The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search

Cinta Segitaiga Tidak Sama Sisi

Cinta Segitaiga Tidak Sama Sisi

Sari - 17.35
Lihatlah dia. Tuan Putri.
Dijemput oleh mobil dan sopir pribadinya. Uang saku yang didapat dari
ayahnya mungkin dua-tiga kali lipat dari gaji yang didapatnya disini.Atau
mungkin lebih.
Dia tidak perlu bekerja untuk uang. Dia ada disini hanya karena dia perlu
menunjukkan dirinya. Berkoar-koar kepada dunia untuk mendapatkan
perhatian semua orang. Dan dalam satu hari dia sudah mendapatkannya.
Dari para pegawai laki-laki, dari para pegawai perempuan, dari semua
orang. Bertingkah seolah-olah dunia berputar mengelilinginya. Bahkan Pak Yus
yang biasanya hampir tidak pernah kelihatan di kantor, menghabiskan
hampir sepanjang hari bolak balik di depan ruangan sang putri.
Tetapi tidak akan kubiarkan kau merebut Yus dari pelukanku. Dia mangsaku.

http://penutur.thurana.com/ | 51

Steve - 18.09

"Im, gue balik dulu." Kataku kepada Bo'im.

"Mewah amat loe! Dateng paling siang pulang paling pagi." Bo'im
menanggapi dari balik layar komputernya. rekanku yang satu itu memang
paling betah berlama-lama di kantor. Meskipun sepertinya dia lebih sering
main game daripada bekerja.

Aku tertawa sambil memakai jaketku. Sore-sore naik motor tanpa jaket
setara dengan kerokan satu punggung.

"Eh, Steve." Kata Bo'im tiba-tiba. "Gue lupa cerita kalo tadi pagi Deni
telepon. Dia ada proyek di Jakarta dan minta bantuan kita untuk
desainnya."

"Kapan mulainya?"

"Hari ini. Dan gue udah bilang besok loe mau datang ke sono ketemu dia."

"Gila loe. Gue pengen istirahat. Proyek yang kemaren capeknya belon abis
sekarang gue udah disuruh melanglang buana ke Jakarta? Kenapa nggak loe
aja yang pergi?"

"Gue jaga gawang aja. Kalo loe kan bisa sekalian ketemu sama bakal bini.
Asyik kan?"

Aku berpikir sebentar. Membayangkan perjalanan ke Jakarta-nya - apalagi
harus menyetir mobil sendiri, sudah cukup untuk membuat semua tulang
dan otot di tubuhku menjerit-jerit minta ampun.Tetapi membayangkan bisa
ketemu Linda disana juga cukup untuk membungkam mereka semua.

"Baiklah," kataku kemudian. "Besok gue pergi."

Bo'im tertawa-tawa penuh kemenangan.

"Asal semua pengeluaran termasuk bensin dan penginapan ditanggung
kantor."

Dia langsung terdiam.

"Gue mau nginep di Hilton." Kataku sambil keluar ruangan.

http://penutur.thurana.com/ | 52

EMPAT - SENIN, 14 FEBRUARI - LIMA TAHUN SEBELUMNYA

Menuju Bandara
Sydney

Dan untuk sesaat tadi, kalau aku betul
menafsirkannya, sepertinya aku merasa syaraf di
tubuhku bergetar sedikit.

http://penutur.thurana.com/ | 53

Steve - 10.15

Aku berdiri dengan semua barangku di dalam ransel yang kuletakkan di
sebelah kiriku. Sementara itu sang penjaga pintu melambaikan tangan ke
arah Taxi yang ada di seberang jalan. Masih cukup banyak waktu sebelum
keberangkatan pesawatku.Tetapi sesuai saran orang-orang yang sudah
sering bepergian, lebih baik menunggu dengan aman di bandara daripada
bersantai-santai di hotel lalu terpontang-panting di jalan dan ketinggalan
pesawat.

Persis seperti itulah yang kukatakan kepada Bo'im tadi pagi.Tapi yang
namanya playboy kelas teri yang sudah melihat cewek cantik, mana bisa
dibelokkan dari 'misi suci'-nya.Yang diincarnya adalah salah satu anggota
panitia penerimaan tamu asing - mahasiswi asal Canada.

Taxi itu berhenti di depanku. Penjaga pintu membukakan pintunya lalu
memasukkan backpack-ku ke bagasi. Bagian dari culture orang kalangan atas
yang sampai sekarang masih terasa asing. Meskipun demikian, cukup
menyenangkan. Dan aku tidak akan keberatan hal yang seperti ini menjadi
kebiasaan.

"Thank you." Kataku kepadanya. Dia menunggu di sebelah pintu sambil
berdehem.Aku bengong sebentar sebelum akhirnya mengerti. Kuselipkan
beberapa lembar recehan Australia yang ada di kantongku ke tangannya. Ini
juga adalah bagian dari culture orang kalangan atas.Tapi bagian yang tidak
akan pernah menjadi kebiasaanku, atau juga orang Indonesia kebanyakan.

"Airport please." Kataku kepada sopir taxi. Dan kami pun meluncur.

Aku berada selama tiga hari disini dalam rangka menghadiri seminar
mengenai tata kota dan juga sekalian pengumuman lomba desain landscape
kampus University of Sydney. Desain dari biro milikku dan Bo'im adalah
salah satu finalisnya. Meskipun pada akhirnya kami tidak menang, tetapi
yang namanya jalan-jalan selalu menyenangkan.Apalagi karena semuanya
dibiayai oleh uang yang tidak keluar dari kantongku sendiri - sponsor dari
penyelenggara lomba.

Yang paling bersemangat untuk pergi tentu saja Bo'im. Bukan karena lomba
ataupun seminarnya, tapi karena adanya kemungkinan untuk bisa ketemu

http://penutur.thurana.com/ | 54

dengan bule-bule cantik. Dia memang tipe orang yang seperti itu. Dan dia
tidak pernah bisa mengerti kenapa aku tidak pernah sedikitpun menaruh
minat menggaet cewek.

Bukannya aku tidak mau punya pacar sih; tetapi sejauh ini, dari sebegitu
banyaknya wanita yang mendekatiku, belum ada yang bisa membuat
seluruh syaraf ditubuhku bergetar. Seingatku, syarafku pernah bergetar
sekali ketika masih SMA. Sayangnya aku tidak ingat dengan siapa.

Lagipula semua pacar yang dicarikan oleh Bo'im (atas permintaan mamiku
tentu saja) biasanya selalu berakhir menjadi (mantan) pacarnya.

Aku membuka buku panduan mengenai Sydney sambil tersenyum. Masih
banyak tempat yang belum sempat kukunjungi. Kalau tidak memikirkan
banyaknya pekerjaan yang menunggu, aku akan memperpanjang
kunjunganku disini, dan pasti mampir ke Opera House.

Taxi-ku melewati daerah apartment yang banyak disewa oleh para
mahasiwa University of Sydney dari golongan berduit. Hotelku memang
terletak tidak jauh dari kampus.Aku menatap bangunan-bangunan yang
cukup tinggi itu. Biaya sewa per bulannya mungkin lebih besar daripada
gajiku.

Aku kembali ke buku panduan.Taxi berhenti di lampu merah di
perempatan jalan. Pintu sebelah kanan terbuka dan seorang gadis cantik
berambut hitam agak pirang masuk.

"Go, anywhere but here.And hurry!"

Aku terbengong-bengong.

"Um, this is my cab." Kataku padanya. Dia tidak menanggapiku tetapi
malahan menepuk-nepuk punggung sopir taxi.

"Hurry, please!" Ekspresi wajahnya sepertinya menggambarkan gabungan
dari rasa sedih dan marah.

Sang sopir melirik kearahku.Aku melambaikan tangan menyuruhnya jalan.

http://penutur.thurana.com/ | 55

Beberapa detik kemudian, ketika lampu sudah berganti hijau,Taxi-ku
melaju. Sang gadis melihat keluar lewat jendela belakang, dan aku secara
otomatis ikut-ikutan melihat kebelakang. Seorang laki-laki muda berlari
berusaha mengejar. Dia mengenakan t-shirt putih dengan celana pendek
biru tua. Sepertinya keluar dari salah satu bangunan yang ada disitu.

"Miss?" Kataku setelah kami semakin menjauhi laki-laki muda itu. "Sorry but
you have to find another cab.This one is mine."

Dia melihat kearahku dengan mata yang berkaca-kaca. Gosh, itu adalah
wajah yang paling cantik yang pernah kulihat seumur hidupku. Lalu dia
menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Semakin lama semakin
keras.

Aku bingung harus berbuat apa. Kalau kuturunkan disini, itu kejam
namanya. Kalau kulanjutkan perjalanan ke bandara, lalu bagaimana dengan
dia? Biarkan saja menangis di taxi, limpahkan masalah pada sang sopir?
Jangan-jangan nanti terjadi sesuatu.

"Look," Kataku akhirnya. "Where do you want to go? I'll take you there, OK?"

Tangisnya mulai mereda dan dia menyeka air matanya menggunakan lengan
bajunya.Aku baru memperhatikan bahwa dia membawa sebuah kotak kecil
yang dibungkus kertas kado.

"Sorry. Just drop me anywhere." Dia menatapku, matanya masih merah
setelah menangis. "Sorry for troubling you."

Aku memberi isyarat pada sang sopir.Taxi menepi dan si pemilik wajah
cantik membuka pintu lalu keluar.

"Are you sure you're OK?" Tanyaku.

"No." Jawabnya. "But I'll live."

Aku menutup pintu dan taxi kembali berjalan. Kulirik jam tanganku. 10.26.
Masih cukup banyak waktu sampai keberangkatan pesawatku tengah hari
nanti.Aku menengok keluar lewat jendela belakang. Sosok gadis cantik
yang beberapa menit lalu masih duduk disebelahku semakin menjauh.

http://penutur.thurana.com/ | 56

Sebuah kotak kecil berbungkus kado tergeletak disampingku.
Jangan ikut campur urusan orang!
Lihat jam tangan.
Masih cukup waktu.
Lihat jendela belakang.
Well...?
Jam tangan. Jendela belakang. Jam tangan. Jendela belakang. Jarum detiknya
terus bergerak; dari angka 5 - detik demi detik - 6 - detik demi detik - 7 -
detik demi detik ...
Ah, what the h-
"Stop the car, please." Kataku pada si sopir.Aku membayar lalu turun dari
taxi.Aku mengambil backpack di bagasi dan berlari mengejar si gadis.
Impulsive. Really not me.
Tapi tidak setiap hari ada gadis secantik itu yang secara tiba-tiba muncul
dihadapanmu. Dan untuk sesaat tadi, kalau aku betul menafsirkannya,
sepertinya aku merasa syaraf di tubuhku bergetar sedikit.

http://penutur.thurana.com/ | 57

Echa - 10.31

"Miss... Miss..." Seseorang memanggilku.Aku menoleh. The taxi guy. Cowok
yang lumayan tinggi, berkemeja biru muda, celana jeans, sepatu kets, dan
ransel hitam tergantung di bahu kiri. Dia berjalan agak cepat menuju ke
arahku.

"You forget something." Tangan kanannya mengacung-acungkan kotak kecil
yang tadi kubawa. Yang sengaja kutinggalkan di taxi. Sepertinya aku memang
tidak bisa melarikan diri dari Alex.

"Miss?" Dia masih harus memanggilku sekali lagi sebelum aku dengan
malasnya berbalik. "You forgot this." Katanya sekali lagi sambil terengah-
engah dan menyodorkan kotak kecil itu.

"You can have it." Kataku sambil melanjutkan langkahku menjauhi dia. Laki-
laki itu tertegun sebentar.

"Hey, what do you mean?" Kembali dia mengejarku.

"That is the part of the past that I want to forget."

"What? I don't understand..."

"You don't have to understand. Just take it and leave O.K?" Aku menjawabnya
dengan sedikit kesal.

Dia terdiam, berhenti mengikutiku. Dan tiba-tiba aku merasa menyesal.
Laki-laki ini hanya mencoba berbuat baik. Dia tidak tahu apa-apa. Dia
bahkan sudah membantuku pergi menjauhi Alex - the pig, dan membayar
biaya taxi. Dan sekarang aku membentaknya.

Minta maaf, Cha!

Aku berbalik dan melihat dia sudah berjalan ke arah yang berlawanan.

"Excuse me, um, Sir? Look, I'm sorry." Aku berlari kecil mengejarnya.

http://penutur.thurana.com/ | 58

Steve - 10.47

It's a small world.

Disinilah aku duduk di salah satu cafe kecil di tepi jalan di Sydney, satu
seperempat jam sebelum keberangkatan pesawatku kembali ke Indonesia.
Hanya ada lima meja kecil bulat yang bertudungkan payung besar
berwarna-warni. Masing-masing meja memiliki empat bangku, dan hanya
dua meja yang terisi.

Dihadapanku duduk seorang cewek yang walaupun berambut agak pirang
dan berbicara amat fasih dalam bahasa Inggris, ternyata adalah setengah
orang Indonesia juga.Ayahnya orang Indonesia, ibunya orang Australia -
sudah meninggal tujuh tahun yang lalu.

Jauh-jauh aku ke sini, ketemu-ketemunya dengan orang Indonesia lagi.

Berawal dari permintaan maaf karena sudah memperlakukanku dengan
kurang sopan, begitu katanya, pembicaraan berpindah dari sidewalk ke cafe
dan berlanjut dengan saling memperkenalkan diri lalu small talk.

Yang sudah kuketahui sejauh ini adalah namanya Echa - setidaknya
begitulah dia ingin dipanggil, dia adalah seorang mahasiswi tingkat akhir
University of Sydney jurusan seni, dan dia baru saja meninggalkan pacarnya
yang tertangkap basah sedang making love dengan teman sekamarnya, di
apartemen miliknya.

"Aku bolos kuliah hari ini, supaya bisa membelikan hadiah untuknya. You
know, for the Valentine's dinner tonight. Dan ketika pulang ke apartemenku,
pemandangan pertama ketika membuka pintu kamarku adalah my
boyfriend's humping my roomate."

Aku tidak berkomentar. Lagipula, apa yang bisa dikomentari untuk cerita
seperti itu? 'Wah, selamat ya?' Atau 'Cari saja teman sekamar baru'? Untuk
situasi seperti ini, diam adalah memang betul emas.

Lagipula aku tidak punya terlalu banyak kesempatan untuk berkomentar.
Seluruh waktu yang kupunya tersedot untuk memperhatikan segala
sesuatu tentang dirinya. Makin lama diperhatikan dia semakin cantik saja.
Caranya berbicara, caranya duduk, gerak geriknya, bagaimana dia

http://penutur.thurana.com/ | 59

merapikan beberapa helai rambutnya yang jatuh menutupi wajahnya, semua
terlihat begitu indah.

Sudah dikonfirmasi. Memang betul, seluruh syarafku terasa bergetar dengan
hebat.

"Sorry," Katanya. "Aku membuatmu duduk mendengarkan ocehanku
sepanjang hari."

"It's OK." Jawabku. "Aku senang mendengarkan ocehanmu."

"Thank you, for being a good listener." Dia tersenyum. Such a beautiful smile.
"Hatiku terasa lebih lega dan tenang setelah bercerita kepadamu."

Aku masih tidak bisa melepaskan pandanganku dari dia. Pasti cowok yang
baru ditinggalkannya adalah tipe laki-laki yang mentalnya terbelakang,
extremely stupid dan bahkan mungkin imbisil karena mengkhianati cewek
sesempurna ini.

"Funny isn't it?" Katanya kemudian. "Kita baru bertemu tidak lebih dari,
what? Two hours? Dan sekarang aku disini menceritakan segala macam hal
kepadamu. Sama sekali tidak seperti diriku. Padahal aku baru saja
kehilangan - koreksi - meninggalkan kekasihku.Tetapi sepertinya semua
kesedihan dan kemarahanku menguap dihadapanmu. Kau seperti sahabat
yang sudah kukenal bertahun-tahun."

Aku tersenyum.

"Padahal aku bertemu denganmu out of the blue. Aku bisa saja naik taksi
kosong atau bus atau bersembunyi di restoran atau ketemu dengan orang
lain.Ada berapa banyak orang di depan apartemenku tadi.Tapi dari semua
kemungkinan yang mungkin terjadi, aku bertemu denganmu. Mungkin ini
yang namanya, um, fate?" Dia menyerocos tanpa henti.

"Sepertinya begitu. It's our destiny to meet.Aku bisa saja berangkat sedikit
lebih siang atau lebih pagi, tetapi tidak.Aku memilih waktu yang paling
tepat supaya kau bisa 'membajak' taxi-ku."

Kami tertawa.

http://penutur.thurana.com/ | 60

"And from all of the beautiful Australian girl, yang kutemui adalah Indonesian."

Tertawa lagi.

"By the way, kau tadi dalam perjalanan ke mana?" Tanyanya.

"Airport.Aku mau kembali ke Indonesia." Meskipun sekarang niat itu
semakin menipis. Aku ingin lebih lama lagi bersama dengan gadis yang baru
kukenal kurang dari dua jam ini.

"Penerbangan jam berapa?"

"11.50"

Dia melihat jam tangannya lalu berkata, "Berarti kau punya waktu kurang
dari duapuluh menit untuk sampai disitu."

"Jam berapa sekarang?" Tanyaku sedikit panik sambil melirik juga ke jam
tanganku.

Dia tidak menjawab karena aku sudah mendapatkan jawabanku. Setengah
duabelas siang lewat sedikit. Menakjubkan sekali bagaimana waktu bisa
terbang lebih cepat dari pesawat jet ketika kita sedang menikmatinya.

"God, I have to go!" Aku menghabiskan isi gelasku dengan tergesa-gesa lalu
berdiri dan mengambil ransel yang tergeletak di bangku sebelahku. "It's nice
to meet you."

"Me too." Katanya.

Tiga langkah berikutnya dia memanggil. "Steve!" Aku menoleh. "Ini
untukmu," katanya sambil melemparkan bungkusan kecil yang seharusnya
adalah kado makan malam Valentine untuk mantan cowoknya. "Consider it
as my saying sorry."

"Thanks." Kataku sambil menangkap kotak itu. Lalu menyetop taxi.

"Airport, and A.S.A.P." Aku menepuk pundak sang sopir.

Taxi pun melaju meninggalkan cinta pertamaku disitu.

Cinta pertama? Sok romantis banget sih.Aku terkekeh-kekeh didalam hati.

http://penutur.thurana.com/ | 61

Tetapi aku memang langsung suka kepadanya. Mungkin nanti seiring dengan
lebih seringnya kami bertemu, rasa cinta itu akan muncul dan berkembang.
Aku membuka bungkusan yang kuterima darinya. Jam tangan. Dari
bentuknya sepertinya bukan jam tangan murah. Nanti, kali berikutnya
bertemu, aku harus berterima kasih kepadanya.
Sebentar... Nanti? ... Bertemu?
Bagaimana cara aku bisa bertemu lagi dengannya? Aku tidak tahu apapun
mengenai dia selain nama panggilannya.
Jendela belakang. Jam tangan. Jendela belakang. Jam tangan.
Aku tidak akan bisa mencapai bandara tepat waktu jika kembali kepadanya.
Bo'im sudah pasti akan membunuhku jika aku terlambat.Aku harus pulang hari
ini. Pesawatku berangkat sekitar sepuluh menit lagi.
Sepersekian detik kemudian, setelah berpikir ekstra keras, aku berkata
pada sopir itu. "Turn the car, please."

http://penutur.thurana.com/ | 62

Echa - 11.37
Sekarang kemana? Pulang ke apartment?
Dan ketemu dua manusia busuk itu? No thank you.
Aku melihat ke gedung tinggi dibelakangku dan mengambil keputusan.Akan
kulakukan yang paling menyenangkan untuk menghilangkan kesedihan.
Shopping!
Jika saja Steve masih disini. Mungkin lebih menyenangkan lagi jika kami
berjalan-jalan berdua.
Entah kenapa pertemuan singkat tadi cukup untuk membuatku suka
padanya.Ada rasa gelitik kecil di seluruh tubuhku sepanjang pembicaraanku
dengannya. Is it love?
Tetapi tadi adalah kejadian yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup.
Aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Pemikiran tadi
mendadak menimbulkan sakit yang menekan dadaku. Rasa sakit yang juga
menguasai seluruh tubuhku. Hampir seperti perasaan ketika kita akan
selamanya kehilangan seseorang yang begitu berarti.
Kenapa ini? Aku merasa seperti ini untuk orang yang hampir tidak kukenal?
Aku mencoba menenangkan hati lalu melangkahkan kaki masuk ke gedung
pertokoan itu.
Aku menghibur diri dengan berpikir bahwa jika memang sudah ditakdirkan
untuk bersama, suatu hari nanti kami akan ketemu lagi.Apa ya nama yang
diberikan oleh orang-orang kepada hal-hal yang beginian? Fate? Destiny?
Aku tersenyum sendiri.Terlalu melankolis.
Sekarang shopping!

http://penutur.thurana.com/ | 63

Steve - 11.39
Kosong.
Waiter yang kutanya hanya menjawab bahwa gadis yang tadi kuajak
berbicara baru saja pergi, tetapi tidak tahu kemana.
Aku meninggalkan cafe itu, masuk kembali ke taxi lalu kembali menuju
bandara.
Sudahlah, Steve. Bukan jodohmu.
Aku memang paling pandai dalam urusan menghibur diri.
Tetapi semakin kupikirkan, dadaku semakin terasa sakit menghadapi
kemungkinan bahwa aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan Echa. Aku
mengawang-awang cukup lama sebelum kembali ke dunia. Sementara Taxi
ku melaju cepat di jalan bebas hambatan.
Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara menghadapi Bo'im. Karena
sudah bisa dipastikan bahwa aku akan terlambat sampai di bandara.

http://penutur.thurana.com/ | 64

Steve - 11.57

Aku berlari terengah-engah. Kenapa sepertinya seluruh dunia
bersekongkol untuk memperlambat kita justru pada saat kita terburu-
buru? Mulai dari traffic light yang sepertinya selalu menyala merah,
pengalihan arus karena perbaikan jalan, rombongan panjang anak-anak TK
yang menyeberang jalan, sampai tasku yang sempat-sempatnya tersangkut
di bagasi taksi.

Vonis sudah dijatuhkan. Bo'im akan membunuhku. Setidaknya setelah kami
ketemu di Indonesia nanti. Soalnya aku sudah pasti ketinggalan pesawat.

Mataku melihat Bo'im berdiri di dekat pintu keberangkatan. Dia belum
berangkat? Apakah dia membatalkan keberangakatannya karena
menungguku? Perasaanku semakin tidak enak. Sepertinya jadwal eksekusi
kematianku baru saja dimajukan ke saat ini.

Bo'im tersenyum sinis. Dan ketika aku berhenti berlari dihadapannya, dia
berkata, "Dari mana loe? Marah-marah dan maksa-maksa gue pergi pagi-
pagi, loe sendiri melanglang buana entah kemana. Gue harus meninggalkan
Canadian cutie itu di lobby hanya supaya bisa sampai lebih cepat di sini.
Ternyata loe sendiri yang telat."

"Pesawatnya?" Tanyaku cepat-cepat sambil berusaha memasukkan sebanyak
mungkin oksigen ke paru-paruku.

"Keberangkatan ditunda satu jam." Katanya.“…maskapai Indonesia…”
Gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri.

Aku menghela nafas. Sebagian karena lega, sebagian karena menyesal. Jika
tahu aku masih punya satu jam, pasti aku masih akan duduk bersama Echa.

Saat itu aku membulatkan hatiku untuk kembali lagi kesini. Sesering yang
diperlukan.Aku akan mencari dan menemukan Echa kembali.

Aku menghempaskan tubuhku di kursi tunggu, mata mengawang. Otak
memainkan kembali semua kejadian tadi, in slow motion.Tidak ingin
kehilangan sedetikpun. Ingin menikmati setiap moment-nya.

"Kenapa, loe? Kayak orang yang lagi dalam pengaruh obat penenang aja."

http://penutur.thurana.com/ | 65

Bo'im menatapku, aku balik menatapnya sambil terseyum kecil. "Loe nggak
bakalan percaya apa yang barusan terjadi di jalan."
Dia duduk disebelahku, mengambil posisi yang nyaman, lalu berkata, "OK,
silakan cerita. Gue punya waktu lowong sekitar satu jam-an"

http://penutur.thurana.com/ | 66

LIMA - SELASA, 22 MARET

Jakarta Blues

Dia adalah bagian dari masa lalu yang memang
sudah seharusnya dibiarkan di masa lalu.

http://penutur.thurana.com/ | 67

Linda - 10.07

Aku mempersiapkan tas ku. Memasukkan buku catatan, ballpoint Snoopy,
mini tape recorder, kamera digital, make up, ...Apa lagi ya?

"Pagi-pagi mau kemana nih, Assistant Editor kita?"

Sari.

Aku selalu heran bagaimana dia bisa selalu begitu segar setiap pagi. Padahal
sebelumnya selalu bergentayangan di jembatan Ancol sepanjang malam.

"Biasa, liputan." Tidak usah berpanjang-panjang kalau urusannya dengan
Sari.

"Senang, ya. Jabatan naik, pekerjaan berkurang, atasan rajin..." Menusuk,
dalam, langsung ke jantung.

Aku meninggalkan Sari tanpa berkata apa-apa. Sedikit lirikan kearahnya
membuatku melihat senyumnya.

Darn, I hate her.

Tetapi sekali lagi aku harus mengakui bahwa apa yang disindirkannya
memang benar. Bisa dibilang jabatanku turun karena semua inisiatif untuk
pekerjaan yang biasanya kukerjakan sendiri sekarang diambil alih.Tanpa
adanya tambahan staff sementara bagian fashion sekarang berdiri sendiri,
otomatis juga pekerjaanku akan berlipat kali.Apalagi dengan adanya sang
boss yang hobinya hanya menyuruh.

Seperti tadi pagi. Belum sepuluh menit aku sampai di kantor, Ibu Terry yang
terhormat sudah memanggil ke ruangannya. Padahal aku datang kepagian.
Jadi jam berapa dia datang? Mungkin memang seperti itulah tipe orang
yang tidak punya kehidupan. Anyway, dia langsung menodongku dengan
sebuah liputan luar; pembukaan butik baru milik Lula Darmanto - salah
seorang perancang busana tradisional dan kebaya yang baru naik daun. Dia
diramalkan akan menjadi salah satu nama penting di dunia fashion
Indonesia.

http://penutur.thurana.com/ | 68

Acara ini memang sudah menjadi salah satu agendaku sih, dan disuruh
ataupun tidak aku memang sudah berencana pergi ke sana hari ini.Tetapi
adanya orang yang menyuruhku malahan membuat semuanya jadi
menyebalkan.

Aku berjalan melewati meja-meja para editor lain, mereka juga sudah sibuk
dengan tugas masing-masing Beberapa juga sudah mulai meluncur ke
tempat-tempat sumber berita lainnya. Keluar dari ruangan para editor,
sebelum sampai di lorong lift, aku melewati ruang tunggu sekaligus tempat
mangkal para receptionist. Mereka itu adalah sekumpulan cewek anggota
geng baweler bin rumpier. Selalu ada dua orang yang standby disitu.

Dan seperti dugaanku, Endah - salah satu dari mereka, dengan serta merta
memanggil.Tentu saja dengan logat centil khas geng-nya. "Mbak Li-in, Pagi-
pagi udah mau jalan? Rajin amat. Ngobrol dulu dong sebentar."

Mereka sebetulnya menyenangkan, kalau sedang tidak banyak kerjaan. Ada
saja 'hot topik' minggu ini yang bisa membuat dua-tiga jam ngobrol
melintas bagai shinkansen.Tapi kalau sedang dikejar-kejar deadline,
keberadaan mereka amat mengganggu.Terutama karena mereka kurang
kenal dengan konsep yang bernama waktu, dan tidak mengerti sindiran
halus pengusiran.

"Wah, aku harus buru-buru nih." Jawabku. "Acaranya mulai jam 11."

"Santai, Mbak. Sekarang baru jam sepuluh lewat seperempat."

"Aku takut macet nih. Daripada telat nggak dapet berita, lebih baik
berangkat agak pagi." Kataku sambil melambaikan tangan kearah mereka
dan melangkah keluar ruangan.

"Sebentar, Mbak Lin." Endah mengejarku.Tapi aku tidak berhenti, hanya
memperlambat sedikit langkahku.

"Kenapa, Ndah?" Aku berhenti di depan lift, menekan tombol 'bawah'.
Endah dengan cepat sudah berdiri dihadapanku.

"Um, kalau bisa," Endah berhenti sebentar. "Kalau bisa, lho." Dia berhenti
lagi. "Aku dan Nunuk dan beberapa teman-teman lain kepingin ketemu
dengan boss Mbak yang baru."

http://penutur.thurana.com/ | 69

Ternyata urusan dengan orang menyebalkan itu.
"Kami kepingin minta tanda tangan dan foto bareng." Endah melanjutkan
tanpa menunggu jawabanku.
"Kalau mau ketemu sih langsung aja. Kenapa harus minta ijin aku dulu?"
"Mbak Sari bilang, kalau mau ketemu boss harus lewat pesuruhnya dulu..."
Katanya dengan mimik polos tanpa rasa bersalah.
Pesuruh?! Sekarang aku jadi pesuruhnya?
Dan sementara darahku sudah mulai menggelegak di kepala, Endah -
dengan segala keterbatasan kemampuannya untuk membaca situasi,
melanjutkan, "Jadi tolong bikinkan kami janji ya, Mbak? Meskipun nggak
banyak orang Indonesia yang tahu betapa terkenalnya boss Mbak, tapi
kami-kami ini cukup gaul, lho. Kami juga mengikuti perkembangan mode
dunia."
Tubuhku sudah memasuki ambang batas dehidrasi karena hampir semua
cairan tubuh sudah menguap lewat kepala. Sementara itu otakku sedang
sibuk mematangkan rencana pembunuhan Sari.
"Makasih ya, Mbak? Tolong kabari kita-kita kalau boss-nya Mbak sudah ada
waktu."
Dan Endah pun berlari-lari kecil dengan ceria a'la anak TK kembali ke balik
mejanya.Yang kurang hanya taman bunga dan seikat balon ditangannya.
Ding! Pintu lift terbuka.

http://penutur.thurana.com/ | 70

Terry - 10.19

Aku melirik sebentar keluar jendela ke arah ruangan para editor, meja
Linda sudah kosong.Aku lupa memberitahukannya sesuatu. Kasihan dia
kalau sampai tidak tahu.Aku cepat-cepat mengeluarkan handphone dari
dalam tas dan ber-jempol-ria selama beberapa detik. Lalu send.

Sekarang apa lagi yang belum, ya? Berpikir sebentar.

Tentu saja, kenapa aku bisa lupa? Hal yang ini juga jangan sampai
terlewatkan. Maka aku mengambil gagang telepon dan menekan beberapa
nomer lalu berbicara dengan orang yang di ujung sana.

Nah, satu lagi urusan selesai.Apa lagi?

Sepertinya hari ini penuh sekali.

Aku sedang membereskan susunan materi rapat diatas meja ketika telepon
berbunyi. Internal phone.

"Bu, sudah ditunggu di ruang rapat." Kata suara wanita yang ujung sana.
Sepertinya Sari.

"Aku akan kesitu sebentar lagi." Jawabku dengan sedikit bingung. Bukankah
jadwalnya jam 10.30? Tapi tidak ada waktu untuk memikirkan itu.

Dengan cepat aku menutup MacBook Air-ku, dan memasukkannya ke tas
jinjing. Semua materi presentasiku ada disitu. Lalu aku mengumpulkan dan
memasukkan semua kertas-kertas dan bahan lainnya kedalam map plastik
berwarna biru muda - my favorite color.Aku berdiri dengan cepat dan
berjalan keluar dari ruanganku menuju ke ruang rapat.

Sebentar, ruang rapatnya dimana?

Aku bertanya pada salah satu editor yang ada diruangan itu.Aku belum
tahu namanya. "Maaf, kalau ruang rapat ada dimana, ya?"

Laki-laki itu memalingkan wajahnya dari depan komputer, lalu menatapku
tanpa berkedip dengan mulut yang setengah menganga.Tangannya
perlahan-lahan menunjuk ke arah lorong keluar.

http://penutur.thurana.com/ | 71

Men. I really hate it when they look at me like that.
Aku berjalan ke arah yang ditunjukkan laki-laki tadi.Tidak bisa tidak aku
melihat bahwa sepanjang jalan semua mata yang ada di ruangan mengikuti
aku.
Hari kedua dan aku sudah merasa kurang nyaman. Mungkin bukan ide yang
buruk untuk minta pindah ruangan. Tapi kemana?
Aku menyesal kenapa tidak memutuskan untuk ikut saja dengan Linda
keluar. Setidaknya bersama dia aku bisa lebih nyaman. I can be myself.
Nama ruangan itu terulis jelas di papan kecil yang menempel di pintu.
Meeting Room 3. Semuanya ada empat. Meskipun aku sudah beberapa kali
bolak-balik di lorong ini sejak kemarin, aku tidak pernah tahu bahwa ini
adalah ruang rapat.
Aku mengetuk pintunya, membukanya, lalu masuk.

http://penutur.thurana.com/ | 72

Linda - 10.25

Aku sedang menunggu taksi di Lobby ketika tas kerjaku yang kukempit
diantara tangan kiri dan tulang rusuk terasa bergetar beberapa kali. Pendek.
SMS dari siapa, ya?

Aku meneluarkan handphone dari dalam tas, menekan tombol di sisi kiri
engsel untuk membuka flip-nya, dan membaca nama yang tertulis disitu;
Terry.

Now what?

"Tidak usah naik taksi, pakai saja mobilku. Sopirku menunggu di lobby,
namanya Pak Rahman." Begitu bunyi pesan singkatnya.

Siapa yang mau naik mobilmu? Siapa yang mau pakai sopirmu?

Aku menutup handphone dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Mana
taksi-nya?

"Ibu Linda?" Seorang bapak-bapak yang sudah agak tua menghampiriku.
"Saya Rahman, sopirnya Ibu Theressa."

Tatapan kebingungan dariku dijawabnya dengan penjelasan singkat. "Ibu
Theressa sudah menjelaskan ciri-ciri ibu: muda, berambut lurus panjang,
memakai blazer coklat tua, cantik.Tidak mungkin salah, pasti ibu."

"Oh," jawabku. Sedikit salah tingkah setelah dibilang cantik. "Maaf, pak.
Sepertinya saya tidak perlu naik mobilnya Ibu Theressa, saya sudah
memesan taksi."

Dia tersenyum. "Baiklah kalau begitu." Dan bapak yang agak tua itu
berjalan ke luar gedung dan masuk ke mobil mewah yang diparkir tidak
jauh dari pintu masuk. Jaguar hitam. Dia dan mobilnya menghilang tidak
lama kemudian. Sepertinya kembali ke tempat parkir.

Ada sedikit rasa menyesal kenapa tidak kuterima saja tawarannya. Kondisi
yang jauh lebih baik dan menyenangkan daripada taksi murah tanpa AC
ditengah kemacetan jalan.

http://penutur.thurana.com/ | 73

Tetapi kalau begitu, mau ditaruh dimana harga diriku. Pantang hukumnya
menerima bantuan dari musuh.
Aku melihat keluar. Sepertinya cuaca sedang mulai panas-panasnya.
Makan tuh harga diri!

http://penutur.thurana.com/ | 74

Terry - 10.31

Aku duduk diantara para Senior Editor dan petinggi lainnya.Ada kira-kira
beberapa belas orang disitu.

Dengan stereotype orang Indonesia yang hobi banget terlambat, mereka ini
bisa digolongkan kelompok orang yang kelewat rajin. Jadwal meeting jam
10.30 tetapi mereka sudah mulai ketika aku masuk sepuluh menit yang
lalu.

Dan setelah Pak Wayan dari divisi Art and Design selesai menjelaskan
mengenai beberapa ide untuk lay-out baru majalah edisi pasca ulang tahun
nanti, Pak Yus memanggilku, "Ibu Theresa, sekarang giliranmu untuk
menjelaskan mengenai rencana isi fashion section. Bagian khusus yang baru
dari majalah kita."

Aku berdiri dan mengucapkan selamat pagi. Mata para lelaki itu...

"Seharusnya kau giliran pertama, Ibu Terry." Kata Pak Yus. "Tetapi mungkin
kau mencoba terlalu keras untuk jadi orang Indonesia sejati sampai datang
paling terlambat."

Semua tertawa.Aku ikut tersenyum meskipun agak sedikit tidak mengerti.

"Maaf, saya tidak tahu bahwa disini ada kebiasaan untuk memulai rapat
lebih cepat." Aku menjawab. "Menurut jadwal, saya kira malahan saya
datang sepuluh menit lebih awal."

Semuanya saling berpandangan. Ibu Melia - kalau tidak salah itulah
namanya, Senior Editor untuk bagian human interest - berkata, "Apa
maksudnya? Kita selalu mulai rapat jam 10 tepat. Kau datang hampir
setengah jam terlambat."

Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Kubuka agendaku, disitu
tertulis 10.30 dengan jelas. Sari yang memberitahukanku kemarin.

Sari.

Aku meliriknya. Dia duduk disebelah Pak Yus, sibuk membuat catatan. Dia
juga melirik sekilas kearahku sambil tersenyum.

http://penutur.thurana.com/ | 75

"Wah, maaf kalau begitu." Aku berkata kepada semua orang disitu. "Pasti
ada kesalahan pada jadwal saya. Disini tertulis setengah sebelas. Saya akan
langsung meng-update-nya dan memastikan bahwa hal seperti ini tidak
akan terjadi lagi."
Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati. Lautan ini tidak setenang yang
terlihat di permukaannya.
"Baiklah, cukup dengan penundaannya. Mari kita mulai saja." Kataku sambil
membuka MacBook Air-ku dan menghubungkankannya ke proyektor.

http://penutur.thurana.com/ | 76

Linda - 13.54

Hal yang aneh terjadi hari ini. Setelah segala penderitaanku tadi pagi, mulai
dari berangkat dari kantor, berpanas-panas di jalan, kemacetan yang
sepertinya tidak akan pernah berakhir, nyaris ditodong di lampu merah,
tiba di tempat dengan keterlambatan yang hampir setengah jam; semuanya
langsung berubah seratus delapan puluh derajat.

Acara tertunda sekitar setengah jam, seolah-olah menungguku tiba.
Penyambutan kedatanganku oleh panitia secara khusus. Pemberian tempat
duduk istimewa diantara para undangan. Dan, ini yang paling aneh,
pemberian kesempatan pertama untuk mengajukan beberapa pertanyaan.
Bertanya langsung pada Lula-nya sendiri!

Plus makan siang semeja dengan Lula dan orang-orang penting lainnya.

"So, bagaimana kabar Vanity sekarang?" Lula bertanya. Kepadaku pastinya.
Soalnya setelah menengok kiri kanan sedikit, tidak ada tanda-tanda orang
lain yang berasal dari kantorku. Selain itu, semua sedang memperhatikanku
diantara suapan-suapan menu makanan tradisional Indonesia yang tersaji di
meja.

"Well," jawabku. "Yang pasti sekarang kami punya bagian khusus yang
menangani Fashion."

"Ya, aku sudah dengar itu." Jawab Lula.

Bagaimana mungkin sudah dengar? Itu kan keputusan yang baru dibuat
kemarin.

"Terry meneleponku tadi pagi." Lanjut Lula seolah-olah bisa membaca jalan
pikiranku. "Ternyata dia sekarang jadi senior editor disana, ya? Aku harus
memintanya menjadi modelku kapan-kapan."

Ternyata ulah Terry. Jangan-jangan semua fasillitas yang kuterima saat ini juga
karena dia? Kenapa mendadak semua makanan ini jadi terasa tidak enak?

"Maksudmu Terry yang itu?" Seseorang di meja menanggapi.

"Terry yang Lamusa?" Orang lain menanggapi.

http://penutur.thurana.com/ | 77

"Bukannya dia ada di London?" Yang lain lagi bertanya.
Maka sibuklah satu meja berdiskusi mengenai 'bossku'. Mengenai betapa
baik hatinya dia, mengenai betapa pandainya dia, mengenai betapa jarangnya
ada orang yang bisa cantik sekaligus pintar, mengenai kenapa dia masih
sendiri sampai sekarang...
"Kudengar dia memang tidak mau menikah." Komentar yang satu.
"Bukannya tidak mau, setahuku dia masih mencari cinta sejatinya."
Komentar yang lain.
"Apa maksudnya dengan cinta sejatinya?" Ada yang bertanya.
"Entahlah, aku juga tidak terlalu tahu ceritanya." Jawab yang lain. "Tetapi
ada yang bilang bahwa dia hanya pernah betul-betul jatuh cinta pada
seorang cowok yang hanya pernah ketemu dengannya satu kali.Terry
sendiri juga hanya tahu namanya."
"Kata gosip, mereka ketemunya pas Valentine, lho!"
"Wah, romantis sekali. Seperti di film-film..."
Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya...
Jika saja aku tahu betapa pentingnya pembicaraan itu untuk hidupku,
mungkin aku akan lebih memilih mendengarkan daripada sibuk dengan
potongan rendang yang ada di piring dihadapanku.

http://penutur.thurana.com/ | 78

Terry - 14.09

Rapat yang melelahkan. Mempersiapkan edisi ulang tahun dan perencanaan
edisi pasca ulang tahun memang menguras tenaga. Begitu banyak
pendapat, begitu banyak pertentangan. Semua ingin ide mereka yang
diperhatikan.

Ada dua orang diruangan itu yang kuperhatikan bekerja dengan sangat baik
dan tidak ikut-ikutan berargumen.Yang pertama adalah aku, tentu saja.
Mana pantas orang yang baru masuk satu hari sudah ikut-ikutan ribut.
Lagipula tidak banyak yang mempermasalahkan ide dan rencanaku.Yang
kedua, dan ini yang aneh, adalah Sari.

Sari; yang oleh anak kemarin sore-pun bisa langsung kelihatan bahwa dia
bukanlah sahabat baik semua orang, tipe orang yang dengan segala
keyakinan dan kepastian akan menghancurkan siapapun yang ada
dihadapannya; sungguh suatu pemandangan yang aneh menyaksikan orang
seperti itu sedang bekerja dengan baik.

Atau mungkin semua itu hanyalah prasangkaku saja? Mungkin Sari
sebetulnya adalah orang yang baik, hanya aku saja yang kebetulan bertemu
dengannya pada saat-saat yang kurang tepat?

Kemungkinan tersebut memang ada, tetapi sejauh ini kemampuanku untuk
menilai karakter orang-orang yang kutemui hampir selalu tepat. Kuharap
kali ini aku salah.Aku akan mencari tahu lebih banyak mengenai Sari nanti.
Mungkin bertanya-tanya sedikit kepada Pakde.

Tetapi itu urusan nanti. Sekarang urusannya adalah mencari makan siang.
I'm so hungry that I can eat a horse.

Or an elephant, ... if I don't have to think about my appearance.

Tapi satu hal yang pasti adalah bahwa aku akan makan sendiri dan tidak
bergabung dengan para senior editor.Apalagi yang laki-laki. They are so
hungry that they can eat me!

http://penutur.thurana.com/ | 79

Steve - 17.15

Bayangkan betapa terkejutnya Linda jika dia melihatku berada di ruang
tunggu nanti, menunggunya, menjemputnya.Apalagi setelah 'berpuasa'
selama dua weekend, bisa habis aku dilahapnya.

Hehehe. Aku juga akan melahapnya habis.

Seharusnya aku sudah bisa datang kesini ketika makan siang, tetapi
pertemuan pagi yang direncanakan akan singkat dengan Deni dan klien-nya
ternyata memanjang menjadi berkali-kali lipat singkat dan baru berakhir
jam empat.Tanpa makan siang pula. Betul-betul klien yang pelit. Kalau tidak
memikirkan nilai proyek yang lumayan, aku sudah akan melarikan diri dari
pagi. Kasihan sekali lambungku yang tidak kunjung diisi.

Jadi aku memutuskan untuk sekalian saja makan siang yang agak sore di
gedung Linda. Burger, fries, coke.Tidak sehat, tetapi tidak ada yang lebih
praktis daripada itu. Dan setelah selesai langsung melesat menuju lantai
sebelas.Tidak sabar untuk memberi kejutan.

Sengaja tidak kuberitahukan kedatanganku ke Jakarta ini. Namanya juga
kejutan.Aku juga menyimpan potongan rencana besar terakhir untuk
nanti. Setelah makan malam - romantis tentu saja, aku akan membuka
kotak kecil yang sudah seharian menghuni kantong jaketku ini lalu
memintanya untuk menjadi orang yang akan mendampingiku seumur
hidup.

Aku akan melamarnya!

Keputusan ini kubuat setelah melihat kenyataan bahwa tidak ada lagi hal
yang mengganjal. Kami berdua sudah sama-sama mapan, sudah
bertunangan terlalu lama, usia juga sudah sama-sama - ehm - tua, keluarga
dari kedua pihak sudah sama-sama ribut. 'Apa lagi yang ditunggu?' kata
mereka setiap kali bertemu salah satu dari kami.

Ya, apa lagi yang ditunggu? Pencarian yang tidak pernah membawa hasil yang
kulakukan selama ini menyadarkanku bahwa aku sudah terlalu lama
membiarkan Linda menunggu.

http://penutur.thurana.com/ | 80

Pertemuan dengan Echa tidak pernah terjadi. Tidak akan pernah terjadi. Dia
adalah bagian dari masa lalu yang memang sudah seharusnya dibiarkan di
masa lalu. Linda adalah masa kini dan masa depanku.
Tanganku menggenggam kotak cincin yang didalam kantong jaket
sementara lift bergerak naik menuju lantai sebelas. Hatiku berdebar-debar,
tidak sabar untuk bisa bertemu Linda. Mataku tidak bisa berhenti bolak
balik melihat ke layar LCD diatas pintu lift. Lantai sembilan ... sepuluh ...
dan ... sebelas!
Pintu lift terbuka dengan didahului oleh bunyi mendenting. Dan bagaikan
mimpi, dia ada disitu, berdiri dengan cantiknya di depan lift.Aku sampai
harus berkali-kali mengucek mataku, tidak percaya. Orang yang selama ini
kucari dan kurindukan.
Echa.

http://penutur.thurana.com/ | 81

Buku Dua: Kebimbangan
Steve akhirnya menemukan Echa, cinta pertama yang selama ini dicari dan
dirindukannya, justru pada saat dia akan melamar Linda.Apa yang akan
dilakukan Steve?
Bagaimana dengan Linda? Setelah kehilangan pekerjaan yang diidam-
idamkan selama ini, akankah dia juga kehilangan Steve?
Dan apa peran Terry di dalam cerita cinta Steve dan Linda?
Semuanya akan terjawab di “Cinta Segitiga Tidak Sama Sisi -
Buku Dua: Kebimbangan”.
Tidak lupa cerita tentang bagaimana Linda akhirnya bertunangan dengan
Steve meskipun harus menyakiti hati Vita, tentang Bo’im yang
mempertanyakan hati sahabat baikknya, dan juga tentang Sari yang
sepertinya tidak mengenal kata “baik hati”.

Klik link berikut ini untuk mendapatkan “Cinta Segitiga Tidak Sama
Sisi - Buku Dua: Kebimbangan” (http://
penutur.thurana.com/bukukedua/)
Plus: Original Soundtrack novel ini:“Luluh” dari “Jaye Of All Trades” dan
kesempatan untuk mendapatkan uang tunai, iPod Touch, dan iPad.

http://penutur.thurana.com/ | 82


Click to View FlipBook Version