The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by junymona, 2021-09-22 12:49:37

SANG FAJAR DI UFUK TIMUR

KARYA PRIYONO, S.Pd.SD

Keywords: PUISI,KUMPULAN PUISI

Priyono, S.Pd.

SANG FAJAR
DI UFUK TIMUR

Kumpulan Puisi

Editor: Rustantiningsih

Priyono, S.Pd.

SANG FAJAR
DI UFUK TIMUR
(KUMPULAN PUISI)

Editor: Rustantiningsih

ii

iii

SANG FAJAR DI UFUK TIMUR
(KUMPULAN PUISI)

Penulis : Priyono, S.Pd.
ISBN : 978-623-6620-73-1
Editor : Rustantiningsih
Penata Letak : Tim Qahar Publisher
Desain Sampul : Lavenda Heparvia Nurvi

Hak Cipta 2020, Pada Penulis
Isi diluar tanggung jawab percetakan

Copyright © 2020 by Qahar Publisher
viii, 49 hlm, 14,8 cm x 21 cm

Cetakan Pertama, Oktober 2020

All Right Reserved

Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini

tanpa izin tertulis dari Penerbit.

QAHAR PUBLISHER
Jl. Randusari Pos III/390A Kota Semarang

www.qaharpublisher.com
E-mail: [email protected]
iv

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih atas
berkah karunia-Nya, Kumpulan Puisi yang berjudul: “Sang
Fajar di Ufuk Timur” dapat terselesaikan dengan baik. Hal ini
terwujud karena kerja keras dan dorongan dari berbagai
pihak.

Buku Kumpulan puisi ini berisi tentang rasa, pikiran,
dan pengalamann penulis yang dituangkan dalam bentuk
puisi. Puisi-puisi dalam buku ini berisikan tentang kehidupan,
fenomena alam, dan sosial yang sangat penting untuk
mengembangkan penguatan pendidikan karakter bagi siswa di
sekolah.

Penulis menyadari bahwa selesainya kumpulan puisi ini
juga berkat dukungan dan motivasi dari beberapa pihak. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Daryana, M.Pd., Kons, selaku Pengawas Dabin 2

Kecamatan Semarang Tengah, yang telah memberikan
saran dan motivasi kepada penulis.
2. Kepala SDN Pendrikan Kidul yang selalu memberi motivasi
dan menginspirasi.
3. Guru dan siswa SDN Pendrikan Kidul yang senantiasa
memberi semangat.
Semoga kumpulan puisi ini dapat menjadi bahan bacaan untuk
siswa Sekolah Dasar. Bagi guru dapat menjadi motivasi dalam
meningkatkan keterampilan membaca dan menulis, serta
pemahaman tentang seni sastra puisi.

Semarang, Oktober 2020

Penulis

v

DAFTAR ISI

Tetes Air Hujan..........................................................................1
Siapa Kamu................................................................................2
Rembulan ..................................................................................3
Bawang Putih Berkulit Merah ...................................................4
Suasana Pagi..............................................................................5
Semangat Juang Bung Tomo.....................................................6
Kota Lama di Malam Hari..........................................................7
Kala Senja ..................................................................................8
Awan Putih di Puncak Gunung..................................................9
Sekar Langit ...............................................................................10
Keluh Kesahku ...........................................................................11
Tiada Guna Sombong ................................................................12
Hidup Rukun..............................................................................13
Dirgahayu RI ..............................................................................14
Sang Fajar di Ufuk Timur ...........................................................15
Nasibku di Tanah Rantau ..........................................................16
Jayalah Negeriku .......................................................................17
Sekolah Gudang Ilmu ................................................................18
Kota Semarang ..........................................................................19
Teman Karibku ..........................................................................20
Aku Ingin Terbang .....................................................................21
Derita Tsunami ..........................................................................22
Malam Itu..................................................................................23
Putri Cantik................................................................................24
Panggilan Alam..........................................................................25

vi

Si Udin .......................................................................................26
Saya Reaktif...............................................................................27
Sekolah Masa Lalu.....................................................................28
Musim Kemarau ........................................................................29
Mbah Maridjan .........................................................................30
Ambyaar ....................................................................................31
Hama Tikus................................................................................32
Hidup itu Inspirasi .....................................................................33
Bangkit dan Bergerak ................................................................34
Rustantiningsih..........................................................................35
Warna Kehidupan .....................................................................36
Asa dan Citaku...........................................................................37
Keberagaman Budaya ...............................................................38
Mutiara Lawang sewu ...............................................................39
Rasa Sebuah Perjalanan ............................................................40
Anak yang Hilang.......................................................................41
Erupsi Merapi ............................................................................42
Wijaya Kusuma..........................................................................43
Rindu Kehidupanku Dulu...........................................................44
Belajar di Rumah .......................................................................45
Bunga Teratai ...........................................................................46
Senja ..........................................................................................47
Ayah...........................................................................................48
Profil Penulis .............................................................................49

vii

viii

Tetes Air Hujan

Siang udara terasa panas
Meski mendung tampak menyelimuti
Tak kuat rasa ini menahan
Hingga siang itu pergi

Ingin berteduh di bawah pepohonan
Menikmati gerak-gerik dedaunan
Bergoyang kian kemari
Menghadirkan kesejukan

Kala mentari itu terbenam
Terdengar sayub-sayub suara gemuruh
Dan butir-butir air pun berjatuhan
Menjadikan rasa sejuk dan segar

1

Siapa Kamu

Pada awalnya aku tidak mengenalmu
Kau datang dari negeri yang jauh
Menjelajah seluruh jagad raya
Derita dan nestapa yang engkau bawa
Corona….
Siapa kamu
Dari mana asalmu
Beribu insan menderita karenamu
Jerit dan tangis menyayat hati
Terdengar pilu di seluruh penjuru
Tak tahu yang engkau mau
Corona....
Ingin aku mengusikmu
Mengusir jauh meninggalkan benakku
Tak ada rasa takut melawanmu
Maskerku slalu melindungiku
Dan handsanitizer akan membunuhmu

2

Rembulan

Ketika malam telah tiba
Kupandangi angkasa penuh rasa kagum
Tampak oleh mataku cahaya yang indah
Penuh pesona menyinari bumi
Tuhan…
Kau hiasi alam semesta ini
Dengan karya-Mu yang begitu agung
Menerangi langkah demi langkah
Tatkala malam datang
Rembulan…
Pancaran sinarmu terang benerang
Bentukmu kadang sabit, setengah
Bahkan suatu saat bulat pepat
Terima kasih ….
Engkau menemaniku melewati malam

3

Bawang Putih Berkulit Merah

Bawang Merah Bawang Putih
Cerita yang sering kudengar waktu kecil
Di sekolah aku dengar dari guruku
Guru yang pandai bercerita
Di rumah sering ku dengar menjelang tidur
Dari ibu atau bapak yang sangat menyayangiku
Kini kulihat di televisi judul itu berubah
Menjadi Bawang Putih Berkulit Merah
Kalau dulu Bawang Putih baik hati
Dan bawang merah berwatak jahat
Kini cerita itu berubah
Bawang Merah bertukar wajah
Dan juga bertukar watak
Bawang Merah bernasib baik penuh bahagia
Dan Bawang Putih bernasib sengsara penuh derita

4

Suasana Pagi

Suara burung terdengar merdu
Bersautan melantunkan bait-bait kata
Bercengkrama, bercanda dengan hati gembira
Tampak olehnya rasa bahagia
Terbang kian kemari…
Hinggap di antara dedaunan
Tengok ke kanan dan ke kiri
Sambil berbisik…
Sejuk sekali udara pagi ini
Kicauanmu melukiskan senyum dan tawa
Gambaran kehidupan penuh suka
Mengundang rasa iri setiap orang yang melihat
Kemesraan yang begitu melekat
Dan serasa tiada duka dalam hidupnya

5

Semangat Juang Bung Tomo

Bung Tomo....
Semangat juangmu tak pernah padam
Menggelora menembus batas cakrawala
Lindungi bangsa dan negara
Dengan segenap jiwa dan raga
Kau lenyapkan musuh yang menghadangmu
Tidak membiarkan kemerdekaan Indonesia
Diambil alih penjajah
Lumpuhkan serangan tentara NICA
Taruhkan nyawamu di ujung senjata
Mempertahankan kemerdekaan Indonesia
Pegang teguh semangat juang
Ancaman musuh tidak Kau hiraukan
Jiwa patriotismemu bangkit untuk negeri
Merdeka adalah harga mati
Jembatan merah menjadi saksi bisu
Semangat juangmu melawan penjajah
Tanpa kenal rasa lelah
Mengamankan kemerdekaan Indonesia
Yang akan selalu dijaga
Bung Tomo….
Namamu terukir di prasasti
Tanda peristiwa bersejarah
Yang selalu dikenang

6

Kota Lama di Malam Hari

Waktu telah menunjukkan pukul lima sore
Hilir mudik kendaraan semakin ramai
Lalu lalang pejalan kaki mulai tampak
Semakin petang semakin ramai

Ada yang datang dari dalam kota
Ada pula yang datang dari luar kota
Bahkan wisatawan manca negara
Tak ketinggalan ingin bernostalgia
Menikmati indahnya Kota Lama
Di malam hari

Bangunan-bangunan tua berdiri kokoh
Peninggalan kolonial Belanda
Kelap-kelip lampu menghias setiap sudut
Lampu klasik dan unik

Di satu sisi banyak pedagang barang antik
Di sisi lain berderet kuliner menggoda selera
Musik tradisional pun dapat dinikmati
Meramaikan suasana Kota Lama
Di tengah malam....

7

Kala Senja

Langit ini menatapku....
Sembari menyeduh kopi
Kulihat keelokanmu
Bahwa kau indah untuk kutatap
Kemurahan Tuhan yang luar biasa ini
Seakan membuatku berkata
“Aku bangga, Tuhan”
Melihat ciptaan-Mu ini
Senja....
Keindahanmu yang abadi itu
Takkan sanggup melihatmu pergi

8

Awan Putih di Puncak Gunung

Terlihat dari kejauhan
Panorama indah di pagi hari
Awan putih menyelimuti puncak gunung
Meski langit tampak cerah

Hijaunya pepohonan nan lebat
Menghampar luas memenuhi perbukitan
Lembah curam, terjalnya bebatuan
Tampak menghias lereng pegunungan

Gemericik air mengalir
Jatuh membasahi bebatuan
Kicauan burung bersaut-sautan
Mewarnai suasana alam

Semakin siang awan mulai menghilang
Melintasi perbukitan terbawa terik
Menjauh dari pandangan
Sirna entah ke mana

9

Sekar Langit

Panorama alam….
Terletak di kaki Gunung Telomoyo
Jalanan terjal penuh tantangan
Bukanlah sebuah rintangan
Suara alam mengiringi langkahku
Mengalun merdu
Desir angin terasa menyejukkan hati
Damai dan tentram bersama alam ini
Sesaat kemudian….
Telah sampai ke tempat yang aku mau
Rasa capek dan lelah
Hilang seketika
Melihat panorama air terjun
Yang indah dan menakjubkan
Sekar langit….
Kau sungguh luar biasa

10

Keluh Kesahku

Tuhan…
Berapa lama lagi, aku berteriak
Tetapi tidak Kau dengar
Aku berseru kepada-Mu
Tetapi tidak Kau tolong aku

Engkau perlihatkan aku ketidakadilan
Aniaya dan kekerasan ada di depan mataku
Perbantahan dan pertikaian terjadi di mana-mana
Tetapi Engkau tetap terdiam

Hukum kehilangan kekuatannya
Keadilan muncul terbalik
Yang benar menjadi salah
Yang salah menjadi benar

Suap ada di mana-mana
Aparat dibuat tak berdaya
Semua menjadi rekayasa
Hanya di depan-Mu keadilan itu menjadi nyata

11

Tiada Guna Sombong

Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada
Tidaklah lurus hatinya
Suka melagak, mengangakan mulutnya
Dan senantiasa merasa dahaga

Selalu merancangkan cela
Tiada pernah merasa dosa
Dia tak pernah merasa kenyang
Hanya buaian kata yang selalu terbuang

Apalah gunanya besar kepala
Karena kehinaan akan menimpa
Terjagalah….
Agar engkau tidak menjadi celaka

12

Hidup Rukun

Hiduplah dalam lintasan tahun
Nyatakan itu dalam kehidupanmu
Ingatlah akan kasih dan sayang
Tanpa adanya perbedaan

Perbedaan suku, ras, dan agama
Itulah keberagaman hidup
Harus slalu kita jaga bersama
Agar hidup menjadi sejahtera

Jauhkan rasa egomu
Perkuat tali silaturahmi
Eratkan persahabatan
Hidup rukun akan kau dapatkan

13

Dirgahayu RI

Merah putih, simbol negaraku
Berkibar di negara Indonesia
Kota sampai ke pelosok desa
Hingar bingar ada di mana-mana

Tiada kata indah
Selain doa syukur kupanjatkan
Kemerdekaan sejati kini kurasakan
Untuk Indonesia jaya selamanya

Di Jalan Pegangsaan Timur lima enam Jakarta
Hari tujuh belas bulan delapan
Seribu sembilan ratus empat puluh lima

Gelegar suara Bung Karno
Terdengar sampai ke penjuru negeri
Mengumandangkan kemerdekaan
Hiduplah Republik Indonesia

14

Sang Fajar di Ufuk Timur

Nama bukan sembarang nama
Dewi Kecantikan panggilanku
Aku tinggal nan jauh di sana
Binar-binar cahayamu menghias angkasa
Bersinar terang di langit malam
Bintang malam itu julukanku
Kala senja ada di langit timur
Tak mau kalah dengan sang surya
Bintang pagi, bintang malam, bintang senja
Bahkan bintang fajar atau bintang kejora
Itu semua julukkanku
Kau tahu, siapa aku?
Venus namaku ….

15

Nasibku di Tanah Rantau

Lama sudah kutinggalkan kampung halaman
Tempat aku lahir dan dibesarkan
Meniti hidup di tempat yang baru
Menggapai masa depanku

Kulewati dengan tetes keringat
Suka duka aku jalani
Agar hidup lebih berarti
Tanpa sesal di akhir nanti

Kucoba bertahan
Mencari apa yang kucari
Namun semua itu tiada arti
Mungkinkah ini hanya mimpi

16

Jayalah Negeriku

Walau peluru menembus dadaku
Kuterus berjuang dan menerjang
Tanpa ragu
Aku terus maju dan satu
Meski raga tak lagi mampu
Dengan tekad aku akan bertumpu
Yang kumau aku pun tahu
Sungguh hanya demi itu
Korupsi dan diskriminasi masih menyelimuti
Bersama TNI dan Polri
Ayo, lindungi negeri
Jayalah Indonesia

17

Sekolah Gudang Ilmu

Sekolah adalah tempat mencari ilmu
Sekolah adalah gudang ilmu
Sekolah adalah rumah singgahku
Sekolah adalah sahabat terdekatku

Oh sekolah…
Kaulah tempat yang kubanggakan
Kaulah tempat yang menuntunku
Hingga aku menjadi mandiri dan pintar

Oh sekolah…
Sekolah adalah bangunan yang sangat indah
Sekolah adalah bangunan yang sangat megah
Sekolah adalah tempat kenanganku
Di sanalah tempat yang bisa aku mengerti

Apa artinya ilmu kehidupan
Tanpa sekolah tak kudapatkan ilmu
Sekolah bagaikan matahari yang bersinar
Sepanjang masa

18

Kota Semarang

Semarang ….
Kota tempat aku dilahirkan
Tempat aku tinggal dan bekerja
Kota aku belajar dan berkarya
Semarang ….
Kota yang terkenal karena kulinernya
Wingko babat, bandeng presto
Sudah banyak dikenal
Ada pula lunpia dan roti ganjel rel
Berbagai macam makanan tradisional
Yang enak dan istimewa rasanya
Aku bangga tinggal di Kota Semarang

19

Teman Karibku

Teman karib itu
Ada di saat duka maupun suka
Di saat aku susah, ia datang menghiburku
Di saat senang, ia selalu ada didekatku
Ketika aku lemah, ia menguatkanku
Bahkan ketika aku jatuh….
Ia datang membangunkan aku
Teman karibku….
Hati ini terasa gembira
Damai dan tentram selamanya

20

Aku Ingin Terbang

Sejak kecil aku ingin menjadi seorang pilot
Bangga dapat menerbangkan pesawat
Berputar-putar di udara
Seperti burung rajawali melayang di angkasa
Terbang bebas dengan sayapnya
Aku harus giat belajar
Semangatku takkan pernah pudar
Meski rintangan datang menjalar
Gelora jiwaku tetap berkobar
Agar dapat meraih cita-cita
Memenuhi harapan jiwa
Menjadi kebanggaan orang tua
Berguna bagi nusa dan bangsa

21

Derita Tsunami

Burung burung terbang tinggi
Jauh meninggalkan lautan
Ikan-ikan bergelimpangan di pinggiran
Dari dalam laut tercium bau amis

Langit biru berubah jadi hitam
Deru ombak terdengar dari dalam
Bergoyang dahsyat kian kemari
Semakin lama tak terkendali

Tiba tiba ….
Air laut melompat tinggi
Menyasar ke daratan
Menghancurkan semua yang ada
Luluh lantak tak tersisa

Korban berjatuhan ….
Ribuan nyawa tergelatak tanpa suara
Rumah hancur, harta benda terbawa
Jerit tangis terdengar di mana-mana
Tsunami menyisakan duka

22

Malam itu

Tiba tiba suasana gelap gulita
Tiada seberkas cahaya yang tampak
Rembulan semula menunjukkan wajahnya
Perlahan menghilang

Suasana berubah menyeramkan
Terasa mencekam
Hanya suara jangkrik yang aku dengar
Dan lolongan serigala
Menyeruak ke angkasa
Sereeee….
Suara itu ….
Pertanda hadirnya makhluk tanpa rupa
Tak terlihat oleh pandangan mata
Bulu kuduk pun berdiri
Dan rasa takut menyelimuti
Tak tahu apa yang terjadi
Dan akupun terlelap hingga pagi

23

Putri Cantik

Betapa cantik, betapa jelita engkau
Hai Putri Cantik nan rupawan
Jalannya lenggak-lenggok
Terlihat indah langkah-langkahmu
Putri Cantik ….
Engkau muncul laksana fajar merekah
Indah bagaikan bulan purnama
Dan membuat detak kagum
Setiap orang yang memandangnya
Putri cantik ….
Aku ingin melihatmu
Sebelum angin senja berembus
Dan bayang-bayangmu menghilang
Dari anganku yang melayang

24

Panggilan Alam

Jiwaku selalu bergejolak
Ketika aku melihat tingginya gunung
Dan terjalnya bebatuan
Pesona alam yang menantang
Malam itu dengan tekad ku yang bulat
Ingin ku sambangi puncak gunung itu
Melangkah pasti tanpa rasa ragu
Dengan hati tiada menggerutu
Sampailah langkahku di puncak itu
Menunggu terbitnya sang surya
Sambil menyeduh secangkir kopi
Wow luar biasa alam ini

25

Si Udin

Permisi, permisi ….
Kata itu terucap
Saat ia bertandang ke rumahnya
Tak ada jawaban terdengar dari dalam
Ia mencoba mengulang
Sambil mengetuk pintu
Perlahan terdengar langkah kaki mendekat
Terbukalah pintu itu….

Tampak anak umur belasan tahun
Tubuh gempal, berkulit sawo matang
Senyumnya mengundang perhatian
Tatap mata menggambarkan kehidupan

Udin namanya....
Dia berbicara tanpa kata
Anggukan dan gelengan sebagai bahasa
Kebingungan makin ia rasa
Ternyata, Si Udin ...
Seorang anak tunagrahita

26

Saya Reaktif

Saya reaktif....
Ucapan itu terdengar jelas….
Ketika temanku usai rapid test
Timbul rasa kuatir dan kecemasan
Ketakutan berlebih menghantui

Hatinya jadi gundah
Dengan suara lirihnya
Sorot mata berubah seketika
Gambaran kegelisahan amat dalam

Sesampai di rumah….
Kegalauan kian membuncah
Antara percaya dan tidak
Setiap kata yang terucap

Ternyata, kata non….
Tak terdengar jelas di telinga
Hati menjadi gembira
Hasil nonreaktif untuknya
Senyum bahagia melekat pada dirinya

27

Sekolah Masa Lalu

Ini Budi
Ini ibu Budi
Ini bapak Budi
Ini kakak Budi

Kalimat itu sangat sederhana
Terdengar saat duduk di bangku SD
Sekolah di masa lalu
Penuh dengan rasa haru

Pagi-pagi kujinjing tas berwarna hitam
Satu dua buku serta pensil ada di dalam
Tak lupa aku bawa ….
Beberapa singkong rebus sebagai bekal

Hanya sepasang sandal jepit
Menemani aku saat jalan
Kini semua menjadi kenangan
Yang takkan pernah terlupakan

28

Musim Kemarau

Halaman rumah selalu kotor
Daun-daun kering berjatuhan
Ke sana kemari berserakan
Memenuhi halaman
Tiga empat kali sehari
Aku selalu membersihkan
Dengan sapu lidi bergerak kian kemari
Agar halaman menjadi bersih dan asri
Tak lupa kusiram tanaman di sekitar
Agar tumbuh subur dan bunga bermekaran
Debu tak lagi beterbangan
Dan kesejukan kini kurasakan

29

Mbah Marijan

Raden Ngabehi Suraksa Haryo
Lebih dikenal dengan Mbah Maridjan
Lahir di Dukuh Kinahraja
Kabupaten Sleman, Jogjakarta
Juru kunci Gunung Merapi
Penjaga gunung yang tangguh dan pemberani
Namanya dikenal di seluruh penjuru negeri
Bahkan tersiar di luar negeri
Tatkala merapi meluapkan api
Dia tak pernah ingkar janji
Di kala orang berlarian kian kemari
Dia tepati janji hingga ajal menanti

30

Ambyaaar

Inspirasi Jateng ….
Berita itu aku dengar melalui media
Melestarikan tembang-tembang Jawa
Campursari namanya
Hadiah tersedia bagi pemenang
Gejolak rasa tak terbendung lagi
Dengan segala keberanian
Aku mendaftarkan diri
Kudendangkan tembang campursari
Duet bersama Dewi Puspitasari
Kini, aku menunggu hasilnya nanti

31

Hama Tikus

Dia duduk termenung di serambi rumah
Rasa sedih terpancar di wajah
Pikiran membayang entah ke mana
Melantunkan rasa gundah gulana

Tetangga mencoba menghampirinya
Dia terperanjat seketika
Berdua saling bertutur sapa
Memikirkan hama yang sedang melanda

Hari-hari selalu terdengar
Bunyi langkah-langkah itik
Berjalan di petak-petak sawah
Ku buka mata lebar-lebar
Ternyata sekawanan tikus
Memakan benih padi
Hama yang selama ini dicari
Semoga hama ini cepat pergi

32

Hidup itu Inspirasi

Hidup itu luar biasa
Terkadang suatu harapan menjadi gelap
Walau matahari bersinar terang
Dan harapan takkan pernah hilang
Belajar menjadi yang berguna
Itu adalah suatu harapan bagi semua orang
Berjuang dan bangkit adalah nafasku
Meski raga ini terasa lelah
Kita manusia yang kuat
Selalu tahu jalan baik dan benar
Hidup itu akan berjalan terus
Berjuang demi gapai
Yang selalu indah di hati

33

Bangkit dan Bergerak
Aku akan terus melangkah
Berjuang mencapai cita
Tak peduli cacian
Bergerak tanpa ada keraguan
Terpeleset jatuh, itu hal biasa
Tergores luka membakar
Tak pernah dirasakan
Tetap bangkit dan bergerrak
Hidup itu sakit
Bagi orang yang tak mau bangkit
Berjuang tanpa henti
Untuk raih sebuah mimpi

34

Rustantiningsih
Langkah demi langkah
Hari demi hari
Berjuta pikiran menjadi satu
Waktu dan tenaga iklhlas diberikan

Gagasan menjadi inspirasi semua orang
Inovasi menjadi jawaban
Bebas bergerak dan berkreasi
Tanpa ada batasan opini
Terbang bebas seperti rajawali
Berlari secepat angin
Jernihkan hati dan pikiran
Siap sedia hadapi tantangan

35

Warna Kehidupan

Hidup itu tak selalu sama
Pahit, kadang harus dirasa
Duri-duri tajam harus dilalui
Derita tak terhindar lagi

Hidup juga tampak manis
Tahta menjadi tumpuan
Harta bergelimang
Derita jauh dari pandangan

Tapi semua itu hanyalah bayangan
Duka dan suka adalah perjalanan
Hanyalah titipan
Janganlah menjadi bimbang

36

Asa dan Citaku

Beriring kata terucap
Terdengar sejuk
Hati merasakan keikhlasan
Pikiran terasa membayang

Bahagia menyelimuti
Tatkala kupandang dari kejauhan
Asa dan cita….
Tak jauh dari pandangan

Kukejar penuh kesungguhan
Kuraih dan kugenggam
Erat takkan lepas
Di tangan kanan dan kiriku

Kutiup keputusasaan
Agar menjauh….
Meninggalkan angan
Dan kugapai yang menjadi harapan

37

Keberagaman Budaya

Negeri kita memang kaya
Dari Sabang hingga Merauke
Banyak suku dan bahasa
Keberagaman yang harus selalu dijaga

Ragam penganut agama
Bukanlah perbedaan
Hidup rukun, saling menghormati
Demi menjaga ibu pertiwi

Wahai negeriku....
Beragam adat istiadat
Adalah budaya yang harus dijaga
Agar tidak ada yang merampasnya

38

Mutiara Lawang Sewu

Bangunan tua itu….
Megah berdiri di tengah kota
Kuat dan kokoh….
Berjuta kisah tersimpan di sana

Pintu-pintu tua
Menempel di setiap ruang
Lukisan-lukisan kuno
Menghias di dalamnya

Nuansa zaman Belanda terasa melekat
Terukir sejarah masa lalu yang kuat
Aroma tempo dulu
Terpatri disetiap sudut bangunan itu

Tak ketinggalan….
Kisah-kisah memilukan
Masa penjajahan
Penuh siksa dan derita

Lawang sewu
Kaulah mutiara kotaku
Yang tak lekang oleh waktu

39

Rasa Sebuah Perjalanan

Sudah saatnya kalian tahu
Kisah perjalanan ini
Manis, asam, dan pahit
Melekat dalam setiap langkah

Yang akan aku lepas
Tak akan aku lupa
Mencoba mengikhlaskan
Tanpa melupakan

Kisah ini mewarnai perjalananku
Perjalanan penuh perasaan dan harapan
Setiap tempat yang kupijakkan
Selalu kusapa dengan manis

40

Anak yang Hilang

Lama anakku telah pergi
Di mana tempatnya, aku tak tahu
Ku cari, tetapi tak ku temui
Ke mana perginya anakku
Di jalan dan di tanah lapang
Aku berteriak memanggilmu
Di manakah persembunyianmu
Perdengarkan suaramu
Aku tak mau….
Terik matahari membakarmu
Aku tak mau….
Dinginnya malam menggerogoti tubuhmu
Hai, angin utara….
Katakanlah kepadanya
Aku rindu memeluknya
Kembalilah, kembalilah anakku

41

Erupsi Merapi

Hari masih pagi….
Awan hitam menjulang tinggi
Terbang melintasi alam
Membawa sejuta derita
Kau tunjukkan amarahmu
Getarmu menakutkan
Tak terbendung, berikan kepanikkan
Tak peduli yang menjadi korban
Nyawa tak terselamatkan
Harta benda tak tersisa
Hanya doa kupanjatkan
Berhentilah, jangan kau siksa aku

42


Click to View FlipBook Version