1
Diruang tamu berukuran 2 x 6 meter
nampak Wanita berusia setengah abad
duduk sambil menurut-urut kaki dan
tangannya yang tak lagi sekuat dulu. Asam
urat,kolesterol dan juga darah tinggi datang
dan pergi. Dipangkuannya terdapat sebuah
buku diary yang sudah usang termakan usia
dengan tulisan yang sudah mulai memudar.
Air matanya menetes diantara tulisan itu
yang membuat semakin kabur coretan
didalamnya.
Lembar pertama dibuka bertuliskan
“selamat datang cinta pertamaku”
Angganya mengisahkan pertemuan dengan
seseorang yang menjadi perjalanan cinta
pertamanya. Disini ia mulai berjalan dimasa
2
lalu,masa dimana ia merasakan kebahagiaan
dan juga kesedihan yang luar biasa.
Kala itu kucuran keringat meluncur
membasahi bajunya tidak menyurutkan
semangatnya,berdiri di dalam bis antar kota
bersama puluhan manusia yang lebih
mementingkan harga dari pada
kenyamanan. Senantiasa berdiri sejak kali
pertama naik bis dengan tas butut dan
sepatu butut. Semenit sebelum bis berangkat
bau sengak mulai menjalar masuk hidung,
klason menjerit keras dan hawa di depan
pintu mulai terasa semakin panas. Sekitar
empat puluh lima menit bis mulai masuk
sebuah halte bis bertulisan Bojonegoro.
Inilah Kabupaten Bojonegoro, batinnya kala
itu. Sebuah Kabupaten yang terkenal dengan
makanan khasnya "ledre". Baginya ini
3
adalah tempat rujukan terakhirnya dalam
petualangan mencari ilmu lebih kerennya
dengan sebutan tempat kuliah yang hanya
melibatkan dirinya sendiri, tanpa orang tua,
teman atau pun kerabat. Berbekal hal paling
berharga dalam hidupnya, keyakinan dan
nekat. Ditambah uang saku beberapa ribu
dari celengan dan uang Rp 400 ribu untuk
pembayaran uang gedung yang diberi
ayahnya kala itu. Ini adalah awal perjalanan
ia dalam mencari bekal masa depan yang
penuh liku disebuah kampus Keguruan di
Kabupaten Bojonegoro.
Lembar kedua dibuka disitu terkisah….
Bulan Juli ia lalui dengan rasa cemas
dan takut. Takut sendiri,sendiri turun naik
bis dengan bekal yang sangat minim,minim
uang saku dan minim teman karena emang
4
belum punya kenalan di kampus. Saat bis
berhenti diperempatan dirinya harus segera
loncat keluar bila tidak bis akan
membawanya ketempat pemberhentian
berikutnya. Sementara pakaian yang ia
kenakan kala itu adalah hem dan rok yang
merupakan ketentuan pakaian yang harus
dikenakan di kampus dimana ia menimba
ilmu. Bisa dibayangkan bagaimana kala ia
meloncat turun dari bis yang setengah
berhenti.
"Krek! aduh robek rokku,bagaimana ini?".
Padahal ia harus melanjutkan perjalanan
menuju kampus dengan jalan kaki, yang
kurang lebih masih ada satu kilometer dari
perempatan. Dengan menahan langkah
agak pelan supaya roknya tidak bertambah
panjang robeknya.
5
"Kenapa mbak...?
Tanya seseorang yang tiba-tiba ada
disampingnya sambil mengikuti langkah
pelannya. Terlihat kalau dia mengerti
bahwa cewek yang ada disampingnya ini
butuh bantuannya.
"e...e....gak papa..."
Jawabnya dengan sangat malu. Malu
ternyata ada orang yang tahu bahwa rok
yang dikenakan robek.
"Gimana ini haruskah aku bilang bahwa
rokku sobek pada orang yang belum aku
kenal?,cowok lagi.... "dug..dug ...." detak
jantungnya berdetak kencang,ia merasakan
dadanya semakin sesak menahan malu
namun mengharap dia bisa membantu.
" emmm....ini rokku sobek saat loncat dari
bis".
6
"Deerrr....tanpa ia sadari mulutnya
menuturkan kejadian sebenarnya yang ia
alami kala itu. Ia menunduk menahan malu.
Tiba-tiba dia menarik lengan kirinya,iapun
menghentikan langkahnya dan bertanya,"
ada apa?". "ikut sajalah",jawabnya singkat.
Iapun mengikuti apa yang dia katakan
mengikuti langkah cowok yang belum ia
kenal meski hanya namanya. Mereka
berhenti disebuah toko pakaian.
" mbak ada rok seukuran dia?",tanya dia
pada pelayan toko.
"Ada mas”, silahkan ke sebelah sana bisa
pilih model,ukuran dan warna dan kebetulan
hari ini lagi diskon 30% mas”,jawab pelayan
toko yang terlihat cantik dan manis.
Lagi-lagi dia menariknya tangan tanpa
berkata-kata dan anehnya iapun ngintil
7
tanpa berpikir panjang. " Silahkan pilih rok
yang cocok dengan ukuranmu”, perintahnya
dengan entengnya tanpan berpikir apakah ia
mau atau tidak.
" Udah gak usah kebanyakan mikir...entar
telat masuk kampus...."katanya seperti ia
tahu apa yang ia butuhkan kala itu.
Iapun memilih rok span belahan belakang
warna hitam dengan harga lima puluh ribu
belum potong diskon,sengaja ia memilih
harga yang paling murah menyesuaikan
bajet yang dikantongnya.
“Berapa mbak kalau didiskon?”,tanya ia pada
pelayan toko.
“Harga semula lima puluh ribu,diskon tiga
puluh persen tinggal bayar empat puluh lima
ribu mbak”, jawabnya dengan
8
memperlihatkan senyum manisnya sebagai
tanda keramahan pada pembeli.
Ia diam sesaat. Diam bukan
sembarang diam,tapi diam menghitung uang
yang ada didompet bila dikurangi empat lima
ribu apakah masih cukup untuk ongkos naik
bis? belum lagi tenggorokan yang mulai
mengering minta disiram air karena habis
berjalan cukup lumayan.
“Coba yang ini aja kelihatannya lebih bagus,
warna dan ukurannya sama dengan yang
kamu pegang”,kata dia tiba-tiba tanpa
memperhatikan kepanikan ia saat melihat
harga yang ada pada bandrol rok tersebut.
“Gila!,mana mungkin aku pilih yang dia
pilihkan?.
9
“Nggak yang ini ajalah lebih murah”,kata ia
dengan kejujuran yang tanpa disengaja
keluar begitu saja dari mulutnya.
“Tapi suka kan?”,tanya dia kepada ia.
Lagi-lagi ia melakukan hal diluar
kesadarannya, menganggukan kepala tanda
ia menyetujui pilihan dia.
“Yang ini, mbak….berapa?”,tanya dia.
“Seratus ribu belum potong diskon”,jawab
pelayan toko masih dengan senyum
manisnya.
“Ini cowok benar-benar gila,aku belum dia
kenal kenapa dia sebaik itu padaku?”,kata ia
dalam hati.
“Segera ganti rokmu yang robek itu”,bisiknya
persis di telinga ia.
“Pyarrrr…..hati bergetar,tangan dingin dan
mulut ia tak mampu berucap. Langkahnya
10
ragu sambil menatap dia, tak percaya bahwa
yang ia alami ini adalah nyata alias tidak
sedang bermimpi.
Ia cubit lengannya.
”Aduh sakit!”,berarti bener tidak bermimpi
kata ia dalam hati.
Bagai kerbau dicocok hidungnya iapun
menuju tempat kamar ganti untuk melepas
rok robeknya dan mengganti dengan rok
yang dia beli. “Pas!”, sambil berputar
didepan cermin. Biar terlihat rapi,
dimasukkanlah bagian bawah baju
atasannya kedalam rok barunya dan ikat
pinggangpun ia pakai. Sekali lagi ia berputar
didepan cermin.
”Bagus!”
Terlihat langkah kaki ia yang pelan keluar
dari kamar ganti penuh keraguan dan
11
ketidakpercayaannya berjalan menuju cowok
itu.
“Cantik”
“Apa?”
Ia tidak percaya denga apa ia dengar.
“Yuk jalan lagi sebentar lagi masuk tuh
kuliahmu”,kata dia kepada ia.
“Bagaimana dia tahu jadwal kuliah disini?”.
“Apa dia kuliah disini juga?”.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam
hatinya.
“Udah…kita kenalan sambil jalan aja,biar situ
tidak terlambat. Malu kali….mahasiswa baru
datang terlambat”,kata dia sambil menepuk
pundak ia.
“Kenalkan aku Sasongko, Sasongko Pratama.
Anak pertama dari dua bersaudara. Aku
bukan mahasiswa dikampus ini. Namun aku
12
disini untuk tiga bulan kedepan, lagi ada uji
Pratik lapangan. Heran ya…gak kenal tapi
sok kenal, sok dekat dan sok akrab pula”.
“Kamu ndak mau memperkenalkan namamu
sama aku?”,tanya dia bagai petir disiang
hari. Lembut tapi menohok!
“A…aku Rara, Rara Rahayuningtyas.
“Berapa aku harus bayar harga rok ini?”
“Mau bayar?”
“emmm…..ya iyalah”, jawab ia sekenanya
padahal kalau disuruh bayar pasti uangnya
gak cukup dan dijamin pulang jalan kaki!.
“Gak usah itu gratis untuk kamu!”
“Beneran ini?”
“Bener….”
“Boleh aku panggil mas?”,tanya ia begitu
saja.
“Boleh…”
13
“Mas…”
“Panggil saja mas Ata,singkat dan mudah
diingat”.
“…I…iya…mas…mas Ata. Terima kasih
banyak ya atas semua ini. Mungkin kalau
gak ada mas Ata ….gak tahulah apa yang
akan terjadi. Malu kali ya …”.
“Biasa aja,bukannya hidup harus saling
tolong menolong, kebetulan saat Rara butuh
bantuan aku bisa membantu”.
“ngomong-ngomong mas Ata kuliah
dimana?” tanya Rara yang merasa penasaran
sekali dengan cowok yang baru ia kenal tapi
baiknya minta ampun.
“ISI Yogya, Institut Seni Indonesia.
Kebetulan aku ambil desain interior. Kaget
ya….kok bisa ada disini. Aku disini dalam
rangka memenuhi tugas akhir aku. Bulan
14
Agustus ini kemungkinan sudah selesai. Situ
baru masuk ya…”,tanya dia dengan
entengnya.
Rara semakin salah tingkah dengan
keminderannya. Ternyata dia cowok hebat
karena untuk bisa masuk di ISI tidak main-
main. Itu adalah salah satu perguruan tinggi
kelas wahid. Sedangkan ia hanyalah cewek
ndeso yang kuliah dikota kecil swasta lagi.
“Iya mas, aku baru masuk dan belum tahu
banyak daerah ini”.
“Emangnya situ aslinya mana?, aneh aja
kalau tidak tahu daerah sekecil ini”, tanya dia
yang membuat Rara merasa semakin bodoh
dihadapannya.
“Tuban mas, ya begitulah cah ndeso gak
pernah keluar kemana-mana sekali keluar
binggung walau hanya ke Kabupaten
15
sebelah. Harap maklum dech”, jawab Rara
semakin merasa kecil dihadapannya.
“He….kenapa dengan dirimu?, santai
sajalah….”, jawabnya seperti bicara sama
teman yang sudah begitu dekat. Enteng
sesederhana penampilan yang hanya pakai
kaos biru dongker tanpa krah dan celana
jean warna coklat yang tampak tidak baru
namun terlihat sekali kalau pakaian dia
kenakan adalah baju dengan merek terkenal
dan tentunya mahal. Denim dan Lee
Cooper!.
“Tuban mana?, Tuban kota?”, lagi-lagi dia
bertanya yang terasa menohok diri Rara
yang yang tidak sering pergi ke kota meski
itu kota kelahirannya.
“Bukan mas…aku dari desa kecil di sebuah
kecamatan yang kurang lebih 16 kilometer
16
dari kota Tuban. Mas Ata sering Ke
Tuban?”,tanya Rara penuh selidik agar nanti
jika dia bertanya ia bisa menjawab dengan
benar.
“Pernah tapi tidak sering…kenapa emang.
Eh…nanti kalau aku ke Tuban boleh mampir
ke rumah Rara?”.
Deerrr…..sebuah pertanyaan yang
tidak bisa terjawab langsung oleh Rara. Ia
gemetar dan gugup degup jantungnya
berirama tidak karuan,matanya tak berkedip
tertegun melihat dia yang masih tampak
santai sekali. Bibirnya kelu tangannya dingin
sedingin es, aliran darahnya terasa berhenti
mengalir. Ia tidak menyangka kalau dia akan
bertanya seperti itu.
“Boleh mas…dengan senang hati, cuman ya
…itu ndeso”.
17
“Emang kalau desa kenapa? tampil apa
adanya itu jauh lebih baik Rara…”
Dihadapan Tuhan itu lho kita sama tidak
dibedakan desa,kota,kaya,miskin,cantik
ataupun jelek”, kalimat demi kalimat keluar
dari bibir cowok yang ada disampingku.
Nyesss….adem sekali hati Rara mendengar
kalimat bijaknya itu.
“Eit…tuh gerbang kampusmu dah didepan
silahkan masuk dan ikuti perkuliahan dengan
baik ya…. Aku tunggu dikantin entar kita
sama-sama keluar kampusnya”,kata dia
sambil berlalu berjalan santai menuju kantin
kebetulan berada disebelah ruangan dimana
Rara kuliah.
“ini cowok ikut masuk ke kampus
juga?”,tanya Rara dalam hati.
18
Rara duduknya terlihat tidak tenang,
sesekali matanya tertuju ke jendela seperti
ingin cepat keluar dari ruangan. Baginya
waktu hari ini seperti tidak berpihak pada
dirinya, terasa begitu lama sekali.
Teeeetttt….suara bel jam kuliah berakhir.
Buku dan bulpoin segera masuk tas tanpa
menunggu komando. Dosen memberi salam
tanda mengakhiri kuliah, tas Rara sudah siap
dipundap untuk dibawa keluar ruang kuliah
dan bertemu mas Ata. Langkah Rara terlihat
cepat sekali sampai-sampai tidak
menghiraukan teman yang berjalan
disampingnya.
Disisi samping ruang tempat Rara kuliah
sudah berdiri cowok dengan kaos biru dan
celana jens coklat dengan merek terkenal.
“Mas Ata, sudah lama menunggu?”
19
“Belum, baru beberapa menit. Yuk, mau
jalan apa naik becak?”.
“Terserah sama mas ajalah. Kita mampir
mushola dulu ya, sholat magrib. Eh maaf,
muslim kan?, tanya Rara takut salah akan
keyakinan yang dia anut. Rara terlihat
hatinya berbunga-bunga entah apa yang ia
rasakan saat ini sama cowok yang baru ia
kenal pada hari itu. Wajahnya sumringah
walau hari sudah tidak pagi lagi alias sudah
petang menjelang adzan magrib.
“Menurut situ gimana? Apa aku kelihatan
tidak muslim?”,jawab Ata dengan
pertanyaan.
“Tadi belum cerita tentang keyakinan kan
mas….”.
20
“Dari orok aku muslim!. Ayah ibuku,kakek
nenekku,kakek buyutku semua muslim
seratus persen!.
“Iya,percaya mas…. Yuk kita ambil wudhu di
sebelah sana. Jamaah ya “,ajak Rara pada
mas Ata.
“Siaaap,itung-itung latihan jadi
imam….he..he…. Serius amat, bercanda
jangan dimasukin hati!”,bisik mas Ata tepat
ditelinga kanan Rara. Lagi-lagi Rara merasa
kaget dan wajahnya memerah!.
Selesai sholat mereka berjalan keluar
gerbang dan terlihat abang-abang becak
berebut menawarkan tumpangan.
Ditariknya tangan Rara sampai badan
mereka bertabrakan,”aduh! Bikin kaget aku
mas, ada apa?”,tanya Rara spontan.
21
“Kita jalan kesana agak menjauh dari abang-
abang becak itu, kita naik becak yang itu aja,
lihat tuh kelihatannya abang becak itu belum
dapat penumpang sudah tua lagi. Itung-
itung berbagi rezeki”,jelas mas Ata kali ini
dengan serius. Terlihat sekali kalau dia suka
berbagi.
Rara mengganggukan kepala tanda
menyetujui apa yang mas Ata bilang.
Mereka berjalan menjauh dari abang-abang
becak yang ada didepan kampus dan dia
melambaikan tangan meminta abang becak
yang terlihat sudah berumur agak lumayan
tua namun masih terlihat berotot dengan
pakaian yang lusuh menandakan kalau
memang patut sekali dibantu yang kebetulan
mangkal diseberang jalan.
“Pak…”
22
Abang becakpun mendekat dan berkata,”
kemana mas..?”.
“Terminal…,bisa?”.
“Monggo, silahkan naik mas,mbak”.i
“menyendiri pak,tidak ikut antri didepan
kampus sana?”.
“Tidak mas,sudah tua tidak mau berebut
sama yang muda-muda”.
“Sudah berapa kali narik hari ini pak?”,tanya
mas Ata pada abang becak.
“ Dua kali mas,maklum biasa… penumpang
lebih suka pilih abang becak yang masih
muda,masih kuat ngenjot becaknya
wk..wk”,jawab abang becak sambil tertawa
seolah-olah mentertawakan dirinya sendiri
karena sudah tidak kuat ngenjot becak
sekuat abang becak yang muda-muda.
“Mulai pagi?”
23
“Iya mas”.
Rara semakin kagum dengan cowok
yang baru ia kenal hari ini,walau ia terlihat
dicuekin oleh mas Ata karena sibuk berbicara
dengan abang becak yang mereka tumpangi.
Beberapa saat kemudian terlihat becak mulai
masuk parkiran halte bis dan abang becak
menghentikan genjotannya.
“Sudah sampai mas”,kata abang becak.
“O, iya makasih pak”.
Terlihat mas Ata memberikan uang
Rp.15.000 yang ia persiapan sedari ia naik
becak. Padahal harga becak saat itu hanya
Rp. 5000.
“Kebanyakan mas”, kata abang becak
“Gak papa buat tambahan beli es”,kata mas
Ata sambil mengandeng tangan Rara menuju
warung makanan yang ada dihalte bis, ia
24
mengajak Rara makan dulu sebelum pulang
agar tidak kelaparan atau kehausan saat
didalam bis karena sejak siang tadi tidak
sempat beli minuman atau makanan kecil.
“Gimana dah kenyang?”
“Udah”.
“ Nich bawa air mineral ini siapa tahu kamu
butuh minum saat didalam bis”,perintah mas
Ata pada Rara.
“Makasih mas. Perhatian sekali mas
Ata,padahal aku ini kan baru ia kenal”,guman
Rara dalam hati sampai segitunya ia padaku.
Apakah juga demikian perlakuannya pada
orang lain?”, tanya Rara masih dalam lubuk
hatinya yang paling dalam entah apa ia
rasakan saat itu.
25
Dalam diary itu tertempel foto bis Mutiara
Indah Murni yang warnanya sudah
menguning termakan waktu.
“Mutiara Indah Murni jurusan Bojonegoro
Tuban!”.
“Tuh dah banyak penumpangnya segera naik
kelihatannya bis akan segera berangkat.
O,iya besuk turun terminal aja ya gak usah
loncat-loncat dari bis entar robek lagi roknya
hihi… nanti ku jemput”.
“Iya,makasih ya…”,jawab Rara singkat
namun dalam hatinya ingin terus berada
disamping mas Ata. Ia pandangi mas Ata
sampai bis bergerak tanda mau jalan. Cowok
yang tidak begitu ganteng namun mampu
membuat hati dan pikiran Rara tidak
menentu penuh rasa, entah rasa apa itu.
26
Tak lama kemudian bis berjalan
meninggalkan terminal Bojonegoro, terlihat
tangan mas Ata melambai pada Rara dan
berharap besuk bisa bertemu ditempat yang
telah disepakati
Lembar ketiga,keempat dan
seterusnya mengisahkan…
Kali ini waktu terasa begitu lambat
berjalan semenit serasa sejam padahal saat
itu baru menunjukkan pukul 19.00 itu artinya
untuk bertemu mas Ata, Rara harus
menunggu sampai 15 jam lagi. Pukul 20.00
Rara sudah sampai rumah. Segera ia
melepas pakaiannnya menuju kamar mandi
untuk membersihkan badan, bau keringat
yang menyegat tercium karena habis
berdesakan dengan banyak penumpang di
27
bis antar kota. Segera ia menuju kamar
untuk berganti pakaian dan menunaikan
sholat isya’ sekalian. Setelah itu segera ia
membaringkan badan ditempat tidur yang
sederhana dan tidak begitu empuk kasurnya
karena sudah usang.
“Ra…makan dulu”, teriak ibunya agak
kencang karena Rara sehabis mandi
biasanya akan makan malam kali ini tidak
terihat keluar kamar.
“Sudah makan bu..tadi diajak makan sama
teman”,jawab Rara sekenanya.
Memang benar Rara sudah makan
kenyang dan sisa air mineral pemberian mas
Ata ia taruh disamping tidurnya sambil
sesekali dipegang dan berucap terima kasih
hari ini telah bertemu seseorang yang baik
hati. Walau jam serasa berjalan melamba.
28
Lambat laun mata Rara mulai memejam.
”Ger..ger..” tertidurlah ia dengan
nyenyaknya dan mungkin kali ini yang
datang dalam mimpinya adalah mas Ata
cowok baik hati yang ia kenal hari itu.
Malam berganti pagi dengan tanda suara
adzan subuh dari mushola depan rumah
terdengar agak serak. Segera Rara bangun
untuk ambil air wudhu untuk menunaikan
sholat subuh.
“Ra…segera buat sarapan,hari ini ibu sama
bapak ada rapat. Baju juga belum
diseterika”, kata ibu Rara.
Taka ada keluhan yang keluar dari mulut
Rara, semua ia kerjakan dengan senang hati
pekerjaan rumah mulai menyapu,cuci
piring,masak dan seterika baju ia lakukan
29
dengan riang gembira, seriang hatimya kala
itu.
“Dah! semua sudah beres tinggal
menyelesaikan tugas kuliahku yaitu
membuat ulasan tentang cerita dalam
Bahasa Inggris”, guman Rara untuk dirinya
sendiri. Bahasa Inggris adalah jurusan yang
ia pilih sesuai permintaan bapaknya. Sebuah
jurusan yang sebetulnya sama sekali tidak ia
inginkan.
Sebuah foto berdua yang telah usang
menghiasi diary itu, hatinya terasa semakin
teriris air bening mengalir dikedua sudut
mata Rara, meleleh dikedua pipinya. Jari-jari
tangan yang mulai keriput mencoba meraba
foto itu dengan pelan lalu diangkat, dicium
seperti seseorang yang merindukan
30
kehadiran orang yang ada difoto tersebut.
Kisahpun berlanjut dalam angannya.
Pertemuan demi pertemuan dilalui
bersama antara mas Ata dan Rara.
Indah,menyenangkan dan bahagia yang
mereka rasakan. Mereka saling jatuh cinta
dari pertama ia bertemu kala itu.
30 Agustus 1990 pukul 19.00 hari dimana air
matanya keluar tanpa bisa dibendung
sesekali terdengar sesenggukan menahan
suara tangis yang mungkin kalau dibiarkan
keluar tangisan keras.
“Kok mewek?”.
Pundak Rara terlihat turun naik nafasnya
nyesek dan air matanya terlihat semakin
deras membasahi kedua pipinya sesekali
tangan menyekanya. Suara mas Ata yang
lembut dengan kedua tangannya
31
menggenggam erat tangan Rara mencoba
menenangkan Rara yang tidak bisa
menerima kenyataan kalau hari itu adalah
hari dimana mas Ata akan kembali ke Yogya
meninggalkan Rara. Meninggalkan Rara
yang lagi kasmaran. Kasmaran dengan
cowok yang ia kenal sebulan yang lalu disaat
ia butuh bantuan.
“Ra dengerin, aku sayang dan bener-bener
cinta sama kamu. Nggak ada yang perlu
dikawatirkan Yogya-Bojonegero tidaklah
jauh Ra…aku janji akan menemuimu dua
minggu sekali dan ini… aku sudah beli
sepasang pager untuk kita. Walau kita tidak
bisa bertemu langsung namun kita bisa
saling berbagi cerita lewat pesan singkat
disini kapanpun kamu mau”.
32
Terlihat sepasang radio panggil kecil
warna hitam ada ditangan mas Ata. Dengan
cekatan tangan mas Ata menyalakan salah
satu pager itu lalu memberikan pada Rara.
Rara terdiam sesaat matanya tertuju pada
sebuah kotak hitam yang ada ditangan mas
Ata tangannya menengadah menerima
benda itu.
“Ini apa?”, tanya Rara pelan
“Ini yang namanya pager sebuah radio
panggil yang bisa digunakan untuk mengirim
pesan”.
Terlihat mas Ata menjelaskan bagaimana
cara kerja alat itu.
Rara mengangguk pelan sambil
mempraktekan petunjuk yang telah
diberikan mas Ata kepada Rara. Terlihat mas
33
Ata memeluk Rara erat meyakinkan bahwa
semua akan baik-baik saja.
Rara sedikit tersenyum memandang mas Ata
untuk menyakinkan dirinya sendiri bahwa
mas Ata bisa menjaga cinta mereka.
Dalam diary itu terlihat tempelan foto
mereka berdua lagi, kali ini sebuah foto
dengan suasana yang diambil disebuah
rumah makan. Angannya kembali kemasa
dimana Rara akan mengawali sebuah
hubungan jarak jauh yang dikenal dengan
istilah LDR.
Di sebuah tempat ruang makan yang
sengaja dipesan khusus oleh mas Ata untuk
dia dan Rara malam itu. Tepat disudut
ruangan nampak meja tertata rapi dengan
beberapa lilin sebagai penerangnya.
Temaram sahdu penuh kesedihan karena
34
disitulah semua bermula. Sebuah perjalanan
cinta yang mungkin akan terhambat karena
jarak yang jauh.
“Ra, kita makan dulu ya… sedari kamu nangis
jelek tahu”
“ Mas Ata baru sadar kalau aku memang
jelek!”,kata Rara dengan bibir yang sengaja
dimonyongkan.
“Tapi jelekmu buat aku jatuh cinta”,jawab
mas Ata memecah kesedihan Rara.
“ Hemmm…bisa aja”
“Ayo, kita makan keburu dingin”
“A….aku tidak lapar mas!”,jawab Rara
singkat.
Matanya yang sembab memancarkan
kesedihan membuat mas Ata mencari akal
gimana Rara bisa tersenyum kembali walau
35
sebenarnya perasaan mas Ata juga sama
sedihnya akan terpisah jarak.
Sebuah lagu terdengar dari pager Rara,
iapun segera membuka pesan yang ada di
alat itu.
“hihihi….mas Ata bisa aja, kapan kirim pesan
ini?”
“Tuh…dibantu embak-embak tadi saat naruh
hidangan”
“Kok aku gak lihat”
“lha kamu nangis dari tadi”
“Makan Ra walau sedikit …”
Sebuah sendok dengan nasi dan udang
berada tepat didepan bibir Rara. Mas Ata
berusaha menyuapi Rara agar perutnya terisi
walau sedikit.
“Rarapun membuka mulutnya ogah-ogahan”
Sesendok nasi masuk ke mulut Rara.
36
Sendok ke dua siap meluncur menuju mulut
Rara namun ia menolaknya tangannya
dengan cepat mengambil sebuah gelas berisi
orange jus dan meminumnya.
“Udah…aku udah kenyang!”
“Baiklah kita pulang. Sebelum pulang
dengerin aku sekali lagi bahwa kamu tidak
usah kawatir aku bener-bener cinta sama
kamu. Sekarang izinkan aku mengantar
kamu sampai rumah. Aku buktikan ke kamu
bahwa aku tidak main-main dengan
hubungan kita,” kata mas Ata kali ini terlihat
sangat serius.
Rara tidak menyia-nyiakan waktu yang
tinggal beberapa jam untuk bisa
bersamanya. Iapun mengganggukkan
kepala tanda setuju. Kali ini tidak naik bis.
Di depan sudah menunggu sebuah mobil
37
Toyota Corolla warna biru. Pintu mobil
dibuka dan Rara dipersilahkan masuk dengan
ungkapan yang lembut penuh kasih.
Perasaannya bertambah berat terasa tidak
sanggup kalau harus dipisahkan oleh jarak
yang jauh. Mobil mulai bergerak
meninggalkan pelataran tempat dimana
mereka makan. Sepanjang perjalanan Rara
hanya terdiam dengan mata terus
memandang kearah orang yang sedang
menyetir mobil disampingnya. Mas Ata
menyenandungkan lagu-lagu cinta
disepanjang perjalanan. Tak terasa mobil
sudah masuk ke sebuah desa dimana Rara
tinggal. Mobil memasuki sebuah pelataran
rumah setengah jadi,terlihat beberapa orang
keluar dari dalam melihat siapa yang datang
malam-malam dengan mobil. Turunlah
38
seorang cowok dan membuka pintu mobil
untuk Rara. Saat Rara turun dari mobil
orang-orang yang keluar dari dalam rumah
terlihat kaget.
“Siapa dia Ra?”
“Teman bu”
“ Selamat malam bu”.
“Malam”
“Kenalkan saya Sasongko Pratama teman
dekat Rara bu”
“O,silahkan duduk”
“Terima kasih bu”
Kali ini mas Ata kelihatan serius dan
tenggang ditambah bapak Rara duduk persis
berhadapan dimana mas Ata dipersilahkan
duduk.
39
Rara berlalu kedalam rumah untuk ganti
baju. Adik Rara sudah keluar dengan segelas
air untuk tamu yang sedang duduk.
“Sejak kapan dekat dengan Rara?”
“Sebulan yang lalu bu”
“Maksud kedatangan mas ini hanya untuk
mengantar atau ada urusan lain?”,tanya
bapak Rara tiba-tiba.
Mas Ata kelihatan gugup dan sedikit gemetar
tidak setenang biasanya.
“Kedatangan saya kesini ingin berkenalan
dengan bapak dan mohon ijin dekat dengan
putri bapak, Rara. Saya ingin membina
hubungan yang serius dengannya jika bapak
mengizinkan”
“Maksudnya gimana?”
“Begini bapak kalau Allah mengizinkan saya
ingin sungguh-sungguh dengan putri bapak”
40
Bapak Rara buru-buru masuk kedalam
mencari Rara menanyakan apa yang
sebenarnya sudah terjadi. Rara
menceritakan semua perasaan dan
hubungannya dengan mas Ata selama ini.
Bapaknya manggut-manggut mengerti
dengan apa yang Rara ceritakan.
“Baiklah saya ijinkan tapi tolong jangan
permainkan putri saya”
“Pasti bapak, saya akan jaga Rara dengan
sepenuh hati. Dan jika diperkenankan orang
tua saya juga ingin sekali datang untuk
berkenalan Rara dan juga bapak dan ibu.
Wajah mas Ata nampak berbinar
mendengar jawaban bapaknya Rara.
Dengan berbekal ijin dari keluarga Rara
sekarang mas Ata bisa datang kapan saja ke
rumah Rara untuk bertemu. Dan benar
41
orang tua mas Ata datang kerumah Rara
selang beberapa hari kemudian.
Sejak saat itu setiap dua minggu sekali
mas Ata ke rumah Rara untuk melepas rindu.
Hari berganti bulan berganti tahun cinta
mereka yang sudah mengantungi ijin
membuat hidup mereka begitu bahagia.
Pager hitam selalu menemani kemanapun
mereka pergi karena lewat alat itu mereka
bisa saling mengurai kanggen.
Sudah hampir satu setengah tahun mas Ata
bekerja disebuah real estate milik
penguasaha ternama di Indonesia. Tidak
terasa kala itu Rara masuk pada semester
tiga seperti biasanya setiap turun dari bis ia
selalu membuka pager mencari pesan baru
yang mungkin sudah ada. Cetak cetik tangan
jemarinya yang sudah lihai mencari dan
42
mencari pesan baru. Tidak ada! Sekali lagi
jemarinya kembali mencari pesan baru, tetap
tidak ditemukan! Hatinya mulai gundah tidak
seperti biasa mas Ata tidak mengirim pesan.
“Ada apa dengannya?”
“Ah mungkin dia sibuk karena minggu lalu
baru saja dipromosikan untuk bisa naik
jabatan”,kata hati Rara menepis kegundahan
hatinya.
Hari itu memang tidak ada pesan
terkirim dari mas Ata. Hari berganti
malampun tiba tidak jua ada pesan terkirim.
Matanya sulit ia pejamkan pikirannya
menerawang mencari tahu jawaban sendiri
atas pertanyaan yang muncul dari pikirannya
sendiri. Nihil! Tak ditemukan jawaban
apapun. Tidak ada alasan untuk curiga atau
menduga menduakan hati. Kesungguhan
43
yang mas Ata yang ditunjukkan pada Rara
tidak diragukan lagi. Dibuktikan kedua orang
tua mas Ata sudah pernah datang ke rumah
Rara untuk berkenalan dan bersilaturahmi.
“Pikiran apa ini!”
“Pasti karena sibuk dengan jabatan
barunya”.
Lagi-lagi Rara menepis kegalauan
hatinya. Malam kian larut suara
jengkerik,katak dan burung malam mulai
memainkan nada tinggi rendah seolah
konser orchestra segera dimulai, mata Rara
mulai mengecil dan akhirnya menutup dalam
tidurnya yang tidak nyenyak sementara seisi
jagad belahan bumi bagian barat manusia
terlelap dalam tidurnya. Diperjalanan
tidurnya angan Rara mulai masuk alam
bawah sadarnya,mimpinya dimulai, terlihat
44
disana disebuah jalan ada mobil warna biru
terlihat ringsek. Sontak ia terbangun dan
berteriak “ mas Ata….”. Nafasnya
terenggah-enggah air matanya mengalir
tanpa ia sadari. “Tidak ini hanya mimpi!”
dicubit tangannya berkali-kali untuk
menyakinkan bahwa apa yang ia lihat itu
hanyalah bunga tidur yang hadir karena
terbawa perasaan tentang orang yang
sangat ia cintai.
“Ada apa mbak?. Mbak Rara mimpi apa
sampai menjerit seperti itu?”
“Aku mimpi buruk! Aku melihat mobil mas
Ata ringsek!”
“Itu hanya mimpi mbak….ayo tidur lagi
masih malam mbak….”,ajak adiknya sambil
menarik guling yang terlempar ke lantai
kagget mendengar jeritan kakaknya.
45
“Mimpi! Ya ini hanya mimpi!”
Jantungnya terasa berdebar-
debar,tangannya gemetar pikiran dan
perasaannya menyatu dalam kesedihan
berharap pagi segera muncul supaya ia bisa
menghubungi mas Ata.
Ia berjalan ke kamar mandi untuk
buang air kecil lalu ambil air wudhu ia ingin
menghilangkan kekawatirannya dengan
sholat. Dalam sholatnya ia berdoa memohon
ke pada Allah supaya mas Ata
dijaga,dilindungi diberi keselamatan dan
kesehatan selalu. Memohon mimpinya itu
hanyalah bunga tidur. Hanyalah pekerjaan
setan yang tidak ingin melihat manusia
dalam bahagia. Beberapa saat kemudian
terdengar suara adzan subuh dari mushola
depan rumah Rara.
46
“Sudah pagi!”
Rara segera bergegas bangkit dari tempat
dimana ia bersimpuh memohon keselamatan
untuk kekasihnya. Belum batal wudhunya.
Segera ia menunaikan sholat subuh dan
diakhir sholatnya ia berdoa kembali
memohon keselamatan atas diri kekasihnya.
Tepat pukul 10.00 telephone rumah
Rara berbunyi “kring…kring…..kring….”.
Tidak ada yang mengangkat,semua
penghuni rumah Rara sibuk dengan
kesibukannya masing-masing. Bapak dan
ibunya masih mengajar,adiknya masih
disekolah dan Rara sendiri sibuk didapur
menyiapkan makanan untuk makan siang.
Semua masakan ia tata dalam meja makan
dan bergegas untuk mandi menyiapkan diri
untuk berangkat kuliah seperti biasanya agar
47
tidak ketinggalan bis Mutiara Indah Murni
jurusan Tuban Bojonegoro.
“kring…kring….kring…”telephone rumah
kembali terdengar dengan setengah berlari
Rara mengangkat gaggang telephone.
“Assalamu’alaikum …”
“Hallo…Rara disini”
Sesaat setelah mendengar pembicaraan
ditelephone gagang telephone terjatuh
berbarengan dengan jerita Rara yang
kencang.
“Tidak…..mas Ata….”
“tut..tut…tut….”
Pembicaraan ditelephone berhenti
mendadak. Rara duduk bersimpuh dilantai
badan lemas terkulai, air matanya mengalir
tanpa henti. Menangis kencang sampai
terdengar keluar rumah beberapa tetangga
48
datang melihat kerumah Rara dan
menenangkan Rara.
“Ada apa Ra?”
“Apa yang terjadi?”
“Cerita ke kami Ra, siapa tahu kami bisa
bantu”, tanya beberapa tetangga yang
mendatangi Rara.
Rara tetap terdiam seribu bahasa tidak satu
patah katapun yang keluar dari mulut Rara
sampai terdengar suara sepatu yang berjalan
tergopoh-gopoh dan mengangkat tubuh
Rara duduk di kursi.
“Ini ibu Ra,Ada apa?”
“Apa yang terjadi?”
“Ibu….”
Rara menangis kencang dipelukan
ibunya dan berkata bahwa Mas Ata
kecelakaan mobil saat perjalanan untuk
49
survey. Kondisinya kritis dan sekarang
berada dirumah sakit untuk dilakukan
operasi. Ibu Rara menenangkannnya dan
mengajak merembuk untuk berangkat ke
Yogya menjengguk mas Ata. Bapaknyapun
menyetujui rencana keberangkatannya ke
Yogya. Persiapan segera dilakukan mulai
dari sewa mobil sampai dengan baju yang
harus dibawa. Kali ini yang menyiapkan
semuanya adalah ibunya Rara hanya duduk
dengan tubuh yang masih lemas tidak
percaya dengan apa yang dialami mas Ata.
Ia ingin segera bertemu mas Ata untuk
melihat kondisinya.
Dengan kurang lebih tujuh jam perjalanan
sampailah Rara dan keluarga di sebuah
rumah sakit umum Dr. Sardjito. Begitu pintu
mobil terbuka keluarlah seorang gadis
50