Bumi memiliki banyak sekali lapisan-lapisan yang menyempurnakan isi bumi, salah satunya yaitu lapisan litosfer ini. Mungkin kita sering melihat fenomena-fenomena yang terjadi di alam karena pengaruh aktivitas bumi, seperti salah satunya adalah gunung meletus. Peristiwa tersebut menyebabkan keluarnya lahar atau pun lava ke permukaan bumi. Peristiwa ini pun membawa pengaruh terhadap permukaan bumi itu sendiri. Pada akhirnya, kita akan menjumpai jenis batuan yang beragam. Itulah yang disebut dengan fenomena litosfer atau fenomena yang terjadi di permukaan bumi. Dalam pengertian lain, litosfer adalah lapisan bumi paling atas dengan ketebalan lebih kurang 70 km yang tersusun dari batuan penyusun kulit bumi. Litosfer merupakan lapisan bumi paling atas setebal 66 km yang terdiri dari batuan. Oleh karena itu, Litosfer sering diartikan sebagai pembentuk muka bumi yang terdiri dari batuan dan mineral. Lapisan dari kulit bumi atau kerak bumi sering disebut litosfer. Litosfer ini berasal dari kata , . Litosfer merupakan lapisan
batuan/kulit bumi yang mengikuti bentuk bumi yang bulat memiliki ketebalan kurang lebih 1.200 km. Dapat disimpulkan bahwa litosfer adalah lapisan bumi paling luar yang paling luas dan paling tipis, karena itulah lapisan ini sering dinamakan dengan kerak bumi. Tebal kulit bumi tidak merata, kulit bumi di bagian benua atau daratan lebih tebal dari bagian samudra. Secara keseluruhan, tubuh bumi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu litosfer, mantel dan inti (barisfer). Menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Litosfer terdiri atas dua bagian, yaitu: Lapisan sial yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan alumunium, senyawanya dalam bentuk SiO2 dan Al2O3. Pada lapisan sial (silisium dan alumunium) ini antara lain terdapat batuan sedimen, granit andesit jenis-jenis batuan metamor, dan batuan lain yang terdapat di daratan benua. Lapisan sial dinamakan juga lapisan kerak bersifat padat dan batu bertebaran rata-rata 35 km. Kerak bumi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu: a) Kerak benua : merupakan benda padat yang terdiri dari batuan granit di bagian atasnya dan batuan beku basalt di bagian bawahnya. Kerak ini yang merupakan benua. b) Kerak samudra : merupakan benda padat yang terdiri dari endapan di laut pada bagian atas, kemudian di bawahnya batuan batuan vulkanik dan yang paling bawah tersusun dari batuan beku gabro dan peridolit. Kerak ini menempati dasar samudra. Lapisan sima yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun oleh logam logam silisium dan magnesium dalam bentuk senyawa SiO2 dan MgO. Lapisan ini mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada lapisan sial karena mengandung besi dan magnesium yaitu mineral ferro magnesium dan batuan basalt. Lapisan merupakan bahan yang bersifat elastis dan mempunyai ketebalan rata rata 65 km. Menurut Holmes melakukan pembagian litosfer (kerak bumi) seperti berikut : a) Bagian atas yang mempunyai tebal 15 km dengan berat jenis kurang lebih 2,7 dan mempunyai tipe magma granit. b) Bagian tengah yang mempunyai tebal 25 km dengan berat jenis 3,5 dan mempunyai tipe magma basalt.
c) Bagian bawah yang mempunyai tebal 20 km dengan berat jenis 3,5 dan mempunyai tipe magma peridotit dan magma eklogit. Menurut teori lempeng tektonik yang dikemukakan oleh Tono Wilson, kulit bumi terdiri atas beberapa lempeng tektonik yangberada di atas lapisan astenosfer yang berwujud cair dan kental. Lempeng-lempeng tektonik pembentuk kulit bumi selalu bergerak karena adanya pengaruh dari arus konveksi yang terjadi pada lapisan astenosfer dengan posisi berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi. Berdasarkan arahnya, gerakan lempeng tektonik dibagi menjadi tiga jenis gerakan, yakni adalah sebagai berikut: Yaitu gerakan saling bertumbukan antar lempeng tektonik. Tumbukan antar lempeng tektonik dapat berupa tumbukan antara lempeng benua dan benua, atau antara lempeng benua dan lempeng dasar samudra. a) Tumbukan antara 2 lempeng benua Tumbukan antara 2 lempeng benua akan membentuk pegunungan di daratan (bukan gunung berapi). Contohnya tumbukan antara lempeng India dan lempeng benua Eurasia yang menghasilkan terbentuknya pegunungan lipatan muda Himalaya dan merupakan pegunungan tertinggi di dunia dengan puncak tertingginya, Mount Everest. b) Tumbukan antara lempeng benua dan lempeng samudera Tumbukan antara lempeng benua dan lempeng samudera akan membentuk pegunungan berapi. Contohnya seperti pegunungan sirkum pasifik dan pegunungan sirkum mediterania. c) Tumbukan antara 2 lempeng samudera Sedangkan tumbukan antara 2 lempeng samudera akan menyebabkan terbentuknya parit, palung, dan gunung api dasar laut. Contohnya seperti kepulauan Hawaii yang merupakan pulau vulkanik karena terbentuk akibat pertemuan 2 lempeng samudera. Zona berupa jalur pertemuan akibat tumbukan antara lempeng benua dan lempeng samudera, disebut zona subduksi (subduction zone) yang dapat menghasilkan pegunungan berapi (masuknya lempeng samudera ke bawah lempeng benua kemudian mencair untuk menjadi magma). Sedangkan zona kolisi adalah zona berupa jalur pertemuan akibat tumbukan antara 2 lempeng benua yang dapat menghasilkan pegunungan non berapi 2) Divergen (Saling menjauh)
Yaitu gerakan saling menjauh antar lempeng tektonik, contohnya Benua Afrika dan Benua Amerika bagian selatan yang semakin menjauh (Mid Ocean Ridge). 3) Transform (Saling berpapasan/bergesekan) Yaitu gerakan saling bergesekan (berlawanan arah) antarlempeng tektonik. Contohnya gesekan antara lempeng Samudra Pasifik dan lempeng daratan Amerika Utara yang mengakibatkan terbentuknya Sesar San Andreas yang membentang sepanjang kurang lebih 1.200 km dari San Francisco di utara sampai Los Angeles di selatan Amerika Serikat. Kalian tau kah, batuan apa saja sih yang menyusun litosfer? Nah, ternyata ada 3 jenis batuan penyusun litosfer, lho! Wah, batuan apa saja, ya? Nama batuannya adalah batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Yuk, kita kenalan lebih lanjut! Jenis batuan pertama yang membentuk litosfer adalah batuan beku. Tahukah kamu, batuan beku ini terbentuk dari magma pijar yang membeku dan menjadi padat karena proses pendinginan. Ternyata, batuan beku terbagi lagi menjadi 3 jenis, yaitu Batuan Tubir, Batuan Leleran, dan Batuan Korok. Batuan tubir disebut juga sebagai batuan kristal. Batuan tubir ini disebut demikian karena terdiri dari kristalkristal dan proses pembentukannya terjadi di dalam kulit bumi. Batuan tubir memiliki bongkahan kristal yang berukuran besar sebagai akibat dari proses pendinginan yang berjalan lambat. Salah satu contoh batuan tubir adalah batu granit. Nama lain dari batuan leleran adalah batuan beku luar. Kenapa disebut sebagai batuan
beku luar? Batuan ini disebut sebagai batuan beku luar karena proses pembekuannya terjadi di bagian luar kulit bumi. Oleh karena itu, penurunan temperaturnya juga terjadi sangat cepat. Batuan leleran dapat berbentuk kristal kecil, kristal besar, maupun bahan amorf, contohnya liparit. Salah satu contoh batuan leleran adalah batu apung. Batuan korok disebut juga sebagai batuan gang. Sesuai namanya, jenis batuan yang satu ini terbentuk di korok atau gang. Karena lokasinya yang dekat dengan permukaan, proses pendinginan batuan tersebut juga berlangsung lebih cepat. Oh iya, batuan korok dapat berupa kristal kecil dan kristal besar, lho. Salah satu contoh batuan korok adalah granit fosfir. Jenis batuan selanjutnya adalah batuan sedimen. Tahukah kamu, kenapa disebut dengan batuan sedimen? Batuan sedimen terbentuk dari endapan dari struktur batuan yang mudah lepas dan terbawa air, angin, dan es. Lama kelamaan, endapan tersebut akan menumpuk dan kemudian mengeras, kemudian terbentuk menjadi batuan. Oleh karena itu, nama batuannya adalah batuan sedimen. adalah batuan sedimen yang proses pengendapannya terjadi di laut, contohnya terjadi di tanah los dan tanah gurun pasir. Sesuai dengan namanya, proses pengendapan batuan sedimen marine terjadi di laut, seperti di endapan radiolaria di laut dalam, lumpur biru di pantai, dan lumpur merah. adalah batuan sedimen yang pengendapannya terjadi di danau, misalnya, tuf danau dan tanah liat danau. Ditinjau dari proses pembentukannya batuan sedimen dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :
Yaitu batuan asal yang mengalami penghancuran secara mekanis dari ukuran besar menjadi kecil. Setelah itu, batuan tersebut mengalami pengendapan dan membentuk batuan endapan klastik. Salah satu batuan endapan klastik adalah batuan pasir dan batu lempung (shale). Adalah batuan yang terjadi karena proses kimiawi, seperti penguapan, pelarutan, dan dehidrasi. Contoh batuan sedimen kimiawi yang terjadi secara langsung adalah batuan sedimen kapur, yaitu stalaktit dan stalagmit. Stalaktit dan stalagmit tersebut dapat ditemukan di gua-gua kapur. Merupakan batuan yang dalam proses pengendapannya mendapat bantuan dari organisme, antara lain sisa-sisa bangkai binatang yang tertimbun di dasar laut, contohnya kerang dan terumbu karang. Selain berdasarkan proses pembentukannya, batuan sedimen juga dapat dibagi berdasarkan perantara atau medium. Berdasarkan perantaranya, batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3. Proses pengangkutan batuan ini dilakukan oleh angin. Contohnya antara lain tanah los, tuff, dan pasir di gurun. Pengangkutan batuan ini adalah dilakukan melalui media perantara es. Contohnya antara lain moraine. Batuan sedimen yang terdiri atas batubatu yang sudah direkat antara satu sama lain. Batuan metamorf adalah batuan hasil perubahan dari batuan beku dan batuan endapan yang terjadi akibat proses metamorfosis. Adapun beberapa faktor-fator penyebab perubahan batuan yaitu : a) Suhu tinggi b) Tekanan tinggi c) Kombinasi suhu dan tekanan tinggi d) Penambahan bahan lain
a) Lapisan litosfer memiliki manfaat seperti berikut: b) Sebagai sumber energi (minyak bumi dan batu bara) c) Sebagai pemenuhan kebutuhan industri (besi dan alumunium) d) Sebagai bahan pembuat perhiasan (mineral, intan, emas, perak) e) Sumber energi dan bahan peledak (uranium) Sumber bahan baku pupuk (nitrogen dan fosfat) Proses endogen merupakan dinamika di dalam litosfer sebagai akibat proses fisika dan kimia, berupa tekanan terhadap lapisan- lapisan batuan pembentuk litosfer atau aktivitas magma. Tenaga endogen berupa tekanan yang arahnya vertikal dapat mengakibatkantonjolan di permukaan Bumi seperti kubah, sedangkan yang arahnya mendatar mengakibatkan lipatanlipatan muka Bumi (jalur pegunungan lipatan), retakan bahkan pematahan lapisan-lapisan litosfer sehingga terbentuk sesar. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa, Secara umum proses endogen dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu, tektonisme, vulkanisme, dan Seisme (gempa bumi). Ketiga tenaga tersebut sebenarnya merupakan rangkaian proses alamiah yang saling berhubungan satu sama lain, yang dapat dijelaskan oleh salah satu teori dinamika Bumi yang dikenal dengan Teori Tektonik Lempeng (Plate Tectonic Theory). Tektonisme adalah tenaga dari dalam bumi yang mengakibatkan perubahan letak (dislokasi) atau perubahan bentuk (deformasi) kulit bumi. Sebagaimana kita ketahui bahwa permukaan bumi terbentuk dari lapisan batuan yang disebut kulit bumi atau litosfer. Kulit bumi mempunyai ketebalan 10elative sangat tipis, sehingga mudah pecah-pecah menjadi potonganpotongan kulit bumi yang tak beraturan yang disebut lempeng tektonik. Lempeng-lempeng tektonik ini terus bergerak, baik secara horizontal maupun vertikal karena pengaruh arus konveksi dari lapisan di bawahnya (astenosfer).
Berdasarkan luas dan waktu terjadinya, gerakan tektonisme dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: Gerak epirogenitik adalah gerak atau pergeseran lapisan kerak bumi yang 11egative lambat dan berlangsung dalam waktu yang lama, serta meliputi daerah yang luas. Contoh: penenggelaman benua Gondwana menjadi Sesar Hindia. Gerak epirogenitik dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut: Epirogenitik positif yaitu gerak turunnya daratan sehingga kelihatannya permukaan air laut yang naik (tenggelamnya pulau-pulau). Contoh: Turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan Maluku dari pulau-pulau barat daya sampai ke pulau Banda). Epirogenitik negatif yaitu gerak naiknya daratan sehingga kelihatannya permukaan air yang turun (munculnya pulau-pulau baru). Contoh: naiknya Pulau Buton dan Pulau Timor. Gerak orogenetik ialah gerak atau pergeseran lapisan kerak bumi yang relatif cepat dan berlangsung dalam waktu yang singkat dibanding gerak epirogenitik, serta meliputi daerah
yang sempit. Gerak orogenetik sering disebut sebagai proses pembentukan pegunungan. Contoh: pembentukan pegunungan-pegunungan yang ada di bumi ini, seperti Pegunungan Andes, Rocky Mountain, Sirkum Mediterania, dan sebagainya. Gerak orogenetik menyebabkan tekanan horizontal dan vertikal di kulit bumi, yang mengakibatkan terjadinya dislokasi atau berpindah-pindahnya letak lapisan kulit bumi. Peristiwa ini dapat menimbulkan lipatan (folded process) dan patahan (foult process). Proses lipatan (Folded process) yaitu suatu bentuk kulit bumi berbentuk lipatan (gelombang) yang terjadi karena adanya tenaga endogen yang arahnya mendatar dari dua arah berlawanan, sehingga lapisan-lapisan batuan di sekitarnya terlipat dan membentuk puncak lipatan (antiklin) serta lembah lipatan (sinklin). Fenomena ini dapat Kalian saksikan apabila melewati jalan yang menerobos dua bukit, maka nampak pada sisi kiri kanan jalan singkapan kerak bumi berupa lapisan bergelombang, ada bagian yang naik dan adapula yang turun. Itulah salah satu gejala lipatan. Apabila terbentuk beberapa puncak lipatan disebut antiklinorium dan beberapa lembah lipatan disebut sinklinorium. → Lipatan tegak Dihasilkan dari kekuatan yang sama yang mendorong dari dua sisi secara seimbang. → Lipatan miring Ketika kekuatan tenaga pendorong di salah satu sisi lebih kuat, maka akan menghasilkan kenampakan yang salah satu sisinya lebih curam. → Overfoult Lipatan yang terbentuk pada saat tekanan bekerja pada salah satu sisi dengan lebih kuat, sisi tersebut akan terlipat sesuai arah lipatan. → Recumber folt Video lebih jelasnya terkait proses epirogenetik dan orogenetik dapat dipantau melalui link berikut : Lipatan
Terbentuk pada saat lipatan yang satu menekan sisi yang lain, menyebabkan sumbu lipat hampir datar. → Overtrust Terbentuk ketika tenaga tekan menekan satu sisi dengan kuatnya hingga menyebabkan lipatan menjadi retak. Antiklin atau dikenal juga dengan sebutan punggung lipatan, adalah unsur geometri lipatan yang memiliki permukaan cembung (conveks) dengan arah cembungan ke atas. Bagian ini mempunyai 2 buah limb yang arah kemiringannya berlainan dan saling menjauh satu dengan yang lainnya. Dibagian tengah antiklin terdapat core atau inti antiklin. Sinklin atau atau dikenal juga dengan sebutan lembah lipatan, yakni unsur geometri lipatan yang memiliki permukaan cekung (konkav) dengan arah cekungan ke atas. Bagian ini mempunyai 2 buah limb yang arah kemiringan yang saling mendekat. Dibagian tengah antiklin terdapat core atau inti sinklin. a) Limb atau sayap ialah bidang miring yang membangun struktur sinklinal atau antiklinal. Limb juga dapat diartikan sebagai bagian dari lipatan yang posisinya menurun mulai dari lengkungan maksimal sebuah antiklinal sampai lengkungan maksimal suatu sinklinal. Limb memiliki bentuk yang panjang dari axial plane pada suatu lipatan ke axial plane pada lipatan lainnya. Terdapat dua jenis limb yakni back limb yakni sayap yang landai dan fore limb yaitu sayap yang curam pada lipatan simetris. Unsur Geometri Lipatan
b) Axial plane ialah suatu bidang yang memotong puncak suatu lipatan. Karena perpotongan tersebut maka bagian samping dari suatu lipatan menjadi kurang simetris. c) Axial surface atau hinge surface merupakan bidang imajiner yang mana terdapat semua axial line dari suatu lipatan. d) Crest adalah suatu garis yang menghubungkan titik-titik tertinggi dari sebuah lipatan pada satu bidang yang sama. Crest mempunyai sebutan lain yakni hinge line Garis ini mempunyai letak pada bagian tertinggi dari sebuah lipatan. Crest terbentuk pada crestal plane. Crestal plane ini merupakan suatu bidang pada lipatan. e) Through ialah suatu garis yang menghubungkan titik-titik paling rendah dari bidang yang sama. Through merupakan kebalikan dari crest. Garis ini teretak pada bagian paling rendah dari sebuah lipatan. Through terbentuk pada suatu b idang pada lipatan yang disebut dengan trough line. f) Pluge merupakan sebuah sudut yang terbentuk karena adanya pertemuan poros dengan garis horizantal pada suatu bidang vertikal. g) Inflection point ialah suatu titik yang mana terjadi perubahan pada sebuah lengkungan yang masih termasuk bagian dari limb. h) Wavelenght atau disebut juga dengan half, merupakan jarak antara dua buah inflection point. i) Core merupakan bagian dari sebuah lipatan yang posisinya berada disekitar sumbu lipatan. j) Depresion adalah daerah paling rendah dari puncak sebuah lipatan. Patahan Apakah kalian tahu?
Tenaga endogen yang bekerja di sini biasanya pada batuan yang padat dan keras dengan waktu relatif cepat sehingga lapisan batuan yangterkena tekanan tidak sempat melipat, melainkan retak-retak sampai akhirnya patah. Akibat pematahan massa batuan tersebut, terdapat bagian muka Bumi yang mengalami penurunan atau pemerosotan membentuk lembah patahan. Bagian yang mengalami pemerosotan ini dinamakan graben (slenk), sedangkan bagian yang naik membentuk punggung (puncak) patahan yang disebut horst. a) Patahan akibat dua tekanan yang arahnya bersifat horizontal dan saling menjauh Pada kasus ini, dua buah tekanan yang arahnya mendatar dan menjauh satu sama lain mengakibatkan adanya retakan yang cukup besar pada lapisan-lapisan batuan. Salah satu massa batuan yang telah retak itu mengalami pemerosotan membentuk lembah patahan atau graben. b) Patahan akibat tekanan yang arahnya vertikal Adakalanya tenaga endogen yang bekerja pada lapisan litosfer arahnya vertikal dalam waktu yang relatif cepat. Bagian yang mengalami tekanan akan membumbung disertai dengan retakan-retakan. Karena adanya gaya berat, salah satu dari massa batuan akan mengalami penurunan lokasi membentuk graben, sedangkan bagian lainnya membentuk horst. c) Patahan akibat dua tekanan horizontal yang berlawanan arah Dalam pembahasan teori tektonik lempeng telah dipelajari bahwa jika terdapat tenaga endogen yang bekerja pada lapisan litosfer dengan arah mendatar dan saling berlawanan arah, akan terbentuk sesar mendatar (strike slip fault).
Dekstral adalah patahan horizontal yang bergerak ke arah kanan. Dekstral dapat diketahui dengan cara berdiri di depan potongan sesar yang besar. jika patahan tersebut adalah dekstral, maka sesar tersebut akan bergerak ke kiri. Sinistral adalah kebalikan dari Dekstral. Jika dekstral adalah patahan horizontal yang bergerak kearah kanan, maka sinistral adalah patahan horizontal yang bergerak ke arah kiri. Untuk mengetahu sinistral, caranya sama dengan dekstral. Yaitu berdiri di depan potongan sesar yang besar. jika sesar tersebut bergerak ke arah kiri, maka patahan tersebut adalah sinistral. Tenaga tektonisme akan berdampak pada banyak hal. Pergeseran kerak Bumi mendorong terbentuknya berbagai jenis pegunungan dan cekungan sedimen. Terjadinya tekanan, regangan, dan deformasi pada kerak Bumi (pengangkatan, amblesan, retakan, patahan, serta lipatan) didukung dengan adanya gaya gravitasi Bumi akan menimbulkan terjadinya erosi, longsoran, dan sedimentasi. Dari proses ini dapat menimbulkan bencana alam yang mengakibatkan kerugian material, harta benda, bahkan nyawa. Bencana lainnya yang dapat terjadi adalah gempa bumi dan tsunami. Beberapa dampak di atas dapat digolongkan sebagai dampak negatif. Selain itu juga timbul dampak positif, meskipun sering tidak disadari oleh banyak orang. Kantongkantong
minyak dan gas alam banyak ditemukan di lipatan-lipatan dan sesar-sesar batuan yang kond isinya menguntungkan. Salah satunya terdapat di sisi utara maupun selatan rangkaian pegunungan yang melintasi Pulau Jawa. Video lebih jelasnya terkait proses patahan dan lipatan dapat dipantau melalui link berikut! https://youtu.be/ZM7HQK8Wye4 Kenalan yuk!
Vulkanisme adalah semua peristiwa yang berhubungan dengan keluarnya magma ke permukaan bumi. Peristiwa vulkanisme berhubungan dengan pembentukan gunungapi, yaitu pergerakan magma dari dalam litosfera yang menyusup kelapisan yang lebih atas atau sampai ke permukaan bumi. Di dalam litosfer, magma menempati suatu kantong yang dinamakan dapur magma (Batholit). Kedalaman dan besar dapur magma itu sangat bervariasi. Ada dapur magma yang letaknya sangat dalam dan ada pula yang dekat dengan permukaan bumi. Perbedaan letak ini merupakan penyebab perbedaan kekuatan letusan yang terjadi. Pada umumnya, dapur magma yang dalam menimbulkan letusan yang lebih kuat daripada yang letaknya dangkal. Magma dapat diartikan sebagai bahan-bahan silikat pijar yang terdiri atas bahan padat (batuan), cairan, dan gas yang berada di dalam lapisan kulit bumi (litosfer). Berbagai macam gas yang terkandung dalam magma antara lain uap air, Oksida Belerang (SO2), Gas Hidrokarbon atau Asam Klorida (HCL), Gas Hidrosulfat atau Asam Sulfat (H2SO4). Aktivitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di Kenalan yuk!
dalamnya. Ada dua bentuk gerakan magma yang berhubungan dengan vulkanisme, yaitu intrusi dan ekstrusi magma. Intrusi magma yaitu terobosan magma ke dalam lapisan-lapisan litosfera, tetapi tidak sampai ke permukaan bumi. Intrusi magma dapat dibedakan menjadi lima, antara lain: (1) Batholit, yaitu dapur magma. (2) Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), yaitu magma yang menyusup di antara dua lapisan batuan, mendatar dan pararel dengan lapisan batuan tersebut. (3) Lakolit, yaitu magma yang menerobos di antara lapisan bumi paling atas. Bentuknya seperti lensa cembung atau kue serabi. (4) Gang (korok), yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup danmembeku di selasela lipatan (korok). (5) Diatrema adalah lubang (pipa) di antara dapur magma dan kepundan gunungapi yang bentuknya seperti silinder memanjang. Bentukan hasil intrusi magma merupakan sumber mineral yang yang sangat penting artinya secara ekonomi. Karena pada daerah intrusi itu seringkali didapati Intrusi Magma
berbagai mineral seperti intan, tembaga, besi, emas, perak dan mineral logam serta non logam lainnya. Ekstrusi magma, yaitu proses keluarnya magma dari dalam bumi sampai di atas kepermukaan bumi. Materi hasil ekstrusi magma dapat berupa: 1) Lava, yaitu magma yang keluar sampai ke permukaan bumi dan mengalir ke permukaan bumi. 2) Lahar, yaitu material campuran antara lava dengan materi-materi yangada di permukaan bumi berupa pasir, kerikil, debu, dan lain-lain denganair sehingga membentuk lumpur. 3) Eflata dan piroklastika yaitu material padat berupa bom, lapili, kerikil,dan debu vulkanik. 4) Ekhalasi (gas) yaitu material berupa gas asam arang seperti fumarole (sumber uap air dan zat lemas), solfatar (sumber gas belereng), dan mofet (gas asam arang). Ekstrusi identik dengan erupsi atau letusan gunungapi yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu erupsi efusif dan erupsi eksplosif. 1) Erupsi efusif, yaitu erupsi berupa lelehan lava melalui retakan atau rekahanatau lubang kawah suatu gunungapi. Video lebih jelasnya terkait proses intrusi dapat dipantau melalui link berikut : https://youtu.be/fiEiqLFt-LY Ekstrusi Magma Kok bisa ya? Video lebih jelasnya terkait proses ekstrusi magma dapat dipantau melalui link berikut : https://youtu.be/0oNLKryRiig
2) Erupsi eksplosif, yaitu erupsi berupa ledakan dengan mengeluarkan bahanbahan padat (Eflata/Piroklastika) berupa bom, lapili, kerikil, dan debu vulkanik bersamasama dengan gas dan fluida. Menurut tempat keluarnya magma, erupsi dapat dibedakan menjadi tiga, yakni: 1) Erupsi linear, yaitu peristiwa keluarnya magma melalui celah atau retakan yang memanjang, sehingga membentuk deretan gunungapi. 2) Erupsi areal, yaitu letusan yang terjadi jika letak magma dekat dengan permukaan bumi, kemudian magma membakar dan melelehkan lapisanbatuan yang berada di atasnya sehingga membentuk lubang yang besardi permukaan bumi. 3) Erupsi sentral, jika letusan yang terjadi keluar melalui sebuah lubang yang membentuk gunungapi yang terpisah-pisah. Erupsi sentral menghasilkan tiga bentuk gunung api, yaitu sebagai berikut: a) Gunungapi perisai (Shield Volcanoes), yaitu sebuah gunung api yang beralas luas dan berlereng landai, merupakan hasil erupsi efusif magma yang cair. Contohnya, gunungapi yang tersebar di kepulauan Hawaii.
b) Gunungapi maar, merupakan hasil erupsi eksplosif yang tidak terlalu kuat dan hanya sekali saja. Contohnya, Gunung Lamongan Jawa Timur dengan kawahnya Klakah. c) Gunungapi strato atau kerucut, merupakan hasil campuran, efusif dan eksplosif yang berulang kali. Gunungapi ini berbentuk kerucut dan badannya berlapis-lapis. Akibat erupsi yang berpindah-pindahpusatnya, menyebabkan di sana sini terbentuk kerucut-kerucut gunung-api, sehingga bentuk gunungapi tersebut tidak teratur. Sebagian besargunungapi di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Malukutermasuk gunungapi kerucut. Contoh Gunung Api Strato: Gunung Kerinci, Merapi, Ciremai, Semeru, Batur, Tangkuban Perahu, dan Gunung Fujiyama di Jepang. Berdasarkan kekentalan magma, tekanan gas, kedalaman dapur magma, dan material yang dikeluarkannya, letusan gunung api dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu: a) Letusan Tipe Hawaii Tipe hawaii terjadi karena lava yang keluar darikawah sangat cair, sehingga mudah mengalir ke segala arah. Sifat lava yang sangat cair ini menghasilkan bentuk seperti perisai atau tameng. Contoh: Gunung Maona Loa, Maona Kea, dan Kilauea di Hawaii.
b) Letusan Tipe Stromboli Letusan tipe ini bersifat spesifik, yaituletusan-letusannya terjadi dengan interval atau tenggang waktu yang hampir sama. Gunung api stromboli di Kepulauan Lipari tenggang waktu letusannya ± 12 menit. Jadi, setiap ±12 menit terjadi letusan yang memuntahkan material, bom, lapili, dan abu. Contoh gunung api bertipe stromboli adalah Gunung Vesuvius (Italia) dan Gunung Raung (Jawa). c) Letusan Tipe Vulkano Letusan tipe ini mengeluarkan material padat ,seperti bom, abu, lapili, serta bahanbahanpadat dan cair atau lava. Letusan tipe inididasarkan atas kekuatan erupsi dan kedalaman dapur magmanya. Contoh: Gunung Vesuvius dan Etna di Italia, serta Gunung Semeru di Jawa Timur. d) Letusan Tipe Merapi Letusan tipe ini mengeluarkan lava kental sehingga menyumbat mulut kawah. Akibatnya, tekanan gas menjadi semakin bertambah kuat dan memecahkan sumbatan lava. Sumbatan yang pecah-pecah terdorong ke atas dan akhirnya terlempar keluar. Material ini menuruni lereng gunung sebagai ladu atau gloedlawine. Selain itu, terjadi pula awan panas (gloedwolk) atau sering disebut wedhus gembel. Letusan tipe merapi sangat berbahaya bagi penduduk di sekitarnya. e) Letusan Tipe Perret atau Plinian Letusan tipe ini sangat berbahaya dan sangat merusaklingkungan. Material yang dilemparkan pada letusan tipe ini mencapai ketinggian sekitar 80 km. Letusan tipe inidapat melemparkan kepundan atau membobol puncak gunung, sehingga dinding kawah melorot. Contoh: Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883 dan St. Helens yang meletus pada tanggal 18 Mei 1980. f) Letusan Tipe Pelee Letusan tipe ini biasa terjadi jika terdapat penyumbatan kawah di puncak gunung api yang bentuknya seperti jarum, sehingga menyebabkan tekanan gas menjadi bertambah besar. Apabila penyumbatan kawah tidak kuat, gunung tersebut meletus. g) Letusan Tipe St. Vincent Letusan tipe ini menyebabkan air danau kawah akan tumpah bersama lava. Letusan ini mengakibatkan daerah di sekitar gunung tersebutakan diterjang lahar panas yang sangat berbahaya. Contoh: Gunung Kelud yangmeletuspada tahun 1919 dan Gunung St. Vincent yang meletus pada tahun 1902.
Selain gunung api yang dihasilkan dari aktivitas ekstrusi magma, ada beberapa fenomena alam lain yang terbentuk dariproses lanjutan atau pasca vulkanisme. Kenampakan tersebut antara lain kaldera, danau kaldera, plato lava, geyser, dan kolam lumpur. a) Sumbat Lava Kenampakan ini terjadi ketika lava yang padat dalam pipavulkanik yang padam menjadi massa yang resistan.Beberapa waktu kemudian, bagian dari kerucut vulkanik yang terdiri atas materi yang kurang resistan menjadilapuk dan terkikis, yang tertinggal hanya sumbat lava. Ukuran sumbat lava ini bisa sangat besar hingg menyerupai bukit. Salah satu contohnya yaitu Menara Setan di Wyoming, USA. b) Kaldera dan Danau Kaldera Kaldera adalah cekungan besar yang ada di puncak gunung. Kenampakan ini terjadi akibat letusan yang sangat dahsyat dan meninggalkan lubang yang besar. Jika lubang ini kemudian terisi air akan membentuk danau kaldera. c) Plato Lava Kenampakan ini terjadi karena magma yang keluar bersifatencer, sehingga mampu menyebar dan membentuk hamparan lava yang luas dan lamakelamaan secara perlahan lava ini membeku hingga membentuk suatu dataran tinggi yang disebut plato. d) Geyser dan Mata Air Panas Di kawasan vulkanik, air tanah bisa dipanaskan olehmagma. Air yang terpanaskan ini bisa muncul kepermukaan dengan tenaga eksplosif, inilah yang disebut geyser. Jika air ini keluar melalui aliran air di celahbatuan, terbentuklah mata air panas. Sedangkan geyser merupakan air panas yang memancar secara periodik.
Keberadaan gunung berapi di suatu daerah, selain menimbulkan dampak negatif berupa bencana, seperti letusan, gas beracun dan tanah longsor yang selalu mengancam penduduk sekitarnya, ternyata dapat pula membawa dampak positif berupa manfaat yang sangat besar bagi kehidupan, antara lain sebagai berikut: 1) Sebagai sumber energi, sebab sumber panas dari gunung berapi dapat dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) seperti yang terdapat di Gunung Kamojang di Jawa Barat dan Gunung Dieng di Jawa Tengah. 2) Sebagai sumber mineral dan bahan galian, seperti intan, timah, tembaga, belerang, dan batu apung. 3) Sebagai obyek wisata dan olahraga, misalnya hiking, climbing, layang gantung, dan bersepeda gunung. 4) Sebagai daerah pertanian yang subur, hal ini disebabkan material yang dikeluarkan oleh gunung berapi banyak mengandung unsur dan mineral yang dapat membuat tanah disekitarnya menjadi subur dan mengalami peremajaan. 5) Sebagai daerah hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi karena adanya penghalang berupa gunung atau pegunungan, sehingga daerah gunung berapi merupakan tempat yang berfungsi hidrologis bagi daerah sekitarnya. 6) Sebagai sumber plasma nutfah, karena variasi ketinggian secara vertikal dari gunung berapi dapat mengakibatkan plasma nutfah yang hidup menjadi sangat bervariasi pula.
Gempa Bumi ialah getaran yang terjadi di permukaan bumi, biasanya disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi (kerak bumi). Getaran tersebut adalah akibat dari pelepasan energi secara tiba-tiba sehingga menyebabkan gelombang seismik. Gempa bumi merupakan proses endogen yaitu akibat adanya pergerakan bumi. KLASIFIKASI GEMPA TAHUKAH KAMUUUU??????? Gempa Bumi terbesar bersejarah besarnya telah lebih dari 9 skala rickter, meskipun tidak ada batasan besarnya. Gempa Bumi besar terakhir besarnya 9,0 atau lebih besar adalah 9,0 magnitudo yaitu gempa di Jepang pada tahun 2011 , dan itu adalah gempa Jepang terbesar sejak pencatatan dimulai. Intensitas getaran diukur pada modifikasi Skala Mercalli.
✓ Gempa ini terjadi akibat runtuhnya batu-batu raksasa di sisi gunung,atau akibat runtuhnya gua-gua besar. Radius getaran tidak begitu besar atau tidak terasa. ✓ Gempa ini terjadi akibat aktivitas gunung api. Dalam banyak peristiwa,gempa bumi ini mendahului erupsi gunung api, tetapi lebih sering terjadi secara bersamaan. Getaran gempa vulkanik lebih terasa dibandingkan getaran gempa runtuhan, getarannya terasa di daerah yang lebih luas. ✓
Gempa ini terjadi akibat proses tektonik di dalam litosfer yang berupa pergeseran lapisan batuan tua terjadi dislokasi. Gempa ini memiliki kekuatan yang sangat besar dan meliputi daerah yang sangat luas. ✓ yaitu gempa yang episentrumnya berbentuk garis. ✓ merupakan gempa linear. Salah satu akibat tektonisme adalah patahan. ✓ yaitu gempa yang episentrumnya berupa titik. Gunung api pada erupsi sentral adalah sebuah titik letusan, demikian juga runtuhan retak bumi. ✓ memiliki kedalaman hiposentrumnya kurang dari100 km di bawah permukaan bumi. ✓ memiliki kedalaman hiposentrumnya antara 100 km-300 km di bawah permukaan bumi. ✓ memiliki kedalaman hiposentrumnya antara 300700 km di bawah permukaan bumi. Sampai saat ini tercatat gempa terdalam 700 km.
✓ berjarak kurang dari 10.000 km. ✓ berjarak 10.000 km. ✓ berjarak lebih dari 10.000 km. ✓ terjadi jika letak episentrumnya terletak di dasar laut atau dapat pula dikatakan episentrumnya terletak di permukaan laut.Gempa ini terjadi karena getaran permukaan dirambatkan di permukaan laut bersamaan dengan yang dirambatkan pada permukaan bumi di dasar laut. ✓ terjadi jika episentrumnya berada di daratan Titik di bawah tanah, tepat di tempat bebatuan berguncang dan menyebabkan gempa bumi disebut pusat atau hiposentrum. Mungkin, titik ini berada ratusan kilometer di bawah tanah. Gerakan bebatuan menyebabkan getaran yang disebut gelombang seismik. Gelombang seismik bergerak sangat cepat ke segala arah dari pusat gempa. Gelombang paling kuat terjadi Untuk menambah pengetahuan kalian lebih dalam, kalian dapat mengakses link mengenai materi seisme dan klasifikasi gempanya di bawah ini : https://bit.ly/seismeww GELOMBANG GEMPA
pada titik hiposentrum yang ada di permukaan bumi yang letaknya tepat di atas pusat gempa (episentrum). Semakin jauh dari pusat, gelombang seismik akan semakin lemah. Jumlah kerusakan yang biasa terjadi akibat gelombang seismik tergantung pada banyaknya jenis bebatuan yang membentuk permukaan bumi. Pada dasarnya, ada tiga macam gelombang gempa,yaitu sebagai berikut: Gelombang longitudinal atau gelombang primer (P) yaitu gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah dan tercatat pertama kali oleh seismograf dengan kecepatan antara 7 - 14 km per detik dan periode gelombang 5 - 7 detik. Gelombang transversal atau gelombang sekunder (S) yaitu gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah dan tercatat sebagai gelombang kedua oleh seismograf dengan kecepatan antara 4 - 7 km per detik dan periode gelombang 11 - 13 detik. Gelombang panjang atau gelombang permukaan yaitu gelombang yang merambat dari episentrum menyebar ke segala arah di permukaan bumi dengan kecepatan antara 3,5 - 3,9 km per detik dan periode gelombang relatif lama. Di permukaan, juga ada dua jenis gelombang seismik, yaitu gelombang rayleigh merupakan gelombang yang bergerak turun naik dan gelombang love merupakan gelombang yang mendorong bebatuan dari satu sisi ke sisi yang lain sambil menjalar. Gelombang permukaan lebih lambat dibandingkan dengan gelombang utama, tetapi kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih dahsyat. Kedahsyatan itu disebabkan lamanya rambatan gelombang ini. Untuk menentukan letak suatu episentrum gempa, diperlukan catatan gempa bumi dari minimal tiga pencatat gempa bumi, dengan cara sebagai berikut: Jarak stasiun ke episentrum dapat dihitung dengan menggunakan Hukum Laska. Suatu gempa tektonik di tercatat pada seismograf stasion di Sorong sebagai berikut:
a. Gelombang longitudinal tercatat pada jam 11.35’.20" b. Gelombang transversal tercatat pada jam 11.36’.35 Berapa jarak Sorong dari episentrum gempa? Jawab: Jarak dari episentrum ke Garut adalah sekitar 250 km. Episentral adalah jarak antara sumber gempa atau episentrum dan stasiun pengamat gempa. Untuk menentukan posisi sumber gempa dengan metode ini, diperlukan data waktu kejadian gempa minimal dari tiga stasiun pengamatan. Δ = {(11.36’.35” – 11.35’.20”) – 1’} × 1.000 km = ( 01’ 15” – 1’) × 1.000 km = (15/60) × 1.000 km = 1/4 × 1.000 km = 250 km
Contoh : Dalam satu kejadian gempa, tercatat waktu getaran gelombang primer dan sekunder dari tiga stasiun pengamat A, B dan C sebagai berikut ini. a. Stasiun A : gelombang P pertama pukul 12:07.10 WIB gelombang S pertama pukul 12:09.25 WIB b. Stasiun B : gelombang P pertama pukul 12:15.07 WIB gelombang S pertama pukul 12:18.37 WIB c. Stasiun C : gelombang P pertama pukul 12:30.10 WIB gelombang S pertama pukul 12:33.10 WIB Dari data tersebut, dapat dihitung dan menentukan posisi episentrum atau sumber gempa dengan langkah-langkah pengerjaan sebagai berikut. a) Menentukan jarak episentral dari masing-masing stasiun pengamat, (karena 1’ = 60”, 15” = 15/60 = 0,25’), artinya episentral dari stasiun pengamat A berjarak 250 km. (karena1’ = 60”, 30” = 30/60 = 0,5’), artinya episentral dari stasiun pengamat B berjarak 2.500 km. Episentral dari stasiun C= 3.000 km. b) Membuat lingkaran-lingkaran pada peta dengan titik pusat lingkaran setiap lokasi stasiun pengamat, yaitu A, B dan C. Panjang jari-jari lingkaran sama dengan jarak episentralnya dan disesuaikan dengan skala peta. Misalnya skala peta adalah 1:100.000.000, artinya jarak 1 cm pada peta sebanding dengan 1.000 km di permukaan Bumi. Maka jari-jari lingkaran A = 2,5 cm B = 25 cm dan C = 30 cm. c) Titik pertemuan ketiga lingkaran merupakan lokasi episentrum kejadian gempa tersebut.
Homoseista adalah garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat di permukaan Bumi yang mencatat getaran gempa yang pertama pada waktu yang sama. Misalnya, seismograf yang terdapat di stasiun D, E, dan F mencatat getaran gempa pada pukul 20:35.15 WIB. Pada peta ketiga stasiun tersebut terletak pada satu garis homoseista. Untuk menentukan lokasi episentrum, buatlah garis DE, dan EF kemudian tariklah sumbu dari kedua garis tersebut. Pertemuan kedua sumbu garis merupakan lokasi episentrum. Berdasarkan data seismometer, para ahli gempa bumi telah mengembangkan berbagai ukuran untuk mengukur kekuatan sebuah gempa. Skala yang terkenal dan banyak digunakan adalah skala yang disusun oleh Charles F. Richter dan Beno Gutenberg berdasarkan gempa yang terjadi di California pada 1906. Skala ini kemudian terkenal dengan nama skala richter. Perhatikan Tabel! Kekuatan (Magnitudo) Kategori Energi TNT >8 Great (sangat kuat) - 7-7,9 Major (besar) 32 megaton 6-6,9 Strong (kuat) - 5-5,9 Moderate (sedang) 32 kiloton 4-4,9 Light (ringan) 1 kiloton 3-3,9 Minor (kecil) 29 ton <3 Very minor (sangat kecil) <4 ton Skala richter menggunakan dasar penghitungan amplitudo gelombang parameternya adalah beda waktu tempuh antaragelombang P dan gelombang S. Richter membagi kekuatan gempa ke dalam 10 bagian. Angka 10 adalah ukuran untuk gempa yang sangat kuat. Selain itu, ada Moment-Magnitude Scale, yang bisa digunakan untuk mengukur gempa berkekuatan luar biasa. Selain itu juga ada Modified Mercalli Intensity Scale. Skala ini, terutama untuk mengukur intensitas gempa atau efek-efeknya pada lokasi yang spesifik. Skala intensitas Mercalli membagi intensitas gempa antara I sampai XII, dan cara mengukurnya cukup dengan observasi langsung pada lingkungan sekitar. Seperti bahasan kita sebelumnya bahwa gempa merupakan salah satu tenaga endogen yang mempengaruhi bentuk muka Bumi. Oleh karena itu, gempa berdampak langsung pada deformasi lapisan Bumi. Bentuk deformasi akan sangat tergantung pada arah dan kekuatan tenaga endogen itu sendiri. Di permukaan Bumi dampak gempa juga
dipengaruhi oleh kekuatan gempa itu sendiri. Kerusakan berat timbul dari gempa berkekuatan tinggi. Banyak bangunan hancur, rata dengan tanah, korban pun banyak berjatuhan. Memang benar gempa tidak hanya memberikan dampak bagi lingkungan fisik, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat. Cobalah temukan dampak lain gempa terhadap kehidupan sosial. Oleh karena dahsyatnya dampak yang diakibatkan oleh gempa, maka kejadian gempa digolongkan sebagai salah satu bencana yang harus diwaspadai karena dapat juga menyebabkan tsunami. Gempa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya tsunami. Akan tetapi, tidak semua gempa menyebabkan tsunami. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan tsunami, antara lain gempa berkekuatan besar (lebih besar 6 SR, pusat gempa berada di dasar laut dengan pusat gempa yang dangkal, dan adanya dislokasi kerak Bumi bawah laut). Gerakan vertikal pada kerak Bumi dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang ada di atasnya. Pada akhirnya menyebabkan terjadinya aliran energy air laut, yang ketika sampai di pantai akan menjadi gelombang besar yang disebut tsunami. YUK CARI TAHU !!! : :
APA ITU EKSOGEN? Eksogen merupakan tenaga yang berasal dari LUAR bumi dan terjadi di permukaan bumi. Faktor yang mempengaruhi terjadinya eksogen : aktivitas makhluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme : air hujan, aliran air permukaan, dan pasang surut air laut : suhu, iklim, cuaca, intensitas sinar matahari, dan angin Jenis perubahan muka bumi akibat dari tenaga eksogen seperti pelapukan, erosi, sedimentasi, dan mass wasting. Pelapukan merupakan proses penghancuran massa batuan (bed rock) menjadi massa tanah atau dapat disebut juga dengan proses penghancuran batuan dari bongkahan besar menjadi kecil akibat dari penghancuran, pengelupasan, dan perusakan batuan. Misalnya batuan yang kemudian berubah menjadi pasir. Selain itu, kamu pasti pernah ngeliat deh rantai/besi yang mengalami karat. Nah, itu adalah salah satu contoh dari pelapukan. Pada umumnya, proses pelapukan ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama. PELAPUKAN
• Sinar matahari • Makhluk hidup • Cuaca dan iklim Disebabkan oleh cuaca hal tersebut mencakup: yang diantarnya adalah suhu udara, curah hujan, cahaya matahari, atau angin. Kemudian pada wilayah dengan iklim yang lembap dan panas, maka akan membuat batuan akan lebih cepat mengalami proses pelapukan dari pada sebuah wilayah yang beriklim dingin. • Batuan induk Hal ini menjadi sifat fisik dan kimia yang memang sudah ada pada batuan.Adapun Sifat fisik batuan tersebut adalah warna dari pada batuan itu sendiri, sedangkan sifat kimianya adalah seperti unsur – unsur kimia yang dikandung dalam batuan itu. • Iklim • Organisme • Perubahan suhu • Topografi Pada umumnya batuan yang terdapat di area lereng yang curam biasanya akan lebih cenderung mudah mengalami pelapukkan, Hal ini disebabkan karena batuan yang ada secara langsung berinteraksi dengan cuaca. • Unsur kimia • Vegetasi Hal ini jga yang dapat mempengaruhi terjadinya proses pelapukan. Yang mana seperti yang kita ketahui bahwa tumbuhan mempunyai berbagai akar yang bisa masuk dan menembus setiap celah yang ada pada batuan. Apabila tumbuhan itu mengalami perkembangnya pada akarnya, maka akan semakin
besar pula kekuatan akar tersebut untuk menerobos masuk kecelah bebatuan sehingga akhirnya membuat batuan tersebut menjadi lapuk. YUK CARI TAHU !!! Pelapukan mekanis (fisik) merupakan proses penghancuran batuan menjadi pecahan lebih kecil tanpa mengalami perubahan susunan kimia. Biasanya, pelapukan ini terjadi karena perubahan musim, menyusupnya es di celah batuan, atau perbedaan suhu siang dan malam yang ekstrem. Makanya, kalau kamu main-main ke gurun, tidak jarang bebatuan di sana banyak yang pecah. Beda kayak di kota tempat kamu tinggal. Batunya banyak yang padat dan keras. Hal ini disebabkan karena perubahan suhu siang dan malam di gurun cukup tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pelapukan mekanis (fisik) terjadi karena pengaruh iklim, pengaruh suhu, pancaran sinar matahari, ataupun : :
daya erosi. → Pemuaian batuan akibat berkurangnya beban. Terjadinya Proses ini pada batuan yang mana pada awalnya batuan tersebut tertimbun di bawah lapisan kulit bumi oleh berbagai lapisan batuan lainnya. Selanjutnya seiring berjalannya waktu batuan yang telah menimbuninya lama kelamaan mulai tererosi, sehingga hal tersebut mempengaruhi ketebalan dari pada lapisan tersebut yang semakin terus terkikis. → Pembentukan kristal-kristal dalam celah-celah atau lapisan-lapisan batuan Pada umumnya proses ini berlangsung pada sebuah daerah yang memiliki iklim dingin. Yang mana biasanya pada daerah ini suhu dari pada udara yang dikeluarkan pada siang hari akan menjadi sangat panas, sehingga air akan keluar dari celah-celah batuan. Sedangkan dimalam hari akan mengalami penurunan suhu yakni hingga beberapa derajat di bawah titik nol. Dengan adanya penurunan tersebut akhirnya membuat air tadi akan mengalami pembekuan dan berubah menjadi butiran Kristal salju. → Perubahan suhu Kemudian adanya perubahan suhu juga menjadi salah satu alasan terjadinya suatu pelapukan yang terjadi. Yang mana pada dasarnya batuan terdiri dari berbagai kristal yang memiliki perbedaan koefisien pemuaiannya (artinya tinggi tingkat pemuaian akan semakin ditingkatkan setiap mencapai pada panas 1°C). → Kegiatan organisme Sebenarnya organisme sendiri tidak memberikan suatu perubahan yang sangat besar. Yang disebut organisme sendiri adalah jenis mahkluk hidup seperti tumbuhan dan hewan serta manusia. Yang mana sebelumnya telah kami sampaikan bahwa akar mengambil peran atau bisa mempengaruhi adanya pelapukan. → Penarikan oleh koloid-koloid tanah Dalam hal ini yang mana koloid tanah adalah sebuah bahan mineral dan juga merupakan suatu organisme yang sangat lembut.
a) Ketika siang hari pada bebatuan akan mengalami pengembangan karena adanya efek panas dari cahaya matahari sedangkan pada malam hari ia akan kembali mengalami penyusutan karena efek dari udara yang dingin b) Terjadinya kehancuran pada batuan gurun hal tersebut karena efek dari adanya transformasi iklim harian yang terjadi secara berlebihan c) Pengleburan air garam pada batuan didalam ekosistem pesisir d) Adanya kelongsoran pada bebatuan yang terjadi di wilayah topografi yang terjal Pelapukan biologis adalah pelapukan yang disebabkan oleh organisme (akar tumbuhan yang menghancurkan batuan) melalui aktivitasnya. Contoh paling gampang adalah yang terjadi di rumah kita. Coba, deh, kamu ketok kusen pintu rumah kamu. Kalau bunyinya ‘Dok! Dok! Dok!’ berarti kusen kamu dimakan rayap dan lapuk. Bunyi itu menandakan kayu kamu telang kopong/berongga di bagian dalamnya. Contoh lain dari pelapukan biologis adalah lumut yang ada di atas bebatuan. Atau akar tumbuhan yang terselip di antara bebatuan. Lama-kelamaan, ketika si akar membesar, dia akan menembus batu itu. Alhasil, batunya pecah dan mengalami pelapukan. a) Adanya Lumut yang memiliki tunas yang tumbuh pada batuan sehingga kemudian semakin meperkuat transformasi degradasi bebatuan. Jadi batuan akan mengalami pelapukan karena adanya efek dari proses peresapan akar dan tingginya pH yang terdapat diarea batuan sehingga batuan mengalami transformasi korosi
b) Dengan adanya akar tumbuhan yang masuk dan menerobos ke dalam ruang batuan , kemudian akar tersebut mengapi bebatuan sehingga akhirnya batuan mengalami transformasi dan mengalami keretakan Salah satu faktor penting dalam pelapukan kimia adalah air. Contohya yaitu gembok rumah kamu pasti akan lebih cepat karatan kalau sering terkena hujan, kan? Karat yang timbul itu lah yang dinamakan pelapukan kimia. Emang gimana caranya air hujan bisa membuat gembok besi jadi karat? Sewaktu terkena air hujan, akan terjadi yang namanya hidrolisis air. Hal ini membuat tingkat keasaman gembok besi meningkat. Ion H + yang muncul dari air hujan, perlahan-lahan akan membuat korosi. Contoh lainnya yaitu adanya pelapukan di daerah kapur seperti terjadinya dolina, uvala, stalaktit, dan stalakmit sebagai akibat dari reaksi air dengan kapur. → Komposisi Batuan Dalam hal ini Ada mineral yang bisa dengan mudah bereaksi dengan air, oksigen dan gas asam arang, namun ada juga yang tidak mudah bereaksi. Jadi pada mineral yang bisa dengan mudah bereaksi dengan air, oksigen dan gas asam arang, maka hal tersebut akan lebih cepat mengalami pelapukan dibandingkan mineral yang tidak mudah bereaksi terhadap air, oksigen dan gas asam arang. → Iklim Kemudan pada wilayah yang beriklim panas dan basah, contohnya saja hujan tropis akan bisa lebih mempercepat proses terjadinya pellapukan dengan reaksi kimia.
→ Ukuran Batuan Dalam hal ini jika semakin kecil ukuran dari batuan, maka akan menjadi lebih makin intensif reaksinya terhadap batuan, artinya hal ini akan membuat semakin cepat proses pelapukannya. → Vegetasi dan Binatang Berdasarkan kehidupan dari vegetasi dan binatang yang mana karena perenan keduanya bisa menghasilkan sejumlah asam tertentu, contohnya seperti gas asam arang dan oksigen. Sehingga akan lebih mudah bereaksi dan batuan akan menjadi lebih cepat mengalami pelapukan. a) Adanya Proses pengikisan atau pemusnahan batuan kapur gamping hal tersebut terjadi karena efek dari air yang masuk. b) Hidrolisis air hujan sehingga menyebabkan adanya kenaikan tahapan tingkat keasaman yang terjadi diarea sekeliling batuan. Jadi dengan adanya Ion H+ sehingga memperkuat bebatuan mengalami korosi. c) Dengan adanya Oksidasi batuan yang mana di dalamnya mengandung banyak /kaya akan mineral besi sehingga memperkuat hubungan mineral dan membuat mengalami pelapukan. Erosi merupakan proses pelepasan dan pemindahan massa batuan secara alamiah dari suatu tempat ke tempat lain oleh suatu zat pengangkut. Adapun proses erosi yaitu pelepasan (detachment), pengangkutan (transportasi) dan pengendapan (sedimentasi). Erosi berasal dari bahasa latin yaitu erosinem yang berarti menggerogoti. Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, tetapi di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, EROSI
perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi atau pembangunan yang tidak tertata dengan baik, dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah. Ketika hujan turun deras dan berlangsung lama, maka lama-kelamaan air tersebut akan menipis lapisan tanah. Hal itu akan mempercepat proses terjadinya erosi. Tanah akan menentukan bagaimana lahan tersebut dapat menyerap air. Contohnya ketika suatu lahan gundul, maka erosi akan terjadi jauh lebih cepat, karena nggak ada yang menahan air sebagai zat pengangkut. Topografi atau kemiringan lahan. Semakin miring suatu lahan, maka tingkat erosi juga akan semakin tinggi, terlebih jika lahan tersebut tidak ditanami pepohonan. Vegetasi merupakan suatu kumpulan tumbuhan yang menempati ekosistem. Contohnya hutan. Nah, hal itu bisa menahan terjadinya erosi karena air akan diserap oleh tumbuhan. Ketika suatu lahan digunakan untuk pemukiman dan pertanian, maka lahan tersebut akan lebih cepat terkena erosi.
Ablasi merupakan erosi yang disebabkan oleh air sungai (mengalir) atau hujan. Kadar dan kecepatan air yang mengalir akan memperngaruhi tingkat terjadinya erosi. Karena air yang mengalir dapat megikis permukaan tanah. Ablasi dipengaruhi oleh daya kikis air dan juga dipengaruhi oleh jumlah air dan kecepatan air. Contohnya pada lembah, jurang, air terjun, meander, dan Oxbow Lake. 1) Erosi percik (splash erosion) : Jatuhnya air hujan dan mulai mengikis tanah. 2) Erosi lembar (sheets erosion) : Tanah bagian atas yang terkikis oleh aliran air sehingga kesuburannya mulai berkurang. Jeni sini ditandai dengan tanah pucat dan air keruh. 3) Erosi alur (riil erosion) : Kikisan tanah tadi mulai membentuk alur sebagai tempat mengalirnya air. Erosi ini menghasilkan alur-alur relatif lurus di daerah berlereng dan berkelok. Erosi ini terjadi pada saat air larian masuk ke cekungan permukaan tanah. 4) Erosi parit (gully erosion) : Erosi parit merupakan kelanjutan dari erosi alur. Erosi parit akan membentuk parit/lembah karena kikisan dari aliran air terus menerus, sehingga membentuk parit berbentuk V atau U. Erosi ini terjadi di daerah kemiringan lereng yang tinggi. Korasi/deflasi merupakan erosi yang disebabkan oleh angin. biasanya, korasi dan deflasi ini terjadi di daerah gurun. Korasi merupakan erosi yang disebabkan oleh angin dan pasir (badai pasir), sementara deflasi hanya angin saja.
Abrasi adalah proses pengikisan pantai yang disebabkan oleh kecepatan angin laut dan gelombang laut. Kalau kamu hobi jalan-jalan ke pantai, salah satu tempat paling didamba adalah berdiri di pinggir tebing, lalu menatap kejauhan laut. Nah, tebing ini bisa terbentuk karena adanya gesekan dari gelombang laut yang membentur. Goa-goa yang ada di pantai juga bisa terjadi karena abrasi ini. Adanya erosi ini menyebabkan terciptanya bentangalam seperti cliff, relung, morena, dan ngarai. a) Daratan abrasi Gelombang air laut saat pasang dapat mengenai dataran/jalanan, sehingga dataran akan mengalami pengikisan. b) Cliff Fenomena ini terjadi di jurang pinggir laut. Batuan dan lahan di jurang pinggir laut lama kelamaan akan terkikis oleh gelombang air laut, sehingga pinggirannya mengalami keruntuhan
c) Cave – Arch – Stack – Stump Gelombang air laut yang menerjang terus menerus dapat menyebabkan retakan (crack) pada tebing di pinggir laut. Kemudian, lama-kelamaan akan menyebabkan lubang (cave dan arch), semakin retak akan menyebabkan stack hingga akhirnya stump atau bagian kecilnya. Eksarasi adalah pengikisan yang disebabkan oleh es yang mencair (gerakan lapisan es). Karena mencairnya es ini, akhirnya batuan yang ada akan masuk ke bawah dan mengendap. Fenomena alam hasil dari eksarasi ini dinamakan fjord. Penampakannya seperti sebuah pantai yang menjorok ke darat dan dikelilingi oleh tebing curam. Erosi es (glasial) merupakan suatu proses pengikisan tanah yang terjadi di daerah pegunungan tinggi dengan diselimuti salju
→ Menurunnya kemampuan lahan (degradasi lahan) → Menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi), sehingga akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai → Pengendapan di sungai (sedimentasi) yang jika semakin tinggi akan mengakibatkan pendangkalan sungai, sehingga memengaruhi kelancaran jalur pelayaran → Hilangnya lapisan tanah yang subur untuk pertumbuhan tanaman → Konservasi tanah Pemilihan vegetasi yang tepat dan menggunakan vegetasi yang memiliki kemampuan untuk bertahan dalam berbagai kondisi cekaman. → Terasering Terasering memiliki peranan yang penting dalam menjaga agar air hujan tidak langsung mengalir ke bawah dan menyebabkan pengikisan. Dengan lahan berbentuk teras, maka tanah akan lebih stabil dan tanaman juga tumbuh dengan lebih baik. → Contour Farming Contour Farming merupakan penanaman berdasarkan garis kontur. Dimana cara bercocok tanam seperti ini akan membuat akar tanaman lebih kuat, sehingga bisa menahan tanah agar tidak mudah terkikis saat hujan deras. → Reboisasi Reboisasi atau penanaman Kembali pada hutan gundul. Cara ini dapat menghasilkan oksigen sekaligus penahan air. Dengan ekosistem hutan yang terjaga, maka bencana alam lain seperti banjir dapat dicegah. → Pengolahan tanah, areal tanah yang diolah dengan penanaman tanaman, penataan tanaman yang teratur akan mengurangi tingkat erosi. → Pemasangan tembok batu rangka besi, dengan membuat tembok batu menggunakan rangka besi, erosi di tepi sungai dapat dikurangi. → Menjalankan Tumpang sari, menanam tanaman yang secara selang seling dengan waktu panen yang berbeda. → Pembuatan pemecah angin dan gelombang, misal dengan menanam pohon. → Menanami hutan bakau di tepi pantai.
→ Membangun bangunan – bangunan pemecah ombak pada pantai – pantai yang bertebing curam. Sedimentasi merupakan proses pengendapan material batuan dan tanah hasil erosi karena adanya tenaga angin, air, dan gletser. Kemudian bahan atau material yang mengendap tersebut akan menyatu dan membentuk jenis batuan baru yang disebut dengan batuan sedimen. o Sedimentasi akuatis (air sungai) Sedimentasi akuatis (air sungai) merupakan pengendapan materi yang terbawa oleh air. Sedimentasi akuatis biasanya terjadi di dataran rendah dan sungai. Hasil dari sedimentasi ini yaitu kipas aluvial atau dataran banjir. o Sedimentasi aeolis/geolis (angin) Sedimentasi aeolis dapat membentuk sand dunes (gumuk pasir), barchan (gumuk pasir bentuk tapal kuda), dan tanah los (endapat debu di sekitaran gurun) o Sedimentasi marine (tenaga gelombang air laut) Sedimentasi marine merupakan proses pengendapan yang terjadi karena abrasi oleh air laut dapat membentuk tombolo, gosong, beach ridge, spit, dan bar. 1) tombolo – jembatan pasir yang menghubungkan dua buah pulau, yakni pulau besar dan pulau kecil 2) gosong – suatu daratan sempit di tengah- tengah laut SEDIMENTASI
3) spit – daratan pasir yang memanjang dengan satu ujung di lautan dan ujung lainnya menyambung daratan 4) beach – kumpulan puing batuan karang di sekitar cliff 5) bar – punggung pasir yang mengendap di seberang teluk o Sedimentasi gletser Sedimentasi gletser dapat membentuk lembah V menjadi U o Sedimentasi fluvial (sungai) Sedimentasi fluvial merupakan proses pengendapan yang terjadi di sungai dan disebabkan oleh air sungai. Sehingga menyebabkan pendangkalan sungai. Sedimentasi ini dapat membentuk delta (di muara sungai), delta bar (di tengah sungai), dan flood plain (dataran banjir). o Sedimentasi teristis (darat/dataran banjir) o Sedimentasi limnis (daerah rawa-rawa) o Sedimentasi lakustris (dasar danau) o Sedimentasi marine (laut) Mass wasting atau tanah bergerak merupakan PENGANGKUTAN MASSA TANAH menuruni lereng karena adanya pengaruh gravitasi. terjadi akibat adanya perpindahan massa batuan karena gaya berat. o Tanah longsor (land slide) : jenis pergerakan yang cepat o Tanah amblas (subsidence) : jenis pergerakan yang lambat o Tanah nenda (slumping) atau longsoran yang terputus-putus seperti teras o Tanah mengalir (earth flow) atau gerakan tanah jenuh pada lereng landau o Lumpur mengalir (mud flow) atau tanah yang mengalir dengan kadar air yang tinggi o Rayapan tanah (soll creep) atau gerakan tanah yang lembap pada lereng landai ”Kalau pada erosi dan pelapukan terkesan merusak yang telah ada, sedimentasi justru menambah material baru.” MASS WASTING
DAMPAK PERUBAHAN MUKA BUMI KARENA ADANYA TENAGA EKSOGEN Perubahan muka bumi karena adanya proses eksogen tentu menimbulkan dampak bagi kehidupan. Adapun dampak yang ditimbulkan oleh eksogen, antara lain: • Aktivitas pelapukan dapat menghasilkan bentuk permukaan bumi yang unik, yang kemudian bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata yang dapat dijadikan sumber penghasilan oleh masyarakat sekitar. • Memunculkan habitat. Dengan adanya pelapukan terhadap batuan, terbentuklah tanah sehingga memungkinkan tumbuh- tumbuhan hidup di atas tanah tersebut. Dengan adanya kehidupan tumbuh-tumbuhan di atas tanah, telah menyebabkan adanya kehidupan hewan dan manusia. • Proses sedimentasi bisa menghasilkan daratan baru yang subur. • Erosi pada tanah akan mengangkut humus pada lapisan tanah atas sehingga kesuburan tanah berkurang. Perbedaan pergerakan tanah (mass wasting) dengan tanah longsor (land slide) Pergerakan tanah kerap diartikan sebagai tanah longsor, padahal keduanya memiliki perbedaan arti. Adapun, pergerakan tanah merupakan proses perpindahan massa tanah atau batuan dengan arah gerak, mendatar atau miring dari kedudukan semula. Pergerakan ini dapat disebabkan oleh pengaruh gravitasi, arus air dan beban luar. Sementara itu, tanah longsor merupakan tipe gerakan tanah yang pergerakannya cepat. Adapun longsoran dengan bidang melengkung biasanya gerakannya perlahanlahan/merayap tetapi merusak dan meruntuhkan bangunan di atasnya, sehingga mengancam keselamatan penghuninya.
• Erosi pada daerah pantai menyebabkan berkurangnya luas lahan pantai. • Hasil-hasil erosi yang diendapkan (sedimentasi) di muara-muara sungai menyebabkan pendangkalan di muara sungai, akibatnya sungai menjadi mudah mengalami banjir ketika musim hujan. • Pedangkalan danau dikarenakan adanya proses erosi yang membawa material terkikis ke daerah yang lebih rendah seperti danau atau rawa dan terjadi dalam jangka waktu yang lama • Berkurangnya kejernihan air karena adanya proses erosi yang membuat sungai menjadi keruh. Hal ini akan berdampak pada air tanah yang berada di sekitar sungai dan makhluk hidup yang kekurangan sumber air bersih • Hilangnya garis pantai karena proses erosi patai atau abrasi dalam jangka waktu yang lama. Garis pantai akan mempersempit daratan dan akan menggusur lahan pemukiman penduduk pesisir pantai • Terjadinya tanah longsor karena adanya proses erosi tanah di lereng gunung