The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan karya kritik dan esai sastra Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Natasha Izza, 2021-12-07 02:55:20

URITA INSAN DARI GEN ALPHA

Kumpulan karya kritik dan esai sastra Indonesia

Menulis Kritik & Esai Sastra

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd.

URITA INSAN
DARI GEN ALPHA

Natasha Izzatul Ismi

i|Urita Insan dari Gen Alpha

Menulis Kritik dan Esai Sastra

URITA INSAN
DARI GEN ALPHA

Oleh: Natasha Izzatul Ismi
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd.

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Jl. Semarang 5, Sumbersari, Kec. Lowokwaru,
Kota Malang, Jawa Timur 65145
Kotak Pos 13, MLG/IKIP Telepon (0341)551312

ii | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

iii | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-
Nya, penulis bisa menyelesaikan karya yang berjudul "Urita Insan dari Gen
Alpha” ini. Tidak lupa, selawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang menjadi suri teladan dan sumber inspirasi bagi penulis.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada kedua orang tua yang selalu
memberikan dukungan dan dorongan. Kemudian, ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd.
selaku dosen pengampu dan Ibu Lini Larasati selaku asisten dosen yang telah
memberikan arahan dan bimbingannya dalam menempuh mata kuliah ini. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman sekalian.

Karya ini ditujukan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Menulis
Kritik dan Esai Sastra yang diampu oleh Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd. dan Ibu
Lini Larasati. Karya ini berisi kumpulan karya-karya kritik dan esai yang telah
dibuat oleh penulis sebelumnya. Terdapat empat karya yang terdiri dari satu karya
kritik prosa fiksi, satu karya kritik puisi, satu karya esai prosa fiksi, dan satu karya
esai puisi.

Penulis menyadari adanya kekurangan pada karya ini karena sejatinya
manusia tidak lepas dari kesalahan. Oleh sebab itu, saran dan kritik senantiasa
diharapkan demi perbaikan karya penulis. Penulis juga berharap semoga karya
ini mampu memberikan pengetahuan dan manfaat kepada semua orang,
khususnya para pembaca sekalian.

Malang, 7 Desember 2021

(Natasha Izzatul Ismi)

iv | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................... iv
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………...v
KRITIK SASTRA................................................................................................................................. 1

KRITIK PROSA FIKSI ................................................................................................................... 3
KRITIK PUISI ................................................................................................................................14
ESAI SASTRA ....................................................................................................................................23
ESAI PROSA FIKSI.......................................................................................................................25
ESAI PUISI......................................................................................................................................31
CURRICULUM VITAE.....................................................................................................................37
LAMPIRAN......................................................................................................................................... 39
Kerangka Kritik Prosa Fiksi..........................................................................................................41
Kerangka Kritik Puisi ....................................................................................................................44
Kerangka Esai Prosa Fiksi .............................................................................................................47
Kerangka Esai Puisi........................................................................................................................49
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................51

v|Urita Insan dari Gen Alpha

KRITIK SASTRA

1|Urita Insan dari Gen Alpha

2|Urita Insan dari Gen Alpha

KRITIK PROSA FIKSI
KISAH PELIK CINTA GENERASI MILENIAL DALAM BUKU ‘JIKA KITA TAK

PERNAH JATUH CINTA’ KARYA ALVI SYAHRIN

Natasha Izzatul Ismi
200211605209
Offering B

[email protected]
I. Pembuka

Manusia mana yang tak pernah jatuh cinta? Tentunya setiap manusia pernah
merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta yang seringkali membawa cerita-cerita baru di dalam
hidup seseorang. Tapi apakah jadinya “Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta”? Jika kita tak
pernah jatuh cinta adalah salah satu buku karya Alvi Syahrin yang cukup membuat
penasaran hanya dengan membaca judulnya. Isinya yang terbagi dalam beberapa kisah
menjadikan buku ini menjadi buku best seller di awal kemunculannya. Penulisannya yang
relevan dengan kisah hidup generasi milenial menunjukkan kepada para pembacanya
tentang bagaimana cara manusia menyikapi persoalan cinta yang kerap kali menghadirkan
luka bagi pelakunya. Bisa kita lihat di sekitar kita, banyak orang berputus asa hanya karena
masalah cinta.

Buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’ berisikan kisah cinta generasi milenial
yang dimulai saat usianya delapan belas tahun. Saat menginjak usia itu, cinta bagaikan
dunia baru yang terlihat seru. Sayangnya, tak berhenti pada keseruan saja tetapi cinta juga
menghadirkan luka bagi penikmatnya. Saat usia itulah seseorang mulai sadar bahwa cinta
butuh konsekuensi atas keselamatan diri sendiri. Bagian-bagian dalam buku ini layaknya
rentetan proses jatuh cinta. Setelah melewati usia delapan belas tahun, generasi milenial
cenderung risau dengan kisah cintanya yang tak kunjung mendapatkan kepastian. Seakan
cinta adalah hal yang terpenting dalam kehidupan, Alvi Syahrin justru membantah itu
semua dengan peristiwa-peristiwa cinta yang pada akhirnya menghadirkan luka.
Walaupun kisah cinta yang berakhir dalam pernikahan terasa membahagiakan, tentu saja
hal itu akan berubah menjadi kesedihan apabila salah satu dari pasangan telah dipanggil
lebih dulu oleh Sang Maha Kuasa. Porsi cinta yang tepat bukanlah berdasarkan perspektif
manusia, melainkan aturan Allah yang sempurna.

Tak salah apabila buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’ adalah prosa fiksi
mimetik. Karya ini berangkat dari kisah-kisah yang sering kali ditemui di sebagian
kehidupan generasi milenial. Penulis pun memaparkan sebagian peristiwa-peristiwa

3|Urita Insan dari Gen Alpha

dominan yang dialami generasi milenial dengan menambahkan pandangannya terhadap
kenyataan yang ada di sekitar perlu sedikit bantahan. Cerita yang diangkatnya bukanlah
cerita yang ada dalam imajinasi dan khayalan dari penulis. Akan tetapi cerita yang
disuguhkan berangkat dari pengalaman-pengalaman nyata yang sering diperlihatkan oleh
generasi milenial.

II. Inti
Cinta akan selalu menjadi topik yang digandrungi oleh setiap kalangan, baik yang

muda maupun yang tua, terbukti dari link lagu, drama, teater, puisi, sajak, komik, novel,
bahkan gosip tentang cinta (Wisnuwardhani, 2012). Bahkan sekarang cinta menjadi topik
populer pada riset ilmiah (Taylor, 2009). Berbicara soal cinta, setiap orang pasti pernah
jatuh cinta. Cinta ini berakar dari eros (Yunani) yang menjalar menjadi beberapa jenis
cinta. Ketiga jenis itu adalah cinta romantis (eros), cinta persahabatan (philia), dan cinta
Illahi (agape). Dalam kenyataannya, filosofi Yunani tentang cinta tersebut adalah benar
dan nyata. Pada buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’, alur yang digunakan oleh penulis
menampakkan ketiga jenis cinta yang telah disebutkan. Memang pada kenyataannya cinta
merupakan relasi antar sesama manusia yang bersifat universal. Dari hal inilah sebuah
karya dianggap sebagai imitasi dan realitas (Abrams, 1981:89). Berikut ini adalah hasil
dan pembahasan realitas kehidupan dalam buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’ karya
Alvi Syahrin.

Jenis cinta yang pertama, cinta romantis (eros). Cinta romantis adalah relasi yang
terjadi di antara pria dan wanita dari berbagai kalangan dan usia. Cinta romantis sendiri
umumnya terjadi pada dua orang yang awalnya bertemu sebagai teman, atau sebagai rekan
kerja, dan lainnya. Menurut Antonucci, salah satu kelompok yang tidak lepas dari masalah
cinta adalah individu yang berada pada tahap perkembangan dewasa awal (Irmawati dan
Saragih, 2005). Relasi hubungan cinta inilah yang menjadikan kegagalan dalam hubungan
cinta tidak terjadi pada masa pernikahan saja, akan tetapi hubungan pranikah akan
mengalami lebih besar kegagalan cinta sebelum menentukan pasangan yang sesuai. Hal
ini sesuai dengan kutipan di bawah ini.

“Puncaknya, saat kau delapan belas tahun. Kau bertemu cinta pertamamu dan patah hati
pertamamu. Bertahun-tahun menanti cinta, kau mencoba yang terbaik, mencintai begitu
dalam, dicintai begitu tulus, lalu seiring waktu, topengnya terbuka, mendung hadir, badai
turun, dan, dalam sekejap mata, ia menghancurkan segalanya.” (Alvi Syahrin, 2018:3)

4|Urita Insan dari Gen Alpha

Jenis cinta yang kedua, cinta persahabatan (philia). Cinta ini merepresentasikan
realitas cinta antar teman yang saling terhubung satu sama lain. Jenis cinta ini terhubung
akan pikiran masing-masing individu dan cinta di antara kedua orang yang mengalami
masa sulit bersama. Pada kenyataan yang dialami oleh generasi milenial, perempuan
cenderung memaknai cinta jenis ini dengan makna suatu hubungan dengan kedekatan
emosional, atau cinta yang mengutamakan keakraban yang menyenangkan. Banyak sekali
kisah pelik yang terjadi dari jenis cinta ini. Adanya perasaan pertemanan yang tumbuh
menjadi cinta yang lebih besar nyatanya membuat generasi milenial merasa kesulitan. Ini
dibuktikan dengan kutipan di bawah ini.

“Sungguh, kau ingin mundur dari persahabatan ini. Tetap bersamanya sama saja
menyakiti dirimu sendiri. Kau benar-benar butuh pergi. Tetapi, kau terlalu takut. Dia
sahabatku. Bagaimana jika aku tidak menemukan sahabat seperti ini lagi?” (Alvi Syahrin,
2018:64)

Jenis cinta yang terakhir, cinta Illahi (agape). Cinta jenis ini lebih mendalami cinta
dengan rasa religius. Cinta ini merujuk pada cinta yang abadi berupa cinta manusia kepada
Allah. Cinta jenis ini tidak pernah mengecewakan pelakunya. Akan tetapi, hal ini tidak
sesuai dengan realitas kehidupan yang ada. Para generasi milenial banyak yang melupakan
cinta jenis ini. Banyak juga yang belum sadar akan adanya kebahagiaan yang lebih lama
apabila jenis cinta ini mendominasi diri kita. Cinta jenis ini lebih mendorong manusia
untuk bertakwa. Hal ini terlihat pada kutipan di bawah ini.

“Apakah cinta manusia jawaban dari segalanya? Apakah kita hidup hanya untuk saling
mengisi rasa kesepian? Atau, bertakwa kepada Tuhan yang telah Menciptakan kita, yang
Memberi rezeki kepada kita, yang Menjadi Tempat kita kembali yang Menjadi Jawaban
segalanya, tujuan hidup yang sesungguhnya?” (Alvi Syahrin, 2018:202)

Dari ketiga jenis cinta tersebut, jelaslah bahwa cinta menjadi bagian penting dalam
kehidupan. Pentingnya rasa cinta itu justru memberikan pengalaman dan problematika
yang berjalan seiringan. Problematika tersebut menjadi kisah-kisah pelik yang seringkali
dijumpai di generasi milenial. Problematika tersebut terbagi dalam tiga bagian. Bagian
yang pertama adalah kebahagiaan yang bersifat total dan parsial. Kebahagiaan parsial ini
adalah kebahagiaan yang berwujud nikmat yang memberikan rasa bahagia secara
sementara. Lalu, kebahagiaan total adalah kebahagiaan yang belum kita jumpai di dunia.
Kebahagiaan total merupakan sebuah cita-cita dunia yang akan datang seperti adanya rasa
cinta kepada Allah yang bersifat tak terbatas. Problematika pada bagian ini ditunjukkan
dalam kutipan berikut ini.

5|Urita Insan dari Gen Alpha

“Kehidupanmu, kebahagiaanmu, dan masa depanmu hanyalah tentangnya. Sampai-sampai
kau kehilangan dirimu sendiri. Mungkin, ini teguran paling indah bagimu.” (Alvi Syahrin,
2018:144)

Tampak pada kutipan tersebut dijelaskan bahwa kebahagiaan parsial yang sering
kita alami membuat diri kita kehilangan diri sendiri. Kutipan ini juga menjadi teguran agar
generasi milenial sadar bahwa kebahagiaan total hanya bisa didapatkan ketika mencintai
sosok yang tak terbatas, yakni Allah.

Bagian kedua, antara persatuan sempurna dan tak terbatas. Persatuan tak terbatas
bercirikan dengan adanya relasi timbal balik, mencintai dan dicintai serta adanya
kemiripan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian, persatuan sempurna adalah adanya
kerinduan dari pengalaman jatuh cinta yang menyertakan luka. Pada bagian ini bisa kita
lihat bahwa problematika yang sering terjadi di dunia nyata adalah adanya ketidakpastian
saling mencinta ataukah hanya salah satu pihak saja yang mencinta. Selain itu, pelakunya
juga merasakan kerinduan padahal hatinya sedang patah. Berikut ini adalah kutipan yang
relevan dengan problematika persatuan sempurna dan tak terbatas.

“Dan aku berada di sini, duduk di bangku komputerku, memahami perasaanmu. Aku tidak
melihatmu, aku tidak mengenalmu, tetapi bolehkah aku mengatakan sesuatu? Kita sama-
sama tak pernah tahu bagaimana ini berakhir. Apakah kau hanya sebatas rumah
persinggahan? Apakah kau hanya kepingan kisah cinta yang hanya akan jadi kepingan
masa lalu?” (Alvi Syahrin, 2018:16)

Bagian terakhir, antara keabadian dan perubahan. Keabadian ini bersifat terus
menerus berlanjut dan tak terputus oleh perjalanan waktu. Adanya perubahan juga
berkaitan dengan kesuksesannya berjalan beriringan menuju arah yang lebih baik. Akan
tetapi, pada kenyataannya bagian inilah yang rawan mengalami problematika dalam cinta.
Apalagi pada generasi milenial yang pada kenyataannya hanya mementingkan cinta dan
kurang mempertimbangkan hal lainnya. Hal ini dibuktikan oleh dua kutipan di bawah ini.

“Karena dia tak suka setiap kali kau melarang ini-itu. Kau terlalu takut dia akan
meninggalkanmu, seperti dia meninggalkan gadis-gadis sebelumnya. Jadi, kau terpaksa
membiarkan dia dan kebiasaan buruknya, yang tadinya kau harap bisa kau ubah
perlahan-lahan.” (Alvi Syahrin, 2018:58)
“Sebab saat kau jatuh cinta, hatimu teramat lemah dan rentan. Pada masa-masa seperti
ini, kau akan mendengar seluruh ucapannya, menuruti apa yang dia perintahkan,
mematikan logikamu, melanggar berbagai prinsip yang telah kau pegang bertahun-tahun.
Kita yang akan berubah karena cinta, bukan sebaliknya.” (Alvi Syahrin, 2018:59)

Masalah yang diceritakan dalam buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’ adalah
masalah yang sering dijumpai pada generasi milenial, di dalam kehidupan nyata sering

6|Urita Insan dari Gen Alpha

kali ditemukan pemikiran-pemikiran putus asa hanya karena kisah cinta yang pelik.
Banyak pembelajaran yang dapat kita ambil dari buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’
untuk dijadikan bahan evaluasi diri dalam menyikapi permasalahan tentang cinta. Maka
dari itu, akan saya lampirkan beberapa kutipan yang membahas dan berkaitan dengan
realita kehidupan.
Data 1

Generasi milenial cenderung berubah menjadi sosok yang lebih baik dari
sebelumnya hanya karena merasa menemukan cinta yang sudah tepat. Hal ini banyak kita
jumpai di sekitar kita. Padahal, usianya masih belum dewasa untuk melangkah pada tahap
kisah cinta yang serius. Masih banyak kewajiban yang harus diselesaikan.

“Sering kali, gadis itu membayangkan kehidupan setelah pernikahan, bersama laki-laki
itu…. Merasa teduh membayangkan menjadi istri yang taat untuk laki-laki yang taat.
Sayangnya, pada orangtuanya, dia bahkan tak pernah belajar menjadi anak yang taat.”
(Alvi Syahrin, 2018:8-9)
Dari kutipan di atas mungkin sudah terlihat bahwa generasi milenial harus pandai
dalam memposisikan diri. Seringkali banyak ditemui bahwa anak lebih termotivasi berbuat
baik agar mendapatkan pasangan yang baik. Padahal, pada kenyataannya saat kita sudah
dewasa hendaknya kita memprioritaskan orang tua. Mirisnya, hal ini sering terjadi dan
banyak ditemui pada generasi milenial.
Data 2
Banyak juga generasi milenial yang risau untuk menyatakan perasaannya atau
tidak. Terlihat banyak generasi milenial yang membuat konten ataupun mengalami
gangguan kesehatan mental akibat pemikirannya sendiri. Pemikiran itu terpancing dari
perasaan yang tidak bisa mereka sampaikan.
“Karena jatuh cinta diam-diam telah melatihmu untuk menjaga ekspektasi sewajarnya.
Jatuh cinta diam-diam telah mengajarkanmu untuk menjaga hati dari hal yang tak pasti.
Jatuh cinta diam-diam telah menunjukkan kepadamu bahwa kau mampu melangkah tanpa
dia. Jatuh cinta diam-diam adalah bukti bahwa kau bertahan meski perih hatimu melihat
dia bersama seseorang lain.” (Alvi Syahrin, 2018:30)
Dari kutipan di atas, penulis mencoba mematahkan kenyataan yang ada di realitas
kehidupan. Banyak sekali yang menganggap bahwa jatuh cinta diam-diam adalah hal yang
bodoh. Seperti yang diungkapkan oleh penulis, jatuh cinta diam-diam justru membuat hati
pelakunya menjadi aman. Dengan cara pandang yang berbeda itu, generasi milenial bisa
sedikit tenang dalam menyelesaikan konflik batinnya yang sedang pelik itu.
Data 3

7|Urita Insan dari Gen Alpha

Dari pengalaman pelik yang dihadapinya dalam menggapai cinta, generasi milenial
merasa rendah diri akan fisiknya. Berpikir dan takut bila tidak mendapatkan pasangan di

usia dewasa nanti. Generasi milenial juga sering membandingkan dirinya dengan orang
lain karena adanya standar pasangan yang digembar-gemborkan pada sosial media saat ini.

“Masalahnya, telah lama kau menutup mata. Sibuk memperhatikan kehidupan gadis-gadis
lain yang lebih cantik di Instagram. Coba, sesekali lihatlah sekelilingmu. Tak perlu jauh-
jauh. Tengok sekitar. Kau akan menemukan orang-orang dengan berbagai ras, warna
kulit, ukuran dan bentuk tubuh. Pada akhirnya, mereka akan menemukan pasangan
mereka.” (Alvi Syahrin, 2018:33)
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa realitas kehidupan tidaklah setinggi

ekspektasi yang diagungkan oleh generasi milenial. Generasi milenial terlalu memikirkan
apa yang belum pasti terjadi. Padahal kenyataannya realita kehidupan tidak selalu
memberatkan manusia yang menjalaninya.

Data 4
Tekanan dan tuntutan mental yang diderita oleh generasi milenial inilah yang

membuat mereka berekspektasi lebih dan hanya fokus pada ambisi hati. Mereka
menganggap bahwa dengan cinta semuanya bisa hidup hingga akhir. Pada kenyataannya,

cinta memang penting. Akan tetapi, akademik dan pola pikir juga harus ditata sejak kini,
saat usia mulai beranjak dewasa.

“Karena kamu masih sangat muda hari ini. Perjalananmu masih sangat panjang. Seluruh
kisah cinta yang terjadi hari ini hanya akan jadi kenangan di kemudian hari. Kembali
buka bukumu, belajarlah lebih giat. Lakukan berbagai hal untuk menemukan hal yang kau
sukai, dan kejar mimpimu. Masa-masa sekolah dan kuliah hanya berlangsung sekali
seumur hidup.” (Alvi Syahrin, 2018:54)
Dalam kutipan ini, penulis juga memberikan nasihat atas kehidupan yang hanya
sebentar ini. Realitanya, generasi milenial cukup abai masalah prestasi. Yang kini

digandrungi hanyalah sebuah aplikasi hiburan saja. Dari hal itulah, muncul banyak
pemikiran yang membuat mereka bertanya-tanya tentang masa depan yang terlihat bahagia

hanya dengan cinta.

Data 5
Banyaknya kisah cinta yang tersebar di mana-mana membuat beberapa orang juga

memiliki harapan. Hubungan yang diciptakan seolah menuntut pada salah satu pihak saja.

Salah satu pihak harus memahami apa yang diinginkan pihak lainnya. Seakan tidak
memiliki rasa empati, pihak yang satu selalu meminta untuk dimengerti. Fenomena pada

generasi inilah yang sering meninggalkan luka pada pelakunya.
“Kamu bisa melihat dengan matamu sendiri: dia masih menggunakan uang orang tuanya
untuk pendidikan, tetapi dia malah menggunakan uang itu untukmu, dan kamu merasa,

8|Urita Insan dari Gen Alpha

he’s such a gentleman. Namun, bayangkan, jika kamu adalah ibu dari seorang anak laki-
laki, yang kamu beri uang untuknya, untuk pendidikannya, tetapi dia malah
menggunakannya untuk seorang perempuan yang baru dikenalnya beberapa bulan
terakhir, akankah kamu baik-baik saja?” (Alvi Syahrin, 2018:71)
Berdasarkan kutipan di atas, terlihat bahwa harapan yang dipikul oleh lawan jenis
yang dianggap pasangan nyatanya memberatkan. Masih banyak tanggung jawab yang
harus diselesaikan daripada urusan percintaan. Dari hal itu, penulis ingin membanting setir
pandangan generasi milenial yang pada mulanya berorientasi pada kebahagian lawan jenis.
Bukankah di usianya yang muda, ada harapan dari orangtuanya yang ingin diwujudkan.
Tidak salah jika memang saling mencinta tapi kenyataannya hubungan itu justru membuat
lalai mereka yang baru mengenal arti cinta yang sesungguhnya.
Data 6
Pada generasi milenial, banyak yang mengalami kisah pelik yang berakhir pada
rasa putus asa. Mereka banyak mendengar kisah cinta dari teman-temannya. Beberapa dari
temannya terperosok dalam pergaulan yang tak sepantasnya. Dari cerita yang dirasa
menyedihkan itu membuatnya takut untuk jatuh cinta. Mereka takut mengalami hal yang
sama dengan temannya.
“Sementara itu, di masa depan, akan ada seseorang yang mencintaimu dengan benar.
Seseorang yang mendatangi rumahmu dan berbincang dengan orang tuamu. Seseorang
yang tahu apa yang akan dan sedang dilakukannya dalam hidup ini. Seseorang yang tak
pernah menyentuhmu dengan pembelaan atas nama cinta.” (Alvi Syahrin, 2018:86)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa realitas sosial yang dialami generasi
milenial kerap kali menghadirkan keresahan. Rasa resah inilah yang menghambat mereka
untuk melakukan perubahan dalam hidupnya. Alvi Syahrin menyemangati mereka dengan
impian masa depan tentang pasangan yang akan menemaninya di sepanjang hidup mereka.
Ia memberikan amanat tersirat bahwa pasangan yang baik akan datang apabila generasi ini
tak terpaku hanya pada cinta, tapi prestasi dan karakter dalam diri.
Data 7
Banyak generasi milenial yang ketika sedang asyiknya terlena dalam rasa cinta
merasa risih terhadap kepedulian dan nasihat dari orang terdekatnya. Pada realitanya,
mereka yang sudah memiliki tambatan hati, cenderung memprioritaskan lawan jenisnya.
Padahal, sebelum mengenalnya mereka selalu bersama-sama dengan teman dan juga orang
tuanya. Mereka mengabaikan nasihat dari orang-orang terdekatnya. Seakan cintanya lebih
indah dibandingkan nasihat yang bisa mengancam hubungannya.
“Mereka merasa mereka adalah korban yang tersakiti, dunia telah memusuhi mereka,
kehidupan yang tidak adil. Tetapi, mereka lupa, ketika mereka jatuh cinta, mereka yang

9|Urita Insan dari Gen Alpha

memulai permusuhan ini, dengan menolak masukan baik teman-teman, kepedulian orang
tua.” (Alvi Syahrin, 2018:96-97)
Berdasarkan kutipan di atas, Alvi Syahrin mencoba menyadarkan kepada generasi
milenial bahwasanya perilaku tersebut tidak benar. Alih-alih menikmati rasa cinta, mereka
bertindak seenaknya. Orang tua dan teman-temannya menasehatinya agar tidak tumbuh
luka di dalam hatinya. Namun, mereka menganggap kepedulian tersebut adalah komentar
negatif yang hendak memutuskan hubungan cintanya. Dari kutipan tersebut, penulis ingin
generasi milenial merubah sudut pandangnya dengan tamparan kenyataan yang ada.
Kenyataan jika mereka sedang patah dan terluka, mereka selalu kembali kepada orang
tuanya dan teman-temannya. Merekalah yang paling peduli kepadanya.

Data 8

Terbuai oleh cinta yang tak terjamin bahagia selamanya, generasi milenial
cenderung abai kepada orang tuanya. Beberapa orang tua melarang anaknya untuk tidak
pacaran karena takut salah pergaulan. Banyak wejangan yang mereka berikan kepada
anaknya agar masa depan anaknya lebih tertata. Mereka takut apabila anaknya lalai akan
impian yang sudah diimpikan anaknya sejak kecil.

“Cinta orang tuamu adalah kasih sayang bertahun-tahun harta yang dihabiskan untukmu,
tenaga yang dikerahkan untuk masa depanmu, mengajarimu hal paling mendasar dalam
hidup: berjalan dan berbicara… Cinta pacarmu adalah cinta yang belum tentu bertahan
lama, hormon-hormon yang baru aktif, hawa nafsu yang menggebu, harta orangtuanya
yang dia gunakan untukmu, tenaga yang dikerahkan karena masih mencintaimu,
mengajarimu hal paling mendasar dalam hubungan ini: melanggar aturan orang tuamu.”
(Alvi Syahrin, 2018:106-107)
Terlihat bahwa banyak dijumpai remaja yang lebih memilih untuk tetap bersama
kekasihnya daripada mendengarkan nasihat dari orangtuanya. Kutipan ini jelas
memperlihatkan realitas yang sering terjadi saat ini. Penulis menyampaikan pesan logisnya
tentang orang tua yang tidak pernah lelah untuk menjaga anaknya. Seakan penulis ingin
merubah keadaan sosial di kehidupan ini dengan perlahan menanamkan sudut pandang
baru dalam memandang rasa cinta yang sebenarnya.
Data 9
Generasi milenial juga sering terlihat merasa kecewa karena suatu hal. Seakan-
akan kebahagiaannya bergantung pada orang lain. Bisa kita jumpai, banyak anak muda
saat ini yang mengalami beberapa gangguan mental seperti stres. Hal ini memperlihatkan
realita bahwa banyak dari generasi milenial yang kurang peduli terhadap dirinya sendiri.
“Saat dia meletakkan hatinya di beranda rumah, aku ingin bertanya kepadanya: Mengapa
kamu tidak membawa hatimu sendiri dan meletakkannya ke dalam dirimu? Mengapa kamu

10 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

tidak menyimpan hatimu ke tempat semula dan membawanya pergi mengejar mimpi-
mimpi yang lebih tinggi dari langit? Mengapa kamu tak menjaga hatimu dan
menyandarkannya pada sesuatu yang lebih pasti? Namun, aku urung menanyakannya…
seakan dia mendengar pertanyaanku: karena nggak ada yang peduli sama aku… aku
menjawab: tetapi kamu juga nggak peduli sama dirimu.” (Alvi Syahrin, 2018:147)
Dari kutipan di atas, terlihat bahwa generasi milenial saat ini cenderung

mengabaikan dirinya sendiri. Mereka menganggap bahwa cinta itu segalanya, sampai

akhirnya mereka tersadarkan oleh luka yang menyakitinya. Penulis melihat ini di

kehidupannya sehari-hari sehingga ia menitipkan pesan agar generasi saat ini lebih peduli

pada dirinya sendiri.

Data 10

Beberapa di antara generasi milenial merasa bahwa seharusnya mereka tak

menjalin hubungan cinta di usianya saat ini. Ketika mereka merasa lelah dengan persoalan

cinta, mereka merasa bahwa seharusnya rasa cinta itu tak berhak mengendalikan diri

mereka. Rasa itulah yang membuat mereka terbuka untuk menerima luka-luka yang pernah

dialaminya.
“Betapa kau berharap menemukan tombol yang dapat mengulang semuanya. Supaya kau
tak lagi merasa seperti ini kepadanya. Supaya kau bisa berhenti mencintainya. Bukan
karena kau membencinya, melainkan karena kau lelah dengan rasa patah hati dan beban
kesalahan di masa lalu. Lagi pula, dia sudah punya seseorang baru. Dan, kau tersiksa
dengan perasaan ini.” (Alvi Syahrin, 2018:168)
Dilihat dari kutipan di atas, beberapa dari mereka yang mengalami patah hati mulai

tersadarkan diri. Bisa dilihat pada kehidupan sehari-hari, beberapa dari mereka cenderung

menyesal dengan apa yang dilakukannnya di masa lalu. Penulis menggambarkannya

melalui kutipan ini agar generasi milenial tidak melakukan suatu hal dengan tergesa-gesa

agar di bagian akhir tidak merasakan kecewa.

Data 11

Banyaknya problematika yang dihadapi oleh generasi milenial dalam mengatasi

berbagai hal mengenai cinta menumbuhkan rasa sedih di antara mereka. Beberapa

diantaranya merasa menyerah dan putus asa. Tapi segala kejadian yang ada di dunia selalu

membawa pesan untuk semua manusia.
“Sejak hari itu, aku sadar: sumber patah hati ini adalah hatiku terlalu berharap pada
sesuatu yang tak kekal. Tergila-gila yang tersembunyi. Lalu, aku mencoba menerima
kenyataan bahwa aku memang terlalu tergila-gila. Aku berusaha menurunkan ekspektasi.
Aku berjuang melalui berdoa karena pada saat itu, hanya itu yang baru bisa kulakukan.
Usaha-usaha konkret; selalu kucari caranya.” (Alvi Syahrin, 2018:210)

“Kesendirian membuatku merenung lebih dalam, lebih jauh. Kesendirian membantuku
mengenal diriku. Kesendirian menyadarkanku bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki

11 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

kelebihan dan kekurangan, termasuk kesendirian dan kebersamaan. Kesendirian
menolongku dalam menemukan diriku sendiri. Kesendirian membangunkanku agar tak tak
lagi bergantung kepada manusia karena manusia tak pernah bertahan lama. Kesendirian
membuka mataku bahwa, pada dasarnya kita akan selalu sendiri; lahir sendiri, berjuang
menyelesaikan masalah sendiri, mati sendiri, dibangkitkan sendiri dengan amalan
masing-masing.” (Alvi Syahrin, 2018:219)

“Jika kita tak pernah jatuh cinta, kita tidak akan pernah sadar; bahwa sebetulnya, ada
sesuatu yang lebih penting daripada cinta di dunia ini.” (Alvi Syahrin, 2018:223)
Dari ketiga kutipan di atas, dapat dianalisis bahwa siklus kehidupan orang-orang
jatuh cinta memang membawa banyak hikmah. Realitas kehidupan saat ini, yang memuja
pada bab cinta. Jika diperhatikan penulis memberikan amanat agar realita di masyarakat,
khususnya bagi generasi milenial berubah ke arah yang lebih baik. Cinta memang menjadi
salah satu bagian penting meskipun kadang hadir dengan luka. Akan tetapi, di dunia ini
juga ada yang lebih penting dari cinta.

III.Penutup
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa nilai

tiruan dan kebenaran dalam buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’ memanglah cerminan
dari kehidupan yang kita jalani setiap harinya. Buku 'Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’,
benar-benar menceritakan kehidupan nyata generasi milenial saat ini. Buku ini sangat
bagus dan menginspirasi bagi banyak kalangan. Dengan adanya buku ini, semoga kritikan
sosial yang ada di dalamnya bisa menyadarkan para generasi milenial agar lebih berhati-
hati dalam urusan cinta. Jangan sampai terjebak dalam masalah cinta dan mengabaikan
hal-hal lain yang lebih berharga. Buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’, juga memuat
amanat khusus untuk para generasi milenial saat ini. Amanat yang pertama, sebagai
seorang anak harus memperhatikan kewajiban-kewajibannya terhadap orang tua. Kedua,
kebahagiaan yang ingin mereka dapatkan bukanlah dicari pada diri orang lain, tapi
kebahagiaan itu mereka buat sendiri dalam hati. Ketiga, meskipun cinta adalah salah satu
hal penting dalam hidup. Namun, perlu diingat bahwa luka yang tercipta dari cinta adalah
bukti bahwa cinta bukanlah hal yang paling terpenting di dalam hidup.

Berdasarkan simpulan penelitian mengenai kisah pelik yang dialami generasi
milenial dalam buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’ karya Alvi Syahrin, ada beberapa
saran yang dapat saya sampaikan sebagai berikut. Pertama, bagi penulis diharapkan dapat
memberikan inspirasi dan motivasinya yang lebih baik lagi di dalam karya-karya yang
akan diterbitkan nantinya. Kedua, bagi pembaca, khususnya generasi milenial yang sering

12 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

mengalami kisah pelik dalam percintaan, diharapkan dapat mengambil nilai positif dari
buku ‘Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta’. Hal ini diharapkan menjadi sarana bagi para
pembaca untuk melakukan perubahan yang lebih baik dalam menghadapi permasalahan
cinta. Banyak sekali pandangan segar yang bisa direalisasikan dari pesan-pesan yang ada
dalam buku ini. Ketiga, bagi peneliti lain, diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam
melakukan suatu pengkajian karya sastra, serta mampu mengembangkannya menjadi
karya-karya yang lebih menginspirasi.

13 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

KRITIK PUISI
Emosi Lintas Generasi dalam Puisi ‘Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang’ karya Sapardi

Djoko Damono dan Rintik Sedu
Natasha Izzatul Ismi
200211605209
Offering B

[email protected]
I. Pembuka

Siapa yang tak kenal dengan Sapardi Djoko Damono. Namanya begitu terkenal
sebagai penyair yang berpengaruh bagi kesusastraan di Indonesia. Di samping itu, Sapardi
juga terkenal sebagai dosen, pengamat sastra, kritikus sastra, dan pakar sastra.
Kemampuannya mengolah kata-kata yang bersifat umum menjadi karya yang sarat akan
makna menjadi ciri khas dari Sapardi Djoko Damono. Sama halnya dengan Rintik Sedu,
karya-karyanya dikenal luas oleh masyarakat karena pokok pembahasannya. Rintik Sedu
selalu berfokus pada kisah cinta anak muda. Tentunya, kolaborasi keduanya akan membuat
penasaran calon pembacanya. Dua karakter penulis yang memiliki tempatnya masing-
masing di hati masyarakat justru mencoba menggabungkan idenya untuk menemukan
sesuatu yang baru dalam sastra.

Dalam bidang sastra, puisi dijadikan sebagai sarana penyair untuk
mengekspresikan idenya dengan kemasan kata-kata yang indah. Puisi menjadi alat penyair
untuk menyampaikan ide atau gagasan-gagasannya ke dalam bentuk tulisan agar nantinya
dapat dibaca serta dideklamasikan secara lisan. Berkenaan dengan perkembangan puisi,
Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu benar-benar lihai dalam mengembangkan
emosinya masing-masing. Ekspresinya dapat dilihat hanya dengan membaca puisinya.
Karakter puisi beliau yang penuh dengan kesederhanaan dan karakter Rintik Sedu yang
berkarakterkan kekinian. Keduanya menggunakan metafora-metafora bahasa yang
cenderung dinilai hipersonifikasi dalam penggambaran tokoh dalam puisinya.

Tak salah apabila puisi ‘Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang’ adalah salah satu puisi
ekspresif yang dinanti-nanti kehadirannya. Karya ini merupakan kolaborasi anatara emosi
yang dibangun oleh Rintik Sedu kemudian di respon oleh Sapardi Djoko Damono. Emosi
tersebut tercipta dengan diawali oleh Sapardi Djoko Damono yang mendengarkan Semesta
milik Rintik Sedu. Berangkat dari hal tersebut, beliau menuangkannya ke dalam bentuk
puisi. Puisi inilah yang menggambarkan emosi yang kerap kali dirasakan oleh generasi

14 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

saat ini, inilah karakter yang menjadi ciri khas dari karya-karya Rintik Sedu. Namun, puisi
itu dikemas oleh Sapardi Djoko Damono dengan ciri khasnya yang mengekspresikan diri
secara kitch. Sebuah persepsi seni yang diungkapkan dengan cara yang ironis.

II. Inti
Puisi yang mengekspresikan cinta memanglah menarik bagi kalangan generasi saat

ini. Akan tetapi apa jadinya bila kolaborasi dalam pembuatannya justru menimbulkan
keraguan bagi calon pembaca. Keraguan itu timbul karena perbedaan generasi yang ada di
antara penulis. Karya-karya Sapardi Djoko Damono yang banyak memiliki persamaan
dengan gaya sastra barat, bergayakan simbolisme. Untuk memahaminya, pembaca harus
ingat dengan konvensi-konvensi persajakan. Beralih pada Rintik Sedu, karya-karyanya
cenderung menyuguhkan kutipan-kutipan kehidupan yang mewakili emosi generasi
milenial. Karya-karyanya cenderung menampakkan keterbukaan pikiran dalam
menyampaikan beberapa hal.

Tak hanya populer di kalangan generasi milenial, para pengikut karya milik
Sapardi Djoko Damono pun tampaknya penasaran dengan puisi yang diciptakan dari dua
generasi yang berbeda. Nampaknya beliau dan Rintik Sedu memanglah memiliki
kedudukan penting di dunia sastra. Banyaknya orang yang mengagumi kedua penyair
tersebut membuktikan bahwa keduanya sangat lihai dalam menuangkan emosinya ke
dalam karyanya yang berupa puisi. Sapardi Djoko Damono selalu memukau pembacanya
dengan kata-kata umum yang dirangkainya justru menciptakan makna lain yang harus
benar-benar dipahami. Rintik Sedu yang mengandalkan kata puitisnya justru lebih mudah
dipahami oleh pembacanya karena menggunakan kata-kata yang tidak membuat
pembacanya “mikir ngoyo” dalam memahami pesan dalam puisinya.

Meskipun penyair adalah manusia yang mampu menyampaikan perasaannya
dengan baik, tetap saja kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata. Sebesar apapun
namanya dikenal, setinggi apapun jabatan atau kedudukannya, dan sepenting apapun
pengaruhnya dalam dunia sastra, pastilah seorang Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu
punya beberapa kekurangan. Namun kali ini, kritik sastra ini dibuat bukan untuk
memaparkan beberapa kekurangan diri yang dimiliki oleh Sapardi Djoko Damono dan
Rintik Sedu tetapi untuk memberi koreksi mengenai beberapa kekurangan dalam karya
puisi kedua penyair tersebut tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun.

15 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

Salah satu puisi mahakarya yang berhasil diciptakan oleh Sapardi Djoko Damono
dan Rintik Sedu adalah puisi berjudul ‘Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang’. Dimana puisi
ini merupakan ungkapan emosi tentang arti pulang yang sesungguhnya. Secara melankolis
dan puitis, Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu memberi bumbu-bumbu metafora
dalam karya puisinya ini. Puisi ini merupakan puisi yang beralas pijak dialog antara suara
lelaki dan perempuan tentang perbincangan makna pulang. Berikut isi dua puisi yang
berjudul ‘Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang’ yang terdapat pada buku ‘Masih Ingatkah
Kau Jalan Pulang’ karya Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu.

Masih ingatkah kau
jalan pulang?

Tak ada jalan
dan tak ada pulang
kita di atap langit
nun di bawah rata belaka
suatu saat biru
di saat lain merah kesumba.

Jadi kau tidak ingat lagi
tak percaya lagi
akan jalan pulang?

Apakah pergi
juga harus pulang?
apakah pergi
harus juga berpikir
untuk pulang?
Apakah pulang hanya ada
kalau kita pergi?
Apakah pulang
dan pergi harus berpasangan?

Masih ingatkah kau
sepasang pergi dan pulang?
Luasan bumi yang menatap langit
bermimpi untuk pulang kembali?

(Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu, 2020:52-53)

Masih ingatkah kau
jalan pulang?

Tidak ada pulang
tidak ada pergi

16 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

kita tidak di mana pun
tak ada di kapan pun
terbentang antara awal
dan akhir
antara kini
dan nanti
antara jarak
yang tidak pernah kita percaya
antara kau dan aku
antara yang merayap
di bawah kulitmu
dan merasuk
dalam jantungku.
Antara yang kaurasa ada
dan kurasa tak perlu ada.

(Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu, 2020:55)

Dua buah karya ini adalah karya yang tercipta oleh dua pemikiran di setiap
karyanya. Berlatarkan pemikiran dari dua penyair dengan generasi yang berbeda, dua cara
pengungkapan emosi yang berbeda pula. Dari karya yang dihasilkan dalam puisi ‘Masih
Ingatkah Kau Jalan Pulang’ justru memperlihatkan bahwa Sapardi Djoko Damono
terperosok dalam karakter penyampaian emosi yang condong mengarah kepada ciri khas
Rintik Sedu. Kecondongan itu terlihat dari gaya penulisan yang digunakan dalam dua puisi
‘Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang’. Selain itu, ada hal yang perlu diperhatikan juga dalam
sebuah puisi. Ciri penulisan dan pemilihan diksi dalam puisi ‘Masih Ingatkah Kau Jalan
Pulang’ perlu adanya penjelasan sehingga pembaca lebih mudah memaknai puisi

berdasarkan majas yang digunakan dalam puisi tersebut.

Masih ingatkah kau
jalan pulang?

Tak ada jalan
dan tak ada pulang
kita di atap langit
nun di bawah rata belaka
suatu saat biru
di saat lain merah kesumba.

(Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu, 2020:52)
Dari kutipan di atas terlihat bahwa gaya penulisan puisi tersebut mengarah pada

jenis puisi insta poem. Jenis puisi ini cenderung hanya mengandalkan kata-kata puitis yang

sekiranya sangat cocok apabila dikutip. Selain itu, jenis puisi insta poem lebih mengejar

keindahan dan jarang sekali mempertimbangkan kelogisan yang ada di dalam puisi
tersebut. Penggunaan kata-kata klise yang terkesan hadir hanya bertujuan untuk “baper-

17 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

baperan”. Hal inilah yang menjadikan puisi terkesan terburu-buru dalam meluapkan
pemikirannya tanpa memperhatikan pembangunan imaji terlebih dahulu. Insta poem
sendiri mulai banyak digandrungi karena banyaknya generasi milenial yang
mengekspresikan perasaan mereka lewat sosial media yang bernama Instagram. Banyak
kita lihat bahwa pengekspresian diri dalam puisi semakin berkembang. Batasan untuk
membagikan karya di sosial media memanglah tidak pernah ada. Maka dari itu, Rintik
Sedu menggiatkan diri untuk memposting karyanya di Instagram. Saat ini, seseorang tak
perlu mengetahui latar belakang hidup penyair untuk bisa menyukai karyanya. Justru pada
saat ini kita bisa mengetahui latar belakang penyair dengan cara membaca karya-karya
yang dihasilkannya.

Jika diperhatikan, karya-karya Sapardi Djoko Damono memiliki kekuatan imaji
yang menjadi daya tarik tersendiri. Metafora-metafora yang lahir dari seorang Sapardi
biasanya begitu memukau pembacanya. Beliau menulis seolah-olah sedang
menggambarkan sesuatu, pembaca yang merasakan luapan emosinya cenderung melihat
metafora-metafora itu sebagai persepsi yang membebaskan para pembacanya untuk
memberikan tafsiran pribadi terhadap karya yang diciptakan. Di sisi lain, Sapardi Djoko
Damono juga tidak melupakan energi lirisisme yang menjadi salah satu ciri khasnya dalam
berpuisi. Beliau selalu mengekspresikan energi lirisismenya dengan cara memberikan satu
hingga dua pernyataan puitik yang kuat dalam puisi-puisinya. Hal ini ditunjukkan oleh
data di bawah ini. Keseimbangan unsur metafora dan energi lirisisme yang digunakan oleh
Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu dalam karya ini memang membutuhkan
kesabaran untuk mengamati dan menggali kedalaman maknanya.

Setelah memahami karakteristik puisi dari penjelasan di atas, tentunya akan banyak
banyak diksi-diksi yang digunakan dalam puisi ‘Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang’ boleh
jadi masih banyak pembaca yang tidak bisa memaknai puisi tersebut. Apalagi jika puisi
ini dibaca oleh orang awam, maka pastilah akan diterima mentah-mentah seluruh kalimat
yang ada di dalam puisi ini. Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam puisi ‘Masih
Ingatkah Kau Jalan Pulang’ perlu adanya pemahaman dalam tiap-tiap kalimat sehingga
pesan yang ingin disampaikan oleh beliau dapat dipahami dengan baik oleh pembaca.

Masih ingatkah kau
jalan pulang?

Tak ada jalan
dan tak ada pulang
kita di atap langit

18 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

nun di bawah rata belaka
suatu saat biru
di saat lain merah kesumba.

(Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu, 2020:52)
Pada bait pertama, Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu menggambarkan tokoh

‘kita’ sebagai sepasang lelaki dan wanita yang sedang bersama. Kemudian, puisinya

menyajikan imaji visual. Imaji tersebut terlihat dari kata ‘biru’ dan ‘merah kesumba’ pada

penginterpretasiannya mengenai sebuah langit yang kadang kala berwarna biru karena

kondisinya sedang cerah sedangkan merah kesumba yang berarti pergantian waktu menuju

petang. Biru yang dikondisikan sebagai keadaan yang sedang cerah, menggambarkan

bahwa kadang kala sepasang lelaki dan wanita tersebut merasa bahagia di bawah teduhnya

langit cerah. Namun, kadang kala langitnya berwarna merah kesumba yang mengartikan

pergantian waktu menuju petang. Pergantian disini menggambarkan adanya pergantian

suasana yang ada di antara lelaki dan wanita itu, warna itu menunjukkan bahwa

kebersamaan sudah mendekati kata usai. Usai di sinilah yang mengharuskan mereka untuk
pulang, namun penyair menolak pulang dengan diksinya yang berbunyi “Tak ada jalan,
dan tak ada pulang” karena keduanya tidak ingin berpisah meskipun langit (kondisi) telah

menyuruh mereka untuk mulai berpisah.

Jadi kau tidak ingat lagi
tak percaya lagi
akan jalan pulang?

(Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu, 2020:52)

Pada bait kedua, penyair tampak menyimpulkan bahwa adanya dua warna yang

kerap kali berubah, seperti warna biru dan merah membuat tokoh “kau” menjadi bingung

bagaimana cara untuk berpisah. Kebingungan ini didasari oleh kondisi yang berubah-ubah.
Padahal, tokoh “kita” bisa saja mulai berpisah, tetapi keduanya tak ingin ‘pulang’ untuk

kembali pada kondisi yang belum tentu membuatnya nyaman. Dari sini, saya sebagai

kritikus mulai merasa bahwa karya ini benarlah berkarakterkan penulisan Sapardi Djoko

Damono karena ekspresi yang saya interpretasikan tentulah tidak sama dengan orang lain.

Inilah karakter khas dari beliau, karyanya memiliki interpretasi yang berbeda sesuai apa

yang ditangkap oleh tiap-tiap pembaca.

Apakah pergi
juga harus pulang?
apakah pergi
harus juga berpikir
untuk pulang?
Apakah pulang hanya ada
kalau kita pergi?

19 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

Apakah pulang
dan pergi harus berpasangan?

(Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu, 2020:52-53)
Pada bait ketiga, tokoh “kita” sebagai ekspresi seorang lelaki dan wanita yang

membingungkan makna pergi dan pulang. Metafora yang ada di dalam puisi ini adalah
‘pergi’ dan ‘pulang’. Pergi yang dimaksud bukanlah tentang meninggalkan suatu tempat,

tetapi mencoba meninggalkan suatu kondisi yang sebenarnya di dalamnya jalinan kasih di

antara kedua tokoh. Sedangkan, pulang yang dimaksud adalah kembali pada kondisi

semula. Kondisi yang sebelumnya, kondisi di mana mereka belum berjumpa satu sama

lain.

Masih ingatkah kau
sepasang pergi dan pulang?
Luasan bumi yang menatap langit
bermimpi untuk pulang kembali?

(Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu, 2020:53)
Pada bait keempat, sebuah penutup bait-bait yang ada sebelumnya. Sebuah
penegasan dari dialog “kita” yang memetaforakan adanya pergi dan pulang sangatlah
berbeda makna. Lalu, keduanya dimetaforakan dengan ‘bumi yang menatap langit’ yang

menggambarkan bahwa keduanya memanglah sulit untuk kembali pulang. Kembali pulang

yang dimaksud adalah kembali kepada kondisi awal, kondisi sebelum mereka bertemu,

kondisi dimana mereka tidak terikat oleh rasa.

Masih ingatkah kau
jalan pulang?

Tidak ada pulang
tidak ada pergi
kita tidak di mana pun
tak ada di kapan pun
terbentang antara awal
dan akhir
antara kini
dan nanti
antara jarak
yang tidak pernah kita percaya
antara kau dan aku
antara yang merayap
di bawah kulitmu
dan merasuk
dalam jantungku.
Antara yang kaurasa ada
dan kurasa tak perlu ada.

(Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu, 2020:55)

20 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

Pada puisi kedua, hanya terdiri atas satu bait. Satu bait ini menegaskan kembali
tentang pulang dan pergi. Pokok metafora yang mendominasi memanglah pada ‘pergi’ dan
‘pulang’. Kedua tokoh yang berdialog pada puisi tersebut telah mengekspresikan dirinya
bahwa tak ingin pergi maupun pulang. Mereka menegaskan bahwa artian pulang dan pergi
tidak berlaku pada emosi-emosi mereka. Mereka tidak pernah pergi karena mereka tidak
pernah berada di mana pun. Artian yang sesungguhnya adalah, mereka tidak pernah benar-
benar terikat oleh suatu hubungan. ‘Tak ada di kapan pun’ memetaforakan kondisi yang
sebenarnya tentang kenyataan bahwa emosi mereka selalu bersinggungan, tak pernah tahu
kapan semuanya benar-benar terjadi pada waktu yang mereka akui. Keduanya memang
dalam keadaan yang sama, rasa yang sama, tetapi tidak bisa bersama. Semuanya terpisah
oleh jarak dan tempat masing-masing. Meski kondisi batin dan perasaannya sama, namun
kondisi realitanya tak mampu bersama. Ekspresi ironi inilah yang dicampuradukkan
dengan seni sehingga nampak lebih tinggi dan indah.

Kesimpulan dari isi puisi ini adalah menceritakan mengenai penggambaran emosi
lintas generasi yang saling menyempurnakan. Menceritakan kisah cinta yang satu sama
lainnya tak bisa bersama, kedua tokohnya mengekspresikan ketidakmampuan itu dengan
kata ‘pergi’ dan ‘pulang’. Penggambaran emosi yang disampaikan oleh Sapardi Djoko
Damono sangat lekat dengan metaforanya, sedangkan penggambaran emosi yang
disampaikan oleh Rintik Sedu lebih kepada gaya penulisannya yang saat ini digemari oleh
pembaca, khususnya generasi milenial. Adanya kolaborasi lintas generasi ini
menimbulkan ide baru dalam dunia kesusastraan, khususnya puisi. Kolaborasi ini
bukanlah dua karya yang disatukan. Akan tetapi, kolaborasi yang sesungguhnya adalah
peleburan antara dua pemikiran yang diciptakan dalam sebuah karya.

Setelah membaca dan memaknai isi yang terkandung dalam puisi Sapardi Djoko
Damono dan Rintik Sedu, mayoritas orang akan setuju, khususnya generasi milenial
dengan pernyataan bahwa luapan emosi dalam puisi ‘Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang’
mewakili seluruh perasaan generasi milenial, yaitu masa instapoetry. Namun, beberapa
lagi menyimpan tanda tanya besar mengenai mengapa isi puisi ‘Masih Ingatkah Kau Jalan
Pulang’ ini seperti terburu-buru dalam menyelesaikan puisi itu. Seperti yang sudah
diketahui bersama, puisi yang terburu-buru diakhiri justru meninggalkan kesan yang
belum tuntas. Emosi yang diluapkan pun terasa masih menggantung. Akan tetapi,
ketidaktuntasan itu tertutupi oleh ciri puisi yang menuntun pembacanya untuk
menginterpretasikan makna dari puisi itu sendiri.

21 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

III. Penutup
Beberapa karya puisi dari penyair ternama pun masih ada celah kekurangan yang

dapat ditemukan didalamnya. Puisi ‘Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang’ lahir dengan
kelebihan dan kekurangannya pula. Tidak masalah, selagi penyair dapat mendengar serta
menerima kritik dan saran dari berbagai cuitan kritikus atau bahkan para pembaca yang
awam. Bukankah itu sudah menjadi konsekuensi apalagi menggabungkan dua ciri khas
yang berbeda generasi?

Sapardi Djoko Damono adalah penyair kebanggaan Indonesia, semua karya
puisinya banyak mendapatkan tempat di hati pembacanya. Namun setiap manusia dapat
melakukan kesalahan barang sedikit saja. Apabila penyair hadir sebagai pencipta karya
puisi maka sudah tugas kritikus hadir sebagai korektor dalam karya puisi penyair. Bukan
tentu ingin mencoreng nama baik atau merendahkan popularitas, namun sudah tentu untuk
membantu penyair agar jauh lebih baik dalam menciptakan puisi-puisi mereka selanjutnya.
Pada akhirnya kritik sastra ini dibuat dengan penuh rasa hormat kepada para penyair
terkhusus Sapardi Djoko Damono yang sudah abadi di dalam karyanya, membawa
khazanah kesusastraan di Indonesia semakin kaya serta Rintik Sedu, yang menorehkan
ekspresinya sebagai perwakilan generasi milenial dalam menyampaikan perasaannya.
Kritik ini dibuat tanpa bermaksud menjelekkan ataupun tidak menghargai karya puisinya.

22 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

ESAI SASTRA

23 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

24 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

ESAI PROSA FIKSI
REPRESENTASI DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN DALAM NOVEL

‘IMPERFECT’ KARYA MEIRA ANASTASIA
Natasha Izzatul Ismi
200211605209
Offering B

[email protected]
PEMBUKA

‘Imperfect’ adalah salah satu karya dari Meira Anastasia yang terbit pada tahun 2019.
Kehadiran dari novel ini mengundang antusias masyarakat Indonesia, terutama perempuan,
sehingga karya ini juga dialih wahanakan menjadi karya film. Ernest Prakasa (2019) dalam
sebuah wawancara mengatakan bahwa sosok Meira Anastasia adalah sosok teman hidup yang
aktif menulis tentang kehidupannya sehari-hari. Berawal dari beberapa hal yang ia alami di
dunia nyata, Meira Anastasia mulai aktif menuliskan kisah-kisahnya pada beberapa karya
bukunya. Salah satu karyanya yang sangat populer di akhir tahun 2020 adalah adanya film
‘Imperfect’. Film yang diangkat dari novel yang berjudul sama mengisahkan tentang
banyaknya diskriminasi yang dialami oleh perempuan. Inilah yang membuat film karyanya
menjadi sukses. Meira Anastasia ingin menyampaikan banyak pesan motivasi di dalam
karyanya ini.

Menurut Elyshabet Sekar (2020) diskriminasi terhadap perempuan merupakan
permasalahan body shaming yang kerap terjadi di kehidupan nyata. Sering dijumpai bahwa
kerapkali orang-orang terdekatlah yang membuat diri seorang perempuan merasa tidak
berharga. Banyak kasus yang terjadi seperti pembullyan terkait penampilan seseorang. Tidak
hanya itu, sering kali dijumpai pada tulisan lowongan pekerjaan yang didalamnya terdapat
kualifikasi bagi calon pekerja seperti "berpenampilan menarik". Pada intinya, novel ini
menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang sering kali mendapatkan diskriminasi
berupa body shaming dari orang-orang terdekatnya, seperti keluarga dan teman kerjanya.
Menurut mereka, jika ingin dihargai dan dilihat, penampilan merupakan hal yang penting dan
nomor satu. Kecerdasaan bukan apa-apa jika tidak didukung oleh penampilan yang menarik.

Dalam era yang serba digital seperti saat ini, masih banyak ditemui adanya diskriminasi
terhadap perempuan. Tak hanya banyak, justru hal ini kian marak dan seolah menjadi tren
tersendiri di kalangan masyarakat. Beberapa dari perempuan tersiksa dengan adanya
diskriminasi seperti ini. Dari hal ini, mereka ada yang semakin termotivasi untuk berprestasi

25 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

namun, di antara beberapanya juga mengalami gangguan kesehatan mental bahkan ada yang
bunuh diri. Dalam novel ‘Imperfect’ mengusung kisah-kisah diskriminasi yang sering kali
dialami oleh perempuan. Banyaknya hal buruk yang dikisahkan dalam novel ini, justru
membawa pandangan baru bagi para perempuan. Peristiwa yang dialami para tokoh yang
menggambarkan realita nyata pada kehidupan sehari-hari, membuat novel ini mudah dipahami
oleh pembaca. Mengangkat isu tentang perempuan menjadi ciri khas dari karya ini,
memberikan sudut pandang baru agar para perempuan tak lagi merasa insecure. Bukti tekstual
dilakukan dengan cara mengutip dari beberapa peristiwa dalam novel.

INTI

Novel ‘Imperfect’ dibuka dengan kisah keluh kesah seorang istri public figure yang
mendapatkan banyak komentar negatif dari netizen di sosial media. Fokus pada perempuan,
dalam novel ini menceritakan tentang adanya ekspektasi standar kecantikan seorang
perempuan. Perempuan dinilai cantik jika memiliki rambut panjang, bertubuh langsing dan
berkulit putih.

“Ternyata, orang ganteng belum tentu istrinya cantik!”
“Sakit banget rasanya baca komentar kayak gitu. Karena itu terjadi saat aku masih sering
bercermin dan ngomong sama diriku sendiri.” Novel Imperfect halaman 11.

Pada narasi awal inilah, novel ini mulai merepresentasikan dan memberikan realitas
yang dialami oleh perempuan. Banyaknya sindiran-sindiran yang ditujukan pada perempuan
seringkali menjadi topik utama dalam perbincangan yang seringkali dimuat dalam media massa
den dianggap sebagai “guyonan.” Adanya sindiran seperti ini membuat perempuan membatasi
diri dan menghindari interaksi di lingkungan sosial karena takut mendapatkan diskriminasi
yang dilakukan oleh beberapa orang tentang fisiknya.

Pada pemaparan kutipan di bawah ini, jelas terlihat bahwa diskriminasi terhadap
perempuan sudah menyentuh pada perubahan fisik yang mereka alami.

“Kamu kok gendutan ya Neng? Pas aku agak Chubby. Tapi pas aku kelihatan kurus, mamaku
akan bilang, “Kok kurus banget sih, makan yang banyak ya”. Novel Imperfect halaman 19.
Narasi di atas merupakan sebuah komentar yang diutarakan oleh mama dari Meira
Anastasia yang sangat bertolak belakang di antara dua komentarnya. Diskriminasi yang dapat
dilihat dari narasi ini adalah adanya bentuk dominasi atas suatu pihak, yakni Meira selaku tokoh
utama. Meira juga mendapatkan tekanan secara tidak langsung dari orang yang sama.
Gambaran inilah yang sering terjadi di kehidupan sekitar para perempuan. Banyak kekuatan-

26 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

kekuatan yang berusaha mendominasi seorang perempuan, dalam hal ini berkaitan dengan
penampilan.

Tekanan yang digambarkan pada narasi kedua muncul dari orang-orang terdekat. Akan
tetapi pada kenyataan yang sering dijumpai, banyak pihak0pihak juga yang yang memberikan
tekanan tersebut kepada seorang perempuan.

“Aku seorang perempuan, mereka ingin aku terlihat menarik dengan bentuk tubuh yang ideal.
Karena suka nggak suka, itu adalah persepsi dunia terhadap seorang perempuan harus
sempurna secara fisik! Ya, kita tinggal di dunia yang patriarki.” Novel Imperfect halaman 22.

Dalam narasi ketiga ini, Meira mempertegas bahwa saat ini masyarakat sedang
mendominasi perempuan akan bentuk fisiknya yang beraneka ragam namun dinilai tak
sempurna. Meira berusaha menampakkan kenyataan bahwa bagaimana fisik dan bentuk tubuh
perempuan telah dikuasai oleh opini dan perspektif global agar perempuan berusaha terlihat
sempurna. Budaya patriarki yang berbeda di setiap lingkup masyarakatnya tetaplah sama,
menuntut perempuan untuk mengikuti standarisasi tubuh yang ditampilkan dalam berbagai
media.

Fisik perempuan masih menjadi pokok pembahasan di masyarakat zaman sekarang.
Tak hanya bentuk tubuh, seluruh komponen yang membentuk perempuan seakan harus terlihat
indah dan sempurna. Perempuan dituntut untuk berusaha keras dalam mempercantik dirinya
karena standarisasi yang ada.

“Ada pemberian Tuhan seperti bentuk mata, hidung, mulut, warna kulit, dan ciri-ciri fisik
lainnya yang kalau mau diubah harus melalui proses operasi kosmetik (cosmetic surgery).
Proses yang dilakukan bukan karena masalah kesehatan, tapi untuk masalah estetika semata”.
Novel Imperfect halaman 45.

Narasi keempat ini menunjukkan bahwa banyaknya tuntutan kepada perempuan
seringkali membuat mereka terdominasi untuk terus melakukan hal lebih dalam mempercantik
diri. Saat ini, banyak sekali ditemui perempuan yang rela mengubah bentuk fisiknya dengan
menjalani operasi kosmetika. Tujuannya bukan untuk kesehatan, tapi hanya sekedar tujuan
estetika saja. Perempuan seringkali merasa insecure sehingga mereka juga mudah termakan
dengan informasi-informasi kecantikan secara instan tanpa mempertimbangkan efeknya. Pada
beberapa kasus, informasi mempercantik diri dalam waktu singkat justru menimbulkan efek
kerusakan pada diri mereka karena sumbernya yang tak berdasar ilmiah.

Penilaian fisik sering membuat para perempuan resah, banyaknya orang yang
menjadikan fisik sebagai penilaian utama tentunya menjadikan fisik sebagai fokus utama

27 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

seorang perempuan. Penilaian ini yang membuat perempuan sangat berhati-hati dalam
menjalin hubungan terlebih lagi jika menyangkut pasangan.

“Kalau seorang perempuan tidak dipinang atau dinikahi, berarti menjadi aib keluarga. Karena
dulu gerak perempuan terbatas, mereka hanya bisa menunggu dinikahkan. Hal itu mungkin
terbawa sampai sekarang. Walaupun zaman sudah sangat berbeda, kita sudah bisa bersekolah
tinggi, tapi tetap saja sebagai perempuan kita dituntut untuk lebih memperhatikan penampilan,
daripada laki-laki”. Novel Imperfect halaman 67-68.

Pada narasi kelima, Meira memaparkan kondisi sosial masyarakat yang beranggapan
bahwa perempuan yang belum dipinang atau dinikahi, merupakan sebuah aib dalam keluarga.
Ini terjadi pada kebudayaan lampau, namun hingga saat ini masyarakat tetap terbawa dengan
pandangan itu. Pandangan ini seakan-akan menegaskan bahwa usia adalah hal yang terpenting
bagi seorang perempuan. Namun, dalam narasi tersebut penulis ingin menyampaikan realita
bahwa menunda untuk menikah tidaklah menjadi masalah bagi seorang perempuan.
Perempuan masa kini juga bisa menjadi sosok yang tak kalah dengan laki-laki dengan
dibuktikannya banyak perempuan yang menempuh pendidikan tinggi.

Perempuan, tak pernah lepas dari anggapan dan penilaian masyarakat. Saat sudah
berumah tangga pun, perempuan tetaplah menjadi objek penilaian masyarakat bahkan lebih
banyak penilaian yang dikategorikan terhadap perempuan yang sudah menikah.

“Intinya yang terlihat oleh orang-orang adalah: ‘Ih, istrinya Ernest Prakasa sudah nggak
cantik, tomboy, rambutnya aneh pula. Kok masih mau sih Ernest!” Novel Imperfect halaman
115.

Narasi keenam ini menunjukkan adanya perspektif perempuan yang sudah menikah di
kalangan masyarakat. Bukannya hal ini menghilang ketika mereka sudah menikah, justru
penilaian mereka terhadap perempuan justru semakin memberatkan dan mendominasi
kehidupan mereka. Penilaian ini juga didukung oleh banyaknya iklan-iklan di media yang
menilai bahwa perempuan cantik adalah perempuan yang memiliki rambut panjang dan
bertubuh ideal. Hal-hal ini selalu tercipta oleh masyarakat yang terus menguat nilai-nilainya
melalui peranan media yang menjadi bagian hidup masyarakat.

Penggunaan kata tomboy yang ditujukan kepada Meira yang berpenampilan rambut
pendek. Narasi ini menunjukkan adanya kekuasaan dalam masyarakat yang mengharuskan
perempuan berpenampilan menarik dan tidak berpenampilan seperti laki-laki. Dominasi atas
perempuan menjadi bentuk diskriminasi yang dialami perempuan terkhusus sebagai nilai
kecantikan yang dikonstruksikan masyarakat.

28 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

Penilaian-penilaian tersebut tampaknya menunjukkan bahwa masyarakat hanya fokus
pada penampilan perempuan. Mereka seakan tak peduli terhadap apa-apa yang pernah mereka
lalui, tentang betapa kerasnya mereka memenuhi ekspektasi masyarakat.

“Apakah mereka pernah tahu seperti apa tampangku kalau berambut panjang? Apakah karena
aku seorang perempuan, jadi hanya akan terlihat cantik kalau berambut panjang, sebab rambut
pendek adalah milik kaum laki-laki? Apakah selamanya perempuan berambut pendek tidak
akan pernah bisa terlihat cantik?”. Novel Imperfect halaman 117.

Dalam narasi yang ketujuh, penulis ingin menegaskan bahwa pada saat ini masyarakat
memiliki pandangan bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang rambutnya
panjang. Kebanyakan masyarakat selalu beranggapan bahwa perempuan akan cantik apabila
memiliki rambut panjang. Berdasarkan gagasan tersebut, masyarakat masih terkungkung
dalam pandangan bahwa ‘kecantikan’ sudah merekonstruksi realitas bagi perempuan.
Rekonstruksi ini sungguh mempengaruhi peran perempuan dalam lembaga ekonomi, hukum,
agama, seks, pendidikan, dan juga budaya membuat mereka terpaksa membuka diri untuk
segala pendapat masyarakat yang masuk.

PENUTUP

Dalam ketujuh narasi di atas telah terlihat bahwa masyarakat dapat mengetahui
dominasi dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Dominasi diskriminasi yang paling dominan
terlihat atas bentuk tubuh perempuan dengan nilai kecantikannya, dan otonomi dalam rumah
tangga. Pertama, dominasi bentuk tubuh perempuan didasari oleh standarisasi bentuk tubuh
ideal yang ada di masyarakat. Tak hanya tubuh, kecantikan wajah juga dijadikan sebagai
kriteria tertentu sebagai acuan dalam menentukan kecantikannya. Kedua, dominasi otonomi
dalam rumah tangga erat hubungannya dengan budaya patriarki yang ada pada lingkup
lembaga paling kecil yakni keluarga. Diketahui bahwa pada budaya patriarki perempuan
dikekang dan didominasi kebebasannya karena adanya anggapan bahwa laki-laki selalu di atas
dan selalu berkuasa. Bentuk-bentuk dominasi itu merupakan pesan tersirat yang ingin
disampaikan oleh penulis kepada masyarakat agar perlahan pandangan tersebut tergantikan ke
arah yang lebih baik.

Kisah-kisah yang ditulis dalam novel ‘Imperfect’ seakan menampar pandangan
masyarakat terhadap para perempuan. Novel ini mengajak masyarakat untuk menghargai setiap
bentuk fisik maupun perilaku para perempuan yang kerap kali terjerat oleh standarisasi
masyarakat itu sendiri. Banyaknya diskriminasi yang dialami oleh para perempuan cenderung
membuat mereka terbatasi dalam menjalankan perannya. Emansipasi wanita yang telah digebu-

29 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

gebukan seakan melebur dengan opini-opini masyarakat yang hanya menuntut para perempuan
untuk berfokus pada kecantikan saja. Novel yang sukses difilmkan ini membawa hawa baru
untuk para perempuan yang kerap kali mengalami diskriminasi. Pertanyaan dan pernyataan
yang telah diujarkan oleh Meira Anastasia memanglah mengajak para perempuan untuk
berpikir logis. Peran perempuan sangatlah banyak, jika hanya dibatasi oleh kecantikan saja
maka impian mereka tidak akan berjalan lancar. Sebab, perempuan tak hanya objek estetika
saja. Perempuan juga memiliki cita-cita dan peran layaknya laki-laki. Mereka juga memiliki
hak untuk bebas berekspresi menggapai tujuannya.

Novel ‘Imperfect’, novel representasi kehidupan para perempuan sehari-hari yang
dikelilingi oleh standarisasi dan diskriminasi dari masyarakat. Novel yang mengisahkan
berbagai kritik yang dilontarkan pada perempuan hanya karena berdasarkan fisik ini telah
disambut oleh para perempuan khususnya perempuan Indonesia. Bak karya yang membawa
hawa baru bagi perempuan, novel ini memberi motivasi bahwa peran perempuan sesungguhnya
tak terbatas oleh fisik saja. Perempuan lebih dari itu, perempuan mampu mendedikasikan
dirinya dalam perannya di kehidupan. Dalam karier, dalam berumah tangga, dalam menjalani
hidup, mereka memiliki hak itu.

‘Imperfect’, gambaran kisah-kisah keseharian para perempuan dipaparkan dengan
indah. Penulis berhasil mengangkat ketidaksempurnaan perempuan yang membuat mereka
indah dengan keberagaman. Jika dilihat dari beberapa karya populer, beberapa di antaranya
cenderung memperlihatkan kecantikan dari perempuan. Padahal, pada realitanya tak semua
perempuan bahagia dengan pujian mengenai fisiknya. Perempuan juga memiliki nilai lebih
pada bakat dan potensi-potensinya. Pengarang harus berbangga hati menelaah karya ini, karena
karya ini adalah salah satu karya milik Meira Anastasia yang menampar realita yang ada
dengan cara yang indah. Meira Anastasia, karya-karyanya selalu mengangkat problematika
hidup dengan pesan-pesan motivasi di dalamnya.

30 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

ESAI PUISI
DUA SISI WAJAH MANUSIA DALAM PUISI ‘AKU MENYAYANGIMU KARENA

KAU MANUSIA’ KARYA KH. MUSTOFA BISRI
Natasha Izzatul Ismi
200211605209
Offering B

[email protected]
PEMBUKA

Puisi ‘Aku Menyayangimu karena Kau Manusia’ adalah salah satu karya milik KH.
Mustofa Bisri atau yang kerap disapa Gus Mus. Puisi ini mulai terdengar luas ketika
dinyanyikan oleh penyanyi legendaris yakni Iwan Fals. Mendengar bait tiap bait puisi indah
karya Gus Mus ini membuat banyak orang menerka-nerka makna yang ingin disampaikan oleh
penyair. Puisi ini menarik perhatian masyarakat Indonesia, terutama ketika perilisannya yang
dialih wahanakan menjadi sebuah lagu. Ahmad Karomi (2018) dalam artikelnya mengatakan
bahwa ia sangat merinding tatkala mendengarkan syair Gus Mus yang ditekankan pada baitnya
yang berbunyi “karena aku manusia”. Gus Mus adalah sosok kiai penyair yang dijuluki Sang
Pena Emas oleh para koleganya. Pasalnya, selain aktif menjadi kiai, beliau juga aktif
menciptakan banyak karya. Karya-karyanya didominasi oleh pesan tentang kemanusiaan,
keadilan, dan perdamaian. Salah satu karyanya yang sangat populer adalah puisi ‘Aku
Menyayangimu karena Kau Manusia’. Puisi yang terinspirasi dari adanya invasi yang
dilakukan oleh pihak Amerika Serikat terhadap pihak Iran. Dari puisi inilah, Gus Mus ingin
menyampaikan banyak pesan mengenai kemanusiaan di dalam karyanya.

Kluckhohn (Brameled, via Mulyana, 2004), mendefinisikan nilai sebagai konsepsi
(tersirat atau tersurat yang sifatnya membedakan ciri-ciri individu atau kelompok) dari apa
yang diinginkan yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir
tindakan. Dari definisi tersebut maka dapat diketahui bahwa nilai kemanusiaan adalah nilai
mengenai harkat dan martabat manusia. Nilai kemanusiaan inilah yang membentuk manusia
sebagai makhluk yang menghendaki setiap masyarakat menjunjung tinggi martabat manusia
lainnya dan tidak merendahkan manusia lain. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang Gus Mus
kemas dalam karya-karyanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Wellek (1995:34) yang
menyatakan bahwa sastra sering dilihat sebagai suatu bentuk filsafat, atau sebagai suatu
pemikiran yang terbentuk dalam bentuk khusus. Sehingga karya-karya Gus Mus juga diartikan
sebagai buah pemikirannya tentang nilai kemanusiaan yang dibungkus secara indah.

31 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

Dalam kondisi pandemi saat ini banyak sekali hal-hal yang mengusik implementasi
nilai-nilai kemanusiaan. Beberapa diantaranya banyak manusia yang mementingkan diri
sendiri sehingga terkesan egois dan tamak. Namun tak semua manusia bersikap sama, beberapa
diantaranya justru semakin aktif bergerak menolong sesama. Perhatian lebih Gus Mus
mengenai nilai-nilai kemanusian dan hal-hal yang bertolak belakang dengan nilai kemanusiaan
itu dituangkan dalam puisi ‘Aku Menyayangimu karena Kau Manusia’. Karya sastra sebagai
wadah penyair dalam berekspresi memanglah terlihat dari karya ini. Gus Mus mengekspresikan
dirinya melalui karyanya karena prihatin akan lunturnya nilai kemanusiaan yang tergeser oleh
keegoisan manusia. Bukti-bukti tekstual mengenai nilai-nilai tersebut dilakukan dengan cara
mengutip dari beberapa bait dari puisi.

INTI

Puisi ‘Aku Menyayangimu karena Kau Manusia’ dibuka dengan adanya dua hal yang
bertolak belakang. Rasa sayang dan pertentangan merupakan hal yang bertolak belakang. Dua
hal yang bertolak belakang ini terjadi karena adanya sikap sewenang-wenang yang jauh dari
nilai kemanusiaan.

Aku menyayangimu karena kau manusia
Tapi kalau kau sewenang-wenang pada manusia
Aku akan menentangmu, karena aku manusia
Pada bait pertama, puisi ini mengekspresikan adanya penolakan rasa sayang karena
sikap yang sewenang-wenang. Sindiran-sindiran mengenai sikap sewenang-wenang dari satu
pihak terhadap pihak lain membuat puisi ini mengekspresikan hal tersebut. Setiap manusia
memiliki rasa sayang kepada manusia yang lainnya. Akan tetapi, jika sekelompok orang
melakukan hal yang semena-mena terhadap kelompok lainnya maka keduanya akan
bertentangan karena ketidakadilan yang dirasa. Pemikiran inilah yang diekspresikan oleh Gus
Mus karena pada saat itu, pihak berkuasa Amerika Serikat melakukan invasi yang sewenang-
wenang terhadap Iran yang mengakibatkan beberapa kerugian dialami oleh Iran.

Pada bait kedua di bawah ini, jelas terlihat bahwa nilai kemanusian mulai tergerus oleh
kepentingan dari beberapa pihak sehingga memunculkan “perang” di antara kedua belah pihak.

Aku menyayangimu karena kau manusia
Tapi kalau kau memerangi manusia
Aku akan mengutukmu, karena aku manusia

32 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

Bait di atas merupakan sebuah kritik yang disampaikan oleh Gus Mus. Semakin kita
melangkah jauh ke depan, nilai kemanusiaan ini semakin tergerus oleh zaman yang beriringan
dengan kepentingan pribadi pihak yang berwenang. Kerap ditemui bahwa ketika beberapa
pihak yang lebih berkuasa tak mampu mendapatkan hal yang mereka inginkan, mereka lebih
memilih berlaku semena-mena dengan cara memerangi pihak yang lebih lemah dari mereka
agar bisa mendapatkan hal yang diinginkan.

Pada bait ketiga terlihat adanya kehancuran nilai kemanusiaan dalam diri beberapa
manusia. Beberapa manusia yang mengalami ketidakadilan karena hilangnya rasa kemanusian
di sebagian orang mencoba untuk melawan hal tersebut.

Aku menyayangimu karena kau manusia
Tapi kalau kau menghancurkan kemanusiaan
Aku akan melawanmu, karena aku manusia
Dari bait ketiga ini, terlihat bahwa rasa sayang juga bisa berubah menjadi sebuah
perlawanan apabila nilai kemanusiaan tidak berjalan seimbang antara manusia yang satu
terhadap manusia yang lainnya. Terlebih lagi jika pihak berkuasa kehilangan rasa
kemanusaaannya maka pihak yang lebih rendah darinya bisa hidup sengsara akibat kehancuran
yang ditimbulkan manusia.

Bait terakhir menunjukkan tentang adanya penguatan tentang adanya perbuatan buruk
yang bisa dilakukan dalam bait-bait sebelumnya bisa terelakkan dengan rasa kemanusiaan.

Aku akan tetap menyayangimu karena kau manusia
karena kau tetap manusia
Bait terakhir mengungkapkan tentang adanya toleransi yang mengatasnamakan nilai
kemanusiaan. Beberapa kegaduhan yang terjadi akibat lunturnya nilai kemanusaiaan tetap bisa
ditoleransi dengan nilai kemanusiaan itu sendiri. Toleransi di sini bukan berarti membiarkan
segala hal yang sudah terjadi hanya dengan melupakannya seiring berjalannya waktu. Akan
tetapi toleransi yang dimaksud tentunya mengenai keadilan apa yang sepantasnya diberikan
tetaplah diberikan. Meski kadang berlumur kesalahan, tetap sebagai manusia haruslah
menyayangi manusia lainnya karena adanya kesamaan sebagai makhluk yang sama.

Jika diperhatikan lebih dalam, keempat bait tersebut saling berkaitan antara satu sama
lain. Pada tiga bait teratas, penggunaan kalimat “aku menyayangimu karena kau manusia”
seakan membuka bait tersebut dan menjadi sebuah penekanan tentang korelasi kasih sayang
dan manusia. Adanya kasih sayang antar sesama manusia ini merupakan bukti adanya cinta

33 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

yang disebut philia. Rasa kasih sayang ini timbul karena perasaan senasib, sama-sama makhluk
yang disebut manusia. Nilai kemanusiaan inilah yang membedakan manusia dengan makhluk
lainnya.

Larik kedua dan ketiga yang tertulis pada tiga bait teratas menunjukkan adanya sebab
akibat yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pada bait pertama, hubungan sebab
akibat ditunjukkan dengan kalimat “kalau kau sewenang-wenang” maka “aku akan
menentangmu”. Sewenang-wenang inilah yang menjadikan nilai kemanusiaan tidak lagi
diperhatikan. Perilaku seenaknya sendiri yang dilakukan oleh beberapa pihak menunjukkan
adanya perilaku yang tidak mengindahkan hak orang lain. Ketidakadilan inilah yang
mendorong beberapa pihak yang dirugikan untuk menentang kewenangan yang merugikan
tersebut. Gus Mus seakan mengkritik sisi manusia yang ingin memepertahankan nilai
kemanusiaan dengan menentang perilaku yang sewenang-wenang agar hak manusia tetap
terjaga dan tidak dicuri oleh manusia lainnya.

Pada bait kedua, hubungan sebab akibat ini ditunjukkan dengan kalimat “kalau kau
memerangi manusia” maka “aku akan mengutukmu”. Memerangi manusia yang diartikan di
sini bukanlah memerangi seluruh manusia. Akan tetapi, arti dari memerangi ini adalah sebuah
aksi menjatuhkan atau membuat kerugian kepada beberapa pihak yang dirasa “mengganggu”
mereka dalam mencapai tujuannya. Padahal tujuan yang diinginkan pihak tersebut bisa
mempengaruhi hak manusia yang lainnya. Dengan adanya sisi egoisme tersebut, Gus Mus
menggunakan diksi “mengutukmu” karena sebagai manusia harusnya manusia yang lain
memiliki empati terhadap manusia yang lainnya.

Dalam bait ketiga, hubungan sebab akibat ditunjukkan dengan kalimat “kalau kau
menghancurkan kemanusiaan” maka “aku akan melawanmu”. Bentuk menghancurkan
kemanusiaan ini adalah dengan adanya tindakan yang merugikan beberapa pihak. Banyak
dijumpai adanya penggusuran yang dilakukan terhadap masyarakat ekonomi rendah tanpa
persetujuan dari mereka. Hal inilah yang disebut menghancurkan rasa kemanusiaan dan
masyarakat yang lainnya pun perlu melakukan perlawanan agar mendapatkan keadilan sebagai
manusia.

Pada setiap bait selalu ada kalimat “karena kau manusia” dan “karena aku manusia”
yang menunjukkan hubungan timbal balik. Diksi tersebut menggambarkan bahwa sebagai
manusia, kita harus saling menyayangi satu sama lain. Selanjutnya, sebagai sesama manusia
harus memperjuangkan hak manusia yang mulai diciderai. Keduanya berjalan secara seimbang.

34 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

Pada bait terakhir yang berbunyi “Aku akan tetap menyayangimu karena kau manusia
karena kau tetap manusia” menunjukkan adanya cinta terhadap Illahi (Agape). Sebagai
makhluk yang sama-sama diciptakan oleh Illahi, manusia memiliki kewajiban untuk tetap
menjaga perdamaian di muka bumi. Perdamaian itu dijaga dengan cara tetap menjalin
hubungan antar manusia sekalipun mereka bertindak tidak adil. Persoalan ketidak adilan ini
tetaplah menjadi tanggung jawab pihak berwenang. Namun adanya hukuman terhadap pelaku
ketidakadilan tersebut tidaklah menghapus hakikat dari sang pelaku. Pelaku tetaplah manusia
yang hak-haknya juga melekat pada dirinya. Jadi, hak dan kasih sayang itulah yang
menunjukkan adanya nilai kemanusiaan yang melekat pada dua sisi manusia yang kadang kala
egois dan kadang kala memiliki empati besar terhadap antar sesama.

Puisi karya Gus Mus memang tampak ekspresif dalam hal kemanusiaan. Salah satu
puisinya yang setema dengan puisi ‘Aku Menyayangimu karena Kau Manusia’ adalah puisi
berjudul ‘Sajak Atas Nama’.

Sajak Atas Nama
Ada yang atasnama Tuhan melecehkan Tuhan
Ada yang atasnama negara merampok negara
Ada yang atasnama rakyat menindas rakyat
Ada yang atasnama kemanusiaan memangsa manusia
Ada yang atasnama keadilan meruntuhkan keadilan
Ada yang atasnama persatuan merusak persatuan

Ada yang atasnama perdamaian mengusik kedamaian
Ada yang atasnama kemerdekaan memasung kemerdekaan
Maka atasnama apa saja atau siapa saja
Kirimlah laknat kalian
Atau atasnamaKu perangilah mereka!
Dengan kasih sayang!

Dari puisi di atas, terlihat bahwa karya Gus Mus selalu menyajikan kritikan atas sisi-
sisi manusia yang saling bertolak belakang. Nilai kemanusiaan yang melekat dalam diri
manusia menjadi ciri khasnya dalam bersyair. Kedua puisi di atas sangatlah menggugah emosi
pembaca agar tersadar akan kemerosotan kemanusiaan yang saat ini marak terjadi. Puisi
sebagai karya sastra yang mudah dijumpai oleh lapisan masyarakat menjadi ajang
pengekspresian diri, termasuk Gus Mus. Beliau mengkritik beberapa permasalahan dan
memberikan solusinya dengan pesan puisi yang menyiratkan bahwa penyelesaian masalah bisa

35 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

dilakukan dengan kasih sayang. Kasih sayang adalah nilai kemanusiaan yang ingin tetap
ditanamkan agar hidup menjadi tertata dan seimbang.
PENUTUP

Dalam kedua puisi di atas telah terlihat bahwa masyarakat dapat hidup berdampingan
dengan adanya nilai kemanusiaaan. Nilai kemanusiaan inilah yang menjadi ciri pembeda antara
manusia dengan makhluk lainnya. Meski setiap manusia memiliki nilai kemanusiaan dalam
dirinya, tetap saja manusia juga memiliki sisi lain. Contoh dari sisi lain tersebut adalah adanya
sifat egoisme dan individual. Kedua sifat ini sangat berpengaruh dalam hidup manusia.
Beberapa kali dijumpai bahwa egoisme menuntut manusia untuk mengabaikan nilai
kemanusiaan sehingga menyebabkan hilangnya kepedulian terhadap sesama manusia. Seakan
nilai kemanusiaan adalah penopang hidup manusia, masalah-masalah yang terjadi akibat
egoisme juga bisa ditaklukkan dengan kasih sayang.

Diksi-diksi yang digunakan dalam puisi ‘Aku Menyayangimu karena Kau Manusia’
benar-benar memberikan pengingat pada manusia tentang sisi-sisi manusia. Wajah-wajah
manusia yang beragam menuntut manusia untuk bersikap toleran. Manusia memang penuh
dengan sisi lembut kemanusiaannya. Namun, sisi lembut itu bisa berubah menjadi penuh
amarah ketika hak-haknya mulai dirampas oleh manusia lainnya. Puisi ini kembali mengajak
masyarakat untuk menghargai setiap hak yang dimiliki oleh manusia yang lainnya dengan
mempererat kasih sayang.

Puisi ‘Aku Menyayangimu karena Kau Manusia’ dan ‘Sajak Atas Nama’, merupakan
wadah ekspresi Gus Mus dalam mengkritik nilai-nilai yang ada pada manusia saat ini. Puisi
yang melakukan banyak penekanan diksinya tentang manusia membuatnya ringan untuk
dibaca. Meskipun puisinya terbilang ringan, makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh
penyair sangatlah penuh estetika. Puisi tentang kritik sosial ini menyimpulkan bahwa sebagai
makhluk yang sempurna, jangan sampai seorang manusia kehilangan nilai kemanusiaan dalam
dirinya.

36 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

CURRICULUM VITAE

37 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

38 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

LAMPIRAN

39 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

40 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

Kerangka Kritik Prosa Fiksi
Kisah Pelik Cinta Generasi Milenial dalam Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta

karya Alvi Syahrin
Natasha Izzatul Ismi

200211605209
Offering B

[email protected]
I. Pembuka

 Karya sastra menceritakan berbagai masalah percintaan yang ada di kehidupan
sehari-hari namun menggunakan sudut pandang yang sangat bertolak belakang
dengan milenial.

 Pandangan yang berbeda itulah yang jarang ditemui di kehidupan sehari-hari
padahal dengan pandangan tersebut penyelesaian masalah bisa diselesaikan dengan
lebih baik.

 Penyampaian yang digunakan adalah kisah-kisah nyata yang kerap kali ditemui di
kehidupan sehari-hari.

 Penggambaran masalah yang disajikan selalu memberikan “kejutan di akhir” yang
sedikit berbeda dari lingkungan masyarakat.

 A. Teori mimetik
B. Pendekatan mimetik
C. Metode struktural
D. Kriteria mimetik

II. Inti
 Rinci masalah :
A. Kegalauan generasi milenial khususnya remaja yang baru menginjak usia
dewasa dalam menghadapi persoalan cinta dan kehidupan.
B. Jatuh cinta yang menimbulkan berbagai masalah.
C. Cinta menjadi hal yang terpenting di dunia dan dijadikan sebagai tujuan hidup.

 Rujuk:
“Puncaknya, saat kau delapan belas tahun. Kau bertemu cinta pertamamu dan patah
hati pertamamu. Bertahun-tahun menanti cinta, kau mencoba yang terbaik,
mencintai begitu dalam, dicintai begitu tulus, lalu seiring waktu, topengnya

41 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

terbuka, mendung hadir, badai turun, dan, dalam sekejap mata, ia menghancurkan
segalanya.” (Alvi Syahrin, 2018:3)
Dalam kenyataannya, bahkan sebelum usia delapan belas tahun seseorang sudah
bertemu dengan cinta pertamanya. Dilansir dari laman Everyday Health, rata-rata
anak usia lima belas tahun sudah mengalami yang namanya jatuh dan patah karena
cinta.

 Kutip:
A. “Sering kali, gadis itu membayangkan kehidupan setelah pernikahan, bersama
laik-laki itu…. Merasa teduh membayangkan menjadi istri yang taat untuk laki-
laki yang taat. Sayangnya, pada orangtuanya, dia bahkan tak pernah belajar
menjadi anak yang taat.” (Alvi Syahrin, 2018:8-9)
B. “Mereka merasa mereka adalah korban yang tersakiti, dunia telah memusuhi
mereka, kehidupan yang tidak adil. Tetapi, mereka lupa, ketika mereka jatuh
cinta, mereka yang memulai permusuhan ini, dengan menolak masukan baik
teman-teman, kepedulian orangtua.” (Alvi Syahrin, 2018:96-97)
C. “Kehidupan yang melelahkan. Seakan semuanya terasa sia-sia. Mencintai
tetapi tak pernah benar-benar memiliki. Jika cinta bukan jawaban dari
segalanya, lalu apa? Maka, apakah cinta jawaban dari segalanya?” (Alvi
Syahrin, 2018:201-202)

 Interpretasi:
Kriteria mimetik memiliki pandangan bahwa sebuah karya sastra bernilai baik
apabila suatu kenyataan, misalnya kenyataan sosial dan lingkungan
hidup memanglah sesuai dengan isi dari karya tersebut. Dalam “Jika Kita Tak
Pernah Jatuh Cinta” karya Alvi Syahrin terungkap bahwa fenomena sosial
milenial merupakan cerminan kenyataan kondisi sosial milenial yang ada pada
dunia nyata.

 Penilaian:
Kualitas karya yang akan dikritik memiliki kualitas yang bermutu bagi perbaikan
arah pandang milenial terhadap realita persoalan cinta yang memiliki nilai-nilai
sosial yang bisa diteladani.

42 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

III. Penutup
 Rangkuman penegasan ulang
Karya sastra bukan hasil buah imajinasi saja. Akan tetapi, merupakan cerminan dari
kehidupan yang kita jalani setiap harinya. Penggunaan teori mimetik dalam kritik ini
mengungkap berbagai macam pengalaman yang merupakan cerminan kehidupan
nyata generasi milenial saat ini.
 Pernyatan motivasional
Buku “Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta” karya Alvi Syahrin sangatlah menarik untuk
dibaca. Penulis juga membubuhkan nilai-nilai sosial yang bisa dicontoh setiap harinya
sehingga pembaca akan memiliki suatu sudut pandang yang baru dan yang lebih
menyegarkan.

43 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a

Kerangka Kritik Puisi
Lintas Generasi dalam Puisi “Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang” karya Sapardi Djoko

Damono dan Rintik Sedu
Natasha Izzatul Ismi
200211605209
Offering B

[email protected]
I. Pembuka

 Karya sastra merupakan cerminan dari pemikiran dan perasaan yang ingin
disampaikan oleh sastrawan yang menuliskannya.

 Satu puisi yang tercipta dari dua sastrawan tentunya memiliki ciri khas emosi yang
berbeda dan saling memadu padankan.

 Penggunaan imaji dan metafora-metafora dari kedua sastrawan memiliki ciri khas
yang sangat berbeda.

 Ciri khas dari kolaborasi ini ternyata menunjukkan arti dari kolaborasi yang
sesungguhnya.

 A. Teori ekspresif
B. Pendekatan ekspresif
C. Metode kualitatif
D. Kriteria ekspresivitas

II. Inti
 Adanya edukasi tentang arti kolaborasi lintas generasi yang sesungguhnya lewat
puisi yang dihasilkan
 Karya yang diharapkan mampu mengekspresikan dua pandangan justru membuat
pandangan yang lainnya berpengaruh pada pandangan yang lain.
 Karya ini merupakan dialog antara lelaki dan wanita yang dituangkan dalam imaji
yang indah.
 Penggunaan metafora yang membuat pembaca harus pandai dalam memahami
ekspresi yang ditampilkan oleh penyair.

44 | U r i t a I n s a n d a r i G e n A l p h a


Click to View FlipBook Version