The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ilusi-Ilusi Inklusivitas

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by redaksikopling, 2026-04-10 13:01:45

Piksilasi 1 2026

Ilusi-Ilusi Inklusivitas

BBBUUULLLEEETTTIIINNNFFFOOOTTTOOOGGGRRRAAAFFFIIIDDDAAANNNSSSAAASSSTTTRRRAAAEEEDDDIIISSSIIIPPPEEERRRTTTAAAMMMAAA:::AAAPPPRRRIIILLL222000222666IIIlluussii--IIlluussiilusi-IlusiIIInnnkkkllluuusssiiivvviiitttaaasssIlusi-IlusiInklusivitasTTTiiirrraaaiiiiiitttuuuhhhaaadddiiirrrmmmeeemmmbbbeeerrriiissseeekkkaaattt;;;mmmeeennnggghhhaaalllaaannngggiiiaaannnuuugggeeerrraaahhhyyyaaannngggssseeemmmeeessstttiiinnnyyyaaammmeeennnjjjaaadddiiihhhaaakkkooollleeehhhssseeemmmuuuaaa...Tirai itu hadir memberi sekat;menghalangi anugerah yang semestinyamenjadi hak oleh semua.


Inklusivitas yang (Seharusnya)Bukan April Mop01 | SALAM REDAKSISelamat April (Mop), pembaca yang budiman!Jika kalian berkuliah di kampus dengan label inklusi, pasti akan hadir suatu gambaran ideal terkaitdunia perkuliahan tanpa adanya diskriminasi satu sama lain. Inklusivitas dalam hal ini tentu merujukpada pandangan untuk mewujudkan keadilan bagi semua orang, tak terkecuali lingkungan kampus.Dengan label inklusi, sudah seharusnya seluruh sivitas akademika mendapatkan hak yang samauntuk memperoleh pelajaran.Dan tentu, hak tersebut memang harus dipenuhi atas dasar resiprokalitas dari pemenuhankewajiban yang telah disyaratkan. Dalam konteks mahasiswa, kewajiban itu terwujud dalamkewajiban membayar UKT. Ketika mahasiswa telah tuntas membayar UKT, maka tak ada alasantidak menyediakan fasilitas yang inklusif bagi semua orang.Syahdan, pada September 2023, Universitas Brawijaya (UB) dianugerahi penghargaan sebagai\"Kampus Ramah Disabilitas\" oleh Komisi Informasi Pusat (KIP). Penghargaan tersebut menegaskanposisi UB sebagai kampus inklusi di kancah nasional. Tapi di balik penghargaan itu pula, adasemacam tirai normatif yang menghalangi progresivitas penerapan inklusi. Untuk menggapaipenghargaan normatif itu, UB perlahan-lahan lupa atas hal-hal partikelir yang perlu dibenahi.Kelupaan itu kemudian terekam dalam kursi di sudut-sudut kelas, trotoar, maupun fasilitas lain yangtidak sepenuhnya mencerminkan inklusivitas.Dan itu semua bukan April Mop. Jika pembaca yang budiman berkenan membaca buletin ini, makamafhum sudah hadirnya tirai yang menutupi ketidakinklusifan itu dengan penghargaan normatifberupa“Kampus Ramah Disabilitas”.Begitulah, buletin ini digarap untuk merekam sudut-sudut tersebut. Dalam penggarapannya, kamimelibatkan beberapa pihak eksternal yang juga sering terlibat dalam advokasi inklusivitas. Tak lupajuga ada para anggota Kavling10 yang terlibat dan bersemi dalam penggarapan buletin ini. BuletinPiksilasi Edisi Pertama Tahun 2026 ini terbit dengan judul “Ilusi-ilusi Inklusivitas” yang bercerita akantirai besar di kampus inklusi. Kami akan kembali dalam Piksilasi Edisi berikutnya.Selamat Membaca!Tabik!Redaksi| APRIL 2026


Bayangkan kamu berada di dunia di mana kamu tak perlu khawatir dengan angka yang ada ditimbangan badan. Bayangkan kamu berada di kampus yang tak lagi memakai pemeringkatanuntuk menerjemahkan seberapa“cerdas” dirimu. Atau bahkan bayangkan supir taksimu adalahseorang teman tunanetra.Bukan bercanda.Skema-skema tersebut akan lebih mudah kita“terima” saat kita tak lagi terbelenggu dengan segalahal yang kita anggap normal. Inklusivitas meniscayakan penolakan terhadap kondisi yang selama inidianggap“normal”. Normal, yang disebut oleh Robert Chapman dalam bukunya Empire ofNormality, adalah term yang tidak pernah netral dan alami.Bahwa saat angka-angka dari timbangan badan dan stadiometer yang dikumpulkan oleh statistisisaat itu, mereka menemukan sebuah nilai rata-rata berat badan manusia. Nilai rata-rata itulah, yangpada konsepnya, disebut Adolphe Quetelet sebagai l’homme moyen. Manusia rata-rata. Manusiakemudian, dengan adanya konsep itu, mulai diklasifikasikan menuju“yang ideal” dengan“yang tidakideal”. Normal atau menyimpang.Konsep ini diperkuat ketika Galton membincangkan mengenai eugenika. Ia, dengan“moral”-nya,berusaha membuat dunia hanya dapat ditinggali oleh orang-orang“unggul”. Meskipun ide inibanyak ditentang dan tidak diamini, konsep mengenai pengklasifikasian dia lah yang masih menjadiresidu di struktur sosial hari ini.Pengklasifikasian tersebut akhirnya dipakai oleh pemilik modal dan negara untuk menilai seberapaproduktif seorang pekerja. Silvia Federici turut mengingatkan kita bahwa kapitalisme awal memilikiandil atas terbentuknya norma-norma dan fungsi “produktif” sebagai alat kontrol untuk menindastubuh yang“berbeda”. Norma-norma inilah kemudian diinstitusikan dalam pabrik, sekolah, danperaturan milik negara sehingga“normalitas” semakin terinternalisasi dalam struktur sosial-kulturalkita. Yang pada akhirnya, kapitalisme dan negara telah membentuk sebuah dunia di mana“yangberbeda” semakin tertindas dan tak memiliki hak bahkan untuk hidup. Maka tidaklah seharusnyakita heran mengapa kita tidak sering bertemu dengan teman-teman difabel?Di sini Chapman memosisikan disabilitas tidak hanya sebagai kondisi biologis. Disabilitas menjadidisebut demikian, sebab dunia–dan sistem yang ada–tidak dibangun dan dirancang untuk mereka.Bagaimana jika saja manusia membentuk dunia di mana Sekolah Luar Biasa tidak pernah ada.Semua orang dapat menerima beragamnya bentuk tubuh dan beragamnya cara kerja otak setiaporang. Bagaimana jika saja dunia terbentuk saat tunanetra tak perlu mengeluarkan lebih tenaganyauntuk bisa mengonsumsi sebuah pengetahuan. Di mana kata“tulisan” telah menjadi hal yang takinklusif.Kampus, sebagai instansi yang dianggap paling bebas dalam memproduksi ilmu pengetahuan,| APRIL 2026Meruntuhkan KerajaanNormalitas02 | EDITORIAL


03 | EDITORIALtelah sepatutnya mengamini pandangan Chapman yang demikian radikal. Agaknya bagai cintabertepuk sebelah tangan ketika kampus hari ini, dengan bentuk PTN-BH-nya, telah berjabat tangandengan neo-liberalisme.Pandangan yang demikian predatoris nan kompetitif inilah yang membuat kita tak perlu berbanggaatau bahkan berharap lebih ketika kampus mendapatkan penghargaan sebagai “Kampus RamahDisabilitas”. Cukup jelas saat segala hal berorientasi pada peringkat dunia dan semua tetek bengekpenghargaan itu, membuat semua yang ia“dapatkan” dengan mudah berakhir performatif.Kavling10 sempat meliput tentang guiding block di kampus yang telah rusak. Saat itu, PusatLayanan Disabilitas menjelaskan bahwa anggaran pembangunan adalah wewenang fakultas terkait.Pertanyaannya: Apakah saat ini fakultas-fakultas kita tidak berhenti membangun? Apa yang sedangdibangun? Untuk siapa bangunan itu? Baiknya teman-teman dapat menilai sendiri. Maka inklusivitasyang digaung-gaungkan selama ini memang dangkal dan semu. Ia belum dapat membangun duniadi mana tidak ada kata disabilitas.Bagi Chapman, membuat dunia yang demikian tak bisa hanya terbentuk dengan berhenti padabangunan atau fasilitas publik yang bisa diakses oleh difabel. Struktur sosial harus berhasil merusaksegala hal mengenai normalitas yang berakhir memarjinalkan kelompok tertentu.Dengan demikian, penting bagi kita untuk selalu mengkritisi setiap diksi yang berpotensimeminggirkan teman-teman yang“berbeda”. Sehingga menjadi mungkin ketika kelak diksisemacam“down syndrome”—semoga tidak—mengandung konotasi negatif sebab struktur sosial kitayang demikian rusak, dekonstruksi makna atau penggantian term harus dilakukan. Sehingga tak adaidealitas yang bisa dipakai para penindas untuk menindas teman-teman difabel.Sebab ketika kampus bahkan publik kita masih belum dapat melibatkan difabel dalam setiappengambilan keputusan di segala sendi kehidupan, narasi inklusivitas hanyalah omon-omon belaka.Nothing about us without us. Hanya teman difabel yang berhak menentukan segalanya mengenaidifferent ability. Maka siapkah kita membentuk dunia di mana difabel bisa berkendara denganbebas?Redaksi| APRIL 2026


| APRIL 2026SUSUNANREDAKSI@lpmkavling10@[email protected]@gmail.comPenanggung JawabBadra D. AhmadPemimpin RedaksiMohammad Rafi AzzamyRedaktur PelaksanaMuhammad Tajul AsroriEditorFenita Salsabila | Muhammad TajulAsrori | Nabila Riezkha DewiPenulis SastraAndini Daniswari Wibowo | KhoiriyahBalqis | Nur Istiyanti | Refa Al-ZahfaHayanto |KolumnisAisyah Aprilia Syofi | Ekas Abdul Baits |Mahalli | Muhammad Tajul Asrori |Nayla Zulfa Al-Ulya | Ni Komang YuniLestari | Zaskia Hermanda AndromedaIlustratorAura Bella Ranai Putri | Dewi CantikaRahmadani | Nur IstiyantiFotograferAulia Hasti Zalika R. | Hasna RaditaLayouterTim KreatifDAFTAR ISIFoto Esai05Lubang-Lubang Ableistdi Kampus InklusiOpini11Tokenisme, AbleismeAkademik, dan InklusiDisabilitas di PerguruanTinggiCerpen39Sedatif Terakhir untukSang Alkemis Beton19Cerpen22Pergi14Resensi BukuMencari Tanah Lada:Ikhtisar MemahamiPenderitaan04 | DAFTAR ISIMiracle in Cell No.7:Disabilitas danKetimpangan Hukumdalam RealitaResensi Film26Ableisme yangBercokol dalam NadiKampus InklusiOpiniResensi Buku30Teatrikal danPatologisasi Kesintingandi Tegalurung35Big World: Aku yangKecil, Melangkah TanpaKesempurnaan diDunia yang BesarResensi Film42Suara yang LamaTertahan dalam Tubuhyang DipandangResensi BukuFoto Esai45Memulai Inklusivitas diKriya Gembira48Dria PantaiPuisi49Puisi51KomikMeja Perjamuan50Puisi“Aku Bukan Retakmu”Kepleset


05 | FOTO ESAILubang-Lubang Ableistdi Kampus InklusiSeiring kehidupan kampus yang terus melangkah, terdapat sudut-sudut yang kerap terpijak,meskipun tidak terlalu diperhatikan. Langkah kaki di tepi Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengarahkepada setapak pejalan kaki timbul yang beregelombang.Retakan-retakan kontur jalan yang perlahan melebar membuka dirinya untuk dipenuhi denganlumut lumut hijau, usaha alam dalam menambal kembali jalur yang telah pecah oleh pijakanpijakan seiring waktu.Dengan hati-hati, tapak kaki pun mulai melambat, sembari mencoba memperhatikan langkah danalam yang mengelilingi tepi jalan. Kaki perlahan menyebrangi keping-keping pijakan trotoar,melintasi lubang-lubang yang kasar dan tak rata.Meski tepian terasa luas, namun arah tapak kaki terasa sempit melalui gelombang permukaan yangtak rata, disertai puing-puing sisa pecahan setapak.| APRIL 2026


| APRIL 2026 06 | FOTO ESAI


| APRIL 2026 07 | FOTO ESAIMendekati waktu kelas, mahasiswa terlihatterburu-buru untuk memasuki ruang kelasGedung C Fakultas Ilmu Administrasi. Untukmenuju kelas, terdapat tangga yang menjulangdan memutar ke arah lantai-lantai tempatkelas berada. Dari pandangan, tangga itudibangun dengan tepi pegangan dan tapakandari tingkat-tingkat lantai curam. Meskipuntapakan-tapakan tersebut terlihat lebar, iahanya dapat ditempuh oleh langkah-langkahkecil. Jalan menanjak terlihat seperti pendakianmelalui jalan yang tak mungkin terlewati.Perlahan, tangan mulai mengepal tepi tangga,menggenggam dengan erat untuk menopanglebar kaki yang berusaha beranjak untukmelangkah ke permukaan selanjutnya. Arahpandangan terus bergantian untukmemperhatikan langkah demi langkah setiaptanjakan dan keramaian yang berlalu lalang,langkah kaki keramaian dan denting sepatuterbang lincah untuk menaiki dan menurunitangga, melompati tapak satu dan tapaklainnya.Perlahan, sedikit demi sedikit, permukaan dibawah kaki kembali datar. Ruang-ruang kelasberjajar rapi dengan kedipan cahaya terangdan suara suara keramaian yang kedapdikepung dinding. Kursi-kursi kelas dengansetengah hati menjadi sarana tempat belajarpada tiap ruang kelas. Meja-meja tertatabersebelahan untuk memenuhi ruang kelasdengan puluhan siswa, namun masih memilikikewajiban untuk menjadi tempat siswamerebahkan alat tulis dan telapak tanganmereka.Di belahan waktu lain, di sudut GOR Pertamina,terdapat fasilitas Pusat Layanan Disabilitas.Memasuki gedung tersebut, terdapat dualorong di bagian kanan dan kiri bangunan,dilengkapi dengan tangga yang menjulang keatas dan kamar mandi di sebelah kanan tanggadari arah masuk. Tangga melingkar dari tengahmenuju bagian kanan dan kiri bangunan.Tepian tangga masih tetap sama,


| APRIL 2026 08 | FOTO ESAITetapi permukaan menanjaknya denganenggan memberi satu kesempatan untukmenaiki bangunan. Setiap sudut permukaandasar pun menjadi tempat kembali untukmenjalani keseharian dan kebutuhan dilingkungan kampus. Di antara ramainya lorongGedung B Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,terdapat beberapa ruang kamar mandi yangmemiliki sekat yang padat. Ruang ini menjadilorong kecil tersendiri sebelum memasukiruang kamar mandi. Kedua dinding sekatmenjadi labirin tersendiri untuk memasukifasilitas tersebut. Seiring menaiki gedung,terdapat beberapa sudut kamar mandiaksesibel khusus disabilitas. Ruang yangterbentang luas, tepian gagang yang kokoh,dan isi yang sederhana memberi rentanganterbuka untuk langkah-langkah dan doronganperlahan untuk masuk ke dalam.Menyebrang menuju Gedung Teknik MesinFakultas Teknik, setelah beranjak dari tepisetapak menuju pintu masuk, terlihat sejumlahanak tangga menuju ruang laboratorium teknikmesin. Permukaan bertingkat itu menjadilangkah panjang untuk sekedar memasukiruangan, dengan tepi menanjak di sisi atasyang ditempuh melalui jalan memutar.Memutar kembali untuk mencari jalan menaikipintu masuk, kehadiran mahasiswa disambutdengan tiga sudut lorong bagian kanan dan kiridengan akses ke atas yang merupakantanjakan-tanjakan menuju bidang selanjutnya.Melihat udara yang redup dan enggan, Satudemi satu tapak kaki diangkat untuk mencobakembali mendaki ke atas, dengan genggamantepian yang berusaha menopang langkah demilangkah, entah berapa pijakan lagi sampaigenggaman tangan mencapai ujung tepiandan tapak kaki mencapai bidang datar.Seiring meredupnya keramaian pelajar, di balikkeramaian menjulangnya gedung rektoratbaru, berdiri sebuah bangunan lama di ujungkanan dari arah memasuki gedung. Entah bilamahasiswa memilih untuk melewati jalansetapak di sisi pintu masuk gedung rektorat


| APRIL 2026 09 | FOTO ESAIbaru atau masuk menaiki kendaraan, terlihatsebuah bangunan yang sedikit menurun daribangunan lainnya.Papan tulis terbengkalai di bagian kanansetelah memasuki gedung mengatakan bahwameski gedung ini sudah lama ditinggalkan danhanya menyisakan puing-puing korporat,gedung lama rektorat tetap digunakan untukkegiatan-kegiatan tertentu.Bahkan jika ditarik mundur dan diintip daripintu kaca yang cukup berdebu, terlihatkembali untuk kesekian kalinya sejumlahlangkah anak tangga yang memutar. Tidaklahpermukaan itu terlihat payah, namunrambatan anak tangga itu merupakan jalanterjauh untuk menuju menara tinggi hinggapada puncaknya pada lantai empat.Jika dilihat dari pandangan di dasar, putaranputaran tangga akan menjalar menuju sudutsudut lain pada gedung rektorat lama padasaat itu. Suatu bidang kecil menanjak yangterletak di sudut tangga menjadi pengingatlantang antara potensi aksesibilitas denganperjalanan mengitari tangga merupakan halyang mustahil untuk dilakukan tanpa arahyang berliku.Jauh ke sisi timur kampus, pemandanganserupa terpamerkan dengan jelas. Dua gedungUKM, tempat mahasiswa berlalu lalang,menampakkan diri tanpa memiliki alattransportasi vertikal antarlantai. Kedua gedungtersebut hadir sehari-hari tanpa memfasilitasianggotanya yang membutuhkan. Intensinyauntuk memberdayakan, seolah berlalu hilangtanpa kepeduliannya pada masyarakat inklusi.Tapi dilihat dari gelagatnya, ia sepertinya jugamenggumam. Ia tampak seperti tunduk atastitah atasannya yang tak mengizinkan untukmerangkul. Jika ia bisa berteriak, mungkindirinya akan berkata pada tiap insan yang tiaphari bergumul di atasnya,“hei, kalian, sediakanfasilitas yang memadai di tubuhku. Takseharusnya membuat temanmu kesulitan


| APRIL 2026 10 | FOTO ESAIdalam mengakses diriku.”Tak adanya fasilitas itu bukanlah keinginannyauntuk memamerkan diri. Ia sebenarnyagundah, dan mengutuk segala diskriminasiyang ada di dalam dirinya.Penulis: Hasna RaditaFotografer: Hasna Radita & Aulia Hasti ZalikaTak adanyafas ilitas itubukanlahkeinginannyauntukmemamerkan diri.Ia sebenarnyagundah, danmengutuk segaladi skriminas i yangada di dalamdirinya.


| APRIL 2026 1 1 | OPINIBeberapa tahun lalu, dalam sebuah momenwisuda yang penuh khidmat, seorang rektormendorong wisudawan pengguna kursi rodamelewati tamu undangan dan wisudawan lain.Mata dan sorot kamera menuju momentersebut. Ya! Sebuah universitas meluluskanseorang penyandang disabilitas. Beritabermunculan di hari yang sama. BeberapaReels Instagram bermunculan, viral, dankomentar-komentarnya dipenuhi pujiankepada kampus tersebut.Mirisnya, kampus tersebut tak punya layanandisabilitas, tidak menerima penyandangdisabilitas, dan beberapa penyandangdisabilitas yang saya kenal ditolak kampustersebut dengan alasan tidak memiliki fasilitas.Secara struktural, kampus tersebut tidakmemiliki kebijakan terkait inklusi-disabilitas,layanan disabilitas, atau hal-hal terkait.Lalu bagaimana seorang wisudawan penggunakursi roda kuliah di kampus tersebut hinggalulus? Jawabannya, kebetulan saja. Ia masukkampus tersebut tanpa diketahui bahwa iadifabel. Ketika lulus, ia diklaim sebagai simbolbahwa kampus tersebut inklusif untukpenyandang disabilitas.Menyedihkan memang. Payahnya, fenomenatersebut bukan satu-satunya. Dengan praktikdan cara pandang yang mirip, banyak lembagamelakukan hal yang sama. Mereka tidak benarbenar inklusif dan hanya mengambil manfaatdari kondisi yang kebetulan untuk keuntunganlembaga. Di Sosiologi, praktik semacam inidisebut tokenisme.Tokenisme didefinisikan sebagai praktik sosialyang melakukan upaya dangkal, simbolis, atausekadar formalitas demi menunjukkan kesaninklusi yang setara terhadap anggota kelompokminoritas (Kanter, 1977), tak terkecualipenyandang disabilitas. Di wilayah perguruantinggi, tokenisme merupakan bagian daristruktur besar ableisme akademik (Dolmage,2017). Praktik ini biasanya muncul dalambentuk perekrutan individu dari kelompokyang kurang terwakili hanya untukmemberikan citra publik bahwa sebuahorganisasi atau institusi pendidikan telahmencapai kesetaraan. Dalam kondisi yanglebih kompleks, tokenisme bisa menjadikontrol sosial (Collins, 2000). Orang tidak beranimengritik sebuah lembaga terkait inklusi didalamnya karena mereka telah merekrutperwakilan kelompok minoritas, bahkanmeskipun hanya sedikit.Tokenisme,AbleismeAkademik, danInklusi-Disabilitasdi Perguruan Tinggi


| APRIL 2026 12 | OPINISecara sosiologis, tujuan utama dari tokenismebukanlah pemberdayaan nyata, melainkanuntuk menciptakan \"ilusi inklusi\" di lingkunganyang sebenarnya masih didominasi olehstruktur budaya yang tidak beragam.Konteks di Indonesia dan PraktikPraktiknyaDi Indonesia, isu disabilitas di perguruan tinggitelah mengalami kemajuan secara normatif,terutama pasca pengesahan Undang-UndangNomor 8 Tahun 2016 tentang PenyandangDisabilitas dan aturan-aturan turunannyaseperti Permendikbud tentang akomodasilayak. Perguruan tinggi kini dituntut untukmenjadi lembaga yang inklusif danmemfasilitasi akses bagi semua warga negara.Namun, perguruan tinggi di Indonesia seringkali terjebak dalam ketegangan antara aspirasiinklusif dan proses eksklusif.Di satu sisi, universitas berambisi mencapaistandar \"elite\" atau \"unggulan\" yang secaratradisional sangat menghargai perfeksionismedan kemampuan standar, tetapi di sisi lainmereka harus menunjukkan tanggung jawabsosial melalui inklusi-disabilitas. Akibatnya,inklusi-disabilitas sering kali hanya dikelolasebagai bagian dari \"manajemen keragaman\"yang bersifat neoliberal, di mana keberadaanmahasiswa difabel dirayakan secara visualdalam brosur atau seremoni, tetapi strukturpendidikan tetap tidak berubah dan berada ditangan kelompok non-difabel yang memegangwewenang.Dalam praktik-praktik yang saya telusuri,awarding lembaga yang diselenggarakanseperti oleh Bappenas atau Mahkamah Agungterkait performa Pengadilan Negeri dalammengakomodasi kelompok rentan, inklusidisabilitas sering kali hanya menjadi daftar tilikatau checklist. Ia tidak benar-benar menyasarproblem struktural yang masih berjalan, sepertiableisme di dalam watak kebijakan danpemangkunya.Akibatnya, banyak praktik salah persepsi danjustru mejauh dari semangat inklusi-disabilitasyang dibawa oleh undang-undang dan apayang diperjuangkan kelompok atau organisasipenyandang disabilitas.Meskipun paradigma disabilitas secara globaltelah bergeser dari model medis (yang melihatkondisi disabilitas sebagai cacat yang harusdisembuhkan) ke arah model sosial yangmelihat kondisi disabilitas sebagai hasil darihambatan lingkungan) dan model hak asasimanusia, praktik di lapangan masih seringmenunjukkan pola tokenisme.Beberapa praktik yang kerap muncul diperguruan tinggi di Indonesia antara lain,pertama,\"Show Pony\" akademik. Mahasiswaatau dosen dengan disabilitas seringdiperlakukan seperti \"kuda pertunjukan\" yangdipamerkan oleh universitas untukmembuktikan keberhasilan inklusi-disabilitasmereka, terutama saat akreditasi atauawarding.Kedua, representasi tunggal yang dipaksakan.Terdapat asumsi keliru bahwa satu orangmahasiswa disabilitas (misalnya pengguna kursiroda) dapat berbicara mewakili seluruhkomunitas penyandang disabilitas yang sangatberagam. Hal ini mengabaikan fakta bahwakebutuhan seorang mahasiswa tuli sangatberbeda dengan mahasiswa denganneurodivergen.Ketiga, kepatuhan simbolis tanpa akomodasinyata. Universitas mungkin bangga telahmenerima mahasiswa difabel, namun gagalmenyediakan akomodasi yang esensial sepertimateri pembelajaran dalam format yangaksesibel atau penerjemah bahasa isyaratterutama jika akomodasi tersebutmembutuhkan biaya besar.Keempat, eksploitasi pada pengalaman hidup.Mahasiswa difabel sering diminta untukmenceritakan \"kisah inspiratif\" mereka demikepentingan narasi inklusi-disabilitas kampus,


| APRIL 2026 13 | OPINInamun suara mereka jarang benar-benardidengarkan dalam pengambilan keputusankebijakan kampus yang strategis.Ableisme Sistemik dan Struktural sebagaiPenghambatAkar dari terus bertahannya tokenisme adalahableisme akademik yang mendarah daging.Perguruan tinggi, secara historis dan literal,dibangun dengan \"tangga yang curam\" baiksecara fisik maupun intelektual yangmengasumsikan bahwa semua pembelajarmemiliki tubuh dan pikiran yang \"normal\"(Dolmage, 2017). Etika pendidikan tinggi seringkali mendorong pemujaan terhadapkesempurnaan dan menstigmatisasi segalabentuk kelemahan intelektual atau fisiksebagai masalah yang harus diselesaikan,bukan sebagai keragaman manusia.Secara struktural, ableisme ini termanifestasidalam ketidakadilan epistemik. Mahasiswadengan disabilitas sering dianggap bukansebagai \"pemberi pengetahuan\" yang sah,melainkan hanya sebagai objek studi ataupenerima bantuan. Selain itu, adanya\"normative time\" atau standar waktu belajaryang kaku sering kali bertabrakan dengan \"criptime\", kebutuhan fleksibilitas waktu bagipenyandang disabilitas karena hambatan fisikatau kognitif. Hambatan sistemik ini membuatpenyandang disabilitas tetap terpinggirkansecara intelektual meskipun mereka \"terlihat\"hadir di ruang kelas.Tokenisme di perguruan tinggi harusdipandang sebagai alarm bahaya yangmenandakan kegagalan dalam mewujudkaninklusi-disabilitas yang bermakna. Inklusi sejatimenuntut transformasi total, bukan sekadarakomodasi tambahan (bolt-on approaches)atau pengisian kuota numerik. Universitasharus mulai melakukan \"unlearning\" atauproses melepaskan pola pikir ableis yang sudahtertanam dalam biografi dan struktur institusimereka.Untuk menghindari jebakan tokenisme,perguruan tinggi di Indonesia perlumempertimbangkan kembali sejauh apaprinsip \"Nothing about us without us\" (tidakada tentang kami tanpa melibatkan kami)berjalan. Ini berarti melibatkan penyandangdisabilitas bukan sebagai simbol, melainkansebagai mitra setara yang memiliki otoritasdalam perancangan kurikulum, produksipengetahuan, kebijakan aksesibilitas, dan tatakelola universitas. Perguruan tinggi harusbergeser dari sekadar \"merayakan perbedaan\"menuju \"redistribusi kekuasaan\" yang nyata.Jika tidak, universitas hanya akan terusmemproduksi \"ilusi inklusi\" yang secara moralmerugikan individu dan secara intelektualmemiskinkan dunia akademik.Penulis: Mahalli* (kontribusi pembaca)(* Mahalli adalah alumni Sosiologi UB danassociate researcher di York Center for AsianResearch, York University. Sejak 2017, iamerupakan editor Indonesian Journal ofDisability Studies. Sehari-hari, ia beraktivitas diSubdirektorat Layanan Disabilitas UniversitasBrawijaya.Bahan BacaanCollins, Patricia Hill. Black Feminist Thought:Knowledge, Consciousness, and the Politics ofEmpowerment. 1990. 2nd ed., New York,Routledge, 2000.Dolmage, Jay. Academic Ableism: Disabilityand Higher Education. Ann Arbor, University ofMichigan Press, 2017.Kanter, Rosabeth Moss. Men and Women ofthe Corporation. New York, Basic Books, 1977.


| APRIL 2026Judul: Di Tanah LadaPenulis: Ziggy ZezsyazeoviennazabrizkieTahun Rilis: 2015Penerbit: Gramedia Pustaka UtamaJumlah Halaman: 245 halamanMencari TanahLada: IkhtisarMemahamiPenderitaan14 | RESENSI BUKUBunuh diri barangkali bukan barang baru, tapiperdebatan mengenainya masih saja hangathingga saat ini. Beberapa ada yang merasaempati, beberapa yang lain justrumenyayangkan keputusan sembrono orangyang telah menghilangkan nyawanya sendiritersebut. Kelompok kecil yang bilangsembrono mungkin punya beberapa alasan,seperti agama maupun berpendapat bahwamasih banyak cara lain yang bisa dilakukankarena bunuh diri bukanlah jawaban. Tapiterkadang mereka luput akan satu hal, yaknimemahami penderitaan.Di Tanah Lada, karya ZiggyZezsyazeoviennazabrizkie barangkali bisamenjadi salah satu jawaban bagi mereka yangbelum memahami bagaimana jahatnyapenderitaan.Penderitaan mungkin adalah salah satujelmaan iblis paling jahat yang pernahdiciptakan tuhan ke dunia.Sudah banyak nyawa manusia yang diarenggut, mulai dari mahasiswa dan bebankuliahnya, pekerja yang terlilit hutang, sampaipada anak kecil tidak punya pena dan bukuuntuk sekolah karena melarat.Dalam buku ini, Ziggy mencoba mengulaskembali bagaimana pandangan mengenaipenderitaan dan kebahagiaan. Yangmenjadikan buku ini unik adalah, bagaimanapenderitaan dan kebahagiaan itu ditafsir olehseorang perempuan kecil yang berumur enamtahun; yang belum mengerti banyak soal dunia,bahkan belum tahu banyak kosa kata bahasaIndonesia.Tidak hanya karakternya saja yang masih kecil,Ziggy juga mencoba untuk menghidupkanSumber: Gramedia


| APRIL 2026 15 | RESENSI BUKUperspektif anak kecil di tulisanya. Ini bisaterlihat jelas dari kebiasaan Salva yangkemudian saya tulis dengan Ava, sang karakterutama novel ini yang suka“meracau”.Omongannya yang tidak teratur dan kadangkeluar dari pembahasan awal, membuatnyasangat terasa kekanak-kanakannya.Penderitaan Ava banyak datang dari orangtuanya. Papanya memanggilnya jalang,memukulinya tanpa sebab, bahkanmengurung dirinya di dalam koper. Mamanya,walau diperlihatkan menyayangi Ava,terkadang merasa lupa bahwa ia memilikianak. Seringkali meninggalkan Ava sendirianpada beberapa kesempatan yang seharusnya iaditemani seorang ibu. Seperti ditinggalsendirian untuk menemani suaminya berjudi,dan meninggalkan Ava sendirian di rusun reotbersama papanya karena tidak tahan dengankelakuan suaminya itu. Di tengah absennyaorang tua Ava, ia bertemu P. Pengamenseusianya yang kehidupannya tidak lebih baikdarinya. P tidak memiliki nama, ayahnya tidakpeduli bahkan dia memiliki nama atau tidak. Ia,walau tinggal bersama ayahnya, tidak memilikikamar sehingga memilih untuk membangunkamar sendiri dengan kardus. Di beberapakesempatan juga P ditampilkan mengalamikekerasan seperti tangannya disetrika hanyakarena masalah sepele. Karena merasanasibnya tidak berbeda jauh, Ava dan Pberteman dekat dan novel ini bercerita tentangmereka.Saya rasa Ziggy mencoba untuk menafsirkanpenderitaan dengan dua perspektif yangberbeda melalui Ava dan P. Ava adalah orangyang tidak sadar bahwa dirinya menderita,tidak memahami banyak soal dunia karenausianya yang belia dan hidup masih denganorang tuanya. Sedangkan P adalah orang yangsadar bahwa dirinya menderita dan tahu soaldunia karena walau dia hidup dengan ayahnya,ia hidup dengan usahanya sendiri melalui jerihmengamen. Ini dapat dilihat bagaimana Ziggymenggambarkan situasi dan reaksi darikeduanya.Salah satu contohnya adalah ketika Ava tidur didalam koper karena tidak ada kasur untuk diatidur, kemudian papanya mengunci koper yangmasih ada Ava di dalamnya. Melihat haltersebut, mama Ava marah besar dan memulaipertengkaran dengan suaminya bahkan hinggamenciptakan keributan di Rusun. Melihat itu,respon Ava tidak diperlihatkan menderitasecara langsung. Begini yang digambarkanZiggy:Orang-orang di sekitarku banyak mengusap,bergumam, dan meremas-remas kepalaku.Tapi aku sangat mengantuk. Aku tidakpaham apa yang terjadi.– Hal. 75.Atau di kesempatan yang lebih awal, Avapernah mendapat cacian dari papanya dengansebutan jalang. Mama Ava menyuruhnya pergike kamar tetapi dilarang oleh papanya.Kemudian Ava memutuskan untuk menguncidiri di kamar mandi sampai ketiduran. Ziggylagi-lagi tidak secara spesifik memperlihatkanperasaan Ava. Begini kemudian ia gambarkan:Jadi, aku masuk ke kamar mandi danmenguncinya dari dalam. Mereka bertengkarsampai aku tertidur. Mungkin setelahnyamereka masih bertengkar. Aku tidak tahu.Malam itu, aku tidur di dalam kamar mandi.– Hal. 48.Ava selalu digambarkan tidak mengetahuikondisi yang menimpanya. Dia selaludigambarkan kebingungan dengan reaksinyayang acuh. Tentunya hal tersebut disebabkankarena kepolosan Ava yang sudah dijelaskan diawal. Dia tidak memahami betul mengenaikejadian yang ia alami, apakah itu adalahsebuah penderitaan atau bukan. Bahkan dibeberapa kesempatan Ziggy secara eksplisitmenampilkan kepolosan Ava. Salah satunyaadalah ketika papa Ava mencaci istrinya yangsuka berkebun, dia bilang istrinya‘berbuattolol’. Kemudian, Ava yang mendengarnyamencoba untuk membuka kamus untuk


| APRIL 2026 16 | RESENSI BUKUmenemukan artinya. Begini Ziggy mencobamemperlihatkan kepolosan Ava:Jadi, kurasa ‘berbuat tolol’ berarti :mengerjakan sesuatu yang sangat tidakmudah dimengerti. Berarti Papa memangbenar, karena kadang-kadang berkebun itutidak mudah dimengerti.– Hal. 3.Atau dalam contoh yang lain, Ava dan Psedang berapa di kamar P yang terbuat darikardus di Rusun ayahnya. Kemudian, ayahnyadatang merusak kamar kardusnya danmenganiaya P dengan menyetrika lengannyahingga P teriak ‘AAA!!’. Lagi-lagi Avadigambarkan begitu polosnya oleh Ziggy :Dan, cara kita tahu bagaimana orang sedangdalam kesulitan ada dua, yaitu :1.Mereka akan bilang ‘Tolong!’ ; dan2.Mereka akan menjerit ‘AAAA!!!’Kata Kakek Kia ‘AAAA!!!!’ menandakankesulitannya lebih besar daripada ‘Tolong!’Papper [P] menjerit ‘AAAA!!’.– Hal. 132.Ini sangat kontras dengan P. Ziggy lebihmemperlihatkan sisi yang lebih sensitif danpaham situasi kepada P di novel ini. P seolahmengalami pendewasaan dini karena sifatnyamenjadi lebih dewasa dan pengayom ketikabersama Ava, walau di beberapa momen Ziggytidak mengambil sisi kekanak-kanakan dari P.Salah satu contoh dari P yang digambarkanlebih sensitif bisa dilihat ketika P sedang dirumah sakit setelah tanganya disetrika olehayahnya. Terdengar Mas Alri dan Kak Suri—orang yang peduli dengan P—bertengkar dirumah sakit mengenai lalainya mereka, Plangsung sadar akan situasi dan mengajak Avayang saat itu berada di sampingnya untuk keluar.Dia menarik tanganku menggunakan tanganmenggunakan tangannya yang sehat.\"Pergi yuk,” katanya“Kemana?”“Keluar saja. Nggak mau mendengar merekaberantem.”– Hal. 139.Kepekaan terhadap situasi membuat P terlihatsangat dewasa dibanding Ava, atau bahkananak seusianya. Terlihat dalam satu adeganketika Ava tidak bisa tidur karena kamarrusunnya belum memiliki kasur, dan dia tidakterbiasa tidur tanpa kasur. P mencobamenenangkan dan mencari solusi untuk Ava,yakni tidur di dalam koper yang ia susunsebagaimana rupanya kasur.Akhirnya P si Anak Pengamen mengusap-usapkepalaku dengan wajah panik.“Hari ini saja, kok. Besok kamu dapat kasurbaru. Jangan nangis,” katanya.Aku terisak-isak. “Benar, ya, besok aku dapatkasur baru?” Dia Mengangguk. Padahal,Mama yang harus membeli kasur, bukan dia.– Hal. 71.Karena perbedaan bagaimana Ava dan Pmelihat penderitaan, responnya terhadappenderitaan pun berbeda. Dengan Ava yangpolos, Ziggy tidak pernah memperlihatkanperasaan Ava yang teramat sedih atau putusasa. Ava selalu nampak kebingungan terhadapsituasi yang ia hadapi. Namun, Ziggy dengancerdik membuat karakter final Ava yangmencoba mencari kebahagiaan untuk dirinya,yang kemudian ia dapatkan setelah bersama P.Jika tidak seksama membaca novel ini,hubungan antara P dan Ava sedikit tidakmasuk akal. Namun, menurut saya, Ziggymencoba mengisyaratkan bahwa Ava belumpernah merasa bahagia, sekalipun dengan ibuatau tante dan om nya yang bersikap baikkepadanya. Ava belum mengerti maknakebahagiaan, dengan begitu dia juga tidakmengerti penderitaan. Di tengah papanya yangselalu mencaci dan memukulinya, dan


| APRIL 2026 17 | RESENSI BUKUmamanya yang selalu lupa akan keberadaandirinya, membuat Ava berakhir merasa bahagiaketika bersama P, yang menurutnya tidak jahatseperti papanya dan tulus peduli kepadanyatidak seperti mamanya. Ini dijelaskankemudian sangat spesifik di akhir cerita.Berbeda dengan Ava yang masih belummengerti kebahagiaan maupun penderitaan. Psudah mengerti arti dari dua kata itu.Penderitaan yang dialaminya ia rasakan betulsecara batin. Meresap ke hatinya membuatdirinya berpikir tidak seperti anak seusianya.Dalam beberapa percakapannya dengan Avamengisyaratkan bahwa dirinya mengenalipenderitaan, bahkan mengisyaratkan bahwadia sudah lelah dan berkelakar inginmengakhiri hidupnya.Ini terlihat jelas ketika P ingin lompat dari atapRusun tempat mereka tinggal untuk terbangmenemui bintang. Dan pembicaraan merekamengenai reinkarnasi mereka dan berharaphidup mereka lebih baik barangkali jadi ayam,cacing, maupun badak bercula satu.“Tapi, kalau kita mati dan bereinkarnasi lagi,aku mau reinkarnasiku ketemu reinkarnasikamu lagi. Dan aku mau reinkarnasi kitaingat semua ini.”“Kenapa?”“Karena aku akan segera pergi,” kata Pepper[P].– Hal. 142.“Kalau kamu jatuh kamu akan mati kan?”“Kalau aku terbang, gimana?”“Kamu, kan, nggak bisa terbang.”“Tapi kalau aku mati, aku akan terbang,kan?”– Hal. 124.Sedangkan Ava baru menyadari penderitaanketika ia mulai mengenal apa itu bahagia.Perjalanan mencari makna kebahagiaan Avasangat terasa ketika perjalanan mereka menujuTanah Lada, tempat tinggal Nenek Isma, NenekAva. Ziggy membuat analogi cemerlangtentang perjalanan seseorang mencari maknakebahagiaan. Tanah Lada yang dalam noveladalah sebuah tempat, menjadi perjalananbatin Ava dan P mencari kebahagiaan di duniapenuh penderitaan. Lagi-lagi Ziggymenggunakan perspektif anak kecil. Avaberpikir mereka akan bahagia di Tanah Lada,tempat kelahiran Mamanya. Mama Ava pernahbilang ia bahagia di sana. Begitupun NenekIsma yang tak pernah terdengar menderita.Harapan itu kemudian menjalar juga ke P daningin percaya bahwa Tanah Lada itu ada,kebahagiaan itu ada. Perjalanan ke Tanah Ladajuga dibarengi dengan petualangan mencarinama untuk P. Lagi-lagi Ziggy memberikanisyarat mengenai harapan. Upaya Ava mencarinama untuk P adalah isyarat bahwa Avamencoba untuk memberikan makna kepada P.Makna hidup mereka.Namun sayang, Ziggy menutup cerita inidengan plot twist tak terduga. Bahwa Mas Alridan Kak Suri yang selama ini baik terhadapnyaadalah orang tua asli P. Ini menggoncangdirinya, karena tahu bahwa orang tua aslinya,walau baik kepadanya, tidak pernah cukuppeduli untuk mengambil P dari ayah palsunyayang jahat. P yang tadinya berharap masih adaharapan untuk Tanah Lada pupus. Dansampailah di akhir cerita yang membuat sayasadar akan pentingnya memahamipenderitaan.***Dalam catatan akhir penulis. Naskah awal yangditulis Ziggy berakhir dengan‘bahagia’.Namun berselangnya waktu, akhirnya ia urunguntuk memberikan bahagia itu untuk akhirceritanya. Ia bilang ia tidak percaya akankebahagiaan yang ia suguhkan. Tentunya sayapaham mengapa Ziggy menulis itu.Penderitaan yang dialami Ava dan P sangatdahsyat dirasakan ketika saya membaca bukuini. Mungkin barangkali jika saya jadi Ava atau


| APRIL 2026 18 | RESENSI BUKUP, saya sudah mengakhirinya daripada awal cerita. Tidak bisa membayangkan seorang anak berusiaenam tahun menanggung derita yang besar dan mencoba menjawab pertanyaan yang bahkanseorang filsuf kerepotan, mencari makna kebahagiaan. Jadi, keputusan mereka dapat saya mengerti.Mereka memilih untuk mengakhiri cerita mereka dengan tenggelam di antara bintang-bintang.Ziggy cukup lihai dalam membangung momentum dan membuat kilas balik terasa sangatbermakna. Percakapan mengenai mencoba menggapai bintang di atap rusun dan berandai-andaijadi apa mereka setelah mereka mati nanti kembali dihadirkan di akhir cerita ini.Cerita ini berakhir dengan Ava dan P yang mencoba untuk menggapai bintang, tidak di langit, tapibintang yang memantul dari langit oleh samudra. Mereka akhirnya memiliki jawaban bagaimanacara menggapai bintang tanpa jatuh, tetapi terbang. Mereka berakhir menggapainya di samudra,sambil terbang di antara air yang dingin. Sambil mencoba untuk berpikir mau jadi apa setelah inisemua berakhir. P juga kini sudah ada nama. Ava merasa nama adalah Doa, barangkali setiap diamenyebut nama P, Tuhan akan mendengarnya sebagai doa dan mengabulkanya. Ava menamaipengamen tanpa nama itu Patibrata Praharsa, yang berarti sehidup semati. Sama seperti namanya,doa Ava terkabul.Ziggy membuat saya sadar bahwa, jika kita tidak bisa memahami penderitaan orang lain, Di TanahLada bisa menjadi pengingat bahwa penderitaan itu niscaya, dan kebahagiaan itu terkadang fana.Penulis: Ekas Abdul BaitsZiggy membuat analogicemerlang tentang perjalananseseorang mencari maknakebahagiaan. Tanah Lada yangdalam novel adalah sebuahtempat, menjadi perjalanan batinAva dan P mencari kebahagiaan didunia penuh penderitaan.


| APRIL 2026Judul: Miracle in Cell NO.7Penulis: Hanung BramantyoTahun Rilis: 2022Durasi: 145 menitMiracle in CellNo.7: DisabilitasdanKetimpanganHukum dalamRealita19 | RESENSI FILM“Kalo kita baik sama orang, orang bakal baiksama kita.” - DodoSetelah sukses besar di Korea dengan meraih12,8 juta penonton, film Miracle in Cell No. 7bahkan berhasil menggeser posisi filmHollywood ternama seperti Iron Man 3.Pencapaian ini menjadikannya film tersukses diKorea pada semester pertama tahun 2013. Filmini sukses memikat hati penonton melalui alurcerita yang mampu mengaduk emosi dalamsetiap adegannyaSaat saya menonton film ini, saya sepertiterbawa masuk ke dalam ingatan masa kecilYe-sung kecil (versi Korea) dan Kartika kecil(versi Indonesia) yang melihat secara langsungketidakadilan yang dialami oleh sang Ayahtanpa mengerti harus berbuat apa, karenabenak yang masih terlalu belia. Film yang versiKoreanya diperankan oleh Ryu Seung-ryongsebagai Lee Yong-gu (ayah), Kal So-won sebagaiYe-sung kecil dan disutradarai oleh Lee HwanKyung ini telah di remake oleh beberapanegara diantaranya Turki, Spanyol, Filipina,India, Arab Saudi dan tentu saja Indonesia.Perjuangan Ayah dan Realita DuniaFilm ini mengangkat tema kemanusiaantentang kasih sayang antara ayah dan anak,ketidakadilan hukum, serta stigma terhadappenyandang disabilitas. Miracle in Cell No. 7versi Indonesia, yang tayang pada 2022 dansukses memukau lebih dari 5 juta penonton,dibintangi oleh Vino G. Bastian sebagai DodoRozak. Dodo adalah seorang penjual balonpenyandang disabilitas intelektual yangSumber: Wikipedia


| APRIL 2026 20 | RESENSI FILMmembesarkan putrinya, Kartika (GraciellaAbigail), dengan penuh kasih sayang sejakJuwita, istrinya meninggal dunia.Sayangnya, kebahagiaan mereka hancur ketikaDodo terjebak dalam kasus pembunuhan danpelecehan seksual terhadap Melati, putri dariWilly Wibisono, seorang tokoh politikberpengaruh. Film ini menggambarkanbagaimana sistem hukum dapat dipengaruhioleh status sosial. Hal ini terlihat pada menit29:15, saat Dodo mendapatkan tekanan darikepolisian untuk mengakui perbuatan yangtidak dilakukannya. Tekanan serupa jugadatang dari Willy yang menuntut hukumanmati. Secara keseluruhan, film ini menjadi kritiksosial yang tajam terhadap ketimpangankeadilan bagi kelompok rentan.\"Adegan yang menyentuh hati tergambar jelasdi sel nomor 7 melalui perkembangan karakteryang luar biasa. Interaksi antara Dodo dan parapenghuni sel yang awalnya dipenuhi kebenciankarena tuduhan kriminalnya, perlahan berubahmenjadi empati. Ketulusan Dodo saatmenolong Japra dalam perkelahian antarnarapidana menjadi titik balik bagi mereka.Solidaritas ini memuncak saat merekamembantu menyelundupkan Kartika ke dalamsel serta membimbing Dodo menyusunpembelaan untuk banding. Hal ini menjadisimbol kuatnya solidaritas kemanusiaan,melampaui status mereka sebagai narapidana.Klimaks konflik ada pada saat Dodo dipaksamengaku bersalah demi keselamatan Kartikameskipun dia sudah menyiapkan pembelaanyang dibuat dengan susah payah oleh Japradan gengnya. Hal ini menunjukkan betapabesar risiko ketidakadilan yang dihadapipenyandang disabilitas ketika mereka beradadalam posisi rentan. Seperti yang ditunjukkanpada menit 01:47:05 dimana pengacara lapasyang seharusnya membela Dodo, menekannyaagar mengakui perbuatan itu dalam sidangpengajuan banding serta pada menit 01:49:04saat Willy Wibisono memaksa Dodo denganancaman nyawa Kartika. Ketidakmampuanmemahami konsekuensi hukum serta tekanandari pihak berkuasa membuat Dodokehilangan hak untuk membela diri secara adil.Metafora Ketimpangan Hukum yang AdaAdegan ini menggambarkan ketidakadilanhukum yang terjadi. Hukuman mati yangditerima Dodo melanggar konstruksi Pasal 44ayat KUHP, dimana penyandang disabilitasmental dan disabilitas intelektual tidakdikenakan pertanggungjawaban pidanasedangkan penyandang disabilitas fisik dandisabilitas sensorik dapat dikenakan pidanakarena tidak berkaitan dengan aspek psikisatau kejiwaan. Seharusnya, tahanan dengandisabilitas mental seperti Dodo tidak dapatdikenakan pertanggungjawaban pidana secarapenuh, karena ia memiliki keterbatasankemampuan berpikir dalam memahamikonteks maupun konsekuensi dariperbuatannya sehingga membuat ia kurangmampu mempertanggungjawabkantindakannya di hadapan hukum.Secara eksplisit, film ini menegaskanpentingnya sistem hukum yang ramahdisabilitas, termasuk penyediaan pendamping,psikolog, dan prosedur pemeriksaan yangmempertimbangkan kondisi kognitif ataumental individu yang bersangkutan. Indonesiasendiri, meskipun Undang-Undang Nomor 19Tahun 2011 tentang Ratifikasi Convention onthe Rights of Persons with Disabilities (CRPD),UU No 8/2016 tentang Penyandang Disabilitasdan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun2020 yang mengatur mengenai akomodasiyang layak penyandang disabilitas dalamproses peradilan. Nyatanya, ketiga elemenhukum ini belumlah diterapkan secaraharmonis dalam praktik di lapangan.Penyandang disabilitas sangat sulitmendapatkan akses keadilan ketika berprosesdi pengadilan baik jaminan sarana fisikmaupun prosedur hukum yang‘ramah’.


| APRIL 2026 21 | RESENSI FILMDi Antara Hukum, Empati, dan KemanusiaanBagi saya, Miracle in Cell No. 7 bukan hanya berkisah tentang cinta seorang ayah dan anak, tetapijuga cerminan sosial mengenai perlunya penghormatan dan perlindungan terhadap hak-hakpenyandang disabilitas. Film ini juga menyadarkan masyarakat bahwa masih banyak ketimpangandan ketidakadilan hukum yang terjadi bagi para penyandang disabilitas meskipun sudah adaundang-undang konkret yang menaungi. Karya booming yang disutradarai oleh Hanung Bramantyoini, membuat saya sadar betapa perlindungan hukum bagi para penyandang disabilitas seringkalidiabaikan dan belum sepenuhnya diterapkan, terutama ketika mereka berhadapan dengan sistemperadilan yang menuntut pertanggungjawaban tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis sertaketerbatasan intelektual yang mereka miliki.Selain itu, Miracle In Cell No.7 telah sukses dalam menangkap sebuah fakta yang jarang dilihat darikacamata orang biasa dan merubah fakta itu menjadi metafora yang dapat dinikmati masyarakatawam. Karya ini berhasil menggugah kesadaran penonton bahwa penyandang disabilitas bukanlahindividu yang lemah atau tidak berdaya, melainkan manusia yang memiliki martabat, perasaan, danhak yang sama untuk mendapatkan keadilan serta perlindungan dalam kehidupan bermasyarakat.Penulis: Aisyah Aprilia SyofiSumber: Canva


| APRIL 2026Pergi22 | CERPENKuakui aku terguncang, dan tak apa.Setidaknya bayangan hitam itu selalumenemaniku di saat-saat terendahkumeskipun aku tak yakin dia adalah hantu ataumanusia.Si Hitam—aku memanggilnya begitu—adalahyang paling mengerti aku. Dia lebihmemahamiku daripada Kirana, sahabatkusendiri, dan Satrio, mahasiswa Teknik Sipil yangsok keras itu. Si Hitam tahu apa yang akubutuhkan.Maka siang itu, saat waktu istirahat antar matakuliah, dia mengajakku ke lantai teratasgedung fakultas. Aku berhasil menjawabpertanyaan staf gedung yang penasaran, jadiaku bisa menerobos ke rooftop. Aku berdiri dipinggir. Si Hitam ada di sampingku, berbisikmenyaingi angin.“Lompatlah, Ani. Ini akanmenyelesaikan masalah.”Jantungku berdetak pelan. Ejekan anak-anakorganisasi terngiang.“Oh, pantas kamu enggakpunya teman. Kamu punya‘gangguan’rupanya.” Tawa sarkas mereka bergema selamaheningku. Dadaku berat, mataku langsungbasah.“Lompatlah, Ani. Ini akan menyelesaikanmasalah,” bisik si Hitam lagi.Saat itulah, pikiranku mantap. Badankuterhuyung, kepalaku siap pecah. Namun,sebelum aku benar-benar menjatuhkan diri,aku merasa kemejaku ditarik dari belakang.“ANI! JANGAN!” soraknya, nyaring. Aku tak jadijatuh, kepalaku tak jadi pecah. Yang terjadimalah aku ditarik dan didekap. Beberapa saatkemudian, terdengar tangisan. Itu tangisanKirana.“Ani, ini tidak menyelesaikan masalah,”cicitnya, sengau.Namun, aku rasa, si Hitam tetaplah pemenangpada akhirnya.***Ilustrator: Aura Bella Ranai Putri


23 | CERPENKakiku gemetar. Aku sebenarnya sudah taksanggup berdiri. Aku bersandar lemah didinding bilik toilet.Bau pesing tidak mengganggu penghidu, tapimataku yang mulai basah membuatpandanganku kabur. Aku meraih ponsel danmencari sebuah kontak, lalu menelepon.“Kirana.” Aku langsung menangis.“akumembutuhkanmu,” ujarku, nyaris berbisik.Gadis kepang dua itu langsung panik. Setelahaku memberitahu aku di mana, telepon punmati. Aku mengusap mataku, aku harustenang, aku meremas bajuku, akumenormalkan napas. Bagaimana aku maubercerita jika keadaanku kacau?Namun, saat aku bertemu Kirana di luar biliktoilet perempuan, tangisku kembali pecah. Ialangsung menggandengku dan kami pergi kesudut sepi fakultas. Di sana, aku menceritakanapa yang sudah aku dapat, hal-hal apa lagiyang dikatakan anak-anak organisasitentangku, perkataan apa yang merekalayangkan padaku.“Kiran, aku tahu aku berbeda. Aku tahu kokkalau aku punya gangguan. Tapi merekaseharusnya tidak mengatakan itu,” katakusambil sesenggukan. Entahlah Kirana danSatrio akan mengerti atau tidak. Kirana hanyamemelukku, bajunya mulai basah akan airmataku.Air mataku tak kunjung berhenti saat akuterngiang lagi perkataan-perkataan yang sama.“Oh, pantas kamu enggak punya teman. Kamupunya‘gangguan’ rupanya.” Aku jugamendengar suara tawa mereka yang tampakpuas melihatku terpuruk. Beberapa darimereka juga mendorongku sampai bersimpuh,sampai laptopku jatuh dan keyboard-nya rusak,kemudian membasahi laporan praktiklapangan yang sedang kukerjakan dengan airminumku yang mereka ambil paksa.Padahal aku dan mereka berada di satuorganisasi kampus yang inklusif, organisasi yangsering disebut sebagai organisasi ‘ramah’.Organisasi yang dikenal tidak membedakandisabilitas dan non-disabilitas, serta selaluterbuka dengan anggota yang mengerutkarena kondisi mentalnya. Bagi mereka,manusia berhak dimanusiakan, mereka berhakberorganisasi sebagaimana mahasiswa padaumumnya.Namun, setelah masuk ke sana, aku rasabranding‘inklusif’ itu fana. Teman-temandifabel, juga mereka yang memiliki kondisimental sepertiku, banyak yang akhirnyamundur karena tak tahan. Kami sepertidigunakan untuk memperkuat penjenamaanorganisasi, untuk mendapatkan penghargaanpenghargaan, bukan untuk diberdayakansebagaimana mahasiswa yang ingin berserikat.Mereka yang bertahan harus menghadapiberbagai ejekan. Keistimewaan merekadilucuti, dipermasalahkan sebagaipenghambat program kerja.Biasanya saat Satrio mendengar itu, dia akanmencaci,“Si Anjing! Satu divisi lho anggotanyabanyak. Proker enggak jalan kok nyalahin yanglain?” Kirana pasti akan menyenggol lengannya,mengingatkannya akan makiannya itu.Hari ini, mereka tidak mendengarkan ceritayang sama. Mereka hanya mendengarkanisakanku. Kata-kata penyemangat tak mempan—dan Kirana tahu itu, makanya dia memilihuntuk mendekapku. Satrio hanya memandangke bawah dengan tatap serius selagi mulutnyasibuk mengunyah roti susu.***Beberapa hari setelah kejadian di rooftopfakultas, Kirana mengajakku berjalan-jalan diarea kampus. Suara motor dan mobil seakanberadu, diiringi suara tawa mahasiswa yangsedang berkelakar. Siang itu tidak terik,| APRIL 2026


24 | CERPENJudul: Istirahatlah Kata-Katasutradara: Yosep Anggi NoenTahun Rilis: 2016Durasi: 97 menitudaranya tidak panas, dan aku bisa melihat siHitam sekelebat. Dia tidak melakukan apa-apasih, hanya muncul sebelum menghilangdibawa angin.“Aku akan adukan organisasi itu. Satrio berhasilmengumpulkan para korban dan menyakinkanmereka untuk membuat laporan. Kau tidakkeberatan,‘kan?”Atensiku beralih. Angin berhembus pelan.Kirana memegang tanganku, erat, seakan iaingin menghangatkannya.Aku meneguk ludah, aku takut.“Kau tahu,‘kan,apa yang akan terjadi padaku jika laporan itusampai ke tangan mereka?”“Aku tahu, makanya aku bertanya dulu,” jawabKirana.“Mengingat kau adalah orang yangsering mereka rundung, mereka pasti akanmengincarmu.”Dadaku sesak seakan jantungku mau meletup.Aku sudah membayangkan bagaimana anakanak organisasi mengelilingiku dan menoyorkepalaku.Mereka mati-matian menjaga marwahorganisasi inklusif untuk bisa mendapatkanpujian dari sivitas akademika dan mahasiswa.Banyak tokoh-tokoh ternama ikut memujabranding itu. Organisasi mereka bisa hancurjika kebusukannya menguar lewat laporan itu.“Ani, aku tak tahu pasti kamu akan setakut apanantinya.”Aku mendongak. Kirana menatapku lekatlekat. Kata-katanya terdengar berharap.“Tapi, jika tidak dari laporan ini, kapansemuanya akan terbongkar? Kau mau dirimudiperlakukan begitu lagi?”Aku terdiam, lalu menunduk. Hati kecilkubilang,“Tidak mau.”“Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.”Kirana memegang erat kedua bahuku.“Akuakan ada di sampingmu jika kau kenapakenapa dari laporan ini. Aku janji.” Gadis itutersenyum, menatap yakin.Aku mengenal Kirana. Dia sahabatku sejakSMA. Ia memahamiku meski tidak sepaham siHitam yang tempo hari berbisik, menyuruhkuuntuk melukai diri sendiri. Namun, daripadamenuruti si Hitam, akan lebih baik akumenuruti sesosok gadis kepang dua yang nyatadi depanku ini. Teman baikku. Teman yangselalu ada untukku.Aku pun mengangguk mantap. Aku harus siapdengan resikonya. Lagipula, aku tidak inginmenjadi lemah lagi.Setelah hari itu, Satrio, Kirana, dan para korbanyang melaporkan organisasiku langsung kedirektorat universitas. Laporan itu kemudiandiproses dan organisasiku diperiksa.Bersamaan dengan itu, Whatsapp-ku penuhcaci-maki dari anak-anak organisasi.“Kamu yayang melapor?”,“Awas saja kalau ketemu”,“Kamu akan kami apa-apakan jika laporanmutidak dicabut!”, begitulah kata mereka.Pikiranku kembali terguncang, dan si Hitammuncul lagi, menyuruhku untuk ‘pergi’ agarmasalahku selesai.Kondisi mentalku memburuk saat organisasikuterkesan membela para pelaku. Denganpernyataan klise berbunyi,“Organisasi inimemang ramah, tapi kami juga tidak bisasejinak itu dalam membimbing anggota. Bisajadi yang dirasakan korban tidak sepertikenyataannya. Mereka berlebihan, padahalyang terjadi tidak seganas yang dilaporkan”,mereka membela organisasi. Tentu saja, alasanitu langsung dilahap api kemarahan dantuntutan untuk melakukan klarifikasi.“Pernyataan blunder! Apa-apaan dengankemampuan komunikasi kalian.| APRIL 2026


| APRIL 2026 25 | CERPENKorban berlebihan? Bangsat sekali pikiran itu.Udah ada buktinya lho.” Ini adalah komentardengan like belasan ribu milik Satrio di Twitter.Komentar ini kemudian dihapus bersamaandengan pernyataan klise itu.Setelah pernyataan itu dihapus, sebuah suratancaman yang dititipkan kepada temansekelas sampai kepadaku. Surat itu ditulisseakan dengan darah padahal aku tahu ituhanyalah cat akrilik warna merah yang digoresmenggunakan jari. Warna merahnyamembuatku parno, terlebih kata-kata didalamnya yang berbunyi,“Kami tahu kamuakan ada di mana saja seminggu ke depan.Jadi, tunggulah.”Saat aku memberitahu hal itu, Satrio merebutsurat ancaman itu dari tanganku danmeludahinya. Dia berkata dengan lantang,“SIAPA YANG NGIKUTIN ANI? BERHADAPANSAMA AKU SINI! KATANYA TAHU ANI BAKALADA DI MANA AJA SEMINGGUAN INI?” Kiranalangsung menenangkannya yang mulaimemancing perhatian mahasiswa-mahasiswalain. Satrio jadi kesal sendiri. Ia kembalimenggigit roti susunya dengan muka garang.Berbekal surat ancaman itu, Kirana dan Satriolangsung meminta perlindungan dari kampusatas namaku, sekaligus menyarankanku untuktidak berorganisasi dan berkuliah dulu. Akupun mengambil jatah cutiku selama seminggulebih untuk menenangkan diri.“Dia korban dan dia diancam.” Kirana bahkansempat berdiri dengan dua tangan bertumpupada meja. Matanya menatap galak. PegawaiSatgas PPKPT kampus yang tadinya tak seriusdengan masalah mereka sampai mengerut dikursinya.“Saya mohon Anda bisamendampinginya.”Orang itu mengangguk cepat, ia ketakutan.Dengan saran Kirana, pesan-pesan Whatsappbernada ancaman itu kubiarkan, tetapi selaluku-screenshot untuk menjadi barang bukti jikadiperlukan. Surat ancaman dari cat akrilik itudifoto oleh Satrio untuk diarsipkan.Tak berselang lama, press release organisasikukeluar. Mereka membenarkan apa yang sudahterjadi, lalu meminta maaf, dan memberitahubahwa para pelaku sudah dikeluarkan. Pressrelease itu membuat organisasiku dikecam,terancam bubar, dan para pelaku nyarisdikeluarkan dari kampus. Meskipun begitu, saataku kembali beraktivitas di organisasi, samarsamar aku tetap diejek sebagai ‘gangguan’.Tidak seterang-terangan ejekan yang dulu,tetapi mengetahui bahwa ada pelaku lain yangternyata beanak-pinak, mentalku mulai kacaudan semakin kacau saat aku keluar dari sana.Dari situ aku sadar bahwa mentalku tak akanaman lagi selama aku masih satu kampusdengan orang-orang yang merundungku. Akumasih bisa menemukan mereka di trotoar jalan,di kantin, di gedung fakultas, dan lain-lain.Wajah mereka masam seakan inginmeludahiku.Jadi, saat aku sendirian, saat si Hitam kembaliberdiri di sampingku dan berbisik,“Ani,‘pergi’akan menyelesaikan masalah. Jika kau‘pergi’,semuanya selesai,” aku akhirnya membenarkanpernyataannya. Setidaknya aku tak perlumenyusahkan Kirana dan Satrio lagi.‘Pergi’adalah jalan terbaik, dan akan lebih baik jikakali ini aku‘pergi’ diam-diam.Penulis: Nur IstiyantiSumber: Canva


| APRIL 2026Ableisme yangBercokol dalamNadi KampusInklusif26 | OPINIHari itu adalah hari jumat yang panjang. Sayakeluar dari kelas terakhir dengan kepala dipenuhi tenggat waktu, judul-judul buku, danpeninjauan materi yang masih harus dipelajariulang. Saya membuka ponsel danmengirimkan sebuah gambar sampul bukuyang harus dicari untuk mata kuliah hari itukepada staf layanan disabilitas UniversitasBrawijaya (UB), dengan permohonan digitisasiyang, kalau bisa, selesai minggu depan.Saya menggulir pesan berisi permintaan yangsama minggu lalu, namun buku yang sayaajukan sebelumnya itu pun masih belumtampak hilalnya sama sekali. Sementara,penugasan untuk minggu ini masih akanmengacu pada buku-buku tersebut. Sayamengubah tujuan di aplikasi ojek daringmenuju Subdirektorat Layanan Disabilitas danPendidikan Inklusi (SLDPI UB) alih-alih pulangke kosan demi memastikan apakah buku itudapat ditemukan di perpus atau saya harusmembelinya sendiri.Saya sadar penuh dengan keterbatasansebagai mahasiswa disabilitas, karena itulahsaya tetap memiliki antisipasi lebih untukmenempuh studi. Bahkan setelah diantisipasipun, hal-hal lain di luar apa yang telahdiantisipasi tetap ada dan harus segeraditangani. Penanganan yang tak hanya menyitawaktu, namun juga pikiran dan rasa percayadiri.Kendati pun SLDPI UB telah memberikandukungan yang diperlukan mahasiswadisabilitas, rasa-rasanya beberapa masalahmahasiswa disabilitas tetap tidak akanterpecahkan bila mana premis kampus inklusifitu tidak ditinjau kembali dengan sungguhsungguh.Ketika saya sampai di SLDPI dan bertemudengan Mahalli, staf yang menangani digitisasibuku dan menanyakan prihal judul yang sayaajukan minggu lalu, ia menjelaskan bahwabuku itu tidak dapat ditemukan diperpustakaan sebab stoknya kosong dansemuanya sedang dipinjam mahasiswa lain“Stoknya kosong?” saya mengulang tidakpercaya. Perpustakaan pusat sekaliber UBkehabisan stok buku?.


27 | OPINISaking tercengangnya, saya akhirnya tidakberpikir dua kali untuk membeli buku itusendiri, membawanya kembali ke Mahalli, lalubesoknya hasil digitisasi buku itu sudah jadi.Kenapa tidak dari minggu lalu saja sayamelakukan ini?Belakangan, saya menyadari bahwa sayasedang mengamati sesuatu yang disebutsebagai “Ableism” dalam disability studies, atauyang dalam bahasa Indonesia disebut dengan“Ableisme, sebuah cara pandang yang sangatmendasar dan terbatas terhadap dis-ability.Jay Timothy Dolmage sudah menjelaskandengan sangat komperhensif dalam bukunya,Academic Ableism, yang memaparkan bahwasistem pendidikan tinggi sering kali dirancanguntuk tubuh-tubuh yang tidak berketerbatasandan asumsi bahwa semuanya dapat dan akanberjalan dengan standar normal. AcademicAbleism mengacu pada diskriminasi berbasiskemampuan dalam dunia akademis, sepertiyang saya gambarkan pada awal tulisan ini.SLDPI menyediakan akomodasi, tapi universitasbelum mengubah struktur sehinggamahasiswa disabilitas tetap harus mengelolaakses mereka sendiri. Ableisme itu kemudianbermanifestasi sebagai sulitnya akses ke bukubuku pembelajaran yang dibutuhkan di kelas,yang sudah saya temui di semester awal.Sisanya adalah penyesuaian berulang untukmetode pembelajaran dari setiap dosen yangbelum atau tidak mengetahui keberadaanmahasiswa disabilitas di dalam kelas mereka.Saya pikir ableisme itu pula yang terpatri dibenak para pengajar yang berasumsi bahwastandard dan bahan ajar yang mereka milikisudah merupakan bentuk paling ideal dalamsebuah sistem pendidikan, sehinggamengecualikan mahasiswa lain yang takmemiliki akses yang sama, yang pada akhirnyadipaksa untuk mengaksesnya denganketahanan dan kecerdikan masing-masing asalhasil akhirnya tetap memenuhi standardisasimereka.Bayangkan, setiap kali dosen meminta untukmencari buku-buku untuk referensi atau bahanbacaan, saya harus mengurus Digitisasi diSLDPI. Untung-untung bila Mahalli dapatmenemukan buku yang saya cari. Jika tidak,maka saya harus menunggu bermingguminggu, atau mengeluarkan uang untuk bukuyang kemudian tidak saya gunakan lagi.Atau misalnya, ada dosen yang masihmelaksanakan ujian paper based, saya harusmeminta pendampingan dari SLDPI, yangsebetulnya sudah lama sekali tidak sayagunakan. Setiap kali masalah muncul dalamperkuliahan, setiap itu pula saya harus bolakbalik menyatroni SLDPI, mengurus hal yangsama berulang-ulang, dan menjelaskan padasetiap dosen tentang kondisi saya.Beberapa hal bahkan sudah kepalang tipikalsehingga saya sudah bosan untukmengulangnya. Salah satunya anomaliinfrastruktur. Misalnya saja guiding block yangtidak merata, yang membuat saya harusmengandalkan orang lain untuk beraktifitas didalam gedung kampus. Guiding block-nya ada.Namun ya hanya ada saja. Perihal fungsionalatau tidak, itu persoalan lain lagi.Bila saya mengambil garis besar dari ide yangdiajukan oleh Viona Kumari Campbell, seorangpeneliti disability studies, Ableism bukansekadar diskriminasi terhadap disabilitas. Iaadalah sistem yang menganggap“tubuhnormal yang mampu (able bodied) sebagaistandard fungsional manusia. Ableismmembawa ide-ide tubuh produktif yangmengecualikan disabilitas (Disability) dalamgagasan besarnya.Inklusivitas di UB adalah perpaduan epik diantara produksi pengetahuan, implementasinilai yang berkeadilan, yang ditarik ulur diantara birokrasi dan akreditasi yangpeformanya bukan main-main namunsubstansinya masih sangat bisa dipertanyakan.| APRIL 2026


28 | OPINIUB adalah contoh yang baik namun serbananggung tentang bagaimana inklusivitasditerapkan di sistem pendidikan tinggi negaraini. Secara administrasif, UB memiliki unitlayanan disabilitas untuk memberikandukungan kepada mahasiswa disabilitas.Namun di saat yang sama, UB masih sambilsegan-segan mengoptimalisasi layanan merekayang lain sambil menumpuk ketidakefisienanan itu sebagai pekerjaan tambahanbagi SLDPI, seakan-akan masalah strukturalyang ada praktis dilimpahkan pada satutempat.Antrean panjang ketidakefisienan itu mengularmenjadi repetisi penyelesaian masalah yangberputar di situ-situ saja. SLDPI UB telahmenjadi tumpuan untuk memberikanakomodasi dan mengatasi hambatan dankebutuhan mahasiswa disabilitas. Harapdicatat, bentuknya adalah akomodasi. Sebuahpemecahan masalah yang menurut hematsaya, adalah solusi yang amat praktis, bersifatreaktif, dan sudahlah sangat mahal, tidakpernah mencabut akar permasalahannya samasekali, pula.Pertanyaannya adalah, mau sampai kapan?Bukankah UB adalah kampus yang palinginklusif? Mengapa mahasiswanya masih harusbolak-balik menangani akomodasi merekasendiri?Dolmage, masih dalam bukunya yang sama,memiliki metafora yang sangat baik untukmenjelaskan hal ini. SteepSteps, begitu diamenyebutnya. Ia mengumpamakan universitasseperti sebuah tangga yang besar dan curam,dengan asumsi bahwa orang-orang tertentudengan kebisaan tubuh mereka yang layakakan mampu menaikinya.Saya dengan kedis-ability-an saya, tidak akanmampu melewati anak-anak tangga itudengan keterbatasan yang saya miliki. SLDPI,sebagai sumber dukungan untuk mahasiswadisabilitas, menjadi akomodasi yangmembantu saya mendakinya.Sederhananya, tangga tersebut adalahuniversitas, SLDPI adalah pendukung yangditugaskan agar siapa pun mampu melaluitangga curam tersebut. Saya memang mampumelaluinya, namun tidak pernah ada yangberubah dari konstruksi universitas itu sendiri.Ableisme adalah masalah yang telah lamabercokol di dalam sebuah kampus inklusif,menjalar dari infrastruktur yang tidak lengkap,budaya akademis lama yang tertinggal, dankegagalan sistem digital yang tidak optimal.Tanya Titchkosky sudah membawa gagasandan kritiknya dalam The Question of Access:Disability, Space, Meaning (2011). Iamenjelaskan bahwa kebijakan akses danakomodasi sering kali hanya sejauh birokrasidan administrasi.Universitas bisa menyediakan akses masuknya,menyediakan unit layanan disabilitas yangmengakomodasi kehidupan mahasiswadisabilitas mereka, namun tidak pernahmempertanyakan dan mengupayakan strukturyang lebih baik dari pada hanya sekadarmenambal masalah yang muncul kemudian.Akses, kemudian hanya sebagai “pengecualian”bagi mahasiswa disabilitas, bukan sebagaiprinsip desain pendidikan.Acap kali, di waktu-waktu ketika sayamemberikan buku cetak pada Mahalli dansambat untuk yang kesekian kalinya tentangkesukaran dalam mengakses bahan ajar, beliauhanya tertawa saja, sambil terus bolak-balik keperpustakaan demi mencari buku-buku untukmahasiswa lain dan mendigitisasinyasepanjang waktu.Setelah mengetahui sejauh apa upaya yangdilakukan Mahalli untuk membuka aksesibilitaske buku-buku yang setiap dari mahasiswatunanetra butuhkan, rasanya saya juga segansegan untuk mengeluh, apa lagi menulissepanjang lebar ini.Apa boleh buat. Sebagai penulis saya hanya| APRIL 2026


| APRIL 2026 29 | OPINIingin menyampaikan apa yang saya pikir benar, sambil menanti hilal perubahan yang entah kapan.Walau pun Mahalli pernah mengatakan pada saya, bahwa kadang kita lebih butuh perubahan daripada kebenaran.Mengerjakan perubahan jelas lebih baik daripada sambat sana sini tentang kebenaran. Benar,bahwa UB adalah kampus yang mengakomodasi mahasiswa disabilitas. Tapi apakah sudahsepenuhnya inklusif? Apakah segala paradigma awal tentang mahasiswa disabilitas itu sudahberubah? Apakah ableisme itu akan benar-benar tergantikan dengan masa depan pendidikan tinggiyang lebih inklusif dan berkeadilan?Penulis: Ni Komang Yuni Lestari* (kontribusi pembaca)(* Ni Komang Yuni Lestari, mahasiswa penyandang disabilitas jurusan Sosiologi Universitas Brawijayaangkatan 2025. Kegemarannya menulis bertumbuh seiring kemampuannya mengamati sesuatu.Bukan aktivis disabilitas, dan tidak bisa disebut sebagai pejuang inklusivitas. Hanya seorangpengamat dan penulis biasa yang mencintai sastra dan sedang belajar menjadi esais, sambilberusaha agar tidak menjadi orang yang pesimis. Saat ini menjadi staf magang LPM Perspektif FISIPUB.Ableisme adalah masalah yangtelah lama bercokol di dalamsebuah kampus inklusif,menjalar dari infrastruktur yangtidak lengkap, budayaakademis lama yang tertinggal,dan kegagalan sistem digitalyang tidak optimal


| APRIL 2026Judul: Aib dan NasibPenulis: MinantoTahun Rilis: 2020Penerbit: Marjin KiriJumlah Halaman: 263 halamanTeatrikal danPatologisasiKesintingan diTegalurung30 | RESENSI BUKU“Orang-orang bilang kita inisama-sama sinting. Tapi, cobakita lihat siapa lebih sinting diantara kita,” ujar BagongBadrudin ketika bersiapmenerjang Boled Boleng.“Jadi, kita akan tetap di sinisambil nunggu kamu ngaceng,atau kita sekap dulu perempuansinting itu sampai malam?” ejekSusanto pada Bagong Badrudinkarena takut menyergap danmemerkosa Uripah.Beberapa waktu lalu, saya tengah menontonpenjelasan Fahruddin Faiz soal kesehatanmental. Kebetulan tokoh yang dikutip saat ituadalah Michel Foucault—seorangpoststrukturalis Perancis yang menurutnyaaneh, tapi keanehan itu juga merupakanbagian dari filsafatnya. Foucault sendiribukanlah tokoh yang asing dalam kajiankekuasaan dan pembentukan wacana. Dalamkonteks saat itu, pembentukan wacana yangdimaksud berkaitan dengan kesehatan mental.Mengutip Foucault, Faiz membedakan tigaistilah sakit, yakni disease (penyakit biologis),illness (apa yang dirasakan seseorang), dansickness (konstruksi sosial tentang kondisi sakittersebut).Secara ringkas, sickness-lah yang kemudianmenjadi wacana pada pengajian itu. Sebabmemang, pemikiran Foucault berfokus padapenjelasan terkait cara-cara kekuasaanmemberi seseorang label “sakit”. Kekuasaan,dalam konteks ini, adalah para ilmuwanSumber: Marjin Kiri


31 |RESENSI BUKUJudul: Istirahatlah Kata-Katasutradara: Yosep Anggi NoenTahun Rilis: 2016Durasi: 97 menitpsikiatri yang membuat kesepakatan ataslabelisasi tersebut. Karena memiliki legitimasiatas keilmuan mereka, para ilmuwan tersebutberkuasa menentukan siapa yang sakit dansiapa yang sehat. Salah satu bentuk kekuasaanitu terwujud dalam sebuah asosiasi raksasabernama American Psychiatric Association(APA). Supaya lebih jelas, Faiz mencontohkan:misalnya semua orang di dunia ini tidak waraskecuali satu, maka orang yang waras itulahyang dianggap tidak waras.Dan kondisi semacam itulah yang terjadi diTegalurung. Bahkan lebih buruk. Orang-orangTegalurung, entah dengan legitimasi keilmuanapa, selalu saling mempatologikan satu samalain. Setiap hari, orang-orang di desa itumenyempatkan diri untuk merumuskansesuatu tentang kesintingan, tak peduliseberapa sinting kehidupan masing-masingmereka ketika pulang. Uniknya, kesintingan itumemang terjadi setiap hari di Tegalurung,sehingga topik atas perumusan itu sendiri takpernah habis. Uniknya lagi, kendati berbenahdari kesintingan, mereka lebih nyaman untukhadir dan terlibat dalam kesintingan itu. Sebabdi dunia yang semuanya sinting, apa perlunyamenjadi waras? Mungkin itu pikir mereka.***Hal yang sama juga berlaku untuk pembaca.Para pembaca, tentunya anda sekalian, takperlu menjadi waras ketika menghayati kisahkisah di Tegalurung. Jalan ceritanya tidak enakuntuk dinikmati dalam paradigma waraspsikiatri. Anda perlu menjadi gila untuk hanyutdi dalamnya. Di awal cerita, anda akanmenemui beberapa tokoh yang mati akibatkejadian-kejadian yang aneh, lalu secara anehjuga, tokoh-tokoh itu kembali hidup dalamlogika kesintingan Tegalurung.Secara keseluruhan, kisah-kisah itu tersusunatas pecahan fragmen yang terpisah-pisah.Pecahan-pecahan itu kemudian diceritakandalam empat latar yang berbeda. Kesemuanyaada di Tegalurung, namun hadir dengan fokustokohnya masing-masing.Dari empat latar tersebut, karena beberapaketerbatasan, hanya dua yang akan dibahasdalam tulisan ini. Keduanya berkisah tentangstigma sosial yang berlaku pada orang yangdianggap sinting.Boled Boleng dan Teatrikal KesintinganTak seperti anak tunggal pada umumnya, kisahhidup Boleng jauh dari kata manja. Ayahnya,Baridin—jika pantas disebut ayah—mendidikBoleng dengan cara-cara yang tidak sepertimanusiawi. Pernah suatu saat, ketika Boleng—entah dengan sengaja atau tidak—“meminjamkan” motornya kepada orang yangtidak dikenal, Baridin sontak memukulipunggungnya dengan gagang sapu. Untunglahsaat itu Ratminah, ibu Boleng, sempatmelerainya sebelum Boleng benar-benar“lumat”.Meski demikian, Boleng tak kenal kapok. Di lainhari, Boleng dengan sengaja mempretelisepeda motor tetangga, tak tahu apa alasannya.Melihat itu, Baridin tak segan-seganmenceburkan bocah itu ke sumur hinggahampir mati. Sudah lama pengen kubunuh dia,tapi selalu tidak sempat, kata Baridin. Tapientah bagaimana caranya, Boleng bisa lolosdari percobaan pembunuhan itu.Peristiwa-peristiwa tersebut memberigambaran atas hubungan Boleng denganorang tuanya. Tren kekinian menyebutnyadaddy issue. Pendidikan semacam itumenyebabkan agresivitas Baridin juga ditiruoleh Boleng. Buah jatuh tak jauh daripohonnya, kata sebuah pepatah. Adalahkepastian bagi Boleng untuk mengimitasiperilaku orang yang ada di sekitarnya. Takheran di kemudian hari, Boleng tak segansegan memukul temannya, Bagong, sampaibonyok karena tidak meminjamkannya HP.Akibat hubungan itu juga, masyarakatTegalurung mulai menganggap Boleng sebagaiorang sinting, seperti yang dicuplik dalamepigraf sebelumnya.| APRIL 2026


32 |RESENSI BUKUJudul: Istirahatlah Kata-Katasutradara: Yosep Anggi NoenTahun Rilis: 2016Durasi: 97 menitBuruknya hubungan Boleng dengan Baridinmembuatnya jarang pulang ke rumah.Karenanya, ia sering dianggap hantu olehwarga sekitar. Biasanya ia akan hilang satu-duahari, lalu muncul pada hari ketiga dalamkondisi yang tak terduga. Paling parah, iapernah dituduh mencuri HP karena gelagatnyayang sinting. Cuplikan di bawah ini akanmenjelaskan seberapa sinting Boleng dipandangan warga sekitar:Manusia masih bisa hidup tanpa makandalam tiga hari sedangkan makanan bisaditemukan bahkan dari tempat sampah.Maka Boled Boleng masihlah hidup. Pak RTSumarta mengakui kalau Boled Bolengmemang suka menghilang dalam dua hari,namun di hari ketiga ia kembali sama utuhseperti saat ia menghilang (hal. 74).Padahal jika dilihat dari perilaku Boleng, iasebenarnya tak sepenuhnya sinting. WargaTegalurung pun sebenarnya tahu akan hal itu.Terbukti bahwa sesinting-sintingnya Boleng, iamasih tahu arah tempatnya pulang. Lebihmeyakinkan lagi, Boleng sering meminjam HPBagong untuk chattingan dengan pacarnya diFacebook. Orang sinting mana yang mampumemainkan HP dengan lancar, bahkan sampaimemiliki pacar?Si Rustini, seperti para tetangga lain juga,tahu dia itu pura-pura edan. Kalau dia purapura edan, dia tidak akan pulang ke rumahRatminah. Kalau dia benar-benar edan, diatidak akan mencuri gelang kalung milikRatminah, papar Bi Sartinah (hal. 126).Dia bisa bermain-main di Pesbuk. Tapi,entahlah, ada orang bilang dia memangedan betulan setelah melihat dia pasang fotopantat di Pesbuk itu. Kata orang dia pernahmelubangi pelepah pisang untuk dijolok-jolokdengan kontol (hal. 126).Kata orang sih begitu. Sebab itu juga akucuriga dia bisa saja memerkosa Uripah,”pungkas Bi Sartinah (hal. 126).Dalam hidup yang seperti itu, Boleng sepertibermain teater. Barangkali sebagai cara balasdendamnya pada Baridin, ia berperilaku sepertiitu supaya leluasa mempermainkan orang.Dengan anggapan bahwa dirinya sinting,orang-orang tak akan berlarut-larutmenyalahkannya, meski tetap menggunjingnyadi belakang. Imbasnya adalah pada Baridinyang pusing tujuh keliling. Dan di saat-saat itu,Boleng akan menari dan bergumam sepertiSujiwo Tejo,“hidup ini teater!”. APA akankesulitan mengklasifikasi ini sebagai penyakit.Begitulah contoh bahwa kesepakatan orangorang terkait kesintingan (sickness) tidaklahbisa disamakan dengan pengalaman pribadiorang tersebut (illness). Boleng, dengankelakuannya yang seperti itu, hampir tak adaorang di Tegalurung yang menganggapnyamasih waras. Tapi apa yang dirasakan olehBoleng, tidak seharusnya orang lain bisamenganggapnya sebagai penyakit karenamereka tidak merasakannya secara langsung.Dan terbukti, Boleng seharusnya memangsehat wal afiat.Nasib dan Trauma Perempuan SintingUripah lahir dalam keadaan piatu. Ibunya, Turi,tak mau proses melahirkannya dibantu orang,kecuali suaminya. Sota, sang suami, hanya bisameratapi mayat istrinya setelah Uripah lahir.Kalau kau membiarkanku memintapertolongan orang lain, kamu tidak akan atibegini, Turi, sesal Sota. Kacaunya lagi, kendatibersimpati pada Sota, masyarakat Tegalurungmalah menganggapnya sebagai pembunuhkarena membiarkan istrinya melahirkansendirian.Kondisi itu membuat Sota, si tua miskin,mengalami distress berlebih. Ia sepertimenghindar dari tanggung jawab akan| APRIL 2026


33 |RESENSI BUKUJudul: Istirahatlah Kata-Katasutradara: Yosep Anggi NoenTahun Rilis: 2016Durasi: 97 menitstatusnya sebagai ayah. Barangkali itulah nasibterlahir sebagai miskin. Penghayatan Sota ataskemiskinannya menjadikan ia tidak bisamendidik Uripah dengan baik. Setiap hari, Sotahanya berpikir cara untuk hidup di hari itu, takkurang tak lebih:Segala harapan seolah-olah pupus dari hidupMang Sota. Ia bekerja seperti untuk hidup dihari itu saja. Ia tidak memedulikan hari kemarintidak pula dengan hari esok. Seperti biasa, iabangun lebih pagi dari matahari, pergi kesumur, pergi ke pangkalan becak di pasar,meninggalkan Uripah, dan pulang denganbeberapa lembar receh pada malam hari (hal.43).Imbasnya, ia menganggap Uripah sepertigulma yang bisa tumbuh di mana pun. Makajadilah Uripah sebagai seorang gelandanganyang sering mengais sampah di pengkolanpasar baru. Pernah suatu malam, Sotamencoba menjadi sosok ayah yang baik. Iamengajak Uripah untuk mengobrolkan hal-halringan. Apakah berhasil? Malam itu,percakapan payah antara ayah dan anak telahterjadi:“Enak?” tanya Mang Sota saat melihatUripah lahap makan ikan goreng. Uripah punmengangguk.“Besok kamu mau makan apa?”“Mbuh.”“Mau ikan goreng lagi?”“Ya,” jawab Uripah, tetapi kemudianmenggeleng.“Jadi kau mau makan apa besok?”“Mbuh.”Untungnya Sota masih memiliki tetangga yang—meski juga menggunjingnya di belakang—masih berbaik hati membantu merawatUripah. Namanya Yuminah. Berkat Yuminah,Sota diberi tahu siklus bulanan. Uripah—mausemiskin apapun, Uripah tetaplah perempuan.Yuminah juga seringkali memberikan makansecara cuma-cuma untuk Uripah. Tapi Yuminahbukanlah wali yang sabarnya minta ampun.Dengan gunjingan beberapa tetangga,ditambah lagi anaknya baru saja mati, Yuminahterkadang menolak untuk menguruskeseharian Uripah.Tumbuh dengan minimnya pendidikan, Uripahtak sepenuhnya tahu cara menjaga diri. Dalamlogika kesintingan Tegalurung, menjadiperempuan tentu menjadi risiko tersendiri.Dengan ketidaktahuannya, Uripah menurutsaja ketika ada yang mengajarinya menaikturunkan baju—ia segera ditertawakan. Kelakdengan ketidaktahuan itu, cuplikan yangdisebutkan di epigraf terjadi. Uripah diperkosadalam rimba kesintingan Tegalurung.Akibatnya ia hamil dan Sota segera memilikicucu.Setelah pemerkosaan itulah, Uripah menjadisering termenung di teras rumah. Barangkalikejadian itu membuat Uripah menjadi seorangpengidap Posttraumatic Stress Disorder(PTSD). Suatu ketika Yuminah mencobamemperjelas apa yang terjadi saat Uripahdiperkosa dengan menghadirkan kucingbunting. Melihatnya, Uripah ketakutan danmelempari kucing itu dengan sandal dan batu.Gejala ini menunjukkan adanya suatu haltraumatis yang mengepul di kepalanya. Ia takmau kejadian traumatis itu kembali terulangpada dirinya—meski suatu saat, logikakesintingan Tegalurung kembali membuatnyadiperkosa lagi.Begitulah, proses pembentukan Uripah sebagaiorang sinting tak bisa dilepaskan begitu sajadari lingkungan tempatnya tinggal. Lahirsebagai perempuan di lingkungan miskinmenjadikan Uripah serampangan menjalanihidup. Kemudian, keserampangan itu menjadilabel tersendiri dalam masyarakat—seorangsinting. Mirisnya, buntut kesintingan itu hanyamenyebabkan stigma buruk dalam masyarakat.Dalam kondisi paling parahnya, kesintingan itumenjadi alasan Uripah bisa diperkosa—suatu halyang tentu sangat menyakitkan, bahkan| APRIL 2026


| APRIL 2026 34 |RESENSI BUKUbagi orang“waras”. Masalah ini tentulah hadir secara struktural dalam kehidupan masyarakatTegalurung. Dalam kesehariannya, terbentuk wacana bahwa orang-orang seperti Uripah adalahsinting. Kalaupun benar Uripah sinting, penuduhnya perlu sadar bahwa ia tak terlepas dari suatutatanan yang memproduksi kesintingan itu. Dan kalaupun benar ia sinting, seharusnya si penuduhikut membantunya supaya tidak sinting lagi. Tapi apa daya, tak ada satupun dari mereka yang bisamelakukan itu. Mereka lebih suka terus-menerus memproduksi normalitas dalam kemiskinan dankesintingan mereka.Keseluruhan cerita Tegalurung seperti menyiratkan satu hal: bahwa selalu ada kondisi sosial yangmenyebabkan seseorang dianggap sebagai sinting. Kondisi itu makin menguat sepanjang waktukarena penuduhnya, alih-alih membantu proses penyembuhan, malah hanya menyaksikankesintingan itu dari jauh—sambil sesekali ikut memperkuat stigma pada si sinting. Novel ini, Aib dannasib, seolah menjelaskan bahwa kondisi sosial-lah yang seringkali membuat orang menjadi sintingatas konstruksi yang dibuatnya. Konstruksi kesintingan itu dibuat, kemudian dipaksakan masuksebagai identitas bagi si sinting, meski secara sadar si sinting tak sesungguhnya merasakan itu.Penulis: Muhammad Tajul AsroriSumber: Canva


| APRIL 2026Big World: Aku yangKecil, MelangkahTanpaKesempurnaan diDunia yang Besar35 | RESENSI FILMDunia dengan segala kebesarannya, terkadangtidak menyediakan ruang untuk kita. Semuaorang ingin melangkah, semua orang inginmewujudkan cita-citanya, dan semua orangmemiliki mimpi. Tapi ada tubuh-tubuh yangsejak lahir sudah dianggap salah oleh dunia.Bukan karena mereka berbuat salah. Bukankarena mereka meminta dilahirkan berbeda.Hanya karena cara mereka bergerak tidaksama dan kehadirannya di dunia dianggaptidak sesuai untuk diberi ruang.Liu Chunhe lahir ketika dunia pertama kalimemutuskan ia berbeda. Pengidap Cerebralpalsy atau kelumpuhan otak yang membuatkemampuan motoriknya terganggu menjadilabel berat yang harus ia terima dengankalimat menyakitkan yang sudah kadungmenempel di punggungnya. Tidak normal,tidak berdaya, lemah, dan tidak perlu terlalujauh melangkah.“Seolah kehadiranya di dunia adalah sesuatuyang perlu dimaafkan terlebih dahulusebelum dirayakan.”Judul \"Big world\" terdengar ambisius, bahkanironis; dunia yang dianggap besar untuk tubuhyang oleh banyak orang dianggap terlalu kecildan lemah untuk melangkah. Film asal Chinayang rilis pada tahun 2024 ini berhasilmenyayat hati penontonnya dan membekasharu di setiap adegan nya. Big World berhasilmemperlihatkan kehidupan dari sudutpandang seorang disabilitas yang memilikimimpi dan begitu saja dipatahkan olehkenyataan dunia.Bukan Tubuhnya yang MengurungFilm ini berkisah tentang kehidupan dariseorang disabilitas yang memiliki impiansebagai seorang guru, mengajar, danbermanfaat bagi banyak orang. Tapi apa dayabahkan tubuhnya terasa tidak merestui.Menelan makanan pun ia masih kesusahan,terkadang tersedak walau tidak tergesa-gesa,tangan masih gemetar memegang sumpithingga butuh alat bantu, berjalansempoyongan, dan menyeret-nyeret sepertimengangkat kaki yang terlilit pengekang besi.Chunhe bukan hanya penyandang CerebralPalsy yang terhalang untuk beraktivitas, tapi iaadalah manusia yang dikurung oleh orangorang di sekitarnya. Chunhe tidak sedangmengeluh. Ia sedang berusaha memahami danmenerima betapa dunia bahkan dalamSumber: WikipediaJudul: Big WorldSutradara: Yang LinaTahun Rilis: 2024Durasi: 131 menit


36 | RESENSI FILMkeindahannya terasa jauh dan tidak terjangkau.Hal yang paling menyesakkan, jarak itu bukanhanya lahir dari tubuhnya yang bergerakberbeda dengan yang lain, melainkan darikeputusan-keputusan kecil orang di sekitaryang tidak menerimanya.Tidak cukup tubuhnya yang dianggap berbedaoleh dunia, tetapi orang lain entah dengandasar apa selalu menatapnya dengan tatapansinis, jijik, takut, kasihan, bahkan kebencian.Keberadaan Chunhe di rumah pun tidak jauhbeda. Ibunya, Chen Lu selalu mengomel danmenyuruh Chunhe untuk mengikuti terapi danmasuk sekolah khusus tanpa menggubriskeinginannya untuk lanjut belajar di universitas.Walau Chunhe hanya diam, ia paham betulbahwa tatapan yang sering ia dapat dari ibunyaadalah tatapan penyesalan.Ada satu ingatan yang melekat erat di memoriChunhe. Pada menit ke 95 lebih 42 detik, ketikaia ingin bermain petak umpet dengan orangtuanya dan bersembunyi di koper. Ia dengarsangat jelas ketika orang tua nya duduk sambilmenunduk dan menghembuskan nafasdengan berat seraya berkata.“Jika kita tidak menemukannya, apakahkehidupan kita akan lebih baik?” - Chen Lu.Ibunya, Chen Lu, adalah sosok yang palingkompleks dalam film ini. Ia bukan ibu yangjahat. Ia mencintai Chunhe dengan cara palingsungguh-sungguh yang ia tahu. Tapi cinta yangterlalu takut kehilangan seringkali berubahmenjadi penjara yang paling rapi tidakberkunci, tidak berterali, tapi tidak ada pintujuga. Chen Lu ingin Chunhe terlindungi. Yangtidak disadari bahwa ia sedang membatasi danmengunci Chunhe dari hidup itu sendiri.Sekarang bayangkan apabila seluruh orang,tanpa terkecuali, tanpa mengenal siapa dirimu,dan identitasmu menolak kehadiranmu. Kabarburuknya lagi, orang terdekat, orang tua yangmengenalmu sangat lama dan bahkansempat mengharapkanmu hadir di dunia,bertingkah seperti kau bukan keluarganya.Dalam film, Chunhe yang seharusnyadiberitahu bahwa ia akan menjadi seorangkakak lantaran ibunya hamil pundisembunyikan. Pada menit ke 79 lebih 46detik, terjadi pertengkaran hebat Chunhedengan ibunya, Chunhe dengan segala momokpikirannya mengeluarkan segala kekesalannyapada ibunya.“Ibu adalah orang yang benar-benarmembenciku dan meremehkanku. Aku tahuaku hanya beban bagi keluarga ini, aku tahuselama ini. Jadi kenapa kau masih berpurapura peduli padaku?” - ChunhePertengkaran itu berakhir dengan luka. Ibunyamembalas pernyataan Chunhe denganmengatakan bahwa itu adalah takdir merekaberdua untuk sengsara. Chunhe yang merasabahwa ia tidak pernah meminta takdir sepertiitu hanya bisa diam dan memendam amarahyang tidak tau harus pergi ke mana.Puisi yang Tak TersampaikanSaat semua orang menolak danmencampakkannya, setitik harapan munculketika Chunhe bertemu dengan seorang gadisbernama Yaya. Ia adalah gadis periang, cantik,ramah, dan yang terpenting, Yaya mauberteman dengan Chunhe tanpa menatapnyadengan sorot mata jijik, takut, dan benci sepertikebanyakan orang. Chunhe tidak menemukansedikitpun rasa terkucilkan dan dibedakanketika bersama dengan Yaya. Untuk pertamakalinya, Chunhe dapat merasakan dirinyadirayakan oleh orang lain yang bukankeluarganya. Dunia pun terasa lebih berwarnabagi Chunhe. Perasaan itu ia tuangkan dalambait puisinya yang belum selesai.Kau bintang diatas awanAku orang aneh yang menyeberangi sungaikesepian- Chunhe| APRIL 2026


37 | RESENSI FILMTapi dunia kembali menunjukan sisinya yangkejam. Ketika Chunhe memberanikan diriuntuk menunjukkan perasaannya, Yaya hanyaterdiam dan menjauh. Dari kejauhan Yayamelambaikan tangan sebagai isyaratperpisahan. Saat itu juga Chunhe barumendapati sorot mata Yaya yang menunjukkanrasa kasihan padanya. Ia merasa pada akhirnyatidak ada yang menganggapnya sebagaimanusia biasa tanpa label yang menempel dipunggungnya. Puisinya selesai dengan carayang paling menyesakkan.Kau bintang diatas awanAku orang aneh yang menyeberangi sungaikesepianAlgojo di jembatan, Membunuh impianSuara tembakan dari tanggul, MembunuhkeinginanAku menggenggam alamat yang sudahusang, Isinya“Di tepi bukit yang sepi ini, adalah tempat akumelihatmu saat kau begitu cantik.Tapi sekarang, Hatiku yang bergejolakmenjadi mati rasa.Tubuhku sudah terlihat tua.Aku akan segera melupakan betapa lamanyaaku terjebak.”- ChunheLumut pun Berbunga, meski TanpaMatahariDibalik takdir dunia yang terus menolaknya.Hadirlah Chen Su Qun, nenek Chunhe denganpenampilan khasnya, rambut kriwil, gaunbunga warna-warni, dan cara tertawa yangterlalu keras untuk seorang perempuanseusianya. Chen Su tidak pernah membacalabel yang menempel di punggung Chunhe.Baginya, Chunhe bukan anak yang pantasdikucilkan kehadirannya. Ia adalah cucunya,cucunya yang paling berharga, cucu yang tidakbutuh izin untuk memiliki mimpi di dunia.Chen Lu yang selalu membatasi Chunheberaktivitas dan sibuk dengan pekerjaan, tidakpernah mengurus Chunhe secaralangsungdigantik an oleh Chen Su yang selaluhadir untuk mendukung dan membantuChunhe. Chun Su selalu memperbolehkankeinginan Chunhe dan membiarkan cucunyamengeksplorasi dunianya sendiri. Walau ChunSu paham betul bahwa takdir penolakan sosialakan dihadapi oleh Chunhe, tapi memberiChunhe hak untuk menentukan arah hidupnyaadalah hal yang paling penting.Tentu saja semua semangat itu juga tumbuhdari keberanian Chunhe untuk berpegangteguh menggapai impiannya sebagai guru. Iasering ikut tes pendaftaran masuk universitas diluar kota dan diterima, tetapi ibunyabersikukuh ia harus mendaftar di Universitas didalam kota dan di sekolah khusus. Semangatdari Chunhe sendiri sudah mampumembuatnya lebih jauh melangkah saat itu.Chunhe juga berkesempatan mengirimlamaran kerja di sebuah kedai kopi danakhirnya dapat bekerja disana sebagai satusatunya karyawan disabilitas yang dipekerjakan.Setelah mendapat pekerjaan tersebut, untukpertama kalinya ia berdiri menghadapikeberatan ibunya bukan dengan amarah, tapidengan sesuatu yang lebih kuat dari itu.Keyakinan bahwa hidupnya tidak perlumenunggu kondisi menjadi sempurna terlebihdahulu.\"Memiliki pekerjaan adalah martabat.\"- Liu ChunheKalimat itu terdengar sederhana. Tapi bobotnyaluar biasa jika kita tahu dari mulut siapa katakata itu keluar. Kata-kata tersebut keluar dariseorang pemuda yang selama ini diajarkanuntuk tidak terlalu berharap akan penerimaankeberadaanya dan seseorang yang selalumengalami penolakan.Dalam adegan ketika Chunhe menjalani tespraktik mengajar untuk menjadi seorang gurupada menit ke 16 lebih 14 detik, ia mengajarkansastra China kepada anak-anak. Ia mengutip| APRIL 2026


38 | RESENSI FILMsastra seorang penyair Dinasti Qing bernamaYuan Mei berjudul “Lumut”.“Bahkan di tempat gelap dimana mataharitidak dapat menyinari,Lumut berjuang untuk tumbuh.Ukurannya mungkin sekecil beras, tetapi iatidak menyerah pada diri sendiri.Ia menggunakan kekuatannya untuk hidupbermartabat seperti bunga peony”- Yuan Mei, Dinasti QingSastra tersebut bukan sekedar pengisi adegan,melainkan cerminan dari seluruh perjalananChunhe. Lumut adalah tumbuhan yang tidakmenunggu kondisi sempurna. Ia tidakmenunggu matahari datang, tidak memintatanah yang subur, tidak memohon agar diakuisebagai bunga. Ia hanya tumbuh pelan, kecil,tapi sungguh-sungguh hidup. Dan Lumuttersebut adalah metafora dari perjalananChunhe selama ini.Akhir pada film ini menunjukkan bahwaChunhe akan terus menjalankan kehidupanyang sama. Tapi sekarang, ibunya sudah lebihbaik padanya setelah serangkaian kejadianyang membuatnya sadar akan kesalahannya.Chunhe juga berkesempatan hadir diuniversitas yang ingin ia masuki. Tetapi ia hanyaberhasil menceritakan pengalamannya dipodium universitas. Tanpa gelar mahasiswaataupun guru yang ia dapat. Film ini ditutupdengan adegan yang menunjukkan bahwa iasekarang dapat bepergian sendiri secara bebasbersama neneknya tanpa pembatasan yang iadapat sebelumnya.Sebuah Celah KosongAkhir pada film ini terasa menggantung karenafilm ini bukan serta merta akan memuaskansemua orang. Ending nya tidak meledak, tidakmemeluk, dan tidak juga menutup pintumasalah dengan rapi. Tetapi ending yangdiberikan membuat kita sadar bahwakehidupan seorang penyandang disabilitastidak berakhir pada satu momen kemenanganyang dramatis. Tidak ada tepuk tangan di akhirperjuangan. Film ini seperti sengaja menolakmemberikan katarsis yang mudah, karenahidup Chunhe memang tidak pernahmenawarkan kemudahan seperti itu kepadapenontonnya.Dengan kata lain, ketidakpuasan yang kitarasakan sebagai penonton atas ending adalahbagian dari pesan itu sendiri. Kita terbiasamenonton kisah disabilitas yang berakhirdengan kemenangan yang dapat difoto,dipeluk, dan dibagikan. Big World menolakformula itu dan dalam penolakan itulah justrufilm ini paling dekat dengan kenyataan dunia.Ada juga celah kekosongan lain yang sulitdiabaikan sepanjang film; sosok ayah. Figuryang seharusnya hadir sebagai tiangpenyangga dan pemimpin keluarga ini hanyamuncul sekali atau dua kali, hampir sepertibayang-bayang sepintas, bahkan terkesansebagai pemeran tambahan. Saya rasaketidakhadiran itu bukan hanya soal pilihannaratif. Ia dapat berbicara tentang sesuatu yanglebih besar.Dalam konteks disabilitas, absennya figur ayahmenempatkan seluruh beban pengasuhansecara emosional dan sosial di pundak sangibu. Maka kita pun menyaksikan seorang ibuyang tampil bukan sebagai penjahat,melainkan sebagai manusia yang kelelahan.Chen Lu terlalu sering disorot sebagai sosokyang menolak dan membatasi Chunhe. Namunjika kita berhenti sejenak, kita akan menyadaribahwa ia adalah perempuan yang bertahuntahun menanggung beban yang seharusnyadibagi dua sendirian, tanpa jeda, tanpa ruanguntuk rapuh.Film ini selesai. Tapi kisah Chunhe tidak. Disuatu tempat, ia masih berjalan denganlangkahnya yang goyah, menatap duniayang belum sepenuhnya siap menerimanya.| APRIL 2026Penulis: Nayla Zulva Al-Ulya


| APRIL 2026SedatifTerakhir untukSang AlkemisBeton39 | CERPENDunia Raka adalah sebuah mahakaryageometris yang dibangun di atas fondasikebanggaan. Dahulu, ia adalah sang“AlkemisBeton” alias seorang arsitek yang mampumengubah lahan kumuh menjadi pencakarlangit berlapis kaca yang mencium awan.Baginya, presisi adalah satu-satunya Tuhanyang ia sembah. Ia mencintai garis lurus, sudutsiku-siku yang tajam, dan angka-angka direkening banknya yang berderet seperti tentarayang patuh.Dan di pusat semesta kejayaannya, berdirilahMaya. Wanita cantik itu bukan hanya sekadaristri, ia adalah cahaya-cahaya yang memantuldi atas rancangan-rancangan Raka. Mayaadalah kurator hidupnya, yang memilihkanwarna dasi senada dengan suasana hatinya,dan wanita yang selalu membisikkan bahwadunia ini terlalu kecil untuk ambisi suaminya.Lalu kecelakaan itu datang. Sebuah ledakan disitus konstruksi—katanya begitu. Dunia SangAlkemis Beton itu meledak dalam kilat putih,lalu padam menjadi jelaga abadi. Kegelapanyang menyelimuti Raka sekarang terasa sepertibeludru mahal setidaknya begitulah Mayamendeskripsikannya.“Pelan-pelan ya, Sayang,” suara Maya mendaratdi telinga Raka, lembut seperti kelopak bungayang jatuh ke air tenang. Jemarinya yang halusmembelai punggung tangan Raka.“Apartemenbaru di lantai empat, di sini, kamu aman.”Maya mendeskripsikan istana baru merekadengan presisi seorang penyair. Lantainyaterbuat dari kayu jati yang hangat, dindingnyadicat warna biru laut yang tenang dan jendelajendela setinggi langit-langit yang menghadapke taman kota. Raka bisa membayangkannya:matahari sore yang menembus kaca,memberikan kehangatan pada kulitnya,sementara angin membawa aroma petrichordan bunga melati dari bawah sana.\"Langkahmu, Raka,\" instruksi Maya lembut.\"Akumenghabiskan sisa tabungan kita untukmemastikan dinding ini sedingin samudera,agar matamu yang lelah bisa beristirahatdalam bayangan.\"Raka tersenyum, sebagai seorang arsitek, Rakamerasa tenang. Meski buta, ego profesionalnyaIlustrator: Nur Istiyanti


40 | CERPENterpuaskan mendengarnya. Ia menghafalgeometri ruang ini. Sepuluh langkah dariranjang ke meja jati tempat sarapan disajikan.Lima belas langkah menuju balkon di lantaiempat, tempat ia bisa menghirup napas kotayang makmur. hidup dalam narasi itu.Setiap pukul empat sore, Raka mendengarsuara sayup tawa anak kecil.\"Maya, ada tamanbermain di bawah ya?\" tanya Raka suatu hari.Maya menjawab lembut sembari menyisirrambut Raka,\"Iya Sayang, anak-anak tetanggasedang main ayunan. Manis sekali, bukan?\"Namun, naluri arsitek Raka mulai berontakmendengar pernyataan istrinya. Suara tawa itutidak datang dari arah bawah sepertiseharusnya suara dari taman di lantai dasar.Suara itu datang dari samping, mendatar, dananehnya, ritmenya selalu sama. Ada jeda tigamenit di setiap lengkingan tawa itu.\"Waktunya vitamin harianmu,\" ucap Mayalembut. Raka merasakan usapan alkohol yangdingin di lengannya, disusul tusukan jarumyang halus.\"Ini agar sarafmu tetap kuat, agarkau bisa segera merancang lagi di dalampikiranmu. Kau tahu aku tidak bisa melihatmulemah, Raka. Aku mencintaimu lebih darinyawaku sendiri.\"Raka mengangguk patuh.“Terima kasih ya,Istriku.” Setiap kali cairan itu masuk, kepalanyaterasa ringan, mimpinya menjadi lebihberwarna, dan suara bising di luar sanaberubah menjadi simfoni yang indah. Ia merasaseperti raja yang sedang beristirahat dikastilnya, dirawat oleh ratu yangketaatannya melampaui logika.Suatu sore, Maya pamit sebentar untukmengambil pesanan anggur mahal di lobi.Raka, yang merasa tubuhnya sedang bugarmacam efek semu dari obat penenang itumemutuskan untuk memberikan kejutan. Iaingin berdiri di balkon, menyambutkepulangan. Maya dengan berdiri tegak,memamerkan bahwa sang Alkemis Betonbelum sepenuhnya hancur. Ia bangkit dariranjang. Ia mulai menghitung. Satu, dua... lima...sepuluh. Ia sampai di meja jati. Langkahnyamantap. Namun saat ia sampai pada dindingyang katanya berwarna“biru laut” ada sesuatuyang mengganjal hatinya. Saat jemari merabapermukaan dinding yang seharusnya halus,seharusnya dingin seperti cat berkualitas tinggi.Namun, yang ia rasakan adalah guratan kasar,pori-pori yang tajam, dan serpihan yang rontoksaat disentuh. Itu bukan dinding apartemenmewah, semuanya terasa seperti beton mentahyang mulai berlumut.Raka merasa janggal, tapi ia segeramenepisnya. Maya begitu baik, Mayamenjagaku saat aku tak punya apa-apa lagi.Jangan menjadi monster yangmeragukannya, batinnya.Ia kembali melangkah. Sebelas, dua belas...empat belas. Langkah kelima belas.Tangannya terulur ke depan, mencari pagarbalkon dari besi tempa yang menurut Mayabermotif sulur mawar yang megah. Jemarinyabersentuhan dengan sesuatu, tapi sensasinyasalah. Bukan besi dingin yang solid, melainkankayu lapuk yang kasar, mengerutkan kening.Secara arsitektural, ini adalah penghinaan.Tidak ada balkon lantai empat yang memilikipagar serendah ini. Ia menghirup udara,mencoba mencari wangi melati dari tamanbawah yang selalu dideskripsikan Maya.Namun, yang menyerbu paru-parunya adalahbau pesing, aroma pembersih lantai murahandan bau logam berkarat yang amis.,Degup jantungnya memacu, kemudian Rakamendengar suara tawa anak-anak. Ah, tamanbermain di bawah, berarti sudah pukul empatsore, pikirnya. Namun suara itu terdengaraneh.Nadanya statis, ritmenya berulang setiaptiga menit. Ada bunyi klik halus di setiap awalsuara. Raka memanjat pagar rendah itu dengantangan gemetar. Ia tidak jatuh menuju maut.Kakinya justru menyentuh tanah yang keras,| APRIL 2026


41 | CERPENberlumpur, dan penuh dengan beling. Iamerangkak, meraba sekelilingnya. Jemarinyamenyentuh kawat berduri yang dingin dansebuah papan kayu lapuk.\"Taman kota...\"bisiknya parau. Namun yang ia raba adalahonggokan sampah plastik dan rumput liar yangtajam.Tiba-tiba, suara tawa anak-anak itu terdengarlagi. Sangat dekat. Raka meraba sumber suaraitu. Tangannya menyentuh sebuah kotakplastik dingin dengan kabel-kabel mencuat.Sebuah radio tua yang memutar kaset kusutsecara berulang. Suara \"peradaban\" ituhanyalah rekaman yang diputar untuk meniputelinganya.\"Raka? Kenapa kau di luar kandang?\"Suara Maya. Tapi kali ini tidak lagi terdengarseperti kelopak bunga yang jatuh pada air yangtenang. Suaranya datar, dingin, dan berbauantiseptik.\"Maya... di mana kita? Kenapa akubisa menyentuh tanah? Di mana apartemenlantai empat itu?\" Raka berteriak, air matamengalir dari matanya yang keruh.\"Kau tidak pernah punya apartemen, Raka,\"langkah kaki Maya mendekat, bunyi sepatukaret di atas lantai semen terdengar nyata.\"Kautidak pernah mengalami kecelakaan di situskonstruksi. Kau menghancurkan matamusendiri dengan pisau dapur, bukan hanyamenghancurkan matamu. Kaumenghancurkanseluruh kewarasanmu alih-alihhidup dalam kemiskinan kau lebih memilihbuta daripada melihat dirimu jatuh melarat.\"Dunia Raka berputar hebat. Ingatan yangselama ini ditekan oleh suntikan itu merayapnaik seperti uap racun. Ia ingat sekarang. Iaingat rasa besi dingin yang menusuk kelopakmatanya sendiri karena ia terlalu sombonguntuk melihat dunia sebagai orang biasa.\"Kau bukan arsitek hebat, Raka,\" ucap Mayadingin sembari mendekat.\"Kau adalah pasiendengan gangguan delusi paling berat yangpernah kutangani.” Maya sebenarnya bukanistrinya. Ia adalah perawat di bangsal isolasisebuah gedung rongsok yang hampir roboh,tempat terakhir bagi orang-orang yangdibuang dunia. Ia telah menciptakan narasi\"istri\" dan \"apartemen mewah\" hanya agar Rakatetap tenang dan tidak menjerit sepanjangmalam.Maya mengeluarkan jarum suntik berisi cairanbening—sedatif dosis tinggi yang selama iniRaka kira sebagai vitamin.\"Di luar sini, kauhanya orang buta yang gila di gedung rongsok.Tapi di dalam kepalamu, dengan suaraku, kauadalah sang Alkemis Beton yang punya istricantik. Kenapa kau memilih melihat kebenaranyang jelek ini?\"Raka terisak. Kebenaran itu menghantamnyalebih keras daripada besi manapun.Kehancuran identitasnya terasa lebih perihdaripada luka di matanya. Ia menyadari bahwatanpa kebohongan Maya, ia hanyalah sampahdi sudut bumi.Raka mengulurkan lengannya yang gemetar kearah Maya. Air matanya jatuh ke atas tanah.\"Suntik aku lagi, Maya...,\" bisiknya dengan suarahancur.\"Bawa aku kembali ke angan-angan itu.Tolong... bawa aku kembali ke lantai empat.\"Maya mendesah pelan, namun ada sisa rasa ibadi wajahnya. Ia berjongkok, mengusap kepalaRaka dengan kasih sayang yang palsu namundibutuhkan.\"Tentu saja, Sayang. Mari kita kembali ke atas.Mataharinya sedang sangat indah hari ini.\"Jarum itu menusuk kulit Raka. Cairan sedatif itumengalir, perlahan menghapus bau tanahlembap dan menggantinya dengan aromamelati. Radio tua itu kembali berputar. Dansang Alkemis Beton pun kembali membangunistananya di atas reruntuhan kewarasannyasendiri.Penulis: Refa Az-zahra| APRIL 2026


| APRIL 2026Judul: Sitting Pretty: The View from MyOrdinary Resilient Disabled BodyPenulis: Rebekah TaussigTahun Rilis: 2020Penerbit: HarperOneJumlah Halaman: 256Suara yangLama Tertahandalam TubuhyangDipandang42 | RESENSI BUKUAda hal-hal yang selama ini diceritakantentang seseorang, tetapi jarang benar-benardiceritakan oleh orang itu sendiri. Dari situlahbuku Sitting Pretty seperti menemukansuaranya.Karya Rebekah Taussig ini tersusun dalamkurang lebih 240 halaman, terbagi ke dalam 17esai yang mengalir seperti potongan ingatan—tidak selalu berurutan, tetapi saling terhubungoleh satu hal yang sama: pengalaman hidup didalam tubuh yang sering dianggap“berbeda”.Di bagian awal, tidak ada pernyataan besaryang menjelaskan tujuan buku ini. Namun, daricara ia menulis, terasa bahwa ia sedangmengambil kembali sesuatu yang lamadiambil darinya: hak untuk mendefinisikanhidupnya sendiri.Ia tidak menulis untuk membuktikan apa pun.Ia menulis karena selama ini,kisah seperti miliknya terlalu seringdisederhanakan—antara menjadi tragedi, ataujustru dilebih-lebihkan sebagai inspirasi,langkah ini dapat dibaca sebagai upayamerebut representasi, di mana seseorang darisetiap kelompok berbicara atas dirinya sendiri,bukan lagi melalui lensa orang lain.Tubuh yang Tidak Pernah Sepenuhnya MilikSendiriPelan-pelan, Taussig membawa kita masuk kepengalaman yang lebih intim—tentangbagaimana rasanya hidup dalam tubuh yangselalu lebih dulu“dibaca” daripada didengar.Ada satu kesadaran yang berulang: bahwakeberadaannya sering kali ditangkap melaluitatapan. Bukan sekadar dilihat, tetapi dinilai. Iaseolah mengisyaratkan bahwa:Sumber: Amazon


43 | RESENSI BUKUada jenis perhatian yang tidak pernahdiminta, namun terus hadir, melekat padatubuhnya ke mana pun ia pergi.Tatapan-tatapan itu tidak selalu kasar, tetapicukup untuk mengingatkan bahwa dirinyatidak pernah benar-benar dianggap biasa.Di sisi lain, ada pula cara duniamengagungkannya—menjadikannya simbolkekuatan, bahkan untuk hal-hal yangsederhana.Namun di balik itu, tersimpan kegelisahan:mengapa hidup yang dijalani apa adanyaharus selalu diberi makna lebih oleh oranglain?Hal ini dikenal sebagai “inspiration porn”, dimana kehidupan difabel direduksi agarmenjadi alat motivasi, tanpa benar-benarmemahami kompleksitasnya.Dunia yang Diam-diam MembatasiSemakin jauh, Taussig tidak lagi hanyabercerita tentang dirinya, tetapi tentang duniayang ia tinggali—dunia yang, tanpa disadari,membentuk batas-batasnya. Tangga yangterlalu tinggi, pintu yang terlalu sempit, jaluryang tidak tersedia—semuanya menjadipengingat bahwa tidak semua tubuhdipertimbangkan saat dunia dibangun.Ia seperti ingin mengatakan:ada banyak hal yang disebut “keterbatasan”,padahal sebenarnya hanyalah hasil darilingkungan yang tidak memberi ruang.Dalam kondisi tertentu, ia harus bergantungpada orang lain. Namun, ketergantungan itubukan semata-mata karena tubuhnya,melainkan karena pilihan yang tidak pernahtersedia.Hal ini selaras dengan model sosial disabilitas,yang melihat bahwa hambatan utama bukanpada individu, melainkan pada sistem yangtidak inklusif.Antara Tubuh dan PenerimaanDi bagian ini, narasi terasa lebih sunyi—sepertipercakapan dengan diri sendiri yang lamatertunda. Masyarakat memiliki gambarantentang tubuh yang dianggap“lengkap”.Dalam bayangan itu, tubuh seperti miliknyasering kali ditempatkan di luar. Namun, ia tidakmenolak dengan keras. Ia hanya menyadari.Penerimaan yang ia capai bukanlah bentukkekalahan, melainkan pilihan untuk berhentimelawan standar yang tidak pernah diciptakanuntuknya.Ia seperti membiarkan dirinya berkata:bahwa menjadi utuh tidak selalu berartimenjadi sama.Di antara refleksi yang dalam, Taussig tetapmenyisakan ruang untuk hal-hal yangsederhana—yang justru paling manusiawi. Iatetap memiliki hubungan, tawa, dan cerita.Dunia kecil yang tidak selalu dipengaruhi olehbagaimana orang lain memandangnya.Ada keraguan dari luar—seolah-olah tubuhdisabilitas tidak layak untuk dicintai ataumencintai. Namun, melalui kisahnya, iamenunjukkan bahwa perasaan tidak mengenalbatas-batas itu.Menjelang akhir, buku ini tidak menawarkankesimpulan yang keras. Ia hanya meninggalkanjejak pemikiran. Bahwa mungkin selama ini,yang perlu diubah bukanlah tubuh yangberbeda, melainkan cara kita memahamiperbedaan itu sendiri. Ia tidak memaksapembaca untuk berubah. Ia hanya membukakemungkinan.| APRIL 2026


| APRIL 2026 44 | RESENSI BUKUCara Baru untuk MelihatSitting Pretty bukanlah kisah tentang perjuangan yang ingin dielu-elukan, juga bukan cerita sedihyang meminta belas kasihan. Ia adalah rangkaian refleksi yang tenang—tentang hidup, tentangtubuh, dan tentang bagaimana manusia seringkali lupa untuk benar-benar melihat satu sama lain.Dengan bahasa yang lembut namun mengendap, Rebekah Taussig menghadirkan sesuatu yangjarang: kejujuran yang tidak dibuat dramatis. Dan dari situlah, buku ini menemukan kekuatannya.Karena pada akhirnya, yang tertinggal bukan hanya cerita tentang dirinya—melainkan pertanyaanyang pelan-pelan tumbuh dalam diri pembaca: selama ini, kita benar-benar melihat… atau hanyasekadar memandang?Penulis: Zaskia Hermanda AndromedaSumber: Canva


| APRIL 2026Memulai Inklusivitas diKriya Gembira45 | FOTO ESAIManik-manik kecil itu berkilau di atas meja,seperti serpihan cahaya yang sengajadijatuhkan, menunggu untuk dipungut satupersatu. Ruang itu dipenuhi warna—merah,biru, kuning—berbaur dengan tawa yangkadang terdengar, kadang hanya terlihat dariwajah-wajah yang menghangat. Tangantangan berkumpul di sekelilingnya, meraba,memilih, merangkai benang ke lubang kecilyang nyaris tak terlihat.Gembira bersama Fisabilillah. Di acara ini,waktu seolah melunak. Setiap orang dudukberdampingan tanpa perlu menjadi serupa,mereka hanya perlu hadir apa adanya.Mungkin, memang dari ruang-ruang sepertiitulah sebuah rumah bisa tumbuh.Rumah itu tidak tumbuh dari bata, melainkandari uluran tangan yang saling meraih pulamerangkul. Omah Gembira lahir pada tahun2020, setelah Riza menemukan sesuatu yangmengusik setelah pertemuannya dengan salahsatu teman dengan cerebral palsy. Ia melihatA bagaimana dunia kerap menjauh dari sesuatucara meronce itu dirayakan oleh Omah


| APRIL 2026 46 | FOTO ESAIyang berbeda, seolah perbedaan adalah jarakyang harus dijaga. Maka dari pertemuan itulahia mulai menemukan langkahnya, berjalanbersama orang-orang yang percaya bahwasetiap manusia berhak punya ruang untuktumbuh tanpa takut dipersempit.Melalui genggaman itu, mereka salingmenemukan dan mengenal. Dari sana, sesuatumulai tumbuh, lalu menemukan bentuknyamelalui Kriya Gembira.Sedikit demi sedikit rumah itu kemudianberdiri, bukan sebagai rumah yang megah, tapisebagai rumah yang hangat. Mewujudkannamanya menjadi rumah yangmembahagiakan bagi semua. Kini, ia menjadiyayasan yang merawat lebih dari sekadarprogram kerja. Di dalamnya, sekitarseperempat pengurusnya merupakan temanteman disabilitas, didominasi oleh teman tuliyang menjadi denyut rumah itu sendiri.Setiap minggu, rumah itu bernafas lewat binalatih. Mereka belajar, mereka tumbuh, bukanuntuk menjadi cukup tapi untuk sadar bahwamereka memang sudah cukup. Tangan-tanganmereka turut menggandeng kantor-kantorkecamatan, forum keluarga disabilitas, pulasekolah luar biasa yang ada di Kota Malang.Di ruang ini, sebuah garis tidak lagi berhentisebagai sekadar coretan. Garis-garis itumenjelma sebuah kemungkinan. Imaji-imajimereka berubah menjadi sesuatu yang bisadipajang pula dikagumi. Semuanya lahir daritangan-tangan mereka yang mungkin duludiragukan. Luna dan Jojo berada di sana,bekerja dalam diam yang tidak kosong. Tanganmereka berbicara dengan cara mereka sendiri,mengisi ruang dengan sesuatu yang tidak perluditerjemahkan oleh bahasa manapun.Rumah itu tidak tinggal diam dalam dirinyasendiri, ia meluas, mencari ruang lain yangpercaya pada hal yang sama. Salah satunyaadalah Cerita Spectra, tempat di mana pintupintu mereka terbuka tanpa syarat yang fana.Di sana, seorang staf tuli akan menyambutdengan senyum sehangat kopi yang disajikan.


| APRIL 2026 47 | FOTO ESAIDi sudut ruangan, sebuah kursi roda berdiri tenang, seolah diam-diam berkata bahwa empat inisudah bersiap untuk siapa saja yang datang. Dan jika kembali pada meja meronce itu, benangbenang tipis yang semula tercerai kini mulai saling mengikat, manik-manik kecil yang semulaberserak kini menemukan bentuknya. Tidak ada karya yang sempurna dari meja itu, tidak ada pulayang serupa, tapi karena itu mereka hidup. Layaknya Omah Gembira, yang tidak membentukmanusia menjadi serupa, melainkan merangkai mereka, apa adanya.Penulis: Aulia Hasti Zalika R.Fotografer: Aulia Hasti Zalika R.Sumber Foto: Arsip Kriya Gembira


Dria Pantai48 | PUISITirta ber-gemerisiksekali waktu ber-deburHawa melengketasin ,amis ,suamLangkah mengayun,merapat.Pesisir menjilati tungkaidingin..,gelap\" 'gelap' baru hitam ,\"ujarnya pelatihApa hitam ber-rupa?biru dan hijau dan putihdan ;Pancaronaboleh, tahu–?Ilustrator: Az-Zahra Aqilah Y.MPenulis: Khoiriyah Balqis| APRIL 2026


| APRIL 2026Meja Perjamuan49 | PUISITertaut manis mereka disekitarku–Netra kelam pekat,bibir kecil kelu, pejalandengan rodawujud-wujud langka semestaSenjang merasakannyakiprah, mereka sedarahlumrah, Bani Adam tunaiIlustrator: Dewi CantikaPenulis: Khoiriyah BalqisHidangan dimamah nikmat, tanpaterpaut asing.Lantaran;para daksa benar mahirpara wicara sungguh membatinpara rungu menangkap gerak berbisikpara netra membaca raba,nyata warna jagat merdu oleh nadaLantaran, larasnyamanusia


Click to View FlipBook Version