The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by widya pustaka SMP Negeri 5 melaya, 2021-05-08 05:05:21

226

226

www.rajaebookgratis.com

Pertama kali Ibu Dewi melihat ke arah bangku Ali
Topan.Tak pernah sekalipun ia melihatAli Topan siap di
tempatnya ketika ia masuk. Kalau tidak kesiangan,
sampai hampir habis jam pembinaannya, pastiAli Topan
tidak masuk. Dan ia tak habis mengerti kenapa murid
yang satu itu begitu berani terbuka menantangnya.

“Dia ke mana?” tanya Ibu Dewi pada Boby.
“Saya tidak tahu, Bu,” jawab Boby.
Itu adalah tanya jawab yang rutin, semacam pendahulu-
an untuk acara ‘pidato’ muluk-muluk tentang budi
pekerti, sopan santun, moral baik dan buruk serta lain-
lain dongengan lagi.
Biasanya, kalau adaAliTopan,selalu saja ada peristiwa
yang lucu dibuatnya, yang menguap keraslah, yang
berlagak mengantuk, atau jatuhnya setumpukan buku ke
lantai. Bahkan pernah ada seekor tikus got berlari kian
kemari di dalam kelas dan mengakibatkan kelas geger,
anak-anak perempuan naik semua ke atas bangku
mereka, bahkan Ibu Dewi lari terbirit-birit ke luar sampai
terkencing-kencing. Dugaan kuat Ali Topan yang
membuat ulah, tapi dugaan itu tak bisa dibuktikan,
akhirnya dibekukan.
Ali Topan bangun tidur pada pukul 7.23 wib. Selesai
mandi pada pukul 7.31 wib, ia segera mengenakan busana
hariannya, jeans bluwek dan kemeja batik cap Dua Bedil.
Seharusnya busana seragam SMA Bulungan bukan jeans
bluwek, dan batik cap Dua Bedil, tapi celana biru muda
dengan baju batik Keris. Ali Topan selalu merasa gerah
kalau memakai seragam sebagai yang ditentukan oleh
Kepala Sekolah. Oleh karena itu, ditambah catatan yang
hampir setiap hari dicatat oleh ibu-ibu dan bapak-bapak
guru sehubungan dengan kelakuannya yang “bebas-ak-
tif,” maka nilai budi pekertiAliTopan tidak pernah bagus.

151

www.rajaebookgratis.com

Tanpa sarapan pagi, Ali Topan berangkat ke sekolah
pada pukul 7.44. Ia mengendarai motornya sebagaimana
anak-anak muda Jakarta yang sedang puber, yaitu ngebut.
Seringkali ia ditangkap polisi lalu lintas karena penge-
butannya, tapi sering kali pula ia dibebaskan karena polisi
diberinya alasan yang masuk akal. Ia selalu mengatakan,
ketika ditanya kenapa ngebut, bahwa ia hanya mencontoh
adegan ngebut di dalam film luar dan dalam negeri.

”Kalau Bapak ingin agar saya berhenti ngebut, coba
Bapak larang adegan ngebut di film-film itu,” demikian
katanya senantiasa. Ketika polisi-polisi itu menunjukkan
gejala “perdamaian di bawah tangan”, Ali Topan suka
juga membual, dengan mengatakan dia anak jenderal.
Secara psikologis dia tahu, berdasarkan pengalaman
orang lain, polisi–polisi itu agak ngeri jika ada seseorang
remaja mengaku anak jenderal. Tapi pernah juga sekali
tempo dia membentur “batu”, ketika seorang polisi
lalulintas tidak peduli apa yang ia bualkan, danAliTopan
kena “tilang” di Pengadilan Negeri Jakarta Barat yang
terletak di kampung Slipi.

Dia memang jagoan mengendarai motor. Dalam tempo
3 menit dia sudah sampai di Jalan Wijaya II. Ia suka
mengambil jalan memutar ke sekolahnya yang terletak di
Jalan Mahakam, untuk menikmati tikungan-tikungan ke-
cil yang terdapat di situ. Pada saat ia menikung dari Jalan
Wijaya II ke arah Panglima Polim Tiga, ban motornya
mendadak kempes. Ali Topan menghentikan motornya
dan memeriksa ban depan yang kempes. Ia mendapati
sebuah paku besar menancap di ban motornya.

“Sialan, lu anak siapa sih paku! Nggak disekolahin ya
sama bapak lu! Pagi-pagi begini bikin kempes ban motor
gua!”AliTopan menggerutu. Ia berusaha mencabut paku
itu, tapi tidak bisa, karena paku itu menancap dan

152

www.rajaebookgratis.com

bengkok di dalam ban. Dengan wajah kesal Ali Topan
menuntun motornya ke arah tukang tambal ban yang
membuka bengkel di ujung Jalan Panglima Polim Tiga.

“Pagi-pagi sudah kena musibah rupanya…” kata tukan
tambal ban seorang muda asal Medan.

“Iya. Musibah gua kan rejeki lu, Bang! Bisa banget lu
omong musibah-musibahan,” jawab Ali Topan. Dia
memarkir motornya di depan tukang bengkel yang
tersipu-sipu mendengar kata-katanya.

“Kena paku rupanya? Di mana?” kata tukang tambal
ban.

“Di Bandung!,” sahut Ali Topan, “gua tinggal ini
motor, nanti siang gua ambil,” tambahnya sembari
melemparkan kunci motor pada tukang tambal ban yang
bengong itu tanpa banyak pernik, Ali Topan berjalan
pergi, menyambung perjalanannya.

Ali Topan berjalan kaki dengan santai. Ia bersiul-siul
gembira. Kedua buah tangannya berada didalam saku
jeans. Indah sekali pagi, nyaman sekali hatinya.

Seorang pengendara motor dari arah belakang berhenti
di dekatnya. Dia Teddy, anak kelas I-7. “Eh, tumben
jalan kaki, Pan. Ke mana motor lu?” tanya Teddy, “udah
telat nih. Lu naik deh,” tambahnya.

“Hei, lu Ted. Ban motor gue pecah kena paku. Yuk ,
gua nebeng dah,” kata Ali Topan. Dia membonceng
Teddy.

Sampai di sekolahAliTopan melompat turun. “Terima
kasih, Ted,” kata Ali Topan, kemudian ia segera berlari
menuju kelasnya. Teddy menuntun motornya ke tempat
parkir.

Ali Topan sampai di depan kelas, tapi dia tidak
langsung masuk. Dia berdiri di dekat pilar di depan kelas.
Suara Ibu Dewi membuatnya enggan masuk, namun

153

www.rajaebookgratis.com

perasaannya ingin betul masuk ke dalan untuk melihat
Anna.

Di dalam kelas, Ibu Dewi mulai “berdakwah”. Murid-
murid segera diam. Memperhatikannya.

“Anak-anak, hari ini Ibu akan menerangkan satu
masalah yang menyangkut tatacara pergaulan kaum
muda. Masalah ini sangat penting agar kalian bisa
menjadi pelajar teladan. Judul masalah sudah Ibu
pilihkan, yaitu Bagaimana Memperoleh Manfaat Dari
Pergaulan. Sungguh, hal ini penting bagi kalian, karena
anak-anak muda jaman sekarang sedang menjadi
perhatian kaum pendidik dan masyarakat akibat makin
hari makin tinggi angka kenakalan remaja di Jakarta,”
kata Ibu Dewi. Ia berkata dengan suara nyaring dan
mimiknya selalu khas, gerak kelopak mata dan bibir yang
genit seperti penyiar tivi serta tangan yang selalu
menjentik-jentik debu kapur yang jatuh ke busananya.

Murid-murid diam, tapi sebagian besar pikiran mereka
bukan kepada masalah yang sedang dibicarakan melain-
kan kepada gerak kelopak mata dan bibir Ibu Dewi, yang
sok anggun itu.

“Mengerti kalian?” tanya Ibu Dewi. Murid-murid
serempak mengatakan pengertian mereka. Ibu Dewi tam-
pak suka dengan jawaban yang serempak itu. Ia melirik
ke murid-murid di barisan belakang, kemudian menu-
liskan “ceramahnya.”

Anna Karenina mengambil surat dari Ali Topan, lalu
ditaruhnya di bawah tas sekolah yang ditaruhnya di atas
meja. Ketika Ibu Dewi sedang asyik menulis teori-teori
pergaulan, ia mempergunakan kesempatan itu untuk
membaca surat dari Ali Topan. Begitu Ibu Dewi selesai
menulis dan mulai berbicara lagi, Anna segera mendo-
ngak, melihat ke arah Ibu Dewi. Hal itu dilakukannya

154

www.rajaebookgratis.com

berulangkali.
Rupanya Ibu Dewi sempat melihat sikap Anna itu,

namun ia pura-pura tidak tahu.
“Jadi, yang paling penting di dunia ini, adalah budi

pekerti, sebab, seperti kata pepatah, manusia boleh
pandai seperti profesor, tapi kalau dia tidak punya budi
pekerti, maka ia tidak ada arti sama sekali bagi
masyarakat. Mengerti anak-anak?” kata Ibu Dewi.

“Mengertiiiiii!” sahut murid-murid, serempak.
Anna Karenina cuma menggumam saja, ia tidak bermi-
nat untuk ikut-ikutan berteriak seperti teman-temannya
yang serempak menyambut pernyataan Ibu Dewi.
Ibu Dewi berbalik menghadap papan tulis lagi. Ia
menuliskan sesuatu, tapi tiba-tiba ia berbalik menghadap
ke arah para murid. Tepat pada saat itu Anna Karenina
sedang mengangkat tasnya, menarik kertas surat dari Ali
Topan.
“Hei, kamu! Sedang bikin apa kamu?” kata Ibu Dewi.
Tangannya menunjukAnna Karenina yang terkejut men-
dengar tegurannya. Secara refleks Anna menyimpan
kembali surat dari Ali Topan ke bawah tasnya.Wajahnya
tampak gugup sekali. Ia tidak menjawab.
Ibu Dewi menghampiri Anna. Para murid yang lain
langsung memusatkan perhatian mereka ke arahAna dan
Ibu Dewi.
Ibu Dewi membalik tasAnna dan mengambil surat dari
bawah tas itu. “Apa ini?” tanya Ibu Dewi.
Anna Karenina tidak menjawab . Wajahnya pias. Ibu
Dewi membaca surat Ali Topan itu. Wajahnya berubah
sinis. Ia mengangkat surat itu, lalu membaca isi surat
dengan suaranya yang nyaring. Anna Karenina cuma
bengong saja. Perasaannya sangat risau sekali.
“Wah, wah, wah …Surat cinta dari kekasih. Bukan

155

www.rajaebookgratis.com

main romantisnya…,” Ibu Dewi dengan sinis,
“Kekasihku yang rupawan, aku merindukanmu siang dan
malam, apakah engkau begitu pula?” tambahnya. Anna
Karenina tersentak. Surat Ali Topan tidak begitu
bunyinya. Ibu Dewi mengada-ada. Segera Anna
menundukkan kepala karena Ibu Dewi memandangnya
dengan bengis.

Di luar, Ali Topan merasa tegang. Ia mendengar suara
Ibu Dewi yang sedang marah kepada Anna. Dan ia tahu
Ibu Dewi mengada-ada dengan pembacaan surat yang
tidak cocok dengan surat yang ditulisnya untuk Anna.
’ApakahAnna mendapat surat dari orang lain?’demikian
pikirnya. Maka ia menunggu perkembangan selanjutnya.
Ia waspada.

Di dalam kelas Ibu Dewi berkacak pinggang di depan
Anna.Anna tetap merunduk. Murid-murid lainnya diam.

“Hei! Inilah contoh anak yang baik sekali
kelakuannya,” kata Ibu Dewi sinis. “Ada guru
menerangkan pelajaran di depan kelas, dia asyik
membaca surat cinta dari kekasihnya!” tambahnya.

Anna Karenina merunduk terus.
Ibu Dewi menyentuh dagu Anna, lalu mengangkat
dagu itu, hingga Anna terpaksa menengadah,
memandangnya.
“Kamu murid baru di sini ya! Coba berdiri di depan
kelas!” kata Ibu Dewi. Anna Karenina berdiri, perlahan,
lalu berjalan di depan kelas. Ia merasa telah membuat
kesalahan, oleh sebab itu ia pasrah menerima hukuman
apapun. Ibu Dewi menggenggam surat rampasannya. Ia
menghampiri Anna, dan berdiri di depan Anna.
“Hei, Kamu ke sini untuk belajar atau untuk cari
pacar?” tanya Ibu Dewi.
Anna tidak menjawab. Ia melihat surat yang di

156

www.rajaebookgratis.com

genggam Ibu Dewi. Yang tak habis dipikirnya, kenapa
Ibu Dewi membaca surat tidak sesuai dengan tulisan
aslinya?

Ibu Dewi memandangnya dengan tajam, kemudian ia
berpaling ke arah murid-murid yang lain.

“Hai, kalian kiranya ingin mendengarkan pembacaan
surat cinta, bukan?” katanya. Murid-murid tak ada yang
menjawab. Maya dan Boby berpandangan. Keduanya
mengangkat bahu.

Ibu Dewi memberikan surat rampasannya pada Anna.
“Kau, bacalah! Supaya semua teman tahu bagaimana
hebatnya pacarmu yang bernama Ali Topan itu
merangkai kalimat cinta!,” kata Ibu Dewi.
Di luar kelas,AliTopan tersentak mendengar namanya
disebut. Sudah pasti, sudah pasti surat yang ditulisnya
untuk Anna yang jadi perkara. Tanpa pikir dua kali, Ali
Topan melangkah masuk ke dalam kelas. Wajahnya
tegang, pandangannya matanya menyapu seluruh kelas,
lalu hinggap di wajah Ibu Dewi. Ditatapnya mata Ibu
Dewi. Kemarahan terbayang diwajahnya.
“Ini dia pahlawan cinta kita!,” Ibu Dewi berseru, “hei,
kau baca surat itu!, serunya lagi, pada Anna Karenina.
Anna tergetar. Ia memandang Ali Topan dan Ali Topan
juga memandangnya. Tiba-tiba Ali Topan mengulurkan
tangannya, meminta surat itu.
“Biar saya yang membacanya, An,” katanya.
Anna memberikan surat itu. Ibu Dewi membelalakkan
matanya. Menghadapi Ali Topan selalu membuatnya
kehilangan akal. Karena itu ia selalu memunculkan
kemarahan dan sinisme yang galak.
“Ibu Dewi, karena saya yang membuat surat ini, saya
kira lebih tepat jika saya yang membacanya…,” kataAli
Topan.

157

www.rajaebookgratis.com

“Boleh juga, Bung!” kata Ibu Dewi.
Tanpa banyak pernik, Ali Topan membaca suratnya.

Anna Karenina Yang Manis!
Saya senang sekali menerima suratmu. Saya tiba-tiba
jadi bersemangat dan hidup terasa tidak suram lagi.
Rasanya, baru pertama kali dalam sejarah hidup saya
sampai hari ini, saya menerima perhatian yang
menakjubkan. Surat Anna saya bawa ke manapun saya
pergi. Setiap saat saya ingin membacanya. Nah, sekian
dulu. Oh ya, soal saran kamu supaya saya rajin sekolah,
itu gampang diatur. Terima kasih.

Ali Topan

Ali Topan selesai membaca suratnya. Ia memberikan
surat itu kembali pada Anna. Teman-temannya ada yang
tertawa mengikik mendengar Ali Topan membaca surat.
Tapi tak ada yang berani mengeluarkan cemoohan.
Teman-teman sudah kenal Ali Topan. Mereka respek
padanya. Respek campur ngeri.

“Sekarang kamu yang baca,” kata Ibu Dewi padaAnna.
Anna, Ali Topan dan murid-murid lainnya terkejut.
Mereka menganggap Ibu Dewi keterlaluan. Lagipula,
yang menjadi pertanyaan anak-anak, kenapa bunyi Ibu
Dewi lain dengan bunyi Ali Topan mengenai surat itu?
Apakah Ibu Dewi mengada-ada tadi?

“Saya kan sudah membaca, Ibu Dewi?” tanya Ali
Topan. Nadanya lembut.

“Kalau saya suruh dia baca kamu mau apa?Atau kalau
saya mau sobek-sobek surat kamu, lantas kamu mau
apa?” kata Ibu Dewi. Ia berpaling ke Anna. “Ke sinikan
surat itu!,” katanya.

158

www.rajaebookgratis.com

Anna memberikan surat itu. Ibu Dewi merobek-robek
surat itu dengan tenang dan membuang robekan kertas
itu tepat kena wajahAliTopan dan berhamburan ke lantai.
Beberapa potongan menempel di baju dan tas
sekolahnya.

Kelas dicekam sunyi. Semuanya menunggu reaksiAli
Topan. Mereka memastikan, Ali Topan naik pitam. Kali
ini mereka salah duga. Ali Topan mampu menekan
emosinya. Perlahan ia membungkuk, berjongkok
memunguti robekan kertas suratnya. Dikumpulkannya
robekan kertas itu di tangan kirinya, kemudian ia berdiri
lagi. Dia berikan robekan surat pada Anna Karenina,
kemudian ia berpaling ke Ibu Dewi.

“Terima kasih atas kebijaksanaan Ibu,” kataAli Topan.
Kata-katanya merendah, tapi nadanya dingin betul.

“Saya tidak butuh terima kasih kamu!,” kata Ibu Dewi.
Ali Topan tersenyum.
“Boleh kami duduk, Ibu?” katanya. Tenang.
“Kamu menghina saya ya?” kata Ibu Dewi.
“Tidak.”
“Tapi sikap kamu kurang pantas! Kamu sok jago.
Keluar kamu! Saya muak melihat tampangmu! Sana! Ke
luar!”
“Jangan begitu dong, Bu. Masa saya mau sekolah
disuruh keluar? Itu kan kurang bijaksana namanya,” kata
Ali Topan.
“Kamu selalu membantah!Anak berengsek!” kata Ibu
Dewi.
Dia berjalan ke meja, mengambil tasnya, lalu keluar
cepat-cepat. Wajahnya geram betul.
AliTopan menarik tanganAnna, mengajaknya kembali
ke bangkunya.
“Wan, sorry kalau gue bikin kacau lagi,” kataAliTopan

159

www.rajaebookgratis.com

pada Ridwan, ketua kelasnya.
“Sorry sih sorry, Pan. Tapi gua ini yang repot. Mendi-

ngan lu aja jadi ketua kelas, soalnya guru-guru kan tahu-
nya gua terus. Gua udah capek dipanggil ke kantor,
katanya gua nggak becus memimpin kelas,” kata Ridwan.

“Boleh aja gue jadi ketua kelas, tapi pakai syarat. Kalau
kita boleh pakai busana yang sedikit nyentrik dan
merokok di dalam kelas, oke saja. Lu bilang deh ke Pak
Broto,” kata Ali Topan. Tentu saja teman temannya
tertawa. Grrr. Suasana jadi segar lagi.

Di Kantor Direktur Sekolah. Pak Broto Panggabean
mendengar “laporan” Ibu Dewi. Seperti biasanya, Ibu
Dewi mendramatisir laporannya dengan airmata yang
meleleh dipipinya.

Pak Broto Panggabean memanggil sekretarisnya.
“Hadi, Ali Topan suruh menghadap,” kata Pak Broto.
“Ya, Pak,” kata Hadi. Dia berjalan cepat ke luar. “Anak
setan itu kok nggak bosen dipanggilin terus. Gua aja yang
disuruh manggil udah bosen. Dia dia juga,” gumam Hadi
pada dirinya sendiri.
Hadi sampai di kelas, berdiri di depan pintu sambil
cengar cengir. Dia melambai ke arah Ali Topan.
“Hallo Boss. Urusan biasa dah!” kata Hadi. Murid-
murid ketawa.
“Biasa apaan?” kata Ali Topan.
“Dipanggil Godfather,” kata Hadi.
“Eh, bego ! God itu nggak ber-father dan father itu
bukan God,” kata Ali Topan. “Lu bilangin ke Pak
Brotpang... jadi Direktur Sekolah kok kerjaannya
manggil-manggil murid sih. Apa nggak ada kerjaan lain
yang lebih bermanfaat buat pembangunan?” kata Ali
Topan. Grrrrrrrrrr lagi teman temannya.
“Saya nggak tahu. Nanti saja tanya yang

160

www.rajaebookgratis.com

bersangkutan,” kata Hadi, “Sekarang ayo dah, kita ke
sono, daripada... daripada...” tambahnya.

Ali Topan berjalan keluar kelas diiringi komentar jahil
yang ke luar dari mulut teman-teman kelasnya. Anna
Karenina tidak ikut berkomentar. Dia menundukkan
kepalanya. Maya juga diam.

Ali Topan menghadap Pak Broto Panggabean.
“Selamat Pagi, Pak,” kata Ali Topan.
“Iya. Pagi pagi kau bikin perkara lagi. Ini Ibu Dewi
melaporkan kelakuan kau yang brengsek. Dan, pelajaran
terhenti. Itu berarti kau bikin rugi teman teman kau yang
lain,” kata Pak Broto Panggabean.
Ali Topan diam saja. Percuma menjawab, sebab
jawabannya akan sama seperti jawaban pada setiap kali
dipanggil Pak Broto. Pak Broto Panggabean mengusap-
usap kumisnya yang tebal.
“Aku sudah capek marah-marah. Kau rupanya punya
adat eksentrik ya. Semakin hebat dimarahi semakin hebat
berengsek kau! Nah, tadi Ibu Dewi melapor, katanya kau
pacaran di dalam kelas. Main surat cinta dengan Anna,
murid baru itu. Nah, Ibu Dewi minta supaya kita bikin
pertemuan antara kau,Anna, orang tua kau dan orangtua
Anna dengan kami di sini. Kau menghadap lagi besok
pagi jam delapan,” kata Pak Broto Panggabean.
Ali Topan keluar dengan wajah lesu, tanpa permisi
pada Pak Broto. Ibu Dewi ditengokpun tidak olehnya.
Jalannya rada loyo. Dia memikirkan kegawatan esok
hari. Sudah jelas urusan bakal jadi meriah.
Dia membayangkan wajah ibu Anna yang non-kom-
promis itu,wajah ayahAnna yang rada acuh,sopir Mercy
yang namanya Oom Boy dengan tampang klimis yang
menjijikkan. Wajah tiga manusia aneh itu akan bertemu
dengan wajah Ibu Dewi yang sinisnya bukan kepalang,

161

www.rajaebookgratis.com

wajah Pak Broto Panggabean yang rada blo’on. Amit-
amit deh. Dan dia membayangkan Anna Karenina bakal
ketakutan menghadapi orangtua-orangtua yang aneh itu.

Membayangkan Anna, dia menggeplak jidatnya
sendiri. Sampai di depan kelas Ali Topan masih
menggeplak-geplak jidatnya sendiri. Kusut pikirannya.

Ali Topan masuk ke dalam kelasnya. Teman temannya
memandang padanya.

“Gimana, Pan?”tanya Bobby.
“Prihatin, mek!,” sahutnya. Dia menghampiri Anna
Karenina, dan berdiri di depan gadis manis yang merasa
sebagai gadis paling apes di seluruh dunia.
“An! Besok orang tua kamu bakal disuruh datang oleh
penguasa sekolah ini. Orangtua saya juga di panggil, tapi
jelas mereka nggak bakal datang. Besok kita berdua bakal
diadili di depan orang-orang tua itu. Saya harap kamu
tabah,” kata Ali Topan. Suaranya cukup keras sehingga
anak anak lain bisa mendengarnya.
“Bakalan seru dong, Pan. Kalau perlu kite rubuhin aje
sekolahan kagak berbobot ini,” Wandi, anak betawi asli
mencuap.
“Iya, Pan kita culik sekalian Pak Broto dan Ibu Dewi.
Kite ceburin ke Bina Ria biar dimakanjaws!” kata I Soen,
peranakan Cina-Sunda yang duduk sebangku dengan
Ridwan. Teman teman sekelas, termasuk Ali Topan &
Anna tertawa mendengar leluconnya.
“Apa lu kate?” kata Bobby, ”dimakan jaws? Udah
pinter ngomong Inggris lu, Cina!” tambahnya dalan nada
bergurau.
“Pejajaran lu, Bob. Gue bukan Cina, gue orang Sunda
tau? Sekali lagi lu ngatain gue Cina, gue embat lu,” kata I
Soen. Tampangnya dibikin seperti orang marah.
“Sorry boy, I belum tau.Tapi kalau lu mau jual sih, gue

162

www.rajaebookgratis.com

beli embatan lu,” kata Bobby. Tampangnya distel serius.
“Ah, kagak, gua becanda aja, Bob,” kata I Soen, lalu ia

melihat Ali Topan dan berkata, ”jadi gimana Boss? You
atur deh, I follow!” Ali Topan yang sedang prihatin
tertawa ketawa ha-ha-hi-hi mendengar celotehan I Soen.
Anna Karenina juga tertawa terpingkal pingkal. Mereka
lupa sejenak pada ‘musibah’ yang menimpa diri mereka.

Kelas menjadi gaduh oleh suara ketawa bebas-aktif
yang spontan ke luar dari mulut seluruh murid di situ.
Humor demi humor yang ditimpa komentar ‘asbun’
merupakan obat mujarab pengusir hati yang gundah.

Di tengah tengah keriuhan suasana, Hadi datang
membawa instruksi khusus dari Pak Direktur. Isi instruksi
itu pendek tapi tegas: kelas III Paspal 1 distrap, tidak
boleh memperoleh pelajaran hari itu. Murid murid harus
tetap di kelas, tidak boleh ke luar tanpa izin langsung dari
direktur.

“Jangankan distrap sehari, sebulan juga kita masih oke.
Dia pikir kita sedih kali, padahal sih gembira betul hati
kita,” kata I Soen.

AliTopan meminta maaf kepada teman-temannya atas
keterlibatan mereka karena perbuatannya. Seperti
biasanya, teman-temannya mengerti, karena hanya
pengertian itu yang bisa mereka berikan kepada sesama
teman.

Saat pulang, Ali Topan mengantar Anna ke gerbang
sekolah.

“Anna, apa pikiranmu soal urusan besok?” tanya Ali
Topan. Anna memandang sayu pada Ali Topan, lalu
menggelengkan kepalanya dan berkata tidak tahu.

“Kamu merasa takut?” tanya Ali Topan. Anna
menggeleng.

“Kamu merasa kecewa pada saya?”

163

www.rajaebookgratis.com

“Mungkin!” sahut Anna Karenina.
Ali Topan terkesima mendengar jawaban itu. Ia
memandang Anna dengan tajam. Tapi Anna menunduk
saja. Bahkan gadis itu mempercepat jalannya langsung
menuju Mercy yang sudah menunggu.
Ketika Mercy disopiri Oom Boy bergerak meninggalk-
an gedung sekolahnya, Anna melirik sekejap ke arahAli
Topan yang berdiri dengan aksi di pintu gerbang. Dua
tangannya masuk ke kantong celana dan pandangan
matanya gagah sekali. Anna Karenina tidak tahu kalau
gaya yang keren itu ditampilkan Ali Topan untuk
menutupi perasaan hatinya yang terpukul oleh jawaban
Anna.
“Mungkin?” gumam Ali Topan. Lantas ia tersenyum
sendirian. Ia menarik napas berat, lalu berbalik langkah,
berjalan menuju tempat parkir motor. Bobby, Dudung
dan Gevaert menunggu di situ.
“Gimana, Pan?” tanya Gevaert.
“Mungkin,” sahut Ali Topan. Ia menghidupkan
motornya, lalu meninggalkan tempat parkir, diikuti
teman temannya.

***

164

www.rajaebookgratis.com

TIGA BELAS

Pagi hari di rumah Anna.
Oom Boy baru datang dari mengantar Anna ke
sekolah. Ia masuk ke ruang tengah, memperhatikan
Nyonya Surya yang sedang merawat pohon pohon kerdil.
Tuan Surya membaca Kompas di kursi rotan di dekat
istrinya. Keduanya asyik dengan kesibukan masing
masing.

Oom Boy menyiulkan lagu “Bujangan” Koes Plus
dengan gaya norak. Dia membayangkan dirinya seperti
Murry penyanyi di layar Televisi Republik Indonesia
alias TVRI. Tuan Surya tak memberi reaksi apa apa, tapi
Nyonya Surya tersenyum kecil dan menegur Boy,
“Gembira betul kau hari ini, Boy.”

“Biar awet muda,” sahut Boy.
“Kau sudah merasa tua? Berapa sih umurmu yang
sebetulnya?” tanya Nyonya Surya sambil terus mengatur
pohon pohon kerdilnya.
“Jalan tiga puluh dua,” kata Boy.
“Wah. Hampir telat dong. Cepat ah cari istri. Kau kan
cukup keren, kenapa sih tak mau cari pacar? Nanti aku
dan abangmu yang melamarkan sebagai ganti orang
tuamu,” kata Nyonya. Surya. Tuan Surya menurunkan
korannya, melihat ke arah Boy dan istrinya. Dia terse-
nyum kecil pula dan berkata, “Tampang keren kalau
nggak ada duit juga percuma, Boy. Anak gadis sekarang
mana mau punya suami sopir.”
Boy cuma meringis saja. Dia memahami kenapa Tuan
Surya bicara begitu. Tuan Surya sudah berkali-kali

165

www.rajaebookgratis.com

menyuruhnyabekerja, tapi Boy sendiri masih belum mau.
Ia lebih suka menjadi sopir. Terus terang, ia ingin selalu
dekat Anna Karenina. Ia diam diam menaruh hati pada
Anna. Tuan dan Nyonya Surya tidak tahu hal itu. Boy
punya sifat cemburu. Ia merasa buta kalau Anna tidak
berada di dekatnya. Cuma ia sendiri dan Tuhan Allah
Subhannahu Wa Taala yang paham perasaan cinta yang
terpendam di hati Boy.

“Dia belum ada pekerjaan yang cocok, Pap. Biar saja.
Nanti kan ada waktunya dia punya pekerjaan yang hebat.
Jadi pengusaha muda ya Boy?” Kata Nyonya. Surya.

“Pengusaha muda dalam bidang jual beli angin?” kata
Tuan Surya. Ia terkekeh-kekeh, menaruh Kompas yang
dibacanya, kemudian masuk ke dalam kamarnya.

Nyonya Surya menoleh ke arah Boy. “Biar saja dia
berkata begitu, Boy. Jangan dimasukkan ke hati,”
katanya. Nyonya Surya memang lebih suka Boy
menyopiri dan merawat mobilnya. Boy tersenyum
padanya. Kemudian ia berjalan ke kamarnya.

Tuan Surya berdandan di kamarnya. Ia termasuk
pecandu kerja. Ia selalu gerah melihat Boy tidak mau
bekerja, padahal sudah berkali-kali ia menawarkan
kesempatan bekerja pada pemuda itu. Ia akhirnya punya
kesimpulan bahwa pemuda semacam Boy adalah
pemuda yang tidak jelas tujuan hidupnya. Orangnya
gampang putus asa, maunya berfantasi saja. Dia sering
mengatakan bahwa fantasi itu memang perlu untuk
manusia pekerja yang mendambakan sukses besar. Tapi
Boy cuma fantasi-fantasian saja. Kuliah gagal, bekerja
ogah. Tuan Surya tak habis pikir. Berhubung Boy itu
anak sahabat karibnya, ia enggan mengusir pemuda itu.
Lagipula istrinya selalu membela Boy.

Mobil Volvo hijau-apel, mobil kantor Tuan Surya

166

www.rajaebookgratis.com

sudah siap di garasi. Sopir Mat Hasan asal Cirebon sudah
duduk di belakang setir. Majikannya punya kebiasaan
unik, tidak mau dibukakan pintu atau dibawakan tas.

Tuan Surya selesai berdandan. Ia keluar dengan
menenteng tas Samsonite warna hitam pekat. Ia
menghampiri istrinya.

“Mam, aku berangkat,” katanya. Dikecupnya jidat
istrinya. Nyonya Surya mengecup dagu Tuan Surya.

“Nggak usah mampir di stimbat ya?” kata Nyonya
Surya. Suaminya cuma terkekeh-kekeh kecil.

Tuan Surya naik mobil lalu berangkat ke kantornya.
***

Di kantor Direktur SMA Bulungan I. Hadi memasuk-
kan surat-surat “dinas” ke sebuah map. Surat surat itu
berasal dari Pak Direktur untuk orang tuaAnna Karenina
dan Ali Topan. Mereka diminta datang untuk
“konsultasi” perkara “surat cinta” Ali Topan kepada
Anna yang diributkan Ibu Dewi kemarin.

Hadi memasukkan map ke dalam kantong plastik lalu
berjalan ke luar menuju tempat parkir motor dinasnya.
Pekerjaan mengantar surat panggilan ke alamatAliTopan
hampir merupakan pekerjaan rutin bagi sekretaris Pak
Direktur itu.

Dia bahkan sudah kenal baik dengan babu tua di rumah
Ali Topan. Untung MbokYem, babu itu sudah tua, coba
masih muda barangkali aku bisa jatuh cinta betul sama
Mbok Yem, demikian pikiran Hadi sambil mendorong
motornya ke pintu gerbang sekolah.

Selama ini memang MbokYem itu yang menemuinya
jika ia disuruh mengantar surat “konsultasi” ke alamat
Ali Topan. Ibu atau Ayah anak muda itu tak sekalipun
dijumpainya di rumah. Dia hafal betul sambutan Mbok
Yem setiap kali datang. “Lho kok dateng lagi.Ada apa to

167

www.rajaebookgratis.com

kok dateng dateng ke sini lagi? Mau minta sumbangan
buat sekolahnya Ndoro saya?” begitu sambutan Mbok
Yem. Dan Mbok Yem pasti terkekeh-kekeh.
Membayangkan muka MbokYem yang terkekeh-kekeh
itu Hadi jadi tersenyum sendiri. Geli dia.

“MbokYem sayang, aku datang lagi…,”kata Hadi pada
dirinya sendiri. Maka ia jadi terkekeh-kekeh pula sambil
menghidupkan mesin motornya. Dia masih tersenyum-
senyum sendiri di jalanan menuju ke rumah Ali Topan.

Di rumah Ali Topan, Mbok Yem sedang menemui
tukan sayur bernama Bang Entong. Bang Entong, orang
Betawi Aseli merupakan tukang sayur langganan Mbok
Yem. Ada historisnya kenapa MbokYem memilih Bang
Entong, sebab dari Bang Entong dia bisa kursus praktis
bahasa Jakarta.

Bang Entong sudah selesai memberikan sayur yang
dibeli Mbok Yem. Dia menghitung-hitung harga
penjualannya.

“Awas, jangan naikin harge seenaknye, ye. Saye udeh
kenyang banget diomelin nyonye saye, Bang Entong,”
kata Mbok Yem. Bang Entong cuma tertawa kecil. Dia
masih repot menghitung-hitung harga penjualan
sayurannya. Mbok Yem jadi sewot. Dia ingin Bang En-
tong menjawab, sebab dengan begitu dia bisa berdialog.

“He, Bang Entong, kuping lu budek ye? Gue nanyain,
lu jawabin dong. Nanti gue bise sewot, eh elu gue kagak
bayar bayar acan ye,” kata Mbok Yem. Bang Entong
ketawa terbahak-bahak mendengar omongan Mbok
Yem.

“YaAlloh, Mbok. Ngocehnya jangan kasar kasar dong.
Ntar diketawain tetangge,” kata Bang Entong, “nih
semuenye dua rebu tige ratus jigo,” kata Bang Entong.

“Udeh pakek diskon tuh? Jangan lupe ye, diskonnye

168

www.rajaebookgratis.com

sepuluh persen. Kalok kurang gue berenti aje jadi
langganan. Pokoknye bisa putus aje hubungan kite,” kata
Mbok Yem.

“Ngarti dah ngarti,” kata Bang Entong sembari nyolek
paha Mbok Yem, “eh jangan kate sepuluh persen,
sembilan pulu persen juga saye kasiin, Mbok. Asal …,”
tambahnya.

“Asal ape?”.
“Asal ente mudaan lagi tige pulu taon,” kata Bang
Entong. Dia menjulurkan tangannya untuk menyolek
Mbok Yem, tapi Mbok Yem mengepret tangan itu.
“Jangan suka begitu ah, malu dilihat tetangga,” kata
Mbok Yem tersipu-sipu.
“Kalok malu, buruan dah bayarinnye. Pacar-pacar aye
yang laen udeh pade ngebet nungguin saye,” kata Bang
Entong. Mbok Yem melotot. Rada cemburu juga
mendengar omongan Bang Entong. “Ya udah, pergi
buruan ke pacarnye nyang laen. Kagak usyah kemariin
lagi,” kata Mbok Yem, merajuk. Bang Entong
menggaruk-garuk pantatnya sembari cengar-cengir.
“Ayo dong sayang? Mbok Yem biar udeh tuaan,
pokoknye saye paling betah aje di sini. Ayo dong buruan
duitnye, sayang,” rayu Bang Entong. Mbok Yem masih
merengut, padahal hatinya berbunga kena rayuan Bang
Entong yang “kontemporer” itu.
“Awas kalok saya denger Bang Entong pacaran sama
babu-babu laen. Putus aje hubungan kite,” kata Mbok
Yem. Ia mengeluarkan uang Rp 2.500,- untuk membayar
sayur mayur yang dibelinya.
“Kembalinye besok aje ye? Kagak ade duit kecil nih,
sayang,” kata bang Entong. Dia menggoda Mbok Yem.
“Tak ada kembali, tak boleh pergi,” kata Mbok Yem.
Bang Entong melemparkan uang kembali ke tampah

169

www.rajaebookgratis.com

tempat sayur mayur mbok Yem.
“Permisii. Trime kasii,” kata bang Entong. Dia

mengangkat pikulannya, kemudian berjalan pergi. Pan-
tatnya sengaja digoyang-goyangkan dengan “sexy”.
MbokYem menggigit bibirnya melihat goyangan pantat
bang Entong. Dia terpesona oleh goyangan pantat tukang
sayur itu.

Sesudah Bang Entong tidak tampak lagi barulah Mbok
Yem mengangkat tampah dan berjalan masuk ke dalam
rumah. Baru sampai pintu, dia berhenti karena
mendengar suara sepeda motor memasuki halaman
rumah. Hadi, pengendara motor itu melambaikan tangan
ke arahnya.

“Halo, saya dateng lagi,” Hadi berseru. Ia mematikan
mesin motornya, memarkir di tengah halaman, lalu
menghampiri Mbok Yem.

“Lho, kok dateng-dateng lagi?Ada urusan penting lagi
ya Dik Hadi,” kata Mbok Yem. Hadi mengambil surat
dari dalam map.

“Biasa. Surat panggilan. Ibu dan bapak harus mengha-
dap hari ini juga. Anaknya kurang ajar di sekolahan,”
kata Hadi. Mbok Yem memberengut.

“Kurang ajar? Siapa yang kurang ajar? Jangan sembar-
angan ngatain Ndoro saya kurang ajar, nanti saya
sampluk kowe, Di,” kata Mbok Yem, bersungut-sungut.

“Pokoknya terserah. Saya nggak mau banyak bicara
lagi,” kata Hadi. Dia menaruh surat panggilan itu di atas
sayur mayur, kemudian berbalik ke tempat motornya.
Dia menghidupkan motornya lalu meninggalkan rumah
Ali Topan.

Mbok Yem berjalan masuk ke dalam rumah. Dia me-
naruh sayur mayur di dapur. Ia mengambil surat
panggilan itu dan diamat-amatinya dengan seksama.

170

www.rajaebookgratis.com

Kemudian ia berjalan ke ruang tengah. Surat panggilan
itu ditaruhnya dia atas meja.

Nyonya Amir muncul dari kamarnya. Wajahnya pucat
sekali. Dia sakit selesma.

“Ada surat dari sekolahannya Den Bagus, Ndoro
Putri,” kata Mbok Yem. Dia mengambil surat dari atas
meja, menyerahkannya pada Nyonya Amir.

Nyonya Amir membuka surat itu dan membacanya.
Ekspresi wajahnya tak berubah. Dia melipat kembali
surat itu dan memasukkannya ke dalam sampulnya.

“Aku sedang sakit. Tidak bisa datang,” katanya. Surat
itu diberikan lagi pada Mbok Yem.

“Katanya penting sekali, Ndoro Putri. Harus datang ke
sekolahan Den Bagus,” kata Mbok Yem.

“Aku sakit,” kata Ny. Amir. Lalu dia berjalan ke kursi
dan duduk di situ. Termangu-mangu.

Mbok Yem segera menyingkir dari hadapan Nyonya
Amir. Di dalam hatinya dia menggerutu dan mencaci-
maki ‘ndoro putrinya’. Anak sendiri tidak diurusi, anak
orang lain disayang seperti suami, demikian gerutuan
Mbok Yem. Tapi Nyonya Amir tetap berdiam diri,
termangu-mangu, entah memikirkan hal apa.

Mbok Yem tidak tahu. Yang dia tahu, berdasarkan
pengalaman menerima surat dan pembicaraan dengan
Hadi, Den Bagus Ali Topan-nya sedang dilanda
kesusahan di sekolah. Ia sayang betul padaAliTopan tapi
ia tak bisa apa-apa. Ia cuma babu. Babu tua. Dengan
pikiran ‘tak habis pikir’, MbokYem masuk ke dapur dan
meneruskan kerjanya.

***
Nyonya Surya sedang mencuci tangan di dapur rumah-
nya. Ia telah selesai ‘meruwat’ bonsai, pohon-pohon
kerdil kesayangannya. Boy bersiul-siul lagi tak jelas di

171

www.rajaebookgratis.com

kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Boy memang
‘penggemar’ kamar mandi. Dan penghuni rumah sudah
maklum dengan ‘kegemarannya’ yang khas itu.

“Boy! Boy!” Ny. Surya berteriak.
Boy tetap bersiul-siul di kamar mandi. Dia kurang men-
dengarkan teriakan Nyonya Surya.
Nyonya Surya berteriak-teriak lagi, memanggil na-
manya.
“Yak! Sebentar!” Boy menyahut dari kamar mandi.
Tak lama kemudian, Boy ke luar dari kamar mandi.
Wajahnya tampak berseri-seri, tapi jalannya agak loyo.
Ia ke dapur menjumpai Nyonya Surya.
“Boy, sebentar lagi tolong antarkan aku ke salon ya.
Aku mau krimbat,” kata Nyonya Surya.
“Bolehlah. Tapi tak lama kan?” tanya Boy, “aku kan
harus menjemput Anna,” tambahnya.
“Ah, ah, kau penuh perhatian pada Anna. Aku senang
sekali.”
Boy menyeringai. Ia mengusap-usap wajahnya. Bel
berdering.
“Siapa lagi, pagi-pagi begini sudah mertamu,” kata
Nyonya Surya, “tolong lihat, Boy. Kalau Nyonya Winata,
bilang aku sudah pergi,” tambahnya.
Boy bergegas ke ruang depan. Ia melihat Hadi berdiri
di depan pintu.
“Bung siapa? Ada urusan apa ke sini?” tanya Boy,
tanpa membuka pintu. Hadi berdiri dan memandangnya
dengan aneh. Sok bener, gumam Hadi. Boy akhirnya
membuka pintu.
“Di sini rumah Anna Karenina?” tanya Hadi.
“Iya, betul, ada apa?”
Hadi menyodorkan surat panggilan.
“Apa ini?” tanya Boy.

172

www.rajaebookgratis.com

“Bung baca saja sendiri,” kata Hadi. Kemudian ia pamit
dan berjalan pergi meninggalkan rumah itu. Boy memba-
lik-balik surat itu, lalu bergegas ke dapur, menemui
Nyonya Surya.

“Siapa Boy?”. tanya Ny. Surya.
“Dari sekolah siAnna,” kata Boy sambil menyerahkan
surat. Nyonya Surya terbelalak. “Dari sekolah si Anna?
Ada apa sih?” tanyanya. Segera dibukanya surat itu. Dan
dibacanya.
“Waduh Boy, Boy, Boy! Kita cepat-cepat ke sekolah si
Anna. Ini surat panggilan penting. Waduh, ada apa ya?
Udah, cepat sana siap-siap, aku nggak jadi ke salon,” kata
Ny. Surya. Ia segera lari, terbirit-birit, ke kamarnya.
Tak berapa lama Boy dan Nyonya Surya naik mobil
menuju SMA Bulungan I. Di perjalanan, mereka saling
bertanya jawab, menduga-duga. Mengenai maksud dan
tujuan surat panggilan itu.
Di kantor Direktur SMA Bulungan I, Ali Topan dan
Anna Karenina duduk menghadap Pak Broto
Panggabean. Ibu Dewi duduk di kursi, di dekat pintu.
Hadi datang, tergopoh-gopoh. Langsung memberi
laporan pada bossnya. “Surat sudah saya sampaikan ke
rumah Anna Karenina, Pak. Sebentar lagi mungkin
mereka datang,” kata Hadi.
“Orang Ali Topan?” tanya Pak Broto Panggabean.
“Saya tidak tahu, Pak. Tapi suratnya sudah saya
sampaikan pada Mbok Yem,” kata Hadi.
“MbokYem? Siapa dia?” tanya Pak Broto.
“Itu…itu… pembantu rumah Ali Topan, Pak,” kata
Hadi.
“Oh ya? Baiklah,” kata Pak Broto. Hadi lantas ke luar
dari ruang itu.
Pak Broto Panggabean memandang Ali Topan. “Ke

173

www.rajaebookgratis.com

mana orang tua kau, Ali Topan?” tanyanya.
“Saya tak tahu, Pak. Jika mereka pergi tak pernah

memberi tahu saya,” sahut Ali Topan. Pak Broto, Ibu
Dewi, dan Anna Karenina terkejut mendengar jawaban
Ali Topan yang tegas itu.

“Jangan asbun kau!,” kata Pak Broto. Beliau melotot
ke arah Ali Topan.

“Bukan asbun, pak, tapi fakbun,” kata Ali Topan.
“Apa itu fakbun?”
“Fakta bunyi!”
Heh heh heh, Pak Broto tertawa terkekeh kekeh.
Ketawanya yang spontan itu mengejutkan Ibu Dewi. Ibu
guru centil itu melotot. Ha ha ha.AliTopan tertawa. Lalu
diam. Ibu Dewi makin sengit. Ia merasa diledek.
Ibu Dewi melotot, merengut, wajahnya merah
menahan marah. Tapi Ali Topan cengar-cengir saja.
Beberapa waktu kemudian, Hadi masuk, mengiring
Nyonya Surya dan Boy. Nyonya Surya terkesiap melihat
Ali Topan dan Anna.
“Selamat pagi. Selamat pagi. Mari. Silakan,” kata Pak
Broto. Nyonya Surya dan Boy masuk, diperkenalkan
lebih dulu dengan Ibu Dewi.
Nyonya Surya dan Boy masih menatap Anna dan Ali
Topan.
“Ada apa ini, An,” kata Nyonya Surya dengan nada
dingin. Pak Broto menyela. “Aaa, begini… silahkan
duduk dulu. Begini… sebetulnya tidak ada perkara yang
serius, tapi Ibu kami undang untuk sekedar konsultasi
saja mengenai… mengenai… putriIbu..,” kata Pak Broto.
“Anna! Kau bikin apa di sini ha?!” Nyonya Surya
menghardik anaknya. Lalu dia menuding Ali Topan dan
berkata keras: “Kamu bikin apa sama anak saya?
Memang kamu anak kurang ajar!”

174

www.rajaebookgratis.com

“Sabar, sabaar, Ibu. Biar Ibu Dewi menjelaskan duduk
perkaranya,” kata Pak Broto Panggabean. Hati guru
kepala ini agak menyesal melihat perkembangan yang
tidak enak. Harusnya dia kelarkan saja persoalan, tanpa
membuat pertemuan semacam ini.Tapi semuanya sudah
terlanjur.

Ibu Dewi dengan lancar tentu dengan tambahan
bumbu-bumbu penyedap kata-kata dan mimik yang
dramatis. Tak percuma dia ikut grup teater tatkala kuliah
di IKIP dulu. Dramatis betul suasana dibikinnya.
“Begitulah, Ibu Surya. Saya selaku guru pengawas yang
ditugaskan langsung oleh Departemen merasa
bertanggung jawab penuh atas nama baik sekolah ini,
dan untuk mecegah supaya murid-murid tidak terjuremus
ke jurang kenistaan dan kenakalan remaja,” demikian
kata penutup Ibu Dewi. Nyonya Surya, Boy dan Anna
tampak tegang. Tapi Ali Topan malah tersenyum kecil.

“Ibu Dewi, tadi itu ada kesalahan kecil. Bukan
terjuremus, tapi terjerumus,” kata Ali Topan.

Ibu Dewi melengak. Demikian pula hadirin lainnya.
Mulut Ibu Dewi terbuka. Sebelum ia bicara, Ali Topan
sudah buka mulut: ”Menurut tata bahasa Indonesia yang
baik, pembicaraan Ibu Dewi agak kurang teratur, hingga
sulit dipahami maknanya,” Mak! Langsung wajah Ibu
Dewi merah sebagai muka orang Belanda kesentrong
sinar mentari.

“Kurang ajar!” perkataan itu ke luar dengan dahsyat
dari mulut Ibu Dewi. Seluruh emosinya meledak. Ia tak
tahan menerima aksi Ali Topan. Ia pikir kemarahannya
sudah setinggi langit, tapi Ali Topan tak bergeming.
Dengan tenang ia menyodok kaki kemarahannya yang
rapuh. Soal tata bahasa masih sempat dibawa-bawanya.
Benar-benar kurang ajar!

175

www.rajaebookgratis.com

Ibu Dewi menghentakkan kaki, lalu ke luar ruang. Ia
tersedu sedan. Suasana di dalam ruang jadi hening. Lang-
kah-langkah Ibu Dewi yang nyaring merupakan ilustrasi
suara yang terdengar. Tek tok tek tok tek tok. Makin jauh,
makin berkurang bunyi hak sepatu lancipnya menjejak
lantai koridor sekolah.

Kelas-kelas yang dilewatinya hening. Para murid dan
guru melongok sejenak. Melihat kelebatan Ibu Dewi,
mereka menerka, pasti ada sesuatu yang terjadi.

Ibu Dewi ke luar dari gedung sekolah. Ia memanggil
taksi President yang lewat. Taksi berhenti. Sopirnya
membukakan pintu. Ibu Dewi masuk ke dalam.“Ke Jalan
Jendral Sudirman. Departemen P dan K,””kata Ibu Dewi.
Sopir taksi manggut, kemudian menancap gas taksinya.

Di ruang direktur, suasana terasa runyam bagi Anna
Karenina. Seujung kukupun ia tak menyangka kalau
situasi berkembang ruwet begitu. Ia baru tahu dan yakin
akan “Siapa Ali Topan,” sebagaimana diceritakan oleh
Maya. Ali Topan itu susah ditebak adatnya. ’Nyentrik
sih,’ demikian kata Maya. ’Dia sebetulnya anak yang
baik. Tapi suka nekat. Dan nekatnya nggak ketulungan.’
Begitu rekomendasi yang diterima Anna, pada hari-hari
yang lewat.

AliTopan duduk dengan gaya masa bodo. Ia sedikitpun
tidak memandang ke arah Nyonya Surya dan Boy.
Sekilas tadi, waktu masuk, ia melirik mereka, dan
menangkap sinar mata yang tak enak buat dipandang.
Makanya ia tak menggubris mereka. Ia duduk dengan
tenang, menggosok-gosok dengkulnya.

“Heh!AliTopan! Kau benar-benartrouble maker!Aku
tak bisa bicara apa-apa lagi. Rasanya aku cuma ingin
menempeleng kau. Tapi aku tahu itu tidak pantas,” kata
Pak Broto Panggabean. Nadanya dingin. Ali Topan acuh

176

www.rajaebookgratis.com

tak acuh saja. Dia mengartikan omongan direktur sekolah
itu secara lain. Pak Broto tak berani menepelengnya,
sebab, dulu pernah ada peristiwa, Pak Idris, guru olahraga
menampar Ali Topan, kemudian, sehari sesudah
peristiwa itu, Pak Idris digebuki berandal-berandal Pasar
Melawai. Mengingat itu, Ali Topan tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum, heh?” tanya Pak Broto. Ali
Topan menoleh, memandang tepat di antara dua biji mata
direktur sekolahnya. Lalu ia tersenyum lagi, senyuman
yang susah diterka Pak Broto, apakah senyuman itu asal
senyuman, ataukah senyuman menganggap enteng.

“Kau keluarlah! Nanti kutempeleng kau!” hardik Pak
Broto. Ali Topan berdiri. Tapi ia tidak beranjak dari
tempatnya. Ia menoleh ke arahAnna Karenina. Gadis itu
pucat pasi.Wajahnya melukiskan kecamuk perasaannya.

“Anna juga boleh ke luar, Pak?” tanyaAliTopan sambil
menoleh ke arah Pak Broto.

“Anna tetap tinggal di sini!” Nyonya Surya berteriak.
Tangannya mencekal lengan Anna.

“Saya harap Anna tidak dijatuhi hukuman apapun
akibat peristiwa ini, Pak Broto. Semua kesalahan atas
rekening saya,” kata Ali Topan. Ia melirik Pak Broto,
kemudian melangkah ke pintu. Boy menghadang di
pintu. Wajah Boy tegang, matanya mengandung sinar
kebencian yang hebat. Ali Topan berhenti tepat di depan
Boy. Boy masih menghadang.

“Numpang lewat,” kata Ali Topan. Tapi Boy tetap
menghadang. Pelahan Ali Topan menengadah. Sinar
matanya menyapu wajah Boy. Boy bergidik melihat sinar
mata Ali Topan yang sangat beringas. Tanpa sadar dia
menyingkir ke tepi. Ali Topan mendengus, lalu berjalan
ke luar. Ia kembali ke kelasnya.

Walaupun ia sudah tidak berada di ruang Direktur, tapi

177

www.rajaebookgratis.com

‘wibawa’ dari sikapnya membuat orang-orang di ruang
itu terpaku. Pak Broto mengusap-usap dagunya, Nyonya
Surya dan Boy saling memandang, dan Anna Karenina
menunduk. Masing-masing berpikir tentang Ali Topan.

Akhirnya Boy bicara. “Anak begitu mustinya dipecat
saja dari sekolah ini, Pak. Kalau tidak, dia bisa bikin
hitam nama bapak dan jadi racun bagi murid-murid lain.”

Nyonya Surya menyambung, “Itu sangat betul, Pak.
Lihat saja, anak saya jadi korbannya yang entah yang ke
berapa. Dan ibu guru tadi… Ibu Dewi, dibuatnya begitu
marah.”

Pak Broto diam saja. Kepalanya manggut-manggut
macam burung kuntul di tengah sawah. Manggut-
manggut itu gayanya yang khas, dan tidak selalu berarti
mengiyakan pendapat orang lain.

“Yah. Begitulah. Saya tidak bisa bicara apa-apa lagi.
Kita tunggu berita dari Ibu Dewi. Saya kira dia akan
melapor ke Departemen P dan K. Nah, terima kasih atas
kedatangan Ibu. Saya harap komunikasi begini bisa
dilanjutkan demi kebaikan bersama, guru, orang tua
murid dan si murid sendiri. Begitu?” kata Pak Broto. Ia
ingin mengakhiri pertemuan.

“Tapi, bagaimana selanjutnya? Harus ada sanksi berat
untuk anak berandal itu. Kalau tidak, saya bisa bikin
besar ini perkara. Saya kenal orang-orang berkuasa di
Hankam. Jadi, betul-betul bapak harus bertindak,” kata
Nyonya Surya. Pak Broto manggut-manggut lagi
menyungging senyum yang khas Medan.

“Ibu tunggu kabar saja,” katanya. Kemudian ia
berpaling ke Anna dan berkata, “Nah, Anna boleh
kembali ke dalam kelas. Seperti kata Ali Topan tadi,
kesalahan semuanya atas rekening dia.”

Anna Karenina mengangguk. Ia berpaling ke arah

178

www.rajaebookgratis.com

ibunya. Nyonya Surya memandang pula kepadanya. Boy
ikut melihat Anna.

“Lebih aman kau pulang saja sekarang, Anna,” kata
Boy. Anna menatap mata Boy, lalu dengan gaya tidak
senang, ia melengos.

“Iya, begitu juga baik. Ayo, Anna, ambil tas kamu,”
kata Nyonya Surya, kemudian ia berpaling ke arah Boy,
“Boy, kawal dia,” katanya.

Dengan kesal Anna menuruti “kebijaksanaan” itu. Ia
pamit pada Pak Broto. Pak Broto mengelus rambut
muridnya, lalu mengantar ke luar ruang. Boy, mengikuti
Anna dari belakang. Nyonya Surya juga pamit. Ia
berjalan mengikuti Boy dan Anna.

Pak Broto memperhatikan mereka, kemudian masuk
ke dalam kantornya.

“Hadiiiii!,” serunya. Hadi datang segera.
“Ada apa, Pak?”
Pak Broto melotot.
“Pakai tanya lagi. Mana es teh buatku? Dan Dji Sam
Soe sebungkus, bon dulu di kantin. Cepat kau! Kepalaku
pening melihat muka kau yang macam beruk itu!” hardik
Pak Broto. Ia melampiaskan kedongkolan pada Hadi.
“Siap, Pak!” kata Hadi. Lalu berjalan mundur ke pintu.
Sampai di luar ia berlari sekencang-kencangnya ke
kantin.
“He, bibi! Mana es teh aku? Dan Dji Sam Soe sebung-
kus, ngebon dululah! Cepat kau antar ke kamar Bapak
kita, Si Broto Panggabean, bah!” kata Hadi pada bibi
kantin. Bibi kantin tertawa.
“Kalau di sini berani bilang Si Broto Panggabean. Ka-
lau di depan orangnya… huh!, bisa dibikin beres kamu,
Di,” kata Bibi Kantin. Sambil tertawa-tawa, segera mem-
buat es teh manis. Setelah selesai, ia berikan es teh dan

179

www.rajaebookgratis.com

sebungkus Dji Sam Soe pada Hadi. “Salam buat Pak
Broto,” kata bibi kantin.

“Salam pakai cium?”
“Hus!” Bibi kantin melotot. Hadi terbahak-bahak
sambil pergi membawa es teh dan Dji Sam Soe.
Begitu Hadi sampai dan menaruh gelas es teh manis,
langsung Pak Broto menyambar minuman itu dan me-
nenggak seperti orang menenggak tuak. Segelas es teh
manis amblas dengan sekejap mata. Lalu membuka
bungkus Dji Sam Soe dengan gigi taringnya.
Hadi segera mengundurkan diri. Pintu kantor Pak Broto
ditutupnya dari luar. Hadi tahu, pada saat seperti itu, Pak
Broto tidak boleh diganggu gugat.
Pak Broto mengambil sebatang Dji Sam Soe,
mengeluarkan tembakau separ uh. Kemudian ia
mengambil bungkusan ganja dari laci mejanya. Ganja itu
dicampur dengan tembakau yang sudah dikeluarkannya,
kemudian dimasukkan lagi ke dalam rokok. Sisa
tembakau dan ganja disimpannya di dalam amplop. Pak
Broto sulit menghilangkan kebiasaan mengganja yang
dilakukan sejak masih muda, di Medan dulu.

***
Sebuah pesawat terbang kertas melayang di dalam
kelas. Pesawat itu melayang-layang, lalu menukik, dan
mendarat di kepala Maya. Lantas terdengar suara ketawa
dari teman-temannya. Ketawa Ali Topan terdengar
paling keras. Ia yang melayangkan pesawat terbang
kertas itu.
Maya tidak marah. Ia tahu, Ali Topan sedang kesal.
Anna Karenina sudah pulang bersama Ibunya dan Boy.
Di depan pintu,tadi, Boy berdiri dengan gaya sok angker.
AliTopan melemparnya dengan sebutir permen Chiclets.
Kena kepalanya. Ketika Anna mengambil tasnya, ia tak

180

www.rajaebookgratis.com

berkata apa-apa. Wajahnya merunduk.
Ridwan menghampiri Ali Topan. Ia berbisik-bisik.Ali

Topan mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu Ridwan
kembali ke tempat duduknya.

Ali Topan berdiri. Ia mengambil tas sekolahnya, lalu
berjalan ke pintu. Teman-temannya memperhatikan.

Di tengah pintu, sambil tetap menghadap ke luar, Ali
Topan berseru: “He, kenyung-kenyung. Gua poskul
duluan. Kalian belajar baek-baek, ye?!”

“Iyeeeee..,” teman-temannya serempak menyahut.
Lantas Ali Topan berlalu. Langkahnya tenang,
pandangannya lurus ke depan. Ia terus berjalan,melewati
koridor, kantor guru-guru, pintu gerbang sekolah dan
menyeberangi jalan.
Ia terus berjalan. Pelan tapi pasti. Menuju Jalan Pang-
lima Polim Tiga, tempat tukang tambal ban motor &
mobil.
Motornya sudah siap ketika ia sampai. Bannya sudah
ditambal, dan bodinya sudah dibersihkan oleh penambal
ban.
“Ada berapa lobang?” tanya Ali Topan.
“Dua lobang. Pakunya panjang sih,” kata penambal
ban.
“Brokap?”.
“Dua lobang, duaratus deh.”
Ali Topan membayar Rp 200, lalu mengambil sepeda
motornya.
Tak lama kemudian, ia sudah nangkring di atas
motornya. Ia tak ngebut. Motornya dijalankannya pelan-
pelan.
Ia langsung pulang ke rumahnya.

***

181

www.rajaebookgratis.com

EMPAT BELAS

Esoknya, sekitar pukul 10.00 Waktu Indonesia
Barat, Hadi datang ke rumahAliTopan,membawa
sepucuk surat keputusan Direktur SMA Bulungan
I, mengenai skorsing. Selama satu bulan penuh, ia tidak
diizinkan mengikuti pelajaran sekolah.

Yang menerima surat itu Nyonya Amir. Ali Topan
sedang berada di kamarnya.

NyonyaAmir membaca surat keputusan itu, kemudian
pergi ke kamar Ali Topan. Ia masuk ke kamar anaknya
dan mendapati Ali Topan sedang tidur-tiduran. Nyonya
Amir duduk di ranjang Ali Topan.

“Kamu tidak sekolah hari ini?” tanya Nyonya Amir.
“Males,” jawab Ali Topan.
“Kenapa males?”
“Kemarin ribut di sekolah.”
“Kenapa ribut?”
“Biasa.”
“Biasa apa?”
“Soal cewek.”
“Lho, sudah punya cewek? Kok mama nggak di kasih
tahu?”
Ali Topan tak menjawab. Ia merasa aneh. Mamanya
kok lain sekali hari ini? Kok menaruh perhatian banget?
Ia menelentang, memandang ibunya. Ibunya tampak
tersenyum. Tapi wajahnya pucat sekali.
“Ada apa?” tanya Ny. Amir.
“Mama tumben nanya-nanya. Udah insap ya?” kata
Ali Topan.

182

www.rajaebookgratis.com

Mamanya terperanjat. Wajahnya yang pucat makin
pucat. Tapi senyumnya masih diusahakan keluar, untuk
mengurangi rasa kagetnya.

“Kepala Sekolahmu mengirim ini,” kata NyonyaAmir.
Ia menunjukkan surat pada anaknya.

“Apa itu? Surat skorsingya? Atau Ali dipecat dari
sekolah?” tanya Ali Topan.

“Baca saja sendiri,” kata NyonyaAmir. Ia memberikan
surat itu pada anaknya. Ali Topan membaca surat itu.
Ekspresi wajahnya tidak berubah. Tenang-tenang saja
tampaknya.

“Kamu nakal betul ya di sekolah, kok sampai di skors
begitu lama. Jangan nakal dong Ali.”

“Ha ha ha. Jaman sekarang memang jamannya orang
nakal, Mama. Kalau nggak ada orang nakal, nggak rame
dunia,” kata Ali Topan.

Nyonya Amir tertegun. Darahnya tersirap. Kata-kata
anaknya terasa sebagai ratusan jarum yang menancap di
ulu hatinya. Dipandangnya wajah anaknya, tapi terba-
yang wajah lelaki tanggung yang bukan anaknya. Sema-
kin ia memandang Ali Topan, semakin terbayang wajah
anak-anak muda yang menjadi “gigolo”-nya. Kepalanya
terasa pening mendadak. Pandangan matanya
berkunang-kunang.

“Apa kamu bilang?” bisiknya.Ali Topan memandang-
nya. Sepasang mata seakan-akan layu. Sinar matanya
suram, mengandung kecewa.

“Maaf, Mama, Ali nggak suka keadaan di rumah ini.
Ali nggak mengerti kemauan mama dan papa. Terus
terang Ali kecewa,” kata Ali Topan.

NyonyaAmir tertegun. Peningnya menjadi-jadi. Sebe-
tulnya rasa pening itu hampir tak bisa ditahannya, tapi
ke-aku-annya sebagai seorang ibu tidak bisa menerima

183

www.rajaebookgratis.com

ucapan anaknya, sekalipun ucapan itu mengandung
kebenaran.

“Kamu memang tidak akan pernah bisa mengerti!”
gumamnya. Lalu ia bangkit, dan segera berjalan ke luar.
Pintu kamarAliTopan dibantingnya. Surat hukuman dari
sekolah melayang jatuh kelantai.

Sesaat Ali Topan memandang daun pintu yang
dibanting dan surat hukuman yang terletak dilantai.Lalu
iapun bangkit, dari tempat tidurnya. Matanya terasa
panas. Sekuat tenaga ia tahan airmata yang hendak ke
luar, namun sia-sia. Iapun menunduk. Butir-butir airmata
jatuh ke lantai. Ia menangis, terisak-isak.

Dadanya terasa sesak, hatinya terasa hampa. Ia ingin
sekali berteriak sekuat-kuatnya. Ia ingin meledakkan
seluruh perasaan yang terpendam lama, rasa kecewa
berasal dari rasa kehilangan sesuatu, yaitu perhatian
ibunya. Dulu mamanya nggak begitu. Masih biasa-biasa
saja. Seperti mamanya waktu ia masih kecil. Meskipun
cerewet, dan kalau bicara membentak-bentak, tapi masih
waras. Mamanya berubah sejak tahu suaminya main
perempuan. Dia jadi kacau.

Ia tidak berteriak. Ia hanya terisak-isak. Ia tak mau
berteriak kepada ibunya, walaupun sekujur tubuh dan
seisi jiwanya ingin berteriak, Hentikan, hentikan semua
kegilaan di rumah ini!!!

Ia memejamkan mata sejenak dan menarik napas
panjang-panjang. Kedua tangannya mengepal.
Ditinjunya udara berkali-kali untuk melampiaskan
tekanan perasaan di dalam jiwanya.

Akhirnya ia terkulai lemas.
Perlahan dibukanya kelopak matanya.
Bibirnya terbuka. Ia menyebut nama Tuhan.
Lalu ia berjalan mengambil celana blue jeans dan jaket-

184

www.rajaebookgratis.com

nya. Dikenakannya pakaian itu, kemudian sepatunya.
Dengan tubuh terkulai ia pergi ke kamar mandi.

Diciduknya air, diusapnkan ke wajahnya. Demikian ber-
kali-kali. Sesudah itu ia menyenduk air dengan tangan-
nya, untuk berkumur-kumur. Lalu ia ke luar.

Tak lama kemudian, Ali Topan naik motor mening-
galkan rumahnya. Ia ngebut!

***
Ali Topan memacu motornya di jalanan. Wajahnya
muram. Pikirannya kusut. Ia merasa sebagai anak paling
malang di Jakarta.
Dalam keadaan risau begini, ia ingin sendiri. Ia tidak
membutuhkan siapapun. Tidak Gevaert, tidak Bobby,
dan tidak Dudung! walaupun mereka teman-teman seper-
mainan, ia sedikit sekali bicara tantang keadaannya di
rumah. Teman-temannya itu mendengar-dengar perihal
rumah tangganya yang kacau balau, tapi bukan dari dia.
Kebayoran memang bukan sekecil Subang, tapi untuk
urusan permainan seks-gelap, seperti yang dikerjakan
oleh kedua orangtuanya, rasanya setiap hidung anak
Kebayoran tahu. Terutama ikhwal ibunya, yang
mendapat sebutan Tante Dun Hill –karena selalu
merokokDun Hill– setiappemuda hidung belang rasanya
belum sah kalau belum pernah pergi dengannya, begitu
kelakar para muda Kebayoran.
Dan ayahnya? Tak ada rotan, akar pun jadi, kelakar
mereka. Artinya, tak ada perempuan lacur, bencongpun
jadi!
“Gilak!” teriak Ali Topan.
Ia kaget sendiri mendengar teriakannya, sebab pengen-
dara mobil di sampingnya melotot ke arahnya, kaget.
Ali Topan mengebutkan motornya di antara mobil-
mobil sedan di jalur cepat Jalan Raya Jendral Sudirman.

185

www.rajaebookgratis.com

Seharusnya ia masuk ke jalur lambat, tempat khusus bagi
pengendara motor yang dicampur dengan biskota. Tapi
ia tak peduli jalur lambat. Ia ingin cepat. Ia tak peduli
sumpah serapah oom-oom di dalam mobil yang marah
karena ia tidak mematuhi aturan lalulintas jalan raya. Ia
sedang sumpek.

Ia mengepotkan motornya di antara kendaraan lainnya
dengan kecepatan 80 sampai 90 km per jam. Ia terus
menggeblas. Lewat kolong jembatan Semanggi. Dua
polisi lalulintas yang sedang patroli menudingnya. Tapi
Ali Topan masa bodo saja. Ia menggeblas terus. Polisi
mengejarnya.

Di Bendungan Hilir ia masuk ke jalur lambat. Kece-
patan motornya dikuranginya. Ia menyelipkan motornya
di balik bis PPD, hingga polisi patroli kehilangan jejak-
nya.

Polisi itu celingukan, mencari-cariAliTopan. Ia heran,
cepat betul anak tanggung itu menghilang. Ia tidak tahu
Ali Topan bersembunyi di balik bis kota. Ali Topan
mengintip polisi yang melaju ke depan sambil celingukan
mencarinya.

Sampai Bunderan Hotel Indonesia, Ali Topan masih
merendengi bis PPD. Ia melihat penumpang dan kondek-
tur bis PPD ketawa-tawa melihatnya. Mereka tahu kela-
kuannya mempermainkan polisi.

“Udah, kebut aje, polisinya udah ngilang,” kata
kondektur bis. Ali Topan diam saja. Malas menjawab.

Lepas dari bunderan HI, Ali Topan memacu motornya
kembali. Ia lurus ke arah utara. Ia ingin segera sampai di
pantai Bina Ria, salah satu tempat yang disenanginya
untuk menyendiri.

Matahari mulai tenggelam di makan laut barat. Langit
berwarna merah marong. Ombak makin besar dan angin

186

www.rajaebookgratis.com

makin kencang. Ali Topan berdiri tegak menatap cakra-
wala. Rambutnya yang hitam lebat dan gondrong
dihembus angin, menambah kegagahannya.

Sekujur tubuhnya lusuh. Dan perutnya terasa lapar.
Sudah berjam-jam ia merenung sendiri berdialog dengan
angin dan laut. Sepatunnya penuh pasir. Demikian pula
celana jeans-nya.

Ia berjalan ke tepi pantai. Dimasukkannya kakinya ke
laut, sebatas paha. Celana dan bajunya basah kuyup. Ia
mengambil pasir dari dalam laut. Digenggammya pasir
itu,lalu dilemparkannya ke tengah. Kemudian ia mencuci
wajahnya dengan air laut. Dijilatinya tangannya yang
basah. Asin. Dan agak pahit. Hausnya makin mencekik.

Akhirnya ia berbalik, berjalan menuju semak tempat ia
memarkir motornya. Diangkatnya sang motor, ditepuk-
tepuknya sadelnya. Lalu ia menyemplakinya.

Sebelum berlalu, ia menoleh ke arah laut. “Aku pulang
dulu ya laut, kapan-kapan aku ke sini lagi,” katanya.
Lantas ia hidupkan motornya, dan berlalu dari situ.

***
Sementara itu di rumah Anna. Ia duduk di hadapan
bapaknya, di ruang tengah. Boy dan ibunya turut juga
dalam pertemuan itu. Anna sedang dimarahi oleh
bapaknya perkara hubungannya dengan Ali Topan.
“Kenapa jadi begini, Anna? Papa kan sudah bilang
berkali-kali agar membatasi pergaulan dengan anak anak
yang tidak cocok dengan derajat kita. Kau harus selalu
ingat bahwa kau masih punya tetesan darah bangsawan.
Itu masih berlaku, walaupun orang bilang sekarang jaman
modern. Bagaimanapun modernnya jaman, tetapi tetap
ada perbedaan derajat antara tetesan bangsawan dengan
tetesan darah rakyat biasa yang tidak jelas asal usulnya,”
kata Pak Surya.

187

www.rajaebookgratis.com

“Saya tak mengerti soal itu, Papa,” sahutAnna.
“Kau memang tak pernah mau mengerti. Pokoknya,
mengerti atau tidak, Papa ingin kau menurut aturan, titik!
Di sekolah yang dulu, kau bergaul sembarangan. Sesudah
dipindahkan ke sekolah baru, masih begitu saja,” kata
Pak Surya.
“Mustinya dia sekolah di rumah saja, biar tak bikin
pusing orangtua. Saya pun sanggup mengajarnya, kalau
diminta,” sela Boy.
Anna benci sekali mendengar ucapan Boy. Kebencian-
nya ditunjukkan dengan cara melihat Boy dengan
pandangan jijik.
“Gua nggak mau belajar sama kamu, bangsat!” kata
Anna.
Semua kaget mendengar makian Anna. Tak ada yang
menyangka dia berani memaki Boy. Boy melengak, tapi
segera berpura-pura tenang. Ia mengawasi Anna. Boy
tersenyum kecil.
“Sejak kau pakai kalung itu, kau suka marah-marah,
An?” kata Boy. Ucapan yang acuh tak acuh itu justru
berakibat hebat. Anna membelalak.
“Oh, begitu kau bilang, Boy?” kata Pak Surya, “Coba
kulihat kalungmu, An,” ucapnya pada Anna. Pak Surya
menjamah kalung di leher Anna. Anna mencoba me-
ngelak, tapi tangan ayahnya sudah menyentuh kalung
itu.
“Coba buka,” kata Pak Surya. Anna diam saja.
“Diguna-gunai melalui kalung itu dia, Pa,” kata nyonya
Surya yang sangat terpengaruh oleh ucapan Boy.
“Coba buka, Papa mau lihat,” kata Pak Surya kembali.
Anna masih diam. Tapi wajahnya memperlihatkan
penolakan yang hebat. Ia sangat marah pada Boy, benci
pada hasutannya yang dipercaya oleh ayah dan ibunya.

188

www.rajaebookgratis.com

Kedua orangtuanya memang sangat percaya pada
tahayul.

Pak Surya menarik kalung Anna perlahan. Anna tetap
bertahan. Berulang-ulang Pak Surya memintanya untuk
membuka kalung itu.

“Besok papa belikan kalung emas bermata berlian
untuk ganti kalung ini, Anna. Bukalah,” kata pak Surya.
Anna menggeleng-nggelengkan wajahnya. Air matanya
berlinang.

“Biar… biar Anna pakai kalung ini saja, Papa. Boleh
ya Papa? Kalung ini tida ada guna-gunanya… percaya
deh Papa…,” kata Anna dengan bibir bergetar menahan
perasaan yang tertekan.

“Aaaah, cerewet!” kata Pak Surya, sambil menyentak
kalung itu. Putus!Anna memekik. Lehernya terasa sakit,
tapi hatinya lebih sakit lagi. Maka iapun menangislah.
Terisak-isak.

Pak Surya menggenggam kalung itu. Ia mencium-cium
benda itu, seperti kelakuan dukun klenik yang sedang
mengendus setan.

“Hm. Hm… bau melati… ini pasti ada apa-apanya…,”
gumam Pak Surya. Ia melihat ke istrinya, lalu mengang-
surkan kalung itu. Nyonya Surya membaui kalung itu,
mengendus-ngendus dengan penuh semangat.
Pikirannya sudah dipenuhi oleh guna-guna. Begitu
terbaui olehnya bunga melati, iapun mengangguk-
angguk. Ia menoleh ke arah Boy. Boy melirik Anna
dengan gaya sinis betul. Sinar “kemenangan” menyertai
tatapan sinisnya itu.

Anna Karenina tak tahan melihat kelakuan mereka.
Dalam kedongkolannya, ia merasa sedikit geli. Tentu
saja kalung itu bau melati, karena memang diolesinya
kalung dari Ali Topan dengan parfum Jasmine yang bau

189

www.rajaebookgratis.com

sari melati. Ia ingin menjelaskan hal itu, tapi ketika
dilihatnya kelakuan ayah ibunya seperti dukun, ia
membatalkan maksudnya.

“Untung Boy memberi ingat. Kalau tidak, bahaya! Bisa
kecolongan lagi kita,” kata nyonya Surya. Pak Surya
mengangguk-anggukkan kepalanya, seperti burung kun-
tul. Boy ikut-ikutan mengangguk-angguk. Anna ingin
sekali meludahi muka Boy. Ingin sekali.

“Besok bawa anakmu ke Mbah Ruspi, Ma,” kata Pak
Surya. Mbah Ruspi yang dimaksudkannya itu adalah
seorang tua yang menjadi dukun keluarga.

“Saya tidak mau!” kata Anna dengan keras.
“Tuh, tuh, guna-gunanya masih nempel,” kata Nyonya
Surya. Pak Surya langsung mendekati Anna.
Disentuhnya dahi Anna, dengan maksud meraba-raba
“setan” yang dianggapnya menyarangi Anna. Anna
menepis tangan ayahnya.
“Wah, setannya bandel betul! Melawan!” kata Pak
Surya. Gila betul orangtua ini. Dia menangkapnya tangan
Anna. Lalu dipegangnya kuat-kuat. Pikirannya dipenuhi
bayangan anaknya kena guna-guna. Sebelah tangannya
mengusap dahi Anna. Anna memejamkan matanya. Ia
tak sanggup menahan kesedihan hati yang bercampur
rasa marah yang sangat. Perlakuan orangtuanya sungguh
keterlaluan.
Ia cuma bisa menangis. Terisak-isak.
Pak Surya melepaskan sentuhannya. Ia membiarkan
Anna menangis. Malah ditontonnya anaknya yang
sedang menangis.

***
Ali Topan sampai di jalan Thamrin. Perutnya lapar. Ia
mengebutkan kendaraannya supaya cepat sampai di
kebayoran. Pikirannya sudah mendahului sampai di

190

www.rajaebookgratis.com

warungTegal di belakang kantor polisi Komwil 74, salah
satu tempatnya biasa makan dengan teman-temannya.

Di depan gedung Sarinah ia terkesiap. Mobil ayahnya
tampak di antara kendaraan yang lain. Ditancapnya gas
motornya untuk menyusul mobil itu.

Mobil itu memang mobil ayahnya. Pak Amir tampak
sedang tertawa-tawa, menyetir mobilnya. Di sebelahnya
duduk seorang perempuan. Ia sama sekali tak mengira
kalau anaknya sedang membuntuti di samping sebuah
mobil lain di belakangnya.

“Badanku capek, pegel semua. Kau harus memijati
aku Marta,” kata pak Amir, sambil menyubit paha
perempuan bawaannya. Marta mengaduh, tapi
membiarkan tangan Pak Amir tetap di atas pahanya.
Bahkan ketika tangan itu menggerayang ke mana-mana
tetap dibiarkannya.

“Sabar ah, sabar… sebentar lagi aku tekuk semua
tulang-tulang, OomAmir, supaya hilang capeknya,” kata
Marta.

“Wah, kalau tulang ditekuk-tekuk, tambah capek
dong.”

“Iya, capek, tapi kan enak,” sambil tertawa cekikikan.
Pas dia ketawa begitu, Ali Topan merendengi mobil
PakAmir.Ali Topan memandang tajam ke arah ayahnya,
PakAmir kaget melihatAliTopan. Setir mobilnya sampai
terlepas dan mobilnya sedikit ngepot. Marta ikut kaget
karena mobil itu hampir menghajar mobil lain.
Pak Amir mencoba tersenyum wajah ke anaknya, tapi
Ali Topan menampakkan wajah murka.
“Dari mana kau?” sapa Pak Amir, mencoba beramah
tamah.
AliTopan tak menjawab. Ia membuang pandangannya.
Lalu memacu motornya ke depan. Pak Amir malah

191

www.rajaebookgratis.com

melambatkan mobilnya.
“Siapa sih, Oom?” tanya Marta.
“Anak saya…,” kata Pak Amir.
“Wah, ganteng ya. Bisa pinjem dong saya...,” kata

Marta.
“Hus! Bapaknya saja, jangan anaknya…,” kata Pak

Amir. Ia melotot. Tapi tangannya menggerayangi paha
Marta kembali.

“Nanti dia mengadu ke ibunya. Bisa gawat nih, Oom,”
kata Marta.

“Nggak, nggak. Dia nggak suka ngadu. Nanti kalau
ngadu saya tempelengi,” sahut Pak Amir.

Mereka sampai di bundaran Hotel Indonesia. Lampu
lalulintas hijau. PakAmir terus membelokkan mobilnya
ke Hotel Indonesia.

Ali Topan mengebutkan motornya. Perutnya yang
lapar tiba-tiba tak terasa lagi. Kelaparannya lenyap, kalah
oleh kepahitan hatinya. Seringkali ia memergoki ayahnya
membawa perempuan, yang sekali lirik saja diketahuinya
sebagai perempuan bawaan. Bahkan pernah dulu ia
bersama Bobby, Dudung dan Gevaert berlibur ke daerah
Puncak, dan mengintip orang bercinta di sebuah villa.
Yang diintipnya ayahnya sendiri.

Tak terasa ia sampai di bunderan Senayan. Matanya
perih kena angin dan debu malam. Diusapnya matanya
dengan tangan kiri, lalu mengebut lagi ke jurusan CSW.

Wajah Anna Karenina terbayang tiba-tiba. Dan
rindunya pun datang bersama bayangan wajah gadisnya.
Tiba-tiba pula hatinya berdetak. Serasa ada sesuatu yang
tidak enak mengganjal perasaannya. Tiba-tiba ada suatu
tarikan perasaan yang kuat, keinginannya bertemu
dengan Anna. Ia ingin tahu apakah Anna dimarahi oleh
orangtuanya karena persoalan di sekolah sianghari tadi.

192

www.rajaebookgratis.com

Tiba-tiba pikiran khasnya muncul, didorong oleh instink
aneh yang dimilikinya.AliTopan memang punya instink
tajam. Ia sering bergerak instinktif. Spontan.

Begitu instinknya memberi sinyal berupa perasaan
ingin ketemu Anna, Ali Topan langsung menuruti
kehendak itu. Ia menahan rasa laparnya. Motornya
langsung ditujukan ke arah rumahAnna. Dia ingin datang
ke rumah gadisnya.

***
Anna Karenina masih duduk diam di kursinya. Ia masih
tetap dibanjiri nasehat dan petuah oleh ayah dan ibunya.
Sudah bosan dia mendengar petuah dan nasehat yang
diobral, yang itu ke itu melulu.
Tapi untuk beranjak pergi, ia masih ngeri. Ia belum
pernah memberontak secara total. Pemberontakannya
selama ini cuma terbatas pada memaki Boy, atau
membantah omongan orangtuanya secara kecil-kecilan,
dan akhirnya menangis.
Keluarga Anna Karenina memang termasuk keluarga
yang sedikit sableng. Istilah ilmiahnya, ayah dan ibu
Anna, kehilangan rasionalisme dalam mendidik anak-
anak mereka. Emosi lebih berbicara. Subyektif sekali.
Mereka melihat Anna dan Ika sebagai anak kecil melihat
boneka-boneka.
Anak-anak tak punya hak cukup untuk memilih jalan
hidupnya sendiri. Hukum wajib dan larangan, semata-
mata datang dari pihak orangtua. Kebebasan
berpendapat, kebebasan menentukan apa yang disukai
dan tidak disukai olehAnna dan Ika, cuma ada di dalam
hati. Tak pernah diberi kesempatan. Mereka lupa, betapa
masyarakat di luar rumah setiap saat berubah, begitu
cepat. Kaum muda makin menuntut kebebasan, dan
memperoleh hal itu dari masyarakat, sedangkan kaum

193

www.rajaebookgratis.com

tua yang koppig menjadi dungu dan tolol, membunuh
wibawanya sendiri, karena memusuhi hak kebebasan
anak-anak mereka.

Perang nilai, pembaharuan dan kekolotan yang penuh
basa basi dan kemunafikan, melahirkan banyak
kepahitan. Di antara kepahitan itu makin banyaknya
jumlah ‘unwanted child,’ bayi-bayi yang dicetak dalam
kepanikan. Motif cinta ataukah nafsu, begitu kabur. Dan
tidak menjadi peduli.

Ika Jelita, kakak perempuanAnna Karenina, termasuk
dalam kasus itu. Ia memang jelita bagai porselen. Sialnya,
ayah dan ibunya menganggap Ika seperti barang antik,
bukan sebagai manusia. Rumah merupakam semacam
museum. Ika seperti patung kuno yang ditaruh di dalam
lemari kaca. Hanya bisa dilihat, boleh ditaksir, tapi tak
boleh menaksir orang yang disukainya. Sampai pada
waktunya ia pantas pacaran, pacarpun dipilihkan oleh
orangtuanya. Ada anak jendral pensiunan, ada anak
dokter jiwa, ada anak pedagang kaya, dan ada keturunan
bangsawan Yogya.

Bukan tak ganteng, bukan tak punya cinta, tapi Ika
sudah punya pacar. Namanya Muhammad Iqbal, anak
Betawi asli. Ia anak yang soleh dan cukup terpelajar.
Miskinpun tidak, karena orangtuanya punya sawah dan
kebun buah-buahan. Tabiatnya baik. Orangnya rendah
hati.Yang utama, Ika mencintainya, dan iapun mencintai
Ika dengan sepenuh hati. Tapi, Tuan dan Nyonya Surya
tidak setuju Ika pacaran dengan Muhammad Iqbal. Iqbal
kampungan, kata mereka. Dan segerobak kejelekan
lainnya yang diada-adakan.

Ika dan Iqbal bercinta lewat pintu belakang. Backstreet.
Orangtua Ika tahu. Larangan jatuh. Aturan diperketat.
Mereka lupa, makin ketat aturan, makin deras larangan,

194

www.rajaebookgratis.com

makin hebat cinta berjuang mencari jalannya.
Sampai pada batas cinta tak bisa kompromi dengan

peraturan rumah, Ika-pun hamil oleh Iqbal. Atas dasar
cinta sama cinta,suka sama suka. Dan, orangtua akhirnya
tak punya kesaktian lagi, kecuali mengusir Ika dengan
bekal caci-maki. Begitu ceritanya.

Kini Anna mengalami nasib sama walau tak serupa.
Orangtuanya masih belum kapok. Mereka tak mau
menimba pelajaran dari pengalaman mereka sendiri. Jiwa
anaknya tak diselami, kemauannya tidak ditimbang-
timbang. ’Pokoknya, prek deh buat Ali Topan,’demikian
keputusan mereka.

Mereka tak menyadari, orangtua pun bisa kuwalat
kalau mengkorup hak asasi anaknya. Mereka lupa bahwa
mereka bukan Sang Maha Kuasa. Padahal Tuhan telah
menanamkan benih cinta di setiap hati umat-Nya. Dan
benih itu punya bunga-bunga. Bunga bunga cinta punya
keindahan masing-masing. Dan, tak bisa ditahan mekar
dan wanginya. Kalau menahan mekarnya bunga, kalau
membekap wanginya, itulah melawan takdir.

Rupanya, pikiranTuan dan Nyonya Surya tidak sampai
ke situ. Jadinya, mereka takabur. Menganggap enteng
cinta muda-mudi. Kalau diterus-teruskan, mereka meng-
anggap enteng Tuhan anak-anak itu. Mereka pikir,
barangkali, Tuhan anak-anak muda berbeda dengan
Tuhan mereka.

Anna, Ia gadis yang sedikit nyentrik. Kemauannya
lebih keras dari Ika, kakaknya. Bedanya dengan Ika,
Anna lebih ekstrovert, terbuka. Ia masih punya setitik
harapan, orang tuanya membolehkan ia bergaul dengan
Ali Topan. Tapi ia kecewa, karena Ali Topan sudah
distempel sebagai pemuda begajulan.

Yang mencemaskan Anna, adalah manusia bernama

195

www.rajaebookgratis.com

Boy. Sebagai gadis, Anna punya perasaan, Boy menak-
sirnya. Taksiran itu habis-habisan. Boy pandai menyem-
bunyikan minatnya dari pandangan orangtua Anna. Tapi
nafsu yang terpancar dari dua matanya, tak lolos dari
pandangan Anna. Anna ngeri betul pada Boy. Matanya
seperti mata tukang perkosa di film-film. Buas dan lapar
betul!

Selama iniAnna cuma bisa memendam kengeriannya.
Lagi pula ia tidak bisa sembarangan omong, khawatir
kalau Boy menjadi-jadi, jika tahu Anna membaca jalan
pikirannya yang mesum. Anna khawatir Boy jadi ge-er
alias gede rasa.

KehadiranAli Topan dalam hidupnya membawa kese-
jukan di dalam hati. Tapi orang tuanya menganggap
justru sebagai badai yang memporak-porandakan
segalanya. Tanpa alasan yang masuk akal. Hingga Anna
kesal dan mulai nekat. Diam-diam ia sudah ambil
keputusan untuk memberontak, merebut haknya, seperti
Ika.

***
Ketukan di pintu membuat semua orang menoleh. Dan
semua orang itu terkejut ketika tahu siapa tamu mereka.
Ali Topan!
Sejenak mereka terpana. Tuan Surya mengernyitkan
dahi, Nyonya Surya menunjukkan aksi bengong, Boy
meringis, dan Anna berhenti menangis!
Ali Topan berdiri tegak. Ia menanti persilaan dari si
empunya rumah. Ternyata persilaan itu tak kunjung
datang. Yang datang justru kejutan lain.
“Usir anak gila itu, Boy!” seru Tuan Surya.
Tersirap darah Anna mendengarnya. Ia mengangkat
kepalanya, melihat ke arah Boy yang berjalan ke pintu.
Anna jadi nekat. Dengan sebat ia bergerak, berlari ke

196

www.rajaebookgratis.com

pintu.
“Anna! Kembali!” ayahnya berteriak. Tapi Anna tetap

berlari, membuka pintu.
“Topaaan…,” bisik Anna, tangannya menyentuh

lengan Ali Topan. Ali Topan tersenyum. Mereka saling
menggenggam tangan, tak menggubris Boy yang
meringis di dekat mereka.

Genggaman itu lepas ketika Tuan Surya datang dan
menggeprak tangan mereka! Anna Karenina ditariknya
ke dalam, lalu ia berdiri murka di depan Ali Topan.

“Jahanam! Pergiiii!” hardiknya.
Ali Topan menganggukkan kepalanya dengan sopan
namun gagah. Kemudian ia memutar badannya, dan
berjalan dari hadapan orangtua yang murka itu.
Diiringi isak tangis Anna Karenina, ia menyemplak
motornya, lantas pergi dari rumah itu.
Hatinya puas bisa bertemu dengan Karenina.

***

197

www.rajaebookgratis.com

LIMA BELAS

Munir, pemilik kios koran dan majalah di samping
toko sepatu Bata Blok M, sedang repot membe-
nahi dagangannya ketika Ali Topan datang. Ali
Topan langsung menyomot Kompas.

“Nir, ada berita rumah digusur atau tukang becak
ditangkepin?” kata Ali Topan.

“DiKompasada,tapi yang lebih seru diIbu Kota,gong.
Nenek-nenek diperkosa kira-kira juga ada di situ,” kata
Munir. Ia memberikan Ibu Kota pada Ali Topan.

“Makasih!” sahut Ali Topan, kemudian ia duduk di
bangku milik Munir.

Ia membaca.
Munir meneruskan kerjanya, mengatur koran-koran
dan majalah.
Seorang petugas keamanan Blok M datang ke kios itu
dan berdiri di dekat Munir. Ia menyomot beberapa
majalah.
“Minjam dulu ah, buat bacaan di kantor,” katanya.
Munir tak menjawab. Mulutnya separuh ternganga.Ali
Topan melirik ke arah petugas keamanan itu. Kebetulan
si petugas memandangnya.
“Ada apa liat-liat?” kata si petugas.
Ali Topan kaget. Dalam hatinya ia berkata, galak amat
petugas itu.
“Situ kenapa liat-liat saya?” kata Ali Topan.
Si petugas melengak. Ia melotot.
“Mau saya gampar kamu?” katanya.
“Lho, ada kasus apa?” kata Ali Topan sembari mema-

198

www.rajaebookgratis.com

jang senyuman bertendens. Si petugas tak menjawab.
Tapi matanya makin melotot.

“Jangan melotot begitu dong, nanti saya takut,” kata
Ali Topan. Munir dan beberapa penjual mainan anak-
anak tersenyum mendengar omonganAliTopan. Mereka
senang melihat petugas keamanan yang sok itu
dipermainkan oleh Ali Topan.

”Mau gua gampar? Banyak bacot kau!”kata si petugas.
Ia bergerak mendekati Ali Topan, tangannya diangkat
untuk menggampar Ali Topan. Langsung saja Ali Topan
berdiri.

“Kalau mau dipecat sama bapak saya, coba gampar!”
kata Ali Topan. Ia berkacak pinggang. Gagah sekali.

Petugas keamanan keder juga melihat gaya Ali Topan,
lagi pula ia berpikir siapa gerangan bapak si anak muda
ini.

“Bapak kamu siapa?” tanyanya, melembut.
“Bapak saya orang!”
Munir dan teman-temannya tertawa. Petugas
keamanan melihat ke arah mereka. Wajahnya merah
padam menahan amarah. Tapi ia tak berani bertindak
sembarangan.
“Bapak kamu jendral ya?” tanya si petugas,
meyakinkan dirinya sendiri.
“Punya KTP apa enggak, berani berani nanya bapak
saya? Nanti saya sebut nama bapak saya, situ kaget lagi.
Udah pergi sana saya tak ada tempo melayani situ,” kata
Ali Topan. Lantas ia duduk kembali, dan melanjutkan
bacaannya. Petugas keamanan ragu sejenak, tapi kemu-
dian ia memutuskan untuk menuruti perasaan kedernya.
Sambil menyandang perasaan malu, ia ngeloyor pergi.
“Gila lu, Pan! Untung dia ngeri, kalau dia kalap kan
repot lu,” kata Munir.

199

www.rajaebookgratis.com

“Waah, boss kita ini hebat ‘kali. Gertakannya mantap
‘kali. Hebaaat,” kata seorang penjual mainan.

Ali Topan cuma tersenyum.
“Gertakan begitu ada elmunya tuh, bukan sembarang
gertakan,” kata Ali Topan sembari tersenyum lebar.
“Elmu apa, Boss?” kata penjual mainan anak-anak.
“Wah, itu nggak boleh sembarangan dikasih tahu,” kata
Ali Topan. Ia menaruh Kompas dan Ibu Kota, lalu
ngeloyor pergi.
“Makasih, Nir,” katanya.
“Sama sama,” kata Munir.
AliTopan berhenti sebentar di toko Bata, melihat lihat.
Lalu berjalan lagi ke arah Pasar Melawai bagian
belakang.
Melewati lorong-lorong kecil bagian toko-toko tekstil,
ia bersiul-siul lagu sembarangan. Sapaan halo dari para
pegawai toko-toko tekstil dijawabnya dengan halo juga.
Di ujung lorong ada seorang gadis memanggil
namanya.
“Hai, Maya, ngapain?” sahut Ali Topan sambil
menghampiri Maya yang tersenyum manis.
“Disuruh mama beli kain kelambu,” kata Maya.
“Lho, kok masih pakai kelambu? Kan ada Raid?”
“Mama alergi kalau bau obat-obatan semprot, jadi
pakai kelambu. Kamu dari mana? Kangen deh,” kata
Maya.
“Kalau kangen, beliin rokok dong,” kata Ali Topan.
Penjual tekstil yang mendengar omongan itu, kertawa
he he he. Maya yang sudah hafal kebiasaan Ali Topan
mengangguk pertanda paham.
“Tunggu sebentar ya, saya selesaikan transaksi dulu,”
kata Maya. Ia pun membayar harga kain kelambu yang
telah dibelinya.

200


Click to View FlipBook Version