The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by zakun.terpadu, 2022-06-27 18:17:47

MODUL 1

MATERI MODUL1

a. Mengevaluasi
1) Memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan dan metodologi
dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada
untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.
2) Membuat hipotesis, mengkritik dan melakukan pengujian.
3) Menerima atau menolak suatu pernyataan berdasarkan kriteria
yang telah ditetapkan.

b. Mengkreasi
1) Membuat generalisasi suatu ide atau cara pandang terhadap
sesuatu.
2) Merancang suatu cara untuk menyelesaikan masalah.
3) Mengorganisasikan usur-unsur atau bagian-bagian menjadi
struktur baru yang belum pernah ada sebelumnya.

c. Penguatan Profil Pelajar Pancasila
1) Tentang Profil Pelajar Pancasila
Istilah Profil Pelajar Pancasila dalam pendidikan didasarkan pada Visi
Kemendikbud 2020-2024. Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
adalah mendukung Visi dan Misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia
Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya
Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa
kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan
berkebinekaan global.

Keenam ciri tersebut dijabarkan sebagai berikut:
(a) Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.

Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME,
danberakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam
hubungannyadengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran
agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut
dalam kehidupannya sehari-hari. Ada lima elemen kunci beriman,
bertakwakepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia: (a) akhlak
beragama; (b) akhlakpribadi; (c) akhlak kepada manusia; (d) akhlak
kepada alam; dan (e) akhlak bernegara.
(b) Berkebinekaan global
Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas
danidentitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi
denganbudaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai
dankemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan
tidakbertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen kunci
dariberkebinekaan global meliputi mengenal dan menghargai
budaya,kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi
dengan sesama,dan refleksi dan tanggung jawab terhadap
pengalaman kebinekaan.

50

(c) Bergotong royong
Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu
kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama
dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar,
mudah dan ringan. Elemen-elemen dari bergotong royong adalah
kolaborasi,kepedulian, dan berbagi.

(d) Mandiri
Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang
bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci
dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi
serta regulasi diri.

(e) Bernalar kritis
Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses
informasibaik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan
antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan
menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah
memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis
dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses
berpikir, dan mengambil keputusan.

(f) Kreatif
Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu
yangorisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci
dari kreatif terdiri dari menghasilkan gagasan yang orisinal serta
menghasilkankarya dan tindakan yang orisinal.

2) Strategi Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran
Implementasi penguatan profil pelajar pancasila dalam pembelajaran
dilakukan melalui pendekatan intrakurikuler, ekstrakurikuler dan budaya
sekolah.

d. Penguatan Literasi dalam Pembelajaran PAI
1) Konsep Literasi dan GLS
Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup
keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan
dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini,
kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi. Ferguson menjabarkan
komponen literasi informasi sebagai berikut:

Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan,
berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar,
kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan
menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk
memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving),

51

mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar
pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

Literasi Perpustakaan (Library literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk
bisa mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya,
pemahaman tentang keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses
mendapatkan informasi. Pada dasarnya literasi perpustakaan, antara lain,
memberikan pemahaman cara membedakan bacaan aksi dan nonaksi,
memanfaatkan kolesi referensi dan periodikal, memahami Dewey
Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan
dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan
pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami
informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian,
pekerjaan, atau mengatasi masalah.

Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui
berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media
elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet),
dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang saat ini bisa
dilihat di masyarakat kita bahwa media lebih sebagai hiburan semata. Kita
belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan
informasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi positif dalam
menambah pengetahuan.

Literaci tekhnologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami
kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware),
peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan
teknologi. Berikutnya, dapat memahami teknologi untuk mencetak,
mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga
pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di
dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer,
menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat
lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan
teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola
informasi yang dibutuhkan masyarakat.

Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara
literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan
dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-
visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang
setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi
maupun internet, haruslah terkelola dengan baik. Bagaimanapun di
dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu
disaring berdasarkan etika dan kepatutan. Literasi yang komprehensif
dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi

52

kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai
warga negara global (global citizen). Dalam konteks Indonesia, kelima
keterampilan tersebut perlu diawali dengan literasi usia dini yang
mencakup fonetik, alfabet, kosa kata, sadar dan memaknai materi
cetak (print awareness), dan kemampuan menggambarkan dan
menceritakan kembali (narrative skills). Pemahaman literasi dini sangat
penting dipahami oleh masyarakat karena menjamurnya lembaga
bimbingan belajar baca-tulis-hitung bagi batita dan balita dengan cara
yang kurang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Oleh karena
itu, perlu diberi perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan literasi
usia dini berlanjut ke literasi dasar.Dalam pendidikan formal, peran aktif
para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru, tenaga
pendidik, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi
pengem- bangan komponen literasi peserta didik. Selain itu, diperlukan
juga pendekatan cara belajar-mengajar yang keberpihakannya jelas
tertuju kepada komponen-komponen literasi ini. Kesempatan peserta
didik terpajan dengan kelima komponen literasi akan menentukan
kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi visual. Sebagai
langkah awal, dapat disimpulkan bahwa diperlukan perubahan
paradigma semua pemangku kepentingan untuk terciptanya lingkungan
literasi ini.

2) Tujuan Gerakan Literasi Sekolah
Tujuan umum GLS adalah menumbuh kembangkan budi pekerti peserta
didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan
dalam gerakan literasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Sementara itu tujuan khusus GLS adalah:
(a) Menumbuhkembangkan budi pekerti.
(b)Membangun ekosistem literasi sekolah.
(c) Menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran (learning
organization);
(d)Mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge
management).
(e) Menjaga keberlanjutan budaya literasi

3) Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah
Menurut Beers (2009), praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi
sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut:
(a) Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang
bisa diprediksi.
(b) Program literasi yang baik bersifat berimbang
Sekolah yang menerapkan program literasi berimbang menyadari
bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama

53

lain. Dengan demikian, diperlukan berbagai strategi membaca dan
jenis teks yang bervariasi pula.
(c) Program literasi berlangsung di semua area kurikulum
Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung
jawab semua guru di semua mata pelajaran. Pembelajaran di mata
pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan
menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam
hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.Tidak
ada istilah terlalu banyak untuk membaca dan menulis yang bermakna
Kegiatan membaca dan menulis di kelas perlu dilakukan kapan pun
kondisi kelas memungkinkan. Untuk itu, perlu ditekankan bentuk
kegiatan yang bermakna dan kontekstual. Misalnya, menulis surat
untuk wali kota atau membaca untuk ibu adalah contoh-contoh
kegiatan yang bermakna dan memberikan kesan kuat kepada peserta
didik.
(d) Diskusi dan strategi bahasa lisan sangat penting.
Kelas berbasis literasi yang kuat akan melakukan berbagai kegiatan
lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas.
Kegiatan diskusi ini juga harus membuka kemungkinan untuk
perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah.
Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan
pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan
pandangan satu sama lain.
(e) Keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah.
Penting bagi pendidik untuk tidak hanya menerima perbedaan, namun
juga merayakannya melalui agenda literasi di sekolah. Buku-buku yang
disediakan untuk bahan bacaan peserta didik perlu merefleksikan
kekayaan budaya Indonesia agar peserta didik dapat terpajan pada
pengalaman multikultural sebanyak mungkin.

4) Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah
Sekolah memiliki peran yang amat penting dalam menanamkan budaya
literat pada anak didik. Untuk itu, setiap sekolah harus memberikan
dukungan penuh terhadap pengembangan literasi. Di sekolah dengan
budaya literasi yang tinggi, peserta didik akan cenderung lebih berhasil
dan guru lebih bersemangat mengajar. Perlu dipahami bahwa program
membaca seperti membaca dalam hati dan membaca nyaring hanyalah
bagian dari kerangka besar untuk membangun budaya literasi sekolah.

Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya
literat, Beers, dkk. (2009) dalam buku A Principal’s Guide to Literacy
Instruction menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya
literasi yang positif di sekolah.

54

(a)Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi.
Lingkungan fsik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga
sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan
kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung
pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta
didik di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah
dan guru. Selain itu, karya-karya peserta didik diganti secara rutin
untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Selain
itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di
Sudut Baca yang terletak di kelas, kantor, dan area lain di sekolah.
Ruang pimpinan dengan pajangan karya peserta didik akan
memberikan kesan positif tentang komitmen sekolah terhadap
pengembangan budaya literasi.

(b) Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model
komunikasi dan interaksi literat.
Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan
interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan
dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun.
Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap
minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek.
Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan
upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik
mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah.
Selain itu, literasi diharapkan dapat mewarnai semua perayaan penting
di sepanjang tahun pelajaran. Ini bisa direalisasikan dalam bentuk
festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita,
dan sebagainya. Pimpinan sekolah selayaknya berperan aktif dalam
menggerakkan literasi, antara lain dengan membangun budaya
kolaboratif antar guru dan tenaga kependidikan. Dengan demikian,
setiap orang dapat terlibat sesuai kepakaran masing- masing. Peran
orang tua sebagai relawan gerakan literasi akan semakin memperkuat
komitmen sekolah dalam pengembangan budaya literasi.

(c) Mengupayakan sekolah sebagai lingkunan akademik yang literat.
Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan
akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan
literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang
cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan
menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan
buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran
berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka
perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program bimtek tenaga

55

kependidikan untuk peningkatan pemahaman tentang program
literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya.

e. Moderasi Beragama
(1) Konsep Moderasi Beragama (Wasathiyah)
Kajian terhadap konsep moderasi beragama (wasathiyyah) telah
menarik perhatian banyak ilmuwan di berbagai bidang seperti sosio-
politik, bahasa, pembangunan Islam, sosial-keagamaan, dan pendidikan
Islam. Terminologi ini merupakan terminologi dari sekian terminologi
yang sering digunakan untuk menyebut label-label umat Islam seperti
islam modernis, progresif, dan reformis. Seperti diakui El-Fadl,
terminologi moderat ini dianggap paling tepat di antara terminologi
yang lain. Meski orang-orang moderat juga sering digambarkan sebagai
kelompok modernis, progresif, dan reformis, tidak satupun dari istilah-
istilah tersebut yang menggantikan istilah moderat. Hal ini didasarkan
pada legitimasi al-Qur’an dan hadist Nabi bahwa umat islam
diperintahkan untuk menjadi orang moderat. Disinilah istilah moderat
menemukan akarnya di dalam tradisi Islam, apalagi terminologi
wasathiyyah ini merupakan identitas dan watak dasar Islam.

Konsep wasathiyyah dalam beberapa literatur keislaman ditafsirkan
secara beragam oleh para ahli. Menurut al-Salabi kata wasathiyyah
memiliki banyak arti. Pertama, dari akar kata wasth, berupa dharaf, yang
berarti baina (antara). Kedua, dari akar kata wasatha, yang mengandung
banyak arti, diantaranya: (1) berupa isim (kata benda) yang
mengandung pengertian antara dua ujung; (2) berupa sifat yang
bermakna (khiyar) terpilih, terutama, terbaik; (3) wasath yang bermakna
al-‘adl atau adil; (4) wasath juga bisa bermakna sesuatu yang berada di
antara yang baik (jayyid) dan yang buruk (radi’). Sama dengan
pemaknaan al-Sallabi, Kamali menganalisis wasathiyyah sinonim
dengan kata tawassuṭ, I’tidâl, tawâzun, iqtiṣâd. Istilah moderasi ini terkait
erat dengan keadilan, dan ini berarti memilih posisi tengah di antara
ekstremitas. Kebalikan dari wasathiyyah adalah tatarruf, yang
menunjukkan makna “kecenderungan ke arah pinggiran”
“ekstremisme,” “radikalisme,” dan “berlebihan”. Sedangkan Qardhawi
mengidentifikasi wasathiyah ke dalam beberapa makna yang lebih luas,
seperti adil, istiqamah, terpilih dan terbaik, keamanan, kekuatan, dan
persatuan.

Terlepas dari berbagai pemaknaan di atas, Hilmy mengidentifikasi
beberapa karakteristik penggunaan konsep moderasi dalam konteks
Islam Indonesia, diantaranya; 1) ideologi tanpa kekerasan dalam
menyebarkan Islam; 2) mengadopsi cara hidup modern dengan semua
turunannya, termasuk sains dan teknologi, demokrasi, hak asasi

56

manusia dan sejenisnya; 3) penggunaan cara berfikir rasional; 4)
pendekatan kontekstual dalam memahami Islam, dan; 5) penggunaan
ijtihad (kerja intelektual untuk membuat opini hukum jika tidak ada
justifikasi eksplisit dari Al Qur'an dan Hadist). Lima karakteristik bisa
diperluas menjadi beberapa karakteristik yang lain seperti toleransi,
harmoni dan kerjasama antar kelompok agama.

Beberapa pemaknaan wasathiyyah di atas menunjukkan bahwa
terminologi ini sangat dinamis dan kontekstual. Terminologi ini juga
tidak hanya berdiri pada satu aspek, tetapi juga melibatkan
keseimbangan antara pikiran dan wahyu, materi dan spirit, hak dan
kewajiban, individualisme dan kolektivisme, teks (Alquran dan Sunnah)
dan interpretasi pribadi (ijtihad), ideal dan realita, yang permanen dan
sementara, yang kesemuanya terjalin secara terpadu. Itulah kenapa
Hanapi menyebut wasathiyah merupakan pendekatan yang
komprehensif dan terpadu. Konsep ini sebenarnya meminta umat Islam
untuk mempraktikkan Islam secara seimbang dan komprehensif dalam
semua aspek kehidupan masyarakat dengan memusatkan perhatian
pada peningkatan kualitas kehidupan manusia yang terkait dengan
pengembangan pengetahuan, pembangunan manusia, sistem ekonomi
dan keuangan, sistem politik, sistem pendidikan, kebangsaan,
pertahanan, persatuan, persamaan antar ras, dan lainnya. Tidak heran
jika ummah wasath (muslim moderat) menjadi model yang akan
dipersaksikan di hadapan umat-umat yang lain.

(2) Moderasi Beragama Sebagai Arus Utama Pendidikan Islam
Sebagai pendekatan komprehensif dan terpadu, moderasi beragama
juga harus menjadi identitas, visi, corak,dan karateristik utama
pendidikan Islam, bukan sekedar nilai partikular. Disini diperlukan
langkah yang lebih konstruktif dengan menempatkan moderasi
beragama sebagai arus utama pendidikan Islam.

Beberapa program pengarusutamaan ini memancing diskusi lebih lanjut
sejauhmana Islam moderat menjadi identitas pendidikan Islam. Namun,
melihat wacana dan program yang dilakukan, setidaknya bisa dianalisis
dari tiga hal. Pertama, adanya kekhawatiran menguatnya gerakan
ekstrimisme, intoleran, dan radikalisme-terorisme dalam pendidikan
Islam. Dalam rangka menghadang gerakan ini, moderasi beragama
dianggap perlu menjadi arus utama mengingat coraknya yang inklusif
dan toleran. Kedua, pengarusutamaan ini bisa dibaca sebagai tindak
lanjut dan penguatan Islam Nusantara, dimana karakter utamanya
adalah moderat. Terlebih pendidkan Islam Nusantara memiliki akar
historis sebagai bagian dari institusi sosial-keagamaan yang bercorak
moderat. Ketiga, adanya kebutuhan untuk melakukan reformasi

57

pendidikan Islam di tengah kompleksitas masalah global, yang
diantaranya adalah tidak adanya keseimbangan antara intelektualitas
dengan moralitas, modernitas dengan spiritualitas, dan
ketidakseimbangan lainnya dalam semua aspek kehidupan.

(3) Konstruksi Wasathiyyah dalam Kurikulum
(a) Prinsip Moderasi Kurikulum
Dalam melakukan konstruksi moderasi kurikulum, yang pertamakali
diperlukan adalah rumusan prinsip-prinsip yang akan menjadi
acuannya. Prinsip ini menyediakan petunjuk bagi pelaksanaan
setiap aktivitas, dan oleh karenanya prinsip memiliki peran penting
dalam mengembangkan berbagai kerja intelektual, termasuk di
dalam membuat kurikulum. Merujuk pada prinsip-prinsip yang
digali dari moderasi Islam, kurikulum pen–didikan Islam bisa
dikembangan dengan mengacu pada beberapa prinsip sebagai
berikut:

Prinsip Universal

Salah satu prinsip mendasar moderasi beragama adalah prinsip
universal. Prinsip universal kurikulum berangkat dari argumen
bahwa Tuhan mengutus utusan untuk semua bangsa dan umat, dan
oleh karena itu ajarannya mencerminkan universalitas. Oleh karena
itu, muatan kurikulum harus mencakup semua aspek dan berlaku
menyeluruh, tanpa dibatasi oleh sekat kedaerahan dan wilayah.
Prinsip universalitas kurikulum juga menghendaki adanya totalitas
dalam pengembangan potensi peserta didik, yang tercakup dalam
tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum. Pendidikan Islam di
banyak tempat masih diperlakukan sebagai doktrin semata
sehingga ia hanya berorientasi ke dalam. Muatan, kajian, dan
produk pendidikan Islam hanya untuk umat Islam (internal) dan
tidak membuka peluang yang lebih longgar bagi khalayak umum
(ekternal) dengan berbagai latar keagamaan yang lain, sehingga
pembaca yang notabene beragama non-muslim kurang bisa
menangkap pesan yang dihasilkan dari produk pendidikan Islam.

Prinsip Keseimbangan

Prinsip moderasi beragama juga memuat prinsip keseimbangan
(tawâzun). Keseimbangan ini bisa dilihat dari aspek keseimbangan
antara prilaku, sikap, nilai pengetahuan, dan keterampilan. Prinsip
keseimbangan juga merupakan sikap dan orientasi hidup yang
diajarkan Islam, sehingga peserta didik tidak terjebak pada
ekstrimisme dalam hidupnya, tidak semata-mata mengejar
kehidupan ukhrawi dengan mengabaikan kehidupan duniawi. Oleh
karena itu, kurikulum pendidikan Islam harus didesain dengan

58

menggunakan prinsip ini. Disini kurikulum moderat dikonstruksi
melalui keseimbangan antara rasionalitas, moralitas, dan
spiritualitas.

Prinsip Integrasi

Prinsip integrasi ini juga merupakan prinsip moderasi kurikulum
yang sangat penting. Dalam pengembangan kurikulum, integrasi ini
banyak dibicarakan oleh para ilmuwan muslim seperti Fazlur
Rahman, Seyyed Hossein Nasr, Ismail Raji` al-Faruqi, dan Syekh
Muhammad Naquib al-Attas. Di Indonesia upaya integrasi ilmu juga
dikembangkan oleh ilmuwan muslim seperti Kuntowijoyo dengan
konsep “Pengilmuan Islam,” dengan menjadikan al-Qur’an sebagai
paradigma keilmuan, yang dalam hal ini bisa dilakukan dengan dua
cara, yaitu: (1) integralisasi yaitu pengintegrasian kekayaan
keilmuan manusia dengan wahyu; (2) objektifikasi yaitu menjadikan
pengilmuan Islam sebagai rahmat untuk semua orang. Imam
Suprayogo menawarkan integrasi ini dengan mengilustrasikan
sebatang pohon yang utuh, dimana kajian keagamaan harus
ditopang dengan landasan keilmuan yang lain agar studi-studi
keislaman bisa berdiri kokoh. Integrasi ini dalam pandangan Amin
Abdullah perlu dipadukan dengan interkoneksi. Pendekatan
integratif-interkonektif adalah pendekatan yang berusaha saling
menghargai; keilmuan umum dan agama sadar akan keterbatasan
masing-masing dalam memecahkan persoalan manusia, hal ini akan
melahirkan sebuah kerja sama setidaknya saling memahami
pendekatan (approach) dan metode berpikir (process and procedure)
antara kedua kelimuan tersebut. Prinsip integarasi yang
ditawarkan para pemikir di atas setidaknya bisa menjadi modal
berharga dalam menancapkan moderasi kurikulum pendidikan
Islam.

Prinsip Keberagaman

Prinsip moderasi beragama sebenarnya juga mengandung prinsip
“Bhineka Tunggal Ika,” suatu prinsip kesetaraan dan keadilan di
tengah perbedaan untuk mencapai persatuan. Prinsip ini
dimaksudkan sebagai pemeliharan terhadap perbedaan-perbedaan
peserta didik, baik berupa perbedaan bakat, minat, kemampuan,
kebutuhan, agama, ras, etnik, dan perbedaan lainnya. Pemeliharaan
terhadap perbedaan ini menambah kesesuaian antara kurikulum
dengan kebutuhan- kebutuhan peserta didik dalam konteks Negara
Indonesia yang multikultur.

(b) Pendekatan Moderasi Kurikulum

59

Pendidikan Islam dengan karakter keislaman moderat bisa menjadi
kontribusi bagi perumusan pendidikan Islam. Meminjam empat
pendekatan integrasi konten kurikulum dalam pendidikan
multikultural yang dikenalkan oleh Banks, konstruksi wasatiyyah
dalam kurikulum pendidikan Islam bisa dianalisis dengan
pendekatan kontributif (the contributions approach), pendekatan
aditif/penambahan (the additive approach), pendekatan
transformasi (transformation approach), dan pendekatan aksi sosial
(the social action approach).

Pendekatan Kontributif

Karakteristik penting dari pendekatan kontribusi adalah bahwa
struktur dasar, sasaran, dan karakteristik utama kurikulum tidak
berubah, melainkan hanya menyisipkan konten-konten tertentu
dalam mata pelajaran, yang turut berkontribusi dalam melahirkan
sikap moderat, seperti tokoh-tokoh Islam nusantara, yang dianggap
secara nyata memiliki pemikiran dan sikap moderat. Pendekatan
kontribusi ini dapat memberi pengalaman belajar peserta didik akan
ketokohan seseorang. Ketokohan ini disamping menjaga warisan
sejarah, juga menghidupkan figur kepahlawanan seorang tokoh
sebagai sumber teladan.

Dengan pendekatan ini, moderasi beragama bukan merupakan arus
utama kurikulum pendidikan Islam, melainkan sebagai nilai
kontributif yang disisipkan melalui kurikulum. Meski demikian,
pendekatan ini merupakan langkah yang paling minimal di dalam
ide pengarusutamaan moderasi beragama. Namun, dalam
beberapa aspek, ia sedikit banyak turut memberikan kontribusi bagi
warna kurikulum pendidikan Islam.

Pendekatan Aditif/Penambahan

Pendekatan penting lainnya dalam melakukan konstruksi
wasathiyyah ke dalam kurikulum adalah penambahan konten,
konsep, tema, dan perspektif ke dalam kurikulum tanpa mengubah
struktur dasar, tujuan, dan karakteristik kurikulum. Pendekatan
penambahan bisa dilakukan dengan menambahkan sumber belajar
seperti buku, atau bimtek khusus kedalam kurikulum tanpa
mengubahnya secara substansial. Pendekatan ini bisa menjadi
tahap pertama dalam upaya reformasi kurikulum yang dirancang
untuk merestrukturisasi kurikulum secara keseluruhan dan menjadi
kerangka acuan awal.

Dalam melakukan konstruksi moderasi beragama dalam kurikulum,
konten, materi, tema, dan perspektif moderasi beragama bisa

60

ditambahkan ke daam kurikulum. Penambahan ini tidak lain
merupakan pelengkap dan bukan bagian integral dari kurikulum.
Hampir sama dengan pendekatan kontributif, yang membedakan
adalah pendekatan penambahan tidak cukup menyisipkan konten,
melainkan perlu adanya penambahan beberapa konsep, tema,
bahan ajar dan serangkaian bimtek tambahan terkait isu-isu dalam
moderasi beragama.

Pendekatan Tranformatif

Pendekatan tranformatif sangat berbeda dengan pendekatan
kontributif dan aditif. Dalam dua pendekatan tersebut, konten
ditambahkan ke kurikulum inti tanpa mengubah asumsi dasar, sifat,
dan strukturnya. Sedangkan, dalam pendekatan transformatif,
tujuan mendasar, struktur, dan perspektif kurikulum berubah.
Pendekatan transformasi ini memungkinkan peserta didik untuk
melihat konsep, isu, tema, dan masalah dari berbagai sudut
pandang. Perspektif arus utama adalah salah satu dari beberapa
perspektif dari mana masalah, konsep, dan isu dilihat.

Transformasi kurikulum berbasis moderasi beragama memerlukan
perubahan paradigma, perspektif, dan struktur dasar kurikulum.
Tentu saja transformasi ini tidak mudah karena harus meninjau
ulang dan merubah beberapa struktur dasar kurikulum yang selama
ini dijalankan. Namun, jika dilihat dari paradigma perubahan
kurikulum pendidikan nasional yang pernah terjadi di Indonesia,
perubahan paradigma juga sangat mungkin dilakukan dalam
konteks kurikulum pendidikan Islam.

Dengan menggunakan perspektif moderasi beragama, transformasi
kurikulum ini akan melahirkan kurikulum yang menarik bahwa
kurikulum pendidikan Islam, baik di pesantren, madrasah maupun
PTKI, merupakan cermin utama dari identitas islam sebagai agama
yang moderat. Gagasan ini juga sejalan dengan misi pendidikan
Islam yang memiliki visi transformatif dan pemberdayaan terhadap
peserta didik dalam kerangka cita-cita etik profetik pemanusiaan,
pembebasan, dan penyadaran keilahian, sehingga tercermin
karakter moderat yang cukuo kuat. Ini mengingat moderasi
beragama merupakan pendekatan komprehensif, yang
memungkinkan dipersaksikannya (syuhadâ’a) mutu pendidikan
Islam di hadapan umat manusia.

Pendekatan Aksi Sosial

Pendekatan aksi sosial mencakup semua elemen pendekatan
transformasi namun menambahkan komponen yang

61

mengharuskan peserta didik membuat keputusan dan mengambil
tindakan yang terkait dengan konsep dan masalah yang dihadapi.
Tujuan utama pembelajaran dengan pendekatan ini adalah untuk
mendidik para peserta didik untuk melakukan kritik sosial,
perubahan dan keterampilan membuat keputusan. Dalam
pendekatan ini, moderasi beragama tidak hanya terjadi dalam
internal unit pendidikan, melainkan begerak sebagai agent of social
critic dan agent of social change di tengah-tengah masyarakat.
Orientasi kurikulum dikembangkan dengan menekankan pada
“social oriented”. Pendekatan moderasi kurikulum ini melatih
peserta didik untuk terlibat dalam aksi-aksi sosial dalam rangka
membumikan moderasi beragama pada semua aspek kehidupan
masyarakat.

Empat pendekatan integrasi konsep wasathiyyah di atas bisa
menjadi pertimbangan dalam melakukan konstruksi kurikulum
berbasis moderasi beragama. Program-program pendidikan Islam
yang mencoba mendidik peserta didik untuk dapat melakukan kritik
sosial dan perubahan sosial terhadap masalah-masalah yang di luar
mainstream Islam moderat, perlu dikembangkan. Barangkali
tarnsformasi kurikulum dengan menggunakan paradigma integrasi
ilmu bisa dilihat sebagai salah satu karakteristik Islam moderat, yakni
keseimbangan antara material dan spiritual dan antara dunia dan
akhirat. Ini bisa ditemukan dalam pendidikan madrasah dan
pesantren.

4. Rangkuman

Pendidikan Abad 21 merupakan pendidikan yang mengintegrasikan antara
kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan terhadap
TIK. Kecakapan tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai model
pembelajaran berbasis aktivitas yang sesuai dengan karakteristik kompetensi
dan materi pembelajaran.

Adapun yang termasuk kecakapan abad 21 adalah:

1. Kecakapan Berpikir Kritis dan Pemecahan masalah (Critical Thinking and
Problem Solving Skill)

2. Kecakapan Berkomunikasi (Communication Skills)
3. Kreatif dan Inovasi (Creativity and Innovation)
4. Kolaborasi (Collaboration)

Kemampuan berpikir tingkat tinggi/ Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah
kemampuan berpikir yang bukan hanya sekedar mengingat, menyatakan
kembali, dan juga merujuk tanpa melakukan pengolahan, akan tetapi

62

kemampuan berpikir untuk menelaah informasi secara kritis, kreatif, berkreasi
dan mampu memecahkan masalah.
Penguatan profil pelajar pancasila merupakan internalisasi nilai-nilai pancasila
yang dirangkum menjadi profil pelajar Indonesia. Bernalar kritis, kreatif,
mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia,
bergotong royong, dan berkebinekaan global merupakan enam nilai sikap
yang harus diinternalisasikan dalam proses intrakurikuler dan ekstrakurikuler,
sehingga tercapai pelajar pelajar Indonesia yang memiliki profil nilai-nilai
Pancasila.
Berdasarkan cara dan fungsinya, literasi dibagi menjadi:
1. Literasi Dasar (Basic Literacy)
2. Literasi Perpustakaan (Library literacy)
3. Literasi Media (Media Literacy),
4. Literasi tekhnologi (Technology Literacy),
5. Literasi Visual (Visual Literacy),
Beberapa karakteristik penggunaan konsep moderasi dalam konteks Islam
Indonesia, diantaranya; 1) ideologi tanpa kekerasan dalam menyebarkan Islam;
2) mengadopsi cara hidup modern dengan semua turunannya, termasuk sains
dan teknologi, demokrasi, hak asasi manusia dan sejenisnya; 3) penggunaan
cara berfikir rasional; 4) pendekatan kontekstual dalam memahami Islam, dan;
5) penggunaan ijtihad (kerja intelektual untuk membuat opini hukum jika tidak
ada justifikasi eksplisit dari Al Qur'an dan Hadist). Lima karakteristik bisa
diperluas menjadi beberapa karakteristik yang lain seperti toleransi, harmoni
dan kerjasama antar kelompok agama.

5. Tugas
Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi keempat tentang model
pembelajaran abad 21, maka peserta menjawab pertanyaan berikut:
c. Lembar kerja ringkasan materi dari kegiatan expert group
d. Lembar kerja sintaks pembelajaran abad 21

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, peserta diminta untuk
menyusun rencana pembelajaran dengan mengintegrasikan konsep model
pembelajaran abad 21 yang telah diuraikan di atas.

63

F. Materi 6: Sintaks Pembelajaran

1. Capaian Pembelajaran

a. Tujuan
Tujuan mengikuti materi ini peserta bimtek dapat memahami urgensi
sintaks model pembelajaran, macam-macam sintaks pembelajaran PAI,
serta tekhnik memilih sintaks pembelajaran yang sesuai dengan materi
pembelajaran.

b. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti bimtek ini, peserta dapat:

1) Mengetahui urgensi sintaks pembelajaran;
2) Memahami macam-macam sintaks pembelajaran PAI.
3) Menentukan sintaks pembelajaran yang relevan dengan materi.
4) Mengidentifikasi model pembelajaran beradasarkan sintaksnya;
5) Mengidentifikasi model pembelajaran beradasarkan sintaksnya.

2. Pokok-pokok Materi

a. Urgensi sintaks model pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran
b. Macam-macam sintak model pembelajaran PAI
c. Tekhnik memilih sintaks model pembelajaran yang relevan dengan materi

pembelajaran

3. Uraian Materi

Model pembelajaran diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya,
sintaks atau pola urutan, dan sifat lingkungan belajarnya. Penggunaan model
pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai pembelajaran
tertentu dan bukan tujuan pembelajaran yang lain. Sintaks atau pola urutan
model pembelajaran menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang
pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran.

Dengan demikian, sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan
apa yang perlu dilakukan oleh guru dan peserta didik, urutan kegiatan yang
dilakukan, dan tugas (assignment) yang perlu dilakukan oleh peserta didik.
Sintaks dari berbagai macam model pembelajaran mempunyai komponen
yang sama. Misalnya, semua pembelajaran diawali dengan menarik perhatian
peserta didik dan memotivasi peserta didik terlibat dalam proses
pembelajaran. Setiap model pembelajaran selalu mempunyai tahap "menutup
pelajaran" yang berisi merangkum pokok-pokok pembelajaran yang dilakukan
oleh peserta didik dengan bimbingan guru. Di samping ada persamaannya,
setiap model pembelajaran antara sintaks yang satu dengan sintaks yang lain
juga mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah terutama yang
berlangsung di antara pembukaan dan penutupan pembelajaran, yang harus

64

dipahami oleh para guru agar supaya model-model pembelajaran dapat
dilakukan dengan berhasil.

Sintaks model pembelajaran pada kurikulum 2013 yang disarankan adalah
sebagai berikut: Descovery Learning, Inquiry Terbimbing, Problem Based
Learning, Problem Solving Learning jenis Trouble Shooting, Project Based
Learning, Production Based Trainning.

Berikut adalah sintak beberapa model pembelajaran pada kurikulum 2013:

h. Sintaks Model Pembelajaran kooperatif (cooperative teaching)

Fase Perilaku Guru

Fase 1 Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang

Menyampaikan tujuan dan ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi

memotivasi siwa siswa belajar.

Fase 2 Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan
Menyajikan informasi demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

Fase 3 Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara
Mengorganisasi siswa membentuk kelompok belajar dan membantu setiap
ke dalam kelompok- agar melakukan transisi secara efisien.
kelompok belajar

Fase 4 Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada
Membimbing kelompok saat mereka mengerjakan tugas mereka.
belajar dan bekerja

Fase 5 Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
Evaluasi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6 Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya

Memberikan penghargaan maupun hasil belajar individu dan

kelompok.

i. Sintaks Model Pembelajaran Inkuiri (Penemuan)

Tahap Tingkah Laku Guru

Tahap 1 Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena
Observasi untuk yang memungkinkan siswa
menemukan menemukan masalah
masalah
Guru membimbing siswa merumuskan masalah
Tahap 2 penelitian berdasarkan kejadian dan fenomena
Merumuskan masalah yang disajikannya

65

Tahap 3 Guru membimbing siswa untuk mengajukan
Mengajukan hipotesis hipotesis terhadap masalah yang telah
Dirumuskannya

Tahap 4 Guru membimbing siswa untuk merencanakan
Merencanakan pemecahan pemecahan masalh, membantu menyiapkan alat
masalah (melalui dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur
eksperimen atau cara lain) kerja yang tepat

Tahap 5 Selama siswa bekerja, guru membimbing dan
Melaksanakan eksperimen memfasilitasi
(atau cara pemecahan
masalh yang lain)

Tahap 6 Guru membantu siswa melakukan pengamatan
Melakukan pengamatan tentang hal-hal yang penting dan membantu
dan pengumpulan data mengumpilkan dan mengorganisasi data

Tahap 7 Guru membantu siswa menganalisis data supaya
Analisis data menemukan suatu konsep

Tahap 8 Guru membimbing siswa mengambil kesimpulan
Penarikan kesimpulan dan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep
penemuan yang ingin ditanamkan.

j. Model Pembelajaran Descovery Learning
1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
2) Problem Statement (Pernyataan/ Identifikasi Masalah)
3) Data Collection (Pengumpulan Data)
4) Verification (Pengolahan Data dan Pembuktian)
5) Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)

k. Model Pembelajaran Inkuiry Terbimbing
1) Orientasi masalah;
2) Pengumpulan data dan verifikasi
3) Pengumpulan data melalui eksperimen;
4) Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi,
5) Analisis proses inkuiri.

l. Model Pembelajaran Problem Based Learning (Bransford & Stein, dalam Jamie
Kirkley /2003: 3 )
1) Mengidentifikasi masalah;
2) Menetapkan masalah melalui berfikir tentang masalah dan menseleksi informasi-
informasi yang relevan;
3) Mengembangkan solusi melalui pengidentifikasian alternatif- alternatif, tukar-
pikiran dan mengecek perbedaan pandang.
4) Melakukan tindakan strategis

66

5) Melihat ulang dan mengevaluasi pengaruh-pengaruh dari solusi yang dilakukan.

m. Model Pembelajaran Problem Solving Learning jenis Trouble Shooting (David H.
Jonassen (2011: 93)
1) Merumuskan uraian masalah;
2) Mengembangkan kemungkinan penyebab;
3) Menguji penyebab atau proses diagnosa;
4) Mengevaluasi

n. Model Pembelajaran Project Based Learning
1) Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question).
2) Mendesain Perencanaan Proyek
3) Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
4) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the
Progress of the Project)
5) Menguji Hasil (Assess the Outcome)
6) Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)

4. Rangkuman

Sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan apa yang perlu
dilakukan oleh guru dan peserta didik, urutan kegiatan yang dilakukan, dan
tugas (assignment) yang perlu dilakukan oleh peserta didik. Sintaks dari
berbagai macam model pembelajaran mempunyai komponen yang sama.

Setiap model bahkan metode memiliki sintaks masing-masing yang
menunjukkan ciri khasnya. Dengan ciri khasnya, seorang guru bias
menidentifikasi model atau metode apa yang tepat untuk materi yang akan di
ajarkan sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai dengan
baik dan efisien.

5. Tugas

Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi Sintaks Pembelajaran,
maka peserta menjawab pertanyaan berikut:

a. Jelaskan karakteristik sintaks yang sesuai dengan pembelajaran PAI!
b. Mengapa sintaks pembelajaran sangat perlu dalam pembelajaran?

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, peserta diminta
menjawab pertanyaan berikut di kertas yang tersedia!

Apakah Anda menganalisis sintaks pembelajaran sebelum
mengajar? Mengapa?

67

G. Materi 7: Pembuatan Lembar Kerja (LK)

1. Capaian Pembelajaran

a. Tujuan
Tujuan mengikuti materi ini peserta bimtek dapat memahami konsep
defenisi lembar kerja pembelajaran, fungsi lembar kerja, komponen dan
format dalam penyusunan lembar kerja, serta urgensi lembar kerja dalam
prose pembelajaran.

b. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti bimtek ini, peserta dapat:
1) Menjelaskan konsep lembar kerja;
2) Menjelaskan mekanisme dan rancangan prosedur pembuatan lembar
kerja;
3) Menjelaskan komponen dan format dalam penyusunan lembar kerja;
4) Mengidentifikasi IPK yang perlu dibuatkan lembar kerja.

2. Pokok-pokok Materi

Pokok-pokok materi pada sesi ini adalah:
a. Pengertian, tujuan dan kegunaan lembar kerja
b. Mekanisme dan langkah perancangan lembar kerja

3. Uraian Materi

a. Pengertian, Tujuan dan Kegunaan Lembar Kerja (LK)
Lembar Kerja (LK) adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan
oleh peserta didik. LK biasanya berupa petunjuk, langkah untuk
menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar
kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya (Depdiknas;
2004:18). Trianto (2008:148) mendefinisikan bahwa Lembar Kerja Siswa
adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan
penyelidikan dan pemecahan masalah.

Menurut pengertian di atas maka LK berwujud lembaran berisi tugas-tugas
guru kepada siswa yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dan dengan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Atau dapat dikatakan juga bahwa
LK adalah panduan kerja siswa untuk mempermudah siswa dalam
pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Tujuan penggunaan Lembar Kerja dalam proses pembelajaran adalah:
(1) Mengaktifkan siswa dalam proses kegiatan pembelajaran.
(2) Membantu siswa mengembangkan konsep.
(3) Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan ketrampilan

proses.

68

(4) Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses kegiatan
pembelajaran.

(5) Membantu siswa dalam memperoleh informasi tentang konsep yang
dipelajari melalui proses kegiatan pembelajaran secara sistematis.

(6) Membantu siswa dalam memperoleh catatan materi yang dipelajari
melalui kegiatan pembelajaran (Achmadi, 1996:35)

Kegunaan Lembar Kerja Siswa (LK) dalam proses pembelajaran adalah:
(1) Memberikan pengalaman kongkret bagi siswa;
(2) Membantu variasi belajar;
(3) Membangkitkan minat siswa;
(4) Meningkatkan retensi belajar mengajar;
(5) Memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien. (Hadi Sukamto,

1992/1993:2.

b. Mekanisme dan Langkah Pembuatan Lembar Kerja

Dalam menyusun lembar kerja, agar LK memiliki ketepatan dan keakuratan
secara fungsi, maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

(1) Susunan kalimat harus diutamakan sederhana, mudah dimengerti,
singkat dan jelas;

(2) Istilah baru hendaknya diperkenalkan terlebih dahulu;
(3) Gambar dan ilustrasi hendaknya dapat membantu siswa memahami

materi, Menunjukkan cara dalam menyusun sebuah pengertian.
Membantu siswa berpikir kritis. Menentukan Variabel yang akan
dipecahkan dalam kegiatan pembelajaran.
(4) Tata letak hendaknya membantu siswa memahami materi dengan
menunjukkan urutan kegiatan secara logis dan sistematis, menunjukkan
bagian-bagian yang sudah diikuti dari awal hingga akhir.
(5) Desain harus menarik. (Depdikbud, 1996/1997:25-26).

Dalam hal penyusunan lembar kerja, perlu memperhatikan prosedur
penyusunan sebagai berikut:

(1) Menentukan kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran
untuk dimodifikasi ke bentuk pembelajaran dengan LK.

(2) Menentukan ketrampilan proses terhadap kompetensi dasar dan
tujuan pembelajaran.

(3) Menentukan kegiatan yang harus dilakukan siswa sesuai dengan
kompetensi dasar indikator dan tujuan pembelajaran.

(4) Menentukan alat, bahan dan sumber belajar.
(5) Menemukan perolehan hasil sesuai tujuan pembelajaran.

69

4. Rangkuman
Lembar Kerja Siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan
kegiatan penyelidikan dan pemecahan masalah. Menurut pengertian di atas
maka LKS berwujud lembaran berisi tugas-tugas guru kepada siswa yang
disesuaikan dengan kompetensi dasar dan dengan tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai. Atau dapat dikatakan juga bahwa LKS adalah panduan kerja
siswa untuk mempermudah siswa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
Adapun yan harus di perhatikan dalam pembuatan LKS adalah sebagai berikut:
a) Tujuan lembar kerja
b) Keguanaan lembar kerja
c) Syarat menyusun lembar kerja
d) Prosedur penyusunan lembar kerja

5. Tugas
Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi kelima tentang
pembuatan lembar kerja pembelajaran, maka peserta menjawab pertanyaan
berikut:
a.Jelaskan hakikat dan kegunaan lembar kerja!
b.Menyebutkan komponen-komponen lembar kerja?
c.Apa yang anda dapatkan setelah memahami pembuatan lembar kerja?

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, peserta diminta untuk
menyusun lembar kerja pembelajaran.

70

H. Materi 8: Praktik Model Pembelajaran

1. Capaian Pembelajaran

a. Tujuan
Tujuan mengikuti materi ini peserta bimtek dapat memahami model
pembelajaran dengan mengintegrasikan pembelajaran abad 21, HOTS dan
nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

b. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti bimtek ini, peserta dapat:
1) Menjelaskan konsep peer teaching, micro teaching dan real teaching.
2) Menjelaskan cara mempraktikkan peer teaching, micro teaching dan real
teaching.
3) Menjelaskan fungsi dan manfaat peer teaching, micro teaching dan real
teaching.

2. Pokok-pokok Materi

Materi untuk sesi ini adalah:
a. Konsep peer teaching
b. Konsep micro teaching
c. Konsep real teaching
d. Pemaparan LK, instrument penilaian pelaksanaan praktik model

pembelajaran untuk observer.

3. Uraian Materi

a. Peer Teaching

1) Pengertian, Tujuan dan Manfaat Peer Teaching
Pengertian, tujuan dan manfaat metode Peer teaching penulis kutip dari
beberapa jurnal internasional, A Case Study Of Peer Tutoring Program In
Higher Education Bruffee (1995) menjelaskan bahwa peer tutoring
merupakan salah satu metode yang mendorong aktivitas yang berpusat
pada siswa, termasuk pembelajaran mandiri maupun diskusi kelompok
informal untuk memastikan bahwa mereka sesuai, efektif dan efisien.

Jenis peer teaching lainnya adalah cross age tutoring, yaitu menyatukan
peserta didik dari berbagai usia dimana peserta didiklebih tua berperan
sebagai tutor dan yang lebih muda sebagai tute.

Tujuan peer teaching pada jurnal ini adalah:

(a) Mengurangi tingkat putus sekolah;
(b) Menyebarkan ide-ide para tutor;
(c) Mengembangkan keterampilan komunikatif dan kemampuan kerja

tim;

71

(d) Mendorong belajar mandiri;
(e) Mengembangkan kemampuan belajar;
(f) Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah tertentu.

Manfaat peer teaching adalah:

(1) Membantu peserta didik menjadi pembelajaran mandiri dan
termotivasi;

(2) Meningkatkan kemampuan belajar.

2) Konsep Peer Teaching dalam pembelajaran
Beberapa konsep peer teaching dapat dipelajari dari beberapa jurnal
berikut:

(a) Math Peer Tutoring for Student With Specific Learning Disabilitas
Penulis menerangkan bahwa peer tutoring sangat tepat digunakan
pada peserta didik yang mengalami kemampuan belajar spesifik
dalam meningkatkan kemampuan dasar matematika mulai dari
sekolah dasar hingga sekolah menengah bahkan ditempat kerja.

Manfaat peer tutoring dalam jurnal ini adalah mengembangkan
kemampuan matematika Peer tutoring terdiri dari:

(1) Classwide peer tutoring (CWPT), semua peserta didikbekerja
secara berpasangan secara bersamaan;

(2) Cross-age tutoring, guru lebih tua dari tute dan berasal dari
sekolah yang sama;

(3) One to one tutoring, peserta didikhanya membutuhkan satu
peserta didiklainnya sebagai tutor;

(4) Small group intruction, setiap kelompok bergantian sebagai tutor
untuk kelompok lainnya;

(5) Home based tutoring, orang tua berfungsi sebagai tutor;

(b) Cooperative Learning and Peer Tutoring to Promote Student’s
Matematich Education
Pembelajaran kooperatif dan peer tutoring saling berketergantungan
dalam keberhasilan individu.

Tujuan peer tutoring pada jurnal ini adalah:

(1) Membuat murid bertanggung jawab dalam proses belajar
mereka sendiri;

(2) Mengembangkan kompetensi siswa;
(3) Memahami kesulitan murid.

Manfaat peer tutoring adalah:

(1) Menghilangkan ketegangan dan kegelisahan peserta didik dalam
hubungannya dengan guru;

72

(2) Memberi kebebasan yang lebih besar dan spontanitas.

(c) Peer Tutoring and Social Dynamic in Higher Education, penulis
Janet W. Colvin, University of Utah, USA (2007)

Penelitian ini berfokus pada peserta didik dan tutor dalam
berinteraksi di kelas. Peer tutoring melibatkan orang-orang dari
kelompok sosial yang sama untuk mendidik satu sama lain ketika
salah satu rekannya memiliki lebih banyak keahlian atau pengetahuan.
Stategi dari peer tutoring adalah peserta didik mengajari peserta didik
lainnya.

Goodlad (1998) menyarankan untuk melibatkan peserta didikdalam
tanggung jawab mereka sendiri dengan orang lain untuk
meningkatkan interaksi sosial dan mentransformasikan belajar dari
pribadi ke kegiatan sosial.

Tujuannya adalah:

(1) Mengembangkan kemampuan belajar;
(2) Mengevaluasi hasil kerja;
(3) Menyelesaikan masalah-masalah tertentu;
(4) Mendorong belajar mandiri;
(5) Mengurangi angka putus sekolah;
(6) Memberi dukungan kepada siswa.

Manfaatnya adalah:

(1) Memberikan dukungan satu sama lain
(2) Membangun kepercayaan dan hubungan yang baik
(3) Merefleksikan pengalaman mereka sendiri

(d) Peer Tutoring a Strategy to Promote Academic Success, penulis
Michelle Nguyen Duke University, Research Brief, 2013

Durham public school (DPS) mengembangkan peer tutoring sebagai
strategi pembelajaran yang sukses untuk menjangkau peserta
didikberkinerja rendah melalui program CATCH (Caring About the
Concepts That Help) dengan cara melatih mentor untuk sekolah
menengah. Program CATCH dirancang untuk mencocokkan peserta
didikyang berkinerja tinggi dengan peserta didikyang sedang
berjuang untuk sukses akademis dibawah pengawasan guru. Hal ini
merupakan pencegahan tingkat putus sekolah di negeri ini yng
menyebabkan tingginya tingkat pengangguran di AS.

Peer tutoring merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan
peserta didikdan ditemukan di setiap mata pelajaran untuk
meningkatkan prestasi akademik siswa. Peer tutoring mengacu pada
metode pembelajaran berpasangan yang menggunakan peserta

73

didikberkinerja tinggi sebagai guru dan berkinerja rendah sebagai
tute dalam kelas lebar atau ditempat umum di luar sekolah dibawah
pengawasan guru.

Tujuannya adalah:

(1) Mengurangi tingkat putus sekolah;
(2) Meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didikterhadap hasil

akademik yang diperoleh;
(3) Meningkatkan prestasi membaca peserta didiksetelah

melakukan peer tutoring kelas membaca;
(4) Memberikan pembelajaran yang berbeda pada peserta

didikpenyandang cacat dan non cacat tanpa mengasingkannya
melalui gaya belajar dan kecepatan berfikir siswa;
(5) Penurunan perilaku menggangu dan peningkatan dalam
interaksi sosial;
(6) Meningkatkan prestasi akademik siswa

Manfaatnya adalah:

(1) Penurunan perilaku menggangu dan peningkatan dalam
interaksi sosial

(2) Meningkatkan prestasi akademik siswa

b. Micro Teaching
1) Pengertian Micro Teaching
Pengajaran mikro (micro-teaching) merupakan salah satu bentuk model
praktek kependidikan atau bimtek mengajar. Dalam konteks yang
sebenarnya, mengajar mengandung banyak tindakan, baik mencakup
teknis penyampaian materi, penggunaan metode, penggunaan media,
membimbing belajar, memberi motivasi, mengelola kelas, memberikan
penilaian dan seterusnya. Dengan kata lain, bahwa perbuatan mengajar itu
sangatlah kompleks. Oleh karena itu, dalam rangka penguasaan
keterampilan dasar mengajar, calon guru atau dosen perlu berlatih secara
parsial, artinya tiap-tiap komponen keterampilan dasar mengajar itu
perlu dikuasai secara terpisah-pisah (isolated).

Berlatih untuk menguasai keterampilan dasar mengajar seperti itulah yang
dinamakan micro-teaching (pengajaran mikro). Pengajaran mikro (micro-
teaching) merupakan suatu situasi pengajaran yang dilaksanakan dalam
waktu dan jumlah siswa yang terbatas, yaitu selama 5-20 menit dengan
jumlah siswa sebanyak 3-10 orang. Hal tersebut diungkap oleh Cooper
dan Allen, 1971.

Bentuk pengajaran yang sederhana, dimana calon guru atau dosen
berada dalam suatu lingkungan kelas yang terbatas dan terkontrol.

74

Hanya mengajarkan satu konsep dengan menggunakan satu atau dua
keterampilan dasar mengajar.

Konsep pengajaran mikro (micro-teaching) dilandasi oleh pokok-pokok
pikiran sebagai berikut:
(a) Pengajaran yang nyata (dilaksanakan dalam bentuk yang

sebenarnya) tetapi berkonsep mini.
(b) Latihan terpusat pada keterampilan dasar mengajar,

mempergunakan informasi dan pengetahuan tentang tingkat belajar
siswa sebagai umpan balik terhadap kemampuan calon guru/dosen.
(c) Pengajaran dilaksanakan bagi para siswa dengan latar belakang yang
berbeda-beda dan berdasarkan pada kemampuan intelektual
kelompok usia tertentu.
(d) Pengontrolan secara ketat terhadap lingkungan latihan yang
diselenggarakan dalam laboratorium micro–teaching. Pengadaan
low-threat-situation untuk memudahkan calon guru/dosen
mempelajari keterampilan mengajar.
(e) Penyediaan low-risk-situation yang memungkinkan siswa
berpartisipasi aktif dalam pengajaran, Penyediaan kesempatan
latihan ulang dan pengaturan distribusi latihan dalam jangka waktu
tertentu.

Terdapat beberapa definisi tentang pengajaran mikro (micro teaching)
yang dapat dikemukakan, diantaranya adalah:
(a) Cooper dan Allen (1971), mendefinisikan “pengajaran mikro (micro-

teaching) adalah suatu situasi pengajaran yang dilaksanakan dalam
waktu dan jumlah siswa yang terbatas, yaitu selama 5-20 menit
dengan jumlah siswa sebanyak 3-10 orang”.
(b) Mc. Laughlin dan moulton (1975) mendefinisikan “micro teaching is
a performance training method designed to isolated the component
part of teaching process, so that the trainee can master each
component one by one in a simplified teaching situation”.
(c) Waskito (1977) mendefinisikan “micro teaching adalah suatu
metode belajar mengajar atas dasar performance yang tekniknya
dengan cara mengisolasikan komponen – komponen proses belajar
mengajar sehingga calon guru dapat menguasai setiap komponen
satu per satu dalam situasi yang disedrhanakan atau dikecilkan”.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
micro-teaching atau pengajaran mikro adalah, “salah satu model bimtek
praktik mengajar dalam lingkup terbatas (mikro) untuk
mengembangkan keterampilan dasar mengajar (base teaching skill)
yang dilaksanakan secara terisolasi dan dalam situasi yang
disederhanakan atau dikecilkan”. Pertimbangan yang mendasari

75

penggunaan program pengajaran mikro (micro teaching) adalah: Untuk
mengatasi kekurangan waktu yang diperlukan dalam latihan
mengajar secara tradisional. Keterampilan mengajar yang kompleks
dapat diperinci menjadi keterampilan-keterampilan mengajar yang
khusus dan dapat Dilatih secara berurutan. Pengajaran mikro
dimaksudkan untuk memperluas kesempatan latihan mengajar
mengingat banyaknya calon guru/dosen yang membutuhkannya.

2) Karakteristik Micro Teaching
Pengajaran mikro (micro-teaching) merupakan real teaching, tetapi dalam
skala mikro. Karakteristik yang khas dalam pengajaran mikro (micro-
teaching) adalah komponen – komponen dalam pengajaran yang di-
mikrokan atau di-sederhana-kan. Dalam pengajaran sesungguhnya (real
teaching) lingkup mpembelajaran biasa tidak dibatasi, tetapi di micro-
teaching terbatas pada satu kompetensi dasar atau satu hasil belajar dan
satu materi pokok bahasan tertentu. Demikian pula alokasi waktunya juga
terbatas antara 10-15 menit, jumlah siswa juga dikecilkan hingga berkisar
10-15 siswa, serta keterampilan dasar yang dilatihkan juga terbatas
(terisolasi).

Dengan demikian, ciri khas micro-teaching adalah real-teaching yang
dimikrokan meliputi jumlah siswa, alokasi waktu, fokus keterampilan,
kompetensi dasar, hasil belajar dan materi pokok pembelajaran yang
terbatas.

Pelaksanaan pengajaran mikro (micro-teaching) pada prinsipnya
merupakan realisasi pola-pola pengajaran yang sesungguhnya (real
teaching) yang didesain dalam bentuk mikro. Setiap calon guru atau
dosen membuat persiapan mengajar yang kemudian dilaksanakan dalam
proses pembelajaran bersama siswa atau teman sejawat (peer teaching)
dengan setting kondisi dan konteks kegiatan belajar mengajar yang
sesungguhnya.

Berikut ini disajikan daftar komponen mengajar yang dimikrokan
dibandingkan dengan pengajaran yang normal (real teaching):

Perbandingan Micro Teaching dengan Real Teaching

Pengajaran

No Komponen Real Micro

76

1 Siswa / audience 30 – 40 orang 10 – 15 orang
1 kd
2 Kompetensi asar 2 – 4 kd 1 – 3 ihb
Terbatas
3 Indikator hasil belajar 1-9 ihb 10-15 menit

4 Materi Luas

5 Waktu 30-50 menit

Penyederhanaan komponen pengajaran sebagai karakteristik
pengajaran mikro (micro-teaching) didasarkan pada asumsi-asumsi
sebagai berikut ini:

(a) Seluruh komponen keterampilan dasar mengajar akan dapat
dikuasai secara mudah apabila terlebih dahulu menguasai
komponen keterampilan dasar mengajar tersebut secara terpisah
(terisolasi) satu demi satu,

(b) Penyederhanaan situasi dan kondisi latihan, memungkinkan
perhatian praktikan terarah pada keterampilan yang dilatihkan,

(c) Penyederhanaan situasi dan kondisi dengan bantuan
memudahkan observasi dan bermanfaat untuk umpan balik (feed
back).

Setelah guru/dosen pemula dianggap menguasai materi
dan sistem penyampaiannya, tiba saatnya untuk berlatih menguasai
keterampilan dasar mengajar, yaitu keterampilan yang bersifat
generik yang harus dikuasai oleh semua calon guru atau dosen.

Komponen keterampilan dasar mengajar yang dilatihkan dalam
pengajaran mikro (micro-teaching) menurut hasil penelitian Tumey
(1973), terdapat 8 (delapan) keterampilan yang sangat berperan dalam
kegiatan belajar mengajar. Kedelapan keterampilan tersebut antara
lain:

(a) Keterampilan dasar membuka dan menutup pelajaran (set
induction and closure);

(b) Keterampilan dasar menjelaskan (explaining skills);
(c) Keterampilan dasar mengadakan variasi (variation skills);
(d) Keterampilan dasar memberikan penguatan (reinforcement skills);
(e) Keterampilan dasar bertanya (questioning skills);
(f) Keterampilan dasar mengelola kelas;
(g) Keterampilan dasar mengajar perorangan/kelompok kecil;
(h) Keterampilan dasar membimbing diskusi kelompok kecil.
Perlu ditekankan bahwa hanya untuk tujuan latihan, keterampilan yang
kompleks tersebut dapat dipilah-pilah menjadi 8 (delapan) komponen
keterampilan dasar mengajar seperti di atas, supaya masing-masing
dapat dilatihkan secara terpisah (ter-isolasi). Namun ketika dosen
menggunakan/menerapkan keterampilan tersebut di dalam kelas.
Harus mampu menampilkan secara utuh dan terintegrasi.

77

Mengajar adalah perbuatan yang kompleks yang merupakan
pengintegrasian secara utuh dari berbagai komponen kemampuan.
Komponen kemampuan tersebut dapat berupa pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai. Sebagian kemampuan tersebut telah
dibentuk secara bertahap melalui penyampaian teori-teori tentang
prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran, strategi mengajar,
rancangan instruksional, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran,
dan sebagaianya.

4. Rangkuman
Mensimulasikan proses pembelajaran bisa dilakukan dengan menggunakan 3
cara, yaitu:

a. Peer tutoring merupakan salah satu metode yang mendorong aktivitas yang
berpusat pada siswa, termasuk pembelajaran mandiri maupun diskusi
kelompok informal untuk memastikan bahwa mereka sesuai, efektif dan
efisien.

b. Micro-teaching, karakteristik yang khas dalam pengajaran mikro (micro-
teaching) adalah komponen–komponen dalam pengajaran yang di-
mikrokan atau di-sederhana-kan. Dalam pengajaran sesungguhnya (real
teaching) lingkup mpembelajaran biasa tidak dibatasi, tetapi di micro-
teaching terbatas pada satu kompetensi dasar atau satu hasil belajar dan satu
materi pokok bahasan tertentu. Demikian pula alokasi waktunya juga
terbatas antara 10-15 menit, jumlah siswa juga dikecilkan hingga berkisar
10-15 siswa, serta keterampilan dasar yang dilatihkan juga terbatas
(terisolasi).

c. Real teaching adalah simulkasi pembelajaran yang sesungguhnya, baik dari
segi pserta didiknya, materi yang di sampaikan serta jumlah jam yang
diguanakan. Semua penampilan tidak melalui settingan, akan tetapi tampil
apa adanya.

5. Tugas
Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi keenam tentang praktek
pembelajaran, maka peserta menjawab pertanyaan berikut:

a. Perlukah setiap guru menyiapkan perencanaan sebelum tampil mengajar?
b. Kesulitan apa yang anda hadapi dalam menyusun perencaanaan

pembelajaran?
c. Bagaimanakah cara anda mengembangkan perencanaan pembelajaran?

78

6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, peserta diminta Untuk
menyusun rencana pembelajaran yang baik dengan menginternalisasikan
metode pembelajaran yang tepat dan menarik.

79

BAGIAN 4

Daftar Pustaka

Anderson, L.W dan Krathwohl, D.R. 2010. Kerangka Landasan untuk Pembelajaran,
Pengajaran dan Asesmen (Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar

Atwi Suparman. 2001. Desain Instruksional. Jakarta: PAU-PPAI Dirjen Dikti. Depdiknas.
B Weil, Joice & Showers. 1992. Models of Teaching. Fourth Edition.United States of

America: A Division of Simon & Schuster, Inc.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-undang Republik Indonesia

Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas
Dick, W and L. Carey, J. O. Carey. 2005. The systematic Design of Instruction. New

York: Logman.
Dunkin, M.J. dan Biddle, B.J. 1974. The Srtudy of Teaching. New York: Holt Rinehart

and Wiston
Djamarah, S. B. 2002. Pikologi Belajar.Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Driscoll, M.P (1994). Psychology of Learningfor Instruction. Boston: Allyn and Bacon.

Faizah, Dewi Utama dkk. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah Di Sekolah Dasar.
Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Dan Menengah Kementrian
Pendidikan Dan Kebudayaan

Gagne, Robert M & Briggs, Leslie J. (1979). Principles Of Instructional Design (2nd
Edition). New York: Holt, Rinehart and Winston

Gerlach dan Ely. 1971.Teaching & Media: A Systematic Approach. Second Edition, by
V.S. Gerlach & D.P. Ely, 1980, Boston, MA: Allyn and Bacon. Copyright 1980 by
Pearson Education

Harris, Michael, 2000.Human Resource Management. Second Edition, USA, Harcourt
Bluc & Company

Kemdikbud. 2016. Permendikbud nomor 20 tentangStandar Kompetensi Lulusan
Pendidikan Dasar Dan Pendidikan MenengahJakarta: Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan.

Kemdikbud. 2016. Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses.
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Kemdikbud. 2018. Permendikbud nomor 37 tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar
Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

80

Majid, Abdul. 2012. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar
Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
National Research Council (2000). The assessment of science meets the science of

assessment. Washington, D.C.: National Academy Press.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar

Nasional Pendidikan.
Reimers, Fernando M., Education for The 21st Century, Cambridge, Ma Executive

Summary A Synthesis Of Ideas From The Harvard University Advanced
Leadership Initiative Think Tank, 2014.
Simonson, M., Smaldino, S., & Zvacek, S. (2015). Teaching and Learning at a
Distance: Foundation of Distance Education (6 ed.). The United States of
America: lnfornation Age Publishing.
Suprayekti dan Agustyarini. 2015. Analisis Peserta Didik Dalam Teknologi
Pendidikan. Jakarta: LPP
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan. Dengan Pendekatan Baru. Bandung.
Rosda Karya.
Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Belajar, Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada.
Uno B. Hamzah, 2011. Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang
Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara
Yamin, Martinis. 2007. Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung
Persada Press.
Vygotsky, L.S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological
Processes. Cambridge: MA: Harvard University Press.

81




Click to View FlipBook Version