MENGAJAR BAHASA
INDONESIA
Senin, 14 November 2016
Pukul 05.00 kami sudah bangun. Setelah mandi kami
membantu Mrs. Julie menyiapkan sarapan dan bekal
untuk dibawa ke sekolah. Setelah siap kami makan
bersama lalu berangkat menuju sekolah pukul 07.00.
Sebelum sampai di sekolah kami mampir di
peternakan kuda. Kuda Mrs. Julie berwarna putih.
Kami bertiga memberi makan kuda. Makanan kuda
yang kami berikan biasanya rumput dan wortel.
Rustantiningsih │89
Perjalanan kami lanjutkan hingga sampai sekolah. Ternyata
kami datang paling awal. Mrs. Julie segera membuka semua pintu
ruangan. Kemudian dia mengajak kami keliling sekolah sambil
memberi penjelasan. Di sekolah Chewton terdapat tiga ruang kelas,
satu ruang guru, perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang
kesenian (musik, tari, lukis), dan toilet. Di luar terdapat lapangan
olahraga yang cukup luas, taman yang banyak tumbuhan bunga, dan
tempat bermain.
Sekolah ini termasuk sekolah kecil. Jumlah siswanya 64 dari
kelas 1 sampai kelas 6. Jumlah guru 5 orang dan seorang kepala
sekolah. Dalam pengajarannya kelas 1 menjadi satu ruang, kelas 2,
3, 4 menjadi satu ruang, dan kelas 5, 6 menjadi satu ruang. Kepala
sekolah ikut mengajar di kelas.
Menjelang pukul 09.00 para guru dan siswa mulai berdatangan.
Semua ramah ketika bertemu dengan kami. Kami ngobrol dan
berkenalan untuk beberapa saat. Sampai akhirnya bel sekolah
berbunyi.
Hari ini hari Senin, seperti biasanya sekolah ini mengadakan
upacara bendera. Upacara di Chewton ternyata sangat berbeda
dengan upacara bendera di Indonesia. Ketika semua sudah berbaris
di bawah tiga tiang bendera yang benderanya sudah naik, kepala
sekolah langsung membuka acara, kemudian menyanyikan lagu
kebangsaan Australia. Dilanjutkan perkenalan kami berdua. Acara
yang unik dalam upacara tersebut adanya perayaan ulang tahun.
Bagi siswa yang ulang tahun minggu ini disuruh ke depan dan
kemudian semua menyanyikan lagu Happy Birthday.
Usai upacara Mrs. Julie menugasi kami untuk mengikuti Mr.
Mask. Kami mengikuti Mr. Mask dan siswa kelas 4, 5, 6 menuju
lapangan. Walaupun sinar matahari terang menyinari kami ternyata
udara dingin tetap menusuk tulang. Siswa-siswa ini ternyata
bermain base ball. Saya dan Bu Fitri ikut bermain base ball dengan
para siswa, ternyata sangat mengasikkan. Kami memukul bola,
berlari, melempar bola, mengejar bola, pokoknya seru sekali.
Setelah satu jam kami bermain di lapangan Mr. Mask mengajak
para siswa masuk kelas. Pelajaran pagi ini tentang bilangan positif
dan negatif. Sebelum memulai pelajaran Mr. Mask membagikan
90 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
sertifikat bagi siswa yang sudah berhasil matematika dengan
problem solving. Sertifikat ini berasal dari kepala sekolah.
Kemudian Mr. Mask bertanya jawab sebentar dengan siswa tentang
bilangan positif dan negatif lalu memberi satu lembar soal tentang
bilangan positif dan negatif.
Siswa yang sudah selesai mengumpulkan tugas tersebut pada
guru kemudian diberi satu lembar soal lagi yang lebih kompleks dan
mengajak siswa untuk berpikir kritis. Siswa yang sudah selesai
mengumpulkan tugasnya pada guru kemudian mengambil laptop
satu anak satu laptop. Mereka segera membuka laptop situs manga
high ternyata yang dibuka adalah game yang berkaitan dengan
bilangan positif dan negatif. Saya perhatikan ada satu anak yang
laptopnya tidak bisa tersambung. Siswa sebelahnya membantu
dengan cekatan dan terlihat sangat terampil, walau akhirnya tidak
bisa tersambung. Baru setelah itu guru memberi tahu caranya dan
ternyata bisa tersambung.
Beberapa saat kemudian para siswa ada yang sudah selesai
dengan satu game kemudian bosan. Bagi yang bosan mereka bebas
melakukan aktivitas lain ada yang membaca dan ada yang bermain
kartu. Bahkan kami pun ikut terlibat bermain kartu. Kartu bird
ternyata bisa digunakan untuk materi penjumlahan, pembagian,
perkalian, dan pengurangan.
Pukul 11.00 waktu untuk istirahat. Para siswa, banyak yang
bermain. Sementara itu kami beserta para guru menikmati
minuman hangat dan kudapan biskuit, coklat, dan kue. Saat istirahat
Mrs. Julie memberitahu kami setelah istirahat kami diajak untuk
mengamati pembelajaran di kelas 1 yang diajar oleh Mrs. Julie
sendiri.
Bel tanda masuk berbunyi siswa kelas 1 berbaris di halaman.
Kemudian mereka masuk setelah ditunjuk oleh Mrs. Julie secara
bergilir. Kelas 1 anaknya kelihatan lucu-lucu. Sekolah ini memang
berasal dari berbagai negara ada yang berasal dari Cina, Jepang,
Itali, dan asli Australia.
Kegiatan pertama di kelas 1 mata pelajaran bahasa Inggris.
Mrs. Julie memulai kegiatan dengan bertanya tentang pelajaran
yang lalu. Siswa Chewton memang aktif. Banyak anak yang tunjuk
Rustantiningsih │91
jari dan mengemukakan pendapat dengan berani, jujur, dan nampak
rasa ingin tahunya tinggi.
Kemudian Mrs. Julie menugasi para siswa untuk membaca
buku cerita. Bagi siswa yang belum lancar membaca dibimbing Mrs.
Julie pelan-pelan agar bisa membaca. Di buku yang dibaca anak
untuk siswa kelas satu biasanya menggunakan huruf yang
berukuran besar. Jika guru menemukan huruf yang berukuran kecil
maka guru yang membacakan, demikian juga jika ada kalimat
langsung guru yang membacakan. Saat membaca siswa diberi
kebebasan untuk mengambil tempat ada yang tiduran, duduk di
bawah, atau duduk di kursi.
Setelah aktivitas membaca siswa mendengarkan cerita dari
Mrs. Julie tentang kehidupan serangga. Siswa tidak hanya
mendengarkan tetapi juga diberi kesempatan bertanya seluas-
luasnya dan guru dengan sabar menjawab semua pertanyaan siswa.
Kelas 1 selanjutnya diajar oleh Mrs. Klan. Kegiatan diawali
dengan berhitung dalam bahasa Inggris. Kemudian Mrs. Klan
menggambar taman. Siswa disuruh menyebutkan apa saja yang ada
di taman. Tugas selanjutnya siswa menggambar salah satu gambar
yang ada di taman. Kemudian siswa menuliskan cerita dari gambar
tersebut. Selesai menggambar anak-anak belajar membaca buku lagi
kemudian melihat film tentang serangga.
Pukul 13.30 semua siswa istirahat makan siang. Kami makan
bekal di ruang guru. Usai makan bincang-bincang sebentar sama
guru-guru kemudian masuk ruang kelas 4. Pelajaran kelas 4 bahasa
Indonesia.
Mr. Mask menyuruh kami untuk mengajari anak-anak bahasa
Indonesia. Mr. Mask menuliskan bahasa Inggris kemudian saya
menuliskan bahasa Indonesia, Bu Fitri mengajari melafalkannya.
Para siswa juga kami ajari melafalkan kata atau kalimat dalam
bahasa Indonesia. Acara terakhir kami tutup dengan menyanyi
bersama lagu kalau kau suka hati dalam bahasa Indonesia dan
bahasa Inggris. Hari ini aku bangga dengan bahasa Indonesia,
dikenal anak-anak manca negara. Mereka antusias untuk belajar
berbicara dalam bahasa Indonesia.
92 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Waktu pulang pun tiba, pukul 15.30 bel tanda pulang berbunyi.
Semua siswa bergegas keluar kelas. Mrs. Julie sibuk mengecek siswa
yang pulang naik bus. Setelah bus datang Mrs. Julie mengantar siswa
sampai ke dalam bus.
Aktivitas belum berakhir, bapak ibu guru harus breafing dulu di
ruang guru. Mereka membicarakan tentang kegiatan hari esok,
materi pelajaran, teknik penyampaian, dan menyiapkan perangkat
serta medianya. Breafing usai pukul 16.30 Semua guru baru pulang.
Saya, Bu Fitri, dan Mrs. Julie juga bergegas meninggalkan
sekolah. Sebelum pulang kami belanja dulu di supermarket. Kami
membeli keperluan untuk memasak sore ini. Usai belanja mampir
ke kandang kuda untuk memberi makan Mike kuda putih yang
masih kecil. Kemudian kami memberi makan tiga hewan mirip
kambing yang sudah digunduli bulunya, dilanjutkan ke kandang
kuda Bruse dan Bela dua kuda milik Mrs. Julie yang sangat besar
dengan warna coklat tua.
Kami bertiga masuk mobil lagi dan melanjutkan perjalanan
pulang. Sampai di homestay kami berdua masak masakan khas
Indonesia nasi putih, sayur sop, dan ayam goreng. Sementara itu
Mrs. Julie sedang mengerjakan tugas yang belum selesai di sekolah
dibawa ke rumah.
Masakan khas Indonesia pun matang. Kami bertiga makan
bersama rasanya nikmat sekali. Makan malam ini ditutup dengan
minum orange manggo jus dan puding es. Malam semakin larut
namun kami tidak segera tidur tetapi menyelesaikan jurnal hari ini.
Rustantiningsih │93
tegak berjalan
di antara rerumputan
menyusuri jalan tengah hutan
bruce, bela
si coklat yang menggoda
dengan pelana di atasnya
aku naik dengan gagahnya
seperti seorang joki
bruce bela kan ku kenang selalu
akan budi baikmu
(elang)
94 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
BELAJAR NAIK KUDA
Selasa, 15 November 2016
Pukul 05.00 aku sudah mandi. Hari pertama untuk diriku
masuk ke sekolah Chewton. Keperluan untuk ke sekolah sudah saya
siapkan. Untuk mengisi waktu luang saya jalan-jalan di sekitar
rumah keliling perkebunan. Kemudian menghangatkan menu
sarapan nasi, sop, dan ayam goreng. Begitu sarapan siap kami
makan bersama.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, kami
berangkat sekolah. Kami mampir ke kandang Bruce dan Bela untuk
memperbaiki kandang yang rusak. Kemudian mampir ke tempat
Mike untuk memberi makan rumput seperti biasanya.
Setengah delapan kami sampai di sekolah sambil menunggu
guru-guru dan siswa datang saya memanfaatkan waktu luang untuk
menulis jurnal harian. Kemudian keliling sekolah, bermain dengan
siswa, sambil menyapa mereka yang baru datang.
Rustantiningsih │95
Bel sekolah berbunyi para siswa berkumpul di halaman. Kepala
sekolah memberi pengumuman tentang kegiatan tiap-tiap kelas.
Selanjutnya siswa masuk kelas dengan tertib. Saya masuk di kelas
gabungan TK, 1, dan 2. Mrs. Emma guru kelas tersebut mengabsen
semua siswanya dengan cara menyebutkan namanya kemudian
siswa yang disebut menceritakan hewan kesukaannya.
Kali ini pelajaran matematika. Guru membawa kotak
matematika. Guru bertanya jawab dengan siswa perihal isi kotak
matematika. Kemudian guru memberikan isi kotak tersebut sebagai
tugas siswa. Dan tugas siswa tidak semuanya sama.
Siswa yang memperoleh kartu bergambar kumbang dan satu
dadu sampai angka 10. Mereka memainkan dengan cara melempar
dadu kemudian membuat titik sejumlah mata dadu yang keluar, lalu
melempar dadu sekali lagi, kemudian membuat titik sejumlah mata
dadu yang keluar. Setelah itu menuliskan angka lemparan dadu
pertama dan lemparan dadu kedua kemudian menjumlahnya.
Kartu kedua berisi 35 kotak, tiap kotak berisi angka yang
berbeda. Kartu ini di mainkan oleh dua orang. Setiap anak
melempar dadu dua kali, kemudian menjumlahkan hasilnya melihat
kartu kalau sudah ketemu diberi tanda silang. Dilanjutkan orang
kedua melakukan hal yang sama dengan orang pertama. Kalau
sudah ketemu jawabannya memberikan tanda lingkaran. Anak yang
banyak mendapat tanda itu yang menang.
Selain itu ada siswa yang mendapat kartu semacam domino
tentang penjumlahan. Ada juga yang bermain dengan kartu bilangan
bergambar kartun mereka harus mengurutkan dari yang kecil
hingga yang besar. Siswa yang lain menyusun kepingan bangun
datar untuk dibentuk benda-benda lain menurut imaginasinya.
Selesai bermain matematika mereka bermain melingkar.
Berhitung secara urut pada kelipatan tertentu mengatakan bus. Jika
ada siswa yang salah mereka harus duduk. Begitu seterusnya
sampai pada waktu tertentu siswa yang bertahan karena selalu
menjawab benar mendapat ucapan selamat.
Berhitung telah selesai mereka berdiri semua, memegang
kepala diam sejenak. Kemudian mendapat perintah untuk menuju
lapangan untuk bermain bola. Mereka dibagi dua kelompok. Satu
96 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
sebagai kelompok penyerang dan yang lainnya sebagai kelompok
pertahanan. Mereka bermain dengan penuh semangat.
Setelah istirahat saya dan siswa naik suttle bus untuk menuju
toko daging dan toko buah. Hari ini anak-anak akan belajar secara
kontekstual kedua tempat itu. Sebelum masuk ke kedua toko
tersebut guru bertanya dengan siswa apa yang diketahui tentang
dua toko tersebut. Baru kemudian mereka masuk toko daging.
Di toko daging siswa melihat berbagai kemasan daging dan
ikan. Salah satu petugas yang dibagian pemotongan hewan
mempersilakan kami masuk. Kemudian semua siswa bebas
bertanya apa saja yang ingin diketahui tentang daging. Kebetulan
saat itu ada dua jenis daging hewan yang belum dipotong-potong
yaitu babi dan kambing. Siswa di sini sangat kritis banyak
pertanyaan yang kadang diluar dugaan petugas daging. Namun
semuanya dijawab dengan penuh keramahan.
Kunjungan selanjutnya di toko buah. Kami diterima oleh salah
seorang petugas. Petugas tersebut menunjukkan tempat penurunan
buah, kemudian sampah buah yang tidak terpakai yang akan dibuat
kompos. Lalu kami juga ditunjukkan tempat pembuatan roti yang
berasal dari buah dan tempat pendinginan buah dan sayuran.
Mendadak konsentrasiku hilang, aku membaca WA dari anakku
Citta yang ada di Indonesia hari ini ia maju lomba siswa berprestasi
tingkat kota Semarang, mewakili SMP Negeri 1 Semarang. Anakku
minta doa restu. Saya membalas WA anakku dengan doa dan
motivasi sambil berlinangan air mata. Saya merasa sedih karena
tidak berada dekat anakku, disaat ia membutuhkan pendampingan.
Beruntung sekali saya memiliki anak-anak dan suami yang
senantiasa bekerjasama dan saling memotivasi ketika kami ikut
berbagai kompetisi. Berkali-kali doa saya panjatkan agar saya dan
Citta sama-sama diberi kekuatan dari-Nya.
Kami kembali lagi ke sekolah saat istirahat makan siang. Usai
makan siang kami masuk ke ruang kelas VI untuk mengajar bahasa
Indonesia. Materi bahasa Indonesia yang kami ajarkan tentang
ucapan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam,
terima kasih, berhitung sampai angka sepuluh, dan menyanyi dalam
bahasa Indonesia.
Rustantiningsih │97
Sore ini kami pulang pukul 16.00 setelah breafing sebentar.
Perjalanan pulang kali ini terasa cepat. Sampai pekarangan rumah
kami tidak turun masuk rumah ternyata Mrs. Julie mengambil
pelana dan helm peralatan untuk naik kuda. Kemudian kami menuju
kandang Bruce dan Bela. Mrs. Julie memasang pelana pada kuda
yang bernama Bruce.
Selesai memasang pelana akhirnya saya yang harus naik
pertama kali. Mau naik kuda agak sulit sebab Bruce kuda yang
sangat besar dan tinggi. Saya pun naik dengan susah payah.
Perjalanan saya nikmati dengan naik kuda. Di tengah perjalanan
saya bergantian naik kuda dengan Bu Fitri sementara Mrs. Julie
menuntun kuda dan mengendalikan kuda yang kami naiki. Bruce
dan Bela ternyata sangat menurut dengan perkataan Mrs. Julie. Ini
pengalaman yang luar biasa bagi kami naik kuda di negara kanguru.
Acara sore ini kami lanjutkan di homestay dengan berkebun.
Kami menyirami bunga-bunga dan aneka tanaman. Selesai
berkebun kami bergegas menuju rumah makan Malaysia. Di sini
ternyata kami makan malam bersama teman kami Pak Mahyudi dan
Bu Lilik yang homestay di Catlemaine Primary School bersama host
dan gurunya. Pertemuan ini sangat menggembirakan kami. Semua
kelihatan akrab, hangat, dan saling bercerita pengalaman masing-
masing. Malam ini sepulang dari makan malam saya tidak segera
tidur tetapi mempersiapkan perlengkapan yang digunakan untuk
mengajar tari hari esok. Pukul 11.30 mata saya baru terpejam. Saya
pun tidur dalam dekapan dinginnya udara malam.
98 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Rustantiningsih │99
anakku
aku ingin mendekapmu
memeluk erat
mengucapkan selamat
tapi jarak waktu
membuatku tak mampu
hanya satu
doaku selalu untukmu
tetaplah bersahaja
dalam hidupmu
(elang)
100 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
KABAR GEMBIRA
DARI ANAKKU
Rabu, 16 November 2016
Saya bangun agak kesiangan. Pukul 05.30 baru bangun.
Bergegas saya menuju kamar mandi. Kemudian menyiapkan
perlengkapan ke sekolah. Setelah itu kami bertiga sarapan pagi
dengan teh hangat, sereal, dan cheescake. Pukul 07.00 kami
berangkat sekolah. Seperti biasa mampir ke kandang Mike kuda
kecil kesayangan Mrs. Julie untuk memberi makan rumput. Sampai
di sekolah kami disambut dengan mentari pagi yang hangat.
Istimewanya pagi ini kami disambut oleh tiga kanguru yang berdiri
di dekat hutan sekitar sekolah. Saya lihat dua kanguru duduk dan
yang satu meloncat-loncat. Rasa gembira menarik kami untuk
mendekati dan mengabadikan gambarnya, namun sayang kanguru
itu terus lari menjauh.
Rustantiningsih │101
Udara pagi ini tidak sedingin kemarin. Kami berdiri di teras
menyambut siswa yang datang tanpa memakai jaket lagi. Kami
sambut dengan hangat, sehangat mentari pagi hari ini.
Pukul 09.00 siswa berbaris di halaman untuk mendengarkan
pengarahan dari Mrs. Julie. Kami diberi kesempatan untuk
mengucapkan selamat pagi dan apa kabar dengan siswa, kemudian
siswa menjawab dengan ucapan dalam bahasa Indonesia.
Pagi ini kami mendapat mengikuti Mr. Mask mengajar di
lapangan. Permainan pagi ini tentang melempar tangkap piring dan
ring. Kemudian kami diajak Mrs. Laklan untuk membantunya
mengajar di kelas 1. Kami membantu siswa yang kesulitan belajar
seperti belum bisa membaca, belum bisa menulis huruf dengan baik,
belum bisa menghitung, dan sebagainya. Siswa belajar dengan
beragam kegiatan ada yang mengerjakan soal, belajar angka dengan
membuat taman dari plastisin, ada juga belajar dengan laptop.
Pembelajaran dengan ICT ini, guru memberi tugas swafoto dengan
laptop, kemudian menyusun paragraf yang dia lihat di kamera
laptop dari level 1 sampai 10. Ternyata mereka terampil
mengerjakan tugas dengan ICT.
Setelah istirahat siang siswa kelas satu jadwalnya literasi.
Setiap siswa membawa satu box buku untuk dipilih dan dibaca.
Semua siswa kelas 1 membaca di halaman, ada yang duduk, tiduran,
dan membaca dengan teman.
Waktu membaca selesai. Mrs. Nicole membawa satu buku
untuk dibacakan ceritanya dan perlihatkan gambarnya. Setelah itu
semua siswa kembali ke kelas untuk menulis cerita yang didengar.
Buku yang diceritakan guru merupakan buku yang wajib digunakan
guru untuk mengambil penilaian.
Dalam proses menulis beragam karakter siswa ditemukan. Ada
siswa yang cepat mengerjakan tugas, ada beberapa yang perlu
bimbingan, dan ada juga yang tidak mau menulis. Namun guru-guru
tetap sabar melayani mereka.
Satu jam sebelum istirahat makan siang saya mengerjakan
jurnal di laptop. Kemudian kami makan siang dan menyiapkan
peralatan mengajar tari. Waktu mengajar tiba. Siswa yang kami ajar
kelas 1. Mereka belajar tari menthok-menthok khas dari Jawa
102 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Tengah. Semua siswa kelihatan gembira dan antusias mengikuti
pelajaran ini hingga usai. Bahkan guru kelasnya Mrs. Nicole ikut
menari juga.
Hari ini pukul 16.00 Mrs. Julie sudah mengajak kami pulang.
Ternyata kami diajak ke Mount Alexander dengan ketinggian 746 m.
Kami melihat batu-batu besar yang sangat banyak. Pemandangan
lembah yang terhampar luas. Udara yang sejuk, di atas bukit yang
sunyi dan tenang.
Setelah kami puas memandang ciptaan Tuhan yang luar biasa
ini, kami pulang menuju rumah orang tua host kami. Kita bertemu
dengan oma yang sudah berusia 85 tahun tetapi masih sehat dan
energi. Sore itu oma sedang berjalan-jalan menikmati sinar
matahari. Setelah bertegur sapa dan sedikit bercanda kami
melanjutkan perjalanan. Tujuan kami belanja di supermarket.
Selesai belanja kami pulang. Kami berdua memasak sementara host
kami menyirami tanaman lalu melanjutkan pekerjaan di depan
laptop.
Ketika memasak saya mengambil HP, saya buka Line. Ternyata
ada pesan dari anakku Citta yang bersekolah di SMP Neger 1
Semarang. Dia memberi kabar kalau lomba siswa berprestasi
mendapat juara 1 tingkat kota Semarang. Saya tak kuasa menahan
air mata haru. Berulang kali saya mengucapkan astungkara.
Kekuatan dari Hyang Maha Kuasa telah memudahkan langkah
anakku dalam mengikuti lomba hingga mendapatkan hasil yang
menggembirakan. Saya berusaha menyembunyikan tangisanku.
Kutahan dengan mengambil napas dalam. Kutenangkan hatiku
sambil menyeka air mataku. Setelah saya mampu menguasai
keadaan, saya melanjutkan kegiatan memasak.
Sambil memasak, pikiranku membayangkan alangkah senang
dan bahagianya seandainya berada di tengah-tengah anakku Citta
saat memperoleh kejuaraan. Citta adalah anak kedua. Nama
lengkapnya Yonna Aparcitta, dan dia sudah beberapa kali meraih
kejuaraan dalam lomba tingkat Kota, Provinsi dan Nasional. Anakku
pertama Harum Sunya Iswara, yang sering dipanggil Rara. Dia juga
pernah meraih kejuaraan dari tingkat Kota, Provinsi, dan Nasioal.
Kedua anak perempuanku memiliki kegemaran menari. Anakku
ketiga Rakyan Maharaja Krishna, sering dipanggil Raja. Saat ini
Rustantiningsih │103
sudah memiliki 11 piala dari beberapa kejuaraan khususnya
menggambar. Di ulang tahun yang ke-7, anakku Raja sudah
menerbitkan buku hariannya yang ia tulis lebih dari satu tahun.
Buku itu berjudul “Namaku Raja”.
Masakan kami pun sudah siap. Makan malam ini istimewa kami
masak nasi goreng dan membuat bubur ayam. Kami makan dengan
lahapnya. Malam semakin larut perbincangan kami semakin ramai.
Hingga akhirnya kami tidur. Menunggu malam berakhir dan kami
akan kembali ke Melbourne.
104 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Rustantiningsih │105
dua puluh satu hari
aku mencari
ilmu nan tinggi
di negeri ini
terik mentari
tak menghalangi
lautan luas kusebarangi
oh, Ausie
Indonesiaku telah menanti
(elang)
106 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
BLANGKON WASIAT
Kamis, 17 November 2016
Hatiku senang bercampur sedih karena hari ini akan pulang
dari homestay. Sarapan pagi ini istimewa. Kami makan di taman
belakang rumah. Selesai makan kami melihat kanguru jarak 50
meter dari tempat kami duduk. Ketika kami berjalan menuju
kanguru, hewan lucu ini langsung lari menjauh.
Waktu sudah pukul tujuh lebih kami segera masuk ke mobil
dan menuju kandang kuda untuk memberi makan. Tak lupa kami
ucapkan selamat tinggal pada mike, Bruce, dan Bela. Rasanya kami
sudah dekat dengannya. Mobil terus bergerak, di sebuah taman
yang kita lewat setiap hari kita berhenti. Kita menikmati indahnya
bunga, sejuknya udara pagi, beningnya air telaga, dan burung-
burung beterbangan bebas berkelana. Keindahan taman ini
bagaikan magnet bagi kami.
Rustantiningsih │107
Matahari semakin meninggi perjalanan kami lanjutkan menuju
sekolah. Pagi ini kami berdua mendapat jadwal untuk mengajar
menari kelas 1-6. Berbagai persiapan kami lakukan.
Begitu siswa masuk kelas kami segera menuju kelas tinggi
untuk mengajar menari. Para siswa antusias untuk mengikuti
gerakan kami. Hari ini hari terakhir kami mengajar di Chewton
Primary School. Siswa senang belajar menari. Gerakan demi
gerakan mereka ikuti. Ternyata mereka merasa senang dan ingin
terus menari.
Beberapa siswa mendekati kami. Mereka ingin kami mengajar
lagi. Ada yang selalu menirukan yel-yel kami. Ada juga yang selalu
bertanya tentang bahasa Indonesia. Bahkan ada yang memeluk erat
saya seakan tidak ingin berpisah.
Waktu untuk pamitan dengan guru dan siswa tiba. Kami
berdua memberikan cinderamata. Saya memberi selendang dan
jamang kepala untuk menari menthok-menthok, sedang Bu Fitri
memberi hiasan dinding dari kerang. Sebaliknya sekolah memberi
kami tas dan seragam dan sal lengkap dengan topinya.
Siang ini pukul 14.30 kami di antar staf sekolahan ke stasiun
kereta. Kami merasa senang akan kembali ke Melbourne, bertemu
dengan kawan-kawan. Berbagi cerita tentang homestay masing-
masing. Sesampainya di Melbourne kami mempersiapkan diri untuk
mengikuti acara jamuan makan malam di kampus. Tepatnya di
University House. Acara malam ini dihadiri oleh para dosen, host,
dan konsulat Jendral Indonesia yaitu Ibu Dewi Savitri Wahab.
Acara sangat meriah karena peserta Australia Award Indonesia
membawakan opera dengan judul Blangkon Wasiat. Opera blangkon
wasiat sangat menarik perhatian para tamu undangan. Blangkon
wasiat merupakan sebuah filosofi. Pencarian blangkon selama 21
hari mengandung makna kami peserta AAI angkatan I mencari ilmu
di negeri kanguru selama 21 hari. Berbagai tarian, bahasa, dan lagu
daerah diramu menjadi satu dalam opera yang lucu. Saya bangga
karya kami dapat dinikmati para tamu khususnya warga Australia.
108 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Rustantiningsih │109
kuinjakkan kembali
kakiku di kota ini
tempat aku mengabdi
keluargaku
kotaku
negeriku
darmaku untukmu
(elang)
110 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
AKU KEMBALI PADAMU
Jumat, 18 November 2016
Kegiatan di kampus kali ini agak santai. Materi kuliah sudah
selesai. Hari ini hanya kegiatan refleksi dengan para peserta. Kali ini
Mrs. Bonnie yang memandu kegiatan refleksi. Setiap peserta
homestay mendapat kesempatan dua menit untuk memberikan
kesan dan pesannya. Semua peserta sangat tertarik dengan cerita
teman-teman tentang pengalaman di homestay. Cerita mereka ada
yang menyenangkan, mengharukan atau bahkan menyedihkan.
Banyak pelajaran yang kami dapat dari homestay. Pelajaran
tersebut di antaranya harus mandiri, berani berbicara bahasa
Inggris, harus menjadi pengamat yang baik, berjiwa sosial, mau
mengajar dengan sepenuh hati, dan masih banyak lagi. Semua itu
menempa diri peserta AAI untuk menjadi insan pendidik yang
mendidik dengan sepenuh hati.
Rustantiningsih │111
Kegiatan selanjutnya kami masuk ke ruang kegiatan peserta
AAI angkatan kedua. Di ruang ini kami berbagi pengalaman dengan
mereka tentang suka duka mengikuti kegiatan homestay.
Kuncinya sebagai peserta homestay adalah harus mau menjadi
botol kosong supaya semua ilmu yang diperoleh bisa ditangkap
semua. Jika terjadi culture shock satu sama lain harus mau saling
memahami. Dengan saling memahami dan komunikasi yang baik
akan membangun hubungan yang harmonis.
Aktivitas terakhir adalah pembagian piagam. Saya sangat
gembira mendapat piagan studi singkat ini. Dan piagam ini sangat
bermanfaat untuk karier saya. Dan yang lebih penting lagi semoga
semua ilmu yang kami dapatkan akan bermanfaat untuk sesama.
Semalam hampir tidak bisa tidur mengingat pagi ini saya harus
berkemas. Semua peserta AAI angkatan pertama akan bertolak ke
Sydney. Wajah kami cerah ceria, rasa penat, sedih, penuh kerinduan
seakan sirna. Penerbangan dari Melbourne pagi sampai di Sydney
sudah siang hari. Tidak ada agenda penting kecuali jalan-jalan
menuju Darling Harbour, Jembatan Harbour, dan Opera House.
Sayang kami tidak bisa masuk melihat opera karena harga tiketnya
yang sangat mahal.
Walaupun hanya menikmati pemandangan sekitar Opera
House tetapi saya puas. Sebenarnya saya ingin melihat pesta
kembang api tetapi waktunya terlalu malam sementara besok pagi
harus terbang ke Indonesia. Akhirnya kami putuskan untuk pulang
ke hotel.
Pagi harinya kami menuju bandara Sydney. Mr. Rob mengantar
kami sampai bandara. Perpisahan peserta AAI dengan Mr. Rob
sangat mengharukan. Mr. Rob memeluk kami satu persatu sambil
mengucapkan selamat jalan.
Akhirnya pesawat berangkat dari Sydney menuju Jakarta.
Perjalanan 7 jam terasa lama. Saya merasa capek dan ngantuk
sepanjang perjalanan saya gunakan untuk tidur. Ketika mendekati
Jakarta saya bangun dan menunggu pesawat mendarat. Begitu roda
pesawat menyentuhkan bumi tercinta rasanya hati ini lega.
112 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Kuhirup kembali udara tanah air. Kami tiba di Jakarta sudah
sore. Malam baru sampai di hotel. Esok pagi saya akan meneruskan
penerbangan ke Semarang. Malam terasa panjang beberapa tugas
harus saya selesaikan malam ini. Tetapi badan sudah tidak kuat lagi
untuk berpikir dan bekerja saya putuskan untuk tidur saja.
Setengah tiga saya sudah bangun ingin rasanya segera pulang.
Walau penerbangan sekitar pukul 08.00 tetapi saya bertolak dari
hotel pukul setengah lima, saya takut kalau jalanan macet. Sekitar
tiga jam saya menunggu penerbangan menuju Semarang. Menunggu
tiga jam rasanya lama sekali. Berkali-kali saya melihat jam di gawai
rasanya seperti tidak berubah-ubah. Perasaan ingin segera bertemu
dengan keluarga seakan tidak terbendung lagi.
Waktu terus berjalan, saatnya pulang ke Semarang. Pesawat
bergerak perlahan meninggalkan bandara Soekarno Hatta. Waktu
penerbangan sekitar satu jam. Di Bandara Ahmad Yani Semarang,
suami dan kedua anakku Rara dan Raja telah menjemputku.
Sementara anakku Citta masuk sekolah. Kupeluk anakku Raja yang
baru kelas 1 SD dengan erat, sementara suami dan anakku Rara juga
mendekapku erat.
Kupandangi dengan seksama anakku Raja, ada rasa kangen tak
terhingga di antara kami semua. Rasa capek dan lelah hilang
seketika saat mereka hadir bersamaku. Peluk haru dari anak-
anakku mewarnai pertemuan kami. Selamat pagi keluargaku,
selamat pagi kota Semarang, aku kembali kepadamu.
Rustantiningsih │113
FOTO AKTIVITAS:
Persiapan ke Australia di Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan
114 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Kerja kelompok dalam perkuliahan
Mengajar menari siswa Chewton Primary School
Rustantiningsih │115
Berfoto bersama setelah bermain opera Blangkon Wasiat
Menerima sertifikat usai studi singkat di Universitas
Melbourne
116 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
Biodata Penulis
Rustantiningsih, lahir di Karanganyar,
25 Oktober 1975. Menempuh pendidikan
di TK Pertiwi Sumberejo (1982), SD
Tawangsari 2 Kerjo (1988), SMPN 2 Kerjo
(1991), SMAN 1 Kerjo (1991), D2 PGSD
IKIP Negeri Semarang (1997), S1 PGSD
Universitas Negeri Semarang (2008), dan
menyelesaikan studi S-2 Pendidikan
Dasar di Universitas Negeri Semarang
(2012). Mengawali kariernya sebagai
pegawai negeri sipil (guru) di SDN
Anjasmoro (sekarang SDN Tawang Mas
01) Semarang (2005), dan tahun 2018 memperoleh kepercayaan
sebagai Kepala SDN Kembangsari 01 Semarang. Di sela-sela
aktivitasnya sebagai pengajar, ibu rumah tangga, dan beroganisasi,
ibu yang rajin membaca ini, masih menyempatkan menulis karya
ilmiah sebagai wujud pengembangan profesi.
Rustantiningsih │117
Menikah dengan Trimo tahun 1995 dikarunia tiga orang buah
hati, yakni Harum Sunya Iswara (1997), Yonna Aparacitta (2002),
dan Rakyan Maharaja Krishna (2009). Kelihaiannya menulis
mendapat dukungan dari sang suami yang juga aktif di dunia
kepenulisan.
Beberapa karya yang sudah diterbitkan: Buku Ajar Bahasa
Indonesia Kelas VI (Penerbit Pemkot Semarang, 2006), Buku Bina
IPS Kelas III, V, VI (Penerbit Gajah Mada Jakarta 2008), Buku
Senandung Belajar IPS (2012), Novel Langit Masih Cerah Candra
(Penerbit Iranti Mitra Utama Surabaya 2012), Novel Mutiara
Menggandeng Awan (Penerbit Pelita Hati Surabaya 2012),
Kumpulan Cerita Pendek Penantian Rara (Penerbit Dapur Buku
Jakarta 2014), Buku Pelajaran Suluh Basa Jawa untuk SD/MI Kelas I-
VI (Penerbit Duta Bandung 2016), Novel Terima Kasih Itu Tidak
Mahal (Penerbit Sint Publishing Semarang 2018), Kumpulan Puisi
Merangkai Angin (Penerbit Perahu Litera Lampung 2018), dan
Tulisan Ilmiah Popuer untuk Kenaikan Pangkat (Penerbit Sint
Publishing Semarang, 2019).
Berbagai kejuaraan di bidang karya ilmiah pernah ditorehkan
dan pada tahun 2009, ibu yang aktif di berbagai organisasi ini
berhasil meraih predikat juara I Guru Berpestasi SD Tingkat
Nasional (2009), juara I Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat
Nasional (2014), dan juara II Lomba Kreativitas Guru Tingkat
Nasional (2015), juara I Lomba artikel (feature) Tingkat Nasional
(2017), dan juara I Lomba Keluarga Sukhinah Teladan Tingkat
Nasional (2018). Pernah mendapat kesempatan studi ke Perancis
(2015) dan Australia (2016). Saat ini tinggal di rumah sederhana di
Jalan Kenconowungu Tengah III/19 Kota Semarang dan aktif
membantu Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan dalam kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
dan Literasi (elang).
118 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU
PERJALANAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN/LITERASI
Budaya membaca dan menulis di negara Indonesia masih harus
digalakkan. Salah satunya dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Oleh sebab itu di sekolah-sekolah gerakan literasi mulai
ditumbuhkan. Penulis yang bekerja di bidang pendidikan
sebenarnya sudah lama melakukan gerakan literasi jauh sebelum
pemerintah mencanangkan GLS.
Sejak penulis diangkat menjadi guru PNS tahun 2005 di SDN
Anjasmoro Semarang, berkomitmen pada diri sendiri untuk
menghasilkan karya berupa tulisan, minimal 1 karya dalam 1 tahun.
Karya tersebut berupa buku novel anak, hasil penelitian, artikel,
kumpulan puisi, dan cerita pendek. Hal ini didorong oleh hobi,
tuntutan pekerjaan, dan lingkungan keluarga yang sangat literat.
Penulis juga membiasakan mengabadikan karya siswa untuk
diterbitkan di koran, majalah atau diterbitkan menjadi buku. Karya
siswa yang sudah ada berupa kumpulan puisi, cerita pendek, dan
cerita pengalaman sehari-hari. Karya-karya tersebut di display
Rustantiningsih │119
dalam ragam kegiatan sekolah seperti di perpustakaan, majalah
dinding, serta pameran buku dan hasil karya siswa.
Kebiasaan tersebut berjalan hingga sekarang ketika penulis
beralih tugas sebagai kepala sekolah di SDN Kembangsari 01
Semarang. Penulis juga membiasakan diri untuk menerbitkan hasil
karya siswa dan guru minimal 1 tahun 1 karya. Penulis
memprogramkan kegiatan-kegiatan literasi seperti festival literasi,
lomba kuis dari hasil mendengarkan cerita atau membaca, siswa
tampil untuk bercerita dan membaca puisi.
Penulis menumbuhkan budaya membaca dan menulis tidak
hanya di sekolah tetapi juga di keluarga. Perpustakaan keluarga
yang berisi ribuan buku menjadi sumber yang selalu menginspirasi
untuk berkarya. Kegemaran penulis membaca dan menulis karya
kini diikuti oleh anak-anak. Hal ini terbukti dari ratusan buku
koleksi anak-anak yang selalu dilahap habis. Bahkan anak yang
ketiga mempunyai kebiasaan menerbitkan buku di hari ulang
tahunnya. Walaupun masih kelas III SD sudah ada 3 buku yang
diterbitkan yaitu kumpulan puisi dan cerita pengalaman sehari-hari.
Guru yang literat akan menghasilkan siswa yang literat. Orang
tua yang literat akan melahirkan anak yang literat.
120 │ BELAJAR DI NEGERI KANGURU