The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Elsa octori, 2023-11-27 22:30:12

Tena

Tena magazine

T E M N A G A Z I N A E 2 0 2 3 7 WA S T R A N U S A N T A R A _S U M A TE RA BA RA T BATIK TANAH LIEK SONGKET PANDAI SIKEK TENUN SILUNGKANG KAIN KODEK


TIM REDAKSI EDISI NO.2 / VOLUME NO. 7 / NOVEMBER 2023 Dosen Pembimbing M. Adam Jerusalem S.T., S.H., M.T., Ph.D. 21513241003 Thasya Navila 21513241011 Bella Pratista Sari Anggun Febriyanti 21513241023 Elsa Octori 22513244038


SALAM REDAKSI Assalamu'alaikum Wr. Wb. Halo pembaca setia Tena Magazine! Pada edisi Tena Magazine kali ini, kami tim redaksi telah menyiapkan berbagai macam artikel menarik untuk pecinta fashion di Indonesia dengan tema Wastra Nusantara, khususnya di Provinsi Sumatera Barat. Wastra Nusantara merupakan berbagai jenis kain tradisional peninggalan leluhur secara turun temurun dan menjadi kebudayaan bangsa Indonesia. Semoga apa yang kami sajikan dalam Tena Magazine edisi kali ini dapat memberi manfaat dengan menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca setia Tena Magazine. Kami segenap tim redaksi mengucapkan terima kasih. Mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkesan dan masih banyak kekurangan dalam majalah ini. Segala kritik dan saran akan kami terima dan jadikan pelajaran kedepannya. Sekian. Wassalamu'alaikum Wr.Wb.


Wastra NusantaraSumatera Barat “Waktu sulit selama pandemi membuat kami harus beradaptasi dan mencari cara baru untuk bertahan. Kami melihat penurunan signifikan dalam permintaan internasional, terutama dari Malaysia, Qatar, dan Singapura. Namun, sekarang, dengan adanya perubahan yang lebih baik, kami bersemangat untuk kembali bangkit," ujar Fitra Lusia dengan semangat. Pandemi perlahan mereda, Ayesha Collection, rumah kain dan batik Tanah Liek khas Minang, di bawah kepemimpinan Fitra Lusia, mengalami kebangkitan yang luar biasa. Dalam wawancara eksklusif, Fitra Lusia membagikan lebih banyak cerita tentang perjalanan bisnisnya dan harapannya untuk masa depan industri batik Minangkabau. TENA Oleh: Thasya Navila


"Saat produksi ekspor terhenti, kami memutuskan untuk memfokuskan energi kami pada produk-produk khas Minang. Ini menjadi peluang bagi kami untuk memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada masyarakat lokal yang mungkin belum begitu familiar," tambah Fitra Lusia. Ayesha Collection, yang bernaung di Jalan Andam Dewi No. 8, Kubu Marapalam, Padang Timur, Kota Padang, tidak hanya berfokus pada produksi Batik Tanah Liek. Mereka juga menciptakan berbagai karya seni kain tradisional Minang, seperti Songket, Kerancang, dan Sulaman. Selama pandemi, mereka tidak hanya bertahan dengan memperkuat basis konsumen lokal tetapi juga melihat peluang baru dalam pengembangan produk. TENA Wastra Nusantara Sumatera Barat


"Produk-produk seperti tas batik, kipas batik, dan syal batik yang dihasilkan oleh Ayesha Collection tidak hanya menjadi simbol mode lokal, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya pelestarian warisan budaya. Batik khas Minang dengan motif Ranah Minang yang kaya akan makna kini dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. "Kami percaya bahwa keindahan dan keunikannya Batik Tanah Liek akan terus menarik perhatian, tidak hanya di pasar lokal tetapi juga di pasar internasional. Kami berkomitmen untuk terus melestarikan dan mempromosikan keindahan khas Minangkabau melalui karya seni kain kami," lanjut Fitra Lusia. TENA Wastra NusantaraSumatera BaraWastra Nusantara Sumatera Barat T A S B A T I K


“Dukungan konsumen lokal dan semangat tim kami adalah kunci kesuksesan kami. Kami optimis bahwa dengan kerja keras dan inovasi, Ayesha Collection akan menjadi pelopor dalam mempromosikan dan melestarikan kekayaan budaya Minangkabau," tutup Fitra Lusia dengan penuh keyakinan. Dengan semakin membaiknya situasi, Ayesha Collection berencana untuk kembali mengembangkan pasar internasionalnya. Fitra Lusia menyatakan keinginannya untuk kembali mengekspor produknya ke Malaysia, Qatar, dan Singapura, membawa keindahan khas Minang ke panggung global. Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


June Edition | 2023 page 17 DESAINER MUDA ASAL BUKITTINGGI TAMPILKAN BATIK TANAH LIEK DI MUFFEST 2020: MENYEMARAKKAN BUDAYA MINANG DI PANGGUNG NASIONAL DAN INTERNASIONAL Nada Mulya (22), seorang desainer muda berbakat berasal dari Kota Bukittinggi, menorehkan kisah gemilangnya di panggung Muslim Fashion Festival (Muffest) 2020 di Jakarta Convention Center (JCC). Dengan penuh percaya diri, Nada mempersembahkan koleksinya yang memadukan keelokan batik tanah liek asli Minangkabau dengan tema "Tanah Minang." Muffest 2020, sebagai ajang fashion show bergengsi untuk busana muslim Indonesia, memberikan panggung bagi para desainer untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka. Nada Mulya memanfaatkan kesempatan ini untuk tidak hanya memperkenalkan, tetapi juga mengangkat busana batik tanah liek dari Sumatera Barat ke dalam kancah fashion nasional dan internasional. Oleh: Thasya Navila Wastra NusantaraSumatera BaratTENA N A D A M U L Y A


Nada, yang merupakan alumni SMAN 3 Bukittinggi angkatan 2015, mulai mengejar karir desainnya sejak menamatkan SMA. Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Padjadjaran Bandung. Namun, pada tahun 2018, Nada mengambil keputusan penting untuk tidak melanjutkan kuliahnya di bidang tersebut karena minatnya yang lebih besar pada desain fashion. Pilihan tersebut membawanya bergabung dengan Islamic Fashion Institute (IFI). Nada Mulya juga berbicara tentang perjalanannya sebagai desainer muda yang bercita-cita tinggi. "Suatu saat saya ingin dan bercita-cita untuk memperkenalkan budaya Minang di bidang fashion di kancah nasional dan internasional. Alhamdulillah, cita-cita itu dapat terwujud dengan tampil pada Muffest 2020," ucapnya penuh syukur. Wastra Nusantara Sumatera Barat TENA S E L E N D A N G B A T I K T A N A H L I E K


Nada menjelaskan bahwa pada abad ke-16, Tanah Minang pernah dimasuki oleh Bangsa Belanda dengan tujuan ekonomis dan politik. Meskipun sulit untuk dikuasai, pengaruh akulturasi dari Bangsa Belanda memberikan kekayaan pada budaya Minang. Desain fashion Nada mencerminkan hasil positif dari akulturasi tersebut, di mana gaya Belanda dipadukan dengan kaidah berbusana tradisional Minang. Setelah 1,5 tahun di IFI, Nada berhasil meraih mimpi untuk tampil di panggung fashion show bertaraf nasional, yaitu Muffest 2020. Empat desain busana muslim batik tanah liek yang dibawakannya terinspirasi dari dua kebudayaan yang berbeda, yaitu Minang dan Belanda. Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


Keempat outfit fashion yang Nada tampilkan memiliki sentuhan modest wear yang klasik dan elegan, sesuai bagi wanita muslimah yang mencintai kain tradisional namun ingin tampil lebih modern. Desain tersebut menciptakan kombinasi harmonis antara kekayaan budaya Minang dan Belanda. "Saya merasa bangga bisa menampilkan busana batik tanah liek asli Minangkabau dalam ajang Muffest 2020 yang digelar pada 22-23 Februari 2020, di Jakarta Convention Center. Penampilan ini sekaligus sebagai tugas akhir saya dari IFI," tambah Nada dengan semangat yang membara. TENA Wastra NusantaraSumatera Barat


Prestasi yang diraih Nada Mulya di Muffest 2020 tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi positif dalam memperkuat eksistensi batik tanah liek sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Indonesia. Dengan prestasinya ini, Nada Mulya membuka jalan bagi desainer muda lainnya untuk terus mengangkat kekayaan budaya lokal ke dalam dunia fashion yang lebih luas. Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


Keterbatasan Ilmu, Tidak Menghalangi Tekad Tanpa memiliki pengetahuan membatik, Bu Hj. Wirda Hanim memiliki tekad yang kuat untuk memperbaharui Batik Tanah Liek. Meskipun usaha awalnya untuk bekerja sama dengan guru batik di Kota Padang tidak berhasil, ia tidak menyerah. Bahkan setelah gagal bekerja sama dengan siswa guru tersebut, tekadnya tetap tak tergoyahkan. Membangkitkan Kejayaan Batik Tanah Liek Sebuah kisah luar biasa dimulai pada tahun 1993 di Kenagarian Sumanik, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Bu Hj. Wirda Hanim, terpukau oleh keelokan acara adat di kampung halamannya, merasa terpanggil untuk menghidupkan kembali kejayaan Batik Tanah Liek. Keinginannya muncul setelah melihat kusamnya kain yang digunakan oleh tokoh adat, Datuak dan Bundo Kanduang, yang telah usang sejak 70 tahun lalu. Oleh: Thasya Navila Wastra Nusantara Sumatera Barat TENA


Kesulitan di Jogjakarta: Keputusan untuk Eksperimen Kimia Meski pernah meminta Dewan Batik Jogjakarta mengirimkan pengajar ke Padang, hasilnya masih belum memuaskan. Tidak menyerah, Bu Hj. Wirda Hanim kemudian melakukan eksperimen dengan warna kimia untuk batik. Meskipun sulit, ini membawa terobosan baru dalam perjalanannya. Perjalanan ke Jogjakarta: Kunci Pembuka Potensi Pada tahun 1995, Bu Hj. Wirda Hanim membuat keputusan besar dengan pergi ke Jogjakarta, meskipun hanya tinggal selama dua hari. Meskipun singkat, perjalanan tersebut menjadi titik balik. Ia kembali ke Padang dengan pengetahuan yang lebih mendalam dan semangat yang berkobar-kobar. Eksperimen Motif dan Warna Dalam perjuangannya, Bu Hj. Wirda Hanim mencoba berbagai cara. Ia membuat ulang motif kain kuno ke kertas dan menciptakan motif baru yang terinspirasi dari Rumah Gadang serta motif Minang dari ukiran dan pakaian. Eksperimennya dilakukan selama kurang lebih enam bulan, menandakan keseriusannya dalam mencari jalan keluar. Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


Kegigihan dalam Pencarian Warna Tanah Liek Puncak perjuangannya adalah ketika, setelah 10 tahun mencoba, Bu Hj. Wirda Hanim menemukan warna Batik Tanah Liek yang sesuai dengan contoh kuno yang ada. Proses ini tidak hanya melibatkan kreativitasnya, tetapi juga melibatkan uji coba dengan berbagai bahan kimia, termasuk warna hiasan kue yang pernah ia pelajari di Jakarta. Paten dan Pengakuan: "Batik Tanah Liek" Setelah menemukan formula yang tepat, Batik Tanah Liek yang diproduksinya mendapat pengakuan resmi dan dipatenkan. Kesuksesan ini sekaligus menjadi titik balik dalam perjalanan bisnisnya. Modal awal yang dipinjam dari suaminya berhasil terlunasi berkat bantuan dari Pertamina pada tahun 1997. Wastra NusantaraSumatera BaratTENA


Pengakuan dan Apresiasi: Penghargaan dan Pencapaian Perjuangan dan kegigihan Bu Hj. Wirda Hanim tidak luput dari perhatian pemerintah dan swasta. Upakarti Award tahun 2006 dan penghargaan Marketeer of the Year dari MARKPLUS pada tahun 2014 adalah bukti nyata atas dedikasinya dalam melestarikan produk tradisional seni dan budaya Indonesia. Melestarikan Warisan Budaya: Showroom dan Penghargaan Bu Hj. Wirda Hanim tidak hanya sukses dalam menghidupkan kembali Batik Tanah Liek, tetapi juga aktif dalam melestarikan warisan budaya Indonesia. Showroom dan kediamannya di Jalan Sawahan Dalam, Kota Padang, menjadi pusat pameran sekaligus tempat produksi yang menyimpan kekayaan motif Batik Tanah Liek. Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


June Edition | 2023 page 17 Kesimpulan: Warisan yang Terus Berkembang Kisah sukses Bu Hj. Wirda Hanim adalah contoh nyata bahwa dengan tekad, kesabaran, dan kegigihan, seseorang dapat mengangkat kembali kejayaan warisan budaya yang hampir terlupakan. Batik Tanah Liek yang kini tetap hidup dan berkembang menjadi simbol semangat dan inspirasi bagi generasi mendatang. Wastra NusantaraSumatera BaratTENA


Pada era yang dipenuhi teknologi canggih, kita seringkali terpesona oleh kecepatan perkembangan di berbagai sektor. Meskipun begitu, tetap ada keindahan dalam kelestarian seni tradisional yang memberikan makna dan kekayaan budaya. Salah satu seni yang tetap eksis hingga kini adalah seni batik. Dalam perjalanan waktu, batik Tanah Liek tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Indonesia. Dalam cahaya yang cerah, kita dapat melihat Fitra Lusia, seorang perajin batik muda, yang dengan semangat dan bakatnya, mengukir masa depan batik Tanah Liek. Oleh:Thasya Navila Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


Inovasi dalam Tradisi: Batik Tanah Liek ala Fitra Lusia Dalam perjalanan kreatifnya, Fitra Lusia tidak hanya melanjutkan tradisi, tetapi juga membawanya ke tingkat baru. Dengan sentuhan inovatifnya, Fitra berhasil menciptakan batik Tanah Liek yang tidak hanya memikat para penggemar batik tradisional, tetapi juga menarik perhatian generasi muda yang lebih terbiasa dengan tren modern. Fitra Lusia: Pewaris Warisan Budaya Fitra Lusia, lahir dan besar di Tanah Liek, tumbuh dalam atmosfer yang kaya akan tradisi batik. Sejak kecil, dia terpapar oleh keindahan dan makna di balik setiap pola dan warna yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil para perajin batik sebelumnya. Tanah Liek, yang menjadi kampung halaman Fitra, adalah tempat di mana kearifan lokal dan keindahan alam berkumpul, menciptakan latar belakang yang memotivasi Fitra untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya ini. Wastra Nusantara Sumatera Barat TENA


Fitra menggabungkan teknik tradisional dengan desain yang lebih kontemporer, menciptakan batik Tanah Liek yang sesuai dengan selera zaman. Ia tidak hanya menggunakan pewarna alam tradisional, tetapi juga eksperimen dengan pewarna modern untuk menciptakan palet warna yang lebih beragam. Dalam setiap karyanya, Fitra menyematkan cerita dan makna yang menggambarkan perjalanan Tanah Liek dan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


Pasar Global: Batik Tanah Liek Melangkah ke Dunia Internasional Dengan adanya koneksi internet dan pasar global yang terbuka, Fitra Lusia berhasil memperkenalkan keindahan batik Tanah Liek ke seluruh dunia. Melalui platform online dan kehadirannya dalam berbagai pameran seni, karya-karya Fitra menjadi jembatan antara tradisi lokal dan apresiasi global. Penggemar batik dari berbagai penjuru dunia kini dapat menikmati keunikan dan keindahan batik Tanah Liek melalui karya-karya Fitra. Pendidikan dan Konservasi: Meningkatkan Kesadaran Terhadap Warisan Budaya Fitra Lusia tidak hanya terpaku pada menciptakan karya seni, tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya melestarikan warisan budaya. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, berbagi pengetahuan dan keterampilannya dengan generasi penerus. Dengan cara ini, Fitra berusaha memastikan bahwa tradisi batik Tanah Liek tetap hidup dan terus berkembang di masa mendatang. Wastra Nusantara Sumatera Barat TENA


June Edition | 2023 page 17 Menginspirasi Generasi Selanjutnya Fitra Lusia bukan hanya seorang perajin batik; dia adalah pewaris dan pengembang warisan budaya. Dalam perjalanan kreatifnya, Fitra membuktikan bahwa tradisi dapat tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi. Karya-karya Fitra tidak hanya menghiasi ruang-ruang seni, tetapi juga membangun jembatan antara masa lalu, kini, dan masa depan. Dengan semangat dan dedikasinya, Fitra Lusia menjadi teladan bagi generasi muda yang ingin menggali dan mengembangkan akar budaya mereka. Di masa depan, kita mungkin akan melihat lebih banyak perajin muda seperti Fitra Lusia yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merancang masa depan warisan budaya Indonesia. Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


Sejarah Batik Tanah Liek mencapai akar yang dalam dalam budaya Minangkabau. Pada awalnya, batik ini hanya digunakan dalam upacara adat khusus sebagai selendang, dan hanya oleh tokoh-tokoh adat tertentu. Selendang batik ini menjadi tanda keanggunan dan keelokan Minangkabau. Bagian menariknya adalah pemilihan warna dasar kain yang tidak biasa, sering berwarna krem atau coklat muda, yang diperoleh melalui proses perendaman kain dalam larutan cairan tanah liat. Warisan budaya, Batik Tanah Liek, dengan keunikan dan keelokan motifnya, menjadi bukti nyata tentang kekayaan budaya Indonesia. Warisan budaya ini tidak hanya sebatas sehelai kain yang dihiasi dengan motif khas, tetapi juga menawarkan jendela ke dalam sejarah dan identitas suku Minangkabau. Oleh: Thasya Navila Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


Motif-motif Batik Tanah Liek memiliki akar yang dalam dalam seni ukir Minangkabau. Motif seperti siriah dalam carano, kaluak paku, kuciang tidua, dan lainnya diambil dari berbagai jenis ukiran yang ada di rumah-rumah gadang Minangkabau. Ini mencerminkan hubungan yang erat antara seni, alam, dan kehidupan sehari-hari suku Minangkabau. Dalam Batik Tanah Liek, kita melihat tidak hanya warisan budaya, tetapi juga nilainilai dan keindahan yang memperkaya budaya Indonesia. Namun, Batik Tanah Liek tidak selalu mengalami kejayaan. Dengan masuknya Islam dan pengaruhnya di Minangkabau pada akhir abad ke-18, pakaian bercorak dianggap tak lazim, dan batik ini menghilang dari pandangan publik. Namun, berkat upaya seperti yang dilakukan oleh Wirda Hanim pada tahun 1994, Batik Tanah Liek diperkenalkan kembali dan menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Minangkabau. Wastra NusantaraSumatera Barat TENA Namun, perjalanan sejarah Batik Tanah Liek juga mencerminkan pengaruh budaya Jawa dalam perkembangannya. Pada saat ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singosari di Jawa memasuki wilayah Minangkabau, pertukaran budaya terjadi. Putri Minangkabau yang diantar ke Jawa melahirkan Raja Aditiawarman, yang kemudian menjadi raja di Pagaruyung, salah satu pusat pemerintahan Minangkabau. Kedatangan orang Jawa membawa pengaruh seni membatik, dan akhirnya, Batik Tanah Liek mulai berkembang di Minangkabau.


Dalam upaya pelestarian Batik Tanah Liek, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak. Langkah-langkah berikut dapat diambil untuk melestarikan dan memahami warisan budaya ini: 1. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat: Penting untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat, terutama generasi muda, tentang sejarah dan nilai-nilai Batik Tanah Liek. Melalui pendidikan, kita dapat memastikan pemahaman yang lebih baik tentang budaya dan warisan kita. 2. Kolaborasi dengan Pihak Terkait: Melibatkan lembaga budaya, museum, pusat seni, dan tokoh budaya setempat dalam upaya pelestarian. Mereka dapat memberikan wawasan yang berharga dan sumber daya untuk menjaga dan memajukan Batik Tanah Liek. Wastra NusantaraSumatera Barat TENA


3. Penghargaan dan Pengakuan: Memberikan penghargaan dan pengakuan yang layak terhadap para seniman dan perajin Batik Tanah Liek yang telah melestarikan tradisi ini. Penghargaan tersebut dapat memberikan insentif bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai budaya ini. 4. Pelatihan dan Pengembangan Keterampilan: Mendorong pelatihan dan pengembangan keterampilan dalam membuat Batik Tanah Liek. Ini akan membantu dalam mempertahankan kualitas dan keaslian batik ini. 5. Pameran dan Festival: Mengadakan pameran dan festival yang memamerkan keindahan Batik Tanah Liek. Acara semacam ini dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap warisan budaya ini. TENA Wastra NusantaraSumatera Barat


June Edition | 2023 page 17 Melalui upaya-upaya ini, kita dapat memastikan bahwa Batik Tanah Liek terus menjadi bagian penting dari warisan budaya Minangkabau dan Indonesia. Selain itu, kita juga dapat belajar dari Batik Tanah Liek tentang bagaimana pertukaran budaya telah membentuk kekayaan budaya yang beragam di seluruh nusantara. Menjaga dan memahami warisan budaya ini adalah komitmen kita untuk melestarikan akar budaya yang kaya dan berharga dalam menghadapi perubahan zaman. Batik Tanah Liek adalah bagian yang tak terpisahkan dari warisan budaya Minangkabau dan Indonesia pada umumnya. Melestarikan dan memahami batik ini adalah kunci untuk menjaga akar budaya yang kaya dan sejarah yang berharga. Batik Tanah Liek mencerminkan identitas Minangkabau dan juga menunjukkan bagaimana pertukaran budaya antar suku bangsa dapat membentuk seni dan warisan budaya yang beragam. Dalam dunia yang terus berubah, menjaga tradisi seperti Batik Tanah Liek adalah upaya kita untuk menghargai warisan budaya yang telah ada selama berabad-abad. TENA Wastra NusantaraSumatera Barat


Keunikan dan keindahan Songket Pandai Sikek dari Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, telah mencapai pasar internasional dan menjadi daya tarik utama di Amerika Serikat. Erma Yulnita, seorang pengusaha songket berbasis di Pandai Sikek, dengan bangga mengungkapkan bahwa songket ini tak hanya dikenal di dalam negeri tetapi juga di luar Indonesia. Erma Yulnita menjelaskan bahwa selain melayani penjualan di toko tradisionalnya, pesanan dari luar negeri juga terus mengalir. Negaranegara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Jepang menjadi tujuan utama ekspor songket ini. Meskipun jumlah pengiriman internasional belum sebanding dengan penjualan dalam negeri, permintaan yang terus berdatangan menunjukkan betapa populer dan diminatinya Songket Pandai Sikek di tingkat internasional. TENA Oleh: Bella Pratista Sari Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Selain pengiriman langsung ke konsumen di berbagai negara, banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi Pandai Sikek untuk merasakan langsung keindahan dan membeli produk songket ini. Terutama pada periode tertentu dalam setahun, seperti Mei, Juni, serta September hingga Desember. Pengunjung asing yang datang ke Sumatera Barat, khususnya Pandai Sikek, berasal dari berbagai belahan dunia. Amerika Serikat, Australia, beberapa negara Eropa, serta negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura menjadi penggemar setia Songket Pandai Sikek. TENA Apa yang membuat Songket Pandai Sikek begitu istimewa? Salah satu daya tariknya adalah motifmotif yang unik, yang telah dikenal sejak lama. Setiap motif memiliki cerita dan makna tersendiri, menggambarkan kekayaan budaya yang beragam di Sumatera Barat. Produksi songket ini masih menggunakan teknik tenun manual yang dilakukan oleh pengrajin setempat dengan hati dan keahlian tinggi, menjadikan setiap potongan songket sebagai karya seni yang unik. Ny. Mufidah Jusuf Kalla, istri Wakil Presiden Republik Indonesia, ketika meresmikan Sentra Industri Tenun di Lintau Tanah Datar, sangat mengapresiasi potensi besar industri tenun di seluruh Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Ia menyoroti bahwa songket yang berasal dari Sumatera Barat memiliki desain indah, warnawarna menarik, serta motif-motif yang unik, semua ini menjadi ciri khas budaya yang patut dibanggakan. Songket ini dikenal hingga mancanegara dan dihargai oleh para wisatawan. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Keberhasilan Songket Pandai Sikek menembus pasar internasional, terutama Amerika Serikat, adalah bukti nyata akan kekayaan budaya Indonesia yang mendunia. Produk tradisional ini tidak hanya mewarisi sejarah panjang budaya Sumatera Barat, tetapi juga menjadi jembatan penting dalam memperkenalkan keindahan dan keahlian Indonesia kepada dunia. Kontinuitas sukses Songket Pandai Sikek dalam memikat pasar internasional, khususnya Amerika Serikat, adalah refleksi dari upaya berkelanjutan dalam menjaga dan mempromosikan budaya Indonesia. Songket Pandai Sikek kini menjadi salah satu produk unggulan yang memperkaya ekonomi lokal sambil mempertahankan tradisi dan keahlian para pengrajin. Kesuksesan ini juga memberikan pelajaran penting bagi upaya pelestarian budaya di seluruh Indonesia. Ini mengingatkan kita akan pentingnya mendukung pengrajin lokal dan produk budaya tradisional. Dalam era globalisasi ini, pengenalan budaya melalui ekspor produk tradisional dapat memberikan nilai tambah yang signifikan untuk penghidupan para pengrajin dan masyarakat setempat. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Lebih dari sekadar barang dagangan, produk-produk budaya seperti Songket Pandai Sikek adalah perwakilan sejarah, kekayaan, dan keragaman budaya Indonesia yang tidak ternilai. Prestasi Songket Pandai Sikek yang berhasil menembus pasar internasional seharusnya menjadi inspirasi bagi negara-negara lain di seluruh dunia yang berupaya mempertahankan dan mempromosikan budaya mereka sendiri. Ini adalah bukti konkret bahwa warisan budaya yang dijaga dengan baik dapat menciptakan peluang bisnis yang berkelanjutan sambil menjaga integritas budaya itu sendiri. Peran pemerintah setempat dan pemerintah pusat sangat penting dalam mendukung perkembangan industri songket. Kunjungan wisatawan asing yang tertarik dengan songket Pandai Sikek tidak hanya berkontribusi pada perekonomian lokal tetapi juga membantu mempertahankan warisan budaya yang ada. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


June Edition | 2023 page 17 Kerjasama dengan lembaga pemerintah dan swasta adalah kunci untuk memperkenalkan produk songket Indonesia ke pasar internasional. Pameran budaya, festival, dan promosi budaya yang terencana dengan baik dapat membawa produk seperti Songket Pandai Sikek kepada audiens global yang lebih luas. Perlindungan merek dagang dan hak kekayaan intelektual yang terkait dengan Songket Pandai Sikek harus diawasi dengan ketat untuk menghindari produk palsu yang dapat merusak reputasi industri songket. Kesuksesan produk ini membuktikan bahwa budaya Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk mendunia dan menjelajahi kesempatan bisnis yang baru. Semua langkah ini berperan dalam menjaga dan mempromosikan budaya Indonesia, menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan, serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. Dengan semangat ini, Songket Pandai Sikek terus mewakili keajaiban budaya Indonesia dalam skala internasional, merangkul masa depan yang lebih cerah sambil tetap merawat nilai-nilai dan tradisinya. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Koleksi Ayumi, yang diberi judul "A Pop Of Culture" untuk NYFW Spring/Summer Collection 2024, merayakan nuansa pop yang menjadi trend mode di tahuntahun mendatang. Namun, yang menjadikan koleksi ini luar biasa adalah penggunaan Songket Minang sebagai elemen kunci. Ayumi mengambil inspirasi dari era musik pop tahun 90-an, masa di mana Britney Spears dan J.Lo merajai dunia musik. Dengan kepiawaian yang luar biasa, ia memadukan unsur-unsur klasik dengan modernitas yang menawan. Saat New York Fashion Week (NYFW) 2023 memperlihatkan pesonanya di tengah sorotan dunia, panggungnya diterpa oleh melodi yang unik dan berkilau. Inilah kisah perancang mode Marina Christyanti Ayumi yang menghadirkan kejutan dalam koleksinya, menggabungkan kekuatan songket dengan sentuhan pop musik. Terlepas dari beratnya persaingan di NYFW, Ayumi berhasil menciptakan harmoni yang memukau antara budaya dan gaya. TENA Oleh: Bella Pratista Sari Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Songket Minang, bahan utama dalam koleksi Ayumi, diolah menjadi tiga motif geometris khas Songket Pandai Sikek: motif Pohon Pinang, motif Biji Bayam, dan motif Jalinan Lidi. Dalam warna-warna terang yang dipoles dengan kilau emas dan perak, Ayumi menghadirkan busana-busana yang memikat mata. Kelembutan dan sentuhan feminin juga terlihat jelas pada setiap potongannya, menjadikannya cocok untuk berbagai kesempatan, dari acara santai hingga gala formal. Namun, keindahan koleksi Ayumi tidak berhenti pada Songket saja. Ia juga menggabungkan bahan Lace dan Satin Silk dalam koleksinya untuk menciptakan tampilan yang lebih modern dan metropolis. Teknik pembahanan dengan mutiara air tawar dari Lombok menambahkan sentuhan mewah dan unik pada setiap busananya. Mutiara-mutiara tersebut ditempatkan dengan teliti, membentuk tekstur dan motif baru yang menghidupkan kain songket dengan cemerlang. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Ayumi tidak hanya menciptakan mode yang memukau, tetapi juga menjalin hubungan yang kuat antara budaya dan gaya. Dalam kerjasama dengan perajin UMKM Pandai Sikek Sumatera Barat, ia merayakan kekayaan budaya Indonesia dan menunjukkan bagaimana mode dapat menjadi wadah untuk menjembatani budaya tradisional dan estetika kontemporer. Inisiatif semacam ini adalah langkah penting dalam memperkenalkan pesona budaya Indonesia ke seluruh dunia, sambil merayakan nostalgia gaya pop musik tahun 90-an yang tak terlupakan. Ayumi adalah teladan sempurna tentang bagaimana mode dapat menjadi sarana penyampaian pesan budaya yang mempesona di panggung internasional. Selain itu, Ayumi menggambarkan bagaimana kolaborasi dengan perajin lokal, dalam hal ini UMKM Pandai Sikek, dapat menjadi motor penggerak pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Dengan memesan songket khusus dari perajin lokal, Ayumi memberikan dukungan nyata kepada industri lokal sambil mempromosikan keindahan kain tradisional Indonesia. Ini adalah contoh konkret tentang bagaimana mode dapat menghidupkan sektor ekonomi lokal dan merayakan warisan budaya. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Ayumi tidak hanya menghias koleksinya dengan Songket Minang yang luar biasa, tetapi juga dengan teknik-teknik modern seperti pembahanan mutiara air tawar dari Lombok, yang memberikan tampilan yang mewah dan unik. Koleksinya menggambarkan perpaduan yang begitu memukau antara elemen-elemen tradisional dan kontemporer, menjadikannya sesuatu yang dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, dari pesta malam hingga pertemuan formal. Ketika Ayumi mempersembahkan koleksinya dengan judul "A Pop Of Culture" di panggung NYFW, ia seolah-olah membuka pintu ke dunia di mana budaya dan mode bisa bersatu dalam keharmonian yang sempurna. Melalui karyanya, ia telah berhasil menghadirkan potongan-potongan busana yang merayakan gaya pop musik era 90-an dan keindahan songket tradisional Indonesia. Ini adalah peringatan akan betapa berharganya warisan budaya dan sejarah dalam menciptakan gaya masa kini. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Keikutsertaan Ayumi dalam NYFW 2023 bukan sekadar acara biasa. Ia adalah langkah yang berani dalam menghubungkan budaya lokal dengan panggung internasional, melalui kolaborasi dengan perajin lokal. Ini menunjukkan bahwa mode bukan hanya tentang pakaian, tetapi juga tentang cerita, kerjasama, dan perubahan positif dalam masyarakat. Dengan dukungan kepada UMKM Pandai Sikek Sumatera Barat, Ayumi telah memberikan contoh nyata tentang bagaimana mode dapat menjadi kekuatan untuk pengembangan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat. Melalui perjalanan Ayumi di NYFW 2023, kita belajar bahwa mode dapat menjadi wadah yang indah untuk merayakan budaya dan menyatukan elemenelemen yang berbeda. Ayumi adalah perancang mode yang memahami pentingnya melihat ke belakang untuk menciptakan gaya yang berinovasi. Koleksinya menciptakan harmoni antara budaya dan musik, antara tradisi dan modernitas. Karya-karya Ayumi bukan hanya busana, mereka adalah puisi visual yang mengingatkan kita akan pesona budaya Indonesia yang kaya dan masa lalu yang penuh inspirasi. Dalam upayanya untuk mempromosikan keindahan budaya Indonesia di panggung internasional, Ayumi telah membawa kita pada perjalanan yang mempesona dan luar biasa. June Edition | 2023 page 17 TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Di suatu desa kecil bernama Pandai Sikek, tersembunyi di tepi ladang sayur dan berbatasan dengan Gunung Singgalang, lahir seorang wanita luar biasa yang menjadi pilar utama dalam melestarikan seni tenun songket Minangkabau. Namanya adalah Erma Yulnita, seorang pengusaha yang memimpin lebih dari 250 pengrajin songket di nagarinya. Inilah kisah perjuangan Erma dalam merintis bisnis songket yang telah menggeliatkan warisan budaya. Tahun 1985, Erma dan suaminya memulai perjalanan bisnis songket dengan modal hanya 150.000 ribu Rupiah dan sudut ruang berukuran 4x8 meter di Pandai Sikek, Kota Bukittinggi. Usaha ini merupakan awal dari mimpi besar Erma untuk melestarikan seni tenun songket. Dengan tekad dan keberanian, ia memulai perjalanan yang menantang. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA Oleh: Bella Pratista Sari


Di awal perjalanannya, Erma membuat setiap helai songket sendiri menggunakan alat tenun tradisional yang disebut panta. Meskipun alat dan ruang kerjanya sederhana, Erma dan suaminya dengan penuh semangat menghasilkan satu helai selendang, dua dompet rajut, dan tiga unit kerajinan tangan berbentuk rumah Minang. Mereka memperkenalkan usaha songket ini kepada masyarakat sekitar Pandai Sikek dan daerah Bukittinggi. Perjuangan Erma dan suaminya tidak sia-sia. Tahun 1990, usaha songket mereka mulai berkembang pesat, menerima pesanan tidak hanya dari Kota Bukittinggi tetapi juga dari luar kota hingga luar provinsi Sumatera Barat. Namun, tahun 1998, Indonesia dilanda krisis moneter yang berdampak pada usaha songket Pandai Sikek. Produksi dikurangi, bahkan beberapa karyawan dihentikan. Tahun 2000, usaha songket Pandai Sikek pulih setelah melewati masa krisis. Erma mulai mengembangkan usaha songketnya kembali. Pada tahun 2005, usaha songket Erma Yulnita kembali mengalami perkembangan signifikan. Mereka memproduksi secara langsung tanpa harus menunggu pesanan, merekrut sekitar 35 karyawan. Dalam proses produksi, tradisi menenun songket masih dijaga dan karyawan diberikan pelatihan untuk menghasilkan songket berkualitas. Tahun 2009, usaha songket Erma hampir meredup akibat gempa bumi yang melanda Sumatera Barat. Namun, pada tahun 2019, walaupun terbatas oleh pandemi COVID-19, Erma berhasil menjaga usaha songketnya tetap berjalan. Melalui teknologi dan promosi melalui agen travel, Google, dan media sosial, usaha songket Erma Yulnita mulai merambah pasar internasional. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Erma Yulnita tidak hanya berperan sebagai pengusaha, tetapi juga sebagai pemimpin komunitas pengrajin songket di Pandai Sikek. Ia memilih karyawan perempuan yang berpendidikan dan nonpendidikan, memprioritaskan kejujuran, komunikasi yang baik, dan kreativitas dalam tim kerjanya. Penentuan harga barang dipertimbangkan berdasarkan bentuk dan kesulitan suatu produk. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT Melalui perjuangan dan dedikasi Erma Yulnita, songket Pandai Sikek telah berkembang dan menjadi cendera mata yang paling dicari di Sumatera Barat. Erma juga telah membantu lebih dari 250 pengrajin songket dalam komunitasnya untuk menopang kehidupan keluarga mereka dengan penghasilan dari menenun.


Pengrajin muda seperti Puti Centia Wulan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya. Puti, seorang wanita berusia 25 tahun, mulai belajar menenun songket setelah melihat ibunya yang juga seorang pengrajin songket. Sebagai bagian dari komunitas ini, Puti telah menciptakan keindahan dengan tangan-tangannya sendiri. Meskipun menenun songket adalah pekerjaan yang rumit dan memerlukan ketelitian tinggi, Puti telah mampu menyelesaikan beberapa helai songket setiap bulan, memperoleh penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan. Erma Yulnita, selaku pemimpin pengrajin songket di Pandai Sikek, mencatat bahwa ada lebih dari 350 motif klasik dalam tenun songket. Keunikan motif Songket Pandai Sikek menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Meskipun menghadapi tantangan dalam pasokan bahan baku, seperti benang emas yang harus didatangkan dari luar negeri, Erma dan timnya terus menjaga tradisi ini tetap hidup. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


June Edition | 2023 page 17 Sebagai pejuang seni tradisional, Erma Yulnita dan para pengrajin Pandai Sikek telah menjaga warisan budaya yang berharga ini tetap berkembang. Melalui dedikasi mereka, tradisi menenun songket tetap hidup dan menginspirasi generasi muda untuk melestarikan warisan nenek moyang mereka. Kisah Erma Yulnita adalah bukti nyata bahwa ketekunan, dedikasi, dan semangat untuk melestarikan budaya dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan masyarakat. Erma tidak hanya menciptakan bisnis yang sukses, tetapi juga membantu menjaga keberlanjutan seni tenun songket Minangkabau dan memberdayakan komunitasnya. Sebuah kisah inspiratif yang patut dicontoh. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Dibalik gemerlapnya songket Pandai Sikek yang menjuntai benang emas, terdapat kisah luar biasa yang telah menjembatani masa lalu dan masa kini, membawa tradisi Minangkabau yang kaya akan budaya hingga ke panggung dunia. Ini adalah perjalanan tak terlupakan dari desa Pandai Sikek, Sumatera Barat, yang telah menjadikan songket sebagai warisan budaya hidup. Kisah ini dimulai pada tahun 1963 ketika seorang pembeli dari kota Padang meminta untuk dibuatkan 5 stel songket (kain + selendang) dan meninggalkan sejumlah uang sebagai persekot. Pesanan ini, yang pada saat itu cukup bernilai, ternyata telah menjadi titik balik bagi ibunda almarhumah Hj. Fatimah Sayuti, yang kemudian memutuskan untuk mulai menekuni seni tenunan dan memasarkan sendiri ke kota Padang. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya permintaan, ibunda Hj. Fatimah Sayuti mulai merekrut dan mendidik kaum wanita di sekitar desa untuk menekuni seni tenunan. Oleh: Bella Pratista Sari Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Berkat prestasi dan dedikasinya dalam mengembangkan usaha serta memberikan kesempatan kerja kepada kaum wanita di Pandai Sikek, ibunda Hj. Fatimah Sayuti menerima penghargaan UPKARTI sebagai Jasa Pengabdian dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 1988. Meskipun ibunda Hj. Fatimah Sayuti meninggal pada tahun 1998, pengelolaan usaha ini diwariskan kepada putrinya, Dra. Emila Fatma. Pada masa kini, perusahaan ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Prestasi terbaru adalah ketika songket Hj. Fatimah Sayuti terpilih mewakili Provinsi Sumatera Barat untuk mengikuti program pembinaan oleh Japan External Trade Organization (JETRO) melalui proyek One Village One Product (OVOP). Mereka dibina sejak bulan Juli 2008 untuk membuat produk berupa tas dari bahan songket yang didesain untuk pasar Jepang. Dengan dukungan dari PT. SEMEN PADANG, produk tas mereka berhasil dipamerkan pada acara TOKYO INTERNATIONAL GIFT SHOW 2010 di Tokyo, Jepang. Songket produk Hj. Fatimah Sayuti juga telah mendapat perhatian dari beberapa desainer terkemuka, seperti Edo Hutabarat, Gea Panggabean, dan Samuel Watimena. Mereka telah mengembangkan songket Pandai Sikek menjadi pakaian modern yang memadukan citra budaya Minangkabau yang asli. Bahkan, Hj. Fatimah Sayuti dipercayakan untuk mendesain dan membuat pakaian adat untuk berbagai tokoh terkenal, termasuk Presiden RI, Ketua MPR RI, dan Gubernur Jambi. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


TENA Pencapaian mereka juga tidak luput dari perhatian media. Beberapa stasiun televisi terkemuka telah melakukan liputan khusus, menyoroti bagaimana perusahaan ini telah melukis sejarah dan budaya Minangkabau dalam benang emas. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Songket Pandai Sikek adalah bukti nyata tentang bagaimana seni tradisional yang dijaga dengan cermat dan dikombinasikan dengan inovasi dapat berkembang pesat dan menjadi produk eksklusif yang dicintai oleh banyak orang. Mereka telah memelihara warisan budaya Minangkabau melalui benang emas, membuktikan bahwa tradisi tak hanya bisa bertahan, tetapi juga bisa berkembang dan menjadi kekayaan tak ternilai yang terus memikat dunia. Dalam perjalanan panjang songket Pandai Sikek, benang emas bukan sekadar material yang menghiasi kain, melainkan juga simbol keuletan, semangat, dan dedikasi terhadap tradisi yang berusia ratusan tahun. Seni tenun ini mencerminkan nilainilai Minangkabau yang kaya, di mana kerja keras, kecerdikan, dan keindahan dianggap sangat berharga. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Selain itu, prestasi dan pengakuan yang mereka dapatkan di tingkat nasional dan internasional adalah cerminan keberhasilan perusahaan ini dalam menjaga warisan budaya Minangkabau tetap hidup. Ini juga merupakan dorongan positif bagi seni dan kerajinan tradisional lainnya untuk tetap tumbuh dan berkembang. Songket Pandai Sikek telah mengukir perjalanan yang membanggakan, menggambarkan bahwa warisan budaya adalah aset yang tak ternilai harganya. Mereka tidak hanya menjaga tradisi, melainkan juga telah memperkaya budaya Indonesia dan memberikan inspirasi bagi seniman, desainer, dan pengrajin di seluruh negeri. Bagi banyak orang, songket Pandai Sikek adalah lebih dari sekadar kain; itu adalah kisah panjang tentang dedikasi dan semangat yang menjadikan benang emas yang menghiasi warisan budaya Minangkabau. June Edition | 2023 page 17 Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Indonesia adalah negara yang dikenal akan kekayaan budaya yang luar biasa. Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan sendiri dalam berbagai aspek budaya, dan salah satu aset yang paling berharga adalah tradisi tenun songket. Kain tenun songket bukan hanya sekadar pakaian; itu adalah karya seni, warisan budaya, dan sepotong sejarah yang hidup. Dalam opini ini, kita akan menjelajahi salah satu lokasi terpenting dalam tradisi tenun songket Indonesia, yaitu Pandai Sikek di Tanah Datar, Sumatra Barat. Oleh: Bella Pratista Sari Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Kemewahan dan kerumitan kain-kain ini adalah bukti nyata tentang keahlian dan dedikasi penenunnya. Dalam opini ini, kita akan menggali lebih dalam ke dalam keindahan yang terkendali ini, menganalisis ancaman yang mengintai, dan membahas bagaimana kita semua memiliki peran dalam pelestarian warisan budaya yang berharga ini. Kain tenun songket Pandai Sikek adalah bukti nyata keindahan yang dihasilkan oleh tangan manusia. Dengan warna-warna yang mencolok, benang emas yang bersinar, dan motif-motif yang rumit, setiap kain adalah karya seni yang memukau. Mereka mencerminkan sejarah, kebudayaan, dan identitas Minangkabau. Namun, kemewahan ini kini menghadapi ancaman serius. Dulu, benang emas murni adalah bahan utama dalam pembuatan kain tenun songket ini. Namun, dengan penggunaan benang emas sintetis yang lebih ekonomis, kemewahan yang begitu indah ini perlahan-lahan memudar. Ini adalah tantangan serius terhadap kemurnian tradisi ini. Di tengah perubahan pola hidup dan ekonomi, tradisi menenun di Pandai Sikek terpinggirkan. Generasi muda cenderung mencari pekerjaan modern yang lebih menguntungkan secara ekonomi, meninggalkan tradisi yang memerlukan waktu, dedikasi, dan keterampilan khusus. Salah satu tantangan yang dihadapi tradisi ini adalah aturan bahwa pewarisan keahlian menenun hanya boleh terjadi dalam satu garis keturunan tertentu. Ini bisa menghalangi generasi muda yang berpotensi besar untuk melanjutkan warisan ini. Sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman budaya, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga warisan budayanya tetap hidup. Pelestarian tradisi tenun songket Pandai Sikek adalah langkah penting dalam memastikan bahwa kekayaan budaya ini tidak akan hilang dalam pusaran perubahan zaman. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Pendidikan dan Pelatihan: Pembentukan sekolah atau sanggar yang mengajarkan keterampilan menenun kepada generasi muda adalah langkah penting dalam memastikan keberlanjutan tradisi ini. Promosi dan Pemasaran: Kampanye promosi yang lebih kuat di tingkat lokal dan nasional dapat membantu memperkenalkan tradisi Pandai Sikek ke lebih banyak orang. Dukungan Keuangan: Mendukung para penenun dengan memberikan insentif keuangan atau akses ke pasar yang lebih luas akan membantu mereka menjalani profesi ini dengan lebih stabil. Ini juga memberi insentif kepada generasi muda untuk memilih karier dalam menenun. Penghargaan dan Pengakuan: Mendorong pengakuan resmi terhadap tradisi ini sebagai warisan budaya dapat membantu menjaga kehormatan tradisi ini dan memotivasi para penenun. Bagaimana kita bisa melangkah maju untuk menjaga warisan yang hampir sirna ini tetap ada? 1. 2. 3. 4. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Click to View FlipBook Version