50 II. LANDASAN TEORI 2.1 Komunikasi 2.1.1 Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah kegiatan yang tidak mungkin kita hindari dalam kehidupan kita. Sebagai mahluk sosial pada hakikatnya manusia membutuhkan orang lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah salah satu kegiatan yang akan selalu kita lakukan sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi dengan orang lain. Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin communis yang berarti “sama”, communico, communication atau communicare yang berarti membuat sama (to make common). Istilah communis adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna atau suatu pesan di anut secara sama. Akan tetapi definisi-definsi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagai hal-hal tersebut, seperti dalam kalimat “kita berbagi pikiran”, “kita mendiskusikan makna”, “dan kita mengirimkan pesan” (Mulyana, 2005 : 41-42). Berikut merupakan beberapa definisi komunikasi menurut para ahli: 1. Bernad Berelson dan Gary A. Steiner : “Komunikasi : transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan mengunakan symbol-simbol, kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi”. 2. Carl. I. Hovland : “Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambanglambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikate)”.
51 3. Stewart. L. Tubbs dan Sylvia Moss “Komunikasi adalah proses pembentukan makna diantara dua orang atau lebih”. 4. Himstreet dan Baty : komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu mlelui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan. 5. Bovee : komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan. Jadi, pengertian komunikasi ini paling tidak melibatkan dua orang atau lebih, dan proses pemindahan pesannya dapat dilakukan dengan menggunakan cara-cara komunikasi yang biasa dilakukan oleh seseorang melalui lisan, tulisan, maupun sinyal-sinyal non-verbal. 2.1.2 Proses Komunikasi Pengertian proses adalah urutan suatu kejadian yang merubah masukan menjadi pengeluaran. Pengertian komunikasi adalah suatu kegiatan berupa pertukaran informasi dari satu pihak ke pihak lain. Proses komunikasi adalah urutan kegiatan pertukaran informasi yang dimulai dari penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain, sehingga menghasilkan kesamaan persepsi tentang informasi tersebut (S.Djuarsa. Sandjaja, ). Menurut Komala (2009: 83) proses komunikasi terjadi manakala manusia berinteraksi dalam aktivitas komunikasi yaitu menyampaikan pesan mewujudkan motif komunikasi. Dalam hal ini komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas azas-azas penyampaian informasi serta pembentukan sikap dan pendapat. Effendy (2005: 11) menyatakan bahwa proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap yaitu: a. Proses Komunikasi Secara Primer yaitu proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan
52 menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. b. Proses Komunikasi Secara Sekunder yaitu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Pendapat lain mengatakan bahwa, proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (Abdillah Hanafi, 1984). Dan untuk merangkum dari semua teori tentang proses komunikasi ini, Purwanto (2006: 11 – 13) menyatakan bahwa proses komunikasi terdiri atas enam tahap, yaitu: 1. Pengirim mempunyai suatu ide atau gagasan 2. Pengirim mengubah ide menjadi sebuah pesan 3. Pengirim menyampaikan pesan 4. Penerima menerima pesan 5. Penerima menafsirkan pesan 6. Penerima memberi tanggapan dan mengirim umpan balik kepada pengirim 2.1.3 Gangguan dan Rintangan Komunikasi Sebagai suatu sistem, maka gangguan komunikasi bisa terjadi pada semua elemen atau unsur-unsur yang mendukungnya, termasuk faktor lingkungan di mana komunikasi itu terjadi. Menurut Shannon dan Weaver (dalam Hafied Cangara) gangguan komunikasi terjadi
53 jika terdapat intervensi yang mengganggu salah satu elemen komunikasi, sehingga proses komunikasi tidak dapat berlangsung secara efektif. Sedangkan rintangan komunikasi dimaksudkan ialah adanya habatan yang membuat proses komunikasi tidak dapat berlangsung sebagaimana harapan komunikator dan penerima. Meski gangguan dan rintangan komunikasi dapat dibedakan, tetapi sebenarnya rintangan komunikasi bisa juga terjadi disebabkan karena adanya gangguan. Gangguan dan rintangan komunikasi pada dasarnya dapat dibedakan atas tujuh macam, yakni: a. Gangguan teknis Gangguan teknis terjadi jika salah satu alat yang digunakan dalam berkomunikasi yang ditransmisi melalui saluran mengalami kerusakan (channel noise). Misalnya gangguan pada stasiun radio dan televisi, gangguan jaringan telepon, rusaknya pesawat radio sehingga terjadi suara bising dan semacamnya. b. Gangguan semantik Gangguan semantik adalah gangguan komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa yang digunakan (Blake dalam Hafied Cangara). Gangguan semantik sering terjadi karena: - Kata-kata yang digunakan terlalu banyak memakai jargon bahasa asing sehingga sulit dimengerti oleh khalayak tertentu - Bahasa yang digunakan pembicara berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh penerima - Struktur bahasa yang digunakan tidak sebagaimana mestinya, sehingga membingungkan penerima - Latar belakang budaya yang menyebabkan salah persepsi terhadap simbol-simbol bahasa yang digunakan.
54 c. Gangguan psikologis Gangguan psikologis terjadi karena adanya gangguan yang disebabkan oleh persoalan-persoalan dalam diri individu. Misalnya rasa curiga penerima kepada sumber, situasi berduka atau karena gangguan kejiwaan sehingga dalam penerimaan dan pemberian informasi tidak sempurna. d. Rintangan fisik atau organik Rintangan fisik ialah rintangan yang disebabkan karena kondisi geografis misalnya jarak yang jauh sehingga sulit dicapai, tidak adanya sarana kantor pos, kantor telepon, jalur transportasi dan semacamnya. Dalam komunikasi antarmanusia, rintangan fisik bisa juga diartikan karena adanya gangguan organik, yakni tidak berfungsinya salah satu pancaindra pada penerima. e. Rintangan status Rintangan status ialah rintangan yang disebabkan karena jarak sosial di antara peserta komunikasi, misalnya perbedaan status antara senior dan junior atau atasan dan bawahan. Perbedaan seperti ini biasanya menuntut prilaku komunikasi yang selalu memperhitungkan kondisi dan etika yang sudah membudaya dalam masyarakat, yakni bawahan cenderung hormat pada atasannya, atau rakyat pada raja yang memimpinnya. f. Rintangan kerangka berpikir Rintangan kerangka berpikir ialah rintangan yang disebabkan adanya perbedaan persepsi antara komunikator dan khalayak terhadap pesan yang digunakan dalam berkomunikasi. Ini disebabkan karena latar belakang pengalaman dan pendidikan yang berbeda. g. Rintangan budaya Rintangan budaya ialah rintangan yang terjadi disebabkan karena adanya perbedaan
55 norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi. 2.2 Sekretaris 2.2.1 Pengertian Sekretaris Menurut Hendarto & Tulusharyono (2003), Sekretaris sebenarnya berasal dari bahasa latin secretum yang berarti “rahasia” atau secretarius/secretarium yang berarti “seseorang yang diberi kepercayaan untuk memegang rahasia”. Akar kata secretary dalam bahasa Ingris adalah secret yang juga berarti “rahasia”. Jadi, bila dilihat dari asal katanya, sekretaris adalah seseorang yang seharusnya bisa menyimpan rahasia. Beberapa definisi lain tentang sekretaris yang bisa kita dapatkan dari kamus ataupun yang diberikan oleh beberapa tokoh kesekretaritan dalam buku Hendarto (2003): 1. Ruth J. Anderson Secretary is “a personal office assistant to a designated supervisor who has close and direct working relationship with supervisor. Sekretaris adalah seorang asisten personil kantor yang menjalankan atau melayani pekerjaan-pekerjaan dalam suatu organisasi/perusahaan utuk mencapai suatu tujuan tertentu. Seperti mengelolah informasi-informasi yang diperlukan untuk berjalannya kegiatan organisasi, serta menentukan tujuan dan kebijaksanaan, memberikan garis besar yang akan digunakan sebagai pedoman pokok dalam pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.
56 2. H.W. Flower dan F.G. Flower. “Person employed by another to assist him is correspondence, literary work, getting information and other confidential matters”. Seorang sekretaris yang harus mampu menangani pekerjaan korespondensi/surat-menyurat, pekerjaan sastra atau jurnalis dalam suatu organisasi/perusahaan, mendapatkan informasi/pesan dari berbagai pihak perusahaan ataupun luar perusahaan dan beberapa hal rahasia tentang suatu organisasi/perusahaan. Karena seorang sekretaris juga harus mampu menyimpan atau menggenggam rahasia dari organisasi/perusahaan tersebut. 3. The Europan Association Of Profesional Secretary (Ikatan Sekretaris Eropa). “One who is able to have considerable amount delegated to her, is able to make decision in business occasion”. Dalam pedoman Ikatan Sekretaris Profesional Eropa tersebut menjelaskan tentang salah satu tugas sekretaris yang mempunyai wewenang dan mampu membuat keputusan dalam kegiatan bisnis dalam suatu organisasi/perusahaan. 2.2.2 Tugas-Tugas Sekretaris Menurut Hendarto & Tulusharyono (2003) Walaupun sudah dikatakan bahwa sekretaris terkadang bekerja sangat serabutan, tugas sekretaris bisa dibagi sebagai berikut: 1. Menurut Wewenangnya. a. Tugas Rutin Tugas-tugas yang hampir setiap hari dihadapi dan harus dikerjakan tanpa menunggu perintah atau instruksi khusus dari pimpinan, antara lain:
57 1) Melakukan pengetikan (surat, laporan, proposal) 2) Menelepon dan menerima telepon 3) Menerima tamu 4) Korespondensi 5) Pengurusan surat-surat masuk b. Tugas Instruksi c. Tugas-tugas yang tidak setiap hari dihadapi dan hanya dikerjakan bila ada perintah dari pimpinan, antara lain: 1) Menyusun jadwal perjalanan 2) Pengaturan keuangan 3) Persiapan dan penyelenggaraan rapat 2. Menurut Jenis Tugasnya: a. Tugas Administrasi/Perkantoran. Tugas yang berhubungan dengan tulis menulis, dokumentasi, dan pengetikan, antara lain: 1) Menangani surat 2) Pengetikan laporan/notulen 3) Arsip b. Tugas Resepsionis Tugas yang berhubungan dengan pekerjaan komunikasi, antara lain: 1) Menerima telepon 2) Menerima tamu 3) Menyusun jadwal perjanjian pimpinan
58 2.2.3 Peran Sekretaris Dalam bukunya, Hendarto & Tulusharyono (2003) memaparkan peran sekretaris di perusahaan: a. Penjaga/Beranda Perusahaan Dalam menerima tamu, sekretaris menyeleksi siapa yang bisa dan tidak bisa bertemu dengan pimpinan, kapan waktunya, supaya diatur jadwalnya dan tidak saling bertabrakan. b. Filter dan Pengelola Informasi Surat yang masuk dicatat, datur, dan diolah terlebih dahulu. Sekretaris mencari, mengelola, menyimpan, mengatur, dan bila diperlukan, mencari informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pimpinan. Dapat dikatakan bahwa sekretaris adalah orang yang mengetahui berbagai hal yang strategis dalam sebuah perusahaan. c. Asisten Pribadi/Tangan Kanan Pimpinan Sekretaris membantu pimpinan dalam menjalankan tugas-tugas sehari-hari, bahkan untuk banyak kesempatan mewakili pimpinan untuk keperluan perusahaan. d. Secret Keeper/Penjaga Rahasia Sekretaris yang baik menyadari bahwa ia memiliki informasi yang tidak boleh diteruskan kepada pihak yang tidak berhak. e. Sekretaris sebagai Duta Sekretaris bertindak sebagai wakil dari perusahaan. Dengan begitu, penampilan dan sikap seorang sekretaris harus baik dan professional, baik dalam berhubungan dengan klien maupun dengan masyarakat umum yang berhubungan dengan kepentingan perusahaan.
59 2.3 Efektif 2.3.1 Pengertian Efektif Menurut KBBI, kata ‘efektif’ berkaitan dengan efek; efektif berarti menimbulkan akibat, manjur, berhasil, dan berlaku. Dari kata tersebut dapat dikatakan bahwa ‘efektif’ merupakan suatu akibat yang mengarah positif dan berhasil. Disisi lain, ‘efektif’ juga sebuah usaha untuk mendapatkan tujuan, hasil dan target yang diharapkan dengan tepat waktu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa suatu pekerjaan dikatakan efektif bila tujuan yang ditetapkan sebelumnya berhasil dicapai. Berikut adalah pengertian efektif menurut para ahli: 1. Sondang P.Siagian Efektif adalah pemanfaatan sumber daya, sarana, dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankan. 2. Abdurahmat Efektif adalah pemanfaatan sumber daya, sarana, dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah pekerjaan tepat pada waktunya. 3. Hidayat Efektif adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitasm dan waktu) telah dicapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. 4. Mardiasmo Efektif adalah hubungan antara keluaran denga tujuan atau sasaran yang harus dicapai. Kegiatan operasional dikatakan efektif apabila kegiatan telah mencapai tujuan dan sasaran akhir kebijakan (spending wisely).
60 5. Schermerhorn John R.Jr. Arti efektif adalah sebuah pencapaian target. Target yag dimaksud adalah sebuah output, diukur melalui cara membandingkan. Andai output anggaran (OA) dibandingkan dengan output realisasi (OS), jika hasilnya OA > OS maka disebut efektif. 2.3.2 Efektivitas Menurut Bastian efektivitas dapat diartikan sebagai keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Selain itu efektifitas adalah hubungan antara output dan tujuan dimana efektivitas diukur berdasarkan seberapa jauh tingkat output atau keluaran kebijakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Mardiasmo (2017: 134) Efektivitas adalah ukuran berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu organisasi mencapai tujuannya. Apabila suatu organisasi mencapai tujuan maka organisasi tersebut telah berjalan dengan efektif. Pendapat lainnya menyatakan bahwa efektivitas merupakan pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektivitas dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang menunjukan tingkat keberhasilan atau percapaian suatu tujuan yang di ukur kualitas, kuantitas, dan waktu, sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya (Sedarmayanti, 2006). Secara umum dapat dikatakan bahwa komunikasi yang baik dan benar pada karyawan di suatu perusahaan mengindikasikan bahwa terjadi efektivitas kinerja karyawannya. 2.4 Telepon 2.4.1 Pengertian Telepon Telepon berasal dari kata tele dan phone yang merupakan bahasa Yunani yang artinya
61 jauh dan suara. Telepon adalah alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan berupa suara. Telepon ditemukan pada tahun 1876 oleh Alexander Graham Bell di Boston, Massachusetts. Seiring perkembangan teknologi, penggunaan telepon mulai tergantikan oleh telepon genggam. Tetapi masih banyak perusahaan yang tetap setia pada telepon untuk melayani pelanggannya. Pendapat lain menyatakan bahwa telepon adalah alat komunikasi yang cepat untuk dapat menerima dan menyampaikan informasi dengan sopan santun” (Sedarmayanti, 2009: 155). Sedianingsih, dkk (2010) menulis bahwa telepon merupakan alat komunikasi untuk menerima dan menyampaikan informasi dengan cepat. Melalui telepon seseorang (sender) dapat menyampaikan maksudnya baik untuk kegiatan bisnis maupun non bisnis dalam bentuk informasi kepada orang lain (receiver). Sehinggga dapat dikatakan bahwa selain sebagai alat komunikasi, telepon juga sebagai alat usaha, alat pembina citra perusahaan, simbol prestise, dan sudah merupakan bagian dari kehidupan manusia modern. 2.4.2 Teknik Bertelepon 2.4.2.1 Menerima dan Melayani Telepon Setiap karyawan, khususnya sekretaris harus mampu menerima dan menelpon dengan piawai (Sedianingsih, dkk). Untuk menciptakan kesan yang baik, usahakan pada saat menerima maupun melayani telepon untuk selalu mengatur suara agar terdengan phonogenic, mengatur kecepatan bicara, nada suara, dan kejelasan pengucapan. Sikap yang wajar dan ramah sangat diperlukan dalam pembicaraan telepon sehingga itu memberi kesan seakan-akan sekretaris tersebut berbicara langsung atau berhadapan muka (Morton & Stanwell, 1979). Seorang sekretaris jangan beranggapan bahwa karena orang yang menelepon atau
62 yang ditelepon tidak bisa melihat ekspresi wajah sekretaris maka perasaan orang tersebut tidak peka pada sikapnya. Melalui suara bisa dirasakan bagaimana sikapnya dalam melakukan komunikasi melalui telepon. Karena jika ia bersikap baik dalam melakukan pelayanan telepon, itu dapat memberikan gambaran yang baik mengenai perusahaan di mana ia bekerja. Kesan yang baik bagi suatu perusahaan didapatkan dari bagaimana seseorang customer atau pelanggan mendapatkan perlakuan atau pelayanan dari tiap-tiap anggota perusahaan tersebut dalam berbagai kesempatan, termasuk dari sekretaris perusahaan tersebut. Penampilan yang menarik, tanggapan, atau sikap tubuh yang positif sangat berpengaruh dalam menggambarkan keadaan suatu perusahaan. Dengan kata lain, hal itu merupakan cerminan langsung dari perusahaan (Nofianti, 2011). Telepon merupakan alat komunikasi untuk menerima dan menyampaikan informasi dengan cepat. Sopan santun dalam menggunakan telepon berlaku untuk semua orang atau pegawai yang menggunakan telepon sebagai alat komunikasi, termasuk seorang sekretaris perusahaan. Sekretaris juga harus memperhatikan the courtacy dial atau kepribadian menelepon, yaitu suatu istilah yang digunakan dalam pelayanan telepon secara profesional. Dengan menggunakan telepon, itu berarti sekretaris bertindak sebagai wakil yang pantas dari perusahaan tempatnya bekerja. Oleh sebab itu, perlu diusahakan agar seorang sekretaris dapat menciptakan kesan yang baik pada saat menggunakan telepon (Agung, 1991). Melalui sikap yang baik dalam bertelepon, seorang sekretaris secara tidak langsung melakukan promosi perusahaan terhadap pelanggan serta relasi bisnis. 2.4.2.2 Tata Cara Melakukan Panggilan Telepon (outgoing calls) Persiapan yang perlu dilakukan dalam hal menelepon antara lain menurut Anggun (2011b):
63 a. Menyiapkan hal-hal yang hendak disampaikan. Ini berarti memahami terlebih dahulu apa yang akan disampaikan atau dijelaskan di telepon. Bila jumlahnya banyak, seorang sekretaris mencatat butir-butir topiknya saja dan menyiapkan alat tulis dan kertas untuk mencatat. b. Mempersiapkan nomor telepon beserta nama orang dan perusahaan yang akan dihubungi. Seorang sekretaris tidak mengangkat pesawat telepon sebelum mengetahui dengan jelas nomor telepon yang dituju dan bila ada, nomor ekstensionnya sekaligus. c. Mengangkat telepon dengan benar. Seorang sekretaris mengangkat pesawat telepon dan mendekatkan ujung pesawat telepon yang tersambung dengan kawat ke mulut dan ujungnya yang lain ke telinga. Saat menghubungi penerima pesan terdapat dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama adalah telepon diangkat dan kemungkinan kedua adalah telepon tidak diangkat. d. Begitu mendengar ada jawaban, sampaikan salam dan menyebut nama diri dan lembaga tempat bekerja. e. Bila diterima langsung oleh yang dituju, pembicaraan dapat langsung dilanjutkan. Bila diterima sekretaris, itu harus ditunggu sampai disambungkan. Bila orang ditelepon tidak ada dan tidak perlu meninggalkan pesan, sebaiknya ucapkan terima kasih dan menutup teleponnya. f. Bila orang yang dihubungi ada di tempat, sampaikan ucapan salam, menyebut nama diri dan lembaga tempat bekerja, lalu sampaikan maksud dan tujuan menelpon. g. Mencatat pesan. Bila dari orang yang dihubungi ada pesan, ia mencatat pesan itu pada kertas telepon yang sudah tersedia. Bila tidak ada pesan dan pembicaraan sudah selesai, ia mengucapkan terima kasih, menutup telepon dengan tenang, dan meletakkan gagang telepon pada tempatnya.
64 2.4.2.3 Tata Cara Menerima Telepon (incoming calls) Berikut adalah beberapa hal yang harus dilakukan saat menerima telepon (Sedianingsih, 2010): a. Menjawab telepon yang masuk dengan cepat. Saat penerima pesan menerima telepon masuk segera angkat gagang telepon tersebut. Maksimal deringan telepon tersebut adalah 3 (tiga) kali deringan. b. Salam Setelah mengangkat gagang telepon, ucapkanlah salam dengan sopan, seperti “selamat pagi”, “selamat siang”, “selamat sore” atau “selamat malam”. c. Menyebutkan identitas diri dan perusahaan. Jika telepon yang masuk datangnya dari luar perusahaan, maka perkenalkan diri sendiri dan perusahaan. Dan jika telepon yang masuk datangnya dari dalam perusahaan, maka perkenalkan diri sendiri dan bagian di perusahaan. d. Menyeleksi telepon. Penerima pesan harus menyeleksi telepon terlebih dahulu. Tanyakan identitas dan maksud tujuan si pengirim pesan menelpon. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir adanya panggilan penipuan ataupun panggilan yang salah sambung. e. Memberikan informasi. Jika pengirim pesan membuthkan sebuah informasi, berikanlah informasi seperlunya saja. f. Mendapatkan informasi. Terkadang pengirim pesan tidak ingin memberitahukan identitas dirinya. Jika hal itu terjadi gunakanlah cara yang sopan dan gunakan sedikit taktik. g. Mencatat pesan. Saat pengirim pesan menyampaikan pesan yang ingin disampaikannya, maka catatlah
65 pesan tersebut. Pesan tersebut harus dicatat dengan baik dan akurat. Jika ada yang kurang jelas, penerima pesan harus menanyakan kembali. Dan jika penerima pesan sudah selesai mencatat semua pesan, sebaiknya dibacakan kembali untuk memastikan apakah isi pesan tersebut sudah benar atau belum. h. Mengakhiri telepon. Penerima pesan harus meakhiri telepon dengan sopan dan menggunakan kata-kata yang bersahabat. Dan juga jangan lupa unntk mengucapkan terima kasih dan juga ucapkan salam. Dahulukan penelpon untuk menutup panggilan. Setelah pengirim pesan mengakhiri panggilan, maka segera letakkan gagang telepon ke posisi yang benar. 2.4.2.4 Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Saat Berkomunikasi Melalui Telepon Berikut ini adalah uraian tentang hal-hal yang harus diperhatikan saat berkomunikasi melalui telepon: a. Bersikap seperti sedang bertatap muka. Walaupun berkomunikasi melalui telepon tidak dilakukan dengan saling bertatap muka. Kita tetap harus bersikap seperti sedang saling bertatap muka. Kita harus memikirkan dan memahami bagaimana persepsi dan perasaan lawan bicara kita. b. Jangan terlalu cepat/lambat saat berbicara. Saat berkomunikasi melalui telepon, terkadang suaranya tidak jelas. Untuk menganisipasi hal tersebut, cobalah untuk memperhatikan intonasi dan kecepatan berbicara. Agar lawan bicara dapat mendengarkan pesan dengan baik. c. Jangan menyela atau memotong pembicaraan. Banyak orang yang sering menyela atau memotong omongan orang lain. Padahal sudah jelas bahwa menyela atau memotong pembicaraan orang lain itu tidak sopan. Agar proses komunikasi berjalan dengan lancar,
66 kita harus sebisa mungkin untuk mendengaran pembicaraan lawan bicara kita dan tidak menyela atau memotongnya. d. Menggunakan bahasa baku. Karena disini konteks proses komunikasi yang penulis bahas adalah proses komunikasi dalm perusahaan. Maka penggunaan bahasa, sebaiknya menggunakan bahasa yang baku. Jangan menggunakan bahasa daerah atau bahkan bahasa gaul. e. Awali dan akhiri pembicaraan dengan salam. 2.4.2.5 Hal-Hal yang Harus Dihindari Saat Berkomunikasi Melalui Telepon Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian saat berkomunikasi melalui telepon, yaitu: a. Hindari menggunakan kata “Halo” Kata “halo” dianggap kurang sopan untuk mengucapkan salam kepada klien perusahaan. b. Suara Keras. Bersuara dengan keras juga dianggap kurang sopan. c. Berbicara dengan orang lain ketika sedang berada dalam panggilan. Sekali lagi, berbicara dengan orang lain ketika sedang dalam panggilan itu sangat tidak sopan. d. Membiarkan penelpon menunggu tanpa alasan yang jelas. e. Berbicara dengan nada memerintah. Hal-hal tersebut di atas harus dihindari karena hal-hal tersebut sangat tidak sopan untuk dilakukan (Sendjaja, 2014). III. PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan studi kasus dengan
67 jenis instrumental study untuk mendapatkan sebuah perspektif tentang pengaruh kemampuan sekretaris terhadap efektivitas menangani telepon. Populasi penelitian ini adalah para sekretaris yang bekerja di perusahaan dan sebagai sampelnya adalah para sekretaris Presiden Direktur di TransTV. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner berisi 15 pertanyaan yang dikirim dalam bentuk google-form. Kuesioner terdiri dari dua bagian yaitu data responden dan pertanyaan. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Berikut adalah analisis dari hasil pengolahan data responden: Pertanyaan bagian pertama mencakup data responden yang meliputi: 1. Nama responden: 8 orang sekretaris di kantor pimpinan TransTV 2. Jabatan: 3 Personal Assistant; 5 Sekretaris 3. Lama bekerja: 1 tahun = 2 orang 3 tahun = 3 orang 6 tahun = 1 orang 7 tahun = 1 orang 10 tahun = 1 orang 4. Tempat kerja TransTV Pada bagian kedua, seluruh pertanyaan disusun untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, yaitu bagaimana mereka menangani kegiatan bertelepon dan solusi yang dipilih saat menghadapi kendala dalam berkomunikasi lewat telepon. Berikut adalah data yang diperoleh:
68 1. Pertanyaan: “Apakah Anda bertugas menangani telepon (masuk dan keluar)?” Hasil: seluruh responden menjawab “Ya” 2. Pertanyaan: “Berapa lama Anda merespon telepon masuk?” Hasil: a. Begitu telepon berdering = 2 orang b. Menunggu 2x deringan = 5 orang c. Menunggu 3x deringan = 1 orang 3. Pertanyaan: “Apakah Anda mempersiapkan alat tulis saat menerima telepon?” Hasil: seluruh responden menjawab “Ya” 4. Pertanyaan: “Tuliskan alasan Anda memilih jawaban di pertanyaan nomor 3!” Hasil: a. Untuk mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh penelpon (5 orang). b. Untuk menulis poin-poin informasi yang tak terduga selama pembicaraan berlangsung dengan penelpon (3 orang). 5. Pertanyaan: “Apakah Anda menyebutkan identitas saat menerima telepon?” Hasil: seluruh responden menjawab “Ya” 6. Pertanyaan: “Apakah Anda bersikap ramah saat menjawab telepon?” Hasil: seluruh responden menjawab “Ya” 7. Pertanyaan: “Apakah di meja Anda tersedia formular penerima telepon?” Hasil: a. Jawaban “Ya” = 6 orang b. Jawaban “Tidak” = 2 orang 8. Pertanyaan: “Apakah Anda menggunakan kata-kata yang singkat dan jelas saat merespon si penelpon?”
69 Hasil: a. Jawaban “Ya” = 7 orang b. Jawaban “Tidak” = 1 orang 9. Pertanyaan: “Informasi apa saja yang Anda catata saat memerima telepon?” Hasil: a. Identitas penelpon dan tujuan menelpon = 3 b. Identitas penelpon dan pesan = 2 c. Identitas penelpon, pertanyaan atau berita yang diterima, kapan waktu untuk follow-up, dan waktu (jam) telepon diterima = 1 d. Identitas penelpon, keperluan apa yang bisa dibantu, adakah tambahan lain untuk disampaikan = 1 10. Pertanyaan: “Apakah Anda menggunakan kecepatan yang berbeda saat berbicara dengan penelpon?” Hasil: a. Jawaban “Ya” = 5 orang b. Jawaban “Tidak” = 3 orang 11. Pertanyaan: “Apakah Anda menjelaskan dengan jelas dan sopan saat menerima telepon salah sambung, penelpon ingin bicara dengan orang yang sedang tidak ditempat, atau meminta nomor lain?” Hasil: seluruh responden menjawab “Ya” 12. Pertanyaan: “Jika penelpon tidak memberikan identitas sampai sebelum telpon ditutup, maka Anda akan ….?” Hasil: seluruh responden menjawab “Ajukan pertanyaan” 13. Pertanyaan: “Apakah Anda mengatur suara saat menerima telepon?” Hasil: seluruh responden menjawab “Ya”
70 14. Pertanyaan: “Jika telepon bersifat mendesak apakah yang Anda lakukan?” Hasil: a. Beri catatan pesan kepada orang yang dituju (3) b. Meminta nomor kontak agar dapat ditindaklanjuti (3) c. Langsung dihubungkan ke orang yang dituju (2) 15. Pertanyaan: “Jika pesan yang disampaikan tidak jelas karena gangguan jaringan, apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya?” Hasil: a. Minta untuk menghubungi kembali (4) b. Meminta nomor kontaknya agar dapat segera dihubungi kembali (4) Dari 8 orang sekretaris Presiden Direktur TransTV diketahui ada 2(dua) orang sekretaris yang terbilang masih baru karena memiliki masa kerja selama 1 tahun, selebihnya memiliki masa kerja 3 – 10 tahun. Sesuai dengan posisi mereka saat ini, yaitu sebagai tim sekretaris Presiden Direktur, para responden memiliki standar dalam menangani telepon sesuai dengan teori yang telah disajikan sebelumnya, diantaranya: 1. Semua responden bertugas untuk menangani telepon. Dalam merespon telepon masuk, tidak ada responden yang membiarkan telepon berdering lebih dari 3x. Mayoritas dari responden mengangkat telepon masuk setelah deringan ke-2, dan ada 2(dua) orang yang langsung mengankat telepon masuk sesaat setelah deringan pertama. (pertanyaan nomor 1 dan 2). 2. Semua responden menyiapkan alat tulis saat menerima telepon walau tidak semua responden memiliki Form Telepon Masuk (Phone massage slip). Responden segera menyiapkan alat tulis saat menerima telepon agar dapat mencatat identitas penelpon (nama, asal/nama perusahaan, dan nomor yang dapat dihubungi) serta pesan/informasi
71 yang diberikan untuk disampaikan kepada penerima pesan. (pertanyaan nomor 3, 4, dan 7). 3. Semua responden menyebutkan identitas diri saat menerima telepon. (pertanyaan nomor 5). 4. Semua responden bersikap ramah saat menjawab telepon, dan mayoritas menggunakan kata-kata yang singkat dan jelas saat merespon si penelpon. (pertanyaan nomor 6 dan 8). 5. Semua responden mencatat identitas penelpon yang meliputi: a. Nama penelpon b. Nama kantor c. Nomor yang dapat dihubungi Hal ini dilakukan untuk antisipasi saat harus menindaklanjuti telepon masuk tersebut agar dapat dilakukan dengan segera dan tidak membuang waktu. (pertanyaan nomor 9 dan 12). 6. Semua responden menggunakan kecepatan yang berbeda dan mengatur suara saat berbicara di telepon. Dan mayoritas bersedia menjelaskan dengan jelas dan sopan saat menerima telepon salah sambung, ingin bicara dengan orang yang sedang tidak di tempat, atau meminta nomor lain. (pertanyaan nomor 10, 11, dan 13). 7. Masing-masing responden memiliki pendekatan yang berbeda pada saat menghadapi kasus menerima telepon yang bersifat mendesak. Namun semua memiliki kesamaan yaitu mencatat pesan dan menyampaikan kepada orang yang dituju, bahkan untuk situasi yang sangat mendesak mereka langsung memberikan teleponnya kepada orang yang dituju. (pertanyaan nomor 14).
72 8. Saat menghadapi gangguan karena jaringan, para responden memiliki beberapa alternatif solusi yaitu meminta untuk menutup telepon dan menghubungi responden kembali, dan sebagian lagi meminta nomor kontak si penelpon dan responden akan menghubunginya kembali. (pertanyaan nomor 15). IV. PENUTUP Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Telepon adalah salah satu sarana komunikasi untuk menerima dan mengirim infromasi yang paling cepat dan mudah. Melalui percakapan di telepon, sekretaris dapat berkomunikasi dengan atasan, bawahan, maupun kliennya setiap saat. Karena itu, menjadi suatu keharusan dan persyaratan bagi seorang sekretaris saat memasuki dunia pekerjaannya untuk mengetahui teknik komunikasi yang benar dan efektif. Teknik komunikasi tersebut termasuk cara menggunakan telepon, cara menghubungi orang lain melalui telepon, maupun cara untuk menerima telepon. Sebagai perwakilan dari pimpinan dan juga perwakilan dari perusahaan, seorang sekretaris harus mampu menunjukkan kesan yang baik kepada semua orang tentang pimpinan dan perusahaan tempat di mana ia bekerja. Dalam berkomunikasi melalui telepon, seorang sekretaris harus bersikap ramah dalam berkomunikasi. Ia harus mampu memegang pedoman pengetahuan dan dapat mengendalikan diri sehingga ia dapat memegang kedisiplinan dan norma serta tata krama dalam bisnis sebagai bentuk profesionalitasnya. Hal ini akan membantu sekretaris dalam mengembangkan kemampuan diri dan juga karirnya dalam pekerjaan. Saat menghadapi kejadian tak terduga dalam bertelepon, sekretaris harus tetap bersikap profesional dan siap untuk mengatasinya dan memberi solusi. Sekretaris harus mampu mengelola emosi dan tidak terpancing dengan situasi yang sedang terjadi guna
73 menjaga citra pimpinan dan perusahaan. Dan terakhir, keterampilan seorang sekretaris dalam berkomunikasi melalui telepon secara profesional mempengaruhi kesuksesan bisnis perusahaan. DAFTAR PUSTAKA Agung, G., Sekretaris yang Sukses, Erlangga: Jakarta, 1991. Cangara, H. (2000). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grafindo Persada. Chaniago, H. (2013). Manajemen Kantor Kontemporer. Bandung: CV Akbar Limas Perkasa. D. Lawrence Kincaid, &. W. (1980). Asas-Asas Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: LP3ES. Efendy, O. U. (2005). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya. Hanafi, A. (1984). Memahami Komunikasi Antar Manusia. Surabaya: Usaha Nasional. Hendarto, M. &. (2003). Menjadi Sekretaris Profesional. Jakarta: PPM. Komala, L. (2009). Ilmu Komunikasi Perspektif, Proses, dan Konteks. Bandung: Widya Padjajaran. Kuswarno, E. (2001). Efektivitas Komunikasi Organisasi. MediaTor, 55-61. Morton. G., &. S. (Sekretaris yang Sukses). 1979. Jakarta: Erlangga. Mulyana, D. (2004). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya.
74 Paoki, R. (2011). Teknik Komunikasi yang Efektif dan Efisien Via Telepon . Jurnal Ilmiah Unklab, 102-112. Purwanto, D. (2003). Komunikasi Bisnis. Jakarta: Erlangga. Sedarmayanti. (2006). Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Jakarta: Bumi Aksara. Sedianingsih. (2010). Teori dan Praktik Administrasi Perkantoran. Yogyakarta: Kencana. Sendjaja, S. D. (2014). Pengantar Ilmu Komunikasi. In: Komunikasi: Signifikansi, Konsep, dan Sejarah. Jakarta: Universitas Terbuka. Stanwell, G. M. (1979). Sekretaris yang Sukses. Jakarta: Erlangga. Waridah. (2016). Komunikasi dengan Berbahasa yang Efektif Dapat Meningkatkan Kinerja. Jurnal Simbolika, 231-239.
75 PERANAN SEKRETARIS DALAM MENANGANI BUSINESS MARKETING PADA START-UP FOOD AND BEVERAGE DI DIGERATI HOUSE Tim Peneliti : Dosen dan Mahasiswa Asekma Don Bosco Cecilia Agustien Umbas ( Dosen ) – [email protected] Angela Natasha Putri – [email protected] ABSTRACT This research discusses the role of the secretary in the Marketing division in handling Business Marketing, Digerati House is one of the food and beverage startups in the Bekasi area. The author finds obstacles when carrying out various marketing strategy plans, such as (1) There are marketing strategy activities that have not fully reached the target (2) There is a shortage of human resources or baristas (3) There is a marketing strategy that has not been implemented due to obstacles such as requiring more capital (4) There is media, or the desired talent cannot yet collaborate with the Digerati House brand. The solution is, the author also invites the entire team to brainstorm in issuing ideas and opinions regarding what strategies are interesting, appropriate, and effective to pursue, in order to reduce the risks and obstacles that will occur, the role of the secretary in the marketing department at a food and beverage start-up is very helpful in the process of sales planning and data processing, so that problems that exist in marketing can be resolved. Keywords: Secretary, Start-up, Business Marketing I. PENDAHULUAN Digerati House merupakan sebuah startup food and beverage di bidang kopi yang memiliki tujuan dan konsep yang berbeda dari tempat kopi lain yang ada di Bekasi. Mengingat pentingnya peran sekretaris bagi perusahaan swasta maupun pemerintah. Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui peran sekretaris dalam menangani bagian marketing pada perusahaan startup. Dalam menangani Bisnis Marketing seorang sekretaris perlu memahami strategi pemasaran dan faktor-faktor yang penghambat, sehingga tugas sekretaris dalam menangani bisnis marketing dan dilakukan dengan efektif dan efisien dengan demikian dapat
76 meningkatkan profit perusahaan. II. LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Sekretaris Menurut Wikipedia, sekretaris adalah sebuah profesi administratif yang bersifat asisten atau mendukung. Gelar ini merujuk kepada sebuah pekerja kantor yang tugasnya ialah melaksanakan pekerjaan rutin, tugas - tugas administratif, atau tugas - tugas pribadi dari atasannya. Pekerja atau karyawan ini biasanya melakukan tugas - tugas seperti mengetik, penggunaan komputer, dan pengaturan agenda. Pengertian Sekretaris Menurut Para Ahli Pengertian sekretaris menurut Para Ahli : 1 Istilah sekretaris berasal dari bahasa Latin, yaitu secretum yang berarti rahasia, dan orang yang memegang rahasia tersebut dinamakan secretarium atau secretaries. (Prayudi Atmosudirdjo dalam bukunya Kesekretarisan dan Administrasi Perkantoran). 2 Menurut M. Braum dan Ramon dikutip oleh Sri Sudarwinarti (2014 : 46), sekretaris adalah seseorang yang membantu pimpinannya dalam pendiktean, menyiapkan surat- menyurat, mengingatkan pimpinannya mengenai pertemuan atau perjanjian, dan melakukan banyak kewajiban lainnya yang berhubungan guna meningkatkan efektifitas dari pimpinannya. Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa sekretaris adalah seseorang yang membantu pekerjaan pimpinan dalam memegang rahasia dan menangani pekerjaan serta mengatur pekerjaan rutin di kantor. Ciri - ciri Sekretaris a. Mampu beradaptasi dengan lingkungan baru Sebagai makhluk sosial, diperlukan jaringan yang luas untuk mencapai kesuksesan
77 seseorang terlebih seorang sekretaris dalam kehidupan sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain di perusahaan. Hubungan sekretaris di perusahaan meliputi hubungan intern yaitu hubungan dengan bawahan, hubungan dengan rekan kerja, juga hubungan dengan pimpinan, maupun hubungan ekstern yang sering dilakukan sekretaris yaitu, hubungan dengan para klien, relasi perusahaan, bahkan relasi dari pimpinan. Untuk mewujudkan jaringan kerja di perusahaan baik internal maupun eksternal seorang sekretaris perlu memperhatikan etiket pergaulan dan mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, memahami berbagai macam karakter orang lain, sehingga membawa kesuksesan pribadi maupun perusahaan. b. Memiliki kepribadian yang baik Sebagai seorang sekretaris yang profesional diharapkan mampu berpenampilan, bertutur kata, dan bersikap yang dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi sekitar baik dihadapan pimpinan, rekan kerja, ataupun semua orang yang dijumpai. Seorang profesional dapat dilihat dari kemampuannya dalam menghadapi segala situasi, kemampuan membawa diri serta memiliki sikap dewasa sehingga tidak mudah terbawa arus yang tidak baik. c. Memiliki kedisiplinan tinggi Kedisiplinan dan keteraturan adalah kunci utama dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi semaksimal mungkin dengan cara mencegah waktu dan energi. Sekretaris yang profesional adalah sekretaris yang mampu menerapkan disiplin pada dirinya sendiri dan pada pekerjaannya. d. Mempunyai wawasan yang luas dan ide yang membawa ke arah kemajuan Sekretaris profesional harus mampu membuka pikiran dan bersifat inovatif serta kreatif dalam membangkitkan rasa percaya diri untuk mendukung penampilan dan pembawaan diri. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperluas wawasan antara lain
78 dengan cara, membaca, meriset, bertanya kepada orang yang sudah berpengalaman, dll. e. Mampu menghargai pendapat orang lain Seorang sekretaris yang profesional mampu menjaga situasi dan kondisi yang kondusif dalam bergaul dan berkomunikasi berusaha memperhatikan lawan bicara. Pembicaraan senantiasa menciptakan keselarasan dan berupaya untuk menghargai pendapat orang lain agar tidak tercipta perdebatan. Dalam hal bertukar pikiran dengan sesama rekan kerja atau pimpinan, seorang sekretaris yang profesional akan berupaya mengendalikan emosi agar tidak terjadi perdebatan tetapi hasil efektif dengan memperhatikan etiket dalam berbicara. 2.1 Pengertian Pemasaran Menurut Wikipedia, istilah pemasaran dalam bahasa Inggris artinya marketing, yang merupakan aktivitas dan proses menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan mempertukarkan tawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat umum. Pemasaran dimulai dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia. Proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia yang menjadi konsep pemasaran. Seseorang yang bekerja dibidang pemasaran disebut pemasar. Pemasaran harus memahami konsep dan prinsip pemasaran sehingga kegiatan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen yang dituju. 2.1.1 Pengertian Pemasaran Menurut Para Ahli Pengertian mengenai Pemasaran menurut para ahli : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemasaran merupakan proses, cara, kegiatan dalam memasarkan barang dagangan, perihal menyebarluaskan di kalangan masyarakat pada umumnya.
79 2. American Marketing Association, pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk membuat, mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan pelanggan menggunakan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingannya. 3. Menurut Lamb, Hair, dan Mcdaniel dalam David Octarevia (2001:6) pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi, dan distribusi sejumlah ide, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran, dan distribusi sejumlah ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi. 4. Pemasaran (marketing) menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong yaitu merupakan proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan dengan tujuan untuk menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya. 5. Saladin, istilah pemasaran merupakan aktivitas penjualan suatu produk atau jasa yang dapat diterima atau dibeli oleh pembeli karena produk atau jasa tersebut bermanfaat bagi pembeli dan menguntungkan bagi penjual. Pemasaran melibatkan dua unsur yang berkenaan, yaitu adanya permintaan (demand) dan penawaran (supply). Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pemasaran memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan arti penjualan. Pemasaran mencakup usaha perusahaan yang dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan konsumen yang perlu dipuaskan, menentukan produk yang hendak diproduksi, menentukan harga produk yang sesuai, menentukan cara-cara promosi dan penyaluran atau penjualan produk tersebut. Jadi, kegiatan pemasaran adalah kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan sebagai suatu sistem.
80 2.1.2 Jenis-jenis Pemasaran 1. Word of Mouth Marketing (WoMM) Word of mouth marketing adalah informasi produk yang didapatkan oleh konsumen dari konsumen lain secara verbal dan langsung atau dari mulut ke mulut. 2. Public Relation Marketing (PR Marketing) Public Relations merupakan salah satu jenis pemasaran yang utama. Umumnya, perusahaan yang bekerjasama dengan media untuk meningkatkan brand awareness (kesadaran produk) produk atau jasa mereka dan benefit yang bisa didapat oleh konsumen saat konsumen memiliki produk yang dijual. 3. Relationship Marketing Membangun hubungan (relationship) dengan customer merupakan salah satu cara yang efektif untuk memasarkan produk. Loyalitas konsumen terbangun ketika pihak perusahaan atau bidang usaha menjalin hubungan yang baik dengan customer atau pembelinya, maka ketika perusahaan atau bidang usaha tersebut meluncurkan produk baru, customer dengan sukarela akan membeli produk tersebut. 4. Digital Marketing Digital Marketing atau pemasaran digital merupakan jenis pemasaran yang memanfaatkan semua sumber daya dan aset penjualan melalui online. Jenis pemasaran ini memaksimalkan segala potensi yang ada di internet dan dinilai efektif untuk membangun brand dengan biaya yang rendah. Target pasarnya juga bisa ditentukan karena banyak penyedia jasa iklan yang menggunakan metode ini. 5. Branding Sebuah produk selayaknya memiliki target pasar, serta nama atau “merek”, untuk dikenal. Branding merupakan salah satu jenis pemasaran yang memiliki fungsi sebagai promosi jangka panjang. Branding selalu menyertakan nama, slogan, dan logo agar produk atau
81 jasa dari suatu perusahaan atau bidang usaha dapat dikenal banyak pihak. 6. Content Marketing Content Marketing merupakan instrumen utama dalam inbound marketing dan digital marketing karena salah satu cara terbaik untuk menarik target pasar. Content marketing akan melibatkan pembuatan, penerbitan, dan distribusi konten ke customer melalui media sosial, blog, video, siaran radio, dan webinar. 7. Multi-Level Marketing Multi-level marketing adalah bentuk pemasaran secara langsung yang melibatkan banyak orang dimana perusahaan merekrut dan menjual produknya. Multi-level marketing sering dikenal juga dengan network marketing karena tenaga pemasarannya mendapatkan komisi dari produk yang dipasarkan serta komisi pemasaran dan penjualan. 8. Inbound Inbound marketing merupakan jenis pemasaran yang memanfaatkan pembuatan konten dan interaksi yang relevan serta solutif, bertujuan untuk membuat brand dari produk atau jasa bidang usaha agar dapat dikenal dan ditemukan oleh calon konsumen. Dalam hal ini, konsumen yang mendekatkan diri pada produk atau layanan yang dimiliki perusahaan atau bidang usaha. 9. Social media Marketing (SMM) Social media Marketing merupakan jenis pemasaran yang terhubung dengan berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lainnya untuk mempromosikan produk atau jasa dari perusahaan atau suatu bidang usaha. 10. Influencer Marketing Jenis pemasaran yang melakukan kolaborasi brand dengan influencer untuk meningkatkan brand awareness ataupun untuk membantu pemasaran produk dan jasa tertentu dari brand tersebut. Influencer marketing ini mempunyai cara untuk
82 mempromosikan produk atau jasa dengan melakukan endorsements atau rekomendasi dari influencer atau content creator. 2.1.3 Unsur-unsur Pemasaran 1. Penentuan Pasar Dalam strategi pemasaran, upaya segmentasi pemasaran atau mengelompokan pasar dapat memudahkan bagaimana suatu bidang usaha dapat memperlakukan target pasarnya. Upaya ini merupakan langkah awal dari strategi pemasaran, agar suatu produk dapat diformat atau disesuaikan dengan keinginan pasar. 2. Perencanaan Produk Sebelum membangun produk, perusahaan perlu menyusun perencanaan produk yang akan disesuaikan dengan target pasarnya, misalnya menentukan kemasan, iklan, ukuran, hingga tokoh dalam iklan. 3. Manajemen Harga Manajemen harga merupakan salah satu dari bentuk upaya strategis dalam mengawali persaingan, berawal dari perhitungan yang matang secara internal kemudian perhitungan dengan harga pesaing. Manajemen harga ini bisa diawali dengan menghitung harga saat promosi, harga eceran, harga agen/reseller, dan lain sebagainya. 4. Proses Distribusi Proses distribusi merupakan bagian dari strategi pemasaran yang cukup melihat faktor efektifitas dan efisiensi dengan rinci, serta harus memenuhi kepuasan dari 3 pihak, yaitu : Produsen utama, Agen/reseller, dan Konsumen. 5. Komunikasi dan Promosi Efektif Komunikasi meliputi penerapan pendekatan pemasaran, sistem publikasi promosi
83 penjualan, hubungan relasi, penjualan langsung, pembentukan media pendukung. Komunikasi yang tepat akan semakin meningkatkan persepsi yang baik kepada pasar atau terjadinya promosi yang efektif. 2.1.4 Fungsi Pemasaran 1. Fungsi pertukaran, pembeli dapat memperoleh produk dari produsen dengan menukar uang maupun pertukaran produk dengan produk (barter) untuk dipakai sendiri atau untuk dijual kembali. 2. Fungsi distribusi fisik, yaitu suatu produk dilakukan dengan cara menyangkut serta menyimpan produk. Produk diangkut dari produsen mendekati konsumen dengan cara melalui air, darat, atau udara. 3. Fungsi perantara, menyampaikan produk dari tangan produsen ke tangan konsumen dapat dilakukan melalui perantara pemasaran yang menghubungkan aktivitas pertukaran dengan distribusi fisik. Fungsi perantara antara lain, mengurangi resiko, pembiayaan, pencarian informasi serta standarisasi atau penggolongan produk. 2.2 Pengertian Startup Startup adalah sebuah kata yang berasal dari Bahasa Inggris yakni “start-up” dan merujuk pada pengertian perusahaan yang belum lama beroperasi atau perusahaan rintisan dan masih mencari model bisnis yang diinginkan. Istilah ini mulai banyak dikenal di internet. Faktor adanya bisnis startup ini adalah karena kemudahan mengakses internet, semakin banyak orang yang mengenal internet sebagai wadah bisnis baru dan selanjutnya banyak pengusaha yang membangun usahanya dari hanya beberapa orang kemudian menjadi besar.
84 2.2.1 Pengertian Startup Menurut para Ahli 1. Menurut Marikxon (2020), Startup adalah perusahaan rintisan atau perusahaan baru yang sedang dikembangkan. Startup adalah sesuatu yang merujuk pada perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan - perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan target pasar yang tepat. Kesimpulannya, startup adalah perusahaan baru yang sedang dikembangkan atau belum lama beroperasi. Oleh karena itu startup sering disebut sebagai perusahaan rintisan. 2. David Kidder (Penulis buku Startup Playbook (2012)), mendefinisikan startup sebagai sebuah bisnis baru dengan inisiasi original yang digagas oleh pendirinya dengan berfokus pada pertumbuhan yang tinggi, memiliki risiko/keuntungan, dapat diukur, dan mampu memimpin pasar. 3. Eric Ries (2011), startup adalah sekelompok individu yang membuat dan menjual produk baru atau layanan pada dinamika pasar yang tidak menentu dalam mencari model bisnis yang tepat, sehingga startup menghadapi kondisi pasar yang terus berubah dengan tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi. Hal inilah yang membedakan startup dengan perusahaan. Kesimpulan dari pengertian menurut para ahli diatas, adalah sebuah langkah dalam menghasilkan sesuatu yang baru. Perusahaan ini biasanya berada dalam proses pengembangan dan riset untuk menemukan pasar yang tepat. 2.2.2 Ciri-ciri Perusahaan Ciri-ciri dari perusahaan , diantaranya sebagai berikut :
85 1. Perusahaan baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun 2. Jumlah karyawan yang dimiliki kurang dari 20 orang 3. Berada dalam fase perkembangan 4. Umumnya berjalan di dunia teknologi dan web (online) 5. Umumnya produk yang dihasilkan berupa aplikasi digital 2.2.3 Jenis-jenis Perusahaan 1. Bidang Transportasi Perusahaan rintisan pada bidang transportasi online dapat menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan permasalah transportasi. Dengan munculnya inovasi startup di bidang transportasi, banyak orang dengan mudah memesan layanan transportasi melalui smartphone. Startup transportasi yang terkenal di Indonesia adalah Gojek dan Grab. 2. Startup Bidang E-Commerce Perusahaan rintisan bidang e-commerce yang ada di Indonesia adalah Shopee, Tokopedia, BliBli, BukaLapak, dan lainnya. Jenis startup tersebut memudahkan para target pasarnya untuk membeli barang secara online. 3. Startup Perjalanan dan Akomodasi Jenis startup ini untuk mempermudah layanan perjalanan dan mendapatkan akomodasi lebih mudah. Jenis startup yang bergerak di bidang ini yaitu Traveloka, Pegipegi, Tiket.com, dan lainnya. 4. Startup SaaS (Software as a Service) Jenis usaha startup yang berkembang adalah startup yang menawarkan software sebagai layanan atau disebut sebagai startup SaaS. Usaha startup ini menyediakan
86 aplikasi atau software yang dijadikan sebagai layanan. Layanan tersebut bisa didapatkan secara online dan menggunakan komputer atau smartphone. Startup SaaS memanfaatkan teknologi cloud computing, contohnya POS (Point of Sale), dan lainnya. Perusahaan rintisan di bidang software as a service salah satunya adalah Jubelio, Majoo, dll. 5. Startup Bidang Food and beverage Jenis startup bidang Food and beverage ini merupakan jenis usaha yang menyediakan kebutuhan utama manusia, sehingga kapanpun dan dimanapun bisnis ini akan tetap selalu dibutuhkan. Bisnis F&B ini muncul karena adanya inovasi atau kreativitas dalam produk maupun pemasarannya. Inovasi yang unik dan perencanaan untuk memasarkannya adalah hal terpenting dalam bisnis ini. Startup bidang F&B yang terkenal di Indonesia contohnya Kopi Tuku, Dailybox (F&B startup on demand), Lemonilo, Kopi Kenangan, Es Teh Indonesia, Haus!, dan lainlain. 2.2.4 Manfaat Adanya Startup 1. Dapat memulai bisnis dengan jauh lebih mudah dengan adanya kemajuan teknologi. 2. Bisnis startup memiliki pasar yang lebih luas, karena tidak hanya bertumpu pada satu lokasi, bahkan seluruh dunia menggunakan teknologi internet. 3 Modal untuk membuka usaha relatif lebih rendah 4 Ilmu startup dapat ditemukan dimana saja dan dapat bergabung dengan berbagai komunitas yang membagikan pengalaman membuka bisnis 5 Membuka pandangan orang banyak dengan hal sepele karena dengan membuka bisnis startup para pengusaha dituntut untuk terus berpikir kreatif dan membuat inovasi-inovasi baru.
87 III. PEMBAHASAN 3.1. Tugas seorang Sekretaris pada divisi Marketing cukup beragam, yaitu: 1. Merancang dan melaksanakan strategi marketing Tugas utama Penulis adalah membuat strategi marketing yang menarik dan efektif untuk dilaksanakan. Langkah - langkah dari pembuatan strategi marketing yaitu, menentukan tujuan bisnis (pencapaian) dan target pasar, mengumpulkan riset mengenai target pasar yang akan dituju, memahami kebutuhan pelanggan dengan cara yang berbeda, membuat dan mengumpulkan strategi marketing yang akan dilaksanakan, berkoordinasi dengan tim content creator untuk mendukung strategi marketing, mengevaluasi strategi yang telah dilaksanakan, antara lain: 1. Mengadakan event kolaborasi pertama di tahun 2021, pada hari Kemerdekaan 17 Agustus 2021 yang berjudul “GRILL & CHILL” bersama 365 Smoke House . Event ini dijalankan untuk memeriahkan hari Kemerdekaan 17 Agustus, dan untuk menjalin relasi baru dengan pihak F&B lainnya. b. Mengadakan event kolaborasi kedua pada 31 Desember 2021 yaitu, Workshop yang berjudul “DIGERATI SPEAKS (DISPIK): The Psychology of Friends with Benefits”. Penulis mengajak tim Event Organizer yang bernama Parsjay, untuk berkolaborasi menjalankan event Workshop pertama setelah pandemi dengan Digerati House. Event ini dijalankan dengan tujuan mencoba membuat event yang baru, berbeda dan memiliki manfaat bagi para customer yang datang, ditengah maraknya coffee shop di Bekasi yang hanya menjalankan event live music yang bergenre EDM Electronic Dance Music) dan disalah gunakan. c. Dan event kolaborasi ketiga pada 24 Januari 2022 yang dilakukan melalui postingan Instagram bersama Nara Kopi, Ngoepilah, dan Pintoe Kayoe dalam rangka “Spesial
88 Launching Kopi Papua Abmisibil” dari Nara Kopi. Contoh Laporan Kegiatan "Grill & Chill" d. Melakukan aktivasi aplikasi e-commerce (Shopee Food dan Go Food). Memperbarui daftar menu, foto, dan harga produk pada aplikasi. e. Mengadakan second visit, direct promotion, dan survey, untuk menjelaskan produk maupun jasa yang diberikan, mengambil feedback langsung dari customer mengenai produk, fasilitas, dan hospitality, menjelaskan berbagai promo yang tersedia, serta untuk menjalin komunikasi dengan customer regular untuk mendapatkan brand trust. f. Membuat design promosi produk yang akan di share pada social media Instagram (feed video, reels video, atau instastory), Facebook, dan juga aplikasi e-commerce (Go Food dan Shopee Food).
89 2. Membentuk brand awareness dan brand trust perusahaan Sekretaris memiliki tanggung jawab untuk membentuk, meningkatkan, dan mempertahankan brand awareness dan brand trust dengan upaya menggunakan media sosial sebagai alat untuk mempromosikan atau memperkenalkan produk yang dijual perusahaan kepada calon customer. Penulis juga dapat berinteraksi dengan customer menggunakan cara direct message atau melakukan pendekatan langsung baik secara tatap muka ataupun via media sosial. Penulis juga menerapkan strategi influencer marketing yaitu mengajak para influencer, blogger, ataupun content creator yang mempunyai impact dari para followersnya untuk mempromosikan brand, cara ini dapat menjangkau pasar yang lebih luas melalui media Instagram, Tiktok, Podcast Spotify. 3. Sekretaris memiliki tugas untuk menghubungi pihak eksternal seperti talent atau model konten yang telah di survey dan dipilih berdasarkan hasil engagement yang terlihat dari media sosial (Instagram dan Tiktok). Selain dengan talent atau model, Sekretaris juga menjadi perantara antara perusahaan dengan brand atau media yang akan berkolaborasi. Sekretaris bertugas untuk mensurvei brand lain melalui event - event yang diadakan oleh para komunitas, vendor, supplier, dll. 4. Mengatur timeline pembuatan dan pelaksanaan strategi marketing Contoh timeline perencanaan strategi marketing Pengaturan timeline pembuatan dan pelaksanaan strategi marketing dilaksanakan per minggu. Pelaksanaan strategi marketing ini kemudian dievaluasi apakah dari hasil strategi marketing yang dijalani itu efektif atau tidak dan sesuai dengan target yang diharapkan
90 atau tidak. 5. Merancang, menulis dan membuat presentasi, artikel, jurnal, laporan, dan ads di media sosial Sekretaris diberi tugas untuk membuat portofolio atau company profile tentang perusahaan yang nantinya portofolio tersebut dapat digunakan sebagai media untuk mempresentasikan perusahaan pada saat perusahaan akan ikut berkolaborasi dengan suatu event atau brand lain. Sekretaris juga bertugas dalam menulis caption atau artikel mengenai konten yang akan dibagikan pada media sosial perusahaan (Instagram, Facebook, Google Ads). Setiap minggunya, Penulis juga diberikan tugas untuk mengerjakan laporan pendapatan dan laporan kerja evaluasi strategi marketing. 3.2. Hambatan yang dihadapi oleh Sekretaris Marketing divisi Marketing, antara lain : 1. Adanya kegiatan strategi marketing yang belum sepenuhnya mencapai target 2. Terdapat kekurangan sumber daya manusia atau tenaga barista pada saat pelaksanaan event atau strategi marketing yang telah direncanakan, sehingga para barista atau team acara kewalahan dalam mengarahkan orderan atau customer yang datang 3. Adanya strategi marketing yang belum terlaksana karena adanya halangan seperti membutuhkan modal lebih 4. Kondisi operasional yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga strategi marketing belum bisa berjalan sesuai dengan jadwal 5. Adanya media, atau talent yang diharapkan belum bisa berkolaborasi dengan brand Digerati House. 3.3. Analisis Peran Sekretaris Marketing Peran sekretaris sangat penting dalam memajukan sebuah perusahaan dengan bekerja langsung berhubungan dengan para pimpinan demi suksesnya Misi suatu perusahaan dengan dasar saling percaya. Sekretaris diharapkan mampu melakukan segala tindakan yang akan menunjang rencana dan langkah kerja suatu perusahaan.
91 Berdasarkan teori yang telah dipelajari maka dapat dilihat bahwa peran sekretaris dalam membantu divisi marketing yang utama adalah membangun brand awareness dan brand trust sebagai langkah awal dalam memulai seluruh strategi marketing yang akan dijalankan. Sekretaris menggunakan strategi seperti Branding, Word of Mouth Marketing (WoMM), Public Relation Marketing (PR Marketing), Digital Marketing, Content Marketing, Social media Marketing (SMM), dan Influencer Marketing untuk membangun brand awareness agar para customer dapat terpengaruh untuk membeli produk atau layanan jasa yang dijual. Dan dapat membuat customer untuk terus membeli serta timbul brand trust pada produk atau jasa yang dijual oleh perusahaan. Dari adanya peran sekretaris yang membantu divisi marketing, pada faktanya terdapat berbagai hambatan seperti adanya ide strategi marketing yang terkadang belum sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, perlunya membutuhkan modal lebih, dan kurangnya sumber daya manusia (staff barista) yang tidak memumpuni ketika akan melaksanakan strategi marketing tersebut membuat peran sekretaris sangatlah dibutuhkan untuk membantu memberikan referensi strategi lain yang akan dijalankan, mengkoordinasikan dengan seluruh divisi dalam menjalankan strategi marketing, sebagai perantara antara pihak internal perusahaan dan juga pihak eksternal perusahaan, serta mencari peluang dengan mempresentasikan company profile kepada pihak event coordinator ataupun pihak investor sekaligus. Berdasarkan teori, fakta lapangan, hambatan dan solusi tersebut, maka peran sekretaris pada bagian marketing sangatlah membantu dalam proses pemasaran (marketing) dalam membangun brand awareness dan brand trust dari perusahaan kepada para customer. Sehingga permasalahan yang ada pada proses penjualan dapat mencapai target, sesuai dengan yang diharapkan, dan perusahaan mendapatkan feedback yang baik dari pihak eksternal. IV PENUTUP 4.1 Simpulan 1. Digerati House merupakan startup food and beverage yang bergerak dibidang kopi. Digerati
92 House juga merupakan salah satu coffee shop serta wadah bagi kalangan muda sampai tua untuk mendapatkan literasi dan edukasi serta dapat berdiskusi. 2. Sekretaris divisi Marketing menangani tugas – tugas marketing, seperti membuat strategi marketing, membentuk brand awareness dan brand trust dengan strategi yang dibuat, menjadi komunikator antara perusahaan dan pihak eksternal, mengatur timeline pembuatan dan pelaksanaan strategi marketing, merancang, menulis, dan membuat presentasi atau portofolio, artikel, laporan, dan ads di media sosial. 3. Hambatan yang dihadapi oleh sekretaris marketing adalah kegiatan marketing membutuhkan modal yang lebih banyak, waktu pelaksanaan strategi marketing yang belum sesuai dengan kondisi operasional, dan adanya media atau brand lain yang belum dapat berkolaborasi bersama Digerati House. 4. Solusi dalam mengatasi hambatan yang terjadi, antara lain berkoordinasi dengan general manager dan tim content creator dalam pelaksanaan strategi marketing, melakukan brainstorming dalam mengumpulkan ide dan saran untuk strategi marketing yang sesuai, menarik, dan efektif untuk dilaksanakan, dan Penulis juga melakukan peninjauan mengenai tren pasar dan apa yang dibutuhkan customer saat ini. 4.2 Saran Saran Penulis untuk Digerati House, tetap pada jati diri dan konsep dasar Digerati House sebagai ‘rumah’ atau ‘wadah’, tempat berkumpulnya orang – orang yang memiliki mutu pada bidangnya masing – masing. Dan tidak mengikuti arus yang salah dalam industri kopi dan bisnis food and beverage. DAFTAR PUSTAKA Cahyono, G. Fenomena Startup FIntech dan Implikasinya. Swara Patra. 2008. Cholifah, S. Strategi Komunikasi Pemasaran toko Kopi Tuku di WIlayah Jakarta Selatan . Jakarta: Universitas Pasundan, 2019. CN Kurniawan, E. W, Review Integratif Mengenai Pandemi Covid-19 dan Dampaknya Terhadap Industri Minuman Kopi . Malang: Seminar Nasional Administrasi Bisnis dan Manajemen. 2020. Immanuel, J. S. (2021). Pengaruh Electronic Word of Mouth (E-WOM) di Media Sosial Instagram Terhadap Purchase Intention Toko Kopi Tuku Melalui Brand Image . Universitas Multimedia
93 Nusantara. IMA Pranata, G. D. (2014). Strategi Penerapan E-Commerce Dalam Meningkatkan Keunggulan Bersaing. Jurnal Manajemen Bisnis Undiknas. JE Tarihoran, M. M.. Pentingnya Sosial Media Sebagai Strategi Marketin, 2021. Osman, I. (2020). Strategi Pemasaran UMKM Ditinjau dari Bauran Pemasaran Untuk Menunjang Startup di Indonesia. Pamulang: Universitas Pamulang. P Kotler, K. K. (2005). Strategi Pemasaran . Jakarta : Preshallindo. Risnawati, V. (2013). Pengembangan Profesi Sekretaris . Semarang: Jurnal STIE Semarang . Rosyadi, M. (2018). Pengaruh Influencer Marketing Sebagai Strategi Pemasaran Digital Era Modern . Jurnal Manajemen dan Inovasi. Siambaton, E. (2015). Etika dan Etiket Profesi Sekretaris Profesional . Jakarta: Politeknik Negeri Jakarta. Perekonomian di Era Digital pada Masa Pandemi. Jakarta: STIE YAI. VY. Sudarwinarti, M. S. (2019). Pentingnya Pengembangan Skill Bagi Sekretaris dalam Menghadapi Tuntutan Perubahan Profesionalisme Di Lingkungan Kerja . Jakarta: ADB'S Secretary . VY. Sudarwinarti. (2014). Peran Kualitas Komunikasi Sekretaris Dalam Meningkatkan Kualitas Keputusan Pimpinan . Jakarta: ADB'S Secretary . Wikipedia. (2021). Pengertian Sekretaris. Wikipedia. Wibowo, A. (2015). Pengantar Pemasaran Bisnis Digital. Semarang: Yayasan Prima Agus Teknik.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ PEDOMAN PENULISAN NASKAH ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 1. Naskah merupakan tulisan yang bersifat ilmiah baik dari dosen, mahasiswa, pegawaiASEKMA Don Bosco di bidang Sekretaris. 2. Naskah merupakan hasil penelitian lapangan, studi kasus, dan studi kepustakaan yangbersifat objektif, sistematis, analitis dan deskriptif. 3. Naskah harus asli dan belum pernah dipublikasikan melalui media lainnya. 4. Kata atau istilah asing yang belum diubah menjadi kata Indonesia atau belum menjadi istilah teknis diketik dengan huruf miring (italic). 5. Naskah diketik dalam Microsoft Word huruf Times New Roman 12, jarak baris 2 spasi,jumlah halaman seluruhnya 14-20 lembar ukuran A4, dengan margin kiri dan bawah 3 cm, margin kanan dan atas 2.5 cm dan dikirim ke alamat redaksi. 6. Sistematika terdiri dari : Judul, Nama Penulis, Instansi, Alamat Email, ABSTRAK (jikamakalah ditulis dalam Bahasa Indonesia maka abstrak ditulis dalam Bahasa Inggris dan demikian sebaliknya), PENDAHULUAN (latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat, dan metodologi), PEMBAHASAN, PENUTUP (kesimpulan dan saran), dan DAFTAR PUSTAKA. 7. ABSTRAK merupakan intisari (substansi) yang mencakup pendahuluan, pendekatan, metode, hasil dan kesimpulan; ditulis dalam Bahasa Inggris/Indonesia kurang lebih 100-200 kata, dalam 1 paragraf, dicetak miring (italic). 8. Daftar Pustaka ditulis tanpa nomor, diurutkan secara alfabetis: Nama pengarang (tanpa gelar). Judul (cetak miring). Penerbit. Kota. Tahun Penerbitan. Contoh: Ignatius Wursanto. Kompetensi Sekretaris Profesional. Andi. Yogyakarta. 2004. 9. Isi naskah bukan tanggungjawab redaksi. Redaksi berhak memilih naskah dan mengedit redaksionalnya tanpa mengubah arti.