● Variabel Y (Kinerja Karyawan)
Dari grafik di atas dinyatakan bahwa responden sudah puas dengan kinerja mereka dengan
nilai rata-rata 4 dari 5. Dapat disimpulkan bahwa dari 50 responden:
a. Pernyataan pertama tertinggi ada 2 yaitu, Responden bekerja sesuai dengan
kompetensi yang dimiliki dan merasa puas dengan pekerjaan saat ini dengan nilai
rata-rata 4,38 dari 5
b. Pernyataan kedua tertinggi adalah Pimpinan puas dengan pekerjaan yang responden
lakukan dengan nilai rata-rata 4,22 dari 5
c. Pernyataan ketiga tertinggi adalah Produktivitas kerja responden mengalami
peningkatan dalam kurun waktu 2 tahun terakhir denga nilai rata-rata 4,18 dari 5
d. Pernyataan terendah yaitu Responden sudah bekerja sesuai dengan target yang
diberikan dengan nilai rata-rata 4,2 dari 5 (belum sesuai targe
47
IV. PENUTUP
4.1.Simpulan
Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja memiliki peranan penting
dalam kinerja karyawan dalam mengembangkan diri secara mandiri maupun dalam tim.
Ketika kinerja karyawan sudah baik, maka perlu ditingkatkan juga lingkungan kerjanya
sehingga karyawan pun nyaman dan dapat mencapai tujuan perusahaan dengan mudah dan
baik. Nilai rata-rata variable di atas berbanding tipis yaitu:
Lingkungan Kerja (variable x) = 4,244
Kinerja karyawan (variable y) = 4,272
Yang artinya mungkin karyawan merasa belum cukup puas bekerja dengan target yang
diberikan karena fasilitas dan tunjangan yang didapatkan belum sesuai dengan harapan.
Maka perlu adanya peningkatan fasilitas dan perbaikan tunjangan untuk meningkatkan
kinerja karyawan.
48
DAFTAR PUSTAKA
Buku Pengantar Hukum Perusahaan di Indonesia
Eka I. L. K Lewa & Subowo. (2005) Pengaruh Kepemimpinan, Lingkungan Kerja Fisik dan
Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan di PT Pertamina (Persero) Daerah Operasi
Hulu Bagian Barat, Cirebon. Jurnal Kajian Bisnis dan Manajemen, 2(3). 129-140.
Jurnal ADB berjudul “PEMANFAATAN PERANGKAT LUNAK (SOFTWARE) DALAM
MENDUKUNG KINERJA KARYAWAN”
KINERJA PEGAWAI (Tinjauan dari Dimensi Kepemimpinan, Misi Organisasi, Budaya
Organisasi dan Kepuasan Kerja) Oleh Dr. Tun Huseno, SE., M.Si.
Sedarmayanti.2009. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung: CV Mandar
Maju.
http://eprints.ipdn.ac.id/150/1/KINERJA%20PEGAWAI%20TUN%20HUSENO.pdf
http://repository.unmuha.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/75/13.%20BAB%20II%
281%29.pdf?sequence=5&isAllowed=y
https://accurate.id/marketing-manajemen/kinerja-karyawan/
https://www.talenta.co/blog/insight-talenta/kinerja-karyawan-dan-faktor-faktor-yang-
memengaruhinya/
https://sesamamahasiswa.blogspot.com/2018/08/pengertian-kinerja-karyawan-
menurut.html?m=1
https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-perusahaan-menurut-para-ahli/
49
THE INFLUENCE OF STARTUP COMPANIES ON
YOUNG GENERATION WORK INTEREST
Tim Peneliti:
Dosen dan Mahasiswa Don Bosco
VY. Sri Sudarwinarti, S.Pd., M. Si. (Dosen) – [email protected]
Vanessa Vincentia Terloit / S.2019.3391 (Mahasiswa ) – [email protected]
Yubelina Oktaviana / S.2019.3392 ( Mahasiswa ) – [email protected]
ABSTRACT
Startup companies are one of the choices for the younger generation to work, which has a
big influence on the work interests of the younger generation. Startup companies are
technology-based startup companies that provide certain products or services. Interest in
work is a desire to work. Likewise, the younger generation who are very familiar with the
technology that has developed, and have an interest in this field. this is the background for
the author to find out what attracts the younger generation to be able to add experience and
work in startup companies. This study aims to determine the characteristics possessed by
StartUp Companies as an attraction/interest for work for the younger generation. The
method used in this research is descriptive research. The population in this study is the
younger generation, the research was conducted with an instrument in the form of a
questionnaire with 6 indicator questions distributed within 5 days to all young people. Based
on the results of the questionnaire data processing, the results of the indicator questions
obtained that an average of 63.72% agree and strongly agree 26.1%, it is known that startup
companies have characteristics that distinguish them from other companies, namely having
flexibility in time and appearance, adding insight especially in the business sector, attractive
facilities, and a work environment that supports employee creativity and innovation. So
that's what attracts work for the younger generation in startup companies.
Keywords: startup company, interest in work, young generation
50
I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Perusahaan startup menjadi salah satu pilihan bagi generasi muda untuk bekerja yang
dimana memberikan pengaruh besar terhadap minat kerja generasi muda. Oleh sebab
itu, dipandang penting untuk melakukan sebuah penelitian guna menemukan jawaban
yang sebenarnya atas hal-hal yang terjadi tersebut. Dari penelitian inilah yang
digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliable yang nantinya menghasilkan
kesimpulan yang benar dan tepat.
I.2. Rumusan Masalah
1. Apa ciri khas dari perusahaan Startup?
2. Apakah generasi muda memiliki minat bekerja untuk menjadi karyawan di
perusahaan startup?
3. Apa yang menjadi daya tarik generasi muda untuk bekerja di perusahaan startup?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui ciri khas yang dimiliki oleh Perusahaan StartUp sebagai daya
tarik/minat kerja bagi generasi muda.
1.4 Tujuan Penelitian
Dalam menyelesaikan penelitian ini, jenis penelitian yang dilakukan adalah dengan
penelitian deskriptif. Jenis penelitian deskriptif merupakan suatu metode
penelitian yang menggambarkan karakteristik populasi atau fenomena yang sedang
diteliti. Sehingga fokus utamanya adalah menjelaskan objek penelitiannya. Sehingga
menjawab apa peristiwa atau apa fenomena yang terjadi.
51
II. LANDASAN TEORI
2.1. Perusahaan Startup
Kata startup berasal dari bahasa Inggris yang artinya “Tindakan” atau “proses
memulai sebuah organisasi”. Meski dalam masyarakat umum kata startup diartikan
sebagai rintisan suatu usaha. Rintisan berarti perusahaan tersebut “baru lahir” dan baru
akan berkembang. Menurut ahli David McClure (dalam buku Konsep Pengembangan
Kewirausahaan Di Indonesia, 2017), startup adalah perusahaan yang mampu
menemukan bagaimana cara menjual produk/jasanya, memproduksinya serta
menentukan target konsumennya. Tetapi kini perusahaan startup dikaitkan dengan
teknologi. Hal itu dikarenakan banyak orang yang tertarik dengan internet alias online,
dalam membangun bisnis online memilik banyak kelebihan, diantaranya mencakup
pasar yang luas dan tidak memerlukan jarak dan waktu.
2.2. Pengertian Minat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat adalah kecendurungan hati
yang tinggi terhadap sesuatu. Atau bisa disebut dengan keinginan. Menurut minat
adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa
aktivitas. Seseorang yang berminat pada suatu aktivitas tersebut secara konsisten
dengan rasa senang. Dengan kata lain minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa
ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas. Tumbuhnya rasa minat dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor diantaranya adanya dorongan dan juga sosial.
2.3. Pengertian Kerja
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) kerja diartikan sebagai
kegiatan untuk melakukan sesuatu yang dilakukan atau diperbuat dan sesuatu yang
dilakukan untuk mencari nafkah, mata pencarian.
Menurut Wjs. Poerwadarminta (2002) “kerja adalah melakukan sesuatu”,
52
sedangkan menurut Taliziduhu Ndraha (1991), “kerja adalah proses penciptaan atau
pembentukan nilai baru pada suatu unit sumber daya, pengubahan atau penambahan
nilai pada suatu unit alat pemenuhan kebutuhan yang ada”.
Berdasarkan beberapa penegrtian, penulis dapat menyimpulkan bahwa kerja
merupakan kegiatan yang melakukan sesuatu untuk mendapatkan upah.
2. 4. Pengertian Generasi Muda
Sebutan yang sering kita dengar pemuda sebagai generasi penerus bangsa.
Generasi muda merupakan generasi yang memiliki kemampuan, semangat tinggi, dan
wawasan yang lebih luas untuk membanggakan dan memajukan negara.
Namun dalam rangka untuk pelaksanaan suatu program pembinaan bahwa "Generasi
Muda" ialah bagian suatu generasi yang berusia 0–30 tahun. Terlihat dari generasi
sekarang yang perkembangannya bersama teknologi yang semakin maju.
III. PEMBAHASAN
Perusahaan startup merupakan perusahaan rintisan yang sedang dalam
fase pengembangan dan penelitian untuk terus menemukan pasar dan mengembangkan
produk. Saat ini istilah startup ditujukan untuk perusahaan berbasis teknologi yang
menyediakan produk dan jasa tertentu. Seiring dengan perkembangan teknologi yang
semakin canggih, sehingga perusahaan startup juga membutuhkan tenaga kerja yang
paham akan teknologi, perkembangan teknologi yang ada saat ini sangat dikuasai oleh
generasi muda. Kini perusahaan startup menjadi salah satu daya tarik bagi generasi
muda untuk menambah pengetahuan, pengalaman serta dapat bekerja sebagai
karyawan, berdasarkan penelitian yang kami lakukan, berikut kami sajikan data hasil
temuan:
53
1. Usia
Menurut data diatas perusahaan startup memiliki jangkauan luas yang menjadi
minat tinggi dikalangan anak muda dengan range usia 17-21 tahun atau 68,1%/ 111
responden dari 163 responden. kemudian pada urutan kedua 22-25 tahun atau
24,5%/40 responden dari 163 responden, yang paling rendah 26-30 tahun atau
7,4%/12 responden dari 163 responden, dan pada usia ini umumnya mereka sudah
mendapatkan perkerjaan yang relatif mapan atau tetap.Dari data tersebut kami
membuat suatu kesimpulan bahwa generasi muda mempunyai minat tinggi
terhadap perusahaan startup.
2. Status
54
Peminat perusahaan startup berdasarkan data tersebut secara berurutan dari data
yang paling besar menunjukkan kelompok mahasiswa sebesar 54,6% atau 89 responden,
berasal dari lulusan perguruan tinggi sebesar 14,1% atau 23 responden, 12,9% atau 21
responden berasal dari lulusan SMA/SMK, 13,5% atau 22 responden berasal dari
kalangan karyawan dan ada beberapa profesi seperti PNS 1 responden , supervisor
operasional 1 responden, koordinator sales 1 responden, wirausaha 1 responden,
freelance 1responden, masih sekolah 2 responden dan barista 1 responden. Sesuai
dengan data yang ada, bahwa peminat untuk bekerja di perusahaan startup dengan posisi
tertinggi pada sektor/kalangan mahasiswa. Yang dimana pada kalangan ini sudah melek
dengan teknologi yang ada dan memiliki karakter idealisme tinggi. Sehingga sesuai
untuk bekerja di perusahaan startup.
Berikut hasil data penelitian berdasarkan indikator-indikator:
3. Perusahaan startup memiliki jam kerja yang fleksible.
Hasil data menunjukkan 69,3% atau 113 responden setuju, menjawab sangat setuju
14,1% atau 23 responden, 12,3% atau 20 responden kurang setuju, 4,3% atau 7
responden tidak setuju. Salah satu kelebihan dari kerja di startup yaitu waktu bekerja
yang lebih fleksibel sehingga anak muda bisa merasa lebih bebas dan tidak terlalu
dikekang dengan aturan jam kerja. Seperti dilihat dari karakteristik anak muda
sekarang yang tidak suka terlalu terikat dengan aturan-aturan jam kerja pada biasanya.
55
Dari situlah mereka masih punya waktu untuk bisa eksplor diri ke hal-hal baru.
4. Perusahaan startup memberikan lingkungan kerja yang menarik dan nyaman, seperti
fasilitas olahraga, pantry snack, dan fasilitas medis.
Hasil data menunjukkan 65% atau 106 responden setuju, 25,8% atau 42 responden
sangat setuju, 4,3% atau 7 responden kurang setuju, 1,8% atau 3 responden, 0,6%
atau 1 responden sangat tidak setuju. Perusahaan startup menyediakan lingkungan
kerja yang nyaman, fasilitas memadai, kekinian. Sehingga anak muda tidak merasa
penat atau bosan saat berada di lingkungan kerja, selain itu juga dengan ada nya
lingkungan kerja ini anak muda merasa didukung untuk bisa lebih kreatif dan tidak
terbebani dengan aturan yang menghambat jiwa kreatifitas mereka.
5. Karyawan di perusahaan startup fleksible dalam berpenampilan, seperti
berpenampilan casual.
56
Perusahaan startup memiliki fleksibilitas dalam berpakaian, sehingga anak muda bisa
menyalurkan ekspresi gaya berpakaian mereka dalam lingkungan kerja, karena anak
muda cenderung mengikuti perkembangan fashion yang ada saat ini. Ini terbukti
dengan temuan data lapangan sebagai berikut: 65% atau 106 responden setuju dan
29,4% atau 48 respoden sangat setuju, 4,3% atau 7 responden kurang setuju, 1,2%
atau 2 responden tidak setuju.
6. Perusahaan startup mengapresiasi karyawan yang memiliki skill kreativitas dan
inovasi.
Skill kreativitas dan inovasi generasi muda itu diikuti dengan teknologi yang
semakin berkembang, dan itu juga yang dibutuhkan oleh perusahaan startup
sekarangan ini yang juga harus melek terhadap teknologi. Bagaimana perusahaan
startup ini agar bisa maju dan melek teknologi salah satunya adalah mengapresiasi
karyawan yang memiliki skill dengan mutu yang tinggi. Dan berdasarkan data hal itu
dapat kami buktikan yaitu : 63,2% atau 103 responden setuju, 31,9% atau 52
responden sangat setuju, 4,9% atau 8 rsponden kurang setuju.
57
7. Praktek langsung ilmu bisnis untuk diterapkan dalam mengambangkan usaha sendiri.
Dengan bekerja di startup akan memiliki punya pengetahuan yang bertambah,
membangun networking, pemikiran baru untuk punya usaha sendiri. Berdampak
UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) menjadi berkembang, tumbuh dan maju,
sehingga kesenjangan ekonomi menjadi turun dan tingkat penggangguran semakin
rendah. Pernyataan kami ini didukung oleh hasil data yang menunjukan 67,7% atau
110 responden setuju dan 23,3% atau 38 responden sangat setuju, 8,6% atau 14
responden kurang setuju, 0,6% atau 1 responden tidak setuju.
8. Kualitas kerja menentukan besarnya pendapatan karyawan.
Perusahaan startup memiliki keberanian dalam membayar karyawannya yang
memiliki kualitas terhadap kemajuan perusahaannya, tidak heran kualitas kerja
diperusaahan startup saat berpengaruh dalam menentukan pendapatan/gaji
karyawan. Ini juga bisa menjadi faktor kenapa banyak anak muda yang ingin
58
bekerja diperusahaan startup. Berdasarkan temuan data terkait kualitas kerja
menentukan besarnya pendapatan karyawan menunjukkan 52,1% atau 85
responden setuju dan 31,9% atau 52 responden sangat setuju.
IV. PENUTUP
4.1. Simpulan
Perusahaan startup merupakan perusahaan rintisan yang berbasis
teknologi, dalam makalah penelitian “Pengaruh Perusahaan Startup Terhadap
Minat Kerja Generasi Muda” dengan mengumpulkan sebanyak 163 responden,
kami dapat simpulkan minat kerja di perusahaan startup sangat tinggi dan cukup
tertarik di generasi muda, selain itu juga memiliki ciri khas tersendiri yang tidak
dimiliki oleh perusahaan lain sehingga menjadi daya tarik bagi generasi muda
untuk dapat bekerja di perusahaan startup.
Tabel Respon Terbesar Atas 6 Indikator dari 163 Responden
No. Indikator Respon Setuju
Prosentase Jumlah Responden
1. Perusahaan startup memiliki jam kerja
yang fleksibel. 69,3 % 113
2. Perusahaan startup memberikan 65 % 106
ingkungan kerja yang menarik dan
nyaman, seperti fasilitas olahraga, 65 % 106
pantry snack, dan fasilitas medis. 63,2 % 103
67,7 % 110
3. Karyawan di perusahaan startup 52,1 % 85
fleksibel dalam berpenampilan, seperti
berpenampilan casual.
4. Perusahaan starup mengapresiasi
karyawan yang memiliki skill
kreativitas dan inovasi.
5 Praktek langsung ilmu bisnis untuk
diterapkan dalam mengembangkan
usaha sendiri.
6. Kualitas kerja menentukan besarnya
pendapatan karyawan.
59
4. 2. Saran
Dengan berdirinya perusahaan startup, setiap generasi muda dapat
mengembangkan pengetahuan dan kemampuan dalam membangun usaha
sendiri, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan minimnya
tingkat pengangguran.
Tabel Respon Terbesar Atas 6 Indikator dari 163 Responden
SETUJU
NO. INDIKATOR PRESENTASE JUMLAH
RESPONDEN
1. Perusahaan startup memiliki jam kerja
yang fleksibel. 69,3 % 113
2. Perusahaan startup memberikan 65 % 106
ingkungan kerja yang menarik dan
nyaman, seperti fasilitas olahraga, 65 % 106
pantry snack, dan fasilitas medis. 63,2 % 103
67,7 % 110
3. Karyawan di perusahaan startup 52,1 % 85
fleksibel dalam berpenampilan, seperti
berpenampilan casual.
4. Perusahaan starup mengapresiasi
karyawan yang memiliki skill
kreativitas dan inovasi.
5 Praktek langsung ilmu bisnis untuk
diterapkan dalam mengembangkan
usaha sendiri.
6. Kualitas kerja menentukan besarnya
pendapatan karyawan.
60
DAFTAR PUSTAKA
Sari, Dita Kartika, Murdani, Andika Drajat, 28 Agustus 2018, Start Up Guide Book:
Panduan Memulai Startup Bisnis yang Harus Kamu Tahu, Anak Hebat Indonesia
https://www.ukmindonesia.id/baca-artikel/379, 10 Desember 2021
http://eprints.umpo.ac.id/4971/3/BAB%20II.pdf, 12 Desember 2021
http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/330/2/BAB%20II.pdf, 13 Desember 2021
http://etheses.iainkediri.ac.id/124/3/7.%20BAB%20II.pdf, 15 Desember 2021
https://kbbi.web.id/minat, 15 Desember 2021
61
PENGARUH WFH (WORK FROM HOME) TERHADAP KINERJA
KARYAWAN PADA MASA PANDEMI COVID 19
Tim Peneliti :
Dosen dan Mahasiswa Asekma Don Bosco
RR.Martha Septina,S.S.,M.Pd. ( Dosen ) – [email protected]
Angela Natasha Putri ,S.2019.3394 ( Mahasiswa ) – [email protected]
Monica Dwi Astuti ,S.2019.3388 ( Mahasiswa ) – [email protected]
Sylvia Oktaviani , S.2019.3390 ( Mahasiswa ) – [email protected]
ABSTRACT
The Covid-19 pandemic has brought significant changes in various aspects of life,
including the work system structure. The work system alteration is one of the
government’s policies in the attempt to prevent Covid-19 is working from home or
also known as WFH. This policy, which was implemented suddenly, presented
challenges for an employee in its implementation. This new work culture is certain to
have positive and negative impacts both on institutions and for employees which in
turn has an impact on productivity. By looking at the positive, negative, and
productivity impacts, will provide an idea of whether or not the work from home
system should be continued after the pandemic is over. This paper is limited to a
literature review that requires follow-up research to obtain data that can be used as
a basis for formulating recommendations for work system in the future.
Keyword : Work from Home, Positif Impact, Negative Impact, Employee Productivity
62
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Melihat Peraturan Pemerintah RI Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan
Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 pada pasal 4,
hal-hal yang dibatasi dan harus dipatuhi yaitu:
1) Pembatasan Sosial Berskala Besar paling sedikit meliputi:
a) Meliburkan sekolah dan tempat kerja;
b) Pembatasan kegiatan keagamaan; dan/atau
c) Pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.
2) Pembatasan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b harus
tetap mempertimbangkan kebutuhan pendidikan, produktivitas kerja, dan ibadah
penduduk.
3) Pembatasan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan dengan
memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk.”
Perubahan sistem kerja yang menjadi salah satu kebijakan pemerintah
dalam upaya pencegahan virus corona yaitu bekerja dari rumah atau biasa dikenal
dengan WFH (Work From Home) dengan sistem kerja jarak jauh. Kebijakan yang
diberlakukan secara mendadak ini tentu saja menjadi tantangan untuk setiap pekerja
dalam melaksanakan pekerjaannya. Hal ini membutuhkan kesiapan sumber daya dan
infrastruktur untuk mendukung efetivitas dalam melaksanakan kebijakan ini. Dengan
terciptanya budaya baru ini bagi para pekerja dipastikan memberikan dampak positif
dan negative baik untuk instasi maupun bagi pegawai atau karyawan.
WFH (Work From Home) merupakan strategi yang diterapkan banyak
63
organisasi semenjak terjadinya penyebaran COVID-19. Namun WFH (Work From
Home) dipandang memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus diterima baik oleh
organisasi maupun karyawannya. Mungkasa (2020) memaparkan kelebihan dan
kekurangan tersebut. Kelebihan bagi karyawan yang pertama adalah adanya
keseimbangan antara kehidupan kerja dan keluarga, yang kedua adalah dapat
mengurangi waktu perjalanan ke tempat kerja serta penghematan bahan bakar dan
yang ketiga adalah mengendalikan jadwal atau jam kerja serta dapat memilih suasana
kerja sendiri. Kelebihan bagi organisasi diantaranya mendorong semangat kerja serta
mengurangi kemalasan dan ketidakhadiran dan memperkuat image perusahaan
sebagai tempat bekerja yang family friendly. Kekurangan bagi karyawan adalah
terbiasa dengan suasana kantor yang konvensional menyebabkan kesulitan
berkoordinasi dengan rekan kerja dan tidak adanya batasan yang tidak jelas antara
kantor dan rumah. Sementara bagi organisasi, beberapa kekurangan yang muncul
diantaranya manajer sulit untuk menyesuaikan diri terutama bagi manajer yang
cenderung kurang percaya kepada bawahan, manajer sulit mengatur jadwal meeting
untuk pekerjaan yang membutuhkan intensitas teamwork tinggi dan beberapa
karyawan tidak dapat bekerja tanpa pengawasan.
Fleksibilitas, kepercayaan, keseimbangan hidup antara pekerjaan, sosial, dan
kerugian yang harus diterima seperti kurangnya kepercayaan, biaya tambahan dan juga
multitasking karyawan yang berbeda gender tentunya merupakan fenomena yang
menarik untuk dikaji sehingga perkembangan konsep WFH (Work From Home)
menjadi lebih luas dan berkontribusi untuk meningkatkan produktivitas kerja sumber
daya manusia dalam organisasi.
Fleksibilitas juga dikaitkan dengan job stress yang jauh lebih rendah.
Dikatakan bahwa bekerja jarak jauh membantu menurunkan tingkat stres mereka.
64
Beberapa hal yang dapat menimbulkan stres seperti kemacetan di jalan raya, beban
kerja yang berat, masalah dengan rekan kerja, dan masalah lain yang sering ditemui di
kantor yang dapat menyebabkan rendahnya semangat kerja. Hal ini tidak akan ditemui
oleh karyawan selama bekerja di rumah. Namun lain halnya dengan respoin lain yang
mengatakan beberapa responden perempuan yang melakukan Work from Home,
terutama yang sudah berkeluarga dan memiliki anak menyatakan kesulitan dalam
membagi tugas rumah tangga dengan suami seperti mengurus anak-anak, memasak
dan tugas lainnya karena suami tidak bisa melakukan tugas dan rumah tangga tersebut.
Sehingga pada akhirnya mereka melakukan rangkap peran meski pada akhirnya
berdampak pada beban kerja dan menghasilkan stres kerja yang tinggi bagi mereka.
Oleh karena itu, dimasa pandemi COVID-19 ini dibutuhkan ukuran kualitas
kinerja yang baik, sehingga kita meneliti pengaruh WFH (Work From Home).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemikiran diatas, maka kami dalam penelitian kali ini merumuskan
pokok permasalahannya seperti:
1. Bagaimana hasil kerja karyawan selama WFH (Work From Home)?
2. Bagaimana pengawasan karyawan selama WFH (Work From Home)?
3. Aplikasi apa saja yang mendukung kinerja karyawan?
4. Apakah kinerja karyawan dapat diukur sesuai dengan harapan perusahaan?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui dan mengukur bagaimana kinerja karyawan yang dilakukan di
rumah dengan di kantor.
65
b. Mengetahui hambatan-hambatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan secara
cepat dan tepat.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat memberikan kontribusi terhadap
pemahaman akan seberapa pentingnya perubahan lingkungan, dari keadaan normal
sampai pada keadaan pandemic bagi para pekerja.
1.5 Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan teknik data primer, dengan cara menyebar angket
yang akan akan diisi oleh responden. Kemudian akan dikirim kembali kepada tim
peneliti melalui whatsapp untuk ditelaah guna mengambil kesimpulan dari
permasalahan ini.
1.6 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian data primer.
Data primer adalah data yang belum pernah dikumpulkan sebelumnya, dan
dikumpulkan semata-mata untuk tujuan penyelidikan. Data primer mengacu pada data
yang berasal dari peneliti untuk pertama kalinya. Data primer didapatkan dengan
melibatkan partisipasi aktif dari peneliti. Biasanya, data primer dikumpulkan melalui
kegiatan survei, observasi, eksperimen, kuesioner, wawancara pribadi dan media lain
yang digunakan untuk memperoleh data lapangan.
1.7 Sasaran dan Target Populasi
Dengan menggunakan metode penelitian data primer, maka populasi dari
penelitian ini adalah orang-orang yang sedang atau sudah pernah merasakan WFH
(Work From Home). Dasar pemilihan populasi dalam rangka mendapatkan data primer
dari para pekerja adalah untuk mengetahui pengaruh WFH (Work From Home)
66
terhadap kinerja karyawan pada masa pandemi COVID-19.
II. LANDASAN TEORI
2.2 Work From Home (WFH)
Menurut (Ashal,2020) WFH ialah suatu peristilahan bekerja dari jarak jauh
atau (RemoteeWorking), lebih tepatnya melaksankan kerja atau tugas yang umumnya
dijalankan dikantor dari rumah. Sehingga pegawai tidaklah harus datang menuju
kantor secara tatap muka bersama pekerja yang lain. WFH ialah istilah yang sekarang
ini kerap dipergunakan pada masa pandemi ini dikarenakan kebanyakan pegawai
menjalankan pekerjaannya dirumah. WFH ialah kependekan yang umum
dipergunakan saat berkomunikasi di era digital dalam rangka memberi informasi
bahwa seseorang bekerja dari rumah dalam suatu periode sementara alih-alih secara
teratur melaporkan ketempat fisik bisniss (“dictionary.com”n.d). Menurutf (Merriam
Webster,n.d) WFH ialah beban kerja atau pekerjaan dilakukan di rumah individu sera
tidak dilakukan di Gedung kantor. WFH ialah beban kerja atau pekerjaan yang
awalnya dilakukan dikantor, kemudian dilakukan di rumah oleh karyawan yang
bekerja dalam rangka melakukan tanggung jawab yang sudah menjadi milikinya yang
diberikan oleh perusahaan pada suatu masa. Menurut (Mustajab, dkk.,2020) Perubahan
dalam organisasi ketika memberikan tanggung jawab dan tugas terhadap pekerja
melalui cara melakuakan pelarangan bagi pekerja untuk bekerjaadi kantor dan
berkumpul di ruangan, sehingga pekerja harus melakukan pekerjaan dari rumah.
Work From Home atau yang dikenal WFH merupakan kebijakan yang
ditetapkan pemerintah sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19. Kebijakan ini
mengharuskan para karyawan bekerja dari rumahnya masing-masing. Bekerja dari
rumah atau WFH sebagai budaya baru yang memberikan dampak positif dan dampak
67
negatif bagi kinerja karyawan menjadi alasan mengapa penelitian ini harus dilakukan.
Penelitian ini ditujukan sebagai bentuk upaya kontribusi dalam mengetahui apakah
sistem work from home ini efektif atau tidak jika dilaksanakan dalam jangka waktu
panjang.
2.2.1 Sejarah Work From Home (WFH)
Konsep dasar bekerja dari rumah sudah terjadi pada abad pertengahan.
Sebuah perusahaan fast company memiliki rumah Panjang dihuni para petani dan
peternak. Rumah ini di desain sedemikian rupa untuk memproduksi berbagai jenis
tekstil dan susu, penjagalan dan penyamakan. Bahkan para pedagang berjualan
dirumah ini (Reynolds, 2017). Perkembangan bekerja dari rumah mulai berubah
seiring perkembangan pengetahuan dan teknologi. Antara tahun 1981 dan 1998, telah
terjadi peningkatan kualitas Work From Home (WFH) terutama di Inggris yang
memungkinkan pemberian keseimbangan antara pekerjaan dan komitmen hidup bagi
mereka yang melakukannya (Brysol et al., 2000; DTI 2001a, 2002, Duncan, 2000).
Bahkan pemerintah Inggris pernah merevisi Undang-undang Ketenagakerjaan tahun
1999 sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara
pekerjaan dengan komitmen kehidupan lain dari seseorang dengan cara bekerja dari
rumah (DTI, 2000a). Dalam rentang waktu tersebut warga Inggris yang bekerja dari
rumah mengalami kenaikan signifikan dari yang semula 345.920 menjadi 680.612
(Fealsted & Jewson, 2000). Hal ini juga didukung oleh hasil survei angkatan kerja
Inggris pada tahun 2001 dimana sebagian besar waktu orang Inggris bekerja dari
rumah (Survey, 2001).
Menurut Crosbie dan Moore (2004), bekerja dari rumah atau Work From
Home (WFH) berarti pekerjaan berbayar yang dilakukan terutama dari rumah
68
(minimal 20 jam per minggu). Work From Home (WFH) akan memberikan waktu
yagn fleksibel bagi pekerja untuk memberikan keseimbangan hidup bagi karyawan.
Disisi lain Work From Home (WFH) juga memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Psikolog Anak dan Keluarga, Surti (2020) menyebut bahwa bekerja dari rumah atau
konsep Work From Home (WFH) dinilai efektif untuk mencegah penyebaran COVID.
Namun, konsep tersebut menjadi sebuah tantangan bagi pekerja yang
memiliki anak di rumah, dan tidak memiliki alat yang menunjang seperti di kantor.
Menurut Surti, bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) ini menyenangkan
pada awalnya tetapi kebaruan ini juga meningkatkan stress. Sementara itu pakar Career
Development, Lumbantoruan (2020) menyatakan bekerja dari rumah atau Work From
Home (WFH) bisa meningkatkan produktivitas karena para pekerja tidak perlu
menghabiskan banyak waktu di jalan untuk berangkat maupun pulang dari tempat
kerja. Lumbantoruan juga mengatakan, pekerja perlu membagi waktunya antara
melakukan pekerjaan rumah dan mengerjakan tugasnya. Hal tersebut agar
produktivitasnya tidak menurun, serta pekerjaan rumah dan kantor tidak tercampur.
Selanjutnya, apabila komunikasi dengan atasan tetap terbangun saat bekerja dari
rumah maka pekerjaan akan selesai dengan baik. Atasan dan karyawan harus
mempunyai hubungan yang saling percaya agar pekerjaan berjalan dengan lancar.
Namun, kebijakan Work From Home (WFH) ini banyak menuai pro dan
kontra terutama bagi para pekerja. Work From Home (WFH) bagi sebagian bidang
pekerjaan memang belum bisa dilakukan, apalagi dari kesiapan perusahaan belum
tentu semua siap dengan sistem WFH (Work From Home) ini. Rekomendasinya bagi
para perusahaan dan bisnis bisa menggunakan beberapa aplikasi untuk menunjang
aktivitas Work From Home (WFH) agar mendapatkan hasil yang maksimal.
69
2.2.2 Work From Home (WFH) Selama Pandemi COVID-19
Pada situasi dunia saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah
mengumumkan tentang pandemi virus COVID-19 di seluruh dunia. Presiden
Indonesia, Joko Widodo dalam pidatonya mengintruksikan masyarakat Indonesia
untuk mengurangi kegiatan di luar rumah yang tidak penting. Termasuk menerapkan
sistem kerja Work From Home (WFH) dan sekolah serta kuliah secara online. Ini
merupakan langkah strategis yang diambil pemerintah untuk pencegahan wabah virus
corona yang semakin meluas di Indonesia saat ini. Instruksi ini khususnya untuk
Aparatur Sipil Negara, yagn telah ditindak lanjuti oleh Surat Edaran Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 19 Tahun 2020 tentang
Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Upaya Pencegahan
Penyebaran COVID -19 di Lingkungan Instansi Pemerintah. Yang isinya, ASN dapat
bekerja dirumah atau tempat tinggal, tetapi dipastikan ada dua level pejabat struktural
tertinggi yang bekerja di kantor.
Tujuan utama dikeluarkannya Surat Edaran tersebut adalah:
1. Mencegah dan meminimalisir penyebaran, serta mengurangi risiko COVID-19 di
lingkungan instansi pemerintah pada khususnya dan masyarakat luaspada
umumnya.
2. Memastikan pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing instansi pemerintah
dapat berjalan efektif untuk mencapai kinerja masing-masing unit organisasi pada
instansi pemerintah.
3. Memastikan pelaksanaan pelayanan publik di instansi pemerintah tetap berjalan
efektif.
70
III. PEMBAHASAN
Sesuai judul Penelitian yang Tim peneliti pilih yaitu Pengaruh WFH (Work From
Home) Terhadap Kinerja Karyawan Pada Masa Pandemi Covid-19 diperoleh data
bahwa karyawan pada masa pandemi Covid-19 dan melakukan WFH (Work From
Home) memiliki tingkat penyerapan kinerja kerja yang tidak sebesar kinerja kerja
pada saat WFO (Work From Office), lalu produktivitas kerja karyawan kurang begitu
memuaskan. Dari hasil angket penelitian yang disebarkan melalui Google Form ini
menunjukkan bahwa bekerja di rumah atau WFH (Work From Home) banyak
menimbulkan kerugian.
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam karya ilmiah ini menggunakan
data primer. Data primer yang didapat dari hasil pengisian formulir kuisioner
dalam google form diunduh dalam bentuk file exel untuk diolah. Selanjutnya
hasil pengolahan data kuesioner tersebut dijelaskan secara deskriptif dari
angka-angka statistik.
3.2 Target Responden
Target responden adalah 50 responden. Link angket dikirimkan melalui
Whatsapp, dengan waktu pengisian dari tanggal 8 – 14 November 2021. Dari
target 50 responden, tim peneliti mendapat respon dari 25 orang responden.
Karena jumlah responden mendapatkan 50% maka hasil survey ini dianggap
cukup mewakili.
3.3 Pengolahan Data
Pengolahan data menggunakan fasilitas yang ada pada fungsi Microsoft
Excel. Hasil pengolahan data disajikan dalam bentuk tabel dan dalam bentuk
71
grafis, yang meliputi elemen data, jumlah data, dan persentase. Untuk
mempermudah analisis, juga disajikan dalam bentuk cross table untuk beberapa
elemen data.
3.4 Data Responden
Data responden yang telah diolah telah disajikan dalam bentuk grafis.
Setiap grafis akan dijelaskan secara deskriptif.
1. Untuk menjawab masalah pertama, terkait aplikasi apa yang paling
mendukung pekerjaan anda selama WFH (Work From Home), dari Zoom,
Google Meet, E-Mail, Microsoft Team, WhatsApp, dan lainnya, dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar karyawan WFH (Work From Home)
menggunakan WhatsApp.
Aplikasi Yang Mendukung Selama WFH
ZOOM Google Meet Email
WhatsApp Microsoft Team Lainnya
Aplikasi yang Mendukung Selama WFH Gambar 1.1
2. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) terkadang mereka mengalami kendala terhadap sarana dan prasana
selama WFH (Work From Home).
72
Kendala Sarana dan Prasarana
Sangat Setuju Setuju Kadang-Kadang
Tidak Setuju Tidak Setuju
Kendala Sarana dan Prasarana Gambar 1.2
3. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa sarana dan prasarana yang diberikan oleh
perusahaan mendukung pekerjaan selama WFH (Work From Home).
Sarana dan Prasarana
Sangat Mendukung Mendukung
Tidak Begitu Mendukung Tidak Mendukung
Sama Sekali Tidak Mendukung
Sarana dan Prasarana Gambar 1.3
4. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa adanya tuntutan sebagai karyawan untuk meminta
sarana yang menunjang kinerja pada saat WFH (Work From Home).
73
Sarana Penunjang Kinerja
Banyak Ada
Kadang-Kadang Ada Tidak Ada
Sama Sekali Tidak Ada
Sarana Penunjang Kinerja Gambar 1.4
5. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa kadang-kadang merasa jenuh walaupun memiliki
banyak pekerjaan.
Mengalami Kejenuhan Saat Bekerja
Sangat Setuju Setuju Kadang-Kadang
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju
Mengalami Kejenuhan Saat Bekerja Gambar 1.5
74
6. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa mereka merasakan adanya perubahan terhadap
mental selama WFH (Work From Home).
Adanya Perubahan Mental
Sangat Setuju Setuju Kadang-Kadang
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju
Adanya Perubahaan Mental Gambar 1.6
7. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa mental seseorang itu sangat penting untuk
diperhatikan oleh perusahaan.
Pentingnya Kesehatan Mental
Sangat Penting Penting
Tidak Begitu Penting Tidak Penting
Sama Sekali Tidak Penting
Pentingnya Kesehatan Mental Gambar 1.7
8. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa mereka menemukan cara yang efektif dalam
75
mengatasi perubahan mental psikologi anda sebagai pekerja WFH (Work
From Home).
Menemukan Cara dalam Mengatasi
Perubahan Mental
Ya Mungkin Tidak
Cara dalam Mengatasi Perubahan Mental Gambar 1.8
9. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa kadang-kadang pengaruh dari lingkungan yang
membuat mereka kehilangan fokus kerja selama WFH (Work From
Home).
Pengaruh Lingkungan
Ada Kadang-Kadang Ada Tidak Ada
Pengaruh Lingkungan Gambar 1.9
76
10. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa pengaruh lingkungan tidak begitu berdampak
terhadap hasil kerja.
Dampak Lingkungan Terhadap Hasil Kerja
Sangat Berpengaruh Berpengaruh
Tidak Begitu Berpengaruh Sama Sekali Tidak Berpengaruh
Dampak Lingkungan Terhadap Hasil Kerja Gambar 1.10
11. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa hasil kerja anda saat WFH (Work From Home) tidak
begitu sempurna seperti saat WFO (Work From Office).
Hasil Kerja saat WFH
Sangat Sempurna Sempurna
Tidak Begitu Sempurna Tidak Sempurna
Sama Sekali Tidak Sempurna
Hasil Kerja Saat WFH Gambar 1.11
77
12. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa kadang-kadang ada kendala dalam mengukur hasil
kerja.
Kendala Hasil Kerja
Ada Kadang-Kadang Ada Tidak Ada
Kendala Hasil Kerja Gambar 1.12
13. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) memiliki faktor yang mempengaruhi hasil kerja. Dari Motivasi
Kerja, Budaya Kerja, Komitmen, Loyalitas, Sarana dan Prasarana,
Komunikasi, dan lainnya, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar
karyawan WFH (Work From Home) memiliki komunikasi sebagai faktor
yang paling mempengaruhi hasill kerja.
78
Faktor yang Mempengaruhi Hasil Kerja
Motivasi Kerja Budaya Kerja Komitmen
Loyalitas
Lainnya Sarana dan Prasarana Komunikasi
Faktor yang Mempengaruhi Hasil Kerja Gambar 1.13
14. Dari 25 responden yang sedang atau pernah menjalani WFH (Work From
Home) merasa bahwa faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi kinerja
sebagai karyawan pada saat WFH (Work From Home).
Faktor Sangat Mempengaruhi Kinerja
Sangat Setuju Setuju Kadang-Kadang
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju
Faktor Sangat Mempengaruhi Kinerja Gambar 1.14
79
IV. PENUTUP
4.1 Simpulan
Bekerja dari rumah atau WFH (Work From Home) sebagai sebuah konsep
flexible working tidak serta merta meningkatkan kinerja pegawai yang selanjutnya
dapat berdampak pada kinerja organisasi. Konsep kerja ini akan memberikan dampak
positif bagi pegawai dan bagi organisasi jika diterapkan pada individu yang tepat.
Faktor-faktor seperti jenis pekerjaan, lokasi tempat tinggal, status perkawinan bahkan
gender adalah hal yang menjadi pertimbangan penerapan WFH (Work From Home)
dari sisi individu pegawainya. Artinya, penerapan sistem WFH (Work From Home)
ini tidak dapat dipukul rata untuk seluruh pegawai.
Berbagai dampak positif dan dampak negatif pada kajian ini perlu
dikonfirmasi kembali dengan cara pengambilan data agar dapat memotret secara nyata
fenomena yang ada dan tidak lagi menimbulkan perdebatan karena adanya realita yang
berbeda. Hal lain yang mungkin masih menimbulkan pertanyaan adalah permasalahan
gender, dimana pegawai perempuan yang berstatus menikah dan memiliki anak
kemungkinan memiliki perbedaan produktivitas dengan pegawai perempuan yang
masih belum menikah. Dan juga pegawai laki-laki yang berstatus sebagai bapak serta
suami ikut mengambil peran dalam pekerjaan rumah tangga.
80
4.2 Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan maka tim peneliti memberikan saran-saran:
a. Diharapkan agar perusahaan lebih memastikan bahwa karyawan yang
melaksanakan WFH memiliki lingkungan kerja yang fleksibel, termasuk
diantaranta adalah koneksi internet dan perangkat elektronik yang mendukung
kegitan bekerja dari rumah. Selain fleksibilitas lingkungan kerja, berbagai aspek
lain juga harus diperhatikan seperti tingkat stress bekerja dari rumah, kedekatan
keluarga, kreativitas, tekanan diri dan lain sebagainya demi meningkatkan
produktivitas kerja.
b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk melakukan penelitian lanjutan
khsususnya di bidang kajian yang membahas tentang pengaruh Work From Home
(WFH) terhadap Kinerja Karyawan pada saat COVID-19.
c. Hasil penelitian yang masih banyak temuan yang bisa dijadikan bahan penelitian
selanjutnya. Melihat adanya hubungan antara setiap inidkator Work From Home
(WFH) terhadap Kinerja Karyawan seperti halnya berkurangnya stress kerja
dengan koefisienan waktu yang memiliki hubungan, lingkungan kerja fleksibel
dengan kreativitas dan produktivitas yang juga memiliki hubungan.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, K., (2012), “Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Agen PT
Jasaraharja Putera Cabanag Jakarta”, Skripsi, diakses dari
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20295702-S-Kartika%20Amalia.pdf (pada 25
Oktober 2021).
81
Retnani, B. D., (2016), “Pengaruh Displin, Stres, Motivasi, dan Kompensasi Terhadap
Kinerja Karyawan”, Skripsi, diakses dari
https://repository.usd.ac.id/6233/2/122214044_full.pdf (pada 27 Oktober 2021).
Simarmata, R. M. (2020). Pengaruh Work From Home terhadap Produktivitas Dosen
Politeknik Negeri Ambon. Jurnal Ekonomi, Sosial & Humaniora, 2(01), 73-82.
(pada 27 Oktober 2021).
Bick, A., Blandin, A., & Mertens, K. (2020). Work from home after the COVID19 Outbreak.
Federal Reserve Bank of Dallas. (pada 27 Oktober 2021).
Jenia Nur Soelistyoningrum (2020), “Pengaruh Efektivitas Work From Home Terhadap
Loyalitas dan Kinerja Karyawan Kantor Imigrasi Bitung”, Penelitian diakses dari
https://ibn.e-journal.id/index.php/ESENSI/article/download/216/192/ (pada 28
Oktober 2021).
Icha D. P., (2021), “Pengaruh Work From Home (WFH) Terhadap Kinerja Karyawan Pada
Saat Pandemi COVID-19” penelitian diakses dari
http://eprints.ums.ac.id/93296/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf (pada 7 November
2021).
82
“PENGARUH PENAMPILAN SEKRETARIS TERHADAP CITRA
PIMPINAN MENURUT PANDANGAN PROFESIONAL
MUDA DAN USIA PRODUKTIF”
Tim Peneliti :
Dosen dan Mahasiswa Asekma Don Bosco
M.V. Mieke Marini MMP.,S.Pd.,M.Hum ( Dosen ) – [email protected]
Gabriella Evelyn Setio ,S.2019. 3383 ( Mahasiswa ) – [email protected]
Jovanka Melodie Kezia,S.2019. 3385 ( Mahasiswa ) – [email protected]
Lidia Monic Paulina, S.2019. 3386 ( Mahasiswa ) – [email protected]
ABSTRACT
The purpose of this study was to determine whether the appearance of the secretary affects
the image of the leader from the point of view of young professionals and productive age.
The population in this study are all young professionals and people of productive age
according to WHO in the Jakarta area and have received a sample of 134 respondents.
Keywords: Appearance, Image, Secretary, Leader, Young Professional, Productive Age.
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kualifikasi sebagai tenaga kerja yang profesional di era saat ini memang
sudah jauh berkembang dari era sebelumnya. Dunia bisnis yang semakin hari semakin
ketat persaingannya, mengharuskan siapa saja yang bekerja suatu perusahaan untuk
memberikan pelayanan yang unggul pada setiap pelanggannya, serta untuk
83
membangun citra perusahaan yang baik terlebih terhadap citra pimpinan.
Keberadaan seorang sekretaris mempunyai peranan penting dalam menjalankan
kegiatan operasional dalam suatu organisasi. Seorang sekretaris dalam kedudukannya
sebagai orang terdekat dengan pimpinan diarahkan untuk mampu bertindak dan
berpenampilan dengan standar tertentu dalam rangka menjaga citra/image atasannya,
yang adalah pimpinan sebuah perusahaan / organisasi.
Oleh sebab itu, sekretaris dituntut untuk gesit, tangkas, kerja keras, tegar dalam
menghadapi rintangan, mampu bersikap dewasa, memiliki pengetahuan yang sangat
luas terutama yang terkait dengan tugas – tugas tersebut dan mengikuti perkembangan
yang ada agar sekretaris dapat menyesuaikan dengan lingkungan kerja serta lebih
efektif dan efisien dalam mendukung kelancaran tugas pimpinannya.
Untuk mendukung performanya, seorang sekretaris juga harus menjaga
penampilan. Umumnya, penampilan seseorang banyak dipengaruhi oleh faktor fisik,
misalnya kebersihan badan, cara berpakain, serta kesehatan. Selain itu agar tampiil
sempurna, seseorang harus memperhatikan cara berjalan, duduk, makan dan etika
lainnya. Bagi seorang sekretaris yang mementingkan penampilan maka harus berpikir
seribu kali untuk melakukan hal-hal yang merusak penampilan.
Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa seseorang dinilai kredibel/layak
disebut profesional 55% nya berasal dari penampilan, 38% dari wawasan, dan hanya
7% dari yang diucapkan. Dengan kata lain, teori ini menyatakan para profesional
(sekretaris) yang berpenampilan baik pasti adalah orang yang profesional dan
kompeten.
84
1.2 Rumusan Masalah
Seiring dengan perkembangan dunia bisnis sekarang ini, tim penulis sering
mendapati sosok sekretaris yang tidak terlalu memedulikan penampilannya saat
bekerja. Maka dalam penelitian ini tim penulis ingin mengetahui:
a. Apa style busana kerja yang diminati oleh seorang sekretaris era saat ini?
b. Apa pandangan seorang profesional muda terhadap penampilan sekretaris?
c. Apakah cara berpakaian seorang sekretaris era sekarang berpengaruh terhadap
citra pimpinan?
1.3 Tujuan Penelitian
Sebagai data observasi untuk mengetahui apakah penampilan sekretaris
berpengaruh terhadap Citra Pimpinan dari sudut pandang profesional muda dan usia
produktif menurut WHO di daerah Jakarta.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi Peneliti
Sebagai sumber pengetahuan serta menambah wawasan penting bagi peneliti
untuk mengetahui bagaimana penampilan seorang sekretaris saat ini apakah
sangat dinilai atau tidak dalam sudut pandang profesional muda dan usia
produktif.
b. Bagi Pembaca
Diharapkan penelitian ini dapat memberi masukan mengenai pentingnya
penampilan seorang sekretaris bagi citra pimpinan dalam pelaksanaan kegiatan
diperusahaan.
85
1.5 Metodologi Penelitian
Membuat kuisioner dengan menggunakan skala 4 dari Likert lalu dibuat
dalam bentuk google-form. Kuesioner ini kemudian disebar kepada para responden,
mulai dari teman-teman sekelas yang sudah bekerja, kakak alumni, keluarga, serta
relasi. Dari hasil kusioner tersebut tim penulis membuat tabel kesimpulan agar dapat
menjawab rumusan masalah yang ada.
II. LANDASAN TEORI
2.1 Sekretaris
2.1.1 Pengertian Sekretaris
Dalam beberapa buku terdapat beberapa pengertian sekretaris yang
dikemukakan oleh beberapa pengarang yaitu:
1. Istilah sekretaris berasal dari bahasa Latin, yaitu secretum yang artinya rahasia.
Dalam bahasa Prancis disebut dengan secretaire. Dalam bahasa Belanda disebut
dengan secretares. Sementara itu dalam bahasa Inggris disebut dengan secretary,
berasal dari kata secret yang berarti rahasia. Sesuai dengan asal katanya, sekretaris
merupakan orang yang harus bisa menyimpan rahasia seorang pimpinan (Nuraeni,
2008).
2. Sekretaris berarti orang yang pekerjaannya membantu kelancaran tugas pimpinan
instansi, terutama sehubungan dengan tulis-menulis, surat menyurat,menerima
tamu, menjawab telepon dan sebagainya. (Arifin & Mustakim, 2005)
3. Menurut Nurasih & Rahayu (2014) bahwa sekretaris dapat diartikan sebagai
seorang yang bisa dipercaya yang memiliki peran dalam membantu pimpinan
86
dalam menyelengarakan bagian-bagian kecil tugas pekerjaan pimpinan dan
memiliki kedudukan yang lebih bertanggung jawab.
4. Menurut Hartiti Hendrato dan Tulus (2004:4), Sekretaris adalah orang yang
membantu seseorang dalam hal ini adalah pimpinan dalam melaksanakan tugas
perkantoran.
5. Menurut Saiman(2002:24), sekretaris yaitu orang yang memiliki tugas mengenai
aktivitas tulis menulis, atau kegiatan catat-mencatat suatu pekerjaan baik itu untuk
perkantoran atau perusahaan.
6. Menurut The Liang Gie (2002:25), sekretaris ialah seorang petugas yang
pekerjaanya menyelenggarakan dalam urusan surat menyurat termasuk
menyiapkan, bagi penjabat penting pada suatu organisasi atau perusahaan.
7. Menurut Wursanto (2002:25), sekretaris adalah seorang pegawai yang bertugas
untuk dapat membantu pimpinan kantor dalam menyelesaikan pekerjaan
pekerjaan detail pimpinannya atau kepala.
8. Bratawidjaja (1996) mengartikan sekretaris adalah pembantu pimpinan untuk
menerima dikte, mengonsep surat atau korespondensi, menerima tamu,
memeriksa dan mengingatkan pimpinannya atas kewajibannya resmi dan janji-
janjinya dan melakukan banyak tugas lain yang ada hubungannya, untuk
meningkatkan efektifitas kerja pimpinan.
9. Menurut M. Braum dan Ramon (1992:3), sekretaris yaitu seorang pembantu yang
menerima pendiktean, menyiapkan dalam surat menyurat, menerima tamu-tamu,
memeriksa atau mengingatkan pimpinan mengenai kewajibannya yang sesuai atau
pada perjanjiannya, dan melakukan banyak kewajiban yang lainnya dalam upaya
meningkatkan efektifitas kerja pimpinan
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa seorang sekretaris
87
mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat, dan tugas tersebut harus
dikerjakan secara maksimal agar dapat membantu pekerjaan pimpinan secara
efektif dan efesien.
2.1.2 Jenis-Jenis Sekretaris
Seorang sekretaris harus mengetahui dengan jelas kedudukan dan
peran yang diembannya dalam suatu organaisasi. Terkait dengan hal tersebut,
Wursanto (Donni Juni Priansa, 2014:24-26) membedakan sekretaris menjadi:
1. Sekretaris Organisasi
2. Sekretaris Pribadi dan Sekretaris Pimpinan.
3. Sekretaris berdasarkan kemampuan dan pengalamannya.
4. Sekretaris berdasarkan spesialisasinya
Sekretaris organisasi disebut juga sebagai sekretaris instansi, sekretaris
perusahaan, atau business secretary. Seorang sekretaris organisasi disamping
menjalankan tugas atas perintah pimpinan, juga memiliki kedudukan sebagai
manajer yang mengelola suatu unit kerja dalam bidang kesekretariatan. Oleh
karena itu, seoarang sekretaris organisasi memiliki peran dan fungsi manajerial,
membuat perencanaan, melakukan pengorganisasian, membimbing dan
mengarahkan, mengontrol serta mengambil keputusan atas berbagai masalah
yang dihadapi dalam bidang pekerjaan sekretaris. Contoh sekretaris organisasi
adalah Sekretaris Jenderal, Seretaris Kabinet, Sekretaris Wilayah dan Sekretaris
Yayasan.
Sekretaris Pribadi dan Sekretaris Pimpinan. Diuraikan dalam bukunya
bahwa kedua jenis sekretaris ini berbeda satu dengan yang lain.
a) Sekretaris pribadi adalah seseorang yang mengerjakan pekerjaan tertentu
yang dibayar secara pribadi oleh orang memperkerjakannya.
88
b) Sekretaris pimpinan adalah seorang pembantu pimpinan yang bertugas
mengerjakan berbagai tugas perkantoran dalam rangka menunjang
pelaksanaan tugas pimpinan dengan baik dan cepat.
Sekretaris berdasarkan kemampuan dan pengalamannya dibedakan menjadi 2
yaitu :
a) Sekretaris Junior
Sekretaris Junior merupakan pegawai baru yang memiliki jabatan
kerja sebagai sekretaris. Pangkat dan kedudukannya masih rendah dan
sekretaris junior pun masih minim akan pengalaman dibidang
kesekretariatan. Tugas sekretaris junior misalnya korespondensi,
mengetik, steno, menerima dikte, dan sebagainya.
b) Sekretaris Senior
Sekretararis Senior adalah sekretaris yang memiliki masa kerja,
pengalaman kerja, serta keterampilan kerja yang mampu dibidang
kesekretarisan. Ia mampu bekerja secara mandiri dan tidak tergantung
kepada perintah pimpinan.
Sekretaris Senior tidak hanya mampu mengerjakan tugas yang
diberikan oleh pimpinan, ia juga mampu mengatasi berbagai masalah yang
dihadapi sehingga benar-benar mampu menunjukkan diri sebagai seorang
sekretaris yang profesional. Perlu diketahui bahwa seorang sekretaris
senior tidak semata-mata diukur dari usia yang lebih tua, namun atas
prestasi kerja yang telah dicapainya ketika mengemban tugas sebagai
sekretaris. Sekretaris yang memiliki pangkat dan kedudukan lebih tinggi
dibandingkan sekretaris Junior, memiliki berbagai macam kompetensi
sehingga dia dapat menangani tugas beserta segala macam
89
permasalahannya dengan cepat tanpa banyak mendapat bimbingan dari
pimpinannya.
Sekretaris berdasarkan Spesialisasinya adalah seorang sekretaris
yang khusus membidangi suatu bidang tertentu.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sekretaris
organisasi maupun sekretaris pribadi/pimpinan adalah seseorang yang
membantu pelaksanaan tugas atasan dalam melaksanakan tugas
perusahaan/instansi tersebut.
2.1.3 Peranan Sekretaris
Menurut Nuraeni (2008), pada dasarnya setiap sekretaris
mempunyai peran yang sama, yaitu membantu kelancaran pelaksanaan tugas
pimpinan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, sekretaris tidak hanya
berhubungan dengan pimpinannya saja, melainkan juga dengan klien
perusahaan, karyawan lain, bahkan juga dengan pekerjaan yang ditekuninya.
Seorang sekretaris juga berperan terhadap pimpinan dan terhadap
bawahan atau karyawan. Terhadap pimpinan, seorang sekretaris memiliki
peran sebagai berikut:
1. Sumber dan filter informasi bagi pimpinan dalam memenuhi fungsi, tugas
dan tanggung jawabnya.
2. Asisten atau tangan kanan pimpinan dalam mengatur aktivitas
perusahaan, dari urusan administrasi sampai urusan human relation.
3. Perantara bagi pihak-pihak luar yang ingin berhubungan dengan
pimpinan.
90
4. Sumber alternatif pemikiran bagi pimpinan dalam hal permunculan ide-
ide.
5. Secret keeper atau pemegang rahasisa pimpinan yang berkaitan dengan
perusahaan.
6. Sebagai mediator pimpinan dengan bawahan.
Sementara itu, terhadap bawahan atau karyawan, seorang sekretaris
memiliki peran sebagai berikut:
1. Membantu memberikan motivasi kepada karyawan lain.
2. Sebagai mediator antara bawahan dan pimpinan.
3. Membantu dan memfasilitasi bawahan ketika hendak bertemu
dengan pimpinan.
4. Memberikan rasa puas dan bangga kepada bawahan terhadap hasil
kerja mereka.
2.1.4 Sekretaris Profesional
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin
berkembang pada saat ini, maka menjadi sekretaris yang profesional merupakan
suatu tantangan sekaligus peluang yang baik bagi tenaga-tenaga sekretaris, karena
menjadi sekretaris bukanlah suatu hal mudah, tetapi harus dicapai dengan
kemampuan kapabilitas yang tinggi dan baik.
Menurut Rosidah (2000:12) sekretaris masa depan dituntut untuk dapat
berpikir kritis dan bertindak secara profesional. Untuk itu, beberapa persyaratan
yang harus dimiliki oleh sekretaris yang profesinal antara lain:
1. Syarat pengetahuan, meliputi:
91
1) pengetahuan tentang misi, visi, fungsi, tugas-tugas, struktur organisasi, dan
personil organisasi;
2) pengetahuan yang berhubungan dengan bidang tugasnya, pengetahuan bahasa
baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing jika diperlukan;
3) pengetahuan bidang administrasi dan manajerial.
2. Syarat keterampilan, artinya sekretaris di samping dituntut mempunyai
pengetahuan juga terampil menerapkan pengetahuannya untuk kepentingan
kerja. Keterampilan yang dituntut meliputi keterampilan berkomunikasi,
korespondensi, tata kearsipan, dan terampil dalam melakukan aktivitas kerja
kantor lainnya.
3. Syarat kepribadian, yang memegang peranan penting dalam menunjang kerja
bahkan untuk hal-hal tertentu prasyarat kepribadian lebih dominan
dibandingkan prasyarat lainnya. Kepribadian yang menarik adalah kepribadian
yang dinamis, dewasa, penuh peraya diri, terbuka, penuh rasa tanggung jawab,
loyalitas, sopan, dan jujur. Hal-hal lain yang menunjang pembentukan
kepribadian:
1) dalam penampilan: kebersihan pribadi, kerapihan pribadi, berbusana yang
serasi, penampilan yang menarik,
2) berbicara yang baik: intonasi dan volume suara yang enak didengar,
penyampaian yang sistematis;
3) sikap bisnis: setia, dapat dipercaya, ramah tamah dan penuh perhatian,
dapat bekerjasama dan menghargai waktu.
Sedangkan menurut Saiman (2002:26) syarat-syarat lain untuk menjadi
sekretaris profesional sebagai berikut :
92
1. Syarat kepribadian, yaitu sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang yang
menjadi sekretaris, seperti penyabar, simpatik, bijaksana, penampilan
baik, pandai bergaul, dapat dipercaya, memegang teguh rahasia, dan lain-
lain.
2. Syarat pengetahuan umum, yaitu memiliki pengetahuan tentang
perkembangan yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan
pekerjaan kesekretariatan seperti bidang sosial kemasyarakatan,
ekonomi, politik, dan hukum serta secara umum dalam rangka untuk
kelancaran pelaksanaan tugasnya. Hal ini penting karena seorang
sekretaris menghadapi banyak jenis pekerjaan sesuai dengan bidang yang
dilakukan oleh seorang pimpinan sehingga kurang mengikuti
perkembangan yang terjadi tentunya dapat mempengaruhi kelancaran
pekerjaannya.
3. Syarat pengetahuan khusus, yaitu pengetahuan tertentu yang sesuai
jabatan dan tugas sekretaris sesuai tempat dimana ia berkerja. Biasanya
syarat pengetahuan khusus ini harus ditempuh melalui pendidikan yang
sifatnya formal, seperti sekolah tentang manajemen kesekretarisan.
4. Syarat skill dan teknik kesekretariatan, kemampuan seorang sekretaris
yang langsung berhubungan dengan tugas kesekretarisannya, seperti
kemampuan mengetik, koresponden, stenograf, dan kearsipan.
5. Syarat praktik, yaitu kemampuan dalam melaksanakan tugas sehari-hari,
seperti menerima tamu, telepon, dan membuat agenda pertemuan
pimpinan.
2.2 Penampilan
93
2.2.1 Pengertian Penampilan
Menurut Nurul Hikmah (2015:1) penampilan adalah image Merupakan
representasi dari citra diri dan kepribadian seseorang. Cara berpakaian dan berdandan
seseorang juga merupakan cerminan kepribadian dan menjadi bagian dari pola
perilaku seseorang bisa dibilang, penampilan adalah satu bagian penting terkait
pembentukan citra profesional serta memberi rasa kepercayaan diri yang tinggi untuk
mengekspresikan kompetensi yang dimiliki.
Dalam blognya, Indah Soekotjo (2015) menulis tentang penampilan. Disitu
dijelaskan bahwa penampilan diri (grooming) merupakan hal yang sangat penting
dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang tentu saja ingin selalu tampil serasi dan
menarik agar disukai oleh orang lain. Penampilan menarik mencerminkan
kepribadian seseorang. Orang yang berpenampilan menarik akan dinilai sebagai
orang yang berkepribadian baik. Sebaliknya, orang yang kurang memperhatikan
penampilannya dinilai sebagai orang yang berkepribadian kurang menarik.
Penampilan yang menarik akan memberikan kesan yang positif bagi orang
lain. Oleh karena itu, penampilan diri perlu diperhatikan agar sedapat mungkin
selaras dengan nilai-nilai keindahan dan tata krama yang berlaku dalam kehidupan
masyarakat.Untuk itu terlebih dahulu anda mengetahui arti kata grooming, dari
pendapat para ahli yang dinyatakan di dalam bukunya masing-masing.
Di bawah ini terdapat arti kata grooming, yang dikutip antara lain:
1. Kata groom menurut Kamus Bahasa Inggris Indonesia, artinya mengurus,
merawat, rapi atau pelihara.
2. Secara harfiah, grooming artinya penampilan diri.
3. Grooming dalam penampilan prima adalah, penampilan diri tenaga pelayanan
pada waktu bekerja, memberikan pelayanan kepada kolega dan pelanggan.
94
4. Penampilan diri (grooming), sangat penting dalam kehidupan sehari-hari,
apalagi bagi yang bekerja sebagai tenaga pelayanan, seperti pegawai negeri,
pelayan toko, tenaga penjualan, kalangan eksekutif bisnis, dan lain-lain, mereka
tentu saja perlu berpenampilan serasi dan menarik.
5. Well groomed istilah Bahasa Inggris, yang digunakan untuk menggambarkan,
orang berbusana resmi dengan baik menarik. Busana yang baik dan resmi itu
berarti penampilan yang rapi, sopan, luwes, serasi dan menarik (personal
apperance) sesuai dengan etika dan tata krama pergaulan.
6. Pengertian grooming, secara singkat adalah, penampilan seseorang, dari ujung
rambut sampai dengan ujung kaki dimulai dari kebersihan tubuh dan kerapihan
pribadi, cara berpakaian sampai dengan tutur kata dan sopan santun.
7. Kecantikan atau ketampanan, bukan hanya dilihat dari luar saja, tapi juga harus
diiringi dari dalam (inner-beauty). Oleh karena itu, perilaku juga harus
diperhatikan dalam berpenampilan.
Kesimpulan pengertian Grooming adalah penampilan diri seseorang yang
terjaga dan selalu rapi secara keseluruhan, dimulai dari ujung rambut sampai ujung
kaki. Atau tindakan dimana seseorang akan bersih atau rapih tubuh mereka dalam
memperhatikan beberapa cara, seperti cara berjalan , berpakaian. yaitu bertindak
sebagai undangan seperti itu, menunjukan orang lain bahwa kita itu bersih dan rapih.
Penampilan adalah image Merupakan representasi dari citra diri dan
kepribadian seseorang. Cara berpakaian dan berdandan seseorang juga merupakan
cerminan kepribadian dan menjadi bagian dari pola perilaku seseorang bisa dibilang,
penampilan adalah satu bagian penting terkait pembentukan citra profesional serta
memberi rasa kepercayaan diri yang tinggi untuk mengekspresikan kompetensi yang
dimiliki.
95
Artinya, orang akan menilai seseorang pertama kali dari penampilannya, baru
pola pemikiran, perilaku, dan lainnya. Dari penampilan, orang bisa menilai
bagaimana gaya hidup seseorang. Itulah kenapa, penampilan menjadi hal yang
penting dan harus diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik di dunia kerja
maupun dalam konteks sosial yang lain.
2.2.2 Standar Penampilan Sekretaris
Dalam blog Arumadel (2018) dituliskan bahwa sekretaris untuk dapat
melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, dan dapat menampilkan diri secara
terampil dan menarik maka perlu memperhatikan hal-hal berikut ini :
1. Tata cara berdandan
Cara berdandan seorang sekretaris tidak perlu menor dan glamour
agar terlihat menarik. Berdandanlah secukupnya dan disesuaikan dengan waktu
dan posisi dimana kita berada. Janganlah memakai aksesoris atau make-up
yang berlebihan karena akan terlihat norak dan akan menimbulkan kesan yang
negatif bagi orang lain dan akan diaanggap orang yang tidak mengetahui tata
krama berdandan.
2. Tata Rambut
Tata rambut bagi sekretaris jangan sampai mengganggu saat dia
bekerja, misalnya terlalu panjang, terurai tanpa diikat. Adalah tidak sopan jika
sekretaris harus menyisir dan membenahi rambut di ruangan kerja, terlebih lagi
jika sedang ada tamu di ruangan tersebut. sebenarnya bagi sekretaris model
rambut harus diperhatikan, disamping kebersihan, rambut juga harus di
pelihara, model gondrong atau crew cut juga tidak disarankan untuk seorang
96