101
Suaka Kuasa
Ini aku, Bung !
Tak perlu mancung, tuk garang
Banyak cakap seragam pakaian
Penyeleksi guna hailee sellasie dan machiavelli
Semoga hari ini atau esok kalian masih menganggap aku ini sebagaimana tadi kalian mengenal
dan sempat mengorek isi telingaku ini dengan suara. Jangan anggap ini sebagai suatu kabut yang
tak bisa kalian hapus dengan sekali hembusan.
Anggap ini hanya serangkaian pemeriksaan sebelum terbaptis kenyataan.
Datanglah kemari sekarang, datangi aku dengan pertanyaan yang selalu kalian siapkan setiap
melihat aku bersilat dihadapan kalian. Analisa aku dengan berbagai teori yang sudah kalian
pelajari untuk mengungkap siapa aku ini. Perangi aku dan lawan aku dengan mental '98 yang
kalian banggakan, sumpal aku dengan kebenaran hasil pedagogis kepercayaan kalian.
Ohh, para Bigot, hantarkan aku dengan des sein ala machiavelli. Manjakan telingaku dengan
kidung hikayat keagungan para penganut Haile Selassie dan bangunkan aku dengan derajat
wewangian pemahaman kalian.
Jangan cari aku, ketika kalian belum bisa menemukan rasa hambar di taik kucing !
102
12 Mikail Septian A. V.
Nama : Mikail Septian A.V.
Lahir : Balikpapan, Kalimantan Timur 8 September 1993
Riwayat pendidikan :
TK Ignatius Slamet Riyadi
SD Ignatius Slamet Riyadi I
SMP Ignatius Slamet Riyadi
SMA Sedes Sapientiae Bedono
Masa SMA merupakan masa yang menyenangkan. Saya
mengenal puisi lebih lanjut ya pada masa SMA ini. Sempat membuat puisi yang kemudian
dijadikan lagu oleh teman saya. Alhasil puisi saya terkenal seisi sekolah. Dari situ saya dikenal
cukup mahir membuat puisi. Atas dorongan itulah yang membuat saya terus mencoba menulis
puisi ketika ilham menghampiri otak saya. Dalam menulis puisi saya lebih condong kearah puisi
yang memiliki kata-kata puitis cinta dan sejenisnya. Namun saya juga ingin suatu waktu bisa
menulis puisi dengan tema yang berbeda. Selain senang menulis puisi saya juga senang bermain
game. Tiada hari tanpa game. Game bagi saya adalah pelipur lara bagi para kaum jomblo. Game
mengerti saya begitu pula saya mengerti game. Terima kasih.
103
Penguasa
Penguasa terbang jauh di langit biru
Mencari harta duniawi
Penguasa bermigrasi ke segala penjuru
Menikmati harta sendiri
Di tanah hanya rakyat melata
Mengais sisa-sisa asa
Di tanah hanya rakyat berduka
Mengucap doa sebisanya
Penguasa merajai segala bumi
Rakyat menanggung segala duri
104
Bocah Berbisa
Hei kamu! Iya kamu yang menembus tubuh ayahku
Dengan pisau terdorong kebenaranmu!
Hei bapak suci! Sadarkah dirimu atas tindakan itu?
Memutuskan kebahagiaanku dan ayah yang kini tiada
Tinggal seorang diri menjalani hidup
Lalu lalang mencari-cari kebebasan
Yang hanya ada dalam cerita pengantar tidur
Nyatanya aku hidup dalam bayang kegelisahan
Entah salah apa ayahku! Ayah salah?
Lalu kalian benar? Buktikan!
Karna kepercayaan ayah berbeda dengan kebanyakan kaliankah?
Justru aku berharap semua tiada beda,
105
Pantai
Kala pasir putih memangku manja
Ayunan ombak menyentuh hangat
Dibuatnya terlena dalam damai
Kala semilir angin laut bersenandung
Burung-burung ikut bersua juga
Dibuainya teduh dalam mewangi
Di sinilah tempat terkenang
Kala di pantai
106
Koral Cinta
Hamparan koral itu
Embun beraroma, sejukkan batin
Hamparan koral itu
Kamu ada, cinta terjalin
Seakan menyentuh dasar
Koral laut menjejalkan kaki tegas
Seakan menyentuh dasar
Hadirmu di sini beri bias
Senyum terlintas
Tawa mengisi
Koral hanya alas
Namun tegar berdiri
107
Kopi Secangkir
Secangkir kopi duduk bertiga
Merapat hal dalam satu meja
Bicara luas namun bermakna
Sejumput kemajuan meraih asa
Kopi menari di atas lidah
Membasuh kering kerinduan
Sejenak pikiran kembali terarah
Merangkum cara kemajuan
108
Ada-ada Sajak
Terangkai sepasang kata
Terurai dari sejuta ada
Tercipta untuk semua
Tersampaikan lewat nada irama
Mungkin ini bual belaka
Bagi dia yang tak peduli
Tapi ini pesan bermakna
Bagi dia yang mencari arti
Ini hidup harus mengayuh
Ditemani kata pendorong jiwa
Ada-ada sajak dimana kita berada
Setiap dari mereka punya arti
Ada-ada sajak yang mewarnai masa
Akan terus hidup menjulang tinggi
Hingga pada ujungnya
Sajak akan menyapa kita
Hingga akhir langkahnya
Sajak slalu memberi asa
109
Kuning
Tiada lagi elegi
Saat kurasa hadirmu
Semua begitu tepat
Indah pada dirimu
Kuning di kala matahari terik
Kuning di kala langit sore
Membuatnya padu waktu itu
Menjadikan sempurna menutup hari
Kau dan aku tenggelam
Dalam naungan kuning di atas
Kau dan aku bercerita
Saat kuning masih setia meneduhkan
110
Tua Renta
Kepada para petani
Terik mencabik-cabik punggung renta itu
Melemahkan raga senja
Tirai langit tak cukup membantu
Meneduhkan niat baja
Namun tekad tiada hilang berlari
Mencari rejeki pangan
Tenaga terkuras mengurai kulit bumi
Menanam benih penghidupan
Semua orang menikmati hasilnya
Tanpa tahu upayanya
Berjuanglah pahlawan tak terkenal
Berjuanglah untuk kelangsungan manusia
111
13 Paskaria Tri Astanti
Paskaria Tri Astanti lahir di Mempawah, 8 April 1993,
Kalimantan Barat, beragama Katolik, asal Kalimantan Barat.
Riwayat pendidikan: SD 05 Mempawah Hilir, SMPN 01
Mempawah Hilir, SMAN 01 Mempawah Hilir, sekarang
menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta, program studi Sastra Indonesia
Hobby: membaca, bernyanyi, menulis, makan dan tidur,
melihat pemandangan
Cita-cita : (dulu ingin menjadi politisi) sekarang, jurnalis
perempuan, editor, dosen sastra Indonesia, penulis.
Penyair Favorit : Chairil Anwar, Sapardi djoko Damono
Novel Favorit : Merahnya Merah (Iwan Simatupang)
Sastrawan idola : Seno Gumira Ajidarma
112
Kaca Kerinduan
Angin mendesah-desah sumbang
pada helai butiran kerinduan
Termangu-mangu di posisi penuh adaptasi
dan dulu kita sempat beradu penuh sensasi
karena cinta yang kita sebut murni
Malam semakin ingin memakan
Teradakan cahaya gelap
dan hembusan nafas semakin ke kanan
kutatap kabut pada cermin
kemudian menyiratkan ketika ada luruh perasaan
Menatap penasaran pada sebuah wajah
mengeluarkan angka-angka yang penuh gairah
mengatakan rindu membara,
kemudian bulan mengaca
113
Sajak Tengkorak
Tanah itu bau darah
Menggendong bau-bau anyir pecah
Udara pun terasing tak mau kenal
Tak mau satu, bau darah ingin menyatu
Pegi duduk pada siang
Siang duduk merangkul paksa malam
Tak ada waktu, tak melihat itu
Waktu kering dimakan manusia perang
Benci sudah menjadi tirai
menggerogoti yang hidup jadi brutal
Teruslah begini hai makhluk !
Dunia sebentar lagi
Museum tengkorak
114
(Bukan) Pendosa
Bangku kosong menempati muka gelisah
Mendekat di pintu, mataku jadi pucat resah
Kubisa lihat
Mata sejuknya tertanam lebam
Wajah damainya ternganga darah
Kubisa lihat
Bicaranya tersendat menahan tangis
Lututnya bergegar tersandung tendangan
Kubisa lihat
Lebih dari 20 kali kepalan mendarat tanpa permisi
Tak terhitung cacian mencabik-cabik
Tak tercatat ludahan tercecer-cecer
Ku bisa lihat
Tuhan diam
Sanubari berteriak, dosa inikah yang dikecam
dan kulihat, tapi Dia diam.
115
Sajak Seonggok Mayat
Adikku kecil, Adikku mungil
Jadi seonggok mayat
kemudian terpotong-potong
Seonggok mayat itu terhantam tajam
Sekarang kecil terpencar-pencar
mungilku tidak haram
kecilku bukan cacar
Siapa gerangan saksi
Ketika maut tak mampu berbunyi
sabit itu bungkam meredam,
memilah tubuh suci
Entah apa itu manusia,
jadi binatang teruji
Darah hilang terhisap jalan
seonggok mayat menunggu hidup dari mati suri
itu bukan mayat kan ?
Sudah pasti…
yang disebutkan terseok-seok berteriak pada bulan
Kecil memeluk raganya yang lepas pangkuan
tanpa daya. Sang sabit dan parang hilang waras
Mungil kecil jadi mata saksi,
kebinatangan berkuasa di bumi keras
116
Ujung
Pada hari terujung ,
aku masih tidak tahu
Kusinggahi rumah,
kubiarkan jejak menginjak
bekas perjalananku
Berjalanku pada aspal kalian,
membeberkan jejak lelah kakiku
Berhenti bilamana waktu,
pada persimpangan
beberapa sandiwara tragedi
Mencari diam atau beraksi,
bahkan cuma jadi saksi
belahan peristiwa kini
Ingatanku tanpa batas,
sampai aku lenyap habis terbabat
Aku tidur, masih mencium
amis kelakuan-kelakuan lalu
Aku bangun, masih mencakar
pilar-pilar masa laluku
Aku mimpi, serasa mereka menghisap habis
sukma tubuhku
nikmati jam mati,
waktumu mungkin menunggu
117
Pada Malam
Malam larut berlari kembali pada semesta
Pada dingin gelap tanpa cahaya
Lihat kiri, kanan, samping, atas, lalu tengadah
bulu lengkung kemudian menari seketika
Apa yang salah pada sebuah kaca
melihat sendiri termangu sepintas cahaya
Ketika tiap sudut mengoceh nada-nada
Telungkupku dalam selimut domba
sedangkan anjing melolong
entah gembira entah gila
118
Pintu
Pintu menatap,
menoleh sekejap
Ukiran yang sebenarnya
jadi kunci
tak teradaptasi
Terayun ganggang,
membuka dimensi
Tak terkejap,
pintu menatap
Berbicara pada kegaduhan
Ramai, keabadian mungkin hilang
Rupanya sekali lagi terlihat
Pintu masih menatapku
119
14 Paulina Vianty Eka Permata
Paulina Vianty Eka Permata lahir di Desa Sindang Jaya, 07 Juni 1993
beragama Katolik. Suku asal: Sumatera.
Riwayat Pendidikan:
SD: Sekolah Dasar Negeri 31 Sindang Jaya
SMP: Sekolah Menengah Pertama Negeri 02 Sindang Kelingi
SMA: Sekolah Menengah Atas Xaverius Curup
Sekarang sedang menempuh pendidikan Sastra Indonesia di
Universitas Sanata Dharma
Pengalaman:
Dari kecil saya mempunyai cita-cita menjadi seorang guru
olahraga. Jujur hingga saat ini cita-cita itu masih ada di dalam diri saya.
Saya mempunyai cita-cita tersebut karena saya menyenangi semua
bidang olahraga. Pengalaman pertama saya ketika saya masuk Sastra
Indonesia ini pertama memang saya merasa kalau saya salah jurusan.
Terlalu susah bagi saat pertama saya mengikuti semua mata kuliah yang ada. Tetapi setelah saya
bertahan hingga mendapatkan beberapa semester saya sudah mulai nyaman dan yakin atas apa
yang telah pilih. Di samping dosen-dosen yang sangat memperdulikan saya, teman-teman juga
selalu memberi semangat sehingga saya dapat bertahan hingga saat ini.
120
Sajak Kerinduanku
Malam semakin larut
Tiada bintang dalam malam kegelapan
Hanya ada rindu yang semakin membara
Dapatkah kau menyampaikannya
Dalam keheningan malam
Hati ini bergemuruh bak tsunami
yang datang menerjang
Hingga mataku sayap dan fikiranku melayang
Hingga tetesan airmata ini jatuh
untuk kau yang selalu kurindukan
Semusim kini telah terlewati
Setumpuk rindu kini telah membukit
Alunan rinduku, untaian rinduku
Tak henti menjerat alam pikiranku
Harap dilema rindu kan terlepas
Walau hanya sesaat saja
121
Ajari Aku
Ajari aku untuk membencimu
Seperti ketika kau mengajari aku
untuk membencimu
Ajari aku tuk melupakanmu
Seperti ketika kau ajari aku
untuk mengingatmu
Aku tahu kau tak bisa memberikan
utuh cintamu padaku
Karena sudah ada penghias hatimu
Tapi haruskah aku menanggung rasa ini
Kau lukai hati ini
Dengan rasa cintamu
122
Tikus Negara
Sungguh malang nasib negeri kita
Memiliki para koruptor yang telah merajalela
Bukankah kebanyakan dari mereka para pendiri banasa?
Atau malah, pembawa derita untuk kita?
Uang seolah remot negara kita
Suap, sudah menjadi tradisi negeri kita
Jabatan dan keadilan sungguh membohongi kita
Mau jadi apa negeri kita?
Polisi tak lagi menggayomi
Jabatan tinggi hanya pamor masa kini
Rakyat pun tak ditangani
Hanya berpikir untuk diri sendiri
Agar istana tetap kokoh berdiri
Kini tikus pun tegap berdiri
Sembari tertawa dan berkata
Akulah penguasa negeri ini
123
Kejamnya Dunia
Derai deritamu
Derai air mataku
Kau lemah tak berdaya
Kejamnya dunia bagimu
Kejamnya hidup untukmu
Saat kau jamah nyawa tanpa dosa
Dia yang lemah dan tak berdaya
Senyuman indah itu
telah menjadi derai air mata
Nyawa manusia tiada arti baginya
Kau kejam
Kau sungguh kejam
Kau bukanlah manusia
Kau tak lebih dari binatang
Yang tak pantas hidup di dunia
124
Penyesalan Tak Berujung
Saat senja datang
Menyambut indahnya rembulan
Ku berjalan dalam kegelapan malam
Meratapi hidup penuh keluh kesah dan amarah
Saat senja datang
Berharap rembulan
Relungkan kelembutan tangannya
Bagi diriku manusia terhina
Kehancuran ini memenjarakanku
Bayangan kalbu selalu menghantuiku
Memperbudak aku hingga tak berdaya
Pantaskah aku bersujud di kaki-Mu
Memohon belas kasih-Mu
Atas segala dosa-dosaku
125
Untukmu Ibu
Ibu, mengenangmu, adalah telaga yang sejuk
Dalam kerinduan ini kukirim alunan puisi untukmu
Ibu, walau orang mencibirmu
Tapi kau bagai cahaya surgaku
Hinaan, cemoohan selalu kau dapatkan
Tapi bagiku engkau wangi bak melati
Ibu, rasakanlah kerinduan hati ini
Aku ingin, kita bercerita tentang hidup
di bawah temaram sinar rembulan
Aku rindu nasehatmu tentang kerasnya hidup
Ibu, ingin aku tidur dalam dekapanmu yang hangat
Yang selalu memberikan semangat hidup bagiku.
126
Goresan-goresan Rindu
Kabut hitam terkatup membisu
Menawan rembulan yang pucat pasi
Sementara sepi menghimpit kesunyian
Lahirkan guratan-guratan perih di hati
Aku semakin tak berdaya
Terpinggirkan oleh ribuan rasa sepi
Dan jiwaku menggigil
Tenggelam dalam putaran tanpa akhir
Batinku menghamba
Pada bayang- bayang tanpa makna
Pada lentera yang mulai redup
Dan rindu yang tak berujung
Langit malam menemaniku
Melukis indah rona wajahmu
Menghiasi asaku dalam penantian
Penantianku akan datangnya hadirmu
Kini aku kembali disini
Di pelabuhan terakhir saat kau pergi
15 Wendy Nugroho 127
Wendy Nugroho lahir di Temanggung pada
28 Mei 1993. Playgroup, TK, SD, SMP Masehi
Temanggung, SMAN 1 Temanggung. SMA masuk
ke jurusan bahasa dan jatuh cinta pada sastra. 2011
Kuliah di USD Sastra Indonesia. Pernah menjadi
aktor teater Bengkal Sastra pada semester 2. Selama
berkarya di bidang sastra tidak ada karyanya yang
diberi judul.
Dudukku atasi batu 128
Memandangi selebur putih kapur
Tak kutebang cemara buat selembar saja 11002722013
Biarlah tegak berdiri Pringgodani
Hempas bayu teruskan hembus kataku Sleman, Yogyakarta
Lumut-lumut menyelimut batu,
Menggelitikku, pantatku,
Menghantu daku jujurkan kalbu
mengapa mulutØnya berbusa? 129
liurnya meranggas bagai pohon ketika gugur
tuan tahu mengapa mulutØnya berbisa? W/114114002
busa atau bisa? 23.19/16413
bisa
iya seingatku busa, atau bisa?
busa berkerumun memenuhi lubang selokan itu
busa dari mana?
busa dari mulutØnya
bisa bisa busa berbisa
tapi bisa bisa tidak berbisa
atau busaØnya yang berbisa?
yang jelas busaØnya mengerumuni lubang selokan itu
sampai-sampai tahi-tahi sulit keluar
memang banyak yang mengeluh sakit
memang busaØnya berbisa
tahi-tahi protes karena jalannya dihalang-halangi busa
ada yang bawa clurit, ada yang bawa gada,
ada yang hanya berteriak-riak, ada yang membawa nyali belaka
mereka meminta busa itu segera disingkirkan
tapi mulutØnya tetap berbusa dan mereka tetap terbisa dari busa
Mengapa mulutØnya tetap berbusa?
Mereka bilang kalau tidak berbusa, rusa-rusa tidak terkena bisa,
maka lapar sudah mereka
Jadi busa buat bunuh rusa
lalu busa yang ini?
130
Tuan lihat?
jalanan ini bergumaman
bising sekali ketika klakson ricuh
menyemangati tekanan darah mereka yang membatu di kepala
Tuan lihat?
jalanan ini bergumaman
banyak yang nyawanya melayang
orang bilang wis ngati-ati ning wong liya ra ngati-ati yo podho wae
Tuan lihat?
jalanan ini bergumaman
katanya kita banyak hutang tapi jalan itu bergumaman
sampai-sampai orang berjalan seperti diincim
sampai-sampai tidak ada orang berjalan yang terlihat di jalanan
mungkin mereka takut
takut oleh rasa malu
takut oleh mata orang lain
Tuan lihat?
bau bensin mengatmosfer
kini kita telah berevolusi
tak lagi air yang membasahi kerongkongan, tapi bensin yang mengeringkan kerongkongan
kini kita lumpuh, tak lagi otot yang menopang kaki, tapi roda yang bergulir ke mana kita akan
pergi
Tuan bisa apa?
w/002
02034/18.09
131
Keparat itu menghantam pengada daku,
Ya keparat, hanya kubisik saja
Lalu ditusuknya dada kirinya, rerenggut nyawa busukkan pengada daku
Meyatukan dirinya pada tanah yang memperbusuk pengada daku
Aturan tetap aturan
Air asin memang tercecap,
Air asin tetap air asin
Selaku air asin di samudera yang dihardik sinar terik lalu menguapkan diri
Menjadi uap lalu...
Gelap sudah, mendung sangat
Ia bukan lagi menangis, ia mengencingiku dengan jarum-jarum
Yang menusuk siapapun yang dijatuhi, tapi hanya aku dan pengada daku
Sekali lagi keparat itu belum puas
Ya keparat, cukup kubisikkan saja
Jadi jangan sekali-kali kau bilangkan
Atau habislah daku
Di luar salju basah bukan oleh air
Oleh cairan amis pekat yang tercurah
Ketika puluhan mata pisau berkarat menjadi saksi mata
Jurang terlihat pada tubuh pengada daku
Kulihat sungai di dalam jurang, sungai yang dialiri cairan amis pekat
Cukup kulihat saja
1744 04032013
Pringgodani, Sleman, Yogyakarta
132
Dugadugadugadug tiang rimbun gugur jadilah bangku
Dugadugadugadug tiang-tiang rimbun gugur jadilah tusuk gigi
Dugadugadugadug rebah sudah jadi rumah
Grokogrokogrokogrok tiap helai daun rontok karena gorok
Grokogrokogrokogrok tiap buah talok busuk karena kepala suku ambruk
Grokogrokogrokogrok sudah, cukup
Grukugrukugrugugrug makin dalam sudah bukit gunung
Grukugrukugrugugrug makin melambung sudah gedung
Grukugrukugrugugrug bunyinya menelusur orang awam
Tingkah mereka tetap saja lucu padahal sudah bukan bocah
Harusnya jam 4 sore tapi lihat Langit terlalu gelap
Karena asap mereka yang sedang membakar harapan tetangga
0613 04032013
Pringgodani, Sleman,Yogyakarta
133
Lepas bajumu sebelum bicara akan ini
Sebelum tumpah darah anyir kami
Sebelum kujur membangkai lalu terhembus angin
Sebelum serpihan busuk merasuk nafas
Sebelum paru digaruk akar murka
Sebelum para nelayan salah penjuru, berlayar lalu terdampar dan lapar
Sebelum para petinggi melambung diri melepas lenyap di langit
Sebelum para anak berseragam seragam saudara
Sebelum para raja turun tahta hanya karna bajumu belum tanggal
Sebelum bedug mendengkur bersama domba-domba berjenggot
Sebelum kaubabtis Chupacabra ini dengan darah manis semanis pahit
Lepas bajumu cepat!
w/114114002
22032013/2041
Pringgodani/Mrican
134
Kisah gunduk pasir dan pak mandor menaungi hati
Kami warga gunduk pasir, kami bergunduk-gunduk
Kami terpencar kecil-kecil, kami yang mati
Pak mandor memerintahkan anak buahnya
Sambil menunjuk kami, mukanya keras darah
Para kuli mengangguk sambil matanya gemerincing receh
Pak mandor membawa sekop, lalu melemparkan kepada salah satu kuli
Para kuli menyiapkan sekop-sekopnya dan saringan
Segera lekas mereka bergerak
"Jangan takut" berubah jadi "ayo takut"
Kami telah mati, takperlu kau cabik lagi
Satu mata sekop menghantam guncukan kecil di sana
Sebelum giliranku, kulihat si kecil ditusuk sekop
Ujung kepala jadi tambun, lalu potongannya dilempar
Ke saringan, jadi keping-keping memori
Tiba giliranku
808.080513 k20
135
kumpulan bocah-bocah di seberang jalan sedang beradu asap
mulutnya menjadi knalpot kecemasan
dan kerakusannya akan diri atas bumi
mereka telah berevolusi
lihat saja kakinya yang selidi tak pernah mendaki hidup
lihat saja kakinya, berukir pola-pola bergerigi,
sedikit hitam mencuat dan di pinggirnya berlogo merk
kaki yang bergulir bukan berlangkahan
kaki yang menggilas kemalasan dan mencandu diri,
mengatapi diri dari udara siap hirup
mereka telah berevolusi
lihat saja mulut yang menghamburkan asap bumi,
mulut yang mengenalpoti diri,
mulut yang kadang juga minum bumi
mulut yang menyucup setiap tetes,
bahkan yang harusnya cucupanku
bukan lagi air dalam botol minum tapi cair dalam tangki
maklum udah modern, manfaatkan sekitar
yang memang benar modern ya
mereka telah berevolusi
lihat saja kepalanya yang berlembar-lembar, bersampul
kepalanya dicoret-coret sesuka-sukanya
katanya biar ingat tapi tak seagenda ada di kepala,
maksudku..tetap ada di kepalanya yang sekarang
tapi ketika kepalanya terlalu besar untuk lewat lorong,
dia seperti amnesia
seesoknya setelah pasang kepala lagi baru kelabakan
114114002
2105.070513
Pringgodani Sleman DIY