The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

FullBook Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wisnujatinugrahini, 2026-03-25 21:58:18

FullBook Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata

FullBook Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata

86 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata


Bab 7 Zonasi Kawasan Ekowisata Hutan7.1 Definisi Zonasi Ekowisata Hutan Zonasi kawasan ekowisata hutan merupakan proses pembagian ruang di dalam kawasan hutan menjadi beberapa zona berdasarkan fungsi, potensi, dan tingkat sensitivitas ekologisnya. Zonasi ini bertujuan untuk mengatur pemanfaatan ruang agar aktivitas wisata, konservasi, pendidikan, dan kegiatan lainnya dapat berjalan secara harmonis tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan. Dalam praktiknya, zonasi kawasan ekowisata hutan melibatkan identifikasi area yang sangat sensitif secara ekologis, area yang dapat dimanfaatkan untuk wisata, serta area yang perlu perlindungan khusus, sehingga setiap zona memiliki aturan dan pengelolaan yang berbeda sesuai dengan karakteristiknya 11011. Tujuan utama dari zonasi dalam pengelolaan ekowisata hutan adalah untuk memastikan bahwa pemanfaatan kawasan hutan dapat dilakukan secara


88 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisataoptimal tanpa mengorbankan fungsi ekologisnya. Zonasi membantu mengidentifikasi dan memisahkan area yang harus dilindungi secara ketat, area yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan wisata, serta area yang dapat digunakan untuk tujuan lain seperti penelitian atau pendidikan. Dengan demikian, zonasi menjadi alat penting untuk mengurangi konflik pemanfaatan lahan dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan konservasi dan pemanfaatan ekonomi (De Oliveira Costa et al., 2016).Pentingnya zonasi dalam pengelolaan ekowisata hutan terletak pada kemampuannya untuk memberikan batasan yang jelas terhadap aktivitas manusia di dalam kawasan hutan. Dengan adanya zonasi, pengelola dapat mengatur distribusi pengunjung, membatasi akses ke area sensitif, dan mengarahkan pembangunan infrastruktur wisata ke zona yang telah ditetapkan. Hal ini tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan, tetapi juga meningkatkan pengalaman wisatawan dengan menyediakan area yang aman dan nyaman untuk berwisata (Zamdial et al., 2020). Zonasi juga berperan penting dalam mendukung keberlanjutan ekowisata. Dengan membagi kawasan hutan ke dalam zona-zona yang berbeda, pengelolaan dapat dilakukan secara adaptif dan responsif terhadap perubahan kondisi lingkungan maupun kebutuhan masyarakat. Zonasi memungkinkan adanya monitoring dan evaluasi yang lebih efektif terhadap dampak aktivitas wisata, sehingga pengelola dapat mengambil tindakan korektif jika terjadi kerusakan atau penurunan kualitas lingkungan (Jiang et al., 2024).Hubungan antara zonasi dan keberlanjutan ekowisata sangat erat, karena zonasi menjadi fondasi bagi terciptanya ekowisata yang ramah lingkungan, berkelanjutan secara ekonomi, dan inklusif secara sosial. Zonasi yang dirancang dengan baik akan menjaga kelestarian ekosistem hutan, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, serta memastikan bahwa aktivitas wisata tidak melebihi daya dukung lingkungan. Dengan demikian, zonasi menjadi instrumen kunci dalam mewujudkan ekowisata hutan yang berkelanjutan (De Oliveira Costa et al., 2016)


Bab 7 Zonasi Kawasan Ekowisata Hutan 897.2 Prinsip-prinsip Zonasi Ekowisata Hutan Zonasi ekowisata hutan didasarkan pada tiga prinsip utama: ekologi, sosial, dan ekonomi. Ketiga prinsip ini saling melengkapi untuk memastikan pengelolaan kawasan ekowisata berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat optimal bagi lingkungan, masyarakat, dan perekonomian lokal.1. Prinsip ekologi dalam zonasi ekowisata hutan menekankan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati dan perlindungan habitat sebagai dasar utama pengelolaan kawasan. Zonasi harus mampu memisahkan dan melindungi area-area yang memiliki nilai ekologis tinggi, seperti zona inti untuk konservasi dan rehabilitasi, agar ekosistem tetap lestari dan fungsi lindungnya terjaga. Penetapan zona ini bertujuan untuk melindungi habitathabitat kritis, mempertahankan keanekaragaman flora dan fauna, serta mengkonservasi sumber daya alam dari ancaman perubahan lahan dan eksploitasi berlebihan. Dengan demikian, pengembangan ekowisata harus selalu serasi dan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan hidup secara menyeluruh, sehingga aktivitas wisata tidak mengganggu keseimbangan ekosistem dan tetap mendukung keberlanjutan fungsi ekologis kawasan hutan (Birawa and Sukarna, 2016) 2. Prinsip sosial dalam zonasi ekowisata hutan menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat lokal dan fungsi edukasi dalam setiap tahapan pengelolaan kawasan. Partisipasi masyarakat mencakup keterlibatan dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga pemanfaatan hasil ekowisata, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek yang berperan langsung dalam


90 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisatapengambilan keputusan dan pengelolaan kawasan. Keterlibatan ini terbukti meningkatkan rasa kepemilikan, tanggung jawab, serta manfaat ekonomi dan sosial yang dirasakan oleh masyarakat sekitar (Kaharuddin et al., 2020). Namun, penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat masih sering rendah akibat kurangnya sosialisasi, pendidikan, dan ruang partisipasi yang memadai dari pihak pengelola. leh karena itu, edukasi menjadi aspek penting dalam prinsip sosial, baik melalui penyuluhan, pelatihan, maupun program pendidikan lingkungan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, kepedulian, dan kapasitas masyarakat dalam mengelola serta melestarikan kawasan ekowisata (Siu, Amanah and Santoso, 2020; Miswadi et al., 2015)3. Prinsip ekonomi dalam zonasi ekowisata hutan menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya hutan secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal tanpa mengorbankan fungsi ekologis kawasan. Zonasi yang tepat memungkinkan pembagian kawasan ke dalam zona-zona yang mendukung aktivitas ekonomi, seperti zona pemanfaatan dan zona produksi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi dari ekowisata, pertanian, atau jasa lingkungan secara terencana dan ramah lingkungan (Bhushan, Dincă and Shikha, 2024). Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat terbukti mampu meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi lokal, terutama di wilayah yang sebelumnya sangat bergantung pada hasil hutan atau pertanian tradisional (Hindayani, Pratama and Anna, 2021).


Bab 7 Zonasi Kawasan Ekowisata Hutan 917.3 Kriteria dan Metode Penentuan Zona Penentuan zona dalam kawasan ekowisata hutan didasarkan pada sejumlah kriteria utama yang bertujuan menjaga keseimbangan antara konservasi, pemanfaatan, dan keberlanjutan lingkungan. Kriteria biofisik menjadi dasar utama, meliputi ketebalan dan kerapatan vegetasi (misalnya mangrove), keanekaragaman jenis flora dan fauna, serta kondisi ekosistem yang ada. Selain itu, aspek daya tarik wisata seperti keindahan alam, keunikan sumber daya, dan keberadaan satwa langka juga menjadi pertimbangan penting. Kriteria lain yang tidak kalah penting adalah keamanan kawasan, aksesibilitas, serta daya dukung lingkungan yang mencakup jumlah maksimum pengunjung yang dapat diterima tanpa merusak ekosistem (Abubakar et al., 2019)Selain aspek biofisik dan daya tarik, kriteria sosial dan ekonomi juga harus diperhatikan. Partisipasi masyarakat lokal, potensi manfaat ekonomi, serta kearifan lokal menjadi faktor penentu agar zonasi tidak hanya mendukung konservasi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Penilaian kesesuaian lahan biasanya dilakukan dengan menggunakan parameter terukur seperti ketebalan dan kerapatan vegetasi, jumlah dan jenis biota, serta faktor lingkungan lain yang relevan. Setiap parameter diberi bobot dan skor untuk menentukan tingkat kesesuaian suatu area sebagai zona ekowisata, sehingga hasil zonasi dapat mendukung pengelolaan kawasan yang berkelanjutan dan adaptif (Sukuryadi and Johari, 2023).Penentuan zona dalam kawasan ekowisata hutan memerlukan pendekatan yang sistematis dan berbasis data agar pengelolaan kawasan dapat berjalan optimal, berkelanjutan, dan sesuai dengan karakteristik biofisik serta kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat. Berikut adalah uraian terstruktur mengenai metode yang umum digunakan dalam penentuan zona ekowisata hutan.


92 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata1. Metode analisis kesesuaian lahan (land suitability analysis) dilakukan dengan mengidentifikasi parameter biofisik seperti ketebalan dan kerapatan vegetasi, jenis flora dan fauna, serta kondisi ekosistem. Setiap parameter diberi bobot dan skor untuk menghasilkan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), yang menentukan tingkat kesesuaian suatu area untuk aktivitas ekowisata. Selain itu, analisis daya dukung kawasan (DDK) digunakan untuk menghitung jumlah maksimum pengunjung yang dapat ditampung tanpa merusak ekosistem, dengan mempertimbangkan luas area, jenis kegiatan, dan waktu kunjungan. Metode ini biasanya dilakukan melalui survei lapangan, observasi langsung, wawancara, dan kuesioner kepada pengelola serta pengunjung (Anandita et al., 2024)(Abubakar et al., 2019)2. Pendekatan ekologi bentang lahan (landscape ecology approach) dan analisis spasial dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan untuk membagi kawasan menjadi beberapa zona, seperti zona inti, zona penyangga, zona pemanfaatan, dan zona ekonomi. Analisis ini mengintegrasikan data biofisik, ekosistem, penggunaan lahan, serta kebijakan pembangunan yang berlaku. Selain itu, metode partisipatif seperti Focus Group Discussion (FGD), wawancara mendalam, dan survei masyarakat juga diterapkan untuk mengakomodasi persepsi, kebutuhan, dan hakhak masyarakat lokal dalam penetapan zona. Validasi lapangan dan diskusi dengan pemangku kepentingan menjadi bagian penting untuk memastikan zonasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi dan aspirasi lokal (Made and Luh, 2020; Birawa and Sukarna, 2016)


Bab 7 Zonasi Kawasan Ekowisata Hutan 937.4 Jenis-jenis Zona dalam Kawasan Ekowisata Hutan Penetapan zona dalam kawasan ekowisata hutan bertujuan untuk mengatur pemanfaatan ruang secara berkelanjutan, menjaga fungsi ekologis, serta mendukung ekonomi dan sosial masyarakat sekitar. Zonasi ini umumnya membagi kawasan ekowisata hutan ke dalam beberapa jenis zona utama, yang masing-masing memiliki fungsi dan aturan pengelolaan tersendiri.1. Zona Inti (Core Zone) Zona inti merupakan area yang dikhususkan untuk konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati serta ekosistem. Aktivitas manusia di zona ini sangat dibatasi, hanya diperbolehkan untuk penelitian, pendidikan, dan monitoring lingkungan. Zona inti berfungsi menjaga habitat alami dan mencegah gangguan terhadap flora dan fauna yang dilindungi (Doman and Doman, 2020; Muliadi et al., 2024). Zona inti dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian ilmiah dan pendidikan lingkungan, dengan pengawasan ketat agar tidak mengganggu ekosistem. Zona inti juga menyediakan jasa ekosistem penting seperti perlindungan sumber air, pengendalian bencana, dan penyerapan karbon. Salah satu contoh zona inti adalah di kawasan ekowisata Puncak Gunung Geurudong, pembentukan zona inti berhasil menurunkan aktivitas perburuan dan penebangan liar secara signifikan. Hal ini dicapai melalui pelatihan, edukasi, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan hutan desa (Saputra et al., 2023)2. Zona Penyangga (Buffer Zone) Zona penyangga berfungsi sebagai pelindung zona inti dari tekanan eksternal. Di zona ini, aktivitas yang diperbolehkan bersifat terbatas dan harus mendukung upaya


94 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisatakonservasi, seperti kegiatan pendidikan lingkungan, penelitian, dan ekowisata dengan pengawasan ketat (Birawa and Sukarna, 2016). Fungsi utama zona penyangga yaitu:a. Perlindungan Ekosistem Inti: Zona penyangga mengurangi tekanan langsung terhadap zona inti, seperti perambahan, polusi, dan gangguan wisatawan, sehingga menjaga keutuhan ekosistem utama, b. Pemanfaatan Berkelanjutan: Di zona ini, aktivitas manusia seperti agroforestri, budidaya, wisata terbatas, dan pemanfaatan hasil hutan non-kayu dapat dilakukan dengan prinsip berkelanjutan tanpa merusak fungsi konservasi, c. Pemberdayaan Masyarakat: Zona penyangga sering dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi produktif yang melibatkan masyarakat lokal, seperti pertanian, perikanan, atau ekowisata berbasis komunitas, d. Mitigasi Konflik: Zona ini juga berperan dalam mengurangi konflik antara kepentingan konservasi dan kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar (Wakyudi, Hadi and Rusdiana, 2015). Contoh Desa Kalipait sebagai desa penyangga Taman Nasional Alas Purwo menunjukkan interaksi masyarakat dengan kawasan konservasi melalui pemanfaatan hasil hutan dan pantai. Masyarakat memanfaatkan sumber daya alam secara tradisional, namun juga menerapkan kearifan lokal seperti larangan membunuh burung merak. Zona penyangga di sini berperan penting dalam menyeimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat dan perlindungan ekosistem taman nasional (Setiawan and Triyanto, 2021)


Bab 7 Zonasi Kawasan Ekowisata Hutan 953. Zona Ekowisata (Ecotourism Zone) Zona ekowisata adalah area yang secara khusus diperuntukkan bagi aktivitas wisata berbasis alam, seperti trekking, bird watching, berperahu, memancing, dan rekreasi alam lainnya. Pengelolaan zona ini harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan prinsip keberlanjutan agar tidak merusak ekosistem (Abubakar et al., 2019). Fungsi utama zona ekowisata:a. Zona ekowisata berperan penting dalam mendukung pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati. Kegiatan wisata diatur agar tidak merusak lingkungan, sehingga zona ini menjadi penyangga bagi kawasan inti dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem b. Zona ekowisata memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal melalui pengelolaan wisata, jasa pemandu, penjualan produk lokal, dan usaha lainnya. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata terbukti meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi praktik merusak seperti perburuan dan penebangan liar, c. Zona ekowisata menjadi sarana edukasi bagi pengunjung dan masyarakat tentang pentingnya konservasi, ekosistem, dan budaya lokal. Kegiatan edukasi ini dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan, d. Zona ekowisata menyediakan ruang bagi wisata alam yang bertanggung jawab, seperti tracking, birdwatching, wisata mangrove, dan rekreasi air. Aktivitas ini dirancang agar tetap menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan pengalaman positif bagi pengunjung (Parlinah et al., 2023; Anandita, Redjeki and Endrawati, 2024). Contoh Zona ekowisata di KHDTK Aek Nauli memanfaatkan keanekaragaman


96 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisataflora, fauna, dan lanskap hutan sebagai daya tarik utama. Kegiatan wisata yang dikembangkan meliputi tracking, pengamatan satwa, dan edukasi lingkungan, dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pemandu dan pengelola (Parlinah et al., 2023)4. Zona Produksi dan Ekonomi Zona ini diperuntukkan bagi pemanfaatan sumber daya alam secara terbatas, seperti hasil hutan bukan kayu, pertanian ramah lingkungan, atau kegiatan ekonomi lokal lainnya yang tidak mengganggu fungsi konservasi. Zona ini mendukung peningkatan ekonomi masyarakat sekitar melalui pemanfaatan berkelanjutan (Birawa and Sukarna, 2016) 7.5 Dampak Zonasi terhadap Pengelolaan Ekowisata Hutan Penerapan zonasi dalam kawasan ekowisata hutan memberikan dampak positif terhadap efektivitas pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Dengan adanya pembagian zona yang jelas, seperti zona inti konservasi, zona penyangga, dan zona pemanfaatan, aktivitas wisata dapat diarahkan agar tidak mengganggu ekosistem yang sensitif. Zonasi juga memudahkan pengelola dalam mengatur tata ruang, mengendalikan jumlah pengunjung, serta menjaga kelestarian flora dan fauna. Penentuan zona menjadi prioritas utama dalam strategi pengembangan ekowisata, karena mampu mengarahkan aktivitas wisata agar tetap selaras dengan tujuan konservasi dan keberlanjutan kawasan (Dwijayati, Suprapto and Rudiyanti, 2016;Labonda, Wipranata and Wirawati, 2022).Selain aspek lingkungan, zonasi berdampak pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Dengan adanya zona pemanfaatan, masyarakat dapat terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi seperti penyediaan jasa wisata, perdagangan, dan pengelolaan fasilitas, sehingga meningkatkan pendapatan


Bab 7 Zonasi Kawasan Ekowisata Hutan 97dan kesejahteraan mereka. Zonasi juga mendorong partisipasi masyarakat dan stakeholder dalam program konservasi, memperkuat organisasi lokal, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan. Hal ini menciptakan sinergi antara pelestarian alam dan peningkatan ekonomi lokal (Safuridar and Andiny, 2019).Namun, zonasi juga menuntut adanya pengawasan dan pengelolaan yang ketat agar tidak terjadi penyalahgunaan lahan, kerusakan vegetasi, atau konflik sosial akibat perubahan tata ruang. Jika zonasi tidak diikuti dengan pengelolaan yang baik, dapat terjadi degradasi lingkungan seperti penebangan liar, kerusakan habitat, dan pencemaran. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pengelola, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan ekowisata hutan dan meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul (Mursyid et al., 2022; Labonda, Wipranata and Wirawati, 2022).


98 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata


Bab 8 Analisis Dampak Ekowisata terhadap Ekologi dan Sosial8.1 Peran Ekowisata dalam Kawasan Hutan Ekowisata memiliki kontribusi penting dalam menjaga kelestarian hutan, karena prinsip dasarnya adalah memadukan pemanfaatan dengan upaya konservasi. Kehadiran wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan hutan membuat kawasan tersebut bernilai ekonomi sehingga masyarakat dan pemerintah terdorong untuk melindunginya. Dengan demikian, ekowisata dapat mengurangi ancaman konversi lahan dan perambahan liar yang merusak ekosistem. Hutan yang dikelola sebagai destinasi wisata memiliki peluang lebih besar untuk tetap utuh, dibandingkan hutan yang tidak memiliki nilai ekonomi langsung. Hal ini menjadikan ekowisata sebagai salah satu strategi penting dalam pembangunan berkelanjutan (Fennell, 2020).


100 Pengelolaan Hutan untuk EkowisataSelain menjaga fungsi ekologis, ekowisata juga memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar hutan. Aktivitas wisata berbasis alam membuka peluang usaha seperti jasa pemanduan, penyediaanhomestay, penjualan kerajinan, hingga pertunjukan budaya. Masyarakat yang sebelumnya menggantungkan hidup pada aktivitas merusak, seperti penebangan liar, kini beralih pada kegiatan ramah lingkungan sampai pada kegiatan terapi hutan (Daud and Ma’rifah, 2025). Hal ini menjadikan ekowisata sebagai alternatif sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan. Dengan adanya peluang ini, ekowisata dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan (Baharuddin and Daud, 2025).Lebih dari sekadar ekonomi, ekowisata juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan peningkatan kesadaran lingkungan (Sutrisno et al., 2025). Wisatawan yang berkunjung dapat memperoleh pengetahuan langsung mengenai fungsi ekosistem, pentingnya flora dan fauna, serta hubungan manusia dengan alam. Bagi masyarakat lokal, ekowisata memperluas wawasan dan memupuk rasa bangga terhadap lingkungan sekitar. Edukasi melalui pengalaman nyata terbukti lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran ekologis dibandingkan hanya melalui informasi teoritis. Dengan cara ini, ekowisata mendukung pembentukan perilaku ramah lingkungan dalam jangka panjang.Selain aspek ekologis dan edukatif, ekowisata juga memperkuat identitas sosial dan budaya masyarakat di sekitar hutan. Tradisi, kesenian, dan ritual lokal yang sebelumnya terancam punah dapat hidup kembali karena dijadikan daya tarik wisata. Hal ini membuat masyarakat lebih terdorong melestarikan warisan budaya mereka. Interaksi dengan wisatawan juga memperkuat apresiasi terhadap kearifan lokal dan memperluas pemahaman lintas budaya. Dengan demikian, ekowisata memiliki peran ganda dalam menjaga kelestarian alam sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat (Daud, 2025d).Pada akhirnya, ekowisata berperan sebagai instrumen penting dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Melalui regulasi dan pengawasan


Bab 8 Analisis Dampak Ekowisata terhadap Ekologi dan Sosial 101yang tepat, kegiatan wisata dapat diarahkan agar tidak melebihi daya dukung lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan pihak swasta diperlukan untuk menciptakan tata kelola ekowisata yang adil dan transparan. Dengan pendekatan ini, ekowisata mampu menyeimbangkan aspek konservasi, ekonomi, dan sosial secara bersamaan. Oleh karena itu, ekowisata dapat dipandang sebagai strategi konkret dalam implementasi pembangunan hutan berkelanjutan (Fennell, 2020).8.2 Dampak Ekologis Ekowisata 8.2.1 Dampak Positif 1. Konservasi keanekaragaman hayatiEkowisata memiliki kontribusi yang sangat nyata dalam mendukung konservasi hutan karena keberadaannya mendorong perlindungan terhadap flora dan fauna. Kawasan hutan yang dijadikan destinasi wisata alam umumnya mendapatkan status konservasi atau pengelolaan khusus agar keindahan dan kekayaan hayatinya tetap terjaga. Hal ini menjadikan hutan memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai ekologis yang tinggi, sehingga ada insentif kuat bagi pemerintah maupun masyarakat untuk melindunginya dari ancaman eksploitasi. Wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan hutan turut memberikan dorongan moral dan finansial agar kawasan tetap terjaga (Daud and Ma’rifah, 2025). Dengan demikian, ekowisata tidak hanya menghadirkan manfaat rekreasi, tetapi juga menegaskan pentingnya hutan sebagai aset ekologis yang harus dilestarikan (Hikmah and Daud, 2025).Lebih jauh lagi, keberadaan ekowisata juga dapat menekan berbagai aktivitas merusak seperti perambahan, penebangan liar, dan perburuan satwa. Pengawasan kawasan biasanya diperketat ketika hutan dikelola sebagai destinasi wisata, sehingga akses terhadap praktik ilegal menjadi lebih terbatas. Kehadiran masyarakat lokal sebagai pemandu, penjaga,


102 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisatamaupun pengelola wisata turut memperkuat sistem perlindungan ini. Dengan adanya peran bersama antara pemerintah, masyarakat, dan wisatawan, ancaman terhadap ekosistem hutan dapat diminimalisasi. Oleh karena itu, ekowisata dapat dipandang bukan hanya sebagai kegiatan wisata, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam perlindungan keanekaragaman hayati..2. Pemanfaatan sumber daya berkelanjutanPrinsip utama ekowisata adalah mendorong pemanfaatan sumber daya alam dengan cara yang tidak merusak lingkungan dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem. Untuk mewujudkan hal tersebut, banyak destinasi ekowisata mulai mengadopsi praktik ramah lingkungan, seperti penggunaan energi alternatif, pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse, recycle), serta pemanfaatan bahan-bahan lokal yang lebih berkelanjutan (Daud, Baharuddin, Hikmah and Samsul Samrin, 2025); (Daud, 2025b); (Daud, 2025c); (Daud, 2025d); (Jamaluddin et al., 2025). Upaya ini bertujuan agar keberadaan wisatawan tidak menambah beban ekologis yang berlebihan terhadap kawasan hutan. Penerapan prinsip tersebut juga memperlihatkan bahwa kegiatan wisata dapat berjalan seiring dengan upaya konservasi. Dengan demikian, ekowisata menjadi instrumen penting dalam mengajarkan nilai keberlanjutan kepada semua pihak yang terlibat (Daud, 2025d)Dalam praktiknya, penerapan prinsip berkelanjutan terlihat jelas pada desain infrastruktur dan pengelolaan kawasan wisata. Misalnya, pembangunan fasilitas akomodasi lebih sering menggunakan material alami seperti bambu atau kayu dari sumber yang terkontrol, dibandingkan bahan modern yang sulit terurai (Daud, 2025c); (Daud, 2025a). Selain itu, wisatawan diarahkan untuk berperilaku ramah lingkungan, seperti membawa botol minum isi ulang, memilah sampah, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi juga disiapkan agar tidak mencemari tanah maupun air di kawasan hutan. Semua langkah ini memperlihatkan bahwa ekowisata dapat


Bab 8 Analisis Dampak Ekowisata terhadap Ekologi dan Sosial 103menjadi contoh nyata bagaimana manusia dapat memanfaatkan alam tanpa harus mengorbankan kelestarian ekosistem yang ada.3. Peningkatan kesadaran lingkunganEkowisata juga berperan penting dalam meningkatkan kesadaran lingkungan bagi wisatawan maupun masyarakat lokal. Pengunjung yang berinteraksi langsung dengan hutan dapat merasakan manfaat nyata dari keberadaan ekosistem yang sehat, sehingga timbul dorongan untuk ikut menjaganya. Bagi masyarakat sekitar, keterlibatan dalam kegiatan wisata memperluas pemahaman mereka tentang pentingnya kelestarian hutan untuk generasi mendatang (Daud, Baharuddin, Basruddin, et al., 2025); (Daud, Darwin and Fuada, 2025); (Daud, Baharuddin, Hikmah and Samrin, 2025). Program edukasi yang biasanya menyertai ekowisata, seperti tur interpretasi dan penyuluhan lingkungan, memperkuat pemahaman ini. Kesadaran kolektif yang terbentuk melalui ekowisata menjadi fondasi penting dalam membangun perilaku ramah lingkungan yang berkelanjutan.Secara keseluruhan, dampak positif ekowisata mencakup perlindungan keanekaragaman hayati, pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran lingkungan (Hasanuddin and Daud, 2025). Ketiga aspek ini saling mendukung dan memperkuat posisi ekowisata sebagai salah satu strategi pengelolaan hutan yang berorientasi pada keberlanjutan. Jika dikelola dengan tepat, ekowisata dapat menjadi instrumen penting dalam menjaga keseimbangan ekologi sekaligus memberikan manfaat sosial-ekonomi. Dengan demikian, ekowisata berpotensi besar untuk menjadi solusi dalam menghadapi tantangan konservasi hutan di masa kini dan mendatang (Fennell, 2020).8.2.2 Dampak Negatif 1. Degradasi habitatEkowisata yang tidak dikelola dengan tepat dapat menimbulkan ancaman serius terhadap kelestarian habitat hutan. Aktivitas wisata berlebihan,


104 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisataseperti pendakian yang tidak teratur tanpa jalur khusus, pembangunan jalan setapak baru, atau pembukaan lahan untuk akomodasi, berpotensi merusak vegetasi asli yang menjadi penyangga ekosistem. Vegetasi yang rusak tidak hanya mengurangi keindahan lanskap, tetapi juga mengganggu fungsi ekologis hutan sebagai penyerap air dan penyedia habitat. Kerusakan tersebut seringkali memicu terjadinya erosi tanah, sehingga kualitas ekosistem menurun dan daya dukung lingkungan berkurang. Jika dibiarkan, kawasan ekowisata bisa kehilangan daya tarik utamanya, yaitu keaslian alam yang menjadi alasan wisatawan berkunjung (Fandeli, 1995).Selain kerusakan vegetasi, kehadiran wisatawan dalam jumlah besar juga dapat memengaruhi perilaku satwa liar di dalam kawasan hutan. Satwa sering merasa terganggu oleh kebisingan, cahaya buatan, atau aktivitas manusia yang terlalu dekat dengan wilayah jelajah mereka. Akibatnya, satwa dapat berpindah dari habitat alaminya, bahkan meninggalkan kawasan hutan yang seharusnya menjadi tempat hidupnya. Perubahan perilaku ini pada akhirnya mengurangi keanekaragaman hayati dan merusak keseimbangan ekosistem. Dengan demikian, degradasi habitat yang ditimbulkan dari pengelolaan ekowisata yang kurang bijaksana merupakan ancaman nyata bagi keberlanjutan fungsi ekologis kawasan hutan (Suratmo, 2017).2. Polusi dan limbahPeningkatan jumlah wisatawan hampir selalu diikuti dengan meningkatnya volume sampah dan limbah yang dihasilkan. Sampah plastik, sisa makanan, hingga limbah cair dari fasilitas wisata dapat menumpuk dan mencemari tanah maupun sumber air di kawasan hutan. Masalah ini seringkali diperburuk oleh kurangnya sarana pengelolaan limbah yang memadai, seperti tempat sampah terpilah, sistem pengolahan air limbah, atau program daur ulang. Jika tidak ditangani secara serius, pencemaran yang timbul dapat mengganggu fungsi ekosistem, termasuk menurunkan kualitas air yang digunakan oleh flora, fauna, maupun masyarakat lokal. Oleh karena itu, pengelolaan limbah menjadi salah satu


Bab 8 Analisis Dampak Ekowisata terhadap Ekologi dan Sosial 105tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan ekowisata (Jamaluddin et al., 2025).Selain pencemaran tanah dan air, polusi udara juga menjadi masalah yang tidak kalah serius. Transportasi wisatawan, terutama kendaraan bermotor yang keluar masuk kawasan hutan, menghasilkan emisi gas buang yang dapat menurunkan kualitas udara. Polusi udara ini tidak hanya berdampak pada kesehatan wisatawan dan masyarakat sekitar, tetapi juga memengaruhi flora dan fauna yang sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan. Asap kendaraan, kebisingan, serta berkurangnya kejernihan udara dapat mengganggu kenyamanan dan merusak nilai estetika kawasan wisata itu sendiri. Jika tidak ada sistem transportasi ramah lingkungan yang diterapkan, polusi dari aktivitas wisata berpotensi merusak keseimbangan ekosistem hutan dalam jangka panjang (Fandeli, 2023).3. Fragmentasi ekosistemPembangunan infrastruktur wisata seperti jalan, resort, atau jembatan sering kali menyebabkan fragmentasi ekosistem. Ruang hidup satwa liar yang sebelumnya menyatu menjadi terpecah-pecah, sehingga mengganggu pola migrasi, mencari makan, atau reproduksi. Satwa yang kehilangan habitat alaminya terpaksa berpindah ke area lain yang mungkin kurang mendukung kelangsungan hidupnya. Fragmentasi juga dapat meningkatkan potensi konflik antara satwa liar dengan manusia, terutama ketika satwa masuk ke pemukiman penduduk. Oleh karena itu, perencanaan tata ruang wisata yang tidak hati-hati dapat menimbulkan kerugian besar terhadap keseimbangan ekologi (Soemarwoto, 1988).Secara keseluruhan, dampak negatif ekowisata meliputi degradasi habitat, polusi, dan fragmentasi ekosistem yang saling berkaitan. Ketiga aspek ini dapat mengurangi kualitas lingkungan dan mengancam keberlanjutan ekosistem hutan. Jika dibiarkan tanpa regulasi dan pengawasan, dampak negatif ini berpotensi lebih besar daripada manfaat yang diperoleh. Oleh karena itu, setiap pengembangan ekowisata perlu mempertimbangkan


106 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisataaspek ekologis secara serius agar tidak menimbulkan kerusakan jangka panjang. Hal ini menegaskan pentingnya pengelolaan ekowisata yang berorientasi pada kelestarian lingkungan (Buckley, 2012).8.3 Dampak Sosial Ekowisata 8.3.1 Dampak Positif 1. Pemberdayaan ekonomi masyarakat lokalEkowisata memberikan peluang ekonomi yang signifikan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Dengan adanya kunjungan wisatawan, masyarakat dapat mengembangkan berbagai usaha seperti jasa pemandu wisata, penyedia homestay, kuliner tradisional, hingga penjualan kerajinan tangan. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Pendapatan yang diperoleh dari ekowisata dapat dialokasikan kembali untuk kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, ekowisata berfungsi sebagai instrumen pemberdayaan yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap praktik eksploitasi hutan (Hasanuddin and Daud, 2025).2. Pelestarian budayaKegiatan ekowisata juga mendorong masyarakat untuk melestarikan tradisi dan budaya yang mereka miliki. Permintaan wisatawan terhadap atraksi budaya seperti tari, musik tradisional, atau upacara adat menjadi insentif bagi masyarakat untuk menjaga warisan leluhur. Seni dan kearifan lokal yang mungkin sebelumnya terabaikan menjadi kembali hidup karena memiliki nilai ekonomi dan kebanggaan sosial. Dengan demikian, budaya tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga sebagai daya tarik wisata yang memperkuat hubungan antara manusia dan lingkungannya.


Bab 8 Analisis Dampak Ekowisata terhadap Ekologi dan Sosial 107Pelestarian ini menciptakan sinergi antara konservasi budaya dan keberlanjutan ekowisata.3. Peningkatan kapasitas masyarakatMelalui keterlibatan dalam manajemen ekowisata, masyarakat lokal memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri. Berbagai pelatihan, seperti manajemen wisata, pelayanan wisatawan, hingga konservasi lingkungan, memberikan keterampilan baru yang bermanfaat jangka panjang. Keterampilan tersebut tidak hanya berguna dalam konteks pariwisata, tetapi juga dapat diaplikasikan pada sektor lain. Selain itu, masyarakat yang aktif dalam pengelolaan ekowisata juga belajar tentang kepemimpinan, organisasi, dan kerjasama tim. Peningkatan kapasitas ini pada akhirnya memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hutan sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka.Secara keseluruhan, dampak positif sosial dari ekowisata mencakup peningkatan ekonomi lokal, pelestarian budaya, serta penguatan kapasitas masyarakat. Ketiga aspek ini menunjukkan bahwa ekowisata bukan hanya membawa manfaat ekologis, tetapi juga sosial yang signifikan. Masyarakat lokal menjadi lebih mandiri, memiliki identitas budaya yang kuat, serta mampu bersaing dalam ekonomi berbasis keberlanjutan. Oleh karena itu, keberhasilan ekowisata sangat bergantung pada sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam setiap tahap pengelolaan. Hal ini menegaskan bahwa ekowisata dapat menjadi sarana pembangunan sosial yang inklusif dan berkelanjutan (Scheyvens, 1999).8.3.2 Dampak Negatif 1. Ketergantungan ekonomiEkowisata memang memberikan peluang ekonomi, namun ketergantungan yang berlebihan pada sektor ini dapat menimbulkan kerentanan bagi masyarakat lokal. Jika ekowisata dijadikan satu-satunya sumber pendapatan, masyarakat akan sangat terpengaruh oleh fluktuasi jumlah wisatawan. Perubahan musim, kondisi politik, bencana alam, atau pandemi


108 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisatadapat secara drastis menurunkan jumlah kunjungan. Situasi ini membuat pendapatan masyarakat tidak stabil dan berisiko menimbulkan masalah sosial-ekonomi. Oleh karena itu, diversifikasi sumber pendapatan tetap diperlukan agar masyarakat tidak terlalu rentan terhadap gejolak pariwisata.2. Perubahan nilai budayaSelain memberikan dorongan pelestarian budaya, ekowisata juga berpotensi menimbulkan perubahan nilai yang merugikan. Ketika budaya dikomersialisasikan untuk kepentingan wisata, makna spiritual atau sakral dari suatu tradisi bisa hilang. Ritual adat yang sebelumnya memiliki fungsi religius dapat berubah menjadi sekadar tontonan wisatawan. Hal ini berisiko mengurangi otentisitas budaya dan melemahkan identitas masyarakat lokal. Jika tidak diatur dengan baik, komersialisasi budaya justru dapat mengikis nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.3. Konflik sosialDampak negatif lain yang kerap muncul adalah potensi konflik sosial di dalam masyarakat. Ketimpangan dalam distribusi keuntungan dariekowisata sering menimbulkan kecemburuan antara kelompok yang terlibat langsung dan kelompok yang kurang mendapatkan manfaat. Misalnya, kelompok yang memiliki akses modal atau kedekatan dengan pengelola mungkin memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan masyarakat kecil. Hal ini bisa memicu perselisihan dan mengganggu keharmonisan sosial. Jika tidak ada mekanisme pembagian manfaat yang adil, ekowisata justru dapat memperbesar kesenjangan sosial di masyarakat.Secara keseluruhan, dampak negatif sosial dari ekowisata meliputi ketergantungan ekonomi, perubahan nilai budaya, dan potensi konflik sosial. Ketiga aspek ini menunjukkan bahwa meskipun ekowisata membawa banyak manfaat, risiko sosial tetap perlu diantisipasi. Pengelolaan yang kurang bijak dapat membuat masyarakat kehilangan ketahanan ekonomi, melemahkan identitas budaya, bahkan terpecah secara sosial. Oleh karena itu, kebijakan ekowisata harus memastikan adanya


Bab 8 Analisis Dampak Ekowisata terhadap Ekologi dan Sosial 109keberlanjutan ekonomi, pelestarian nilai budaya, serta keadilan dalam distribusi manfaat. Dengan langkah tersebut, dampak negatif dapat diminimalkan sehingga ekowisata benar-benar mendukung pembangunan sosial berkelanjutan (Stronza and Gordillo, 2008).8.4 Strategi Pengelolaan dan Mitigasi 1. Pengaturan jumlah kunjungan (carrying capacity)Salah satu strategi penting dalam pengelolaan ekowisata adalah membatasi jumlah kunjungan sesuai dengan daya dukung lingkungan atau carrying capacity. Dengan pengaturan ini, ekosistem tidak akan mengalami tekanan berlebihan akibat aktivitas wisata. Misalnya, jalur pendakian hanya dibuka untuk jumlah pengunjung tertentu per hari guna mencegah kerusakan vegetasi dan erosi tanah. Selain itu, pembatasan jumlah wisatawan juga memberikan pengalaman wisata yang lebih berkualitas karena suasana tetap nyaman dan tidak berdesakan. Dengan demikian, pengaturan kapasitas menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan konservasi dan kebutuhan pariwisata.2. Penerapan prinsip ekowisata berkelanjutanOperasional ekowisata harus didasarkan pada prinsip keberlanjutan yang mengutamakan kelestarian lingkungan. Salah satu cara adalah melalui penerapan konsep 3R (reduce, reuse, recycle) dalam setiap aspek kegiatan wisata. Contohnya, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemanfaatan kembali bahan lokal, serta pengolahan sampah menjadi produk yang bermanfaat. Selain itu, penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya dapat mendukung terciptanya destinasi yang ramah lingkungan. Dengan penerapan prinsip ini, ekowisata dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus mengedukasi wisatawan tentang pentingnya gaya hidup berkelanjutan.


110 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata3. Keterlibatan masyarakat lokal secara adilPartisipasi masyarakat lokal merupakan salah satu syarat utama keberhasilan ekowisata. Masyarakat tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga harus terlibat dalam proses perencanaan, pengelolaan, hingga pengambilan keputusan. Keterlibatan yang adil akan memastikan distribusi manfaat yang merata dan mencegah timbulnya konflik sosial. Selain itu, pelibatan masyarakat juga memperkuat rasa memiliki terhadap destinasi wisata sehingga mereka lebih terdorong menjaga kelestariannya. Dengan demikian, keadilan dalam partisipasi menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan ekowisata jangka panjang.4. Monitoring dan evaluasi berkalaStrategi lain yang tidak kalah penting adalah pelaksanaan monitoring dan evaluasi dampak ekowisata secara berkala. Melalui kegiatan ini, pengelola dapat mengetahui sejauh mana kegiatan wisata memengaruhi ekosistem maupun kondisi sosial masyarakat. Data hasil monitoring dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan kebijakan dan memperbaiki kelemahan dalam pengelolaan. Evaluasi yang rutin juga mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan ekowisata. Dengan adanya mekanisme ini, ekowisata dapat berkembang secara adaptif sesuai kebutuhan lingkungan dan masyarakat.Secara keseluruhan, strategi pengelolaan dan mitigasi ekowisata perlu dilakukan melalui pembatasan jumlah kunjungan, penerapan prinsip berkelanjutan, keterlibatan masyarakat lokal, serta monitoring yang konsisten. Keempat strategi ini saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan antara konservasi ekologi dan manfaat sosial-ekonomi. Jika dilaksanakan dengan baik, ekowisata dapat berkembang tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan maupun konflik sosial. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan ekowisata sangat bergantung pada sistem pengelolaan yang berorientasi pada keberlanjutan (Weaver, 2006).


Bab 8 Analisis Dampak Ekowisata terhadap Ekologi dan Sosial 1118.5 Studi Kasus di Kawasan Hutan Pengembangan ekowisata di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) di Sulawesi Selatan menjadi salah satu contoh menarik bagaimana ekowisata dapat memberikan manfaat sekaligus tantangan bagi keberlanjutan hutan. Kawasan ini dikenal dengan keindahan gua, air terjun, dan keanekaragaman kupu-kupu yang menjadi daya tarik wisatawan. Kehadiran wisatawan dari dalam maupun luar negeri meningkatkan popularitas kawasan dan membuka peluang bagi masyarakat desa penyangga untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi berbasis wisata. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekowisata mampu menjadi motor penggerak pembangunan lokal tanpa harus mengorbankan seluruh potensi alam yang ada (Hasanuddin and Daud, 2025).Dari sisi ekonomi, masyarakat sekitar TN Babul mulai merasakan manfaat nyata melalui berkembangnya usaha homestay, jasa pemandu wisata, kuliner, hingga penjualan kerajinan khas daerah. Banyak pemuda desa yang sebelumnya bekerja di sektor informal kini beralih menjadi pemandu wisata, sehingga lapangan pekerjaan baru terbuka. Keberadaan wisatawan juga memperluas pasar bagi produk lokal sehingga memberikan tambahan pendapatan rumah tangga. Perubahan ini memperlihatkan bahwa ekowisata dapat menjadi strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat desa penyangga hutan. Namun, ketergantungan ekonomi yang terlalu tinggi pada kunjungan wisata juga berpotensi menimbulkan kerentanan jika terjadi penurunan jumlah wisatawan.Di sisi lain, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan menimbulkan persoalan serius terkait pengelolaan lingkungan. Salah satu masalah utama adalah sampah plastik dan limbah domestik yang meningkat tajam seiring dengan berkembangnya kegiatan wisata. Sampah yang tidak tertangani dengan baik berisiko mencemari air dan tanah, serta mengurangi kualitas pengalaman wisata itu sendiri. Selain itu, jalur wisata yang tidak diatur dengan baik dapat menimbulkan erosi tanah dan merusak vegetasi di sekitar area yang sering dilalui. Situasi ini memperlihatkan pentingnya


112 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisataperencanaan pengelolaan sampah dan pembatasan jumlah kunjungan untuk mencegah degradasi ekosistem.Tekanan lain yang muncul adalah terhadap habitat satwa liar, termasuk orangutan yang mendiami sebagian kawasan hutan TN Babul. Aktivitas wisatawan yang terlalu dekat dengan habitat satwa dapat mengganggu perilaku alami mereka, seperti mencari makan atau berkembang biak. Gangguan semacam ini dalam jangka panjang berpotensi menurunkan populasi satwa liar yang justru menjadi daya tarik ekowisata itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan zonasi yang jelas antara area konservasi dan area wisata agar interaksi manusia dengan satwa liar tetap terkendali. Hal ini menegaskan bahwa manfaat ekonomi ekowisata harus selalu diimbangi dengan kepedulian terhadap aspek konservasi.Studi kasus di TN Bantimurung Bulusaraung menunjukkan bahwa ekowisata dapat memberikan kontribusi positif dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, tetapi juga membawa tantangan serius bagi kelestarian lingkungan. Keberhasilan pengembangan ekowisata di kawasan hutan sangat bergantung pada sejauh mana keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan konservasi dapat dicapai. Tanpa pengelolaan yang baik, potensi manfaat dapat hilang dan berganti dengan kerusakan ekologi yang sulit dipulihkan. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan pengelola wisata dalam menjaga keseimbangan menjadi kunci keberlanjutan ekowisata (Suparmoko, 2014).8.6 Arah Pengelolaan ke Depan Ekowisata di kawasan hutan memiliki potensi besar untuk menjadi strategi pembangunan berkelanjutan yang menggabungkan kepentingan konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Potensi ini terlihat dari berbagai studi kasus yang menunjukkan bahwa ekowisata mampu mendorong perlindungan ekosistem sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Namun, potensi tersebut hanya dapat


Bab 8 Analisis Dampak Ekowisata terhadap Ekologi dan Sosial 113diwujudkan jika pengelolaan dilakukan secara bijaksana. Tanpa perencanaan dan strategi yang jelas, ekowisata justru berisiko menimbulkan kerusakan ekologis dan ketimpangan sosial. Oleh sebab itu, arah pengelolaan ke depan harus menempatkan keseimbangan sebagai prinsip utama.Salah satu fokus utama pengelolaan ke depan adalah memperkuat regulasi dan tata kelola ekowisata. Regulasi yang baik akan mengatur jumlah kunjungan, pemanfaatan ruang, serta penggunaan sumber daya alam agar tidak menimbulkan tekanan berlebih pada ekosistem. Selain itu, tata kelola harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, masyarakat lokal, hingga pelaku swasta. Dengan adanya sistem regulasi yang jelas, konflik kepentingan dapat diminimalisasi, sementara manfaat ekonomi dan sosial dapat terdistribusi secara lebih adil. Regulasi juga perlu fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan dinamika lingkungan dan kebutuhan masyarakat.Selain regulasi, arah pengelolaan juga perlu memperkuat aspek partisipasi masyarakat lokal. Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi ekowisata merupakan kunci keberhasilan jangka panjang. Partisipasi ini tidak hanya menjamin distribusi manfaat yang lebih merata, tetapi juga membangun rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap kelestarian kawasan. Masyarakat yang merasa dihargai akanlebih terdorong menjaga hutan sebagai sumber kehidupan sekaligus daya tarik wisata. Oleh karena itu, kebijakan ekowisata ke depan harus menekankan prinsip keadilan sosial dalam setiap praktik pengelolaan.Arah penting lainnya adalah memperkuat sistem monitoring dan evaluasi berbasis data. Dengan adanya sistem ini, dampak ekowisata terhadap lingkungan dan sosial dapat diukur secara objektif dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Teknologi modern seperti citra satelit, aplikasi digital, dan sensor lingkungan dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi ekosistem secara lebih efektif. Evaluasi yang rutin juga memungkinkan perbaikan kebijakan secara adaptif sesuai dengan tantangan yang muncul. Dengan demikian, ekowisata dapat berkembang


114 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisatasecara terukur tanpa mengorbankan keberlanjutan ekologi maupun kesejahteraan masyarakat.


Bab 9 Strategi Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata Berkelanjutan9.1 Urgensi Pengelolaan Ekowisata Berkelanjutan Ekowisata merupakan salah satu paradigma baru dalam pemanfaatan hutan yang menekankan pada keseimbangan antara konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan manfaat ekonomi. Menurut The International Ecotourism Society (2019), ekowisata dipahami sebagai bentuk perjalanan ke kawasan alami yang dikelola secara bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan, memperkuat kesejahteraan komunitas setempat dan memberi pengalaman edukatif bagi pengunjung. Definisi ini menekankan tiga aspek kunci yang harus berjalan beriringan yaitu aspek ekologi, ekonomi, dan sosial.Dalam konteks pengelolaan hutan, ekowisata menghadirkan peluang strategis. Hutan tropis Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati


116 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisatatinggi, pemandangan alam menawan, serta budaya masyarakat adat yang unik, menyediakan potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Lebih dari 120 juta hektar hutan di Indonesia menyimpan potensi wisata alam mulai dari taman nasional, taman hutan raya, hingga hutan adat yang kaya akan flora dan fauna endemik (Harahap and Effendi, 2020). Keberadaan hutan-hutan ini tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga menjadi modal ekonomi dan sosial apabila dikelola dengan tepat.Dari aspek ekologi, ekowisata dapat menjadi sarana penting untuk konservasi. Kehadiran wisatawan yang tertarik pada keindahan dan keaslian hutan dapat menjadi insentif bagi pemerintah, pengelola kawasan, maupun masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan. Misalnya pengembangan ekowisata di Tangkahan, Sumatra Utara yang terbukti mampu mengurangi praktik pembalakan liar dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan wisata berbasis konservasi (Yarhamdhani et al., 2024). Program serupa juga terlihat pada ekowisata mangrove di Asia Tenggara, yang mendorong konservasi pesisir meski tetap membutuhkan regulasi ketat untuk mengurangi dampak negatif seperti kerusakan habitat (Ismail et al., 2024).Dari aspek ekonomi, ekowisata memberikan peluang peningkatan pendapatan masyarakat lokal, penciptaan lapangan kerja, dan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah. Kajian Anggraini and Gunawan (2021) menunjukkan bahwa model ekowisata berbasis masyarakat di taman nasional dapat meningkatkan kesejahteraan rumah tangga melalui diversifikasi mata pencaharian seperti pemandu wisata, penyedia homestay, kerajinan tangan, dan jasa transportasi lokal. Bahkan, penelitian Bhushan et al. (2024) di India menegaskan bahwa ekowisata mampu menjadi alternatif mata pencaharian yang lebih berkelanjutan dibandingkan eksploitasi kayu dan hasil hutan non-kayu yang bersifat ekstraktif.Sementara itu, dari aspek sosial ekowisata membuka ruang bagi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan. Model community-based ecotourism (CBE) yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia membuktikan bahwa keterlibatan masyarakat tidak hanya meningkatkan rasa memiliki


Bab 9 Strategi Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata Berkelanjutan 117terhadap hutan, tetapi juga memperkuat kapasitas lokal dalam manajemen lingkungan. Kasus Tangkahan, yang dikenal sebagai “The Hidden Paradise of Sumatra”, memperlihatkan bagaimana masyarakat yang sebelumnya bergantung pada illegal logging bertransformasi menjadi pengelola wisata berbasis konservasi (Yarhamdhani et al., 2024).Penelitian Ridwan et al. (2022) mengungkapkan dimensi baru ekowisata hutan melalui pemanfaatan tumbuhan obat di ekowisata Rainforest Lodges. Integrasi tanaman obat sebagai atraksi wisata tidak hanya meningkatkan edukasi dan konservasi, tetapi juga mengakui pengetahuan lokal masyarakat sekitar hutan. Wisatawan diajak menikmati keindahan hutan sekaligus dikenalkan pada tanaman berkhasiat yang berpotensi sebagai obat alami dan daya tarik wisata berbasis keanekaragaman hayati. Temuan ini menunjukkan bahwa ekowisata dapat melestarikan pengetahuan tradisional sekaligus memperluas variasi produk wisata berbasis hutan.Namun, ekowisata menghadapi sejumlah tantangan yakni risiko overtourism yang dapat merusak ekosistem hutan dan mengganggu habitat satwa. Selain itu, keuntungan ekowisata seringkali hanya dinikmati oleh investor atau pengelola resmi, sementara masyarakat adat dan lokal bisa terpinggirkan (Anggraini and Gunawan, 2021). Potensi konflik sosial juga muncul akibat perbedaan kepentingan antara pemerintah, masyarakat lokal, pengusaha wisata, dan lembaga konservasi.Selain itu, efektivitas ekowisata sebagai strategi konservasi masih diperdebatkan. Studi Ismail et al., (2024) menunjukkan walaupun ekowisata meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hutan, dampaknya dalam menekan deforestasi di beberapa wilayah belum signifikan. Keberhasilan ekowisata sangat bergantung pada kualitas strategi pengelolaan yang diterapkan.Dalam konteks pembangunan berkelanjutan global, ekowisata juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:


118 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata1. SDGs 8: mendorong pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui industri wisata ramah lingkungan2. SDGs13: mendukung aksi mitigasi perubahan iklim melalui konservasi hutan dan penyerapan karbon, serta3. SDGs 15: melindungi, memulihkan, dan mempromosikan penggunaan berkelanjutan ekosistem darat, termasuk hutan tropis.9.2 Prinsip-prinsip Ekowisata Berkelanjutan Ekowisata berkelanjutan bukan hanya sekadar praktik pariwisata ramah lingkungan, melainkan juga sebuah paradigma pengelolaan sumber daya hutan yang menggabungkan tujuan ekologis, manfaat ekonomi lokal, dan keadilan sosial dalam satu kerangka pengambilan keputusan. Weaver (2020) menekankan bahwa ekowisata harus dipahami sebagai sebuah guiding framework yang membantu mencegah praktik wisata eksploitatif yang berujung pada degradasi lingkungan dan marginalisasi masyarakat lokal. 9.2.1 Prinsip Ekologi Ekologi adalah fondasi ekowisata. Tanpa kelestarian ekosistem, ekowisata kehilangan daya tariknya. Prinsip ekologi dalam ekowisata menekankan pada tiga aspek utama:1. Perlindungan keanekaragaman hayatiKeanekaragaman hayati adalah aset penting dan tak tergantikan dalam ekowisata, terutama di Indonesia yang merupakan negara megabiodiversitas dengan tingkat endemisitas tinggi. Contohnya, wisata pengamatan orangutan di Taman Nasional Gunung Leuser, di mana satwa


Bab 9 Strategi Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata Berkelanjutan 119liar dilindungi sebagai daya tarik utama. Praktik konservasi di lapangan meliputi pengaturan jarak interaksi wisatawan, larangan memberi pakan, dan pengawasan ketat agar perilaku alami satwa tetap terjaga (Nugroho, 2020; Blanton et al., 2024; Yarhamdhani et al., 2024)Konsep flagship species juga diterapkan dengan menjadikan spesieskarismatik seperti orangutan, harimau Sumatera, dan burung cenderawasih sebagai ikon wisata. Keberhasilan strategi ini bergantung pada prioritas konservasi sehingga perlindungan satwa tidak dikompromikan oleh kegiatan wisata. Spesies ikonik berfungsi sebagai simbol konservasi yang efektif untuk menggalang dukungan publik dan memperkuat perlindungan ekosistem melalui peran umbrella species (Wang et al., 2023; Jarić et al., 2024). Keterlibatan masyarakat dalam pemilihan spesies ikonik meningkatkan legitimasi dan partisipasi konservasi (Recharte et al., 2025).2. Pengelolaan daya dukung (carrying capacity)Setiap kawasan hutan memiliki batas ekologis dalam menampung intensitas aktivitas wisata. Ketika kapasitas ini terlampaui maka dampak negatif seperti erosi tanah, penumpukan sampah, serta gangguan terhadap perilaku dan habitat satwa liar menjadi sulit dihindari. Penelitian yang dilakukan oleh Firmansyah et al., (2023) di Taman Nasional Komodo menggunakan pendekatan model dinamika sistem untuk menentukan ambang batas kunjungan wisata yang ideal, khususnya di Pulau Padar. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembatasan jumlah pengunjung melalui pengaturan kuota sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan kualitas pengalaman wisata. Selain dimensi ekologis, konsep daya dukung (carrying capacity) juga mencakup aspek sosial. Daya dukung sosial menyoroti sejauh mana masyarakat lokal dapat menerima kehadiran wisatawan tanpa memunculkan konflik sosial, tekanan budaya, maupun penurunan kualitas hidup.


120 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata3. Restorasi dan rehabilitasi ekosistemEkowisata berkelanjutan tidak hanya berperan dalam melindungi keutuhan kawasan hutan, tetapi juga menjadi sarana pemulihan ekosistem yang telah terdegradasi. Kegiatan restorasi tidak hanya memberi manfaat ekologis, tetapi juga membuka ruang bagi model wisata ilmiah (scientific tourism), di mana wisatawan tidak lagi sekadar pengamat pasif, melainkan berpartisipasi langsung dalam aktivitas konservasi, penelitian lapangan, dan monitoring lingkungan. Samani et al., (2023) menegaskan bahwa pendekatan partisipatif semacam ini mampu meningkatkan kesadaran ekologis wisatawan sekaligus memperkuat rasa tanggung jawab kolektif terhadap pelestarian sumber daya alam.9.2.2 Prinsip Ekonomi Ekowisata berkelanjutan berbeda dengan pariwisata massal karena menekankan distribusi manfaat ekonomi yang adil serta dukungan terhadap konservasi. Prinsip ekonomi mencakup:1. Distribusi manfaat yang adilEkowisata yang berkelanjutan tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal. Pendekatan community-based ecotourism (CBE) menjadi strategi efektif untuk memastikan keadilan dalam distribusi manfaat tersebut. Salah satu contoh keberhasilannya adalah Desa Wisata Nglanggeran di Yogyakarta, di mana masyarakat secara aktif terlibat dalam pengelolaan, promosi, dan distribusi pendapatan wisata. Manaf et al., (2018) menjelaskan bahwa pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat di Nglanggeran mampu meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus memperkuat komitmen terhadap konservasi sumber daya alam.


Bab 9 Strategi Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata Berkelanjutan 1212. Diversifikasi ekonomi lokalDiversifikasi ekonomi melalui kegiatan ekowisata mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap aktivitas ekstraktif seperti penebangan kayu atau perburuan satwa liar. Studi Manaf et al., (2018) di Desa Wisata Nglanggeran, Yogyakarta, menegaskan bahwa pengembangan usaha wisata berbasis masyarakat mendorong munculnya berbagai aktivitas ekonomi baru seperti homestay, kuliner tradisional, dan kerajinan tangan, yang secara signifikan meningkatkan ketahanan ekonomi desa sekaligus memperkuat komitmen terhadap konservasi lingkungan. Penelitian Bhushan et al., (2024) yang menunjukkan bahwa di kawasan hutan lindung India, ekowisata telah menjadi instrumen penting dalam mendorong masyarakat lokal beralih dari eksploitasi sumber daya hutan menuju kegiatan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Diversifikasi ini tidak hanya memperluas sumber pendapatan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi komunitas desa.3. Keberlanjutan finansial kawasanPendapatan dari tiket masuk atau jasa wisata harus dialokasikan kembali untuk perawatan hutan. Sistem payment for ecosystem services (PES) menjadi salah satu model yang dapat diterapkan dalam ekowisata (Choi et al., 2020). Selain PES, inovasi seperti sertifikasi ekowisata (eco-label) dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi kawasan, karena wisatawan cenderung bersedia membayar lebih untuk pengalaman wisata yang ramah lingkungan.


122 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata9.2.3 Prinsip Sosial Dimensi sosial menjadi elemen kunci karena ekowisata tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Prinsip ini mencakup beberapa hal yaitu:1. Partisipasi aktif masyarakatMasyarakat perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan agar mereka memiliki rasa memiliki (sense of ownership) dan konflik dapat dihindari. Partisipasi aktif terbukti memperkuat keberhasilan ekowisata, seperti yang dijelaskan Blanton et al., (2024) bahwa pelibatan masyarakat meningkatkan efektivitas konservasi dan kesejahteraan lokal. Studi Manaf et al., (2018) juga menunjukkan bahwa pengelolaan berbasis komunitas di Nglanggeran mendorong solidaritas sosial serta memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.2. Pemberdayaan kapasitas masyarakatPelatihan pemandu, manajemen homestay, serta pemasaran digital menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas masyarakat. Generasi muda desa juga didorong untuk terlibat dalam pendidikan konservasi. Contoh baik yaitu masyarakat pengelola ekowisata di desa wisata kandri yang terlibat aktif dalam peningkatan kapasitas dalam upaya pengelolaan ekowisata yang berkelanjutan dan peningkatan ekonomi masyarakat lokal (Inayah dan Suminar, 2025).3. Pelestarian budaya lokalEkowisata dapat melestarikan tradisi, ritual, dan kesenian. Misalnya, paket wisata berbasis upacara adat di Bali atau kerajinan lokal di hutan adat Kalimantan memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya. Disamping itu, pelestarian budaya lokal juga berfungsi sebagai filter terhadap homogenisasi


Bab 9 Strategi Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata Berkelanjutan 123budaya global yang sering kali mengikis nilai-nilai tradisional (Suyatna et al., 2024).9.3 Integrasi Tiga Pilar (Ekologi, Ekonomi Dan Sosial) Prinsip ekologi, ekonomi, dan sosial harus dijalankan secara terpadu. Dominasi salah satu pilar dapat menimbulkan konsekuensi serius:1. Fokus pada ekologi tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat berpotensi menimbulkan resistensi sosial. Masyarakat dapat merasa dimarginalkan jika akses mereka terhadap hutan dibatasi secara ketat tanpa adanya kompensasi ekonomi (Gezahegn et al., 2024).2. Fokus pada ekonomi dapat mendorong degradasi ekosistem. Studi Choi et al., (2020) di Bali menunjukkan bahwa pasar wisata yang berorientasi semata pada keuntungan ekonomi berisiko mengabaikan daya dukung ekologis, sehingga merusak reputasi destinasi ekowisata jangka panjang.3. Fokus pada sosial tanpa perhitungan ekologi dapat menyebabkan over-tourism. Hal ini terlihat dalam penelitian (Samani et al., (2023) di Guinea, di mana peningkatan kunjungan wisata tanpa pengaturan kapasitas ekologis memicu tekanan terhadap habitat satwa liar.Dengan demikian, integrasi tiga pilar harus menjadi kerangka dasar pengembangan ekowisata berkelanjutan. Nugroho (2020) menekankan bahwa integrasi hanya bisa dicapai dengan dukungan kerangka hukum yang jelas dan konsistensi dalam kebijakan konservasi. Selain itu,


124 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisatakelembagaan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk memastikan distribusi manfaat yang adil dan berkelanjutan (Suyatna et al., 2024). Gambar 9.1: Model pengembangan ekowisata berkelanjutan (Haryanto, 2014)9.4 Strategi Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata 9.4.1 Perencanaan dan Zonasi Kawasan Perencanaan kawasan yang matang adalah landasan fundamental bagi pengelolaan hutan dalam konteks ekowisata berkelanjutan. Tanpa zonasi yang jelas, konflik antara tujuan konservasi dan pemanfaatan wisata berisiko muncul, serta fungsi ekologi dapat terganggu. Zonasi membantu memetakan fungsi ruang dalam menentukan area yang harus dilindungi secara ketat, area yang dapat digunakan untuk wisata terbatas, dan area transisi yang melibatkan aktivitas masyarakat.


Bab 9 Strategi Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata Berkelanjutan 125Zonasi yang ideal untuk ekowisata sering dibagi ke dalam tiga kategori:1. Area inti yang diprioritaskan untuk fungsi ekologis, 2. Area kunjungan dengan pengaturan akses dan jenis aktivitas, 3. Sabuk penyangga yang memungkinkan aktivitas penghidupan ramah lingkungan. Zona inti ditetapkan untuk mempertahankan fungsi ekologis tanpa intervensi besar manusia. Zona wisata dikendalikan akses dan jenis aktivitasnya agar tidak melampaui daya dukung. Zona penyangga memungkinkan aktivitas pendukung masyarakat lokal, seperti agroforestry ringan atau layanan homestay yang tidak mengganggu ekosistem inti (Nugroho, 2020).Penentuan zonasi sering dikombinasikan dengan pendekatan spasial seperti GIS (Geographic Information System) dan model kesesuaian (suitability models). Sebagai contoh, studi Community-Centered Sustainable Ecotourism Planning oleh Samani et al. (2023) menggunakan peta partisipatif dan kerangka Limits of Acceptable Change (LAC) untuk merancang zonasi yang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat sekaligus batas perubahan yang dapat ditoleransi ekosistem. Pendekatan ini menunjukkan bahwa integrasi antara pemetaan ilmiah dan partisipasi komunitas dapat menghasilkan kebijakan zonasi yang lebih inklusif dan efektif.Selain itu, perencanaan zonasi harus mempertimbangkan konsep carrying capacity. Studi Choi et al., (2020) tentang ekowisata di Bali menegaskan bahwa pembatasan jumlah wisatawan berbasis kapasitas ekologis dan sosial mampu menjaga kualitas destinasi sekaligus mencegah degradasi lingkungan.Proses zonasi idealnya bersifat partisipatif melibatkan pemangku kepentingan lokal, akademisi, pengelola kawasan, dan pemerintah. Perencanaan yang hanya top-down cenderung mengabaikan kebutuhan lokal dan berpotensi menimbulkan resistensi. Dalam banyak kasus,


126 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisataintegrasi peta partisipatif masyarakat dan data spasial menghasilkan zonasi yang lebih realistis dan dapat diterima semua pihak (Gezahegn et al. 2024). Dengan demikian, strategi zonasi kawasan dalam ekowisata hutan bukan hanya soal teknis tata ruang, tetapi juga menyangkut aspek sosial-politik, ekonomi, dan ekologi yang harus dipadukan dalam satu sistem pengelolaan yang kolaboratif dan adaptif.9.4.2 Keterlibatan Masyarakat Lokal Keterlibatan masyarakat lokal (local community engagement) bukan sekadar tambahan moral. Masyarakat berperan penting strategis dalam pengelolaan ekowisata yang berkelanjutan. Model Community-Based Ecotourism (CBE) atau Community-Based Ecotourism Tourism (CBET) telah banyak dikaji sebagai cara untuk menyelaraskan kepentingan konservasi dan pembangunan masyarakat. Konsep CBET menempatkan masyarakat sebagai pemilik, pengelola, dan penerima manfaat utama dari ekowisata. Dalam praktiknya, masyarakat dilibatkan dalam tahap perencanaan (menentukan zonasi, jenis aktivitas wisata), operasional (menjadi pemandu, pengelola homestay, penyedia produk lokal), serta evaluasi (mengukur dampak ekonomi, sosial, dan ekologis). Keterlibatan masyarakat juga harus disertai pemberdayaan kapasitas. Tanpa kemampuan teknis (manajemen wisata, pemasaran digital, penataan akomodasi), keterlibatan bisa hanya bersifat simbolis. Sebagai contoh, pelatihan berkelanjutan dan pendampingan sangat penting agar masyarakat mampu mengelola usaha wisata secara professional (Suyatna et al., 2024). Kelembagaan lokal (seperti koperasi atau kelompok sadar wisata) memainkan peran kunci. Kelembagaan ini menjadi wadah kolektif untuk pengelolaan dana, pembagian manfaat, dan penyelesaian konflik. Namun demikian, keterlibatan tidak selalu mulus. Ada risiko bahwa masyarakat akan bergantung pada wisata, kehilangan keseimbangan ekonomi, atau terjadi dominasi elite lokal. Oleh karena itu, desain keterlibatan harus


Bab 9 Strategi Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata Berkelanjutan 127menyeimbangkan wewenang, transparansi, dan keadilan dalam pembagian manfaat (Gezahegn et al (2024).9.4.3 Konservasi dan Restorasi Ekosistem Dalam konteks ekowisata, konservasi ekosistem hutan bukan hanya sebagai nilai tambah, tetapi sebagai elemen esensial. Tanpa habitat yang utuh dan fungsi ekologis yang sehat, daya tarik ekowisata akan pudar. Strategi konservasi meliputi perlindungan spesies khas dan habitat, regulasi interaksi manusia-satwa (misalnya larangan memberi makan, pembatasan jarak aman), dan pengelolaan dampak kegiatan wisata agar tidak melebihi ambang toleransi ekosistem. Dalam kajiannya mengenai ekowisata mangrove di Asia Tenggara, Blanton et al., (2024) menekankan bahwa ancangan kegiatan wisata di mangrove perlu meminimalkan kontak fisik dengan substrat/akar dan gangguan pada komunitas biota pesisir yang menjadi basis ekosistem pesisir. Pengelolaan berbasis regulasi tersebut bukan hanya melindungi vegetasi, tetapi juga menjaga kualitas pengalaman wisata.Restorasi ekosistem menjadi strategi penting terutama di area yang pernah mengalami degradasi. Aktivitas wisatawan dapat disinergikan dengan program pemulihan lingkungan seperti penanaman mangrove, rehabilitasi vegetasi hutan, hingga pengendalian erosi lahan. Melibatkan wisatawan dalam kegiatan restorasi selain memberikan manfaat ekologis juga menghadirkan nilai edukatif dan emosional, karena wisatawan merasa turut serta dalam proses konservasi (Bhushan et al. 2024).Pemantauan ekologi secara berkala juga merupakan bagian penting dari strategi konservasi. Teknologi modern seperti drone, citra satelit, dan sensor lapangan kini banyak digunakan untuk menilai perubahan tutupan vegetasi atau mendeteksi kerusakan dini. Studi Zhu and Sun (2022) menunjukkan bahwa desain ekowisata berbasis jaringan sensor dapat membantu perlindungan tanaman dengan memberikan peringatan dini terhadap gangguan ekologis. Integrasi teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi monitoring di kawasan ekowisata dengan biaya relatif rendah.


128 Pengelolaan Hutan untuk EkowisataKendala nyata dalam konservasi dan restorasi ekosistem meliputi keterbatasan dana, minimnya tenaga ahli, serta lemahnya penegakan hukum. Untuk mengatasinya strategi konservasi harus didukung oleh kebijakan pemerintah, kemitraan dengan lembaga konservasi, dan pemberian insentif kepada pelaku ekowisata yang berkomitmen menjaga kelestarian. Dengan demikian, konservasi dan restorasi bukan sekadar retorika, melainkan terintegrasi dalam mekanisme pengelolaan ekowisata yang adaptif dan berkelanjutan.9.4.4 Pengelolaan Infrastruktur Ramah Lingkungan Infrastruktur wisata merupakan elemen yang tidak terpisahkan dari ekowisata. Akan tetapi, jika tidak direncanakan dengan hati-hati, pembangunan infrastruktur dapat memicu fragmentasi habitat, polusi, dan degradasi ekosistem. Oleh karena itu, prinsip eco-design dan low-impact development harus menjadi acuan utama dalam setiap pembangunan.Salah satu bentuk infrastruktur ramah lingkungan yang banyak diterapkan adalah eco-lodge. Penelitian Lee and Jan (2019) menegaskan bahwa ecolodge bukan hanya mengurangi dampak ekologis, tetapi juga memberikan pengalaman autentik bagi wisatawan, sehingga menciptakan diferensiasi pasar yang kuat. Transportasi di dalam kawasan wisata juga harus diarahkan ke mode rendah emisi, seperti sepeda, kendaraan listrik, atau perahu nonmotor. Hal ini penting karena polusi suara terbukti mengganggu perilaku satwa liar, misalnya mengurangi frekuensi komunikasi burung di kawasan tropis.9.4.5 Manajemen Wisatawan Wisatawan merupakan aset penting sekaligus potensi ancaman bagi keberlanjutan ekowisata, terutama di kawasan hutan tropis yang rentan terhadap tekanan akibat jumlah kunjungan yang melebihi daya dukung ekologis. Oleh karena itu, pengelolaan wisatawan perlu memperhatikan carrying capacity dengan menerapkan sistem kuota yang terbukti efektif dalam menekan dampak ekologis.


Bab 9 Strategi Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata Berkelanjutan 129Penggunaan sistem reservasi digital juga dapat membantu mengatur distribusi pengunjung serta memastikan transparansi pendapatan, yang menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik, khususnya ketika pengelolaan melibatkan masyarakat lokal (Suyatna et al., 2024). Selain pengendalian jumlah, manajemen wisatawan perlu menekankan kualitas pengalaman melalui program interpretasi yang mengedukasi pengunjung tentang ekologi, konservasi, dan kearifan lokal, sehingga mereka tidak hanya berwisata, tetapi juga menjadi agen konservasi bagi kelestarian hutan tropis Indonesia9.4.6 Kebijakan dan Regulasi Pendukung Ekowisata berkelanjutan memerlukan kerangka kebijakan yang kuat. Tanpa regulasi yang jelas, praktik ekowisata berisiko jatuh pada komersialisasi berlebihan yang justru bertentangan dengan prinsip konservasi. Salah satu kebijakan yang mendesak adalah standarisasi ekowisata melalui sistem sertifikasi. Torres-Delgado and Saarinen (2014) menunjukkan bahwa sertifikasi ekowisata berperan penting dalam memberikan jaminan kualitas kepada wisatawan sekaligus mendorong operator wisata untuk mematuhi standar lingkungan. Sertifikasi ini dapat mencakup aspek desain infrastruktur, manajemen wisatawan, hingga pelibatan masyarakat.Selain standar, dukungan berupa insentif fiskal juga krusial. Insentif seperti keringanan pajak atau akses kredit hijau dapat mendorong pelaku ekowisata kecil-menengah untuk berkomitmen pada praktik ramah lingkungan. Dalam banyak negara, insentif terbukti meningkatkan adopsi teknologi hijau, seperti energi terbarukan dan sistem pengelolaan limbah (Lee and Jan, 2019). Hal ini sejalan dengan agenda ekonomi hijau Indonesia, di mana sektor ekowisata didorong untuk mengurangi emisi karbon sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.Studi Irmawati and Hasnawati (2024) menambahkan bahwa kebijakan berbasis masyarakat juga memperkuat legitimasi sosial, sehingga mencegah konflik dan meningkatkan keberlanjutan ekowisata. Seluruh kebijakan


130 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisatatersebut harus diiringi dengan penegakan hukum yang konsisten. Tanpa penerapan sanksi terhadap pelanggaran seperti pembangunan ilegal atau eksploitasi satwa, kebijakan hanya akan berhenti sebagai dokumen normatif. Ramadhani dkk (2018) mengungkap bahwa di Taman Wisata Alam Batu Putih, ketimpangan kekuasaan antaraktor serta lemahnya penegakan hukum menjadi penyebab utama konflik dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan. Oleh karena itu, sistem hukum yang kuat harus berjalan beriringan dengan insentif agar operator ekowisata mematuhi prinsip keberlanjutan dan keadilan ekologis.


Bab 10 Ekowisata Berbasis Hutan Lindung dan Hutan Konservasi10.1 Definisi dan Peran Hutan Lindung/ Konservasi Dalam Ekowisata 10.1.1 Definisi Ekowisata Berbasis Hutan Lindung dan Konservasi Ekowisata merupakan bentuk pariwisata yang menekankan pada aspek pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat lokal, serta edukasi dan apresiasi terhadap keanekaragaman hayati dan budaya di kawasan hutan lindung maupun hutan konservasi. Dalam konteks hutan lindung dan konservasi, ekowisata tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisata, tetapi juga pada upaya menjaga kelestarian ekosistem dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar secara berkelanjutan (Dwijayati et al., 2016; Sribianti et al., 2024).


132 Pengelolaan Hutan untuk EkowisataEkowisata dapat didefinisikan sebagai kegiatan wisata yang dilakukan di kawasan alami, seperti hutan lindung dan hutan konservasi, yang bertujuan untuk menikmati keindahan alam, mempelajari keanekaragaman hayati, serta mendukung upaya konservasi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Ekowisata menuntut adanya pengelolaan yang memperhatikan kelestarian sumber daya alam, keterlibatan aktif masyarakat, dan edukasi lingkungan (Sukuryadi et al., 2024; Muthmainnah & Sribianti, 2020).Beberapa karakter utama ekowisata berbasis hutan lindung dan konservasi disajikan pada Gambar 10.1. Gambar 10.1: Karakter Utama Ekowisata10.1.2 Peran Hutan Hutan Lindung dan Konservasi Dalam Pengembangan Ekowisata Hutan lindung dan hutan konservasi memiliki peran strategis dalam pengembangan ekowisata, baik dari aspek ekologi, sosial, maupun ekonomi. Berikut adalah uraian terstruktur mengenai peran tersebut:1. Menyediakan Sumber Daya Alam dan Keanekaragaman HayatiHutan lindung dan konservasi menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna, termasuk spesies langka dan dilindungi. Keberadaan keanekaragaman hayati ini menjadi daya tarik utama ekowisata, seperti pengamatan burung, satwa liar, dan keindahan lanskap alami (Khadijah et al., 2025).


Bab 10 Ekowisata Berbasis Hutan Lindung dan Hutan Konservasi 1332. Mendukung Konservasi dan Edukasi LingkunganPengembangan ekowisata di kawasan hutan lindung dan konservasi mendorong upaya pelestarian lingkungan melalui edukasi kepada pengunjung dan masyarakat. Kegiatan ekowisata dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem hutan, serta menjadi sarana pembelajaran tentang konservasi (Sambu et al., 2022). 3. Memberikan Manfaat Ekonomi dan Pemberdayaan MasyarakatEkowisata berbasis hutan lindung dan konservasi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar melalui penciptaan lapangan kerja, peluang usaha, dan peningkatan pendapatan (S. Saputra et al., 2023; Sribianti & Sambu, 2024). 4. Menjaga Fungsi Ekologis dan Keberlanjutan Sumber DayaHutan lindung dan konservasi berperan sebagai penyangga ekosistem, menjaga kualitas air, mencegah erosi, dan mengatur iklim mikro. Pengelolaan ekowisata yang memperhatikan daya dukung kawasan dapat mencegah kerusakan lingkungan dan memastikan keberlanjutan fungsi ekologis hutan (Khadijah et al., 2025).5. Mendorong Kolaborasi dan Kelembagaan LokalKeberhasilan pengembangan ekowisata sangat dipengaruhi oleh kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pengelola hutan. Kelembagaan lokal yang kuat, seperti kelompok tani hutan atau komunitas peduli pesisir, menjadi kunci dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus mengembangkan ekowisata secara berkelanjutan (Kaharuddin et al., 2020).


134 Pengelolaan Hutan untuk Ekowisata10.1.3 Urgensi Pengembangan Ekowisata Berbasis Hutan Pengembangan ekowisata di kawasan hutan lindung dan hutan konservasi menjadi sangat penting karena mampu memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan. Urgensi pengembangan ekowisata berbasis hutan sebagai berikut:1. Pelestarian Ekosistem dan Keanekaragaman HayatiEkowisata mendorong pelestarian ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna dengan menjadikan kawasan hutan sebagai objek wisata berbasis konservasi (Mursyid et al., 2022). 2. Pemberdayaan dan Kesejahteraan Masyarakat LokalEkowisata memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar hutan melalui penciptaan lapangan kerja, usaha jasa wisata, dan peningkatan pendapatan (S. Saputra et al., 2023; Sribianti, 2022). 3. Edukasi dan Peningkatan Kesadaran LingkunganEkowisata berperan sebagai sarana edukasi bagi wisatawan dan masyarakat tentang pentingnya konservasi dan pelestarian alam (Sambu et al., 2022; Mursyid et al., 2022).4. Penguatan Kolaborasi dan KelembagaanPengembangan ekowisata mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, LSM, dan sektor swasta (Parlinah et al., 2023). 5. Pencegahan Konflik dan Degradasi KawasanEkowisata yang dikelola secara partisipatif dapat menjadi solusi atas konflik tenurial dan pemanfaatan lahan di kawasan hutan. Dengan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, tekanan terhadap konversi lahan dan praktik ilegal dapat ditekan (Senoaji


Bab 10 Ekowisata Berbasis Hutan Lindung dan Hutan Konservasi 135et al., 2020). Komponen kunci pengembangan ekowisata, disajikan pada Gambar 10.2. Gambar 10.2: Komponen Kunci Pengembangan Ekowisata10.2 Karakteristik Hutan Lindung dan Hutan Konservasi 10.2.1 Pengertian dan Fungsi Hutan Lindung Hutan lindung merupakan salah satu kategori kawasan hutan yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung kehidupan manusia.1. Pengertian Hutan LindungHutan lindung adalah kawasan hutan yang ditetapkan terutama untuk melindungi sistem penyangga kehidupan, seperti tata air, mencegah banjir, erosi, dan menjaga kesuburan tanah. Hutan lindung juga berfungsi sebagai pelindung keanekaragaman hayati dan ekosistem yang ada di dalamnya. Penetapan status hutan lindung didasarkan pada pertimbangan ekologis, di mana kawasan


Click to View FlipBook Version