Cinta
Segitiga
Tidak
Sama Sisi
buku satu:
pencarian
a novel by
jeffry thurana
Cinta
Segitiga
Tidak
Sama Sisi
buku satu:
pencarian
a novel by
jeffry thurana
http://penutur.thurana.com/ | 2
PROLOG
French Kiss
... Sebentar, sepertinya itu lebih ke bawah sedikit
dari pinggang belakang.
http://penutur.thurana.com/ | 3
Astaga! Mereka sedang berciuman! French kiss, jika dilihat sekilas dari
'pergumulannya'. Saling memeluk dengan begitu mesranya, tangan yang
wanita disekeliling leher sang pria, sementara tangan sang pria menempel
di pinggang belakang sang wanita.
... Sebentar, sepertinya itu lebih ke bawah sedikit dari pinggang belakang.
Aku hanya bisa terdiam, bengong, berdiri tanpa bergerak di depan pintu
ruangannya. Ruangan Ibu Terry yang terhormat. Salah satu dari orang-orang
di dunia ini yang tidak akan pernah masuk ke dalam daftar kartu lebaranku
- walaupun sepertinya hampir tidak ada lagi orang yang masih mengirimkan
kartu lebaran di era SMS, email, Facebook, dan Twitter, seperti sekarang ini.
Dalam sepersekian detik aku tersadar, memalingkan muka dan merapatkan
lagi pintu yang barusan sempat kubuka. "Maaf, Bu. Seharusnya aku
mengetuk dulu." Kataku.
Sementara dalam hati aku mengutuk-ngutuk diriku sendiri yang lupa
mengetuk pintu. Sari mengatakan bahwa Terry ingin secepatnya ketemu
denganku, meminta kabar mengenai rencana wawancara dengan Dina
Santoso - perancang busana, bintang film, sekaligus foto model. Salah satu
selebritis yang paling terkenal saat ini - salah satu yang paling sulit ditemui.
Sebelum pintu betul-betul tertutup,Terry memanggilku dengan logatnya
yang agak British. "Lin, it's okay. Masuklah."
Pemandangan pertama yang kulihat adalah mereka yang sedang merapikan
penampilan setelah 'aksi gerilya' barusan.Tanpa terasa wajahku memerah.
"Ada apa?" Tanyanya sambil melepaskan capit rambutnya, menguraikan
rambut indahnya yang agak pirang dan menatanya sedikit dengan tangan.
Setelah itu dia memasang kaca matanya.
"Oh, aku hanya mau mengabarkan bahwa mbak Dina setuju untuk
wawancara dan pemotretan." Jawabku. Berusaha mengalihkan pandangan,
kemana saja asal jangan ke arah mereka berdua. Langit-langit ruangan
sepertinya target tatapan yang cukup lumayan.
http://penutur.thurana.com/ | 4
"See? I know you could do that!" Komentarnya. Kali ini sambil menggulung
rambutnya dan mencapit ulang.
"Yah, dengan sedikit membawa-bawa nama Ibu." Jawabku berusaha
merendah.
"Please, please! Ingat apa yang kukatakan mengenai masalah 'ibu-ibu'-an
itu?" Tanyanya. "Aku kan lebih muda darimu. So, no ibu, ok? Simply my name,
Ter-ry!" Kenapa juga dia harus mengingatkan bahwa dia sedikit lebih muda
dariku? Apakah dia ingin menegaskan bahwa meskipun aku lebih tua -
sedikit, tetapi karirnya lebih cemerlang?
"Sorry. Kebiasaan." Jawabku sambil tersenyum kecil dan mengulang apa
yang barusan dikatakannya. "Ter-ry."
"That's my girl." Katanya sambil mengacungkan ibu jari kirinya. Dia kidal.
Ada keheningan sesaat disitu. Dan tidak bisa tidak aku melirik ke arah pria
ganteng yang berdiri disebelah Terry. Ini adalah salah satu alasan lain kenapa
atasanku yang terhormat ini tidak akan pernah kuundang ke pesta ulang
tahunku.Terry adalah tipe wanita yang seperti itu - yang selalu
mendapatkan semua stock pria tampan yang tersedia.
Terry sepertinya melihat lirikan mataku dan berkata, "Oh, sorry. How rude of
me. Aku perkenalkan, ya? This is my - um - friend, Steve," katanya sambil
menunjuk laki-laki itu. Lalu dia menujukku, "This is Linda, my precious
sidekick. Orang yang paling bisa diandalkan disini."
Pujian yang semanis madu. Dan ini menjadi salah satu alasan lainnya kenapa
aku tidak pernah membawakan oleh-oleh untuknya setiap kali aku kembali
dari pulang kampung - dari Bandung. Aku paling benci orang yang berpura-
pura sangat baik dihadapan kita... dan menikam dari belakang. Tepat seperti
yang sedang kulakukan sekarang - memasang topengku yang paling manis -
meskipun sepertinya aku tidak punya cukup keberanian untuk menikam.
Steve dan aku berjabat tangan dengan kaku. "Sepertinya mulai saat ini
kalian akan sering bertemu," kata Terry sambil mengedipkan matanya
kepadaku.
http://penutur.thurana.com/ | 5
"Baiklah," kataku setelah beberapa saat. "Aku kembali ke mejaku dulu."
Aku berusaha memberikan senyumku yang terbaik kepada mereka. Lalu
aku berbalik, berjalan keluar ruangan dan menutup pintu.
Aku menggigit bibirku, menahan air mata. Sedikit terpukul, lebih banyak
geram. Pasti sekarang mereka sedang mentertawakanku di dalam.
Seluruh dunia sedang mentertawakanku sekarang.
Akan sering bertemu? Tentu saja aku akan sering bertemu dengan Steve,
tunanganku.
http://penutur.thurana.com/ | 6
SATU - SENIN, 21 MARET
Senior Editor Yang
Baru
Ekspresi terkejut itu keluar juga.Tidak perlu
dibuat-buat sama sekali.
http://penutur.thurana.com/ | 7
Linda - 10.12
"Lin, ditunggu Pak Yus diruangannya tuh." Sari memberitahukanku sambil
lewat. Sari adalah sekretaris dari Pak Yus, sang boss besar majalah
tempatku bekerja ini. "Sepertinya masalah kau dan urusan Senior Editor
untuk bagian Fashion." Sari menambahkan kedipan mata sebelum dia
menghilang dibalik pintu ruang photo copy.Tumben Sari beramah-ramah
denganku, biasanya dia selalu jutek dan menjadi nominator utama sebagai
juara lomba orang yang paling menyebalkan. Mungkin ini pertanda baik?
Sebentar, barusan Sari bilang apa? Senior Editor untuk bagian Fashion?
Itu adalah posisi yang sudah berkali-kali aku usulkan kepada mereka-
mereka yang berwenang.Alasannya, majalah ini sudah berkembang dari
sekedar majalah wanita biasa menjadi majalah trend seputar kehidupan
wanita perkotaan. Rubrik fashion yang biasanya ditangani secara sekilas saja
secara serabutan oleh siapa saja (meskipun akhirnya mutlak menjadi
pekerjaanku), sekarang sudah perlu ditangani secara khusus.Aku sendiri
sudah kocar-kacir mengerjakan semuanya sendiri. Majalah ini perlu
mendirikan bagian khusus fashion untuk menangani semuanya secara baik
dan benar, dan tentu saja seorang Senior Editor untuk memimpinnya.
Dan siapa lagi yang paling cocok untuk menduduki jabatan itu? Akhirnya
majalah Vanity ini menyadari potensiku yang sebenarnya.
Aku berjalan menuju ke ruangan Pak Yus dan melewati ruangan kosong
yang sudah dirapikan. Ruangan yang dulu ditempati Ibu Mala.Ternyata itu
tujuan bersih-bersih dua hari yang lalu. Memang sudah seharusnya bekas
ruangan salah satu pendiri majalah ini digunakan untuk hal-hal yang lebih
berguna daripada dikosongkan begitu saja.Tidak terasa, sudah hampir satu
tahun sejak Ibu Mala pensiun. (Meskipun sebetulnya agak aneh, karena
sepertinya usia Ibu Mala terlalu muda untuk pensiun.)
Membayangkan duduk dibelakang meja di ruangan itu, disebelah ruang
senior-senior editor lainnya, membuat emosiku meluap-luap kegirangan.
Ruang senior editor...
http://penutur.thurana.com/ | 8
Sudah beberapa menit Aku berdiri di depan ruangan Pak Yus, mengatur
nafas dan menyiapkan hati. Senyuman ini tidak bisa hilang dari bibirku
sedari tadi.
Ayolah Lin, kau tidak boleh menunjukkan wajah yang terlalu terbaca seperti itu.
Kalau bisa bahkan pasang wajah terkejut ketika nanti Pak Yus
memberitahukan kabar 'yang paling tidak kusangka-sangka' itu.
Setelah memastikan bahwa 'wajah nyengir' itu sudah bersembunyi dan
digantikan oleh wajah yang tenang dan percaya diri, aku mengetuk pintu
ruangan Pak Yus.
http://penutur.thurana.com/ | 9
Terry - 10.18
Pintu lift terbuka dan aku melangkah keluar. Lantai 11, Vanity Magazine.
Begitu yang tertulis di memo yang dikirimkan Daddy tadi pagi.
"Kau kan sudah lulus sejak September tahun lalu, sudah waktunya mengisi
hidup dengan bekerja. Jangan bersenang-senang saja." Itu katanya lewat
telepon suatu Selasa pagi bulan Februari lalu.
"Tapi aku 'kan bekerja disini, Dad." Jawabku. "I'm modeling."
"I mean real job." Ayahku berkilah. "Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau tiap
hari hanya foto-foto dan bolak-balik di catwalk nggak karuan."
Daddy, dia tidak pernah mau mengakui kalau sebetulnya dia kangen
padaku, anak satu-satunya.
Aku tidak mau berargumentasi dengan ayahku.Apalagi lewat telepon.
Seperti berbicara dengan tembok batu. Jadi akhirnya aku mengiyakan saja
ketika dia - dengan inisiatif yang tinggi - sudah memesankan tiket pulang ke
Indonesia.
Selalu begitu. Seperti ketika aku lulus S1 di Australia dulu, sekarang juga dia
dengan begitu saja memulangkanku dari London. Beberapa bulan setelah
aku lulus S2.
"Go home," katanya. "Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai
untukmu."
Tetap otoriter seperti biasa, terkadang overprotective. Tetapi aku
mencintainya. Dia adalah seorang ayah yang luar biasa. Dan sejak ibuku
meninggal sepuluh tahun yang lalu, aku tidak bisa terlalu lama
meninggalkannya.
"Selamat pagi," kataku kepada mbak-mbak receptionist di meja depan. "Saya
Terry Lamusa. Saya ada janji dengan Bapak Yusranto."
http://penutur.thurana.com/ | 10
Linda - 10.21
"Silakan duduk Lin," Begitu kata-kata pertama yang diucapkan oleh Pak Yus
setelah aku masuk keruangannya. Dia menunggu sebentar sebelum
melanjutkan, "Saat ini kau sedang mengerjakan apa?"
Pertanyaan basa-basi. Tapi kujawab juga.Yang bertanya Big Boss gitu lho.
"Laporan rancangan busana muslim terbaru dari Rivan yang
dipertunjukkan di fashion show-nya minggu lalu, Pak."
"Sudah selesai?"
"Hampir."
Pak Yus mendehem sedikit sebelum melanjutkan. "Begini," katanya sambil
mendehem sekali lagi. "Aku dengar dari para Senior Editor bahwa waktu
itu kau pernah mengusulkan bahwa majalah kita perlu bagian khusus yang
menangani urusan fashion. Betul?"
"Betul, Pak. Sejalan dengan perkembangan majalah kita, rubrik fashion sudah
tidak bisa lagi digarap seadanya. Perlu ada koordinasi yang lebih matang dan
lebih banyak lagi orang yang mengerjakannya."
"Selama ini bagaimana? Katanya kau yang mengerjakan semuanya sendiri?
Tapi saya lihat hasilnya tidak jelek. Betul?"
Wah, apakah ini pertanyaan jebakan? Kalau kujawab hasilnya bagus, berarti
aku tidak perlu bantuan dan ucapkan saja selamat tinggal pada semua
harapan ruangan khusus dan naik jabatan. Kalau kujawab tidak, berarti aku
yang tidak profesional. Harus dijawab dengan diplomatis dan hati-hati.
"Saya memang sendirian, Pak.Terima kasih atas pujian untuk hasil kerja
saya." Jawabku perlahan setelah berpikir keras selama beberapa detik.
"Tetapi meskipun saya terus berusaha untuk mempertahankan ke-
profesional-an saya dan menjaga mutu akhir tulisan," Aku sengaja
menekankan kata profesional di kalimat itu, "Memang harus diakui bahwa
saya agak kewalahan."
"Begitu." Katanya. Lalu dia terdiam beberapa saat.
http://penutur.thurana.com/ | 11
Aku merasakan ada butiran keringat yang mengalir perlahan di leher
belakang leherku. Entah kenapa aku menjadi tidak seyakin tadi untuk
urusan ini.
"Begini," katanya sekali lagi. "Aku sebagai pimpinan disini menyampaikan
hasil pertemuan kemarin sore, bahwa..."
Rapat para petinggi. Biasanya dilaksanakan sambil makan di restoran mahal.
"... kami akan mengikuti saranmu untuk masalah bagian khusus yang
menangani fashion."
Yess! Sepertinya sebentar lagi aku akan mulai kebagian jatah makan makanan
mahal.
"... Dan untuk menjamin kerja bagian itu, kita perlu seorang Senior Editor
baru ..."
Yess! Yess! Mungkin aku perlu menyediakan banyak kantong plastik untuk
membawa makanan pulang.
"... yang akan menempati ruangan yang baru dibereskan di sebelah ..."
Tiga kali yesss! Dan mengadakan program perbaikan gizi untuk anak-anak kost
di tempatku.
"... Karena kau yang paling tahu urusan ini, kami minta bantuanmu ..."
Sepuluh kali yess!.
Aku mempersiapkan ekspresi terkejutku, menunggu Pak Yus mengatakan
kalimat penutupnya.
" ... untuk membimbing Senior Editor bagian Fashion kita yang baru."
Seratus kali ye - ...WHAT?
Ekspresi terkejut itu keluar juga.Tidak perlu dibuat-buat sama sekali.
http://penutur.thurana.com/ | 12
Sari - 10.23
"Sar, Sar!" Endah dari meja reception depan memanggil dan menghampiriku
yang baru saja keluar dari ruang photo copy.Aku baru saja membuat salinan
dari dokumen pengangkatan Senior Editor yang baru.Aku menoleh
kearahnya.
"Ada Terry, Sar! Terry!" Lanjutnya. "Yang fotomodel itu."
Kampungan sekali.
"Oh, dia sudah datang?" Jawabku seperlunya.
"Kamu sudah tahu?" Tanyanya sedikit heran.
Kampungan dan bodoh. Jadi receptionist pun sebetulnya dia tidak layak.
"Tahu, lah." Jawabku dengan ekspresi yang mengatakan 'please dong ah!'.
"Aku kan sekretarisnya Pak Yus."
"Oh, iya, ya?" Dan Endah-pun mengeluarkan cekikikannya yang
menyebalkan itu.
"Sekarang dia dimana?" Tanyaku.
"Duduk menunggu di sofa depan." Katanya sambil melirik-lirik ke arah
ruang depan.Aku bisa melihat beberapa karyawan laki-laki bertumpuk-
tumpuk sedang mengintip dari kaca kecil di pintu yang menghubungkan
reception dan lorong meeting room satu sampai empat. Ruang photo copy
terletak tepat sesudah meeting room tiga. Di seberangnya ada pantry,
sebelah meeting room empat.
"Kirim Terry ke aku." Lalu aku kembali berjalan menuju ke mejaku, tidak
bisa menahan diri untuk tidak menghela nafas.
Aku berada di lingkungan orang-orang kampung...
http://penutur.thurana.com/ | 13
Linda - 10.25
"Ma - ma..af, bagaimana maksudnya Pak?" Tanyaku berusaha meyakinkan.
Berharap bahwa barusan Pak Yus sedikit salah berbicara.
"Iya, kita akan meng-hire seseorang sebagai Senior Editor dan dia akan
memimpin bagian Fashion. Saya harap kau mau membantunya." Pak Yus
memperjelas pernyataannya.
"Tapi - saya - sebelumnya - saya pikir - tapi - " Aku berusaha
mengendalikan diri.
"Oh, tidak usah khawatir. Jabatanmu juga kunaikkan. Sekarang kamu akan
menjadi Assistant to Fashion Senior Editor. Dan kabar gembira lainnya adalah:
semua masalah liputan dan wawancara tetap berada di tanganmu." Katanya
sambil tersenyum. "Kami pikir bahwa kamu akan lebih tepat untuk
menangani urusan lapangan daripada sekedar duduk dibelakang meja."
Aku terhenyak.Tidak berusaha menyembunyikan wajah penuh depresiku.
Berganti nama, beban tidak berubah. Hanya saja sekarang aku punya atasan
langsung. Pekerjaan menjadi lebih menyebalkan dengan adanya seseorang yang
mengatur-atur semuanya.
"Kenapa? Kau kecewa dengan perubahan ini?" Tanya Pak Yus.
"Eh, tidak Pak." Jelas-jelas berbohong. Sepertinya Pak Yus juga tahu.Tetapi
seperti biasa, dia tidak pernah perduli dengan perasaan orang lain.
"Lalu, siapa yang akan memegang jabatan Senior Editor itu?" Tanyaku. Sudah
pasrah, karena aku mau jungkir balik juga keputusan itu tidak akan
berubah.
"Nah, aku juga baru saja memikirkannya." Jawab Pak Yus. "Seharusnya dia
sudah ada disini."
When you talk about the devil, the devil comes. Dan ketukan di pintu
mengkonfirmasi pernyataan itu.
Aku mempersiapkan diri untuk melihat orang yang sudah merebut
jabatan, ruangan, dan masa depanku. Jangan lupa tambahkan makanan
http://penutur.thurana.com/ | 14
restoran mahal ke dalam daftar itu. Sementara itu, entah dimana seseorang
sedang memainkan snare drum mengiringi sang pembawa acara yang
sedang mengumumkan 'And the winner is...'.
"Pak, dia sudah datang." Sari muncul di balik pintu. Dia melirik sekilas ke
arahku lalu tersenyum, sinis.
Rupanya dia sudah tahu. Sedari tadi dia sudah tahu tetapi masih tetap
berpura-pura dan memberikan harapan setinggi langit kepadaku. Pantas
saja dia bermanis-manis padaku barusan. Dia sengaja.
"Persilakan masuk." Kata Pak Yus.
Dan 'The Devil' adalah...
Dia masuk, dengan anggunnya. Semua di ruangan itu serentak bergerak
dengan tempo slow motion seiring dengan langkahnya kedalam ruangan.
Dengan tiba-tiba saja kepalaku memutar lagu Songbird-nya Kenny G sebagai
latar belakang adegan tersebut.
Theressa Lamusa - Terry. Siapapun yang berkecimpung di dunia fashion pasti
kenal dengan nama itu. Dia adalah satu dari beberapa gelintir fotomodel
Indonesia yang sudah go international. Meskipun di Indonesia sendiri dia
kurang dikenal, di dunia internasional namanya cukup dipertimbangkan.
Wajahnya sudah menghias berbagai sampul majalah mode dunia mulai dari
Elle sampai dengan Vogue.
Dia yang akan menjadi atasanku? Dari apa yang kudengar, dia sedang
mengambil gelar Master dan berkarir di London. Kenapa tiba-tiba ada
disini?
Harapanku makin pupus dan menguap. Kalau Terry yang menjadi
sainganku, sampai seratus tahun juga aku berkarir, tidak akan pernah aku
bisa melebihinya. Setidaknya tidak bisa dengan cara biasa. Seperti semut
melawan gajah, seperti sepatu roda melawan truk gandengan, seperti becak
melawan kapal induk, seperti - ah sudahlah, everybody's got the point.
Dalam situasi biasa, aku akan sangat senang bekerja sama dengannya.Tetapi
ini adalah situasi yang luar biasa.Aku tidak bisa tidak membencinya,
setengah mati.
http://penutur.thurana.com/ | 15
"Morning, Pakde Yus. Sorry I'm late." Kata Terry sambil memeluk Pak Yus.
Pakde?
"It's OK dear.You're just on time." Kata Pak Yus setelah melepaskan pelukan
dan menatap Terry sambil memegang kedua tangannya. "Kau makin cantik
saja."
"Thank you." Kata Terry. "Daddy says Hi."
"Apa kabar Bapakmu? Masih rutin berenang 1000 meter setiap hari?"
"Sekarang dikurangi jadi seminggu tiga kali. Dia kan sudah tidak muda lagi."
"Ayahmu itu adalah salah satu orang yang paling sehat yang kukenal."
Mereka tertawa kecil, lalu ngobrol ngalor-ngidul tentang remeh-temeh yang
lain. Dan aku hanya bisa menjadi kambing congek.
"Oh, iya." Kata Pak Yus. "Mari kukenalkan pada beberapa orang yang akan
sering kau temui. Dimulai dari yang berdiri di pintu. Itu adalah
sekretarisku, Sari. Kalau kau perlu apa-apa sementara aku tidak ada di
kantor, kau bisa bilang padanya."
Sari tersenyum manis kepadanya. Tahap awal dari proses menjilat atasan.
"Dan ini," Pak Yus berpaling kepadaku. Akhirnya keberadaanku diakui lagi.
"Adalah asistenmu. Linda. Kau bisa percayakan semua pekerjaan padanya."
Percayakan semua pekerjaan? Memangnya aku kuli bangunan?
Aku melirik ke arah Sari dan dia sedang menutupi senyum penuh
kepuasannya. Kubalas kau nanti...
Jabatan tangan Terry terasa mantap dan penuh percaya diri. Berbeda
seratus delapanpuluh derajat denganku yang seperti kehilangan semangat
hidup.Tetapi aku tetap berusaha memberikan senyum terbaikku.
http://penutur.thurana.com/ | 16
Steve - 10.31
Bunyi kicauan si Mami yang sedang bergosip ria dengan ibu-ibu tetangga
membangunkanku. Ritual pagi para ibu-ibu yang nggak ada kerjaan di
kompleks perumahan ini.
Uuh, jam berapa ini?
Kepalaku masih sakit dan mataku masih pedas. Perasaan normal setelah
beberapa hari (hampir) tanpa tidur. Penyakit para arsitek ketika dikejar-
kejar deadline proyek.
Baru setengah sebelas. Masih sempat tidur sebentar sebelum makan siang.
"Steee.....veee! Bangun! Sudah hampir jam sebelas nih!" Teriak Mami dari
pagar depan rumah.
Teriakan itu membatalkan semua rencanaku untuk mendapatkan porsi
tidur tambahan.Tidak mungkin bisa tidur tenang sementara dia sedang
berteriak-teriak. Mungkin seharusnya ibuku itu menjadi penyanyi opera
saja, ya? Level suara percakapan normalnya bisa mengalahkan raungan
sepeda motor ber-knalpot rusak. Kalau sudah berteriak, mungkin jenazah
yang sudah dikuburkan-pun bisa terbangun lagi.
"Steevee?!"
"Aku sudah bangun, Mam." Kataku sambil menjulurkan kepala dari jendela.
Mami dan Tante Tika dari blok C sedang sibuk memilih sayur. Sementara si
tukang sayur sedang berdiri menunggu.
"Nggak ke kantor Steve?" Kata Tante Tika sambil tersenyum-senyum
centil. Janda dengan anak satu itu mengenakan daster yang agak tipis,
mengekspos tubuhnya yang - euh, tidak usah dijabarkan disini, bisa
menghilangkan nafsu makan. Sepertinya dia sengaja memilih kostum
seperti itu sementara menjalankan tugas sehari-harinya; berkelana keliling
kompleks mencari teman bergosip. Salah satu pos favoritnya adalah
rumahku.
http://penutur.thurana.com/ | 17
"Hari ini masuknya agak siang,Tante." Kataku dengan agak keras. Lalu aku
menarik kepalaku cepat-cepat dari jendela. Menghindari keterlibatan yang
lebih lanjut.
"Iya, dia itu baru menyelesaikan proyek gede-gedean minggu lalu..." Aku
masih bisa mendengar Mami sementara berjalan terkantuk-kantuk menuju
kamar mandi.
Rumah kosong.Ayahku pasti sudah pergi ke tokonya sejak subuh tadi.
Adikku juga pasti ada di kampus. Mami bergosip di depan. Satu-satunya
yang tidak pada tempatnya adalah aku.
Aku menyalakan shower. Dinginnya air tidak bisa mengusir kantukku.
"... iya, sudah saatnya dia menikah. Masak seumuran itu masih tinggal sama
maminya sih?" Suara Tante Tika terdengar lagi masuk dari jendela begitu
aku kembali dari kamar mandi. Susah juga punya kamar yang terletak paling
depan.
"Kalau nggak ada yang mau, aku mau lho..." Lalu suara cekikikan centilnya
terdengar.
Untung aku belum makan, jadi tidak bisa muntah.
"Dia sudah bertunangan, Mbak." Mami menanggapi Tante Tika.
"Jadi kapan hari baiknya? Menurut primbon, ..." Kata salah seorang ibu
dengan logat Jawa yang kental. Dan obrolan nggak penting di depan rumah
itu terus berlanjut.
Aku berusaha tidak memperhatikan percakapan mereka sementara
memilih-milih kemeja dan celana panjang yang akan kupakai ke kantor hari
ini.Akhirnya kembali lagi ke t-shirt biru muda dan celana jeans. Itulah
untungnya kalau kantor punya sendiri.
Bo'im, my partner, selalu ribut mengenai pemilihan baju kantorku.Tetapi
cengiranku selalu berhasil mendiamkannya. "Kan yang penting hasil
kerjanya," Aku selalu berkilah.
http://penutur.thurana.com/ | 18
Aku mengenakan cincin pertunangan di jari manis tangan kiriku. Linda, dia
pasti sedang sangat sibuk sekarang, seperti biasa.Aku akan menyuruhnya
berhenti bekerja setelah kita menikah nanti.
Setelah itu aku memasang jam tangan - Swiss Army hitam yang hampir tidak
pernah lepas dari pergelangan tangan kananku. Kenangan dari cinta
pertamaku.
Echa.Apakah aku akan pernah bertemu dengannya lagi?
http://penutur.thurana.com/ | 19
DUA - SABTU, 3 FEBRUARI - EMPAT TAHUN SEBELUMNYA
Kencan Buta
Seorang pelayan segera menghampiri meja kami
setelah melihat ada tambahan dua orang
pelanggan baru. Betul-betul cepat saji.
http://penutur.thurana.com/ | 20
Linda - 15.49
"Orangnya baik koq, Lin." Vita masih berusaha meyakinkanku. Lalu dia
membelokkan mobilnya ke basement. "Dia cakep dan sudah punya usaha
sendiri.Arsitek, lho."
Aku tidak menjawab, masih kesal dengan segala usaha yang dilakukan
olehnya hanya supaya aku bisa menemaninya berkencan.
Cowok yang sedang didekatinya adalah tipe yang tidak mau dekat dengan
cewek, apalagi berkencan. Jadi hari ini ceritanya adalah rencana teman baik
cowok itu - katanya sih teman sekantor sekaligus partner usahanya -
untuk mendekatkan sang cowok dengan Vita. Untuk membuat acara hari
ini tidak terlalu mencurigakan dan terkesan seperti kencan buta,Vita harus
membawa seorang teman - aku - sebagai kencan untuk teman sekantornya
itu dan kami harus 'secara tidak sengaja' bertemu dengan mereka.
Karena itulah sepanjang minggu ini Vita berusaha sampai jungkir balik
untuk mengajakku ikut hari ini.Yang dimaksud dengan jungkir balik ini
termasuk membujuk dan mengancam.
"Kenapa sih kau begitu antusiasnya untuk bisa berkencan dengan laki-laki
ini?" Tanyaku waktu itu.
"Dia adalah extremely high quality jomblo." Jawabnya sambil menghela nafas,
tersenyum, dan dengan mata mengawang-awang. "Ganteng, kaya karena
usaha sendiri, baik, dan yang paling penting single."
"Single-nya itulah yang harus dipertanyakan." Kataku. "Kalau dia memang
ganteng, kaya, dan baik, kenapa dia belum punya pacar? Pasti ada yang
salah. Mungkin dia homo."
"Kata si Bo'im - teman baik dan partnernya itu, yang akan menjadi
kencanmu nanti - dia masih belum bisa melupakan cinta pertamanya.
Romantis ya?"
"Dan yang membuatmu yakin bahwa dia akan melirik kepadamu apa?"
"Aku kan cantik, baik, dan sexy. Cowok mana sih yang nggak akan melirik
kepadaku."
http://penutur.thurana.com/ | 21
Aku mendadak sontak terbatuk-batuk. "Narsis banget sih loe!"
"Nah, sekarang tinggal terserah kau. Mau membiarkan sahabat baikmu ini
menderita seumur hidup atau membawaku ke jalan kebahagiaan."
"Nggak.Aku nggak mau ikut-ikutan perburuanmu."
"Ayolah, Lin. Demi aku."
"Nggak."
"Demi dirimu sendiri."
"Ngga - ... apa maksudmu?"
"Kau kan juga selalu menjomblo selama ini. Itu 'kan karena nggak pernah
ada yang mau denganmu. Mungkin si Bo'im ini adalah belahan jiwamu yang
sudah lama hilang."
"Sialan.Aku nggak bakalan terpancing dengan provokasi murahan seperti
itu."
"Nggak bakalan terpancing, ya? Kapan terakhir kali kau kencan? Minggu
lalu? Atau tahun lalu?" Dia tersenyum licik. Dan melanjutkan pelan-pelan,
"Atau mungkin, lima tahun yang lalu?"
Aku mendengus marah. "Itu karena aku ingin memfokuskan seluruh
perhatianku pada study."
"Dan sekarang setelah setahun bekerja?"
Aku terdiam. Kata "mengejar karir" muncul di kepalaku.Tetapi aku malas
melanjutkan perdebatan yang tidak berujung ini.Aku memang tidak pernah
terlalu memikirkan masalah cowok.Aku belum menemukan orang yang
sanggup meyakinkanku untuk meninggalkan dunia perjombloan.
"Jadi Sabtu sore aku jemput ya?" Katanya penuh kemenangan.
Maka disinilah aku.Terjebak, disebelah Vita, ditempat parkir, Sabtu sore
pada awal Februari. Semoga saja yang namanya Bo'im itu tidak hancur-
http://penutur.thurana.com/ | 22
hancur amat. Meskipun kalau dilihat dari namanya, aku tidak begitu yakin
juga.
Dia memarkir mobilnya, melepas seatbelt, dan tersenyum kepadaku. "Kau
pasti akan suka padanya."
Aku mengikutinya berjalan masuk ke dalam Mall. Kami berjanji untuk 'tidak
sengaja ketemu' dengan para 'kencan buta' di salah satu cafe disini.
"Kau pasti suka." Katanya sekali lagi. "Bahkan menurut standardku yang
tinggi, si Bo'im itu lumayan ganteng."
Yeah.Whatever. Kenapa nggak si Vita aja yang kencan dengan si Bo'im?
http://penutur.thurana.com/ | 23
Steve - 16.10
Sebetulnya aku tidak terlalu suka pergi ke cafe, tapi Bo'im memaksa. Cafe
baru, kopinya enak banget. Itu katanya.
Aku tidak mau berargumen dengannya, sekedar perwujudan dari rasa setia
kawan. Padahal aku tidak suka kopi.
"Kau pesan apa?" Tanya Bo'im. Sang pelayan - berkemeja ketat dan rok mini
bercelemek, menunggu disebelah meja kami. Lumayan cantik, tapi tidak
mungkin bisa menyaingi kecantikan Echa.
"Aku tidak begitu mengerti. Kau saja yang pesankan untukku." Jawabku.
Bo'im berbicara dengan sang pelayan dengan intonasi yang menurutku agak
sedikit menggoda. Betul-betul pria yang selalu haus akan cinta. Sementara
aku sendiri melayangkan pandangan ke sekeliling.
Cafe yang tidak terlalu besar, tapi comfy.Yang makan disini kelihatan sekali
orang-orang berkelas. Pasti semuanya mahal. Duit lagi duit lagi... Aku
menyesal juga sudah setuju dengan ajakan Bo'im untuk datang kesini.
"Steve," panggil Bo'im. "Bagaimana menurutmu cewek yang tadi?"
Aku mengangkat bahu.
"Kau itu harus mulai mencari pacar." Katanya lagi. "Jangan menyia-nyiakan
hidupmu untuk seseorang yang tidak akan pernah kau temui lagi."
"Lebih baik seperti aku daripada kau yang terus mencari tapi tidak pernah
menemukan."
Bo'im bersungut-sungut. Sindiranku kena.
"Bo'im?" Seseorang memanggilnya. Kami menoleh ke arah pintu masuk
cafe. Dua cewek sedang melangkah masuk.
"Hai! Vita, ya?" Bo'im menjawab. Agak seperti dibuat-buat.
Bo'im berdiri dan mereka berkangen-kangenan sedikit. Kaku.
http://penutur.thurana.com/ | 24
"Kenalkan, ini Vita, teman SMA-ku dulu." Kata Bo'im berbasa-basi.Aku
menjabat tangan cewek yang pertama. Lumayan cantik, tapi bukan tipeku.
Dia tersenyum manis kepadaku. Terlalu manis.
Hei-hei-hei! Sebentar.Ada yang salah disini. Jangan-jangan ini salah satu rencana
busuk Bo'im untuk sekali lagi memasangkanku dengan seseorang.
"Dan ini Linda.Temannya Vita." Sekarang menjabat tangan cewek yang
kedua.Wajahnya mungkin sama cantik dengan yang pertama, tapi lebih
enak dilihat. Badannya tidak terlalu tinggi, rambut lurus agak panjang,
pakaian rapi.Tipe-tipe wanita pekerja biasa yang rajin.Tapi dari yang kulihat
sepertinya dia tidak terlalu bersemangat. Sepertinya Linda ini juga korban,
seperti aku.
Aku harus mencari cara untuk mementahkan rencana busuk Bo'im. Cepat.
"Linda?" Kataku. "Linda 'kan? Masak tidak ingat aku? Steve." Aku
mengedipkan mata kepadanya.
"Steve?" Dia sepertinya bingung sesaat, tetapi dengan cepat bisa
menangkap sinyal-sinyal persekongkolan dariku. "Ya ampun, Steve? Apa
kabar?" Nada suaranya berubah akrab.
Jabatan tangan kulanjutkan dengan pelukan dan sok berkangen-kangenan
sedikit.Tidak lupa pakai acara cipika cipiki.
Biar rasa si Bo'im. Rencananya sudah berantakan.
"Kerja dimana sekarang?" Tanyaku, tersenyum lebar. Pertanyaan yang paling
aman. Bo'im dan Vita terbengong-bengong. Kutarik bangku disebelahku dan
mempersilakan Linda untuk duduk disitu.
Seorang pelayan segera menghampiri meja kami setelah melihat ada
tambahan dua orang pelanggan baru. Betul-betul cepat saji.
http://penutur.thurana.com/ | 25
Linda - 16.15
Jadi begitulah, akhirnya kami berempat duduk di cafe itu, kaku, sambil
menunggu pesanan kami datang. Beberapa detik pertama - yang terasa
seperti berjam-jam - diisi dengan keheningan. Bo’im terlihat agak panik.
Sepertinya dia berusaha mencari jalan keluar untuk menyelamatkan
rencana busuk yang disusunnya bersama Vita. Sementara itu,Vita sendiri
terlihat agak kebingungan.
Sebuah lagu yang agak mellow mengalun sayup-sayup dari speaker yang
tergantung di pojok-pojok ruangan cafe - diantara dinding dan langit-langit.
“Hey, aku tahu lagu ini.” Steve mencoba memecah keheningan.“Aku kenal
penyanyinya. Dia teman kuliahku dulu di Bandung.” Dia menjelaskan sambil
melihat ke arahku.
Aku memasang telinga dan mengerenyitkan dahi, mencoba menangkap
musik dan lirik lagu itu.Vita dan Bo’im juga melakukan hal yang sama.
“Emangnya siapa yang nyanyi?” Bo’im bertanya sambil melirik Steve dengan
tatapan ‘Aku koq nggak tahu, ya? Kan kita satu kampus?’. Dahinya masih
mengerenyit.
“Si Jaye.Yang suka gonjrang-gonjreng ga jelas di ruang himpunan pake gitar
butut yang ada di situ.”
“Oh, yang akhirnya dimarahin dosen Perancangan trus disuruh ngamen ke
kelas-kelas kalau mau lulus mata kuliahnya?”
“Iya. Gosipnya sih Pak Aldi cuma bercanda.Tapi si Jaye beneran ngamen.
Ngetok-ngetok pintu kelas satu-satu trus nyanyi. Bikin heboh satu kampus.”
“Ya, gue inget.Waktu itu dia masuk ke ruang himpunan sambil nyengir
menenteng-nenteng kantong kresek gede yang isinya recehan hasil
ngamen.”
Steve dan Bo’im tertawa terkekeh-kekeh.Aku dan Vita hanya bisa diam
memperhatikan mereka.
“Oh, akhirnya dia jadi penyanyi betulan?” Bo’im bertanya lagi.
http://penutur.thurana.com/ | 26
“Iya, indie sih.” Jawab Steve.“Aku ketemu dia waktu pesta kawinannya
Desi. Dia cerita lagi bikin album solo pakai komputer, dan mau eksperimen
distribusi lagu lewat internet pakai nama ‘Jaye Of All Trades’.”
“Lagunya enak.” Kataku berusaha masuk dalam pembicaraan.
“Iya kan?” Steve menganggapi.“Aku punya copy album-nya. Kalau kau mau,
nanti aku email download link-nya. Boleh minta alamat emailnya?”
“Itu artinya membajak dong.” Kataku sambil tersenyum.
“Bukan,” Steve mengelak.“Itu namanya berbagi. Lagipula penyanyinya
sendiri koq yang ngasih link-nya secara sukarela.”
Aku tersenyum lagi dan mendiktekan alamat email-ku. Dia juga minta
nomer HP-ku, sementara Vita berusaha memberikan alamat email dan
nomer HP-nya ke Steve.
“Aku mau ke belakang sebentar.” Bo’im tiba-tiba berdiri dan melangkah
keluar cafe.
Steve melirik Bo’im sekilas sambil masih sibuk meng-input nomer HP-ku
ke HPnya. Sementara itu Vita memperhatikan Steve dengan tatapan lapar
dan penuh harap.
“Sepertinya tadi kita memesan kopi-nya tidak pakai lama ya?” Kataku
berusaha mencairkan suasana.
Steve menatapku lalu tertawa kecil. Gosh, he’s handsome!
Tiba-tiba Vita juga berdiri dan berkata,“Aku mau beli cupcake dulu di toko
sebelah.” Lalu melangkah keluar cafe.
Sekarang tinggal aku berdua dengan Steve. Meskipun aku tidak keberatan,
tetapi kencan buta kali ini sungguh aneh.
http://penutur.thurana.com/ | 27
Bo'im - 16.23
Aku masih belum bisa menghilangkan shock ini. Rencana yang kususun
bersama Vita sepertinya akan berantakan. Cewek yang seharusnya menjadi
kencanku ternyata sudah kenal dengan Steve dan mereka sekarang duduk
bersebelahan sambil ngobrol dengan akrabnya.Vita terpaksa duduk
disebelahku dan harus puas sebagai figuran. Padahal dia sudah sebegitu
tergila-gilanya pada Steve.
Betul-betul tidak terduga. Harus dipikirkan rencana cadangan dan
didiskusikan langsung dengan Vita.
Aku berdiri. "Aku mau kebelakang sebentar." Lalu berjalan menjauhi meja.
Dari jarak yang agak aman aku memanggil Vita. Sepertinya dia mengarang-
ngarang alasan sebentar sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menuju
kearahku.
"Gimana nih?" Tanya Vita.
"Rencana kita sedikit meleset, tapi kita teruskan saja." Kataku. "Kau
usahakan supaya temanmu nanti jalan bareng aku dan aku akan
mengusahakan supaya Steve bisa bersamamu."
Vita mengangguk. "Kita kembali?" Tanyanya.
"Kita tunggu sebentar. Nanti mereka curiga." Jawabku.
Vita menggangguk lagi.
"Apa alasanmu?" Tanyaku.
"Barusan pesan cupcake dari toko kue sebelah."
"Alasan yang bagus. Sebaiknya kau betul-betul beli cupcake.Aku akan
memanggil Steve."
Setelah menunggu sebentar,Vita berjalan ke toko kue, sementara aku
kembali ke meja.
Saatnya menjalankan rencana B.
http://penutur.thurana.com/ | 28
Linda - 16.27
"Apakah kita pernah bertemu?” Kata Steve sementara menunggu dua
orang itu kembali.“Sepertinya aku ingat wajahmu. Makanya tadi aku jadi
sok kenal.”
Aku menggeleng. Kalau aku pernah ketemu dengan orang seperti Steve
ini, pasti aku ingat.
“By the way, sorry ya.Aku jadi memanfaatkanmu barusan."
"Nggak apa-apa, kita saling memanfaatkan." Jawabku. Seorang pelayan
datang membawa baki yang berisi beberapa cangkir capucinno pesanan
kami.
"Masalahnya," kata Steve sambil menerima cangkir pertama dari si pelayan.
"Aku tidak suka setiap kali Bimo dengan seenaknya selalu memasang-
masangkan aku dengan cewek."
"Selalu?"
"Iya, ini sudah lebih dari tiga kali."
"Kenapa dia mau repot-repot begitu?"
"Mamiku biang keladinya. Dia selalu mengeluh betapa aku tidak akan
pernah mungkin menikah karena tidak pernah punya pacar. Jadi sibuklah
dia meminta kepada semua kenalannya untuk mencarikan aku jodoh. Bimo
termasuk salah satu anak buah sejati ibuku."
Aku mengangguk-angguk penuh perhatian. Sekedar sopan santun. Padahal
dalam hati aku terkekeh-kekeh. Susah juga kalau punya orang tua seperti
itu.
Aku cukup beruntung karena kedua orang tuaku tidak pernah terlalu ikut
campur urusan seperti ini. Kalau ada kerabat atau tetangga yang bertanya
kenapa anak perawan mereka yang pertama masih membujang meskipun
umurnya sudah pertengahan kepala 2, mereka akan bilang bahwa jodoh
tidak usah dicari-cari tapi akan datang dengan sendirinya. My parents rock!
"Punya alasan khusus kenapa memilih hidup melajang?" Tanyaku.
http://penutur.thurana.com/ | 29
"Dibilang 'memilih' melajang sebetulnya kurang tepat." Jawabnya. Dia
sedikit melambatkan kalimatnya. Sepertinya masih menimbang-nimbang
apakah aku cukup layak untuk mendengarkan ceritanya. "Aku mencari,
tetapi yang kucari belum kutemukan lagi." Keputusannya adalah: aku cukup
layak.
"Lagi?" Tanyaku.
"Ya, seseorang dari masa lalu." Lalu dia mengambil gelasnya, menghirup
isinya pelan-pelan sambil menatap kosong ke depan.
"Cinta pertama?"
"Dan yang terakhir."
Aku tidak berkomentar. Hidup di masa lalu memang sulit. Cangkirku
sekarang mengikuti jejak cangkirnya. Dan bibir dan lidahku seketika
tersengat oleh cairan panas gelap yang bernama kopi itu.Aku gelagapan
sebentar. Untungnya tidak ada yang melihat. Steve masih sibuk dengan
kenangan cinta pertamanya.
"Steve."
Aku menoleh kebelakang. Bo'im. Dia tersenyum kepadaku sambil
menunggu jawaban dari Steve yang sepertinya tidak kunjung datang.Aku
membalas tersenyum. Basa-basi.
"Steve! Woi!" Bo'im memanggil lagi.
"Eh, iya. Kenapa?" Dia sudah kembali ke masa sekarang.
"Ikut aku sebentar, ada yang ingin kubicarakan."
Steve menatapku dengan pandangan 'sebentar, ya?' lalu berdiri dan
mengikuti Bo'im.
Aku tersenyum kearahnya dengan tatapan 'silakan...' lalu kembali ke
kegiatan meniup panas keluar dari cangkirku.
http://penutur.thurana.com/ | 30
Steve - 16.36
"Kenapa manggil-manggil gue?" Tanyaku.
"Kapan loe kenal Linda?" Bo'im balik bertanya.
"Udah lama juga. Kenapa?"
“Kenal dimana?” Tanyanya penuh selidik.
“Kenapa loe pengen tahu?” Aku menghindari pertanyaannya sambil
berpikir keras mencari alibi yang masuk akal.Tetapi sepertinya Bo’im tidak
melanjutkan pekerjaan detektifnya.
Dia mencuri-curi pandang ke Linda. "Gue suka dia. Gue duduk di
sebelahnya ya?"
"Nggak," Jawabku. "Ini pasti salah satu rencana loe buat ngejodohin gue."
"Iya, gue ngaku.Awalnya memang begitu. Loe mau gue ketemuin ama si Vita
itu. Dia pengen banget nge-date ama loe."
"Oke, gue pulang aja." Jawabku sambil siap-siap berdiri.
"Please, jangan dong. Gue bener-bener suka ama Linda. Loe temenin gue,
ya?"
"Kalo gitu sih hasilnya sama aja ama rencana pertama loe."
"Nggak, ntar gue bilangin deh ama si Vita. Sekarang loe temenin gue, ntar
dari sini gue mo ngajak Linda nonton. Loe terserah, mo balik juga nggak
apa-apa.Tapi tolong ajak Vita balik supaya nggak ganggu gue."
Aku berpikir sebentar. "OK deh. Gue temenin, tapi loe yang beresin
gambar rumahnya Pak Dodi."
"Itu kan kerjaan loe..."
"OK, gue pulang sekarang."
"OK, OK, gue yang beresin."
http://penutur.thurana.com/ | 31
Aku tersenyum penuh kemenangan. Jadi orang memang harus bisa
memanfaatkan situasi.
Bo'im berjalan kembali ke meja, aku mengikutinya. Dia mengambil tempat
duduk di sebelah Linda, aku didepannya, disebelah Vita yang juga sudah
kembali.
"Silakan dimakan kuenya." Kataku sambil menunjuk pastries yang sudah
tersedia. "Bimo yang bayar."
Bo'im yang sedang menghirup kopinya terbatuk-batuk sambil melotot
kepadaku.
Aku tersenyum sambil menggigit croissant manis.
http://penutur.thurana.com/ | 32
Bo'im - 16.52
Gile, banyak banget pengorbananku hanya sekedar supaya Vita bisa nge-
date sama si Steve. Mulai dari berpura-pura suka pada Linda sampai harus
membayari semua makanan disini. Nanti aku minta Vita untuk membayar
setengah dari bon hari ini.
Setengahnya lagi aku minta ke maminya Steve.
Tapi tetap saja tersisa kerjaan yang lumayan berat.Apa lagi kalau bukan
gambar rumah Pak Dodi. Perspektif, denah, tampak, potongan, rencana
instalasi listrik, air bersih-air kotor, utilitas... Nasib.
Yah, yang penting rencanaku hari ini bisa berjalan lancar. Steve sama sekali
tidak curiga bahwa sebetulnya memang dia yang sedang dipasangkan
dengan Vita. Bukan aku dengan Linda.
http://penutur.thurana.com/ | 33
Linda - 21.39
Hari yang melelahkan.Tapi lumayan menyenangkan.
Kami berempat akhirnya menonton bersama, dan aku sudah bisa merasa
tidak sebal dengan segala masalah kencan buta ini.
Bo'im ternyata lumayan menyenangkan. Dia menarik, banyak bercanda, dan
bisa selalu muncul dengan topik-topik pembicaraan yang menarik.Tetapi
dia jelas-jelas bukan tipeku. Dia tidak akan bisa meyakinkanku untuk
melepaskan masa per-jomblo-an-ku.
Sebaliknya, ternyata Steve memang sesuai dengan yang dipromosikan oleh
Vita. Kalau aku jadi Vita, pasti aku juga akan tergila-gila kepadanya. Selain
ganteng, ehm - koreksi, amat ganteng, tinggi dan tegap, terlihat sekali bahwa
dia memang intelligent. Tingkat ke-humoran-nya tidak setinggi Bo'im, tapi
lumayanlah untuk sekedar membuat tersenyum atau tertawa cekikikan.
Tapi aku bukan Vita.Aku masih percaya bahwa untuk mencapai jenjang
karir yang bagus, aku harus terlebih dahulu melupakan masalah dunia
percintaan. Lupakan Steve dan wajah gantengnya. Biarkan Vita yang
berusaha untuk membuatnya lupa akan cinta pertamanya.
Kalau aku jadi Vita, aku akan mencari tahu apa yang menjadi kesukaan sang
cinta pertama Steve, dan tidak akan pernah melakukannya. Hal yang
terakhir yang harus kuperbuat adalah membuatnya teringat kepada cinta
pertamanya. Sebaliknya aku harus menampilkan diriku sendiri dan
membuatnya menyukaiku.
Tapi aku bukan Vita. Itu adalah masalah yang tidak seharusnya
menggangguku di malam yang indah seperti ini.Tidak seharusnya
mengganggu jam tidurku.
Kalau aku jadi Vita, pasti sekarang aku sedang memikirkan dan mengingat-
ingat semua detail dari apa yang terjadi hari ini. Semua gerak-gerik dan
senyum Steve. Semuanya. Lalu menyimpannya di folder 'kenangan manis'
yang ada di otakku.Tidak lupa dibuat beberapa backup di partisi lain,
sekedar menjaga-jaga jangan sampai kenangan yang begitu berharga hilang
hanya karena hard-disk error.
http://penutur.thurana.com/ | 34
Aku tersenyum sendiri.
Tapi aku bukan Vita.
Sebentar, kenapa juga aku jadi terus-menerus membayangkan diriku sebagai
Vita?
Dan kenapa aku tidak bisa menggantikan tempat Vita?
Tetapi aku tidak sempat memformulasikan jawabannya karena rasa
kantukku mengalahkan narasi tidak penting di kepalaku.
http://penutur.thurana.com/ | 35
Vita - 21.34
Steve, dia adalah orang yang memenuhi semua kriteria yang ada di buku
panduan mengenai 'cowok sempurna'. Well, Kecuali mungkin masalah dia
dan cinta pertamanya itu.
Aku harus berterima kasih kepada Bo'im yang sudah dengan susah payah
mengatur dan menjalankan event hari ini dengan baik.Termasuk juga
rencana cadangannya. Kalau kau tidak kebetulan ketemu dengannya di
reuni kecil-kecilan kelas IPA 3 kami bulan lalu, dalam mimpipun aku tidak
akan pernah bisa berkencan dengan cowok seperti Steve.
Catatan kepada diri sendiri: besok pagi-pagi sekali telepon Bo'im untuk
berterima kasih.
Jangan lupa juga berterima kasih untuk semua joke segarnya malam ini.
Sudah lama sekali aku tidak pernah tertawa seperti tadi. Mengingatkanku
pada masa SMA dulu, ketika aku masih satu geng dengan Bimo. Setiap hari
tidak pernah lewat tanpa tertawa terbahak-bahak seperti tadi.
Betapa aku merindukan masa-masa itu.
Masa-masa bersama Bimo.
http://penutur.thurana.com/ | 36
TIGA - SENIN, 21 MARET
Halaman Pertama
Koq bisa-bisanya ada manusia hidup
semenyebalkan itu? Pasti ada kesalahan di salah
satu bagian sistem seleksi alam.
http://penutur.thurana.com/ | 37
Linda - 12.01
Ini adalah salah satu moment dimana aku sangat membenci pekerjaanku.
Dimana aku merasa bahwa semua yang sudah kukerjakan selama ini tidak
ada artinya sama sekali.
Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada pemikiran mengenai weekend
dimana aku bisa ketemu dan berduaan dengan Steve.Akhir-akhir ini aku
semakin sering memikirkannya. Setelah berpacaran beberapa tahun dan
sudah bertunangan, mungkin sudah saatnya aku menikah?
Tinggal menunggu lamaran datang.
Satu-satunya yang aku tidak suka dari hubungan kami adalah kenyataan
bahwa Steve bekerja di Bandung dan aku di Jakarta. Biro konsultan
Arsiteknya tidak bisa ditinggalkannya, seperti aku tidak bisa meninggalkan
pekerjaanku untukku disini. Jadi kesempatan bertemu memang hanya
Sabtu-Minggu.Aku yang pulang ke Bandung, atau dia yang datang ke
Jakarta. Bukan masalah besar, karena perjalanan ke Bandung kadang-kadang
malah lebih cepat daripada perjalanan dalam kota Jakarta.
Mengingat bahwa hari ini baru Senin dan bahwa dua weekend kemarin aku
tidak bisa bertemu dengannya - deadline, katanya; membuatku semakin
membenci pekerjaan ini.
Aku melangkah dengan sedikit lunglai keluar dari kantor. Sendirian. Hatiku
sedang tidak mood untuk makan bersama dengan siapa-siapa. Makan
dimana hari ini? Fast food lagi? Perutku sudah hampir tidak tahan dengan
satu porsi tambahan paket combo hemat A atau B, atau Z. Hampir mati
bosan aku menyantap mereka.Tetapi di gedung tempatku bekerja
pilihannya hanya itu. Kecuali kalau aku rela berpanas-panas untuk sekedar
bisa makan makanan terkontaminasi debu dan asap kendaraan di salah satu
warteg di perkampungan belakang.
Biarlah, makanan apapun akan terasa enak dikala perut lapar. Lagipula ada
banyak pilihan fast food di lantai satu. Bersabarlah sedikit, perutku. Nanti
aku akan belajar memasak dan mengisimu dengan makanan yang
sebenarnya.
http://penutur.thurana.com/ | 38
Nanti, dua-tiga... puluh tahun lagi.
Aku? Belajar memasak? Bisa hujan badai dan angin ribut kalau itu memang
benar-benar terjadi.
"Hi! Linda, right?"
Aku menoleh. Terry. Orang paling terakhir kedua yang ingin kutemui hari
ini. Sari yang pertama.
"Kita makan siang bareng? Aku yang traktir." Katanya dengan ceria.
Betul-betul akan lengkap penderitaanku hari ini. Cepat pikirkan alasan!
"Umm, aku..." Ayo berpikir lebih keras! Dia menunggu.
"Aku ... tidak bisa. Mmm, ada janji." Terima kasih otak cemerlangku!
"Oh, OK! Maybe tomorrow?" Dia melambaikan tangan kepadaku sambil
tersenyum. Kepalaku langsung menggambarkan suasana di tepi telaga
dengan butiran-butiran air yang berkilauan ditimpa cahaya matahari senja.
Dan di tengah semua itu ada Terry. Kilauan senyumnya mengalahkan
semuanya. Uuh! Senyum sempurna yang menyebalkan!
"Maybe." Aku juga melambaikan tangan dan membalas senyumnya, semanis
mungkin. Setelah itu cepat-cepat berlalu dan dengan sedikit berlari masuk
ke pintu lift yang masih terbuka.
Shi- ehm, sensor- ! Sari. Dia berdiri dihadapanku, tersenyum-senyum,
disebelah Pak Yus. Sudah terlambat untuk kembali lagi.
Pintu lift tertutup. Hanya ada empat orang disitu.Aku, Sari, Pak Yus, dan
seorang lagi yang aku tidak tahu siapa. Sepertinya kurir.
"Hai, Lin." Katanya. Sambil masih tersenyum. Dia sedikit merapatkan
dirinya ke arah Pak Yus. Kecentilan banget sih. "Apa kabar nih Assistant to
Senior Editor kita yang baru?"
Aku terpaksa menjawab, seperlunya, dengan sedikit kaku, "Lumayan."
"Jabatan baru, pasti tanggung jawabnya lebih besar, ya?"
http://penutur.thurana.com/ | 39
Aku tidak menjawab. Rese abis.
"Tapi kalau kamu sih pasti bisa menyelesaikan semua tugas dengan baik."
Orang ini sepertinya tidak tahu kapan harus berhenti.
Ding! Pintu lift membuka. Thank God!
"Saya duluan, Pak." Kataku kepada Pak Yus. Sementara kepada Sari aku
hanya memberikan cengiran yang kira-kira bunyinya; 'heh mahluk rese, gue
duluan ya?'
Aku cepat-cepat berjalan keluar bersama si kurir meninggalkan lift dan
pintunya yang sedang menutup. Berjalan kemana saja, secepatnya, yang
penting menjauhi mereka berdua.
Kenapa mereka tidak keluar? Ini kan sudah lantai yang paling bawah.Apakah
mau naik lagi ke lantai atas? Biarlah, itu urusan mereka.
Aku berbelok dengan sukses di ujung gang. Lalu bengong.
Nah, sekarang aku mau makan kemana? Dihadapanku adalah pintu masuk
Biro Perjalan Angkasa. Lantai 5. Mereka yang menyewa seluruh ruangan di
lantai ini.
http://penutur.thurana.com/ | 40
Terry - 12.14
Hari pertama bekerja sebagai Editor. Sangat berbeda dengan dunia
modeling yang hingar bingar dan riuh.
Dunia ini terasa hening, para penghuninya lebih banyak menghabiskan
waktu mereka dengan duduk diam dibalik meja.Aku merasa terasing,
sendirian. Sepertinya akan perlu waktu lama sebelum aku bisa beradaptasi.
Duduk diam seperti ini terasa seperti jetlag yang berkepanjangan. Belum
ada yang bisa dikerjakan. Belum ada yang bisa diajak berteman.
Pakde Yus sepertinya punya acara sendiri dengan sekretarisnya. Sementara
ajakan yang kuajukan kepada Linda, orang yang kupikir bisa menjadi teman
terbaikku di dunia asing ini, ternyata belum diterima. Jadi disinilah aku,
hanya ditemani sepiring teriyaki.
Tiga suapan, itu adalah waktu yang dibutuhkan sebelum akhirnya ada salah
seorang dari para pria berdasi yang sedari tadi menatapku memberanikan
diri untuk menghampiri. Nice looking, tapi...Tipe orang cakep yang tahu
bahwa dia cakep dan diperhatikan lalu menjadi terlalu percaya diri.
"Selamat siang," Katanya sopan. "Maaf mengganggu makan siangnya.Tapi
anda mirip sekali dengan salah seorang fotomodel yang terkenal."
"Oh, ya? Siapa?" Tanyaku.
"Uhm, aku tidak tahu namanya. Girl stuff. Tapi aku sering melihat wajahnya
di sampul-sampul majalah dan iklan."
"Terima kasih pujiannya." Jawabku. Suapan keempat.
"Boleh aku duduk disini?" Lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan,
sambil menarik kursi kosong dihadapanku.
Aku tersenyum. "Tidak."
Dia tercengang, aku melanjutkan. "Aku lebih suka sendiri."
Senyum percaya diri yang sedari tadi menghias wajahnya langsung
menghilang. Sepertinya dia begitu yakin akan mendapatkan 'kencan kecil'
denganku. Kau pikir aku semudah itu?
http://penutur.thurana.com/ | 41
"Eh, kalau begitu, ...uh... aku kembali dulu ke meja teman-temanku di
sebelah sana." Katanya. Dia memasukkan kembali kursi lalu dia berjalan
menjauhiku sambil masih membawa piring berisi sushi dan gelas soft drink-
nya.
Sekilas aku melihat teman-temannya sedang mencemoohnya. Men, they are
all alike.
Suapan ke-enam, dan aku makin merasa sendiri diantara keramaian
Japanese fast food restaurant ini.
Aku salah.Ternyata ini adalah dunia yang sama. Hanya kemasannya yang
berbeda.
Aku selalu sendiri.
http://penutur.thurana.com/ | 42
Sari - 13.05
Behind every great man, there's a greater woman.
Ungkapan diatas digunakan untuk menggambarkan betapa dukungan
seorang wanita sangat penting dalam pencapaian sukses seorang pria.
Tetapi bisa juga dilihat dari sudut pandang lain; bahwa setiap pria tidak
lebih daripada 'boneka' yang dikendalikan oleh wanita untuk mencapai
keinginannya. Sama seperti Pak Yus yang semakin hari semakin mudah saja
untuk kukendalikan.
Sepotong kalimat 'Katanya rumah makan X yang dijalan Kemang itu enak
lho, Pak' sebelum makan siang cukup untuk membuatnya mengajakku
makan disana.Tempat yang tidak akan pernah kudatangi jika aku harus
membayar harga makanannya dengan uang dari dalam dompetku sendiri.
Atau kalimat 'udara di rumahku terasa semakin panas saja' cukup untuk
mendatangkan beberapa unit AC termasuk pemasangannya.
Kuncinya mudah saja. Hanya perlu tahu beberapa 'informasi tertentu' yang
tidak boleh sampai ke tangan 'orang tertentu' juga. Sebagai sekretaris
pribadi, itu adalah hal yang tidak terlalu sulit didapatkan.
Semua berawal ketika 'secara tidak sengaja', aku yang waktu itu masih
sekretarisnya Ibu Mala memergoki mereka berdua sedang 'rapat penting'
di ruangan Pak Yus. Beberapa kali makan siang mewah dan sebuah mobil
baru kemudian, posisiku naik menjadi sekretaris Pak Yus. Sementara Ibu
Mala (plus sekretaris Pak Yus yang lama) pensiun.
Hidupku yang tadinya membosankan sekarang berubah total.Aku sudah
menemukan cara untuk menghukum sebagian dari orang-orang yang
mengotori dunia ini. Laki-laki yang tidak bisa setia pada keluarganya. Seperti
Pak Yus, yang meskipun sudah memiliki seorang istri yang cantik dan anak
yang lucu, masih saja sempat meluangkan waktu untuk berbagai kegiatan
ekstrakurikuler diluar jam kantor.
Seperti ayahku, yang meninggalkan aku dan ibuku untuk seorang gadis cantik
dari keluarga kaya.
http://penutur.thurana.com/ | 43
Bisa dibilang bahwa arah perusahaan ini sekarang bisa kugerakkan sesuai
dengan kepentinganku. Karena kalau tidak, istri Pak Yus beserta beberapa
kolega dan keluarganya akan menerima 'dokumen-dokumen penting'
mengenai acara tambahan sang Boss Besar diluar jam kerja yang ditemani
oleh: Ibu Mala, seorang fotomodel cantik yang baru memulai karirnya,
mahasiswi jurusan akhir jurnalisme yang sedang magang, pelayan restoran
cepat saji, aku sendiri, dan beberapa tokoh lainnya yang harus kulihat dulu
didalam catatanku.
Pemerasan? Aku lebih suka kata 'pemanfaatan situasi'. Kata kedua itu lebih
bisa menjelaskan tindakanku selanjutnya. Menyingkirkan mereka-mereka
yang sok baik dan sok suci. Para wanita penggoda yang merasa bahwa
hidup mereka jauh lebih baik dariku.Yang selalu melihat kepadaku dengan
sebelah mata.
Aku berjalan menghampiri Linda.
http://penutur.thurana.com/ | 44
Linda - 13.08
Aku sedang membereskan berkas-berkas yang akan kubawa ke ruang
Terry. Belum sepuluh detik aku duduk setelah kembali dari makan siang
dan telepon di mejaku sudah berdering. Dia minta di-briefing mengenai
segala hal yang kulakukan di majalah ini. Cepat sekali dia beradaptasi di
posisinya sebagai boss.
"Ada rapat nih?"
Oh, God. Sari lagi, Sari lagi.
"Boss baru bergerak dengan sangat cepat rupanya."
"Ada yang bisa kubantu, Sar?"
Dia duduk di sudut mejaku. "Ah, tidak. Hanya kepingin ngobrol saja dengan
rekan kerja." Lalu dia mulai memain-mainkan kepala Snoopy - tutup
ballpoint-ku.
"Wah, aku sedang tidak ada waktu nih untuk bergosip ria." Jawabku sambil
mengambil Snoopy dari tangannya dan meletakkan kembali di tempat yang
seharusnya. Di ujung ballpoint-ku.
Aku langsung membayangkan betapa menyenangkannya kalau bisa
menancapkan ballpoint ini di punggung telapak tangan Sari yang sedang
berada di atas meja menopang tubuhnya.
"Bukan gosip, sayang." Katanya dengan intonasi yang menyebalkan. Khas
Sari. "Aku hanya mau menyatakan dukunganku kepadamu."
Dia berdehem sebentar lalu melanjutkan. "Aku pikir, seharusnya memang
kau yang seharusnya duduk di ruangan itu. Bukan orang baru yang tidak
berpengalaman yang kebetulan ayahnya adalah teman dekat boss. Setelah
semua kerja kerasmu selama ini, kau layak mendapatkannya."
Aku menunggu. Kemana kira-kira arah pembicaraan ini?
"Kalau aku di posisimu, aku pasti akan berusaha merebut jabatan yang
seharusnya milikku itu. Entahlah kalau orang lemah sepertimu, mungkin
kau akan duduk diam seperti anak baik dan menerima semuanya."
http://penutur.thurana.com/ | 45
Sepuluh kali sudah kutancapkan ujung ballpoint itu ke tangannya. Sayangnya
hanya dalam imajinasiku. Kapan aku punya cukup keberanian untuk
melakukan itu?
"Maaf, aku sudah ditunggu." Kataku sambil meninggalkan Sari. Lebih lama
sedikit lagi dan mungkin aku akan betul-betul mewujudkan angan-anganku
yang melibatkan tubuh Snoopy tadi. Plus melemparkan setumpukkan
binder tebal yang ada ditanganku ini kekepalanya.
Koq bisa-bisanya ada manusia hidup semenyebalkan itu? Pasti ada
kesalahan di salah satu bagian sistem seleksi alam. Seharusnya orang-orang
seperti Sari ikut punah bersama para Dinosaurus.
http://penutur.thurana.com/ | 46
Sari - 13.12
Linda berjalan meninggalkanku.Wajahnya terlihat kesal.Aku tersenyum
penuh kemenangan.
Babak pertama cerita sudah dimulai.
http://penutur.thurana.com/ | 47
Terry - 13.35
Linda duduk dihadapanku, sibuk membolak-balik berbagai dokumen yang
dibawanya sambil menjelaskan segala sesuatunya mengenai apa yang selama
ini dilakukannya dalam mengisi rubrik fashion. Kata-kata yang keluar dari
mulutnya mengalir dengan lancar.Terlihat sekali bahwa dia memang tahu
apa yang dibicarakannya.
Kesan pertamaku tidak salah, bahwa Linda adalah memang orang yang
cerdas.
Kenapa aku yang menjadi Senior Editor? Nanti aku akan bertanya kepada
Pakde - uh, Pak Yus mengenai hal tersebut.
Apakah karena dia adalah kenalan Papa? Kalau itu alasannya, aku tidak akan
berpikir panjang untuk mengundurkan diri. Nama Papa cukup dibawa-bawa
sebatas mendapatkan pekerjaan disini. Itupun setelah melalui protes keras
dariku. Kalau lebih jauh lagi, akan menjadi sangat tidak adil untuk Linda.
Aku paling benci yang namanya mendompleng diatas kesuksesan orang
lain. Meskipun itu adalah ayahku sendiri. Semua hasil yang kudapat harus
menjadi buah dari usahaku sendiri.
Sekilas aku sempat mendengar bisik-bisik cewek-cewek di meja reception
bahwa seharusnya posisiku ini adalah milik Linda.Tidak heran bahwa Linda
terlihat tidak suka dengan keberadaanku disini. Reaksi yang normal.
Dengan situasi yang seperti itu, aku juga tidak suka dengan keberadaanku
disini.
"Bu? Ibu Terry?" Linda memanggilku. Menyadarkanku dari lamunan.
"Yes?"
"Apakah ada pertanyaan?"
"Oh, ya. Sorry. Aku sedang memikirkan sesuatu mengenai konsep bagian
kita." Kataku sambil meluruskan dudukku. Berbohong sedikit. "Kalau boleh
tahu, apakah kau punya target yang belum sempat diwujudkan?"
"Ada, Bu." Jawabnya.
http://penutur.thurana.com/ | 48
"Please, cukup Terry saja."
"Terry," Dia terlihat sedikit kikuk setelah mengatakannya. "Aku sedang
berusaha mewawancarai Dina Santoso. Kalau berhasil, nama majalah kita
pasti akan lebih terangkat. Dia adalah salah seorang selebritis yang paling
sulit diwawancarai."
"Dina? Aku kenal dia." Kataku. "Boleh aku bantu?" Mungkin jalan ini akan
lebih mudah dilalui untuk mendapatkan kepercayaannya.
"Tentu saja.Terima kasih banyak sebelumnya, Bu."
"Terry." Kataku menegaskan.
"Terry." Koreksinya.Aku tersenyum.
Sepertinya memang dia akan bisa menjadi sahabat baikku disini. Hanya
perlu usaha sedikit lebih keras.
http://penutur.thurana.com/ | 49
Linda - 13.45
Aku sibuk menjelaskan dan dia sibuk melamun? 'Sopan' betul, ya? Lalu sok
membantu dalam urusan Dina. Siapa yang butuh?
Aku menghempaskan diri ke kursi, menghela nafas. Satu lagi tambahan
orang yang menyebalkan. Sari sekarang mendapat saingan yang cukup
berat.
Tetapi apa yang dikatakan Sari ada betulnya juga. Seharusnya aku yang
duduk di ruangan itu.
... Orang yang lemah!
Aku layak mendapatkan jabatan itu.
... Duduk diam seperti anak baik.
Aku harus melakukan sesuatu.
... Hanya menerima nasib.
Aku harus rebut jabatan itu darinya!
Aku bukan orang lemah.
http://penutur.thurana.com/ | 50