sekretaris.
3. Tata cara berpakaian
Berpenampilan baik dan menarik tidak dilihat dari pakaiannya yang
bagus ataupun yang harganya mahal namun dilihat dari kesesuaian pakaiannya
atau cara menyeimbangkannya dengan cara bersolek atau menggunakan
aksesorisnya. Dan yang paling utama agar terlihat menarik dalam
berpenampilan yaitu menggunakan pakaian yang bersih dan rapi. Pakaian yang
sederhanapun apabila rapi, bersih dan sopan maka akan terlihat menarik.
4. Gaya atau perilaku
Selama sekretaris duduk ditempat kerjaannya, menerima tamu atau
berbicara dengan tamu harus menjaga jangan sampai terlihat letih, lesu, kurang
percaya diri atau memberi kesan bermalas malasan. Hindari gaya pose yang
memberikan kesan sensual , demikian juga ketika berjalan seharusnya tidak
menunduk atau sambil menggigit jari dan tersipu malu. Gaya ini biasanya
dilakukan oleh sekretaris yang kurang percaya diri.
Penampilan yang ideal dari seorang sekretaris diorientasikan pada
kepribadian diri dari diri nya. Tampil dengan rapi,bersih dan segar,cantik
bukan merupakan syarat mutlak menjadi seorang sekretaris, namun yang
paling penting adalah inner beauty sekretaris itu sendiri.Dimanapun sekretaris
itu berada ia harus mampu menjaga citra perusahaan dengan tidak terlibat
tindak kriminal atau tindak pidana yang lain.
Ciri-ciri dari seorang sekretaris yang ideal adalah sebagai berikut:
1. Baik dan bertanggung jawab
2. Menampilkan citra perusahaan
3. Berpenampilan menarik
97
4. Memahami wewenang dan tanggung jawab dengan baik
5. Mampu dan pandai menjaga rahasia perusahaan
6. Menguasai teknologi
7. Cekatan,terampil,cermat,dan pintar
8. Memahami karakter atasan
9. Memiliki etika yang baik
10. Pandai berbicara di depan publik
11. Mampu menjaga kondisi fisik dan psikhis dengan baik
Berbusana yang baik berarti penampilan diri (personal appearance) secara
keseluruhan mulai dari dandanan gaya rambut, wajah, badan, kaki dan segala
kelengkapannya. Hal yang harus diperhatikan seorang sekretaris pada saat berbusana :
• Waktu
Umumnya jam kerja seorang sekretaris berkisar antara pukul 08.00 sampai
pukul 16.00. Oleh karena itu, pengaturan dan pemilihan busana hendaknya
sesuai untuk dipakai pagi, siang sampai sore hari. Misalnya rok dan blus
ditambah jas atau blazer.
• Keadaan Jasmani
Seorang sekretaris perlu mawas diri di dalam memilih, menentukan, dan
menggunakan pakaian dengan memperhatikan keadaan ciri-ciri jasmaninya,
seperti tinggi, pendek, gemuk, kurus, kulit sawo matang, kuning langsat, dan
sebagainya. Selain itu juga memperhatikan usia.
• Iklim
Dikarenakan negara kita mempunyai iklim panas dengan musim hujan dan
kemarau, maka seorang sekretaris harus dapat menyesuaikan diri dalam
98
berbusana dengan keadaan iklim dan cuaca.
• Bahan, warna, motif pakaian
Walaupun mode pakaian berubah-ubah, hendaklah pakaian yang Anda
gunakan cocok untuk kantor tempat anda bekerja dan pekerjan yang anda
jalankan. Salah satu tuntutan profesi sekretaris untuk selalu bekerja cepat,
lebih baik diantisipasi dengan pakaian yang praktis dan sedikit sportif.
Pilihlah pakaian yang pantas dan membuat diri anda percaya diri, tentu saja
menarik, yang cocok dengan bentuk dan tinggi tubuh, serta warna kulit Anda.
Pakaian tidak harus selalu branded dari produk-produk yang ternama, akan
tetapi hendaknya terlihat berkualitas. Yang penting, Sebagai seorang
sekretaris perlu memperhatikan pengaturan perpanduan warna, mempunyai
cita rasa (taste) yang baik agar dengan pakaian tersebut Anda dapat mengubah
penampilan menjadi lebih baik dan terlihat elegan serta dapat menambah rasa
percaya diri Anda.
Atur dan rencanakan lemari pakaian Anda sedemikian rupa sehingga tidak
membeli pakaian yang cepat lusuh, cepat out of fashion (ketinggalan zaman),
membosankan, sulit dikombinasikan atau tidak kurang cocok dengan banyak
situasi. Belilah pakaian yang mudah dikombinasikan dan usahakan dengan
model pakaian atau busana yang kekinian, sehingga dengan jumlah terbatas
anda akan memiliki variasi pakaian cukup banyak.
Bahan yang umum dipakai diantaranya sutra, katun, wool, rayon dan
nylon. Pengaruh warna dapat dikategorikan seperti :
1. Warna tenang (kuning muda, nila, abu-abu, hijau muda, biru muda)
2. Warna cerah (biru laut, hijau jamrut, merah bata, kuning emas, jingga)
Lebih jauh lagi Sulistiyani (2002:33) menulis, dengan penampilan
menarik, orang dengan mudah memberikan kesan positif terlebih dahulu.
Untuk mencapai kepribadian yang sempurna bukan hanya urusan fisik dan
tampil menarik saja, tetapi juga perlu memiliki intelektualitas, keterampilan
99
dan sikap yang baik. Dengan memiliki hal tersebut seseorang tidak dipandang
remeh. Sekretaris yang bijaksana juga mampu menempatkan etiket
penampilan sesuai dengan kondisi dan waktunya.
Penampilan yang harus diperhatikan karena dianggap penting untuk
kebutuhan fisik ataupun penampilan menarik. Saat menilai seseorang, yang
paling terutama dinilai adalah melalui penglihatan, lalu baru yang lain-
lainnya. Apa yang dilihat, itulah yang pertama kali menjadi penilaian
terbesar. Cara berpenampilan akan sangat mendukung karir yang dimiliki,
oleh sebab itu perlu untuk menjaga penampilan yang dimiliki. Menurut La
Rose (2003:40), sekretaris haruslah menggunakan prinsip tampil sempurna
dan tetap mejaga integritas serta meningkatkan kinerja dalamdiri sebagai
seorang sekretaris.
Sikap positif adalah kunci kesuksesan di tempat kerja manapun yang
akan memudahkan dalam melewati masa kesusahan saat membawa diri
dengan kepercayaan diri dan sikap positif seperti mencoba berlatih bicara
dengan diri sendiri selftalk. Itulah sebabnya sekretaris harus mempunyai
kemampuan semakin hari semakin bijak, lebih semangat, lebih sehat, serta
lebih meningkatkan kinerja. Sekretaris merupakan salah satu profesi yang
mengutamakan penampilan.
Memang kecantikan bukanlah syarat mutlak, akan tetapi sekretaris
harus tahu bagaimana cara harus menampilkan diri, seperti : bagaimana cara
duduk, berbicara, berjalan, berdiri, berpakaian dan merias diri. Respons
positif atau negatif tergantung dari image yang disampaikan, misalanya
melalui cara berpakaian, sikap dan perbuatan, sopan santun dan lain-lain.
Relasi bisnis pimpinan bahkan mendapat kesan pertama akan perusahaan dari
100
diri sekretarisnya. Sekretaris yang sukses sangat memperhatikan penampilan.
Ada beberapa hal tentang penampilan yang perlu diketahui seorang sekretaris
Rosidah dan Ambar (2005:64) antara lain:
1. Pakaian. Walaupun mode pakaian berubah-ubah, hendaklah pakaian
yang anda gunakan cocok untuk kantor tempat bekerja dan sesuai dengan
pekerjaan yang dijalankan. Salah satu tuntutan profesi sekretaris untuk
selalu bekerja cepat, lebih baik diantisipasi dengan pakaian yang praktis
dan sedikit sportif.Pilihlah pakaian yang pantas dan membuat percaya
diri, menarik, yang cocok dengan bentuk dan tinggi tubuh, serta warna
kulit. Pakaian tidak harus selalu dari produk-produk yang ternama, akan
tetapi hendaknya terlihat berkualitas. Yang terpenting, sekretaris perlu
memperhatikan pengaturan perpanduan warna, mempunyai cita rasa taste
yang baik agar dengan pakaian tersebut dapat mengubah penampilan
menjadi lebih baik. Sekretaris disarankan untuk tidak berseksi-seksi
dengan rok yang terlalu pendek. Intinya seorang sekretaris harus mampu
menyesuaikan gaya berpakaiannya di kantor.
2. Make Up. Make-Up bukan hanya rias wajah, melainkan mencakup
perawatan kulit muka agar bersih dan berseri-seri. Penggunaan bahan
make-up yang cocok merupakan perawatan dasar wajah. Merias wajah
harus dilakukan sewajar mungkin naturaly sesuai dengan jabatan dan ciri
pembawaan seorang sekretaris. Agar jangan berdandan terlalu
berlebihan, namun juga tidak melupakan riasan sehingga wajah terlihat
sangat pucat. Sekretaris wajib mengetahui cara merawat dan menata rias
wajah secara tepat dan benar.
101
3. Kulit. Kulit juga harus bersih dan bebas penyakit. Jika kulit wajah dan
tubuh sehat, penampilan akan terlihat segar dan sempurna walaupun
tanpa make up. Kulit yang bersih juga menghindari anda dari bau badan
yang menyengat.
4. Rambut. Rambut harus selalu dalam keadaan bersih dan tertata rapi
dengan model yang sederhana. Rambut yang panjang membutuhkan
perawatan ekstra, tetapi bila cocok dengan rambut panjang, jangan terlalu
ikut-ikutan mode pendek yang sedang trend saat ini. Namun, jangan
sampai rambut yang panjang mengganggu saat melakukan pekerjaan.
Sesuaikan model rambut dengan raut muka dan gunakan model rambut
yang bisa mencerminkan rasa percaya diri dan keprofesionalan sebagai
seorang sekretaris
5. Tas Sekretaris yang mengikuti mode akan memperhatikan apakah tas
yang akan dipakai keesokan harinya sesuai dengan pakaian yang akan di
pakai. Sebaiknya sekretaris memiliki lebih dari satu tas dalam aneka
warna, besar dan kecil untuk aneka kesempatan, bila tidak, tas hitam
merupakan pilihan tepat untuk seluruh koleksi pakaian sekretaris. Seperti
halnya model pakaian, pilihlah model tas yang konservatif, tidak terlalu
banyak pernik sehingga cocok dikombinasikan dengan pakaian.
6. Sepatu Lebih baik tidak memakai sepatu sandal atau sepatu yang tidak
berhak. Sepatu yang bertumit tinggi lebih baik di pandang dan membuat
figur tubuh lebih tegap sewaktu berjalan. Perencanaan pemakaian sepatu
juga perlu dilakukan bagi seorang sekretaris. Apakah sepatu yang akan
dipakai masih dalam keadaan baik, solnya, atau kulitnya. Apakah telah
102
disemir dan telah sesuai warnanya dengan pakaian yang akan dipakai.
Jangan melepas sepatu ketika bekerja, apalagi berjalan ke meja lain.
7. Perhiasan Sekretaris tidak diharuskan memakai semua perhiasan yang
dimilikinya, hanya secukupnya saja, yang wajar dan tidak perlu berharga
mahal. Selain jam tangan, anting, atau gelang merupakan perhiasan yang
sudah selayaknya dimiliki. Tidak hanya penampilan luar yang harus
diperhatikan, tetapi juga penampilan dalam sikap tubuh diri sekretaris.
Dalam blognya, Kanaka, Training, Consulting & Outbond (2021)
memberikan tips terkait standar penampilan sekretaris, di antaranya :
1. Dalam berpenampilan, seorang sekretaris harus memenuhi tiga syarat
mutlak yaitu sederhana, serasi dan sopan.
2. Mengenakan pakaian yang bersih, rapi dan tidak berbau.
3. Berpenampilan dengan menyesuaikan kepribadian Anda. Kenyamanan
dalam berpakaian sangat berperan dalam meningkatkan kepercayaan
diri Anda.
4. Menggunakan pakaian dengan menyesuaikan dengan waktu, acara, dan
tempat acara. Misalnya : kaos sebaiknya tidak dipakai dalam suasana
formal seperti kantor, seminar, pertemuan bisnis resmi, seminar,
perkawinan dan sebagainya.
5. Mengenakan pakaian yang sesuai dengan ukuran tubuh Anda. Pada
dasarnya bentuk tubuh manusia digolongkan menjadi 5 (lima) yaitu
normal atau ideal, gemuk pendek, kurus pendek, tinggi gemuk,
dan tinggi kurus.
6. Kenali kelebihan dan kekurangan tubuh Anda. Tak perlu khawatir
dengan bentuk tubuh, karena bentuk tubuh yang kurang sempurna dapat
103
ditutupi dengan mengenakan busana yang potongan, model dan
warnanya sesuai untuk tubuh Anda.
Beri kesan baik dari dalam diri. Artinya kesan baik yaitu kesan yang
meliputi tutur kata, penampilan, gaya berbicara, sikap dan sopan santun
yang berhubungan dengan profesi sebagai seorang sekretaris yang
profesional. Dalam meniti karir juga perlu menjaga setiap kepercayaan
yang telah diberikan oleh pimpinan atau atasan. Saat ini profesi
sekretaris dianggap tinggi dan penting, karena berhadapan langsung
dengan inti dari suatu perusahaan.
Sekretaris yang berintelektual tinggi juga haruslah di barengi dengan
etika pada saat bekerja. Etika merupakan azas akhlak dan moral tentang
baik atau buruknya perilaku seseorang yang bertujuan agar orang tahu
norma, tata krama yang berlaku dalam masyarakat. Maka dari itu,
sekretaris haruslah mampu memperhatikan secara detail semua hal
yang berkaitan dengan kinerja dan profesi yang dimilikinya.
Intinya, jadilah seorang sekretaris yang profesioanal dalam
menjalankan tugas dan tanggungjawab, sertai dengan memperhatikan
beberapa hal penting seperti dalam penampilan, sikap, tanggungjawab,
dan tujukkan kinerja yang baik untuk mencapai tingkat yang terbaik
dalam pekerjaan di dalam kantor.
2.3 Citra Pimpinan
Dalam tulisannya, Pandu (2021) menulis bahwa citra diri merupakan catatan
tentang perilaku asli seseorang di mata masyarakat. Serpihan serpihan catatan
tersebut meliputi seluruh aspek kehidupan, mulai tentang prilaku, budi
pekerti, akhlak, sikap dan lain sebaginya. Catatan tersebut tidak mudah
104
dihapus atau dilupakan begitu saja. Sebab, catatan itu tidak ditulis di atas
kertas, melainkan tertanam di dalam hati. Semua catatan tersebut terkumpul
dan berubah menjadi penilaian khusus tentang citra diri seseorang yang
dimaksud.
Menurut Sako Hidayatullah (2021), seiring dengan perkembangan zaman,
kita bisa melihat bahwa hal yang dianggap menaikkan citra diri juga berubah.
Dulu seseorang dihargai karena memiliki kelebihan yang bersifat fisik.
Namun pada zaman modern seperti sekarang ini, penghargaan terkait citra
diri itu sudah berubah. Bukan lagi masalah fisik, keperkasaan dan kesaktian
semata melainkan kecerdasan, karakter dan akhlak yang dimiliki. Walaupun
kekuatan fisik masih diperlukan tetapi tidak memiliki arti apa-apa, manakala
tidak dibarengi dengan tingkat kecerdasan yang tinggi. Bahkan akhir-akhir
ini, kecerdasanpun harus disempurnakan oleh akhlak yang terpuji.
Citra bagi sebuah organisasi merupakan tujuan utama. Citra adalah kesan
yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Citra yang baik akan
menghasilkan dampak positif yang berkesinambungan bagi seluruh produk
atau pelayanan jasa yang dihasilkan. Dan citra diseimbangkan dengan
penampilan karena penampilan bertugas untuk menciptakan kesan pertama
siapa diri anda yang akan mempengaruhi proses komunikasi selanjutnya.
Dilihat dari peranan seorang sekretaris dimensi sekretaris untuk citra seorang
pimpinan, antara lain sekretaris dapat menjadi: sekretaris sebagai pintu gerbang,
sekretaris sebagai 'Ibu Rumah Tangga' perusahaan, dan sekretaris sebagai humas.
Maka dari itu seorang sekretaris dijadikan cerminan atau citra dari pimpinan yang
105
diharapkan sekretaris dapat berpenampilan yang baik, rapih, sopan, juga enak untuk
pandang. Karena penampilan sekertaris sangat berpengaruh besar terhadap citra
pimpinan disuatu perusahaan, yang mana ini pastinya juga akan menambah nilai plus
untuk sekertaris itu sendiri dan juga untuk pimpinannya.
2.4 Profesional Muda
2.4.1 Pengertian Profesional
Profesional artinya ahli dalam bidangnya. Jika seorang manajer mengaku
sebagai seorang yang profesional maka ia harus mampu menunjukkan bahwa dia ahli
dalam bidangnya. Harus mampu menunjukkan kualitas yang tinggi dalam
pekerjaanya. Berbicara mengenai profesionalisme mencerminkan sikap seseorang
terhadap profesinya. Secara sederhana, profesionalisme yang diartikan perilaku, cara,
dan kualitas yang menjadi ciri suatu profesi. “Seseorang dikatakan profesional apabila
pekerjaannya memiliki ciri standar teknis atau etika suatu profesi” (Oerip dan Uetomo,
2012: 264-265).
Husnul Abdi (2021) menulis bahwa profesional adalah istilah yang
bersangkutan dengan profesi atau pekerjaan. Seseorang yang bekerja dengan
profesional berarti ia melakukan pekerjaannya dengan benar dan sesuai etika dan
sikap-sikap profesional.
Profesional juga mengacu kepada suatu hal yang memerlukan kepandaian
khusus untuk menjalankannya. Selain profesional, kamu mungkin perlu memahami
makna dari kata yang berkaitan, seperti profesi, profesionalitas, hingga
profesionalisme.
Sebuah profesi, tentunya seseorang dituntut untuk menjadi profesionalisme
di dalam bidangnya. Profesionalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
106
mutu, kualitas, dan tindak-tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang
ahli di bidangnya, atau professional.
Pendapat Sinamo yang dikutip oleh Sritomo Wignjosoebroto (1999) dalam
seminar “Perspektif Pembangunan Daya Saing Global Tenaga Kerja Profesional”
mengemukakan bahwa karakteristik seorang professional adalah sebagai berikut:
1. Sikap selalu memberi yang terbaik
2. Orientasi memuaskan orang lain
3. Sikap kerja penuh antusiasme dan vitalis
4. Budaya belajar sepanjang hayat
5. Sikap pengabdian pada nilainilai profesi
6. Hubungan cinta dengan profesinya
7. Sikap melayani
8. Kompetensi tinggi berorientasi kesempurnaan
Kategori profesionalisme tentunya tidak akan dicapai apabila tidak ada kerja keras dari
individu tersebut.
2.4.2 Profesional Muda
Profesionalisme anak muda merupakan contoh anak muda yang dapat dijadikan
panutan zaman kini, dimana mereka sudah memiliki karir yang matang serta
profesionalisme yang tinggi. Profesionalisme juga lekat disandingkan dengan anak
muda yang memiliki karir yang sukses. (Sritomo Wignjosoebroto, 1999).
Anneahira menulis, bahwa untuk menjadi profesional tidak harus selalu usia senior
(tua); orang muda bisa menjadi profesional dengan syarat harus memiliki integritas.
Selanjutnya, Rahardian Pratama (2015) menuliskan bahwa orang muda disebut
sebagai profesional muda jika memiliki karakteristik kemampuan sebagai berikut:
107
1. Manajemen Waktu: mampu mengatur waktu dengan baik.
2. Smart Office Attire: mampu menjaga penampilan saat bekerja.
3. Terampil mengorganisir: selalu mempersiapkan diri sebelum melakukan sesuatu.
4. Memiliki soft-skill: keterampilan insani dalam berinteraksi dengan orang lain.
5. Komunikasi: membiasakan komunikasi yang terbuka dan konstruktif.
6. Sikap positif: tetap tenang walau dalam situasi yang buruk.
7. Perilaku etis: jujur, berintegritas.
8. Fokus: memiliki tujuan yang ingin diraih, baik individu maupun oleh organisasi.
9. Handal dan akuntabel: bertanggung jawab atas tugas dan dapat dipercaya untuk
menyelesaikan tugas/proyek yang penting.
2.5 Usia Produktif
Usia yang masih dalam masa produktif biasanya mempunyai tingkat
produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan tenaga kerja yang sudah berusia tua
sehingga fisik yang dimiliki menjadi lemah dan terbatas (Aprilyanti, 2017). Tenaga
kerja adalah penduduk dengan batas umur minimal 10 tahun tanpa batas maksimal.
Dengan demikian, tenaga kerja di Indonesia yang dimaksudkan adalah penduduk yang
berumur 10 tahun atau lebih, sedangkan yang berumur di bawah 10 tahun sebagai batas
minimum. Ini berdasarkan kenyataan bahwa dalam umur tersebut sudah banyak
penduduk yang berumur muda yang sudah bekerja dan mencari pekerjaan
(Simanjuntak, 2001).
Usia dari tenaga kerja adalah usia produktif bagi setiap individu. Usia bagi
tenaga kerja berada diantara 20 hingga 40 tahun, usia ini dianggap sangat produktif
bagi tenaga kerja karena apabila usia dibawah 20 tahun rata-rata individu masih belum
memiliki kematangan skill yang cukup selain itu juga masih dalam proses pendidikan.
108
Sedangkan pada usia diatas 40 tahun mulai terjadi penurunan kemampuan fisik bagi
individu (Priyono dan Yasin, 2016). Tenaga kerja (manpower) adalah penduduk dalam
usia kerja berusia 15 tahun - 64 tahun atau jumlah seluruh penduduk dalam satu Negara
yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga kerja
mereka dan jika mau berpartisipasi dalam kegiatan tersebut (Arisandi, 2018).
Menurut Yoris Sebastian yang dilansir dari (Realise Insider) kelompok usia
produktif saat ini telah menyentuh angka 40 persen. Kelompok usia produktif sendiri
rata-rata berusia sekitar 15-35 tahun. Masih menurut Yoris, jumlah kelompok tersebut
akan terus bertahan ke depannya. Bahkan, di tahun 2020 nanti, jumlah kelompok usia
mudah bisa melonjak hingga 50-60 persen.
Bertambahnya jumlah usia produktif turut menambah jumlah tenaga kerja di
negara ini. Bahkan, bila jumlahnya terus meningkat, bukan tidak mungkin jika tenaga
kerja di negara ini akan didominasi sepenuhnya oleh kelompok usia produktif.
Bila dikelola dengan benar, tenaga kerja yang berasal dari kelompok ini bisa
membantu meningkatkan tingkat produktivitas negeri ini. Pasalnya, tenaga kerja usia
produktif biasanya punya kelebihan baik dari segi stamina, fisik, serta tingkat
kecerdasan dan kreativitas. Untuk itulah, sebaiknya pemerintah, perusahaan, serta
generasi di atas kelompok ini harus bisa mengelola dan memberdayakan mereka
dengan sebaik-baiknya.
III. PEMBAHASAN
1.1 Target Responden
Target responden penelitian ini berjumlah 100 responden. Link angket
dikirimkan melalui WhatsApp. Dengan waktu pengisian mulai dari tanggal 04 – 10
Januari 2022.
109
Dari target responden yang telah ditentukan, peneliti mendapatkan respon
sebanyak 134 responden. Karena jumlah responden yang masuk sudah sangat
memenuhi dari banyaknya responden yang diharapkan, maka hasil survey ini ditutup
dan dinyatakan sudah mewakili.
1.2 Pengolahan Data
Pengolahan data penelitian menggunakan fasilitas dari Microsoft Excel. Hasil
dari pengolahan data tersebut disajikan dalam bentuk grafik yang meliputi: elemen
data, jumlah data, dan presentase.
1.3 Data Responden
Dari data responden yang telah diolah, maka telah disajikan dalam bentuk
grafik, setiap grafik akan dijelaskan secara jelas dan apa adanya.
1) Data usia
a. 15 – 20 tahun : 38 atau 28% dari data responden
b. 20 – 64 tahun : 96 atau 72% dari data responden
DATA USIA
15 - 20
tahun
28%
20 - 64
tahun
72%
Dari data ini terlihat sebaran usia responden yang didominasi oleh usia
produktif (20 – 64 tahun). Terdapat responden yang berada di usia 15 – 20
tahun mengindikasikan bahwa ada dunia usaha yang mempekerjakan karyawan
di rentang usia tersebut.
110
2) Perkembangan dunia fashion berkembang seturut perubahan dan perkembangan
era.
• Sangat Setuju : 96 atau 72% dari data responden
• Setuju : 38 atau 28% dari data responden
SEKERTARIS BERPENAMPILAN SESUAI
PERKEMBANGAN ZAMAN
TS STS
6% 1%
SS
48%
S
45%
Dari jawaban responden terlihat, bahwa mayoritas responden setuju
fashion/model pakaian berkembang seturut perubahan era.
3) Fashion untuk pekerja (perempuan) sekarang lebih variatif
• Sangat Setuju : 90 atau 67% dari data responden
• Setuju : 40 atau 30% dari data responden
• Tidak Setuju : 3 atau 2% dari data responden
• Sangat Tidak Setuju : 1 atau 1% dari data responden
FASHION UNTUK PEKERJA
PEREMPUAN
TSSTS
2%1%
S
30%
SS
67%
111
Dari data ini kita terlihat bahwa mayoritas responden setuju jika
fashion untuk Perempuan saat ini lebih variatif, banyak pilihan.
4) Sekretaris harus berpenampilan sesuai perkembangan zaman.
• Sangat Setuju : 65 atau 48% dari data responden
• Setuju : 60 atau 45% dari data responden
• Tidak Setuju : 8 atau 6% dari data responden
• Sangat Tidak Setuju : 1 atau 1% dari dara responden
PERKEMBANGAN DUNIA
FASHION
S
28%
SS
72%
Dari data yang dperoleh tampak bahwa mayoritas responden setuju
bila Sekretaris harus berpenampilan sesuai perkembangan zaman.
4) Sekretaris harus berpenampilan modis sesuai perannya.
• Sangat Setuju : 61 atau 46% dari data responden
• Setuju : 55 atau 41% dari data responden
• Tidak Setuju : 15 atau 11% dari data responden
• Sangat Tidak Setuju : 3 atau 2% dari data responden
112
SEKERTARIS HARUS BERPENAMPILAN MODIS
SESUAI PERANNYA
TS STS
11% 2%
SS
46%
S
41%
Mayoritas responden sebesar 87% setuju jika sekretaris harus
berpenampilan modis sesuai perannya.
5) Sekretaris yang berpenampilan modis lebih disukai rekan kerja di
kantor.
• Sangat Setuju : 53 atau 39% dari data responden
• Setuju : 55 atau 41% dari data responden
• Tidak Setuju : 25 atau 19% dari data responden
• Sangat Tidak Setuju : 1 atau 1% dari data responden
SEKERTARIS YANG BERPENAMPILAN MODIS
DISUKAI REKAN KERJA DI KANTOR
STS SS
TS 1% 39%
19%
S
41%
6) Busana dengan paduan celana panjang lebih dipilih untuk dipakai oleh
Sekretaris.
• Sangat Setuju : 45 atatu 33% dari data responden
• Setuju : 80 atau 60% dari data responden
113
• Tidak Setuju : 8 atau 6% dari data responden
• Sangat Tidak Setuju : 1 atau 1% dari data responden
BUSANA DENGAN PADUAN CELANA PANJANG LEBIH
DIPILIH UNTUK DIPAKAI OLEH SEKRETARIS
TS STS
6% 1%
SS
33%
S
60%
Data menunjukkan bahwa sebagian besar responden (93%) menyukai
padu padan busana dengan celana panjang.
7) Busana dengan paduan rok lebih dipilih untuk dipakai oleh Sekretaris
• Sangat Setuju : 35 atau 26% dari data responden
• Setuju : 57 atau 43% dari data responden
• Tidak Setuju : 40 atau 30% dari data responden
• Sangat Tidak Setuju : 2 atau 1% dari data responden
BUSANA DENGAN PADUAN ROK LEBIH DIPILIH
UNTUK DIPAKAI OLEH SEKRETARIS
STS
1% SS
TS 26%
30%
S
43%
114
Selanjutnya dari pertanyaan ke-7 didapat data bahwa sebagian besar
responden (69%) setuju jika sekretaris berbusana dengan paduan
rok.
31% responden tidak setuju jika sekretaris berbusana dengan paduan
rok.
8) Sekretaris harus menjaga Citra Pimpinan.
• Sangat Setuju : 65 atau 48% dari data responden
• Setuju : 64 atau 48% dari data responden
• Tidak Setuju : 4 atau 3% dari data responden
• Sangat Tidak Setuju : 1 atau 1% dari data responden
SEKERTARIS HARUS MENJAGA CITRA
PIMPINAN
TS STS
3% 1%
SS
48%
S
48%
Dari data ini terlihat bahwa hampir semua responden (96%) setuju jika
sekretaris harus menjaga citra pimpinannya.
9) Busana kerja Sekretaris menyesuaikan karakter Pimpinannya:
• Sangat Setuju : 37 atau 28% dari data responden
• Setuju : 63 atau 47% dari data responden
• Tidak Setuju : 31 atau 23% dari data responden
• Sangat Tidak Setuju : 3 atau 2% dari data responden
115
BUSANA KERJA SEKERTARIS MENYESUAIKAN
KARAKTER PIMPINANNYA
STS SS
2% 28%
TS
23%
S
47%
Dari data yang diperoleh sebanyak 75% responden setuju jika busana sekretaris
menyesuaikan dengan karakter pimpinannya, dan 25% lainnya tidak setuju jika
harus menyesuaikan dengan karakter pimpinannya.
10) Busana kerja Sekretaris mempengaruhi Citra Pimpinannya.
• Sangat Setuju : 45 atau 34% dari data responden
• Setuju : 85 atau 63% dari data responden
• Tidak Setuju : 4 atau 3% dari data responden
BUSANA KERJA SEKERTARIS
MEMPENGARUHI CITRA PIMPINANNYA
TS STS
3% 0%
SS
34%
S
63%
116
Dari total responden sebanyak 134 orang, 97% setuju jika busana kerja sekretaris
mempengaruhi citra pimpinannya.
IV PENUTUP
4.1 Simpulan
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa para profesional muda
khususnya dan usia produktif pada umumnya, berpandangan yang sama yaitu
penampilan sekretaris mempengaruhi citra pimpinannya.
Lebih jauh lagi tim penulis juga mendapatkan fakta bahwa busana sekretaris
sekarang lebih modern, tidak melulu konsertvatif seperti kondisi dunia kerja beberapa
dekade lalu. Responden menyukai sekretaris yang update dengan perkembangan
fashion, karena penampilan seorang sekretaris menjadi salah satu poin yang
mendukung citra positif dari pimpinannya.
Walaupun di dunia bisnis era 4.0 atau 5.0 lebih memaksimalkan penggunaan
teknologi, yang serba cepat dan dinamis, namun etika berpakaian, terutama bagi
profesi sekretaris, tetap memiliki standar tertentu dan berlaku universal.
DAFTAR PUSTAKA
Aisy, Rohadatul, SELF-CONCEPT OF YOUNG PROFESSIONALISM (Case Study: 5
Young Professionalists in Pekanbaru City), JOM FISIP Vol. 6: Edisi II Juli –
Desember 2019
https://www.dosenpendidikan.co.id/sekretaris-adalah/ (Diposting pada 17 Oktober 2021)
https://www.scribd.com/doc/282888929/Penampilan-Adalah-Image (Diposting pada 27
September 2015)
https://panduhidayatullah.com/citra-diri-seorang-pemimpin/ (Diposting pada 16 April 2021)
http://e-journal.uajy.ac.id/256/2/1KOM03381.pdf
https://ediltresia151799261.wordpress.com/2018/05/18/penampilan-sekretaris-yang-profesional/
117
(Diposting pada 18 Mei 2018)
https://www.indikatornews.com/mode/pr-62576283/sejarah-perkembangan-fashion-dari-masa-ke-
masa (Diposting pada 05 Nov 2020)
https://duniapendidikan.co.id/apa-itu-fashion/ (Diposting pada 25 Desember 2021)
https://www.seputarpengetahuan.co.id/2020/01/pengertian-sekretaris.html
https://panduhidayatullah.com/citra-diri-seorang-pemimpin/ (Diposting pada 16 April 2021)
https://text-id.123dok.com/document/6zk6rgpyx-standard-penampilan-sekretaris-pengertian-
sekretaris.html
https://www.pelatihan-sdm.net/etika-berpenampilan-dalam-bekerja-bagi-sekretaris/ (diambil pada
18 Januari 2022)
http://arumadel.blogspot.com/2018/05/tata-cara-berpakaian-sekretaris.html (diposting pada 13
Mei 2018)
https://hot.liputan6.com/read/4679433/profesional-adalah-istilah-yang-bersangkutan-dengan-
profesi-berikut-penjelasannya
https://www.kompasiana.com/rahardianprata/555481a3b67e617918ba5462/menjadi-profesional-
muda
118
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
PEDOMAN PENULISAN NASKAH
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
1. Naskah merupakan tulisan yang bersifat ilmiah baik dari dosen, mahasiswa,
pegawaiASEKMA Don Bosco di bidang Sekretaris.
2. Naskah merupakan hasil penelitian lapangan, studi kasus, dan studi
kepustakaan yangbersifat objektif, sistematis, analitis dan deskriptif.
3. Naskah harus asli dan belum pernah dipublikasikan melalui media lainnya.
4. Kata atau istilah asing yang belum diubah menjadi kata Indonesia atau belum
menjadi istilah teknis diketik dengan huruf miring (italic).
5. Naskah diketik dalam Microsoft Word huruf Times New Roman 12, jarak baris
2 spasi,jumlah halaman seluruhnya 14-20 lembar ukuran A4, dengan margin
kiri dan bawah 3 cm, margin kanan dan atas 2.5 cm dan dikirim ke alamat
redaksi.
6. Sistematika terdiri dari : Judul, Nama Penulis, Instansi, Alamat Email,
ABSTRAK (jikamakalah ditulis dalam Bahasa Indonesia maka abstrak ditulis
dalam Bahasa Inggris dan demikian sebaliknya), PENDAHULUAN (latar
belakang, permasalahan, tujuan, manfaat, dan metodologi), PEMBAHASAN,
PENUTUP (kesimpulan dan saran), dan DAFTAR PUSTAKA.
7. ABSTRAK merupakan intisari (substansi) yang mencakup pendahuluan,
pendekatan, metode, hasil dan kesimpulan; ditulis dalam Bahasa
Inggris/Indonesia kurang lebih 100-200 kata, dalam 1 paragraf, dicetak miring
(italic).
8. Daftar Pustaka ditulis tanpa nomor, diurutkan secara alfabetis: Nama
pengarang (tanpa gelar). Judul (cetak miring). Penerbit. Kota. Tahun
Penerbitan.
Contoh: Ignatius Wursanto. Kompetensi Sekretaris Profesional. Andi.
Yogyakarta. 2004.
9. Isi naskah bukan tanggungjawab redaksi. Redaksi berhak memilih naskah dan
mengeditredaksionalnya tanpa mengubah arti.