CERITA RELIGIUSKU
(Kumpulan Cerita)
Karya Siswa Kelas V
SDN Pendrikan Kidul
CERITA RELIGIUSKU
@Copyright Mandiri SD Pendrikan Kidul
Penulis
Siswa Kelas V
Editor
Dwi Apriliya Subaeti
Hartono
Perancang Kulit
Tim Kreatif SD Pendrikan Kidul
Perancang Isi
Tim Kreatif SD Pendrikan Kidul
Penerbit
Mandiri
Tahun 2022
KATA PENGANTAR
Anak-anakku kelas V, selamat atas terbitnya karya
kalian kumpulan cerita yang berjudul “Cerita Religiusku”.
Karya kalian luar biasa. Kegiatan religious kalian sudah
dapat diabadikan dalam bentuk cerita.
Karya kalian bisa terbit, Itu semua berkah Tuhan
yang telah melimpahkan karunia-Nya pada kita semua,
juga berkat bimbingan ibu bapak guru kelas V Bu April
dan Pak Hartono, serta perjuangan keras dari anak-anak
kelas V.
Semoga karya kalian dapat menginspirasi para
pembaca. Tetaplah semangat dan terus berkarya dengan
menulis, dengan menulis kenangan kalian akan abadi.
Salam Berkarya Berbudaya.
Semarang, Mei 2022
Kepala Sekolah
Rustantiningsih, S.Pd.,M.Pd
NIP 197510252005012012
DAFTAR ISI
1. Perayaan Paskah (Andreas Bravia / 5a)
2. Buka Bersama Keluarga Besarku (Audrey Nadya
Azzalia / 5a)
3. Terlupa Sholat Ashar (Ayla / 5a)
4. Natal Bersama Keluarga Besar (Emmanuel
Christian Berlando / 5a)
5. Pengalaman Puasaku Pertama Tahun Ini (Hajijah
Nur Khasanah / 5a)
6. Cerita Di Bulan Puasa (Mutiara Azalia / 5a)
7. Kegiatanku Di Bulan Ramadhan (Myiesha Kirana /
5a)
8. Membuat Es Untuk Buka Puasa (Shilla Aulia
Sabrina / 5a)
9. Berbuka Puasa Bersama Keluarga (Wa Ode
Hafizha Isa Permata)
10. Pengalaman Puasa Ramadhan (Zafarina Rahmawati /
5a)
11. Sahabatku Tissa (Corrie Nisa Az Zahra / 5B)
12. Bulan Ramadhan yang Menyenangkan (Syifa
Nuraini / 5B)
13. Peringatan Nuzulul Quran (Nizam Arkha Dhiya
Priyanto / 5B)
14. Ramadhan dan Sahur Bersama (Faid Fahrizki
Syahputra / 5B)
15. Puasa Di Bulan Ramadhan (Gabriel Iman Maulana
/ 5B)
16. Keluargaku (Angelika Regina Jefelin / 5B)
17. Khatam Al Quran Pertama Kali (Fakhri Putra Al
Ahwan / 5b)
18. Ramadhanku (Jalila Intan Lestari / 5B)
19. Tarawih Berjamaah (Kharel Febrian Nugroho / 5B)
20. Kisahku di Bulan Ramadhan (Janitra Hana Ortadan
/ 5B)
21. Kegiatanku Di Bulan Ramadhan (Tristan Alfaridzi /
5B)
22. Puasa Dan Salat Tarawih Pertamaku (Karya: Andi
Devita Aulianisa / 5B)
23. Sahur Bersama (Sjahrir Attar Widyatmaja / 5B)
24. Bulan Ramadhan Yang Menyenangkan (Anis
Naabila 'Aarifatuzzahraa / 5B)
Perayaan Paskah
Karya: Andreas Bravia / 5A
Halo teman-teman perkenalkan namaku, Andreas
Bravia Reyanata. Aku biasa dipanggil Rea saat ini aku
duduk dibangku kelas 5 di SD Pendrikan Kidul Semarang.
Ini adalah pengalaman perayaan paskah bersama
keluargaku setelah tahun kemarin kami hanya merayakan
di rumah tanpa sanak saudara karena kala itu masih
pandemi.
Paskah tahun ini saya mengikuti kegiatan misa di
gereja bsb pukul 09.00 dengan keluarga.
“Rea, kamu sudah siap belum nak?” tanya papah.
“Iya, pah ini aku keluar,” kataku sembari menutup
pintu kamar. Kami pun langsung berangkat ke gereja
dengan mengendarai sepeda motor. Ayah berboncengan
dengan ibu sedangkan aku berboncengan dengan kakak.
Selama perjalanan aku dan kakakku berbincang
mengenai acara paskah nanti.
“Kak, kira-kira paskah ini apakah masih ada
kegiatan remaja gereja iya?” tanyaku memulai
pembicaraan.
“Masih dong, dik seperti biasa kakak akan
mengikuti kegiatan remaja gereja seperti, lomba mencari
telur, mewarnai telur paskah,menghias telur paskah,
membuat karya seni paskah,” cerita kakakku.
“Oh, kalau gitu adik ikut kakak, jika kita juara ada
hadiahnya apa ya kak?” tanyaku lagi penasaran.
“Tahun, lalu kamu belum juara iya? kalau seingat
kakak teman kakak pernah dapat tas dan uang tunai”
kata kakakku mencoba menjelaskan.
“Kalau begitu kita tahun ini harus ada salah satu
yang menang iya kak!” kataku penuh harap. Setelah
menempuh perjalanan 15 menit akhirnya kami sampai.
Setelah beribadah, kami langsung berpencar dan
mengikuti ajang lomba sedangkan orang tua kami
memilih mengikuti kegiatan makan bersama sembari
menunggu pengumuman pemenang lomba tersebut. Tiba
saatnya pengumuman lomba setelah semua dibacakan
aku hanya meraih juara mencari telur, aku sangat senang
walau hanya memenangkan satu perlombaan saja.
Setelah semua selesai diumumkan aku dan keluarga lalu
pulang kerumah. Aku berharap tahun depan paskah
akan lebih menyenangkan lagi.
Buka Bersama Keluarga Besarku
Karya: Audrey Nadya Azzalia / 5A
Setiap tahun aku selalu menantikan puasa
Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Alhamdulillah aku
bisa berpuasa full bersama keluarga di rumah.
Kegiatanku di bulan Ramadhan yaitu rajin sholat 5 waktu,
membaca hafalan surat pendek dan mengaji, buka
bersama keluarga dan shalat Taraweh di masjid bersama
teman-temanku.
Tanggal 21 April kemarin, ulang tahun Bude ku.
Bude adalah kakak pertama dari Ayahku. Beliau
merayakan ulang tahun yang ke 52 tahun. Kami diajak
buka bersama di resto terkenal di Kota Semarang, yaitu
Ikan Bakar Cianjur yang berlokasi di Kawasan Kota Lama.
“Dek, Bude ulang tahun loh… tadi kirim pesan ke
whatsapp Bapak, kita diajak makan bersama di resto
IBC,” kata ibu.
“IBC itu apa bu?” jawabku.
“Itu singkatan nama resto nya, Ikan Bakar
Cianjur,”kata Ibu seraya menunjukkan foto tempatnya
dari instagram.
“Ooo, berarti menunya ikan dibakar semua ya
bu?”tanyaku.
“Ibu belum tahu, nanti kita lihat, ya!”jawab ibu.
“Iya bu,” timpalku.
Malamnya, aku dan keluarga bersiap-siap berangkat
ke resto yang sudah dipesan oleh Bude ku. Kata Ibu,
restonya selalu ramai, jadi kalau mau makan disana harus
pesan tempat dulu. Dan meja yang sudah dipesan akan
di beri tulisan “RESERVED”. Setelah semua siap, kami
berangkat bersama, ada Kakekku dan juga Bude no 3
serta 2 sepupuku yang masih balita. Mereka lucu-lucu
sekali. Namanya mas Vano dan mas Azka, mereka
kupanggil “mas” karena anak dari kakak Ayahku.
Sampai di kawasan Kota Lama, kami parkir di
tempat parkir umum. Bukan di halaman resto, karena
penuh mobil. Dari parkir umum kami berjalan menuju
resto. Kawasan Kota Lama sangat menyenangkan. Kami
berjalan santai dan bercanda, waktu menyeberang
Ayahku sigap menyetop kendaraan yang lewat, hingga
kami aman menyeberang menuju resto.
Alhamdulillah kami sampai di resto yang dituju.
Kami mencuci tangan, cek suhu dan tentu saja
bermasker. Kata Ibu, lepas masker saat makan saja.
Selesai makan harus dipakai lagi maskernya.
Masuk ke dalam resto, kami melewati beberapa
ruangan, banyak orang-orang makan disana. Bude ku
memesan ruangan bernama Anggrek. Sudah tertata meja
dan kursi, di mejanya ada piring, dan gelas yang ditata
rapi. Benar kata Ibu, di meja ada tulisan RESERVED yang
artinya telah dipesan. Bude Pakde sudah datang
menunggu kami.
Kami duduk dan mengobrol, ada sepupuku yang
usianya sama sepertiku. Namanya mbak Hera, anak dari
Pakde no 2, mbak Hera suka bermain badminton,
sedangkan aku suka Volly. Tidak berapa lama, menu
yang kami pesan datang. Ada gurame bakar, gurame
pismol, gurame asam manis, cha kangkung, tausi, nasi
goreng dan juga ayam goreng. Aneka minuman juga
tersedia. Sebelum makan kami berdoa, setelah itu kami
makan dengan lahap.
Selesai makan, kami berfoto bersama, setelah itu
kami keluar resto dan berfoto di depan resto. Karena
sudah malam, kami berpamitan dan pulang ke rumah
masing-masing. Pengalaman yang menyenangkan,
makan di Resto di Kawasan Kota Lama yang terkenal di
kotaku. Aku bersyukur memiliki keluarga yang baik dan
bisa berkumpul bersama. Semoga tahun depan bisa buka
puasa bersama keluarga besar ku lagi. Aamiin….
Terlupa Sholat Ashar
Karya: Ayla / 5A
Awal bulan April sudah memasuki ramadhan. Setiap
umat islam dimanapun senantiasa menyambut dengan
suka cita. Termasuk Ayla, siswa kelas 5A yang suka
mengantuk kalau di kelas. Kebiasaan bermain hp sampai
larut malam membuatnya sulit bangun pagi.
Suatu hari Ayla di rumah nenek untuk membantu
menyiapkan ketupat. Karena biasanya banyak sanak
saudara yang berkunjung ke rumah nenek. Ayla terpaksa
menahan kantuknya, tepat jam 14.00 wib ketupatnya
sudah jadi.
Ayla minta ijin ke nenek untuk menonton tv karena
terlalu Lelah, “Nek, Ayla di ruang TV ya, mau nonton TV
sambil rebahan enggak kuat, Nek”.
“Iya, Nak kalau kamu ngantuk tidur saja di kamar
tamu depan,” suruh nenek.
“Tidak usah nek, aku mau nonton TV saj,a” kata
Ayla seraya langsung menuju ruang TV sedangkan nenek
harus mencuci peralatan membuat ketupat tadi.
Beberapa saat kemudian Ayla tak sadar bahwa dia
tertidur hingga nenek membangungkannya jam 17.00,
lalu Ayla terbangun dan Ayla lupa belum sholat ashar.
“Nek, apakah boleh Ayla sholat ashar jam segini?”
tanya Ayla nampak kecewa karena hampir saja lalai.
“Boleh Nak, karena kamu tidak sengaja segeralah,”
suruh nenek.
Setelah sholat ashar, Ayla segera menelpon
ayahnya untuk menjemputnya di rumah nenek karena
besok harus berangkat sekolah.
“Nek, terima kasih iya Ayla pamit dulu sampai
bertemu besok,” kata Ayla sembari bersalaman.
“Iya nak, jangan lupa bibi dan paman diajak juga
nenek kangen cucu Rangga,” pinta nenek.
“Iya Nek, biar saya yang menghubungi Parman dan
istrinya,” kata Ayah Ayla.
Setibanya di rumah, kami sholat magrib berjamaah.
Tak lupa membaca buku tema untuk pembelajaran
besok. Tepat jam 21.00 terlihat Ayla sibuk memainkan
ponselnya sembari tidur.
“Cepat tidur Nak, besok kalau tidur lagi di kelas
awas saja, ayah malu ditelepon gurumu lagi,” kata ayah
dengan nada agak tinggi.
“Baik, selamat malam ayah,” kataku. Dengan
membaca doa terlebih dahulu akhirnya malam itu Ayla
tidur lebih awal dan besoknya di sekolah tidak mengantuk
lagi.
Natal Bersama Keluarga Besar
Karya: Emmanuel Christian Berlando / 5A
Tanggal 25 Desember adalah hari Natal. Di mana
kami umat Kristen merayakan hari kelahiran Tuhan
Yesus. Pada pagi hari, kami sekeluarga pergi ke gereja
untuk mengikuti ibadah Natal.
“Noel, cepat Nak ini grabnya sudah mau sampai,”
teriak mamah dari teras depan rumah.
“Iya, mah ini aku sedang mencari sepatu baru yang
mamah belikan Minggu lalu,” kata Noel yang mulai panik.
“Oh, ya Mamah lupa kemarin mamah simpan diatas
lemari, sebentar mamah ambilkan,” kata Mamah sembari
berlari ke kamar.
“Nah, ini cepat kamu pakai. Mamah tunggu di
depan takut nanti supirnya nyariin” pinta mamah.
Grab pun sampai depan rumah.
“Selamat pagi, Bu,” sapa supir grab.
“Pagi, Pak tolong nanti cari jalur cepat ya, Pak
karena ibadah saya akan segera dimulai,” kata mamah
yang mulai panik juga. Setelah 10 menit perjalanan
akhirnya sampai.
Biasanya ibadah Natal lebih istimewa, karena
banyak acaranya dan ada kado Natal buat anak-anak. Di
bawah pohon natal tempat kami beribadah terdapat kado
yang dibungkus berwarna-warni. Di akhir acara pendeta
memberikannya bagi anak-anak yang kurang mampu.
Setelah pulang dari gereja,saya dan keluarga pergi
ke rumah Pakdhe di Pucang Gading. Semua saudara-
saudara mama berkumpul disana. Saya senang sekali
berkumpul bersama besar untuk merayakan Natal. Ada
banyak makanan dirumah Pakdhe,dan yang paling saya
senangi adalah angpao dari Pakdhe dan Budhe.
“Terima kasih Pakdhe dan Budhe, ini sangat
bermanfaat buatku, karena aku ingin membeli tas sekolah
baru,” kata ku sembari bersalaman.
“Iya, sama-sama belajar yang rajin, Nak,” kata
budhe.
Keluarga besar kami tidak hanya beragama Kristen
saja, ada juga yang beragama Islam. Saat Natal,semua
berkumpul dirumah Pak Dhe ikut merayakan Natal
bersama kami. Meski kami berbeda-beda agama, tetapi
kami tetap rukun dan saling menyayangi serta
menghormati satu sama lain.
Pengalaman Puasaku Pertama Tahun Ini
Karya: Hajijah Nur Khasanah / 5A
Pada hari Minggu 3 April adalah hari puasa pertama
untuk tahun ini. Aku sangat bersemangat mejalankan
puasa di hari tersebut. Pada saat malam sebelum puasa
aku mengikuti sholat tarawih pertama dengan sebaik-
baiknya bersama keluargaku di mushola dekat rumahku.
Kemudian pada jam 3 pagi aku dibangunkan oleh ibuku
untuk sahur agar bisa kuat puasa di siang harinya. Cukup
mengantuk rasanya, cuma aku harus tetap sahur agar
berkah puasaku. Kemudian diakhir sahur aku membaca
niat puasa dan melakukan sholat subuh.
Pada pagi harinya aku melakukan aktivitas seperti
biasa. Namun pada siang hari rasanya begitu panas,
bahkan rasa lapar dan hausku mulai datang. Aku mulai
merasa tidak kuat berpuasa.
Ibu langsung menegurku, “Kamu harus kuat, ingat
puasa ini pahalanya besar makanya harus dilakukan
dengan baik.”
“Lebih baik kamu sholat dhuhur dulu sana!” Aku
pun segera sholat dhuhur karena sudah masuk waktunya
sholat. Tidak terasa jauh lebih ringan setelah sholat. Rasa
haus dan laparku tidak muncul lagi.
Kemudian disore hari aku melanjutkan kegiatanku
dengan mengaji di TPQku. Saat ditempat ngaji aku
melihat ternyata banyak teman-teman ku yang tidak
puasa. Aku jadi tergoda melihat mereka makan dan
minum jajanan. Tapi aku ingat pesan ayahku.
Ayahku berkata, “Saat apapun kamu harus ingat
niat puasamu, kalo kamu dapat menyelesaikan puasamu
dengan baik akan dapat pahala yang sangat banyak dari
Allah.”
Seketika pun aku pergi meninggalkan teman-
temanku itu untuk mengaji terlebih dahulu. Setelah
pulang dan sampai rumah ternyata tepat masuk
waktunya adzan magrib. Dan aku melihat ibu sudah
menyiapkan makanan buka puasa yang sangat banyak
dan enak. Aku bersyukur sekali untuk puasa tahun ini.
Rasanya senang bisa berbuka dengan keluargaku
bersama-sama. Semoga teman-teman yang lain juga
selalu semangat puasa seperti aku yaa.
Cerita Di Bulan Puasa
Karya: Mutiara Azalia / 5A
Pada hari pertama puasa, Udin sangat bersemangat
untuk berpuasa. Tahun ini adalah tahun kedua Udin
belajar untuk puasa sehari karena dari kelas 1 sampai
kelas 3 Udin hanya berpuasa sampai waktu dzuhur.
Setelah pulang sekolah Udin berencana bermain sembari
menunggu bedug dengan teman sekelasnya karena
kebetulan rumahnya dekat dengan Udin. Namun, saat Ia
sampai ke rumah Beni, mereka bermain ular tangga dan
catur.
Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 15.00.
Tiba-tiba Beni terlihat uring-uringan.Tiba-tiba Beni
menyeletuk mengajak Udin untuk membatalkan
puasanya.
Kata Beni, "Hei, Udin. Aku sangat haus, ayo kita
batal puasa!"
Sontak Udin pun terkejut karena tidak menyangka
jika Beni akan mengajaknya melakukan yang dilarang
oleh agama.
Udin pun segera menolak, "Tidak boleh, Beni. Kita
harus menahan nafsu kita."
Akhirnya Udin berpamitan untuk pulang dan tak
lupa mengajak Beni untuk ikut berbuka bersama di
rumahnya karena Ibunya baru pulang dari desa dan
membawa banyak sayuran.
Saat waktu buka, Ibu, Ayah, dan Udin berbuka
bersama. Tak lupa, Udin juga mempersilahkan teman-
temannya masuk ke rumahnya. Saat adzan Isya
berkumandang, Udin dan teman-temannya cepat-cepat
mengambil wudhu, dan ijin kepada Ibu dan Ayah untuk
pergi ke Masjid.
Saat sholat Tarawih, Beni dan Dodo bercanda dan
tidak sholat. Saat itu pun, Udin menegur Beni dan Dodo.
"Hei, Beni dan Dodo. Berhenti bercanda dan sholat
yang khusyuk."
Beni dan Dodo pun seketika diam.
“Kata Pak Ustad kita harus mengingatkan dalam
kebaikan, tidak boleh bercanda saat beribadah karena itu
perintah Allah,” tutur Udin dengan nada agak kesal.
Selepas tarawih Beni dan Dodo pun meminta maaf
seharusnya mereka bisa meniru Udin yang selalu
berusaha mengingatkan untuk berbuat baik.
“Udin, kami harap kamu selalu menjadi teman yang
baik untuk kita,” kata Dodo penuh harap seraya
mengulurkan tangannya.
Mereka pun saling berpelukan dan kembali pulang
ker rumah masing-masing. Sebelum tidur Udin
menceritakan kejadian bersama temannya saat terawih
kepada kedua orangtuanya. Orangtuanya merasa bangga
bahwa anaknya sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa.
Kegiatanku di Bulan Ramadhan
Karya: Myiesha Kirana / 5A
Ramadhan adalah bulan suci yang dinanti semua
umat muslim dan muslimah. Bulan yang penuh arti dan
penuh berkah. Ramadhan tahun ini tidak jauh berbeda
dengan Ramadhan tahun sebelumnya. Banyak kegiatan-
kegiatan di bulan Ramadhan yang aku lakukan, seperti
salat tarawih berjamaah di musholla, mengaji, dan buka
bersama.
Di hari pertama puasa,biasanya setelah salat
dzuhur aku sedikit mengaji. Kemudian aku tidur siang,
karena sorenya ada kegiatan mengaji bersama teman-
teman hingga waktu berbuka puasa tiba.
Pukul 16.00 tepat aku bergegas ke musholla untuk
mengaji. Di sana sudah banyak teman-teman yang
datang. Mengaji pun dimulai dengan dipimpin Pak Ustadz,
dan kami mengaji bergantian. Sambil menunggu giliran
aku mengobrol dengan temanku, Shila namanya.
“Shila,kamu puasa hari ini?” tanyaku.
“Iya, tapi hanya setengah hari,” jawab Shilla.
“Kok hanya setengah hari?” tanyaku lagi karena
merasa penasaran.
“Iya,aku belum kuat kalau sehari penuh,” jawab
Shilla dengan agak malu.
Karena penasaran, saat teman-temanku sudah
pulang aku mencoba menanyakan ke pak ustadz.
“Pak ustadz memang boleh ya puasa setengah
hari?” tanyaku.
“Boleh, buat yang baru belajar.”
Tapi tidak melarang juga kalau puasa penuh,”
jawab Pak Ustad.
“Lalu apakah doa untuk niatnya sama ya, Pak?”
tanyaku lagi.
“Sama, buat yang masih belajar puasa, boleh
dicoba puasa setengah hari lalu bisa di lanju lagi sampai
magrib. Tidak harus langsung puasa full ya. Ingat puasa
itu untuk melatih kita menahan lapar dan amarah,”
terang Pak Ustad mencoba menjelaskan.
”Oh seperti itu Iya Pak Ustadz, baik saya paham,”
kataku dengan senyum karena rasa penasarannya sudah
terjawab.
Tak lupa Aku berterimakasih dan ijin pamit pulang
kepada Pak Ustad. Saat keluar dari masjid, tiba-tiba
pendengaranku tertuju pada nenek renta yang sedang
duduk di teras musholla.Tampak lelah dan lesu. Lalu
kuberanikan diri menyapanya, “Assalamu'alaikum, Nek!”
“Waalaikumsalam, Nak,” jawab nenek.
“Nenek tampak lelah dan lesu, apa nenek sudah
membatalkan puasa?” tanyaku.
“Sudah Nak, nenek sudah minum botol air mineral”
jawab nenek dengan nada lirih.
“Tunggu sebentar ya, Nek” kataku sembari berlari
ke belakang masjid.
Selama ramadhan Masjid biasanya menyediakan
takjil untuk para jemaahnya di meja belakang. Aku
ambilkan nenek teh hangat dan beberapa takjil untuk
dimakannya.
Sambil ku sodorkan ke nenek, “Ini Nek, silakan
dimakan.”
“Terima kasih Nak, sungguh baik hatimu,” kata
Nenek penuh haru.
“Sama-sama, Nek. Saya permisi dulu ya, Nek,
karena saya harus segera membantu ibu di rumah
menyiapkan buka,” terangku.
Saat sampai di rumah akupun langsung menuju ke
dapur membantu ibu membersihkan alat masak dan
membawa makanan ke meja makan. Tepat pukul 17.45
adzan magrib terdengar, aku bersama ayah, ibu, dan adik
langsung membatalkan puasa kami dengan es degan
kesukaan adikku.
Membuat Es untuk Buka Puasa
Karya: Shilla Aulia Sabrina / 5A
Bulan Ramadhan telah tiba, di mana setiap umat
muslim berlomba-lomba berbuat kebaikan. Puasa menjadi
kewajiban selama bulan Ramadhan, tak heran jika setiap
sore orang-orang sibuk ngabuburit sembari mencari lauk
pauk untuk menu berbuka. Termasuk juga keluarga saya,
selama puasa atau ramadhan saya dan ibu setiap sore
menyempatkan diri untukpergi ke taman Indrapasta
membeli buah atau lauk-pauk untuk buka puasa.
Jam menunjukkan pukul 16.30 Ibu memanggil
Shilla, "Shilla udah mandi? Udah sholat?”
"Udah bu," jawab Shilla seraya langsung menemui
ibunya.
”Ayo, ikut ibu beli buah untuk buka puasa nanti!"
ajak Ibu.
"Oke Bu, aku pakai kerudung dulu, Ibu tunggu
sebentar, iya," pinta Shilla.
Lalu kami pun pergi dan membeli buah di salah
satu toko buah yang ada di taman. Setelah kami sudah
membeli buah, ibunya mengaka Shilla untuk sekalian
membeli gorengan.
"Nah, sekarang sudah semua yok pulang!" ajak ibu.
Sesampai di rumah ibu saya menyuruh saya untuk
mencuci dan memotong buah yang tadi dibeli, "Shilla
tolong cucikan dan potongkan buah ini.”
"Baik, Bu," jawab Shilla.
Waktu saya mencuci buah saya malah asik main air
dan tidak sengaja memyenggol buah, alhasil buahnya
jatuh, untung saja buahnya jatuh kewadah yang sudah
saya siapkan untuk buah yang sudah saya cuci.
Untungnya saja ibu tidak mengetahuinya. Setelah selesai
dicuci dan dipotong, barulah dibuat es buah oleh ibu
saya. Es buah sudah jadi, kami tinggal menunggu waktu
buka puasa.
Tepat pukul 17.45 suara adzan terdengar, ibu
segera membawa gelas dan piring ke meja makan.
“Nah, coba es buah buatan ibu dan Shilla,” kata ibu
sembari menyendok es buah ke gelas.
“Wah, manis seperti anak ayah!” puji ayah sambil
tersenyum. Membantu orangtua selama ramadhan
menjadi pengalaman tersendiri selagi menunggu adzan
dan menghilangkan rasa lapar.
Berbuka Puasa Bersama Keluarga
Karya: Wa Ode Hafizha Isa Permata
Pada jam 16.40 menjelang berbuka puasa Fizha
dan Ibu memasak makanan untuk berbuka puasa. Saat
Ibu dan Fizha memasak, adik datang ke dapur dan adik
bertanya, ”Ibu apakah adik boleh membeli Takjil di
pasar?”
“Boleh kamu pergi bersama kakak Fizha ya?” kata
Ibu seraya memberi uang ke kakak Fizha.
Saat ingin keluar rumah, ayah menegur kami,
“kalian mau kemana.”
“Aku dan kakak ingin membeli takjil ayah,” jawab
adik.
“Baiklah jangan lama-lama, sebentar lagi menjelang
waktu berbuka puasa,” pesan ayah kepada kami.
“Baik, Ayah,” jawab adik.
Adik dan Kakak Fizha ke pasar dengan menaiki
sepeda pemberian ulang tahun yang ke 10 dari ayah.
Sepeda ini yang biasa menemani kami pergi ke sekolah
dan mengaji.
Sesampainya di pasar adik pun meminta kakaknya
untuk berhenti di penjual kolak, ”Kak, depan sana ada
penjual kolak mampir sebentar iya.”
“Iya, Dik!” jawab kakak.
Kak Fizha pun membayar Rp. 10.000 untuk 2 gelas
kolak kurma dan pisang.
“Apa lagi Dik, yang kamu mau beli ini uangnya sisa
Rp. 10.000 lagi?” tanya Kakak Fizha.
“Sudah, Kak simpan saja buat besok kita beli es
campur,” pinta adik.
Setelah membeli Takjil, Kakak, dan Adik langsung
pulang kerumah. Saat sampai di rumah Ibu menyuruh
kakak Fizha untuk menyiapkan makanan dan
menaruhnya di meja. Dan saat waktunya sudah
menjelang berbuka puasa, Ibu, ayah, adik, dan kakak
berkumpul di meja makan. Setelah selesai makan, ibu
berkata, “kakak, adik cepat ambil air wudhu kita shoat
bersama.”
Adik dan Kak Fizha segera bergantian mengambil
wudhu dan segera menyiapkan sajadah untuk sholat
berjamaah bersama.
Saat selesai sholat adik bertanya kepada ayah,
“Ayah apa manfaat puasa di bulan Ramadhan?”
Ayah menjawab, “Berpuasa di bulan Ramadhan ini
mengajarkan kita untuk melatih diri untuk tetap
bersyukur kepada Allah SWT dan menahan haus dan
lapar.”
“Wah, ternyata manfaat berpuasa di bulan
Ramadhan banyak sekali manfaatnya ya, Ayah,” kata
adik. Tepat pukul 18.45 ibu dan ayah mengajak kami
untuk bersiap-siap pergi ke masjid menunaikan solat
taraweh bersama.
Pengalaman Puasa Ramadhan
Karya: Zafarina Rahmawati / 5A
Saya merasa senang sekali karena bulan puasa
telah tiba dan saya dapat bertemu dengan teman-teman
untuk mengaji bersama lagi. Kebiasaan di awal puasa
ataupun saat sahur saya makan dengan makanan frozen
food yang mudah diolah. Saat pertama kali mencoba
puasa sehari penuh, awalnya saya mengira jika puasa itu
susah dan ternyata tidak susah.
Pada siang hari saya bertemu teman-teman ngaji
saya di pesantren ramadhan, saya senang sekali, karena
bisa bertemu dengan mereka lagi setelah 2 tahun tidak
ada pesantren ramadhan akibat pandemi.
Pada saat di pesantren Ramadhan, saya dan
teman-teman segera duduk melingkar bersama Ustadzah.
Ustadzah mengajari kami tentang manfaat bulan puasa,
sholat, dan membaca al’quran dengan tajwid. Ustadzah
bertanya kepada kami, "Bagaimana anak-anak, apakah
bulan puasa ini benar-benar menyenangkan? Dan
bagaimana kabar kalian anak anak, apakah baik baik
saja?"
Kami menjawab, "Iya Ustadzah, bulan puasa tahun
ini benar benar menyenangkan, kabar kami baik baik saja
Ustadzah".
Setelah pulang dari pesantren ramadhan dan
bertemu teman-teman, saya merasa lelah sekali dan saya
tidur sejenak selagi menunggu waktu berbuka. Pada saat
saya bangun, tiba-tiba saya mendengar suara adzan,
saya langsung berbuka puasa dengan hati senang.
Pada malam hari tiba saya dan sekeluarga pergi ke
masjid untuk salat berjamaah, saya berjumpa dengan
teman saya yang bernama Anggie. Saya dan Anggie salat
bersama di masjid, ketika selesai sholat saya bertanya
kepada Anggie, "Anggie besok berangkat kan pesantren
ramadhan?"
Anggie pun menjawab, "Iya, besok masih
berangkat. Tetapi besok ada ujian pesantren Ramadhan,
tentang penjelasan dari Ustadzah tadi". Saya pun
menjawab, "Baiklah!"
Setelah salat berjamaah di masjid, saya dan
keluarga melanjutkan kegiatan rutin membaca Al-Qur'an
ataupun tadarus di rumah. Tepat pukul 21.00 saya
kembali ke kamar untuk tidur karena jam 03.00 pagi
harus bangun untuk sahur.
Sahabatku Tissa
Karya: Corrie Nisa Az Zahra / 5B
Pada suatu hari, tepatnya hari Minggu saat aku
kelas 3, temanku Tissa menghampiriku untuk bermain
masak-masakan bersamanya. Akan tetapi aku harus
menunggu Tissa melaksanakan ibadah Minggunya
dahulu. Singkat cerita, Tissa telah selesai ibadah Minggu,
kebetulan saat itu adalah bulan Ramadhan. Waktu
menunjukkan pukul 11.00 siang, saat itu Nenek Tissa
menawariku mie instan.
“Corrie, sini, Nak! Makan mie bersama,” ajak
Nenek Tissa.
“Nek, Corrie sedang puasa,” ucap Tissa.
“Oh, begitu rupanya. Corrie, maafkan Nenek, ya!”
kata Nenek Tissa.
Saat itu memang sudah waktunya Tissa makan
siang.
“Tissa, ini kan sudah waktunya kamu makan
siang, kau makan saja dulu, aku akan menunggumu
sambil bermain dengan Seto, adikmu,” kataku kepada
Tissa.
“Nanti saja, aku belum lapar, lagi pula kau kan
sedang berpuasa,” jawab Tissa.
Azan lohor berkumandang, aku berpamitan untuk
pulang.
“Tissa, aku pulang dulu, ya,” kataku.
“Baiklah, anti sore kita main lagi, ya!” pinta Tissa.
Waktu menunjukkan pukul 04.00 sore, aku
bermain lagi bersama dengan Tissa dan Aya. Tissa
menceritakan saat beribadah Minggu bersama teman-
temannya.
Tiba-tiba Aya berkata, “Eh, bagaimana kalau nanti
kita buka bersama di rumahku?”
“Boleh juga. Bagaimana menurutmu Corrie?”
tanya Tissa kepadaku.
“Oke, aku setuju. Nanti kita buka bersama di
rumah Aya,” jawabku.
Tanpa terasa waktunya berbuka puasa tiba. Saat
itu aku dan Tissa sudah berada di rumah Aya. Kami
bertiga buka bersama meski Tissa tidak berpuasa, selesai
makan kami pun bercerita.
Bulan Ramadhan kali ini terasa berbeda karena
Tissa sudah pindah ke Jogja. Walaupun demikian aku
tetap menyambut bulan suci Ramadhan dengan
bersemangat. Aku berusaha untuk mengisi bulan
Ramadhan dengan ibadah dan amal yang lebih baik.
Perbedaan agama dan keyakinan tidak membuat
perpecahan, justru karena berbeda kita bisa saling
melengkapi sehingga dapat mempererat persatuan dan
kesatuan.
Bulan Ramadhan yang Menyenangkan
Karya: Syifa Nuraini / 5B
Bulan Ramadhan tahun ini sangat istimewa dan
menyenangkan bagiku. Aku dapat menjalankan puasa
dengan lebih semangat, meskipun tidak bisa penuh satu
bulan karena ada hal yang tidak diperbolehkan untuk
berpuasa bagiku. Aku pun bisa menjalkan salat Tarawih
berjamaah di masjid walaupun tidak setiap malam.
Ramadhan tahun ini tidak seperti dua tahun yang
lalu. Tahun ini sudah ada kelonggaran PPKM sehingga
bisa salat berjamaah di masjid meski dengan tetap
menjalankan protokol kesehatan dan jamaah harus sudah
divaksin. Aku senang sekali karena suasana ramadhan
kembali hangat dan meria lagi. Kegiatan ramadhan yang
hilang selama masa pandemic dua tahun terakhir ini, kini
bisa dilakukan lagi seperti menjelang berbuka puasa
sambil mencari makanan untuk berbuka puasa.
Hal yang membuatku senang dan bersyukur
karena bulan Ramadhan ini aku bisa masuk sekolah lagi,
setelah dua tahun kegiatan sekolah secara online. Kini
aku bisa datang ke sekolah lagi dan bertemu dengan
teman-teman. Hari pertama masuk sekolah di bulan
Puasa terasa berat, aku merasa mengantuk dan lelah.
Namun, dengan niat dan tekad, aku melewati puasa
sampai azan maghrib berkumandang untuk berbuka.
Untuk mengurangi rasa kantuk dan lelah aku tidur
sebentar. Bangun tidur biasanya aku mengerjakan tugas-
tugas dari sekolah. Malam harinya setelah salat Tarawih,
makan dan bersantai bersama. Selama puasa aku tidur
lebih awal dari biasanya agar bisa bangun bangun saat
sahur dan tidak mengantuk saat belajar di sekolah.
Itulah kegiatanku bulan Ramadhan tahun ini.
Semoga kita semua masih bisa bertemu lagi bulan
Ramadhan tahun depan dan bisa menjalaninya dengan
lebih baik lagi. Akhir kata saya mengucapkan, “Selamat
Hari Raya Idul Fitri, minal aidin wal faizin, mohn maaf
lahin dan batin.”
Peringatan Nuzulul Quran
Karya: Nizam Arkha Dhiya Priyanto / 5B
Malam ini, suasana musala dekat rumahku tampak
lebih ramai dari biasanya. Berjarak kurang lebih 100
meter dari rumahku, musala yang tidak terlalu besar itu
selalu tampak guyub oleh para jamaah yang mengadakan
kegiatan keagamaan. Bertepatan dengan malam 17
Ramadhan, takmir musala mengadakan acara peringatan
Nuzulul Quran.
Sehabis salat Isya dan Tarawih, para jamaah yang
terdiri dari para bapak, ibu-ibu, remaja, dan anak-anak
kompak sudah memenuhi tempat yang sudah disediakan.
Aku dan teman-temanku juga tidak mau ketinggalan
mengikuti acara tersebut.
Acara dibuka dengan menampilkan grup rebana
musala. Dilanjukan dengan sambutan oleh ketua panitia
dan Bapak ketua RT setempat. Tibalah pada acara inti
yang ditunggu-tunggu, yaitu kajian tentang pentingnya
mengenalkan Al Quran kepada anak-anak sejak dini yang
dibawakan oleh seorang ustaz ternama dari Kota
Semarang. Diselingi dengan canda dan tawa, membuat
kajian tidak membosankan. Aku pun banyak mendapat
pengetahuan bahwa Al Quran harus kita pelajari sejak
kecil, sebagaimana para sahabat yang belajar dari
Rasulullah Muhammad Saw.
Ramadhan dan Sahur Bersama
Karya: Faid Fahrizki Syahputra / 5B
Ramadhan kali ini terasa seru sekali karena ada
kegiatan tadarus keliling. Tadarus dilaksanakan setelah
salat Tarawih. Kali ini tadarus dibuatkan jadwal untuk
tempat pelaksanaannya. Jadi tempat tadarus tidak hanya
masjid saja, tetapi berpindah dari satu rumah jamaah ke
rumah jamaah yang lain. Seminggu setelahnya, sehabis
kegiatan tadarus dilanjutkan hafalan surat Yassin.
Targetnya harus hafal surat Yasin sampai 83 ayat. Saat
ini aku sudah sampai 36 ayat.
Memasuki minggu ketiga puasa, aku dan teman-
teman berembug untuk merencanakan sahur bersama.
Sesuai hasil musyawarah, sahur bersama akan dilaknakan
tanggal 23 April 2022. Pada hari Sabtu tanggal 23 April,
seperti biasa kami melaksanakan sala tarawih berjamah,
tadarus, dan dilanjutkan hafalan Yassin. Setelah kegiatan
tersebut, kami menyiapkan segala sesuatu untuk
keperluan sahur bersama. Tentunya kegiatan ini hanya
dilakukan saat Ramadhan.
Pukul 22.00 kami tidur bersama dan kami bangun
pada pukul 02.30. Kami segera mengambil air untuk
wudhu dan salat Tahjud. Pukul 03.30 kami makan sahur
bersama dengan senang dan semangat. Setelah sahur
kami membahas masalah takbiran dan dilanjutkan salat
Subuh berjamaah. Kegiatan dilanjutkan dengan tadarus
sebentar dan melihat film tentang kisah Nabi Yusuf As.
Saat matahari terbit kami berjalan-jalan dan bermain
bersama sebentar kemudian kami pulang ke rumah
masing-masing.
Puasa Di Bulan Ramadhan
Karya: Gabriel Iman Maulana / 5B
Saya lahir dan dibesarkan di keluarga yang
beragama Islam dan tinggal di lingkungan yang mayiritas
masyarakatnya beragama Islam juga. Saya mendapatkan
pendidikan agama Islam yang selain dari sekolah juga
dari keluarga dan lingkungan. Seperti biasa di bulan
Ramadhan saya dan keluarga beserta masyarakat
sekitarku menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya.
Awal puasa saya melakukan makan sahur
Bersama keluarga pukul 03.00. Setelah sahur saya
melaksanakan salat Subuh kemudian tidur sebentar.
Pukul 07.00 saya bangun dan berangkat ke sekolah.
Pulang sekolah saya tidur sampai pukul 15.30 lalu mandi
dan membeli takjil untuk buka puasa. Setelah membeli
takjil saya mengaji hingga menjelang buka puasa.
Jika hari Selasa, kamis, dan Jumat saya ada
aktivitas latihan sepak boal selama satu jam yaitu pukul
14.30 – 15.30. Setelah berlatih sepak bola, saya tetap
menjalankan kegiatan rutin di bulan Ramadhan, yaitu
membeli takjil dan dilanjutkan mengaji hingga menjelang
buka puasa.
Selesai berbuka puasa, saya melaksanakan salat
Maghrib kemudian bermain sebentar. Kegiatanku
selanjutnya adalah salat Isya dan dilanjutkan salat
Tarawih berjamaah di masjid dekat rumah. Demikian
keseharianku dalam menjalankan ibadah puasa di bulan
Ramadhan tahun ini. Semoga saya masih bias berjumpa
bulan Ramadhan yang akan dating dan dapat
menjalankan puasa beserta ibadah lainnya dengan lebih
baik.
Keluargaku
Karya: Angelika Regina Jefelin / 5B
Saya lahir dari keluarga yang berbeda keyakinan.
Ibuku seorang Muslim dan ayahku seorang Protestan.
Sejak kecil saya dan kedua kakak saya mengikuti
keyakinan ayah. Kami tidak pernah merasa ada yang
salah dengan perbedaan kayakinan kedua orang tua
kami. Keluarga kami pun cukup harmonis dan bahagia
dengan kondisi seperti ini.
Terkadang ada orang yang menganggap
keluargaku tidak baik, salah, dan lain sebagainya. Kami
tidak peduli apa kata orang tentang keluarga kami, yang
penting apa yang kami lakukan tidak melanggar aturan
dan tidak merugikan orang lain.
Dalam menjalankan ibadah, kami tetap
melaksankan sesuai dengan aturan keyakinan kami,
misalnya di bualn Ramadhan ibuku berpuasa seperti
umumnya orang Muslim. Di saat merayakan Natal, kami
juga melaksankan dengan damai dan penuh suka cita.
Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan yang
mahaesa karena kelurga kami selalu bersatu. Tidak ada