101
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA
MELALUI ROLE PLAYING
Inayah Nur Ashari, Nurpindasari Sitorus, Rima Puji Astuti, Wulan Maisari
PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih
menuntut keterampilan yang kita miliki untuk mengikuti perkembangan zaman.
Perkembangan yang semakin canggih ini banyaknya manusia berpikir kritis dan
inovatif dalam berpikir. Lembaga pendidikan harus mampu mengantisipasi
perkembangan yang ada serta pendidikan harus mampu mengantisipasi
perkembangan tersebut dengan terus mengupayakan suatu program yang sesuai
dengan perkembangan zaman, situasi, kondisi dan kebutuhan peserta didik. Salah
satu keterampilan yang dibutuhkan peserta didik yakni keterampilan berbicara.
Keterampilan berbicara penting untuk mempermudah berkomunikasi dengan orang
lain. Keterampilan berbicara yang terbatas (tidak terampil) akan mengganggu
kelangsungan proses berkomunikasi antar pemberi pesan dan penyimak. Dengan
berbicara yang baik dan benar maka maksud pesan yang ingin disiapkan pemberi
pesan dapat diterima dengan baik oleh penyimak.
Keterampilan berbicara tidak datang begitu saja, tetapi perlu berlatih secara
berkala agar berkembang dengan maksimal. Keterampilan dapat diperoleh dan
dikuasai dengan jalan praktek dan latihan. Kemampuan berbicara ini dilatih dengan
tujuan untuk mempermudah memahami maksud yang disampaikan. Melatih
keterampilan berbicara dimulai sejak dini dilingkungan rumah dan disekolah
tempat dimana siswa belajar secara formal. Kesulitan dalam berbicara seperti hal
nya kesulitan dalam menyimak disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor
yang menimbulkan kesulitan dalam berbicara adalah yang datang dari lawan
berbicara. Apabila lawan bicara tidak mampu mengungkapkan makna pembicaraan
yang ingin disampaikan maka komunikasi terputus dengan kata lain tujuan
komunikasi tidak tercapai. Kesulitan dalam menyimak adalah sebagaimana di
102
kemukakan oleh Underwood (1989:16-20) yang menyebutkan bahwa masalah
mendasar yang dihadapi pembelajar menyimak yaitu ketidakmampuan mengontrol
kecepatan tuturan pembicara, tidak adanya kesempatan mengulang tuturan,
keterbatasan kosakata pembelajar, kegagalan untuk mengenali tanda-tanda
pembicara, kesulitan menginterprestasikan wacana, ketidakmampuan
berkonsentrasi.
Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran untuk menghadirkan
peran yang ada dalam dunia nyata kedalam suatu pertunjukan peran didalam kelas
atau pertemuan yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar memberikan
penilaian terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan, misalnya menilai
keunggulan maupun kelemahan, masing-masing peran tersebut dan kemudian
memberikan saran atau alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran
tersebut.
Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam
pertunjukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran. Role
playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan
sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986) dalam role playng, murid
dikondisikan pada situasi tertentu diluar kelas, meskipun saat itu pembelajaran
terjadi didalam kelas, menggunakan bahasa inggris. Selain itu, role playing sering
kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktifitas dimana pembelajar
membayangkan dirinya seolah-olah berada diluar kelas dan memainkan peran
orang lain.
Agar dapat membantu siswa secara maksimal dalam meningkatkan hasil
belajar dan mengurangi peran guru yang terlalu dominan dalam proses
pembelajaran, maka kesenangan dalam belajar itu sendiri perlu diperhatikan. Untuk
dapat menyusun kebutuhan tersebut, solusi yang harus dicapai yaitu dengan
menggunakan variasi, strategi pembelajaran, dan metode yang beragam dengan
melibatkan indera belajar dan harus sesuai dengan materi yang akan disampaikan
kepada siswa dalam pembelajaran bahasa indonesia. Terkait belum optimal hasil
belajar bahasa indonesia kelas IV MI NURUL ZANNAH, maka penulis berupaya
menerapkan metode bermain peran (role playing) sebagai salah satu alternatif
103
pembelajaran bermakna pada pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan
menyenangkan.
Berdasarkan kondisi tersebut maka peneliti mempunyai alasan untuk
mengangkat judul penelitian tindakan kelas yang berjudul “peningkatan
keterampilan berbicara melalui role playing”. Dimana penulis akan
mengidentifikasi masalah dengan adanya ketidaktuntasan peserta didik dalam
memahami keterampilan dalam bermain peran, antara lain yaitu: peserta didik
kurang memahami materi, rendahnya tingkat penguasaan, tidak aktif dalam
kegiatan (tidak semangat), kurang motivasi, media yang digunakan tidak sesuai,
kurangnya keterampilan yang dimiliki guru dalam penyampaian materi.
Untuk meningkatkan keterampilan, siswa memerankan tokoh dalam
pementasan peran siswa kelas IV MI NURUL ZANNAH, peneliti membahas
tentang langkah-langkah yang ditempuh untuk meningkatkan kemampuan siswa
memerankan tokoh peran dengan menerapkan model pembelajaran bahasa sastra
siswa meningkatkan ketermpilan siswa melaui langkah-langkah sebagai berikut.
Langkah-langkah pemebelajaran yang efektif dengan menerapkan model
pembelajaran role playing mengasah kemampuan serta meningkatkan keterampilan
dalam masing-masing pembagian peran.
PEMBAHASAN
Keterampilan Berbicara
Penelitian ini menggunakan rancanagan penelitian tindakan kelas. Dalam
penelitian ini, diracang metode penelitian yang meliputi, rancangan penelitian,
subjek dan objek penelitian, prosedur penelitian (refleksi awal, perencanaan,
tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi). metode dan
instrumen pengumpulan data, teknik analisis dan data kriteria keberhasilan. Objek
dalam penelitian ini yaitu langkah-langkah pembelajaran yang efektif dengan
menerapkan model pembelajaran bermain peranuntuk meningkatkan kemampuan
siswa serta respon terhadap penerapan model bermain peran.
Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa dalam kehidupan
sehari-hari. Seseorang lebih sering memilih berbicara untuk berkomunikasi, karena
komunikasi lebih efektif jika dilakukan dengan berbicara. Berbicara memegang
104
peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa kali bahasa telah
mendefinisikan pengertian berbicara, diantaranya sebagai berikut.
Berdasarkan pengertian berbicara yang telah disampaikan oleh beberapa ahli
diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian berbicara adalah aktivitas
mengeluarkan kata-kata atau bunyi berwujud ungkapan, gagasan, informasi yang
mengandung makna tertentu secara lisan.
Menurut Iskandarwassid dan Dadang suhendar (2008:241), keterampilan
berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus sistem
bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan
keinginan kepada orang lain. Dalam hal ini, kelengkapan alat ucap seseorang
merupakan persyaratan alamiah yang memungkinkan untuk memproduksi suatu
ragam yang luas bunyi artikulasi, tekanan, nada, kesenyapan, dan ragam bicara.
Keterampilan ini juga didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara secara wajar,
jujur, benar, dan bertanggung jawab dengan menghilangkan masalah psikologis
seperti rasa malu, rendah diri, dan ketegangan. Keteerampilan berbicara adalah
tingkah laku manusia yang paling distingtif dan berati (Djago Tarigan, (1992:146).
tingkah laku ini harus dipelajari, setelah itu dapat dikuasai. Anak-anak usia sekolah
dasar harus belajar dari manusia di sekitarnya, anggota keluarga, teman lingkungan
rumah, teman satu sekolah dan guru di sekolah. Semua pihak turut membantu anak
belajar keterampilan berbicara.
Bermain peran pada perinsipnya merupakan pembelajaran untuk
menghadirkan peran yang ada dalam dunia nyata kedalam suatu pertunjukan peran
didalam kelas atau pertemuan yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar
serta memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang usdah dilaksanakan,
misalnya menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut
dan kemudian memberikan saran atau alternatif pendapat bagi pengembangan
peran-peran tersebut. Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang
diangkat dalam pertunjukan dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan
permainan peran. Role playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya
ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986)
dalam role playing, murid dikondisikan pada situasi tertentu diluar kelas, meskipun
105
saat itu pembelajaran terjadi didalam kelas, menggunakan bahasa inggris. Selain
itu, role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktifitas dimana
pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada diluar kelas dan memainkan
peran orang lain.
Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerja
sama, komunikatif, dan interprestasikan suatu kejadian melalui bermain peran,
peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antar manusia dengan
cara memeragakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama peserta
didik dapat mengeksplorasi perasaan-perasan, sikap-sikap, nilai-nilai dan berbagai
setrategi pemecahan masalah. Dalam role playing murid diperlakukan sebagai
subjek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya
dan menjawab dalam bahasa inggris) bersama teman-temannya pada situasi
tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid
(Dirjen Dikdasmen, 2002). Proses pembelajaran memahami kebebasan
berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika
mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan
pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga
dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif dan berpartisipasi,
mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari(Boediono,2001).
Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka
proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Sementara itu, sesuai dengan pengalaman penelitian sejenis yang telah
dilakukan, manfaat yang dapat diambil dari Role Playing adalah: pertama, Role
Playing dapat memberikan semacam hidden practice, dimana murid tanpa sadar
menggunakan umgkapan-ungkapan terhadap meteri yang telah dan sedang mereka
pelajari. Kedua, Role Playing melibatkan jumlah murid yang cukup banyak, cocok
untuk kelas besar. Ketiga, Role Playing dapat memberikan kepada murid
kesenangan karena Role Playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan
bermain, murid akan merasa senang karena bermain dunia siswa. Masuklah ke
dunia siswa, sambil kita antarkan dunia kita (Bobbi Deporter,2000:12).
106
Shaftel dan Shaftel (E. Mulyasa, 2003) Mengemukakan tahapan pembelajaran
bermain peran meliputi: (1) Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik;
(2) Memilih peran; (3) Menyusun tahapan-tahapan peran; (4) Menyiapkan
pengamatan; (5) Tahap pemeranan; (6) Diskusi dan Evaluasi tahap diskusi dan
evaluasi tahap I; (7) Pemeranan ulang; dan (8) Diskusi dan evalusai tahap II; dan
(9) Membagi pengalaman dan pengambilan keputusan. Hasil kesesuaian tersebut
dapat dilihat dari langkah-langkah yang digunakan pada peneliti tersebut sehingga
membuat siswa menjadi lebih termotivasi, membuat siswa menjadi lebih menarik
minat dan perhatian, serta mengembangkan kemampuan komunikasi siswa.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, ada beberapa hal yang menjadi simpulan
dalam penelitian ini. Langkah-langkah model pembelajaran bermain peran (role
playing) dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam memerankan tokoh sangat
efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam memerankan tokoh. Kedua
peningkatan hasil belajar siswa hingga tercapainya tingkat ketuntasan hasil belajar
siswa pada kegiatan memerankan peran. Berdasarkan temuan-temuan dalam
peneliti ini, dapat menyampaikan beberapa saran sebagai berikut. (1) guru mata
pelajaran sastra hendaknya dapat mnerapkan model pembelajaran bermain peran
dalam pembelajaran bahasa dari segi sastra dan kebahasan. (2) dalam setiap
kegiatan pembelajaran, guru hendaknya selalu meminta siswa mempraktikan teori-
teori atau materi pembelajaran bahasa sastra, khususnya pada pembelajaran
bermain peran. (3) kepada peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut
dan sejenis tentang penerapan model pembelajaran bermain peran, sebaiknya lebih
memperhatikan kendala-kendalayang dihadapi siswa serta mengupayakan solusi
yang tepat, agar peneliti melalui proses lebih maksimal.
107
DAFTAR PUSTAKA
Hamdayama, Jumanta.2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan
Berkarakter.Bogor. Ghalia Indonesia.
108
PENGARUH MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP
PRESTASI BELAJAR IPA
Anisa Nur Awaliyah, Bella Amelia, Dea Amalia, Mia Zulmiati
PENDAHULUAN
Dalam proses pendidikan sekolah, kegiatan pembelajaran adalah komponen
pendidikan yang penting. Dalam kegiatan tersebut melibatkan peserta didik dan
pendidik (guru). Guru mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran. Tugas
guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja, tetapi menjadikan siswa
sebagai subjek pembelajaran sehingga siswa tidak pasif dan dapat mengembangkan
pengetahuan yang dimilikinya sesuai dengan bidang studi yang dipelajari.
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari proses
belajar yang dijalani oleh seseorang siswa dibangku pendidikan, tinggi rendahnya
prestasi belajar siswa yang menunjukkan tingkat keberhasilan belajarnya dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sangat mempengaruhi prestasi belajar
seorang siswa adalah motivasi belajar.
IPA atau Sains adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta
melalui pengamatan yang tepat sasaran, serta menggunakan prosedur sesuai dengan
aturannya, yang dijelaskan melalui penalaran sehingga mendapatkan suatu
kesimpulan. Dalam hal ni, guru atau khususnya yang mengajar sains disekolah
dasar, diharapkan mengerti dengan benar dan mengerti hakikat pembelajaran IPA,
sehingga dalam pembelajaran IPA guru tidak kesulitan dalam mendesain dan
melaksanakan pembelajaran juga tidak mendapat kesulitan dalam memahami
konsep sains.
IPA sebagai salah satu mata pelajaran disekolah dapat memberikan peranan
dan pengalaman bagi siswa. Hasil pembelajaran IPA pun dapat dipengaruhi oleh
motivasi dari siswa baik itu motivasi internal maupun motivasi eksternal. Namun,
siswa disekolah dasar dalam menerima pelajaran IPA kurang bisa memahami
materi yang disampaikan oleh guru. Selain itu, siswa dalam mengikuti pelajaran
IPA kurang memiliki motivasi.
109
Motivasi merupakan suatu penggerak dari dalam hati seorang individu
untuk melakukan atau mencapai tujuan tertentu. Motivasi juga bisa dikatakan
sebuah rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari
kegagalan hidup. Dorongan motivasi belajar yang dimiliki siswa dalam setiap
kegiatan pembelajaran sangat berperan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa
dalam mata pembelajaran tertentu. Siswa yang bermotivasi tinggi dalam belajar
memungkinkan akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi juga, artinya semakin
tinggi motivasinya, semakin intensitas usaha dan upaya yang dilakukan, maka
semakin tinggi prestasi belajar yang diperolehnya dan sebaliknya, jika motivasi
belajarnya rendah maka akan memperoleh prestasi belajar yang rendah juga.
Jika guru jarang memberikan motivasi kepada siswa mungkin sebabnya
siswa akan cepat bosan saat mengikuti pelajaran dan tidak mempunyai semangat
dan motivasi belajar. Hal ini membuat sadar akan pentingnya sebuah motivasi
belajar untuk siswa. Pemberian motivasi belajar masih kurang sering diberikan
kepada siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Guru disana kurang bisa
memanfaatkan waktu luang dalam memasukkan sebuah motivasi kepada siswa
dalam kegiatan belajar. Sehingga motivasi siswa dalam belajar masih kurang, hal
ini kemungkinan akan memberi dampak negatif pada presentasi belajar siswa.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik ingin mengadakan Artikel ilmiah
prestasi belajar IPA sudah cukup baik akan tetapi, motivasi belajar siswa yang
diberikan oleh guru masih kurang. Dengan demikian penulis tertarik mengambil
judul yaitu: “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar IPA”
PEMBAHASAN
Hakikat pengaruh motivasi belajar siswa
Dalam perilaku belajar terdapat motivasi belajar. Motivasi belajar tersebut
ada yang instrinsik dan ekstrinsik. Penguatan Motivasi-motivasi belajar tersebut
berada ditangan pendidik dan anggota masyarakat lain. Guru sebagai pendidik
bertugas memperkuat motivasi belajar selama minimal 9 tahun pada usia wajib
belajar dan ulama sebagai pendidik juga menguatkan motivasi belajar sepanjang
hayat.
110
Motivasi adalah keinginan atau dorongan yang timbul pada diri seseorang
baik secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan
tujuan tertentu. Sedangkan Belajar menurut teori behavioristik adalah perubahan
tingkah laku sebagai akibat dari adanya intereksi antara stimulus dan respon. Jadi
motivasi belajar merupakan kekuatan, daya pendorong, atau alat pembangun
kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar secara
aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik
dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.
Motivasi diakui sebagai hal yang penting bagi pelajar di sekolah. Setidaknya
anak itu harus mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah. Anak-anak kecil tidak
semua suka sekolah, bahkan anak-anak yang lebih besar pun ada juga yang kurang
menyukai sekolah, sekalipun mereka tidak membenci segala bentuk pelajaran.
Sebaiknya diharapkan agar anak-anak mempunyai motivasi untuk belajar agar ia
dapat melakukan sesuatu. Bila kita ingin anak belajar dengan baik, maka haruslah
terpenuhi tingkat sampai tingkat A. Anak yang lapar, merasa tidak aman, yang tidak
dikasihi, yang tidak diterima sebagai anggota masyarakat kelas, yang guncang
harga dirinya, tidak akan dapat belajar dengan baik.
Motivasi mempunyai peranan penting dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak
ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada
kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip
motivasi belajar harus diketahui, adapun prinsip motivasi dalam belajar adalah
sebagai berikut:
a. Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar.
Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya.
Motivasilah sebagai dasar penggeraknya yang mendorong sesorang untuk
belajar.
b. Motivasi berupa pujian lebih baik dari pada hukuman
Setiap orang senang dihargai dan tidak suka dihukum dalam bentuk apapun
juga. Memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas prestasi kerja
orang lain. Hal ini akan memberikan semangat kepada seseorang untuk lebih
meningkatkan prestasi kerjanya.
111
c. Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar
Kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh anak didik adalah keinginannya
untuk menguasai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu anak didik belajar.
d. Motivasi dapat memukut optimisme dalam belajar
Anak didik yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat
menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Dia yakin bahwa belajar
bukanlah kegiatan yang sia-sia. Hasilnya pasti akan berguna tidak hanya
sekarang tetapi juga di hari-hari mendatang.
e. Motivasi melahirkan prestasi belajar
Tinggi rendahnya motivasi selalu diajdikan indikator baik buruknya
prestasi belajar seeorang anak didik. Anak didik menyenangi mata pelajaran
tertentu dengan senang hati mempelajari mata pelajaran itu. Selain memiliki
bukunya, ringkasannya juga rapih dan lengkap. Wajarlah bila isi mata
pelajaran itu dikuasai dalam waktu yang relatif singkat.
Adapun fungsi motivasi itu meliputi:
a. Mendorong timbulnya kekuatan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka
tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar.
b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan
kepencapaian tujuan yang diinginkan.
c. Motivasi berfungsi sebagi penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil.
Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepet atau lambatnya suatu
pekerjaan.
Prestasi adalah hasil dari pembelajaran. Belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. IPA adalah mata pelajaran yang mempelajari tentang Alam. Dari
uraian di atas dapat diambil simpulan bahwa “prestasi” adalah suatu hasil yang telah
diperoleh atau dicapai dari aktivitas yang telah dilakukan atau dikerjakan. Menurut
Abdurrahman Gintings prestasi belajar adalah penilaian hasil dari berbagai upaya
dan daya yang tercermin dari partisipasi belajar yang dilakukan sesuai dalam
mempelajari materi pelajaran yang diarahkan oleh guru. Sehingga prestasi IPA
112
merupakan hasil yang diperoleh siswa selama mengikuti proses pembelajaran IPA
di sekolah. prestasi IPA pada setiap siswa tersebut ada yang memuaskan dan ada
yang kurang memuaskan. Prestasi IPA tergantung pada tingkah laku yang
dilakukan siswa itu sendiri ketika mengkuti proses pembelajaran di sekolah.
sehingga prestasi IPA antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya berbeda-
beda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar IPA dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu faktor intern dan faktor ekstren.
1) Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang belajar.
Faktor intern secara garis besarnya dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:
a) Faktor jasmaniah atau faktor fisiologis yang dimaksud adalah menyangkut
keadaan jasmani dari individu yang belajar, terutama yang berkaitan dengan
berfungsinya alat-alat tubuh yang ada pada dirinya.
b) Faktor psikologis ini dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor ini
tidak berkembang dengan baik maka dapat mengakibatkan terhambatnya proses
belajar pada diri individu.
2) Faktor ekstren
Faktor ekstren adalah faktor yang berasal dari luar individu atau yang disebut
dengan lingkungan. Adapun faktor ekstren ini meliputi: faktor keluarga yaitu cara
orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah dan keadaan
ekonomi akan sangat berpengaruh pada perkembangan belajar siswa. Karena akan
menjadi perbedaan latar belakang individu.
a) Faktor sekolah juga akan mempengaruhi belajar siswa. Kekurang lengakapan
fasilitas belajar di sekolah, kurang baik interaksi antara guru dengan siswa,
siswa dengan siswa, keadaan gedung sekolah yang kurang memenuhi
persyaratan dan sebagainya akan mempengaruhi prestasi belajar siswa.
b) Faktor masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap
prestasi belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam
masyarakat. Keadaan masyarakat yang kurang kondusif dalam belajar atau
113
lingkungan masyarakat yang tidak baik akan membawa dampak terhadap
prestasi belajar siswa.
IPA merupakan mata pelajaran yang mempelajari tentang alam, makhluk hidup,
dan gejala-gejala alam yang ada disekitar maupun yang ada di alam semesta. IPA
merupakan sarana yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan
atau situasi melalui abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi atau 10
pemecahan masalah agar mampu meningkatkan kemampuan untuk berpikir dengan
jelas, logis, teratur dan sistematis. Ada hakikatnya IPA dibangun atas dasar produk
ilmiah, proses ilmiah dan sikap ilmiah. IPA sebagai produk karena isinya
merupakan kumpulan pengetahuan yang meruoakan hasil dari proses kegiatan
ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuan atau para ahli selama berabad-abad. IPA
sebagai proses yaitu bagaimana mengumpulkan fakta atau cara yang digunakan
untuk mengumpulkan fakta-fakta suatu objek yang diteliti guna penyempurnaan
pengetahuan yang sudah ada maupun untuk menemukan pengetahuan baru.
Seorang ilmiah bersikap secara ilmiah yaitu dengan berusaha mengambil sikap
tertentu yang memungkinkan agar tercapai hasil yang diharapkan. Contoh sikap
ilmiah IPA adalah teliti, jujur, cermatrasa ingin tau dan didiplin. IPA berhubungan
erat dengan alam dan makhluk hidup, belajar IPA berarti mencari tahu tentang alam
dan makhluk hidup secara sistematis, tidak hanya mempelajari pengetahuan yang
berupa fakta, konsep, dan prinsip saja melainkan juga dengan proses mengamati,
menemukan dan mengkomunikasikan. Bagi siswa SD pembelajaran IPA bukan
merupakan pembelajaran yang mudah, karena dalam mempelajarinya kita
membutuhkan suatu pemahaman dan memecahkan suatu masalah. Karena itulah
perlu diciptakan pembelajaran IPA yang dapat mengaktifkan siswa untuk dapat
berfikir kritis dan memecahkan suatu masalah dengan benar.
Fungsi dan tujuan IPA berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi
DEPDIKNAS 2003 adalah sebagai berikut :
1) Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Mengembangkan keterampilan sikap, dan nilai ilmiah.
3) Mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang melek sains dan teknologi.
114
4) Menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan ke
jenjang lebih tinggi.
PENUTUP
Motivasi belajar merupakan kekuatan, daya pendorong, atau alat pembangun
kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar secara
aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik
dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Prestasi belajar adalah penilaian
hasil dari berbagai upaya dan daya yang tercermin dari partisipasi belajar yang
dilakukan sesuai dalam mempelajari materi pelajaran yang diarahkan oleh guru.
Pembelajaran IPA yang dapat mengaktifkan siswa untuk dapat berfikir kritis dan
memecahkan suatu masalah dengan benar.
115
DAFTAR PUSTAKA
Dr. C. Asri Budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka
Cipta. hlm. 20
Abdurrahman Gintings, 2008. Esensi Praktis: Belajar dan Pembelajaran.
Bandung: Humaniora. hlm. 87
Dimyati dan mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT ineka Cipta.
hlm. 94
Trianto, 2010. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT
Prestasi Pustaka. hlm. 137
Oemar Hamalik, 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 161
Nanang Hanifah dan Cucu Suhana. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran.
Bandung: PT Refika Aditama. hlm. 20
Suastra, I Wayan. 2013. Pembelajaran Sains Terkini Mendekati Siswa dengan
Alamiah dan Sosial Budayanya. Singaraja: Undiksha. hlm. 4
116
117
MANFAAT BERMAIN PERAN (PEMENTASAN
DRAMA) DALAM PEMBENTUKKAN KARAKTER
SISWA SD
Devi Amellia, Rianti Kumbara, Riski Septiana Devi
PEMBAHASAN
1. Manfaat Bermain Peran (Pementasan Drama) Dalam Pembentukan
Karakter Siswa SD
PENDAHULUAN
Karakter merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia terutama dalam tindakan berperilaku. Pembentukan karakter sendiri dapat
diberikan melalui pendidikan. Sesuai deng an UU No 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalarn rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
LATAR BELAKANG
Berdasarkan UU tersebut jelaslah bahwa pendidikan nasional memiliki
tujuan untuk mengembangkan potensi siswa SD menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, berjiwa sosial, santun
terhadap sesama, dan memiliki ilmu yang memadai. Namun, semua itu belum
terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat kita lihat maraknya berita di
media televisi maupun di media cetak, pemimpin daerah dan tokoh masyarakat
yang terjerat narkoba. Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan
118
pendidikan berkarakter tersebut salah satunya melalui proses pembelajaran di
sekolah. Pada dasarnya semua mata pelajaran dapat dimanfaatkan untuk
pembentukan karakter siswa. Tetapi yang sering kita dengar bahwa pendidikan
karakter diidentikkan dengan Unit Bela Negara (UBN) saja, padahal banyak
alternatif lain untuk mewujudkan pembentukan karakter tersebut, salah satunya
mata pelajaraan Bahasa Indonesia materi drama melalui metode bermain peran
kelas IV. Dalam bermain peran (pementasan drama) dibutuhkan pemahaman dan
penghayatan terhadap tokoh dalam naskah drama tersebut. Dengan berperannya
siswa dalam drama tersebut, secara tidak sadar mereka dapat memperkaya
pengalaman psikologi manusia melalui karakter tokoh dalam drama sekaligus
meningkatkan mutu pembelajaran. Untuk itu, dapat dikatakan juga secara tidak
langsung siswa pun mengajak penonton untuk terhanyut dalam karakter yang
mereka mainkan sehingga dengan mudah pendidikan karakter yang dicita-citakan
oleh pemerintah akan dapat terwujud.
MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam
makalah ini adalah bagaimanakah menerapkan bermain peran (pementasan drama)
sebagai pembentukan karakter siswa SD.
SOLUSI MASALAH DI LAPANGAN
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode bermain peran
(pementasan drama) untuk meningkatkan hasil belajar dan menambah antusiasme
siswa. Strategi pembelajaran bermain peran (pementasan drama) adalah suatu cara
penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan
penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa
dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada
umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang
diperankan. Tujuan yang diharapkan dengan strategi role playing antara lain agar
siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, dapat belajar
119
bertanggung jawab, dapat mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara
spontan, dapat berpikir dan memecahkan suatu masalah (Nana Sudjana, 2009: 22).
ALASAN MEMILIH JUDUL
Siswa mana yang tidak suka bermain? Setiap siswa menganggap tak ada
yang lebih menyenangkan dari pada bermain. Salah satu permainan yang disukai
siswa dan mungkin pernah juga kita alami saat kecil dulu, adalah bermain peran
atau bermain pura-pura. Saat bermain peran siswa seakan masuk ke dalam dunianya
sendiri, yang penuh keajaiban, dan petualangan seperti yang dialami oleh karakter
favoritnya di TV. dan tak jarang kita, para orang tua diajak masuk ke dalamnya.
Jika siswa/anak mengajak bermain peran, jangan buru-buru merasa malas dan
menolaknya. Sebab menurut beberapa ahli, bermain peran bukanlah permainan
tanpa makna, namun justru penting bagi perkembangan emosional, mental
intelektual bahkan fisik anak. Nah dibawah ini ada beberapa manfaat dari bermain
peran yang perlu kita ketahui, yaitu membangun kepercayaan diri,
mengembangakan kemampuan bahasa, meningkatkan kreativitas dan akal,
membuka kesempatan untuk memecahkan masalah, membangun kemampuan
sosial dan empati, memberi mereka pandangan positif. Oleh karena itu kita ingin
mengmabil judul ini agar kita tahu bahwa pembentukan karakter siswa dapat
diperoleh dari hal yang menyenangkan yaitu bermain peran (pementasan drama).
TUJUAN MELAKUKAN PENULISAN DENGAN JUDUL TERSEBUT
Untuk memberikan edukasi ke masyarakat umum pentingnya pembentukan
karakter untuk sisiwa dari seni bermain peran (pementasan drama). Siswa dapat
berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemapuannya dalam
bekerja sama. Siswa bebes mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi
dan waktu yang berbeda. Guru dapat mengevaluasi pemahaman setiap siswa
melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan. Permaianan merupakan
pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
120
PEMBAHASAN
HAKIKAT DRAMA / BERMAIN PERAN
Drama menupakan jenis karya sastra yang berbeda dengan genre sastra
lainnya, seperti puisi dan prosa. Dalam memahami drama jauh berbeda jika kita
memahami sebuah puisi karena drama berbentuk tindakan langsung dan berbentuk
dialog-dialog. Memahami puisi, pembaca membutuhkan daya imajinasi yang tinggi
dalam mengapresiasinya karena puisi merupakan karya satra yang kaya akan
makna. Di sisi lain, saat pembaca memahami prosa atau cerita fiksi (cerpen atau
novel), pembaca dihadapkan dengan cerita imaiinatif yang dideskripsikan
pengarang lewat sebuah cerita. Lain halnya dengan drama, drama tidak terhenti
pada sebuah naskah karena naskah tersebut akan lebih bermakna jika diperankan
melalui interpretasi, ekspresi, dan gerak yang sesuai dan mudah dipahami di atas
panggung sehingga orang yang menyaksikan pertunjukan tersebut akan lebih
mudah memahami ceritanya. Namun demikian, drama memang memiliki tujuan
untuk dipentaskan tentang bukan berarti naskah drama yang tidak dipentaskan tidak
dapat dipahami. Naskah drama tersebut masih dapat dipahami dan dimengerti oleh
penikmat sastra berdasarkan isi cerita dalam naskah tersebut. Pada dasarnya
memerankan drama sama halnya memerankan perilaku orang lain atau melakukan
tindakan yang tergambar dalam naskah drama tersebut. Hal ini sejalan dengan
pendapat Haryawan (1988:1) menyatakan bahwa kata drama berasal dari bahasa
Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya.
Dengan demikian drama dapat diartikan sebagai perbuatan tindakan. Dalam arti
Iuas drama adalah suatu karya sastra yang dipertujukkan atau dipentaskan dengan
ekspresi dan penghayatan yang tepat. Menurut Ferdinand Brunetiere dan Balthazar
Vehagen (dikutip Hasanuddin, 2009:2), drama adalah kesenian yang melukiskan
sifat dan sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan
perilaku. Adapun pengertian drama menurut Moulton adalah hidup yang dilukiskan
dengan gerak, drama adalah menyaksikan secara lanasung. Dapat disimpulkan
bahwa drama adalah sebuah karya sastra yang berbentuk dialog dan memiliki tujuan
untuk dipentaskan atau diperankan.
121
KAREKTERISTIK DRAMA
Drama merupakan sebuah genre sastra yang tidak terlepas dari unsur-unsur
pembangun dalam sebuah karya sastra. Seperti yang kita kenal unsur karya sastra
terdapat unsur dalam (intrinsik) dan unsur luar (ekstrinsik) Begitu juga halnya
drama, juga memiliki unsur pembangun drama tersebut. Unsur pembangun drama
tersebut juga dikenal dengan nama unsur intrinsik. Menurut Damono (1983:114)
ada tiga unsur yang menjadi satu kesatuan drama dapat dipertunjukkan, yaitu unsur
naskah, unsur pementasan, dan unsur penonton. Jika salah satu unsur tersebut tidak
ada, maka drama tidak dapat menjadi sebuah pertunjukan. Jika dibandingkan
dengan genre sastra puisi dan prosa, drama memiliki karakteristik khusus yang
berbeda dari kedua genre tersebut. Berikut kekhususan karakteristik drama menurut
Hasanuddin (2009:11- 15). 1. Drama, karena karakteristiknya, penggambaran
unsur-unsur yang membangunnya dari segi genre sastra terasa lebih lugas, lebih
tajam, dan lebih detil, terutama unsur penokohan dan perwatakan. Hal ini pulalah
yang menyebabkan penerjemahan teks drama ke dalam unsur visualisasi terasa
lebih intens. Perhatikan unsur ujaran, gerak, dan pelaku para tokoh, jauh lebih
hidup, dan berkarakter tegas dibanding dengan ujaran, gerak, dan perilaku tokoh
dalam genre fiksi. 2. Pengarang tidak dapat secara leluasa mengembangkan
kemampuan imaiinasinya di dalam drama. Artinya jika pengarang ingin melukiskan
suatu kehidupan di alam tertentu yang secara konversional belum dapat diterima
logika umum amatlah sulit. 3. Dalam dimensi sebagai seni pertunjukan, drama
dapat memberikan pengaruh emosional yang lebih besar dan terarah kepada
penikmat (audiens) jika dibandingkan dengan genre sastra lainnya. Kesan yang
ditinggalkan pun Iebih lama dibanding genre sastra lain. 4. Keterkaitan dimensi
sastra dengan dimensi seni pertunjukan mengharuskan para aktor dan pemain
“menghidupkan” tokoh-tokoh yang digambarkan pengarangnva lewat apa yang
diucapkan tokoh-tokoh tersebut dalam bentuk dialog-dialog. 5. Unsur panggung
memang membatasi pengarang drama dalam menuangkan imaiinasinya. Namun
demikian, panggung juga memberi kesempatan sepenuhnya kepada pengarang
untuk dapat mempergunakannya supaya menarik dan memusatkan perhatian
penikmat dan penonton pada suatu situasi tertentu, yaitu situasi panggung. 6.
122
Bentuk yang khusus dari drama adalah keseluruhan peristiwa yang disampaikan
melalui dialog. 7. Konflik kemanusiaan syarat mutlak. Bentuk dialoglah yang
menuntut adanya konflik tersebut di dalam drama. 8. Meskipun drama tidak dapat
dianggap sebagai genre sastra murni sebagaimana genre fiksi dan puisi, tetapi
drama merupakan suatu karya sastra yang berkarakteristik tersendiri. 9. Sutradara,
aktor, dan pendukung pementasan harus arif menafsirkan dan berusaha setuntas
mungkin untuk memvisualisasikan tuntutan teks drama.
HAKEKAT PENDIDIKAN KARAKTER
Berbicara tentang karakter, terlintas dalam benak kita tentang kepribadian
seseorang yang terlihat menonjol pada diri seseorang. Orang dikatakan berkarakter,
jika orang tersebut memiliki kepribadian yang menonjol. Namun karakter yang
dimaksudkan dalam pendidikan berkarakter adalah manusia yang bertakwa kepada
Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi luhur, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, serta bertanggung jawab. Pembentukan karakter ini telah digaungkan sejak
tahun 2003, seperti yang telah dikemukakan pada latar belakang bahwa pendidikan
karakter telah ditetapkan pada UU no.20 tahun 2003. Hal ini juga ditagaskan oleh
Presiden Susilo Bambang Yudoyono, pada peringatan Dharma Shanti Hari Nyepi
2010 menyatakan, “Pembangunan karakter (character building) amat penting. Kita
ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan mulia.
Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban
demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang
baik (good society). Dan, masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan
mahasiswa Indonesia merupakan manusia yang berakhlak baik, manusia yang
bermoral, dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berprilaku baik pula”
(Kemendiknas, 2011:10). Pembentukan karakter peserta didik, tentunya sangat
dipengaruhi oleh lingungan di mana mahasiswa tinggal dan di mana mahasiswa
menimba ilmu. Pada dasarnya perkembangan karakter siswa merupakan
implementasi pengalaman yang pemah dilihat, dirasakan, dan dialami. Dengan
demikian, untuk mewujudkan masyarakat idaman, yaitu manusia yang berkarakter,
tentunya dibutuhkan peran dari berbagai pihak khususnya di lingkungan sekolah
123
dan keluarga. Hal tersebut didukung dengan pendapat Kemendiknas (2011-12),
karakter sangat erat kaitannya dengan lingkungan di mana seseorang atau
sekelompok orang tersebut tinggal. Karakter dibentuk sejak mahasiswa lahir dan
berkembang seiringnya waktu. Proses perkembangan karakter pada seseorang
dipengaruhi oleh banyak faktor yang disebut sebagai faktor bawaan (nature) dan
lingkungan (nurture), di mana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang.
Dalam perkembangan karakter seseorang didukung oleh faktor genetik dan faktor
lingkungan. Sedangkan yang menjadi wilayah operasi pendidikan karakter pada
mahasiswa adalah faktor lingkungan. Lingkungan tempat tingal mahasiswa
memiliki pengaruh yang sangat besar. Seorang mahasiswa yang memiliki etika
yang baik, tutur kata yang sopan, prilaku yang sesuai dengan norma agama dan
norma masyarakat, maka hal tersebut merupakan implementasi dari hasil
pendidikan yang dilakukan baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat.
Pendidikan karakter di sekolah, dapat dilakukan oleh guru dan siswa baik di dalam
kelas, maupun di luar jam belajar. Jika pendidikan karakter tersebut dilakukan di
kelas, maka upaya yang dapat dilakukan adalah mempertimbangkan segala konsep
pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Konsep pembelajaran yang dimaksud
adalah metode pembelajaran yang dipakai, media; buku panduan, alat evaluasi,
hingga pementasan yang disampaikan harus mendukung tujuan pendidikan karakter
tersebut. Perkembangan karakter mahasiswaini disarankan dapat memanfaatkan
ilmu pengetahuannya secara mandiri, mengaplikasikan nilai-nilai karakter positif
yang didapat sehingga tercermin pada perilakunya sehari-hari.
Pengertian Pendidikan Karekter Menurut Para Ahli
1. Menurut T. Ramli
Pengertian pendidikan karakter ini merupakan suatu pendidikan yang
mengedepankan esensi serta makna terhadap moral dan juga akhlak sehingga hal
tersebut akan mampu untuk membentuk pribadi peserta didik yang baik.
2. Menurut Thomas Lickona
Pengertian dari pendidikan karakter ini adalah suatu usaha yang disengaja
untuk bisa/dapat membantu seseorang itu sehingga ia akan dapat memperhatikan,
memahami, serta juga melakukan nilai-nilai etika yang inti.
124
3. Menurut John W. Santrock
Character education ini merupakan pendidikan yang dilakukan dengan
pendekatan langsung kepada peserta didik untuk dapat menanamkan nilai moral
serta juga memberi kan pelajaran kepada murid mengenai pengetahuan moral di
dalam upaya mencegah perilaku yang yang dilarang.
4. Menurut Elkind
Pengertian pendidikan karakter ini merupakan suatu metode pendidikan
yang dilakukan oleh tenaga pendidik untuk dapat mempengaruhi karakter murid.
Dalam hal ini terlihat bahwa guru itu bukan hanya mengajarkan materi pelajaran
namun tetapi juga mampu untuk menjadi seorang teladan
Fungsi Pendidikan Karekter
Secara umum fungsi pendidikan ini ialah untuk membentuk karakter
seorang peserta didik sehingga peserta didik tersebut menjadi pribadi yang
bermoral, bertoleran, tangguh, berakhlak mulia, serta berperilaku baik.
Adapun beberapa fungsi dari pendidikan karakter diantaranya ialah sebagai berikut;
1. Untuk mengembangkan potensi dasar di dalam diri manusia sehingga akan
menjadi individu yang berpikiran baik, berhati baik, serta berperilaku baik.
2. Untuk membangun serta memperkuat perilaku masyarakat yang multikultur.
3. Untuk membangun dan juga meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif
di dalam hubungan internasional.
Character education ini seharusnya dilakukan sejak dini, yakni sejak masa
kanak-kanak. Pendidikan ini dapat dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, serta
lingkungan, dan juga memanfaatkan berbagai media belajar
Tujuan Pendidikan Karakter
Pada dasarnya tujuan utama dari pendidikan karakter ini ialah untuk dapat
membangun bangsa yang tangguh, yang mana masyarakatnya itu berakhlak mulia,
bertoleransi, bermoral, serta bergotong-royong.
Untuk dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai tersebut maka di dalam diri
individu tersebut juga harus ditanamkan nilai-nilai pembentuk karakter yang
bersumber dari Agama, Budaya dan Pancasila. Dibawah ini merupakan nilai-nilai
pembentuk karakter diantaranya:
125
1. Kejujuran
2. Sikap toleransi
3. Disiplin
4. Sikap demokratis
5. Rasa ingin tahu
6. Semangat kebangsaan
7. Cinta tanah air
8. Menghargai prestasi
9. Kerja keras
10. Kreatif
11. Kemandirian
12. Sikap bersahabat
13. Cinta damai
14. Rasa tanggungjawab
15. Religius
16. Gemar membaca
17. Perduli terhadap lingkungan
18. Perduli sosial
Pentingnya Pendidikan Karakter
Seperti kita ketahui bahwa proses globalisasi secara terus-menerus tersebut
akan berdampak pada perubahan karakter masyarakat Indonesia. Kurangnya
pendidikan karakter tersebut akan memunculkan krisis moral yang tentu hal
tersebut berakibat pada perilaku negatif di masyarakat, misalnya seperti pergaulan
bebas, pencurian, kekerasan terhadap anak, penyalahgunaan obat-obat terlarang,
dan lainnya.
Menurut Thomas Lickona, setidaknya terdapat tujuh alasan mengapa character
education ini harus diberikan kepada warga negara sejak dini, yakni;
1. Ini merupakan cara paling baik untuk dapat memastikan para murid itu memiliki
kepribadian serta karakter yang baik dalam hidupnya.
2. Pendidikan ini bisa/dapat membantu meningkatkan prestasi akademik anak
didik.
126
3. Sebagian anak itu tidak bisa membentuk karakter yang kuat untuk dirinya di
tempat lain.
4. Dapat membentuk individu yang menghargai serta juga menghormati orang lain
serta dapat hidup di dalam masyarakat yang majemuk.
5. Sebagai upaya dalam mengatasi akar masalah moral-sosial, seperti
ketidakjujuran, ketidaksopanan, kekerasan, etos kerja rendah, dan lain-lain.
6. Merupakan cara terbaik untuk dapat membentuk perilaku individu itu sebelum
masuk ke dunia kerja/ usaha.
7. Sebagai cara untuk dapat mengajarkan nilai-nilai budaya yang merupakan
bagian dari kerja suatu peradaban.
PEMENTASAN DRAMA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER SISWA
Pada pembelajaran di kelas, siswa terkadang merasa bosan terhadap materi
yang disampaikan oleh guru di kelas. Sebenarnya siswa mengharapkan proses
pembelajaran yang menyenangkan sehingga dalam proses pembelajaran siswa tidak
akan merasa cepat bosan. Salah satu cara menarik perhatian siswa dalam
pembelajaran di kelas dan sekaligus dapat mendekatkan siswa dalam pembentukan
karakter siswa adalah dengan memperkenalkan pementasan drama yang merupakan
genre sastra. Drama juga dapat dijadikan sarana penyampaian pesan-pesan moral
yang positif dengan cara yang menyenangkan. Bahkan orang yang menikmati
sebuah pertunjukan drama tidak menyadari secara langsung atas pesan-pesan yang
didapatnya. Drama sebagai seni pertunjukan, dapat membangkitkan emosional
penikmatnya. Hal ini dapat dikatakan bahwa drama adalah sebuah karya seni
pertunjukan. Sebuah karya seni yang baik, dapat dipastikan memiliki pesan positif
yang ingin disampaikan. Menurut Suriasumantri (1984:107), sebuah karya seni
yang baik biasanya mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada kita semua,
apakah itu bersifat moral, estetik, gagasan pemikiran, atau politik. Karena pesan itu
berupa ‘imbauan’ yang bisa mempengaruhi sikap dan prilaku manusia, maka seni
sungguh-sungguh memegang peranan penting dalam pendidikan moral dan budi
pekerti sebuah bangsa. Memainkan sebuah peran dalam naskah drama memiliki
syarat syarat estetika, seperti penghayatan atas tokoh dalam naskah, kesesuaikan
127
kostum yang mencerminkan watak tokoh, gerak dan laku di panggung, dan
sebagainya. Bermain peran sama halnya dengan acting. Acting (peran) berasal dari
kata “to act” yang berarti “beraksi”. Akting dalam konteks ini adalah perpaduan
antara atraksi fisikal (kebertubuhan), intelektual (analisis karakter dan naskah) dan
spiritual (transformasi jiwa). Usaha seorang aktor dalam melakoni seni akting
adalah mengembangkan kemampuan berekspresi, menganalisis naskah, dan
mentransformasi diri ke dalam karakter yang ia mainkan. Dengan menempa
kemampuan ketiganya aktor akan bisa membuka diri dan menyerap kekayaan
pengalaman hidup dari si tokoh sesuai dengan konsep penulis naskah dan sutradara
(Saptaria, 2006:3). Bermain drama dapat menumbuhkan kepribadian yang baik bagi
perkembangan karakter siswa. Dengan pementasan drama ini pula siswa dididik
untuk mengembangkan pribadi yang sesuai dengan tuntutan dalam diri pribadi
seseorang, yaitu pribadi yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, pribadi
mandiri, dan pribadi yang peduli terhadap sesama. Drama dapat membangkitkan
emosional siswa dalam memerankan tokoh dalam naskah drama tersebut. Oleh
sebab itu, guru sebagai pembimbing dalam memerankan drama tersebut akan lebih
mudah memasukkan nilai-nilai positif dalam diri siswa. Pementasan drama
memiliki efek yang signifikan dalam pembentukan karakter siswa. Hal ini didukung
oleh pendapat (Saleh, 1967:213) yang mengatakan bahwa dalam pementasan drama
(teater), ternyata baik pemain (aktor/aktris) maupun penonton (pemirsa, audiens)
sama-sama mendapatkan keuntungan. Pemain atau aktor/aktris yang bermain
drama adalah orang-orang yang memperoleh kesempatan besar untuk menemukan
dirinya. Berperan dalam drama membutuhkan segala aspek kecerdasan, baik
kecerdasan intelektual; emosional, spiritual; maupun kinestetik, Selanjutnya
penulis mencoba untuk memaparkan peran aspek kecerdasan tersebut dalam drama.
Kecerdasan intelektual, pada tingkat kecerdasan intelektual ini siswa dituntut
mampu memahami unsur-unsur dalam naskah drama yang akan dipentaskan. Siswa
berusaha untuk menginterpretasikan perwatakan dan mampu memerankan tokoh
yang dipilih sesuai kehendak penulis skenario dan sutradara. Kecerdasan
emosional, seperti yang telah diketahui bahwa seni drama merupakan seni yang
kolektif, yang membutuhkan kecerdasan emosional dari orang-orang yang terlibat
128
dalam naskah tersebut. Hal ini tidak semata pemain saja, melainkan semua crew
harus mampu menjaga kesetiaan, kekompakan, dan kepedulian antar sesama. Pada
kecerdasan emosional inilah, yang memiliki peran penting dalam meningkatkan
perkembangan karakter positif dari tiap peserta didiknya jika disikapi dengan
positif pula. Kecerdasan spiritual, pada kecerdasan spiritual dalam kaitannya
dengan berdrama dapat menumbuhkan karakter positif terhadap ketakwaannya
kepada Tuhan. Dalam hal ini, seperti yang diketahui bahwa drama dapat
menceritakan berbagai masalah yang diangkat dari lingkungan masyarakat sekitar
tidak terkecuali masalah tentang ketuhanan. Kepekaan siswa digugah untuk
memahami naskah yang berkaitan dengan Tuhan. Kecerdasan kinestetik, dalam
bermain drama siswa dituntut untuk dapat memerankan perannya sesuai dengan
naskah yang akan diperankan. Kemampuan mahasiswa dalam mengolah gerak
tubuh, blocking panggung; olah mimik/ekspresi merupakan aplikasi kecerdasan
kinestetik peserta didik. Nilai-nilai yang akan disampaikan dalam drama pada setiap
proses pembelajaran di kelas maupun pada kegiatan ekstrakurikuler diharapkan
memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan karakter siswa. Pemahaman
terhadap segala aspek kecerdasan di atas, dapat menggali potensi yang ada dalam
diri siswa untuk meningkatkan kepedulian siswa terhadap karakter bangsa yang
diharapkan dalam UU sisdiknas nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3, yang menyebutkan
bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk
berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
Pementasan drama dapat memberikan kontribusi terhadap siswa dalam
kehidupannya sehari-hari. Hal ini seiring dengan pendapat (Dewantara, 1962:310)
bahwa pembelajaran drama juga cukup memberikan kontribusi kepada proses
pembelajaran yang lain dalam pengetahuan dan kepandaian, misalnya dalam
kaitannya dengan pembelajaran bahasa, kesusastraan; bercakap dengan irama,
menghilangkan tabiat malu, menggembirakan karena drama (sandiwara) bersifat
129
permainan, memberikan beberapa pengertian baru, berlatih gerak irama, menyanyi,
menyesuaikan kata dengan pikiran, rasa, kemauan, dan tenaga, mengajarkan adat
sopan santun, dan seterusnya. Jelaslah bahwa pementasan drama di sekolah dapat
membantu guru dan siswa dalam mewujudkan tujuan pendidikan karakter. Dengan
pemahaman yang lugas terhadap naskah drama yang akan diperankan, mahasiswi
dengan mudah mengaplikasikan segala yang diharapkan oleh pendidikan karaker,
seperti bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, mandiri, cerdas, berilmu, dan
berjiwa sosial.
Drama Sebagai Perkembangan Pendidikan Karakter Siswa Di Sekolah
Drama pada hakekatnya adalah life presented in action (Moulton melalui
Harymawan, 1993: 1). yaitu sebuah kehidupan yang disajikan melalui tindakan atau
akting seorang tokoh. Drama tertulis (lakon) adalah salah satu bentuk sastra yang
sengaja ditulis atau dibuat khusus untuk dipanggungkan (Oemarjati, 1971: 12).
Dalam sebuah naskah drama yang terpilih, dan biasanya mengenai suatu kehidupan
atau peristiwa yang sedang terjadi pada saat itu kemudian dipentaskan oleh tokoh-
tokoh pilihan dan dilihat oleh banyaknya penonton. drama merupakan sebuah karya
seni yang terdapat pendidikan karakter di dalamnya, pendidikan karakter
merupakan sebuah penerapan nilai-nilai karakter pada pelajar di sekolah yang
meliputi pengetahuan, kesadaran, dan perilaku terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.
Dalam sebuah sekolah, nilai yang akan didapatkan oleh pelajar, bukan
hanya tingginya nilai kognitif atau syarat nilai kelulusan formal, melainkan
dibutuhkannya nilai-nilai kehidupan yang berfungsi sebagai pemecah masalah
sehari-hari. Pemerolehan nilai kehidupan yang dapat disebut sebagai pendidikan
karakter ini, umumnya terdapat dalam kegiatan ekstrakurikuler yang dapat diikuti
oleh semua pelajar di sekolah. Drama merupakan sebuah pelajaran yang terdapat
dalam mata pelajaran seni budaya, dan ekstrakurikuler drama di sekolah-sekolah
tertentu. Biasanya, dalam ekstrakurikuler tersebut pelajar dapat mempelajari
bagaimana persiapan mengenai pementasan, mendalami karakter tokoh,
mempelajari naskah drama, melatih fisik, mental, dan pemecahan masalah lainnya.
130
Di sebuah sekolah, pementasan drama dilakukan ketika adanya pentas seni atau
suatu lomba, sehingga pembelajaran drama ini biasanya tidak bersifat wajib.
Pentingnya pembelajaran drama di sekolah merupakan sebuah karya seni
siswa yang dapat membuat mereka menjadi pribadi yang kreatif. Drama di sekolah
sangat penting untuk menyalurkan minat dan bakat siswa agar tidak hanya belajar
mengenai teori-teori saja, dalam mempelajari sesuatu tentunya harus digunakan
dalam kehidupan sehari-hari supaya pembelajaran tersebut dapat bermanfaat.
Dalam sekolah menengah, terdapat tiga pokok pembahasan drama. Tiga pokok itu
ialah pengertian drama, pemilihan drama untuk pembelajaran, dan apresiasi
pembelajaran drama (Rahmanto: 1). Untuk lebih memahami sebuah pembelajaran
tentunya hal tersebut harus dipraktikkan. Drama bukan hanya dipelajari, akan tetapi
juga harus dipraktikkan dengan sebuah pementasan.
Di Indonesia, pementasan drama sering dilakukan oleh komunitas Teater
untuk lomba, maupun pementasan rutin. Namun, di sekolah-sekolah sangat jarang
terdapat pementasan drama karena kurangnya sarana dan prasarana, padahal
kegiatan drama ini penting baginya untuk menyalurkan bakat siswa. Untuk melatih
kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan, dan memperoleh pendidikan karakter
tepatnya dalam sebuah pementasan. Pengajaran drama bagaimana pun muaranya
ialah agar siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman sastra ungkap Rusyana
(dalam Aminuddin, 1990:223). Pembelajaran drama dalam sekolah sangat jarang
diadakan karena bukan merupakan sebuah pelajaran yang asal jadi, ini merupakan
sebuah pelajaran yang memerlukan sebuah latihan yang jangka waktunya lama
karena perlu adanya bakat dan keahlian. Naskah yang akan dipentaskan harus
dipelajari dan dipraktikkan dengan latihan di luar jam pelajaran. Namun, disamping
hal proses pembelajaran drama ini menghasilkan sebuah pendidikan karakter yang
akan dicapai.
Dalam hal tersebut dapat diketahui pentingnya drama dalam perkembangan
pendidikan karakter siswa. Melalui drama atau kesenian yang terdapat pesan moral
didalamnya dengan disampaikan melalui kesenangan, suka, senang, dan bahagia.
Kegiatan drama ini dapat membentuk karakter social tokoh yang diperankan, dalam
naskah drama yang ditunjukkan melalui dialog antar tokoh dapat membuat siswa
131
yang memerankannya mempelajari isi tersebut dan diterapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam sebuah drama pastinya terdapat sebuah konflik, dengan begitu
secara tidak sadar ketika mempelajarinya, siswa dapat merasakan dan memecahkan
sebuah konflik tersebut. Dengan diadakannya pementasan dengan berbagai sifat
tokoh yang berbeda, secara tidak langsung siswa dapat mempelajari tentang
perilaku orang lain dan perilaku dirinya sendiri, dengan begitu ia akan mempunyai
sifat yang saling menghargai. Pembelajaran drama juga cukup memberikan
kontribusi kepada proses pembelajaran yang lain dalam pengetahuan dan
kepandaian, misalnya dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, kesusasteraan,
bercakap dengan irama, menghilangkan tabiat malu, menggembirakan karena
drama (sandiwara) bersifat permainan, memberikan beberapa pengertian baru,
berlatih gerak irama, menyanyi, menyesuaikan kata dengan pikiran, rasa, kemauan,
dan tenaga, mengajarkan adat sopan santun, dan seterusnya (Dewantara, 1962:
310). Dengan diadakannya pelajaran drama atau ekstrakurikuler drama di sekolah,
dapat mengurangi kegiatan negatif karena waktu luang yang dimiliki siswa dapat
dipakai untuk kegiatan latihan yang tentunya lebih bermanfaat. Pentingnya
pembelajaran drama di sekolah, sangat mempengaruhi perkembangan Pendidikan
karakter bagi setiap siswa, meliputi minat, bakat, dan kesenangan setiap individu
untuk menyalurkannya dalam kegiatan drama tersebut. Secara tidak sadar,
hubungan siswa setelah mempelajari drama akan membentuk nilai-nilai positif
yang didapatkan melalui drama
PENUTUP
KESIMPULAN
Pendidikan karakter telah didengung-dengungkan oleh pemerintah
Indonesia sejak tahun 2003. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dalam
mewujudkan pendidikan karakter tersebut. Pendidikan karakter tidak saja dilakukan
di lingkungan formal saja, melainkan di lingkungan keluarga dan masyarakat juga
memiliki peran yang sama pentingnya. Pada dasarnya karakter pada mahasiswa
didapat dari faktor genetik dan faktor lingkungan. Namun yang menjadi pusat
pendidikan karakter yang dimaksud oleh pemerintah adalah karakter yang
dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan didikan keluarga. Drama merupakan karya
132
sastra/seni yang diperankan. Dengan drama, nilai-nilai atau pesan-pesan positif
dalam naskah drama tersebut dapat dengan mudah disampaikan pada khalayak
ramai. Bagi mahasiswa yang ikut bermain atau menyaksikan pertunjukan sebuah
drama, secara langsung maupun tidak langsung dapat menyelami perwatakan tokoh
tiap pemain sehingga dapat memberikan efek positif bagi mahasiswa. Manfaat yang
besar dapat dipetik dari pementasan sebuah drama. Selain mahasiswa dapat
mengaplikasikan teori yang dicapainya di kelas, mahasiswa juga dapat menambah
pengalaman, menambah wawasan tentang berbagai permasalahan yang ada dalam
masyarakat, menyelami berbagai watak/karakter orang yang tercermin dalam
tokoh, hingga megajarkan mahasiswa dalam bersosialisasi. Drama juga termasuk
salah satu karya seni yang kaya nilai-nilai, seperti nilai estetika, nilai didaktis, nilai
religius, dan masih banyak nilai lainnya. Namun kesemuanya itu, tidak terlepas dari
ajaran-ajaran moral yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Sebuah seni
drama dikatakan bernilai, jika jauh dari pelanggaran norma adat dan agama, seperti
pornografi dan pornoaksi.
133
DAFTAR PUSTAKA
Harymawan, RMA. 1988. Dramaturgi. Bandung: Rosda Karya. Hasanuddin WS.
2009. Drama Karya dalam Dua Dimensi. Bandung: Angkasa. Kementerian
Pendidikan Nasional 2011 Pendidikan Karakter pada Pendidikan Jasmani.
Olahraga, dan Kesehatan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar. Saleh,
Mbiyo. 1967. Sandiwara dalam Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung. Saptaria,
Rikrik El. 2006. Panduan Praktis Akting untuk Film dan Teater (Acting Handbook).
Bandung: Rekayasa Sains. Suriasumantri. 1984. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta: Sinar Harapan. Depdiknas. 2003. Undang-Undang No.20 tahun
2003, Sistem Pendidikan Nasional. www.depdiknas.go.id.
Nur Aulia Hafid. 2017. Pendidikan Karakter Peserta Didik Melalui Seni Drama.
https://lpmpsulsel.kemdikbud.go.id/artikel/pendidikan-karakter-peserta-didik-
melalui-seni-drama. Diakses pada 03 Desember 2020.
Muhammad. 2018. Pembelajaran Drama Pada Teater Sekolah SMA NEGERI 10
FAJAR HARAPAN BANDA ACEH. Master Bahasa Vol. 6 No. 1. Diunduh pada
03 Desember 2020.
Sumaryadi. Seni Drama dan Pendidikan Karakter.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/drama-karakter%20(EDIT).pdf. Diakses
pada 03 Desember 2020
134
MENGEMBANGKAN KECERDASAN LINGUSTIK
MELALUI METODE BERCERITA
Cristy Dwi Prihatini, Nur Apisa Aprilia, Hifni Atin Kamelia
PENDAHULUAN
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan yang berkaitan dengan
kemampuan berbicara. Dalam hal tersebut anak yang memiliki kecerdasan
linguistik akan dapat mengolah kata – kata dan memilihnya secara tepat.
Jasmine (2007: 16- 17) menyatakan bahwa terdapat berbagai level
kecerdasanberbahasa pada setiap orang yang berbeda. Kecerdasan linguistik
juga dapat diartikan sebagai kecerdasan verbal. Dapat diartikan bahwa
kecerdasan linguistik memiliki tingkatan yang dapat dilihat dari cara
seseorang mengolah sebuah kata dalam berkomunikasi maupun memahami
apa yang dikatakan oleh lawan komunikasinya. Dengan metode bercerita
anak akan dapat mendapatkan hal yang baru dari mendengarkan cerita yang
sedang diceritakan. Selain itu cerita juga dapat menstimulus anak untuk
memiliki keberanian dalam mengungkapkan pendapat atau tanggapan
tentang isi cerita tersebut.
Leung dalam Hidajati (2009) menyebutkan bahwasannya
keterlambatan perkembangan pada awal kemampuan berbahasa dapat
mempengaruhi berbagai fungsi dalam kehidupan sehari hari. Perkembangan
kemampuan berbahasa juga akan mempengaruhi kehidupan personal sosial,
juga akan menimbulkan kesulitan belajar, bahkan kemampuan untuk
menyelesaikan permasalahan pekerjaan. Saat ini angka untuk keterlambatan
bicara anak masih tergolong tinggi. Judarwanto (2009) Keterlambatan
bicara pada anak semakin hari tumbuh semakin pesat. Prevalensi
keterlambatan bicara pada anak mencapai angka 5-10%. Hal ini menjadi
135
alasan mengapa memberikan anak stimulasi pada kecerdasan verbal
linguistiknya terbilang sangat penting.
Solusinya adalah dengan melakukan pendekatan yang lebih masif
untuk mencegah terjadinya gangguan atau hambatan tersebut. Judarwanto
(2011) membagi faktor yang berpengaruh pada perkembangan bahasa anak
menjadi faktor internal yaitu kognisi, prematuritas, persepsi dan faktor
eksternal yakni lingkungan, pola asuh, dan ekonomi. Soetjiningsih (2003:
29 dan 62) menyatakan pentingnya pemberian stimulasi pada masa-masa
kritis anak terhadap perkembangannya. Stimulasi diberikan untuk
merangsang perkembangan anak secara lebih optimal. Perkembangan bahsa
anak penting sekali untuk diberikan stimulasi secara verbal. Hal ini sejalan
dengan data dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2005),
stimulasi verbal yang dapat dilakukan orang tua untuk mengembangkan
kemampuan bicara dan bahasa anak diantaranya adalah dengan bernyanyi
dan menceritakan sajak-sajak kepada anak, menonton televisi, banyak
berbicara kepada anak dalam kalimatkalimat pendek.
Sesuai dengan teori dalam Silberg (2004: 113) menyebutkan
bahwasannya pembelajaran bahasa pada anak akan lebih mudah jika
menggunkan kalimat yang pendek – pendek. Metode bercerita merupakan
metode yang tepat untuk mengembangkan kecerdasan verbal linguistik,
metode bercerita juga dapat menambah pengalaman dari cerita yang telah
didengar oleh anak. Misalnya menceritakan pengalaman orang tua pada saat
waktu kecil, ataupun bisa juga bercerita tentang fabel, dongeng, mitos, dan
legenda. Orang tua hendaknya mampu mengemas cerita secara menarik
agar anak lebih tertarik dan dapat dijadikan pengalaman yang unik. Hal ini
sejalan dengan penelitian Marlina yang berjudul “Meningkatkan
Kemampuan Bahasa Melalui Metode Bercerita Dengan Media Audio
Visual di Kelompok B1 RA Perwanida 02 Slawi” hasil dari penelitian
memberikan informasi bahwa terjadi peningkatan keterampilan berbicara
anak dengan menggunakan metode cerita sebesar 85%. Hasil peningkatan
dari kondisi awal ke siklus II mencapai 35%. Peningkatan tersebut menjadi
136
bukti bahwa pentingnya menerapkan metode cerita dalam meningkatkan
kemampuan berbahasa sejak dini.
Alasan lain mengapa memilih metode bercerita untuk
mengembangkan kecerdasan lingustik bertujuan untuk menganalisis peran
orang tua dengan menggunakan metode bercerita apakah sudah tepat dalam
mengembangkan kecerdasan linguistik. Karena jika orang tua tidak
berperan aktif dalam mengembangkan kecerdasan linguistik maka anak
tidak akan terampil dalam berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain.
Padahal kemampuan berbahasa sangat dibutuhkan oleh manusia untuk
bersosialisasi dengan orang lain. Karena manusia adalah makhluk sosial dan
selalu butuh kepada orang lain untuk menyampaikan keinginan dan
menyampaikan pendapatnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
PEMBAHASAAN
Kecerdasan berbahasa tidak diperoleh secara otomatis tanpausaha-
usaha untuk mendapatkannya. Walaupun hampir semua orang memiliki
bagian tubuh yang lengkap untuk berbicara seperti mulut, lidah, gigi dll.
Keterampilan berbahasa diperoleh dari pengalaman-pengalaman seseorang
didalam hidupnya terhadap lingkungan disekitarnya, mulai dari lingkungan
keluarga, sekolah dan masyarakat. Semakin besar pengaruh yang diberikan
lingkungannya semakin besar pula kontribusinya bagi peningkatan
keterampilan si anak dalam berbahasa. Sebaliknya lingkungan tidak
memberikan kontribusi positif bagi perkembangan bahasanya, bila
lingkungan tidak aktif untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh
anak.
Goor Luis Brouwer (2004: 74) menyatakan pengalaman anak,
Bahasa yang digunakan sehari-hari, di mana pembelajaran terjadi sangat
memengaruhi akuisisi bahasa. Pengaruh orang tua terhadap kecerdasan
berbahasa anak tidak diragukan lagi. Namun, masih banyak orang mengira
bahwa keterampilan bahasa anak akan berkembang dengan sendirinya
sesuai dengan perkembangan jasmani dan pertambahan usia anak. Oleh
sebab itu tidak banyak orang tua yang berusaha menstimulus dan
137
mengembangkan kemampuan berbahasa. Akibatnya tidak banyak anak
yang terampil berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuan
berbahasa sangat dibutuhkan oleh manusia untuk bersosialisasi dengan
orang lain. Manusia adalah makhluk sosial dan selalu butuh kepada orang
lain untuk menyampaikan keinginan dan menyampaikan pendapatnya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu kecerdasan
berbahasa sangat penting bagi kehidupan manusia.
Metode bercerita memiliki kemiripan dengan metode ceramah
ataupun dongeng. Mengapa demikian karena pencerita sama sama
memberikan informasi atau penjelasan secara lisan kepada subjek sebagai
penerima cerita. Menurut Wiyani dan Barnawi (2016: 126) bercerita atau
mendongeng merupakan kegiatan yang dilakukan sejak zaman dahulu atau
dapat dikatakan warisan dari nenek moyang. Pada zaman dahulu bercerita
atau mendongeng menjadi tradisi sebagai salah satu cara menidurkan anak-
anaknya. Karena cerita yang disampaikan kepada anak akan memberikan
informasi tentang kehidupan sehari-hari yang nantinya dapat diterapkan
pada kehidupan anak. Melalui tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita dapat
dijadikan salah satu cara untuk menanamkan nilai-nilai moral dengan
bahasa yang menarik agar anak lebih maksimal dalam memahami isi cerita
tersebut. Namun kini bercerita merupakan metode yang saat ini sudah mulai
dilupakan. Hal ini disebabkan karena materi yang harus disampaikan terlalu
padat dan kurangnya penguasaan orang tua dalam bercerita.
Depertemen pendidikan nasional (2004: 12) menyatakan, bahwa
Metode bercerita adalah cara bertutur kata penyampaian cerita atau
memberikan penjelasan kepada anak secara lisan, dalam upaya
mengenalkan ataupun memberikan keterangan hal baru pada anak. Metode
bercerita banyak diminati anak – anak. Penerapan metode bercerita
diharapkan dapat meningkatan kecerdasaan lingustik anak-anak serta
bantuan dari berbagai pihak termasuk lingkungan sekolah maupun
lingkungan tempat tinggal agar semakin menumbuhkan potensi dalam
proses pertumbuhkan anak – anak. Yang perlu diperhatikan ketika
138
menerapkan metode bercerita adalah harus menyesuaikan dan memilah
dengan perkembangan anak baik dari segi bahasa, media yang digunakan
maupun langkah-langkah pada saat pelaksanaannya agar lebih efektif.
Cerita anak ataupun mendongeng erat kaitannya dengan intonasi
atau bahasa. Pendongeng atau pembaca cerita hendaknyamampu menirukan
suara tokoh seperti binatang dan manusia, anak kecil, ataupun orang yang
sudah berumur tua. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa cerita merupakan
media belajar bahasa yang memiliki banyak kosakata bagi anak. Selain itu,
cerita juga dapat mendorong imajinasi anak menjadi lebih tinggi, sehingga
anak dapat menjadi lebih kreatif dalam menyikapi cerita tersebut.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa otak tidak dapat membedakan
aturan yang nyata dan yang imajinatif. Oleh karena itu, ketika anak
dibacakan cerita, seakan-akan mereka mengalami peristiwa sebagaimana
setting dalam cerita tersebut (Suyadi 2014: 207). Imajinasi yang muncul
pada anak berkaitan dengan lingkungan disekitar atau peristiwa yang dilihat
dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sama dengan apa yang dinyatakan oleh
Yulianti (2010: 37) metode bercerita salah satu pemberian pengalaman
belajar untuk anak karena mengandung pesan maupun informasi.
Membacakan cerita kepada anak secara lisan dengan cara membaca
langsung ataupun menggunakan alat peraga dapat mengembangkan daya
imajinasinya. Cerita adalah metode yang dapat dipahami dengan mudah
oleh anak usia dini yang belum bisa membaca sekalipun sekaligus
mendorong anak agar lebih menyukai aktivitas membaca. Melalui cerita
atau dongeng anak dapat memetakan suatu pengalaman dan melihat
gambaran yang sudah diceritakan dan terbentuk di dalam kepala melalui
imajinasi. Sanchez dkk (2009) dalam jurnal Ahyani (2010: 26) menyatakan,
bahwa metode cerita atau dongeng memiliki kekuatan utama untuk
menghubungkan rangsangan lewat gambaran karakter. Hal ini berarti
metode bercerita mampu menguatkan imajinasi, mendorong dan
meningkatkan rasa empati dan pemahaman, menguatkan nilai dan etika,
serta merangsang berpikir kreatif.
139
Metode bercerita membantu perkembangan anak secara
komprehensif melalui implikasi dari perkembangan bahasanya.
Perkembangan bahasa ini menjadi modal yang paling utama untuk
mencapai perkembangan kecerdasan lainnya pada anak. Berikut adalah
beberapa perkembangan lain yang dinyatakan oleh Bachri (2005: 10) yaitu
memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mendengarkan dengan baik,
berbicara dengan runtut, berinteraksi atau bersosialisasi, berekspresi,
melakukan imajinasi, dan berpikir atau berlogika dengan baik.
Bawono (2012) menyatakan dongeng merupakan tradisi lisan yang
sejak dulu sudah ada dan diwariskan oleh para pendahulu. Melalui dongeng-
dongeng tersebut, banyak muatan yang terkandung didalamnya. Dari cerita
maupun tokoh yang ada di dalam dongeng banyak manfaat yang bisa
dipetik. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa saat ini mendongeng
atau membacakan cerita untuk anak-anak sudah mulai digeser oleh aktivitas
lain. Hal ini sejalan yang dikemukakan oleh Bawono (2006) bahwa jika
orang tua sudah tidak memiliki waktu lagi untuk mendongeng, maka orang
tua akan cenderung menyuguhkan beragam acara televisi, menyediakan
komputer (untuk main games atau akses internet), VCD/DVD player, atau
bahkan playstation jika dibandingkan dengan mendongeng kepada anak.
Padahal pada umumnya anak sangat menyukaidongeng yang diceritakan
oleh orang tua. Bahkan banyak diantaranya yang ingin diceritakan dengan
cerita-cerita yang itu-itu saja. Seolah-olah tidak ada kata bosan di benaknya.
Baik itu ceritacerita lokal semacam Danau toba, Si Kancil, Malin Kundang,
maupun cerita-cerita dongeng dari mancanegara seperti Aladdin atau Putri
Salju. Maka tidak terlalu mengherankan apabila hamper sebagian besar
orang dewasa memiliki kenangan akan dongeng pada masa kanak-kanaknya
(Bawono, 2012).
Ariyani dalam Kartono (1985) dongeng yang disampaikan secara
langsung akan lebih mempererat hubungan batin antara orang tua dan anak-
anak. Yulianingsih (2016) juga menyatakan bahwa penting memberikan
informasi dan pemahaman kembali kepada kaum orangtua akan pentingnya
140
kegiatan literasi untuk anak di rumah, termasuk mendongeng, misalnya saja
yang paling sederhana, mendongeng sebelum anak tidur malam atau
mendongeng di selasela waktu luang keluarga. Secara tidak langsung
mendongeng atau bercerita merupakan suatu kesempatan baik untuk
mengajarkan sesuatu kepada anak-anak. Cerita dongeng akan membuat
anak mengerti hal-hal yang baik dan buruk. Artinya adalah hal-hal mana
yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Melalui cerita
dongeng, anak dapat mempelajari, memahami dan menghayati segala
bentuk nilai-nilai, norma-norma, kaidah-kaidah dalam kehidupan
bermasyarakat. Nilai-nilai, dan norma-norma misalnyaseperti: keberanian,
kejujuran, kebahagiaan, kelicikan, kejahatan, kebodohan, dan sebagainya.
Monica Hotma Elya (2019) dalam penelitiannya yang berjudul
“Pengaruh Metode Bercerita dan Gaya Belajar terhadap Kemampuan
Berbicara Anak usia dini” menghasilkan kesimpulan yaitu terdapat
pengaruh interaksi antara metode bercerita dan gaya belajar terhadap
kemampuan berbicara anak. Artinya untuk meningkatkan kemampuan
berbicara anak maka penerapan metode bercerita harus disesuaikan
dengangaya belajar anak. Anak dengan gaya belajar auditory yang diajarkan
menggunakan metode bercerita dengan boneka tangan kemampuan
berbicaranya lebih tinggi daripada anak yang diajarkan menggunakan
metode bercerita dengan media power point. Artinya untuk meningkatkan
kemampuan berbicara anak, anak yang gayabelajarnya auditory lebih tepat
digunakan metode bercerita dengan boneka tangan. Kemudian anak dengan
gayabelajar visual yang diajarkan menggunakan metode bercerita dengan
boneka tangan kemampuan berbicaranya lebih rendah daripada anak yang
diajarkan menggunakan metode bercerita dengan media power point. Itu
berarti untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak, anak yang gaya
belajarnya visual lebih tepat digunakan metode bercerita dengan media
power point. Selanjutnya anak yang diajarkan menggunakan metode
bercerita dengan media boneka tangan, yang memiliki gaya belajar auditory
kemampuan berbicaranya lebih tinggi daripada anak yang memiliki gaya
141
belajar visual. Artinya untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak,
anak yang memiliki gaya belajar auditory, lebih tepat digunakan metode
bercerita dengan media boneka tangan. Selanjutnya anak yang diajarkan
menggunakan metode bercerita dengan media power point, yang memiliki
gaya belajar visual kemampuan berbicaranya lebih tinggi daripada anak
yang memiliki gaya belajar auditory. Artinya untuk meningkatkan
kemampuan berbicara anak, anak yang memiliki gaya belajar visual lebih
tepat digunakan metode bercerita dengan media power point. Berdasarkan
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode bercerita dan gayabelajar
berpengaruh terhadap kemampuan berbicara anak. Oleh karena itu, untuk
meningkatkan kemampuan berbicara anak, penggunaan metode bercerita
dan gaya belajar yang dimiliki anak sangat membantu.
Metode bercerita tidak hanya dilakukan dengan mendongeng saja,
akan tetapi bisa juga dilakukan dengan media seperti menggunakan power
point atau boneka tangan, dan sudah terbukti keefektifannya melalui
penelitian diatas untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Kemampuan
berbicara termasuk aspek penting dalam kecerdasan verbal linguistik. Orang
tua bisa memilih bercerita menggunakan media boneka tangan atau media
power point, akan tetapi yang lebih mudah dilakukan oleh orang tua adalah
menggunakan media boneka tangan karena lebih mudah untuk digunakan
dan bisa dengan membuat kerajinan boneka tangan sendiri.
Penelitian yang dilakukan oleh Anita Rosalina dkk berjudul
“Peranan Orangtua dalam Dongeng Sebelum Tidur Untuk Optimalisasi
Kemampuan Berkomunikasi Anak Usia Dini” menyatakan bahwa hasil dari
penelitiannya adalah pemberian dongeng sebelum tidur yang dilakukan
secara rutin dan tepat oleh orang tua kepada anaknya yang berusia dini akan
dapat mengoptimalkan kemampuan komunikasi anak. Pemberian dongeng
juga harus diberikan secara tepat, dalam arti harus diperhatikan kapan waktu
dongeng tersebut diberikan, durasi waktu pemberian dongeng, bentuk
komunikasi yang digunakan saat pemberiandongeng, serta jenis dongeng
yang diberikan kepada anak.
142
Penelitian ini juga melihat hasil dari subjek setelah diberidongeng
secara rutin yaitu pada awalnya penguasaan kosa kata subjek tergolong baik,
namun setelah kurang lebih 2 minggu diberikan dongeng sebelum tidur
secara rutin oleh orang tua, penguasaan kosa kata subjek semakin meningkat
tajam. Penguasaan kosa kata ini ditandai dengan munculnya banyak kosa
kata baru yang dikuasai oleh subjek. Pada jangka waktu kurang lebih 2
minggu setelah pemberian rutin dongeng sebelum tidur tersebut
kemampuan verbal reseptif subjek pun berkembang semakin pemberian
dongeng secara teratur saat ini subjek mampu lebih jauh memahami
instruksi yang diberikan. Subjek juga dapat jauh lebih memahami perasaan
atau pikiran yang ingin ia utarakan, bahkan subjek terkadang membetulkan
sendiri ucapannya yang sesekali. Pengucapan atau fonologi yang dimiliki
subjek dalam mengucapkan kata atau kalimat juga tampak jauh lebih jelas.
Kemampuan subjek dalam menyusun kalimat jauh lebih sempurna. Setelah
rutin diberikan dongeng sebelum tidur, subjek telah mampu merangkai dua
hingga empat kalimat secara utuh. Subjek juga mampu untuk melakukan
komunikasi dengan berbagai pilihan kata. Subjek memiliki kemampuan
menyusun kata dalam mengutarakan kemauannya, termasuk kemampuan
menyusun kata ketika berpendapat atau berkomentar terhadap sesuatu yang
membuatnya tertarik, pemilihan kata dan penggunaan kata dalam
berkomunikasi dengan orangtua atau orang yang lebih tua.
Hasil penelitian diatas pemberian salah satu aspek metode cerita
yaitu mendongeng oleh orang tua dapat mengembangkan kecerdasan verbal
linguistik. Hal ini sesuai dengan indicator kecerdasan verbal linguistik yang
dikembangkan oleh peneliti yaitu;
1. Anak akan sangat senang jika berkomunikasi dengan orang lain, baik
dengan teman sebaya maupun orang dewasa. Dalam indikator ini subjek
pada penelitian diatas mampu untuk melakukan komunikasi dengan
berbagai kata-kata.
143
2. Anak memiliki lebih banyak kosa kata daripada anak-anak pada
seusianya dan ditunjukkan saat anak berbicara dan bercerita. Indikator
ini subjek mendapatkan banyak kosa kata baru.
3. Senang bercerita panjang lebar tentang pengalaman yang didapat dalam
kegiatan sehari-hari. Dalam indikator ini subjek mampu memahami
perasaan dan pikiran yang ingin dikatakan.
4. Anak suka memperhatikan cerita dari pendidik ataupun orang tua dan
dapat menceritakan kembali dengan Bahasa mereka sendiri. dalam
indikator ini subjek dapat menyusun kata ketika berpendapat atau
komentar terhadap hal yang membuat subjektertarik.
5. Mudah dalam mengucapkan kata-kata. Dalam indikator ini subjek
mampu untuk memilih kata jika berkomunikasi denganorang yang lebih
tua.
Penjelasan di atas dapat diketahui bahwa pakar pendidikan anak dan
penelitian sepakat tentang metode cerita sebagai media pembelajaran dalam
mengembangan kecerdasan verbal linguistik yang tepat. Karena lebih
mudah dilakukan. Dan sesuai dengan indikator yang dikembangkan oleh
peneliti. Oleh karena itu hendaknya orang tua sangat berperan dalam
mengembangkan kecerdasan verbal linguistik anak usia dini, karena orang
tua adalah pendidik yang pertama dan utama terutama bagi anak.
PENUTUP
Hasil pembahasan penelitian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
peran orang tua sangat penting dalam mengembangkan kecerdasan verbal
linguistik, karena orang tua memiliki lebih banyak waktu dengan anak.
Salah satu metode yang tepat dalam mengembangkan kecerdasan verbal
linguistik dan sudah dibuktikan oleh pakar pendidikan dan penelitian
terhadap anak usia dini adalah metode bercerita. Bercerita yang
disampaikan oleh orang tua kepada anak secara langsung dapat mempererat
hubungan batin anak karena orang tua merupakan pendidik yang pertama
dan utama sehingga anak akan lebih nyaman jika bersama dengan orang
tuanya. Melalui bercerita anak juga akan mendapatkan kosakata baru serta
144
akan menambahkan pengalaman belajar kepada anak. Hal ini sudah
dibuktikan melalui indikator-indikator kecerdasan verbal linguistic yang
sudah ditetapkan
145
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, Peppy Forestry. 2017. Penyelenggaraan Program Sekolah Perempuan
Pada LSM KPS2K (Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber
Kehidupan) dalam Meningkatkan Kemandirian Ibu Muda di Desa
Kesamben Kulon Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Skripsi.
Universitas Negeri Surabaya
Bachri, Bachtiar S. (2005). Pengembangan Kegiatan Bercerita di Taman Kanak-
kanak, Teknik dan Prosedurnya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan
Tenaga Kependidikan dan Ketenagakerjaan Perguruan Tinggi.
Bawono, Y. (2012). Membentuk Karakter Anak yang Andal dan Berbudi Pekerti
Melalui Intensitas Pemberian Dongeng Sejak Dini. Prosiding Seminar
Nasional. Yogyakarta: Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa.
Bawono, Y. (2006). Keajaiban Dongeng. Majalah Psikologi Plus. Vol. I. No. 01
Elya, Monica Hotma, (2020). Pengaruh Metode Bercerita dan Gaya Belajar
terhadap Kemampuan BerbicaraAnak usia dini. Jurnal Obsesi
Kamarastra, Zeryu dan I Ketut Atmaja J.A. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah,
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya,
[email protected],
[email protected].
146
PENINGKATAN MINAT ANAK USIA DINI DALAM
BERMAIN SENI PERTUNJUKKAN
Lita Listiana, Mutia Muyasaroh, Santi
PENDAHULUAN
Anak usia dini merupakan anak yang berada dalam rentang usia 0
sampai dengan 8 tahun. Pada hakekatnya taman kanak-kanak adalah tempat
anak-anak bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain. Program
Pendidikan Prasekolah bukan usaha percepatan untuk menguasai pelajaran
(Depdikbud, 2005:2). Atas dasar konsep bermain sambil belajar atau belajar
sambil bermain dengan berbagai alat bantu belajar serta metode belajar yang
sesuai dengan kebutuhan, minat, kemampuan serta tingkat perkembangan
anak. Seni merupakan salah satu dari sub domain perkembangan kognitif.
Ekspresi artistik adalah suatu komponen penting dalam perkembangan
kepribadian dan pengalaman anak. Melalui seni, anak-anak memiliki
kesempatan untuk mengembangkan fantasi serta kreativitas dengan
berbagai cara dan juga mereka akan belajar bagaimana cara
mengekspresikan diri, minat, kemampuan, serta ketrampilan mereka.
LATAR BELAKANG
Teater berasal dari berbagai bahasa di dunia. Terdapat “theatre”
dalam bahasa Inggris atau “teatron” dalam bahasa Yunani yang memiliki
makna sebagai tempat untuk menonton. Dahulunya teater merupakan tempat
menonton sebuah pertunjukan seperti drama dengan penataan panggung
berdasarkan cerita yang ditampilkan. Awalnya, teater di Indonesia berfungsi
sebagai bentuk pemujaan. Seiring berjalannya waktu, fungsi tersebut berubah
dengan teknologi terintegrasi. Negara Indonesia sangat kaya dengan tradisi dan
banyak sekali etnik memiliki kebiasaan dalam berbagai kehidupan sehari-hari.
Karena itulah pembentukan teater di indonesia sangat beragam, beberapa contoh
teater tradisonal di Indonesia di antaranya adalah drama gong, lenong, ludruk,
wayang wong, wayang kulit, ketoprak, ubrug, arja, randai, dan lainnya. Teater
sudah banyak berkembang saat ini banyak dari kita menyajikan teater transisi yang
147
disebut juga sebagai teater modern. Teater transisi dilatarbelakangi oleh pengaruh
budaya lain sehingga memberi sentuhan warna yang berbeda. Unsur teater transisi
terdiri atas teknik teater barat yang mana pada masa itu dilakoni oleh orang Belanda
pada tahun 1805. Kegiatan bermain peran sebagai pilihan judul artikel kami guna
mengembangkan minat dan bakat anak-anak dalam seni peran/teater. Sehingga
anak-anak tertarik dengan kegiatan tersebut dan memiliki antusias yang besar
untuk mempelajari seni bermain peran.
MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka
masalah ini akan dibahas adalah bagaimana meningkatkan kemampuan
anak usia dini dalam bermain peran pertunjukan teater?
TUJUAN
Tujuan kami untuk mengembangkan minat dan bakat anak-anak
dalam seni peran/teater. Sehingga anak-anak tertarik dengan kegiatan
tersebut dan memiliki antusias yang besar untuk mempelajari seni bermain
peran. Dengan menyajikan cerita tradisional dan juga yang sudah di ubah
menjadi modern, serta untuk melestarikan budaya di dalam dan juga ke luar
negeri melalui seni peran dan juga untuk mempertunjukkan drama
mengenai kehidupan masa modern pada masa kini atau sekarang.
PEMBAHASAN
HAKEKAT SENI PERTUNJUKAN
Masa pada anak usia dini merupakan masa pendidikan jasmani dan
panca indra. Pada masa ini anak juga menyukai aktivitas-aktivitas yang
bersifat jasmaniah. Ekspresi dan aktualisasi diri merupakan salah satu
kebutuhan psikologis yang penting bagi anak taman kanak-kanak. Aspek
tersebut dapat difasilitasi melalui kesenian, karena setiap anak
sesungguhnya mempunyai bakat kreatif yang dibawa sejak lahir meskipun
kualitasnya berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain. Seni
pertunjukan adalah suatu konsep atau bentuk seni yang diciptakan oleh
seorang seniman dan dipentaskan di hadapan penonton di sebuah panggung
148
oleh seorang atau sekelompok orang yang di dukung oleh media intrinsik
dan ekstrinsik. Seni perunjukan ini mencangkup beberapa jenis seni
diantaranya: seni musik, seni drama, seni film, dan seni tari. Namun dalam
kegiatan seni perlu kita garis bawahi bahwa seni untuk anak-anak dan orang
dewasa pasti berbeda, karena karakter fisik dan mentalnya pun juga
berbeda. Hal ini guru harus lebih menunjukan semangat dan kreatifitas
kepada anak-anak untuk melakukan seni pertunjukan. Dalam seni
pertunjukan kita dapat mengenal seni teater, mengenai teater sebagai media
pendidikan di sekolah yang akan penulis uraikan sebagai tujuan dari tulisan
ini. Pertama, penelitian menunjukkan bagaimana keterkaitan teater dengan
dunia pendidikan. Kedua, mengungkapkan ten-tang proses komunikasi seni
teater sebagai media komunikasi pendidikan. Ketiga, menganalisis
bagaimana nilai seni teater sebagai media pendidikan di sekolah bagi para
pelakunya. teater sebagai media komunikasi pendidikan menunjukkan
bahwa prinsip dasar per-tunjukan teater adalah komunikasi sim-bolik.
Teater merupakan lingkungan sim-bolik (Kuntowijoyo, 1987: 66) yang
merepresentasikan makna dan nilai dalam kehidupan sehari-hari seperti
kata, bahasa, mite, nyanyian, seni, upacara, tingkah laku, benda-benda,
konsep-konsep dan sebagainya (Mursito, 1997). Pentingnya teater dalam
ranah pendidikan, kiranya dapat mengambil intisari dari sebuah tulisan
tentang Contemporary Theatre in Education (Wooster, 2007:2) menyatakan
bahwa posisi teater dalam pendidikan yang dikembangkan sebagai hibrida
dari arus informasi teatrikal dan pendidikan baru harus diciptakan melalui
pendekatan anak-anak untuk belajar dalam konteks teatrikal. Kekhasan
teater dalam pendidikan adalah pembelajaran yang berpusat pada anak,
penggunaan permainan, dan belajar sambil berbuat. Hal demikian, dapat
dilihat dari ekspresi anak-anak ketika ia menjadi bagian dari proses
berteater. Para guru dan siswa yang terlibat dalam proses teater lebih
membaca komunikasi seni teater sebagai peningkatan kualitas hubungan
antara peserta yang terlibat. Penekanan adanya makna dan nilai pada suatu
pesan berteater, dari proses hingga pertunjukan menunjukkan nilai-nilai seni
149
yang membuat sebuah relasi, yaitu relasi nilai-nilai. Teater sebagai media
komunikasi terdapat dua nilai, yaitu nilai kualitas dan nilai ideal. Dapat
disimpulkan melalui pertunjukan teater demikian, para siswa dirangsang
kreativitasnya untuk mengekspresikan diri melalui aturan-aturan main
pertunjukan. Ada kebanggaan siswa dapat ditonton kerabat dan
keluarganya, sekaligus menjadi pembuktian diri tampil dengan penuh
percaya diri di hadapan publik. Sebagai media komunikasi, teater yang
ditampilkan para siswa menjadi bagian dari cara berkomunikasi secara
verbal maupun non verbal.
MENGENAL TEATER MUSIKAL 2.5 DIMENSI
Banyaknya budaya asing yang masuk ke indonesia membuat budaya
lokal terancam, dan diperlukan pelestarian budaya melalui cara yang
kekinian sehingga dapat diterima anak usia dini. Di sinilah peran sekolah,
guru dan orangtua memegang peran penting dalam mengembangkan minat
anak dalam seni peran. Menolak budaya asing adalah hal yang mustahil,
namun menguatkan budaya sendiri dengan inovasi dan teknologi dapat
menjadi solusi. Salah satu contoh negara yang berhasil menyebarkan
kebudayaan lokal melalui cara yang kekinian adalah Jepang melalui
“Musical 2.5D”. Musikal 2.5 Dimensi “Musical 2.5D” merupakan salah
satu bentuk hiburan panggung yang berasal dari Jepang yang cukup
menghasilkan popularitas hingga ke seluruh dunia. Yang membuat seni
peran mereka berbeda karena musikal ini didasarkan pada komik Jepang,
anime atau video game dan berusaha untuk menggambarkan dunia cerita
asalnya dengan seksama diatas panggung yang biasa kita kenal sebagai Aksi
Langsung (Live Action). Sejak istilah “Musikal 2.5 Dimensi” diciptakan di
Jepang, produksi drama panggung bedasarkan manga, anime dan video
game telah banyak dipentaskan. Pada tahun 2015, manga One
Piece didaptasi menjadi drama kabuki yang merupakan seni teater
tradisional. Hal ini merupakan suatu gebrakan baru karena One
Piece merupakan serial manga pertama yang diadaptasi menjadi drama
kabuki. Perpaduan antara Kabuki yang tradisional dengan cerita One
150