Vol.12 No.1 JANUARI 2023 ISSN 2089-4198 ADB’S Secretary Jurnal Dunia Sekretari PENGARUH PENGEMBANGAN DIRI TERHADAP ATTITUDE KERJA KARYAWAN GENERASI Z PADA PERUSAHAAN PT VKOOL Oleh : Drs. FX. Sulistiyono,M.M.; Yohana Dwi Saputri. DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI TERHADAP KEBUTUHAN PROFESI SEKRETARIS/PERSONAL ASISTEN (PA) BERDASARKAN SUMBER DATA APLIKASI LOWONGAN KERJA ONLINE BULAN OKTOBER TAHUN 2022 Oleh : Cecilia Agustien Umbas,S.Kom.,M.Pd. PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP GAYA HIDUP MASYARAKAT MODERN Oleh : VY. Sri Sudarwinarti, S.Pd.,M.Si.; Veronica Christina. PENGARUH KEMAMPUAN KOMUNIKASI SEKRETARIS TERHADAP EFEKTIVITAS MENANGANI TELEPON Oleh : MV. Mieke Marini MP, S.Pd.,M.Hum.; Gunawan Suryatmodjo, S.E., M.IP.; Maria Dian Sandra Widya Cinta. PERANAN SEKRETARIS DALAM MENANGANI BUSINESS MARKETING PADA START-UP FOOD AND BEVERAGE DI DIGERATI HOUSE Oleh : Cecilia Agustien Umbas, S.Kom, M.Pd.; Angela Natasha Putri AKADEMI SEKRETARI DAN MANAJEMEN DON BOSCO Jl. Pulomas Barat V – Jakarta Timur 13210 Telp : 021-4701190, 4898774 Fax : 021-4701190 Website http://www.asekmadb.ac.id
Vol.12 No.1 - Januari 2023 ISSN 2089-4198 ADB’S Secretary JURNAL DUNIA SEKRETARIS Susunan Kepengurusan Jurnal Ilmiah Dunia Sekretaris : Penanggung Jawab : Drs. F.X. Sulistiyono, M.M Mitra Bestari/Reviewer : • Dr. Ir. Markonah, ASAI, M.M. • Dr. Ika Dharmo, SE.,M.M. Pimpinan Redaktur : V.Y. Sri Sudarwinarti, S.Pd., M.Si. Wakil Pimpinan Redaktur : RR. Martha Septina Purbowati, S.S.,M.Pd. Redaktur Pelaksana : • Cecilia Agustien Umbas, S.Kom., M.Pd. • Astuti Widiati, S.E.,M.Pd. Penyunting / Editor : • Muller Sagala, S.E., M.M. • Benedicta D.Muljani, S.Sos.,M.AB. –Universitas Vokasi Widya Mandala Surabaya • Drs. Ramelan M.M. Desain Grafis dan Fotografer : Muller Sagala, S.E., M.M. Sekretariat : • M.V. Mieke Marini M.P., S.Pd., M.Hum. • A. Niken Budi Palupi • Theresia Pawarti Alamat Redaksi : Kampus Asekma Don Bosco Jl. Pulomas Barat V Jakarta Timur Telp: 021-4898774 Faks:021-4701190. Situs http://www.asekma.ac.id Email: [email protected] i
Jurnal ADB’S Secretary Vol.12, No.1, Januari 2023 ii PENGANTAR REDAKSI Pembaca yang terhormat, Buku Jurnal Dunia Sekretaris Vol.12 No.1 Januari 2023 ini merupakan karya ilmiah dari para dosen, mahasiswa dan karyawan Akademi Sekretari Dan Manajemen Don Bosco yang relevan dengan ilmu pengetahuan sosial dan sekretaris. Buku Jurnal Ilmiah volume ini menyajikan beberapa kajian yang menarik. Jurnal Ilmiah volume ini membahas ruang lingkup kesekretariatan yang berkaitan dengan bagaiamana pengembangan diri karyawan dapat mempengaruhi attitude kerja, etika berkomunikasi sekretaris dalam penggunaan telepon Selain ruang lingkup kesekretariatan Jurnal volume ini membahas perkembangan teknologi yang berkaitan dengan penggunaan aplikasi lowongan kerja online, dampak penggunaan media sosial terhadap gaya hidup masyarakat modern, serta peran sekretaris dalam Perusahaan Start-Up. Semoga para pengguna buku Jurnal Ilmiah ini mendapatkan manfaat besar sesuai dalam bidangnya masing-masing sekaligus memberikan dorongan terhadap perkembangan profesi sekretaris dan para karyawan pada umumnya dalam dunia kerja yang terus mengalami perubahan. Salam sukses , Jakarta, 1 Januari 2023 Dewan Redaksi
Jurnal ADB’S Secretary Vol.12, No.1, Januari 2023 iii Vol.12 No.1 –Januari 2023 ISSN 2089-4198 ADB’S Secretary JURNAL DUNIA SEKRETARIS DAFTAR ISI Hal PENGARUH PENGEMBANGAN DIRI TERHADAP ATTITUDE KERJA KARYAWAN GENERASI Z PADA PERUSAHAAN PT VKOOL Oleh : Drs. FX. Sulistiyono,M.M.; Yohana Dwi Saputri. 1 DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI TERHADAP KEBUTUHAN PROFESI SEKRETARIS / PERSONAL ASISTEN(PA) BERDASARKAN SUMBER DATA APLIKASI LOWONGAN KERJA ONLINE BULAN OKTOBER TAHUN 2022 Oleh : Cecilia Agustien Umbas,S.Kom.,M.Pd. 14 PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP GAYA HIDUP MASYARAKAT MODERN Oleh : VY. Sri Sudarwinarti, S.Pd.,M.Si.; Veronica Christina. 27 PENGARUH KEMAMPUAN KOMUNIKASI SEKRETARIS TERHADAP EFEKTIVITAS MENANGANI TELEPON Oleh : MV. Mieke Marini MP, S.Pd.,M.Hum.; Gunawan Suryatmodjo, S.E., M.IP.; Maria Dian Sandra Widya Cinta. 48 PERANAN SEKRETARIS DALAM MENANGANI BUSINESS MARKETING PADA START-UP FOOD AND BEVERAGE DI DIGERATI HOUSE Oleh : Cecilia A. Umbas,S.Kom; Angela Natasha Putri 75
4 PENGARUH PENGEMBANGAN DIRI TERHADAP ATTITUDE KERJA KARYAWAN GENERASI Z PADA PERUSAHAAN PT. VKOOL Tim Peneliti: Dosen dan Mahasiswa Asekma Don Bosco Drs, FX. Sulistiyono,M.M. ( Dosen ) – [email protected] Yohana Dwi Saputri (Mahasiswa) – [email protected] ABSTRACT Attitude is one thing that can be assessed from a person. From attitude, a person can be considered good or bad, mature or childish, simple or luxurious, noble or commoner, and so on. Attitude can also be interpreted as a condition in humans that moves them to act in social activities with certain feelings, and also in response to certain situations. This study aims to identify and describe the effect of self-development on the work attitudes of Generation Z employees at PT. Vkool. The research method that researchers use is descriptive research. The data sources that researchers use are primary data sources and secondary data sources. Primary data sources were obtained from workers in the company who had seen how Generation Z works. Secondary data sources were obtained from books, the internet and other literature. Methods of data collection, researchers use google form. The results of the study show that most of Generation Z have not been able to control all circumstances because most of Generation Z always look at their environment to work. Keywords :Self-development, Work Attitude, Generation Z I. PENDAHULUAN Attitude (Sikap) merupakan salah satu hal yang bisa diniliai dari diri seseorang. Dari sikap, seseorang bisa dianggap baik atau buruk, dewasa atau kekanak-kanakan, sederhana atau mewah, bangsawan atau rakyat biasa, dan sebagainya. Sikap juga bisa dimaknai sebagai suatu keadaan dalam diri manusia yang menggerakannya untuk berbuat dalam aktivitas sosial dengan perasaan tertentu, dan juga dalam menanggapi situasi tertentu. Melihat peran sikap sangat kuat dalam kehidupan sosial, tidak sedikit yang mengubah sikap secara drastis demi mendapatkan apa yang diinginkan, seperti pasangan, jabatan, rasa
5 empati, harta, uang, dan lain-lain. Sikap masyarakat terhadap pekerjaan dapat memengaruhi kondisi keuangan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahan dalam manajemen keuangan bisa menciptakan efek jangka panjang. Sikap masyarakat terhadap pekerjaan juga berpengaruh kepada pola konsumsi. Pekerjaan yang merupakan motif yang kuat dalam mempengaruhi perilaku dalam menentukaan sikap kita dalam bersosialisasi di kantor. Persaingan dalam dunia kerja yang semakin ketat dari tahun ke tahun membuat setiap orang harus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dalam menghadapi dunia kerja. Kriteria permintaan sumber daya manusia saat ini semakin beragam dan dinamis. Setiap karyawan atau calon karyawan tidak hanya dituntut untuk memiliki knowledge dan skill yang mumpuni, tetapi juga harus memiliki attitude yang baik. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan Attitude Kerja adalah merupakan sikap seseorang terhadap pekerjaannya yang mencerminkan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam pekerjaannya serta harapan-harapannya terhadap pengalaman masa depan. II. LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Pengembangan Diri Pengembangan diri adalah suatu proses pembentukan potensi, bakat, sikap, perilaku dan kepribadian seseorang melalui pembelajaraan dan pengalaman yang dilakukan berulang- ulang sehingga meningkatkan kapasitas atau kemampuan diri sampai pada tahap kemandirian. Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata kuliah sebagai bagian integral dari kurikulum kampus. Pengembangan diri menjadi salah satu upaya yang
6 dilaksanakan di setiap lembaga pendidikan dengan mengacu pada kurikulum yang telah dirumuskan di lembaga tersebut. Namun demikian, pelaksanaan kegiatan pengembangan diri lebih banyak menggunakan waktu di luar jam pelajaran formal. Pengembangan diri adalah kegiatan konseling dan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk memberikan kesempatan peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan potensi, kebutuhan, bakat dan minat, serta karakteristik peserta didik. Kegiatan pengembangan diri dilaksanakan dalam bentuk pelayanan konseling (kehidupan pribadi, sosial, kesulitan belajar, karir) dan juga pengembangan kreativitas kepribadian siswa. Menurut Tarmudji (1998), pengembangan diri adalah mengembangkan bakat yang dimiliki, mewujudkan impian-impian, meningkatkan rasa percaya diri, menjadi kuat dalam menghadapi percobaan, dan menjalani hubungan yang baik dengan sesamanya. Menurut DEPAG (2005), pengembangan diri adalah proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap melalui pengalaman yang berulang-ulang sampai pada tahap otonomi (kemandirian) mengenai suatu perilaku tertentu. 2.2. Pengertian Attitude Attitude adalah sikap, perilaku atau tingkah laku seseorang dalam melakukan interaksi dengan orang lain yang disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap tersebut. Attitude juga disebut sikap pada aspek afektif yang menentukan seseorang dalam bertindak, karena adanya kemauan atau kerelaan bertindak menentukan seseorang berbuat sesuai dengan karakter sikap yang dimilikinya. Attitude juga sering dikaitkan dengan kesiapan mental individu yang dapat mempengaruhi serta menentukan kegiatan individu yang bersangkutan dalam merespons objek atau situasi.
7 Pada dasarnya, kesuksesan dapat diraih dengan mengasah tiga hal, yaitu skill/keterampilan, knowledge/pengetahuan,dan attitude/sikap. Skill dan Knowledge merupakan komponen yang dapat dikembangkan dengan banyak membaca, banyak belajar, serta praktik. Sedangkan Attitude merupakan komponen yang paling penting dalam membentuk karakter seseorang yang dapat dipelajari melalui pembiasaan. 2.3. Pengertian Generasi Z Generasi Z adalah seluruh generasi yang lahir mulai tahun 1996 hingga 2012, atau generasi pasca milenial. Jadi, pada tahun 2022 ini, anak-anak yang berusia 9-26 tahun termasuk ke dalam gen z. Namun demikian, sejumlah lembaga seperti badan statistik Kanada, agensi Sparks and Honey, Mccrindle Research Centre mengatakan bahwa gen Z adalah generasi yang lahir mulai tahun 1995. Menurut Tapscott dalam penelitian Teguh Dwi Putranto (2018:19) bahwa Generasi Z adalah generasi teknologi. Mereka telah mengenal media social sejak dini atau dalam hal ini Generasi Z tumbuh di dunia yang hampir keseluruhan kehidupannya terhubung dengan teknologi sejak lahir. Generasi ini disebut generasi internet karena mereka tumbuh di era digital yang akhirnya membuat mereka mampu mengakses informasi dengan cepat meski dalam usia yang masih sangat muda. Generasi ini sangat sering berkomunikasi dengan semua kelompok terutama jaringan social seperti facebook, twitter, istagram, whats app. Mereka biasanya peka dan toleran terhadap budaya yang berbeda dan sangat memperdulikan lingkungan. Sejalan dengan pernyataan tersebut berdasarkan hasil penelitian Caraka Putra Bhakti dan Nindiya Eka Safitri (2017: 108) dalam kehidupan Generasi Z mempunyai nilai Plus dan nilai Minus di masyarakat yaitu :
8 a. Nilai Plus Generasi Z mempunyai sikap ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka tidak perlu diajari Ketika dihadapkan dengan berbagai teknologi canggih, dengan sendirinya generasi ini berupaya agar mereka dapat menguasai apa yang menjadi kebutuhan dan apa yang harus dilakukan untuk bisa mengaplikasikan dan mempraktikkan gejala yang muncul pada suatu teknologi. Hal lain yang merupakan sifat yang tidak dapat terpisahkan dari Generasi Z adalah multitasking, mengerjakan berbagai aktivitas dalam waktu yang bersamaan, misalnya bisa membaca chat sambal berbicara via telpon, kemudian menonton atau mendengarkan music. Sudah disinggung sebelumnya bahwa generasi Z mempunyai kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan politik, sehiungga apabila generasi ini mendapatkan pendidikan yang baik dan layak maka mereka akan sangat bermanfaat bagi diri dan lingkungan untuk menciptakan generasi-generasi yang berdaya saing tinggi. b. Nilai Minus Nilai minus Generasi Z, cenderung tidak sabar, terburu-buru, ingin menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan cara yang instan karena telah terbiasa melakukan komunikasi dan berinteraksi melalui media social yang cenderung lebih cepat dan praktis. Beberapa dari kalangan generasi Z kurang terampil dalam melakukan komunikasi verbal yang bisa saja menyebabkan dirinya tidak peduli dengan lingkungannya. Setelah melihat hasil penelitian di atas, disimpulkan bahwa Generasi Z ialah generasi pascamilenial, mereka lahir di era digital yang merupakan kelompok manusia termuda di dunia saat ini, dimana gaya hidup telah banyak dipengaruhi oleh IT dan komunikasi yang telah berkembang pesat. Generasi Z mempunyai daya adopsi pengetahuan yang tinggi,
9 menghargai keberagaman, multitasking, namun cenderung ketergantungan pada kegiatan dan aktivitas di media social. III. PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, Penulis menggunakan analisis statistika deskriptif., yaitu analisis statistik yang memberikan gambaran secara umum mengenai karakteristik dari masingmasing variabel penelitian yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), maximum, dan minimum. Tidak hanya itu juga, Statistik deskriptif merupakan proses analisis statistik yang fokus kepada manajemen, penyajian, dan klasifikasi data. Dengan proses ini, data yang disajikan akan menjadi lebih menarik lebih mudah dipahami, dan mampu memberikan makna lebih bagi pengguna data. Salah satu penyajian data yang cukup menarik yaitu dengan menggunakan visualisasi data. Visualisasi data merupakan bentuk penyajian statistika deskriptif yang bertujuan untuk menyajikan data dalam bentuk visual atau grafik sehingga lebih menarik dan lebih mudah dipahami. Lokasi penelitian adalah tempat dimana peneliti memperoleh informasi mengenai data yang diperlukan. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online (Google Form) kepada responden di PT- VKOOL melalui aplikasi WhatsApp. Data Hasil Variabel X Variabel bebas ( Variabel X ) dalam penelitian ini adalah Pengembangan Diri. Variabel X ini merupakan indikator agar variabel Y dapat tercapai. Dari hasil pengumpulan data Google Form tersebut, terdapat 39 responden yang memberikan pendapatnya. Berikut adalah hasil jawaban dari para responden:
10 Data Hasil Variabel Y Variabel terikat ( Varibel Y ) dalam penelitian ini adalah Attitude Kerja Karyawan Generasi Z. Variabel ini menjadi target capaian. Dari hasil pengumpulan data Google Form tersebut, terdapat 14 responden yang memberikan pendapatnya.
11 Hipotesa dalam penelitian ini adalah Pengembangan Diri berpengaruh Terhadap Attitude Kerja Karyawan Generasi Z. Jika dikaitkan dengan hasil yang didapatkan dari responden, maka hipotesa terbukti benar.
12 IV. PENUTUP 4.1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diteliti mengenai Pengaruh Pengembangan Diri Terhadap Attitude Kerja Karyawan Generasi Z Pada Perusahaan PT. Vkool, dapat disimpulkan bahwa Pengembangan diri sangat berpengaruh positif pada sikap kerja yang dimiliki seseorang termasuk karyawan PT VKool. Apabila karyawan tersebut memiliki sikap yang baik diantaranya : datang tepat waktu, pada saat pulang pekerjaan sudah beres, memiliki inisiatif yang tinggi, tekun dalam belajar, mempunyai motivasi yang besar, mudah bekerjasama, bisa diandalkan tim, konsisten mempertahankan prioritas, menyelesaikan proyek dengan maksimal, mampu bekerja mandiri.dan bersikap hormat kepada semua orang, baik terhadap atasan maupun rekan kerja, maka karyawan tersebut akan memperoleh respektasi yang tinggi dari lingkungan tempat kerjanya. Pengembangan diri sangat penting dalam rangka menumbuh kembangkan sikap yang baik bagi setiap orang, sehingga yang bersangkutan dengan mudah menyesuaikan diri dan diterima oleh sejawat di kantor dimana yang bersangkutan bekerja. 4.2. Saran Berdasarkan penelitian yang Penulis lakukan, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan sebagai masukan, antara lain: 1. Diharapkan semua karyawan Generasi Z menghargai pendapat yang telah diberikan oleh atasannya. 2. Generasi Z harus memahami etika dan tata krama yang berlaku di kantor, dapat membawa diri dan menjaga sikap agar dapat diterima oleh karyawan di kantor tempat ia bekerja.
13 DAFTAR PUSTAKA Fanani, A.C., Studi tentang Metode Belajar Mahasiswa Pendidikan Agama Islam dalam Upaya Pengembangan Diri di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya Periode 2000-2002, Skripsi fakultas tarbiyah UIN Sunan Ampel: Surabaya, 2003 Marmawi, Persamaan Gender dalam Pengembangan Diri, Jurnal Visi Ilmu Pendidikan. 2009 Sulistyowati, Endah.. Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter, Citra Aji Parama: Yogyakarta, 2012 Tarmudji, Tarsis, Pengembangan Diri, Liberty: Yogyakarta. 1998. Departemen Agama., Pedoman Kegiatan Pengembangan Diri., Departemen Agama., Jakarta, 2005 https://www.gramedia.com/best-seller/attitude/
14 DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI TERHADAP KEBUTUHAN PROFESI SEKRETARIS/PERSONAL ASISTEN (PA) BERDASARKAN SUMBER DATA APLIKASI LOWONGAN KERJA ONLINE BULAN OKTOBER TAHUN 2022 Tim Peneliti: Dosen Asekma Don Bosco Cecilia Agustien Umbas, S.Kom., M.Pd ( Dosen ) – [email protected] ABSTRACT The rapid advancement of technology and information certainly has an impact on various areas of life. Many companies replace human labor with robots which are expected to minimize HR costs. However, there are also professions that cannot be replaced by robots, namely secretaries and personal assistants. Based on data on job vacancies related to the field of office administration, Secretary is the job vacancy most needed by companies, namely 31 out of 65 vacancies (47.69%), Personal Assistant is in second place, namely 29 out of 65 job vacancies (44.62%) . Administration is a vacancy with 1 out of 65 vacancies needed by companies (1.54%). Public Relations is in last place because it is not needed by the company (0%). Of the 41 criteria required for Secretaries and Personal Assistants, there are some of the highest ratings required by companies, namely having work experience, Fluent in English, Communication Skills, Having an Educational Background (Secretary, Office Administration), Mastery of Technology (Ms. Office, Internet), Ability to speak Mandarin, Caring, skilled, neat, nimble, thorough, Excellent people skills and time management, Multitasking. Keyword: Technology, Secretary or Personal Asisten I. PENDAHULUAN Pesatnya kemajuan teknologi saat ini sulit untuk dibendung. Setiap negara berlombalomba untuk menciptakan peralatan canggih agar dapat mempermudah pekerjaan manusia mulai dari Industri otomotif, pendidikan sampai pada industri rumah tangga. Hal ini dapat dilihat dari mulai digunakannya robot yang dapat membantu industri otomotif yang tentunya sangat berdampak pada pengurangan jumlah SDM karena pekerjaan yang ditangani oleh manusia sudah dapat diselesaikan oleh robot. Digantinya tenaga manusia dengan robot dalam penanganan kerja di dunia industri secara
15 otomatis berdampak pada pengurangan karyawan, dengan demikian efisiensi dan efektifitas dalam perusahaan dapat terus dipertahankan. Melihat fenomena ini, penulis ingin mengetahui bagaimana dengan profesi Sekretaris/Personal Asisten pimpinan perusahaan apakah juga mengalami dampak pada kebutuhan perusahaan terhadap sekretaris/personal asisten. Untuk mengetahui lebih dalam terkait hal ini maka penulis melakukan survey melalui beberapa aplikasi pencari kerja seperti LinkedIn, Indeed, jobstreet. II. LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Teknologi Pengertian Teknologi merupakan kata dari dalam bahasa Inggris, yaitu technology. Penggunaan kata teknologi secara umum digunakan untuk segala sesuatu yang memiliki sifat teknis dan dapat mempermudah pekerjaan. Penggunaan kata technology sendiri mulai dicetuskan oleh salah satu ilmuwan sosial asal Amerika, yang pada awal abad ke 20 mulai digagas sebagai padanan dari konsep bahasa Jerman, yaitu Technik menjadi technology. Dari situs web Wikipedia, definisi dari teknologi adalah suatu rujukkan terhadap sekumpulan Teknik-teknik yang mencakup banyak hal. Teknologi juga disebut benda yang diciptakan melalui proses kreasi dan pemikiran untuk mencapai nilai-nilai tertentu. Poerbahawadja Harahap menjelaskan bahwa mengacu pada sebuah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang cara kerja di dalam bidang Teknik, serta mengacu pula pada ilmu pengetahuan yang digunakan dalam pabrik atau industri tertentu.
16 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teknologi adalah metode ilmiah yang digunakan untuk mencapai tujuan praktis dan merupakan salah satu ilmu pengetahuan terapan. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa teknologi merupakan suatu metode ilmiah untuk kepentingan praktis yang dapat bermanfaat bagi kebutuhan dan juga kenyamanan hidup manusia. Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa teknologi adalah metode praktis yang diciptakan oleh manusia untuk mempermudah suatu perkejaan dan aktivitas manusia dan dapat digunakan secara berulang kali. 2.2. Pengertian Sekretaris / Personal Asisten (PA) Sesuai dengan asal pembentukan katanya, sekretaris dapat dipahami sebagai orang yang dapat menyimpan rahasia atau hal-hal bersifat penting yang tidak dapat diinformasikan kepada sembarang orang. Secara umum terdapat tiga perspektif utama memahami sekretaris, yaitu sebagai: 1. Sekretaris dalam arti asisten pribadi (personal asisten) Personal asisten (Asisten Pribadi) adalah seseorang yang mengerjakan tugas tertentu dalam rangka membantu orang yang membayarnya. Sekretaris dalam pemahaman ini bukanlah pegawai atau staf organisasi yang digaji oleh organisasi melainkan digaji oleh perorangan (Individu). Sekretaris pribadi bertanggung jawab langsung kepada orang yang membayarnya, dalam hal ini biasanya pimpinan organisasi. 2. Sekretaris dalam arti Pegawai Administratif Berdasarkan beberapa pengertian tentang sekretaris sebagai administratif adalah sebagai berikut: a. H.W. Fowler dan F.G. (Nani Nuraeni, 2008);
17 Sekretaris adalah orang yang bekerja pada orang lain untuk membantu dalam korespondensi, pekerjaan tulism mendapatkan informasi, dan masalah-masalah lainnya; pegawai yang ditunjuk oleh masyarakat atau perusahaan atau perserikatan untuk melakukkan korespondensi, memelihara warkat-warkat, terutama yang berurusan dengan perusahaannya. b. Professional Secretaries International / PSI (2004); “ A Secretary shall be defined as an executive assistant who possess mastery of office skills, demonstrates the ability to assume responsibility without direction or supervision exercises initiative and judgement and make decisions within the scope of assigned authority”. c. M.G. Hartiti Hendarto dan F.X. Tulusharyono (2003) Sekretaris adalah orang yang membantu seseorang, yaitu pimpinan, dalammelaksanakan tugas perkantoran yang timbul dari tugasnya sebagai pimpinan. d. M.Braum dan Ramon C. (Gie, 2007) ”An assistant to a chief who takes dictation, prepares correspondence, receives visistors, checks or reminds her chief of his official engagements or appointments and performs marry other related duties that increase the effectiveness of the chief”. Sekretaris adalah asisten yang menerima pendiktean, menyiapkan surat menyurat, menerima tamu, memeriksa atau mengingatkan pimpinan mengenai kewajibannya, dan berbagai tugas lainnya yang berguna bagi pengingkatan efektivitas kerja pimpinan. 3. Sekretaris yang memiliki kewenangan manajerial a. Sedarmayanti (1998). Sekretaris berfungsi sebagai manajer, pimpinan yang membawahi suatu satuan organisasi yang melakukan pekerjaan pelayanan dalam bidang ketatausahaan, yang lazim disebut unit sekretariat atau sekretaris jenderal.
18 b. Betty Hutchinson dan Carol Milano (Ursulla Ernawati, 2004) “A secretary us a professional as a professional you may want to perform the many and varied responsibilities of secretarial work with competence, confidence, and style”. Sekretaris adalah seorang professional. Sebagai seorang profesional,, sekretaris diharapkan menampilkan berbagai tanggung jawab tugas kesekretarisan dengan penuh kompetensi, dapat dipercaya dan berkepribadian. c. H.W. Fowler dan F.G. Fowler (Nani Nuraeni, 2008) Sekretaris menteri yang mengepalai kantor pemerintahan, menteri di Amerika Serikat dan Vatikan. 2.3. Aplikasi Lowongan Kerja Online Banyak aplikasi yang tersedia untuk mencari lowongan kerja bagi para pencari kerja baik yang sudah berpengalaman maupun para lulusan baru (fresh graduate), Beberapa Aplikasi yang tersedia antara lain: 1. LinkedIn. LinkedIn bukan saja merupakan aplikasi sosial media, LinkedIn juga berperan sebagai aplikasi lowongan kerja. Ribuan bahkan jutaan profesional memiliki akun LinkedIn dan tak jarang juga para perusahaan atau tempat kerja lainnya mencari pekerja yang dibutuhkan melalui LinkedIn. Dalam fiturnya, LinkedIn juga memberikan notifikasi pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pekerja karena sebelumnya para pencari kerja harus mengirimkan data diri mengenai skills yang dimiliki. Pengguna LinkedIn dapat menulis artikel yang kemudian akan dibagikan dan juga dibaca oleh para pengguna LinkedIn lainnya bahkan mungkin dibaca oleh perusahaan
19 yang membutuhkan skill para pencari kerja. 2. Jobstreet Merupakan salah satu aplikasi lowongan lowongan kerja terbaik di Indonesia. Lebih dari 230 ribu pekerja bisa melamat melalui aplikasi ini. Jobstreet tidak hanya menyediakan lowongan dari Indonesia saja, namun juga Negara lainnya sepertin Singapur, Malaysia, Vietnam, juga Filipina. Fitur yang tersemat pada aplikasi ini memudahkan para Job Seeker dengan hadirnya mobile notification. Lina Jobstreet akan memberikan notifikasi pekerjaan terbaru setiap hari melalui email dan bisa langsung melamar pekerjaan melalui ponsel android. 3. Indeed Job Search Aplikasi ini menyiapkan berbagai fitur untuk memudahkan para pencari kerja dengan lebih dari 200 juta pekerjaan baru. Selain itu, lebih dari 60 Negara dan 28 bahasa berbeda terdapat pada pencarian kerja indeed ini. Aplikasi ini menyediakan fitur GPS pada smartphone untuk mencari pekerjaan yang dekat dengan tempat domisili. Selain pekerjaan aplikasi ini juga menampilkan kebutuhan magang untuk mahasiswa Masih banyak aplikasi yang tersedia untuk para pencari kerja namun penulis hanya membahas tiga aplikasi yang cukup populer di kalangan para pencari kerja. III. PEMBAHASAN Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode survei yang dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a. Penulis menentukan topik yang ingin diketahui terkait dengan bahan/materi penulisan. Dalam hal ini terkait dengan Dampak Kemajuan Teknologi Terhadap Kebutuhan
20 Profesi Sekretaris/Personal Asisten (Pa) Berdasarkan Sumber Data Aplikasi Lowongan Kerja Online Tahun 2022. b. Survey dilakukan dengan pengambilan sampel data lowongan kerja khusus yang berkaitan dengan bidang kesekretariatan pada aplikasi LinkedIn, Jobstreet dan Indeed Job Street oleh mahasiswa tingkat 3 Asekma Don Bosco. c. Pendataan dilakukan pada bulan Oktober 2022 dengan jumlah lowongan 61 lowongan kerja bidang kesekretariatan. d. Dari hasil survey diperoleh data sebagai berikut: ANALISIS DATA Jabatan Total Personal Assistant 29 Secretary 31 Administration 1 Public Relation 0 Jumlah Lowongan Kerja 61 GRAFIK JUMLAH KEBUTUHAN SEKRETARIS / PERSONAL ASISTEN BERDASARKAN LOWONGAN KERJA PADA APLIKASI ONLINE
21 Dari Data lowongan pekerjaan yang penulis dapatkan, penulis hanya membatasi pada lowongan kerja yang berkaitan langsung dengan bidang kesekretariatan (administrasi perkantoran). Dari Tabel dan Grafik menunjukkan bahwa dari empat (4) lowongan kerja yang penulis kategorikan masuk dalam bidang kesekretariatan adalah lowongan Personal Asistant, Secretary, Administration, Public Relation. Dari hasil analisis, keempat lowongan tersebut diperoleh data: 1. Secretary merupakan lowongan kerja yang paling banyak dibutuhkan oleh perusahaan yaitu 31 dari 65 lowongan (47,69%). 2. Personal Assistant merupakan lowongan kerja yang berada pada urutan kedua yaitu 29 dari 65 lowongan kerja (44,62%). 3. Administration adalah lowongan dengan jumlah 1 dari 65 lowongan yang dibutuhkan perusahaan (1,54%). 4. Public Relation berada pada urutan terakhir yaitu karena tidak dibutuhkan oleh perusahaan (0%). Adapun Kriteria sekretaris/personal asisten yang dibutuhkan : DATA KRITERIA SEKRETARIS/PERSONAL ASISTEN YANG DIBUTUHKAN NO KRITERIA JUMLAH 1 Memiliki pengalaman kerja 18 2 Fluent in Englis (Written & Speaking) 17 3 Communication Skills 14 4 Latar Belakang Pendidikan (Sekretaris, Administrasi Perkantoran) 14 5 Menguasai Teknologi (Ms Office, Internet) 14
22 6 Kemampuan berbahasa Mandarin 10 7 Peduli, terampil, rapi, cekatan, dan teliti 9 8 Excelent People Skills 8 9 Manajemen Waktu yang baik 8 10 Multitasking 5 11 S1 dari semua jurusan 5 12 Berintegritas & bertanggung jawab 4 13 Berpenampilan menarik & rapi 4 14 Jujur 4 15 Mampu bekerja dengan target dan batas waktu 4 16 Standby saat dibutuhkan 4 16 Dapat mengendarai Mobil (memiliki SIM A) 3 17 Disiplin 3 18 Mampu beradaptasi 3 19 Menguasai tugas-tugas kesekretariatan/ sekretaris 3 20 Team Work 3 21 Bersedia dinas luar 2 22 IPK Minimal 3,00 2 23 Kemampuan bernegosiasi 2 24 Organisational Skills 2 25 Proaktif dan koordinatif dengan semua pihak 2 26 Problem Solving 2 27 Berpenampilan menarik 1 28 Good Personality 1 29 Happy Attitude 1
23 30 High Thinking Skill 1 31 Inisiatif 1 32 Kemampuan berbahasa Jepang 1 33 Knowledge Governance and Compliance 1 34 Leadership Skills 1 35 Memahami etika dalam menerima telepon 1 36 Memahami tentang Hukum dan regulasi 1 37 Memahami tentang pembuatan laporan, MOM dan metode penelitian 1 38 Memiliki loyalitas 1 39 Memiliki motivasi tinggi, mau belajar untuk mengembangkan diri 1 40 Memiliki relasi dengan berbagai perusahaan 1 Dari data yang penulis rangkum terkait kriteria Sekretaris/Personal Asisten yang dibutuhkan perusahaan jika diambil 10 urutan kriteria yang dibutuhkan menunjukkan berdasarkan data lowongan kerja sebagai sekretaris/personal adalah sebagai berikut: NO KRITERIA JUMLAH 1 Memiliki pengalaman kerja 18 2 Fluent in Englis (Written & Speaking) 17 3 Communication Skills 14 4 Latar Belakang Pendidikan (Sekretaris, Administrasi Perkantoran) 14 5 Menguasai Teknologi (Ms Office, Internet) 14 6 Kemampuan berbahasa Mandarin 10
24 7 Peduli, terampil, rapi, cekatan, dan teliti 9 8 Excelent People skills 8 9 Management Waktu yang baik 8 10 Multitasking 5 Analisis Kriteria yang dibutuhkan sebagai seorang sekretaris/personal asisten perusahaan jika dilihat pada tabel di atas maka: 1. 18 perusahaan menginginkan calon Sekretaris/Personal Asisten yang memiliki pengalaman bekerja. 2. Fluent in English berada pada posisi kedua sebanyak 17 perusahaan. 3. Communication Skills, Latar belakang Pendidikan (Sekretaris, Administrasi Perkantoran),dan Penguasaan Teknologi (Ms Office, Internet) berada pada posisi ketiga sebanyak 14 perusahaan. 4. Kemampuan berbahasa Mandarin pada posisi keempat sebanyak 10 perusahaan. 5. Peduli, terampil, rapi, cekatan dan teliti berada pada posisi kelima sebanyak 9 perusahaan. 6. Excelent people skills dan manajemen waktu yang baik berada pada posisi keenam sebanyak 8 perusahaan. 7. Yang terakhir dari 10 kriteria yang dibutuhkan dalam bekerja sebagai sekretaris/personal asisten adalah Multitasking berada pada posisi ketujuh sebanyak 5 perusahaan.
25 IV. PENUTUP 4.1.Simpulan Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dampak kemajuan teknologi tidak membuat posisi sekretaris/personal asisten dapat tergantikan. 1. Teknologi adalah metode praktis yang diciptakan oleh manusia untuk mempermudah suatu pekerjaan dan aktivitas manusia dan dapat digunakan secara berulang kali. Akan tetapi Teknologi ini tidak dapat digunakan untuk pengambilan keputusan/kebijakan pimpinan. Itulah sebabnya mengapa kehadiran Sekretaris/Personal Asisten masih sangat dibutuhkan sebagai individu yang dapat mendampingi pimpinan sebagai Partner kerja bisnis dalam penyelesaian masalah dan teman berdiskusi dalam pengambilan keputusan/kebijakan. 2. Sebagai Partner kerja bisnis, sekretaris/personal asisten haruslah seorang individu yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sehingga dapat mengimbangi ritme kerja pimpinan dalam pengelolaan perusahaan. Dari 41 Kriteria yang dibutuhkan oleh perusahaan, penulis mengambil 10 kriteria utama yang dipersyaratkan pada lowongan kerja perusahaan yang membutuhkan Sekretaris/Personal Asisten adalah: 1) Memiliki pengalaman kerja 2) Fluent in English (Written & Speaking) 3) Communication Skills 4) Latar Belakang Pendidikan (Sekretaris, Administrasi Perkantoran) 5) Menguasai Teknologi (Ms Office, Internet) 6) Kemampuan berbahasa Mandarin 7) Peduli, terampil, rapi, cekatan, dan teliti
26 8) Excelent People skills 9) Management Waktu yang baik 10) Multitasking 3.2 Saran 1. Untuk Pendidikan Tinggi pada umumnya khususnya Asekma Don Bosco yang mempersiapkan para lulusan yang berprofesi sebagai calon Sekretaris /Personal Asisten yang profesional dan berintegritas, harus membekali para mahasiswanya sehingga dapat memenuhi kriteria yang dibutuhkan oleh Perusahaan.Sebagai lulusan yang ingin bekerja sebagai Sekretari/Personal Asisten, maka perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya sehingga memenuhi tuntutan Industri, Dunia Usaha dan Dunia Kerja (IDUKA) 2. Sebagai lulusan yang ingin bekerja sebagai Sekretari/Personal Asisten, maka perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya sehingga memenuhi tuntutan Industri, Dunia Usaha dan Dunia Kerja (IDUKA) dengan meningkatkan potensi diri untuk mampu bersaing. DAFTAR PUSTAKA Abdul Kadir & Terra Ch. Triwahyuni, Pengenalan Teknologi Informasi, ANDI Yogyakarta, 2005 CHR. Jimmy L. Gaol, Keandalan dan Sukses Sekertaris Perusahaan dan Organisasi, Elexmedia Computindo:Jakarta, 2015 Donni Juni Priansa, Manajemen Sekretaris Pimpinan ,Pustaka Setia: Bandung, 2014 Sumber referensi lain: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20220822103549-190-837415/7-aplikasi-pencari-kerjaterbaik-dan-tepercaya
27 PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP GAYA HIDUP MASYARAKAT MODERN Tim Peneliti: Dosen dan Mahasiswa Don Bosco VY. Sri Sudarwinarti, S.Pd., M. Si. (Dosen) – [email protected] Veronica Christina / S.2019.3392 ( Mahasiswa ) – [email protected] ABSTRACT Social media is a form of media that allows its users to interact with each other and carry out virtual social activities through the internet network. Social media is increasingly being used to demonstrate self-existence influence on a nation's perspective, lifestyle, and culture.In the life of Indonesian society, social media seems to have been opium; there is no day without opening social media, and for almost 24 hours they are not separated from their smartphones to look around or look for current trendy information. The biggest social media that are often used are Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, YouTube, and WhatsApp. This study aims to determine and describe the effect social media has on the lifestyle of modern society. Research methods that researchers use are descriptive research methods. The data sources that the researcher uses are the primary and secondary data sources. Primary data sources were obtained from modern society with ages ranging from 20 to 40 years, actively using social media, and residing in South Jakarta. Secondary data sources were obtained from books, the internet, and other libraries. Methods of data collection: researchers use Google Forms. The results of the study show that most people use Instagram and WhatsApp social media; some people prefer social media as a means of interaction; many modern people are unknowingly addicted to social media; and it is true that people prefer to shop through social media, but this does not lead to consumption. Key word : social media, people’s, lifestyles I. PENDAHULUAN Internet merupakan jaringan komunikasi elektronik yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat modern saat ini. Internet menimbulkan jenis interaksi sosial baru dari yang sebelumnya. Dahulu masyarakat berinteraksi secara langsung atau tatap muka, namun sekarang masyarakat dengan sangat mudah dapat berinteraksi di dunia maya tanpa dibatasi ruang dan waktu. Pemanfaatan internet akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Internet tidak hanya sekedar menjadi media komunikasi semata, tetapi juga sebagai dunia
28 bisnis, pendidikan, dan pergaulan sosial. Sarana yang biasanya digunakan adalah media sosial. Mulai dari kalangan muda hingga tua, banyak yang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mencari informasi, berinteraksi, hiburan maupun berkomunikasi dengan teman atau sanak saudara. Kemajuan teknologi dan informasi membuat masyarakat menjadi lebih terbuka terhadap perkembangan zaman. Dalam hal ini, media sosial membawa dampak perubahan terhadap gaya hidup masyarakat modern saat ini. Masyarakat menjadi begitu terobsesi dengan dunia maya dan acuh dengan keadaan lingkungan di sekitarnya. Hal inilah yang menimbulkan sikap anti-sosial, tidak peka, konsumtif, individualistis, adiktif, dan lain sebagainya. Gaya hidup atau lifestyle didefinisikan sebagai cara hidup seseorang dengan menghabiskan waktu, apa yang mereka anggap penting dalam kehidupan serta apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia sekitarnya. Apa yang dilihat pada media sosial, tentunya mempengaruhi dan menarik minat masyarakat untuk mengikuti gaya hidup tersebut. Tak jarang justru dampaknya mengarah ke perubahan negatif yang merugikan diri sendiri dan sekitarnya. Beberapa media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan WhatsApp saat ini banyak digunakan sebagai sarana aktivitas sehari-hari. Contohnya seperti mengirim pesan, melakukan panggilan tatap muka atau video call, menjalin pertemanan, mencari pasangan, mengirimkan video atau gambar, ruang untuk bertukar pikiran, dan lain sebagainya. Media sosial tersebut mempunyai keunggulan dan ketertarikan sendiri bagi penggunanya. Seperti yang diketahui, media sosial merupakan wadah untuk menuangkan kebebasan berekspresi dan tak jarang juga sebagai ajang menunjukkan eksistensi diri. Pertanyaan yang timbul adalah apakah dengan adanya media sosial justru membawa dampak negatif bagi gaya hidup masyarakat modern saat ini? Bagaimana upaya mengatasi
29 dampak negatif tersebut? Melihat latar belakang tersebut, Penulis tertarik untuk mengangkat judul “Pengaruh Media Sosial terhadap Gaya Hidup Masyarakat Modern”. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan masyarakat mengetahui pengaruh yang diberikan media sosial terhadap gaya hidup dari setiap penggunanya. II. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Media Sosial Media sosial ialah fitur berbasis website yang dapat membentuk jaringan serta memungkinkan orang untuk berinteraksi dalam sebuah komunitas. Pada media sosial kita dapat melakukan berbagai bentuk pertukaran, kolaborasi, dan saling berkenalan dalam bentuk tulisan visual maupun audiovisual. Contohnya seperti Instagram, Twitter, Facebook, WhatsApp, Line, dan lainnya. Dilansir dari laman Wikipedia bahasa Indonesia, media sosial atau sering juga disebut sebagai sosial media adalah platform digital yang memfasilitasi penggunanya untuk saling berkomunikasi atau membagikan konten berupa tulisan, foto, video, dan merupakan platform digital yang menyediakan fasilitas untuk melakukan aktivitas sosial bagi setiap penggunanya. Media sosial juga merupakan sebuah sarana untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara daring yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Pada buku karangan Nasrullah (2015: 11), Boyd menjelaskan media sosial sebagai kumpulan perangkat lunak yang memungkinkan individu maupun komunitas untuk berkumpul, berbagi, berkomunikasi, dan dalam kasus tertentu saling berkolaborasi atau bermain. Media sosial memiliki kekuatan pada user-generated content (UGC) dimana konten dihasilkan oleh pengguna, bukan oleh editor sebagaimana di institusi media massa.
30 Van Dijk (Nasrullah, 2015: 11) menyatakan bahwa media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu, media sosial dapat dilihat sebagai medium (fasilitator) online yang menguatkan hubungan antarpengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial. Sedangkan menurut Meike dan Young (Nasrullah, 2015: 11) mengartikan kata media sosial sebagai konvergensi antara komunikasi personal dalam arti saling berbagi di antara individu (to be shared one-to-one) dan media publik untuk berbagi kepada siapa saja tanpa ada kekhususan individu. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa media sosial adalah media yang memungkinkan penggunanya untuk melakukan berbagai aktivitas sosial melalui jaringan internet tanpa dibatasi jarak, ruang, dan waktu. Saat ini, media sosial sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Baik kalangan muda maupun tua sudah mengenal dan mengetahui tentang media sosial yang ada. Perkembangan teknologi informasi yang pesat menjadi salah satu penyebab maraknya media sosial. Para pengembang pun kini berlomba-lomba untuk mengembangkan berbagai media sosial yang dapat dinikmati semua kalangan. Namun dibalik itu semua, terdapat beberapa manfaat dari media sosial yang dapat dilihat dari berbagai bidang, antara lain: a. Tempat untuk bersosialisasi b. Menggantikan fungsi buku harian (diary) c. Dapat mempertemukan teman lama d. Tempat menemukan teman baru e. Sebagai media penghibur f. Penyaluran hobi
31 g. Memberikan berbagai informasi terbaru h. Tempat untuk mempopulerkan diri i. Tempat untuk meminta bantuan j. Tempat untuk mencari uang 2.2. Pengertian Gaya Hidup Menurut David Chaney, gaya hidup ialah pola-pola tindakan dalam membedakan antara satu dengan yang lain. Chaney juga menjelaskan bahwa gaya hidup merupakan seperangkat praktik dan sikap yang masuk akal dalam kontek tertentu. Hal ini sejalan dengan pendapat Kotler (2001), ia mengatakan bahwa gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa. Maka gaya hidup dalam hal ini dapat dikategorikan dalam pengetahuan, sikap, dan tindakan. Dilansir dari laman Wikipedia Bahasa Indonesia, gaya hidup (lifestyle) adalah bagian dari kebutuhan sekunder manusia yang bisa berubah bergantung zaman atau keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya. Menurut Kotler dan Keller, gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat dan opininya. Gaya hidup menunjukan keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia. Menurut Setiadi, gaya hidup secara luas diidentifikasikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka semdiri dan juga sekitarnya (pendapat). Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda dengan masyarakat yang lainnya. Bahkan
32 dari masa ke masa gaya hidup suatu individu dan kelompok masyarakat tertentu akan bergerak dinamis. Gaya hidup pada dasarnya merupakan suatu perilaku yang mencerminkan masalah apa yang sebenarnya ada di dalam alam pikir pelanggan yang cenderung berbaur dengan berbagai hal yang terkait dengan masalah emosi dan psikologis konsumen. Menurut Amstrong, gaya hidup sesorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barangbarang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Amstrong juga mengatakan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal, yaitu sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi. Sedangkan faktor eksternalnya adalah kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan. 2.3. Pengertian Masyarakat Modern Dilansir dari laman Kompas.com, masyarakat modern merupakan golongan masyarakat yang orientasi hidup dan nilai budayanya lebih terarah di masa kini. Masyarakat modern juga dapat diartikan sebagai bentuk transformasi dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat yang lebih maju dalam bidang teknologi, ilmu pengetahuan, serta cara berpikirnya. Dilihat dari perbedaan cara berpikirnya, masyarakat modern identik dengan negara maju karena lebih berpikir rasional. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), masyarakat modern adalah masyarakat yang perekonomiannya berdasarkan pasar secara luas, spesialisasi di bidang industri, dan pemakaian teknologi canggih. Masyarakat modern mengalami perubahan baik itu dalam bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi. Masyarakat modern juga mampu menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi zaman atau hidup sesuai dengan konstelasi
33 zamannya. Kehidupan masyarakat modern cenderung instan dan praktis, serta familier dengan produk teknologi informasi dan komunikasi. Dilansir dari Study Lecture Notes, terdapat delapan ciri-ciri masyarakat modern, antara lain: 1. Sektor industri dan teknologi berkembang sangat pesat Ciri masyarakat modern yang paling utama ialah perkembangan dalam sektor industri dan teknologi. Masyarakat modern sering mengembangkan atau memunculkan berbagai inovasi untuk mempermudah kehidupannya. Contohnya penggunaan robot untuk meningkatkan efektivitas kerja, penggunaan mesin canggih untuk produksi barang, dan lain sebagainya. 2. Adanya urbanisasi Urbanisasi merupakan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Dalam masyarakat modern, banyak orang yang melakukan urbanisasi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi atau pendidikannya. Contohnya melakukan urbanisasi untuk bersekolah dan bekerja di ibu kota. Urbanisasi hampir selalu terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini. 3. Mata pencaharian tidak bergantung pada alam dan bersifat heterogen Mata pencaharian masyarakat modern tidak hanya berasal dari satu sektor saja, melainkan sangat beragam. Selain itu, masyarakat modern sudah tidak lagi bergantung langsung pada alam, yang mana hal ini masih dijalani oleh masyarakat tradisional. Contohnya masyarakat tradisional bercocok tanam untuk kebutuhan konsumsinya, masyarakat modern mengolah bahan pangan, seperti beras, daging, susu untuk kebutuhan konsumsinya. Contoh lainnya masyarakat modern banyak yang bekerja di perkantoran, industri, bidang pendidikan, transportasi, dan lain-lain.
34 4. Peluang atau kesempatan kerja lebih tinggi Masyarakat modern sangat mengutamakan hasil yang maksimal dan serba cepat. Tentunya dengan tenaga kerja yang banyak, hasilnya akan lebih cepat dan maksimal sehingga peluang kerjanya dapat terbuka lebih lebar dan juga memengaruhi adanya urbanisasi. Contohnya dalam bidang industri pangan, banyak tenaga manusia dibutuhkan untuk mengelola mesin, mengemas produk, dan lain sebagainya. 5. Adanya stratifikasi sosial Dalam masyarakat modern, stratifikasi atau pembagian kelas sosial berdasarkan ekonomi terlihat dengan jelas. Pembagian kelas sosial ini memperlihatkan dengan jelas adanya kesenjangan sosial antara “si kaya” dan “si miskin”. Contohnya dari segi permukiman, penghasilan, gaya berpakaian, penggunaan alat komunikasi, dan lainlain. 6. Tersedianya fasilitas perkotaan yang memadai Masyarakat modern identik dengan negara maju. Salah satu indikatornya dapat dilihat dari fasilitas perkotaan yang memadai. Semakin canggih fasilitasnya, maka bisa dikatakan jika masyarakatnya semakin maju. Contohnya tersedianya halte bus, jaringan internet, sistem pembuangan limbah, pelabuhan udara, bandara, jalan raya, rumah sakit, sarana prasarana pendidikan yang memadai, dan lain-lain. 7. Bersikap individualistis Sikap individualistis sangat melekat pada masyarakat modern. Alasannya karena masyarakat modern lebih banyak mementingkan kepentingannya sendiri dibanding kepentingan umum. Contohnya kurang menjalin komunikasi dengan orang sekitarnya, tidak peduli terhadap orang lain, menganggap jika pendapatnya harus selalu didengar dan dituruti.
35 8. Gerak mobilitas yang tinggi Tingkat pendidikan yang lebih baik, adanya industrialisasi serta terbukanya peluang kerja yang luas membuat gerak mobilitas pada masyarakat modern lebih tinggi. Artinya masyarakat suka atau sering berganti pekerjaan, berpindah tempat tinggal ataupun daerah. Contohnya pengangguran mendapat pekerjaan, pindah ke pekerjaan yang dirasa lebih baik, berpindah tempat tinggal ke lokasi yang dianggap lebih aman atau nyaman, dan lain-lain. III. PEMBAHASAN 3.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah tempat dimana peneliti memperoleh informasi mengenai data yang diperlukan. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online (Google Form) kepada responden melalui aplikasi WhatsApp. 3.2. Data Hasil Variabel X Variabel bebas dalam penelitian ini adalah media sosial. Variabel X ini merupakan indikator agar variabel Y dapat tercapai. Variabel X pada penelitian ini adalah media sosial. Media sosial yang dimaksud antara lain Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, YouTube, dan WhatsApp. Dari hasil pengumpulan data Google Form tersebut, terdapat 39 responden yang memberikan pendapatnya. Berikut adalah hasil jawaban dari para responden.
36 Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 1 responden (2.6%) menggunakan Facebook, 7 responden (17.9%) menggunakan Twitter, 31 responden (79.5%) menggunakan Instagram, 23 responden (59%) menggunakan TikTok, 24 responden (61.5%) menggunakan YouTube, 33 responden (84.6%) menggunakan WhatsApp, serta 2 responden lainnya menggunakan media sosial lain seperti mi chat, tinder, dan LINE. 3.3. Data Hasil Variabel Y Variabel terikat dalam penelitian ini adalah gaya hidup masyarakat modern. Variabel ini menjadi target capaian. Variabel Y pada penelitian ini adalah gaya hidup masyarakat modern. Gaya hidup masyarakat modern yang dimaksud antara lain konsumtif, individualis, dan kecanduan. Dari hasil pengumpulan data Google Form tersebut, terdapat 39 responden yang memberikan pendapatnya. Berikut adalah hasil jawaban dari para responden.
37 1) Sebagian besar waktu saya digunakan untuk mengakses dan menggunakan media sosial. Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 31 responden (79.5%) menyatakan setuju bahwa sebagian besar waktu mereka gunakan untuk mengakses dan menggunakan media sosial. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 8 responden (20.5%) menyatakan tidak setuju. Hal yang bisa kami sampaikan berdasarkan indikator tsb adalah gaya hidup masyarakat di era modern saat ini sebagian besar waktunya digunakan untuk mengakses media sosial. Secara positif masyarakat era modern sekarang ini akan sangat mudah mengetahui segala sesuatu yang terjadi baik secara nasional maupun internasional. Dan karena hal tersebut juga akan sangat mempengaruhi ke pola hidupnya, wawasannya akan semakin luas. Akan tetapi disisi lain berpeluang untuk mudah terpengaruh hal- hal yang kurang bermanfaat karena adanya informasi – informasi yang tidak benar. Dalam hal ini penting sekali melakukan seleksi informasi agar tidak tidak mudah terpengaruh untuk melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain maupun diri sendiri.
38 2) Saya merasa lebih nyaman berinteraksi melalui media sosial. Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 19 responden (48.7%) menyatakan setuju bahwa mereka merasa lebih nyaman berinteraksi melalui media sosial. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 20 responden (51.3%) menyatakan tidak setuju. Dengan adanya data hasil penelitian tersebut pembahasan akan diawali dengan esensi manusia itu sebagai makluk individu dan makluk sosial. Manusia juga mempunyai karakter yang unik antara satu dengan lainnya dengan pikiran dan kehendak yang bebas. Adanya data 48.7% responden menyatakan lebih nyaman berinteraksi melalui media sosial, dan 51.3% menyatakan tidak setuju atas pernyataan yang menyatakan lebih nyaman berinteraksi melalui media sosial, menurut Peneliti hal ini terlebih dipengaruhi oleh faktor psikologis, otak manusia memproduksi dua jenis hormon kebahagiaan yaitu dopamin dan oksitosin. Kedua hormon ini bisa dihasilkan dengan bermain media sosial sehingga menimbulkan rasa adiksi. Terkait 51.3% menyatakan tidak setuju atas pernyataan “saya lebih nyaman berinteraksi melalui media sosial”, menurut Peneliti hal ini lebih membuktikan bahwa esensi manusia sebagai makluk sosial lebih membutuhkan orang lain ada saling membutuhkan satu dengan lainnya , ada kenyamanan berinteraksi secara langsung face to face karena lebih mendalam merealisasikan saat berinteraksi dan meminimalisir kesalahpahaman, serta peluang memperluas wawasan pengetahuan pengembangan diri lebih nyata dan bisa dirasakan satu sama lain.
39 3) Saya suka membeli barang melalui media sosial dibandingkan pergi ke toko/mall. Berdasarkan data di atas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 31 responden (79.5%) menyatakan setuju bahwa mereka suka membeli barang melalui media sosial dibandingkan pergi ke toko/mall. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 8 responden (20.5%) menyatakan tidak setuju. Kemajuan teknologi yang serba digital membawa pengaruh besar terhadap prilaku masyarakat dalam melakukan aktivitas konsumsi, pembelian barang secara online menjadi daya tarik tersendiri karena menawarkan berbagai keuntungan bagi masyarakat. Pembelian secara online ini ada beberapa alasannya, diantaranya: pembeli lebih mudah mendapatkan barang yang dibutuhkan dan memiliki banyak pilihan alternatif, hemat waktu karena tidak perlu pergi keluar rumah, hemat biaya ( lebih murah ),pada umumnya sering banyak diskon, memperkecil resiko kena penyakit. Dengan hemat waktu tsb pembeli bisa mendapatkan barang kebutuhannya dan diwaktu yang sama juga bisa mengerjakan aktivitas lainnya. Jadi lebih efisien dan efektif.
40 4) Walaupun tidak terlalu dibutuhkan, namun saya tetap membeli barang di media sosial. Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 13 responden (33.3%) menyatakan setuju bahwa walaupun tidak terlalu dibutuhkan, namun mereka tetap membeli barang di media sosial. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 26 responden (66.7%) menyatakan tidak setuju. Data tersebut menjadi suatu alternatif pembuktian perilaku konsumen , bahwa kebutuhan manusia itu tidak terbatas, ada saja keinginan manusia untuk membeli barang- barang meskipun tidak diperlukan. 5) Saya merasa tidak bisa lepas dari media sosial. Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 15 responden (38.5%) menyatakan setuju bahwa mereka merasa tidak bisa lepas dari media sosial. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 24 responden (61.5%) menyatakan tidak setuju. Ternyata meskipun hidup di era digital dimana segala sesuatu sangat dipengaruhi oleh segala hal yang tersedia secara digital, ternyata masih jauh lebih banyak yang secara obyektif berperilaku riil dalam kehidupannya untuk merasa bisa lepas dari dari
41 ketergantungan terhadap media sosial. Dalam penelitian kecil ini ternyata 61.5% merasa bisa lepas dari media sosial. Hal ini memberikan suatu wacana kehidupan sosial era digital bahwa masih banyak kegiatan manusia yang harus dilakukan diluar media sosial. Sepertinya orang sadar bahwa media sosial bukan satu – satunya peluang untuk hidup lebih sejahtera. 6) Ketika belanja online, saya membeli produk tersebut tanpa memikirkan manfaat ataupun kegunaannya. Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 8 responden (20.5%) menyatakan setuju bahwa ketika belanja online, mereka membeli produk tersebut tanpa memikirkan manfaat ataupun kegunaannya. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 31 responden (79.5%) menyatakan tidak setuju. Hidup di era digital ternyata pola pikir dan peradaban manusia tidak semuanya terpengaruh secara online. Kemanjuan teknologi yg serba digital bisa diartikan sebagai sarana yang mendukung atau mempenagruhi manusia dalam menjalankan aktivitasnya, semua pilihan tetap ada di manusianya atau masyarakatnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pemikiran sebagian besar responden yang menyatakan menolak atau tidak setuju atas pernyataan saya membeli produk tersebut tanpa memikirkan manfaatnya/ kegunaannya.
42 7) Produk yang ditampilkan di media sosial sangat menarik sehingga saya membeli produk tersebut meskipun tidak membutuhkannya. Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 13 responden (33.3%) menyatakan setuju bahwa produk yang ditampilkan di media sosial sangat menarik sehingga mereka membeli produk tersebut meskipun tidak membutuhkannya. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 26 responden (66.7%) menyatakan tidak setuju. Pernyataan tidak setuju oleh responden sebanyak 66.7% terkait penyataan “Produk yang ditampilkan di media sosial sangat menarik sehingga saya membeli produk tersebut meskipun tidak membutuhkannya,” menjadi data bukti bahwa pembelian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya di era digital ini masih sangat ditentukan oleh kebutuhan bukan daya tarik kemasan ataupun daya tarik penampilan barangnya.Logika perilaku konsumsi masyarakat di era digital masih wajar atau normal. 8) Pengeluaran berbelanja di media sosial saya jauh lebih besar dibandingkan tabungan. Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 14 responden (35.9%) menyatakan setuju bahwa pengeluaran berbelanja di media sosial mereka jauh lebih besar dibandingkan tabungan. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 25
43 responden (64.1%) menyatakan tidak setuju. Keputusan responden harus menabung atau belanja di media sosial merupakan realita bahwa kehidupan di era digital tidak terlalu berpengaruh mutlak pada satu sikap pilihan. Kemudahan mejalankan belanja online tidak berpengaruh secara signifikan terhadap skala prioritas pilihan sikap pembeli , pembeli relatif lebih banyak memilih lebih besar menabung dibandingkan melakukan belanja secara online/ media sosial. 9) Dimanapun dan kapanpun itu saya tetap mengakses media sosial. Berdasarkan data diatas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 36 responden (92.3%) menyatakan setuju bahwa dimanapun dan kapanpun itu mereka tetap mengakses media sosial. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 3 responden (7.7%) menyatakan tidak setuju. Hampir seratus persen responden menyatakan setuju dengan pernyataan “dimanapun kapanpun saya tetap mengakses media sosial”, hal ini menurut peneliti sikap hiup masyarakat sangat didominasi oleh isi materi informasi apapun yang ada di media sosial, .masyarakat secara otomatis akan mempunyai kesamaan informasi yang bersumber dari media sosial, baik itu informasi nyata ataupun informasi palsu. Informasi yang mereka terima ada yang bisa membuat mereka jadi warga masyarakat yang lebih luas sudut pandangnya tetapi juga ada celah peluang informasi yg bisa merugikan diri sendiri. Dalam hal ini penting sekali masyarakat mempunyai sikap kritis
44 dan obyektif, agar tidak dirugikan oleh informasi di media sosial. Ada sudut pandang lain dengan tingginya masyarakat yang mengakses media sosial yaitu bagi mereka yang sigap tanggap dan punya kecerdasan dengan skill tertentu media sosial bisa menjadi fasilitas peluang kerja yang produktif. 10) Tanpa disadari, saya sering lupa waktu saat menggunakan media sosial. Berdasarkan data di atas, diperoleh hasil yaitu sebanyak 27 responden (69.2%) menyatakan setuju bahwa tanpa disadari, mereka sering lupa waktu saat menggunakan media sosial. Namun disisi lain, ditemukan hasil sebanyak 12 responden (30.8%) menyatakan tidak setuju. Tingginya masyarakat menggunakan waktu ada suatu kemungkinan besar bahwa media sosial mampu menyajikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan dapat mendatangkan rasa bahagia, baik hiburan atau informasi atas hobi, dll. Hal ini tentu banyak waktu yang dibutuhkan tanpa disadri oleh masyarakat itu sendiri, kebiasaan ini lama kelamaan akan menjadi perilaku otomatis masyarakat sehingga membentuk budaya hidup masyarakat. Dan era digital ini sunguh sungguh mampu membuat gaya hidup masyarakat berfikir berperilaku berubah. Kesimpulan sementara ( hipotesa ) yang telah disusun pada proposal penelitian, yaitu adanya hubungan antara media sosial terhadap gaya hidup masyarakat modern. Jika dikaitkan dengan hasil yang didapatkan dari responden, maka hipotesa terbukti benar.
45 Kehidupan masyarakat secara umum sangat terpengaruh oleh kemajuan teknologi secara spesifik dengan adanya media sosial di era di gital ini. Masyarakat wawasannya dan pandangan terhadap sesuatu semakin luas karena kemudahan mendapatkan informasi dalam banyak hal. Kerena media sosial itu mendatangkan rasa senang bahagia sehingga antusias masyarakat secara umum sangat tinggi yaitu banyak waktu dimanapun kapanpun akan melakukan akses terhadap media sosial. Hal ini tentu berdampak pada meningkatnya pembelian terhadap barang – barang yang dibutuhkan sangat tinggi, interaksi melalui media sosial juga meningkat meskipun orang lebih tertarik interaksi sacara langsung. Terhadap pilihan beli barang – barang yang tidak dibutuhkan tapi menarik atau melakukan menabung, masyarakat secara umum masih memilih untuk menabung meskipun melakukan konsumsi barang barang yang menarik tetap ada tetapi relatif rendah jumlahnya. Ketergantungan masyarakat secara umum terhadap media sosial sangat tinggi , hal ini disebabkan media sosial juga mampu jadi peluang usaha yang produktif dan menguntungkan. IV.PENUTUP 4.1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diteliti mengenai pengaruh media sosial terhadap gaya hidup masyarakat modern, dapat disimpulkan bahwa: a) Beberapa masyarakat lebih menyukai media sosial sebagai sarana berinteraksi. Nyatanya media sosial digunakan bukan hanya sekedar tempat mencari informasi atau hiburan semata, tetapi juga tempat untuk masyarakat saling berkomunikasi. Namun efeknya yaitu komunikasi tatap muka atau secara langsung menjadi berkurang karena rasa nyaman yang telah menjadi kebiasaan.
46 b) Banyak masyarakat modern yang tanpa sadar telah kecanduan media sosial. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menjadi salah satu pemicu sehingga masyarakat sangat ketergantungan dengan media sosial. Dalam media sosial sendiri, perputaran informasi sangatlah cepat sehingga berita atau pesan apapun akan cepat tersampaikan. c) Benar adanya bahwa masyarakat lebih memilih berbelanja melalui media sosial namun tidak menjurus ke perilaku konsumtif. Walaupun jaman sekarang ini sudah banyak variasi tempat perbelanjaan secara online, namun masyarakat tetap memahami apa yang memang menjadi kebutuhan mereka. d) Media sosial bisa menjadi peluang sarana usaha yang produktif dan menguntungkan. 4. 2. Saran Berdasarkan penelitian ini , ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan sebagai masukan, antara lain: 1) Masyarakat tetap membudayakan komunikasi tatap muka atau langsung untuk menciptakan hubungan komunikasi yang baik, bukan sekedar hubungan dunia maya saja. 2) Masyarakat dapat bijak dalam menggunakan media sosial. Pergunakan media sosial seperti seharusnya digunakan, bukan menjadi kebutuhan primer. 3) Selalu utamakan budaya menabung untuk jangka pendek maupun panjang dibandingkan membelanjakan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan utama.
47 DAFTAR PUSTAKA Alyusi, Shiefti Dyah, Media Sosial: Interaksi, Identitas dan Modal Sosial. Kencana Prenadamedia Group: Jakarta, 2016 Chaney, David.,. Lifestyle: Sebuah Pengantar Komprehensif. Jalasutra: Yogyakarta, 2004. Dewi Oktaviani, Skripsi. Pengaruh Media Sosial Terhadap Gaya Hidup Mahasiswa IAIN Metro.: Institut Agama Islam Negeri (IAIN): Metro, Lampung, 2018 J. Setiadi, Nugroho. Perilaku Konsumen. J PT Kencana, akarta:2008 J. Setiadi, Nugroho, Perilaku Konsumen. PT Kencana : Jakarta, 2010 Kotler dan Keller. Manajemen Pemasaran. Erlangga: Jakarta, 2012 Nasrullah, Rulli, Media Sosial Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media: Bandung, 2015 Puntoadi, Danis, Menciptakan Penjualan Melalui Media Sosial. PT Elex Komputindo: Jakarta, 2011 Media Sosial. Dipetik 29 Oktober 2022, dari Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial, 2022 Ciri-Ciri Masyarakat Modern. (2021). Dipetik 30 Oktober 2022, dari Kompas
48 PENGARUH KEMAMPUAN KOMUNIKASI SEKRETARIS TERHADAP EFEKTIVITAS MENANGANI TELEPON Studi kasus: Sekretaris Presdir TransTV Tim Peneliti : Dosen dan Mahasiswa Asekma Don Bosco MV. Mieke Marini MP., S.Pd., M.Hum. ( Dosen ) – [email protected] Gunawan Suryatmodjo, S.E., M.IP. (Dosen) – [email protected] Maria Dian Sandra Widya Cinta (mahasiswa) – [email protected] ABSTRACT A telephone is a common communication tool especially for a secretary in order to communicates with other people. The telephone is the quickest means of communication because through the telephone, a secretary is able to obtain different information and enables her to communicate with her superiors, subordinates, and clients. Therefore, it is necessary for a secretary to know how to communicate effectively through the telephone. Ways to communicate pleasantly and efficiently greatly affects the value of a good secretary. Several elements to be considered in effective telephone communication are making preparations, using attractive voice, knowing how to answer phone calls well, avoiding misunderstanding in phoning, having professionalism in the conversation, and having speed in listening. This research is aimed to know whether the secretary team for the President Director of TransTV have a standard in handling telephone calls, and how they cope problems during the calls. Moreover, this study will help the students of secretarial studies to prepare themselves to be professional in doing one of their main jobs: handling calls (incoming and outgoing calls). Keywords: communication, secretary, effectivity, telephoning I. PENDAHULUAN Sebagai sekretaris eksekutif yang selalu sibuk, sebagian besar hari kerjanya dipakai untuk mengirim dan menerima panggilan melalui telepon. Telepon dipilih karena menghemat waktu, lebih cepat, relatif lebih murah (Morton & Stanwell, 1979). Berkomunikasi melalui telepon sangat sering dilakukan dengan melibatkan satu pihak dan pihak lain yang jaraknya berjauhan. Melalui percakapan di telepon, informasi yang ingin
49 disampaikan akan lebih cepat tersampaikan dan perusahaan dapat melakukan tindakan antisipatif dengan segera. Saat ini, kegiatan bisnis banyak dilakukan dengan cara komunikasi melalui telepon. Sebut misalnya: perkenalan perusahaan, menawarkan produk, menambah jumlah konsumen dan lainnya. Tetapi, berkomunikasi melalui telepon sering menimbulkan perbedaan persepsi sehingga terjadilah kesalahpahaman yang dapat menimbulkan konflik. Oleh karena itu, untuk berkomunikasi melalui telepon, kita harus mengetahui bagaimana berkomunikasi yang efektif melalui telpon dan apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain. Hal penting lain yang harus diingat adalah bahwa berkomunikasi melalui telepon bukanlah komunikasi dengan bertatap muka, sehingga komunikasi non-verbal seperti mimik, bahasa tubuh dan lainnya tidak dapat dilihat oleh lawan bicara. Oleh karena itu, orang yang melakukan komunikasi melalui telepon harus berusaha sebisa mungkin untuk berbicara dengan jelas dan dengan nada bicara yang sopan. Karena berkomunikasi dengan menggunakan telepon sering dilakukan dalam kegiatan-kegiatan suatu perusahaan, Penulis tertarik untuk menggali lebih detail mengenai pengaruh kemampuan komunikasi sekretaris terhadap efektivitas menangani telepon. Penelitian ini dilakukan kepada sekretaris pada level pimpinan (President Director) di TransTV. Fokus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah para sekretaris Presiden Direktur TransTV memiliki standar komunikasi efektif yang sama dalam menangani telepon, dan bagaimana mereka memberi solusi saat terjadi hal yang mendesak/tak terduga dalam menerima telepon. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan referensi dan masukan bagi para calon sekretaris yang akan masuk dunia kerja tentang bagaimana cara berkomunikasi di telepon agar memenuhi standar etika dan dapat berjalan dengan efektif.