The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisi tentang cara melakukan pengukuran, asesmen, dan evaluasi pada pendidikan dasar (SD dan MI).

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kartianom, 2021-11-21 20:09:35

Asesmen dan Implementasinya di Pendidikan Dasar (Untuk Pendidik, Calon Pendidik, dan Praktisi Pendidikan S/MI)

Buku ini berisi tentang cara melakukan pengukuran, asesmen, dan evaluasi pada pendidikan dasar (SD dan MI).

Keywords: Pengukuran,Asesmen,SD,MI,PGMI,PGSD

Asesmen dan Implementasinya

Di Pendidikan Dasar

Untuk Pendidik, Calon Pendidik,
dan Praktisi Pendidikan SD/MI

Kartianom

i

ii

KATA PENGANTAR

REKTOR INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BONE

Bissmillahir Rahmanir Rahim
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Menulis buku salah satu kegiatan literasi yang sangat jelas
orientasinya yakni, mendokumentasikan gagasan, ide, dan
pemikiran agar dapat diketahui orang lain. Oleh karena itu
menulis buku penting dibudayakan dan diwariskan dalam dunia
akademik perguruan tinggi. Menulis tidak hanya melibatkan
tangan dan jari-jari lentik kita untuk menuliskannya, melainkan
juga memerintah kita untuk berpikir dalam menuangkan ide dan
gagasan pemikiran agar menjadi tulisan yang terjalin indah dan
mengesankan. Oleh penggiat literasi menjelaskan bahwa, buku
ibarat kunci membuka jendela dunia dan bandul dalam
mencairkan kebekuan nalar dan pikiran seseorang.

Program “Gemar Menulis Buku” tahun 2021 Institut
Agama Islam Negeri Bone sebagai kelanjutan program yang
sama pada tahun sebelumnya (tahun 2020), selain bertujuan
melengkapi ketersediaan literatur bagi keperluan mahasiswa dan
dosen, maupun masyarakat umum sekaligus untuk menjawab
tantangan permasalahan pendidikan saat ini dengan pendekatan
ke Islaman, kebangsaan, serta kearifan lokal menuju kehidupan
unggul dan Humanis sebagai bagian dari visi kejuangan Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Bone sebagai pendidikan tinggi
keagamaan. Program “Gemar Menulis Buku” IAIN Bone
dipersiapkan berkelanjutan setiap tahun melalui anggaran DIPA
IAIN Bone.

i

Program ini semula rencananya akan diberi nama “Gerakan
Lima Ratus Buku” dengan akronim “Gelarku”. Akan tetapi atas
pertimbangan tertentu, antara lain sulit menghadirkan 500 judul
teks buku di hadapan pembaca sampai tahun 2022 atau akhir
periode rektor (2018-2022), akhirnya nama program diganti
menjadi program “Gemar Menulis Buku” dengan akronim
“Gemuk”. Alhamdulillah, rasa syukur tak terhingga karena
program “Gemar Menulis Buku” saat ini telah memasuki tahun
kedua dengan estimasi 50 sampai dengan 60 Judul teks buku.

Selaku rektor, saya haturkan terima kasih kepada semua
pihak yang turut terlibat dan mendukung pelaksanaan program
ini. Diharapkan dengan program “Gemuk” ini lebih memacu
peningkatan minat menulis bagi para dosen dan tenaga
kependidikan di lingkungan Institut Agama Islam Negeri Bone.
Ide-ide yang dituangkan dalam buku yang berjudul
“Asesmen dan Impelementasinya di Pendidikan Dasar” dengan
mudah pula dipahami ditangkap bagi pembaca, bahkan
diimplementasikannya. mudah-mudahan Allah SWT senantiasa
meridhai usaha kita bersama, sehingga penulisan buku referensi
pada program “Gemuk” ini lebih bermanfaat dan bernilai ibadah
di sisi Allah swt. Amin. Ya Rabbal ‘Alamin.

Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Watampone, 5 November 2021
Rektor IAIN Bone,

Prof. Dr. A. Nuzul, S.H., M.Hum.

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................... i
Daftar Isi .................................................................................iii
Bab 1 Penggunaan Asesmen dan Pengambilan Keputusan
Kelas ........................................................................................ 1
1. Pendahuluan ........................................................................ 1
2. Pentingnya Asesmen ............................................................ 3

2.1. Pengetahuan, Keterampilan, dan Disposisi Abad 21 . 4
2.2. Teknologi................................................................. 5
2.3. Prinsip Pembelajaran dan Motivasi Kognitif dan Sosial

Budaya..................................................................... 6
2.4. Pendidikan yang Terstandar ..................................... 9
2.5. Ujian Beresiko Tinggi (Ujian Nasional) ................... 9
2.6. Literasi Data ............................................................ 12
3. Perbedaan Pengukuran, Asesmen, dan Evaluasi dalam
Pendiddikan ....................................................................... 14
3.1. Pengukuran Pendidikan............................................ 14
3.2. Penilaian Pendidikan ................................................ 19
3.3. Evaluasi Pendidikan ................................................. 28
3.4. Prinsip Dasar Evaluasi ............................................. 29
3.5. Fungsi dan Tindak Lanjut Evaluasi .......................... 30
4. Asesmen pada Kurikulum 2013 ......................................... 33
4.1. Asesmen pada Kurikulum 2013................................ 34
4.2. Kompetensi Penilaian............................................... 44
4.3. Pelaksanaan Penilaian .............................................. 48

iii

4.4. Mengintegrasikan Instruksi dan Penilaian .................54
4.5. Pengambilan Keputusan dan Penilaian Instruksional.59
4.6. Tujuan Penilaian Kelas .............................................65
Bab 3 Ranah Penilaian Proses dan Hasil Belajar......................71
1. Ranah Afektif .....................................................................71
2. Ranah Kognitif ...................................................................75
2.1. Tahapan Penilaian Pengetahuan................................86
2.2. Mengembangkan Instrumen Penilaian ......................87
2.3. Melaksanakan Penilaian............................................89
2.4. Memanfaatkan Hasil Penilaian..................................90
2.5. Melaporkan Hasil Penilaian ......................................90
3. Ranah Psikomotor ..............................................................91
Bab 4 Teknik Asesmen Hasil Belajar di Pendidikan Dasar ......97
1. Teknik Asesmen Ranah Afektif ..........................................97
2. Teknik Asesmen Ranah Kognitif ......................................103
2.1. Teknik Tes Tulis.......................................................103
2.2. Teknik Tes Lisan ......................................................118
2.3. Teknik Penugasan.....................................................120
3. Teknik Asesmen Ranah Psikomotor .................................121
Bab 5 Instrumen Asesmen Hasil Belajar di Pendidikan Dasar127
1. Instrumen Asesmen Ranah Afektif ...................................127
2. Instrumen Asesmen Ranah Kognitif .................................156
3. Instrumen Asesmen Ranah Psikomotor.............................158
3.1. Daftar Cek ................................................................158
3.2. Skala Penilaian .........................................................159

iv

3.3. Rubrik Penilaian Keterampilan................................. 160
Bab 6 Validitas dan Reliabilitas Instrumen ........................... 172
1. Penilaian Kelas Berkualitas Tinggi................................... 172
2. Validitas Instrumen.......................................................... 175

2.1. Membuktikan Validitas Isi Instrumen....................... 179
2.2. Membuktikan Validitas Konstruk............................. 180
2.3. Membuktikan Validitas Kriteria ............................... 183
3. Praktek Pembuktian Validitas Instrumen yang Keliru....... 184
4. Reliabilitas Instrumen ...................................................... 185
4.1. Kesalahan Penilaian ................................................. 190
4.2. Bagaimana Keandalan/Presisi Ditentukan untuk Penilaian

Kelas? ...................................................................... 192
4.3. Bagaimana Meningkatkan Keandalan/Presisi Penilaian

Kelas........................................................................ 193
5. Keadilan .......................................................................... 195

5.1. Transparansi: Pengetahuan Siswa tentang Target
Pembelajaran dan Penilaian...................................... 196

5.2. Kesempatan untuk Belajar........................................ 197
5.3. Pengetahuan dan Keterampilan Prasyarat ................. 198
5.4. Menghindari Stereotip Siswa.................................... 198
5.5. Menghindari Bias dalam Tugas dan Prosedur

Penilaian .................................................................. 199
Bab 7 Cara Penyiapan dan Penyelenggaraan Ujian ............... 203
1. Pentingnya Diselenggarakan Ujian atau Tes..................... 203
2. Penyiapan Ujian............................................................... 205

v

2.1. Penyiapan Kisi-Kisi ..................................................206
2.2. Penempatan Ujian Penempatan .................................208
2.3. Penyiapan Ujian Formatif .........................................209
2.4. Penyiapan Ujian Sumatif ..........................................210
3. Pelaksanaan Ujian ............................................................211
Bab 8 Teknik Penskoran dan Pengolahannya.........................214
1. Cara Pemberian Skor ........................................................214
1.1. Cara Pemberian Skor Hasil Ujian Bentuk Uraian ......214
1.2. Cara Pemberian Skor Hasil Ujian Bentuk Obyektif...215
2. Mengelola/Mengkonversi Skor Menjadi Nilai ..................215
Bab 9 Ketuntasan Belajar ......................................................217
1. Ketuntasan Belajar ...........................................................217
2. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ................................218
2.2. Menentukan KKM setiap KD ...................................220
2.3. Menentukan KKM setiap Mata Pelajaran..................221
2.4. Menentukan KKM setiap Tingkatan Kelas................221
3. Interval Predikat ...............................................................221
Bab 10 Pemanfaatan dan Pelaporan Hasil Belajar..................223
1. Pemanfaatan Hasil Belajar ................................................223
1.1. Program Remedial ....................................................223
1.2. Program Pengayaan ..................................................225
2. Bentuk Pelaporan Hasil Belajar ........................................226
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................235

vi

vii

viii

Bab 1
Penggunaan Asesmen dan Pengambilan Keputusan Kelas

1. Pendahuluan

Izinkan saya untuk memulai dengan dua cerita yang secara
langsung relevan dengan pentingnya penilaian kelas. Ketika putri
saya, Anggun, berusia 11 tahun, dia sangat menyukai senam,
berolahraga hampir setiap hari dalam setiap minggu. Pada tahun
ini, gym tempat dia berolahraga merekrut pelatih baru, keduanya
dari Rusia. Segera, ulasan karyanya (kinerja) berubah secara
dramatis. Apa yang pernah dipujinya sekarang menerima umpan
balik yang terperinci dan kritis (misalnya, “Tidak, letakkan
tanganmu di posisi ini, jangan seperti ini”). Ketika anak saya
Anggun dan teman-temannya itu “diuji”, melakukan rutinitas
mereka, mereka dinilai dengan harapan yang lebih tinggi dan
hanya menerima pujian jika memang pantas. Alih-alih
mendengar “baik” sepanjang waktu, mereka sering mendengar
“salah”. Namun, komentar negatif disertai dengan saran untuk
melakukan sesuatu yang berbeda dan latihan yang akan
membantu mereka. Lingkungan penilaian gym dan pelatihan
berubah, dan dengan itu, pada akhirnya, tingkat kinerja.
Penerimaan kesalahan dan umpan balik yang jujur mengubah
budaya “asesmen” di gym. Akhir dari cerita ini adalah bahagia.
Sebagai sebuah tim, mereka adalah yang terbaik di negara bagian,
dan Anggun memberikan kontribusi positif.

Ketika Azim masuk ke ruang kerja guru matematika, Ali
sedang memikirkan materi ajarnya yang akan datang tentang
materi pecahan dan perubahan yang ingin dia buat tahun ini dalam
menilai pembelajaran siswa. Dia tidak senang dengan tes sumatif
akhir yang disarankan oleh rekan-rekan guru dan tenaga
adiministrasi untuk diberikan kepada siswa. Keyakinannya
bahwa penilaian harus membantunya memahami kekuatan,

1

miskonsepsi, dan kesulitan belajar siswanya yang tidak menyatu
dengan penilaian saat ini. Penilaian tersebut terkomputerisasi dan
berisi 30 pertanyaan yang berupa pilihan ganda, isian, dan item
yang disempurnakan dengan teknologi yang serupa dengan yang
ada pada tes berisiko tinggi akhir tahun. Sebaliknya, Ali ingin
bertanya kepada administrasinya apakah dia bisa memberikan
tanggapan yang dibangun penilaian dengan lebih sedikit item
yang mengikuti tren penilaian dan teori pembelajaran terkini.
Penilaian yang diusulkannya akan memberikan skenario yang
melibatkan memasak pizza di restoran pizza baru di lingkungan
itu dan memungkinkan pilihan siswa yang delapan dari sepuluh
masalah terbuka yang dibuat guru yang ingin diselesaikan siswa.
Siswa juga akan membuat dan memecahkan dua masalah pecahan
mereka sendiri. Di seluruh unit pecahan, siswa telah
menyelesaikan jenis tugas ini dan Azim telah memberikan umpan
balik kepada siswa tentang kemajuan mereka dalam menguasai
target pembelajaran. Azim tahu penilaiannya akan
memungkinkan siswa untuk menerapkan pengetahuan mereka
dalam tugas otentik. Selain itu, dengan menggunakan rubrik
untuk penilaian, dia dapat menekankan upaya siswa, yang dia
tahu akan mendorong siswanya untuk tetap termotivasi untuk
belajar. Azim menjelaskan idenya kepada John, seorang guru
yang paling sering berkolaborasi dengannya dalam mendesain
pelajaran yang berlaku di dunia nyata unit matematika, dan
bertanya kepada John apakah dia ingin membuat kode penilaian
dan memberikannya kepada murid-muridnya. Ali menatap Azim
dengan mata bertanya. Dia menolak tawarannya dan
menyarankan dia tetap dengan penilaian terkomputerisasi saat ini.
Azim bercanda dengan Ali yang mengatakan kepadanya bahwa
dia percaya penilaian sumatif tradisional semata-mata untuk
memberikan nilai kepada siswa, bahwa tes ini tidak selaras

2

dengan metode pengajaran mereka, dan bahwa penilaian akhir
unit kurang berdampak pada pembelajaran dan motivasi siswa.

Kisah-kisah ini menggambarkan betapa pentingnya
penilaian untuk pembelajaran, baik di gym, studio, atau ruang
kelas. Ini menunjukkan bagaimana jenis penilaian yang tepat, dan
cara yang terintegrasi dengan instruksi, dapat memiliki efek
dramatis pada seberapa banyak yang dipelajari dan seberapa baik
sesuatu dilakukan.

2. Pentingnya Asesmen

Oke, jadi jelas bahwa sebagai guru Anda akan bertanggung
jawab untuk menilai apa yang telah dipelajari siswa di kelas
Anda, pada dasarnya mengumpulkan bukti pembelajaran siswa
dan menggunakan bukti itu untuk didokumentasikan dan,
semoga, meningkatkan motivasi dan prestasi siswa. Tetapi lebih
dari itu, Anda menginstruksikan, mengikuti kurikulum, dan
memengaruhi siswa dalam banyak cara. Semua ini terjadi dalam
konteks yang lebih besar yang telah banyak berubah dalam
beberapa tahun terakhir. Pada dasarnya, ada sejumlah pengaruh
kuat sekarang yang mempengaruhi semua yang Anda lakukan di
kelas, termasuk penilaian, dan memahami faktor-faktor ini sangat
penting dalam mengembangkan dan menggunakan penilaian
yang efektif. Itu karena sesuatu yang akan banyak saya bicarakan
dalam teks ini—penyelarasan. Keselarasan berarti bahwa hal-hal
dikonfigurasi sehingga mereka memperkuat dan mendukung satu
sama lain. Dalam sains, misalnya, penting untuk memiliki
keselarasan antara pertanyaan penelitian dan metode; dalam
senam, sangat penting untuk menyelaraskan musik dengan
rutinitas lantai.

3

Gambar 1. Faktor Signifikan yang Mempengaruhi
Penilaian Kelas

2.1. Pengetahuan, Keterampilan, dan Disposisi Abad 21
Anda mungkin telah banyak mendengar tentang apa yang

perlu diketahui dan dapat dilakukan siswa agar berfungsi secara
efektif dalam kehidupan di abad ke-21, dan apa yang perlu
dilakukan lulusan sekolah menengah agar siap untuk kuliah
dan/atau berkarir. Dari berbagai tingkatan, termasuk pemerintah

4

nasional dan negara bagian, bisnis, dan para ahli kebijakan
pendidikan, ada serangkaian seruan yang hampir tak ada habisnya
untuk melakukan perubahan dalam pendidikan guna memenuhi
tuntutan baru dunia yang berbasis informasi dan saling terhubung.
Kami akan mempertimbangkan ini secara lebih rinci di bab
berikutnya, tetapi di sini adalah ringkasan singkat tentang apa
yang sekarang dianggap "penting" bagi siswa:
a. Pemahaman mendalam tentang konsep dasar bidang konten

dan disiplin penting
b. Keterampilan kognitif seperti pemecahan masalah,

pengambilan keputusan, berpikir kritis, dan metakognisi
c. Kreativitas dan pemikiran inovatif Keterampilan

komunikasi yang efektif
d. Keterampilan sosial yang efektif
e. Pemahaman dan perspektif global
f. Disposisi seperti tanggung jawab, fleksibilitas, pengarahan

diri sendiri, tekad, ketekunan, pengambilan risiko, dan
integritas
2.2. Teknologi

Prevalensi teknologi memiliki implikasi yang signifikan
untuk penilaian kelas. Kami tidak hanya mengajar penduduk asli
digital pascamilenial (meskipun berhati-hati di sini—tidak semua
siswa) dengan disertai harapan, keterampilan, dan kenyamanan
dengan teknologi, kami juga menggunakan teknologi baru dalam
pengajaran dan penilaian. Peningkatan teknologi kini telah
menjadikan item banking untuk guru menjadi rutinitas, termasuk
penggunaan tes adaptif yang mengakomodasi berbagai tingkat
kemampuan siswa. Teknologi juga telah menyediakan
kemampuan untuk menggunakan jenis item tes baru, termasuk
simulasi dan format aktif lainnya yang menuntut tindakan dan
pemikiran siswa, dan penilaian otomatis. Ini adalah pengaruh

5

besar dan, seperti yang akan kita lihat, memberikan banyak
peluang baru untuk cara baru dan efektif dalam mengevaluasi
pembelajaran siswa. Guru sekarang dapat mengakses data tentang
siswa secara online dan merekam nilai secara elektronik. Banyak
guru sekarang secara rutin menggunakan aplikasi dan program
lain di perangkat elektronik seperti iPad dan iPhone untuk menilai
siswa.
2.3. Prinsip Pembelajaran dan Motivasi Kognitif dan Sosial

Budaya

ika Anda ingin mencapai pengetahuan, keterampilan, dan
watak abad ke-21, Anda harus mengajar dan menilai sejalan
dengan apa yang kita ketahui tentang bagaimana anak-anak dan
remaja belajar dan apa yang memotivasi mereka. Ada banyak
penelitian, terutama di bidang teori kognitif dan sosiokultural,
yang telah menghasilkan prinsip-prinsip pembelajaran dan
motivasi yang solid dan terdokumentasi dengan baik.

Kita tahu bahwa pembelajaran harus dibangun di atas
pengetahuan awal siswa, pengalaman hidup dan latar belakang,
dan minat. Artinya, informasi baru perlu dihubungkan dengan
pengetahuan yang ada dengan cara yang bermakna. Lebih dari
mengumpulkan pengetahuan, siswa perlu secara aktif
membangun pemahaman baru dan lebih dalam dengan
mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan prosedur
untuk memecahkan masalah, dan dengan mengembangkan
metakognisi untuk memantau strategi pembelajaran. Kemajuan
pembelajaran dan perancah menunjukkan bagaimana berpikir
bisa menjadi lebih canggih. Transfer pembelajaran ke situasi baru
ditekankan. Siswa belajar paling baik ketika mereka mengatur
sendiri kemajuan mereka dan meningkatkan self-efficacy mereka
melalui penjelasan kausal yang tepat untuk usaha.

6

Kognisi dimediasi oleh budaya dan konteks sosial,
dipengaruhi secara luas oleh interaksi dengan orang lain.
Motivasi yang efektif bersifat intrinsik dan siswa secara khusus
terlibat ketika ditantang untuk memperbaiki kesalahpahaman dan
memecahkan masalah. Penilaian diri diperlukan untuk
memberikan pengarahan diri, refleksi diri, penentuan nasib
sendiri, dan pemantauan. Self-efficacy, keyakinan untuk bisa
sukses, sangat penting untuk motivasi dan keterlibatan dalam
belajar.

Pengajaran yang baik menyediakan lingkungan yang
melibatkan siswa dalam pembelajaran aktif, yang menjadi proses
berkelanjutan di mana siswa secara aktif menerima, menafsirkan,
dan menghubungkan informasi dengan apa yang telah mereka
ketahui, pahami, dan alami. Penilaian yang efektif, pada
gilirannya, mempromosikan proses ini dengan
mendokumentasikan pencapaian tingkat progresif dari lebih
banyak pengetahuan dan pemahaman yang pada akhirnya
mengarah pada penguasaan.

Penelitian tentang motivasi menyarankan bahwa guru harus
terus-menerus menilai siswa dan memberikan umpan balik yang
informatif. Dengan memberikan umpan balik yang spesifik dan
bermakna kepada siswa dan mendorong mereka untuk mengatur
pembelajaran mereka sendiri, guru mendorong siswa untuk
meningkatkan rasa efikasi diri dan kepercayaan diri mereka,
penentu motivasi yang penting. Pembelajaran yang bermakna
secara intrinsik memotivasi karena isinya memiliki relevansi.
Implikasinya di sini adalah bahwa penilaian tidak berakhir
dengan penilaian dan pencatatan hasil. Motivasi sangat
tergantung pada sifat umpan balik dari penilaian. Jadi, sesuai
dengan integrasi penilaian dengan instruksi, umpan balik
merupakan komponen penting dari proses penilaian.

7

Ada juga perubahan signifikan baru-baru ini dalam teori
kurikulum yang memiliki implikasi yang jelas untuk penilaian
kelas. Karena sebagian gerakan berbasis standar, kurikulum
sekarang didasarkan pada premis bahwa semua siswa dapat
belajar, bahwa standar pembelajaran harus tinggi untuk semua
siswa, dan bahwa kesempatan yang sama adalah penting.
Kurikulum perlu menunjukkan kepada siswa bagaimana
pembelajaran terhubung dengan dunia luar sekolah.

Penelitian dari pembelajaran kognitif dan teori kurikulum
telah meletakkan dasar bagi perubahan signifikan dalam penilaian
kelas. Saat kami menemukan lebih banyak tentang bagaimana
siswa belajar dan apa yang memotivasi mereka, kami menyadari
bahwa praktik penilaian, serta praktik instruksional, perlu diubah
untuk mengimbangi penelitian ini. Daftar prinsipnya panjang dan
saya tidak bisa melakukannya dengan adil di sini, tetapi di Tabel
1.1 banyak di antaranya terdaftar dengan implikasi untuk
penilaian. Saya melakukan ini untuk kembali menekankan
pentingnya keselarasan penilaian dengan prinsip-prinsip.

Selama sekitar 20 tahun terakhir, penelitian tentang
pengambilan keputusan guru, pembelajaran kognitif, motivasi
siswa, dan topik lainnya telah mengubah apa yang kita ketahui
tentang pentingnya penilaian untuk pengajaran yang efektif.
Misalnya, satu temuan adalah bahwa guru yang baik terus menilai
siswa mereka relatif terhadap tujuan pembelajaran dan
menyesuaikan instruksi mereka berdasarkan informasi ini.
Temuan penting lainnya adalah bahwa penilaian siswa tidak
hanya mendokumentasikan apa yang diketahui dan dapat
dilakukan siswa, tetapi juga mempengaruhi pembelajaran.
Penilaian yang meningkatkan pembelajaran sama pentingnya
dengan penilaian yang mendokumentasikan pembelajaran.
Sebagai hasil dari penelitian ini, tujuan, metode, dan pendekatan
baru untuk penilaian siswa telah dikembangkan. Perubahan ini

8

menggarisbawahi pemahaman baru tentang peran penting yang
dimainkan penilaian dalam pengajaran dan pembelajaran.
2.4. Pendidikan yang Terstandar

Pada dasarnya, kita memiliki sistem pendidikan "berbasis
standar" di Indonesia. Berbasis standar, menggunakan tujuan
yang diterima secara umum untuk pembelajaran siswa, sekarang
menjadi kata kunci di mana-mana dalam pendidikan, jika pernah
ada. Seperti yang akan kita lihat secara rinci di Bab 2, standar
membingkai apa yang harus diketahui dan dilakukan siswa,
mereka memformalkan dan menstandarkan apa yang diajarkan
dan dinilai. Setiap negara bagian memiliki standar pembelajaran,
dengan panduan kecepatan dan kurikulum yang sesuai di tingkat
kabupaten untuk implementasi. Meskipun sebagian besar
didorong oleh konten, standar telah menjadi tolok ukur untuk
mengevaluasi siswa, sekolah, dan baru-baru ini, guru.
2.5. Ujian Beresiko Tinggi (Ujian Nasional)

Suka atau tidak, sangat jelas bahwa tes akuntabilitas
berisiko tinggi yang diamanatkan secara eksternal memiliki
dampak besar pada pengajaran dan penilaian kelas. Bagi sebagian
besar guru, tidak ada jalan keluar dari kenyataan ini. Apa yang
Anda lakukan di kelas akan dipengaruhi oleh isi dan sifat tes ini.

Siswa, guru, dan administrator selalu dimintai
pertanggungjawaban, terutama di tingkat sekolah atau distrik
setempat, dan terkadang di tingkat negara bagian. Dalam dua
dekade terakhir inisiatif kebijakan pengujian akuntabilitas federal
dan negara bagian yang belum pernah terjadi sebelumnya telah
meningkatkan tekanan pada sekolah untuk menunjukkan hasil tes
yang positif, serta untuk mengevaluasi guru berdasarkan nilai tes
siswa mereka. Tes berisiko tinggi adalah tes yang memiliki
konsekuensi penting. Ini adalah kasus ujian yang menentukan
apakah seorang siswa dapat lulus dari sekolah menengah, ketika

9

akreditasi sekolah dikaitkan dengan nilai ujian, atau ketika
evaluasi guru ditentukan oleh bagaimana kinerja siswa mereka
dalam ujian.

Pada tahun 2002 Undang-Undang No Child Left Behind
(NCLB) disahkan, dengan tingkat federal

tekanan untuk menunjukkan peningkatan nilai ujian siswa
secara konsisten. Inti dari NCLB adalah untuk memastikan bahwa
negara bagian memiliki standar konten yang "menantang" dan
pengujian standar yang ekstensif untuk meminta
pertanggungjawaban sekolah. Pada tahun ajaran 2005-2006,
semua negara bagian menguji membaca dan matematika setiap
tahun di kelas 3-11 (sekali di kelas 10-12). Tes sains diperlukan
pada tahun 2008-2009. Untuk meminta pertanggungjawaban
sekolah dengan tes ini, setiap negara bagian diharuskan untuk
menetapkan target "titik awal" untuk persentase siswa yang perlu
diklasifikasikan sebagai "mahir" pada tahun 2002. Kemudian,
menggunakan konsep yang disebut kemajuan tahunan yang
memadai (AYP), menyatakan semakin tinggi persentase siswa
yang mencapai tingkat mahir di setiap kelas setiap tahun. Inisiatif
Race to the Top, diluncurkan pada tahun 2009, difokuskan pada
standar nasional dan pengujian di bidang subjek utama. Every
Student Succeeds Act (ESSA) ditandatangani pada tahun 2015
untuk mengatasi persyaratan preskriptif yang semakin tidak dapat
dijalankan dan tidak realistis dari undang-undang sebelumnya.
ESSA kurang menekankan pada proses federal satu ukuran untuk
semua, yang memungkinkan negara bagian lebih fleksibel dalam
pengujian dan penetapan standar. Bagi guru, ini berarti sedikit
mengurangi tekanan di satu sisi tetapi memperkenalkan tuntutan
pengujian baru yang juga bisa memberatkan. Terlepas dari itu,
ada sedikit keraguan bahwa semacam tekanan federal dan/atau
negara bagian akan memastikan bahwa tes akuntabilitas skala
besar akan memiliki risiko tinggi dan sanksi negatif bagi sekolah

10

yang berprestasi rendah, yang mengakibatkan beberapa kasus
pengambilalihan sekolah oleh negara bagian. Juga jelas bahwa
administrator dan dewan pendidikan lokal, serta pembuat
kebijakan tingkat negara bagian, menginginkan ukuran kinerja
siswa ini sekuat mungkin.

Sekarang taruhan yang melekat pada tes akuntabilitas
ditetapkan untuk menjadi lebih tinggi. Profesi kami telah
memasuki era baru evaluasi guru, dengan kinerja siswa yang
dipertaruhkan dan apa yang disebut tes "umum" (yang diberikan
setiap kuartal dan bukan di akhir tahun), ukuran utama efektivitas
guru. Dapatkah Anda membayangkan bahwa evaluasi Anda
sebagai guru akan bergantung pada seberapa baik siswa Anda
mengerjakan tes berisiko tinggi? (Ini telah terjadi di banyak kota,
termasuk Los Angeles dan New York, yang telah melihat
peringkat guru yang tersedia untuk umum berdasarkan nilai ujian
siswa). Sebenarnya, gagasan menilai kinerja Anda sebagai guru
berdasarkan prestasi siswa memiliki beberapa manfaat, tetapi ada
banyak hal yang mempengaruhi nilai ujian ini yang tidak dapat
Anda kendalikan, dan banyak kerugian yang terjadi dalam bentuk
mengajarkan ujian (lebih lanjut tentang yang ada di Bab 7). Anda
mungkin dapat membayangkan dinamika yang terjadi ketika
penilaian ini digunakan untuk evaluasi guru. Satu hal yang
pasti—tekanan menyala, dan para guru bereaksi.

Dengan persyaratan akuntabilitas baru ini, pengujian skala
besar dan umum telah secara signifikan memengaruhi apa yang
dilakukan guru di kelas, termasuk apa yang mereka lakukan
dalam pemilihan, konstruksi, dan penggunaan penilaian siswa
mereka. Saat ini, dalam mata pelajaran tertentu yang diuji seperti
matematika dan bahasa Inggris, ada lebih banyak pilihan item tes
yang mungkin dari database online daripada konstruksi item oleh
guru. Ada banyak penekanan pada "persiapan ujian", pada
"mengajar untuk ujian", pada menyelaraskan tes kelas dengan tes

11

skala besar, dan menggunakan format tes kelas yang seperti yang
digunakan dalam tes akuntabilitas negara. Hampir semua tes
berisiko tinggi menggunakan pilihan ganda dan pertanyaan yang
disempurnakan dengan teknologi, dan guru semakin diminta
untuk menggunakan format item yang sama dalam penilaian
kelas mereka.

Jelas, penilaian kelas harus dipertimbangkan dalam iklim
saat ini yang menekankan pengujian berisiko tinggi. Salah satu
tujuan dari buku ini adalah untuk menggabungkan akuntabilitas
dan tuntutan pengujian skala besar dan pengaruh dengan prosedur
penilaian kelas yang kita tahu dapat meningkatkan pembelajaran
siswa. Sayangnya, bagi banyak orang, pengajaran dengan standar
eksternal dan tes berisiko tinggi bertentangan dengan metode
penilaian kelas yang telah berubah menjadi lebih konsisten
dengan teori pembelajaran dan motivasi kontemporer (meskipun
ini sekarang mulai berubah). Tapi inilah hikmahnya: Ternyata
penilaian kelas yang dipilih dan dilaksanakan atas dasar
mempromosikan pembelajaran siswa, bukan hanya menunjukkan
kinerja siswa, akan menghasilkan hasil tes akuntabilitas yang
lebih tinggi. Kuncinya adalah berfokus pada bagaimana penilaian
kelas akan memaksimalkan motivasi dan pembelajaran siswa,
bukan pada apa yang akan menghasilkan persentase tertinggi
siswa yang dinilai paling tidak “mahir”.
2.6. Literasi Data

Tidak diragukan lagi bahwa kita telah memasuki dunia data
besar, apakah yang disebut pengambilan keputusan berbasis data,
dasbor data, atau lebih pesimistis meskipun mungkin secara
akurat dibanjiri data, mengakibatkan penyelaman data, delirium
data, dan terkadang data didoping. Data besar ada di mana-mana,
dan baru-baru ini ada seruan bagi para guru untuk “melek data.”
Dalam berbagai bentuk kebutuhan keterampilan literasi data

12

untuk semua pendidik telah sangat dipromosikan, dan sekarang
termasuk dalam standar yang diadopsi oleh organisasi
profesional, termasuk Dewan Akreditasi Persiapan Pendidik
(CAEP), Dewan Kepala Pejabat Sekolah Negeri (CCSSO). ), dan
Dewan Nasional Standar Profesional Pengajaran (NBPTS), serta
semakin hadir dalam persyaratan sertifikasi negara untuk guru
dan administrator. Fitur utama dari seruan untuk meningkatkan
kapasitas pendidik dalam menggunakan data adalah penekanan
pada berbagai sumber data, kebiasaan berpikir, properti data,
transformasi data, manajemen data, transformasi data, dan.
Konsekuensi yang sangat penting dari penekanan pada data besar
yang secara langsung berdampak pada pengajaran dan penilaian
adalah penekanan baru pada pemahaman dan penggunaan analisis
kuantitatif yang terkait dengan pengujian standar dan skala besar
dan umum lainnya. Ini termasuk kebutuhan untuk memahami
dengan lebih mendalam konsep-konsep yang lebih teknis seperti
keandalan/presisi, kesalahan standar, analisis pretest-posttest,
presentasi grafik yang akurat, validitas, dan sejumlah topik
kompleks lainnya yang biasanya diberi sedikit ruang, terutama
dalam persiapan guru.

Penilaian biasanya digambarkan sebagai satu komponen
literasi data yang relatif kecil. Beberapa menggunakan istilah
"literasi penilaian" untuk menyampaikan pengetahuan dan
keterampilan penilaian apa yang dibutuhkan oleh guru, tetapi pers
baru tentang literasi data memberikan tekanan baru pada
penggunaan penilaian oleh guru. Karena literasi data mencakup
interpretasi semua jenis data (termasuk, misalnya, iklim kelas,
catatan kehadiran, perilaku, informasi keluarga, kegiatan
ekstrakurikuler), Anda perlu mengintegrasikan data ini ke dalam
apa yang diperlukan untuk penilaian. Pada titik ini, ini adalah
wilayah yang belum dipetakan, tetapi kereta telah meninggalkan
stasiun.

13

Jika Anda masih bertanya-tanya mengapa enam faktor pada
Gambar 1.1 ini penting, inilah penilaian saya tentang penilaian
kelas dan apa yang saya tekankan di seluruh teks ini. Penilaian
merupakan bagian integral dari pengajaran dan pembelajaran,
bukan sesuatu yang hanya dilakukan setelah instruksi untuk
mendokumentasikan prestasi siswa. Itu terjadi sepanjang waktu
selama mengajar, dengan cara informal dan anekdot, serta dalam
bentuk tes, makalah, dan proyek. Fakta sederhananya adalah
bahwa apa dan bagaimana Anda menilai, secara terus-menerus,
akan secara langsung memengaruhi pembelajaran dan motivasi
mengajar dan siswa Anda dalam arti luas, dan proses itu
dipengaruhi oleh enam faktor ini.

3. Perbedaan Pengukuran, Asesmen, dan Evaluasi dalam
Pendiddikan

3.1. Pengukuran Pendidikan

3.1.1. Definisi Pengukuran

Semua kegiatan di dunia ini tidak bisa lepas dari yang
namanya pengukuran. Informasi terkait efektivitas suatu media
pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan atau
keterampilan peserta didik dapat diketahui melalaui pengukuran.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa lepas
dari kegiatan pengukuran. Penelitian-penelitian yang dilakukan
dalam semua bidang selalu melibatkan kegiatan pengukuran, baik
itu yang bersifat kuantitatif maupun yang kualitatif. Dengan kata
lain, pengukuran memegang peranan penting dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam
penyajian informasi untuk membantu pembuat kebiajakan dalam
mengambil keputusan.

Pengukuran (measurement) pada dasarnya merupakan
proses memberikan derajat atau angka pada gejala atau

14

karakteristik seseorang dengan aturan tertentu (Subali, 2010,
Mardapi, 2012, & Kartianom & Mardapi, 2018). Pengukuran
adalah proses penentuan apakah individu, objek, atau fenomena
yang diamati memiliki karakteristik tertentu dan menunjukkan
tingkat menggunakan angka atau simbol dengan aturan tertentu
(Alatli, 2020). Objek yang diukur dapat berupa fisik dan non-
fisik. Pengukuran terhadap objek fisik seperti tinggi badan, berat
badan, luas sekolah, luas lapangan, jumlah siswa itu bisa
dilakukan secara langsung. Sementara pengukuran terhadap
objek non-fisik seperti prestasi belajar, prestasi kerja, minat
belajar, tingkat percaya diri, self of belonging, iklim sekolah
dilakukan secara tidak langsung melalui pemberian stimulus.

Stimulus yang diberikan dalam pengukuran objek non-fisik
dapat berupa pertanyaan maupun pernyataan. Pemberian
pertanyaan atau pernyataan kepada responden dimaksudkan
untuk memperoleh deskripsi kuantitatif tentang tingkatan
karakteristik yang dimiliki seseorang dengan aturan tertentu.
Kenapa harus menggunakan aturan tertentu? Agar hasil
pengukuran pada objek yang sama, meskipun dilakukan pada
tempat dan waktu yang berbeda, tetap memberikan hasil
pengkuran yang sama. Misalnya, instrumen operasi hitung
penjumlahan diberikan pada peserta didik dengan capain skor 70,
maka peserta didik lain yang memeiliki jawaban yang sama
dengan peserta didik tersebut juga harus mendapat skor 70. Untuk
memperoleh data kuantitatif tersebut maka diperlukan metode
pengukuran. Metode pengukuran yang dapat digunakan dalam
mengumpulkan data adalah tes dan non-tes.

Tes merupakan merupakan metode pengukuran yang
menggunakan alat ukur berbentuk satu set pertanyaan yang berisi
stimulus untuk mengukur atau mengungkap sampel tingkah laku
dimana jawabannya dapat dikategorikan benar dan salah
(Kartianom & Ndayizeye, 2017). Sementara non-tes merupakan

15

metode pengukuran yang menggunakan alat akur berbentuk satu
set pertanyaan yang berisi stimulus untuk mengukur atau
mengungkap sampel tingkah laku dimana jawabannya tidak dapat
dikategorikan benar dan salah, akan tetatpi positif atau negatif,
setuju atau tidak setuju, dan lainnya (Subali, 2010). Baik tes
maupun non-tes membuntuhkan alat akur. Alat ukur itu sendiri
sama pentingnya dengan hasil pengukuran. Alat ukur haruslah
valid dan reliabel, sehingga informasi yang dihasilkan akurat dan
dapat diandalkan. Dengan kata lain, validitas dan reliabilitas hasil
pengukuran berkorelasi dengan validitas dan reliabilitas alat ukur
(Alatli, 2020).
3.1.2. Skala Pengukuran

Dalam dunia pendidikan dikenal ada empat tingkatan skala
pengukuran, yakni skala nominal, ordinal, interval, dan rasio.
Perbedaan keempat skala tersebut sebagai berikut:
a. Skala nominal, pada tingkatan ini sebenarnya tidak terjadi

proses pengukuran, sebab yang terjadi adalah hanya
sekedar mencacah atau (simple counting) sehingga angka-
angka yang dipakai hanyalah sebuah pelabelan yang tidak
memiliki nilai lebih antara satu dengan lainnya. Contoh
konkritnya adalah jenis kelamin (1 = pria; 2 = wanita, angka
2 tidak berarti lebih dari angka 1 atau sebaliknya). Pada
contoh tersebut angka hanya menunjukkan posisi, ukuran
besaranpum hanya menggambarkan pencacahan. Jenis
skala ini paling primitif, segala operasi matematika tidak
berlaku karena tidak menyumbang sesuatu pemahaman
yang berarti.
b. Skala ordinal, pada tingkatan ini ada sedikit kemajuan
dibandingkan skala nominal. Dala skala ordinal, angka
telah menggambarkan urutan besar kecil atau sebaliknya,
walaupun tanpa pola (sistematika) tertentu. Artinya,

16

perbedaan ukuran besaran variabel (1 = SD; 2 = SMP; 3 =
SMA; 4 = S1) tidak menggmbarkan beda rentang ukuran
yang konsisten (sama), sehingga beda angka 1 dan 2 tidak
harus sama beda angka 2 dan 3, begitu seterusnya. Operasi
matematikapun dalam skala ini kurang bermakna. Artinya,
mereka yang memiliki ijazah SD sekaligus SMP tidak
berarti sama dengan memiliki ijazah SMA.
c. Skala interval, pada tingkatan ini perbedaan antar titik
dalam skala haruslah sistematis. Artinya, perbedaan angka
1 dan 2 sama dengan perbedaan angka 2 dan 3, begitu
seterusnya. Walaupun pada skala interval angka nol masih
bersifat semu, namun beda ukuran (unit) antara 1 dan 3
sama saja dengan beda antara angka 3 dan 5. Dengan kata
lain, operasi matematika dalam skala ini menjadi sangat
bermakna (operasi penjumlahan dan pengurangan). Dalam
dunia pendidikan, skala pengukuran yang dipandang cocok
dan paling populer untuk menggambarkan kemampuan
peserta didik adalah skala interval.
d. Skala rasio, pada tingkatan ini data yang dihasilkan paling
sempurna, sebab variabel atau atribut yang memiliki angka
nol pada skala ini dimaknai tidak memiliki besaran apapun.
Operasi matematika (penjumlahan, pengurangan,
perkalian, dan pembagian) pada skala ini berlaku pada
pengukuran berskala rasio nol. Olehnya itu, beda angka
antara 20 dan 10 dapat diartikan dua kali beda antara angka
10 dan 5. Contoh konkritnya adalah skala yang dipakai pada
pengukuran berat (timbangan) dan meteran.
3.1.3. Kesalahan Pengukuran

Data yang diperoleh dari kegiatan pengukuran tentu tidak
bisa akurat 100%, pastilah memiliki keslahan (error). Hasil
pengkuran harus memimiliki kesalahan sekecil mungkin.

17

Kesalahan pengukuran ada yang bersifat acak dan ada yang
bersifat sistemik. Kesalahan yang bersifat acak disebabkan
kondisi fisik dan mental yang diukur dan yang mengukur
bervariasi. Kesalahan yang bersifat acak juga dapat disebabkan
pemilihan materi pengukuran, seperti bahan pelajaran yang
diujikan. Bahan pelajaran yang diujikan cukup banyak, sehingga
dipilih yang esensi saja. Ada tiga kriteria yang dapat digunakan
dalam memilih materi atau bahan yang diujikan. Pertama, bahan
yang esensi. Kedua, bahan yang selalu digunakan pada pelajaran
lain. Ketiga, bahan yang memiliki nilai terapan. Dengan mengacu
pada tiga kriteria tersebut, maka diharapkan hasil pengukuran
akan memiliki kesalahan sekecil mungkin.

Kesalahan yang sistemik disebabkan oleh alat ukurnya,
yang diukur, dan yang mengukur. Ada pendidik yang cenderung
membuat soal tes yang mudah atau sulit, sehingga hasil
pengukurannya bisa under atau over estimate dari kemampuan
yang sebenarnya. Selain itu, ada pendidik yang murah dan ada
yang mahal dalam memberi skor untuk semua peserta didik.
Namun, apabila pemberian skor yang murah dan mahal ini hanya
terjadi pada peserta didik tertentu saja maka akan berujung bias
dalam pengukuran. Setiap orang yang dites, termasuk peserta
didik, tentu memiliki rasa kecemasan, meskipun tingkat
kecemasannya itu tidak sama atau bervariasi. Apabila ada peserta
didik yang selalu memiliki tingkat kecemasan tinggi ketika dites,
maka hasil pengukurannya cenderung under estimate dari
kemampuan yang sebenarnya.

Adanya ketidaktepatan data atau data yang tidak dapat
dipercaya kebenarannya dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor
berikut:
a. Kesalahan pada alat ukur

Kesalahan ini disebabkan alat ukur yang digunakan tidak
tepat sasaran atau tidak mengukur apa yang hendak diukur.

18

Misalnya, alat ukur tersebut berisi satu set pertanyaan untuk
mengukur kemampuan matematika peserta didik kelas 3 Sekolah
Dasar, akan tetapi diberikan kepada peserta didik yang duduk di
kelas 6 Sekolah Dasar.
b. Kesalahan pada orang yang diukur

Kesalahan ini timbul karena yang diukur adalah manusia,
maka situasi pada saat dilakukan pengukurab akan sangat
menentukan hasil pengukuran. Hasil pengukuran dalam kondisi
stres akan lain dengan dalam kondisi bugar. Selain itu, kondisi
selama dilakukan pengukuranpun sangat berpengaruh. Misalnya,
situasi yang gaduh atau ribut akan menhasilkan skor yang berbeda
dibandingkan dengan situasi yang tertib dan tenang apada waktu
dilakukan pengukran, khsususnya pada anak-anak yang mudah
terganggu oleh situasi tersebut.
c. Kesalahan pada orang yang mengukur

Kesalahan ini timbul akibat ketidaktelitian fihak yang
melakukan pengukuran, seperti kesalahan dalam mengoreksi
jawaban dan kesalahan dalam memberikan skor.
3.2. Penilaian Pendidikan

3.2.1. Pengertian Penilaian

Asesmen adalah suatu proses untuk mengambil keputusan
dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui
pengukuran hasil belajar yang menggunakan instrumen tes
maupun non-tes. Jadi, maksud penilaian adalah memberi nilai
tentang kualitas sesuatu. Tidak hanya sekedar mencarai jawaban
terhadap pertanyaan tentang apa, tetapi lebih diarahkan kepada
menjawab pertanyaan bagaimana atau seberapa jauh suatu proses
atau suatu hasil yang diperoleh seseorang atau suatu program.
Penilaian di sini diartikan sebagai padanan kata evaluasi.
Berkaitan dengan hal tersebut, Mardapi (2012) menyatakan
bahwa dalam mengungkap penguasaan konsep siswa, asesmen

19

tidak hanya mengungkap konsep yang telah dicapai, akan tetapi
juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep
tersebut diperoleh. Dengan kata lain asesmen tidak hantya dapat
menilai hasil dan proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan
belajar siswa.

Penilaian dalam arti Assessment merupakan suatu proses
pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil
belajar siswa baik perorangan maupun kelompok yang diperoleh
melalui pengukuran. Tujuannya untuk menganalisis atau
menjelaskan unjuk kerja/prestasi siswa dalam mengerjakan
tugas-tugas yang terkait, dan mengefektifkan penggunaan
informasi untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal ini selaras
dengan pendapat Brookhart & Mcmillan (2019) yang menyatakan
bahwa asesmen merupakan sarana yang secara kronologis
membantu guru dalam memonitor siswa. Oleh karena itu sudah
seharusnya asesmen merupakan bagian dari pembelajara, bukan
merupakan hal yang terpisahkan.

Brookhart & Mcmillan (2019) mendefinisikan asesmen
dalam konteks pendidikan sebagai sebuah usaha secara formal
untuk menentukan status siswa, berkenaan dengan berbagai
kepentingan pendidikan. Richmond (2019) mendefinisikan
asesmen sebagai proses yang menyediakan informasi tentang
individu siswa tentang kurikulum atau program, atau segala
sesuatu yang berkaitan tentang sistem institusi.

Penilaian dalam arti evaluasi merupakan serangkaian
kegiatan penilaian keseluruhan program mulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, sampai dengan pengawasan.
Misalnya, evaluasi dari program yang meliputi kurikulum,
asesmen, pengadaan dan peningkatan guru, manajeman
pendidikan, dan reformasi pendidikan.

Secara garis besar asesmen (penilaian) dibagi menjadi dua,
yaitu asesmen formatif dan asesmen sumatif dan ada juga yang

20

mengatakan assessment for learning dan assessment of learning.
Formative assessment atau Assessment for learning is the process
used by teachers and children to recognize and respond to pupil
learning, in order to enhance that learning during the activity or
task (Miller, Linn, & Gronlund, 2013).

Asesmen formatif dilaksanakan secara periodik sepanjang
satuan pembelajaran, misalnya setelah setiap satu pokok bahasan
selesai diajarkan. Asesmen formatif merupakan bagian integral
dari proses pembelajarandilakukan dengan maksud memantau
sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan
sebagaimana yang direncanakan. Asesmen ini juga dapat
memberikan balikan kepada siswa yang terkait dengan kemajuan
yang telah dicapai dan memberikan balikan kepada guru terkait
dengan perkembangan proses pembelajaran yang dirancangnya.
Sedangkan penilaian sumatif dilakukan pada akhir satuan
pembelajaran untuk menentukan status final siswa dan /atau
untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah
dari satu unit ke unit berikutnya, dengan kata lain asesmen
sumatif untuk menentukan kadar efektivitas program
pembelajaran. Asesmen sumatif ini biasanya berbentuk ujian
semester atau ujian akhir satuan pendidikan.

Berkaitan dengan penilaian terdapat beberapa hal yang
perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut:
a. Penilaian yang dilakukan oleh guru hendaknya tidak hanya

penilaian atas pembelajaran (assessment of learning),
melainkan juga penilaian untuk pembelajaran (assessment
for learning) dan penilaian sebagai pembelajaran
(assessment as learning)
b. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian
kompetensi dasar (KD) pada Kompetensi Inti (KI), yaitu
KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4.
c. Penilaian menggunakan acuan kriteria,yaitu penilaian yang

21

membandingkan capaian peserta didik dengan criteria
kompetensi yang ditetapkan.Hasi 1penilaian seorang
peserta didik, baik formatif maupun sumatif, tidak
dibandingkan dengan hasil peserta didik lainnya namun
dibandingkan dengan penguasaan kompetensi yang
ditetapkan. Kompetensi yang ditetapkan merupakan
ketuntasan belajar minimal yang disebut juga dengan
kriteria ketuntasan minimal (KKM).
d. Penilaian dilakukan secara terencana dan berkelanjutan,
artinya semua indikator diukur, kemudian hasilnya
dianalisis untuk menentukan KD yang telah dan yang
belum dikuasai peserta didik, serta untuk mengetahui
kesulitan belajar peserta didik.
e. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut,
berupa program remedial bagi peserta didik dengan
pencapaian kompetensi dibawah ketuntasan dan program
pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi
ketuntasan. Hasil penilaian juga digunakan sebagai umpan
balik bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran.
3.2.2. Tujuan Penilaian

Tujuan penilaian hasil belajar di madrasah antara lain:
a. Mengetahui tingkat penguasaan kompetensi dalam aspek

sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan yang
sudah dan belum dikuasai peserta didik.
b. Menetapkan ketuntasan penguasaan kompetensi belajar
peserta didik dalam kurun waktu tertentu, yaitu harian,
tengah semester, satu semester, satu tahun, dan akhir masa
studi pada satuan pendidikan.
c. Menetapkan program perbaikan atau pengayaan
berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi peserta didik
sesuai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan.

22

d. Memperbaiki proses pembelajaran pada pertemuan
berikutnya.

3.2.3. Fungsi Penilaian

Penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki fungsi untuk
memantau kemajuan belajar, memantau hasil belajar, dan
mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik secara
berkesinambungan. Berdasarkan fungsinya penilaian hasil belajar
oleh pendidik meliputi:
a. Formatif

Penilaian formatif merupakan penilaian yang menyediakan
informasi kepada peserta didik dan guru untuk digunakan dalam
memperbaiki kegiatan pembelajaran serta memperbaiki
kekurangan hasil belajar peserta didik dalam sikap, pengetahuan,
dan keterampilan. Hasil dari kajian terhadap kekurangan peserta
didik digunakan untuk memberikan pembelajaran remedial dan
perbaikan pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
b. Sumatif

Penilaian sumatif merupakan jenis penilaian yang
orientasinya adalah mengumpulkan informasi tentang
pembelajaran yang dilakukan pada rentang waktu tertentu atau
pada akhir suatu unit pelajaran. Informasi tersebut digunakan
untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didik pada akhir
semester, satu tahun pembelajaran, atau akhir masa pendidikan di
satuan pendidikan. Hasil dari penentuan keberhasilan ini
digunakan untuk menentukan nilai rapor, kenaikan kelas dan
keberhasilan belajar peserta didik dari satuan pendidikan.
c. Evaluatif

Penilaian berfungsi untuk mengevaluasi pengelolaan
pembelajaran pada unit kelas maupun satuan pendidikan.
3.2.4. Acuan Penilaian

23

Ada dua jenis acuan penilaian yang dipakai dalam
mengelompokan peserta didik yaitu:
a. Penilaian Acuan Norma (PAN)

Penilaian Acuan Norma ialah penilaian yang
membandingkan hasil belajar setiap peserta didik terhadap hasil
dalam kelompoknya. PAN digunakan untuk menentukan status
setiap peserta didik terhadap kemampuan peserta didik lainnya.
Artinya, PAN digunakan apabila ingin mengetahui kemampuan
peserta didik di dalam komunitasnya seperti di kelas, madrasah,
dan lain sebagainya. PAN menggunakan kriteria yang bersifat
"relative". Artinya, selalu berubah-ubah disesuaikan dengan
kondisi dan atau kebutuhan pada waktu tersebut. Nilai hasil dari
PAN tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan
penguasaanpeserta didik tentang materi pembelajaran yang
diujikan, tetapi hanya menunjukanposisi peserta didik dalam
kelompoknya. Misalnya kelompok cepat, sedang atau lambat.
b. Penilaian Acuan Kriteria (PAK)

Penilaian Acuan Kriteria (PAK) biasanya disebut juga
criterion eva/uation adalah pengukuran keberhasilan peserta
didik dengan menggunakan kriteriatertentu yang telah ditetapkan.
Dalam pengukuran ini peserta didik dibandingkan dengan kriteria
yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam tujuan pembelajaran,
bukan dengan penampilan peserta didik yang lain. Keberhasilan
peserta didik tergantung pada penguasaan materi atas kriteria
yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna
mendukung tujuan pembelajaran. Dengan PAK setiap peserta
didik dapat diketahui apa yang telah dan belum dikuasainya.
Melalui penilaian ini kita dapat mengembangkan alat ukur untuk
mengetahui berhasil atau tidak suatu proses pembelajaran dengan
cara mengadakan tes diawal pembelajaran (pretest) dan tes pada
akhir pembelajaran (postest). Dari basil perbandingan kedua tes

24

tersebut akan diketahui seberapa besar materi yang bisa diterima
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
3.2.5. Pendekatan Penilaian

Penilaian konvensional cenderung dilakukan hanya untuk
mengukur hasil belajar peserta didik. Dalam konteks ini,
penilaian diposisikan seolah-olah sebagai kegiatan yang terpisah
dari proses pembelajaran. Dalam perkembangannya penilaian
tidak hanya mengukur basil belajar, namun yang lebih penting
adalah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kompetensi
peserta didik dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu,
penilaian perlu dilaksanakan melalui tiga pendekatan, yaitu
penilaian atas pembelajaran (assessment oflearning), penilaian
untuk pembelajaran (assessment forlearning), dan penilaian
sebagai pembelajaran (assessmentas learning). Penilaian atas
pembelajaran dilakukan untuk mengukur capaian peserta didik
terhadap kompetensi yang telah ditetapkan.Penilaian untuk
pembelajaran memungkinkan guru dalam menggunakan
informasi tentang kondisi peserta didik untuk memperbaiki
pembelajaran, sedangkan penilaian sebagai pembelajaran
memungkinkan peserta didik melihat capaian dan kemajuan
belajarnya untuk menentukan target belajar.

Pada penilaian konvensional, assessment of learning paling
dominan dibandingkan assessment forlearning dan assessment
aslearning. Penilaian dalam Kurikulum 2013 diharapkan
sebaliknya, yaitu lebih mengutamakan assessmentas learning dan
assessment for learning dibandingkan assessment of learning.

Assessment of learning merupakan penilaian yang
dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Penilaian ini
dimaksudkan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar setelah
peserta didik selesai mengikuti proses pembelajaran. Berbagai
bentuk penilaian sumatif seperti ulangan akhir semester, ujian

25

madrasah, dan ujian nasional merupakan contoh assessment of
learning.

Assessmentfor learning dilakukan selama proses
pembelajaran berlangsung dan digunakan sebagai dasar untuk
melakukan perbaikan proses pembelajaran. Dengan assessment
for learning guru dapat memberikan umpan balik terhadap proses
belajar peserta didik, memantau kemajuan, dan menentukan
kemajuan belajarnya. Assessment for learning merupakan
penilaian proses yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk
meningkatkan kinerjanya dalam memfasilitasi peserta didik.
Berbagai bentuk penilaian formatif, misalnya tugas-tugas di
kelas, presentasi, dan kuis, merupakan contohcontoh assessment
for learning.
3.2.6. Prinsip Penilaian

Dalam melakukan penilaian hasil belajar agar hasilnya
dapat diterima oleh semua pihak, baik yang dinilai, yang menilai,
maupun pihak lain yang akan menggunakan hasil penilaian, maka
kegiatan penilaian harus merujuk kepada prinsip-prinsip
penilaian, sebagai berikut.
a. Sahih

Agar penilaian sahih atau valid, yaitu mengukur apa yang
ingin diukur, maka harus dilakukan berdasar pada data yang
mencerminkan kemampuan yang diukur.
b. Objektif

Penilaian tidak dipengaruhi oleh subjektivitas penilai.
Karena itu, perlu dirumuskan petunjuk teknis penilaian (rubrik)
sehingga dapat menyamakan persepsi penilai dan meminimalisir
subjektivitas.
c. Adil

Penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta
didik karena perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat

26

istiadat, status social ekonomi,gender,golongan dan hal-hal lain.
Perbedaan hasil penilaian semata-mata harus disebabkan oleh
berbedanya capaian hasil belajar peserta didik pada kompetensi
yang dinilai.
d. Terpadu

Berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu
komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
e. Terbuka

Prosedur penilaian dan criteria penilaian harus terbuka,
jelas dan dapat diketahui oleh siapapun yang berkepentingan.
Dalam era keterbukaan seperti sekarang, pihak yang dinilai yaitu
peserta didik dan pengguna hasil penilaian berhak mengetahui
proses dan acuan yang digunakan dalam penilaian, sehingga hasil
penilaian dapat diterima oleh semua pihak.
f. Menyeluruh dan Berkesinambungan

Penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi
dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai,
untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
g. Sistematis

Penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap
denganmengikuti langkah-langkah baku.
h. Beracuan Kriteria

Penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi
menggunakan acuan kriteria. Artinya untuk menyatakan seorang
peserta didik telah kompeten atau belumbukan dibandingkan
terhadap capaian temanteman atau kelompoknya, melainkan
dibandingkan terhadap criteria minimal yang ditetapkan. Peserta
didik yang sudah mencapai criteria minimal disebut tuntas, dapat
melanjutkan pembelajaran untuk mencapai kompetensi
berikutnya, sedangkan peserta didik yang belum mencapai
criteria minimal wajib menempuh remedial.

27

i. Akuntabel
Penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi

teknik, prosedur maupun hasilnya.
3.3. Evaluasi Pendidikan

Evaluasi adalah proses pemberian makna atau penetapan
kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka
hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu. Kriteria
sebagai pembanding dari proses dan hasil pembelajaran tersebut
dapat ditentukan sebelum proses pengukuran atau dapat pula
ditetapkan sesudah pelaksanaan pengukuran. Kriteria ini dapat
berupa proses/kemampuan minimal yang dipersyaratkan, atau
batas keberhasilan, dapat pula berupa kemampuan rata-rata unjuk
kerja kelompok dan berbagai patokan yang lain. Kriteria yang
berupa batas kriteria minimal yang telah ditetapkan sebelum
pengukuran dan bersifat mutlak disebut dengan Penilaian Acuan
Patokan atau Penilaian Acuan Kriteria (PAP/PAK), sedang
kriteria yang ditentukan setelah kegiatan pengukuran dilakukan
dan didasarkan pada keadaan kelompok dan bersifat relatif
disebut dengan penilaian acuan norma.

Nitko & Brookhart (2014) mendefinisikan bahwa
evaluation is the process of delineating, obtaining and providing
descriptive and judgemental information abaut the worth and
merit some object’s, goals, design, implementation and impact in
order to guide decision making serves needs for accountability,
and promote understanding of the involve phenomena. Dengan
kata lain, Evaluasi merupakan suatu proses menyediakan
informasi yang dapat dijadikan suatu pertimbangan untuk
menentukan harga dan jasa (the worth and merit) dari tujuan yang
dicapai, desain implementasi dan dampak untuk membantu
membuat keputusan, membantu pertanggungjawaban serta
meningkatkan pemahaman terhadap fenomena. Dari uraian

28

tersebut, inti dari evaluasi adalah penyedian informasi yang dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil
keputusan.

Nitko & Brookhart (2014) menyatakan: Measurement,
assessment and evaluation are hierarchies. The comparison of
observation with the criteria is a measurement, the interpretation
and description of the evidence is an assessment, and the
judgment of the value or implication of the behavior is an
evaluation. Dengan kata lain, Pengukuran, asesmen dan evaluasi
bersifat hirarki. evaluasi didahului asesmen sedangkan asesmen
didahului dengan pengukuran. Pengukuran diartikan sebagai
kegiatan membandingkan hasil pengamanatan dengan kriteria.
Asesmen merupakan kegiatan menafsirkan dan mendeskripsikan
hasil pengukuran, sedangkan evaluasi merupakan penetapan nilai
atau implikasi perilaku.
3.4. Prinsip Dasar Evaluasi

a. Kebijaksanaan pendidikan adalah kebijaksanaan
pemerintah, sehingga evaluator harus membantu
pemerintah.

b. Evaluasi adalah seni, evaluasi yang baik bukan
mengandalkan hasil penilaian yang tunggal.

c. Evaluasi bukan keputusan yang absolut, tujuannya
memilihkan altematif bagi pengambil kebijaksanaan untuk
mengambil keputusan.

d. Tidak ada orang yang mampu membuat seluruh
pertimbangan dalam merancang evaluasi dan menafsirkan
hasil evaluasi.

e. Evaluator tidak hanya mengacu pada salah satu aliran
evaluasi dalam melaksanakan evaluasi. Metode objektif
kuantitatif dan humanistik kualitatif harus saling
melengkapi.

29

f. Evaluasi sebagai suatu proses harus bersifat kontinyu dan
luwes.

g. Evaluator harus mengidentifikasi setiap permasalahan yang
berkait dengan evaluasi.

h. Program pendidikan bukan perlakuan tunggal, banyak
faktor yang berpengaruh. Oleh karena itu, evaluator harus
melihat bagian dalam proses, antar perlakuan, dan dalam
populasi unfuk melihat besarnya pengaruh tindakan yang
diberikan.

i. Dalam melakukan evaluasi, aspek psikomotor dan afektif
tak boleh dikesampingkan

j. Evaluasi formatif dan sumatif harus menjadi satu kesatuan
yang utuh, jadi harus melihat seluruh hasil dari pelaksanaan
program, jangan hanya melihat hasil evaluasi sumatif.

k. Analisis keseluruhan lebih dapat dipertanggungjawabkan
daripada hanya berdasar pada satu pengukuran.

3.5. Fungsi dan Tindak Lanjut Evaluasi

Evaluasi proses dan hasil belajar merupakan serangkaian
kegiatan yang dilaksanakan tahap demi tahap berdasarkan
keseluruhan hasil penilaian yang dilakukan. Adapun manfaat
hasil evaluasi bagi subjek belajar adalah untuk bimbingan belajar,
bimbingan pribadi, dan kebutuhan subjek belajar yang berkaitan
dengan studinya. Jadi, meliputi aspek bimbingan dan aspek
pembelajaran. Dengan demikian evaluasi proses dan hasil belajar
akan berfungsi untuk memberi:
a. arah dan petunjuk dalam pelaksanaan pembelajaran, baik

guru maupun subjek belajar;
b. gambaran tentang diri subjek belajar mengenai

perkembangan baik kemampuan maupun personalitasnya,
sehingga mereka mampu mengenali diri/mawas diri serta
seberapa jauh produktivitasnya, sehingga mampu

30

menentukan langkah/keputusan lebih lanjut guna
peningkatan prestasi.
c. dorongan/motivasi subjek belajar agar mampu berusaha
untuk meraih prestasi yang lebih baik.
d. masukan untuk perbaikan dan pelaksanaan program guna
memperbaiki proses pembelajaran yang akan
diselenggarakan saat berikutnya.
Dengan mengetahui hasil evaluasi yang diperoleh, maka
dapat diarnbil keputusan sebagai tindak lanjut. Keputusan
tersebut sangat tergantung kepada jenis evaluasi yang telah
dilaksanakan, yakni:
a. Keputusan atas dasar evaluasi sumatif
Jika sistemnya menggunakan sistem kenaikan, maka
kegagalan subjek belajar dalam evaluasi sumatif dapat dinyatakan
tinggal kelas. Di perguruan tinggi misalnya, setelah empat
semester pertama dilakukan peninjauan terhadap hasil belajamya,
jika tidak mencapai jatah yang ditetapkan, maka subjek belajar
disuruh mengundurkan diri.
b. Keputusan atas dasar evaluasi formatif
Karena evaluasi formatif berfungsi untuk memberikan
umpan balik, baik kepada subjek belajar ataupun guru, maka
kegagalan kelas berarti merupakan masukan baik bagi guru
maupun subjek belajar. Bagi guru, kegagalan kelas berarti
masukan untuk rnerevisi program pembelajaran yang telah
disusun, baik dari segi metode, media, urutan kegiatan, guru,
kegiatan pembelajaran yang dilakukan subjek, belajar, serta
alokasi waktunya, sehingga dalam proses pembelajaran
selanjutnya akan ada perbaikan hasil. Dengan demikian, akan
dapat disusun suatu program pembelajaran yang lebih efektif
yang lebih sesuai dengan kondisi, minat, bakat dan kecerdasan
subjek belajar sebagai peserta program. Bagi subjek belajar maka
kegagalan dalam evaluasi formatif hendaknya digunakan untuk

31

mawas diri dan mengambil langkah-langkah guna mengatasi
kegagalan. Bagi yang belum memuaskan prestasinya dapat
mengambil langkahlangkah baru guna meningkatkan prestasi.
c. Keputusan yang dianrbil berdasarkan evaluasi diagnostik

Jika evaluasi diagnostik dilakukan sebelum proses
pembelajaran, maka tujuannya guru dapat mengambil sikap perlu
tidaknya subjek belajar diberi pelajaran ekstra agar mampu
menguasai prasyarat yang belum dikuasainya. Jika tanpa
penguasaan prasyarat subjek belajar akan mengalami kesulitan
dalam mengikuti proses pembelajaran , maka mau tidak mau guru
harus meningkatkan penguasaan subjek belajar terhadap
prasyarat tersebut. Jika dilakukan selama proses, maka tugas guru
untuk melakukan remediasi terhadap subjek belajar yang
mengalami kesulitan belajar, sehingga tidak terjadi kegagalan
pada evaluasi sumatifnya. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan
berbagai cara, seperti remediasi akademik dilakukan dengan
menggunakan sistem modul ataupun tugas terstruktur kalau tidak
ada waktu khusus untuk tatap muka di kelas. Kendala utama
adalah kalau beban mengajar guru terlalu banyak.
d. Keputusan yang harus diambil berdasar evaluasi

penempatan
Subjek belajar yang tidak menguasai kemampuan prasyarat
harus diremediasi (sebagai penilaian diagnosis sebelum proses
pembelajaran). Kemampuan yang sudah dikuasai subjek belajar
tanpa harus melalui proses pembelajaran jangan ditargetkan
sebagai kemampuan yang harus dikuasai melalui proses
pembelajaran yang akan diselenggarakan. Subjek belajar yang
tidak interes atau berbeda karakteristik personalnya perlu
mendapat perhatian khusus.

32

4. Asesmen pada Kurikulum 2013

Pendidikan dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang
tidak terpisahkan. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang
begitu pesat tidak terlepas dari adanya peran dari proses
pendidikan. Dengan demikian perkembangan ilmu pengetahuan
tentunya sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan.
Berkembangnya pendidikan bukanlah hal yang instan, akan tetapi
merupakan proses yang berkesinambungan, berkelanjutan, dan
komprehensif. Perkembangan pendidikan sekarang ini
disesuaikan dengan kebutuhan ilmu dan kompetensi yang
dibutuhkan pada abad 21. Kebutuhan kompetensi dan ilmu yang
semakin kompleks di abad 21 ini menuntut adanya pembenahan
dan perubahan dari berbagai aspek dalam dunia pendidikan. Salah
satunya adalah perubahan kurikulum pendidikan yang diharapkan
mampu mengakomodasi kemampuan peserta didik yang
diperlukan di era modern ini. Kurikulum merupakan landasan
utama dalam pelaksanaan pendidikan. Pelaksanaan pendidikan di
masing-masing satuan pendidikan dilakukan dengan acuan
kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, perubahan kurikulum
yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan kualitas
pendidikan dan kualitas peserta didik.

Kurikulum setiap tahunnya selalu dikaji, dimonitoring dan
dievaluasi keterlaksanaannya untuk mengetahui kekurangan,
kelebihan serta hambatan dalam penerapannya. Hasil monitoring
dan evaluasi kurikulum setiap tahunnya digunakan untuk
perbaikan kurikulum yang tentunya akan membawa dampak yang
baik pula untuk dunia pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia
pada tahun 2004 menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) dan sejak tahun 2006 menggunakan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), akan tetapi pada tahun 2013
mengalami perubahan menjadi Kurikulum 2013. Pada

33

prinsipnya, Kurikulum 2013 adalah memadukan dan
mengembangkan KBK dan KTSP yang mencakup kompetensi
sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara komprehensif dan
terpadu. Ketiga kompetensi tersebut penting untuk dikembangkan
dalam diri peserta didik. Ketiga kompetensi tersebut sebenarnya
bukan merupakan hal baru dalam pendidikan. Sistem pendidikan
di Indonesia sudah mengenal istilah afektif, kognitif, dan
psikomotor sebelum diterapkannya Kurikulum 2013.

Seperti yang dikemukakan oleh Miller et al. (2013) bahwa
domain tujuan pembelajaran dibagi menjadi tiga ranah besar yaitu
domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Domain kognitif
mewakili kompetensi pengetahuan, afektif mewakili sikap, dan
psikomotor mewakili kompetensi keterampilan. Namun, pada
pelaksanaan kurikulum sebelum Kurikulum 2013 diterapkan,
penekanan kompetensi yang dicapai peserta didik hanya pada
kompetensi pengetahuan saja, padahal kompetensi pengetahuan
bukanlah satu-satunya kompetensi yang dapat digunakan untuk
merepresentasikan kualitas dan kemampuan peserta didik.
Pengetahuan yang baik tanpa didasari dengan sikap yang baik
akan menggiring peserta didik pada fenomena-fenomena negatif.
Miller et al. (2013) menambahkan bahwa sikap sangatlah penting
sebagai salah satu tujuan pembelajaran mengingat banyak
fenomena negatif di kalangan peserta didik. Hal ini pula yang
menjadi salah satu alasan perlunya perubahan dalam struktur
kurikulum pendidikan Indonesia.
4.1. Asesmen pada Kurikulum 2013

Penilaian merupakan komponen yang tidak dapat
dipisahkan dari kegiatan pembelajaran. Berdasarkan
Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016, penilaian didefinisikan
sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk
mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian

34

merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh,
menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil
belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan
berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna
dalam pengambilan keputusan. Penilaian dilakukan sebagai
kendali dalam kegiatan pembelajaran untuk mengukur sejauh
mana ketercapaian tujuan pembelajaran.

Perubahan paradigma pendidikan dari teacher centered ke
student centered tidak hanya menuntut adanya perubahan dalam
proses pembelajaran, akan tetapi juga dalam pelaksanaan
penilaian. Pada kurikulum dan paradigma pembelajaran
sebelumnya, penilaian pembelajaran hanya berfokus pada satu
aspek saja yaitu kognitif atau pengetahuan. Hal ini pun diperparah
lagi dengan penilaian kognitif yang seringkali digunakan adalah
berbentuk tes pilihan ganda. Tes pilihan ganda kurang bisa
digunakan untuk mengetahui kinerja peserta didik yang
sesungguhnya. Apalagi tes pilihan ganda tersebut tidak mampu
mengukur kompetensi sikap dan keterampilan peserta didik.

Salah satu perbedaan mencolok antara Kurikulum 2013
dengan kurikulum sebelumnya yaitu berkaitan dengan
pelaksanaan penilaian. Hal mendasar yang membedakan
penilaian dalam kurikulum sebelumnya yang hanya menekankan
pada output saja, sedangkan penilaian dalam Kurikulum 2013
menekankan pada penilaian proses dan output. Pada Kurikulum
2013, terdapat penekanan lugas bahwa aspek penilaian harus
seimbang antara ranah sikap baik itu spiritual dan sosial,
pengetahuan dan keterampilan. Dalam Kurikulum 2013, guru
dituntut untuk dapat memonitor perkembangan peserta didik
berdasarkan sikap spiritual dan sosial, pengetahuan, dan
keterampilan. Penilaian tidak hanya bertumpu pada penilaian
produk atau hasil kerja semata, akan tetapi juga
mempertimbangkan segi proses, sehingga semua aspek

35

kemampuan peserta didik dapat diukur. Selain itu, penilaian yang
dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran harus mampu
mengukur kemampuan tingkat berpikir peserta didik dari yang
rendah sampai tinggi dan menekankan pada pertanyaan yang
membutuhkan pemikiran mendalam bukan sekedar hafalan dan
menyelesaikan soal rutin. Penilaian dalam kurikulum sebelumnya
identik dengan penilaian tes pengetahuan semata, sedangkan
dalam Kurikulum 2013 penilaian dilakukan secara holistik dan
dilaksanakan dengan tes dan portofolio serta penilaian autentik.

Sesuai dengan yang diamanatkan dalam Kurikulum 2013
bahwa capaian pembelajaran harus mengakomodir aspek sikap,
pengetahuan, dan keterampilan, maka pelaksanaaan penilaian
hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan
menengah pun meliputi ketiga aspek tersebut. Penjelasan lebih
lanjut tentang pelaksanaan penilaian sikap, pengetahuan, dan
keterampilan berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016
tentang Standar Penilaian Pendidikan diperinci sebagai berikut.
4.1.1. Asesmen Sikap

Sikap menurut Mardapi (2012) didefinisikan sebagai
karakteristik individu dalam cara berpikir, perasaan, dan
tindakan. Penilaian sikap merupakan kegiatan yang dilakukan
oleh pendidik untuk memperoleh informasi deskripsi mengenai
perilaku peserta didik. Penilaian sikap dilakukan terhadap
kecenderungan perilaku peserta didik sebagai hasil pendidikan
yang dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Penilaian sikap ditujukan untuk mengetahui capaian dan
membina perilaku serta budi pekerti peserta didik sesuai butir-
butir sikap dalam Kompetensi Dasar (KD) pada Kompetensi Inti
Sikap Spiritual (KI-1) dan Kompetensi Inti Sikap Sosial (KI-2).
Upaya pendidik untuk menumbuhkan sikap positif yang sesuai
dengan KI-1 dan KI-2 dapat dilakukan dengan pembinaan dan

36

pembiasaan baik di dalam kelas maupun di luar kelas secara terus
menerus. Selain itu guru juga harus melakukan penilaian sikap
untuk mengetahui perkembangan sikap peserta didik. Menurut
Mardapi (2012) bahwa pada mata pelajaran Pendidikan Agama
dan Budi Pekerti, dan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn), KD pada KI-1 dan KD pada KI-2
disusun secara koheren dan linier dengan KD pada KI-3 dan KD
pada KI-4. Sementara itu untuk mata pelajaran lain, KD pada KI-
1 dan KD pada KI-2 dirumuskan secara umum dan terakumulasi
menjadi satu KD pada KI-1 dan satu KD pada KI-2 yang
diintegrasikan dengan KD pada KI-3 dan KI-4.

Penilaian sikap spiritual dan sikap sosial dilakukan secara
berkelanjutan oleh pendidik baik itu guru mata pelajaran, guru
Bimbingan Konseling (BK), dan wali kelas dengan pengamatan
ataupun informasi lain yang valid dan relevan dari berbagai
sumber. Penilaian sikap merupakan bagian dari pembinaan dan
penanaman serta pembentukan sikap spiritual dan sikap sosial
peserta didik yang menjadi tugas dari setiap pendidik. Penanaman
sikap diintegrasikan pada setiap pembelajaran KD dari KI-3 dan
KI-4. Selain itu, untuk melengkapi pengamatan atau observasi
yang dilakukan pendidik, penilaian sikap dapat dilakukan dengan
penilaian diri (self assessment) dan penilaian antarteman (peer
assessment) dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter
peserta didik, yang hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu
data untuk konfirmasi hasil penilaian sikap oleh pendidik. Hasil
penilaian sikap selama periode satu semester ditulis dalam bentuk
deskripsi yang menggambarkan perilaku peserta didik.
4.1.2. Penilaian Pengetahuan

Penilaian pengetahuan sesuai Permendikbud Nomor 23
Tahun 2016 merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur
penguasaan pengetahuan peserta didik. Kompetensi pengetahuan

37

peserta didik yang dinilai meliputi kemempuan peserta didik
berupa pengetahuan faktual, konspetual, prosedural, dan
metakognitif serta kecakapan berpikir tingkat rendah sampai
berpikir tingkat tinggi mulai dari mengingat, memahami,
menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan
seperti yang dikemukakan oleh (Krathwohl, 2002b). Penilaian
kompetensi pengetahuan berkaitan dengan ketercapaian
Kompetensi Dasar pada KI-3 yang dilakukan oleh guru mata
pelajaran, satuan pendidikan, maupun pemerintah. Penilaian
pengetahuan dilakukan dengan berbagai teknik penilaian.
Pendidik menetapkan teknik penilaian sesuai dengan
karakteristik kompetensi yang akan dinilai. Penilaian dimulai
dengan perencanaan pada saat menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada silabus.

Penilaian pengetahuan selain ditujukan untuk mengetahui
apakah peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar, juga
untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan penguasaan
pengetahuan peserta didik dalam proses pembelajaran. Hal ini
bahwa penilaian pengetahuan berfungsi sebagai diagnostik
kemampuan kognitif peserta didik. Oleh karena itu, pemberian
umpan balik (feedback) kepada peserta didik oleh pendidik
merupakan hal yang sangat penting, sehingga hasil penilaian
dapat segera digunakan untuk perbaikan mutu pembelajaran.
Ketuntasan belajar untuk pengetahuan ditentukan oleh satuan
pendidikan dengan mempertimbangkan batas standar minimal
nilai Ujian Nasional yang ditetapkan oleh pemerintah. Secara
bertahap satuan pendidikan terus meningkatkan kriteria
ketuntasan belajar dengan mempertimbangkan potensi dan
karakteristik masing-masing satuan pendidikan sebagai bentuk
peningkatan kualitas hasil belajar.

38

4.1.3. Penilaian Keterampilan

Penilaian keterampilan merupakan kegiatan yang dilakukan
untuk mengukur kemampuan peserta didik menerapkan
pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu. Keterampilan
merupakan satu kesatuan dengan pengetahuan yang dimiliki
peserta didik. Penilaian keterampilan mengukur pencapaian
kompetensi peserta didik terhadap kompetensi dasar pada KI-4.
Penilaian keterampilan menuntut peserta didik
mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu. Penilaian ini
dimaksudkan untuk mengetahui apakah pengetahuan yang sudah
dikuasai peserta didik dapat digunakan untuk mengenal dan
menyelesaikan masalah dalam kehidupan sesungguhnya.
Berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 ketuntasan
belajar untuk keterampilan ditentukan oleh satuan pendidikan,
secara bertahap satuan pendidikan terus meningkatkan kriteria
ketuntasan belajar dengan mempertimbangkan potensi dan
karakteristik masing-masing satuan pendidikan sebagai bentuk
peningkatan kualitas hasil belajar.

Sesuai dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016
tentang Standar Penilaian Pendidikan bahwa penilaian
pengetahuan dan keterampilan selain dilakukan oleh pendidik,
juga dilakukan oleh satuan pendidikan dan pemerintah. Penilaian
ketiga aspek tersebut dengan menggunakan berbagai teknik
pengumpulan data sehingga diperoleh data otentik tentang
kemampuan dan kompetensi peserta didik. Adapun yang menjadi
landasan penilaian dalam Kurikulum 2013 semenjak kurikulum
tersebut diterapkan adalah:
a. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional
b. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang

Standar Nasional Pendidikan

39


Click to View FlipBook Version