Garda Depan
Karya: Sri Darti
Lelah badanmu tak hiraukan
APD membalut tubuhmu saat bertugas
Panas dan peluh menyatu dengan kulit
Lapar haus tak terasa
Satu harapanmu kesembuhan pasien corona
Terasa tubuhmu tersiram air surga
Perhatian yang tiada duanya...
Kau sematkan pada harapan sehat dari seorang demi
seorang yang terpapar corona
Tulusnya hatimu mencari dan menemukan penangkal
corona
Kapan keikhlasan dan kelelahanmu akan berhenti
Dan...kapan corona ini akan berakhir...tiada orang tahu
Seperti berada pada ambang batas kebimbangan
Hanya mata memandang tiada pasti
Yang akhirnya hanya muncul suram
Tapi bagi pahlawan garda depan
tak ada kata menyerah untuk peristiwa indah ini
Karena harapan tetap ada
dan terus akan ada...
Tuk menyambut terbebasnya bumi ini
dari virus corona
Kini tugasmu belum usai
masih butuh perjuanganmu
pahlawan kemanusiaan
90
Kita Hadapi Bersama
Karya: Sri Darti
Namamu indah ketika terucap
Semula semua orang tak perhatian dengan nama itu
Ketika peristiwa demi peristiwa bermunculan
Hati ini semakin resah, miris,
dan sadar dari keberanian yang salah
Berawal dari derita Wuhan
terus menjalar ke negara lain
Gerakanmu begitu cepat dan hebat seperti tali putri
Mengikat setiap orang untuk tidak berdaya
Derai air mata, tangisan, dan himbauan keras
bahkan salah paham telah terjadi
di tengah-tengah gundahnya hati
Yang sulit diterima dengan akal dan pikiran
serta pengertian
Sadarkan diri sendiri
untuk mencegah lajunya virus corona
Dengan di rumah saja
Jangan bertindak lebih bodoh lagi
dengan merasa sombong,
tidak terpapar atau cuek perasaan, nekat hati
Ayo bersatu bergandengan tangan
membentuk rantai sebagai benteng
tuk hadapi tantangan virus corona
yang tak pasti kapan berakhir
91
Hebatnya Tim Medis
Karya: Sri Darti
Di tengah merebaknya pandemi virus corona
Kau tetap gagah hadapi bahaya
Dengan penuh keikhlasan,
kau tetap tabah merawat pasien corona
Tak hiraukan diri sendiri dengan badan berlapis APD
Tetap tak kau hiraukan keselamatanmu
Dengan penuh kesabaran dan keberanian
kau hadapi corona
Di saat orang lain tak hiraukan keadaan berbahaya
Kau hiraukan keselamatan mereka
Merawat dan mengobatinya,
hingga dirimu menemukan kebahagiaan
di saat pasienmu sembuh
Kau hebat tim medis,
kau patut menerima penghargaan yang paling mulia
Tim medis sungguh luar biasa
Tim medis kaulah pahlawan kemanusiaan
Perjuanganmu semoga berpahala besar
di hadapan Tuhan
92
Kau yang Kukhawatirkan
Karya: Rizky Setiawan
Bermula di negeri cina
Menyebar entah kemana
Melampaui benua, pulau, dan negara
Memaparkan semua manusia
Kau di Indonesia
Menggemparkan seluruh jagat
Di bumi pertiwi ini
Kau tidak memilih siapapun itu
Detik demi detik penuh khawatir
Menit demi menit penuh doa
Belajar, bekerja, dan beribadah di rumah
Menunggu yang tak kunjung selesai
Wahai dokter, perawat
Terima kasih ketulusan hatimu
Bekerja dengan sekuat tenaga
Terima kasih atas pengabdianmu
93
Kau Ketuk Hatiku
Karya: Catur Fibriana
Kau datang tiba-tiba
Tak tahu kau tercipta dari apa
Kau datang dari Wuhan
Kau mematikan ribuan orang
Bahkan jutaan orang di dunia
Karenamu ku tak bisa apa-apa
Hanya duduk diam di rumah
Tak bisa bekerja dan sekolah
Bahkan tak bisa beribadah
Hanya bisa menunggu kapan kau musnah
Pergilah kau dari hidupku
Pergilah kau dari negriku
Cukup sudah kau menyusahkanku
Kuingin bahagia hidupku
Kuingin tenteram hatiku
Inikah cobaan dari-Mu
Agar ku selalu menyapa-Mu
Kau yang sudah cukup mengetuk hatiku
Karena keangkuhan dan kesombonganku
Oh Tuhan ampuni dan lindungi aku
94
Menguak Tanya Merenda Asa
Karya: Elisabeth Risa K
Gelap mendekap erat raga
Menyapa berontak tiap sendi
Tak ada alasan tuk berkata
Jua berlari untuk menyepi
Virus corona tak menyapa
Masuk merasuk berbagai lini
Mencipta bayang mencuri rasa
Kokoh berakar merusak diri
Hati tak kuat menyangga
Jiwa letih terus berdiri
Raga tak lagi bangga
Menengok siapa kan abadi
Hingga sang fajar terus menyapa
Senja indah dalam melambai
Tak ada jawaban menguak tanya
Kapan corona akan pergi
Merenda mimpi merajut asa
Dalam doa serta meditasi
Bergantung diri pada Yang Kuasa
Pada suatu hari nanti
Terus berjuang dengan cinta
Meski sulit tiada pasti
Menyerah tanda tak usaha
Kalah dengan tak ada arti
95
Kami tidak Menyerah
Karya: Ikha Yuniarti
Corona
Kau datang dari Wuhan
menyebar ke seluruh penjuru dunia
Seperti bala tentara yang yang menembaki jutaan orang
di dunia
Indonesia tak luput juga dari seranganmu
Kau menyerang tanpa mengenal waktu
Tanpa memandang suku, pangkat, dan agama
Corona
Kau membuat semua berbeda
Kau mengusir kami dari keramaian
Kau membatasi ruang gerak kami
Belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah
Dari rumah kami tidak menyerah
Kami terus berdoa dan berusaha
Corona
Kau membuat Indonesia terdampak
Banyak orang terpapar
Bahkan harus kehilangan anggota keluarga
Masyarakat kehilangan pekerjaan dan penghasilan
Ekonomi semakin melemah
Dokter, perawat, pemerintah, aparat, masyarakat
berjuang dan terus berjuang
96
Bekerja siang dan malam
Bersatu melawan corona
Corona
Kapan kau enyah dari bumi ini?
Kami rindu belajar bersama
Kami rindu berkumpul bersama
Kami rindu orang tua dan keluarga
Kami rindu melihat keindahan-Nya
Ya Tuhan inilah doa kami
Enyahkan wabah ini
Pulihkan Negri kami.
97
Saat Wabah Datang
Karya: Reni Indarwati
Saat tiap rencana tersusun rapi di awal tahun
Berlari mengejar waktu
Mewujudkan semua rencana
Mengabaikan lelah
Tiba-tiba wabah itu datang
Memadamkan semua rencana
Menghentikan langkah kaki
Mengurung pikiran dan keinginan
Menghembuskan kegelisahan dan ketakutan
Menjauhkan relasi dengan sesama
Untuk kembali ke rumah kita masing-masing
Tempat harta terbesar itu berada
Menyalakan kehangatannya
Merasakan kehadiran Tuhan lebih lekat
Menyalakan iman untuk terus bergantung pada-Nya
Mengubah kegelisahan menjadi pengharapan
Membuka pikiran untuk berdamai dengan perubahan
Menguatkan hati kita untuk mengasihi
Mengasihi keluarga dengan tulus
Mengasihi sesama tanpa batas
98
Menggerakkan kaki dan tangan untuk berjuang
Berjuang demi orang-orang tercinta
Berbela rasa demi sesama
Memurnikan kemanusiaan
Hingga wabah itu sirna
99
Lamunan Malam
Karya: Andreas Setyo Pramono
Saat keheningan malam menyapa
Anganku terbang jauh melayang di angkasa
Membuatku tenggelam dalam beribu lamunan
Membuat mata enggan terpejam
Hati bertanya apa gerangan yang sedang terjadi
Bumiku kini terasa sunyi
Tiada lagi riuh kudengar di telinga
Semua diam dan mengurung diri
Semenjak corona datang menyapa
Tiada diri ini pernah menyangka
Akan datangnya masa yang mengubah segalanya
Tergores luka hati
Melihat ribuan raga yang tak lagi bernyawa
Sejenak ku coba untuk merenung
Mungkinkan ini sebuah pertanda
Jika hidup ini tak lagi berkenan dihadapan-Nya
Pulanglah
Kembalilah ke jalan yang penuh damai dan sejahtera
100
Tak dapat ku pungkiri
Hanya sabda-Mulah yang sanggup menenangkan hati
Mendekap erat memberi harap
Menguatkan langkah yang tak lagi tegap
Dalam doa ku berucap
Memohon datangnya pertolongan-Mu
Agar dapat kulihat kembali senyum di bumiku
101
Corona Virus Penyakit Dunia
Karya: Nofiani Kristanti
Hai Covid- 19
Kau adalah musuh yang tak tampak
Bila kau datang menghadang
Banyak orang akan tumbang
Kau adalah musuh dalam bayang-bayang
Segeralah kau menghilang
Agar kita bisa hidup tenang
Dan dunia pun akan senang
102
Mengapa
Karya: Fatma Dwi Astuti
Mengapa
Mengapa kini negeriku menjadi sunyi
Dan bumi terlihat rapuh
Hingga menghening
Di sana, ada kehidupan
Namun menjadi acuh
karena pandemi yang tiba-tiba rusuh
Manusia mulai lemah
Banyak yang kehilangan pekerjaan tuk mencari nafkah
Banyak yang kehilangan tujuan dan arah
Bahkan ribuan hingga jutaan manusia di bumi musnah
karena pandemi
Oh pandemi, corona kata mereka
Mengapa
Kau hadir dan mengacaukan semua ini
Musnahlah, kami sudah cukup jenuh merasakan akibat
kehadiranmu yang rusuh
103
Sepenggal Doa di Tengah Pandemi
Karya: Ratna Arminingsih
Tuhan..
Tolong kami
Nyalakan api iman di dada ini
Untuk tetap tawakal dan bersabar di tengah pandemi
Tuhan...
Tumbuhkan asa dalam sanubari kami
Untuk tetap semangat menapak, merajut semua mimpi
dalam kehidupan kami
Tuhan..
Jangan biarkan keputusasaan merasuki setiap nafas
kami
Tuhan..
Sertailah langkah kami untuk mengusir mahkluk kecil
yang datang memporak porandakan hari-hari kami
dalam membangun mimpi
Tuhan..
Kami sadar
Ini bagian dari kasih sayang-Mu
untuk semua mahkluk yang ada di bumi
Kau ingatkan kami dengan cara-Mu
Kau sadarkan kami dengan pasukan-Mu
Yang mampu menyadarkan kami akan kuasa-Mu
Tuhan..
Tolong kami
Tariklah pasukan-Mu yang sedang menyerang kami
104
Jangan biarkan rumah-Mu menjadi sunyi
karena ketakutan kami
Untuk melangkah menuju rumah Mu yang penuh berkah
Tuhan..
Tolong kami
Dengan sepenggal doa kami
musnahkan corona dari bumi ini
105
Tabah
Karya: S. Widodo
Ketika sang mentari tenggelam
Menyambut datangnya malam
Ku merenung.......
Berdoa pada Sang Pencipta alam
Dunia tergoncang
Oleh ulahmu CORONA....
Namamu tenar serta menghebohkan
Kekhawatiran, keresahan menghantui setiap insan
Takut dampak virusmu
Dengan menjaga kebersihan
Menggunakan masker jaga jarak untuk melawanmu
Mari kita buat suasana senang
Hanya ketabahan hati obat penghilangmu
Oh....... CORONA.....
106
Apa Maksudmu Corona
Karya: Yusefin Nuri Prasetyowati
Di saat dunia sedang berhias
Di ujung nan jauh di sana
Terhentak berita duka
Tanpa sebab tanpa tanda
Orang mati dibuatnya
Semua bingung....
Semua sedih....
Semua diam...
Apa sebabnya?
Cerdik cendikiawan
dibuat terpana
dengan temuan yang semakin nyata
makhluk kasat mata
Penyebar petaka
Yang belum tahu asal mulanya
Dialah si corona penyebab petaka
Hari demi hari korban bergelimpangan
menyebar...
tak terkendali...
Negara demi negara
benua demi benua
dibuat kalang kabut olehnya
107
Hati pun bertanya...
Siapakah pencipta corona sebenarnya?
Ataukah ini teguran dari Yang Kuasa?
Apa maksudmu corona?
Jangan kau usik ketenangan jiwa
Biarkan kami merdeka
Jangan takuti aku dengan siksamu
Enyahlah...
Pergilah...
Bilang pada kerabatmu
Hengkang dari negriku
Indonesia
108
Pergilah dari Dunia
Karya: Surati
Corona
Wahai engkau virus corona
Virus yang sangat berbahaya
Kau datang secara tiba-tiba
Menggeparkan seluruh dunia
Kedatanganmu tiada gunanya
Tetapi malah menyakiti dunia
Corona.. engkau datang semua menjadi hampa
Tidak ada canda serta tawa
Corona karenamu orang meninggal secara tiba-tiba
Dokter, perawat, paramedis kau buat tak berdaya
Banyak ODP, PDP di mana-mana
Tanpa jelas di mana kau berada
Corona cepatlah engkau pergi dari dunia
Sehingga kita dapat menghirup udara semestinya
Belajar dan bermain secara suka cita
Demi membangun bangsa dan negara
109
Jejak Virus Corona
Karya: Pratiwiningsih
Virus corona itu siapa?
Itu tercipta Sang Kuasa
Raga dan nyawa bukti nyata
Usaha buyar tanpa terduga
Si raja pembuat onar
Corona buatmu jadi tenar
Oh kau buat jadi sengsara
Rusak aturan dan agama
Oh jangan bercokol pergilah
Namun lawanlah beban tersangga_
Ayo ingatlah Yang Kuasa
110
Kedatanganmu
Karya: Agung Triantono
Sebelum engkau datang semua terasa sama
Ketika engkau datang semua terasa berbeda
Bukan Cinta
Melainkan virus yang membuat derita
Corona
Datangmu dengan berita
Hadir tanpa terasa
Tanpa terlihat namun menimbulkan kata tanya
Ini bukan rasa yang tiba-tiba ada
Namun virus yang tiada tanda
Banyak yang tahu akan bahayanya
Tapi semua dianggap biasa
Kita harus waspada
Duduk di rumah menatap berita
Ayo semua bersama mencegahnya
Dengan duduk di rumah saja
111
Apa yang Kau Mau
Karya: Eko Sulastri
Makhluk kecil tak kasat mata
Apa yang kau mau
dari kedatanganmu
Makhluk kecil tak kasat mata
Apa yang kau inginkan dari kehadiranmu
Satu hal yang aku tahu kedatanganmu
membuat bumi menjadi pilu
Ketakutan, kepanikan, dan kehampaan
Makhluk kecil tak kasat mata apa yang kau mau
Lihatlah...
Kedatanganmu membuat jutaan manusia tak berdaya
terkurung dalam ketakutan yang nyata
langkah kaki tidak lagi bisa kemana-mana
Makhluk kecil tak kasat mata
tolong pergilah kamu dari bumi ini
jangan biarkan bumiku menangis
jangan biarkan bumiku menjadi sunyi
112
Musibah Corona
Karya: Siti Isnaeni
Dunia ini adalah tempat musibah
Yang membuat manusia menjadi resah dan gelisah
Tak seorang pun dapat mengetahui dan memprediksi
Jika wabah covid-19 datang menghampiri
Seluruh manusia di dunia menjadi sedih dan berduka
Karena covid-19 datang secara tiba-tiba
Seluruh aspek kehidupan manusia di muka bumi
menjadi porak-poranda
Banyak dari mereka yang jauh dari sanak famili keluarga
dan kehilangan mata pencaharian akibat corona
Entah sampai kapan wabah covid-19 ini terus melanda
dan menjadi derita
Wabah covid-19 datang bukan tanpa alasan
Karena merupakan bagian ujian, cobaan, dan teguran
dari Tuhan
Ujian dan cobaan yang menimpa sebagai penghapus
dosa dan kesalahan
Karena Tuhan memberikan ujian dan cobaan sesuai
dengan kesanggupan hamba
Supaya diri kita menjadi hamba yang bertaqwa
Kita tidak boleh pasrah dan menyerah
Karena di setiap ujian dan cobaan yang datang akan
selalu ada hikmah
113
Tuhan ingin kita menjadi hamba yang selalu dekat
dengan-Nya
Bersabar dan tawakal itulah kunci yang utama
Semoga wabah covid- 19 segera pergi dan menjauh
dari kita
114
Corona oh Corona
Karya: Nurul Fathonah
Cerita ini tak lagi sama
Semenjak ada virus corona
Tua muda kau buat merana
Tiada daya untuk menumpasnya
Virus Corona oh.....Virus Corona
Tanpa permisi kau menggegerkan dunia
Dan kau kini merubah suasana...
Hening...sepi...kini yang kurasa
Lockdown diseluruh penjuru dunia
Social distancing dimana mana
Mudikpun tidak bisa ...
Orang - orang harus memakai masker
Menjaga kebersihan mencuci tangan
Kini hanya ikhtiar serta doa yang kupanjatkan ...
Semoga semua lekas berlalu seperti sedia kala
Virus corona ... Oh virus corona
115
Kapan Kau Akan Pulang
Karya: Eti Hendrawati
Corona oh Corona
Kapankah kau datangnya
Corona oh Corona
Kapankah kau akan pulangnya
Semua orang jadi ketakutan
Semua orang jadi resah
Semua orang kebingungan
Semua orang hanya tinggal di rumah
Marilah wahai saudaraku semua
Hidup sehat untuk berantas corona
Minum vitamin untuk imunitasnya
Jangan lupa pakailah maskernya
Pergilah kau Corona
Musnahlah kau Corona
Agar aku bisa bekerja
Agar aku bisa berkarya
116
Engkau Corona
Karya: Tin Siana Dayu Murti
Sipertinya tak ada suatu apapun
Kami tak bisa melihat
Apa lagi menangkapmu
Kecil bergerigi
Oh itu kamu
Iya benar kamu virus corona
Menggemparkan seluruh dunia
Gempar bukan karena kabar gembira
Tapi gempar karena menakutkan
Datang menggoda kami
Ketenangan dan kedamaian kau usik begitu cepat
Pola hidup berubah
Kebiasaan berubah
Terusik dari zona nyaman
Menakutkan hingga merenggut nyawa
Satu per satu kudengar orang telah tiada
Hari per hari kulihat semakin bertambahnya korban
Gugup, cemas, khawatir membuat kami semakin takut
Namun tak membuat kami merasa putus asa
melawanmu
Doa dan tetap jaga stamina tubuh
117
Corona ... oh corona .....
Begitu besar dampak negatif bagi kami
Hilangnya pekerjaan
Hilangnya suasana sekolah yang kami rindu
Berkurangnya pendapatan
Amarah
Curiga hingga perkelahian
Kelaparan
Berkurangnya jiwa di muka Bumi ini
Oh Tuhan, ampunilah dosa kami
Apa sebenarnya rencana indah-Mu dari wabah ini
Cukup Tuhan...
Ku mohon hilangkan
Jauhkan dari virus ini
Kuatkan dan sembuhkan mereka
yang terkena virus corona
Corona ....
Kau mengajarkan kami untuk menghargai alam
Udara segar dapat kuhirup
Kau mengajarkan kami, begitu berharganya bisa belajar
di sekolah
Kau mengajarkan kami, bisa bersyukurnya jika kita
dapat bekerja
118
Kau mengajarkan kami, betapa senangnya saat
berkumpul bersama teman dan sanak saudara
Kami merindukan itu semua
Berharap lekaslah pergi corona
Hilang dari muka bumi
Kembalikan kebahagiaan kami
119
Sapaan Lirih Tuhan
Karya: Han Ning Rum
Tuhan menyapamu lirih lewat kidung-Nya
Kidung indah yang menggemparkan dunia
Kidung corona tak kasat mata tapi nyata
Kidung corona yang bukan fatamorgana
Menyapa tanpa memilih dan memilah kapan waktunya
Sebuah kidung yang menuntun manusia tuk kembali
kepangkuan-Nya
Kembali bersujud dan bertasbih tuk mengagungkan
asma-Nya
Tuhan, kidung-Mu begitu dasyat
Hingga kami menggigil kelu penuh ketakutan di sudut
waktu-Mu
Meski kami tahu, itu ujian bukan amarah-Mu
Ujian yang akan tunjukkan kami jalan pulang tak hanya
mengejar indahnya dunia
Tuhan, hanya lewat bulir-bulir doa kami memohon
ampun
Ampun atas kelalaian dan kecongkakan kami
Izinkan kami berdamai dengan kidung indah-MU
Kidung corona yang menyapa lirih saat ini
Tuk jadikan kami insan yang berarti
Tak lagi buat kerusakan di bumi
120
Bercengkrama dengan Waktu
Karya: Han Ning Rum
Tak ada yang pasti dengan waktu
Hanya bisa menghitung detik, menit, bahkan jam
Bergulir cepat sepanjang helaan napas
Berputar tanpa ujung yang pasti
Hanya Tuhan yang tahu ujungnya
Melukis keindahan-Nya
Datang dengan pesona yang lentik
Dengan keindahan namanya “ Si Corona “
Tuk menghampiri singgasana bumi
Hanya untuk berkawan bukan jadi lawan
Seperti halnya Flu, Ebola, Mers, dan Sars
Aku hanya makhluk kecil ciptaan Tuhan sama dengan
yang lain
Meski kedatanganku beriring dengan waktu tanpa
permisi
Tak perlu takut kawan…
Aku hanya ingin bercengkrama dengan waktu yang
bergulir
Tuk sekedar jadi kawan yang sejati
Memaknai sejatinya sebuah rasa syukur
Syukur akan keterbatasan, kesunyian juga harapan
Meski ku tahu kalian lebih lihai memaknainya tidak
hanya sekedar retorika
121
Yakinlah kawan….
Kedatanganku seizin Tuhan untukmu
Kesabaran dan tengadah tangan dalam khusukmu
Kan mampu musnahkanku
Dengarkan aku kawan….
Kepiawaian, imunitas juga doa-doamu
kan buatmu berdamai denganku
Kita hanya berpacu dengan waktu
Tuk maknai keberadaanku “ Si Corona “
makhluk indah ciptaan-Nya
122
Corona dalam sembilu Asa
Karya: Elsabeth Puji Rahayu
Terpaku sendiri dan membisu
Terpasung raga dalam sembilu
Terjebak asa semu palsu
Terjerat Corona yang membelenggu
Ketika jendela hatiku terbuka
Ku lihat ada cahaya di ujung asa
Ku merangkak menggapainya
Berharap sembilu ini segera sirna
Oh…masih ada asa yang membentang
Ku mulai melangkah dalam sembilu yang menantang
Ku harus keluar menghadapimu dan berjuang
Wahai corona ku tak gentar ku mau menerjang
Ku cairkan raga dan jiwa yang membeku
Berlari mengejar asa untuk negriku
Segudang ilmu dan pena membimbingku
Menguak sejuta Asa yang terbelenggu
Wahai Guru bangunlah rentangkan pikiran dan jiwamu
Bergeraklah tebarkan ilmu dalam mayamu
Basmi si pembunuh asa dengan karyamu
Tebarkan cahaya sinari generasi yang sembilu
Jangan biarkan Corona mengalahkanmu
123
Bangkit dan hiduplah dalam asamu
Sembilu kan membisu melihatmu maju
Cerdaskan generasi dengan segudang kecerdikkanmu.
124
Indah itu Bukan Fatamorgana
Karya: Halim Setiawan
Dunia tengah dilanda duka bersama,
Terserang wabah yang disebut Corona,
Air mata tertumpah mengiringi nestapa,
Ditinggal teman, kerabat atau keluarga tercinta,
Indonesia negeri tercinta juga mengalami hal yang
sama,
Satu demi satu korban berjatuhan seakan tiada ada
jeda,
Satu sembuh namun sepuluh rubuh,
Tubuh-tubuh seolah rapuh,
Kondisi yang bagaikan suasana subuh,
Gelap dan sunyi tak tahu di mana kan melabuh,
Duh Gusti...
Tak pernah lelah doa dan puja puji terlantun dari bibir
ini,
Dalam setiap sujud berharap semua masalah kan
berlalu,
Dengan kuasa-Mu cobaan ini akan tinggal masa lalu,
Berbulan-bulan hidup tanpa kepastian,
Berdiam dan bekerja di rumah jadi kebiasaan,
Walau seringkali timbul kebosanan,
Namun hanya itu yang bisa dilakukan,
125
Harapan-harapan tetap kami simpan dalam angan,
Suatu saat akan berubah kembali keadaan,
Dalam hening malam ini doaku kembali bergema,
Ya Tuhanku segera hapuskan semua lara nestapa,
Jangan sampai kondisi ini terus berlangsung terlalu
lama,
Agar kami bisa kembali berkarya mengisi hari-hari
dengan ceria,
Doaku mungkin sama dengan harapan mereka,
Suatu saat mentari kan muncul menghapus gulita,
Semoga ini bukan sekedar sebuah fatamorgana,
Dan kita bisa ucapkan selamat tinggal virus Corona,
Astungkara...
126
Kita Lawan Corona
Karya: Fransisca Romana Diharti
Corona…
Engkau tak terlihat oleh mata
Namun, engkau menggemparkan dunia
Corona…
tanpa pandang siapa yang terkena
dari kaum papa hingga yang kaya raya
dari bayi sampai manula
bahkan tenaga medis pun tak terelak juga
Corona…
Apakah kita akan diam saja
Ayo kawan, kita lawan corona
Dengan cuci tangan jangan alpa
Hindari kerumunan masa
Pakai masker senantiasa
Yang utama…
Mohon perlindungan Sang Pencipta
Pasti corona akan sirna
Kita semua kembali bahagia
127
Ya, Itulah Corona
Karya: Fransiska Rani Widyasari
Bermula dari kota Wuhan
Masuk setiap negara secara tiba-tiba
Menghancurkan dan bahkan membuat semua menjadi
kacau
Menyebar melampaui batas tanpa kenal siapapun dan
dimanapun
Hiruk pikuk senyap begitu saja
Ya, dunia seakan berhenti
Kehidupan yang ramai dan tentram seakan hilang begitu
saja
Ketakutan akan sebuah kematian menghantui setiap
insan
Semua orang mengunci diri
Menjauhi kerumunan
Bahkan enggan untuk melangkahkan kaki keluar
Betul, semua karena Corona
Alam menjadi tenang, seakan tidak ada lagi campur
tangan manusia
Keindahan alam mulai nampak kembali
Solidaritas umat manusia pun mulai terlihat
Perdamaian kembali dirasakan oleh seluruh umat
manusia
128
Kini….
Saatnya kita bersatu melawan Corona
Sirnakan pikiran egois dan acuh
Mulailah…
Satukan cinta dan solidaritas memerangi wabah ini
Bangunlah cultur kehidupan bersih dan sehat
Untuk NKRI dan dunia yang baru
129
Covid 19 Harapan Dibalik Bencana
Karya: Hasan Basri
Semua terjadi atas kehendak Tuhan
Apapun itu, termasuk virus dari Wuhan
Bencana mengguncang peradaban di bumi
Dari mulai benda hidup sampai benda mati
Aktivitas di luar rumah sangat menakutkan
Karena semua takut ketularan
Semua aktivitas digantikan
Termasuk kegiatan pembelajaran
Dalam pertemuan ada perbatasan
Dalam pertemuan dilarang jabat tangan
Semua aktivitas keramaian dibubarkan
Karena virus ini mematikan
Manusia dianjurkan menjaga kebersihan
Dari mulai mencuci tangan
Hingga menyemprotkan disinfektan
Manusia dianjurkan menjaga kesehatan
Dari mulai mengatur pola makan
Hingga menjaga kebugaran
Semua ini kita lakukan
Demi berlangsungnya kehidupan
Demi berlangsungnya masa depan
Demi berlangsungnya semua impian
130
Rinduku
Karya: MF Agustine WH
Covid-19, kau buat duniaku bersedih
Kekosongan ruang dan jalan ada di mana-mana
Hanya rumah-rumah terang dengan lilin putih beribadah
Mereka rindukan Engkau, Ya Tuhanku
Khawatir bahkan ketakutan akan virus Covid-19
Seakan kotaku yang mati
Sekolahku serasa tak berpenghuni
Rinduku untuk mengajar
Rinduku untuk anak didikku
Rinduku akan Indonesiaku
Tuhan, dengarkan seruan kami
Yang selalu merindukan rumah Tuhanku
Aku menangisi, menangisi kekhawatiranku
Maafkan aku, ya Tuhanku karena lebih besarnya rasa
khawatirku
Segera sehatkan kembali negeri, ya Tuhanku
Segera, sehatkan kembali bumi ku, ya Tuhanku
Janjiku kepada-Mu, Ya Tuhan ku…kan ku jaga bumi ini
Covid-19, segeralah pergi dari bumiku
Terima kasihku pula, untukmu para pahlawan garda
terdepan
131
Semoga kau selalu dilimpahi kesehatan
Kau tuangkan keringatmu menjadi peluh emas bagi para
pasien
Semangat para pahlawanku, semangat Indonesiaku
Kan kusingsingkan bajuku, segera bangkit bersamamu
Covid-19 kapan engkau usai
Aku sudah semakin rindu
Rindu dengan anak didikku
Usiaku sudah tidak muda lagi
Kuingin abdikan raga ini bagi anak didikku,
bagi Nusaputeraku dan bagi nusa bangsaku
Biarkan ilmu yang kupunya ini
Karna ilmu adalah harta yang tersisa dari diriku
Biarlah hidupku menjadi lebih berguna bagi sesama
132
Serdadu Tanpa Peluru
Karya: B. Joko Suntoro
Ketika yang lain berjaga siaga bahaya
Akupun berjaga tanpa jeda
Meninggalkan sanak saudara
Bahkan anak dan ibunya
Bak tentara dengan senapan dan senjata
Tak gentar terus bergerilya
Akupun tak gentar memeriksa
Musuhku bukan tentara
Musuhku virus yang tak kasat mata
Aku serdadu tanpa peluru
Aku hanya berlindung di balik baju
Memeriksa dengan seksama
Memastikan aku mampu mendiaknosanya
Corona, aku melawanmu tanpa senjata
Hanya memastikan terkarantina
Sehingga tidak berpindah pada sesama
Datangmu memang seketika
Memerangimu harus sekuat tenaga
Sebagai garda terdepan, aku siap berperang
Sebagai seorang serdadu
Namun tanpa peluru
133
Wahai Corona
Karya: Prima Widyatmoko
Wahai makhluk Allah tak kasat mata yang diberi nama
Corona
Engkau datang dengan tiba-tiba,
sehingga banyak manusia yang bertanya tanya
Kedatanganmu membuat kami berdiam diri,
menutup rapat pintu, jendela, dan langkah kaki supaya
tidak pergi
Hari demi hari terus menghantui
tanpa jelas kapan kamu pergi
Wahai Corona,
engkau telah mengusir kami dari rutinitas belajar
mengajar dengan siswa-siswi kami
Engkau menghalangi kami untuk ke pasar, mall, dan
tempat wisata untuk rekreasi kami
Engkau membatasi kami untuk beribadah, berjamaah
dengan saudara-saudar Kami
Engkau menggagalkan rencana kami untuk silahturahmi
dengan sanak daudara kami
Engkau menguras tenaga pemimpin negeri ini, para
aparat dan tenaga medis kami
Wahai engkau virus corona,
engkau datang bagaikan bala tentara
yang membantai umat manusia,
134
padahal kami hanya manusia biasa
yang belum memiliki senjata ampuh
untuk membalas perbuatan kejimu saat ini
Namun kami berdiam diri tidak hanya pasrah,
kami sedang mencari tahu siapa jati diri kami
Segala upaya sedang kami lakukan
untuk mampu melindungi diri kami
dari serangan serangan murkamu
Dari Allah maka akan kembali juga kepada-Nya
Kami diberi akal budi untuk merapatkan barisan
Barisan untuk membuat tameng dan peluru tajam
untuk mengusirmu
Sebentar lagi peluru itu akan jadi,
atas ijin Allah dan bergandengan tangan
kami akan usir engkau dari muka bumi ini
135
Musuh Tak Kentara
Karya: Didik Purnomo
Di tengah kebahagiaan, kau mendadak datang
Membuat kami meradang dan tidak tenang
Kehidupan tenang kami terusik
Kaya, miskin, tua, muda kau usik
Corona...kau menggangu dalam segala usia
Corona...kau menganggu setiap negara
Corona...kau memutuskan setiap asa
Orang-orang yang ingin kembali hidup biasa
Musnahlah dari kehidupan kami
Pergilah...kau mengganggu kenyamanan kami
Menyingkirlah...dari negara tercinta kami
Corona... Kau musuh tak kentara kami
136
Kuingin Bumi Kembali Tersenyum
Karya: Frida
Kehadiranmu membuat bumi menangis
Kehadiranmu membuat bumi berduka
Kehadiranmu membuat bumi merana
Kehadiranmu membuat bumi tak berdaya
Semua itu terjadi karena kamu
Ya karena kamu virus corona
Pandemi Corona merajalela di mana-mana
Apakah ini ujian darimu ya Tuhan?
Tuk hambamu yang tak mau bersyukur?
Tuk umatmu yang gila dengan urusan duniawi?
Oh Tuhan ampunilah dosa-dosa hambamu ini
Ampuni segala kekhilafan kami
Engkaulah yang maha pengampun
Engkaulah pengangkat segala penyakit
Musnahkan Corona dari muka bumi ini
Agar roda kehidupan pulih kembali
Agar bumi kembali tersenyum
137
Kisahku di Awal Tahun 2020
Karya: Dewi Rizqi Maharani
Awal tahun 2020
Tak pernah terbesit apapun saat itu
Hari demi hari kulewati biasa saja
Bersama anak, teman, saudara, bahkan keluarga
Rasa itu tak kan pernah kulupa
Di mana kita saling berbagi, saling berjabat tangan
Tapi kau....CORONA
Masuk secara tiba-tiba
Di mulai dari satu negeri,hingga negeriku tercinta
Menghancurkan banyak adat kebiasaan
Membuat kekacauan di mana-mana
Dunia seakan berhenti karenamu
Kau pisahkanku dengan anak-anak negeri
Kau jadikan generasi yang berbeda dari biasanya
Tak kulihat lagi senyum ketulusan dari mereka
Akankah kau segera pergi
Pastinya ...
138
Kedamaian, keindahan, ketenangan akan segera
terwujud
Saatnya kita bersatu melawan CORONA
Sirnakan pikiran egois
Singkirkan kepentingan pribadi
Satukan rasa cinta dan damai
Berdoa agar semua kembali normal
Bangun kehidupan yang baru setelah semua ini usai
Belajar dari pengalaman untuk kehidupan selanjutnya
139