The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by zakun.terpadu, 2022-06-27 18:17:47

MODUL 1

MATERI MODUL1

MATERI BIMTEK PEDAGOGIK 2
(MODEL PEMBELAJARAN)

PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN GURU PAI
(PKB GPAI)

DIREKTORAT PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

2021

1

MATERI BIMTEK PEDAGOGIK 2
(MODEL PEMBELAJARAN)
PROGRAM PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN GURU
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PPKB-GPAI)
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
All Rights Reserved

Pengarah:
Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani
Penanggung jawab:
Dr. H. Rohmat Mulyana Sapdi, M.Pd
Penulis:
Mustahdi, S.Ag., M.Ag. | [email protected]
Dr. Nur Dewi Afifah, M.Pd |

Diterbitkan oleh:
Kementerian Agama Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Jl. Lapangan Banteng Barat No. 3-4 Jakarta Pusat

i

SAMBUTAN

Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T
Direktur Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama RI

Pendidikan memiliki peran penting bagi penyiapan generasi bangsa. Sebagai ujung
tombak transformasi nilai dan pengetahuan, guru mempunyai peran, fungsi, dan
kedudukan yang sangat penting dalam mencapai visi pendidikan yaitu menciptakan
insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Dalam hal ini, peningkatan
profesionalitas guru termasuk Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) menjadi sebuah
keharusan. Profesi guru harus dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat
sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen.

GPAI seharusnya juga mampu menjadikan pendidikan agama sebagai instrumen
transformasi sosial. Tanggung jawab GPAI tidak hanya berhenti dalam aspek kognitif
akan tetapi lebih jauh dari itu, yaitu membentuk karakter peserta didik. Karena itu
GPAI tidak boleh berhenti belajar dan mencukupkan pengetahuan yang dimiliki.
Sebaliknya GPAI harus terus memperkuat dan meningkatkan kompetensi serta
kualitasnya. GPAI juga dituntut untuk selalu meningkatkan kemampuan
mengajarnya, hal ini agar pembelajaran yang ia bawakan dapat sesuai dengan
perkembangan peserta didik, baik secara psikologis, teknologis, maupun sosiologis.

Untuk itu, diperlukan sistem pembinaan dan pengembangan terhadap profesi guru
secara terprogram dan berkelanjutan. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama terus berkomitmen meningkatkan kualitas GPAI. Hal ini
diperlukan agar Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak mengalami stagnasi baik dari
sisi kualitas guru, kurikulum, ataupun metode pembelajaran. Sebaliknya
penyelenggaraan PAI perlu terus disempurnakan dengan metode dan pengetahuan
terbaru. Komitmen ini diwujudkan dengan Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan Guru Pendidikan Agama Islam (PPKB-GPAI).

PPKB-GPAI merupakan salah satu program yang dirancang untuk mewujudkan
terbentuknya GPAI yang profesional dalam melaksanakan tugasnya sebagai ujung
tombak keberhasilan pembelajaran. PPKB-GPAI merupakan inisiasi yang baik untuk
meningkatkan kualitas dan profesionalitas GPAI di sekolah. Melalui PPKB-GPAI ini
diharapkan menjadi sarana bagi terwujudnya GPAI yang kompeten dan profesional.

Kami mengapresiasi terbitnya modul Bimtek PPKB-GPAI ini. Semoga buku ini dapat
digunakan dengan baik sebagai panduan dalam rangkaian bimtek PPKB-GPAI dan

ii

pada akhirnya secara keseluruhan dapat meningkatkan kualitas Pendidikan Agama
Islam di Indonesia.

Jakarta, September 2021

iii

KATA PENGANTAR

Dr. H. Rohmat Mulyana Sapdi, M.Pd
Plt. Direktur Pendidikan Agama Islam

Kementerian Agama RI

Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah (SD, SMP, SMA, dan SMK) memiliki peran
penting bagi penumbuhan perilaku beragama di tengah kehidupan berbangsa dan
bernegara yang majemuk. Oleh karena itu, Ikhtiar untuk meningkatkan kualitas Guru
Pendidikan Agama Islam (GPAI) di sekolah terus dilakukan oleh Direktorat
Pendidikan Agama Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.
Hal ini diwujudkan dengan berbagai inovasi agar penyelenggaraan PAI di sekolah
mengalami kemajuan secara berkelanjutan sesuai dengan tantangan dan
perkembangan dunia pendidikan. Salah satunya adalah melalui Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan Guru Pendidikan Agama Islam (PPKB-GPAI).

PPKB-GPAI diproyeksikan sebagai bentuk peningkatan kualitas penyelenggaraan
PAI, utamanya dari sisi kompetensi dan profesionalitas GPAI. Program yang
dikembangkan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam ini merupakan wujud
penguatan layanan standar kompetensi GPAI agar kualitas, kompetensi, dan karir
mereka semakin meningkat.

Secara umum tujuan PPKB-GPAI adalah untuk meningkatkan kualitas layanan PAI di
sekolah dalam rangka peningkatan mutu PAI. Program ini difokuskan untuk
pengembangan keprofesian GPAI yang mencakup 6 (enam) kompetensi, yaitu
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi
profesional, kompetensi spiritual, dan kompetensi leadership. Proses dan kegiatan
dalam program ini dirancang untuk meningkatkan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan profesional GPAI di sekolah yang dilaksanakan secara berjenjang dan
berkesinambungan dalam rangka peningkatan kinerja dan pemenuhan kompetensi
profesional GPAI di sekolah.

Dalam implementasinya, PPKB-GPAI membutuhkan desain bimtek yang sesuai
dengan standar kompetensi dan profesionalitas. Untuk itu diperlukan suatu modul
bimtek yang dapat memandu proses bimtek PPKB-GPAI, sekaligus mengatur
pelaksanaan bimtek secara tertib dan tersistem.

Atas dasar itu, Direktorat Pendidikan Agama Islam menerbitkan buku Modul Bimtek
PPKB-GPAI. Buku modul kali ini merupakan penyempurnaan (revisi) dari modul yang
sebelumnya telah dipakai pada tahun 2018. Pada modul kali ini dijabarkan tentang
integrasi moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di

iv

Sekolah sebagai salah satu isu sentral yang diarusutamakan oleh Kementerian
Agama.
Selayaknya sebuah modul, buku ini berisi dua bagian yaitu bagian desain bimtek
dan bagian materi bimtek. Modul ini merupakan pegangan bagi pelatih dan peserta
bimtek PPKB-GPAI. Dalam modul ini diuraikan secara terperinci tentang metode,
bahan, dan konten penyelenggaraan bimtek PPKB-GPAI bagi Pelatih Nasional (PN),
Pelatih Provinsi (PP), maupun Pelatih Daerah (PD) tingkat kabupaten/kota.
Buku ini selain mempermudah proses bimtek, juga diharapkan dapat menjadi
standar kualitas penyelenggaraan bimtek PPKB-GPAI, sehingga dapat berlangsung
dengan baik dan lancar. Atas terselesaikannya modul ini, kami haturkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya modul ini. Semoga dapat
memberikan manfaat bagi semua pihak dan nantinya dapat meningkatkan mutu
PAI. Amin.

Jakarta, September 2021

v

DAFTAR ISI

Sambutan Direktur Jenderal Penbdidikan Islam ................................................................... i
Kata Pengantar Direktur PAI ...................................................................................................... iii
Daftar Isi ............................................................................................................................................. v
Materi Bimtek Pedagogik 2
Model Pembelajaran
Bagian 1
Petunjuk Penggunaan Modul ..................................................................................................... 1
Bagian 2
Pendahuluan, Latar Belakang, Tujuan, Sasaran, dan Target ............................................ 2
Bagian 3
Materi Bimtek .................................................................................................................................... 4
A. Materi 1 : Kebijakan Kementerian Agama ....................................................................... 4
B. Materi 2 : Konsep Model Pembelajaran ..........................................................................17
C. Materi 3 : Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka .......................................17
D. Materi 4 : Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan kaitannya dengan

Model Pembelajaran ..........................................................................................17
E. Materi 5 : Model Pembelajaran Abad 21.........................................................................44
F. Materi 6 : Sintak Pembelajaran ..........................................................................................48
G. Materi 7 : Pembuatan Lembar Kerja (LK) ........................................................................51
H. Materi 8 : Praktik Pembelajaran .........................................................................................54
Bagian 4
Daftar Pustaka ................................................................................................................................82

vi

BAGIAN 1

Petunjuk Penggunaan Modul

Untuk mengoptimalkan penggunaan modul ini, disarankan memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Pendahuluan

Pendahuluan ini berisi latar belakang pentingnya guru Pendidikan Agama Islam
selalu memperbaharui dan meningkatkan kompetensi melalui bimtek
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru Pendidikan Agama Islam (PKB
GPAI). Kemudian dijelaskan pula pentingnya materi disajikan dalam modul ini.

2. Tujuan, Sasaran dan Target.

Tujuan modul berisi informasi tentang pemahaman terhadap semua materi
model pembelajaran yang akan disajikan dalam bimtek pedagogik 2 (model
pembelajaran).
Sasaran modul diperuntukkan bagi pihak penyelenggara Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan GPAI mulai dari tingkat pusat sampai daerah dan bagi
GPAI bersangkutan.
Target modul ini adalah tercapainya penguasaan materi bimtek pedagodik 2
(model pembelajaran) oleh Guru Pendidikan Agama Islam Pendidikan Dasar dan
Menengah.

3. Materi Bimtek

Materi bimtek pedagodik 2 (model pembelajaran) meliputi: Konsep Model
Pembelajaran; Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka, Analisis SKL,
Capaian Pembelajaran, dan kaitanya dengan Model Pembelajaran; Model
Pembelajaran abad 21 (4C, literasi, PPK, HOTS dan moderasi beragama); Sintaks
Pembelajaran; Pembuatan Lembar Kerja (LK); dan Praktik Pembelajaran. Setiap
materi bimtek dijelaskan secara rinci capaian pembelajaran (tujuan dan indikator
keberhasilan), pokok-pokok materi, uraian materi, rangkuman, tugas, umpan
balik dan tindak lanjut.

4. Daftar Pustaka

Memuat semua sumber kutipan yang berupa buku atau sumber lain. Pustaka
yang dimaksud dalam modul ini ialah semua sumber kutipan yang berupa
tulisan dan sejenisnya.

7

BAGIAN 2

Pendahuluan

1. Latar Belakang

Guru Pendidikan Agama Islam mempunyai kewajiban untuk selalu
memperbaharui dan meningkatkan kompetensinya melalui kegiatan
pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai esensi pembelajar seumur
hidup. Dalam rangka mendukung pengembangan pengetahuan dan
keterampilannya, dikembangkan modul untuk pembinaan karier guru PAI yang
berisi materi pedagogik 2 (model pembelajaran). Dengan adanya modul ini,
memberikan kesempatan kepada guru PAI untuk belajar lebih aktif. Modul ini
dapat digunakan oleh pelatih dan guru PAI sebagai bahan ajar dalam kegiatan
bimtek.

Modul yang berjudul “Materi Bimtek Model Pembelajaran” merupakan modul
untuk bimtek pedagogik 2 pada PKB GPAI. Setiap materi bahasan dikemas
dalam kegiatan pembelajaran yang memuat capaian pembelajaran (tujuan dan
indikator keberhasilan), pokok-pokok materi, uraian materi, rangkuman, tugas,
umpan balik dan tindak lanjut.

2. Tujuan

Tujuan modul ini disusun agar dapat digunakan bagi pihak-pihak
penyelenggara kegiatan bimtek PKB GPAI dan guru PAI untuk memahami materi
bidang bimtek pedagogik 2 (model pembeajaran) yang meliputi:

a. Konsep model pembelajaran; kaitannya dengan model
b. Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka;
c. Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan

Pembelajaran;
d. Model pembelajaran abad 21;
e. Sintaks pembelajaran;
f. Pembuatan Lembar Kerja (LK);
g. Praktik pembelajaran.

3. Sasaran

Modul ini diperuntukkan bagi pihak penyelenggara PKB-GPAI mulai dari tingkat
pusat sampai daerah yang meliputi:

a. Direktorat Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam,
Kementerian Agama RI;

b. Bidang PAI/PAKIS/PENDIS Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi;

8

c. Bidang PAI/PAKIS/PENDIS Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota;
d. Kelompok Kerja Pengawas PAI (Pokjawas PAI) dan learning community di

lingkup KKG dan MGMP PAI;
e. Guru Pendidikan Agama Islam Pendidikan Dasar dan Menengah.

4. Target

Target modul ini adalah tercapainya penguasaan materi dalam bimtek
pedagodik 2 (model pembelajaran) oleh GPAI Pendidikan Dasar dan Menengah.

Materi yang dimaksud adalah:

a. Konsep model pembelajaran; kaitannya dengan model
b. Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka;
c. Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan

Pembelajaran;
d. Model pembelajaran abad 21;
e. Sintaks pembelajaran;
f. Pembuatan Lembar Kerja (LK);
g. Praktik pembelajaran.

9

BAGIAN 3

Materi Bimtek

A. Materi 1: Kebijakan Kementerian Agama

1. Capaian Pembelajaran

a. Tujuan
Tujuan mengikuti materi kebijakan Kementerian Agama ini adalah
peserta bimtek dapat memahami secara utuh kebijakan Kementerian
Agama serta mampu mengimplementasikan kebijakan tersebut.

b. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti bimtek, peserta dapat:

1) Memahami esensi kebijakan Kementerian Agama
2) Termotivasi untuk mengimplementasikan kebijakan Kementerian Agama
3) Mengimbaskan kepada seluruh GPAI tentang kebijakan Kementerian Agama.

2. Pokok-pokok Materi

Materi pada sesi Kebijakan Kementerian Agama ini adalah:

1) Penguatan PKB bagi Guru Pendidikan Agama Islam (PPKB-GPAI)
2) Pentingnya menjadi guru professional
3) Penguatan Moderasi Beragama (MB

3. Uraian Materi
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) guru adalah pengembangan
kompetensi bagi guru sesuai dengan kebutuhan dan dilaksanakan secara
bertahap dan berkelanjutan. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap profesional guru dalam mengemban tugas sebagai
pendidikan.

Arah Pendidikan Nasional ditujukan untuk menghasilkan sumber daya manusia
Indonesia yang memiliki karakter yaitu: 1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Masa Esa, 2) berakhlak mulia, 3) sehat, 4) berilmu, 5) cakap, 6) kreatif, 7)
mandiri, 8) menjadi warga negara yang demokratis, dan 9) bertanggungjawab.

Dalam rangka mewujudkan fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional tersebut,
Pendidikan Agama Islam (PAI) pada PAUD-TK, SD/SDLB, SMP/SMPLB,
SMA/SMALB, dan SMK yang selanjutnya di sebut PAI pada Sekolah, merupakan
sub sistem dari Sistem Pendidikan Nasional memberikan penguatan
pengetahuan dan keterampilan serta membentuk sikap, dan kepribadian

10

peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam. PAI pada sekolah
merupakan program pendidikan yang berlandaskan pada aqidah yang berisi
keyakinan tentang keesaan Allah Swt. sebagai sumber utama nilai-nilai
kehidupan bagi manusia dan alam semesta. Nilai-nilai tersebut dapat
dimanifestasikan melalui akhlak yang sekaligus merupakan landasan
pengembangan nilai-nilai karakter bangsa Indonesia.

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru Pendidikan Agama Islam
(PPKB-GPAI) pada sekolah merupakan suatu keharusan bagi guru sebagai
tenaga pendidik profesional sebagiamana diamanatkan perundang-undangan.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan
Pemerintah No 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017, Peraturan Menteri Agama No. 38 tahun 2018
dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kinerja guru, Permendikbud No.
22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Tahun 2020-204. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pendidikan
Islam Tahun 2020-2024. Keputusan Menteri Agama Nomor 529 Tahun 2021
Tentang Kelompok Kerja Penguatan Program Moderasi Beragama Pada
Kementerian Agama.

B. Materi 2: Konsep Model Pembelajaran

4. Capaian Pembelajaran

b. Tujuan
Tujuan mengikuti materi konsep model pembelajaran adalah peserta
bimtek dapat memahami konsep model pembelajaran berdasarkan teori
belajar serta mengetahui dan memahami rumah model pembelajaran dan
mampu mengaplikasikannya dalam pembelajaran.

c. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti bimtek, peserta dapat:

1) Merumuskan model pembelajaran berdasarkan teori belajar;
2) Mengidentifikasi model pembelajaran berdasarkan teori belajar;
3) Mengklasifikasi model pembelajaran berdasarkan teori belajar;
4) Melakukan identifikasi terhadap model-model pembelajaran berdasarkan

rumah model.

5. Pokok-pokok Materi

Lingkup materi konsep model pembelajaran adalah:

a. Konsep Model Pembelajaran;
b. Sifat Teori Belajar dan Pembelajaran;

11

c. Rumpun Model Pembelajaran;
d. Model Pembelajaran Berdasarkan Rumpunnya.

6. Uraian Materi

Konsep Model Pembelajaran

Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling
berhubungn yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai
fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud
menjelaskan fenomena alamiah. Belajar adalah segenap rangkaian kegiatan
atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan
mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan
atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya. Oleh sebab itu
apabila setelah belajar peserta didik tidak ada perubahan tingkah laku yang
positif dalam arti tidak memiliki kecakapan baru serta wawasan
pengetahuannya tidak bertambah maka dapat dikatakan bahwa belajarnya
belum sempurna.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu
dan pengetahuan. Jadi dapat dikatakan Teori belajar merupakan upaya
untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu
kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar.

1) Teori Belajar Deskriptif dan Preskriptif
Bruner (Dageng: 1989) mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah
preskriptif dan teori belajar adalah deskriptif. Preskriptif karena tujuan utama
teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal,
sedangkan teori belajar bersifat deskriptif karena tujuan utama teori belajar
adalah menjelaskan proses belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada
hubungan antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar, sedangkan
teori pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana seseorang
mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. Dengan kata lain teori
pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variabel yang
dispesifikasikan dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar (C. Asri
Budiningsih,2004).

Reigeluth (1983 dalam Degeng, 1990) mengemukakan bahwa teori perspektif
adalah goal oriented sedangkan teori deskriptif adalah goal free. Maksudnya
adalah bahwa teori pembelajaran preskriptif dimaksudkan untuk mencapai
tujuan, sedangkan teori belajar deskriptif dimaksudkan untuk memberikan
hasil. Itulah sebabnya variabel yang diamati dalam mengembangkan teori
belajar yang preskriptif adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan,
sedangkan dalam pengembangan teori pembelajaran deskriptif, variabel

12

yang diamati adalah hasil belajar sebagai akibat dari interaksi antara metode
dan kondisi. Dengan kata lain teori pembelajaran mengungkapkan hubungan
antara kegiatan pembelajaran dengan proses psikologis dalam diri siswa,
sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa
dengan proses psikologis dalam diri siswa.

Teori belajar Deskriptif dan Preskriptif memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan dari teori belajar deskriftif adalah: a) lebih terkonsep sehingga siswa
lebih memahami materi yang akan disampaikan; b) mendorong siswa untuk
mencari sumber pengetahuan sebanyak – banyaknya dalam mengerjakan
suatu tugas. Sementara itu kelebihan teori belajar preskriptif adalah: a) lebih
sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang jelas; b) banyak memberi
motivasi agar terjadi proses belajar; c) mengoptimalisasikan kerja otak secara
maksimal. Kekurangan teori belajar deskriptif adalah kurang memperhatikan
sisi psikologis siswa dalam mendalami suatu materi. Sementara kekurangan
teori preskriptif adalah membutuhkan waktu cukup lama.

2) Teori Belajar Behavioristik
Teori behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang
yang diperoleh melalui pengalaman. Perubahan terjadi melalui rangsangan
(stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon)
berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah
lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi
penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa
reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat
dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).

Teori Behavouristik didukung oleh beberapa teori dari para ahli pendidikan
antara lain:

a) Pavlov (Classical Conditioning)
Pada awal abad 19 Pavlov mempelajari proses pencernaan pada anjing. Dia
memperhatikan perubahan waktu dan kecepatan pengeluaran air liur pada
anjing yang sudah dioperasi kelenjar air liurnya sehingga ketika
mengeluarkan air liur dapat ditampung dan diobservasi. Pavlov
meneliti apakah bunyi bel sebagai stimulus berkondisi dapat menimbulkan
air liur sebagai respon berkondisi pada anjing, dan hasilnya adalah:

(1) Apabila daging disajikan maka anjing mengeluarkan air liur (alami).
(2) Apabila bunyi bel disajikan secara bersamaan dengan daging maka air liur

tidak keluar.
(3) Apabila perlakuan pada poin b) dilakukan secara berulang-ulang maka air liur

anjing dapat keluar.
(4) Apabila bunyi bel diganti dengan bunyi sirine maka anjing tetap mengeluarkan

air liur.
(5) Apabila bunyi bel disajikan sacara terus menerus tanpa diikuti oleh daging

13

maka lama-lama air liur tidak keluar hal ini disebut extinction (kepunahan).
(6) Apabila stimulus disajikan secara bervariasi yaitu dengan penguatan berupa

lampu merah disertai daging dan lampu hijau tidak disertai daging dan
diberikan secara berulang-ulang maka anjing akan mengeluarkan air liur ketika
melihat lampu merah walaupun tidak disertai daging karena sudah terbentuk
respon berkondisi Kesimpulan penelitian Pavlov adalah bahwa dalam diri
anjing akan terjadi penglondisian selektif berdasar penguatan selektif artinya
anjing dapat membedakan stimulus yang disertai penguatan dan yang tidak
disertai penguatan. Teori Pavlov ini disebut Classical Conditioning.

b) Thorndike (connectionism)
Thorndike menggunakan kucing sebagai hewan percobaan, Thorndike
menghitung waktu yang dibutuhkan oleh kucing untuk dapat keluar dari
kandang percobaan (Puzzle Box). Hasil dari eksperimen Thorndike adalah
bahwa kucing dapat keluar dari kandang dengan jalan coba-coba (Trial and
Error) Dari percobaan tersebut Thorndike mengemukakan tiga hukum
belajar yaitu:

Law of readiness. Agar proses belajar mancapai hasil yang baik maka
diperlukan adanya kesiapan individu. Apabila individu dapat melakukan
sesuatu dengan siap maka dia akan memperoleh kepuasan, jika terdapat
hambatan maka akan menimbulkan kekecewaan.

Law of Exercise. Hubungan antara stimulus dengan respon akan menjadi
kuat apabila sering dilakukan latihan Law of effect. Apabila sesuatu
memberikan hasil yang menyenangkan maka akan hubungan antara
stimulus dan respon akan semakin kuat sebaliknya bila memberikan hasil
yang tidak menyenangkan maka hubungan antara stimulus dan respon akan
menurun.

c) Skinner (Operant Conditioning)
Skinner mempelajari gerak non reflek atau yang disengaja melalui
percobaan tikus lapar yang dimasukkan dalam skinner box. Berdasarkan
eksperimen tersebut Skinner mengemukakan dua prinsip umum yaitu: (1)
Setiap respon yang diikuti penguatan maka akan cenderung diulang
kembali; (2) Penguatan akan meningkatkan kecepatan respon.

Prinsip teori belajar behavioristik adalah pengulangan dan penguatan
(Reinforcement and Punishment). Konsekuensi yang menyenangkan akan
memperkuat perilaku disebut penguatan (reinforcement). Sedangkan
konsekuansi yang tidak menyenangkan akan memperlemah perilaku
disebut hukuman (punishment).

Pemberian stimulus positif yang diikuti respon disebut penguatan positif
misalnya memuji siswa setelah dapat merespon pertanyaan guru.
Sedangkan mengganti peristiwa yang dinilai negative untuk memperkuat

14

perilaku disebut penguatan negative, misalnya apabila peserta didik dapat
mengerjakan tugas dengan sempurna maka diperbolehkan tidak mengikuti
mid semester.

Penguatan Primer adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan fisik seperti air, makanan, udara, dan lain-lain. Sedangkan
penguatan sekunder adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan non fisik seperti pujian, pangkat, uang dan sejenisnya.

Dalam pembelajaran Skinner menyatakan bahwa pemberian hadiah lebih
efektif dalam merubah perilaku seseorang daripada menggunakan
hukuman.

Kelebihan teori belajar behavioristik adalah:

(1) Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi
belajar.

(2) Sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang, kelenturan, refleksi,
daya tahan, dan sebagainya. menbutuhkan praktek dan pembiasaan
yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas

(3) Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan
belajar mandiri. Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru
yang bersangkutan.

(4) Cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan
dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan,
suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung
seperti diberi permen atau pujian.

Kekurangan teori belajar behaviouristik adalah:

(1) Sebuah konsekuensi bagi guru, untuk menyusun bahan pelajaran
dalam bentuk yang sudah siap.

(2) Tidak setiap mata pelajaran bisa menggunakan metode ini.
(3) Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu situasi

pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran
yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai
sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru
melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
(4) Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan
menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar
yang efektif.
(5) Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh
behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk
menertibkan siswa
(6) Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi
oleh penguatan yang diberikan guru.

15

(7) Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu kondisi
pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran
yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral
bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah guru melatih dan
menetukan apa yang harus dipelajari murid sehingga dapat menekan
kreatifitas siswa.

(8) Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan
meghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar
yang efektif sehingga inisiatif siswa terhadap suatu permasalahan yang
muncul secara temporer tidak bisa diselesaikan oleh siswa.

3) Teori Belajar Kognitivistik

Teori ini lebih menekankan kepada proses belajar daripada hasil belajar. Bagi
yang menganut aliran kognitivistik belajar tidak hanya melibatkan hubungan
antara stimulus dan respons. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses
berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan
dibangun didalam diri seseorang melalui proses interaksi yang
berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak hanya berjalan
terpisah-pisah, tetapi melalui proses mengalir, bersambung dan menyeluruh.

Menurut psikologi kognitif belajar dipandang sebagai usaha untuk mengerti
sesuatu. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa
mencari pengalaman, mencari informasi, mencermati lingkungan,
mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Para psikolog
pendidikan kognitif berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya sangat menentukan keberhasilan mempelajari informasi atau
pengetahuan yang baru. Salah satu teori yang berasal dari psikolog kognitiv
adalah teori pemrosesan informasi yang dikemukakan oleh Robert M. Gagne.
Menurut teori ini belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi
dalam otak manusia. Beberapa fungsi otak dalam proses kognitif antara lain:

(a) Reseptor (alat indera): menerima rangsangan dari lingkungan dan
mengubahnya menjadi rangsangan neural, memberikan symbol informasi
yang diterimanya dan kemudian diteruskan.

(b) Sensory register (penampungan kesan-kesan sensoris): terdapat pada
syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan sensoris dan
mengadakan seleksi sehingga terbentuk suatu kebulatan persepsi.
Informasi yang masuk sebagian masuk ke dalam memori jangka pendek
dan sebagian hilang dalam system.

(c) Short term memory (memory jangka pendek): menampung hasil
pengolahan perceptual dan menyimpannya. Informasi tertentu disimpan
untuk menentukan maknanya. Memori jangka pendek dikenal juga dengan
informasi memori kerja, kapasitasnya sangat terbatas, waktu

16

penyimpananya juga pendek. Informasi dalam memori ini dapat di
transformasi dalam bentuk kode-kode dan selanjutnya diteruskan ke
memori jangka panjang.
(d) Long Term memory (memori jangka panjang): menampung hasil
pengolahan yang ada di memori jangka pendek. Informasi yang disimpan
dalam jangka panjang, bertahan lama, dan siap untuk dipakai kapan saja.
(e) Response generator (pencipta respon): menampung informasi yang
tersimpan dalam memori jangka panjang dan mengubahnya menjadi
reaksi jawaban.

Menurut Piaget proses belajar sebenarnya terdiri atas tiga tahapan yaitu:

(a) Asimilasi: Proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang
sudah ada.

(b) Akomodasi: Proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru.
(c) Equilibrasi: Penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan

akomodasi.

Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan
tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Proses belajar yang dialami
seorang anak berbeda pada tahap satu debfab tahap lainnya yang secara
umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang maka semakin teratur dan
juga semakin abstrak cara berpikirnya. Oleh karena itu guru seharusnya
memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta
memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya.

Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajarannya
didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada
siswa (advanced organizer), dengan demikian akan mempengaruhi
pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah konsep
atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan dipelajari
oleh siswa. Advanced organizer memberikan tiga manfaat yaitu:

(a) Menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan
dipelajari.

(b) Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang
dipelajari dan yang akan dipelajari.

(c) Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih
mudah.

Kelebihan teori kognitivistik adalah:

(a)Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri.
(b) Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah

17

Kekurangan teori kognitivistik adalah:

(a) Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan.
(b) Sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut.
(c) Beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya

masih belum tuntas.
4) Teori Konstruktivistik

Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan
penyelesaian masalah, mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan
algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk
memperoleh satu jawaban benar. Pembelajaran lebih dicirikan oleh aktivitas
eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-
model yang dibangkitkan oleh siswa sendiri.

Secara umum, terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas
konstruktivistik, yaitu: (1) meletakkan permasalahan yang relevan dengan
kebutuhan siswa, (2) menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama,
(3) menghargai pandangan siswa, (4) materi pembelajaran menyesuaikan
terhadap kebutuhan siswa, (5) menilai pembelajaransecara kontekstual. Secara
tradisional, pembelajaran telah dianggap sebagai bagian “menirukan” suatu
proses yang melibatkan pengulangan siswa, atau meniru-niru informasi yang
baru disajikan dalam laporan atau quis dan tes. Menurut paradigma
konstruktivistik, pembelajaran lebih diutamakan untuk :

(a) Membantu siswa dalam menginternalisasi, membentuk kembali, atau
mentransformasi informasi baru.

(b) Menghargai otonomi dan inisiatif siswa.
(c) Menggunakan data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan

pada keterampilan berpikir kritis.
(d) Mengutamakan kinerja siswa berupa mengklasifikasi, mengananalisis,

memprediksi, dan mengkreasi dalam mengerjakan tugas.
(e) Menyertakan respon siswa dalam pembelajaran dan mengubah model

atau strategi pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajaran.
(f) Menggali pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang akan

dibelajarkan sebelum sharing pemahamannya tentang konsep-konsep
tersebut.
(g) Menyediakan peluang kepada siswa untuk berdiskusi baik dengan dirinya
maupun dengan siswa yang lain.
(h) Mendorong sikap inquiry siswa dengan pertanyaan terbuka yang
menuntut mereka untuk berpikir kritis dan berdiskusi antar temannya.
(i) Mengelaborasi respon awal siswa.
(j) Menyertakan siswa dalam pengalaman-pengalaman yang dapat
menimbulkan kontradiksi terhadap hipotesis awal mereka dan kemudian
mendorong diskusi.

18

(k) Menyediakan kesempatan yang cukup kepada siswa dalam memikirkan
dan mengerjakan tugas-tugas.

(l) Menumbuhkan sikap ingin tahu siswa melalui penggunaan model
pembelajaran yang beragam.

5) Teori Belajar Humanistik
Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan
manusia. proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus
berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-
baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut
pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan
dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka
sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.

Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah:

(a) Proses pemerolehan informasi baru.
(b) Penyampaian informasi ini pada individu.

Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah:
Arthur W. Combs, Abraham Maslow, Bloom dan Krathwohl, Kolb, Honey dan
Mumford, Habermas, dan Carl Rogers.

(a) Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada
dua hal:

(1) Suatu usaha yang positif untuk berkembang
(2) Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk
memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing
orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk
berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut
membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain
seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan,
keunikan diri, berfungsinya semua kemampuan, kepercayaan diri
menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri
sendiri (self).

Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh
hierarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti
kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang
terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan

19

seterusnya. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai
implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia
mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar
ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar siswa belum terpenuhi.

(b) Bloom dan Krathwohl
Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai oleh siswa
tercakup dalam tiga kawasan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.

(c) Kolb
Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap yaitu:

(1) Pengalaman konkret: pada tahap dini seseorang hanya mampu ikut
mengalami suatu kejadian inilah terjadi tahap awal proses
pembelajaran.

(2) Pengalaman aktif dan reflektif: siswa lambat laun melakukan
pengamatan aktif terhadap kejadian itu, dan mulai berusaha
memikirkan serta memahaminya.

(3) Konseptualisasi: siswa mulai belajar membuat abstrak atau teori
tentang hal yang pernah diamatinya.

(4) Eksperimentasi aktif: siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu
autran umum ke situasi yang baru.

Aplikasi teori Humanistik menunjuk pada ruh atau spirit proses pembelajaran
yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam
pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa dengan
memberikan motivasi dan kesadaran mengenai makna belajar dalam
kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan
mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan
sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman
belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri,
mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi
diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajar
daripada hasil belajar.

Adapun proses yang umumnya dilalui adalah:

(a) Merumuskan tujuan belajar yang jelas
(b) Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang

bersifat jelas, jujur dan positif.
(c) Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk

belajar atas inisiatif sendiri.
(d) Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses

pembelajaran secara mandiri
(e) Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih

pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung

20

resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
(f) Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran

siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk
bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
(g) Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan
kecepatannya.
(h) Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada
materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati
nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari
keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif
dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas
kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani,
tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara
bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar
aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.

Kelebihan teori humanistik antara lain:

(a) Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang
bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan
analisis terhadap fenomena sosial.

(b) Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang
bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.

(c) Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, tidak terikat oleh
pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara
bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.

Kekurangan teori humanistik antara lain:

(a) Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam
proses belajar.

(b) Siswa yang tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri
dalam proses belajar.

6) Rumpun Model Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik
dan pendidik, dan antara peserta dan sumber belajar lainnya pada suatu
lingkungan belajar yang berlangsung secara edukatif, agar peserta didik dapat
membangun sikap, pengetahuan dan keterampilannya untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang
mengandung serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan
hingga penilaian.

21

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai
pedoman dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis
untuk mencapai tujuan belajar yang menyangkut sintaksis, sistem sosial,
prinsip reaksi dan sistem pendukung (Joice&Wells). Sedangkan menurut
Arends dalam Trianto, mengatakan “model pembelajaran adalah suatu
perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas.

Prinsip-prinsip pembelajaran meliputi:

(a) Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu,
(b) Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar,
(c) Proses pembelajaraan menggunakan pendekatan ilmiah,
(d) Pembelajaran berbasis kompetensi,
(e) Pembelajaran terpadu,
(f) Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki

kebenaran multi dimensi,
(g) Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif,
(h) Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-

skills dan soft-skills,
(i) Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan

peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat,
(j) Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberiketeladanan

(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun
karso), dan mengembangkan kreativitas pesertadidik dalam proses
pembelajaran (tut wuri handayani),
(k) Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat,
(l) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran,
(m) Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta
didik, dan
(n) Suasana belajar menyenangkan dan menantang.

Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan
digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap
dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan
kelas.

Tujuan penggunaan model pembelajaran sebagai strategi bagaimana
pembelajaran yang dilaksanakan dapat membantu peserta didik
mengembangkan dirinya baik berupa informasi, gagasan, keterampilan nilai
dan cara-cara berpikir dalam meningkatkan kapasitas berpikir secara jernih,
bijaksana dan membangun keterampilan sosial serta komitmen (Joice & Wells).

Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yaitu:

22

a) Rasional teoretis logis yang disusun oleh para pencipta atau
pengembangnya. Model pembelajaran mempunyai teori berfikir yang
masuk akal. Maksudnya para pencipta atau pengembang membuat teori
dengan mempertimbangkan teorinya dengan kenyataan sebenarnya serta
tidak secara fiktif dalam menciptakan dan mengembangankannya.
Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan
pembelajaran yang akan dicapai). Model pembelajaran mempunyai tujuan
yang jelas tentang apa yang akan dicapai, termasuk di dalamnya apa dan
bagaimana siswa belajar dengan baik serta cara memecahkan suatu masalah
pembelajaran.

b) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat
dilaksanakan dengan berhasil. Model pembelajaran mempunyai tingkahlaku
mengajar yang diperlukan sehingga apa yang menjadi cita-cita mengajar
selama ini dapat berhasil dalam pelaksanaannya.

c) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat
tercapai. Model pembelajaran mempunyai lingkungan belajar yang kondusif
serta nyaman, sehingga suasana belajar dapat menjadi salah satu aspek
penunjang apa yang selama ini menjadi tujuan pembelajaran. (Trianto,
2010).

d) Memilih atau menentukan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh
kondisi Capaian Pembelajaran, tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran,
sifat dari materi yang akan diajarkan, dantingkat kemampuan peserta didik.
Di samping itu, setiap model pembelajaran mempunyai tahap-tahap
(sintaks) yang dapat dilakukan siswa dengan bimbingan guru. Pelaksanaan
pembelajaran dengan pendekatan saintifik sebagaimana yang diterapkan
pada kurikulum 2013, sebaiknya dipadukan secara sinkron dengan
langkah/tahapan kerja (syntax) modelpembelajaran.

7) Model pembelajaran dalam Kurikulum 2013

23

Model pembelajaran dalam Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 menggunakan 3 (tiga) model pembelajaran utama
(Permendikbud No. 103 Tahun 2014) yang diharapkan dapat membentuk perilaku
saintifik, perilaku sosial serta mengembangkan rasa keingintahuan. Ketiga model
tersebut adalah: model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning),
model Pembelajaran Berbasis Projek (Project Based Learning), dan model
Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan (Discovery/Inquiry Learning).
Disamping model pembelajaran di atas dapat juga dikembangkan model
pembelajaran Production Based Education (PBE) sesuai dengan karakteristik
pendidikan menengah kejuruan. Tidak semua model pembelajaran tepat
digunakan untuk semua KD/materi pembelajaran. Model pembelajaran tertentu
hanya tepat digunakan untuk materi pembelajaran tertentu. Sebaliknya materi
pembelajaran tertentu akan dapat berhasil maksimal jika menggunakan model
pembelajaran tertentu. Oleh karena itu guru harus menganalisis rumusan
pernyataan setiap KD, kemudian menentukan model pembelajaran yang tepat
untuk mencapai komptensi. Untuk menentukan model pembelajaran yang tepat
dapat merujuk pada rambu-rambu berikut:

Rambu-rambu penentuan model penyingkapan/penemuan (Discovery/
Inquiry Learning):
a) Pernyataan KD-3 dan KD-4 mengarah ke pencarian atau penemuan;
b) Pernyataan KD-3 lebih menitikberatkan pada pemahaman pengetahuan

faktual, konseptual, procedural, dan dimungkinkan sampai metakognitif;
c) Pernyataan KD-4 pada taksonomi mengolah dan menalar.

Rambu-rambu penemuan model hasil karya (Problem Based Learning dan
Project Based Learning):
a) Pernyataan KD-3 dan KD-4 mengarah pada hasil karya berbentuk jasa atau

produk;
b) Pernyataan KD-3 pada bentuk pengetahuan metakognitif;
c) Pernyataan KD-4 pada taksonomi menyaji dan mencipta, dan
d) Pernyataan KD-3 dan KD-4 yang memerlukan persyaratan penguasaan

pengetahuan konseptual dan prosedural.
Masing-masing model pembelajaran tersebut memiliki urutan langkah kerja
(syntax) tersendiri, yang dapat diuraikan sebagai berikut.

24

a) Model Pembelajaran Penyingkapan (Discovery / Inquiry Learning)

Model pembelajaran penyingkapan (Discovery Learning) adalah memahami
konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai
kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu
terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan
beberapa konsep dan prinsip.
Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi,
penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan
discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatingconcepts and
principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
(1) Sintak model Discovery Learning

(a) Pemberian rangsangan (Stimulation);
(b) Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement);
(c) Pengumpulan data (Data Collection);
(d) Pembuktian (Verification), dan
(e) Menarik simpulan/generalisasi (Generalization).
(2) Sintak model Inquiry Learning Terbimbing
Model pembelajaran yang dirancang membawa peserta didik dalam
proses penelitian melalui penyelidikan dan penjelasan dalam setting waktu
yang singkat (Joice & Wells, 2003).
Model pembelajaran Inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang
melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
menyelidiki sesuatu secara sistematis kritis dan logis sehingga mereka
dapat merumuskan sendiri temuannya.

25

Sintak/tahap model inkuiri meliputi:
(a) Orientasi masalah;
(b) Pengumpulan data dan verifikasi;
(c) Pengumpulan data melalui eksperimen;
(d) Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi, dan
(e) Analisis proses inkuiri.

b) Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Merupakan pembelajaran yang menggunakans berbagai kemampuan
berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta
lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna,
relevan, dan kontekstual (Tan Onn Seng, 2000).
Tujuan PBL adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan
konsep-konsep pada permasalahan baru/nyata, pengintegrasian konsep
High Order Thinking Skills (HOT’s), keinginan dalam belajar, mengarahkan
belajar diri sendiri dan keterampilan (Norman and Schmidt).
Berikut adalah beberapa model sintak Problem Based Learning:
(1) Sintak model Problem Based Learning dari Bransford and Stein (dalam

Jamie Kirkley, 2003:3) terdiri atas:
(a) Mengidentifikasi masalah;
(b) Menetapkan masalah melalui berpikir tentang masalah dan

menyeleksi informasi-informasi yang relevan;
(c) Mengembangkan solusi melalui pengidentifikasian alternative

alternatif, tukar-pikiran dan mengecek perbedaan pandang;
(d) Melakukan tindakan strategis, dan
(e) Melihat ulang dan mengevaluasi pengaruh-pengaruh dari solusi

yang dilakukan.

26

(2) Sintak model Problem Solving Learning Jenis Trouble Shooting (David
H. Jonassen, 2011:93) terdiri atas:
(a) Merumuskan uraian masalah;
(b) Mengembangkan kemungkinan penyebab;
(c) Mengetes penyebab atau proses diagnosis, dan
(d) Mengevaluasi.

c) Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL).

Model pembelajaran PJBL merupakan pembelajaran dengan
menggunakan proyek nyata dalam kehidupan yang didasarkan pada
motivasi tinggi, pertanyaan menantang, tugas-tugas atau permasalahan
untuk membentuk penguasaan kompetensi yang dilakukan secara
kerjasama dalam upaya memecahkan masalah (Barel, 2000 and Baron
2011).

Tujuan Project Based Learning adalah meningkatkan motivasi belajar,
team work, keterampilan kolaborasi dalam pencapaian kemampuan
akademik level tinggi/taksonomi tingkat kreativitas yang dibutuhkan
pada abad 21 (Cole & Wasburn Moses, 2010).

Sintak/tahapan model pembelajaran Project Based Learning, meliputi:

(1) Penentuan pertanyaan mendasar (Start with the Essential Question);
(2) Mendesain perencanaan proyek;
(3) Menyusun jadwal (Create a Schedule);
(4) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the

Students and the Progress of the Project);
(5) Menguji hasil (Assess the Outcome), dan
(6) Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience).

27

Di samping tiga model pembelajaran di atas, di SMK dapat digunakan
model Production Based Training (PBT) untuk mendukung
pengembangan Teaching Factory pada mata pelajaran pengembangan
produk kreatif. Model Pembelajaran Production Based Training
merupakan proses pendidikan dan bimtek yang menyatu pada proses
produksi, dimana peserta didik diberikan pengalaman belajar pada situasi
yang kontekstual mengikuti aliran kerja industri mulai dari perencanaan
berdasarkan pesanan, pelaksanaan dan evaluasi produk/kendali mutu
produk, hingga langkah pelayanan pasca produksi.Tujuan penggunaan
model pembelajaranPBT adalah untuk menyiapkan peserta didik agar
memiliki kompetensi kerja yang berkaitan dengan kompetensi teknisserta
kemampuan kerjasama sesuai tuntutan organisasi kerja.

Sintaks/tahapan model pembelajaran Production Based Trainning
meliputi:

(1) Merencanakan produk;
(2) Melaksanakan proses produksi;
(3) Mengevaluasi produk (melakukan kendali mutu), dan
(4) Mengembangkan rencana pemasaran. (G. Y. Jenkins, Hospitality

2005).

Kurikulum 2013, mendorong proses pembelajaran dilakukan dengan
pendekatan saintifik. Proses pembelajaran yang mengacu pada
pendekatan saintifik, meliputi lima langkah sebagai berikut:

1. Mengamati, yaitu kegiatan siswa mengidentifikasi melalui indera
penglihat (membaca, menyimak), pembau, pendengar, pengecap dan
peraba pada waktu mengamati suatu objek dengan ataupun tanpa alat
bantu. Alternatif kegiatan mengamati antara lain observasi lingkungan,
mengamati gambar, video, tabel dan grafik data, menganalisis peta,
membaca berbagai informasi yang tersedia di media masa dan
internet maupun sumber lain. Bentuk hasil belajar dari kegiatan
mengamati adalah siswa dapat mengidentifikasi masalah.

2. Menanya, yaitu kegiatan siswa mengungkapkan apa yang ingin
diketahuinya baik yang berkenaan dengan suatu objek, peristiwa,
suatu proses tertentu. Dalam kegiatan menanya, siswa membuat
pertanyaan secara individu atau kelompok tentang apa yang belum
diketahuinya. Siswa dapat mengajukan pertanyaan kepada guru,
narasumber, siswa lainnya dan atau kepada diri sendiri dengan
bimbingan guru hingga siswa dapat mandiri dan menjadi kebiasaan.
Pertanyaan dapat diajukan secara lisan dan tulisan serta harus dapat
membangkitkan motivasi siswa untuk tetap aktif dan gembira.
Bentuknya dapat berupa kalimat pertanyaan dan kalimat hipotesis.
Hasil belajar dari kegiatanmenanya adalah siswa dapat merumuskan

28

masalah dan merumuskan hipotesis.
3. Mengumpulkan data, yaitu kegiatan siswa mencari informasi sebagai

bahan untuk dianalisis dan disimpulkan. Kegiatan mengumpulkan data
dapat dilakukan dengan cara membaca buku, mengumpulkan data
sekunder, observasi lapangan, uji coba (eksperimen), wawancara,
menyebarkan kuesioner, dan lain-lain. Hasil belajar dari kegiatan
mengumpulkan data adalah siswa dapat menguji hipotesis.
4. Mengasosiasi, yaitu kegiatan siswa mengolah data dalam bentuk
serangkaian aktivitas fisik dan pikiran dengan bantuan peralatan
tertentu. Bentuk kegiatan mengolah data antara lain melakukan
klasifikasi, pengurutan (sorting), menghitung, membagi, dan
menyusun data dalam bentuk yang lebih informatif, serta menentukan
sumber data sehingga lebih bermakna. Kegiatan siswa dalam
mengolah data misalnya membuat tabel, grafik, bagan, peta konsep,
menghitung, dan pemodelan. Selanjutnya siswa menganalisis data
untuk membandingkan ataupun menentukan hubungan antara data
yang telah diolahnya dengan teori yang ada sehingga dapat ditarik
simpulan dan atau ditemukannya prinsip dan konsep penting yang
bermakna dalam menambah skema kognitif, meluaskan pengalaman,
dan wawasan pengetahuannya. Hasil belajar dari kegiatan menalar/
mengasosiasi adalah siswa dapat menyimpulkan hasil kajian dari
hipotesis.
5. Mengomunikasikan, yaitu kegiatan siswa mendeskripsikan dan
menyampaikan hasil temuannya dari kegiatan mengamati, menanya,
mengumpulkan dan mengolah data, serta mengasosiasi yang
ditujukan kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan dalam
bentuk diagram, bagan, gambar, dan sejenisnya dengan bantuan
perangkat teknologi sederhana dan atau teknologi informasi dan
komunikasi. Hasil belajar dari kegiatan mengomunikasikan adalah
siswa dapat memformulasikan dan mempertanggungjawabkan
pembuktian hipotesis.

7. Rangkuman

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu
dan pengetahuan. Jadi dapat dikatakan Teori belajar merupakan upaya untuk
mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita
semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. Adapunteori
belajar terdiri dari 5, yaitu:

a) Teori belajar Desktiptif dan preskriptif
b) Teori belajar Behavioristik

29

c) Teori belajar Kognitifistik
d) Teori belajar Konstrukstivistik
e) Teori belajar Humanistik
Adapun rumpun model pembelajaran yang bisa dikembangkan terdiri dari 3
yaitu:
a) Inquri dan discovery
b) Problem based learning
c) Project based learning
d) Saintific based learning

8. Tugas

Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi 1 Konsep model
pembelajaran, maka peserta menjawab pertanyaan berikut:
a. Jelaskan teori-teori pembelajaran!
b. Identifikasi model-model pembelajaran berdasarkan teori belajar?
c. Identifikasi model-model pembelajarn berdasarkan rumah/rumpungnya

masing-masing!

9. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, melalui Reflective
Thinking, peserta diminta menuliskan pada selembar kertas tentang apa saja
tujuan mengetahui teori dan sikap belajar serta rumah dan rumpung model
pembelajarn.

C. Materi 3: Konsep dan Implemantasi Kurikulum Merdeka
1. Capaian Pembelajaran

b. Tujuan
Tujuan mengikuti materi Konsep dan Implemantasi Kurikulum Merdeka
adalah:
1) Peserta mampu memahami konsep kurikulum merdeka.
2) Peserta dapat menganalisis konsep kurikulum berdasarkan kebijakan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
3) Peserta mampu mengimplementasi kurikulum merdeka.

c. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti bimtek, peserta dapat:
1) Memahami esensi Merdeka Belajar

30

2) Mengidentifikasi konsep Merdeka Belajar
3) Mengimplementasikan Merdeka Belajar dalam proses pembelajaran

2. Pokok-pokok Materi

Lingkup materi konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka adalah:
a) Latar belakang perubahan kurikulum Merdeka Belajar
b) Konsep kurikulum Merdeka Belajar
c) Implementasi kurikulum Merdeka Belajar

3. Uraian Materi

Kurikulum Merdeka

a. Pendahuluan

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memberikan kebebasan dan
otonomi kepada lembaga pendidikan, dan merdeka dari birokratisasi, serta
guru dibebaskan dari birokrasi yang berbelit-belit serta peserta didik
diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai.
Esensi dari Kurikulum Merdeka ini adalah Merdeka Belajar, yakni konsep
yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing.
Misalnya, jika dua anak dalam satu keluarga memiliki minat yang berbeda,
maka tolok ukur yang dipakai untuk menilai tidak sama.
Kemudian anak juga tidak bisa dipaksakan mempelajari suatu hal yang tidak
disukai. "Kita sebagai orangtua tentu tidak bisa memaksakan anak kita yang
menyukai seni untuk belajar secara mendalam komputer dan sebaliknya,"
kata Nadiem. Nadiem mengatakan, anak itu pada dasarnya memiliki rasa
ingin tahu dan keinginan belajar. "Jadi tidak ada anak pemalas atau anak
yang tidak bisa," tegasnya.

b. Latar Belakang

Landasan empiris dan kerangka konseptual yang digunakan dalam
merumuskan kebijakan kurikulum dan merancang Kurikulum Merdeka
adalah kajian yang juga mencakup strategi implementasi kurikulum baru,
sebuah isu yang sangat mempengaruhi keberhasilan dari setiap kebijakan
pendidikan.
Krisis pembelajaran yang telah terjadi sekian lama tersebut, diperburuk
dengan Pandemi Covid-19 yang seketika membawa perubahan pada wajah

31

pendidikan di Indonesia. Perubahan yang paling nyata tampak pada proses
pembelajaran yang awalnya bertumpu pada metode tatap muka beralih
menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Intensitas belajar mengajar juga mengalami penurunan yang signifikan, baik
jumlah hari belajar dalam seminggu maupun rata-rata jumlah jam belajar
dalam sehari. Selama PJJ, umumnya siswa belajar 2-4 hari dalam seminggu
terutama siswa pada tingkat SMP, SMA, dan SMK sehinga mengakibatkan
learning loss.

Pola keberagaman dalam proses pembelajaran ini selanjutnya memberi
pengaruh pada semakin melebarnya kesenjangan hasil pembelajaran siswa
selama pandemi. Terkait hal ini, temuan The SMERU Research Institute (2020)
menunjukkan dua hal.

Pertama, analisis ketimpangan belajar di dalam kelas menunjukkan bahwa
siswa yang memiliki akses terhadap perangkat digital, memiliki guru adaptif,
pada kondisi sosial ekonomi lebih tinggi, serta mempunyai orang tua yang
aktif berkomunikasi dengan guru cenderung memiliki kemampuan di atas
rata-rata.

Kedua, ketimpangan hasil belajar antar siswa dalam satu kelas pun diprediksi
akan semakin lebar. Apabila tidak ada intervensi yang mendorong guru
untuk menyusun pembelajaran yang memperhatikan keragaman
kemampuan belajar siswa, maka siswa dengan kemampuan rendah akan
semakin tertinggal dari siswa lainnya. Studi INOVASI dan Puslitjak (2020)
menunjukkan risiko yang lebih besar dari semakin melebarnya kesenjangan
pembelajaran ini. Menurut studi tersebut, “pembelajaran selama COVID-19
memiliki dampak yang lebih besar pada beberapa kelompok siswa, di mana
siswa yang berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi lebih
rendah lebih berisiko tidak terdaftar lagi atau tidak lagi berpartisipasi dalam
proses pembelajaran.

Antisipasi dampak pandemi terhadap ketertinggalan pembelajaran (learning
loss) dan kesenjangan pembelajaran (learning gap) sebenarnya telah
dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud
/saat ini Kemendikbudristek). Pada Agustus 2020, Kemendikbud
menerbitkan kurikulum darurat pada satuan pendidikan dalam kondisi
khusus. Kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) ini pada pada intinya
merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional. Pada kurikulum
darurat dilakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata
pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial
dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat
selanjutnya.

32

Guru juga didorong untuk melakukan asesmen diagnostik secara berkala
untuk mendiagnosis kondisi kognitif (kemampuan dan capaian
pembelajaran siswa) dan kondisi non-kognitif (aspek psikologis dan kondisi
emosional siswa) sebagai dampak dari PJJ. Dengan asesmen diagnostik ini
diharapkan guru dapat memberikan pembelajaran yang tepat sesuai kondisi
dan kebutuhan siswa mereka.

Setelah berjalan hampir satu tahun ajaran, Kemendikbud telah melakukan
evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum darurat. Hasil evaluasi tersebut
secara umum menunjukkan bahwa siswa pengguna kurikulum darurat
mendapatkan hasil asesmen yang lebih baik daripada pengguna Kurikulum
2013 secara penuh, terlepas dari latar belakang sosial ekonominya.
Penggunaan kurikulum darurat secara signifikan juga mampu mengurangi
indikasi learning-loss selama pandemi baik untuk capaian literasi maupun
numerasi

Hasil positif di atas menunjukkan bahwa intervensi kurikulum darurat
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap upaya pemulihan pembelajaran
akibat pandemi COVID-19. Namun disisi lain, dapat dikatakan bahwa
intervensi ini merupakan kebijakan bumper untuk menanggulangi potensi
learning loss dan learning gap selama pandemi. Dibutuhkan pengembangan
kurikulum yang secara komprehensif mampu menghadapi krisis
pembelajaran yang menjadi permasalahan akut di Indonesia.

Selama dua tahun ke depan, Kurikulum Merdeka akan terus disempurnakan
berdasarkan evaluasi dan umpan balik dari berbagai pihak. Sejalan dengan
proses evaluasi tersebut, naskah ini juga akan mengalami revisi dan
pembaruan secara berkala.

c. Konsep Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka merupakan terobosan Kemendikbud-Ristek untuk
menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul melalui kebijakan yang
menguatkan peran seluruh insan pendidikan. Kebijakan ini
diimplementasikan melalui empat upaya perbaikan.

1. Pertama, perbaikan pada infrastruktur dan teknologi.
2. Kedua, perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan, serta

pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan.
3. Ketiga, yakni perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya.
4. Keempat, melakukan perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen.

Kurikulum Merdeka dibagi dalam beberapa episode. Dimulai dari episode
pertama, yaitu menghadirkan empat pokok kebijakan agar paradigma

33

tentang cara lama dalam belajar dan mengajar dapat diubah menuju
kemajuan. Beberapa wujud dari empat pokok kebijakan itu adalah
penghapusan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan mengganti
Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Nasional. Kemudian, ada juga
kebijakan penyederhanaan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) serta
kebijakan penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang lebih fleksibel.

Kurikulum Merdeka dirancang sebagai bagian dari upaya Kemendikbud-
Ristek untuk mengatasi krisis belajar yang telah lama kita hadapi, dan
menjadi semakin parah karena pandemi. Krisis ini ditandai oleh rendahnya
hasil belajar peserta didik, bahkan dalam hal yang mendasar seperti literasi
membaca. Krisis belajar juga ditandai oleh ketimpangan kualitas belajar yang
lebar antar wilayah dan antar kelompok sosial-ekonomi.

Tentu, pemulihan sistem pendidikan dari krisis belajar tidak bisa diwujudkan
melalui perubahan kurikulum saja. Diperlukan juga berbagai upaya
penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah, pendampingan bagi
pemerintah daerah, penataan sistem evaluasi, serta infrastruktur dan
pendanaan yang lebih adil. Namun kurikulum juga memiliki peran penting.
Kurikulum berpengaruh besar pada apa yang diajarkan oleh guru, juga pada
bagaimana materi tersebut diajarkan. Karena itu, kurikulum yang dirancang
dengan baik akan mendorong dan memudahkan guru untuk mengajar
dengan lebih baik.

d. Struktur Kurikulum Merdeka

Kurikulum merdeka memiliki dua stuktur khusus yakni: kegiatan yang bersifat
intrakurikuler dan kegiatan yang bersifat projek baik secara perseorangan
maupun kelompok yang proses penerapannya diserahkan sepenuhnya
kepada sekolah maupun tenaga pendidik tiap mata pelajarannya.

Kurikulum merdeka juga memiliki perbedaan dalam hal waktu atau jam
pelajaran. Jika kurikulum 2013 lebih menghitung jumlah jam pelajaran
berdasarkan hitungan minggu, maka Kurikulum Merdeka menghitung jam
pelajaran berdasarkan tahun.

Dengan waktu jam pelajaran yang berdasarkan tahun ini akan memudahkan
pihak sekolah untuk mengatur aktivitas pembelajaran, contohnya: mata
pelajaran yang belum diajarkan pada semester genap bisa diajarkan pada
semester ganjil demikian pula sebaliknya atau menyesuaikan jam pelajaran
setiap tahunnya .

Selanjutnya, perbedaan Kurikulum Merdeka dengan kurikulum 2013 bahwa
tidak lagi dikenal istilah kompetensi inti maupun kompetensi dasar

34

melainkan diganti dengan capaian pembelajaran yang ditandai dengan hasil
yang telah dicapai dalam bentuk sikap maupun keterampilan siswa dalam
satu kesatuan yang saling terkait erat dan berdampak langsung pada
kompetensi tiap siswanya.

Kurikulum baru ini, memiliki perbedaan secara khusus di tiap jenjang
pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga jenjang sekolah
menengah atas, berikut penjelasannya:

1) Sekolah Dasar (SD)

Perbedaan di Sekolah Dasar Pada kurikulum 2013 untuk sekolah dasar,
terdapat pemisahan antara mata pelajaran IPA dan IPS. Sedangkan, pada
Kurikulum Merdeka, kedua mata pelajaran ini digabung menjadi satu mata
pelajaran menjadi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) tujuan sebagai
persiapan ketika siswa melanjutkan pendidikan di level sekolah menengah
pertama (SMP).

2) Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Di Sekolah SMP perbedaan mencolok antara kurikulum 2013 dan Kurikulum
Merdeka di jenjang ini, adalah pada mata pelajaran informatika, jika
sebelumnya lebih bersifat pilihan, maka pada Kurikulum Merdeka mata
pelajaran ini dianggap wajib.

3) Sekolah Menengah Atas (SMA)

Di SMA perbedaannya adalah Jika pada kurikulum 2013, siswa baru harus
memilih jurusan sementara, maka pada Kurikulum Merdeka pemilihan
jurusan atau peminatan dimulai saat siswa memasuki kelas 11 yang dilakukan
dengan terlebih dahulu melakukan konsultasi antara wali kelas, guru BK serta
orang tua siswa.

Kurikulum baru ini juga memiliki keunggulan jika disbanding dengan
kurikulum sebelumnya, yaitu:

1) Lebih sederhana dan mendalam

Fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta
didik pada fasenya. Belajar menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak
terburu-buru dan menyenangkan.

2) Lebih merdeka

Merdeka bagi Peserta didik memiliki arti yaitu Tidak ada program peminatan
di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan
aspirasinya.

Merdeka bagi Guru yaitu Guru mengajar sesuai tahap capaian dan
perkembangan peserta didik.

35

Dan merdeka untuk Sekolah maksudnya yaitu sekolah memiliki wewenang
untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai
dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.

3) Lebih relevan dan Interaktif

Pembelajaran melalui kegiatan projek ( project based learning ) memberikan
kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif
mengeksplorasi isu-isu aktual misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan
lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil
Pelajar Pancasila yang relevan dengan kehidupan sehari- hari siswanya.

e. Implementasi Kurikulum Merdeka

Kemendikbud-Ristek melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen
Pendidikan (BSKAP) menjelaskan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka
tidak sesulit yang dibayangkan masyarakat. Kurikulum Merdeka ini lebih
berfokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta
didik pada fasenya. Sifatnya lebih mendekatkan pada kemampuan masing-
masing siswa.

Menerapkan Kurikulum Merdeka, Pembelajaran Makin Menyenangkan Dia
memaparkan, esensi Kurikulum Merdeka memberikan kemerdekaan kepada
guru untuk menentukan cara mengajar yang tepat. Selain itu guru bisa
membuat materi esensialnya sesuai dengan yang ingin dicapai. Dari sisi
siswa, mereka punya ruang seluas-luasnya untuk meng-explore potensi yang
dimilikinya. Kurikulum Merdeka lebih relevan dan interaktif yang mana
pembelajarannya melalui kegiatan proyek. "Siswa diberikan kesempatan
lebih luas untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual. Misalnya, isu
lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan
karakter dan kompetensi profil pelajar Pancasila.

Untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, guru harus kenal betul
muridnya. Guru harus mempunyai peta kemampuan setiap siswanya. Jadi,
ketika masuk sekolah, guru jangan langsung menyodorkan siswa dengan
materi yang sudah disusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Namun, masuk dulu ke dunia anaknya. "Kenali dulu siswanya, apa yang
sudah dikuasai anak. Setelah punya peta kemampuan masing-masing anak,
guru bisa meng-create proses pembelajaran. Anak yang belum menguasai
materi sebelumnya harus tuntas terlebih dahulu bisa melalui kolaborasi
bersama dengan yang sudah bisa. Sehingga terjadi saling berbagi. Guru lebih
fleksibel untuk berkreasi dalam mengajar semaksimal mungkin.

36

Melalui Kurikulum Merdeka guru lebih berkesempatan mengetahui minat,
bakat, kebutuhan, dan kemampuan siswa. Asesmen pembelajaran cukup
efektif untuk membantu guru memetakan kebutuhan siswa. Guru bisa
menyusun metode serta strategi pembelajaran yang sesuai minat dan profil
siswa. Ditambah dengan pembelajaran kolaboratif berbentuk proyek yang
bertujuan untuk mengembangkan profil pelajar Pancasila melalui
pengalaman belajar. Guru ibarat petani dan siswa ibarat benihnya. "Dengan
kemampuan guru merawat benih dengan baik, benih yang ditanam akan
tumbuh berkualitas. Dengan penerapan Kurikulum Merdeka para guru bisa
memberikan fasilitas dan pengajaran sesuai kebutuhan siswa untuk
mencetak pelajar Pancasila yang mampu bersaing di masa depan.

4. Rangkuman

Kurikulum Merdeka dirancang sebagai bagian dari upaya Kemendikbud-
Ristek untuk mengatasi krisis belajar yang telah lama dihadapi Pendidikan di
Indonesia. Krisis ini ditandai oleh rendahnya hasil belajar peserta didik,
bahkan dalam hal yang mendasar seperti literasi membaca. Krisis belajar juga
ditandai oleh ketimpangan kualitas belajar yang lebar antar wilayah dan
antar kelompok sosial-ekonomi.

Kurikulum Merdeka memiliki perbedaan dengan kurikulum sebelumnya,
yaitu secara khusus di tiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah
dasar hingga jenjang sekolah menengah atas.

Kurikulum Merdeka ini juga memiliki keunggulan jika dibanding dengan
kurikulum sebelumnya, yaitu:

1) Lebih sederhana dan mendalam
2) Lebih merdeka
3) Lebih relevan dan Interaktif

5. Tugas
Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi keempat tentang konsep
dan implementasi Kurikulum Merdeka, maka peserta menjawab pertanyaan
berikut:

a. Lembar kerja ringkasan materi dari kegiatan expert group
b. Lembar kerja sintaks pembelajaran pada Kurikulum Merdeka

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, peserta diminta untuk
menyusun rencana pembelajaran dengan mengintegrasikan konsep dan
implementasi Kurikulum Merdeka yang telah diuraikan di atas.

37

D. Materi 3: Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan Kaitannya dengan
Model Pembelajaran

1. Capaian Pembelajaran

a. Tujuan
Tujuan mengikuti materi ini peserta bimtek dapat memahami konsep
Standar Kompetensi Lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar,
merumuskan IPK dan uraian model pembelajaran yang dirancang berbasis
aktivitas.

b. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti bimtek ini, peserta dapat:

1) Menganalisis Standar Kompetensi Lulusan sesuai jenjang yang meliputi
dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.

2) Menentukan deskripsi kompetensi inti sesuai dengan standar
kompetensi lulusan yang meliputi aspek sikap spiritual, sikap sosial,
pengetahuan dan keterampilan.

3) Menentukan deskripsi kompetensi dasar sesuai kompetensi inti aspek
sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan.

4) Menentukan model pembelajaran yang dirancang berbasis aktivitas.

2. Pokok-pokok Materi

e. Analisis Standar Kompetensi Lulusan sesuai jenjang yang meliputi dimensi
sikap, pengetahuan dan keterampilan

f. Kompetensi inti sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang meliputi
aspek sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan

g. Kompetensi dasar sesuai kompetensi inti aspek sikap spiritual, sikap sosial,
pengetahuan dan keterampilan

3. Uraian Materi

f. Standar Kompetensi Lulusan
Standar Kompetensi Lulusan merupakan salah satu dari delapan Standar
Nasional Pendidikan sebagaimana yang ditetapkan dalam Pasal 35 Ayat (1)
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan
yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan, yang akan menjadi
acuan bagi pengembangan kurikulum dalam rangka mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.

Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.

38

Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama
pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan,
standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana,
standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.

Ruang Lingkup Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria/ kualifikasi
kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah
menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah.

Rumusan Standar Kompetensi lulusan SD/MI/SDLB/Paket A;
SMP/MTs/SMPLB/Paket B; dan SMA/MA/SMALB/Paket C yang meliputi
dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan adalah sebagai berikut:

Dimensi Sikap

SD/MI/SDLB/ SMP/MTs/SMPLB/ SMA/MA/SMALB/
Paket A Paket B Paket C

Memiliki perilaku yang Memiliki perilaku yang Memiliki perilaku yang
mencerminkan sikap: mencerminkan sikap: mencerminkan sikap:
1. beriman dan bertakwa 1. beriman dan bertakwa 1. beriman dan
kepada Tuhan YME, kepada Tuhan YME, bertakwa kepada Tuhan
2. berkarakter, jujur, dan 2. berkarakter, jujur, dan YME,
peduli, peduli, 2. berkarakter, jujur,
3. bertanggungjawab, 3. bertanggungjawab, dan peduli,
4. pembelajar sejati 4. pembelajar sejati 3. bertanggungjawab,
sepanjang hayat, dan sepanjang hayat, dan 4. pembelajar sejati
5. sehat jasmani dan 5. sehat jasmani dan sepanjang hayat, dan
rohani rohani 5. sehat jasmani dan
sesuai dengan sesuai dengan rohani
perkembangan anak di perkembangan anak di sesuai dengan
lingkungan keluarga, lingkungan keluarga, perkembangan anak di
sekolah, masyarakat dan sekolah, masyarakat dan lingkungan keluarga,
lingkungan alam sekitar, lingkungan alam sekitar, sekolah, masyarakat
bangsa, dan negara bangsa, negara, dan dan lingkungan alam
kawasan regional. sekitar, bangsa, negara,
kawasan regional, dan
internasional.

39

Dimensi Pengetahuan SD/MI/SDLB/ SD/MI/SDLB/

SD/MI/SDLB/ Memiliki Memiliki pengetahuan
pengetahuan faktual, faktual, konseptual,
Memiliki pengetahuan konseptual, prosedural, dan
faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat
prosedural, dan metakognitif pada teknis, spesifik, detil, dan
metakognitif pada tingkat teknis dan kompleks berkenaan
tingkat dasar berkenaan spesifik sederhana dengan:
dengan: berkenaan dengan: 1. ilmu pengetahuan,
1. ilmu pengetahuan, 1. ilmu pengetahuan, 2. teknologi,
2. teknologi, 2. teknologi, 3. seni,
3. seni, dan 3. seni, dan 4. budaya, dan
4. budaya. 4. budaya. 5. humaniora.

Mampu mengaitkan Mampu mengaitkan Mampu mengaitkan
pengetahuan di atas dalam pengetahuan di atas pengetahuan di atas dalam
konteks diri sendiri, dalam konteks diri konteks diri sendiri,
keluarga, sendiri, keluarga, keluarga,
sekolah, masyarakat dan sekolah, masyarakat sekolah, masyarakat dan
lingkungan alam sekitar, dan lingkungan alam lingkungan alam sekitar,
bangsa, dan negara. sekitar, bangsa, bangsa, negara, serta
negara, dan kawasan kawasan regional dan
regional. internasional.

Dimensi Keterampilan SMP/MTs/SMPLB/ SMA/MA/SMALB/
Paket B Paket C
SD/MI/SDLB/
Paket A Memiliki keterampilan Memiliki
berpikir dan bertindak: keterampilberpikir dan
Memiliki keterampilan 1. kreatif, bertindak:
berpikir dan bertindak: 2. produktif, 1. kreatif,
1. kreatif, 3. kritis, 2. produktif,
2. produktif, 4. mandiri, 3. kritis,
3. kritis, 5. kolaboratif, dan 4. mandiri,
4. mandiri, 6. komunikatif 5. kolaboratif, dan
5. kolaboratif, dan 6. komunikatif
6. komunikatif melalui pendekatan
lmiah sesuai dengan melalui pendekatan
melalui pendekatan ilmiah yang dipelajari di satuan ilmiah sebagai
sesuai dengan tahap pendidikan dan pengembangan dari
perkembangan anak yang sumbeain secara mandiri yang dipelajari di
relevan dengan tugas yang satuan pendidikan dan
diberikan sumber lain secara
mandiri

40

g. Kompetensi Inti

Kompetensi inti pada kurikulum 2013 merupakan tingkat kemampuan untuk
mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki seorang peserta
didik pada setiap tingkat kelas.

Isi kurikulum 2013 dikembangkan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) dan
Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi Inti dikembangkan dari Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) dan merupakan kualitas minimal yang harus
dikuasai peserta didik di kelas untuk setiap mata pelajaran. Kompetensi Inti
tidak memuat konten khusus mata pelajaran tetapi konten umum yaitu
fakta, konsep, prosedur, metakognitif dan kemampuan menerapkan
pengetahuan yang terkandung dalam setiap mata pelajaran.

Perluasan penerapan kompetensi yang dipelajari dinyatakan dalam KI,
dimulai dari lingkungan terdekat sampai ke lingkungan global. Dalam
desain Kurikulum 2013, Kompetensi Inti berfungsi sebagai pengikat bagi
Kompetensi Dasar. Oleh karena itu, setiap Kompetensi Dasar yang
dikembangkan harus mengacu kepada Kompetensi Inti.

Kompetensi Inti terdiri atas empat dimensi yang satu sama lain saling terkait.
Keempat dimensi tersebut adalah: sikap spiritual (KI 1), sikap sosial (KI 2),
pengetahuan (KI 3), dan keterampilan (KI 4), yang tercantum dalam
pengembangan Kompetensi Dasar, Silabus, dan RPP. Dalam proses
pembelajaran, KI 1 dan KI 2 dikembangkan di setiap kegiatan sekolah
dengan pendekatan pembelajaran tidak langsung (indirect teaching).
Sedangkan KI 3 dan KI 4 dikembangkan oleh masing-masing mata pelajaran
dengan pendekatan pembelajaran langsung (direct teaching). Kompetensi
Inti 3 (KI 3) menitikberatkan pada pengembangan pengetahuan (faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif) dalam jenjang kemampuan
kognitif dari mengingat sampai mencipta. Sedangkan KI 4 merupakan
penerapan dari apa yang dipelajari pada KI 3 dalam proses pembelajaran
yang terintegrasi ataupun terpisah. Pembelajaran terintegrasi mengandung
makna bahwa proses pembelajaran KI 3 dan KI 4 dilakukan pada waktu
bersamaan baik di kelas, laboratorium maupun di luar sekolah.
Pembelajaran terpisah mengandung makna bahwa pembelajaran mengenai
KI 3 terpisah dalam waktu dan/atau tempat dengan KI 4.

Selanjutnya, setiap KI dijabarkan dalam bentuk Kompetensi Dasar (KD).
Kompetensi Dasar (KD) dari masing-masing KI menjadi rujukan guru dalam
pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan
rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau
lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan
pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).

41

h. Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar merupakan kemampuan dan materi pembelajaran
minimal yang harus dicapai peserta didik untuk suatu mata pelajaran pada
masing-masing satuan pendidikan yang mengacu pada kompetensi inti.

Kompetensi Dasar (KD) adalah kemampuan untuk mencapai Kompetensi
Inti yang harus diperoleh peserta didik melalui pembelajaran. Kompetensi
Dasar setiap mata pelajaran dikembangkan dengan merujuk kepada
Kompetensi Inti dan setiap KI memiliki KD yang sesuai. Dengan perkataan
lain, KI 1 memiliki KD yang berkaitan dengan sikap spiritual, KI 2 memiliki
KD yang berkaitan dengan sikap sosial, KI 3 memiliki KD yang berkaitan
dengan pengetahuan dan KI 4 memiliki KD yang berkaitan dengan
keterampilan. KI-1, KI-2, dan KI-4 dikembangkan melalui proses
pembelajaran setiap materi pokok yang tercantum dalam KI-3. KI-1 dan KI-
2 tidak diajarkan langsung, tetapi indirect teaching pada setiap kegiatan
pembelajaran.

Setiap kompetensi berimplikasi terhadap tuntutan proses pembelajaran dan
penilaian. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran dan penilaian pada tingkat
yang sama memiliki karakteristik yang relatif sama dan memungkinkan
terjadinya akselerasi belajar dalam 1 (satu) tingkat Kompetensi. Selain itu,
untuk tingkat kompetensi yang berbeda menuntut pembelajaran dan
penilaian dengan fokus dan penekanan yang berbeda pula.

4. Rangkuman

a. Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.

b. Kompetensi inti pada kurikulum 2013 merupakan tingkat kemampuan
untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki seorang
peserta didik pada setiap tingkat kelas. Kompetensi inti yang dimaksud
terdiri atas: kompetensi inti sikap spiritual; kompetensi inti sikap sosial;
kompetensi inti pengetahuan; dan kompetensi inti keterampilan.

c. Kompetensi dasar yakni kemampuan dan materi pembelajaran minimal
yang harus dicapai peserta didik untuk suatu mata pelajaran pada masing-
masing satuan pendidikan yang mengacu pada kompetensi inti.

d. Model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang
meliputi segala aspek sebelum dan sesudah pembelajaran yan dilakukan
guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung
atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar.

42

5. Tugas
Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi 2: Analisis SKL, Capaian
Pembelajaran, dan kaitannya dengan Metode Pembelajaran, maka peserta
menjawab pertanyaan berikut:
Jelaskan komponen yang harus dipertimbangkan sebelum memilih model
pembelajaran!

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, melalui Reflective
Thinking, peserta diminta menuliskan pada selembar kertas tentang apa
hubungan model pembelajaran dengan SKL, KI dan KD.

E. Materi 4: Model Pembelajaran Abad 21

1. Capaian Pembelajaran
a. Tujuan
Tujuan mengikuti materi ini peserta bimtek dapat memahami konsep 4C
(creativity, critical thinking, collaborative and communication) dan mampu
menerapkan dalam pembelajaran, salain dari itu peserta juga di tuntut untuk
dapat memahami dan merumuskan implementasi penguatan
pengembangan karakter, literasi dalam pembelajaran serta mampu
Mengimplementasikan moderasi beragama dalam pembelajaran PAI.
b. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti bimtek ini, peserta dapat:
1) Menjelaskan konsep 4 C, PPP, Literasi dan moderasi beragama dalam
pembelajaran PAI.
2) Menjelaskan mekanisme implementasi 4 C, Profil pelajar pancasila, Literasi
dan moderasi beragama dalam pembelajaran PAI.
3) Menjelaskan urgensi model pembelajaran abad 21 dalam PAI
4) Menganalisis sintaks pembelajaran yang berkaitan dengan 4 C, PPP, Literasi
dan moderasi beragama.
5) Mengimplementasikan pembelajaran abad 21, PPK, Literasi dan moderasi
beragama dalam pembelajaran.

2. Pokok-pokok Materi
Pokok-pokok materi bimtek pada sesi ini terdiri dari:
a. Kecakapan abad 21
b. Pembelajaran HOTS

43

c. Profil Pelajar Pancasila (PPP)
d. Penguatan Literasi dalam pembelajaran PAI
e. Moderasi Beragama

3. Uraian Materi

a. Kecapakan Abad 21
Pendidikan Abad 21 merupakan
pendidikan yang mengintegrasikan
antara kecakapan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap, serta
penguasaan terhadap TIK. Kecakapan
tersebut dapat dikembangkan melalui
berbagai model pembelajaran berbasis
aktivitas yang sesuai dengan
karakteristik kompetensi dan materi
pembelajaran. Kecakapan yang
dibutuhkan di abad 21 juga merupakan keterampilan berpikir lebih tinggi
(Higher Order Thinking Skills – HOTS) yang sangat diperlukan peserta didik
dalam menghadapi tantangan global.

Adapun yang termasuk kecakapan abad 21 adalah:

1. Kecakapan Berpikir Kritis dan Pemecahan masalah (Critical Thinking
and Problem Solving Skill)
Kecakapan abad 21 yang pertama akan dibahas adalah kecakapan
berpikir kritis dan pemacahan masalah. Berpikir kritis bersifat mandiri,
berdisiplin diri, dimonitor diri, memperbaiki proses berpikir sendiri. Hal
itu dipandang sebagai asset penting terstandar dan cara kerja dan cara
berpikir dalam praktek, hal itu memerlikan komunikasi efektif dan
pemecahan masalah dan komitmen untuk mengatasi sikap dan
sosiosentris bawaan (Paul and Elder, 2006).

Berpikir kritis menurut Beyer (1985) adalah kemapuan 1) menentukan
kredibilitas suatu sumber, 2) membedakan antara yang relevan dan yang
tidak relevan, 3) membedakan fakta dan penilaian, 4) mengidentifikasi
dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucap, 5) mengidentifikasi bias
yang ada, 6) mengidentifikasi sudut pandang, dan 7) mengevaluasi bukti
yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan.

2. Kecakapan Berkomunikasi (Communication Skills)
Kecakapan abad 21 yang kedua adalah kecakapan berkomunikasi.
Komunikasi merupakan proses transmisi informasi, gagasan, emosi, serta
keterampilan dengan menggunakan symbol-simbol, kata-kata, gambar,
grafis, angka, dsb.

44

Raymond Ross (1996) mengatakan bahwa “Komunikasi adalah proses
menyortir, memilih dan mengirim symbol-simbo sedemikian rupa agar
membantu pendengar membankitkan respon/makna dan pemikiran
yang serupa dengan yan dimaksudkan oleh komunikator”. Kecakapan
komunikasi dalam proses pembelajaran antara lain sebagai berikut:

a) Memahamai, mengolah, dan menciptakan komunikasi yang efektif
dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia (ICT
Leteracy).

b) Menggunakan kemampuan untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu
pada saat berdiskusi, di dalam dan di luar kelas, maupun tertuan pada
tulisan.

c) Menggunakan bahasa lisan yang sesuai konten dan konteks
pembicaraan dengan lawan bicara atau yang diajak berkomunikasi.

d) Selain itu dalam komunikasi lisan diperlukan juga sikap untuk dapat
mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain, selain
pengetahuan terkait konten dan konteks pembicaraan.

e) Menggunakan alur piker yang logis, terstruktur sesuai dengan kaidah
yang berlaku.

f) Dalam abad 21 komunikasi tidak terbatas hanya pada satu bahasa,
tetapi kemungkinan dengan multi-bahasa.

3. Kreatif dan Inovasi (Creativity and Innovation)
Kecakapan abad 21 yang ketiga adalah kretaifitas dan inovasi, menurut
Guilford (1976) kreatifita adalah cara-cara berpikir yang divergen, berpikir
yang produktif, berdaya cipta berpikir heuristic dan berpikir literat.

Beberapa kecakapan terkait kreatifitas yang dapat dikembangkan dalam
pembelajaran antara lain sebagai berikut.

a) Memiliki kemampuan dalam mengembangkan, melaksanakan, dan
menyampaikan gagasan-gagasan baru secara lisan atau tulisan

b) Bersikap terbuka dan responsive terhadap perspektif baru dan
berbeda.

c) Mampu mengemukakan ide-ide kreatif secara konseptual dan
praktikal.

d) Menggunakan konsep-konsep atau pengetahuannya dalam situasi
baru dan berbeda, baik dalam mata pelajaran terkait, antar mata
pelajaran, maupun dalam persoalan kontekstual.

e) Menggunakan kegagalan sebagai wahana pembelajaran.
f) Memiliki kemampuan dalam menciptakan kebaharuan berdasarkan

pengetahuan awal yang dimiliki.
g) Mampu beradaptasi dalam situasi baru dan memberikan kontribusi

positif terhadap lingkungan.

4. Kolaborasi (Collaboration)

45

Kecakapan abad 21 yang keempat adalah kolaborasi. Kolaborasi dalam
proses pembelajaran merupakan suatu bentuk kerjasama dengan satu
sama lain saling membantu dan melengkapi untuk melakukan tugas-
tugas tertentu agar diperoleh suatu tujuan yang telah ditentukan.

Kecakapan terkait dengan kolaborasi dalam pembelajaran, antara lain
sebagai berikut.

a) Memiliki kemampuan dalam kerjasama berkelompok.
b) Beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara

produktif dengan yang lain.
c) Memiliki empati dan menghormati perspektif berbeda.
d) Mampu berkompromi dengan anggota yang lain dalam kelompok

demi tercapainya tujuan yan telah ditetapkan.

b. Pembelajaran HOTS
1. Pengertian Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
Kemampuan berpikir tingkat tinggi/ Higher Order Thinking Skills (HOTS)
adalah proses berpikir yang mengharuskan peserta didik untuk
memanipulasi informasi dan ide-ide dalam cara tertentu yang memberi
mereka pengertian dan implikasi baru (Gunawan, 2012:171). Limpan
menggambarkan berpikir tingkat tinggi melibatkan berpikir kritis dan
kreatif yang dipandu oleh ide-ide kebenaran yang masing-masing
mempunyai makna. Berpikir kritis dan kreatif saling ketergantungan,
seperti juga kriteria dan nilai-nilai, nalar dan emosi. (Kuswana, 2012: 200)
Menurut Ernawati (2017: 196-197), berpikir tingkat tinggi atau Higher
order Thinking Skills (HOTS) merupakan cara berpikir yang tidak lagi
hanya menghafal secara verbalistik saja namun juga memaknai hakikat
dari yang terkandung diantaranya, untuk mampu memaknai makna
dibutuhkan cara berpikir yang integralistik dengan analisis, sintesis,
mengasosiasi hingga menarik kesimpulan menuju penciptaan ide-ide
kreatif dan produktif.

Berdasarkan beberapa pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan
bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi/ Higher Order Thinking Skills
(HOTS) adalah kemampuan berpikir yang bukan hanya sekedar
mengingat, menyatakan kembali, dan juga merujuk tanpa melakukan
pengolahan, akan tetapi kemampuan berpikir untuk menelaah informasi
secara kritis, kreatif, berkreasi dan mampu memecahkan masalah.

2. Taksonomi Berpikir
a) Taksonomi Bloom
Taksonomi belajar dalam domain kognitif yang paling umum
dilakukan adalah taksonomi Bloom. Benjamin S Bloom membagi

46

taksonomi hasil belajar dalam enam kategori, yakni: a. Pengetahuan
(knowledge), b. pemahaman (comprehension), c. penerapan
(application), d. analisis, e. Sintesis, dan f. Evaluasi. Tingkat pemahaman
peserta didik dianggap berjenjang dengan tingkat paling rendah (C1):
pengetahuan atau mengingat, sampai tingkat paling tinggi (C6):
evaluasi (Sani, 2016: 103). Taksonomi Bloom yang setelah digunakan
cukup lama untuk membuat rancangan instrusksional dalam dunia
pendidikan, Anderson dan Krathwohl (2000) menelaah kembali
Taksonomi Bloom dan melakukan revisi sebagai berikut (Sani,
2016:103-104).

Tabel. Revisi Taksonomi Bloom

Tingkatan Taksonomi Bloom Anderson dan Krathwohl
(1956) (2000)

C1 Pengetahuan Mengingat

C2 Pemahaman Memahami

C3 Aplikasi Menerapkan

C4 Analisis Menganalisis

C5 Sintesis Mengevaluasi

C6 Evaluasi Berkreasi

Catatan: pada Taksonomi Bloom yang direvisi digunakan kata kerja

Revisi taksonomi yang dilakukan oleh Krathwol dan Anderson
mendeskripsikan perbedaan antara proses kognitif dengan dimensi
pengetahuan (pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual,
pengetahuan prosedural dan pengetahuan metagoknitif) (Sani,
2016:104). Revisi taksonomi tersebut memberikan gambaran bahwa
yang termasuk dalam kemampuan berpikir tingkat rendah yaitu
mengingat, memahami dan mengaplikasikan. Sedangkan yang
termasuk dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah
menganalisis, mengevaluasi dan berkreasi. Hal tersebut sesuai dengan
dimensi proses kognitif yang semakin meningkat dari mengingat
sampai berkreasi.

b) Dimensi Pengetahuan
Dimensi pengetahuan terdapat empat macam antara lain: dimensi
faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif.

1) Pengetahuan faktual adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri
tampak lebih nyata dan operasional, serta bersifat penjelasan
singkat atau bersifat kebendaan yang diobservasi dengan mudah.

47

Meliputi definisi pengetahuan, pengetahuan umum dan bagian-
bagiannya, atau bentuk dari bagian-bagan sesuatu benda baik
dalam bentuk proses atau hasil pekerjaan atau alam.
2) Pengetahuan konseptual adalah pengetahuan yang lebih rumit
dalam bentuk pengetahuan yang tersusun secara sistematis.
Meliputi pengetahuan pengklasifikasian, prisip-prinsip, generalisasi,
teori-teori hukum, model-model dan struktur isi materinya.
3) Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan bagaimana
melakukan sesuatu. Meliputi pengetahuan keterampilan algoritma,
teknik-teknik metode-metode, dan penentuan kriteria pengetahuan
atau pembenaran ketika melakukan dalam ranah dan mata
pelajaran tertentu.

4) Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai
pengertian umum dan pengetahuan tentang tugas-tugas termasuk
pengetahuan kontekstual dan kondisional, pengetahuan itu sendiri,
tentunya, beberapa aspek pengetahuan metagoknitif adalah tidak
sama dengan pengetahuan yang digambarkan oleh para ahli.
(Kusnawa, 2012: 114)

c) Dimensi Proses Kognitif
Dimensi proses kognitif Bloom sebagaimana yang telah direvisi oleh
Anderson dan Krathwol adalah sebagai berikut:
1) Mengingat kembali (Recall)
Mengingat kembali artinya mendapatkan kembali atau
pengembalian pengetahuan relevan yang tersimpan dari memori
jangka panjang (Kusnawa, 2012: 115). Pertanyaan mengingat
kembali adalah pertanyaan mengingat kembali tentang informasi,
fakta konsep, generalisasi yang didiskusikan, definisi, metode, dan
sebagainya (Sani, 2016: 110). Contoh kata kerja operasional yang
digunakan pada level mengetahui yaitu: menyebutkan,
menjelaskan, menggambarkan dan menunjukkan.

2) Memahami (Comprehension)
Memahami artinya mendeskripsikan susunan dalam artian pesan
pembelajaran, mencakup oral, tulisan dan komunikasi grafik
(Kusnawa, 2012: 115). Pertanyaan ini menyangkut kemampuan
peserta didik menyerap informasi, menginterpretasi arti, dan
melakukan eksplorasi atau memberikan saran (Sani, 2016: 111). Kata
kerja operasional yang digunakan pada level memahami yaitu:
memperkirakan, menjelaskan, mencirikan dan membandingkan.

3) Menerapkan (mengaplikasikan)

48

Menerapkan yaitu menggunakan prosedur dalam situasi yang
dihadapi (Kusnawa, 2012: 115). Pertanyaan ini meminta peserta
didik menggunakan abstraksi dan generalisasi secara bebas dari
suatu keadaan dimana generalisasi telah digambarkan sebelumnya.
Pertanyaan aplikasi sebenarnya erat dengan pertanyaan
pemahaman (Sani, 2016: 111). Contoh kata kerja operasional yang
digunakan pada level menerapkan yaitu: menugaskan,
mengurutkan, menentukan dan menerapkan.

4) Menganalisis
Menganalisis yaitu memecahkan materi menjadi bagian-bagian
pokok dan menggambarkan bagaimana bagian-bagian tersebut,
dihubungkan satu sama lain maupun menjadi sebuah struktur
keseluruhan atau tujuan (Kusnawa, 2012: 115). Pertanyaan analisis
meminta peserta didik menyelesaikan permasalahan melalui
pemeriksaan sistematik tentang fakta atau informasi (Sani, 2016:
111). Contoh kata kerja operasional yang digunakan pada level
menganalisis yaitu: menganalisis, memecahkan, menegaskan,
menelaah dan mengaitkan.

5) Mengevaluasi atau menilai
Mengevaluasi yaitu melakukan evaluasi atau penilaian yang
didasarkan pada kriteria dan atau standar (Kusnawa, 2012: 115).
Pertanyaan ini meminta peserta didik membuat penilaian tentang
suatu berdasarkan sebuah acuan atau standar (Sani, 2016: 111).
Contoh kata kerja pada level mengevaluasi yaitu: membandingkan,
menyimpulkan, menilai dan mengkritik.

6) Menciptakan (berkreasi)
Menempatkan bagian-bagian secara bersama-sama ke dalam suatu
ide, semuanya saling berhubungan untuk membuat hasil yang baik
(Kusnawa, 2012: 115). Pertayaan ini meminta peserta didik untuk
menemukan penyelesaian masalah melalui pemikiran kreatif (Sani,
2016: 110-112). Contoh kata kerja operasional yang digunakan pada
level menciptakan yaitu: mengatur, mengumpulkan,
mengkategorikan, memadukan dan menyusun.

3. Indikator Kemampuan Berpikir Tingkat Tingi
Krathwohl dalam Lewy, dkk (2009:16), menyatakan bahwa indikator untuk
mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi menliputi:

Menganalisis Menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi
atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk
mengenali polah atau hubungannya Mampu mengenali serta
membedaka faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit
Mengidentifikasi/merumuskan pertanyaan

49


Click to View FlipBook Version