The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Elsa octori, 2023-11-27 22:30:12

Tena

Tena magazine

Pelestarian tradisi tenun songket Pandai Sikek adalah tanggung jawab bersama. Kita harus memahami keindahan dan kemewahan kain tenun songket ini, serta berkomitmen untuk menjaga warisan budaya ini tetap hidup. Upaya pelestarian ini melibatkan seluruh masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait. Dengan kerja sama yang tepat, kita dapat menyelamatkan warisan budaya yang hampir sirna ini dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Ini adalah tugas kita untuk memastikan bahwa cerita yang indah ini akan terus berlanjut dalam sejarah budaya Indonesia. Dengan upaya bersama, kita dapat mengekalkan kemewahan yang hampir terancam ini dan menjadikannya warisan yang terus berkilau dalam sejarah budaya kita. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Sumatra Barat terkenal sebagai tanah kelahiran kain tenun yang bermotif indah. Kain tenun khas Minang ini memiliki ciri khas motif dengan warna keemasan yang indah dan memiliki kesan mewah bagi siapa saja yang memakainya. Dikutip dari buku “ Kain Tenun Minang kanau “ karya Nian S Djoemena, Sejak abad ke 56 Masehi masyarakat Minangkabau sudah mengenakan kain berbahan katun. Hal ini dikarenakan dalam catatan sejarah tertulis bahwa dahulu Sumatera Barat dikenal sebagai penghasil kapas. Ada pula kain tenun yang berbahan benang sutera yang diproleh dari pedagang Cina kala itu. Hal tersebut terjadi karena letak geografis wilayah ini termasuk jalur perdagangan internasional khususnya Cina. Rute perdagangan tersebut biasa dikenal dengan istilah “ Jalur Sutera “. Karena itulah masyarakat diwilayah ini sudah mengenal sutera sejak abad ke 9. Budidaya ulat sutera sudah dimulai sejak masa kerajaan Sriwijaya lalu berkembang sampai Sulawesi Selatan. Oleh : Anggun Febriyanti TENA Wastra Nusantara SU SUMATERA BARAT


June Edition | 2023 page 17 Kemaharajaan Sriwijaya kerap dikaitkan dengan kain tenun, karena beberapa jenis kain ini terkenal di daerah dibawah kekuasaan Sriwijaya salah satu contohnya yaitu di kota Palembang yang merupakan ibu kota Kemaharajaan Sriwijaya di masa lampau. Tidak hanya Palembang ada beberapa daerah di Sumatra yang juga menghasilkan kain tenun antara lain yaitu : Minangkabau, Pandai Sikek, Koto Gadang, Silungkang, dan Padang. Karena adanya sejarah kekuasaan Kemaharajaan Sriwijaya, perdagangan di masa lampau, dan perkawinan campuran, sehingga songket terkenal di Kawasan Maritim Asia Tenggara terkhusus di negara sekitar Indonesia contohnya Malaysia, Singapura, dan Brunei. Kain tenun khas sumatra ini biasa lebih dikenal dengan sebutan “ songket “. WastraNusantaraSUMATERA BARAT TENA


Pada masa Kerajaan Sriwijaya kekayaan emas sangat berlimpah, karena itu emas digunakan sebagai bahan dasar pembuatan benang tenun. Karena adanya emas tersebut kain songket dapat terlimat mewah dan membuat siapa saja yang memakaianya akan terlihat elegan. Jika dilihat dari catatan sejarah, pada masa itu yang boleh menggunakan kain tenun adalah para istri dan kerabat keraton. Selain itu kain songket merupakan pelengkap dalam pakaian kebesaran yang dikenakan oleh para Sultan Palembang. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Teknik Menenun dan membuat motif sudah ada jauh sebelum masa Kesultanan Palembang. Tetapi karena perkembangan lebih luas dari songket Palembang terjadi pada masa Kesultanan Palembang. Karena saat itu pakaian ini dijadikan simbol kebesaran dari raja raja di Kesultanan Palembang. Proses menenun Sangat erat kaitannya dengan masa Kedutaan Sriwijaya dimana hubungan dagang saat itu berkembang. Awal mulanya sutra asal Siam masuk dan benang dari Cina dan India. Selanjutnya masyarakat mulai membuat motif dengan kreasi masing masing Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Kain tenun merupakan bahan kain yang dibuat menggunakan kapas atau sutra dengan cara memasuk masukkan pakan secara melintang pada lungsin. Ada berbagai macam kerajinan tenun yang ada di Indonesia salah satunya adalah tenun Silungkang yang dibuat oleh masyarakat Silungkang Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat. Oleh : Anggun Febriyanti Wastra NusantaraSUMATERA BARAT TENA


Secara geografis Silungkang tidak begitu besar dan dikelilingi bukit batu dengan kesuburan tanah yang tidak cocok untuk bercocok tanam. Karena kondisi alam itulah masyarakat Silungkang mencari sumber kehidupan lain, yaitu dengan berdagang. Pada sekitar abad ke 12 dan ke 13 cara berdagang masyarakat Silungkang mulai berubah. Samudra mulai dilewati sampai semenanjung Malaka, bahkan ada yang sampai ke Pattani, di Siam yang saat ini lebih dikenal dengan “ Thailand “. Di nagari Siam inilah para perantau Silungkang mulai belajar tenun produksi asli dari Thailand. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Setelah masyarakat Silungkang mahir bertenun, mereka akhitnya kembali ke Indonesia. Ilmu yang sudah dipelajari kemudian mereka ajarkan kepada kaum ibu-ibu di daerah Silungkang. Semenjak itulah beberapa wanita di Silungkan menjadi penenun songket. Pada awalnya bertenun hanya menjadi kegiatan masyarakat untuk mengisi waktu luang saja, tetapi lama kelamaan mereka mulai menerima pesanan kecil kecilan dari tetangga. Kemudian masyarakat mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti kerajaan dan penghulu penghulu nagari. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Dahulu proses menenun sampai menjadi kain siap pakai dibuat dan di usahakan oleh masyarakat silungkang sendiri. Tidak hanya itu, peralatan untuk bertenun semua dibuat sendiri. Karoknya berasalkan dari benang sedangkan sisirnya dari kulit longkok (tumbuhan yang sejenis aren). Perkembangan tenun periode 1340 - 1375 M merupakan awal dari perkembangan tenun Silungkang ini, tenun Silungkang ini ada dan berkembang menjadi sumber ekonomi masyarakat. Pada masa ini kerajaan Pagaruyuan sedang berada di titik puncaknya, Semua raja dan dewan mulai memakai pakaian kebesarannya yang terbuat dari songket. Karena hal itu hampir setiap rumah di Silungkang mulai menenun kain songket. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Pada zaman penjajahan Jepang tahun 1942-1945, dimana Silungkang sudah menjadi sentral atau pusat industri. Namun pada zaman ini kondisi pertenunan Silungkang lagi lagi mengalami masalah yaitu krisis bahan baku hingga perusahaan tenun terpaksa membuat bahan baku lain dengan menggunakan sutera palsu dari suto golu golu. Pada periode 1376 - 1910 M kemajuan tenun mulai terlihat karena berbagai motif dan corak. Bukan hanya untuk pesanan istana tetapi sampai ke daerah lain yaitu Jambi, Riau, Jawa bahkan sampai ke malaka. Tahun 1717 Baginda Ali merantau ke Malaka dengan memnawa alat tenun songket yang dinilai lebih praktis dari alat sebelumnya. Pemberontakan terjadi anatara masyarakat Silungkang terhadap Belanda pada tahun 1927. pada saat itu banyak masyarakat pejuang Silungkang yang menjadi tawanan lalu dibuang ke Boven digoel, papua. Setelah dibebaskan para pejuang Silungkang tersebut tidak langsung kembali ke kampung halamannya, tetapi mencari krhidupan di tanah Jawa. June Edition | 2023 page 17 Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Setelah keterpurukan pada zaman itu tenun Silungkang kembali bangkit pada tahun 1972 dengan menggunakan bahan baku baru yaitu sutra bemberg yang sedang trend saat itu. Tahun 2005 tim pergerakan PKK kota sawahluto bekerjasama dengan dinas pendidikan, dinas pariwisata dan pemberdaya perempuan sawahluto membuat kebijakan pelajat TK, SD, SMP, SMA, PNS, pegawai BUMN dan BUMD memakai baju berbahan kain tenun Silungkang. Lama kemudian tenun Silungkang tidak hanya berupa kain namun menjadi kerajinan tas, dompet, hiasan meja, dan lain lain. Bahkan karena perkembangan terbentuklah suatu organisasi di Silungkang yang mengelola kain tenun songket menjadi berbagai barang yang unik. Organisasi tersebut bernama Sigekart yang dibuat oleh Ibu Rita Fitri tahun 2021. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Enam desainer hebat asal Sumatera Barat berkolaborasi memperkenalkan pada masyarakat motif tenun menjadi busana harian. Produk hasil kolaborasi para desainer kondang ini diber nama dengan brand “ SEGEH “. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA Oleh : Anggun Febriyanti


June Edition | 2023 page 17 Tenun minang merupakan kain yang dibuat dengan cara ditenun, kain ini termasuk dalam golongan jenis kain tradisional songket. Terdapat bermacam macam motif serta filosofi di dalam setiap motifnya yang tela diwariskan secara turun temurun hingga terpakai dalam beberapa acara adat. Dalam kalangan masyarakat tenun minang atau yang biasa disebut songket ini biasa digunakan hanya untuk acara besar saja. Karena motifnya yang terlihat mengkilat dan mewah membuat kain tersebut dianggap cocok digunakan untuk acara formal saja. Brand Segeh ini ingin mengubah presepsi masyarakat agar tenun tidak hanya digunakan untu pakaian formal saja. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Keenam desainer yang bertekad ‘membumikan’ Motif Tenun Minang yakni Fomalhaut Zamel, De’Irma, Berry Mirsa, Rela Tulisia, Ressidona dan Zhio William, Keenam desainer ini berasal dari Sumatera Barat dan memiliki karya yang menakjubkan. Dengan adanya Brand Segeh ini menciptakan suatu produk yang luarbiasa dan di minati berbagai kalangan. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT Berry Mirsa


“Selama ini, Tenun Minang itu identik dengan busana adat yang dipakai momen tertentu. Harganya pun juga relatif mahal. Kini, kami ingin memasyarakatkan Tenun Minang ini denagan Brand Segeh. Semoga bisa menjadi produk yang mendunia nantinya,” Ungkap Fomalhaut Zamel pada peluncuran di Padang, Sabtu siang. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA Grand opening Brand Segeh ini, digelar dalam rangkaian acara festival Ekonomi Syariah Minangkabau (FESMina) yang telah diluncurkan Rabu (27/7/2022) tahun lalu. FESMina ini sendiri adalah bagian dari kegiatan Road to Fesyar (Festival Ekonomi dan Keuangan Syariah) Sumatera 2022.


TBrand Segeh ini adalah hasil kolaborasi desainer yang tergabung dalam Indonesia Fahion Chamber (IFC) Chapter Padang yang memiliki pimpinan bernama De’Irma. Setelah sekian lama masa inkubasi, mereka kemudian memiliki kesepakatan untuk menciptakan brand baru yaiti Bran Segeh ini. "Sebagai designer, tentunya masingmasing kami punya produk premium. Namun, di IFC kami memiliki kesamaan hasrat, menjadikan Tenun Minang jadi busana keseharian masyarakat. Karenanya, kami berenam bersepakat membuat second label, demi menjangkau konsumen yang lebih luas," ungkap Fomalhaut Zamel. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


June Edition | 2023 page 17 TSesuai dengan namanya yaitu ‘Segeh’ yang memiliki makna sebagai brand yang memiliki identitas dari Minangkabau. Brand ini memiliki koleksi yang menciptakan look rapi, elegant, kece, anggun, modern dan urban. "Segeh mengambil bahan wastra lokal, salah satunya tenun. 'Segeh' memposisikan diri sebagai pakaian siap pakai, ready to wear, pret a porter," tukas Fomalhaut yang dikenal sebagai desainer kebaya kontemporer itu. Dengan pemilihan warna-warna yang berbau earth tone dan musim gugur contohnya : coklat tua, hijau lumut, greyblue, dll. Produk segeh ini dibandrol mulai dari Rp. 350.000 sampai Rp. 740.000 per potongannya. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Wastra Nusantara SUMATERA BARAT “ Tenun yang dipakai adalah Tenun Sumatera Barat seperti Tenun Silungkang, tenun ini dipilih karena menggunakan benang tembaga” tambah De’Irma saat sesi perkenalan produk. Brand Segeh ini diciptakan untuk mereka yang dinamis dan tampil bebas percaya diri. Memperlihatkan individu yang maju, terbuka tetapi masih bangga dengan menggunakan warisan leluhurnya dengan caranya sendiri. TENA


June Edition | 2023 page 17 Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sumatera Barat, Wahyu Purnama A menggungkapkan, produk fashion adalah salah satu primadona yang ada dalam industri wisata di Indonesia. Dengan munculnya Brand Segeh, Wahyu berharap, wisatawan yang datang ke Sumatra Barat, tidak lagi berbicara soal kerupuk sanjai dan rendang atau jenis kuliner lainnya, tetapi tertarik dengan produk fashionnya juga. WastraNusantaraSUMATERA BARAT TENA


"Kita jauh tertinggal dengan provinsi lain, soal tenun ini. Di provinsi lain, mulai dari kepala daerah hingga pejabatnya, mengenakan pakain dari tenun produk lokal mereka. Ini merupakan cara efektif dalam memasarkan sebuah produk. Di daerah kita, susah kita menyebutnya," ungkap Wahyu. Wahyu menyebutkan, BI Sumatera Barat selalu konsisten untuk mengupayakan perubahan mindset para pengerajin tenun terutama Tenun Silungkang. BI selalu mendorong mereka, untuk menghasilkan produk terbaru dengan inovasi yang menarik, sehingga produknya dapat dipakai untuk kebutuhan busana harian dengan harga yang relatif terjangkau. "Sekarang, kita berkolaborasi dengan perancang busana ternama di Sumatera Barat untuk melahirkan produk dari Bahan Tenun Minang. Semoga, upaya ini bisa membawa Tenun Minang ke arah industrialisasi," harapnya. (kyo) Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


Oleh : Anggun Febriyanti Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tenun adalah hasil kerajinan yang berupa kain atau bahan yang dibuat dari benang (kapas, sutra dan lain lain) dengan memasuk masukkan pakan secara melintang pada lusin. Ada banyak kerajinan tenun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tenun tenun ini memiliki keunikan tersendiri dari segi warna, cara pembuatan, corak, maupun filosofis di dalamnya. Saat ini tenun sudah dikembangkan menjadi lebih canggih yaitu menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang terbuat dari kayu yang menghasilkan tenunan lebih cepat. TENA Wastra Nusantara SUMATERA BARAT


Wastra Nusantara SUMATERA BARAT Asia Timur, India, dan Asia Barat termasuk negara negara sebagai penenun kuno. Sebelum adanya kegiatan bertenun, masyarakat lebih dahulu mengenal proses pembuatan anyam dari daun serat kayu. Keterampilan ini adalah awal mulanya pengetahuan bertenun di wilayah indonesia. Berawal dari abad 19 para pedagang daerah Silungkang membawa hasil pertanian yang dibawa sampai ke Pahang, Malaysia. Setelah masyarakat Silungkang kembali membawa tenun tenunan yang indah berupa kain songket Malaysia. TENA


June Edition | 2023 page 17 Lama kelamaan pedagang Silungkang tertarik untuk membuat tenun sendiri, karena adanya dorongan untuk mendapat keuntungan yang lebih besar. Tahap demi tahap cara menenun dipelajarinya mulai dari alat tenun, benang, konstruksi tenunan dan proses pewarnaan. Tenun Silungkang dikenal karena kualitasnya yang tinggi, tidak hanya kilau benang emas yang beragam dengan motif unik tetapi juga memiliki fungsi sosial sebagai alat kelengkapan busana tradisional. Lebih jauh, terkandung nilai filosofis kehidupan masyarakat minang dalam kehidupan sehari hari, yaitu tentang kesakralan, ketekunan, keindahan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai itu tidak mungkin ada helaian tenun Silungkang yang indah ini. WastraNusantaraS U MA TE R A B A R A T TENA Tenun Silungkang adalah salah satu karya terbaik dari Minangkabau. Ada yang istimewa dari Silungkang, yaitu ditemukannya tempat tenun dongket terindah di Nusantara dibina helai demi helai benangnya menjadi suatu lembaran kain yang indah dan bernilai jual yang tinggi. Tenun Songket Silungkang memiliki ciri warna merah tua, hijau tua, atau biru tua dengan hiasan warna emas. Macam ragam hias dalam Tenun Silungkang dibentuk menggunakan benang emas, perak dan lain lain.


Wa s tra Nusan tara S U MA TE R A B A R A T Kain Tenun Silungkang ini selain jumlahnya yang terbatas dan harganya yang mahal, juga digunakan hanya saat acara tertentu seperti perkawinan, batagak gala (penobatan penghulu), dan penyambutan tamu penting. Tenun Silungkang pada umumnya jenis bertabur, yaitu hiasannya tidak memenuhi bidang kain, tetapi dengan dasar kain yang polos dan ada yang kotak kotak. Motif Tenun Silungkang terinspirasi dari alam seperti pucuak rabuang yang terkenal dengan motif bunga, motif burung, sirangkak, balah katupek, dan lain lain. Motif dari Tenun Silungkang ini lebih sederhana jika dibandingkan dengan kain tenun lainnya, dan pengerjaannya pun relatif lebih singkat. Meskipun demikian keunggulan itulah yang membuat kain Tenun Silungkang begitu memikat dan banyak digemari bahkan hingga ke Malaysia dan Brunei. TENA


KAIN KODEK: KEBIJAKAN BUNDO KANDUANG DALAM TRADISI SUMATRA BARAT Kain Kodek: Simbol Kebesaran Budaya Minangkabau Kain Kodek adalah sejenis kain tradisional yang unik dalam budaya Minangkabau. Kain ini memiliki ciri khas berupa motif geometris yang rumit dan dihiasi dengan warna-warna cerah. Kain Kodek digunakan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan, kelahiran, dan acara penting lainnya. Namun, kain ini lebih dari sekadar pakaian; ia memiliki makna simbolis yang mendalam dalam masyarakat Minangkabau. Bundo Kanduang: Pemimpin Perempuan Masyarakat Minangkabau Dalam budaya Minangkabau, Bundo Kanduang adalah tokoh perempuan yang memegang peranan penting. Mereka adalah pemimpin adat dan keagamaan yang memegang kendali dalam menjaga tradisi dan menjalankan kebijakan adat. Keberadaan Bundo Kanduang sangat penting dalam menjaga kelestarian Kain Kodek Wastra Nusantara TENA Sumatera Barat Oleh Elsa Octori


Peran Bundo Kanduang dalam Pelestarian Kain Kodek Bundo Kanduang memainkan peran yang sangat penting dalam pelestarian Kain Kodek. Mereka tidak hanya bertanggung jawab untuk menjaga keaslian motif dan teknik pembuatan Kain Kodek, tetapi juga untuk memastikan bahwa kain ini digunakan dengan benar dalam berbagai upacara adat. Mereka memberikan pedoman dan aturan yang mengatur penggunaan Kain Kodek dalam masyarakat. Wastra Nusantara Sumatra Barat TENA


TENA Pentingnya Pelestarian Tradisi Pelestarian Kain Kodek dan tradisi Minangkabau secara keseluruhan adalah suatu kewajiban yang diemban oleh Bundo Kanduang. Tradisi ini mencerminkan identitas dan kekayaan budaya masyarakat Minangkabau, dan oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga dan melestarikannya agar dapat diteruskan kepada generasi mendatang. Wastra Nusantara Sumatera Barat


TENA Wastra Nusantara Sumatera Barat Masa Depan Kain Kodek dan Bundo Kanduang Meskipun Kain Kodek dan peran Bundo Kanduang tetap kuat dalam budaya Minangkabau, tantangan tidak dapat dihindari. Globalisasi dan perubahan sosial telah memengaruhi banyak aspek budaya tradisional. Oleh karena itu, langkah-langkah aktif untuk melestarikan Kain Kodek dan peran Bundo Kanduang sangatlah penting. Untuk itu, komitmen untuk menjaga Kain Kodek dan peran Bundo Kanduang harus terus ditingkatkan. Pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang keunikan dan pentingnya tradisi ini dapat membantu melindungi warisan budaya yang berharga ini.


June Edition | 2023 page 17 Wastra Nusantara Sumatera Barat Kain kodek sangat penting dan erat kaitannya dengan bundo kanduang. kodek menggambarkan bahwa Bundo Kanduang memiliki rasa malu jika tidak menggikuti ajaran adat di Minangkabau. Dalam artikel ini kita akan membahas makna kain kodek yang digunakan oleh Bundo Kanduang. TENA


Hj Sanuar: Rumah Tenun Pusako Pandai Sikek Wastra Nusantara Sumatera Barat TENA Sumatera barat merupakan daerah yang penuh dengan keanekaragam. Disini juga terdapat beragai jenis wastra yang terkenal salah satunya dari nagari pandai sikek, seperti yang kita ketahui nama nagari ini sudah tidak asing didengar karena hasil karya tenunannya yang sangat terkenal yaitu tenun pandai sikek. Pada nagari ini terdapat rumah tenun pusako yang merupakan usaha pebuatan dan perdgangan kain tenun milik keluarga secara turun temurun yang dimulia sejak tahun 1975 oleh Hj. Sanuar binti ulumuddin dan A. Ramli Dt. Rangkayo Sati (suaminya almarhum). Almarhum ahmad ramli merupakan seorang pelukis dan pengukir yang sangat handal sehingga ia dipercaya untuk membuat rumah adat minangkabau yang di bangun dalam komplek Taman Mini Indonesia indah di jakarta. Bagi yang sudah pernah ke TMII atau yang mau berkunjung ke sana nanti kalian bisa melihat rumah gadang atau ramat adat minang kabau yang merupakan hasil karyanya disana. Oleh Elsa Octori


Rumah Tenun Pusako pandai sikek ini dibuat pada tahun 1978 masih terlihat sangat terjaga dan terawat hingga saat ini. Bangunan yang sudah cukup lama kemungkinan sudah terjadinya pebaikan di sana-sini untuk memperbaiki bagian yang rusak atau rapuh dimakan cuaca dan waktu. Rumah Tenun Pusako ini juga dipenuhi oleh ukiran suami sanuar. Koleksi Rumah Tenun Pusako pandai sikek disimpa di sebuah lemari kayu antik di sudut ruangan yang di penuhi ukiran kayu dengan detail yang indah. Terdapat sebuah selendang sutra Rumah Tenun Pusako Pandai Sikek yang dibuat dari sutra alam dan benang mas yang dijual dengan harga sekitar 3 juta. Terdapat juga kain tenun yang dipasang di langitlangit Rumah Tenun Pusako Pandai Sikek, dengan dasar kain merah dan motif burung serta bunngan berwarna kuning keemasan TENA


Ibu sanuar sering mendengar cerita dari ayah dan ibunya tentang kaian tenun yang dibuat oleh neneknya yang merupakan seorang ahli penenun kain songket. Pada zaman belanda waktu itu di selenggaakan Pekan Kebudayaan Minangkaubau di Padang Panjang. Banyak peserta yang mengikuti termasuk ahli ukir dan tenun dari pandai sikek serta tempat-tempat lain di Sumatra Barat. Kain tenun Inyiak Upiak yang terpilih dan dibeli oleh orang belanda dengan harga enam emas rupiah Waktu itu ayah Sanuar berkomentar, “bodoh bana kito, kito punyo anak gadih nan bisa mamakai kain itu tapi kain tenun itu lah tajua!”. Ibu dan ayah Sanuar merupakan seseorang yang sangat berpengaruh di nagari, yang mana ayahnya seorang ulama, penghulu dan ahli adat. Seorang yang amat baik dan murah hati memberikan ilmu yang ia dapatkan setelah menuntut ilmu di cangkiang sehingga bisa mendirikan Madrasah Hidayatul-Islamiyah yang sampai saat ini masih digunakan. Inyiak Upiak merupakan anak dari orang kaya dan berhasil yang memiliki beberapa orang istri. Pada suatu ketika ayahnya menanyakan apa yang ia inginkan karena saudara-saudaranya lain sudah dibelikan apa yang mereka inginkan seperti tanah dan sawah. Wastra Nusantara Sumatera Barat TENA


TENAWastra Nusantara Sumatera Barat Inyiak Upiak yang senang bertenun pun mengatakan “suri jo panta sajo ayah balikan” Mendengar hal itu ayahnya membelikan alat tenun yang pada saat itu seharga tanah dan sawah, yang menjadi pusako tinggi turun temurun ke anak cucunya yaitu keahlian bertenun kain songket. Hal ini merupakan cikal bakal terbentuknya rumah tenun pusanko Hj. Sanuar tahun 1975. Ibu Sanuar lahir pada tahun 1926, pada saat remaja ia snagat menyukai dan menekuni pekerjaan menjahit, seperti mneyulam, menyuji dan menerawang. Ibu menikah dengan seorang orang yang mengajar di Sumatra Thawalib Padang yang dikaruniai empat orang anak, namun takdir berkata lain ayah dari anak-anak meninggal pada tahun 1974. Hj. Sanuar menikah lagi dengan seorang seniman Lukis, mantan wali nagari pada saat itu dan sedang berusaha untuk meningkatkan minat anak nagari untuk aktif dibidang kerajinan yang sekaligus memiliki nilai budaya Kerajinan tenun pada tahu 70-an belum dibangkitkan dan belum menjadi suatu komiditi yang dapat dijual kepada wisatawan local ataupun mancanegara. Tahun 70-ab kerajianan tenun masih dikerjakan senidri-sendiri oleh beberapa orang untuk dipakai sendiri. Sulit didapatkannya bahan baku untuk pembuatan tenun karena kegiatan perdagangan yang belum lancar karena masih trauma sesudah perang. Ibu dengan empat orang anak ini menjual hasil tenunan ke Bukit Tinggi atau Padang Panjang. Selain itu, ibu Sanuar membuat tenun secara langsung untuk diperlihatkan kepada tamu yang berkunjung pada proyek ukiran yang dibuat oleh sang suami serta mendemonstrasikan cara pembuatan tenun asli dari Pandai Sikek. Alat yang digunakan juga berbeda dengan alat untuk membuat songket dari daerah lain karena memiliki bangku kerja yang disebut “Panta”. Beberapa waktu kemudian, songket mulai terjual, sehingga diputuskan untuk melakukan pemasaran songket dari rumah saja.


June Edition | 2023 page 17 Ibu mulai mengumpulkan dan mengajarkan anak gadis untuk latihan tenun, sehingga tamu yang datang untuk melihat ukiran yang dbuat oleh sang suami juga bisa melihat langsung pembuatan songket. Secara spesifik tenunan hasil Pandai Sikek wajib memiliki 3 motif yaitu motif batang pinang,(pohon pinang), motif bijo bayam(biji bayam) dan motif saluak laka. 3 motif tersebut merupakan ciri khas dari tenun Pandai Sikek, jika terdapat slah satu motif yang tidak di terapkan maka bisa dipastikan kain tenun ini bukan hasil karya pengrajin tenun Pandai Sikek. Saat ini hasil tenun Pandai Sikek sudah di jual hampir ke seluruh indonesia seperti Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan tentu saja Sumatra. Tenun yang dibuat oleh pengrajin biasanya paling cepat 3 minggu atau satu bulan tergantung tigkatt kerumitan motif yang di buat. Untuk harga kain tenun di bandrol dari Rp 5,5 bahkan sampai uluhan juta. Wastra Nusantara TENA Sumatera Barat


KAIN KODEK: KEINDAHAN TARI PIRING DAN TRADISI MINANGKABAU Kain kodek, dengan ciri khas menyerupai sarung dan menjadi bagian integral dari baju kurung dalam Tarian Piring, menghadirkan keindahan motif khusus yang disulam dengan benang emas. Namun, penari wanita terkadang juga memilih sisaming, jenis kain yang sama dengan yang digunakan oleh penari pria. Kodek adalah saruang khas Minangkabau yang dililitkan di pinggang sebagai bawahan yang bentuknya serupa kain panjang. Panjang kodek biasanya hingga tumit. Belahannya bisa disusun di depan, samping, maupun belakang tergantung adat nagari mana yang memakainya Wastra Nusantara TENA Sumatera Barat Oleh Elsa Octori


Wastra Nusantara Setelah kejayaan Sriwijaya dijatuhkan oleh Majapahit pada abad ke-16, tarian ini terhenti di kalangan suku Minang, karena Majapahit adalah kerajaan Islam yang tidak mempercayai ritual tersebut. Namun, keunikan Tarian Piring membuatnya akhirnya diterima sebagai tarian hiburan di istana kerajaan dan dipentaskan untuk raja-raja serta pejabat penting. Tarian Piring, sebuah ungkapan syukur kepada Dewa Dewi atas hasil panen yang melimpah, telah ada selama lebih dari 800 tahun di Sumatera Barat. Ritual ini dilakukan sekali setahun, di mana piring digunakan untuk meletakkan sesaji dan makanan yang kemudian dipersembahkan. Ketika proses penyerahan sesaji dilakukan, para pembawa sesaji berlenggak lenggok dengan gerakan khas sambil membawa piring berisi sesaji, semuanya diiringi oleh irama musik yang khas. TENA


Wastra Nusantara Sumatera Barat Seiring berjalannya waktu, masyarakat Minang mulai memasukkan tarian ini dalam berbagai acara perayaan seperti pesta pernikahan. Dalam versi ini, piring yang digunakan biasanya kosong atau diberi lilin yang menyala, menghasilkan Tarian Piring versi "tari lilin." Walaupun pencipta asli tarian ini masih menjadi misteri, seniman terkenal Huriah Adam memainkan peran besar dalam mempopulerkan tarian ini dengan gerakan-gerakan yang mengingatkan pada seni bela diri silat TENA


Kain kodek pada bundo kanduang June Edition | 2023 page 17 TENA Wastra Nusantara Sumatera Barat Makna kain kodek bundo kandung berbeda beda tergantung daerahnya masing-masing seperti halnya bahwa Bunda kandung di daerah Lintau memakai sarung atau "kodek" kain balapak hasil tenunan Pandai Sikat Padang Panjang. Kain balapak ini ditaburi/bermotif benang emas atau perak. Hal ini untuk memperlihatkan fungsi sosial dan estetis oleh pemakainya. Pemakaian sarung ini dengan belahan pada bagian depan. untuk memudahkan menaiki jenjang rumah adat di Minangkabau Kain sarung bertabur yang dipakai bunda kandung melambangkan bahwa ilmunya sebanyak bintang di lang it. Pemakaian sampai batas mata kaki melambangkan bahwa bunda kandung harus mempunyai rasa periksa (raso pareso), mempunyai rasa malu dalam dirinya yang merupakan sifat bagi wanita di Minangkabau.


Wastra Nusantara TENA Sumatera Barat Kain kodek adalah bukti keindahan dan makna dalam Tarian Piring yang kaya tradisi ini, mencerminkan kebijaksanaan dan keagungan budaya Minangkabau. Selain pada tari piring kain kodek juga digunakan dalam pakaian bundo kanduang pada kabupaten 50 kota disebut lamoak ampek (empat) yaitu pada selembar kain kodek (sarung) diberi empat jalur "minsia" selebar lima sentimeter. . Empat minsia yang terbuat dari benang emas atau perak yang terdapat pada sarung bunda kandung tersebut melambangkan bahwa adanya empat sifat yang harus dimiliki oleh seorang wanita yaitu : dapat menahan perasaan, bijaksana di dalam segala hal, terampil dalam mengurus rumah tangga dan pekerjaan lainnya, serta dapat berhemat dan memelihara harta pusaka. Di samping itu keempat "minsia" tersebut juga melambangkan empat jenis masyarakat dalam kampung, yaitu penghulu, malin (ulama), manti dan dubalang


Oleh : Elsa Octori Wastra Nusantara Sumatera Barat Sumatra Barat, sebuah provinsi yang kaya akan warisan budaya dan tradisi, mempesona dengan kekayaan alamnya, seni tradisional, dan keindahan yang tak terlupakan. Salah satu aspek dari kekayaan budaya Sumatra Barat yang tak boleh terlewatkan adalah kain kodek, khususnya ketika diwujudkan dalam bentuk sarung. Sebuah jenis kain tradisional yang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Sumatra Barat. Lebih khusus lagi, kain kodek sering digunakan dalam pakaian tari piring dan baju bundo kanduang. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi makna dan keindahan kain kodek sebagai sarung, yang merupakan bagian integral dari budaya Sumatra Barat. Kain kodek adalah jenis kain tradisional Indonesia yang dihasilkan melalui teknik tenun. Namun, apa yang membuat kain kodek sarung Sumatra Barat begitu istimewa adalah desain dan motifnya yang unik. Dibuat dengan teknik tenun tangan yang rumit, setiap kain kodek sarung merupakan karya seni yang membutuhkan waktu dan keterampilan yang luar biasa. Motif-motif yang digunakan pada kain kodek sering kali menggambarkan cerita-cerita dari mitologi, adat, dan nilai-nilai budaya Minangkabau.


Wastra Nusantara Sumatera Barat Banyak yang mengira kain kodek hanya lembaran kain yang dipakai langsung tanpa dijahit. Saya awalnya nya juga mengira seperti itu, namun ternyata kain kodek merupakan kain sarung tenun dari daerah Pandai Sikek yang saat ini sering digunakan pada penari tari piring dan pakaian bundo kanduang. Kain kodek di buat dengan berbagai jenis motif Adapun motif yang sering dijumpai dalam kain kodek dari daerah Pandai Sikek yaitu motif batang pinang,(pohon pinang), motif bijo bayam(biji bayam) dan motif saluak laka serta menggunakan benang emas dan perak. Tena


Tena Wastra Nusantara Sumatera Barat Sarung yang terbuat dari kain kodek memiliki ciri khas yang membedakannya dari sarung tradisional dari daerah lain. Pola-pola khas seperti bungo pacik, bungo melati, atau bungo bali sangat sering ditemukan pada sarung Sumatra Barat. Masing-masing pola memiliki makna simbolis yang dalam, dan sering kali menggambarkan identitas dan status pemakainya. Sarung ini bukan hanya sekadar pakaian, melainkan juga sebuah ekspresi budaya dan simbol kebanggaan Kain kodek memiliki sejarah panjang yang melibatkan keterampilan para pengrajin dalam menenun dan merajut benang terutama dari daerah Pandai Sikek, Padang Panjang. Dalam bahasa Minangkabau, "kodek" berarti "menenun," yang mencerminkan proses pembuatan kain ini yang memerlukan ketelitian dan kesabaran. Kain kodek awalnya digunakan sebagai perlengkapan upacara adat dan pakaian tradisional di Sumatra Barat. Namun, seiring berjalannya waktu, kain kodek juga menjadi lambang status dan identitas bagi masyarakat Minangkabau.


June Edition | 2023 page 17 Kain kodek juga memiliki peran penting dalam adat istiadat dan upacara adat masyarakat Minangkabau. Ini digunakan dalam berbagai acara seperti perkawinan, pertunangan, dan selamatan. Kain kodek yang digunakan dalam upacara memiliki pola-pola khusus yang sesuai dengan acara tersebut, menambahkan nilai kearifan budaya dalam ritual tersebut, namun dalam artikel ini kita membahas kain kodek yang digunakan penari tari piring dan pakaian budo kanduang Tena Wastra Nusantara Sumatra Barat


Kain Kodek: Keterampilan Tradisional dalam Era Modern Oleh Elsa Octori Wastra Nusantara Sumatera Barat Kain adalah medium yang merekam sejarah dan kebudayaan suatu masyarakat. Dalam spektrum yang luas dari jenis-jenis kain, salah satu yang mencuri perhatian adalah kain kodek. Kain ini tidak hanya merupakan karya seni, tetapi juga mewakili kekayaan budaya dan keterampilan tradisional yang semakin langka di tengah arus modernisasi.


Wastra Nusantara Sumatera Barat TENA Keunikan Kain Kodek Kain kodek, yang juga dikenal sebagai kain tenun songket, berasal dari Indonesia tepatnya di Sumatra Barat. Tenun songket adalah proses membuat kain dengan mengangkat atau menekan benang di atas atau di bawah benang pakan untuk membentuk pola. Kain ini kaya akan warna dan motif, dan seringkali digunakan dalam pakaian adat atau busana khusus untuk acara-acara istimewa. Motif pada kain kodek tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat dengan makna budaya. Setiap motif mewakili nilai, mitos, atau cerita tertentu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, kain kodek bukan hanya sebuah kain, melainkan sebuah cermin dari kearifan lokal.


Wastra Nusantara Sumatra Barat TENAKain Kodek sebagai Simbol Identitas Kain kodek tidak hanya merupakan barang mode, tetapi juga simbol identitas. Pemakaiannya sering kali tidak hanya sebagai bentuk ekspresi diri tetapi juga sebagai cara untuk merayakan warisan budaya. Di tengah arus globalisasi, penggunaan kain kodek dapat menjadi cara untuk mempertahankan dan memperkuat jati diri lokal. Pentingnya kain kodek sebagai simbol identitas terletak pada fungsinya sebagai pembawa pesan kebudayaan. Melalui setiap helai benang, terdapat kisah panjang yang harus dihargai dan dijaga agar tidak hilang begitu saja di tengah arus modernisasi yang terus bergerak maju


June Edition | 2023 page 17 Kodek dalam Tantangan Modernisasi Di era globalisasi dan modernisasi ini, banyak keterampilan tradisional seperti tenun kodek menghadapi tantangan yang serius. Produksi massal dan tren busana yang cepat menyebabkan banyak orang beralih ke produk-produk yang lebih mudah dan lebih murah. Kesenjangan antara keterampilan tradisional dan permintaan pasar saat ini dapat mengancam kelangsungan hidup warisan budaya ini. Namun, di tengah tantangan tersebut, kain kodek juga mendapat dukungan. Semakin banyak desainer dan pembuat mode yang memasukkan kain kodek ke dalam koleksi mereka, memberikan dorongan baru bagi para pengrajin tradisional. Inisiatif lokal dan kampanye untuk mendukung industri kreatif lokal juga dapat membantu melestarikan keterampilan yang berharga ini. TENAWastra Nusantara Sumatra Barat


Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA Dalam wawancara ini, kita menyelami kekayaan budaya Sumatera Barat melalui kain tradisionalnya, seperti Songket Pandai Sikek, Songket Silungkang, dan batik Tanah Liek. Pemakaian kain-kain ini ternyata tidak hanya terkait dengan keindahan visual, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam. Menurut Tiara Rahayu (23) pemilik brand dari Rayu.bytalarhy, pentingnya kain tradisional, seperti songket dan batik, tergambar dari penggunaannya dalam berbagai acara. Songket sering dipilih untuk pesta, sementara batik Tanah Liek digunakan pada acara adat di berbagai daerah Sumatera Barat. Motif khas, seperti Itiak Pulang Patang, mencerminkan harmoni kehidupan masyarakat Minangkabau dengan alam, tata pergaulan, sistem pemerintahan, hingga kebersamaan dalam masyarakat.


June Edition | 2023 page 17 Dalam wawncara tersebut narasumber juga mengatakan “Proses produksi kain tradisional melibatkan pelaku UMKM dan masyarakat asli dari daerah Pandai Sikek, Silungkang, dan Kabupaten Solok”. Tokoh perancang terkenal seperti Emi Arlin, Fomalhaut Zamel, Doni Rahman, Feymil Chang, dan Berry Mirsha turut memperkaya dunia fashion Sumatera Barat. Lokasi produksi juga memperkaya identitas kain tersebut, seperti Songket Silungkang dari Silungkang (Sawahlunto), Songket Pandai Sikek dari Pandai Sikek, dan batik Tanah Liek dari Kabupaten Solok. “Bagi konsumen yang ingin mendapatkan pakaian tradisional ini, toko-toko di berbagai daerah Sumatera Barat menjadi tempat yang tepat, sementara untuk melihat proses produksinya, daerah pandai sikek, silungkang, dan solok menjadi destinasi menarik”, tutur Tiara Rahayu dalam wawancara tersebut. Tiara Rahayu juga memberikan tata cara untuk merawat kain songket, yakni dengan cara klasik seperti digulung dan dicuci dengan air bersih serta diangin-anginkan tetap menjadi rekomendasi, meski teknologi canggih sekarang memungkinkan pilihan dry clean. Keseluruhan, warisan kain khas Sumatera Barat tidak hanya menjadi elemen busana, tetapi juga sebuah cerminan identitas dan filosofi mendalam dari masyarakatnya. Wastra Nusantara SUMATERA BARAT TENA


TENA M A G A ZIN E 2 0 2 3 Wastra Nusantara Sumatera Barat V O L . 7 E D I S I 2


Click to View FlipBook Version