Oh Corona
Karya: Prih Suratini
Oh Corona
Asalmu dari Cina
Kini, tlah merajalela ke seluruh dunia
Bentukmu yang tak kasat mata
Tapi kau hebohkan manusia
Oh corona,
kapan kau kembali ke Sang Pencipta
Agar kami semua tenang,
Damai dan tentram
Berkumpul handai taulan
40
Pesan pada Kami
Karya: Slamet
Corona Terdengar merdu
Saat menyebut namamu
Tapi..terasa pilu
Bila tahu siapa dirimu
Saat dunia kau sapa
Hanya rasa duka
Yang ada
Tak kenal waktu dan usia
Semua jadi merana
Corona
Kini aku mengerti
Pesan yang kau ajarkan pada kami
Nilai nilai moral yang penuh arti
Bersih diri santun yang hakiki
Perhatian pada anak istri
Ibadah pada Illahi
Corona Terima kasih atas teguranmu
Kuakan patuhi pesan pesanmu
Sampai nanti di akhir waktu
Corona
Kuingin semua segara di akhiri
Di segala penjuru negeri
Agar rasa aman damai di hati
Segera hadir kembali
41
Hanya Bisa Pasrah
Karya: Slamet
Sosokmu kecil tapi digdaya
Kehadiramu di dunia
Membuat porak poranda
Hadirkan duka nestapa
Umat manusia
Banyak manusia
Kehilangan pekerjaan
Hingga tak perpenghasilan
Jatuh miskin tak terhindarkan
Anak anak sekolah
Terpaksa belajar di rumah
Yang kadang tak tentu arah
Guru-guru jadi gundah
Dengan murid harus dipisah
Setiap hari hanya bisa pasrah
Kapan keadaan akan segera berubah
Corona
Semoga keadaan cepat berakhir
Semangat bekerja segera mengalir
Rasa gundah segera terusir
42
Tuhan Sudah Mengaturnya
Karya: Ummi Daniati
Corona...
Kau meluluhlantakkan tatanan yang sudah ada
Kau membuat seluruh manusia ketakutan dan
kebingungan
Namun kau juga membuat manusia kembali berfikir
Kembali mawas diri, menjaga kesehatan diri
Kau mengingatkan manusia untuk peduli kepada sesama
Tuhan pasti sudah mengaturnya
Dengan cara yang sempurna
43
Ramadhanku Sepi
Karya: Nurhidayah
Ramadhanku Sepi
Sebelum kau hadir... corona ....
Ramadhanku terasa semarak
Arak-arakan kembang manggar beriringan
Tak ketinggalan warak ngendog
Masyarakat menyambut dengan penuh suka cita
Namun, setelah kau hadir ... corona ....
Semuanya berubah dalam segala hal
Termasuk dalam meramaikan Ramadhanku
Masjid tak lagi digunakan untuk tarawih
Saut-sautan tadarus tak lagi terdengar
Semua harus dilakukan di rumah
44
Aku Yakin
Karya: Imam Santosa
Bumi membahana menyuarakan dentum sangkakala
Tanah terpijak goyah karnamu
Tapi....
Semua itu tidak membuatku surut tuk mencegahmu
Wahai corona biang segala kerusuhan
Kau buat kami gugurkan kebiasaan luhur
Social distancing ...
Physical distancing... harus kami lakukan
Kami insan beriman
Kami manusia yang ditakdirkan tuk selalu semangat
Kami yakin kau tak akan bertahan di sini
45
Kau
Karya: Imam Santosa
Bayang-bayangmu
Jejakmu..
Langkahmu..
Tak tampak olehku
Tapi pasti....
Nyata kau ada
Semua orang dibuat merana
Enyahlah kau Covid 19
Dari bumi Indonesia
46
Harus Jaga Diri
Karya: Bardah
Corona …oh corona….
Sejak kedatanganmu,
membuat kami resah,
Membuat kami bingung,
membuat kami linglung,
Memaksakan kami untuk menjauhi sekolah,
Memaksakan kami untuk menjauhi tempat ibadah,
Yang sebenarnya kami tidak tau maksud
kedatanganmu…
Corona…oh corona…
Sejak kedatanganmu, mengubah perilaku manusia,
Mengubah kami mengurung diri, pintu rumah, pintu
jendela
Menjadi terkunci, takut akan seranganmu yang sangat
menakutkan
Yang muda, yang remaja apalagi yang tua…
Harus jaga diri
47
Korona Pembawa Perubahan
Karya: Anton Suraji
Dunia diciptakan dengan proses dan perubahan
Ada terang, gelap, siang dan malam
Ada langit, cakrawala, bintang, bulan, dan matahari
Ibu Pertiwi dan lautan seisinya
Semau teratur dan berubah
mengikuti hukum alam dan hukum Tuhan
Corana datang ke dunia tanpa undangan dan kompromi
Berawal dari Wuhan, Cina daratan
Corona bermigrasi menembus angkasa, benua, dan
samudera, mengatasi globalisasi, iptek
Tak kenal siapa kawan, siapa lawan, semua jadi sasaran
Kini virus mematikan ini,
sudah ada di bumi Indonesia
Kita tak lihat wujudnya,
tapi nyata dan dahsyat dampaknya
Bergerak dari kota ke desa
Bawa maut dan derita,
mengikuti setiap gerak dan langkah manusia
Karena virus corona,
kini manusia berubah
Sedih, takut, cemas, khawatir, dan was-was
membuat hati bergetar
48
Hati terasa sakit, pedih, perih dan merintih
karena kehilangan kekasih
Tinggal iman, harapan dan kasih,
jadi inspirasi bangkit dan perubah
Manusia sadar diri, kepada Sang Pencipta, sesama
dan lingkungan
Berpilarkan Kitab Suci, Pancasila, UUD 1945, Bhineka
Tunggal Ika, dan NKRI
Bergerak dan berubah bersama..., sekarang...,
Mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana
Ikuti instruksi, cuci tangan pakai sabun, pakai masker,
jaga jarak, dan work from home
Kita berubah menjadi Hebat,
tatkala dalam musibah pandemi Covid-19 ini
ada saling menghormati...
saling menghargai...
gotong royong...
Berbagi, saling melayani, peduli, dan empati
Tuhan menciptakan alam seisinya sungguh amat baik
Akankah dunia ini musnah karena Virus Corona?
Tidak...!
Dunia sedang berproses,
Tuhan sedang merenda
Mari bersembah sujud dan mohon karunia
untuk memahami kehendak Tuhan di balik Corona
49
Rindu Tertahan Pandemi
Karya: Angela Sri Utami
Duduk termenung sendiri
Kupandang bangku berbaris rapi tak berisi
Sepi...
Semua canda tawa
Semua cerita
Semua nyanyianmu...
Semua senyum dan sapaanmu hilang...
Anak-anakku ...
Sedih kurasakan
Hatiku menjerit...
Rindu bersama kalian
50
Ku Tak Tahu Kapan Akan Berlalu
Karya: Kurawanti
Kemarin..ada tawa...canda ...
Terlihat geliat lidah bertutur kata
Tiba tiba bibir kelu
Tak mampu berbisik rindu
Apa lagi bersenandung lagu
Dua bulan sudah berlalu
Corona datang sebagai tamu
Namun....
Sampai tiba waktu ...tak kunjung jemu
Sampai kapan ...
Tuhan...usaha tiada reda
Doa kian membahana
Makin dekat padamu yang kuasa
Corona ...
Penghambat tawa....
canda ceria...para siswa
Tak tahu tiba waktu
Engkau berlalu dari bumiku
Agar aku bertemu para muridku
51
Kutak tahu....
Pandemi Covid segeralah pergi..
Biarkan kami beraktivitas kembali
Biarkan bangku ini segera terisi
biarkan dunia ceria kembali
Tuhan
Tolonglah kami
Pulihkan negri ini
Agar kami bisa bersama kembali
Tuntut ilmu tuk membangun negri kami
52
Ku Tanya Pada Siapa
Karya: MV. Sri Hadiyati
Berita awal yg ku trima
Di sana sudah ramai
Ketakutan
Kegalauan
Pertolongan
Pandemi Covid
Kau berpetualang
Kau tidak pilih-pilih
Untuk menghampiri siapapun
Kami pun menjauh darimu
Kami ikuti segala anjuran
Kami kau jauhkan dari anak-anak
Yang setiap hari ingin bercanda, belajar dan bercerita.
Sudah sekian jam, hari, minggu bahkan bulan
Kami belum bersua dengan murid kami
Dalam keheningan
Aku hanya berdoa
Aku tertunduk
Aku harus bertanya kepada siapa?
53
Sampai kapan Pandemi Covid akan berakhir
Hanya Tuhan yg mampu menjawab
Hanya Tuhan yang dapat mengakhiri semua ini
Doa yang kuat
Selalu mendampingi kita
Tetap semangat dan salam sehat
Teriring doa
54
Apresiasi Anak di Saat Pandemi
Karya: Theresia Sumarni
Merdeka belajar menuju kemandirian
Terjawab sudah pelajaran kemarsudirinian
Di tengah wabah COVID 19 ada pembelajaran
Anak-anak kian mendapat perhatian.
Orang tua dan anak bersinergi dalam pembelajaran
Respon positip sangat menyenangkan
Dengan kasih perhatian beban menjadi ringan
Kesulitan tidak menjadi halangan
Rumah bisa menjadi sarana sekolah
Banyak hal bisa didapat di rumah
Teladan keluarga menjadi guru penuh hikmah
Kebersamaan ibadah di rumah menjadi berkah
Sudah banyak hari yang terlewati tapi selalu terisi
Menjaga kesehatan dan kebersihan diri
Tidak lupa kita semua selalu mawas diri
Terimakasih Para Orang tua dan anak-anak yang telah
aktif mengapresiasi
55
Pantang Menyerah di Saat COVID
Oleh : Jessica Andini
COVID mewabah di seluruh bumi
Membuat banyak orang takut karena pandemi
Keramaian kelas yang terdengar kini menjadi sunyi
Terasa sedih dan sepi yang menghiasi
Karena pandemi, anak tidak bisa datang ke sekolah
Membuat suasana hati menjadi resah
Namun, kita tidak boleh menyerah
Karena pembelajaran bisa dilakukan di rumah
Anak-anak belajar dari berbagai media pembelajaran
Tugas yang diberikan pun dengan rajin dikerjakan
Hasil kreativitas yang tinggi dalam keterampilan
diwujudkan
Menunjukkan bukti tanggung jawab dan kemandirian
Sebagai guru, saya menjadi tertantang
Mengasah kemampuan, meningkatkan pengalaman
Metode online menjadi sarana pembelajaran
Media pembelajaran mengikuti tuntutan jaman
56
Banyak Rindu Tertahan
Karya : Meilita Nindyasari
Hai kamu
Iya kamu corona...
Kamu itu siapa sih?
Datang tak dijemput
Pulang tak diantar
Bak jalangkung gentayangan
Bak gebetan yang datang tiba-tiba
Tak tahu perginya kapan?
Hai kamu
Iya kamu corona...
Kamu itu apa sih?
Sosok tak kasat mata
Tetapi entah mengapa
Seluruh makhluk bumi takut padamu
Bak Dajjal yang datang di hari Kiamat
Pergi mu pun membawa anugerah
Hai kamu
Iya kamu corona...
Siapapun kamu...
57
Cepatlah pergi, cepatlah pulang ke asalmu
Kami sudah tak kuasa
Ingin bersua dengan yang tersayang
Banyak rindu tertahan
Bak punguk merindukan bulan
58
Kita Berserah Kepada Yang Kuasa
Karya: Kurniawan Risti Saputa
Pertama kali datang
Kau membuat heboh
Kami tidak tahu nampak kau
Tapi kau bagaikan pembunuh
Karena kedatangan kau
Kami tidak bisa bebas keluar rumah
Kami setiap hari merasa resah
Namun semua kita berserah kepada yang kuasa
Hanya satu doa kami
Pergilah dan jangan kembali
Karena kami ingin beraktivitas kembali
59
Tak Terlihat Tapi Nampak
Karya: Irgi Ahmad Fahrozi
Corona ....
Tak teraba nan kasar
Tak terasa nan manis
Tak terlihat nan elok
Tak tercium nan wangi
Tapi kau mematikan
Virus ....
Seberapa bentukmu
Tak terlihat di mata
Namun kau menghancurkan kalbu
Tak terasa ku menghirupmu
Namun kau merusak paru-paru
Apakah ini yang dinamakan membunuh secara diam?
2019...tahun apakah ini?
Tahun kepedihan atau tahun kebersamaan
Awal apakah ini?
Awal dari air mata atau awal dari senyuman
Covid 19...
Hai kau si kecil tak kasat mata
Kapankah kau pergi?
Besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan
Cepatlah pergi lelah kami menghadapimu ....
60
Di Ambang Waktu Korona
Karya: Miss Dwi
Manakala tangan ini mulai merambat penuh asa
Tuk gapaikan cita-cita
Menuju hari bahagia nan ceria
Merapuh...luluh...bekuh
Tak pernah ada kompromi pada mahkluk ciptaan-Mu
Engkaulah korona itu
Ya ..kamu itu kamu
Wahai Tuhanku ....
Kubersimpuh dihadapan-Mu
Mohon ampun atas segala dosaku, agar kelak bahagia
Umat-Mu
Menuju asa tanpa ragu
61
Karena Kau (Korona)
Karya: Zukhaira Husna
Hadirmu...
Entahlah...
Kau siapa dan untuk apa
Kau peringatan atau musibah
Namun...
Saat satu per satu mereka harus meregang nyawa
karenamu,
Kami mulai berpikir,
Kami harus belajar,
Kami terus berjuang
Kami belum siap, dan benar-benar tidak siap
Tapi kami bisa apa?
Haruskah kami menyerah?
Jawabnya.... TIDAK ...
Karena menyerah adalah akhir segalanya...
Tidak siap, maka bukan hanya ribuan, tapi jutaan
Saudara kami yang akan mati sia-sia
Jika ini peringatan, semoga masih ada waktu untuk bertaubat
Jika ini musibah, semoga Allah berikan pertolongan-Nya
Bersatu untuk selamatkan negeri...
Karena kita ingin hidup dalam kedamaian yang hakiki...
62
Dunia Tak Berdaya
Karya: Siti Chotimah
Kapan kamu menghilang?
Aku rindu gelak tawa lepas teman
Corona...
Kapan kamu pergi?
Rindu sekolah sudah tak terbendung lagi
Corona...
Salammu sudah tersampaikan
Bahwa kami akan selalu mawas diri dan dekat dengan
Tuhan
Corona...
Pergi ya!
Cukup kali ini kami menderita
Besok hari kami ingin ini hanya cerita
Untuk aku sampaikan ke anak cucu kita, bahwa...
Dunia ini tak berdaya
Bila Sang Pencipta telah memberi satu peringatan
tentang dirimu Corona
Wahai Corona..
Pergi ya!
63
Jangan Kembali Lagi
Karya: Tri Indarti SD
Makhluk kecil tak terlihat
Tak memandang
Tua muda
Laki-laki perempuan
Kaya miskin
Semua bisa terkena
Jika lalai
Kau membuatku
Harus di rumah
Bekerja dari rumah
Beribadah di rumah
Corona....
Pergilah cepat
Aku begitu rindu
Siswa-siswaku
Aku ingin melihat cerianya kembali sekolah
Bermain bersama
Belajar bersama
Corona
Membuatku tersadar
dan memberikan kesempatan kita
64
Untuk mencintai keluarga, sahabat, teman dan diri
sendiri...
Jika kau menjauhkannya....
Marilah perbaiki ibadah kita
Semoga Corona cepat pulang kerumahnya
dan jangan kembali lagi
65
Kau Ubah Kami
Karya: Sri Mulyani
Esok kan jadi cerita
Februari 2020
Pandemi covid 19
Sejuta kebiasaan diubah
Perubahan yang manusia pun tidak berani mengubahnya
Dengan mudah kau mengubahnya
Kau ubah kebiasaan kami sholat berjamaah
Tarawih berjamaah
Hingga kau berani meniadakan sholat Jumat berjamaah
Dan sholat Ied berjamaah
Kau renggut kebahagiaan anak-anak kami
Kau mengubah semua sistem belajar kami
Kau lebih kejam dari kecanggihan teknologi
Bahagia kami hanya ada di sekolah
Tapi kau ubah belajar di rumah
Bahagia kami bermain bersama kawan di ruang terbuka
Tapi kau suruh kami kurangi berinteraksi dengan sesama
Hingga kau pun merenggut cita-cita kami
Kapan kami kembali ke sekolah lagi
Kapan kami bertemu ibu bapak guru kami lagi
66
Kapan kami berkumpul dengan kawan-kawan di sekolah
kami
Sungguh adanya kamu kami terisolasi
Siapa kamu
Dari mana kamu
Dan mau kemana kamu sebenarnya?
67
Pelan nan Pasti
Karya: M. Afif Shihabuddin
Kuangkat penaku sekali lagi
Membuat sebuah karya puisi
Tentang suatu pandemi
yang tidak pernah terbayang sama sekali
Corona atau covid-19
Ia semacam wabah yang menjadi-jadi
Pelan nan pasti, covid-19
Menjadi alasan terputusnya silaturrahmi
Pelan nan pasti, covid-19
Mulai mengikis budaya di negeri ini
Pelan nan pasti, covid-19
Menjadikan diri kita nafsi-nafsi
Pelan nan pasti, covid-19
Menjadikan manusia ingat akan kekuasaan Ilahi
Dan pelan nan pasti, covid-19
Mencoba menyadarkan bahwa BUMI mungkin tidak
bertahan lama lagi
68
Namun, percayalah Allah Ta'ala memiliki rencana yang
indah dari kejadian ini
Dan ada hikmah tak kasat mata yang dirasa setiap hari
Kuberikan tanda koma agar puisiku berceletuk kembali,,
segra menuliskan tentang negeri nan indah ini
69
Kerinduan dan Harapan
Karya: Imron Rosyid
Kurindukan saat-saat belajar bersama tanpa bosan
Wajah-wajah mungil penuh semangat tuk meraih impian
Senyum kecil sambil membungkuk bersalaman
Dengan semangat belajar dan penuh keceriaan
Sekarang yang ada hanya sunyi tanpa kepastian
Saat pandemi virus corona yang mematikan
Melenyapkan keceriaan dan kebahagiaan
Bahkan sudah banyak nyawa yang terkorbankan
Entah ujian atau peringatan agar kembali ingat pada
yang Maha Kuasa
Hanya ikhtiar, doa, dan tawakal yang ada
Semoga virus corona cepat tiada
Kupasrahkan semua pada Tuhan yang Maha Pencipta
70
Kala Corona Melanda
Karya: Nunung Hartanti
Corona
Tiba-tiba kau ada,
melanda manusia di dunia
Kau buat kami resah
Gelisah
Gundah
Hadirmu mampu membuyarkan mimpiku
Hadirmu mampu meruntuhkan sombongku
Hadirmu mampu membuka mata hatiku
Begitu luar bisanya kamu....
Corona...
Enggan sebenarnya menyebut namamu
Tak mau sebenarnya bicara tentang kamu
Karena...
Itu hanya membuat kami ragu
Untuk sekedar menyapa saudaraku,
Untuk sekedar meluapkan rindu pada kampung
halamanku
Untuk sekedar hadir di pemakaman temanku
Untuk sekedar bertamu ke tetangga kanan kiriku
Atau bertemu teman-teman guru dan juga murid-
muridku
Corona...
Tiba-tiba kau ada melanda manusia di dunia
71
Terhalang Kabut Korona
Karya: Kukuh Ciphana
Setiap pagi aku datang
Setiap pagi aku menyambutmu
Bukan untukmu tapi untuk siswa-siswaku
Aku baru saja berbaur dengan mereka
Rasanya dekat
Sudah mulai nyaman
Entah kenapa
Engkau tiba-tiba datang dari negeri sana
Entah
Aku tidak pernah
menyangka
Semua menjadi risau
Teramat sepi
Begitu sunyi
Karna ulahmu
Apa mungkin ini teguran
Atau bala bencana untuk kami
Maafkan kami
Ya Allah
Aku terima
Aku tak tau rencanamu apa
Aku tak tahu mengadu pada siapa jika bukan pada-Mu
72
Namun, aku percaya engkau mencintai hambamu yang
penuh dosa ini
Dengan adanya virus korona
Membuat kami sadar
Betapa engaku maha besar dari apapun
Mungkin hanya sedikit pelajaran untuk kami
Bersabar
Tabah
Iklas
Menambah taqwa pada-Mu
Ya Allah terima kasih
Sudah mengingatkan kami
Semoga engkau ganti dengan pertemuan
Tangis bahagia
Kita semua
Amin
73
Terima Kasih Corona
Karya: Yusi Andriyani
Terima kasih corona
Karenamu, kami tahu kebesaran Tuhan dan kuasa-Nya
Karenamu, kami tahu betapa kebersamaan itu bahagia
Karenamu, kami pandai mawas diri dan bersiaga
Dan karenamu, bumiku berangsur sembuh seperti dulu
kala
Bukan kami membencimu
Kamipun yakin engkau adalah makhluk Tuhanku
Tetapi corona,
Cepatlah engkau berlalu
Banyak dari kami harus menuntut ilmu
Banyak dari kami yang tak dapat menahan rindu
Rindu kami pada bapak ibu,
Rindu kami pada guru
Dan rindu kami ingin segera bertemu
Maka corona, cepatlah engkau berlalu
74
Corona, Maukah Kau Bersahabat
Denganku
Karya: Iin Sholichah
Aku belum mengenalmu
Tapi Kau telah mengajarkanku berbagai hal
Katamu,
Aku harus jaga kesehatan
Ajarmu,
Aku harus jaga kebersihan
Cuci tanganlah!
Pakai maskerlah!
Physical distancinglah!
Social distancinglah!
Corona, ternyata kamu baik!
Mau nggak kita sahabatan?
Sahabat?
Iya, sahabat...
Sahabat itu saling menjaga
Tidak menyakiti
75
Jadi
Jangan sakitiku seluruh makhluk di bumi ini
Corona, terima kasih telah jadi sahabat yang baik!
Darimu kutahu apa artinya bersyukur!
Yakinlah dari apa pun yang Allah berikan untuk kita,
selalu ada hikmahnya....
76
Sirnalah Korona
Karya : Netti Indrawati
Kutulis sebuah kata
Sebagai penghibur asa
Kurindukan muridku
Saat ini terbayang di kalbu
Meski kadang jemu
Tidak taat aturan
Tetapi kau ada di hati
Sebagai titipan Ilahi
Termangu diam di rumah
Itu bukan kehendakmu
Sampai kau bingung, linglung, harus bagaimana
Tak tahu jawabnya
Corona cepatlah berlalu
Dunia hidup kembali
Kudapat raih impianku
Badai pasti berlalu
77
Kapan Berakhir
Karya : Netti Indrawati
Cemas, resah, gundah
Orang saling waspada
Rasa takut tentu ada
Oh Tuhan kapan berakhir
Nasib Hamba yang tersingkir
Akankah ada harap?
78
Ujian yang Sirna
Karya : Netti Indrawati
Debar hati ini
Bukan perang yang kutakuti
Tapi wabah corona mengintai di bumi
14 April 2020
Tertata rapi, siap saji
Tapi apa daya situasi
Yang tak mau kompromi
Anak-anak tak mengalami
Apa yang menjadi bakti
Tidak akan terbukti
Karena tidak ada prestasi
Tapi ku yakin diri
Ini sejarah yang tak mungkin dipungkiri
Semoga Engkau ingat budi
Apa yang ada di hati
79
Pergilah Kau Corona
Karya: Rintani Andayani
Corona
Nama yang indah
Kecil meloncat nan lincah
Namun kau buat luka
Banyak orang menderita
Tak terhitung nyawa telah berpulang
Corona
Mengapa tak segera menghilang
Banyak jeritan tangisan akibat keganasan
Pergilah kau corona
Jangan senyapkan kehidupan
Semua siswa dan guru menahan rindu
Tak bisa segera bertemu
Pergilah kau corona
Biarkan anak-anak kami
Gembira belajar dan bermain setiap hari
80
Rinduku Terlarang
Karya : Purwaningsih
Di setiap hela nafasku
Terbayang selalu wajahmu
Orang-orang yang kurindu
Tak terasa menetes air mataku
Ibu ...
Aku rindu peluk hangatmu
Bapak ...
Aku rindu berbincang denganmu
Nduk, Le. ..
Aku rindu gelak tawamu
Cintaku ...
Aku rindu senyum manismu
Ingin rasanya kuterbang
Agar jumpa yang tersayang
Tapi .....
Rinduku terlarang
Karena Corona menghadang
Tuhan ...
Dengarkan pinta hamba
Sirnakan segera Corona
Aku ingin pulang
Aku rindu kampung halaman
81
Musnahlah Korona
Karya : Sutardi
Corona,
Saat kau datang
Hamparan manusia mulai meradang
Bimbang tak tentu arah dan tujuan
Saling terpisah dan hidup dalam kesendirian
Kami para guru sangat rindu
Akan tingkah polah anak-anak yang masih lugu
Namun semesta memisahkan kebersamaan ini
Untuk tetap belajar di masa pandemi
Engkau lebih dari paceklik
Membuat kehidupan manusia menjadi tercekik
Namun kau mengajarkan kami untuk saling peduli
Membersihkan bumi dari segala keangkuhan diri
Corona,
Sudah saatnya engkau musnah
Hentikan terormu yang membuat gelisah
Agar para siswa segera menyongsong masa depan
Merebut kembali harapan
Menjadi tauladan
Untuk menjadi manusia budiman
Tidak lupa akan kebesaran Tuhan
82
Karena Corona
Karya : Bela Raeska Widodo Bodhi Ratono
Awal engkau datang,
semua orang cemas dan takut karenamu
Canda tawa yang biasa terdengar, kini kian sepi
Kau tak terlihat tapi kau begitu menakutkan,
banyak yang mengatakan
kau lebih tajam dari pada pedang,
tetapi banyak pula yang mengatakan ini adalah
peringatan Tuhan
Aku tidak tahu?
semua orang takut karenamu
tapi ingatlah, semua pasti ada hikmahnya
Tuhan pasti punya rencana yang sudah digariskan
Marilah kita selalu menjaga Diri dan jaga kesehatan
Yakinlah Covid- 19
Segera Pergi dari Bumi Pertiwi Ini
83
Pandemi Corona
Karya : Karnoto
Detik menit berganti jam
Hari demi hari kami lalui
Minggu bulan terus berganti
Tapi engkau masih saja betah di sini
Corona
Apa salah kami
Apa dosa kami
Hingga engkau membuat kami bagaikan dalam penjara
Di kurung, dijauhkan dari orang-orang yang kami
sayangi dan kami cintai
Corona
Kehadiranmu membuat kami takut, gelisah, sedih, dan
cemas
Sampai kapan engkau di sini
Sampai kapan engkau menghantui kami
Sampai kapan engkau membuat kami tidak nyaman
Sampai kapan engkau membuat kami susah
Tidak bisa kerja
Tidak bisa sekolah
Kami rindu masa-masa seperti dulu
Di mana kami bisa berkumpul dengan banyak orang
Di mana kami bisa bercengkrama dengan semua orang
Kami rindu masa-masa itu
84
Corona
Sudah cukup engkau merenggut banyak nyawa
Pergi
Pergilah dari bumi ini
Pergilah dari kehidupan kami
Agar kami bisa hidup normal seperti dulu lagi
85
Pro Korona
Karya : Nur Cahyo Ag
Korona, engkau membuat manusia berubah pikiran
Dulu manusia banyak yang melupakan Tuhan,
Sekarang semua berteriak menyebut nama Tuhan.
Dulu manusia sangat meremehkan kesehatan,
Sekarang manusia mengutamakan kesehatan.
Dulu manusia selalu berkeliaran di luar rumah,
Sekarang manusia memanjakan diri di dalam rumah.
Korona, karena keganasanmu
Engkau menginspirasi manusia untuk bersih hati,
bersih diri dan bersih lingkungan
86
Covid 19
Karya : Tri Wiyandi
Namamu kini melebihi artis
Tiada orang yang tidak kenal engkau
Kamu punya kecepatan yang tiada banding
Semua orang selalu menyebutmu
Jalanan selalu sepi
Menghantui orang yang berpergian
Menutup pasar dan mall
Merumahkan yang bekerja
Lekaslah pergi corona
Agar manusia tak lagi merana
Lekaslah enyah
Agar manusia tak lagi gundah
87
Sejak Engkau Datang
Karya : Nurul Tri Setiyawati
Kecil tapi menakutkan
Bukan masalah seram atau kengerian
Melainkan virus yang mematikan
Tak banyak manusia dan kendaraan lalu lalang
Semenjak corona datang menyerang
2020 yang akan selalu terkenang
Karena dunia sepi saat malam menjelang
Dan kehidupan terasa semakin mencekam
Kekuasaan dan jabatan bukan lagi persoalan
Siapa saja bisa terserang
Tetaplah di rumah jaga kebersihan
Agar tetap sehat dan merasa aman
88
Sepak Terjang Korona
Karya: Eka Vivi Anggraeni
Semua bermula dari Wuhan
Menyebar kemana-mana tanpa pemberithauan
Melampaui batas negara dan jabatan
Menampar segala bangsa tanpa ampunan
Tapi manusia harus bisa bertahan dan menjaga
kesehatan
Kini, masker dan hand sanitizer sangat laku dipasaran
Agar manusia terhindar dari debu yang bertebaran
Namun, kita semua harus tetap menatap masa depan
89