The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KARYA RUSTANTININGSIH, S.Pd., M.Pd.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by junymona, 2021-09-20 09:46:09

SENYUM REMBULAN

KARYA RUSTANTININGSIH, S.Pd., M.Pd.

Keywords: CERPEN,KUMPULAN CERPEN,CERPEN ANAK,CERITA PENDEK

Rustantiningsih

RESMENBYUULAMN

Editor:
Trie Elang Sutajaya

SENYUM REMBULAN

Rustantiningsih
Editor: Trie Elang Sutajaya

ii

iii

Senyum Rembulan

Penulis : Rustantiningsih
: 978-623-6620-41-0
ISBN : Trie Elang Sutajaya
Editor : Tim Qahar Publisher
Penata letak : Lavenda Heparvia Nurvi
Desain Sampul

Hak Cipta 2020, Pada Penulis
Isi diluar tanggung jawab percetakan

Copyright © 2020 by Qahar Publisher
viii, 75 hlm, 14,8 cm x 21 cm

Cetakan Pertama, September 2020

All Right Reserved

Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini

tanpa izin tertulis dari Penerbit.

QAHAR PUBLISHER
Jl. Randusari Pos III/390A Kota Semarang

www.qaharpublisher.com
E-mail: [email protected]

iv

PRAKATA

Puji astuti saya haturkan kepada Yang Maha Agung, atas
anugerah-Nya saya diberi kelancaran dalam menulis buku cerita
dengan judul ”Senyum Rembulan”. Cerita ini tentang kisah
hidup seorang anak yang baik hati namun memiliki nasib yang
kurang beruntung, sehingga harus hidup dengan budenya.
Banyak masalah-masalah yang harus ia hadapi tetapi dapat
dihadapi dengan penuh ketegaran.

Buku ini dikemas dengan bahasa yang ringan mudah
dipahami untuk anak-anak SD khususnya kelas tinggi. Ceritanya
yang mengalir dan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari
sarat dengan nilai-nilai karakter yang dapat diteladani. Semoga
buku ini menginspirasi bagi para pembacanya.

Terima kasih kepada semua yang telah membantu
terbitnya buku ini, keluarga tercinta yang menginspirasi,
Korsatpen Semarang Tengah (Bapak Ponimin, S.Pd., M.Si.),
Pengawas Dabin 2 (Bapak Daryana, M.Pd.Kons.) yang
memberikan bimbingan, dan Pak Didiek MS yang telah
memberikan saran dan apresiasinya. Kritik dan saran demi
kesempurnaan buku ini sangat saya harapkan. Semoga
kehadiran buku ini mampu memberikan semangat untuk
berkarya.

Penulis

v

SINOPSIS CERITA

Seorang gadis mungil yang lincah dan cerdas,
Rembulan namanya, dibesarkan oleh seorang ibu yang
bernama Bu Samudra. Kegemaran Rembulan dalam bidang
seni tari, puisi, dan pramuka telah membawanya menjadi
anak yang berprestasi. Itu semua berkat dorongan dan kasih
sayang yang telah diberikah oleh ibunya.

Beberapa masalah kecil yang dihadapi Rembulan
dengan sahabatnya dapat diselesaikan dengan baik. Begitu
juga saat menghadapi ibunya yang sedang sakit. Rembulan
selalu setia menemani ibunya di rumah sakit.

Namun ketika ia harus menerima kenyataan, rahasia
yang diungkapkan oleh ibunya, Rembulan tidak kuasa
menghadapinya. Ia lari dari rumah, pergi tak tentu arah.
Beruntung ada Bu Lintang, guru Rembulan yang menemukan
Rembulan. Saat itu, pikiran Rembulan sedang kacau.

Bu Lintang menyadarkan Rembulan. Ia mampu
membujuk dan memberi pengertian kepada Rembulan untuk
kembali kepada ibunya. Rembulan pun kembali ke rumah di
antar Bu Lintang.

Pertemuan Rembulan dan Bu Samudra sangat
mengharukan. Keduanya merasa saling bersalah. Mereka
berpelukan dengan diwarnai derai air mata. Bagi Bu
Samudra, Rembulan adalah tumpuan hidupnya, curahan
kasih sayang. Ia tidak ingin kehilangan gadis yang baik hati itu
untuk kedua kalinya.
vi

DAFTAR ISI

Prakata.................................................................................... v

Sinopsis Cerita........................................................................... vi

Daftar Isi................................................................................. vii
Kegembiraan Rembulan ......................................................... 1
Pentas Rembulan.................................................................... 8
Kegundahan Rembulan .......................................................... 15
Sahabat Rembulan.................................................................. 22
Kemenangan Rembulan ......................................................... 29
Kerinduan Rembulan ............................................................. 36
Ibu Rembulan......................................................................... 44
Tangis Rembulan.................................................................... 51
Kembalinya Rembulan ........................................................... 60
Senyum Rembulan ................................................................. 66
Profil Penulis ......................................................................... 73

vii

viii

Kegembiraan Rembulan

Rembulan sibuk memakai sepatu. Rambutnya yang
panjang dibiarkan terurai. Bando berwarna biru menempel
cantik di rambutnya yang hitam legam, serasi dengan kaos
yang dipakainya.
“Rembulan, cepat sedikit, dong!” panggil Bu Samudra, ibunya
Rembulan.
“Ya, Bu sebentar, Rembulan baru memakai sepatu,” sahut
Rembulan sambil bergegas keluar menuju garasi.
“Bu, gimana penampilan Rembulan sore ini? Cantik, kan?”
tanya Rembulan manja sembari membuka pintu mobil.
“Jelas dong siapa dulu ibunya?” kata Bu Samudra disambung
dengan gelak tawa mereka.

Sore itu seperti biasa, Rembulan pergi ke sekolah
untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari. Demikian pula
Bu Samudra dengan sabar selalu mengantar putrinya yang
duduk di kelas V. Rembulan memang buah hati Bu Samudra
satu-satunya, jadi sangatlah wajar jika Bu Samudra
mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Rembulan.

Sepanjang perjalanan, Rembulan bersenandung kecil
mengikuti alunan musik dari radio kaset di mobilnya.
Sementara itu Bu Samudra sibuk mengendalikan mobil yang
dikendarainya. Perhatian Rembulan beralih ketika melihat
baju merah jambu tergantung di mobil belakang.
“Bu, kenapa baju Rembulan yang merah jambu itu dibawa?”
tanya Rembulan penuh keheranan.
“Untuk ganti Rembulan kalau sudah selesai latihan,” jawab
ibu.

1

“Bu, kenapa Rembulan harus memakai baju ganti?” tanya
Rembulan bertambah heran.
“Ibu hanya ingin Rembulan memakai baju itu. Oh, ya pesan
ibu, hari ini Rembulan harus berlatih sungguh-sungguh, ingat
lho minggu depan sudah lomba,” jawab Ibu seraya
mengalihkan pembicaraan.
“Tapi, Bu…itu kan baju pesta,” Rembulan masih penasaran.
“Ssst, tidak usah banyak tanya pakai saja nanti setelah latihan
tari!” bujuk Bu Samudra.

Mobil terus meluncur, beberapa kali arus berhenti
karena lampu merah. Rembulan masih penasaran, namun
berbagai pertanyaan yang ada di hati hanya disimpan saja. Ia
tak ingin ibu marah karena ulahnya, Rembulan menurut saja
apa kata Ibu.

Sampailah Rembulan di sekolah, teman-teman sudah
banyak yang datang, begitu juga Bu Lintang guru kelas V
sekaligus guru tari Rembulan. Setelah bersalaman dengan Bu
Lintang, Rembulan berbaur dengan teman-temannya. Hanya
Bu Samudra yang masih berbincang-bincang dengan Bu
Lintang, entah apa yang mereka bicarakan.

Sesaat kemudian Bu Lintang melatih siswa-siswanya.
Berbagai gerakan tari diajarkan dengan lincah dan lemah
gemulai. Sayang sore itu Rembulan kurang konsentrasi
sehingga sering melakukan kesalahan. Apalagi setelah Bu
Samudra pamit dengan Bu Lintang dan Rembulan untuk
pergi sebentar.
“Rembulan, ulangi dari depan, kamu masih banyak
melakukan kesalahan!” seru Bu Lintang.

2

Tari Kencono wingko yang sudah biasa dibawakan
Rembulan, terpaksa diulang-ulang. Wajah Rembulan semakin
kusut. Tenaganya benar-benar terkuras, kesalahan yang ia
lakukan mengakibatkan latihan harus diulang-ulang.
“Rembulan, tidak biasanya kamu melakukan kesalahan
seperti sekarang ini, kenapa?” tanya Bu Lintang sabar.

Rembulan menggelengkan kepala dengan tersenyum
kecut. Walau begitu ia tetap berlatih. Teriakan Bu Lintang
ketika membetulkan gerakkan semakin memacunya untuk
bisa menari dengan benar.

Hingga waktu latihan usai, Bu Samudra belum juga
kelihatan. Satu persatu temannya sudah banyak yang pulang.
Waktu pun merambat mendekati malam. Namun Bu
Samudra belum juga muncul.
“Bu, kenapa ibu Rembulan belum datang?” tanya Rembulan
pada Bu Lintang.
“Sabar Rembulan, mungkin ibu masih di perjalanan,” kata Bu
Lintang menghibur hati Rembulan.
“Tapi Bu, sudah hampir malam,” gumam Rembulan lirih.

Pandangannya menuju pintu gerbang. Beberapa kali ia
mencoba menangkan hatinya, namun beberapa kali pula ia
kecewa, setiap melihat pintu gerbang tak terlihat mobil ibu.
“Minum dulu Rembulan biar nggak haus!” Bu Lintang
menyodorkan segelas air mineral dingin.
“Terima kasih Bu,” ucap Rembulan pelan.

Kini tinggal Bu Lintang dan Rembulan. Teman-teman
Rembulan semuanya sudah pulang. Bu Lintang memang
sudah biasa menemani siswa-siswa sampai dijemput orang
tuanya.

3

Air dingin pemberian Bu Lintang cukup membasahi
tenggorokan Rembulan yang sudah hampir kering. Perlahan
kegelisahan Rembulan agak pudar. Bu Lintang mengajaknya
ngobrol seputar persiapan lomba menari, sehingga waktu yang
terus merambat tidak begitu dirasakan lagi oleh Rembulan.

Jam dinding menunjukkan pukul 19.00 padahal
biasanya pukul 18.00 Rembulan sudah pulang latihan. Tiba-
tiba mobil kijang biru yang dikendarai Bu Samudra muncul
dipintu gerbang sekolah. Bu Samudra keluar sambil
menenteng baju Rembulan.
“Maaf Bu, agak telat saya menjemput Rembulan,” kata Bu
Samudra.
“Tidak apa-apa, Bu,“ kata Bu Lintang sambil mengemasi
peralatan menari.
“Rembulan karena ibu sudah datang Bu Lintang pulang dulu
ya,“ kata Bu Lintang beranjak dari tempat duduknya.
“Terima kasih Rembulan sudah ditemani,” sahut Rembulan
sambil bersalaman.

Rembulan segera berganti pakaian. Apa yang
dibawakan bundanya hari ini ia pakai semua. Baju warna
merah jambu, bando merah jambu, dan sepatu juga dengan
warna yang senada.
“Rembulan, sini ibu beri bedak sedikit!” kata ibu.
“Memang mau kemana, Bu?” tanya Rembulan.
“Tidak kemana-mana langsung pulang rumah,” jawab ibu
sambil menyaputkan bedak tipis di sekitar wajar Rembulan.

Selesai berdandan Rembulan dan Bu Samudra masuk
mobil. Perlahan-lahan mobil meninggalkan sekolah yang

4

sudah kelihatan lengang. Lampu-lampu kota menebarkan
cahayanya hingga di ujung jalan.

Bulan yang hanya tinggal separo sinarnya, tidak lagi
mampu menembus bumi. Sinar bulan seakan telah
terkalahkan oleh cahaya lampu listrik di sepanjang jalan..
Rembulan terdiam dalam alam pikirnya demikian juga ibu.

Musim kemarau tahun ini menambah debu semakin
banyak beterbangan. Kaca jendela mobil tertutup debu tipis.
Namun demikian tidaklah menghalangi pandangan
Rembulan untuk melihat suasana luar. Mobil pun berhenti di
garasi rumah. Sepi, demikian Rembulan rasakan. Lampu
rumah dan halaman semuanya padam.
“Bu, mengapa semua lampu mati?” tanya Rembulan.
“Mungkin mbok Mi lupa menyalakan lampu,” jawab ibu.
Setelah turun dari mobil Rembulan dan Bu Samudra berjalan
menuju pintu rumah.
“Bu, Rembulan takut masuk rumah,” Rembulan memegangi
tangan ibu.
“Tidak apa-apa, ayo masuk!” kata ibu membujuk. Perlahan
ibu membuka pintu rumah, ternyata tidak di kunci. Hanya
gelap yang didapati Rembulan.
“Sekarang Rembulan duduk dulu di sini, ya!” ibu menyuruh
Rembulan duduk di kursi tamu.
“Bu, Rembulan jangan ditinggal lho,” rengek Rembulan pada
Ibu.
“Tidak, sayang Ibu hanya akan menyalakan lampu,” kata Bu
Samudra meninggalkan Rembulan sendiri di tengah
kegelapan.

5

“Jangan lama-lama Bu Rembulan takut,” teriak Rembulan
ketakutan.

Gelap yang mencekam bagi Rembulan tiba-tiba
berubah. Beberapa orang datang dari ruang dalam sambil
membawa kue yang atasnya dihiasi lilin dengan angka 10.
Lagu selamat ulang tahun mengalun berulang-ulang.
“Rembulan, tiup dong lilinnya!” kata Ibu lembut.

Rembulan meniup lilin, bersamaan dengan matinya
nyala lilin, lampu rumah semua menyala. Tak kuasa menahan
haru, Rembulan memeluk Ibunda tercinta. Sahabat kentalnya
Arga, beberapa teman, serta Bu Guru Lintang hadir di situ.

Rembulan benar-benar tidak ingat jika hari ini adalah
hari kelahirannya. Kejutan dari Ibu benar-benar membuat
Rembulan semakin merasa sayang kepada Ibu, orang tua satu-
satunya, sebab ayah telah tiada sejak Rembulan berumur satu
tahun.

Suasana mendadak hening. Rembulan yang gemar
berpuisi secara sepontan berpuisi untuk ibu.

Ibu….
Laksana mutiara
Kasihmu berkilau sepanjang masa
Ibu….
Laksana tirta
Senyummu penyejuk dahaga
Ibu…Oh…Ibu

6

Rasa haru antara Ibu dan anak menyatu dalam
dekapan kasih yang tulus. Sambutan tepuk tangan dari
sahabat dan orang-orang tercinta menambah kehangatan acara
malam itu.

Bulan yang hanya tinggal separo dan kini tertutup
awan. Namun tetap tersenyum di balik awan seakan ikut
merasakan kegembiraan Rembulan, si gadis lincah yang
gemar menari dan berpuisi.

7

Pentas Rembulan

Pagi-pagi sekali Rembulan sudah mandi dan sarapan
pagi, walaupun hari Minggu. Ia akan mengikuti lomba tari
kreasi Jawa. Segala persiapan yang diperlukan telah ia siapkan
sejak kemarin.

Kepiawaiannya dalam menari tidak bisa diragukan lagi,
berbagai kejuaraan tari telah diikuti. Bahkan sudah dua kali
menjadi duta seni dan pariwisata dari Jawa Tengah di Taman
Mini Indonesia Indah. Rembulan yang lincah, periang, dan
murah senyum memang menjadi kebanggaan Bu Samudra.
“Rembulan berangkat sekarang, ya?” ucap Bu Samudra.
“Ya, Bu,” sahut Rembulan seraya membetulkan tali
rambutnya.

Beruntung hari Minggu, jalan terasa lengang tidak
sepadat hari-hari biasa. Mobil kijang biru itu meluncur
dengan mulus di atas jalan aspal. Beberapa lampu lalulintas
yang dilewati kebetulan menyala hijau, mobil pun berjalan
terus tanpa hambatan.

Tiba-tiba Rembulan memegangi mulutnya seperti mau
muntah. Ibu yang berada di samping Rembulan kaget.
“Kenapa Rembulan? Sakit, ya?” tanya Ibu.
“Hanya mual sedikit, Bu?” jawab Rembulan lemah.
“Tahan ya biar cepat sampai tujuan,” kata ibu sambil
mengusap dahi Rembulan yang penuh dengan keringat
dingin.

8

Mobil terus meluncur, ibu kelihatan gelisah sesekali ia
pandangi putrinya dengan penuh iba. Butiran-butiran keringat
dingin terus membasahi dahinya, tidak berapa lama sampailah
mereka di gedung balaikota tempat lomba menari.

Dari kejauhan tampak Bu Lintang telah menunggu di
pintu depan. Tangan Bu Lintang melambai-lambai begitu
melihat mobil Rembulan tiba. Beberapa teman Rembulan
juga sudah datang.

Rembulan turun dari mobil kemudian bersalaman
dengan Bu lintang begitu juga Bu Samudra. Rombongan itu
pun menuju ruang rias yang sudah disediakan oleh panitia.
Peserta dari sekolah lain juga sudah banyak yang datang
bahkan sudah ada yang mulai berhias.

Ketika satu persatu teman Rembulan berhias, justru
keadaan Rembulan tampak memprihatinkan. Berulang kali
Rembulan ke kamar mandi muntah.
“Muntah lagi, Bu?” tanya Bu Lintang pada Bu Samudra yang
sedang menggandeng Rembulan dari kamar mandi.
“Iya, Bu barangkali masuk angin,” jawab Bu Samudra.
“Sudah sarapan Bu?” tanya Bu Lintang lagi.
“Sudah Bu, biar saya beri minyak gosok dulu,” kata Bu
Samudra berharap.

Sementara itu Bu Lintang sibuk merias siswa-siwanya
yang ikut lomba. Beberapa anak sudah banyak yang siap
pentas. Namun tidak demikian dengan Rembulan. Rembulan
masih tergolek di pangkuan Bu Samudra sambil menahan
mual. Ia pandangi teman-temannya satu persatu. Ia ingin
seperti teman-temannya saat ini berdandan cantik, ceria,
tertawa-tawa dan bisa ikut lomba.

9

“Bagaimana Rembulan masih sakit? Coba ya, Ibu pijat
tanganmu biar cepat sembuh,” kata Bu Lintang setelah selesai
merias teman-teman Rembulan.
“Rembulan jangan sakit ya, ingat lho kita harus menang,” kata
Arga sahabatnya.

Rembulan mengangguk pelan, wajahnya semakin
pucat, bibirnya terkatup rapat, tangan dan kakinya dingin.
Rembulan benar-benar sakit, kepalanya pusing, dan perutnya
mual. Badannya juga terasa makin lemah

Bu Samudra sudah berusaha memberi minyak gosok
tetapi belum juga ada perubahan. Bu Lintang kini berusaha
menangani Rembulan. Telapak tangan Rembulan dipijat Bu
Lintang berulang-ulang, demikian pula telapak kaki dan
tangan.
“Terasa sakit, Rembulan?” tanya Bu Lintang ketika memijat
telapak tangan Rembulan.

Hanya anggukan kepala yang Rembulan lakukan.
Wajahnya merintih menahan sakit. Perlahan bibirnya yang
pucat pasi berangsur-angsur membaik. Keringat dingin tidak
lagi mengucur dari tubuhnya.
“Minum lagi, Rembulan?” ucap Bu Samudra sambil
menyodorkan segelas air putih.

Rembulan menggelengkan kepala. Ia bangkit dari
tidurnya kemudian duduk perlahan-lahan. Setelah dirasa agak
enak Bu Lintang mulai merias Rembulan.
“Sudah baikan, Rembulan?” tanya Bu Lintang sambil
mengusapkan bedak ke wajah Rembulan.
“Sudah lumayan, Bu,” jawab Rembulan pelan.

10

Bu Lintang mulai merias wajah Rembulan, setelah
bedak rata Bu Lintang menggoreskan pensil alis pelan-pelan,
kemudian perona mata, pipi dan terakhir lipstik merah
merona. Rembulan kelihatan semakin cantik. Kostum tari
yang berwarna hijau mulai dipakaikan, termasuk pernak-
pernik yang dipakai di kepala, sanggul, bunga-bunga hias,
kembang goyang, dan sebagainya.
“Pusing, Rembulan?” tanya Bu Lintang ketika memasangkan
perhiasan di kepala.
“Agak pusing, Bu.”
“Kuat, nggak untuk menari?”
“Kuat, Bu,” jawab Rembulan.
“Rembulan kita dapat nomor undian 3, kamu yang memakai,
ya?” kata Bu Lintang sambil memasangkan nomor peserta di
kostum Rembulan.

Akhirnya acara yang dinanti-nantikan tiba. Setelah
dewan juri mengumumkan tata tertib peserta, kini giliran para
peserta maju satu per satu. Penampilan peserta nomor satu
dan dua lumayan bagus.
“Rembulan jangan lupa senyum ya,” kata Bu Samudra
mengingatkan Rembulan saat mau naik panggung.

Rembulan mengangguk sambil tersenyum meyakinkan
ibunya. Irama musik dari kaset terdengar rancak. Kelompok
Rembulan pun tampil di atas pentas. Sambutan tepuk tangan
dari para penonton mengawali tari Kencono Wingko.

Rembulan kelihatan lemah gemulai, begitu juga teman-
teman kelompoknya. Mereka menari dengan kompak sekali.
Rembulan mengawali tarian dengan senyum yang sangat

11

manis dan gerakan yang cukup lincah. Beberapa kali
penonton bertepuk tangan.

Sayang ketika tarian itu tinggal seperempatnya perut
Rembulan terasa mual lagi. Sambil menahan sakit ia tetap
meneruskan tarian itu. Wajah Rembulan yang tadi kelihatan
segar, cerah ceria, kini berubah menjadi pucat kembali.
Sampai akhirnya alunan musik pengiring pun menghilang
ditelan tepuk tangan para penonton menandai tari Kencono
Wingko telah berakhir.

Rembulan turun dari panggung disambut ibunya, tiba-
tiba ia lemas dan pingsan. Ibu Rembulan dan Bu Lintang
menjadi panik, begitu juga teman-teman Rembulan.

Dengan cekatan Bu Samudra dan Bu Lintang
membopong Rembulan dan dibawa ke ruang rias yang kini
sudah lengang ditinggalkan para peserta di aula tempat pentas.

Bu Lintang memijat-mijat tangan Rembulan. Bu
Samudra sendiri sibuk menggosokkan minyak gosok di
sekujur tubuh Rembulan. Beberapa pakaian yang mengikat
mulai dikendorkan.
“Bangun Rembulan, bangun, Nak,” kata Bu Samudra sambil
menahan tangis.

Beberapa saat kemudian Rembulan siuman. Ia bangun
dengan perut mual dan kepala pusing. Sambil memegang
perutnya Rembulan akan muntah. Namun mulutnya masih
bisa menahan.
“Kalau mau muntah, muntah saja di sini, Rembulan,” kata Bu
Lintang menyodorkan plastik warna hitam.

12

Rembulan meraih tas plastik yang diberikan oleh Bu
Lintang. Beberapa kali Rembulan memuntahkan isi perutnya.
Bu Samudra memijat-mijat tengkuk Rembulan.
“Bagaimana Rembulan, masih mual?” tanya Bu Samudra.
“Sudah agak terasa enak, Bu.”

Rembulan membersihkan mulutnya dengan tisu. Bu
Samudra melepasi kostum anaknya satu-satu. Usai ganti
pakaian, Bu Samudra dan Rembulan berpamitan dengan Bu
Lintang.
“Semoga Rembulan cepat sembuh ya, Bu. Biar kami yang
menunggu hasil lombanya,” kata Bu Lintang sambil
mengemasi kostum Rembulan.
“Hati-hati Rembulan, nanti saya kabari hasilnya lewat telepon
ya,” kata Arga sahabatnya.

Arga mengantar Rembulan sampai tempat parkir.
Udara siang terasa panas, namun bagi Rembulan terasa
dingin. Dengan sedikit terburu-buru dan tanpa
membersihkan riasan di wajah anaknya, Bu Samudra segera
pulang tujuan utamanya mencari tempat dokter praktik yang
buka hari Minggu ini.
“Rembulan cepat sembuh, ya!” ucap Arga ambil
melambaikan tangan.
“Hati-hati Tante, selamat jalan!” sambung Arga.

Bu Samudra membalas lambaian Arga. Mobil
meluncur perlahan keluar dari pintu gerbang balaikota.
Sepanjang jalan belum ada dokter yang buka praktik. Apotek
pun banyak yang tutup.

Rembulan tertidur di dalam mobil. Bu Samudra
memandangi anaknya dengan penuh iba. Berulang kali

13

dipegang dahi putrinya. Badan Rembulan panas, matanya
tertutup rapat.
“Cepat sembuh, Nak. Jangan sakit, ya,” batin Bu Samudra
seraya berdoa.

Dokter yang dicari tak satu pun yang buka praktik. Bu
Samudra memutuskan untuk pulang saja. Sambil menunggu
perkembangan Rembulan selanjutnya. Pikiran Bu Samudra
Kacau. Ia sangat sedih melihat putri kesayangannya tergolek
sakit. Tangan Bu Samudra mengusap wajah Rembulan
perlahan. Sejuta harapan, angan tertumpu pada putrinya. Satu
hal yang sangat ia dambakan saat ini yaitu sebuah
kesembuhan.

14

Kegundahan Rembulan

Pukul 22.00 panas badan Rembulan kian meninggi.
Mulutnya berulang kali mengigau menyebut nama Arga. Bu
Samudra mengompres dahi anaknya. Namun suhu tubuhnya
tidak juga turun.
“Mbok Mi, temani saya membawa Rembulan ke Rumah
sakit, ya!” ajak Bu Samudra.
“Ya, Bu.”
“Mbok Mi membopong Non Rembulan, ya! Saya akan
mengeluarkan mobil dulu.”
“Ya, Bu saya bopongnya.”

Kedua wanita itu pun bergegas dengan tugas masing-
masing. Mobil dipacu Bu Samudra dengan kecepatan tinggi.
Sepanjang perjalanan kedua wanita itu terdiam. Beruntung
perjalanan ini lancar, tak satu pun lampu merah yang
menghambatnya.

Mobil mulai masuk halaman rumah sakit. Ruang
gawat darurat yang dituju Bu Samudra. Rumah sakit tampak
lengang, namun beberapa dokter dan perawat jaga masih
kelihatan lalu lalang di sepanjang selasar. Setelah
mendaftarkan Rembulan, Beberapa perawat dan dokter
langsung menanganinya. Dokter mulai memeriksa suhu,
detak jantung, mata, dan pembuluh nadi.
“Namanya siapa, anak manis?” tanya pak dokter dengan
ramah.
“Rembulan, Dok,” jawab Rembulan singkat.
“Apa yang dirasakan Rembulan saat ini?” Dokter kembali
bertanya.

15

“Mual dan pusing, Dok,” ucap Rembulan.
“Anak saya sakit apa, Dok?” Bu Samudra kelihatan kawatir.
“Sabar, Bu. Kalau saya lihat gejalanya putri ibu kena tipus.”
Bu Samudra kaget. Wajahnya tampak menggambarkan
kekawatiran yang luar biasa.
“Lalu anak saya harus bagaimana, Dok?”
“Putri ibu sebaiknya opname di sini, Bu, biar cepat sembuh.
Saat ini kondisi Rembulan sudah parah. Beruntung Ibu cepat-
cepat membawa ke sini, kalau tidak bisa fatal, Bu.”
“Ba…baik, Dok.”

Bu Samudra semakin cemas. Ia menurut saja kata
dokter demi kesembuhan putrinya. Bersama perawat dan
Rembulan, Bu Samudra menuju kamar inap untuk
Rembulan. Lorong-lorong rumah sakit yang panjang seakan
menyaksikan kesedihannya.

Rembulan tergolek lemas di atas kereta dorong.
Bibirnya semakin pucat, Bu Samudra tak kuasa menahan air
matanya. Butiran-butiran bening itu pun membasahi pipinya.
“Tuhan sembuhkanlah anakku, kembalikan kesehatannya,”
doa Bu Samudra tak henti-hentinya.

Setelah tiba di kamar inap. Suster segera memasang
infus dan mengatur tempat tidur yang harus dipakai
Rembulan. Sungguh peristiwa ini di luar dugaan. Bu Samudra
hanya bisa pasrah kepada Yang Kuasa. Hampir semalaman
Bu Samudra tidak tidur. Ia tunggui putrinya dengan sabar.
Seluruh pikiran dan tenaga semua tercurah pada Rembulan.
“Mbok, Mi pulang dulu ya, biar saya yang nunggu
Rembulan,” kata Bu Samudra keesokan harinya.

16

Pagi yang begitu cerah terasa mendung di hati Bu
Samudra. Udara segar terasa sesak di dada. Pikirannya
menerawang, sementara itu Rembulan masih tertidur lemas di
atas tempat tidur.

Dentang lagu hand phone Bu Samudra memecahkan
kesunyian pagi itu. Suster yang sedang lalu lalang di depan
kamar Rembulan tak mampu mengobati kesunyian Bu
Samudra.
“Hallo, Arga,” ucap Bu Samudra setelah tahu bahwa yang
menelepon adalah Arga .
“Hallo, juga Tante. Bisakah saya bicara dengan Rembulan?”
“Maaf Arga Rembulan…Rembulan,” Bu Samudra berhenti
sejenak tak kuasa menahan kesedihannya.
“Rembulan kenapa, Tante?”
“Rembulan saat ini opname di rumah sakit, Nak?”
“Di rumah sakit mana, Tante, saya ingin segera
menengoknya.”
“Rumah sakit Husada, Arga. Sekarang Rembulan masih
lemah.”
“Terima kasih Tante, saya segera ke sana.”

Telepon Arga segera ditutup. Bu Samudra masih
menunggui Putrinya yang masih tergolek di tempat tidur
rumah sakit. Koran yang ada ditangannya hanya dibolak-balik.
Namun demikian tidak juga menemukan berita yang
menarik.

Bu Samudra yang mempunyai hobi membaca, kali ini
tidak sedikit pun perhatian yang tertuju pada tulisan itu. Kaca
mata minusnya sesekali dibetulkan manakala letaknya terasa
tidak nyaman.

17

Setengah jam kemudian Arga muncul didepan pintu
dengan Bu Wulan, ibu Arga. Tangan kiri menggandeng
ibunya sementara tangan kanannya membawa buah tangan
untuk Rembulan.
“Selamat siang, Tante!”

Sapaan Arga membuyarkan lamunan Bu Samudra.
Koran yang berada di tangannya segera diletakkan dan
menyambut kedatangan Arga dan Bu Wulan.
“Selamat siang Arga?”
“Wah, sudah merepotkan Bu Wulan, Nih!” tambah Bu
Samudra.
“Tidak Bu, hanya sedikit kaget saja. Rembulan kan jarang
sakit, begitu sakit malah masuk rumah sakit,” kata Bu Wulan
sembari meletakkan buah tangan di meja dekat tempat tidur.

Bersamaan dengan itu Rembulan terbangun. Matanya
membuka perlahan. Badannya yang masih lemas dan lesu
berusaha untuk duduk. Bu Samudra membantu Rembulan
duduk perlahan-lahan. Walau masih pucat Rembulan
berusaha tersenyum ketika melihat Arga sahabatnya dan Bu
Wulan sudah berada di sampingnya.

Bu Samudra menyodorkan segelas air putih.
Rembulan segera meneguknya, cukup sudah membasahi
tenggorokannya yang terasa kering. Bibirnya yang masih pucat
sedikit-demi sedikit agak memerah.
“Rembulan cepat sembuh, ya!” Arga memberikan dorongan
sahabatnya.
“Terima kasih Arga, terima kasih Tante,” ucap Rembulan
dengan senyuman walau masih menahan sakit.

18

“Rembulan ada kabar gembira untuk kamu, lho!” kata Bu
wulan.
“Kabar apa, Tante?”
“Biar Arga saja yang menyampaikan,” ujar Bu Wulan. Bu
Samudra dan Rembulan saling memandang penuh tanda
tanya kabar yang akan diampaikan Arga.
“Rembulan, kelompok menari kita mendapat juara II.” Kabar
dari Rembulan tidak disambut senang oleh Rembulan. Muka
Rembulan berubah cemberut.
“Lho mendapat juara kok tidak senang?” tanya Bu Samudra.
“Masih terasa sakit ya, perutnya?” Bu Samudra meyakinkan
kondisi Rembulan.
“Tidak, Bu.”
“Lalu kenapa, Rembulan?”

Rembulan terdiam sejenak. Rambutnya yang terurai
panjang disibakkan. Matanya yang lentik ternyata sudah basah
oleh air mata.
“Maafkan aku Arga?” Arga tambah bingung melihat
Rembulan berlinangan air mata dan meminta maaf.

Belum selesai kebingungan mereka dengan perilaku
Rembulan tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Bu Lintang
masuk dengan membawa rangkaian bunga anggrek yang
sangat cantik.
“Selamat siang Rembulan, selamat siang semuanya!” sapa Bu
Lintang sambil menyalami Rembulan, Arga, Bu Wulan, dan
Bu Samudra.
“Lho, kenapa Rembulan menangis?” tanya Bu Lintang
keheranan.

19

Perkataan Bu Lintang justru membuat tangis
Rembulan menjadi-jadi. Bu Samudra berusaha menenangkan
Rembulan, disekanya air mata putrinya dengan tisu dan
dielusnya kepala Rembulan dengan penuh kasih.
“Maafkan, Rembulan, Bu!” kata Rembulan setelah agak
tenang.
“Maaf kenapa Rembulan, perasaan Rembulan tidak punya
salah dengan ibu,” kata Bu Lintang.
“Rembulan juga tidak punya salah kok sama Arga.”
“Saya merasa bersalah pada Arga, Bu Lintang dan juga teman-
teman.”
“Salah kenapa, Rembulan?” tanya Bu Lintang mendekat ke
sisi Rembulan yang masih bersedih.
“Bu, mungkin kalau saya tidak sakit sekolah kita akan
mendapat juara satu. Sekali lagi maafkan saya, Bu.”
Rembulan mengakhiri pembicaraannya dengan menangis
tersedu-sedu. Semua yang hadir berusaha menengankan
Rembulan agar tidak merasa bersalah.
“Rembulan dalam pertandingan harus ada yang kalah dan
yang menang. Masih ingatkan pesan ibu saat akan berangkat
berlomba. Kalian berlomba tidak hanya mencari kejuaraan
semata. Ada yang lebih berharga. Ayo apa Arga yang lebih
berharga?” tanya Bu Lintang melemparkan pertanyaan
kepada Arga yang dari tadi ikut terdiam merasakan kekalutan
Rembulan.
“Pengalaman, Bu.”
“Bagus, pengalaman adalah guru yang paling berharga.
Rembulan, kalau sekolah kita mendapat nomor dua itu sudah
bagus. Kalian sudah berusaha dengan maksimal, itu sudah

20

merupakan usaha yang luar biasa,” perkataan Bu Lintang
mampu menyiram kegundahan hati Rembulan.
“Terima kasih, Bu Rembulan akan ingat selalu pesan ibu,”
ujar Rembulan.

Setelah bercengkerama beberapa saat dengan
Rembulan Bu Wulan, Arga dan Bu Lintang berpamitan.
Kehadiran mereka merupakan obat tersendiri bagi
kesembuhan Rembulan. Terik matahari siang itu terasa sejuk
bagi Rembulan sesejuk hatinya yang merasa gembira telah
ditengok oleh orang-orang tercinta.

21

Sahabat Rembulan

Pagi yang cerah, mentari menyembul di balik
bangunan gedung sekolah yang megah. Siswa-siswi SD Mekar
02 kelas V dan VI berkumpul di halaman sekolah dengan
memakai seragam pramuka lengkap. Mereka bersiap-siap
untuk berangkat berkemah.

Acara tahunan yang digelar menjelang akhir tahun,
selalu diisi dengan kegiatan berkemah. Perkemahan rutin itu
selalu memilih bumi perkemahan Mentari sebagai tempatnya.
Beberapa peralatan tenda, tongkat, alat masak, dan
sebagainya mulai dimasukkan ke mobil.

Rembulan pun tidak ketinggalan. Setelah sembuh dari
sakit, berbagai kegiatan di sekolah diikutinya kembali.
Rembulan juga sudah siap dengan segala peralatannya,
sebagai ketua regu tentu saja harus lebih siap.
“Teratai…!” teriak Rembulan memanggil anggotanya.
“Siap…!” sahut anggota Rembulan serempak.

Semua siswa-siswi siap, kepala sekolah melepas
mereka dengan beberapa pesan dan diakhiri dengan doa
bersama yang dipimpin oleh guru agama. Semua siswa
kelihatan gembira. Orang tua pun juga ikut mengantar
mereka sampai bumi perkemahan yang dituju.

Jalan yang berkelok-kelok di antara hamparan
tanaman yang menghijau, menyapa rombongan pramuka itu.
Angin pegunungan semilir menerpa para anggota pramuka
seolah-olah ikut gembira dan mengucapkan selamat datang.

Satu jam kemudian sampailah mereka dibumi
perkemahan. Kegiatan pertama yang mereka lakukan

22

mendirikan tenda. Bapak ibu guru beserta kakak pembina
yang lain membantu anak-anak mendirikan tenda-tenda
mereka.

Hari menjelang sore semua tenda telah berdiri. Semua
siswa terlibat dalam kegiatan perkemahan, bekerjasama,
bersukaria, dan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik.
“Dina siap untuk acara api unggun?” tanya Rembulan setelah
meneguk air putih dari botol bekalnya.
“Siap, dong!”
“Jadi puisi apa berjoged?” tanya Rembulan kembali.
“Modern dance saja, jadi semua bisa ikut tampil. Setuju?”
Dina menawarkan kepada teman-temannya.
“Setuju!” serempak regu Teratai menjawab.
“Teman-teman, kita harus kompak lho, ingat semua kegiatan
kita dinilai oleh kakak pembina,” kata Rembulan
mengingatkan teman-temannya. Rembulan memang
mempunyai bakat jadi pemimpin. Jiwa kepemimpinannya
sudah kelihatan sejak kecil. Dalam kepramukaan Rembulan
sangatlah cakap maka tak mengherankan jika semua teman
ingin menjadi anggota Rembulan.

Sambil menunggu kegiatan selanjutnya mereka asyik
bercakap-cakap, bersendau gurau di depan tenda. Sinar
matahari sudah mulai redup, pertanda senja telah tiba. Semua
regu menyiapkan atraksi yang akan di tampilkan dalam acara
api unggun. Kegiatan siang hingga sore, regu Rembulan
masih unggul di bandingkan yang lain. Hal ini tak lepas dari
kekompakan dan kepemimpinan Rembulan.
“Ayo kita latihan dance sekarang!” ajak Rembulan.

23

“Oke!” anggota Rembulan serempak berdiri. Dina
mengeluarkan HP dan memutar musik untuk pengiringnya.
“Rembulan, kali ini kamu pasti kalah!” teriakan itu
mengaggetkan Rembulan dibarengi dengan gelak tawa dari
tenda seberang.
“Arga!” gumam Rembulan dalam hati.

Arga memang tidak senang dengan Rembulan,
semenjak ia tidak bisa menjadi anggota regu Rembulan. Regu
Rembulan sudah sepuluh orang. Namun Arga bersikeras
untuk masuk ke kelompok Rembulan. Atas saran Bu Lintang
dan kakak pembina, Arga harus membuat kelompok sendiri.
Sejak itulah Arga jadi sinis jika bertemu Rembulan.
“Kalau tidak bisa joged, tidak usah tampil!” Arga berusaha
membakar amarah Rembulan. Rembulan tetap berlatih
dengan teman-temannya. Omongan Arga tidak digubris.
Hingga musik kedua habis. Setelah dirasa cukup berlatih regu
Teratai beristirahat sebentar.
“Kita tampilkan regu Teratai dengan gaya bebeknya!” Arga
mengejek regu Rembulan disambut tepuk tangan dari
kelompok Arga.

Regu Rembulan yang dari tadi diam kini mulai panas.
Kata-kata Arga sungguh memerahkan telingan mereka. Dina
yang mudah terpancing emosinya tak bisa mengendalikan diri
lagi.
“Hai, bawel tidak usah iri dengan keunggulan regu kami!”
Dina menyahut dengan penuh emosi.
“Memang hanya regumu yang mampu mendapat nilai
unggul!”

24

“Dasar bawel!”
“Kita buktikan pada acara api unggun nanti!” Arga menantang
kelompok Rembulan.

Acara api unggun dimulai. Rembulan bertugas
membawa api dasa darma begitu juga Arga. Rembulan dasa
darma kesepuluh sedangkan Arga kesembilan.

Acara demi acara berjalan dengan lancar tibalah
saatnya menyalakan api dasa darma. Darma ke satu sampai
kesembilan tidak ada masalah giliran darma kesepuluh. Arga
menyalakan obor yang dipegang Rembulan dengan obor yang
dipegangya sendiri. Ketika menyodorkan api ke obor
Rembulan dengan sengaja disodorkan dengan kasar akibatnya
Rembulan yang tidak siap dengan kejadian itu kaget, api yang
seharusnya ke ujung obor Rembulan justru mengenai
tangannya. Dengan menahan sakit Rembulan tetap
melaksanakan tugasnya hingga selesai.
“Kak, minta obat untuk tangan saya yang kena api, Kak!”
pinta Rembulan pada Bu Lintang. Bu Lintang segera
mengobati tangan Rembulan. Rembulan menahan sakit. Luka
ditanganya melepuh.
“Rembulan karena masih sakit, kamu tidak usah ikut acara
api unggun dulu ya?” kata Bu Lintang. Arga yang berada di
dekat Rembulan dalam hati tertawa senang melihat musuhnya
kesakitan dan tidak boleh ikut kegiatan lagi.
“Tapi, Bu…!”
“Tidak usah tapi-tapian!”
“Arga, kamu juga kurang hati-hati. Lain kali tidak boleh
melukai teman seperti ini!” kata Bu Lintang kembali.
“Saya tidak sengaja, Bu!” Arga berusaha membela diri.

25

“Bagaimana pun kamu juga salah. Sudah, sekarang semua
bubar. Kembali ke acara api unggun kecuali Rembulan,” Bu
Lintang membubarkan kerumunan itu.

Regu Rembulan kecewa, Rembulan tidak menyangka
jika sahabatnya setega itu. Regu Teratai tahu kalau ulah Arga
memang disengaja. Regu Teratai menuju ke api unggun
dengan langkah gontai. Acara yang sudah dipersiapkan kini
hancur sudah. Dengan sangat terpaksa sembilan anak mengisi
acara api unggun tanpa Rembulan.
“Teman-teman kita harus maksimal walaupun tanpa
Rembulan, tunjukkan kepada kelompok Arga bahwa kita
tetap unggul, “ Dina menyemangati teman-temannya.

Angin malam teras semakin dingin. Pucuk-pucuk
cemara menjulang tinggi meramaikan semarak api unggun.
Hanya Rembulan yang duduk termenung di dalam tenda
ditemani Bu Lintang. Jaket tebalnya sepertinya tidak bisa
menahan dingin malam itu.

Dari kejauhan terdengar suara regu Teratai dipanggil
kakak pembina untuk melakukan atraksi api unggun.
Mendadak suasana menjadi gempar. Iringan dari HP yang
sudah disiapkan Rembulan, tidak bisa diputar karena
baterainya low.
“Dik, baterainya HP habis, adakah file di HP lain yang bisa
diputar?” tanya kakak pembina.
“Waduh, maaf kak belum sempat memindah di HP lain,”
kata Dina setengah tidak percaya.
“Kalau begitu diganti menyanyi, puisi, atau drama saja,” anjur
kakak pembina.

26

Setelah berpikir sejenak dan dengan kesepakatan
teman-teman akhirnya mereka menyanyi sambil tepuk.
Sebuah atraksi spontan yang memang tidak pernah
dipersiapkan.

Dua kali Regu Teratai mengalami kekecewaan.
Rembulan semakin tertunduk lesu mendengarkan semua itu
dari balik tenda. Bu Lintang meninggalkan Rembulan setelah
teman-temannya datang.
“Rembulan, kelompok kita kalah!” kata Dina duduk lunglai
disebelah Rembulan.

Semua terdiam mereka kalut dalam kekecewaan yang
sangat dalam. Suara jengkrik di bumi perkemahan tak
mampu mengusik kegalauan mereka. Rembulan tidak
mampu berkata sepatah kata pun.
“Arga curang, Rembulan!” kata Dina sambil melepas
sepatunya.
“Betul, Rembulan, Arga berbuat curang!” Tika membenarkan
perkataan temannya.
“Oke, semua sudah tahu siapa sebenarnya Arga, oleh karena
itu kita harus berhati-hati,” Rembulan mulai angkat bicara.
“Benar Rembulan kita harus berhati-hati,” kata Dina dengan
mantap.
“Untuk kegiatan mencari jejak besok pagi kita harus lebih
berhati-hati,” pesan Rembulan pada teman-temannya.
“Mudah-mudahan tanganku sudah sembuh.”
“Nah, karena sekarang sudah malam, mari kita tidur, biar
besok ketika bangun badan sudah segar kembali,” tambah
Rembulan seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya
yang mulai menggigil diserang hawa dingin.

27

Malam kian merayap, bintang-bintang dilangit
bertaburan menembus awan. Satu persatu anak-anak tertidur
lelap di bawah tenda masing-masing. Hanya mata Rembulan
yang sulit dipejamkan. Sementara itu bapak, ibu guru, dan
kakak pembina masih berjaga-jaga.

Malam semakin larut, suara binatang malam bersautan
bagaikan musik simponi di tengah-tengah alam terbuka. Baru
kali ini anak-anak merasakan tidur berselimut alam. Udara
terasa semakin menusuk tulang, anak-anak sudah terlelap
terbuai oleh mimpi masing-masing.
“Segala peristiwa yang terjadi pasti ada hikmahnya,
Rembulan,” demikian kata-kata ibunya yang sering ia dengar.

Kata-kata Bu Samudra inilah yang mampu
mengantarkan Rembulan untuk dapat memejamkan mata.
Sinar bulan purnama yang menyembul di antara pucuk-pucuk
cemara bagaikan mimpi Rembulan yang merindukan akan
kedamaian.

28

Kemenangan Rembulan

Kicau burung terdengar bersahutan di antara pohon-
pohon cemara. Udara pagi yang segar memulihkan semangat
anak-anak yang sedang berkemah. Dinginnya udara
pegunungan tidak membuat mereka malas bangun. Setelah
salat mereka melaksanakan senam bersama dengan diiringi
musik dari HP.

Tubuh yang semula terasa kaku ototnya perlahan
menjadi lemas. Peluh yang mengalir mampu mengusir hawa
dingin pagi itu. Bapak, ibu guru, dan para pembina juga ikut
serta dengan penuh semangat.
“Adi-adik setelah mandi dan makan, acara hari ini mencari
jejak,” demikian kakak pembina memberikan informasi
kepada adik-adiknya.
“Hore!” anak-anak menyambut dengan gembira.

Mentari masih malu-malu di ufuk timur. Cahayanya
menyebar membias di antara dedaunan yang menghijau.
Embun pagi berkilauan tertimpa sinar surya, sinar perak
memudarkan kabut dari pandangan mata.
“Teratai!” Rembulan memberi komando teman-temannya.
“Siap!”

Derap langkah anak-anak menuju tengah lapangan
melewati rumput-rumput basah seakan menambah semangat
mereka untuk menang. Beberapa petunjuk dari kakak
pembina mereka perhatikan dengan cermat.
“Satu lagi pesan kakak kalian harus kompak!”

Kegiatan kali ini memang dibutuhkan kekompakan
dan kecepatan dalam bekerja. Regu yang paling cepat sampai

29

tujuan dan dapat menyelesaikan tugas serta dapat
menyelesaikan permasalahan dalam kelompok dengan baik,
akan menjadi juara.
“Anak-anak, kalau kalian ikut pramuka kalian akan dapat
berlatih mandiri, terampil, cekatan, dan disiplin,” kata Kepala
Sekolah ketika memberi amanat dalam upacara pembukaan
Persami kemarin.

Rupanya apa yang dikatakan Kepala Sekolah memang
ada benarnya. Semua kegiatan yang mereka ikuti
membutuhkan keterampilan, kedisiplinan, dan kerjasama
yang kuat.

Regu yang berangkat lebih dahulu adalah regu yang
dapat membaca semapore paling cepat. Kali ini regu Teratai
berangkat lebih dahulu. Kelompok Arga menyusul di
belakangnya.

Sepanjang perjalanan regu Teratai kelihatan kompak,
ceria, dan bersemangat. Lagu-lagu pramuka, tepuk, maupun
yel-yel mewarnai perjalanan mereka. Kegiatan mencari jejak
ini ada 5 pos yang harus mereka lewati. Masing-masing pos
menyediakan satu tugas yang harus mereka kerjakan.

Hingga pos ke tiga regu Rembulan dapat melaluinya
dengan mulus, yang paling berat adalah saat melalui sungai
untuk menuju pos 4 dan 5. Untuk mempersiapkan diri regu
Teratai istirahat sejenak sambil minum bakal yang mereka
bawa.
“Ikut istirahat di sini boleh, kan?” suara itu mengagetkan
Rembulan.
“Boleh silakan!” Rembulan mempersilakan regu Arga yang
sudah berada di sebelahnya.

30

“Rembulan, maafkan saya semalam ya? Gara-gara
kecerobohanku kamu terluka,” Arga berkata dengan lemah
lembut.
“Tidak apa-apa Arga, sudah agak sembuh sekarang,”
Rembulan membalas uluran tangan Arga.
“Mau minum?” Arga menawari Rembulan.
“Terima kasih saya sudah membawa sendiri , Arga.”
“Sebagai rasa persahabatan kita terimalah, Rembulan!”
Rembulan tak kuasa menolak permintaan sahabatnya.
Minuman dalam botol itu pun diteguknya.
“Terimakasih Arga saya berangkat duluan,” regu Teratai
melanjutkan perjalannya.

Sepeninggalnya Rembulan, Arga dan teman-temannya
kelihatan sangat riang sekali. Sepuluh menit kemudian perut
Rembulan terasa mulas sekali.
“Teman-teman aku tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan ini
perutku mulas sekali.”
“Rembulan, tinggal sebentar lagi sampai!” kata Dina
membangkitkan semangat Rembulan.
“Tapi Din, rasanya aku pengin kebelakang,” Rembulan
memegangi perutnya sambil duduk di tanah.
“Wah, gawat pasti ulah Arga lagi!” gumam Dina.
“Din, itu ada rumah penduduk ayo kita mampir ke sana
untuk numpang ke belakang, siapa tahu dapat pertolongan, “
saran Tika.

Tanpa pertimbangan lagi regu Teratai menuju rumah
penduduk. Kebetulan sekali Rumah Pak RT, orangnya ramah
dan mau menolong. Rembulan dipersilakan kebelakang.
Kebetulan di pekarangan Pak RT ada pohon sawo.

31

“Pak RT bolehkah saya minta buah sawo?”
“Boleh, Nak, tapi masih mentah belum ada yang matang.”
“Tidak apa-apa Pak, untuk mengobati sakit perut Rembulan.”

Dina pun memetik dua buah sawo yang masih mentah
itu. Kemudian dikupas lalu di haluskan dengan ulegan ,
disedu dengan air hangat, baru disaring. Air saringan
diminumkan Rembulan. Beruntung Pak RT mau meminjami
peralatan yang dibutuhkan. Kurang lebih 15 menit perut
Rembulan sudah mulai membaik. Mereka sangat berterima
kasih dengan Pak RT dan melanjutkan kembali perjalannnya.

Sementara itu regu Arga sudah sampai pos lima,
dengan bangga Arga menepuk dada. Taktiknya untuk
mengalahkan regu Teratai berhasil. Sinar matahari yang
semakin meninggi tidak menyurutkan semangat anak-anak
untuk menyelesaikan tugasnya.

Satu per satu regu penggalang putra maupun putri
sudah mulai berdatangan ke kemah kembali. Hanya Regu
Rembulan yang masih belum tiba di pos 4 maupun pos 5.
“Regu Teratai mengapa terlambat sampai satu jam?” tanya
kakak pembina.
“Saya sakit perut, Kak,” jawab Rembulan.
“Sebelum berangkat sudah sarapan?”
“Sudah, Kak.”
“Kenapa waktu pemberangkatan tidak bilang kalau sakit?”
“Waktu berangkat saya sehat-sehat saja, Kak?” Kakak
pembina mengernyitkan dahinya sebentar. Dina yang dari tadi
hanya diam mengacungkan tangan.
“Ada apa, Dik?”
“Bolehkah saya bercerita tentang sakit Rembulan, Kak?”

32

Rembulan tersentak ketika Dina memberanikan diri
untuk bercerita tentang apa yang telah menimpa dirinya. Dina
bercerita dengan runtut. Cerita Dina juga dibenarkan oleh
teman-temannya.
“Oke, sekarang kalian boleh melanjutkan perjalanan ke pos
terakhir!”

Tugas di pos 5 dapat dikerjakan oleh regu Rembulan
dengan baik. Terik matahari begitu menyengat. Lagu-lagu
pramuka dan teriakan yel-yel masih mengiringi langkah regu
Teratai menuju ke tenda.
“Kasihan deh Lo, baru sampai!” kelompok Arga menyambut
dengan ejekan.
“Emang gue pikirin!” sahut Dina tidak mau kalah.

Setelah melepas sepatu semua regu Teratai masuk ke
tenda untuk beristirahat. Walaupun siang hari di tenda tidak
terasa panas, letaknya yang berada di bawah pohon cemara,
justru semakin terasa segar manakala angin berhembus.
“Arga benar-benar licik!” kata Dina sambil tiduran.
“Alamat, kita tidak jadi sang juara, nih,” kata Rembulan lesu.
“Tidak apa-apa Rembulan yang penting kita tetap kompak
dan selamat sampai tenda lagi,” ucap Dina menghibur
Rembulan yang mulai gundah.
“Perubahan Arga dratis ya?” kata Dina.
“Maksudmu?” Rembulan pura-pura tidak mengerti.
“Dulu Arga sangat dekat dengan kamu tapi sekarang seperti
kucing melihat anjing,” jawab Dina.
“Tidak usah dipikirin Din, biarkan saja yang penting saya
tidak memusuhinya.”
“Hebat kamu, Rembulan?”

33

“Apanya yang hebat, Din?”
“Arga sudah membenci dan bahkan mencelakaimu tetapi
kamu masih bersikap baik kepadanya.”
“Aku ingat kata-kata ibu, jika kebencian dibalas kebencian
tidak akan berakhir,, namun jika kebencian dibalas dengan
kebaikan permusuhan itu pun akan berakhir.”

Perkataan Rembulan disambut dengan angukan
teman-temannya tanda setuju. Kemudian semuanya diam
hanya alunan lagu yang terdengar dari tenda kakak pembina.
Kedewasaan Rembulan dalam menyelesaikan masalah tak
lepas dari bimbingan Bu Samudra yang selalu menanamkan
sikap welas asih, menghormati orang lain, ulet dalam bekerja,
dan mandiri.

Tenda-tenda telah digulung kembali, berbagai
peralatan perkemahan sudah mulai dikemasi. Beberapa
mobil orang tua yang menjemput sudah mulai berdatangan,
tidak terkecuali Bu Samudra. Rembulan kelihatan senang
begitu melihat ibunya sudah datang. Barang-barang Rembulan
pun juga sudah masuk ke mobil.

Matahari terus merambat ke arah barat. Bumi
perkemahan sudah bersih dari tenda. Anak-anak bersiap-siap
untuk melakukan upacara penutupan. Kakak pembina,
bapak, ibu guru, dan para petugas upacara sudah siap di
tempat upacara.
“Pasti kelompok Arga yang menang,” kata Dina dengan nada
kawatir.
“Andaikan kelompok Arga yang menang memang sudah
sepantasnya, Din. Dia lebih dulu sampai tujuan,” ujar
Rembulan.

34

Peluit sudah ditiup oleh komandan upacara. Semua
peserta kemah berkumpul di tengah lapangan. Hadiah-hadiah
kejuaraan dan bendera tergiat sudah siap di tempat upacara.

Bendera tergiat adalah bendera kebesaran yang harus
diperebutkan oleh kelas V sebagai penerima estafet
kepemimpinan dari kelas VI ke kelas V. Itulah sebabnya
kelas V bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini. Acara yang
dinanti-nanti pun tiba. Pengumuman hasil lomba dibacakan
oleh Bu Lintang sebagai pembina upacara saat ini.
“Adik-adik sebagai juara tergiat III adalah regu Kancil.” Anak-
anak bertepuk tangan menyambut kemenangan regu Kancil.
Ketua regu berjalan ke depan untuk menerima hadiah.
“Tergiat II adalah regu Melati!”
“Tergiat I adalah…,” Bu Lintang berhenti sejenak. Arga
kelihatan gembira, ia memandang sinis regu Teratai yang
berdiri paling ujung. Arga sangat yakin bahwa juara I adalah
kelompoknya.
“Tergiat I adalah regu yang mampu menyelesaikan
permasalahan dalam kelompoknya dengan baik. Regu ini
dapat menggunakan obat tradisional untuk mengobati
temannya yang sakit diare. Inilah regu Teratai!” kata-kata Bu
Lintang mengejutkan Arga. Rona wajah Arga perlahan-lahan
menjadi lesu.

Rembulan tidak menyangka jika regunya akan keluar
sebagai juara. Kegembiraan mewarnai sore itu dengan
disaksikan langit yang berwarna merah saga di ujung barat
menandai senja telah tiba. Angin sore memainkan dedaunan
seakan ikut bertepuk tangan merayakan kemenangan regu
Teratai.

35

Kerinduan Rembulan

Sudah seminggu perkemahan itu berlalu. Anak-anak
kelas lima kembali sekolah seperti biasa. Kini mereka
menghadapi ulangan umum semester II. Semua anak sibuk
menghadapi ulangan, demikian juga dengan Rembulan.
“Rembulan tumben Arga tidak belajar bersama denganmu?”
tanya ibunya ketika makan malam.
“Emmm, mungkin Arga ingin belajar sendiri Bu.”
“Atau kamu.”

Belum selesai Bu Samburda berbicara bunyi telepon
rumah berdering. Bu Samudra buru-buru mengangkat gagang
telepon yang tidak jauh dari ruang makan itu.
“Dari siapa, Bu?”
“Biasa, dari orang yang mau meyewa bis kita.”
“Wah, ramai juga ya bu kalau mau musim liburan!”
“Lumayan Nak, hanya itu sumber penghasilan ibu sejak
ditinggal almarhum bapakmu,” Bu Samudra berkata sambil
menerawang masa silam. Matanya berubah menjadi berkaca-
kaca jika mengingat Pak Aryo, suaminya.

Pak Aryo sejak dulu memang mempunyai usaha
angkutan. Empat bus pariwisata yang dulu dirintis oleh Pak
Aryo kini dikembangkan oleh Bu Samudra hingga menjadi 10
bus. Usaha yang digelutinya memang tidak sia-sia kini telah
membuahkan hasil. Kehidupan Bu Samudra memang bisa
dibilang cukup kaya.
“Sudah Bu, tidak usah sedih. Bapak biar tenang berada di
surga,” kata Rembulan membuyarkan lamunan Bu Samudra.

36

Dalam hati Bu Samudra membenarkan perkataan
Rembulan. Hatinya yang tidak tenang kini perlahan-lahan
ditata kembali. Bu Samudra mengambil air putih untuk
mengusir kegundahan hatinya, lalu melanjutkan makan
bersama Rembulan.

Rembulan memperhatikan ibunya dengan seksama. Ia
tidak tega jika ibunya dirudung sedih yang berkepanjangan.
Sampai beberapa waktu mereka terdiam dalam angan masing-
masing.
“Rembulan setelah terima rapor nanti kita berlibur ke
puncak, ya.”
“Beres Bu,” ucap Rembulan sambil mengambil ikan bakar di
atas meja makan.
“Kita ajak sekalian Arga, Ya!”

Makanan yang Rembulan telan seperti menyangkut di
leher. Rembulan terdiam sejenak. Bu Samudra yang dari tadi
menikmati makanan kini perhatiannya beralih pada putrinya.
“Minum dulu, Rembulan!” Rembulan menganggukkan
kepalanya sambil meraih gelas yang berisi air putih di
sampingnya.
“Kalau makan hati-hati, tadi lupa berdoa, ya?”

Rembulan mengganggukan kepala sekali lagi. Kali ini
ia berbohong, agar ibunya tidak bertanya yang macam-macam
lagi.
“Besok ulangan terakhir, ya?”
“Ya, Bu memang kenapa?”
“Ibu hanya pesan kalau mengerjakan ulangan yang teliti,
jangan mentang-mentang hari terakhir terus seenaknya
sendiri.”

37

“Beres Bu, tidak usah kawatir!”
“Sekalian bilang ke Arga, liburan nanti kita ajak ke puncak.”

Rembulan tidak menjawab ia hanya berdiam. Ibunya
memandang putrinya lekat-lekat. Bu Samudra mulai menaruh
curiga kepada Rembulan.
“Kok diam. Apakah ada masalah dengan Arga?”

Rembulan masih diam belum menjawab pertanyaan
ibunya. Dalam hati Rembulan takut kalau dimarahi ibunya.
Selama ini Bu Samudra selalu mengajarkan putrinya bersikap
baik kepada siapa saja dan jangan sampai menyakiti atau
bermusuhan dengan orang lain.
“Kamu marahan dengan Arga?”
“Ya, Bu, tetapi…”
“Bukan Rembulan yang memusuhi Arga.”
“Ya, Bu.”
“Arga yang memulai.”
“Ya, Bu.”
“Rembulan, ibu yakin bukan kamu yang memulai. Namun
alangkah baiknya jika kalian berbaikan kembali. Alangkah
indahnya jika persahabatan kalian penuh dengan kedamaian.”

Rembulan memperhatikan semua nasihat ibunya.
Dalam hati ia membenarkan juga perkataan ibunya. Selama
ini sejak Arga memusuhi Rembulan yang ada hanya rasa
benci, curiga, dan tidak pernah ada kedamaian seperti dulu.
“Tapi, Bu…”
“Tapi kenapa, Rembulan?”
“Rembulan sudah berusaha berbaik hati dengan Arga, tetapi
Arga selalu bersikap tidak baik dengan Rembulan, Bu.”

38

“Rembulan, ingat Nak, kebenaran akan selalu mendapatkan
kemenangan demikian juga dengan kamu. Jika kamu
mempunyai niat baik untuk berbaikan Ibu yakin Tuhan akan
memberi jalan, Nak.”

Malam itu hampir Rembulan tidak bisa tidur. Ia
memikirkan cara untuk memulihkan hubungannya dengan
Arga. Sejak selesai kemah memang Arga tidak lagi berteman
dengan Rembulan. Sikap Arga memang sudah berubah.
Jangankan bermain bersama menyapa pun tidak pernah.

Rembulan sendiri menganggap jika yang dilakukan
sahabatnya membuat sahabatnya senang maka ia membiarkan
saja. Walau pun dalam hati Rembulan juga tersiksa. Sahabat
yang selalu menemani dalam suka duka kini berubah hanya
karena kesalahpahaman ketika pembentukan regu pramuka.

Rembulan ingat, ketika sakit dulu, Arga menengok
dan memberinya semangat. Rembulan sendiri juga tidak habis
pikir kenapa kegiatan perkemahan kemarin harus berakhir
dengan permusuhan. Jika waktu bisa diulang Rembulan akan
berusaha menarik Arga menjadi anggota regunya. Tapi apa
daya penyesalan selalu datang di akhir.

Sampai pukul sebelas Rembulan belum juga bisa
memejamkan mata. Semua peristiwa yang pernah dialami
dengan sahabatnya menari-nari di depan matanya. Mata yang
sudah sayu itu mendadak berseri-seri, Rembulan perlahan
melompat dari tempat tidurnya dan menuju ke meja belajar di
samping tempat tidur.

Rembulan mengambil secarik kertas kemudian
menggoreskan penanya di atas kertas tersebut. Selesai

39

menulis, dilipatnya kertas itu dan dimasukan ke dalam
amplop. Baru Rembulan bisa memejamkan matanya.

Di Sekolah Rembulan tidak bertemu Arga. Hingga bel
masuk berbunyi Arga belum juga kelihatan hidungnya.
Rembulan kelihatan gelisah, ulangan terakhir Arga tidak
mengikutinya. Rencana yang sudah disiapkan Rembulan, hari
ini gagal.

Tak satu pun teman yang tahu tentang Arga. Bu
Lintang juga kebingungan, Arga tidak masuk sekolah tanpa
keterangan padahal hari ini masih ulangan umum. Hingga
sekolah usai Rembulan tidak bisa berkonsentrasi, pikirannya
tertuju pada Arga.

Bel sekolah berbunyi panjang pertanda sekolah sudah
usai. Rembulan segera berlari menuju mobil ibunya.
Rembulan langsung nyelonong masuk mobil tanpa menyapa
ibunya terlebih dahulu, hal ini bukan kebiasan Rembulan.
“Kenapa anak manis? Kelihatan terburu-buru sekali.”
“Eh Arga, Bu.”
“Kenapa dengan Arga?”
“Arga hari ini tidak masuk Bu, tanpa keterangan, padahal
masih ulangan umum.”
“Lalu…”
“Bu kita kerumah Arga, Ya.”
“Ayo, asal Rembulan baikan lagi dengan Aga.”

Rembulan mengangguk tanda setuju. Bu Samudra
segera menjalankan mobilnya menuju ke rumah Arga.
Perjalanan ke rumah Arga terasa panjang bagi Rembulan
berulangkali ia menggeser duduknya. Hati Rembulan merasa
tidak tenang.

40

“Sabar Rembulan sebentar lagi sampai,” kata Bu Samudra
menenangkan hati Rembulan.

Rumah Arga kelihatan sepi, pintu rumah tertutup
rapat walaupun pintu gerbangnya tidak terkunci. Bu Samudra
memencet bel rumah namun tidak juga ada yang keluar dari
rumah. Baru setelah kelima kali Bu Samudra memencet bel
rumah, pembantu Arga keluar, mempersilahkan Bu Samudra
dan Rembulan duduk di ruang tamu.
“Bu Samudra, Rembulan, apa kabar?” tanya Bu Wulan
dengan ramahnya.
“Kabar baik, Bu,” jawab Bu Samudra sambil bersalaman.
“Tante kenapa Arga hari ini tidak masuk?” Rembulan tidak
sabar lagi ingin mengetahui keadaan Arga.
“Arga sakit, Rembulan. Sejak pagi tadi diare tidak mampet-
mapet. Baru saja Tante pulang dari dokter.”
“Boleh Rembulan menengok Arga, Tante.”
“Silakan, masuk saja Rembulan!”

Tanpa dikomando Rembulan bergegas masuk ke
kamar Arga. Sementara itu Bu Samudra dan Bu Wulan
berbincang-bincang di ruang tamu.
“Tok…tok…tok!” Rembulan mengetuk pintu kamar Arga.
“Masuk!” Sahut Arga dari dalam kamar.

Rembulan membuka pintu pelan sekali. Hatinya
berdebar-debar menunggu reaksi dari Arga yang begitu
membencinya. Rembulan memandangi sahabatnya yang
tergolek di dalam kamar.

Pandangan mata Arga dan Rembulan beradu. Arga
masih sinis memandang Rembulan. Rembulan berjalan

41

dengan langkah ragu-ragu, ia berusaha tersenyum dan
mendekati sahabatnya.
“Halo Arga, masih sakit ya.” Arga tidak menjawab dengan
pandangan sinis, Arga menatap Rembulan penuh kebencian.
“Arga, saya ikut prihatin kamu sakit saat ulangan umum.”
Arga masih membisu, bibirnya yang pucat pasi seakan
terkunci rapat-rapat.
“Selamat Ulang tahun Arga hanya ini yang bisa aku berikan,”
kata Rembulan mengagetkan Arga, ia mengulurkan sepucuk
surat. Arga masih terdiam sejenak namun perlahan-lahan
tangannya bergerak maju meraih surat yang diberikan
Rembulan.

Untuk sementara keduanya membisu. Arga membuka
amplop dari Rembulan. dengan tangan masih gemetaran
karena sakit, kemudian membaca surat itu.

Sahabatku hanya sebuah puisi yang dapat aku
persembahkan di hari ulang tahunmu.

Kedamaian
Sahabat…
Aku rindu ceriamu
Aku rindu canda tawamu
Sahabat…
Aku lelah bertengkar
Aku lelah bermusuhan
Sahabat….
Aku rindu kedamaian
Aku ingin seperti dulu
Kita bersama dalam suka duka
Selamat Ulang Tahun Sahabatku

42


Click to View FlipBook Version