
keanekaragaman hayati dalam pembelajaran biologi kelas X SMA.
C. Waktu
Waktu yang digunakan dalam modul ini adalah 2 X 4 JP
D. Prasyarat
Untuk mempelajari modul kenaekaragaman hayati ini diperlukan
pengetahuan khusus mengenai ruang lingkup dan berbagai tingkat
organisasi kehidupan.
E. Petunjuk Penggunaan Modul
1. Pada setiap kegiatan pembelajaran, baca dan pahamilah materi yang
disajikan
2. Setiap soal yang diberikan, kerjakan dengan benar
kemudian untuk menilai telah tersedia rubrik dan kunci
jawabannya
3. jika belum mencapai level tingkat penguasaan yang
diharapkan, ulangi lagi pada materi yang belum
dikuasai
1
F. Tujuan Akhir
Setelah mempelajari modul ini, diharapkan dapat:
1. Memahami berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia.
2. Memahami pelestarian dan status konservasi kawasan mangrove di
Indonesia
2
KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. Kompetensi Dasar
3.2 Menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia
beserta ancaman dan pelstariannya
4.2 Menyajikan hasil observasi berbagai tingkat keanekaragaman hayati
di Indonesia dan usulan upaya pelestariannya
B. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat memahami berbagai tingkat keanekaragaman hayati di
Indonesia
2. Siswa dapat memahami upaya pelestarian dan ancaman
keanekaragaman hayati di Indonesia
3. Siswa dpat menyajikan hasil observasi berbagai tingkat
keanekaragaman hayati di Indonesia dan usulan upaya pelestariannya
3
Materi I
Wisata Mangrove Bontang, Kalimantan Timur
Berdasarkan zonasi Taman Nasional Kutai yang ditetapkan oleh Dirjen
PHKA melalui surat keputusan nomor SK 58/VI Set/2014 tanggal 17 Maret
2014 terdiri atas zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona
rehabilitasi dan zona khusus. Kawasan Bontang Mangrove Park merupakan
bagian dari kawasan pelestarian alam dengan tipe ekosistem mangrove yang
berada di kawasan Taman Nasional Kutai di bawah pengelolaan Balai Taman
Nasional Kutai. Berdasarkan zonasi Taman Nasional Kutai masuk dalam
zona pemanfaatan salah satunya adalah dimanfaatkan untuk kegiatan
pendidikan lingkungan dan wisata alam.
Gambar 1. Taman Wisata Graha Mangrove Bontang Kalimantan Timur
Sumber: celebes.co
Bontang Mangrove Park sebagai kawasan pendidikan lingkungan, dan
ekowisata yang baru, tentunya banyak informasi yang belum tergali secara
maksimal. Untuk mendukung kawasan pendidikan lingkungan terutama
tentang hutan mangrove yang memiliki peranan sangat penting dan sangat
efektif dalam meredam tsunami (Onrizal, 2018). Dibutuhkan informasi-
informasi edukatif tentang hutan mangrove sehingga
masyarakat atau pengunjung mendapat ilmu pengetahuan
yang cukup dan dapat menyampaikan pesan berantai
kepada handaytaulan dan kerabat, serta bagi pengelola
dalam hal ini Balai Taman Nasional Kutai memiliki data
base hutan mangrove Bontang Mangrove Park.
4
Obyek daya tarik kawasan mangrove di Bontang Mangrove Park Taman
Nasional Kutai memiliki nilai pengetahuan, nilai keindahan dan nilai sejarah.
Berdasarkan kronologis tercetusnya untuk mambangun sebagai pusat
pendidikan lingkungan ini salah satunya adalah untuk menjaga agar hutan
mangrove yang bersinggungan langsung dengan masyarakat dapat terjaga
dengan baik dan tidak mengalami pragmentasi akibat dari ketidaktahuan.
Informasi awal adalah melihat dari foto udara atau citra kondisi pada masa lalu
dan sekarang sehingga terlihat bagaimana pengelolaan kawasan konservasi.
Balai Taman Nasional Kutai bersama stackeholder melakukan
kegiatan ”responsible tourism” dalam rangka pengembangan kepariwisataan di
dalam Taman Nasional Kutai dan wilayah di sekitarnya. Perkembangan
kawasan hutan mangrove yang berada disekitar kawasan Taman Nasional
Kutai sebagai kawasan wisata alam merupakan salah satu kegiatan
pengembangan ekowisata yang menekankan pada prinsip tanggung jawabnya
terhadap kelestarian hutan melalui aspek edukasi, aspek ekonomi, aspek
konservasi dan aspek sosial. Sesuai dengan konsepnya bahwa ekowisata
merupakan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan yang bertujuan untuk
mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga
memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah setempat,
dan memberi peluang bagi generasi muda sekarang dan yang akan datang
untuk memanfaatkan dan mengembangkannya (UNESCO, 2009; Sudiarta,
2006).
Gambar 2. Keterangan hasil interpretasi tutupan mangrove
Bontang Mangrove Park
5
Kawasan Bontang Mangrove Park ini masih didominasi oleh vegetasi
mangrove atau ekosistem mangrove setidaknya pada tahun 2002 terdapat
70,1 % kawasan hutan mangrove yang meliputi mangrove primer seluas 28,8 %
(84,76 ha), mangrove sekunder 40,3 % (118,82 ha) sedangkan sisanya sebesar
30 % meliputi kawasan tutupan hutan rawa, semak belukar, tambak, tubuh air
dan lahan terbuka sehingga pada tahun 2002 secara umum menunjukkan
bahwa pada kawasan ini didominasi oleh ekosistem bervegetasi mangrove.
6
Kawasan Bontang Mangrove Park ini masih didominasi oleh vegetasi
mangrove atau ekosistem mangrove setidaknya pada tahun 2002 terdapat
70,1 % kawasan hutan mangrove yang meliputi mangrove primer seluas 28,8 %
(84,76 ha), mangrove sekunder 40,3 % (118,82 ha) sedangkan sisanya sebesar
30 % meliputi kawasan tutupan hutan rawa, semak belukar, tambak, tubuh air
dan lahan terbuka sehingga pada tahun 2002 secara umum menunjukkan
bahwa pada kawasan ini didominasi oleh ekosistem bervegetasi mangrove.
7
Materi II
Keanekaragaman Hayati
Indonesia adalah megabiodiversitas. Wilayah Indonesia hanya 1,3% dari
seluruh luas permukaan bumi, tetapi menyimpan 17% dari seluruh jumlah
spesies di dunia. Jenis tumbuhan berbunga, spesies mamalia, reptilia, amfibi,
dan kupu-kupu mempunyai keragaman yang tinggi. Potensi tersebut
merupakan sumber kekayaan keanekaragaman hayati yang tak ternilai
harganya.
Diperkirakan lebih dari satu juta jenis makhluk hidup mendiami atau
pernah mendiami planet bumi kita. Baik jenis-jenis tumbuhan, hewan, jamur,
jasad renik maupun organisme lain merupakan sumber kekayaan
keanekaragaman hayati yang tak ternilai harganya.
Kegiatan penelitian dan pengumpulan data tentang sumber daya alam
hayati, yang dikenal dengan istilah bioprospeksi, terus digalakkan. Ini
merupakan upaya yang berkelanjutan baik untuk tujuan pengembangan Ilmu
Pengetahuan Alam ataupun untuk kepentingan komersial. Dari kegiatan
eksplorasi yang dilakukan oleh para ilmuwan yang diikuti dengan
pengembangan ilmu pengetahuan memberikan potret biodiversitas, gambaran
tentang kekayaan keanekaragaman sumber daya alam hayati. Indonesia
memiliki keanekaragaman hayati yang tidak ternilai. Tahukah kalian bahwa dari
jenis tumbuhan berbunga yang ada di dunia 10% di antaranya tumbuh di
Indonesia? Bahkan Indonesia memiliki jumlah spesies mamalia tertinggi di
dunia, sekitar 515 spesies atau 12% dari mamalia dunia.Dengan sekitar 600
spesies reptilia dan sekitar 270 spesies amfibi yang ada, menempatkan
Indonesia di posisi ke tiga di dunia untuk kekayaan keanekaragaman reptilia
dan pada posisi ke lima untuk kekayaan keanekaraaman amfibi. Jumlah
spesies kupu-kupu di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, 121
spesies, 44% di antaranya endemik (Djalal Tanjung, 2002).
8
A. Macam-Macam Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati mencakup tiga tingkatan, yaitu
keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis, dan keanekaragaman
ekosistem.
1. Keanekaragaman gen
Cobalah kalian mengamati dengan saksama ciri-ciri yang terdapat
pada sekumpulan ayam kampung (Gallus gallus). Apakah kalian dapat
menemukan perbedaan ciri-cirinya?
Bagaimana dengan warna bulu, jenis kelamin, ukuran tubuh atau
bentuk pial (cengger), adakah perbedaannya? Meski satu spesies
ternyata ayam-ayam tersebut masih memiliki beberapa perbedaan ciri.
Ada ayam berbulu hitam, putih, coklat atau kombinasinya. Demikian pula
jenis kelaminnya, ada yang jantan dan ada yang betina. Ada ayam berpial
bilah, berpial pea (biji) atau berpial mawar (ros).
Perbedaan ciri-ciri yang mencakup bentuk, penampilan serta sifat
pada individu dalam satu spesies itulah yang dinamakan variasi. Variasi
ditimbulkan oleh perbedaan struktur dan susunan gen (genotip). Sifat-sifat
individu yang tampak dan dapat dikenali dari luar disebut fenotip. Individu
dalam satu spesies yang menunjukkan perbedaan ciri-ciri disebut
varietas. Keanekaragaman hayati mencakup keanekaragaman tingkat
gen, jenis, dan ekosistem.
Gambar 3. Variasi bentuk pial pada ayam
Sumber: google.com
9
Gambar 4. Variasi Warna Bulu pada Ayam
Sumber: google.com
Perbedaan struktur gen dalam kromosom menimbulkan variasi.
Variasi merupakan perbedaan bentuk, kenampakan, sifat antar individu
dalam satu spesies. Contoh lain misalnya pada tanaman padi (Oryza
sativa). Banyak variasi sifat yang kita temukan, mulai dari ukuran bulir,
citarasa, ketahanan terhadap penyakit, aroma nasinya, maupun umur
produktifnya. Banyak varietas padi yang dikenal dan dibudidayakan
masyarakat dengan keunggulan dan kekurangan sifat pada masing
masing varietas, seperti varietas mamberamo, IR 36, IR 64, Cisadane,
padi gogo dan lain-lain. Adanya perbedaan ciri-ciri antarindividu dalam
satu spesies menunjukkan adanya keanekaragaman gen. Perhatikan
keanekaragam warna pada bunga mawar. Apakah hal itu juga tergolong
keanekaragaman gen?
10
Gambar 5. Keanekaragaman Warna Bunga pada Mawar (Rosa sp)
Sumber: Ensiklopedia Encarta
Tugas
1. Cobalah kalian cari beberapa contoh lain yang menunjukkan adanya
keanekaragaman gen baik pada hewan maupun tumbuhan kemudian
deskripsikan perbedaan ciri-cirinya. Komunikasikan deskripsi kalian kepada
teman kalian.
2. Amatilah dengan saksama ciri-ciri teman di sebelahmu. Deskripsikan secara
lengkap ciri-ciri mulai dari rambut (bentuk, warna, tekstur), wajah (bentuk
muka, hidung, mata, ciri lain), kulit (warna, tekstur, ciri lain). Setelah itu
bandingkan dengan hasil deskripsi teman sebelah kalian. Adakah
perbedaannya, mengapa demikian?
11
2. Keanekaragaman jenis
Tentu kalian pernah melihat tanaman jagung. Bandingkan-lah bentuk,
penampilan, dan sifat-sifat antara tanaman jagung dan padi. Adakah
perbedaan ciri-cirinya? Tentunya kalian dapat menemukan banyak
perbedaan ciri antara kedua jenis tanaman tersebut. Di antaranya
perbedaan ciri mengenai ukuran daun, bentuk dan ukuran batang, bentuk
dan ukuran bunganya, bentuk dan ukuran biji atau buahnya dan masih
banyak perbedaan lain.
Demikian pula jika kita mengamati dengan saksama perbedaan bentuk,
penampilan dan sifat antara harimau dan singa, tentu dengan mudah kita
dapat menemukan perbedaan antara keduanya.
Gambar 6. Perbedaan ciri antara Harimau dan Singa
Sumber: Google.com
Perbedaan ciri antarindividu berbeda spesies menunjukkan adanya
keanekaragaman jenis. Perbedaan ciri pada individu berbeda spesies lebih
mudah dikenali daripada perbedaan ciri antarindividu dalam satu spesies.
Perbedaan bentuk, penampilan, dan sifat yang terdapat pada individu-individu
yang berbeda jenis menunjukkan adanya keanekaragaman jenis.
Perbedaan ciri-ciri antarindividu berbeda spesies
akan lebih mudah kita kenali daripada perbedaan
antarindividu dalam satu spesies. Perbedaan bentuk,
penampilan, dan sifat juga dapat di temukan pada
ke2wsxlapa, pinang, sawit. Coba kalian cari perbedaan ciri
ketiga jenis tumbuhan tersebut.
12
Keanekaragaman jenis juga terdapat pada mikrorganisme, seperti pada
Rhizopus sp dan Saccharomyces sp. Rhizopus sp tubuhnya berupa benang-
benang hifa tidak bersekat, multiseluler, menghasilkan zigospora sebagai
spora seksual. Adapun Saccharomyces sp merupakan jamur tanpa hifa,
uniseluler, berkembang biak dengan membentuk tunas.
3. Keanekaragaman ekosistem
Ekosistem merupakan kesatuan antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Dalam ekosistem terdapat komponen biotik, yang terdiri atas
benda-benda hidup dan komponen abiotik, yang terdiri atas benda-benda
tak hidup. Dalam tiap ekosistem terdapat komponen abiotik dan komponen
biotik yang berbeda-beda. Perbedaan komponen biotik dan komponen
abiotik dalam ekosistem menyebabkan terbentuknya keanekaragaman
ekosistem. Keanekaragaman ekosistem merupakan salah satu faktor
terbentuknya keanekaragaman hayati.
Komponen abiotik meliputi letak menurut garis lintang dan garis bujurnya
(latitude), ketinggian tempat (altitude), iklim, kelembaban, suhu, kondisi
tanah dan lain sebagainya. Adapun komponen biotik meliputi organisme
hidup termasuk produsen, konsumen, detritivor, maupun dekomposer.
Secara garis besar di muka bumi ini terdapat dua macam ekosistem besar,
yaitu ekosistem darat (terestrial) dan ekosistem perairan (akuatik).
Ekosistem darat mencakup beberapa macam bioma, antara lain bioma
gurun atau padang pasir, bioma padang rumput atau savanna, bioma hutan
basah atau hutan hujan tropis, bioma hutan gugur iklim sedang, bioma
taiga dan bioma tundra.
a. Bioma gurun/padang pasir jenis tumbuhan terbatas, seperti kaktus, perdu.
Didominasi oleh daratan pasir, intensitas cahaya matahari sangat tinggi,
curah hujan sangat rendah, perbedaan suhu siang dan malam sangat
besar. Terdapat di Afrika, Amerika Utara, Asia, Australia.
b. Bioma padang rumput atau savanna didominasi oleh
berbagai jenis rumput, beberapa jenis pohon atau
perdu, curah hujan lebih tinggi. Hewan-hewan
herbivora sangat melimpah, diikuti beberapa jenis
karnivora. Terdapat di Australia, Asia Selatan,
Amerika, dan Afrika.
13
c. Bioma hutan hujan tropis didominasi oleh pohon-pohon besar, berdaun
lebar dan lebat, penghasil kayu yang utama di samping beberapa jenis
liana dan epifit. Curah hujan sangat tinggi dan tersebar sepanjang tahun,
keanekaragaman tumbuhan sangat tinggi. Banyak hewan-hewan
arboreal, vertebrata, dan invertebrata. Terdapat di Amerika Tengah,
Amerika Selatan, Afrika, Asia Tenggara, dan Australia Timur.
d. Bioma hutan gugur iklim sedang didominasi oleh pohonpohon berdaun
lebar yang menggugurkan daunnya pada musim dingin dan dapat
mencapai tinggi 30-40 meter. Beriklim sedang, hujan turun pada musim
panas dengan musim dingin yang ekstrim. Hewan-hewan memiliki
aktifitas bermusim. Terdapat di Amerika Serikat, Eropa, Asia Timur,
Amerika Timur.
e. Bioma taiga didominasi oleh tumbuhan konifer, keanekaragaman jenis
tumbuhan sangat rendah. Terdapat di Amerika Utara, Eropa, dan Asia.
f. Bioma tundra didominasi oleh tumbuhan lumut, lumut kerak
dan pohon yang kerdil. Terdapat di daerah sekitar kutub
atau daerah pada ketinggian di atas 2.500 meter.
Adapun, ekosistem perairan dapat dikelompokkan berdasarkan aliran
airnya dan berdasarkan kadar garamnya/ (salinitas). Menurut aliran airnya
ekosistem perairan dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Ekosistem perairan mengalir (lotik) Air secara terus-menerus begerak
sesuai dengan dina-mika aliran air. Distribusi nutrisi lebih merata
dibandingkan dengan ekosistem perairan tidak mengalir, misalnya sungai.
2. Ekosistem perairan tidak mengalir (lentik). Tidak ada aliran air secara
dinamis, distribusi nutrisi kurang merata, misalnya danau, rawa, kolam,
waduk, bendungan dan lain-lain.
Adapun, menurut salinitasnya, ekosistem perairan
dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Ekosistem air tawar
Kadar garam rendah, dipengaruhi iklim dan cuaca
daratan, penetrasi cahaya matahari kurang. Misalnya
danau, kolam, waduk, bendungan dan lain-lain.
14
2. Ekosistem air laut
Kadar garam tinggi, tidak dipengaruhi iklim dan cuaca daratan,
penetrasi cahaya matahari relative lebih tinggi, misalnya laut.
3. Ekosistem air tawar
Kadar garam rendah, dipengaruhi iklim dan cuaca daratan, penetrasi
cahaya matahari kurang, misalnya danau, kolam, waduk, bendungan dan
lain-lain.
B. Keanekaragaman Hayati Indonesia
Indonesia merupakan negara yang menyimpan kekayaan
keanekaragaman hayati yang sangat besar. Tidak kurang dari 25.000
spesies tumbuhan berbunga tumbuh dengan baik di Indonesia, 3000 jenis di
antaranya anggrek. Sebagai negara dengan bioma hutan hujan tropis
memungkinkan tumbuh suburnya berbagai pohon penghasil kayu. Sekitar
400 jenis kayu meranti dari keluarga besar Dipterocarpaceae dengan nilai
ekonomis yang tinggi terdapat di Indonesia. Hutan di Indonesia juga
menyimpan tidak kurang dari 35.000 jenis lumut dan alga. Sekitar 6.000 jenis
tumbuhan dan satwa domestik asli Indonesia telah digunakan dalam
kehidupan sehari-hari untuk makanan, obat-obatan, kosmetik dan keperluan
lainnya. Dari sekitar 38.000 spesies ikan yang ada di dunia, sekitar 9.500
spesies atau 25% hidup di perairan Indonesia (Djalal Tanjung, 2002).
Manfaat keanekaragaman hayati
Tahukah kalian apakah kegunaan keanekaragaman hayati Indonesia
bagi kita? Untuk menjawabnya ikutilah uraian berikut.
1. Keanekaragaman hewan
Dari potensi keanekaragaman hayati hewan dapat dimanfaatkan
sebagai sumber protein hewani, baik dimanfaatkan dagingnya maupun
susunya. Beberapa hewan dapat dimanfaatkan tenaganya untuk
membantu mengolah lahan pertanian seperti kerbau, sapi dan gajah.
Di beberapa daerah di Indonesia ada yang
memanfaatkan kuda dan lembu sebagai alat transportasi
tradisional.
15
Tidak sedikit hewan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, seperti ikan
arwana, ayam cemani, beberapa jenis burung berkicau yang sengaja
dikembangbiakkan untuk dikomersialkan maupun sebagai hewan piaraan
sekaligus untuk meningkatkan status sosial pemiliknya. Dalam bidang
pertanian kehadiran serangga dan beberapa jenis burung sangat berarti
sebagai polinator atau sebagai musuh alami dari hama.
2. Keanekaragaman tumbuhan
Banyak potensi dari kekayaan keanekaragaman tumbuhan di
Indonesia. Sebagian besar penduduk Indonesia mengonsumsi nasi
sebagai makanan pokok. Berbagai varietas padi banyak ditanam untuk
kepentingan swasembada pangan tanpa meninggalkan jenis umbi
umbian, jagung, sagu maupun ketela sebagai alternatif bahan makanan
pokok nonberas. Pemenuhan kebutuhan protein dan lemak nabati dapat
diperoleh dari beberapa jenis kacang-kacangan dan pengembangan
perkebunan kelapa sawit untuk kepentingan penyediaan bahan industri
minyak goreng. Seiring dengan makin menipisnya deposit minyak bumi,
sekarang mulai dirintis pengembangan tanaman jarak untuk
menghasilkan bahan bakar biodiesel sebagai alternatif pengganti bensin
dan solar.
Beraneka ragam tanaman buah dan sayuran merupakan sumber
vitamin dan mineral yang penting bagi kesehatan. Berbagai jenis tanaman
obat, terutama dari keluarga Zingiberaceae, akar, dedaunan maupun biji
bijian sudah banyak dibudidayakan untuk apotik hidup atau untuk
keperluan penyediaan bahan baku industri jamu dan farmasi. Beberapa
jenis tanaman seperti jati, meranti, mahoni dan beberapa jenis lain
merupakan pemasok bahan baku mebel, bahan konstruksi rumah
maupun industri berbasis kayu. Jenisjenis pinus menghasilkan minyak
terpentin atau bahan baku kertas, pohon karet, dan damar untuk disadap
getahnya dan masih banyak potensi yang dapat diambil dari
keanekaragaman tumbuhan untuk kesejahteraan manusia.
16
3. Keanekaragaman mikroorganisme
Beberapa jenis makanan dan minuman tradisional Indonesia dalam
proses pembuatannya melibatkan mikroorganisme. Jamur
Saccharomyces sp sangat diperlukan dalam fermentasi minuman
beralkohol. Demikian pula jenis Aspergillus sp membantu proses
fermentasi tape. Beberapa jenis jamur dan bakteri juga menghasilkan
antibiotika. Pembuatan susu asam (yoghurt) maupun nata (sejenis jeli)
untuk campuran minuman juga melibatkan bakteri. Dalam rekayasa
genetika pun keterlibatan mikroorganisme tidak dapat diabaikan.
Pembuatan insulin sintetis membutuhkan bakteri sebagai plasmid.
Demikian juga dalam proses degradasi sampah kehadiran
mikroorganisme pengurai sangat diperlukan. Dalam bidang pertanian
beberapa bakteri pengikat nitrogen sangat membantu meningkatkan
kesuburan tanah. Di bidang industri logam beberapa jenis bakteri
membantu proses pemurnian bijih besi. Dengan demikian
mikroorganisme merupakan salah satu kekayaan sumber daya alam
hayati yang vital bagi kehidupan. Sebagian wilayah daratan Indonesia
merupakan kawasan hutan, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan
hingga Papua terdapat kawasan hutan. Meski dari waktu ke waktu terjadi
penciutan kawasan hutan, tidak dapat dipungkiri bahwa hutan
merupakan potensi sumber daya alam hayati yang teramat penting.
Hutan sangat penting dalam daur hidrologi, karena kemampuannya
dalam menyimpan air hujan. Sebagian besar hutan di Indonesia
merupakan tipe hutan hujan tropis. Dengan melimpahnya
keanekaragaman hayati yang sangat tinggi menjadikan hutan sebagai
sumber kekayaan plasma nutah. Dalam hutan hujan tropis
keanekaragaman jenis pohon penghasil kayu sangat tinggi, di samping
potensi keanekaragaman jenis-jenis anggrek, lumut maupun tumbuhan
paku. Jenisjenis mamalia besar seperti gajah, harimau, singa, orang
utan, banteng, sapi hutan menjadikan hutan sebagai habitatnya.
Beberapa jenis herbivora seperti rusa, kijang maupun
kambing liar juga dapat dijumpai di hutan. Karena itu upaya
konservasi dan pelestarian hutan menjadi hal yang mutlak
dilakukan untuk menjaga kelestarian kawasan hutan.
17
Ada dua macam upaya pelestarian keanekaragaman hayati di
Indonesia, yaitu secara insitu dan eksitu. Pelestarian secara insitu adalah
pelestarian sumber daya alam hayati pada habitat aslinya. Adapun
pelestarian secara eksitu adalah pelestarian sumber daya alam hayati di
luar habitat aslinya. Pemerintah sudah menetapkan beberapa kawasan
hutan sebagai hutan lindung, taman nasional, dan suaka margasatwa. Ini
merupakan upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati baik
tumbuhan maupun hewan agar terhindar dari bahaya kepunahan.
Sebagai contoh pelestarian gajah di Way Kambas Lampung dan
komodo di pulau Komodo Nusa Tenggara Timur. Kebun binatang yang
ada di Indonesia memiliki koleksi satwa yang beraneka ragam. Satwa-
satwa yang dijadikan koleksi sengaja dipindahkan dari habitat aslinya ke
dalam lingkungan kebun binatang. Di samping bertujuan melengkapi
keragaman hewan, pemindahan hewan ini juga dimaksudkan sebagai
sarana rekreasi dan pembelajaran pada masyarakat dan pengembangan
satwa untuk pelestarian satwa yang bersangkutan. Ini merupakan
pelestarian secara eksitu. Demikian pula pembangunan kebun plasma
nutfah, kebun botani, dan kebun koleksi di beberapa daerah. Kebun
plasma nutfah ditujukan untuk melestarikan jenisjenis tumbuhan baik jenis
unggul maupun yang masih liar. Pada kebun koleksi tanaman terbatas
pada jenis-jenis unggul saja. Adapun kebun botani, lebih bersifat
melestarikan jenis daripada plasma nutfah dalam arti yang sebenarnya.
18
Rangkuman
Keanekaragaman hayati terbangun oleh tiga tingkatan keanekaragaman
yaitu keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem. Keanekaragaman gen timbul
karena adanya perbedaan struktur gen yang mengekspresikan sifat-sifat
berbeda. Perbedaan bentuk, penampilan, dan sifat satu spesies pada individu
sejenis menimbulkan variasi. Perbedaan bentuk, penampilan, dan sifat pada
individu yang berbeda spesies menimbulkan keanekaragaman jenis.
Keanekaragaman jenis lebih mudah kita kenali daripada keanekaragaman gen.
Adanya perbedaan faktor biotik dan abiotik dalam ekosistem menimbulkan
keanekaragaman ekosistem. Ada dua ekosistem utama di bumi, yaitu
ekosistem darat (terrestrial) dan ekosistem perairan (akuatik). Ekosistem darat
mencakup beberapa bioma. Menurut aliran airnya ekosistem perairan
dibedakan menjadi ekosistem perairan mengalir dan ekosistem perairan tidak
mengalir, sedangkan menurut salinitasnya ekosistem perairan dibedakan
menjadi ekosistem air tawar, ekosistem air laut, dan ekosistem
air payau. Keanekaragaman hayati di Indonesia, baik keanekaragaman hewan,
tumbuhan dan mikroorganisme memiliki arti yang besar bagi upaya
peningkatan kesejahteraan manusia. Namun, perlu upaya pelestarian baik
secara insitu maupun eksitu. Pelestarian secara insitu adalah pelestarian
keanekaragaman hayati pada habitat aslinya, sedangkan pelestarian secara
eksitu adalah pelestarian keanekaragaman hayati di luar habitat aslinya.
19
Latihan Soal
Coba kerjakan di buku kerja kalian.
A. Pilihlah salah satu jawaban soal berikut dengan tepat.
1. Keanekaragaman hayati terbangun oleh tiga tingkatan keanekaragaman
yaitu keanekaragam ....
a. individu, populasi, komunitas
b. sel, jaringan, organ
c. gen, jenis, ekosistem
d. gen, genotip, fenotip
e. gen, jenis, populasi
2. Bermacam-macam mangga seperti mangga madu, golek, gadung,
mangga, nanas merupakan keanekaragaman tingkat ....
a. gen
b. jenis
c. populasi
d. ekosistem
e. komunitas
3. Variasi antarindividu timbul karena adanya perbedaan ....
a. kebiasaan hidup
b. jenis makanan
c. habitat antar individu
d. perilaku antar individu
e. struktur gen
4. Perbedaan bentuk, penampilan, dan sifat pada pisang ambon, pisang
kepok, pisang biji, pisang raja menunjukkan adanya keanekaragaman
tingkat ....
a. gen
b. jenis
c. populasi
d. komunitas
e. ekosistem
20
5. Lebih mudah membedakan ciri antara padi dengan jagung dari pada
membedakan ciri antara padi mamberamo dengan padi cisadane
karena ....
a. padi dan jagung satu familia
b. padi dan jagung tergolong rumputrumputan
c. padi dan jagung berbeda familia
d. padi dan jagung berbeda species
e. padi dan jagung satu species
6. Mempelajari keanekaraman hayati bermanfaat seperti tersebut di bawah
ini, kecuali ....
a. mengenal jenis-jenis makhluk hidup
b. mengetahui manfaat jenis-jenis makhluk hidup
c. mengetahui kekerabatan antar makhluk hidup
d. mengenal ciri-ciri makhluk hidup
e. mengetahui pangsa pasar jenis-jenis makhluk hidup
7. Berikut yang merupakan flora khas Papua adalah ....
a. bunga rafflesia dan kayu ebony
b. matoa dan cendana
c. kruing dan kayu ulin
d. durian dan matoa
e. matoa dan buah merah
8. Yang membedakan ekosistem lentik dan lotik adalah ....
a. salinitasnya
b. aliran air
c. curah hujan
d. intensitas cahaya matahari
e. ketinggian tempat
9. Istilah yang menunjukkan gambaran kekayaan
keanekaragaman hayati suatu wilayah adalah ....
a. bioprospeksi
b. biopestisida
c. bioteknologi
d. biodiversitas
e. biodegradasi
21
10. Hutan Indonesia menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang
sangat tinggi. Banyak mamalia besar hidup di kawasan hutan Kalimantan.
Yang tergolong fauna arboreal adalah ....
a. banteng, gajah, badak
b. harimau, singa, serigala
c. orang utan, siamang, monyet
d. burung, angsa, ayam
e. anoa, kambing hutan,
22
Kunci Jawaban Skor
No. Jawaban 10
1C 10
2A 10
3E 10
4A 10
5E 10
6E 10
7E 10
8B 10
9D 10
10 C
Pedoman Penskoran
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat di
modul. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut
untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap Materi III.
ℎ ℎ
= ℎ 100%
Konversi tingkat penguasaan:
90 – 100% = baik sekali
80 – 89% = baik
70 – 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan ke Materi selanjutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda harus
mengulangi Materi, terutama bagian yang belum dikuasai.
23
Materi III
Ekosistem Mangrove
Istilah ‘mangrove’ tidak diketahui secara pasti asal usulnya. Ada yang
mengatakan bahwa istilah tersebut kemungkinan merupakan kombinasi dari
bahasa Portugis dan Inggris. Bangsa Portugis menyebut salah satu jenis pohon
mangrove sebagai ‘mangue’ dan istilah Inggris ‘grove’, bila disatukan akan
menjadi ‘mangrove’ atau ‘mangrave’. Ada kemungkinan pula berasal dari
bahasa Malay, yang menyebut jenis tanaman ini dengan ‘mangi-mangi’ atau
‘mangin’. Mangrove adalah tanaman pepohonan atau komunitas tanaman yang
hidup di antara laut dan daratan yang dipengaruhi oleh pasang surut. Habitat
mangrove seringkali ditemukan di tempat pertemuan antara muara sungai dan
air laut yang kemudian menjadi pelindung daratan dari gelombang laut yang
besar. Sungai mengalirkan air tawar untuk mangrove dan pada saat pasang,
pohon mangrove dikelilingi oleh air garam atau air payau (Irwanto, 2006).
Hutan bakau atau mangal adalah sebutan umum yang digunakan untuk
menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang di dominasi oleh
beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang
mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin (Nybakken, 1988).
Mangrove disebut juga sebagai hutan pantai, hutan payau atau hutan
bakau. Pengertian mangrove sebagai hutan pantai adalah pohon-pohonan
yang tumbuh di daerah pantai (pesisir), baik daerah ynag dipengaruhi oleh
pasang surut air laut maupun wilayah daratan pantai yang dipengaruhi oleh
ekosistem pesisir. Sedangkan pengertian mangrove sebagai hutan payau atau
hutan bakau adalah pohon-pohonan yang tumbuh di daerah payau pada tanah
aluvial atau pertemuan air laut dan air tawar di sekitar muara sungai. Pada
umumnya formasi tanaman di dominasi oleh tanaman bakau. Oleh karena itu
istilah bakau digunakan hanya untuk jenis-jenis tumbuhan dari genus
Rhizophora.
Sedangkan istilah mangrove digunakan untuk
segala tumbuhan yang hidup di sepanjang pantai atau
muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut.
Dengan demikian pada suatu kawasan hutan yang terdiri
dari berbagai ragam tumbuhan atau hutan tersebut bukan
hanya jenis bakau yang ada, maka istilah hutan mangrove
lebih tepat digunakan (Harahap, 2010).
24
A. Jenis-jenis Mangrove
Menurut Dahuri (2003), kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara
merupakan pusat penyebaran hutan mangrove dunia. Kawasan ini mewakili
25% dari luas mangrove dunia, dan 75% dari luas mangrove di Asia
Tenggara. Sampai saat ini wilayah Indonesia masih diakui sebagai wilayah
yang memiliki habitat mangrove terluas di dunia. Purnobasuki (2005)
menjelaskan, luas hutan mangrove di Indonesia berdasarkan penafsiran
potret udara dan citra satelit serta inventarisasi yang telah dilakukan
mencapai ±4,251 juta ha dengan daerah penyebaran utama adalah pantai
timur Pulau Sumatra (Aceh, Riau, Sumatra Utara, Jambi, Sumatra Selatan,
dan Lampung), muara-muara sungai di Kalimantan Barat, Kalimantan timur,
pantai timur dan tenggara Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku,
dan Papua. Luas hutan mangrove yang telah ditunjuk sebagai kawasan
konservasi adalah seluas 738.175 ha atau hanya 17,3 % dari luas seluruh
hutan mangrove di Indonesia.
Sejauh ini di Indonesia tercatat setidaknya 202 jenis tumbuhan
mangrove, meliputi 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis pemanjat, 44 jenis
herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Dari 202 jenis tersebut, 43 jenis
(diantaranya 33 jenis pohon dan beberapa jenis perdu) ditemukan sebagai
mangrove sejati (true mangrove), sementara jenis lain ditemukan disekitar
mangrove dan dikenal sebagai jenis mangrove ikutan (associate asociate)
(Noor dkk, 2006).
Bakau (Mangrove) merupakan suatu komponen ekosistem yang terdiri
atas komponen mayor dan komponen minor. Komponen mayor merupakan
komponen yang terdiri atas mangrove sejati, yakni mangrove yang hanya
dapat hidup di lingkungan mangrove (pasang surut). Komponen minor
merupakan komponen mengrove yang dapat hidup di luar lingkungan
mangrove (tidak langsung kena pasang surut air laut). Mangrove yang
merupakan komponen mayor disebut juga dengan mangrove sejati,
sedangkan mangrove yang termasuk komponen minor disebut dengan
mangrove ikutan (Erlin, 2011).
25
Yang termasuk mangrove sejati menurut Noor dkk (2006), meliputi :
Acanthaceae, Pteridaceae, Plumbaginaceae, Myrsinaceae, Loranthaceae,
Avicenniaceae, Rhizophoraceae, Bombacaceae, Euphorbiaceae,
Asclepiadaceae, Sterculiaceae, Combretaceae, Arecaceae, Myrtaceae,
Lythraceae, Rubiaceae, Sonneratiaceae, Meliaceae. Sedangkan untuk
mangrove tiruan meliputi : Lecythidaceae, Guttiferae, Apocynaceae,
Verbenaceae, Leguminosae, Malvaceae, Convolvulaceae,
Melastomataceae.
Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang
banyak ditemukan antara lain adalah jenis api-api (Avicennia sp.), bakau
(Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), dan bogem atau pedada
(Sonneratia sp.), merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyak
dijumpai. Jenis-jenis mangrove tersebut adalah kelompok mangrove yang
menangkap, menahan endapan dan menstabilkan tanah habitatnya
(Irwanto, 2006).
Gambar 7. Jenis-jenis Mangrove
26
B. Manfaat Mangrove
Mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan yang
penting diwilayah pesisir dan lautan. Secara lebih terperinci, fungsi bio
ekologis dan sosio-ekonomis dari hutan mangrove menurut Purnobasuki
(2005) dijabarkan sebagai berikut:
1. Tempat pemijahan (Nursery Ground)
Ekosistem mangrove terkenal sebagai bahan organik, yang
merupakan mata rantai makanan di daerah pantai. Serasah daun
mangrove yang subur dan berjatuhan di perairan sekitarnya diubah oleh
mikroorganisme (terutama kepiting) dan mikroorganisme pengurai
menjadi detritus, berubah menjadi bioplankton yang dimakan oleh
binatang-binatang laut. Dengan demikian di lingkungan mangrove kaya
akan zat nutrisi bagi ikan-ikan dan udang yang hidup di habitat tersebut.
2. Tempat berlindung fauna
Mangrove dengan tajuknya yang rata dan rapat , serta selalu hijau
dan membentuk lapisan yang berbaris di sepanjang pantai merupakan
tempat yang disukai oleh burung-burung besar sebagai tempat membuat
sarang dan bertelur. Banyak jenis burung yang memanfaatkan mangrove
sebagai sarangnya.
3. Habitat alami yang membentuk keseimbangan ekologis
Dalam lingkungan hutan mangrove terdapat beraneka macam biota
yang satu dengan lainnya saling berinteraksi dalam kehidupannya. Dalam
keadaan alami karagaman biota tersebut membentuk suatu
keseimbangan, terutama kesimbangan antara prey (mangsa) dengan
predator (pemangsa). Secara ekologis keseimbangan ini harus dijaga
agar kehidupan alami dapat berjalan apa adanya. Namun dengan
hilangnya salah satu komponen akan mengganggu keseimbangan
tersebut dan pada akhirnya menuju pada rusaknya ekosistem hutan
mangrove secara keseluruhan
4. Perlindungan pantai terhadap bahaya abrasi
Sistem perakaran mangrove yang rapat dan terpancang
sebagai jangkar, dapat berfungsi untuk meredam gempuran
gelombang laut dan ombak, serta cengkeraman akar yang
menancap pada tanah dapat menahan lepasnya partikel-
pertikel tanah. Dengan demikian bahaya abrasi atau erosi
oleh gelombang laut dapat dicegah.
27
5. Perangkap sedimen 28
Sistem perakaran mangrove juga efektif dalam menangkap partikel-
partikel tanah yang berasal dari hasil erosi di sebelah hulu. Perakaran
mangrove menangkap partikel-partikel tanah tersebut dan
mengendapkannya. Dengan demikian akan terjadi suatu kondisi di mana
endapan lumpur tidak hanyut oleh arus gelombang laut.
6. Penyerap bahan pencemaran
Tumbuhan mangrove yang tumbuh di sekitar perkotaan atau pusat
pemukiman dan jalan perhubungan dapat berfungsi sebagai penyerap
bahan pencemaran, gas buangan kendaraan, industri, dan sebagainya.
Bahan buangan industri yang dibuang melalui sungai akan terbawa ke
muara dan tersaring oleh perakaran mangrove.
7. Penahan angin laut
Jajaran tegakan mangrove yang tumbuh di pantai, melindungi
pemukiman nelayan di sebelahnya (kearah daratan) dari hembusan angin
yang kencang. Angin laut yang bertiup kencang kearah daratan dapat
ditahan oleh lapisan hutan mangrove dan dibelokkan kearah atas.
Dengan demikian pemukiman di belakang hutan mangrove tersebut akan
terletak di belakang bayangan angin (leeding area). Pemukiman
terlindungi dari hembusan angin yang kencang.
8. Sumber bahan obat
Sebagian besar dari tumbuhan mangrove bermanfaat sebagai bahan
obat. Ekstrak dan bahan mentah dari mangrove telah banyak dimanfaatkan
oleh masyarakat pesisir untuk keperluan obat-obatan alamiah. Campuran
senyawa kimia bahan alam oleh para ahli kimia dikenal sebagai
pharmacopoeia. Sejumlah tumbuhan mangrove dan tumbuhan asosiasinya
digunakan pula sebagai bahan tradisional insektisida dan pestisida.
C. Ekosistem Mangrove
Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem perpaduan antara
ekosistem lautan dan daratan dan berkembang terutama di daerah tropika
dan sub tropika yaitu pada pantai-pantai yang landai,
muara sungai dan teluk yang terlindung dari hempasan
gelombang air laut. Dengan demikian hutan mangrove
merupakan penyangga ekosistem daratan dan lautan,
dan merupakan mata rantai yang sangat penting dalam
memelihara keseimbangan biologi di suatu perairan
(Harahap, 2010).
Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan
ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis
dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain : pelindung garis
pantai, mencegah intrusi air laut, habitat (tempat tinggal), tempat mencari
makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground),
tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta sebagai
pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain : penghasil
keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit
(Rochana, 2011).
Menurut Purnobasuki (2005), dari sudut ekologis hutan mangrove
merupakan ekosistem yang sangat unik dan merupakan salah satu sumber
daya alam yang sangat potensial karena di kawasan hutan mangrove terpadu
unsur fisik, biologis daratan dan lautan. Ekosistem mangrove hanya didapati
di daerah tropik dan sub-tropik. Ekosistem mangrove dapat berkembang
dengan baik pada lingkungan dengan ciriciri ekologik sebagai berikut
(Waryono,2000):
1. Jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir dengan bahan-bahan
yang berasal dari lumpur, pasir atau pecahan karang.
2. Lahannya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun hanya
tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi genangan ini akan
menentukan komposisi vegetasi ekosistem mangrove itu sendiri.
3. Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat (sungai, mata air atau
air tanah) yang berfungsi untuk menurunkan salinitas, menambah pasokan
unsur hara dan lumpur.
4. Suhu udara dengan fluktuasi musiman tidak lebih dari 5ºC dan suhu rata
rata di bulan terdingin lebih dari 20ºC.
5. Airnya payau dengan salinitas 2-22 ppt atau asin dengan salinitas
mencapai 38 ppt.
6. Arus laut tidak terlalu deras.
7. Tempat-tempat yang terlindung dari angin kencang dan gempuran ombak
yang kuat.
8. Topografi pantai yang datar/landai.
29
Habitat dengan ciri-ciri ekologik tersebut umumnya dapat ditemukan di
daerah-daerah pantai yang dangkal, muara-muara sungai dan pulau-pulau
yang terletak pada teluk. Ditinjau dari sudut pandang ekologis, hutan
mangrove merupakan sebuah ekosistem yang unik. Hal ini terjadi karena
pada perairan yang kadar garamnya sangat kecil (payau) tersebut tergabung
empat unsur biologi yang sangat mendasar, yaitu daratan, air, pepohonan,
dan fauna. Keistimewaan lain dari ekosistem mangrove adalah resisten
terhadap kadar garam yang biasa terdapat di daerah pasang surut (tidal) baik
tropis maupun subtropics.
Hutannya tidak tergantung pada iklim melainkan terhadap tanah
(edaphis). Lain halnya dengan hutan tropis yang komposisi tanahnya berlapis
lapis, hutan mangrove hanya mempunyai satu lapisan tanah saja (singles
strata). Oleh karena itu adanya titik temu antara daratan dengan lautan, maka
ekosistem kawasan mangrove menjadi sangat rumit. Tumbuhan tersebut
terikat oleh ekosistem di darat maupun di lepas pantai (Purnobasuki, 2005).
D. Struktur dan Adaptasi Mangrove
Tumbuhan mangrove memiliki daya adaptasi fisiologi dan morfologi
yang khas agar dapat terus hidup pada lingkungan yang bersalinitas tinggi
dan kondisi lumpur yang anerob di perairan laut dangkal (Dahuri, 2003).
Fachrul (2007) menambahkan, mangrove tahan terhadap lingkungan
dengan suhu perairan yang tinggi, fluktuasi salinitas yang luas dan tanah
yang anerob. Salah satu faktor yang penting dalam adaptasi fisiologis adalah
sistem akar udara. Tidak semua tumbuhan mangrove memperoleh oksigen
untuk akar-akarnya dari tanah yang mengandung oksigen, mengrove
tumbuh di tanah yang tidak mengandung oksigen dan memperoleh hampir
seluruh oksigen untuk akar-akar dari atmosfer. Spesies Rhizophora
memenuhi kebutuhan tersebut dengan akar-akar tunjang yang mencuat
sampai satu meter atau lebih di atas permukaan tanah.
Bakau mempunyai sejumlah bentuk khusus yang memungkinkan
mereka untuk hidup di perairan lautan yang dangkal yaitu berakar pendek,
menyebar luas dengan akar penyangga atau tudung
akarnya yang khas tumbuh dari batang dan atau dahan.
Akar–akar yang dangkal sering memanjang yang disebut
pneumatofor ke permukaan substrat yang
memungkinkannya mendapat oksigen dalam lumpur
30
yang anoksin di mana pohon-pohon ini tumbuh. Daun–daunnya kuat dan
mengandung banyak air dan mempunyai jaringan internal penyimpan air dan
kosentrasi garamnya tinggi (Nybakken, 1988).
Bentuk-bentuk perakaran tumbuhan mangrove yang khas tersebut
adalah sebagai berikut (Onrizal, 2008):
a. Akar pasak (pneumatophore).
Akar pasak berupa akar yang muncul dari sistem akar kabel dan
memanjang keluar ke arah udara seperti pasak. Akar pasak ini terdapat
pada Avicennia, Xylocarpus dan Sonneratia.
b. Akar lutut (knee root).
Akar lutut merupakan modifikasi dari akar kabel yang pada awalnya
tumbuh ke arah permukaan substrat kemudian melengkung menuju ke
substrat lagi. Akar lutut seperti ini terdapat pada Bruguiera spp.
c. Akar tunjang (stilt root).
Akar tunjang merupakan akar (cabang-cabang akar) yang keluar dari
batang dan tumbuh ke dalam substrat. Akar ini terdapat pada Rhizophora
spp.
d. Akar papan (buttress root).
Akar papan hampir sama dengan akar tunjang tetapi akar ini melebar
menjadi bentuk lempeng, mirip struktur silet. Akar ini terdapat pada
Heritiera.
e. Akar gantung (aerial root).
Akar gantung adalah akar yang tidak bercabang yang muncul dari
batang atau cabang bagian bawah tetapi biasanya tidak mencapai
substrat. Akar gantung terdapat pada Rhizophora, Avicennia dan
Acanthus. Bentuk-bentuk perakaran tumbuhan mangrove yang sering
dijumpai di hutan mangrove dapat dilihat pada Gambar 8 sebagai berikut.
31
Gambar 8. Bentuk-bentuk perakaran tumbuhan mangrove (dari atas kiri ke
kanan) akar papan, akar pasak, (bawah kiri ke kanan) akar tunjang, akar
lutur
Pada umumnya pohon mangrove mempunyai satu atau lebih tipe akar.
Berbagai bentuk perakaran tersebut merupakan salah satu cara adaptasi
tumbuhan mangrove terhadap kondisi habitat yang sering tergenang air
pasang, sehingga tanahnya bersifat anaerob (Onrizal, 2008).
E. Faktor Lingkungan yang Berperan dalam Ekosistem Mangrove
Lingkungan laut selalu berubah atau dinamik. Kadang-kadang
perubahan lingkungan ini lambat, seperti datangnya zaman es yang
memakan waktu ribuan tahun. Kadang-kadang cepat seperti datangnya
hujan badai yang menumpahkan air tawar dan mengalirkan endapan lumpur
dari darat ke laut. Cepat atau lambatnya perubahan itu sama-sama
mempunyai pengaruh, yakni kedua sifat perubahan tersebut akan
mengubah intensitas faktor-faktor lingkungan. Perubahan apapun yang
terjadi akan baik bagi suatu kehidupan dan buruknya bagi kehidupan yang
lain. Karen dinamika atau terus berubahnya lingkungan, makhluk hidup juga
akan berubah (Romimohtarto dkk, 2007)
32
Berbagai pengaruh lingkungan yang berperan dalam ekosistem
mangrove meliputi (Purnobasuki, 2005):
1. Temperatur (suhu)
2. insolasi
3. pasang surut
4. suplai air tawar dan salinitas
5. pH
Diskusikan dengan temanmu, apakah ekosistem mangrove termasuk
keanekaragaman hayati? Termasuk ke dalam tingkat keanekragaman
hayati apa? Jelaskan!
33
Materi IV
Pelestarian Keanekaragaman Hayati
A. Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodiversitas
Manusia adalah makhluk hidup, sama dengan makhluk hidup yang lain.
Oleh karena itu, manusia juga berinteraksi dengan alam sekitarnya. Manusia
mempunyai kemampuan untuk memengaruhi alam sekitarnya karena
manusia merupakan makhluk yang memiliki kelebihan akal dibandingkan
dengan makhluk lainnya.
Di dalam ekosistem, manusia merupakan bagian yang paling dominan
karena dapat berbuat apa saja terhadap ekosistem. Akan tetapi, perlu
diingat bahwa kelangsungan hidup manusia juga bergantung dari
kelestarian ekosistem tempat manusia hidup. Untuk menjaga terjaminnya
kelestarian ekosistem, manusia harus dapat menjaga keserasian hubungan
timbal balik antara manusia dengan lingkungannya sehingga keseimbangan
ekosistem dapat terjaga. Kelestarian berarti juga terjaganya
keanekaragaman hayati (biodiversitas). Pemanfataan sumber daya alam
secara berlebihan dapat mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman
hayati atau bahkan terjadi kepunahan jenis tersebut. Pengaruh manusia
terhadap lingkungan dapat mengakibatkan dua kemungkinan, yaitu alam
menjadi rusak (deteriorasi) atau sebaliknya, yaitu alam tetap lestari.
1. Manusia sebagai Perusak Keanekaragaman Hayati
Lingkungan akan rusak jika manusia mengusahakan sumber hayati
hanya didasarkan pada prinsip jangka pendek, yaitu untuk menghasilkan
produk sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin dan modal
sesedikit mungkin. Usaha semacam itu memang mendatangkan
kemakmuran kepada manusia. Akan tetapi, pengaruhnya terhadap alam
dapat menimbulkan dampak berupa berkurangnya atau punahnya
keanekaragaman hayati dan merosotnya kualitas lingkungan sehingga
pada akhirnya lingkungan tidak mampu lagi
memberi kehidupan yang layak kepada manusia. Bahkan,
mungkin terjadi bencana alam yang mengancam
kelangsungan hidup manusia.
34
Coba kalian amati, banyak kondisi lingkungan hidup yang telah
rusak di Indonesia. Dalam arti, banyak lingkungan hidup yang sudah tidak
seimbang keadaannya karena berkurangnya keanekaragaman hayati
atau kepunahan jenis-jenis tertentu. Hal itu merupakan petunjuk bahwa
sikap dan perilaku manusia Indonesia terhadap alam sekitarnya masih
sebagai pemanfaat atau pengusaha untuk dirinya sendiri tanpa
memerhatikan kelestarian biodiversitas. Mereka memandang alam
sebagai objek yang terpisah dari dirinya yang dapat dipengaruhi
sekehendaknya. Mereka tidak menyadari bahwa perubahan pola
lingkungan akan memengaruhi pola kehidupannya.
Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan beberapa satwa
penting akibat kepunahan, misalnya, harimau bali. Saat ini hewan
tersebut tidak pernah ditemukan lagi keberadaannya. Hewan-hewan
seperti badak bercula satu, jalak bali, dan trenggiling juga terancam
punah. Belum lagi beberapa jenis serangga, hewan melata, ikan, dan
hewan air yang sudah tidak ditemukan lagi di lingkungan kita.
Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kepunahan
keanekaragaman hayati? Banyak, di antaranya, sebagai berikut.
a. Perusakan Habitat
Habitat didefinisikan sebagai daerah tempat tinggal makhluk
hidup. Kerusakan habitat merupakan penyebab utama kepunahan
makhluk hidup. Jika habitat rusak, makhluk hidup tidak memiliki tempat
untuk hidup. Kerusakan habitat dapat diakibatkan terjadi karena ulah
manusia yang telah mengubah fungsi ekosistem, misalnya hutan
ditebang, dijadikan lahan pertanian, permukiman, dan akhirnya
berkembang menjadi perkotaan. Kegiatan manusia tersebut
mengakibatkan menurunnya keanekaragaman ekosistem, jenis, dan
gen.
Perusakan terumbu karang di laut juga dapat menurunkan
keanekaragaman hayati laut. Ikan-ikan serta biota laut yang hidup dan
bersembunyi di terumbu karang tidak dapat hidup tenang,
beberapa di antaranya tidak dapat menetaskan telurnya
karena terumbu karang yang rusak. Menurunnya populasi
ikan akan merugikan nelayan dan mengakibatkan harga
ikan meningkat. Selain akibat aktivitas manusia,
kerusakan habitat diakibatkan juga oleh bencana alam,
misalnya, gunung meletus, kebakaran, dan banjir
35
b. Penggunaan Pestisida
Pestisida berfungsi untuk membasmi makhluk hidup pengganggu
(hama) pada tanaman. Akan tetapi, jika digunakan secara berlebihan,
akan menyebar ke lingkungan sekitarnya dan meracuni makhluk hidup
yang lain, termasuk mikroba, jamur, hewan, dan tumbuhan lainnya.
Contoh pestisida adalah herbisida, fungisida, dan insektisida.
c. Pencemaran
Bahan pencemar berasal dari limbah pabrik, asap kendaraan
bermotor, limbah rumah tangga, sampah yang tidak dapat didaur ulang
lingkungan secara alami, dan bahan-bahan berbahaya lain. Bahan
pencemar ini dapat membunuh makhluk hidup, termasuk mikroba,
jamur, hewan, dan tumbuhan sehingga mengurangi
keanekaragamannya.
d. Perubahan Tipe Tumbuhan
Tumbuhan merupakan produsen di dalam suatu ekosistem.
Perubahan tipe tumbuhan, misalnya, perubahan dari hutan pantai
menjadi hutan produksi dapat mengakibatkan hilangnya tumbuhan liar
yang penting. Hilangnya jenis-jenis tumbuhan tertentu dapat
menyebabkan hilangnya hewan-hewan yang hidupnya bergantung
pada tumbuhan tersebut.
e. Penebangan
Penebangan hutan yang dilakukan secara berlebihan tidak hanya
menghilangkan pohon yang sengaja ditebang, tetapi juga merusak
pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Di samping itu, hewan-hewan
yang tergantung pada pohon tersebut akan terganggu dan hilang
sehingga akan menurunkan jenis hewan tersebut.
f. Seleksi
Seleksi adalah memilih sesuatu yang disukai menurut penilaian
individu. Secara tidak sengaja perilaku seleksi akan mempercepat
kepunahan makhluk hidup. Misalnya, kita sering hanya menanam
tanaman yang kita anggap unggul, seperti jambu bangkok, jeruk
mandarin, dan mangga gedong. Sebaliknya, kita
menghilangkan tanaman yang kita anggap kurang unggul,
contohnya, jeruk pacitan dan mangga curut.
36
Menurunnya jumlah makhluk hidup yang kita anggap tidak unggul
berarti mengurangi keanekaragaman hayati dari jenis makhluk hidup
tersebut, bahkan dalam jangka waktu lama, kita tidak akan
menemukan jenis tersebut. Contoh lain, menurunnya populasi
serangga pemangsa (predator) karena disemprot dengan insektisida
yang mengakibatkan terjadinya populasi serangga yang dimangsa.
Jika serangga ini menyerang tanaman pertanian, ledakan serangga
tersebut sangat merugikan petani. Mungkin kalian pernah mendengar
ledakan populasi hama wereng di Indonesia sehingga beribu-ribu
hektare sawah gagal panen. Wereng yang menyerang padi diduga
karena predator wereng punah akibat terkena insektisida yang
digunakan petani untuk memberantas hama. Perkembangan industri
berjalan dengan cepat di Indonesia. Teknologi modern banyak
diterapkan untuk mendapatkan hasil sebesarbesarnya. Bersamaan
dengan kemajuan pembangunan dan perkembangan industri, terjadi
pula perubahan lingkungan secara nyata dan bencana alam yang
terjadi di mana-mana. Sebenarnya, inti dari seluruh permasalahan
lingkungan di Indonesia terletak pada perubahan konsep mental
manusianya yang mungkin tanpa disadari telah menjadi manusia
perusak lingkungan sehingga jalan satu-satunya adalah mengubah
sikap mental manusia Indonesia menjadi manusia pengelola dan
pemelihara lingkungan hidupnya.
2. Manusia sebagai Pemelihara Keanekaragaman Hayati
Dalam hal ini, manusia telah sadar bahwa dirinya adalah bagian dari
ekosistem. Oleh karena itu, manusia dalam tingkah lakunya selalu
menjaga agar keseimbangan sistem ekologi tidak tergoncangkan.
Dengan begitu terjamin pula kelangsungan hidup dari semua makhluk
hidup, termasuk manusia. Masalah lingkungan adalah masalah hakikat
sifat manusia terhadap lingkungan hidupnya. Kita harus memahami
bahwa biodiversitas adalah kekayaan yang berharga yang harus
senantiasa dijaga, dilestarikan, dan dihindarkan
dari kepunahan. Pemanfaatan keanekaragaman hayati
harus didasarkan atas kebijakan memelihara keselarasan,
keserasian, keseimbangan, dan kelestarian biodiversitas
lingkungan. Jika mungkin, bahkan harus meningkatkan
kualitas lingkungan sehingga dapat dinikmati manusia dari
generasi ke generasi.
37
Usaha pelestarian lingkungan di Indonesia hanya mungkin jika
didukung oleh semua warga negara Indonesia. Dengan kata lain, kearifan
terhadap lingkungan hidup harus menjadi milik setiap insan Indonesia
atau membudaya di dalam seluruh masyarakat Indonesia. Perubahan
konsep mental manusia tidak dapat berlangsung dalam satu hari, tetapi
memerlukan waktu lama. Salah satu usaha mempercepat perubahan itu
adalah melalui pendidikan lingkungan hidup kepada masyarakat
Indonesia mulai sedini mungkin, baik melalui pendidikan formal maupun
pendidikan nonformal. Di samping itu, perlu digalakkan aktivitas yang
bertujuan meningkatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati,
antara lain, sebagai berikut.
a . Penghijauan
Penghijauan dilakukan dengan cara menanam berbagai jenis
tanaman di berbagai tempat yang telah direncanakan, dapat di rumah-
rumah, hutan-hutan yang gundul akibat penebangan liar, dan tempat
lain yang diduga terhindar dari bencana jika ditanami tumbuhan
tertentu. Kegiatan penghijauan tidak hanya menanam, tetapi yang lebih
penting adalah merawat tanaman yang telah ditanam.
b . Pembuatan Taman Kota
Pembuatan taman-taman kota akan mendatangkan manfaat,
antara lain, meningkatkan kandungan oksigen, menurunkan suhu
lingkungan, menurunkan efek pencemaran kendaraan bermotor,
memberi keindahan, dan meningkatkan keanekaragaman hayati.
c . Pemuliaan
Pemuliaan adalah usaha membuat varietas unggul, tetapi bukan
berarti menghilangkan varietas yang tidak unggul. Pemuliaan dapat
dilakukan dengan perkawinan silang yang akan menghasilkan varian
baru. Oleh karena itu, pemuliaan hewan maupun tumbuhan dapat
meningkatkan keanekaragaman gen dan keanekaragaman jenis.
d . Pembiakan Insitu dan Exsitu
Hewan dan tumbuhan langka yang rawan punah dapat
diselamatkan melalui pembiakan secara insitu, yaitu pembiakan di
dalam habitat aslinya. Misalnya, mendirikan Cagar Alam
Ujung Kulon dan Taman Nasional Komodo. Pembiakan
exsitu adalah pembiakan di luar habitat aslinya, tetapi
suasana lingkungan dibuat mirip dengan aslinya,
misalnya, penangkaran hewan di kebun binatang
38
B. Upaya-Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia
Alam yang ada di sekitar kita mempunyai sifat yang beraneka ragam,
tetapi secara alamiah tetap tampak serasi dan seimbang. Coba kalian
berpikir, perlukah kita menjaga keanekaragaman ini? Secara konkret, yang
dimaksud dengan upaya pelestarian keanekaragaman hayati adalah upaya-
upaya untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan flora, fauna, tanah, air,
dan ekosistem lainnya.
1. Perlindungan Alam
Alam merupakan tempat manusia hidup sekaligus tempat untuk
memperoleh bahan kebutuhannya. Dari alam, manusia mendapatkan
makanan dan energi. Kebutuhan manusia yang diperoleh dari
lingkungannya bukan hanya sesaat, melainkan selama spesies itu ada
sehingga kebutuhan itu tetap ada, bahkan makin meningkat. Untuk dapat
menyediakan kebutuhan hidup secara berkesinambungan itu, manusia
harus selalu berusaha menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman hayati dalam lingkungan perlu dilestarikan untuk
mempertahankan beberapa nilai yang terkandung di dalamnya, antara
lain, sebagai berikut:
a. Nilai ilmiah, artinya pelestarian keanekaragaman hayati dapat
digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini dapat
dilakukan penelitian yang memungkinkan ditemukannya sesuatu
yang sangat berguna bagi kehidupan manusia.
b. Nilai ekonomi. Semua kebutuhan manusia diperoleh dari
lingkungannya. Oleh karena itu, menjaga kelestarian berarti
menjamin ketersediaan kebutuhan manusia secara
berkesinambungan
c. Nilai mental spiritual. Alam yang serasi dan seimbang adalah alam
yang indah dambaan setiap manusia. Kekaguman terhadap alam
dapat meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
d. Nilai keindahan dan keselarasan. Alam yang mengandung
komponen-komponen ekosistem secara seimbang akan menjamin
keselarasan proses yang terjadi di dalamnya.
39
Perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia
telah dilaksanakan semenjak pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya
tahun 1912, yang berpusat di Bogor. Setelah merdeka, perlindungan alam
dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan dan Gubernur Kepala Daerah
Tingkat I. Perlindungan alam secara umum berarti melindungi semua
komponen alam secara keseluruhan yang meliputi kesatuan flora, fauna,
dan tanahnya. Perlindungan alam secara umum dapat dibedakan menjadi
tiga macam, yaitu sebagai berikut.
a. Perlindungan alam ketat. Keadaan alam dibiarkan menurut kehendak
alam tanpa campur tangan manusia, kecuali jika diperlukan.
Biasanya, daerah ini digunakan untuk kepentingan ilmiah atau
penelitian, misalnya, Ujung Kulon dan Pulau Panaitan.
b. Perlindungan alam terbimbing. Keadaan alam di suatu daerah tidak
dilepaskan begitu saja, tetapi dibina oleh para ahli, misalnya, Kebun
Raya Bogor.
c. Taman nasional. Biasanya meliputi daerah yang luas, tidak boleh
ada bangunan tempat tinggal, dan biasanya berfungsi sebagai tempat
rekreasi. Ciri-ciri taman nasional, antara lain:
1) tersedianya kawasan yang cukup luas bagi pengembangan satu
atau lebih ekosistem yang tidak banyak dijamah oleh manusia.
Dalam kawasan ini berkembang jenis tanaman dan hewan yang
memiliki nilai ilmiah;
2) karena kepentingannya yang khas bagi ilmu pengetahuan,
pengelolaannya berada di tangan pemerintah;
3) karena memiliki unsur ilmu pengetahuan dan daya tarik ilmiah,
kawasan ini dapat dikunjungi dan dikelola untuk kemanfaatan
manusia, tanpa mengubah ciri-ciri ekosistem.
Saat ini pemerintah Indonesia telah mengembangkan 14 taman
nasional, antara lain, sebagai berikut.
a. Taman Nasional Gunung Leuser terletak di Provinsi Sumatra Utara dan
Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Di tempat ini, sekurangkurangnya ada
50 jenis anggota famili Dipterocarpaceae (meranti, keruing, dan kapur)
dan beberapa jenis buah, seperti jeruk hutan (Citrus
macroptera), durian hutan (Durio exyleyanus), buah limus
(Mangifera foetida), rukem (Flacuortia rukam), serta flora
langka Rafflesia arnoldii var atjehensis dan
Johannesteisjmannia altrifrons (sejenis palem).
40
Delapan puluh sembilan jenis satwa langka yang dilindungi,
antara lain, gajah (Elephas maximus), beruang Malaya (Ursus
malayanus), harimau sumatra, badak sumatra (Dicerorhinus
sumatrensis), orang utan sumatra (Pongo pygmaeus abelii), kambing
sumba, dan tapir (Tapirus indicus).
b. Taman Nasional Kerinci Seblat terletak membentang di empat provinsi,
yaitu Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, dan Bengkulu. Jenis
flora terutama famili Dipterocarpaceae, Leguminosae, dan Liana, juga
terdapat tanaman langka, yaitu bunga bangkai Amorphophallus
titanium dan Rafflesia arnoldii. Jenis lainnya adalah palem (Livistona
altissima), anggrek (Bilbophyllum sp., Dendrobium sp.), pasang
(Quercus), dan kismis (Podocarpus, sp.). Jenis-jenis fauna yang
dilindungi, antara lain, kelinci hutan, bangka ungko, rusa, harimau
kumbang, badak Sumatra, gajah, tapir, muncak, kera ekor panjang,
siamang, berang-berang, serta jenis burung dan reptilia.
c. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan membentang dari ujung selatan
Provinsi Bengkulu sampai ujung selatan Provinsi Lampung. Jenis-
jenis flora, antara lain, meranti (Shorea sp.), keruing (Dipterocarpus),
pasang (Quercus spp.), damar (Agathis alba), kemiri (Aleurutes
mollucana), pengarawang (Hopea, spp.), temutemuan
(Zingiberaceae), cemara gunung (Cassuarina equisetifolia),
mengkudu (Morinda citrifolia), danRafflesia arnoldii. Sementara itu,
jenis fauna yang ada, antara lain, babi rusa, beruang madu, macan
tutul, gajah, tapir, kijang, landak, ular sanca, dan berbagai jenis
burung.
d. Taman Nasional Ujung Kulon terletak di ujung paling barat Pulau
Jawa. Taman nasional ini adalah habitat terakhir dari hewan-hewan
yang terancam punah, seperti badak bercula satu (Rhinoceros
sondaicus), banteng (Bos sondaicus), harimau loreng (Panthera
tigris), Surili (Presbytis aygula), dan owa jawa (Hylobathes moloch).
e. Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango terletak di Kabupaten
Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Taman nasional ini mewakili hutan
hujan tropis pegunungan di Jawa. Karena iklimnya lembap,
kawasan ini didominasi oleh jenis paku-pakuan, misalnya,
Hymmenophyllaceae, Gleischenia, Gaulthenisa, dan
semak Rhododendron.
41
Pohon raksasa yang ada ialah rasamala (Altingia exelsa) yang
dapat mencapai tinggi 60 m. Di samping itu, juga terdapat bunga abadi
yang tidak pernah layu, yaitu bunga Anaphalis javanica.
f. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru membentang di Kabupaten
Probolinggo, Malang, Pasuruan, dan Lumajang, Jawa Timur. Jenis
tumbuhan yang spesifik adalah cemara gunung (Cassuarina
junghuniana), sedangkan jenis fauna yang dilindungi adalah kijang,
ayam hutan, babi hutan, ajak, rusa, dan macan tutul.
g. Taman Nasional Baluran terletak di ujung timur Pulau Jawa. Taman
nasional ini merupakan contoh ekosistem dataran rendah kering,
dengan musim kering yang panjang antara 4 – 9 bulan. Flora yang
dilindungi di sana, antara lain, dadap biru (Eythrina eudophylla), pilang,
kosambi, kemloko, widoro, klampis, kemiri, talok, wungur, laban, dan
asam. Faunanya, antara lain, banteng, rusa, kerbau liar, ular piton,
macan tutul, ajak, linsang, kijang, dan babi hutan.
h. Taman Nasional Tanjung Puting terletak di Kabupaten Kotawaringin
Barat dan Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Taman ini menjadi
pusat rehabilitasi orang utan sebelum dilepas ke alam. Jenis flora yang
dilindungi adalah Gluta renghas, yaitu tanaman yang mengandung
getah dan merusak saraf, serta durian (Durio spp.), sedangkan fauna
yang ada, yaitu muncak, kucing hutan, musang, lutung merah, dan
orang utan.
2. Pengawetan Hutan
Kalian mungkin sudah tahu bahwa hutan adalah ciptaan Tuhan yang
merupakan sumber keanekaragaman hayati yang sangat besar
manfaatnya bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Kalian
sebagai generasi muda juga wajib memelihara keaslian hutan tersebut.
Akan tetapi, akhir-akhir ini manusia cenderung mengulangi kesalahan
dalam memperlakukan hutan. Hutan yang terpelihara dengan baik dapat
memperkaya hidup manusia secara material dan spiritual sehingga
manusia harus berusaha untuk memelihara semaksimal mungkin
keanekaragam hayati tersebut. Adapun tujuan dari
pengawetan hutan, antara lain, sebagai berikut.
a. Menjaga keanekaragaman hayati, baik flora
maupun fauna, dengan mencegah tindakan manusia yang
dapat merusak macam-macam flora dan fauna yang masih
asli.
42
b. Menjaga keseimbangan air di musim penghujan dan musim kemarau.
Humus menggemburkan tanah. Tanah yang gembur mampu menahan
air hujan. Selain itu, pada musim kemarau, sungai dan sumur tetap
berair karena air-air tanah itu keluar sebagai mata air.
c. Mencegah erosi. Permukaan tanah mudah tererosi. Tanah terlindung
oleh humus dan terikat akar. Pada saat terjadi hujan humus akan
menghambat terlemparnya butiran-butiran tanah permukaan dari
tempatnya sehingga terhindarlah dari erosi.
d. Mencegah banjir. Terjadinya erosi akibat hutan gundul menyebabkan
berkurangnya humus serta pendangkalan sungai dan danau sehingga
dapat terjadi banjir pada musim penghujan.
e. Sumber perekonomian. Penyediaan kayu untuk berbagai industri
terpentin dan rotan merupakan hasil hutan yang sangat besar
pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia.
Sementara itu, berbagai tindakan yang dapat dilakukan untuk
pengawetan hutan adalah:
a. tidak melakukan penebangan pohon di hutan secara semena-mena,
tetapi dilakukan dengan sistem tebang pilih,
b. mengusahakan agar penebangan pohon diimbangi dengan
penanaman kembali,
c. mengadakan peremajaan hutan dan reboisasi, yaitu menanami kembali
bekas hutan yang telah rusak, dan
d. mencegah kebakaran. Kerusakan hutan yang paling besar terjadi
karena kebakaran. Jika terjadi kebakaran hutan, harus diusahakan
pemadaman secepat mungkin
3. Perlindungan Margasatwa
Untuk menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan
ekosistem, harus diusahakan agar tidak ada satu atau lebih komponen
ekosistem yang mengalami kepunahan. Oleh sebab itu, usaha pelestarian
keanekaragaman hayati harus dilakukan secara terpadu, artinya dalam
suatu pelestarian itu, seluruh komponen ekosistem harus dilestarikan
secara keseluruhan.
Sikap manusia sangat berpengaruh terhadap
perlindungan satwasatwa langka yang mulai terancam
kepunahan ini. Manusia harus sadar bahwa makhluk hidup
apa pun jika telah punah, keberadaannya di alam tidak
dimungkinkan lagi.
43
Dalam usaha melestarikan hewan-hewan langka, cara yang ditempuh
oleh berbagai pihak yang berkompeten adalah:
1. membuat undang-undang perburuan dengan aturan-aturannya yang
meliputi batas-batas daerah perburuan, masa berburu, jumlah hewan
yang boleh diburu, jenis hewan, umur, jenis kelamin hewan, dan yang
paling penting adalah hasil buruan tidak untuk diperjualbelikan;
2. membiakkan hewan-hewan langka yang hampir punah, misalnya,
dengan mengisolasi hewan-hewan tertentu, memelihara, dan
membiakkannya, kemudian dilepaskan kembali ke asalnya;
3. memindahkan hewan langka yang hampir punah ke tempat lain
yang habitatnya lebih sesuai dan lebih aman;
4. mengambil telur hewan-hewan tertentu pada saat tertentu untuk
kemudian menetaskannya, membiakkannya, dan mengembalikannya
ke habitat semula.
44
Rangkuman
1. Faktor-faktor yang menyebabkan kepunahan makhluk adalah perusakan
habitat, penggunaan pestisida, pencemaran, perubahan tipe tumbuhan,
penebangan, dan seleksi. Sementara itu, aktivitas manusia untuk
meningkatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati adalah
penghijauan, pembuatan taman kota, pemuliaan, serta pembiakan insitu dan
exsitu.
2. Usaha-usaha yang dilakukan oleh manusia untuk mengonservasi
keanekaragaman hayati (flora dan fauna) agar tidak sampai pada
kepunahan adalah dengan upaya perlindungan dan pelestarian flora dan
fauna, baik pada flora dan fauna itu sendiri maupun pada habitat dan
ekosistemnya, dengan cara, antara lain, mendirikan cagar alam, taman
nasional, hutan wisata, taman laut, hutan lindung, kebun raya, melakukan
tebang pilih, dan aforestasi.
45