Piece yang modern membuat anak usia dini dapat menikmati kesenian
kabuki yang biasanya kurang diminati oleh anak muda. Pada awalnya,
penonton yang sebagian besar terdiri dari wanita muda diketahui secara
bercanda menyebut petunjukan tersebut sebagai “panggung musikal
dengan pria tampan”. Namun, seiring berjalannya waktu, pertunjukan
musikal 2.5D menjadi semakin halus dan akhirnya memiliki penggemar
yang berdedikasi. Berdasarkan perkataan seseorang dari bagian hubungan
masyarakat untuk Asosiasi Musikal 2.5 Dimensi Jepang (Japan 2.5D
Musical Association), menurutnya “Setelah 10 tahun lamanya, Musikal 2.5
dimensi akhinya mulai diakui sebagai petunjukan musikal yang layak”
Kesuksesan aktor musikal yang tekenal, menginspirasi banyak aktor muda
yang bercita-cita untuk mengikuti audisi pada bidang ini, karena bidang
musikal ini telah dipandang sebagai pintu gerbang menuju kesuksesan
dalam industri teater musikal. Musikal 2.5-D telah menarik banyak
perhatian baik dari fans lokal maupun fans internasional, Sejak serial dari
Shonen Jump Prince of Tennis dibuat drama panggungnya 17 tahun yang
lalu. Di luar negeri, popularitas musikal 2.5D sedang meningkat pesat. Pada tahun
2018, untuk pertama kalinya, panggung teater musikal Touken Ranbu dipentaskan
di Prancis, dan mendapatkan banyak pujian. Teater musikal yang diadaptasi dari
online yang cukup populer di jepang. Pada tahun 2019, Panggung musikal dari
manga asli Bishojo Senshi Sailor Moon melakukan tur di Ameika Serikat, tiket
petunjukan musikal tersebut terjual habis satu demi satu. Tidak seperti manga,
anime, game dan sejenisnya, musikal 2.5-D dilisensikan di dalam negeri
Jepang dan sulit untuk disalin, meminimalkan kekhawatiran akan adanya
versi bajakan dari musikal tersebut. Gebrakan yang seperti ini yang
dibutuhkan di indonesia seni tradisional diubah menjadi modern untuk
menambah minat anak usia dini. Di indonesia lenong merupakan seni
tradisional yang digabungkan dengan seni modern yang cukup menarik
minat anak usia dini walaupun pamor dari lenong sudah mulai menurun
dikalangan anak usia dini.
151
MENGENAL SENI TEATER TRADISIONAL INDONESIA YANG
TERKENAL DI DUNIA
Lenong juga merupakan seni teater tradisional yang sudah
mendunia, lenong adalah teater tradisional asal Jakarta yang dibawakan
dalam dialek Betawi. Dalam pertunjukannya, Lenong diiringi dengan musik
gambang kromon yang terdiri dari gambang, kromong, gong, kendang,
suling, dan kecrekan. Tema cerita yang ditampilkan biasanya kehidupan
sehari-hari yang mengandung pesan moral. Pertunjukan Lenong dimainkan
di atas panggung yang berlatarkan tema cerita yang akan ditampilkan.
Pemain Lenong yang laki-laki disebut Panjak, sedangkan yang perempuan
disebut Ronggeng. Jumlah pemain dalam pertunjukan Lenong tidak
terbatas, tergantung peran yang dibutuhkan. Lalu ada sebuah seni
pertunjukan drama tradisional yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah dan
berkembang di Yogyakarta yang juga cukup terkenal di dunia yaitu adalah
Ketoprak. Pada awal kemunculannya, ketoprak diiringin dengan lesung
(tempat menumbuk padi) yang dipukul secara berirama sebagai iringannya.
Lambat laun, pertunjukan ketoprak diiringi dengan gamelan jawa. Tema
ceita yang diambil bisasanya dari kehidupan para petani, cerita-cerita
legenda, dan kisah-kisah fiksi yang disajikan dalam bahasa Jawa. Jika
masyarakat Jawa Tengah memiliki ketoprak sebagai seni pertunjukaannya,
masyarakat Jawa Timur pun memiliki seni pertunjukaan yang serupa
bernama Ludruk. Dalam pertunjukkanya, Ludruk menampilkan cerita
tentang kehidupan sehari-hari yang deselingi denga lawakan dan diiringi
dengan gamelan sebagai musiknya. Ludruk memiliki daya tarik tersendiri
karena disampaikan dengan bahsa yang lugas sehingga mudah dimengerti
oleh orang. Biasanya Ludruk diawali dengan Tari Remo. Mungkin masih
terdengar asing oleh kita, ini merupakan seni pertunjukan teater tradisional
yang berasal dari Kalimantan Selatan yaitu Mamanda. Alur ceritanya
gampang disesuaikan dengan keadaan sehingga cocok untuk ditampilkan
dalam berbagai perayaan seperti pesta perkawinan, panen, maupun hari-hari
besar lainnya. Ada masa kerajaan Banjar, kesenian Mamanda sangat
152
populer. Tradisi cerita dalam Mamanda, selalu menghadirkan tokoh tetap
seperti sultan, panglima perang, perdana menteri, permaisuri, puteri raja,
pangeran, pengawal kerajaan, jin, perampok, dan orang kampung. Nuansa
cerita seputar kerajaan inilah yang menjadi ciri khas dari Mamanda.Kadang-
kadang mamanda juga diselingi dengan lagu-lagu keroncong, atau irama
melayu dari penyanyi dan grup orkes yang menyertai pementasannya.
MENYEBARKAN SENI TEATER TRADISIONAL UNTUK LEBIH
DIKENAL ANAK USIA DINI
Lemahnya peran pemuda dalam menjaga dan melestarikan seni dan
budaya karena trend gaya hidup yang banyak budaya modern yang kebarat-
baratan. Karena itulah anak usia dini kurang mengenal budaya dari negeri
sendiri apalagi bisa ikut mempelajari dan melestarikannya. Ada peribahasa
yang berbunyi, Tak Kenal Maka Tak Sayang yang berarti penting untuk
lebih dulu mengenal sebelum menyayangi sesuatu. Hal tersebut juga bisa
diterapkan untuk memperkenalkan seni teater tradisional pada anak usia
dini. Upaya pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui
berbagai pertunjukkan secara regular. Hal utama yang juga harus dilakukan
adalah pemberian apresiasi dan pemahaman bahwa teater tradisional tiap-
tiap daerah memiliki keunikan yang berbeda-beda. Membuat seni teater
tradisional dengan sentuhan modern bisa membuat cerita yang monoton
lebih menarik. Dengan pemilihan tema yang sedang trend di kalangan anak
muda, plot cerita yang sederhana lalu berkembang secara bertahap menjadi
kompleks, klimaks, sampai penyelesaian. Seperti musikal 2.5D yang sudah
kita bahas diatas, demi menarik minat anak usia dini dibuatlah seni teater
modern dengan mengadaptasi bedasarkan manga, anime dan video game.
Nyatanya seni bermain peran menjadi populer lagi di kalangan anak usia
dini dan banyak dari kesuksesan aktor musikal yang tekenal menginspirasi
banyak aktor muda yang bercita-cita untuk mengikuti audisi pada teater
musikal, karena seni teater musikal ini telah dipandang sebagai pintu
gerbang menuju kesuksesan.
153
MANFAAT YANG DIDAPAT ANAK BELAJAR DARI SENI
BERMAIN PERAN
Saat bermain peran, anak-anak seakan masuk ke dalam dunianya
sendiri, yang penuh keajaiban, dan petualangan seperti yang dialami oleh
karakter favoritnya di TV. Dan tak jarang kita, para orang tua, diajak ikut
masuk ke dalamnya. Bermain peran bukanlah permainan tanpa makna,
namun justru penting bagi perkembangan emosional, mental, intelektual,
bahkan fisik anak. Di bawah ini ada beberapa manfaat dari bermain peran
yang perlu diketahui:
1. Membangun kepercayaan diri
Dengan berpura-pura menjadi apapun yang anak inginkan, misalnya
putri atau superhero, dapat membuat anak dapat “merasakan” sensasi
menjadi karakter-karakter tadi sehingga dapat meningkatkan kepercayaan
dirinya.
2. Mengembangkan kemampuan bahasa
Saat bermain peran, anak pastinya akan berbicara seperti karakter
atau orang yang diperankannya. Hal ini dapat memperluas kosakata anak
dan melatihnya berpidato. Sering mengulangi dialog yang biasa ia dengar
dari sebuah adegan dapat membuat anak lebih percaya diri dalam
berkomunikasi dan mengekspresikan diri.
3. Meningkatkan kreativitas dan akal
Saat bermain peran, kreativitas anak akan terbawa keluar, sehingga
anak menjadi banyak akal saat mencoba membangun dunia impiannya.
Misalnya, kardus-kardus dibuat menjadi istana, bayangan-bayangan dari
jari-jarinya yang bermain menjadi bentuk hewan, dan sebagainya.
4. Membuka kesempatan untuk memecahkan masalah
Pada situasi tertentu saat bermain peran, pikiran anak akan terlatih
untuk menemukan solusi jika ada masalah terjadi. Misalnya, ketika boneka
bayinya ditidurkan, anak akan menyadari bahwa bayi butuh selimut untuk
tetap hangat. Denga memecahkan msalah saat bermain dapat membantu
154
membangun kepercayaan diri anak saat nantinya harus mengatasi masalah
di kehidupan nyata.
5. Membangun kemampuan sosial dan empati
Dalam bermain peran, anak sedang menempatkan dirinya dalam
pengalaman menjadi orang lain. Menghidupkan kembali sebuah adegan bisa
membantu dia menghargai perasaan orang lain sehingga dapat
membantunya mengembangkan empati. Selain itu, karena bermain peran
lebih menyenangkan dilakukan bersama teman, anak dapat belajar
berkomunikasi, bergiliran, dan berbagi peralatan atau mainan bersama
temannya.
6. Memberi mereka pandangan positif
Anak-anak memiliki imajinasi yang tidak terbatas. Bermain peran
dapat membantu anak bermimpi dan berusaha mencapai mimpi dan cita-
citanya.
PENUTUP
KESIMPULAN
Anak usia dini perlu mengenal kesenian dan kebudayaan Indonesia
yang sangat banyak ragamnya. Dengan mengenal, akan lebih mudah untuk
tertarik dan mempelajarinya. Selanjutnya akan muncul rasa ikut memiliki
dan pada akhirnya tumbuh rasa mencintai seni dan budaya sendiri. Begitu
juga dengan ketertarikan terhadap seni peran, kita bisa membuat seni teater
tradisional dengan sentuhan modern bisa membuat cerita yang monoton
lebih menarik. Dengan pemilihan tema yang sedang trend di kalangan anak-
anak zaman sekarang mungkin dengan cara mengikuti trend mereka bisa
mendalami dan menikmati seni peran.
155
DAFTAR PUSTAKA
Jaeni. (2012). “ Komunikasi Estetik dalam Seni Pertunjukan Teater Rakyat
Sandiwara Cirebon”. Jurnal Seni Budaya PANGGUNG. Vol. 22 no 2. 2012,
p. 160. Bandung: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
(LPPM) STSI Bandung. http://jurnalaspikom.org
Prusdianto (2016). “Pendidikan Seni Teater; Sekolah, Teater Dan
Pendidiknya”,Tanra, Jurnal desain komunikasi visual Fakultas Seni dan
Desain, Universitas Negeri Makasar. volume 3, nomor 3 – p. 27- 35.
http://jurnalaspikom.org
https://nasional.okezone.com/read/2020/02/06/337/2164354/deretan-seni-
pertunjukan-tradisional-indonesia-ada-yang-sudah-mendunia
https://tambahpinter.com/perkembangan-teater-indonesia/
https://www.parenting.co.id/balita/manfaat+anak+bermain+peran
https://www.japantimes.co.jp/culture/2015/03/31/stage/tenimyu-2-5-d-
shows-net-2-million-tickets-sold/
https://unseenjapan.com/2d-musical/
https://www.americantheatre.org/2019/04/22/anime-magnetism/
156
PENERAPAN NILAI KEMANUSIAAN DALAM
PEMBENTUKKAN KARAKTER SISWA MELALUI SASTRA
Mutiara Deswita, Kusmiyati, Sarah
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan
pendidikan karaker dalam bidang sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui
studi literatur yang dilakukan dengan mengkaji literatur menggunakan teori yang
sudah ada sebagai penguat serta dapat menghasilkan teori baru mengenai penerapan
nilai kemanusiaan dalam pembentukan karakter siswa melalui sastra. Penelitian ini
menunjukkan bahwa dalam sastra bisa menciptakan karakter siswa, buka hanya
dalam bidang akademik saja.
Kata Kunci: Nilai kemanusiaan pembentukan karakter siswa melalui sastra.
PENDAHULUAN
Sastra memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan karakter.
Hal ini disebabkan, karena karya sastra pada dasarnya membicarakan berbagai
nilai-nilai kehidupan yang berkaitan langsung dengan pembentukkan karakter
siswa. Sastra dalam pendidikan berperan untuk mengembangkan bahasa, aspek
kognitif, afektif, psikomotorik, kepribadian, dan pribadi sosial siswa. Sastra sebagai
media pembelajaran dapat dimanfaatkan secara reseptif dan ekspresif dalam
pembentukan karakter. Pemanfaatan secara reseptif dimaksud yaitu karya sastra
sebagai media pembentukan karakter dilakukan dengan pemilihan bahan ajar dan
pengelolaan proses pembelajaran. Adapun pemanfaatan secara ekspresif dimaksud
yaitu karya sastra sebagai media pembentukan karakter dengan cara mengelola
emosi, perasaan, semangat, pemikiran, ide, gagasan, dan pandangan siswa ke dalam
bentuk kreativitas menulis berupa novel dan cerpen, dan bermain drama, teater atau
film. Oleh karena itu, siswa yang telah memahami sastra dapat mengalami
pembentukan karakter menjadi lebih baik.
157
Pembentukan karakter siswa sangat penting karena keadaan dalam
kehidupan bermasyarakat saat ini sangat memprihatinkan. Hal tersebut seperti
adanya perkelahian, pembunuhan, kesenjangan sosial, ketidakadilan, perampokan,
korupsi, pelecehan seksual, penipuan, dan fitnah terjadi di manamana. Hal itu juga
dapat diketahui lewat berbagai media cetak atau elektronik, seperti surat kabar,
televisi, dan internet. Bahkan, tidak jarang kondisi seperti itu dapat disaksikan
secara langsung di tengah masyarakat. Keprihatinan terhadap kondisi masyarakat
yang demikian itu, dapat menumbuhkan semangat untuk mengkaji sebab dan
mencari pemecahannya. Berbagai kegiatan penelitian dan seminar telah mengkaji
masalah itu berkali-kali dan juga diselenggarakan oleh berbagai instansi, baik
pemerintah maupun swasta. Kesimpulannya tetap memiliki persepsi yang sama
yaitu pentingnya menggalakkan pendidikan karakter dalam membentuk karakter
setiap siswa yang ada di Indonesia. Pendapat masyarakat terhadap pendidikan
karakter pun berbeda-beda. Di kalangan guru muncul pendapat tentang perlunya
pendidikan budi pekerti, sedangkan para ulama berpendapat dengan perlunya
penguatan pendidikan agama sejak dini. Mereka yang berada di bidang politik
mengusulkan revitalisasi pendidikan Pancasila. Dalam hal ini, Kemendiknas telah
merespon berbagai pendapat itu dengan membentuk Tim Pengembang Pendidikan
Karakter (Haryadi, 2011: 1).
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode
penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, mengacu pada data, menggunakan
analisis, dan menggunakan teori yang sudah ada sebagian penguat serta dapat
menghasilkan teori baru. Adapun teknik pengumpulan data kualitatif pada
penelitian ini yaitu melalui studi literatur yang dilakukan dengan mengkaji literatur
mengenai penerapan nilai kemanusiaan dalam pembentukan karakter siswa melalui
sastra.
158
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pendidikan Karakter
Karakter dapat diartikan sebagai tabiat, yaitu perangai atau perbuatan
yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Menurut Suyanto (2009) mendefinisikan
”karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu
untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa,
maupun negara”. Karakter juga sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kebiasaan
hidup individu yang bersifat menetap dan cenderung positif (Pritchard dalam
Haryadi, 2011: 1). Karakter sebagai akhlak dapat bersifat positif atau negatif.
Dalam pandangan agama terdapat akhlakul karimah (ahlak yang mulia) dan
akhlakul madmumah (akhlak tercela). Dalam akhlakul karimah tercakup 22 sifat
terpuji, yaitu (1) sederhana, (2) rendah hati, (3) giat bekerja, (4) jujur, (5) memenuhi
janji, (6) terpercaya, (7) konsisten/istiqomah, (8) berkemauan keras, (9) suka
berterima kasih, (10) satria, (11) tabah, (12) lemah lembut, (13) ramah dan simpatik,
(14) malu, (15) bersaudara, (16) belas kasih, (17) suka menolong, (18) menjaga
kehormatan, (19) menjauhi syubhat, (20) pasrah kepada Allah, (21) berkorban
untuk orang lain. Sementara itu, lawan dari sifat-sifat terpuni itu termasuk akhlakul
madmumah, seperti boros, sombong, malas. Menurut Zulhan (2010: 2-5) karakter
ada dua yaitu karakter positif baik (sehat) dan karakter buruk (tidak sehat).
Tergolong karakter sehat yaitu (1) afiliasi tinggi: mudah menerima orang lain
sebagai sahabat, toleran, mudah berkerja sama, (2) power tinggi: cenderung
menguasai teman-temannya dalam arti positif (pemimpin); (3) achieve: selalu
termotivasi untuk berprestasi (4) asserte: lugas, tegas, tidak banyak bicara, dan (5)
adventure: suka petualangan, suka mencoba hal baru. Sementara itu, karakter
kurang sehat yaitu (1) nakal: suka membuat ulah, memancing kemarahan, (2) tidak
teratur, tidak teliti, tidak cermat, meskipun kadang tidak disadari, (3) provokator:
cenderung membuat ulah, mencari garagara, ingin mencari perhatian, (4) penguasa:
cenderung menguasai temanteman, mengintimidasi, dan (5) pembangkang: bangga
kalau berbeda dengan orang lain, tidak ingin melakukan hal yang sama dengan
orang lain, cenderung membangkang. Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan
Nasional (2011:10) juga telah merumuskan materi pendidikan karakter yang
159
mencakup aspek-aspek sebagai berikut: (1) religius, (2) jujur, (3) toleran, (4)
disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu,
(10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13)
bersahabat atau komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli
lingkungan, dan (17) peduli sosial, tanggung jawab. Sementara itu, Suyanto (2009)
berpendapat ada sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur
universal, yaitu (1) cinta kepada Tuhan dan segenap ciptaannya, (2) kemandirian
dan tanggung jawab, (3) kejujuran, amanah, diplomatis, (3) hormat dan santun, (5)
dermawan, suka menolong dan gotong royong, (6) percaya diri dan pekerja keras
(7) kepemimpinan dan keadilan, (8) baik dan rendah hati, dan (9) toleransi,
kedamaian, dan kesatuan.
Sastra dan Pendidikan Karakter
Bahasa Indonesia berperan penting untuk membetuk karakter dan
kepribadian Indonesia melalui penggunaannya Bahasa Indonesia seperti
keterampilan berbicara, menyimak, membaca, dan menulis dengan menggunakan
Bahasa Indonesia yang benar. Semakin intensif penggunaan bahasa, semakin teliti,
dan benar pilihan bahasa yang digunakan diyakini semakin tinggi karakter dan
kepribadian orang yang menggunakannya. Kepribadian masyarakat Indonesia
banyak diilhami oleh Sastra Indonesia sebagai sumber inspirasi bagi terwujudnya
bangsa, bahasa, dan tanah air Indonesia. Oleh karena itu, membaca sastra Indonesia
hingga melek sastra diyakini dapat memperkuat identitas dan kepribadian Indonesia
(Solin, 2011: 1) Berbicara sastra dan pendidikan karakter merupakan dua hal yang
tidak dapat dipisahkan. Menurut penulis merupakan kata majemuk, yakni antara
sastra dan pendidikan karakter itu menyatu. Mengapa? Karena sastra
membicarakan berbagai nilai-nilai yang terkait dengan hidup dan kehidupan
manusia di bumi yang sekarang dipijak maupun bumi yang kelak akan dipijak.
Bahkan hal-hal yang tidak dibahas dalam disiplin ilmu lain, dikupas di dalam sastra.
Menurut Mangunwijaya (1992: 7) menyatakan di samping penelitian yang bersifat
ilmiah untuk memahami dan menolong manusia serta masyarakat, dunia sastra
masih tetap memegang peran vital dalam bidang yang sama. Khususnya dalam
dimensi-dimensi yang begitu dalam seperti nilai religiusnya manusia, yang
160
menentukan sikap kita terhadap diri sendiri, hasil karya sastra mengisi apa yang
tidak mungkin diisi oleh ilmu pengetahuan dan ikhtiarikhtiar kemanusiaan lainnya.
Khususnya dalam pembahasan nilai religius manusia yang lazimnya hanya dapat
dikomunikasikan melalui bahasa lambang dan persentuhan cita rasa serta sarana
sastra yang sangat bermanfaat. Terkait peran sastra dalam pembelajaran bagi siswa,
yang diungkapkan oleh Tarigan (1995: 10) menyatakan bahwa sastra sangat
berperan dalam pendidikan anak, yaitu dalam (1) perkembangan bahasa, (2)
perkembangan kognitif, (3) perkembangan kepribadian, dan (4) perkembangan
sosial. Dalam perkembangan bahasa, para siswa secara langsung maupun tidak
langsung setelah membaca atau menyimak karya sastra, kosakata mereka
bertambah dan memiliki karakter yang lebih baik lagi. Hal ini dapat meningkatkan
keterampilan berbahasa siswa dalam berinteraksi sehari-hari. Pengalaman yang
diperoleh melalui membaca karya sastra dapat memotivasi serta menunjang
perkembangan kognitif atau penalaran siswa. Dengan begitu kepribadian siswa
akan jelas pada saat mereka mencoba memeroleh kemampuan untuk
mengekspresikan emosi, empatinya terhadap orang lain, dan mengembangkan
perasaannya mengenai harga diri dan jati dirinya. Dengan demikian, siswa dapat
hidup bermasyarakat dengan baik dan memiliki budi pekerti yang baik pula. Sastra
secara etimologis berasal dari kata ”sas” dan ”tra”. Akar kata sasberarti mendidik,
mengajar, memberikan instruksi, sedangkan akhiran –tra menunjuk pada alat. Jadi,
sastra secara etimologis berarti alat untuk mendidik, alat untuk mengajar, dan alat
untuk memberi petunjuk. Oleh karena itu, sastra pada masa lampau bersifat edukatif
(mendidik). Banyak hal yang dapat diperoleh dari sastra. Menurut Tjokrowinoto
(dalam Haryadi, 1994) memperkenalkan istilah ”pancaguna” untuk menjelaskan
manfaat sastra lama, yaitu (1) mempertebal pendidikan agama dan budi pekerti, (2)
meningkatkan rasa cinta tanah air, (3) memahami pengorbanan pahlawan bangsa,
(4) menambah pengetahuan sejarah, dan (5) mawan diri dan menghibur. Sedangkan
Haryadi (1994) mengemukakan bahwa sembilan manfaat yang dapat diambil dari
sastra lama, yaitu (1) dapat perperan sebagai hiburan dan media pendidikan, (2)
isinya dapat menumbuhkan kecintaan, kebanggaan berbangsa dan hormat pada
leluhur, (3) isinya dapat memperluas wawasan tentang kepercayaan, adatistiadat,
161
dan peradaban bangsa, (4) pergelarannya dapat menumbuhkan rasa persatuan dan
kesatuan, (5) proses penciptaannya menumbuhkan jiwa kreatif, responsif, dan
dinamis, (6) sumber inspirasi bagi penciptaan bentuk seni yang lain, (7) proses
penciptaannya merupakan contoh tentang cara kerja yang tekun, profesional, dan
rendah hati, (8) pergelarannya memberikan teladan kerja sama yang kompak dan
harmonis, dan (9) pengaruh asing yang ada di dalamnya memberi gambaran tentang
tata pergaulan dan pandangan hidup yang luas. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
sastra sangat relevan dengan pendidikan karakter. Karya sastra sarat dengan
nilainilai pendidikan akhlak seperti dikehendaki dalam pendidikan karakter. Cerita
rakyat ”Bawang Putih Bawang Merah” mengandung nilai pendidikan tentang
kemanusiaan. Cerita binatang ”Pelanduk Jenaka” mengandung pendidikan tentang
harga diri, sikap kritis, dan protes sosial. Sementara itu, bentuk puisi seperti
pepatah, pantun, dan bidal penuh dengan nilai pendidikan.
Sastra Sebagai Media Pembentukan Karakter
Karya sastra dapat berfungsi sebagai media katarsis (pembersih diri).
Aristoteles seorang filsuf dan ahli sastra menyatakan salah satu fungsi sastra adalah
sebagai media katarsis atau pembersih jiwa bagi penulis maupun pembacanya. Bagi
pembaca, setelah membaca karya sastra perasaan dan pikiran terasa terbuka, karena
telah mendapatkan hiburan dan ilmu (tontonan dan tuntunan) (Kanzunuddin, 2012:
202). Begitu juga bagi penulis, setelah menghasilkan karya sastra, jiwa saya
mengalami pembersihan, lapang, terbuka, karena saya telah berhasil
mengekspresikan semua yang menjadi beban dalam perasaan dan pikiran saya.
Sastra sebagai media katarsis dalam pembelajaran sastra dapat dimanfaatkan secara
reseptif (bersifat menerima) dan ekspresif (kemampuan mengungkapkan) dalam
pendidikan karakter. Pemanfaatan secara reseptif karya sastra sebagai media
pendidikan karakter dilakukan dengan dua langkah yaitu (1) pemilihan bahan ajar,
dan (2) pengelolaan proses pembelajaran. Karya sastra yang dipilih sebagai bahan
ajar adalah karya sastra yang berkualitas, yakni karya sastra yang baik secara estetis
dan etis. Maksudnya, karya sastra yang baik dalam konstruksi struktur sastranya
dan mengandung nilai-nilai yang dapat membimbing siswa menjadi manusia yang
baik (Kanzunuddin, 2012: 202). Langkah berikutnya adalah pengelolaan proses
162
pembelajaran. Dalam pengelolaan proses pembelajaran, guru harus mengarahkan
siswa dalam proses membaca karya sastra. Guru harus mengarahkan siswa untuk
dapat menemukan nilai-nilai positif dari karya sastra yang mereka baca. Guru tidak
boleh membebaskan siswa untuk menemukan dan menyimpulkan sendiri nilai-nilai
yang ada dalam karya sastra. Selanjutnya, guru membimbing siswa untuk dapat
mengaplikasikan nilai-nilai positif yang telah diperoleh dari karya sastra dalam
kehidupan sehari-hari. Adapun pemanfaatan secara ekspresif karya sastra sebagai
media pendidikan karakter dapat ditempuh melalui jalan mengelola emosi,
perasaan, semangat, pemikiran, ide, gagasan dan pandangan siswa ke dalam bentuk
kreativitas menulis karya sastra dan bermain drama, teater, atau film. Siswa
dibimbing mengelola emosi, perasaan, pendapat, ide, gagasan, dan pandangan
untuk diinternalisasi dalam diri kemudian dituangkan ke dalam karya sastra yang
akan mereka hasilkan berupa puisi, pantun, drama, novel, dan cerpen. Perasaan
emosi, ketidakpuasan terhadap suatu sistem yang berlaku, rasa marah yang ingin
berdemontrasi, dan sejenisnya terhadap sesuatu hal dapat diaktualisasikan dalam
karya sastra, seperti puisi, drama, maupun prosa. Tentu saja dipilih media yang
sesuai dan tepat untuk mengaktualisasikan “gejolak jiwa” siswa (bisa puisi, drama,
cerpen, atau novel). Sastra dapat dilihat dari berbagai aspek. Dari aspek isi, jelas
bahwa karya sastra sebagai karya imajinatif tidak lepas dari realitas. Karya sastra
merupakan cermin zaman. Berbagai hal yang terjadi pada suatu waktu, baik positif
maupun negatif yang direspon oleh pengarang. Dalam proses penciptaannya,
pengarang melihat bagaimana fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat itu
secara kritis, kemudian mereka mengungkapkannya dalam bentuk yang imajinatif.
Fungsi sastra adalah dulce et utile, artinya indah dan bermanfaat. Dari aspek
gubahan, sastra disusun dalam bentuk, yang apik dan menarik sehingga membuat
orang senang membaca, mendengar, melihat, dan menikmatinya. Sementara itu,
dari aspek isi ternyata karya sastra sangat bermanfaat. Di dalamnya terdapat nilai-
nilai pendidikan moral yang berguna untuk menanamkan pendidikan karakter
(Haryadi: 2011: 4). Pembelajaran sastra diarahkan pada tumbuhnya sikap apresiatif
terhadap karya sastra, yaitu sikap menghargai karya sastra. Dalam pembelajaran
sastra ditanamkan tentang pengetahuan karya sastra (kognitif), ditumbuhkan
163
kecintaan terhadap karya sastra (afektif), dan dilatih keterampilan menghasilkan
karya sastra (psikomotor). Kegiatan apresiatif sastra dilakukan melalui kegiatan (1)
reseptif seperti membaca dan mendengarkan karya sastra, menonton pementasan
karya sastra, (2) produktif, seperti mengarang, bercerita, dan mementaskan karya
sastra, (3) dokumentatif, misalnya mengumpulkan puisi, cerpen, dan membuat
kliping tentang infomasi kegiatan sastra. Pada kegiatan apresiasi sastra pikiran,
perasaan, dan kemampuan motorik dilatih dan dikembangkan. Melalui kegiatan
semacam itu pikiran menjadi kritis, perasaan menjadi peka dan halus, memampuan
motorik terlatih. Semua itu merupakan modal dasar yang sangat berarti dalam
pengembangan pendidikan karakter. Ketika seseorang membaca, mendengarkan,
dan menonton, pikiran dan perasaan mereka diasah. Mereka harus memahami karya
sastra secara kritis dan komprehensif, menangkap tema dan amanat yang terdapat
di dalamnya, dan memanfaatkannya. Bersamaan dengan kerja pikiran itu, kepekaan
perasaan diasah sehingga akan mengarah pada tokoh protagonis dengan
karakternya yang baik dan menolak tokoh antagonis yang berkarakter jahat.
Sedangkan ketika seseorang menciptakan karya sastra, pikiran kritisnya
dikembangkan, imajinasinya dituntun ke arah yang positif sebab dia sadar karya
sastra harus indah dan bermanfaat. Penulis akan menuangkan imajinasinya sesuai
dengan kaidah genre sastra yang dipilihnya. Ia akan memilih diksi, menyusun
dalam bentuk kalimat, menggunakan gaya bahasa yang tepat, dan sebagainya.
Sementara itu, pada benak pengarang terbersit keinginan untuk menyampaikan
amanat, menanamkan nilai-nilai moral, baik melalui karakter tokoh, perilaku tokoh,
ataupun dialog. Dalam penulisan karya sastra orisinalitas sangat diutamakan.
Pengarang berusaha akan berusaha menghindari penjiplakan. Dengan demikian,
nilai-nilai kejujuran sangat dihargai dalam setiap karya sastra yang dihasilkan.
Dokumentasi sebagai bagian dari kegiatan apresiasi sastra dan sangat besar
sumbangannya terhadap pendidikan karakter. Tidak semua siswa ternyata mampu
dan mau mendokumentasikan karyanya dan mengkliping karya orang lain.
Pembuatan dokumentasi dan kliping memerlukan ketekunan dan kecermatan.
Mereka harus banyak membaca, kemudian memilih bacaan yang pantas
164
didokumentaikan dan dikliping. Pembuat dokumentasi dan kliping pada umumnya
adalah manusiamanusia yang berpikir masa depan.
Tema Karya Sastra Dalam Pembentukan Karakter
Produk sastra yang berupa puisi, cerpen, drama, maupun novel
mengungkap berbagai tema yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia.
Tema-tema produk sastra dapat dikelompok-kelompokkan untuk dijadikan media
pendidikan karakter (secara reseptif), kemudian dibuat simulasi (metode latihan
yang memperagakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang
sesungguhnya) di dalam kelas atau di luar kelas (bisa di halaman kelas, di
auditorium, atau ruang pertemuan). Hal ini akan menarik bagi siswa dalam
kaitannya dengan penanaman nilai-nilai karakter. Dengan model tersebut, siswa
dilatih untuk mengimplementasikan nilai-nilai karakter yang diperoleh dari karya
sastra. Apabila simulasi tersebut sering dipraktikkan, maka nilai-nilai karakter yang
berasal dari karya sastra akan tertanam di dalam alam bawah sadar siswa. Nilai-
nilai karakter yang tertanam di alam bawah sadar bisa menjadi kekuatan nilai
rujukan dalam berperilaku sehari-hari yang lebih baik. Adapun pada sisi lain, siswa
bisa diajak mereproduksi karya sastra yang telah dibaca. Dalam hal ini, guru bisa
memilihkan karya sastra yang mengandung nilai-nilai karakter positif berupa puisi,
cerpen, drama, dan novel, kemudian siswa disuruh membaca. Setelah membaca,
siswa disuruh untuk mengubah (mereproduksi) menjadi bentuk karya sastra yang
lain. Misalnya, bentuk cerpen dan novel diubah menjadi drama, puisi diubah
menjadi cerpen. Dalam konteks mereproduksi karya sastra tersebut, guru harus
menjelaskan bahwa penekanannya berada pada tema. Melalui karya sastra yang
mengetengahkan berbagai tema, siswa dapat diajak untuk mengenali dan
memahami kualitas tingkatan watak atau karakternya sendiri. Setelah siswa
mengenali dan memahami kualitas tingkatan karakternya, maka guru harus
membimbing atau mengarahkan kualitas tingkatan karakter siswa tersebut ke arah
yang lebih baik, yakni mengajak siswa untuk “berdialog dengan tokoh-tokoh dalam
karya sastra yang memiliki kualitas tingkatan karakter pada tataran “watak”.
Dengan demikian, pembentukan karakter siswa terinternalisasi dalam diri siswa dan
diaktualisasikan dalam perilaku seharihari mereka.
165
KESIMPULAN
Berdasarkan unsur-unsur yang telah dikaji, dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut: Pertama sastra sangat berperan dalam pendidikan karakter peserta
didik (manusia), yaitu dalam perkembangan bahasa, perkembangan kognitif,
perkembangan kepribadian, dan perkembangan sosial, Kedua sastra sebagai media
katarsis dalam pembelajaran sastra dapat dimanfaatkan secara reseptif (menerima)
dan ekspresif (kemampuan mengungkapkan) dalam pendidikan karakter untuk
membentuk karakter siswa, Ketiga karya sastra yang mengetengahkan berbagai
tema dapat dijadikan media siswa untuk mengenali dan memahami kualitas
tingkatan watak atau karakternya sendiri, dan Keempat karya sastra yang
mengisahkan dan melukiskan berbagai tipe karakter tokoh, dapat dijadikan media
pendidikan karakter bagi siswa, yakni memberikan teladan kualitas tingkatan watak
atau kepribadian tokoh yang harus ditiru. Sastra secara etimologis berarti alat untuk
mendidik, sehingga bersifat didaktis. Hal ini sesuai dengan fungsi sastra yaitu dulce
et ulite (nikmat dan bermanfaat). Kebermanfaatannya diketahui karena sastra di
dalamnya terkandung amanat yaitu nilai moral yang bersesuaian dengan pendidikan
karakter. Banyak karya sastra lama dan modern yang mengandung pendidikan
karakter, seperti kemanusiaan, harga diri, kritis, kerja keras, hemat. Peran sastra
dalam pembentukan karakter bangsa tidak hanya didasarkan pada nilai yang
terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif pun sarat
dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan, dan menonton
karya sastra pada hakikatnya menanamkan karakter tekun, berpikir kritis, dan
berwawasan luas. Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan perasaan
sehingga pembaca cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran. Pada
kegiatan menulis karya sastra, dikembangkan karakter yang tekun, cermat, taat, dan
kejujuran. Sementara itu, pada kegiatan dokumentatif dikembangkan karakter yang
penuh dengan ketelitian, dan berpikir ke depan (visioner). Pada masa lampau cerita
yang dituturkan orang tua atau guru, dan pepatah yang ditempel di dinding sekolah
mampu menjadi media pendidikan moral. Mengingat akan hal itu, kita berharap
sastra dan pengajaran apresiasi sastra, baik di sekolah maupun di masyarakat saat
ini dapat perperan dalam pembentukan karakter siswa di Indonesia.
166
DAFTAR PUSTAKA
Wulandari, Ririn Ayu. "Sastra dalam pembentukan karakter siswa." EDUKASI
KULTURA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA 1.2 (2015).
167
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN
MELALUI METODE PICTURE AND PICTURE PADA SISWA
KELAS 1
Faritsa Maudinah, Novia Kurniawati, Wiwik Sudartik
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada era globalisasi seperti sekarang ini telah terjadi kemajuan yang sangat
pesat pada bidang teknologi informasi dan komunikasi. Kemajuan tersebut
menuntut dukungan keterampilan membaca. Keterampilan membaca merupakan
aspek yang sangat penting terutama bagi siswa yang sedang belajar pada permulaan
(pendidik dasar). Proses kegiatan belajar itu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan
membaca. Siswa dapat membuka wawasan baru yang luas melalui kegiatan
membaca. Apalagi dimasa sekarang ini sebagian besar informasi tersebut
disampaikan dalam bentuk tulisan. Siswa yang gemar membaca memperoleh
pengetahuan dan wawasan baru yang semakin meningkatkan kecerdasannya
sehingga mereka mampu menjawab tantangan di masa depan. Seseorang dapat
membuka wawasan baru yang luas melalui kegiatan membaca. Berbagai informasi
dapat diperoleh dari kegiatan membaca seperti pada buku, media cetak, maupun
media elektronik. Di Indonesia sekarang ini minat baca masih rendah, namun pada
masa yang akan datang tidak kecil kemungkinan kebiasaan gemar membaca akan
berkembang pesat seperti yang terdapat pada negara-nagara maju. Sebagai sebuah
ketarampilan, bahasa sangat ampuh dicapai melalui latihan. Semakin sering berlatih
berbahasa semakin besar peluang untuk terampil berbahasa. Keterampilan
membaca merupakan salah satu kunci keberhasilan siswa dalam meraih kemajuan.
Siswa yang memiliki keterampilan membaca yang memadai akan lebih mudah
menggali informasi dari berbagai sumber tertulis. Maka dari itu keterampilan dan
kemauan membaca hendaknya ditekankan sejak jenjang pendidikan dasar yaitu saat
anak masih berada di sekolah dasar. Upaya pengembangan dan peningkatan
keterampilan membaca dilakukan melalui pembelajaran di sekolah-sekolah dasar
168
sebagai pengalaman pertama. Keterampilan membaca permulaan akan sangat
berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut. Sebagai keterampilan yang
mendasar maka keterampilan membaca permulaan harus benar- benar diperhatikan
oleh guru. Guru harus melibatkan siswa untuk melakukan kegiatan agar kelas selalu
dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan.
Membaca permulaan yang di laksanakan di kelas awal bertujuan agar siswa
dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat. Siswa
dapat berperan langsung dalam situasi belajar, guru sebagai perancang, motivator,
pengamat dan pengembang di pihak lain murid didorong untuk memberikan respon
individual serta secara aktif melaksanakan berbagai kegiatan sehingga dapat
memberikan pengalaman dan penghayatan secara langsung. Penyebab kesulitan
belajar siswa bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri dan juga dari luar diri
siswa, misalnya cara penyajian materi pelajaran atau suasana pembelajaran. Dalam
hal ini salah satu kesulitan belajar dari luar diri siswa adalah bentuk atau model
pembelajaran yang disajikah oleh guru kurang menyenangkan. Model pembejaran
kooperatif Picture and Picture merupakan salah satu bentuk model pembelajaran
kooperatif yang menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan menjadi urutan
logis. Model pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses
pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses
pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran dimulai guru sudah
menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam
bentuk karton dalam ukuran besar. Oleh karena itu, peneliti berkeyakinan bahwa
model pembelajaran kooperatif picture and picture dengan menggunakan media
kartu kata ini akan berhasil meningkatkan penguasaan kosa kata dan dapat
meningkatkan kemampuan membaca. Berdasarkan hasil observasi peneliti
mendapatkan informasi bahwa masih banyak siswa kelas I yang belum tuntas pada
materi membaca permulaan pelajaran Bahasa Indonesia. Masih terdapat siswa yang
kemampuan membacanya kurang lancar. Meskipun mereka sudah mengenal semua
huruf tetapi masih belum dapat merangkainya menjadi suku kata dan kata. Pada
saat membaca siswa hanya melafalkan huruf pada kata yang dibacanya satu per
satu. Pelafalan dan intonasi dalam membaca belum tepat. Misalnya siswa
169
mengalami kesulitan dalam membaca kata sederhana, seperti kata bu-ku/ di baca
/be-u-ka-u/, kata /lu-pa/ dibaca /le-u-pa/ dan lain sebagainya. Pada umumnya guru
tidak menggunakan model atau cara-cara mengawali pembelajaran namun langsung
menulis di papan tulis kemudian meminta siswa untuk membaca serta model yang
diterapkan dalam pembelajaran keterampilan membaca masih belum tepat dan
efektif. Selain itu minat membaca siswa dan juga bimbingan dari guru dan keluarga
masih kurang memberi motivasi kepada siswa. Model pembelajaran yang
digunakan guru masih secara konvensional. Pada awal pembelajaran membaca
siswa masih semangat mengikuti pembelajaran, namun sesudah 30 menit siswa
sudah tidak memperhatikan guru, berbicara dengan temannya, dan ada juga yang
berlarian di dalam maupun di luar kelas. Demikian juga media pembelajaran untuk
membaca permulaan yang digunakan kurang bervariasi dan tepat.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang
muncul adalah ”Bagaimana Peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui
metode picture and picture pada siswa kelas 1”. Tujuan diadakan penelitian ini
adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa Kelas I dengan
menerapkan metode pembelajaran picture and picture.
PEMBAHASAN
Hakekat Membaca
Membaca merupakan suatu kegiatan interaktif untuk memetik serta
memahami arti atau makna yang terkandung didalam bahan tulis. Hodgson
(1960:43-44) dalam H.G Tarigan (2015: 7) “Membaca adalah suatu proses yang
menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam
suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat
diketahui”. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh
pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui
media kata-kata/bahan tulis. H.G Tarigan (2008: 7) dalam http://eprints.uny.ac.id
mendefinisikan pengertian “membaca adalah sebagai suatu proses yang dilakukan
serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak
disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis”. Kalau hal ini
170
tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau
dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.
Membaca pun dapat diartikan sebagai suatu metode yang kita pergunakan
untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri atau dengan orang lain yaitu
mengkomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang
tertulis. Soedarso (2002: 14) dalam http://eprints.uny.ac.id “membaca
didefinisikan secara singkat sebagai interaksi pembaca terhadap pesan tulis”.
Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang sifatnya
reseptif (perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerjasama). Dengan membaca
seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan serta
mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Puji santosa (2009: 6.3) dalam
http://eprints.uny.ac.id
“membaca merupakan kegiatan memahami bahasa tulis. Pesan dari sebuah teks atau
barang cetak lainnya dapat diterima apabila pembaca dapat membacanya dengan
tepat, akan tetapi terkadang pembaca juga salah dalam menerima pesan dari teks
atau barang cetak manakala pembaca salah dalam membacanya”.
Semua yang diperoleh melalui bacaan itu akan memungkinkan seseorang
untuk mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya dan memperluas
wawasannya. Berbagai metode diperuntukkan bagi siswa permulaan, antara lain:
metode eja/bunyi, metode kata lembaga, dan metode global. Metode tersebut
bertujuan untuk memudahkan siswa dalam belajar mengenal huruf, mengeja,
melafalkan huruf dengan benar dan membaca kata atau kalimat singkat. Siswa akan
lebih efektif dalam menerima proses pembelajaran membaca. Munawir yusuf
(2003) dalam http://eprints.uny.ac.id “membaca merupakan aktivitas audiovisual
untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata”. Berdasarkan
pendapat para ahli diatas, penulis menyimpulkan bahwa kegiatan membaca
merupakan kegiatan yang sangat diperlukan oleh siapapun yang ingin maju dan
meningkatkan diri. Oleh karena itu, pembelajaran membaca disekolah mempunyai
peranan yang sangat penting.
171
Hakekat Kemampuan Membaca Permulaan
Kemampuan merupakan sesuatu yang telah tertanam didalam diri
seseorang, kemampuan yang dimiliki seseorang dapat berkembang apabila orang
tersebut belajar dengan baik. Pembelajaran membaca permulaan erat kaitannya
dengan pembelajaran menulis permulaan. Sebelum mengajarkan menulis guru
terlebih dahulu mengenalkan bunyi suatu tulisan atau huruf yang terdapat pada
kata-kata dalam kalimat. Pengenalan tulisan beserta bunyi ini melalui pembelajaran
membaca.
Supriyadi, dkk. (1992:133) dalam http://eprints.uny.ac.id mengatakan
sebagai berikut
Pengajaran membaca di sekolah dasar dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian
yaitu membaca permulaan dan membaca lanjutan. Membaca permulaan diberikan
dikelas I dan II dengan mengutamakan pada ketrampilan segi mekanisme. Oleh
karena itu, jenis membaca permulaan yang dikembangkan adalah membaca tenis.
kemampuan membaca adalah kesanggupan dan kecakapan serta kesiapan
seseorang untuk memahami gagasan-gagasan dan lambang atau bunyi bahasa yang
ada dalam sebuah teks bacaan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan si
pembaca untuk memdapatkan amanat atau informasi yang disampaikan.
Membaca permulaan difokuskan pada perkataan-perkataan utuh, bermakna
dalam kontek pribadi anak dimana bahan yang diberikan melalui permainan dan
kegiatan yang menarik sebagai perantara. Dalam proses membaca, pembaca
menggunakan berbagai ketrampilan meliputi ketrampilan fisik dan mental, dalam
proses tersebut, pembaca mengaitkan antara informasi, pesan dalam tulisan dengan
pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki pembaca.
Menurut Supriyadi, dkk. (1992:192) dalam http://eprints.uny.ac.id dalam
mengajarkan membaca permulaan seorang guru dalam mengajarkannya adalah
sebagai berikut.
a. Latihan lafal, baik vocal maupun kosonan.
b. Latihan nada/lagu ucapan.
c. Latihan penguasaan tanda-tanda baca.
d. Latihan pengelompokkan kata/ frase kedalam satuan-satuan ide (pemahaman).
172
e. Latiahn kecepatan mata
f. Latihan ekspresi (membaca dengan perasaan
Kemampuan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan akan
sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut. Jika pada membaca
permulaan belum kuat, maka pada tahap membaca lanjut siswa akan mengalami
kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan yang memadai.
Darmiyati dan Budiasih (1996/1997: 50-51) dalam http://eprints.uny.ac.id
membaca permulaan diberikan secara bertahap yakni sebagai berikut.
a. Pramembaca, pada tahap ini siswa diajarkan: (1) sikap duduk yang baik, (2)
cara meletakkan/menempatkan buku diatas meja, (3) cara memegang buku, (4)
cara membalik halaman buku yang tepat, dan (5) melihat/memperlihatkan
gambar atau tulisan.
b. Membaca pada tahap ini siswa diajarkan: (1) lafal dan intonasi kata dan kalimat
sederhana (menirukan guru), (2) huruf-huruf yang banyak digunakan dalam
kata dan kalimat sederhan yang sudah dikenal siswa (huruf-huruf dikenalkan
secara bertahap sampai pada 14 huruf).
Membaca permulaan merupakan suatu tahapan proses belajar membaca
bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan
dan menguasai teknik-teknik membaca dan menagkap isi bacaan dengan baik.
Dengan demikian penulis menyimpulkan guru perlu merancang pembelajaran
membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasaan membaca
sebagai suatu yang menyenangkan.
Metode Picture and Picure
Model pembelajaran picture and picture ini merupakan sebuah model
pembelajaran dimana guru menggunakan alat bantu berupa seperti media gambar
untuk menerangkan sebuah materi atau memfasilitasi siswa untuk aktif belajar.
Ibrahim. (2000 :29)
Model pembelajaran tipe kooperatif picture and picture merupakan suatu
model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok, yang
secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, saling asih
dan saling asuh. Pembelajaran model tipe kooperatif picture and picture bernaung
173
dalam teori konstruktiv. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan
lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling
berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk
saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks.
Pembelajaran ini memiliki ciri aktif, kreatif, dan menyenangkan. Model
apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap
proses pembelajaran. Inovatif, setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang
baru, berbeda dengan selalu menarik minat peserta didik. Pembelajaran kreatif,
setiap pembelajarannya harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk
menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan
menggunakan metode teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang
diperoleh dari proses pembelajaran.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, model pembelajaran picture and
picture adalah salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang menggunakan
gambar-gambar untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran membaca.
Dampak dari penggunaan model ini akan membuat siswa belajar aktif, inovatif dan
kreatif. Model ini mengandalkan gambar sebagai media dalam pembelajaran yang
sangat tepat atau sesuai untuk membaca permulaan karena hal yang diharapkan
adalah penguasaan ketrampilan membaca permulaan.
Langkah-Langkah Penerapan Metode Picture and Picture
Penerapan model pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi siswa
serta materi pembelajaran yang ada. Pada siswa kelas rendah tujuan pembelajaran
bahasa Indonesia untuk siswa kelas 1-3 SD adalah dalam penguasaan ketrampilan
membaca-menulis permulaan. Ada beberapa metode yang digunakan untuk proses
pembelajaran membaca permulaan, salah satunya yaitu metode SAS (struktural
analitik sintetik). Proses pembelajaran dengan menggunakan metode SAS ini dapat
diawali dengan menampilkan gambar untuk merangsang siswa agar dapat menggali
konsep-konsep yang ada. Siswa dapat menemukan struktur kalimat melalui gambar
tersebut. Pada tahap analitik, siswa melakukan proses analiti struktur kalimat
kedalam satuan yang lebih kecil. Pada tahap sintesis, yaitu siswa menemukan
kembali struktur kalimat secara utuh berdasarkan gambar.
174
Agus suprijono (2009: 125) dalam https://repository.ar-raniri.ac.id
Adapun langkah-langkah dari pelaksanaan picture and picture ini terdapat enam
langkah yaitu : 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang
ingin dicapai, 2. Guru memberikan materi materi pengantar sebelum kegiatan, 3.
Guru menyediakan gambar-gambar yang akan digunakan (berkaitan dengan
materi), 4. Guru menunjuk siswa secara bergilir untuk mengurutkan atau
memasangkan gambar-gambar yang ada, 5. Guru menyuruh siswa memberikan
keterangan setelah mengurutkan gambar-gambar, 6. Guru menanyakan alas an
dasar pemikiran urutan gambar tersebut. Dengan langkah-langkah tersebut siswa
dapat mudah memahami materi yang diajarkan karena guru menunjikkan gambar-
gambar mengenai materi yang diberikan.
PENUTUP
Kesimpulan
Keterampilan membaca sangat penting dalam kehidupan mendatang karena
setiap aspek kehidupan tidak luput dari kegiatan membaca. Keterampilan membaca
dan menulis, khususnya keterampilan membaca harus segera dikuasai oleh para
siswa di SD karena keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh
proses belajar siswa di SD. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan
mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata
pelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami
informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, buku-buku bahan
penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Akibatnya, kemajuan
belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak
mengalami kesulitan dalam membaca. Kelancaran dan ketepatan anak membaca
pada tahap belajar membaca permulaan dipengaruhi oleh keaktifan dan kreatifitas
guru yang mengajar di kelas 1. Dengan kata lain, guru memegang peranan yang
strategis dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Peranan strategis
tersebut menyangkut peran guru sebagai fasilitator, motivator, sumber belajar, dan
organisator dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran membaca
permulaan, banyak dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan
175
dengan media, ada pula yang tidak menggunakan media untuk menyampaikan
pesan. Siswa kelas rendah cenderung suka bermain. Jika diperhatikan siswa akan
lebih tertarik jika di dalam pembelajarannya terdapat gambar. Salah satu model
pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca
permulaan adalah model pembelajaran picture and picture. model pembelajaran
picture and picture merupakan model pembelajaran yang menarik karena
menggunakan gambar yang dapat menarik siswa untuk belajar membaca. Model
pembelajaran ini cocok diterapkan untuk kelas 1 SD karena di dalam model
pembelajaran picture and picture terdapat gambar yang berfungsi untuk menarik
perhatian siswa dan menyatukan imajinasi anak-anak yang berbeda-beda dapat
tertuang menjadi satu persepsi. Dengan adanya gambar, membantu siswa untuk
berkata-kata sehingga mempermudah membaca.
176
DAFTAR PUSTAKA
http://eprints.uny.ac.id/14815/3/BAB%20III.pdf diunduh pada hari sabtu
(06/07/2019) pukul 10.10
http://repository.unpas.ac.id/12741/5/BAB%20II.pdf diunduh pada hari sabtu
(06/07/2019) pukul 10.30
https://repositiry.ar-raniry.ac.id/2704/1Combine.pdf diunduh pada hari kamis
(04/07/2019) pukul 01.15
Tarigan, Guntur 2015. Membaca sebagai suatu ketrampilan berbahasa. Bandung:
Angkasa
177
PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP GAYA BAHASA
DIKALANGAN GENERASI MILENIAL
Rani Oktaviana, Kamiliya, Viara Rizki
BAB I
PENDAHULUAN
Globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan dari dinamika
kehidupan. Globalisasi memberikan berbagai dampak yang sangat signifikan pada
perkembangan kehidupan manusia, khususnya dikalangan generasi milenial salah
satunya perkembangan bahasa yaitu bahasa Indonesia yakni banyaknya generasi
milenial yang menggunakan gaya bahasa gaul, kekinian atau mengikuti trend
zaman sekarang dalam komunikasi sehari-hari adalah penyimpangan dari
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Jika kita mendengar kata globalisasi, tampaknya sudah tidak asing lagi
ditelinga kita, globalisasi merupakan proses penyatuan dalam segala aspek yang
terjadi akibat pertukaran informasi, pikiran, dan lain. Dalam proses terjadinya
globalisasi dapat memberikan dampak, diantaranya politik, ekonomi, sosial dan
budaya. Datangnya globalisasi tidak dapat ditolak, hampir semua hal dapat dengan
mudah masuk ke dalam bangsa Indonesia melalui teknologi, hal ini menyebabkan
seakan-akan seluruh dunia tidak ada batasannya.
Berbicara mengenai globalisasi, utamanya pada bidang sosial dan budaya, jika
membahas hal tersebut, yang paling erat kaitannya dengan keseharian kita adalah
mengenai bahasa. Karena bahasa merupakan kemampuan yang dimiliki oleh
manusia untuk berkomunikasi. Dengan adanya hal ini sudah jelas bahwa bahasa
pasti erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, antara globalisasi
dalam bidang sosial dan budaya dengan bahasa pasti sudah mendapat dampak dari
globalisasi, utamanya gaya bahasa yang digunakan oleh generasi milenial.
Membahas mengenai generasi milenial sangat erat hubungannya dengan
globalisasi, karena generasi milenial identik dengan teknologi dan media sosial, di
mana hal ini dimanfaatkan oleh generasi ini untuk mendapatkan segala informasi
yang diinginkan. Untuk itu dampak globalisasi dari bidang sosial dan budaya sudah
178
lekat pada generasi ini, khususnya pada kebahasaan, yaitu gaya bahasa. Karena
tidak sedikit dari mereka mencontoh gaya bahasa yang digunakan oleh artis
idolanya, orang-orang yang berada di media sosial atau bahkan teman online
mereka, di mana gaya bahasa yang dicontoh tersebut bukan bahasa Indonesia yang
baik dan benar, gaya bahasa yang dicontoh merupakan gaya bahasa campuran atau
gaya bahasa yang sering memiliki sebutan gaya bahasa gaul, kekinian atau
mengikuti trend zaman sekarang.
Dengan adanya fenomena yang sering kita jumpai pada generasi milenial
tersebut, maka tidak heran jika gaya bahasa yang sesuai dengan EYD sudah hampir
jarang digunakan oleh generasi tersebut. Hal ini terjadi karena adanya arus
globalisasi yang sangat deras dalam bidang sosial dan budaya, serta hal ini juga
tidak dapat dicegah untuk masuk ke dalam bangsa Indonesia. Untuk itu, jika kita
sudah mengetahui hal tersebut, seharusnya kita sebagai generasi milenial harus
pintar-pintar untuk memfilter globalisasi yang masuk ke dalam bangsa ini,
khususnya pada bidang sosial dan budaya yang berkaitan dengan gaya bahasa yang
digunakan dalam keseharian.
RUMUSAN MASALAH
Menurut latar belakang yang telah disampaikan di atas, maka dapat disusun
rumusan masalah sebagai berikut:
1) Mengapa globalisasi dapat berimplikasi pada gaya bahasa generasi milenial?
2) Bagaimana implikasi dari globalisasi terhadap gaya bahasa generasi milenial?
TUJUAN DARI PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulis merumuskan tujuan
penelitian, adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:
1) Tujuan Umum: Untuk mengetahui implikasi globalisasi dalam bidang sosial dan
budaya, khususnya dalam hal kebahasaan.
2) Tujuan khusus:
a) Untuk mengetahui alasan globalisasi yang dapat berimplikasi pada gaya
bahasa generasi milenial
179
b) Untuk mengetahui proses implikasi dari globalisasi terhadap gaya bahasa
generasi milenial.
BAB II
PEMBAHASAN
PENGARUH SINETRON PUTIH ABU-ABU TERHADAP GAYA BAHASA
REMAJA
Sinetron “Putih Abu-Abu” memiliki beberapa kosakata seperti kamseupay,
kepo, menurut ngana yang belum pernah ada pada sinetron-sinetron sebelumnya,
hal tersebut termasuk dalam kosakata baru yang memberikan perubahan terhadap
gaya bahasa generasi milenial. Berdasarkan segi cerita dan penokohan, sinetron ini
mengacu pada perkembangan pergaulan dan persahabatan di kalangan generasi
milenial, ketika lingkungan pertemanan menjadi faktor yang cukup berpengaruh
terhadap diri seseorang. Di sisi lain, sinetron ini juga memberikan contoh yang
kurang baik dalam penggunaan bahasa non-formal, serta tidak mengindahkan
kaidah kebahasaan yang benar.
KESALAHAN BERBAHASA DALAM BERMEDIA SOSIAL
Globalisasi memengaruhi kemajuan teknologi yang terjadi pada masa kini,
yang berdampak pada berbagai unsur, salah satunya perihal kebahasaan, utamanya
mengenai gaya bahasa yang digunakan oleh generasi milenial. Hal tersebut
berdampak pada penyerapan dari bahasa Indonesia yang akhirnya terpengaruh oleh
bahasa asing maupun bahasa daerah. Dilihat dari permasalahan yang ada, generasi
milenial mulai enggan untuk mempelajari bahasa daerah sendiri dan lebih tertarik
untuk mendalami bahasa asing. S. Piet Corder dalam bukunya “Introducing Applied
Linguistik” mengatakan bahwa kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap
kode bahasa. Pelanggaran ini disebabkan kurang sempurnanya penguasaan dan
pengetahuan terhadap kode. Kesalahan berbahasa tidak hanya dibuat oleh siswa
yang mempelajari B2 (bahasa yang dipelajari siswa), tetapi juga dibuat siswa yang
belajar B1 (bahasa ibu).
Kesalahan ejaan termasuk dalam bidang kesalahan bahasa. Penelitian ini
akan mengkaji tentang kesalahan-kesalahan ejaan yang ditemukan pada status dan
180
komentar di media sosial. Kesalahan ejaan meliputi kesalahan pemakaian huruf
kapital dan penulisan.
Tabel 1: kesalahan ejaan
B. TEORI
Fenomena kemunculan bahasa jaksel dapat diartikan sebagai sebuah
ketidakserasian aturan gaya bahasa dengan aturan kebahasaan yang telah
ditetapkan, seperti adanya Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Hal tersebut dapat
juga disebut dengan inkonsistensi gramatika. Bahasa yang benar adalah jika dalam
pemakaiannya mengikuti kaidah yang dibakukan (Rangkuti, 2015).
A. PENDEKATAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif, di mana dalam
penelitian ini penulis lebih menonjolkan perspektif subjek (bersifat subjektif) serta
dalam pengerjaan penelitian ini penulis cenderung melakukan analisis yang
dituangkan melalui deskriptif.
181
B. SUMBER DATA
1. Sumber Data Primer
Dalam penelitian ini sumber data primer yang penulis pilih adalah melalui
wawancara, di mana pewawancara menanyakan beberapa pertanyaan kepada
narasumber kaitannya dengan masalah yang dibahas dalam penelitian.
2. Sumber Data Sekunder
Pada penelitian ini sumber data sekunder yang penulis pilih adalah sumber
data yang bersumber dari jurnal, sebagai sumber data yang diperoleh dari sumber
lain untuk mendukung penelitian ini.
C. LOKASI PENELITIAN
Area kampus STAI Bani Saleh bekasi
D. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Bani saleh
❖ Sampel penelitian ini adalah beberapa mahasiswa program studi Bahasa dan
Sastra Indonesia.
E. SUMBER TERTULIS
Sumber tertulis penelitian ini penulis ambil dari Jurnal yang berjudul
"Problematika Penggunaan Bahasa dan Inkonsistensi Gramatika Terhadap
Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar" oleh Aziz Naufal Hadi.
F. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara
kepada objek yang diteliti. Teknik Wawancara ini merupakan percakapan antara
dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan
dari teknik wawancara ini adalah untuk mendapatkan informasi yang tepat dari
narasumber yang terpercaya. Penulis memilih teknik pengumpulan data
menggunakan wawancara dikarenakan dengan menggunakan teknik ini, penulis
dapat memperoleh informasi yang lebih akurat dan objektif dibandingkan dengan
teknik pengumpulan data yang lain
182
A. GLOBALISASI DAPAT BERIMPLIKASI PADA GAYA BAHASA
GENERASI MILENIAL
Teknologi merupakan salah satu dampak globalisasi di bidang sosial dan
budaya yang dapat berimplikasi pada gaya bahasa generasi milenial, hal ini
dikarenakan melalui teknologi generasi muda dapat mengakses semua informasi
dan sesuatu yang diinginkan, seperti tayangan berupa film, video, atau sinetron.
Dalam hal ini, generasi milenial mengonsumsi apa yang telah mereka akses dengan
mudah, serta hal ini berdampak pada generasi milenial untuk mencontoh gaya
bahasa yang dilihatnya melalui media sosial. Untuk itu, dapat dengan mudah
generasi milenial menggunakan gaya bahasa yang disebut gaul atau kekinian
tersebut, karena masuknya gaya bahasa terhadap generasi milenial melalui media
sosial pun tidak dapat dihindarkan.
B. LINGKUNGAN SOSIAL
Hal yang tidak dapat dipisahkan selain teknologi adalah lingkungan sosial,
di mana pada lingkungan sosial dapat dengan mudah seseorang untuk terpengaruh,
utamanya generasi milenial. Karena pada lingkungan sosial, kita setiap hari akan
berinteraksi dan menjadi tempat untuk menghabiskan waktu, ketika kita berada
pada lingkungan sosial yang terdiri dari orang-orang yang suka menggunakan gaya
bahasa gaul dan kekinian, maka kita pasti akan terpengaruh, meskipun pada
awalnya kita menggunakan gaya bahasa yang sesuai kaidah dalam berkomunikasi.
C. PROSES IMPLIKASI GLOBALISASI TERHADAP GAYA BAHASA
GENERASI MILENIAL
Meruntut sejarah bahasa gaul dalam (Syukur, 2017) pada era 90-an, muncul
fenomena bahasa gaul yang dipopulerkan oleh Debby Sahertian. Kemudian pada
tahun 2009 bahasa gaul ini berkembang menjadi bahasa alay yang lebih kompleks
lagi. Globalisasi membawa perkembangan teknologi yang semakin canggih,
khususnya dengan munculnya berbagai media sosial yang digunakan oleh generasi
milenial saat ini. Dalam era ini, bahasa alay atau bahasa gaul ini seketika menjamur
sebagai implikasi dari maraknya penggunaan jejaring sosial seperti halnya
instagram, twitter, facebook dan lain hal sebagainya (Syukur, 2017). Terkadang
para remaja tidak mengetahui arti sebenarnya dari kata yang diciptakan yang
183
merupakan bahasa gaul tersebut, mereka hanya menggunakannya begitu saja
karena bahasa itu sedang menjadi trend di kalangan masyarakat saat itu, khususnya
pada generasi milenial. Menurut Danandjaja dalam (Syukur, 2017) mengatakan
bahwa bahasa gaul adalah salah satu bentuk (genre) folklore atau dapat diartikan
sebagai “ujaran rakyat” yang pada hakikatnya apa yang diucapkan oleh masyarakat
pada saat itu yang menjadi sebuah trend dan hanya untuk menambah
perbendaharaan kata.
Generasi milenial adalah masa adanya peningkatan penggunaan dan
keakraban dengan komunikasi, media dan teknologi digital seperti sekarang ini.
Generasi yang hidup di era milenial ini memiliki karakter yang khas. Sejak di
bangku sekolah sudah menggunakan gawai dan menjadikan internet sebagai
kebutuhan pokok, selalu terhubung dengan internet, supaya dapat mengakses hal-
hal baru atau sekedar bersosialisasi dalam media sosial. Generasi saat ini disebut
dengan generasi milenial, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai 2000-
an (Nofitasari, Wahyuni, Rahaningmas, & Mahendra, 2019). Generasi ini hadir
sebagai bentuk diferensiasi antara generasi zaman dulu yang eksis di tahun 90-an
dengan generasi di zaman sekarang.
Generasi milenial sendiri sangat berperan penting dalam pengaplikasian
bahasa Indonesia di kehidupan sehari-hari, karena bahasa Indonesia adalah jati diri
sekaligus identitas bangsa Indonesia. Namun di era modern ini penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar sesuai kebahasaan telah mengalami penurunan.
Dahulu bahasa Indonesia digunakan dengan baik dan benar sesuai kaidah berbahasa
yang tepat. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan pengaruh budaya
luar, bahasa yang sesuai dengan kaidah kebahasaan justru semakin memudar di
tangan para generasi muda (Nofitasari, Wahyuni, Rahaningmas, & Mahendra,
2019).
PENUTUP
Globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan dari dinamika
kehidupan. Globalisasi memberikan berbagai dampak yang sangat signifikan pada
perkembangan kehidupan manusia, khususnya dikalangan generasi milenial salah
satunya perkembangan bahasa yaitu bahasa Indonesia yakni banyaknya generasi
184
milenial yang menggunakan gaya bahasa gaul, kekinian atau mengikuti trend
zaman sekarang dalam komunikasi sehari-hari adalah penyimpangan dari
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Kurangnya kesadaran untuk
mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia di negeri sendiri akan berdampak
lunturnya atau hilangnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya pada masyarakat
terutama di kalangan milenial. Terlebih dengan maraknya penggunaan bahasa gaul
di kalangan artis pada media massa serta elektronik, membuat generasi milenial
semakin sering mencontohnya di kehidupan sehari-hari, hal ini terjadi karena sudah
dianggap wajar, jika remaja suka meniru hal-hal baru yang didapat secara mudah
pada teknologi melalui media massa.
185
DAFTAR PUSTAKA
Engelmore, R., Morgan, A. eds. (1986). Blackboard Systems. Reading, Mass.:
Addison-Wesley. ← BUKU
Robinson, A.L. (1980). New Ways to Make Microcircuits Smaller. Science, 208:
1019-1026. ← JURNAL ILMIAH
Bhavsar, D.S., Saraf, K.B. (2002). Morphology of PbI2 Crystals Grown by Gel
Method. Crystal Research and Technology, 37: 51–55 ← JURNAL ILMIAH
Hasling, D.W., Clancey, W.J., Rennels, G.R. (1983). Strategic Explanations in
Consultation. The International Journal of Man-Machine Studies, 20(1): 3-19. ←
JURNAL ILMIAH
Clancey, W.J. (1983). Communication, Simulation, and In-telligent Agents:
Implications of Personal Intelligent Machines for Medical Education. In
Proceedings of the Eighth International Joint Conference on Artificial Intelligence,
556-560. Menlo Park, Calif.: International Joint Conferences on Artificial
Intelligence, Inc. ← KONFERENSI/PROSIDING
Rice, J. (1986). Poligon: A System for Parallel Problem Solving, Technical Report,
KSL-86-19, Dept. of Computer Science, Stanford Univ. ← REPORT
Clancey, W.J. (1979). Transfer of Rule-Based Expertise through a Tutorial
Dialogue. PhD Dissertation, Department of Computer Science, Stanford
University. ←TESIS/DISERTASI
Ivey, K.C. (2 September 1996). Citing Internet sources URL http://www.eei-
alex.com/eye/utw/96aug.html. ←WEBSITE
186
KETERAMPILAN MENULIS NASKAH PIDATO DAN
APLIKATIF PADA AUDIO VISUAL
Asri Oktaviani, Sholihati Nur Sya’diah Kamal, Selvi Alviana
Kegiatan menulis merupakan bagian dalam seluruh proses belajar seorang
peserta didik selama menuntut ilmu di sekolah. Menulis berarti menyampaikan ide
kepada orang lain dalam bentuk tulisan. Nurhadi (2008:5) menyatakan, “Menulis
adalah kegiatan melahirkan ide dan mengemas ide itu ke dalam bentuk lambang-
lambang grafis berupa tulisan yang bisa dipahami orang lain”. Dari pengertian
tersebut dapat diketahui bahwa tulisan itu digunakan untuk mengekspresikan diri
dan menyampaikan ide kepada orang lain secara tidak langsung.
Pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan
kepada orang banyak untuk menyatakan selamat, menyambut kedatangan tamu,
memperingati hari-hari besar tertentu, dan berbagai bentuk kegiatan lainnya. Pada
hakikatnya pidato termasuk seni monolog dalam keterampilan berbicara. Pidato
bersifat dua arah, yaitu pembicara harus memperhatikan lawan bicaranya walaupun
pembicara lebih banyak mendominasi pembicaraan. Lawan bicara harus
mendengarkan pesan-pesan yang disampaikan pembicara baik berupa kata-kata
(verbal) atau bukan kata-kata (non verbal) sehingga apa yang disampaikan dapat
diterima dipahami dengan sempurna.
Pidato biasanya disampaikan oleh pemimpin atau orang yang dianggap
penting untuk memberikan arahan atau nasihat kepada para pendengarnya, karena
fungsi dari pidato adalah untuk memberikan informasi, nasihat, motivasi,
peringatan, dan pengetahuan. Agar pidato kita bisa diterima dengan baik oleh
audien, ucapan atau kalimat harus disusun dengan baik dan rapi sesuai dengan
kaidah bahasa yang berlaku. Kalimat yang tersusun secara runut dan sistematis
supaya enak didengarkan serta dapat memberikan kesan positif bagi orang yang
mendengarkan.
Menulis naskah pidato pada hakikatnya menuangkan gagasan ke dalam
bentuk bahasa tulis yang siap dilisankan. Pilihan, kosakata, kalimat, dan paragraf
dalam menulis sebuah pidato sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kegiatan
187
menulis naskah yang lain. Sebuah naskah pidato memiliki struktur atau sistematika.
Thomas Matulessti dalam blognya (matulessi.wordpress.com) yang berjudul
“Menulis Pidato dengan Sistematika dan Bahasa yang Efektif” menyatakan bahwa
bila hendak menulis teks pidato, kita perlu mengetahui terlebih dahulu pidato itu
akan diucapkan pada kegiatan apa. Sebab isi pidato harus disesuaikan dengan
situasi kegiatan.
Untuk mencapai standar yang diharapkan, media pembelajaran sangat
dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Di samping dapat menarik perhatian
siswa, media pembelajaran juga dapat menyampaikan pesan yang ingin
disampaikan dalam setiap mata pelajaran. Dalam pembelajaran di sekolah, guru
dapat menciptakan suasana belajar yang menarik perhatian dengan memanfaatkan
media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan variatif. Dengan demikian
pembelajaran dapat berlangsung dengan mengoptimalkan proses dan berorientasi
pada prestasi belajar. Salah satu media yang dapat digunakan adalah media audio
visual. Menurut Mulyatiningsih (2012: 190) media audio visual adalah media yang
menampilkan gambar dan teks secara bersama-sama. Media audio visual juga
memiliki kelebihan. Indriana (2011: 92) menyatakan bahwa media audio visual
memiliki kelebihan yaitu sebagai berikut.
Pertama, memberikan pesan yang dapat diterima secara lebih merata oleh
siswa. Kedua, sangat baik untuk menerangkan suatu proses. Ketiga, mengatasi
keterbatasan ruang dan waktu. Keempat, dapat diulang-ulang dan dihentikan sesuai
dengan kebutuhan. Kelima, memberikan kesan mendalam yang dapat
mempengaruhi sikap siswa. Keenam, memberikan hiburan tersendiri bagi peserta
didik, sehingga peserta didik tidak bosan mengikuti sesi pembelajaran.
Pengertian pidato menurut para ahli:
1. BUDIMAN HAKIM
Visual adalah syarat mutlak untuk memperkenalkan sebuah brand pada konsumen
2. PUJIANTO
Visual adalah komponen yang terlihat pada saat aplikasi dijalankan
3. FEMI OLIVIA
188
Visual merupakan salah satu cara mengorganisasikan pemikiran dan meningkatkan
kemampuan berpikir dan komunikasi
4. ALLEN D. BRAGDON & DAVID GAMON
Visual merupakan indra yang kompleks dan multisegi
5. HERNOWO
Visual merupakan tindakan melihat (dengan mata)
6. FRANS M. ROYAN
Visual adalah orang yang lebih suka menggunakan penglihatan dalam menerima
informasi
Manfaat Audio Visual
Berikut dibawah ini manfaat menggunakan audio visual
1. Mempermudah dalam menyajikan serta menerima pembelajaran maupun
informasi serta bisa menghindarkan salah pengertian.
2. Mendorong rasa keingin tahuan, hal ini disebabkan karena sifat audio visual
yang menarik dengan gambar yang dibuat semenarik mungkin membuat anak
tertarik serta memiliki keinginan untuk mengetahui lebih banyak.
3. Memastikan pengertian yang diperoleh sebab selain dapat menampilkan
gambar, grafik, diagram maupun cerita. Sehingga mengekalkan pengertian.
Pembelajaran yang diserap melalui penglihatan (visual) sekaligus dengan
pendengaran (audio) bisa mempercepat daya serap anak didik dalam memahami
pelajaran yang disampaikan.
4. Tidak membosankan, maksudnya ialah karena sifatnya yang variatif, siswa
dalam pembelajaran tidak merasa bosan, karena sifatnya yang beragam film, tiga
dimensi atau empat dimensi, dokumenter dan yang lainnya. Hal ini dapat
menciptakan sesuatu yang variatif tidak tidak membosankan para siswa.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang di kemukakan di atas, maka masalah yang dapat
di identifikasi adalah sebagai berikut
1. Kurangnya penggunaan media dalam pembelajaran menulis pidato
189
2. Pembelajaran pidato membosankan dan tidak menarik
3. Pengetahuan siswa terhadap karya sastra sangat terbatas
4. Kurangnya kemampuan siswa dalam menulis pidato
5. Perlunya media yang tepat untuk meningkatkan keterampilan menulis
pidato terhadap siswa yang di didik.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media
audio visual dalam kemampuan menulis. Dalam hal lain, pidato juga bertujuan
untuk memberi suatu pemahaman atau informasi kepada orang lain yang bersifat
himbauan ataupun ajakan.
Hasil Pembahasan
Hardjono (1988:85) menjelaskan bahwa menulis ialah mengabdikan bahasa
dengan tanda-tanda grafis. Aspek-aspek di luar bahasa pun dapat diabadikan dalam
suatu tulisan seperti kesan-kesan subyektif seseorang, pendapat, perasaan, dan
sebagainya. Untuk mengadakan komunikasi dengan orang lain 21 menulis
memainkan peranan penting. Komunikasi tertulis bahkan memberi kemungkinan
mengadakan kontak dengan orang diluar negeri dalam berbagai bentuk, seperti
surat, makalah, dan pidato, yang mempunyai tujuan dan penggunaan bahasa yang
berbeda pula.
Keterampilan menulis adalah kemampuan seseorang dalam melakukan
lambang grafis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain
yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbol-simbol bahas tersebut
(Suriamiharja, dkk. 1996:2). Menulis merupakan salah satu cara berkomunikasi
secara tertulis, di samping adanya komunikasi secara lisan. Hal ini karena pada
umumnya tidak semua orang dapat mengungkapan perasaan dan maksud secara
lisan saja.
Menurut Arsjad (1988: 53) pidato merupakan suatu hal yang sangat penting
baik pada waktu sekarang maupun pada waktu yang akan datang, karena pidato
merupakan penyampaian dan penamaan pikiran, informasi, atau gagasan dari
pembicara kepada khalayak ramai. Pidato sering digunakan dalam acaraacara
khusus seperti seminar, penataran, peringatan-peringatan, dan perayaanperayaan
190
tertentu. Seseorang yang memiliki kemampuan berpidato dalam forumforum
tersebut akan mendapatkan tempat dihati para pendengarnya. Dengan demikian,
seseorang yang memiliki kemampuan berpidato dengan baik akan mampu
meyakinkan pendengarnya untuk menerima dan mematuhi pikiran, informasi,
gagasan, atau pesan yang disampaikan.
Pidato mempunyai arti “suatu penyampaian berita secara lisan yang isinya
bisa berbagai macam misalnya bisnis, masalah pemerintah, pendidikan (tentang
agama, politik, pertanian, keamanan dan sosial)”. Jika penyampaian pidato itu tidak
secara lisan maka dinamakan pidato, dan isinya biasanya berupa pemberitahuan
(Kusuma 2002:5)
Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara gambar.
Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua
jenis media yaitu Media Audio dan Media Visual.
Media audio visual adalah merupakan media perantara atau penggunaan materi dan
penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran sehingga membangun kondisi
yang dapat membuat siswa mampu memperoleh penegtahuan, keterampilan, atau
sikap.
Menurut (Hermawan, 2007) mengemukakan bahwa “Media Audio Visual
adalah media intruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman
(kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi) meliputi media yang dapat dilihat dan
didengar.
Langkah-langkah pembelajaran menulis pidato dengan menggunakan
media audio visual dirancang oleh guru menjadi tiga kegiatan, yaitu kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan terdiri atas
mengucapkan salam panganjali umat, menyanyikan lagu Indonesia raya, mengecek
kehadiran siswa, menyampaikan apersepsi, dan menyampaikan tujuan
pembelajaran. Selanjutnya, kegiatan inti pembelajaran menulis pidato
menggunakan audio visual di kelas, yaitu mengamati, menanya, mengekslorasi,
mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Kegiatan yang terakhir yaitu kegiatan
penutup. Kegiatan penutup terdiri atas guru menanyakan kesulitan yang dihadapi
siswa dalam memahami materi yang telah dipelajari, guru mengajak siswa untuk
191
menyimpulkan materi pelajaran yang sudah dipelajari, guru memgumpulkan
lembar kerja siswa untuk dinilai dan menutup pelajaran dengan mengucapkan
salam.
Penggunaan media dalam pembelajaran menjadi hal yang penting bagi guru.
Dengan adanya media, siswa lebih tertarik mengikuti pembelajaran. Hal tersebut
dapat dilihat dari hasil observasi yang menunjukkan siswa sangat antusias dalam
mengikuti pelajaran dan perhatian siswa yang tertuju pada pembelajaran seperti
yang dikemukakan oleh Sudjana. (2002: 2) tujuan penggunaan media adalah untuk
menarik perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi, untuk memperjelas
bahan pelajaran agar siswa lebih mudah memahami metode mengajar akan lebih
bervariasi, siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar
Menulis naskah pidato pada hakikatnya menuangkan gagasan ke dalam
bentuk bahasa tulis yang siap dilisankan. Sebuah naskah pidato memiliki struktur
atau sistematika. hasil penggunaan media audio visual dalam pembelajaran menulis
pidato sangat tinggi. Hal itu dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa yang rata-
rata. Hasil tersebut membuktikan bahwa media audio visual dalam pembelajaran
menulis pidato sangat afektif digunakan untuk mencapai keberhasilan proses
pembelajaran dalam satu standar kompetensi.
Saran yang peneliti berikan yaitu, penggunaan media audio visual dalam
pembelajaran menulis pidato sangatlah efektif. Guru bidang studi bahasa Indonesia
sudah seharusnya memanfaatkan media ini khususnya dalam pembelajaran menulis
pidato. Dengan media ini, siswa akan lebih mudah untuk menemukan topik atau
tema yang akan digunakan dalam menulis pidato. Media audio visual juga dapat
membantu guru untuk lebih mudah dalam mengajar
192
DAFTRA PUSTAKA
e-Journal Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Undiksha Volume: Vol:
7 No: 2 Tahun:2017
Akhadiah, Sabarti, dkk. 1998. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.
Jakarta: Erlangga
https://vebivanesa.wordpress.com/2015/04/13/makalah-media-audio-dan-audio-
visual/
193