dengan mata sembab karena menangis
semalaman, ia tergopoh-gopoh menuju
bagian informasi mencari tahu dimana mas
Ata dirawat.
“ICU”
“ikuti petunjuk arah yang disetiap lorong
disebelah sana”,jawab petugas dengan
ramahnya ke pada Rara.
Ucapan terima kasih keluar dari bibir
Rara sambil langkahnya dipercepat menuju
arahan dari petugas. Tepat diujung lorong
ada petunjuk arah ICU dengan tanda panah
ke kiri. Setengah berlari Rara menuju tempat
tersebut. Dari kejauhan terlihat beberapa
orang sedang berdiri tak tenang seperti
menunggu sesuatu yang teramat penting.
Diantara mereka ada kedua orang tua mas
Ata dan adiknya, Rina.
51
Pemandangan pilu tergambar disana dengan
pelukan Rara pada ibu mas Ata dibarengi
dengan tangisan yang mengiris hati siapapun
yang mendengar berlanjut tangan dinginnya
Rara tersambut oleh tangan Rina kemudian
pelukan dan tangisan yang menyayat pilu
kembali pecah. Dari dalam terdengar jeritan
seorang ibu yang merapati kepergian
seseorang yang mungkin orang yang paling
ia sayangi.
“Jangan pergi nak….”
“Jangan pergi…..”
“Tidak…..”
Suara itu terdengar biasa bagi petugas
ICU tidak ada yang aneh bagi mereka karena
pasien yang masuk kesana adalah pasien
yang kemungkinan kecil bisa bertahan hidup
dan mungkin hanya keajaiban Tuhan yang
52
bisa menolong. Namun bagi para keluarga
pasien yang dirawat disitu setiap jeritan yang
terdengar bisa menghentikan detak jantung
mereka.
Sebuah bed tidur diorong keluar ruangan
dengan seseorang terbujur diatasnya,
tertutup dengan kain putih dari ujung kaki
sampai kepala. Dibelakangnya iringan tangis
yang menyayat dari keluarga pasien
mengikuti langkah perawat yang mendorong
bed tidur.
Tangan ibu mas Ata memegang tangan Rara
yang dingin lalu menariknya menuju ruangan
dimana mas Ata berbaring. Setelah berganti
pakaian dengan pakaian khusus yang harus
dikenakan bagi keluarga pasien setiap mau
masuk ruangan ICU, ibu mas Ata dan Rara
melangkah menuju kesebuah bed dimana
53
seorang cowok yang baik hati dan teramat
dikasihi Rara berbaring diatasnya.
Pemandangan yang benar-benar tidak
pernah diharapkan oleh siapapun. Selang
oksigen terpasang dihidungnya,selang infus
tertancap ditangannya dan kaki yang
terbalut perban digantung keatas. Suara alat
pendeteksi jantung terdengar setiap detiknya
dengan sebuah layar monitor dengan garis
grafik berliku-liku bergerak turun naik.
Belum lagi aroma obat bius dan obat lainnya
bercampur jadi satu yang membuat perut
mual bagi yang tidak tahan aroma itu.
Dengan badan yang gemetar,jantung yang
berdebar-debar dan air mata yang meleleh
dipipi, Rara berhenti disamping kiri bed mas
Ata tangan dinginnya memegang tangan
seseorang yang teramat dicintainya.
54
“Aku disini mas…”
“Aku disini….”
Terlihat orang yang berbaring diatas
bed itu membuka matanya pelan begitu
merasakan sentuhan tangan dingin Rara.
Matanya memberikan kode dan ucapan
terima kasih telah datang menjengguknya.
Rara mewek dengan menciumi tangan dingin
mas Ata. Disebelah kanan tangannya
dipegangi oleh seorang ibu yang telah
melahirkan yang sangat menyanyanginya
pula. Kode kedipan mata mas Ata seakan
berbicara tentang sesuatu pada mereka.
Sesuatu yang mungkin ini adalah kode
terakhir yang diberikan mas Ata pada Rara
dan pada orang-orang yang sangat berarti
bagi hidupnya.
55
Seseorang yang mengenakan pakaian serba
putih menghampiri mereka dan
bertanya,”keluarga pasien?”.
“Iya,saya ibunya”.
“Begini ibu,sebentar lagi akan dilakukan
operasi silahkan berkas-berkas persetujuan
untuk ditandatangani”.
“Baik dok, saya panggil suami saya. Biar
suami saya yang menandatanganinya,dok”.
“Baiklah bu,saya tunggu ya”.
Ibu mas Ata melepaskan pegangan
tangannya dan meninggalkan mas Ata dan
Rara disana. Hati Rara terasa teriris-iris
bagaikan sembilu. Rasa kasihan dan cinta
yang teramat sangat pada orang yang saat
ini tangannya dalam genggamannnya.
“Mas Ata harus kuat”
“Mas Ata pasti sembuh”
56
“Mas Ata harus bertahan demi cinta kita”
Lagi-lagi kode kedipan mata diberikan mas
Ata pada Rara tanda mengiyakan.
Mengiyakan akan bertahan demi cinta
mereka.
Persiapan operasi akan dilakukan,Rara
diminta keluar ruang ICU oleh petugas.
Dengan berat hati Rara melepas geggaman
tangannya. Sebelum terlepas Rara mencium
kembali tangan mas Ata memberikan
semangat dan menyampaikan ungkapan
cintannya. Langkah pelan meninggalkan
ruangan dengan sesekali menenggok
kebelakang kearah dimana mas Ata
berbaring sampai sebuah pintu keluar
terbuka dengan pelan yang artinya Rara
sudah berada diluar ruang ICU. Tangisannya
pecah kembali dengan memeluk erat Rina.
57
“Aku tidak tega melihat mas Ata…”
“Kasihan mas Ata….”.
“Kasihan…”
Mereka berpelukan kembali dengan tangisan
yang merobek-robek hati mereka.
Bapak mas Ata mengajak berdiskusi
tentang kemungkinan apa yang akan terjadi
dimeja opearsi nanti. Kami diminta untuk
mendoakan agar operasi berhasil dengan
baik. Kemungkinan keberhasilan operasi
hanya 20 persen karena ada tulang rusuknya
yang patah melukai organ pentingnya.
Pintu ruang ICU terbuka dengan bed
yang didorong oleh seorang perawat diatas
berbaring orang yang sangat dicintai Rara
dengan selang oksigen,infus dan kaki
mengantung keatas. Segera Rara dan
keluarganya mengikutinya sampai didepan
58
ruang operasi. Semua yang ada disana
merasa cemas, ditengah kemasannya Rara
pamit meninggalkan mereka. Rara pergi ke
mushola untuk sholat dan berdoa agar
opearsi yang dijalani mas Ata berjalan lancar
walau kemungkinan berhasil tidak ada 50
persen.
Semua sisa tangis ia tumpahkan dalam
sujudnya memohon keselamatan dan
keberhasilan operasi. Sesaat setelah itu
segera ia kembali ketempat dimana orang ia
cintai menjalani operasi.
Hampir dua setengah jam lamanya operasi
berlangsung. Pintu terbuka muncul seorang
pakaian warna hijau dan kepala tertutup
warna hijau pula. Dia memberitahu kalau
operasi berjalan dengan lancar mereka
59
diminta doanya supaya dapat melalui pasca
operasi dengan lancar pula.
“Alhamdulillah….”
“Semoga mas Ata bisa melalui pasca operasi
pula”,ucap mereka hampir bersamaan.
Hari mulai gelap dan malampun tiba
keluarga Rara mohon ijin pulang karena
Bapak dan ibu Rara harus bekerja esok
paginya. Rara tidak ikut pulang ia ingin tetap
berada diYogya untuk orang terkasihnya.
Dua jam setelah pasca operasi mas Ata
belum jua siuman,dia masih berada di ruang
pasca opearsi yang dijaga ketat oleh dokter
jaga. Keluarga pasien hanya bisa melihat
dibalik kaca transparan walau tidak
mendekat mereka bersyukur masih bisa
melihat perkembangannya.
60
Tiba-tiba bed dimana mas Ata berbaring
dikerumuni oleh beberapa dokter jaga dan
perawat. Seorang dokter memberikan
suntikan dan yang lainnya memasang
sesuatu ditubuh mas Ata. Minitor jantung
menunjukkan grafik datar dan suara tit……..
Mereka yang sedari tadi memperhatikan apa
yang dialami orang terkasih itu menjerit
hampir bersamaan. Dunia menjadi gelap
ratapan tangis keluarga mas Ata dan Rara
terdengar menyayat hati.
“Kenapa Tuhan memanggilmu begitu cepat?”
“Kenapa….?”
Disisi lain…
“Anakku, ibu tidak sanggup menerima ini
semua nak….”
Tubuh seorang ibu paruh baya itu oleng dan
terjatuh pingsan.
61
“Ibu….”
Jerit Rina menambah kepiluan suasana saat
itu.
Rara duduk bersimpuh dilantai dengan
tangan memukul-mukul lantai melampiaskan
semua kecewanya pada Tuhan yang tega
memanggil begitu cepat orang terkasih
darinya, dari cinta yang sedang mekar.
Harapannnya untuk bisa selalu bersamanya
pupus. Ingin rasanya ia ikut bersamanya,
ikut menghadap sang pencipta.
Seorang bapak yang bijaksana yang pandai
menyembunyikan kepdihannya hatinya
medekati mereka semua dan menenangkan
mereka.
“ Kita mencintai dan menyayangi Ata
sepenuhi hati kita namun Allah sang pencipta
kita ternyata lebih mencintainya. Kita harus
62
merelakan dan mengikhlaskannya agar
kepergiannya bisa tenang dan mendapat
tempat terbaik disisi Allah. Kita-kita ini juga
tinggal menunggu giliran kita kapan akan
dipanggil”.
Sambil menepuk-nepuk pundak istrinya yang
sudah ada dalam pelukannya. Dilanjut
mendekat ke Rara dan Rina.
“Yang bisa kita lakukan saat ini doa tulus kita
untuk Ata agar semua kebaikannya diterima
oleh Allah dan semua kesalahannya bisa
diampuni”.
“Kita harus bisa menerima semua ini dengan
ikhlas”.
Tak berselang lama ada panggilan untuk
keluarga mereka tentang kepengurusan
jenazahnya. Akan dimandikan dan sucikan
dirumah sakit, apa di rumah. Mereka
63
berembug dan memutuskan untuk
dimandikan dan disholatkan dirumah.
Kabar duka sudah disampaikan ke keluarga
mereka yang dirumah. Diminta segera
menyiapkan segala sesuatunya untuk
mengurus pemakaman Ata.
Ambulanpun bergerak meninggalkan rumah
sakit Dr. Sardjito menuju Blora tempat
tinggal mas Ata.
Isak tangis kembali pecah tatkala
jenazah sampai dirumah duka. Isak tangis
kakek nenek dan sebagian pelayat
menyambut kedatangan jenazah. Didalam
rumah sudah terdengar lantunan tahlil dari
para pelayat juga. Keluarga mas Ata adalah
keluarga yang terpandang dan dermawan
disana. Jadi tidak salah jika begitu banyak
64
yang datang untuk ikut menghantarkan mas
Ata ke peristirahatannya yang terakhir.
Tidak terasa air mata itu menetes lagi
tepat ditulisan terakhir yang ada disitu
“Tunggu aku dipintu Syurga mas.. (20 Mei
1992)”.
Sebelum ditutup diary itu, foto tatkala mas
Ata dimasukkan keliang lahat diangkat dan
ciumnya sambil berkata lirih,” beristirahatlah
dengan tenang, aku telah mengiklaskanmu.
Buku diary ditutup dimasukan lagi kedalam
kotak bersama rok hitam kenangan dari mas
Ata saat pertemuan pertama.
65
66