Tangan Arga semakin gemetar, ia tak kuasa lagi
membendung tangis yang sudah sejak tadi ditahannya.
Rembulan merangkul sahabatnya, kedua anak itu pun larut
dalam isakan tangis.
“Rembulan maafkan aku, ya?” pinta Arga di tengah-tengah
isak tangisnya.
Rembulan tak kuasa menjawab hanya anggukan kepala
dan senyum keharuan yang menyambut sahabatnya.
Keduanya tenggelam dalam lautan kebahagiaan. Siang yang
terik tidak terasa gerah bagi kedua sahabat itu, sesejuk hati
mereka yang telah disiram oleh kedamaian.
43
Ibu Rembulan
Siang ini udara sangat dingin musim hujan masih
mengguyur Pulau Jawa. Berita banjir dan tanah longsor masih
merupakan berita utama di koran maupun televisi. Pukul
13.00 Bu Samudra menonton televisi swasta. Rembulan sibuk
mencorat-coret buku gambarnya di samping Bu Samudra.
Gerimis siang itu membuat hawa dingin semakin
menusuk tulang. Walaupun libur, Rembulan dan ibunya tidak
pergi kemana-mana. Hari Minggu ini dihabiskan dengan
kegiatan di dalam rumah. Apalagi hujan mengguyur kota
Rembulan sejak pagi.
“Hujan terus-terusan Bu, kapan terangnya?” gumam
Rembulan.
“Wajar Nak, sekarang kan, musim Hujan.”
“Tapi Bu…!”
“Tapi, kenapa?”
“Akibatnya, banjir dan tanah longsor di mana-mana.”
“Ya, begitulah Nak. Resikonya kalau musim Hujan.”
Perbincangan mereka berhenti sejenak. Perhatian
mereka kembali tertuju pada berita televisi hingga acara
pariwara. Air hujan di luar rumah masih menetes, daun-daun
basah bergoyang-goyang dihembus angin seakan menggigil
kedinginan.
Perhatian Rembulan dan Bu Samudra kembali tertuju
pada acara berita. Bu Samudra bagai tersambar petir. Ketika
di televisi menayangkan kecelakaan bus pariwisata di daerah
Jawa Barat karena jalanan licin dan rem bus blong. Tiga bus
pariwisata yang beriringan masuk jurang, diduga ada korban
44
tewas dan banyak yang luka-luka. Bus itu tak lain bus “Cahaya
Rembulan” milik Bu Samudra.
“Bu, bus kita, Bu!” kata Rembukan menjerit. Bu Samudra
gemetaran, Rembulan dirangkul kuat-kuat. Sampai berita itu
habis mereka masih kalut dalam kesedihan.
“Tenang, Nak. Ibu akan berusaha mengurus semua ini.”
Bu Samudra berusaha tabah mnghadapi cobaan ini. Ia
melangkah ke arah meja telepon. Beberapa tempat ia
hubungi untuk segera menolong korban dan mengurus segala
kerugian dan ganti rugi untuk para penumpang.
“Rembulan, ibu harus segera ke Jawa Barat, Rembulan di
rumah sama Mbok Mi, ya?”
Rembulan hanya mengangguk pelan. Ia
memperhatikan ibunya tanpa berkedip. Bu Samudra
menyiapkan segala keperluan yang harus dibawa selama
mengurus kecelakaan itu di Jawa Barat.
“Mbok Mi, saya tinggal dulu untuk beberapa hari, ya?”
“Iya, Bu.”
“Rembulan, jaga diri baik-baik, ya.”
Bu Samudra bergegas pergi, setelah memberesi segala
keperluan yang dibutuhkan Rembulan. Putrinya memandangi
ibunya dengan penuh kesedihan.
“Kasihan Ibu, Mbok.”
“Iya, Non memang musibah itu tidak dapat di duga, semoga
Ibu tabah.”
Hari-hari berikutnya, Rembulan merasa kesepian.
Sesekali Bu Samudra memantau putrinya lewat telepon.
Keceriaan Rembulan pun berkurang.
45
“Kenapa, melamun, Ya?” tanya Bu Lintang saat Rembulan
tidak segera menjawab pertanyaan dari gurunya.
“Em…anu Bu,” Rembulan tidak bisa lagi melanjutkan kata-
katanya. Ia sangat terkejut ketika Bu Lintang menegurnya.
Hanya Bel istirahat yang mampu menyelamatkan posisi
Rembulan saat itu.
“Baiklah anak-anak, sekarang kalian boleh istirahat.”
“Hore!” Anak-anak pun berhamburan ke luar kelas.
Rembulan bergandengan tangan dengan Arga menuju kantin
sekolah.
“Tumben Rembulan, akhir-akhir ini jarang membawa bekal.”
“Malas saja, Ar.”
“Kamu juga sering melamun. Saya perhatikan sudah dua hari
ini kamu tidak lagi ceria, Rembulan.”
“Terima kasih atas perhatianmu, Ar.”
“Apakah kamu punya masalah, Rembulan?”
Rembulan menarik napas panjang. Kemudian
disedotnya es jeruk yang sudah dipesan. Ia memperhatikan
sahabatnya yang sedang menikmati bakso kuah. Rembulan
tidak berselera makan, ia hanya pesan minuman saja.
“Jika ada masalah cerita, dong! Siapa tahu aku bisa sedikit
meringankan bebanmu,” tawar Arga memandangi Rembulan
yang masih terdiam.
“Ibuku, Ar.”
“Ada apa dengan, Tante Samudra?”
“Dua hari yang lalu, tiga bus ibu masuk jurang di Jawa Barat.”
“Lalu…”
“Sekarang ibuku sedang mengurus semua itu di Jawa Barat,”
Rembulan berkata dengan mata berkaca-kaca. Arga yang
46
sudah akan menggigit bakso, diurungkan niatnya. Ia tidak
mengira kalau keluarga Rembulan sedang di rudung duka.
“Jadi sekarang kamu sendirian di rumah.”
“Ya, dengan Mbok Mi.”
Untuk beberapa saat mereka menghabiskan minuman
dan makanan yang sudah dipesan. Makanan favorit Arga
tidak lagi terasa nikmat. Begitu juga minuman yang mereka
minum. Pikiran mereka larut dalam kesedihan.
“Rembulan tabah ya, dibalik ini pasti ada hikmahnya.”
Arga membesarkan hati Rembulan. Kedua sahabat
bergegas ke kelas setelah mendengar bel masuk berbunyi.
Rembulan sore ini tidak pergi ke mana-mana. Latihan
tari yang seharusnya ia ikuti setiap Rabu kali ini absen. Bu
Samudra telah menelepon jika hari ini akan pulang. Sejak
pulang sekolah Rembulan sudah menunggu-nunggu ibunya.
Waktu tidur siang pun, ia lewatkan di atas sofa, di depan
televisi tanpa bisa memejamkan mata sedikitpun. Hampir
setiap setengah jam ia selalu melongokkan kepala ke pintu
depan.
“Sudah sore begini, Ibu belum juga pulang, Mbok.”
“Sabar, Non. Sebentar lagi pasti ibu datang,” sahut Mbok Mi
menenangkan hati Rembulan.
“Saya telepon ke HP juga tidak aktif,” gumam Rembulan.
“Siapa tahu Non Ibu sedang diperjalanan yang tidak ada
sinyalnya,” ujar Mbok Mi berusaha menghibur Rembulan.
“Betul juga ya, Mbok.”
Hingga malan Bu Samudra belum juga tiba. Rembulan
masih belajar, buku yang dipeganginya hanya dibolak-balik
47
saja, tanpa ada satu kalimat pun yang mampir di otaknya.
Pikirannya tertuju pada ibu yang belum pulang.
“Kasihan ibu, Mbok,” kata Rembulan pada Mbok Mi yang
menemaninya belajar.
“Ibu sendirian, tidak ada yang membantunya. Andaikan
bapak masih hidup…”
“Ssst, sudah Non tidak usah disesali. Biarkan Bapak tenang di
Surga,” kata Mbok Mi sambil memberesi buku Rembulan
yang masih berserakan di meja.
Rembulan kembali melamun, di luar hujan mulai
mengguyur lagi. Sepertinya hujan tidak ingin bumi ini kering.
Mbok Mi menutup semua pintu dan jendela. Rembulan
merebahkan badannya di sofa depan televisi.
“Mbok, kasihan ibu kehujanan.”
“Mudah-mudahan Ibu cepat sampai, Non.”
Pembicaraan mereka terhenti begitu mendengar suara
petir bergelegar membelah langit. Rembulan segera meutup
telinganya rapat-rapat. Televisi yang baru dinyalakan segera
dimatikan lagi.
“Mbok Mi siapkan lilin ya, Non, siapa tahu akan mati
lampu.”
“Pakai lampu emergensi saja Mbok, biar terang.”
“O, ya Non. Mbok Mi lupa, maklum sudah tua, Non.”
Mbok Mi segera mengambil lampu yang berada di
ruang makan. Apa yang mereka kawatirkan benar-benar
terjadi. Lampu Rumah mendadak semua padam. Keadaan
semakin gelap gulita. Hanya cahaya kilat yang berulang-ulang
menerangi alam disertai suara petir berturut-turut.
48
Lampu emergensi yang sudah siap, segera dinyalakan.
Ruang tengah itu menjadi terang. Rembulan menyelimuti
tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Suara mobil
berhenti di depan rumah membuat Rembulan melonjak
gembira.
“Itu suara mobil, ibu,” gumam Rembulan.
Mbok Mi melongok dari balik tirai jendela setelah
yakin itu mobil Bu Samudra,. Mbok Mi segera mengambil
payung dan kunci pintu gerbang. Pembantu yang sudah
setengah tua itu tergopoh-gopoh membukakan pintu
majikannya. Rembulan menyambut ibu di depan pintu
dengan gembira.
“Ibu!” Rembulan merangkul ibunya kuat-kuat, demikian juga
Bu Samudra ia lepaskan segala kerinduannya dengan putrinya
tercinta.
“Rembulan, baik-baik saja?”
“Baik-baik, Bu. Bagaimana dengan ibu?” tanya Rembulan
setelah meletakkan semua barang bawaan ibunya.
“Ya, beginilah, Nak kalau kerja wiraswasta. Adakalanya kita
harus dihadapkan pada posisi yang cukup sulit.”
“Tapi ibu sehat-sehat saja, kan?”
“Berkat doamu juga, Nak Ibu sehat.”
Malam itu mereka lepaskan seluruh kerinduan
mereka. Bu Samudra tidak ingin anaknya ikut sedih. Ia
berkata pada Rembulan bahwa segala urusan sudah selesai.
Bu Samudra berusaha menutupi kesedihannya.
“Ayo, Bu makan bersama,” kata Rembulan setelah Bu
Samudra mandi dan lampu rumah sudah menyala lagi.
“Kamu belum makan, ya?”
49
Rembulan menggangguk, digandengnya tangan
Rembulan ke arah meja makan. Mbok Mi sudah menyiapkan
nasi gudangan telur ceplok, tahu, dan tempe bacem, tak lupa
krupuk bawang kesukaan Rembulan.
“Ayo, Mbok makan bersama!” kata Bu Samudra. Bu
Samudra memang menganggap Mbok Mi sudah seperti
keluarga sendiri. Makan pun tidak pernah dibeda-bedakan
maka tak mengherankan jika Mbok Mi sudah mengabdi pada
Bu Samudra selama 15 tahun.
Mereka makan dengan lahapnya. Udara dingin malam
itu tidak menyurutkan keakraban antara ibu, anak, dan
seorang pembantu. Sungguh kenikmatan yang luar biasa, bisa
makan bersama keluarga seperti ini.
Malam kian larut, hujan mengguyur semakin deras.
Rembulan tidur dengan nyenyak di samping ibunya.
Rembulan merasakan sebuah kedamaian di sisi ibu. Bu
Samudra mengusap kepala Rembulan pelan sampai putrinya
tidur nyenyak.
“Biarlah, Rembulan tidak tahu masalah yang dihadapi
ibunya,” batin Bu Samudra sambil menutupkan selimut di
atas tubuh Rembulan.
Langit hitam pekat, mendung masih menggantung di
atas kota itu. Sepekat kesedihan Bu Samudra atas kerugian
yang dialami saat ini. Bu Samudra tidak bisa segera
memejamkan matanya. Rintik hujan di luar semakin
menambah kesedihannya. Baru setelah pukul 01.00 dini hari
Bu Samudra dapat merebahkan diri di samping Rembulan.
50
Tangis Rembulan
Musim hujan telah berlalu, langit kembali cerah. Sinar
metahari menyapa setiap orang setiap hari. Awan berarak-
arakan di angkasa raya menuruti hembusan angin yang
bertiup.
Rembulan terbangun dari tidurnya ketika hari sudah
siang. Rembulan terperanjat, buru-buru ia berlari ke kamar
mandi. Namun setelah ingat kalau hari ini hari Minggu
diurungkan niatnya untuk mandi.
“Mbok, mana Ibu?”
“Ibu sudah pergi, Non. Ibu meninggalkan surat untuk Non
Rembulan.”
Rembulan segera meraih sepucuk surat dari tangan
Mbok Mi. Ia ingin segera mengetahui isi surat itu.
Untuk Ananda tersayang,
Rembulan, Ibu ada urusan lagi untuk beberapa hari.
Kamu jaga diri baik-baik, ya! Sarapan pagi dan segala
keperluanmu sudah ibu persiapkan. Satu pesan ibu
apapun yang terjadi kamu harus selalu rajin belajar.
Cium sayang dari,
Ibunda
Rembulan menarik napas panjang. Batinnya penuh
tanda tanya tentang kepergian ibunya. Dua minggu yang lalu
urusan kecelakaan bus yang menimpa bus “cahaya
Rembulan” sudah selesai.
51
“Pasti ada yang gawat,” pikir Rembulan.
Hatinya semakin sedih jika mengingat ibunya yang
bekerja sendirian. Pelan-pelan dilipatnya kembali surat itu.
Kemudian dihempaskannya tubuh mungil itu di atas sofa
merah tua.
“Mbok, ada apa dengan pekerjaan ibu.”
“Mbok Mi tidak tahu, Non, Cuma setelah Bu Samudra
menerima telepon, ibu buru-buru pergi.”
Rembulan bergegas menuju ke tempat telepon. Niat
untuk menelepon ibunya diurungkan. Gagang telepon yeng
sudah dipegangnya diletakkan kembali. Rembulan berbalik
ke sofa lagi.
Lamunannya buyar ketika bunyi telepon berdering.
Rembulan berlari untuk mengangkat telepon lagi.
“Hallo, Ibu.”
“Sudah bangun, Nak. Jangan lupa mandi dan sarapan pagi.”
“Iya, Bu. Ibu pergi kemana, sih?”
“Nanti saja kalau ibu pulang, ibu akan cerita. Sudah sekarang
mandi dulu,” kalimat terakhir Bu Samudra terdengar parau di
telinga Rembulan.
Berulang kali ia menarik napas panjang. Rembulan
menduga ibunya ada masalah besar. Hanya satu yang bisa
Rembulan lakukan untuk ibunya berdoa dan menuruti
nasihat ibu.
Hingga sore hari Ibu belum juga pulang, Rembulan
kelihatan gelisah. Jarum jam sepertinya lambat berjalan. Hari
libur ini dihabiskan Rembulan di depan televisi, namun
demikian tidak satupun acara yang benar-benar diikutinya.
Pikirannya terus tertuju pada ibu.
52
Baru pukul enam sore mobil ibu masuk ke garasi.
Rembulan menyambut dengan penuh kecemasan. Rona
wajah ibu yang kusut semakin membuat Rembulan penasaran
dengan masalah ibu.
Namun demikian Bu Samudra tetap berusaha
tersenyum untuk putrinya. Rembulan mencium tangan ibu
dan memeluknya erat-erat. Ia gandeng tangan ibu masuk
rumah.
Bu Samudra duduk di kursi panjang. Rembulan
mengambilkan segelas air putih dari dalam kulkas. Bu
Samudra meneguknya hingga habis, kemudian pergi untuk
mandi.
Rembulan belum berani bertanya kepada ibu. Ia
mencari waktu yang tepat untuk berbincang-bincang dengan
ibu.
Saat makan malam pun Rembulan masih diam
demikian juga ibu. Bu Samudra tidak bercerita tentang
masalahnya. Obrolan-obrolan ringan saja yang terjalin antara
mereka.
“Ada PR, Nak? Besok hari Senin sekolah masuk, lho,” tanya
ibu menemani putrinya belajar. Rembulan hanya
menggelengkan kepala.
“Sakit, Ya? Kok Lesu.”
Hanya gerakan kepala yang menjawab pertanyaan ibu.
Bu Samudra meraba kening putrinya. Namun tidak juga ada
tanda-tanda sakit.
“Kalau ada masalah cerita sama Ibu, Rembulan.”
“Ibu yang ada masalah,” kata Rembulan mengagetkan Bu
Samudra.
53
Bu Samudra terdiam sejenak. Ia tarik napas dalam-
dalam, dipandanginya wajah putrinya yang masih menunggu
jawaban dari ibu.
“Rembulan, kamu masih kecil. Belum waktunya ikut berpikir
berat seperti Ibu. Biar Ibu saja yang tahu.”
“Tapi Bu…Rembulan kasihan sama Ibu.”
Bu Samudra mengelus kepala putrinya dengan penuh
kasih. Ia tidak ingin masalah yang baru dihadapi saat ini
menjadi beban bagi putrinya. Dengan suara lembut Bu
Samudra berusaha meyakinkan kepada putrinya bahwa
masalah yang dihadapi saat ini adalah masalah wajar dalam
pekerjaan. Perbincangan mereka berakhir hingga Rembulan
tertidur di pangkuan ibunya.
Pagi-pagi benar Rembulan sudah bangun. Ia berangkat
lebih awal sebab hari ini harus upacara bendera. Hingga
selesai sarapan pagi Bu Samudra belum juga terbangun dari
tidurnya. Rembulan yang sudah siap berangkat menengok ke
kamar ibu.
“Ibu…” Rembulan terkejut melihat ibunya dalam keadaan
lemas dan berkeringat dingin. Rembulan panik ia memanggil
Mbok Mi. Atas saran Mbok Mi, Rembulan menelepon Bu
Wulan.
“Hallo Tante…”
“Ada apa Rembulan?”
“Saya minta tolong, Tante. Ibu sakit, badannya lemas dan
berkeringat dingin.”
“Ya, Tante segera ke sana.”
Selama menunggu Bu Wulan. Rembulan
mengkompres kening ibunya dengan dibantu Mbok Mi.
54
Melihat kondisi ibu yang lemah Rembulan semakin pilu, tak
terasa air matanya menetes, demikian juga Bu Samudra.
Rembulan memegang erat tangan ibu. Keduanya larut dalam
isak tangis. Mbok Mi ikut terisak-isak, dipijat-pijatnya tangan
dan kaki Bu Samudra sambil diberi minyak gosok.
“Masuk saja Tante,” kata Rembulan setelah Bu Wulan
datang.
“Mari Bu saya antar ke dokter,” kata Bu Wulan setelah
bersalaman dengan Bu Samudra.
Bu Samudra digandeng Bu Wulan dan Mbok Mi,
menuju mobil Bu Wulan. Rembulan ikut mengantar ibu dan
memutuskan tidak masuk sekolah dulu.
Wajah Bu Samudra tampak pucat, tidak ada
percakapan sepanjang perjalanan, Rembulan duduk
disebelah ibu sambil menyelimuti dan mendekap ibu. Bu
Wulan mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi.
“Bagaimana dok, kondisi ibu, Rembulan?” tanya Bu Wulan
cemas.
“Ibu keluarganya?” tanya dokter di ruang Unit Gawat Darurat
(UGD) itu.
“Betul, Dok,” jawab Bu Wulan.
“Saya beri resep bu, jika sudah habis segera kontrol lagi ke
sini!” kata Dokter mengejutkan Rembulan dan Bu Wulan.
Bu Wulan segera membeli obat di apotek Rumah
Sakit itu. Rembulan dan Bu Samudra menunggu di ruang
tunggu bagian depan. Waktu terasa begitu lama. Obat yang
dibeli Bu Wulan tak kunjung datang. Rembulan ingin ibunya
segera minum obat agar cepat sembuh.
55
“Maaf Rembulan agak lama, yang antre beli obat banyak
sekali.”
“Tidak apa-apa tante yang penting dapat obat.”
Bu Wulan segera pulang bersama Rembulan dan Bu
samudra. Mereka kembali ke rumah Bu Samudra. Sepanjang
jalan Rembulan terus mendoakan ibunya agar cepat sembuh.
Siang itu udara panas, setelah minum obat kesehatan
Bu Samudra sudah mulai membaik. Dua hari sudah Bu
Samudra harus beristirahat di kamarnya. Bu Wulan selalu
menyempatkan diri menengok Bu Samudra sebelum
menjemput Rembulan dan Arga dari sekolah.
“Bu Wulan terima kasih bantuannya.”
“Tidak usah dipikir, Bu.”
“Beruntung ada Bu Wulan kalau tidak mungkin jiwa saya
sudah tidak tertolong, Bu.”
Ucapan Bu Samudra berhenti sejenak. Ia
membetulkan letak bantalnya. Kemudian Bu Samudra
menarik napas panjang, sepertimya ada sesuatu yang
mengganjal batin.
“Tidak usah berpikir yang berat-berat dulu, Bu.”
“Ya, mungkin Tuhan memang baru menguji kesabaran saya,
Bu Wulan.”
Sepi mengelayut di langit-langit kamar. Dua
perempuan itu termenung sejenak. Ruangan yang serba putih
itu menambah suasana semakin hanyut dalam diam.
“Mungkin memang nasib saya, Bu.”
Bu Wulan memandangi Bu Samudra dengan penuh
tanda tanya. Selimut warna hijau muda yang menempel di
tubuh Bu Samudra, di betulkan Bu Wulan dengan penuh iba.
56
“Bu, bagaimana saya tidak sakit, cobaan datang silih berganti.”
“Beberapa minggu lalu tiga bus saya masuk jurang. Kini dua
bus lagi dibakar masa yang sedang berdemo,” gumam Bu
Samudra mengagetkan Bu Wulan.
“Bu Samudra kenapa baru cerita sekarang, mungkin saya bisa
sedikit membantu kesulitan Bu Sam, saat ini. Apalagi suami
saya di kepolisian paling tidak, urusan dengan kepolisian
dapat kami bantu, Bu.”
“Terima kasih Bu Wulan, saya tidak ingin merepotkan.”
“Belum selesai masalah pekerjaan, mendadak saya sakit,”
lanjut Bu Samudra.
“Bu Sam, yang tabah ya, semoga Tuhan segera memberikan
kesembuhan.”
“Terima kasih sekali, Bu.”
“Yang saya pikirkan Rembulan, Bu,” ujar Bu Samudra sambil
menghela napas sejenak.
“Kenapa dengan Rembulan, Bu.”
“Jika Tuhan memanggilku, dengan siapa Rembulan hidup?”
“Bu, sudahlah tidak usah berpikir yang tidak-tidak!”
“Kasihan Rembulan. Ia sudah harus menderita sejak kecil.”
“Maksud, Bu Sam?”
“Sebelas tahun ini saya memendam rahasia itu.”
Bu Samudra berdiam sejenak. Pandangannya menerawang ke
masa silam. Entah rahasia apa yang ia pikirkan. Bu Wulan
menunggu kelamjutam cerita Bu Samudra dengan sabar.
“Sejak lahir Rembulan sudah harus kehilangan orang tuanya.”
“Maksud Bu Sam?”
57
“Rembulan, bukan….” seperti ada yang menyumbat
tenggorokan Bu Samudra. Namun akhirnya tangis itu pecah
juga.
“Bukan anak kandungku.”
Ucapan Bu Samudra membuat Bu Wulan terperanjat.
Bu Wulan hampir tidak percaya dengan apa yang diucapkan
Bu Samudra.
“Jadi, jadi Rembulan anak angkat, Bu Sam?”
Bu Samudra mengangguk dengan wajah sedu.
Berulangkali disekanya airmata yang menetes dengan ujung
selimut tidurnya. Bu Wulan merangkul erat Bu Samudra
mereka larut dalam isak tangis.
“Rembulan itu sebenarnya, anak adik saya yang sudah
meninggal karena kecelakaan Bu,” lanjut Bu Wulan setelah
dapat menguasai dirinya kembali.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Rembulan yang sudah
mau masuk kamar lari keluar rumah. Arga berusaha
mengejarnya tetapi tidak berhasil.
“Rembulan, tunggu, Rembulan!” teriak Arga mengagetkan Bu
Samudra dan Bu Wulan.
“Ada Apa Arga?” tanya Bu Wulan.
“Rembulan, Bu.”
“Ada apa dengan Rembulan?”
“Sebelumnya kami minta maaf, Bu, Tante.”
“Kami pulang lebih awal, Bu. Bapak ibu guru akan rapat,”
lanjut Rembulan.
“Lalu?”
58
“Bu, Saya dan Rembulan sudah mendengar semua cerita Bu
Sam. Ketika saya akan masuk kamar Rembulan malah lari ke
luar.”
Bu Samudra dan Bu Wulan terperanjat mendengar
pengakuan Agni. Mereka tidak menduka jika kedua anak itu
pulang sendiri ke rumah.
“Bu Wulan, bagaimana ya ini. Jangan-jangan...” Bu Samudra
mengkawatirkan keadaan Rembulan.
“Tenang, Bu. Biar saya yang mencari,” kata Bu Wulan.
“Arga menemani Tante Sam di rumah, ya.”
Arga mengangguk menuruti pesan ibunya. Bu
Samudra masih terisak-isak menangisi Rembulan yang pergi
meninggalkan rumah.
Siang semakin panas, Rembulan terus berjalan tak
tentu arah. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai diterpa
angin ke sana kemari. Wajahnya kusut, bola matanya sembab.
Ia tidak bisa menerima kenyataan ini.
Rembulan terus berjalan sambil memeluk tas
sekolahnya erat-erat. Hatinya amat perih ketika ia harus
menerima kenyataan ini. Rembulan hampir tidak percaya
dengan cerita yang baru saja didengarnya. Badannya terasa
limbung, sepanjang jalan ia meneteskan airmata.
Ibu yang begitu disayanginya ternyata bukan orang
tuanya sendiri. Kerikil-kerikil kecil di jalanan sesekali ia sepak
dengan sepatu hitamnya itu. Rembulan merasakan seperti
tidak punya harapan. Dunia terasa sepi mencekam. Hilir
mudik kendaraan di jalan raya terasa beku sebeku hati
Rembulan yang sedang dirudung kegelapan.
59
Kembalinya Rembulan
Waktu semakin merambat. Matahari sudah mulai
condong ke barat. Rembulan sudah mulai lelah berjalan. Ia
berhenti di depan toko swalayan. Dihempaskan tubuhnya di
lantai di dekat pintu masuk.
Kepalanya di sandarkan pada di dinding toko.
Pandangannya kosong menatap awan putih di angkasa raya.
Jari-jari kecilnya memainkan gantungan tas boneka mungil
pemberian Arga.
“Rembulan?” Suara itu mengagetkan lamunan Rembulan.
Suara yang sering didengarnya setiap hari. Suara itu membuat
jantungnya semakin berdebar-debar.
Rembulan segera mencari arah suara itu. Dikucek-
kucek matanya untuk mematikan orang yang telah
memanggilnya.
“Bu Lintang,” Rembulan terbelalak ketika melihat Bu Lintang
sudah berada di sampingnya.
“Kenapa ada di sini, Rembulan?” Rembulan tidak menjawab.
Kepalanya tertunduk, Bu Lintang menatap penuh keheranan.
“Kamu sendirian, Ya?”
Rembulan masih saja diam. Tangan kanannya
mengusap matanya yang basah oleh air mata. Bu Lintang
semakin heran melihat Rembulan bercucuran air mata. Bu
Lintang hampir tidak percaya dengan kondisi Rembulan yang
tanpak degil dan kusut.
”Bu Lintang!” Rembulan berdiri kemudian memeluk Bu
Lintang, tangisnya semakin menjadi-jadi.
60
Bu Lintang semakin bingung melihat tingkah laku
Rembulan. Untuk menenangkan Rembulan, Bu Lintang
menggandeng muridnya diajak masuk ke swalayan. Ia
menempatkan Rembulan duduk di sudut restoran cepat saji,
kemudian Bu Lintang memesaan dua minuman dingin dan
dua burger.
”Minumlah, Nak!” kata Bu Lintang sambil menyodorkan
segelas minuman dingin.
Rembulan masih membisu, bibirnya terasa kelu. Tak
satu kata pun yang keluar dari bibir mungilnya. Ia pun ragu
untuk minum. Namun anggukan senyum Bu Lintang
mendorong Rembulan untuk meminumnya.
“Terima kasih, Bu.”
“Rembulan, kalau ada masalah ceritakan pada Ibu. Tidak
usah takut dan malu!” Rembulan tidak segera menjawab. Ia
menatap tajam wajah gurunya. Dalam hatinya masih ada
keragu-raguan untuk mengungkapkan masalah yang sedang
dihadapinya. Beban hidupnya terasa berat. Kenyatan pahit
yang ia alami sungguh tidak diduganya.
”Rembulan bingung, Bu?”
”Kenapa bingung, Nak?”
”Baru saja Rembulan tahu...,” suara Rembulan berhenti.
Matanya mulai memerah. Perlahan-lahan sebutir airmatanya
menetes disela-sela kegalauan hatinya.
Bu Lintang menyebarkan diri untuk mengetahui isi
hati Rembulan. Sesekali disedotnya minuman dingin yang
tinggal separo itu.
”Saya bukan anak kandungnya Bu Samudra, Bu.”
61
Bu Lintang terkejut. Matanya terbelalak mendengar
penuturan Rembulan. Walau setengah tidak percaya Bu
Lintang masih berusaha bersabar menunggu curahan hati
anak didiknya.
”Sekarang Rembulan tidak punya siapa-siapa lagi, Bu.”
”Maksudmu?”
”Kedua orang tua saya sudah meninggal ketika masih bayi.”
”Lalu?”
”Bu Samudra adalah kakak kandung ibu saya,” Bu Lintang
semakin terkejut dengan pengakuan Rembulan.
”Lalu kenapa kamu ada di sini?”
”Sa saya lari dari rumah, Bu. Ketika saya mendengar bahwa
saya bukan anak kandung Bu Samudra pikiran saya kacau,
Bu.”
“Apa? Kamu lari dari rumah?” Bu Lintang semakin terkejut
dibuatnya. Rembulan mengangguk pelan. Bu Lintang menata
hatinya untuk tidak emosi menghadapi anak didiknya yang
kabur dari rumah. Bu Lintang memberi pengertian pada
Rembulan yang masih kebingungan.
“Rembulan lari dari rumah itu tidak baik, Nak.”
“Saya bingung Bu, saya tidak mempunyai ibu lagi.”
“Apakah Bu Samudra mengusirmu dari rumah?”
Rembulan menggelengkan kepala. Hatinya semakin
berdebar-debar. Ia takut Bu Lintang memarahinya. Rembulan
termenung, diputar-putarnya sedotan minum di hadapannya.
”Nah, kalau tidak kenapa kamu lari?”
”Bu, saya bukan anak Bu Sam lagi, saya....saya hanyalah anak
yatim piatu, Bu.”
62
Bu Lintang menghela nafas panjang. Ia beranjak dari
tempat duduknya kemudian duduk di samping Rembulan.
Rambut Rembulan yang kusut dielus berulang kali oleh Bu
Lintang.
”Rembulan, kamu harus bisa menerima kenyataan ini.”
”Tapi, Bu...”
”Ingat Rembulan, bagaimana pun Bu Samudra adalah orang
tua yang sudah membesarkanmu. Sebelas tahun lamanya Bu
Samudra membesarkanmu dengan sekuat tenaga. Ia telah
memberi kasih sayang, dorongan, dan bimbingan hingga
kamu bisa berprestasi dan menjadi besar seperti ini?”
”Jangan menyesali nasib, Nak! Tuhan sudah mengatur
semuanya. Di balik peristiwa ini pasti ada hikmahnya,”
perkataan Bu Lintang terdengar menyejukan hati.
”Bu, bagaimana saya dapat menerima Bu Samudra sebagai
ibu saya?”
”Rembulan, memang berat mengakui orang tua yang bukan
orang tua kita sendiri. Tapi setidak-tidaknya Bu Samudra
bukan orang lain. Ia kakak dari ibumu, Nak.”
”Bu saya sangat sedih bahwa orang tua saya sendiri sudah
tiada, kenapa ibu merahasiakan semua ini begitu lama?”
”Sudahlah Rembulan, tidak usah menyesal. Kembalilah pada
ibumu yang sudah menanti di rumah!”
Suasana hening sejenak. Rembulan mengisi perutnya
dengan sepotong burger yang masih hangat. Bu Lintang
menghabiskan minumannya yang tinggal sedikit.
”Ibu antar pulang ya?’
”Ibumu, baru saja sakit. Jika kamu tidak pulang, akan
semakin memperparah penyakitnya,” lanjut Bu Lintang.
63
”Pulang, ya! Siapa yang menemani ibumu, kalau bukan
kamu?” Bu Lintang membujuk dengan lembut.
Kali ini Rembulan menganggukkan kepala walau
terasa berat. Perlahan hatinya ditata kembali. Ia mulai
beranjak dari tempat duduknya. Bu Lintang segera
menggandeng dengan Rembulan dan mengajak masuk ke
mobil.
Cahaya lampu malam yang warna-warni tidak mampu
menerangi hati rembulan yang masih diliputi keragu-raguan.
Mobil Bu Lintang bergerak perlahan menyusuri jalan-jalan
yang ramai dengan kendaraan. Sementara lampu-lampu
bersinar terang seakan menyiram hati Rembulan.
Hati Rembulan mulai berdebar-debar keras begitu
mobil mendekati rumahnya. Duduknya menjadi tidak tenang.
Tas sekolah didekapnya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa
takut, malu, kawatir, dan kecewa.
”Rembulan, anak yang baik adalah yang dapat berbakti pada
orang tuanya. Ingat, surga berada di bawah telapak kaki ibu!”
Bu Lintang menenengkan hati Rembulan.
Sesampainya di rumah Rembulan terus masuk ke
dalam, karena pintu rumah belum terkunci. Bu Samudra
masih tergolek di tempat tidur. Mbok Mi menemani di
sampingnya.
”Ibu.” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Rembulan
selebihnya tangisan yang memecahkan suasana malam. Mbok
Mi dan Bu Lintang memandang dengan penuh haru.
”Maafkan Rembulan, Bu.” Bu Samudra mengangguk pelan
diusapnya wajah putrinya yang kotor oleh debu dan air mata.
”Ibu juga, Nak.”
64
”Ibu masih sayang pada Rembulan?”
”Tentu, Nak. Rumah ibu selalu terbuka untukmu. Rumah ibu
tidak akan ibu kunci sebelum kamu pulang, Nak.”
”Terima kasih, Bu.”
Rembulan pulang kepangkuan ibu angkatnya. Hatinya
kini terbuka. Ibu sudah membesarkan dan memberi kasih
sayang kepadanya. Tanpa ibu mungkin ia tidak jadi seperti
sekarang ini.
Rembulan semakin iba melihat ibunya yang sedang
tidur berselimut dalam kondisi yang tidak sehat. Berulangkali
diciumnya tangan dan pipi ibunya. Bu Samudra tersenyum
gembira. Putri kesayangannya telah kembali kepangkuannya.
Di luar sedang purnama. Cahayanya terang memancar
ke seluruh jagat raya. Mendung yang semula berarak-rakan di
ujung langut, hilang bersama munculnya Rembulan dari arah
timur.
65
Senyum Rembulan
Beberapa saat kemudian nafas Bu Samudra tersengal-
sengal. Badannya menggigil dan temperaturnya kembali
tinggi. Rembulan melihat kondisi ibu melemah tangisnya
semakin menjadi-jadi.
Bu Wulan segera memanggil suster untuk memberi
pertolongan. Beberapa saat kemudian dua suster memeriksa
kondisi Bu Rembulan, dengan cekatan mereka bekerja untuk
menyelamatkan jiwa Bu Samudra.
Kedua suster itu kelihatan tegang. Bu Samudra
didorong dan di bawa ke ruang Iintensif. Beberapa peralatan
medis dipasang hampir diseluruh tubuh Bu Samudra.
Rembulan, Arga dan Bu Wulan menunggu di ruang tunggu.
Rembulan yang tidak bisa tenang berulangkali mondar-
mandir, dadanya berdebar-debar mencemaskan keadaan
ibunya.
“Tenang Rembulan pasrahkan semua pada Tuhan,” kata Bu
Wulan mencoba menenangkan Rembulan yang kelihatan
panik.
“Tetapi, Tante.” Rembulan tidak kuasa melanjutkan
kalimatnya. Bu Wulan segera mendekap Rembulan dan
mengajaknya duduk di kursi panjang itu.
“Mari, Rembulan kita berdoa, semoga ibumu cepat sembuh,”
ajak Arga.
Kedua sahabat itu kemudian berdoa dengan kusuk.
Mulutnya komat-kamit, tak terasa airmata mereka pun
menetes. Rembulan takut kehilangan orang tuanya kedua.
66
Hatinya bagai diiris-iris, setiap isakan tangisnya merupakan
doa bagi ibu.
“Tuhan jangan biarkan ibuku menderita,” Doa Rembulan
tiada henti-hentinya.
Sesaat kemudian salah satu suster yang menolong
ibunya keluar dari ruangan. Rembulan segera menyongsong
suster itu untuk mengetahui kondisi ibunya.
“Bagaimana keadaan ibu saya, Sus?”
Suster itu terdiam sejenak, setelah merasa tenang
Suster itu pun menjawab pertanyaan Rembulan yang penuh
kekawatiran itu.
“Sabar ya, Dik. Saat ini ibu Adik masih koma, berdoa saja
semoga Tuhan segera memberikan kesembuhan.”
Rembulan tak kuasa menahan tangis, tangis yang
semula reda kini meledak-ledak lagi.
“Bolehkah saya menengok ibu, Suster?”
“Belum boleh di tengok, Dik, tunggu saja di luar, ya!” kata
suster sambil meninggalkan tempat itu.
Rembulan hanya bisa berdoa. Ia duduk di ruang
tunggu bersama Bu Wulan dan Arga. Mereka terdiam, tidak
ada percakapan apa pun dari mereka bertiga. Masing-masing
berdoa dalam hati.
“Tuhan, berikan mukjizatmu, Tuhan…” doa Rembulan di
tengah-tengah isak tangisnya.
Rembulan tidak tega melihat penderitaan ibu.
Beberapa selang kesehatan membelit ditubunya, mulai dari
infus, selang yang melalui mulut, dan hidung. Sayang
pertemuan Rembulan dibatasi oleh waktu. Belum puas
67
Rembulan menunggui ibu petugas kesehatan sudah memberi
peringatan.
Bu Wulan dan Arga juga menjenguk kondisi Bu
Samudra secara bergantian. Di ruang tunggu Rembulan hanya
membisu tanpa banyak bicara. Pandangannya kosong menuju
halaman Rumah Sakit yang tertata rapi dan bersih.
Walaupun demikian suasana itu tidak mampu
mengusir kecemasan Rembulan. Suara-suara petugas
kesehatan yang lalu lalang. Hilir mudik orang yang menjenguk
kerabatnya. Bagaikan angin lalu yang datang dan pergi tanpa
permisi.
“Rembulan, Tante harap kamu tabah,” Bu Wulan menasihati
Rembulan.
“Tapi Tante saya tidak paham dengan urusan rumah sakit,”
Rembulan mulai mau berbicara.
“Tidak usah memikirkan itu, biar Tante yang mengurusnya,”
jawab Bu Wulan dengan tulus.
“Benar Rembulan, kamu harus sabar dan mendoakan
ibumu,” tambah Arga.
“Aku takut Ar Ibu akan…” Rembulan tidak kuasa menahan
tangis.
“Aku takut ibu meninggalkan saya,” Arga segera memeluk
sahabatnya dan berusaha menenangkan. Bu Wulan
mengelus-elus rambut Rembulan dengan penuh kasih.
Perilaku Bu Wulan mengingatkan kembali pada kasih
Bu Samudra yang selalu tercurah padanya. Ibu yang selalu
bersikap ceria di hadapan putrinya. Ibu yang selalu memberi
perhatian, mendidik dan membimbingnya dengan penuh
kasih.
68
Ia masih ingat juga ketika bertamasya ke kebun
binatang Ragunan. Hari libur tahun kemarin dihabiskan di
Jakarta. Ibu pun selalu setia menemani putrinya kemana pun
pergi.
“Lihat Rembulan Burung merpati itu. Bercengkrama dengan
anaknya. Bagus, Ya?”
“Ya, Bu seperti kita, Ya?” disusul dengan gelak tawa mereka
yang selalu ceria, akrab, dan penuh kasih sayang.
Kenangan yang melintas di benak Rembulan terasa
perih, manakala ia teringat ibunya yang tergolek di rumah
sakit. Jam dinding rumah sakit terasa lambat berjalan. Rasa
bosan kembali menggelanyut di hati Rembulan. Tarikan
napas panjang yang mungkin dapat menguir kebosanannya
ternyata tidak juga berpengaruh sedikit pun.
Tiba-tiba pintu ruang intensif dibuka, seorang dokter
melangkah menuju ke arah Rembulan. Lamunan Rembulan
pun buyar oleh kedatangan dokter tersebut. Hatinya
berdebar-debar menanti kabar tentang ibunya.
“Mana yang bernama Rembulan?”
“Sa..saya, Dok.”
“Oh, Adik ya, rupanya yang bernama Rembulan.”
“Memang ada apa, Dok?”
“Apakah adik anaknya Bu Samudra?”
“Betul, Dok.”
“Selamat, Nak. Ibumu sudah siuman. Nama Rembulan yang
diucapkan Bu Samudra saat Siuman.”
“Bolehkah saya menengok, Dok?”
“Jangan dulu, Nak. Nanti saja kalau sudah pulih betul dan
pindah ke ruang biasa, Adik boleh menengoknya?”
69
“Terima kasih Tuhan, Terima kasih, Dok.”
Hanya ucapan itu yang mampu keluar dari mulut
mungilnya. Mata Rembulan berbinar-binar mendengar kabar
tentang ibunya. Bu Wulan dan Arga yang duduk tidak jauh
dari Rembulan juga mengucapkan rasa syukur berkali-kali.
Kemudian mereka bertiga berangkulan, mensyukuri mukjizat
Tuhan sehingga Bu Samudra dapat melalui masa kritisnya itu.
Detak jam dinding terus berlalu, Bu Samudra belum
juga dipindahkan dari ruang intensif. Mereka memang harus
bersabar, walaupun dalam hati ingin segera dapat melihat Bu
Samudra.
“Rembulan, Tuhan telah mengirimkan mukjizatnya, Nak.”
“Betul Tante, Tuhan telah mendengarkan doa saya.”
“Kamu memang anak baik Rembulan. Tuhan pasti
mengabulkan permintaan anak yang mau berbakti kepada
orang tua.”
Suasana senyap sebentar. Lima jam di depan ruang
intensif, tidak terasa hari sudah senja. Burung-burung gereja
yang beterbangan di sekitar Rumah Sakit, mulai kembali ke
peraduannya.
“Ibu memang luar biasa, Tante,” ucap Rembulan
memecahkan keheningan senja itu.
“Kasih sayang yang diberikan kepada saya sungguh besar,
walaupun…” perkataan Rembulan berhenti sejenak. Bu
Wulan dan Arga memandangi Rembulan dalam-dalam.
“Walaupun saya bukan anak kandungnya,” kata Rembulan
pelan. Bu Wulan segera mendekapnya, menahan supaya
Rembulan tidak larut dalam kesedihan.
“Rembulan, kamu pun juga luar biasa,” ujar Bu Wulan.
70
“Kamu dapat menerima kenyataan ini. Kamu telah
melakukan bakti kepada orang tua, sehingga doamu diterima
oleh Sang Pencipta,” tambah Bu Wulan.
Satu jam kemudian Bu Samudra dipindahkan ke
ruang inap. Mereka bertiga mengikuti kereta dorong yang
membawa Bu Samudra. Langkah kaki mereka terasa ringan.
Rasa sayang Rembulan semakin besar. Ia pandangi ibu
yang terbaring di atas kereta dorong. Tangan Bu Samudra
dipegangi Rembulan. Ia tidak ingin sesuatu memisahkan
dirinya dengan Bu Samudra.
Di kamar serba putih itu Bu Samudra harus
beristirahat untuk memulihkan kesehatannya kembali. Untuk
beberapa saat mereka belum berani mengajak Bu Samudra
berbicara.
Bu Wulan membenahi barang-barang keperluan Bu
Samudra yang masih berantakan. Rembulan duduk di kursi
dekat ibunya berbaring. Arga membantu Bu Wulan menata
kamar itu.
“Rembulan.”
“Ada apa Bu?”
“Ambilkan minum!”
“Baik Bu.”
Rembulan memberikan segelas air putih. Bu Wulan
membantu Bu Samudra duduk. Segelas air putih itupun habis
diteguknya. Kemudian Bu Samudra beristirahat dengan posisi
bersandar di tempat tidur.
“Terima kasih Bu Wulan, sudah membantu saya.”
“Sama-sama, Bu.”
71
“Terima kasih Rembulan sudah merawat ibu.” Rembulan
hanya mengangguk pelan. Ia tersenyum memandang ibu,
dipegangnya tangan ibu kuat-kuat.
“Itu semua berkat Tuhan, Bu.”
“Rembulan senang sekali Ibu sudah sehat kembali,” tambah
Rembulan.
Bu Samudra tersenyum, dielusnya kepala Rembulan.
Bu Wulan dan Arga ikut tersenyum melihat sahabatnya
bahagia. Anugerah Tuhan yang luar biasa telah diberikan
kepada keluarga Rembulan. Bu Samudra telah selamat dari
lubang maut.
Bulan pun tersenyum menyapa alam, membawakan
berita gembira, tentang Bu Samudra dan Rembulan yang
sedang berbahagia. Senandung suara binatang malam,
mengiringi Rembulan yang hanyut dalam pelukan kasih ibu.
72
Biodata Penulis
Rustantiningsih, lahir di Karanganyar, 25
Oktober 1975. Menempuh pendidikan di
TK Pertiwi Sumberejo (1982), SD
Tawangsari 2 Kerjo (1988), SMPN 2
Kerjo (1991), SMAN 1 Kerjo (1991), D2
PGSD IKIP Negeri Semarang (1997), S-1
PGSD Universitas Negeri Semarang
(2008), dan menyelesaikan studi S-2
Pendidikan Dasar di Universitas Negeri Semarang (2012).
Mengawali kariernya sebagai pegawai negeri sipil (guru) di
SDN Anjasmoro (sekarang SDN Tawang Mas 01) Semarang
(2005). Tahun 2018 memperoleh kepercayaan sebagai
Kepala SDN Kembangsari 01 Kota Semarang, kemudian
mutasi sebagai Kepala Sekolah di SDN Pendrikan Kidul Kota
Semarang (2019). Di sela-sela aktivitasnya sebagai pengajar,
ibu rumah tangga, dan beroganisasi, Ibu yang rajin membaca
ini, masih menyempatkan menulis karya ilmiah sebagai wujud
pengembangan profesi.
Menikah dengan Trimo (1995) dikarunia tiga orang
buah hati, yakni Harum Sunya Iswara (1997), Yonna
Aparacitta (2002), dan Rakyan Maharaja Krishna (2009).
Kegemarannya menulis mendapat dukungan dari sang suami
yang juga aktif di dunia kepenulisan.
Beberapa karya yang sudah diterbitkan: Buku Ajar
Bahasa Indonesia Kelas VI (Penerbit Pemkot Semarang,
73
2006), Buku Bina IPS Kelas III, V, VI (Penerbit Gajah Mada
Jakarta 2008), Buku Senandung Belajar IPS (2012), Novel
Langit Masih Cerah Candra (Penerbit Iranti Mitra Utama
Surabaya 2012), Novel Mutiara Menggandeng Awan
(Penerbit Pelita Hati Surabaya 2012), Kumpuan Cerita
Pendek Penantian Rara (Penerbit Dapur Buku Jakarta 2014),
Buku Pelajaran Suluh Basa Jawa untuk SD/MI Kelas I-VI
(Penerbit Duta Bandung 2016), Novel Terima Kasih Itu
Tidak Mahal (Penerbit Sint Publishing Semarang 2018),
Kumpulan Puisi Merangkai Angin (Penerbit Perahu Litera
Lampung 2018), Tulisan Ilmiah Popuer untuk Kenaikan
Pangkat (Penerbit Sint Publishing Semarang, 2019), Buku
Feature Perjalanan Belajar di Negeri Kanguru (Penerbit Oase
Group Surakarta 2019), Buku Feature Perjalanan 149 Jam di
Perancis (Penerbit Oase Group Surakarta 2020), Kumpulan
Puisi Selendang Sekar Langit (Penerbit Oase Group
Surakarta 2020), dan Buku Pendidikan Pancasila untuk Kelas
I, II, III untuk SD/MI (Penerbit Balai Pustaka Jakarta 2020).
Berbagai kejuaraan di bidang karya ilmiah pernah ditorehkan
dan pada tahun 2009, ibu yang aktif di berbagai organisasi ini
berhasil meraih predikat juara I Guru Berpestasi SD Tingkat
Nasional (2009), juara I Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat
Nasional (2014), dan juara II Lomba Kreativitas Guru
Tingkat Nasional (2015), juara I Lomba artikel (feature)
Tingkat Nasional (2017), dan juara I Lomba Keluarga
Sukhinah Teladan Tingkat Nasional (2018).
74
Pernah mendapat kesempatan studi ke Perancis
(2015) dan Australia (2016). Saat ini tinggal di rumah
sederhana di Jalan Kenconowungu Tengah III/19 Kota
Semarang dan aktif membantu Dinas Pendidikan Kota
Semarang, Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam kegiatan
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Literasi (elang).
75
RESMENBYUULAMN
Novel berjudul Senyum Rembulan memiliki gaya bahasa yang
mudah dimengerti dan alur ceritanya mudah dipahami
membuat pembaca, khususnya bagi anak-anak bisa menjadi
rujukan dalam bersikap dan bertingkah laku, Sosok Rembulan
merupakan contoh pribadi yang ulet, kreatif, gigih, pantang
menyerah dan bersikap baik, hangat terhadap orang lain. Begitu pula Ibu Samudra
merupakan sosok ibu yang bersahaja, sederhana dalam kehidupannya dan
mampu mendidik anaknya dengan baik. Membaca novel ini banyak hikmah yang
diperoleh. Semoga dari novel Senyum Rembulan mampu melahirkan banyak
Rembulan-Rembulan yang lain (Didek MS, pengasuh Komunitas Kumandang
Sastra Semarang).
Sebagai orang tua dan pendidik, tentu kita tidak bisa mengawasi
mereka selama dua puluh empat jam secara penuh. Untuk
menanggulangi masalah tersebut, salah satunya adalah melalui
dunia literasi. Rustantiningsih adalah salah satu insan literasi
yang peduli terhadap kebutuhan anak-anak kita. Sebagai
pendidik, Bunda Tanti, begitu ia biasa disapa, tahu persis apa yang diperlukan anak-
anak kita. Melalui buku cerita "Senyum Rembulan" ini, ia mengajak anak-anak
untuk belajar mengenai tanggung jawab, persahabatan, kemanusiaan, dan cinta
kasih. Semoga “Senyum Rembulan” bisa melegakan dahaga anak-anak kita akan
buku cerita, dan bermanfaat sebagai pembangun karakter anak-anak Indonesia
(Daryana, M.Pd.Kons., Pengawas Dabin 2, Kecamatan Semarang Tengah, Kota
Semarang).