SUARA TANPA KATA
Jumat, 4 November 2016
Saya menyempatkan diri mengunjungi koperasi mahasiswa,
sebelum berangkat ke kampus. Tujuannya untuk melihat-lihat
cendera mata. Salah satu barang yang saya incar adalah jaket
bertuliskan The University of Melbourne. Sayang koperasi itu buka
pukul 08.30 sehingga saya membeli dengan tergesa-gesa. Akhirnya
sampai di kampus agak terlambat, wah rasanya malu sekali. Padahal
di awal pagi ini ada penjelasan tentang kunjungan yang akan kami
ikuti siang nanti.
Releksi pagi ini merupakan refleksi kegiatan satu minggu.
Fokus refleksi pada materi kuliah tentang kepemimpinan,
kurikulum, dan keterlibatan siswa. Hal yang menarik yang sudah
didapatkan selama satu minggu diambil salah satu yang dapat
dilaksanakan di sekolahnya.
Rustantiningsih │39
Aktivitas pagi ini kami membentuk tiga kelompok dengan
gambar wombat, koala, dan kanguru. Peserta yang mendapat
gambar kanguru berkumpul jadi satu, wombat jadi satu, dan koala
jadi satu. Saya mendapat gambar wombat. Kemudian setiap
kelompok mendapat tugas pertama mengerjakan bagan segitiga
secara kelompok. Bagan itu berisi apa yang saya lihat, sudah saya
dengar, sudah saya lakukan, saya ingin tahu. Kedua menulis berita
di koran dan ketiga menulis apa yang sudah saya pelajari, menulis
dua pertanyaan yang ingin diketahui, dan menggambar hal yang
sudah diketahui.
Siang ini saya melakukan kunjungan ke sekolah lagi. Kali ini
kami berkunjung ke Lilydale West Primary School. Di halaman
sekolah kami disambut oleh Mrs. Cleara. Kemudian kami di jamu di
salah satu ruangan dengan jamuan makan siang ala Melbourne.
Setelah perkenalan dan beberapa penjelasan dari Mrs. Cleara, ada
permainan True dan Falsa yang dimainkan oleh Bu Dyan dan Bu
Retno, yang akhirnya dimenangkan oleh Bu Dyan, dan Bu Dyan
mendapat hadiah dari sekolah tersebut.
Kali ini kami dibagi dua kelompok satu kelompok dipandu oleh
siswa bernama Lion dan satu kelompok dipandu oleh siswa
bernama Hanna. Semua guru melihat-lihat semua ruangan
kemudian bertanya jawab dengan guru-guru di sekolah tersebut.
Semua siswa ramah begitu juga para gurunya.
Hampir sama dengan sekolah di Indonesia para gurunya harus
membuat persiapan mengajar, administrasi, dan perangkatnya.
Semua bahan, persiapan, dan peraga yang digunakan guru mengajar
harus diperiksa oleh kepala sekolah dulu. Siswa belajar dari pukul
09.00-15.30. Peran serta orang tua di sekolah ini cukup besar.
Banyak kegiatan-kegiatan penting yang melibatkan orang tua.
Setiap hari Senin ada upacara bendera. Sekolah ini lima hari kerja.
Lilydale West Primary School termasuk sekolah inklusi. Di
samping itu sekolah ini memiliki teknologi sangat maju. Semua
administrasi menggunakan aplikasi google education. Nilai siswa,
rapor, data siswa, dan data orang tua semua dapat diakses dengan
portal yang dapat memudahkan guru, siswa, dan orang tua untuk
berkomunikasi dan mengetahui perkembangan anaknya.
40 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Hal yang tidak dapat kami lakukan di sekolah ini mengambil
foto siswa. Boleh mengambil foto asalkan posisinya dari belakang.
Hal ini dilakukan demi keamanan siswa tersebut. Banyak materi
yang kami dapat dari sekolah Lilydale West mulai dari standar guru,
proses pembelajaran yang variatif dan menyenangkan dapat kami
lihat di sini.
Siswa-siswanya kelihatan senang dan betah belajar. Rasanya
baru sebentar kami berkunjung tetapi waktu sudah habis. Kami
pulang diantar dengan senyum ramah dan lambaian hangat dari
guru-guru Lilydale West.
Sepulang dari kunjungan saya pulang menuju aparteman.
Malam ini saya gunakan waktu untuk mengerjakan jurnal dan
menulis cerita tentang Australia. Di tengah-tengah mengerjakan
tugas tiba-tiba ada suara tanpa kata di luar gedung menderu-deru.
Ternyata di luar angin berhembus kencang seperti badai. Siang tadi
panas sekali suhu yang biasanya hanya mencapai 130 kini mencapai
220. Malam ini mendadak angin bertiup kencang seperti badai. Saya
hanya bisa berdoa semoga badai ini cepat berlalu. Malam semakin
gelap dan tak terasa lelah dan kantuk pun datang saya pun tidur di
peluk angin kencang.
Rustantiningsih │41
hembusan angin dingin
hempasan gelombang laut
kepakan burung camar
mengantarkan surya
menuju peraduan
pinguin pulang
dari rantauan
Antartika nan jauh nian
pinguin beriringan
menuju sarang
menanti esok kan datang
(elang)
42 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
PARADE PINGUIN
Sabtu, 5 November 2016
Langit di Melbourne pagi ini cerah, namun udara tetap dingin.
Sabtu tidak ada kuliah, namun dari AAI mengajak kami pergi ke
Philip Island. Saya dan teman sekamar saya harus menyiapkan
keperluan makan siang dan sore dengan membawa bekal, jaket,
sarung tangan, dan tutup kepala. Tempat yang akan kami kunjungi
adalah pulau bagian selatan Australia yang lautannya sangat dingin.
Sebelum ke Philip Island, sekitar pukul 10.00 waktu Melbourne
saya, Bu Dyan, Bu Wahyu, dan Bu Marsiana mendapat kesempatan
pertama untuk mengurus surat izin mengajar. Semua persyaratan
sudah siap namun di kantor pos kami ditolak lantaran foto kami
tidak berlatar belakang putih dan wajah tidak kelihatan 80%.
Rencananya Senin atau Selasa besok baru akan kami urus.
Rustantiningsih │43
Ketika persiapan berangkat ke Philip Island saya mendapat
pesan melalui WA dari Bu Budi guru SMP Negeri 1 Semarang,
gurunya anak saya Citta. Bu Budi memberitahu kalau Citta diberi
kepercayaan untuk mewakili sekolah lomba siswa berprestasi. Bu
Budi memohon agar saya selaku orang tua memberi bimbingan dan
motivasi. Saya membalas WA Bu Budi kalau saya masih di Ausie
hanya doa dan motivasi lewat HP yang bisa saya lakukan. Dalam
hatiku aku merasa bangga namun juga merasa sedih tidak bisa
mendampingi anakku.
Pukul 11.30 kami dijemput dengan bus Extragreen menuju
Philip Island. Perjalanan yang saya tempuh kurang lebih dua jam.
Tujuan pertama konservasi koala. Saya melihat lahan yang sangat
luas, penuh dengan tumbuhan eucalyptus namun hanya beberapa
koala yang bisa saya lihat. Empat koala terlihat tidur dan satu koala
sedang makan eucalyptus. Menurut referensi koala dalam sehari
semalam tidur dalam waktu 18-22 jam dan mampu makan daun
eucalyptus kurang lebih 1 kg sehari.
Saat saya datang angin kencang menghembus batang-batang
pepohonan. Kulihat koala tetap tidur nyenyak di atas pohon tanpa
merasa terganggu sedikit pun dengan guncangan angin dan
kedatangan kami. Hewan yang aneh namun juga lucu mirip sekali
dengan boneka koala yang sering saya lihat.
Sudah puas di konservasi koala kami lanjutkan perjalanan
menuju Philip Cirkuit. Sayang kami tidak masuk sirkuit hanya
berhenti 10 menit untuk foto-foto disekitar area sirkuit. Udara yang
dingin, rumput yang hijau, pemandangan yang indah seakan
memanjakan mata kami.
Tempat menarik berikutnya adalah pertanian dan peternakan
tradisional. Banyak burung-burung liar beterbangan dan berjalan di
area perkebunan. Di sini saya melihat peternakan kuda, sapi, dan
biri-biri. Di samping itu saya juga bisa melihat perkebunan lavender,
rumah-rumah tradisional dengan peralatan perkebunan dan
peternakan yang masih tradisional.
Kebetulan saat ini ada jadwal pertunjukkan memerah susu sapi
dan pencukuran bulu domba. Saya melihat proses pencukuran bulu
domba. Domba-domba itu dicukur setiap tahun 1 atau 2 kali untuk
44 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
betina, dan 3 atau 4 kali untuk jantan. Ternyata proses pencukuran
domba ini hanya butuh waktu kurang lebih 10-15 menit. Untuk bulu
domba dari seekor domba dapat dibuat menjadi 30 sweeter.
Perjalanan kami lanjutkan ke Journey Antartic di sini kami
sudah merasakan hembusan angin yang kencang dan udara yang
sedingin es. Saya lihat dari kejauhan laut dengan ombak yang
bergulung-gulung, lekukan pantai yang membentuk batu karang
yang indah. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengabadikannya
dalam kamera.
Tujuan terakhir kami adalah ke pantai untuk melihat Parade
Pinguin. Udara di sini semakin menggigit tulang. Air laut di sini
langsung berbatasan dengan benua antartika. Pertunjukan parade
pinguin yang akan saya lihat adalah pulangnya pinguin ke
sarangnya setelah pergi seharian ke lautan antartika.
Keunikan dari pinguin ini adalah ketika pulang akan melewati
jalan yang sama dengan jumlah rombongan yang sama dan waktu
yang sama pula. Menurut jadwal pinguin akan pulang pada pukul
20.21. Dua jam sebelum parade penonton sudah banyak yang duduk
di tribun terbuka di tepi laut dengan angin yang kencang dan udara
yang super dingin.
Pertunjukan ini juga didukung dengan teknologi yang cukup
canggih. Ketika jarak pinguin masih 100 m di tengah lautan para
pengunjung sudah diberitahu oleh petugas. Bahkan ketika itu juga
diampaikan bahwa di sekitar pinguin masih ada ikan paus yang
cukup besar.
Cukup lama saya menunggu, hari pun semakin gelap. Pinguin
memang mencari waktu ketika matahari sudah tenggelam. Waktu
yang ditunggu-tunggu pun tiba. Terlihat dikejauhan sekitar 5 ekor
pinguin menepi, tidak selang beberapa lama mereka kembali lagi kel
laut. Beberapa waktu kemudian muncul lagi dengan beberapa
teman yang lebih banyak. Namun mereka kembali lagi ke laut
demikian berulang kali. Hingga waktu sudah benar-benar gelap dan
dirasa aman mereka muncul berombongan berjalan menuju sarang.
Kalau dihitung mungkin ada ribuan.
Mereka bergerombol setiap gerombol yang sudah kembali ke
sarang diikuti rombongan berikutnya demikian seterusnya. Belum
Rustantiningsih │45
puas dengan melihat pinguin pulang ke sarangnya, para pengunjung
bisa langsung melihat rombongan pinguin di sarangnya di sebelah
kanan kiri jalan menuju pintu keluar.
Dinginnya udara tidak mampu menghapus keinginan saya
untuk tetap bertahan melihat parade pinguin. Baru ketika berjalan
menuju pintu keluar saya merasakan tangan dan kaki serasa beku
semua. Kaki dan tangan terasa sulit dan berat untuk digerakkan.
Saya terus berjalan, dan semakin lama terasa semakin mudah untuk
bergerak kembali. Hembusan angin dan deburan gelombang laut
mengantarkanku pulang menuju Melbourne.
46 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Rustantiningsih │47
kulihat bendera berkibar
bukan merah putih
kudengar lagu kebangsaan
bukan indonesia raya
oh, aku di negeri sebrang
aku tidak sedang bermimpi
aku ingin wujudkan
merah putih tetap berkibar
dan
Indonesia Raya
tetap berkumandang
(elang)
48 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
SEMANGAT PATRIOTIK
Minggu, 6 November 2016
Rencana pagi ini akan pergi ke Queen Victoria Market (QVM) pagi
hari pukul 06.00. Namun karena capek kami bangun sudah siang.
Hari Minggu memang tidak ada acara kuliah atau kegiatan dari AAI.
Sehingga saya merasa lebih santai.
Sekitar pukul 09.00 kami baru berangkat ke QVM. Tujuan
utama saya untuk berbelanja keperluan dapur dan mencari cendera
mata. QVM adalah pasar tradisionalnya kota Melbourne. Semua
keperluan sehari-hari dapat saya peroleh di situ.
Perjalanan saya nikmati. Saya naik trem dengan jalur yang
berbeda dari biasanya sekalian untuk eksplore wilayah. Sampai di
QVM saya tidak segera belanja justru menikmati pertunjukan musik
yang banyak digelar oleh seniman lokal. Dengan peralatan yang
lengkap mereka mengamen. Saya sangat menikmati lagu-lagu yang
mereka bawakan. Kebetulan lagu-lagu itu termasuk lagu pop yang
slow yang cukup populer.
Rustantiningsih │49
Setelah beberapa lama baru saya belanja. Semua area QVM saya
jelajahi bersama teman-teman. Kemudian saya naik berhenti di Stasiun
Kereta Api Flinders. Lalu berjalan menuju tempat yang penuh dengan
kafe. Konon tempat itu termasuk kota tua.
Kami naik trem lagi. Dan kali ini berhenti di tempat yang ada
bangunan monumennya, bangunan tersebut terlihat megah, besar, dan
kelihatan kokoh. Tempat yang kita tuju Shrine Remembrance tempat
untuk memperingati jasa pahlawan.
Tempat ini cukup luas banyak tumbuhan hijau yang berjajar rapi,
hamparan rumput tumbuh dengan subur. Momen itu tidak saya
lewatkan kami foto-foto sepuasnya. Kemudian masuk ke dalam gedung
tersebut. Ternyata di dalam ada monumen untuk memperingati
pahlawan yang gugur dalam perang dunia kedua. Banyak karangan
bunga ada di dalamnya. Dari lantai dasar ada anak tangga yang cukup
tinggi menuju atas bangunan. Namun kami tidak naik karena terlalu
tinggi dan kami sudah merasa capek.
Sebelum pulang kami pun duduk-duduk di tangga halaman gedung
yang cukup teduh. Kami berbincang-bincang tentang kuliah, karier,
politik, dan masih banyak lagi. Tiba-tiba ada peringatan dari petugas
bahwa akan dilaksanakan penurunan bendera. Penurunan bendera ini
menurut saya unik.
Penurunan bendera di Australia berbeda dengan di Indonesia. Di
sini yang menurukan bendera cukup satu orang. Penurunan bendera
diiringi musik yang mengalun. Begitu bendera sampai di tangan
petugas, bendera tidak dilipat, tetapi digulung. Kerekan benderanya
menggunakan tali yang panjangnya sesuai dengan tinggi tiang. Kerekan
ini menggunakan roda kecil di atas dan di bawah.
Pada hari Jumat nanti pukul 11.00 tanggal 11 bulan 11 akan ada
peringatan berakhirnya perang dunia kedua. Peringatan ini akan
ditandai dengan mengheningkan cipta secara bersama selama 1 menit.
Pada hari itu juga biasanya akan banyak karangan bunga yang
diletakkan di makam pahlawan.
Peristiwa ini cukup berkesan bagi saya. Walaupun tidak ada kuliah
namun hari ini saya mendapat pengalaman yang luar biasa. Jiwa
patriotik dan cinta tanah air saya lihat juga di Australia. Semoga jiwa
patriotik dan cinta tanah airku akan selalu mengalir dalam nadiku.
50 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Rustantiningsih │51
siang berganti malam
malam berganti siang
otakku tak pernah tidur
berputar-putar dalam lingkaran
yang aku sendiri tak pernah tahu
kapan akan berhenti
belajar dan berkarya
bukan untuk pribadi
hidupku untuk darma
(elang)
52 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
BELAJAR DAN BERKARYA
Senin, 7 November 2016
Udara pagi ini tidak begitu dingin, saya berangkat kuliah tanpa
memakai jaket seperti biasanya. Semangat untuk belajar semakin
menyala. Ringan rasanya kakiku melangkah menuju kampus.
Sampai di kampus saya menikmati segelas susu yang disediakan
kampus sebelum kuliah dimulai.
Mrs. Lisa memberikan materi minggu ini dalam bentuk teks
yang harus kami tambahkan pada binder materi. Setelah semua
materi masuk kami merefleksi kegiatan hari Minggu saat libur
kemarin. Saya mengatakan kalau saya pergi ke taman makam
pahlawan dan di sana menyaksikan penurunan bendera ala
Australia. Bendera yang diturunkan ternyata tidak dilipat seperti di
negara kita tetapi begitu sampai tangan petugas langsung digulung.
Rustantiningsih │53
Berkaitan dengan refleksi saya Mrs. Lisa menjelaskan bahwa
pada tanggal 11 November 2016 nanti hari Jumat akan ada
peringatan berakhirnya perang dunia ke-2. Pada hari tersebut,
banyak warga negara yang meletakkan karangan bunga di taman
makam pahlawan dan ada kegiatan mengheningkan cipta selama 1
menit.
Kemudian dilanjutkan dengan refleksi hari Kamis dan Jumat
oleh Mrs. Julie. Refleksi kali ini tentang kunjungan ke dua sekolah
yaitu Thomas Mitchell Primary School dan Lilydale West Primary
School. Hal-hal penting yang saya dapatkan dari kunjungan ini
adalah tentang literasi, digital teknologi, problem solving, berpikir
kritis, kreativitas, dan pembelajaran di dunia nyata.
Materi hari ini tentang pembelajaran inkuiri. Hal-hal yang
berkaitan dengan inkuiri menurut pandangan saya pengamatan,
problem solving, percobaan, monitoring, menyimpulkan, menjawab
pertanyaan, menemukan, dan hipotesa. Untuk memperjelas tentang
inkuiri kami melihat video pembelajaran. Tiga tayangan video
pertama memperlihatkan pembelajaran siswa akan melepas ikan
bass pada habitatnya. Siswa memelihara ikan di kelas kemudian
mengobservasi sungai apakah air sungai cukup baik jika ikannya
dilepas. Pembelajaran ini dimulai dari bertanya dengan pertanyaan
terbuka (open ended), research and investigasi, presentasi dan
berdiskusi, dan refleksi. Video kedua tentang siswa belajar sejarah
dimulai dengan pemberian PR kemudian membaca catatan, berbagi
dengan teman dalam kelompok kecil. Sedangkan pada video ketiga
tentang kepedulian siswa terhadap binatang sekelilingnya.
Ketiganya menunjukkan pembelajaran inkuiri dengan model yang
berbeda. Peserta AAI bisa menerapkan pembelajaran inkuiri sesuai
dengan kemampuan siswa dan guru serta fasilitas di sekolah.
Setelah melihat video kami mengomentari tayangan tersebut.
Menurut saya inkuiri yang paling mudah dilaksanakan adalah video
yang ketiga yaitu mulai dari prediksi, observasi, dan evaluasi. Dalam
pembelajaran abad 21 pembelajaran inkuiri sebagai pusatnya. Guru
yang bagus mengarah ke inkuiri dan inkuiri tidak sekadar metode
namun untuk membangun pemahaman. Oleh karena itu inkuiri
dapat diterapkan di kelas mana saja termasuk untuk anak usia dini.
54 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Kuliah hari ini selesai pukul 16.00. Malam harinya saya beserta
teman-teman AAI berkumpul di kamar Bu Neneng pendamping
kami dari kementerian untuk latihan opera. Opera ini akan kami
tampilkan pada malam keakraban dan jamuan yang akan dihadiri
oleh konsulat kedutaan. Sebagai penulis skenario saya sendiri,
sutradara dan penata musik Bu Dyan.
Inti dari cerita ini ada tokoh bernama Raden Tumenggung
Kartono Dimejo abdi dalem Keraton Yogyakarta kebingungan
mencari blangkon yang diterimanya dari Sri Sultan
Hamengkubuwono ke X. Pencariannya mulai dari Sumatra, Jawa,
Kalimantan, Maluku, dan berakhir di Australia. Ternyata blangkon
tersebut dipinjam Mrs. Bonnie. Opera memang dikemas humor
namun juga berkesan. Pada akhir cerita kami menyanyikan lagu
Tanah Airku dan pembacaan puisi.
Rustantiningsih │55
cerah langit di atas Melbourne
menuntunku menulis
kata demi kata
walau lelah terus mendera
semangatku tetap membara
menyelesaikan tugas
untuk sempurna
(elang)
56 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
BERKELANA DI
LUAR ANGKASA
Selasa, 8 November 2016
Sinar matahari pagi terasa hangat. Udara di Melbourne tidak
sedingin kemarin. Usai sarapan pagi saya langkahkan kaki menuju
kampus. Hari ini adalah hari ke-7 saya belajar di Melbourne
University. Mrs. Lisa datang bersama guru muda nan cantik seperti
janjinya kemarin. Guru muda ini bernama Miss Elyse. Walaupun
baru 8 bulan mengajar namun kemampuannya mengajar luar biasa.
Menurut Mrs. Lisa dari semua negara yang dikunjungi guru yang
menurutnya sangat bagus mengajarnya adalah Miss Elyse. Miss
Elyse menurutnya lahir secara alamiah untuk benar-benar menjadi
guru. Mrs. Julie adalah mentor dari Miss Elyse.
Rustantiningsih │57
Materi pagi ini diberikan pertama oleh Mrs. Julie dengan
refleksi materi visible thinking. Mulai dengan kegiatan apa yang
kamu lihat, kamu pikirkan, dan kamu lakukan. Pembelajaran inkuiri
sangat dekat dengan connect, extended, dan challenge metode yang
sesuai Think Pair Share (TPS). Metode ini menggunakan aktivitas
berpikir, kerja berpasangan, dan berbagi dengan teman.
Kemudian kami dikenalkan dengan pinterest salah satu situs
internet yang memuat gambar-gambar semacam majalah dinding
elektronik. Guru bisa menggunakan pinterest untuk sumber belajar
dan mengajar. Di Australia khususnya di sekolahnya Miss Elyse dua
minggu sebelum liburan siswa belajar dengan inkuiri sebagai
kegiatan proyek rekreasi, misalnya kegiatan memasak, membuat
bangunan, dan membuat karya lainnya tujuannya agar siswa
bersemangat untuk tetap pergi ke sekolah.
Materi selanjutnya tentang pemahaman konten pedagogi.
Konten dari pedagogi meliputi explicit teaching, modeled writing,
whole small whole, inquiry, problem solving, dialog, concret aids, dan
masih banyak lagi. Explicit teaching adalah belajar berdasarkan
arahan guru. Modeled writing adalah metode pengajaran dengan
menggunakan keterampilan menulis. Whole small whole
pembelajaran dengan menggunakan teknik kelompok besar,
kelompok kecil, kemudian kembali lagi pada kelompok besar lagi.
Inquiry adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk
berpikir kritis guna menemukan penyelesaian dari suatu masalah
atau pertanyaan yang perlu jawaban. Problem solving adalah
pembelajaran berbasis pada masalah. Dialog adalah pembelajaran
dengan interaksi lebih dari satu orang untuk saling berbagi dan
bertukar pendapat. Concret aids adalah pembelajaran yang
membawa siswa langsung melihat bentuk nyatanya.
Konten pedagogi penerapannya disesuaikan dengan umur dan
kemampuan. Khusus untuk anak berkebutuhan khusus dengan
pendekatan individual. Kegiatan untuk siswa berkebutuhan khusus
mengutamakan kerjasama serta aktivitas yang lebih rendah.
Kegiatan berikutnya mendiskusikan pembelajaran inkuiri dan
kurikulumnya. Kelompok saya memilih mata pelajaran Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) dengan materi senam
irama. Pembelajaran ini menggunakan modeled writing supaya
58 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
siswa menulis gerakan-gerakan senam sederhana yang mereka
ciptakan. Inguiry learning siswa menemukan aneka ragam gerakan
senam. Whole small whole siswa belajar dalam kelompok besar saat
membuat gerakan, kelompok kecil saat berlatih gerakan, kelompok
besar saat mengamati antar teman.
Mrs. Lisa mengajak kami untuk merefleksi kembali pertemuan
hari ke-2 materi tentang 10 strategi pembelajaran berbasis bukti.
Ada yang perlu ditambahkan pada pembelajaran tersebut di
antaranya cooperative learning, show and tell, dan perlunya
feedback. Sehingga sepuluh strategi itu menjadi lengkap.
Aktivitas kuliah hari ini dilanjutkan oleh Miss Elyse. Menurut
Miss Elyse rencana kegiatan pembelajaran dibuat oleh guru sepekan
sekali. Pembelajaran ini diawali dengan guru mengajak siswanya
membaca terlebih dahulu. Kemudian melaksanakan refleksi
kegiatan pembelajaran sebelumnya.
Selanjutnya guru memberikan soal pretes. Soal tersebut
bertingkat sesuai dengan bobot kesukarannya. Data hasil pretes
sebagai acuan dasar guru dalam mengelompokkan siswa dalam
pembelajaran. Tujuan pembelajaran sama tetapi strategi yang
digunakan guru dalam mengajar berbeda sesuai dengan
kemampuan siswa. Pasca mengajar guru melakukan postes untuk
mengukur kemampuan siswa sebagai dasar pembelajaran
berikutnya.
Kegiatan sore ini diakhiri dengan kunjungan ke Sciencework
Melbourne. Tempat ini semacam taman pintar yang berada di
Yogyakarta. Di sini saya juga bisa melihat planetarium, yang
menayangkan terjadinya 4 musim di Australia dan keadaan planet
di luar angkasa yang dikemas dalam bentuk film kartun. Kemudian
saya pun juga bisa menikmati segala macam percobaan yang
langsung bisa saya praktikkan seperti mengukur denyut jantung,
berat badan, kekuatan tangan, keseimbangan badan, koordinasi
antara tangan dan mata, dan masih banyak lagi.
Saya juga tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan luar
angkasa. Saya dapat merasakan seakan-akan di ruang hampa,
masuk ke kapsul pesawat luar angkasa, berfoto dengan aplikasi
digital yang dapat saya kendalikan dari jarak jauh. Seakan-akan
Rustantiningsih │59
tubuhku menjadi robot yang berusaha menangkap bola-bola
penghalang. Gerakan yang tampil di layar kelihatan lucu sekali.
namun sayang belum sempat melihat, mencoba, dan melakukan
semua media waktu kunjungan sudah selesai. Kami pun harus
kembali ke apartemen.
Langit di atas masih tampak terang, walau waktu sudah
menunjukkan pukul 16.00. Malam ini tidak ada kegiatan apa-apa.
Saya manfaatkan untuk mengerjakan tugas yang sudah menumpuk
hingga pukul 00.00 dini hari. Sampai akhirnya mata ini tak mampu
lagi menatap tulisan di laptop.
60 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Rustantiningsih │61
kalau pikiran kita sudah berjalan
tak kan ada yang mampu menahan
derasnya air mengalir
tak seperti alam pikir
begitu cepat ia melompat
menembus ruang dan waktu
pikiranku, kan kukendalikan
selalu
(elang)
62 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
MENCARI SURAT
IZIN MENGAJAR
Rabu, 9 November 2016
Udara di Melbourne semakin terasa panas. Pagi ini
berjalan ke kampus sampai berkeringat. Saya
menapaki jalan menuju kampus dengan tekat yang
bulat untuk belajar, belajar, dan belajar. Sesampai di
kampus Mrs. Lisa sudah di kelas sedang menyiapkan
materi kuliah.
Rustantiningsih │63
Kegiatan refleksi pagi ini menarik sekali. Kami mendapat tugas
melakukan refleksi kegiatan selama 1 ½ minggu. Setiap peserta AAI
harus berjalan keliling kampus sendiri-sendiri. Jika menemukan
sesuatu yang menarik untuk difoto. Waktu untuk eksplorasi 20
menit. Saya tertarik pada area olahraga. Kampus ini memiliki
fasilitas olahraga yang lengkap. Fasilitas itu meliputi lapangan,
kolam renang, tempat fitnes, tempat yoga, dan masih banyak lagi.
Menurut saya yang paling menarik fasilitas kolam renang. Ketika
saya foto banyak anak-anak yang berlatih renang. Tempat yang
teduh, nyaman, taman yang indah area yang luas, membuat saya
merasa betah belajar di sini.
Tugas selanjutnya kami mengkoneksikan laptop dengan wifi
kampus. Kemudian pengumuman pembagian homestay. Saya
bersama Bu Fitri yang dari Maluku mendapat sekolah di Chewton
Primary School. Orang tua angkat saya bernama Julie Holden. Julie
Holden seorang kepala sekolah dan sama sekali tidak bisa
berbahasa Indonesia. Setiap peserta diharapkan segera mengirim
email kepada orang tua angkat untuk memperkenalkan diri.
Setelah jelas tempat homestay kami dapatkan, kami harus
mengamati peta yang terpampang di papan tulis untuk diberi tanda
tempat homestay masing-masing. Homestay saya agak jauh jika
ditempuh dengan kereta memerlukan waktu 1,5 jam. Jarak
tempuhnya 116 km dari Melbourne menuju arah barat laut.
Mrs. Lisa menayangkan video kegiatan homestay yang
dilakukan oleh peserta program kemitraan sekolah Brigde. Dalam
program ini peserta 5 hari pelatihan dan 2 minggu homestay.
Programnya memang berbeda dengan AAI namun cukup memberi
gambaran pada kita tentang kegiatan yang dapat kami lakukan saat
homestay.
Penjelasan tentang homestay dilanjutkan oleh Miss Novi.
Banyak hal yang dapat saya petik dari penjelasan Miss Novi
terutama saat nanti terjadi guncangan budaya. Gambaran tentang
hal-hal apa yang harus kita lakukan dan tidak boleh kita lakukan
merupakan bekal yang penting untuk saya bawa saat homestay.
Materi selanjutnya pada kuliah hari ini adalah penilaian siswa
yang disampaikan oleh Mrs. Chatrine. Beliau termasuk tim yang
64 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
menilai kurikulum 13 di Indonesia. Kegiatan ini menarik ketika
kami harus menyusun kontruksi bangunan dengan menggunakan
kartu bridge. Kami sangat tertantang untuk menyusunnya. Butuh
kerjasama, kreativitas, dan hati-hati dalam menyusun kartu.
Penilaian ada tiga pendekatan: pendekatan pertama
menyediakan pengalaman yang sukses. Kedua menilai kinerja
berdasarkan standar. Ketiga menilai pertumbuhan sejalan dengan
waktu. Penilaian ini didasari teori Dweck 2006 tentang pola pikir
yang terdiri dari dua yaitu tetap dan bertumbuh. Pola pikir tetap
kualitas dasar manusia berkaitan dengan kepintaran, kepribadian,
karakter, dan moral. Sedangkan pola pikir bertumbuh berkaitan
dengan hal-hal yang dapat kita usahakan.
Proses penilaian tidak hanya sebatas merekam pertunjukan
siswa pada tugas tertentu tetapi permuara pada penyimpulan hasil
observasi tugas yang spesifik di mana pembelajaran berada di
domain yang relevan. Penilaian ini upaya guru untuk mencari tahu
untuk memberikan umpan balik pada siswa mengenai apa yang
sudah diketahui dan apa yang belum diketahui. Biasanya jika hasil
penilaian sudah selesai akan dapat dilihat dengan kurva normal.
Sebagai penutup kegiatan Mrs. Chatrine memberi tugas
menyusun kontruksi bangunan kembali dengan kartu. Namun
sebelumnya harus membuat kriteria penilaiannya dulu. Semua
kelompok berlomba untuk membuat kontruksi dengan bagus.
Kemudian Mrs. Bonie yang menilaianya. Berdasarkan pencapaian
kriteria kelompok satu adalah kelompok yang terbaik.
Sepulang dari kampus saya bersama teman-teman AAI menuju
Kantor POS untuk berfoto sebagai syarat pengajuan surat izin
mengajar. Kebetulan letak kantor pos hanya di seberang apartemen
kami jadi tidak terlalu jauh. Pengurusan foto sangat cepat selesai
foto cetakkan langsung jadi tidak sampai 10 menit.
Sepulang dari kuliah dan Kantor POS badan ini terasa lelah
sekali sampai ketiduran. Malam hari bersama teman-teman berlatih
opera. Minggu ini opera harus jadi karena minggu depan kita sudah
tidak bisa berlatih bersama. Kami sudah di homestay masing-
masing.
Rustantiningsih │65
Tiba-tiba gawai berbunyi, ada panggilan dari suami, “Raja
kangen Mama!” kata suami sambil memperlihatkan wajah Raja.
Sontak rasa lelah hilang lantaran bisa berkomunikasi dengan
keluarga. Sekitar sepuluh menitan saya berbagai rasa dengan Raja,
Citta, Rara, dan suami. Mereka adalah kekuatan dan ispirasi
hidupku. Apalagi melihat anak-anak dan suami yang senantiasa
sehat dan dalam lindungan Hyang Maha Agung.
Malam semakin larut, selesai berlatih opera saya tidak segera
tidur tetapi menyelesaikan tugas jurnal. Keinginan saya untuk tidak
menunda pekerjaan semakin kuat, hingga mampu mengalahkan
rasa kantuk dan capek. Selalu ingat pesan suami agar selalu
memetakan pekerjaan dan tidak menunda pekerjaan. Semangatku
untuk menyelesaikan tugas dan menulis cerita menyala. Ide
mengalir dengan cepatnya tak ada yang dapat membendungnya
sekalipun udara dingin, desiran angin, atau pun suara malam.
66 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Rustantiningsih │67
lagu syukur berkumandang
menggema di langit Melbourne
tangan kami bergandengan
dalam lingkaran
isak tangis tak tertahan
mengenang pahlawan
mengenang kampung halaman
tanah airku tercinta
(elang)
68 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
UPACARA HARI
PAHLAWAN DI AUSTRALIA
Kamis, 10 November 2016
Jika biasanya saya pagi hari pergi ke kampus jalan kaki, pagi
ini tidak. Pukul 08.30 peserta AAI dijemput mobil sedan. Kami akan
berangkat ke Museum Islam di Australia. Sesampainya di museum
peserta AAI tidak segera masuk karena memang belum buka. Masih
menunggu satu jam. Sambil menunggu kami gunakan untuk berfoto
dan bercanda dengan kawan-kawan.
Museum Islam di Australia ini banyak pengunjungnya.
Sebagian besar yang berkunjung justru bukan orang muslim.
Kebanyakan orang yang bukan muslim berpandangan keliru
tentang muslim. Namun setelah melihat museum dari dekat baru
mereka menyadari bahwa Islam itu tidak menakutkan.
Rustantiningsih │69
Museum ini sudah dibangun lama. Namun karena kurang
perhatian dari pemerintah sempat mengalami kegoncangan. Namun
sekarang berada di bawah pengawasan Museum Melbourne
keberadaannya semakin membaik.
Banyak koleksi dari museum ini yang mampu membukakan
mata masyarakat tentang keberadaan Islam. Koleksinya mulai dari
seni, pendidikan, arsitektur, musik, dan masih banyak lagi. Bahkan
beberapa koleksi yang ada adalah karya dari seniman nonmuslim.
Penjelasan pertama mulai dari lantai dasar. Di sini terdapat
lima pilar yang cukup tinggi. Bangunan ini menggambarkan rukun
Islam yang wajib dijalani oleh umat Islam. Di sisi dinding terdapat
tulisan nama-nama nabi dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Di
dinding-dinding lantai dasar terdapat makanan halal bagi umat
Islam. Makanan ini tidak disertifikasikan karena kalau
disertifikasikan pemerintah takut kalau dananya untuk teroris.
Aturan tentang jihad juga tertempel di dinding museum.
Sebenarnya yang dinamakan jihad itu bukan melawan orang lain
namun melawan diri sendiri. Jihad ini digambarkan dalam miniatur
dua orang yang sama persis sedang bertinju.
Banyak peradapan Islam yang sudah disumbangkan untuk
kesejahteraan manusia di antaranya: Yusuf tokoh Islam di Australia
yang telah menciptakan lagu, membuat video, dan membuka
Museum Islam di Australia. Penemuan tentang obat-obatan,
teknologi, perkebunan, dan masih banyak lagi. Sebagai contoh Abas
yang mempunyai keinginan untuk terbang. Ia menciptakan alat
untuk terbang namun sayang gagal karena tidak ada ekornya hanya
sayapnya saja.
Setelah mengelilingi museum kami dibawa ke satu ruangan. Di
tempat itu ada tokoh muda seorang Islam bernama Eaqbal Hassim.
Ia kelahiran Singapura sekarang sebagai warga negara Australia dan
menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi. Menurut Eeqbal
pendidikan di Singapura dan Australia sangat jauh berbeda. Jika di
Singapura pendidikan untuk menyelesaikan ujian. Sedangkan di
Australia pendidikan untuk meningkatkan kreativitas.
Kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia.
Manusia diciptakan berbeda tempat, kulit, dan peradaban. Sehingga
70 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
membentuk masyarakat yang multikultural. Kondisi yang
multikultural ini jika tidak didukung dengan rasa saling
menghormati dan menghargai akan mudah menimbulkan percikan
api perselisihan. Banyak negara-negara yang multikultural namun
dapat hidup berdampingan seperti halnya negara Indonesia.
Begitu juga dengan negara Australia. Australia merupakan
negara yang multikultural. Sehingga cara pendekatannya dengan
masyarakat menggunakan pendekatan interkultural. Perbedaan
yang ada apakah itu suku, rasa, agama, bukan menjadi penyebab
ketidakharmonisan jika setiap individu mau memahami, toleransi,
dan niat diri untuk senantiasa berempati dan menjalin kerukunan
satu sama lain.
Sepulang dari museum saya dan kawan-kawan naik mobil
sedan kembali menuju kantor pos untuk mengurus WWC (Working
With Children) yaitu surat izin untuk mengajar. Dua rombongan
mobil sedan termasuk mobil saya salah alamat. Saya bersama 7
kawan lainnya masuk ke Kantor POS besar. Padahal seharusnya
masuk Kantor POS yang lebih kecil di Bourke street. Sampai kami
harus dijemput Mr. Rob.
Proses di Kantor POS agak lama karena harus mengantre satu
per satu. Masih ada beberapa kawan yang belum bisa mengurus
surat karena beberapa persyaratan yang belum bisa dipenuhi.
Rencana hari Sabtu sebelum pergi ke kebun binatang akan diurus
lagi.
Sekembalinya dari Kantor POS peserta AAI tidak segera pulang.
Oleh Mr. Rob kami diajak ke Shrine Remembrance, yaitu semacam
taman pahlawan yang di dalamnya ada taman yang indah,
monumen yang di depannya terdapat nyala api yang tak pernah
padam. Ada juga bangunan megah yang sangat tinggi dengan jalan
yang berundak-undak menuju ke dalam gedung.
Di dalam gedung tua nan kokoh itu terdapat sebuah monumen
juga dengan prasasti yang terukir jelas tentang perjuangan untuk
mengakkhiri perang dunia kedua. Di sisi pintu masuk gedung
terdapat tangga yang sangat tinggi menuju atas gedung.
Pemandangan yang indah, unik, klasik kami abadikan dalam foto.
Rustantiningsih │71
Di beberapa tempat tampak persiapan-persiapan untuk
upacara besar 11 November 2016. Tepatnya pukul 11.11 akan
diadakan upacara peringatan berakhirnya perang dunia kedua.
Tampak dua podium disiapkan di depan gedung. Dan tampak
puluhan bunga poppy di tancapkan di taman.
Bunga poppy adalah bunga yang mengandung obat-obatan
candu. Setelah peperangan bersenjata yang dilakukan di ladang
poppy di Flanders, saat perang dunia ke-1, poppy dijadikan lambang
peringatan para prajurit yang gugur pada masa perang. Sehingga
pada Remembrance day banyak orang yang menyematkan bunga
poppy di bajunya.
Kunjungan berikutnya ke St. Paul Katedral. Katedral ini
termasuk yang terbesar di Melbourne. Didirikan pertama kali tahun
1852, dengan arsitekturnya yang bernama William Butterfield. Saat
berkunjung ke sana sedang ada kebaktian sehingga peserta AAI
yang beragama katolik bisa ikut beribadah.
Malam pukul 20.00 waktu Melbourne saya dengan teman-
teman berkumpul di halaman apartemen. Kami mau melakukan
upacara peringatan hari pahlawan. Malam ini upacara di kemas
dengan singkat namun khitmad. Saya selaku pembawa acara sudah
menyiapkan rangkaian upacara.
Selesai melaksanakan upacara kami menyanyikan lagu Hymne
Guru dilanjutkan dengan syukur dalam posisi berdiri melingkar
sambil bergandengan tangan. Rasa haru, syahdu, rindu akan tanah
air bercampur jadi satu. Isakan tangis yang tertahan kami rasakan
bersama. Kami bergandengan erat merasakan sebagai satu keluarga
yang akan selalu berbagi suka dan duka. Rasa persatuan dan
kesatuan, bangga sebagai bangsa Indonesia, menyatu dalam diri
kami, dan malam ini sebagai saksi walaupun kami di negeri orang,
Indonesia tanah airku tak kulupakan.
72 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Rustantiningsih │73
dua minggu sudah
aku bersekolah
di Melbourne yang indah
rasa rindu jenuh
hampir membunuhku
tapi
aku ingat
langkahku harus kuat
hatiku tak boleh berkarat
aku harus tetap semangat
(elang)
74 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
RINDU KELUARGA
Jumat, 11 November 2016
Tak terasa dua minggu sudah saya belajar di
Melbourne. Hari ini kuliah terakhir karena mulai Senin
nantisaya sudah harus magang dengan homestay. Dalam
benak saya beragam rasa memenuhinya ada rasa
khawatir, takut, jenuh, dan rindu keluarga. Rasa ini hampir
membunuh semangatku. Namun aku ingat di sini aku
tugas untuk belajar. Akhirnya aku semangati diriku. Aku
tidak boleh menyerah, homestay jangan menjadi halangan
namun jadikan tantangan yang harus dikalahkan.
Rustantiningsih │75
Aku pun masuk ruang kuliah dengan semangat yang masih
setengah. Materi terakhir adalah refleksi dua minggu ini berkaitan
dengan tiga hal materi pelatihan yaitu kepemimpinan, kurikulum,
dan keterlibatan siswa. Refleksi ini dikerjakan berpasangan di
kertas yang sudah disediakan oleh dosen, kemudian hasilnya
ditempel di dinding. Saya berpasangan dengan Pak Hamami. Hasil
refleksi kami tentang kepemimpinan berkaitan dengan hubungan
Australia dan Indonesia yaitu terciptanya hubungan kerjasama di
segala bidang salah satunya bidang pendidikan melalui AAI.
Kurikulum dengan pengajaran inkuiri berbasis pembelajaran
klinis yaitu titik beratnya pada siswa berpikir kritis. Pembelajaran
ini bertolak pada penemuan dengan tiga hal utama dari inkuiri
connect, extended, dan challenger. Keterlibatan siswa dalam
pembelajaran yaitu pembelajaran berpusat pada siswa sehingga
siswa yang aktif mencari dan menemukan, sedangkan guru sebagai
fasilitator.
Perkenalan selanjutnya dengan Dr. Janne Laukkala. Beliau
seorang supervisor dari AAI yang bertugas di Jakarta dan Australia.
Kegiatan semacam AAI ada 7 jenis kursus dari 20 bidang yang
berbeda tersebar dari 10 provinsi di Indonesia.
Kegiatan peserta AAI selanjutnya berfoto di depan banner AAI.
Hasil foto ini selanjutnya diunggah melalui facebook. Tujuannya
agar program seperti AAI bisa dikenal masyarakat luas.
Setelah acara foto selesai setiap pasang peserta AAI yang tadi
menulis refleksi memaparkan kesimpulan tentang hal-hal yang
sudah di dapat dari pelatihan ini. Banyak hal-hal yang sudah
diungkapkan oleh teman-teman di antaranya tentang pembelajaran
klinis, guru sebagai kurikulum berjalan, guru sebagai dokter, dan
pembelajaran yang kreatif. Saya sendiri mengungkapkan bahwa
pembelajaran di Australia itu berkesinambungan. Jika siswa tidak
tuntas untuk kompetensi tertentu anak tetap naik, dan tugas guru di
kelas atasnya untuk melanjutkan materi yang belum tuntas ini.
Sehingga siswa dan guru akan terus belajar hingga mencapai titip
pencapaian kompetensi.
Penyelenggara AAI menugasi kami untuk mengisi instrumen.
Lembar pertama berkaitan dengan penyelenggaraan pelatihan.
76 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Lembar kedua tentang pendapat peserta yang berkaitan dengan
materi yang diperoleh dan proyek yang direncanakan.
Materi selanjutnya tentang persiapan homestay. Peserta
dibekali tentang perjalanan menuju homestay. Transportasi yang
digunakan menuju homestay ada yang naik kereta, trem, dan ada
yang dijemput hostnya. Saya belum tahu apakah naik kereta sendiri
atau dijemput host saya.
Kami pun dibekali tentang tata cara, adat budaya masyarakat
Australia, bagaimana kami harus bersikap, apa yang harus kami
lakukan, dan apa yang tidak boleh kami lakukan. Kemudian kami
dibekali tentang kegiatan kami di sekolah. Pertama ke sekolah
semua warga sekolah akan mengucapkan selamat pagi. Kepala
sekolah akan menugasi staf untuk mengantar peserta AAI ke ruang
guru, lalu ke ruang kelas. Hari pertama peserta AAI melakukan
kegiatan observasi. Kemudian kami akan dikenalkan pada siswa.
Saat kami observasi di kelas hendaknya duduk di belakang dan
tidak menonjolkan diri. Sikap kita harus ramah kepada siapa saja.
Bekal selanjutnya kegiatan peserta AAI ketika di homestay.
Sebaiknya kita jujur dengan apa yang kita rasakan. Jika ditawari
makan ya segera makan. Jangan mengatakan tidak sementara perut
kita lapar. Segala peralatan rumah tangga hendaknya jika
menggunakan konfirmasi dengan tuan rumah. Kebiasaan yang
berbeda antara host dan peserta merupakan seni dalam hidup yang
akan kami lalui selama empat hari.
Malam ini pukul 11, aku belum tidur. Menanti anakku untuk
dapat berkomunikasi lewat line. Perbedaan waktu empat jam bukan
kendala bagi kami untuk berkomunikasi. Setiap malam saya
sempatkan untuk selalu berkomunikasi dengan keluarga. Banyak
hal yang kami perbincangkan dengan keluarga saat telepon seperti
kegiatan di sekolah, keadaan keluarga, PR atau tugasnya anak-anak
dari sekolah, atau sekadar bercanda. Komunikasi yang hanya
sebentar cukup untuk mengobati kerinduan saya pada keluarga.
Rustantiningsih │77
panas dingin
tak peduli
engkau tetap menyala
merah hijau
menghiasi sudut kota
alarmmu sebagai tanda
menyeberang di jalan raya
(elang)
78 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
ETHEK ETHEK ETHEK
DI MELBOURNE
Sabtu, 12 November 2016
Kegiatan pagi ini adalah kunjungan ke tempat wisata
Healesville Sanctury yaitu kebun binatang khusus hewan khas
Australia. Pagi ini kami persiapan untuk menuju tempat wisata
tersebut. Pukul 10.00 kami dijemput bus untuk berangkat menuju
kebun binatang. Sesampai di tempat wisata kami segera turun
karena harus mengikuti pemandu wisata yang sudah disiapkan oleh
pengelola wisata. Kami memasuki tempat wisata bersama-sama.
Pertama ke tempat koala. Koala yang kami lihat sedang berjalan di
atas pohon sambil makan daun-daunan, ada beberapa yang tidur.
Rustantiningsih │79
Pertunjukan yang menakjubkan adalah pertunjukan burung.
Berbagai jenis burung memperlihatkan kebolehannya. Mereka
datang satu per satu sesuai perintah sang pelatih. Banyak
keterampilan yang diperlihatkan burung ini seperti terbang
melintasi penonton, menyambar makanan yang diberikan
pelatihnya, membuka tulisan, berdansa, dan masih banyak lagi.
Hewan yang kami lihat yang sangat khas dan saya sendiri ingin
melihat dari dekat adalah platypus. Hewan ini hidup di air
paruhnya bersudu seperti bebek. Platypus termasuk hewan
mamalia tetapi bertelur. Di tempat hewan platypus juga ada atraksi
platypus. Beragam ular juga kami lihat. Dari ular yang paling kecil
hingga yang besar. Ular yang mematikan dan ular yang jinak.
Bahkan pengunjung bisa foto dengan memegang ular.
Hewan yang sangat khas di Australia adalah hewan kanguru.
Hewan ini berkantung dan jalannya dengan cara meloncat. Kami
melihat kanguru di kandang sedang berjemur dan tidur-tiduran.
Sayang tidak ada yang sedang jalan atau meloncat-loncat.
Waktu makan siang tiba. Kami makan bekal bersama. Di tempat
yang sangat asik, banyak burungnya. Kami sangat akrab dan
kelihatan sekali rasa kekeluargaannya. Saling berbagi makan dan
minuman. Persatuan kami kuat. Suka duka kami rasakan bersama.
Tak ada rasa iri dan dengki. Kami saling menolong teman yang
membutuhkan dan menguatkan teman yang patah semangat. Walau
kami berasal dari daerah yang berbeda namun kami merasa satu
saudara, satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air, Indonesia tercinta.
Selesai makan siang kami pulang. Walaupun badan merasa
capek tetapi kami puas dapat melihat hewan-hewan khas Australia.
Pengalaman ini sekaligus untuk materi mengajar guru ketika
menjelaskan ciri-ciri hewan maupun materi tentang Australia.
Waktu semakin sore, bus yang membawa kami bergerak
perlahan meninggalkan kebun binatang menyisakan kenangan
indah yang tak terlupakan. Matahari merangkak perlahan menuju
ujung barat. Kami pulang ke apartemen dengan membawa
pengalaman yang indah.
Kali ini kami turun di kampus. Kemudian berjalan kaki menuju
apartemen. Seperti biasa kami melalui tempat penyeberangan jalan
80 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
bagi pejalan kaki. Penyebarangan di Melbourne tidak menggunakan
zebra cross namun menggunakan lampu bergambar orang .
Jika lampu menyala hijau pejalan kaki boleh menyeberang
namun jika lampu menyala merah pejalan kaki tidak boleh
menyebarang. Dan yang unik ketika lampu berwarna hijau akan ada
bel yang berbunyi ethek ethek ethek. Alarm ini berguna bagi para
tuna netra. Memang di Negeri Kanguru ini penderita disabilitas
sangat diperhatikan.
Semua orang di Mebourne sangat patuh pada rambu-rambu
penyeberangan. Walau jalan sepi lampu penyeberangan berwarna
merah tetap saja tidak ada orang yang menerobos menyeberang.
Mereka tetap menunggu sampai lampu berwarna hijau. Karakter
tertib dan disiplin inilah yang patut kita tiru.
Rustantiningsih │81
dingin udara di Cestlemaine
mencubit kulit coklatku
kumasuki rumah mungil
di daerah terpencil
di tengah hutan
jauh dari pemukiman
telaga bening
di belakang rumah
menyambutku dingin
sedingin udara sore ini
sepi-sunyi-tertikam
suara binatang malam
aku lelap dalam ketakutan
(elang)
82 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
SEPERTI DI FILM MISTERI
Minggu, 13 November 2016
Minggu pagi sengaja saya bangun siang karena hari ini tidak
ada kegiatan selain berangkat ke homestay. Jadwal saya pukul 15.00
keluar dari apartemen. Selesai saya mandi pukul 08.00 petugas
apartemen memberi tahu kala saya harus chek out pukul 10.00. Oleh
karena itu saya harus mengungsi di kamar Bu Neneng staf dari
kementerian yang tidak ikut homestay.
Semua barang-barang saya pindahkan ke sana bersama teman-
teman. Beberapa saat kemudian ternyata Bu Neneng juga harus
chek out dulu baru chek in lagi. Setelah Bu Neneng chek in ternyata
kamarnya pindah sehingga kami harus memindahkan barang-
barang ke kamar yang baru. Sedangkan barang yang besar-besar
seperti koper dan tas kami titipkan di resepsionis.
Rustantiningsih │83
Belum selesai saya menata barang ada kabar peserta homestay
yang semula berangkat pukul 15.00 harus berangkat pukul 11.30.
Saya segera berkemas, beberapa taksi sudah siap di depan
apartemen dan mengantarkan kami ke stasiun kereta Southerm
Cross.
Setelah sampai stasiun baru tahu kalau ternyata terjadi
kesalahpahaman. Mestinya saya berangkat pukul 15.00. Akhirnya
saya dan teman-teman menunggu hingga jadwal kereta pukul 16.19
tiba. Sambil menunggu kareta kami bercanda, berjalan-jalan di
sekitar stasiun yang banyak terdapat supermarket dan pusat
kuliner.
Untuk mempermudah komunikasi dengan host saya kirim
email Mrs. Julie Holden tentang keberangkatan kami. Dan dia
membalas pukul 17.37 akan dijemput di stasiun. Saya bayangkan
pertemuan kami pasti mengejutkan karen belum pernah bertemu
hanya berkomunikasi lewat email.
Kereta yang kami tumpangi sudah siap. Saya satu homestay
dengan Bu Fitri dari Maluku dan ada dua teman lagi beda homestay
namun satu tujuan di Cestlemaine yaitu Pak Mahyudi dari
Palembang dan Bu Lilik dari Jawa Timur. Kami takut ketiduran
maka kami gunakan untuk ngobrol. Kami sama-sama belum tahu
tempatnya dan harus membaca stasiun yang kami singgahi karena
takut kalau kebablasan. Cestlemaine tempat kami homestay kurang
lebih 116 m dengan jarak tempuh 1,5 jam naik kereta. Saya
bayangkan tempatnya sepi banyak padang rumput dan peternakan.
Kereta tiba di Cestlemaine. Mrs. Julie dan Mrs. Carline
menyambut kami dengan bahasa Indonesia dengan ucapan selamat
sore. Host saya Mrs. Julie orangnya ramah dan enerjik, sayangnya
dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Saya sebenarnya mengharapkan
host saya bisa berbahasa Indonesia ternyata tidak, tetapi saya tetap
harus bisa menyesuaikan diri karena bahasa alat komunikasi yang
sangat penting mau tidak mau saya harus selalu menggunakan
bahasa Inggris.
Jalan menuju rumah host sepi, tidak ada kendaraan yang lewat.
Di kanan kiri jalan banyak pohon yang tinggi ternyata ini hutan.
Kami masuk ke dalam hutan yang sepi. Beberapa percakapan
84 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
sederhana kami lakukan di mobil. Walau kadang-kadang saya tidak
paham tetapi saya berusaha mendengarkan dan mengerti
pembicaraan ini. Mobil pun berhenti di sebuah rumah yang ada
kandang kudanya saya kira rumahnya ternyata tidak. Saya diberi
wortel sama Mrs. Julie untuk diberikan pada kuda kecil yang
bernama Mike. Kemudian mencabuti rumput dan memberikan pada
kuda kecil berwarna putih itu.
Selesai memberi makan perjalanan berlanjut. Sampailah di
tengah hutan yang ada satu bangunan rumah. Di sekitar rumah
banyak tumbuhan bunga. Rumah dari kayu dengan bentuk mungil
dan unik. Di belakang rumah ada kandang ayam kebun sayur dan
sebuah telaga. Kemudian kami diajak masuk ke dalam rumah dan
ditunjukkan ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan tempat tidur
kami berdua. Selesai mengenalkan isi rumah kami diajak ke kebun
untuk untuk memetik sayur dan mengambil telur di kandang ayam.
Walau hujan rintik-rintik dan udara terasa dingin tetapi saya
merasa senang.
Mrs. Julie menambah kayu bakar pada pemanas ruangan lalu
memasak makanan. Kami akan membantunya tetapi Mrs. Julie tidak
mengizinkan. Boleh membantu tetapi besok. Kalau sekarang kami
disuruh duduk untuk menghangatkan badan di depan pemanas
ruangan.
Makanan siap malam ini kami bertiga makan makanan khas
Australia. Menurut saya ada rasa yang aneh tetapi saya tetap makan.
Kalau tidak makan saya takut kalau nanti sakit. Sambil makan kami
mengobrol panjang lebar tentang keluarga, sekolah, budaya, dan
masih banyak lagi hingga larut malam dan kami baru tidur setelah
disuruh tidur.
Sungguh saya merasa seperti masuk dalam film produk luar
negeri dengan bahasa Inggris, menempati rumah klasik, dalam
hutan yang sunyi. Sempat timbul rasa takut jika terjadi hal-hal
seperti dalam film misteri. Apalagi dalam kamar tidur yang saya
tempati saya membaca judul buku cerita Misteri RIP. Pikiran saya
sudah ke mana-mana antara khawatir, takut, dan sedih. Ternyata
apa yang saya pikirkan juga dipikirkan oleh teman saya. Namun
kami tidak saling mengungkapkan dalam kata-kata, pikiran itu kami
pendam dalam hati masing-masing.
Rustantiningsih │85
Bunyi hewan malam terdengar sampai kamar tidur. Malam
terasa sepi, saya tidur dalam dekapan perasaan khawatir dan takut.
Namun saya berusaha mengalahkan perasaan itu. Hanya empat hari
tidak lama pasti saya bisa melewatinya. Hati kecilku membesarkan
pikiranku.
86 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Rustantiningsih │87
satu dua tiga empat lima
siswa Chewton melafal kata
berhitung sederhana
dalam bahasa Indonesia
aku bangga
mengajarinya
aku bangga bahasa Indonesia
di kenal orang manca
(elang)
88 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU