The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Antologi Cerita Anak_ Sang Inspirasi (1)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpustakaansman3kuala, 2023-05-05 00:35:07

Antologi Cerita Anak_ Sang Inspirasi (1)

Antologi Cerita Anak_ Sang Inspirasi (1)

100 | Asosiasi Guru Belajar keluarga ini”, pikir Siempus. Siempus mulai menarik perhatian tuan rumah, dia sering meloncat-loncat dan mengeong ketika melihat Shankara bermain bersama bapak dan ibunya. Melihat gaya Siempus, keluarga itu merasa senang dan sering menggendong Siempus. Tapi semenjak ada Bens, perhatian keluarga Shankara tertuju pada anjing itu. Memang Bens lebih lucu dari Siempus. Suatu ketika Bens bermain-main di luar rumah Shankara. Siempus yang bersahabat dengan seekor kecoa mempunyai niat untuk mengajak bermain di dalam rumah. “Ayo Corona main ke rumahku”, ujar Siempus kepada kecoa sahabatnya. Bens yang mendengar percakapan Siempus dengan kecoa, lalu datang menghampiri mereka. “Jangan bermain ke rumah kami, nanti keluarga Shankara akan membunuhmu jika tahu kalau kamu main ke rumahku”, teriak Bens. Akhirnya Corona tidak jadi main bersama Siempus. Kekesalan Siempus kepada Bens semakin bertambah.


Sang Inspirasi | 101 Pada suatu hari ada seekor tikus masuk ke rumah bertujuan mengambil makanan yang ada di meja makan. Bens yang melihat kelakuan tikus tersebut langsung memanggil Siempus, “Pus…coba kamu lihat, siapa yang membuat kericuhan di meja makan itu”, ujar Bens kepada Siempus. Tidak berpikir lama Siempus langsung menuju ke ruang makan. Dilihatnya ada seekor tikus yang mau mengambil makanan di atas meja. “Hai Kus, apa yang kamu kerjakan di situ?” tanya siempus. “Aku lapar, aku mau makan”, ujar Si Tikus. “Jangan makan makanan yang ada di meja, itu makanan punya tuan rumahku!”, ujar Siempus. Si tikus tak menghiraukan teguran dari Siempus. Tiba-tiba bapak Shankara keluar dari pintu kamar. Melihat ada seekor tikus di atas meja, bapak Shankara mengambil sepotong kayu yang akan dibuat memukul. Melihat itu Siempus langsung tanggap. Dia langsung berlari dan menangkap Tikus. Bapak Shankara langsung menunjukkan rasa sayang kepada Siempus dengan memandikan


102 | Asosiasi Guru Belajar dan membelainya. Sejak saat itu Bens dan Siempus hidup rukun. Mereka berdua menjadi hewan kesayangan Shankara.


Sang Inspirasi | 103 Cicak dan Kelima Anaknya Karya: Siti Masitoh


104 | Asosiasi Guru Belajar “Disini saja!”, sambil tetap mengamati keadaan sekitar. “Ya sudah disini saja. Enak rumahnya luas. Banyak makanan. Tempat persembunyian juga banyak”, kata induk cicak sambil menatap wajah kelima anaknya dengan penuh cinta. “Tapi, Bu. Terlalu luas. Aku kan belum bisa berlari cepat!”, rengek si bungsu Coco. “Ibu tahu, Nak!”, kata ibu cicak sambil membelai kepala si mungil. “Bermainlah selagi aman dan jangan kemana-mana. Ingat! Kalian harus saling melindungi. Cici! Caca! Jaga adikadikmu dengan baik! Ibu akan mencari tempat persembunyian yang aman”, seru Ibu cicak “Baik, Bu!”, seru Cici dan Caca anak pertama dan kedua. Ibu cicak pun berlalu meninggalkan para kesayangannya. Dengan gesit merayap dan meloncat sana sini. Sang ibu berusaha mencari tempat yang aman untuk mereka bersembunyi. “Mm.. dimana ya?”, tiba-tiba matanya berbinar


Sang Inspirasi | 105 bahagia lalu sejenak berfikir sambil mengangguk-anggukan kepalanya, “Ya… ya… ya… Belakang kulkas tempat pembuangan air sepertinya cukup tersembunyi dan aman”, gumamnya. Tak berapa lama ia pun pergi. Sambil berlari si ibu berteriak, “Ciciii! Caca! Cece! Ceuceu! Coco!”. Dengan serempak kelima anak cicak itu menoleh ke arah ibunya. “Ibu sudah menemukan tempat itu. Kita harus berlari ke sana. Sembunyi sebentar di bawah kursi. Belok ke sebelah lemari terus ke bawah meja besar terus lurus. Kemudian kalian akan temukan kulkas besar. Kita lari lewat bawah nanti lalu masuk ke tempat pembuangan air di belakangnya. Cukup aman dan jauh dari pandangan”, kata sang ibu memberikan arahan kepada anak-anaknya. “Kreeeek!”, sayup-sayup terdengar suara pintu terbuka. “Sssst! Diam! Pemilik rumah datang”, bisik ibu cicak sambil memeluk kelima anaknya. Sambil berjalan mengendap-endap mereka


106 | Asosiasi Guru Belajar menjauhi sumber suara. “Disini! Kita sembunyi disini dulu”, kata sang ibu. Pemilik rumah pun berseru, “Bi! Tolong bersihkan seluruh ruangan sebersih-bersihnya biar tidak ada nyamuk, kecoa, ataupun cicak bersarang disini!”. “Baik, Bu”, jawab si bibi. Tak berapa lama si bibi dengan cekatan membersihkan ruangan demi ruangan. Sapu sana, sapu sini. Semprot sana, semprot sini. Terdengar oleh para cicak teriakan panjang anak kecoa, “Aah, toloong!!!”. Terlihat jelas juga nyamuk-nyamuk berjatuhan sehingga membuat para cicak sangat ketakutan. Si ibu berbisik, “Kita ada di tempat yang salah”. Dari kejauhan nampak seekor kecoa berlari. Ibu cicak memberi kode degan melambaikan tangannya, “Sini! Sembunyi disini!”. Sang kecoa pun mendekat sambil berkata, “Hati-hati! pemilik rumahnya sadis. Anak-anakku sudah mati semua”.


Sang Inspirasi | 107 Dalam waktu yang bersamaan, bibi membersihkan kolong kursi tempat para cicak dan kecoa bersembunyi. Terlihat ujung sapu mendekat. Dengan sigap kecoa lari bersembunyi. Sementara itu, ibu cicak memerintahkan anakanaknya untuk menempel di atas kolong kursi. “Gunakan perekat di tangan dan kaki kalian untuk menempel dengan kuat! Ayo sayang. Tempelkan tanganmu dengan kuat seperti kakakkakakmu”, ucap ibu cicak kepada anak-anaknya sambil meyakinkan Coco. “Ya,!”, kata si kecil Coco. Akan tetapi gerakan sapu itu sangat kuat menghantam ekor Coco sehingga ia terpeleset, “Ibuu…!!!”. Sontak ibu cicak menarik si kecil sambil berteriak, “Lari ke tempat yang ibu beritahukan tadi!”. Mereka pun berlari sekencang-kencangnya. “Ini lagi cicak! Prak prak prak!”, bibi memukulkan sapu sekeras-kerasnya dengan geram.


108 | Asosiasi Guru Belajar “Cepat, Bu!”, teriak Cici. Cici yang sudah di depan kembali ke belakang ibunya yang kepayahan membopong si kecil, “Ayo, Bu!”. “Prak prak!”. ”Aah!”. Ujung sapu mengenai ekor Cici. Si ibu berteriak, “Putuskan ekormu, Ci!”. Cici pun memutuskan ekornya sambil berlari mengikuti sang ibu sementara saudara mereka yang lain sudah bersembunyi dengan aman di balik kulkas tempat pembuangan air. Bibi menggerutu karena buruannya hilang tidak tahu kemana, ”Awas, ya! Kalau ketemu kalian mampus semuanya”. Dengan terengah-engah si ibu bertanya, “Sakit, Nak? Nanti juga ekormu tumbuh lagi”. Kemudian ia pun menatap satu demi satu kesayangannya. Sambil menarik nafas panjang, ia bergumam, “Ternyata rumah besar ini bukan tempat yang baik untuk anak-anakku. Mereka akan bernasib yang sama seperti anak-anak kecoa kalau tetap diam disini”. Ibu cicak berfikir sambil mengelus-elus kepala anak-anaknya yang sudah tertidur lelap.


Sang Inspirasi | 109 Hari beranjak malam. Suasana rumah sangat hening. Ibu cicak yang terjaga kemudian membangunkan anak-anaknya, “Bangun, Nak! Bangun, sayang!”. Satu persatu anak-anaknya menggeliat bangun. “Sepertinya penghuni rumah sudah terlelap tidur, Nak. Mari kita mencari tempat lain yang lebih aman untuk kita berlindung. Kalau kita tetap disini ibu takut tidak bisa melindungi kalian dari penghuni rumah ini”. “Sepertinya rumah depan yang penuh tumpukan kardus dan kotor itu lebih aman untuk kita. Ternyata rumah yang besar tidak bisa menjamin keselamatan para kesayanganku”, sambungnya. Mereka pun keluar dari persembunyian. Memandang sekeliling rumah besar nan megah dan pergi meninggalkannya.


110 | Asosiasi Guru Belajar Persahabatan Belalang Karya : Sucipta Design by: Freepik


Sang Inspirasi | 111 eluarga belalang terdiri ayah, ibu, dan dua anak kembar. Ayahnya bernama Sarikum, Nama ibunya Mamiyah, sedang anak kembar namanya Kontal dan Kantil. Dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup rukun. Pada saat makan bersama si kembar bertanya kepada kedua orang tuanya. Kontal bertanya, “Yah! Kenapa petani marah dengan kita?” Kantil juga bertanya, “Ma! Kenapa petani musuhin kita?” Ayah Sarikum menjawab, “Nak! Makanan yang kita makan itu akan merusak tamanan mereka. Wajar kalau petani marah dengan kita.” Ibu Mamiyah pun turut mengangguk. Kedua anak belalang menggelengkan kepala, masih ada rasa penasaran dalam hati. “Ayah, apakah bisa makanan yang kita makan tidak memakan milik petani?” tanya Kontal. “Ooo' iya, Yah. Kan kasihan petani, sudah menunggu tapi tidak jadi panen,” Sahut Kantil. Ayah menjawab K


112 | Asosiasi Guru Belajar penuh semangat, “Nak! hidup kita tergantung pada daun-daunan.” Kontal cepat menjawab, “Yah! Daun kan banyak, kenapa harus padi milik petani.” Ayah kembali menjawab, “Nak! Sepertinya kamu sayang dengan petani. Apa yang membuat kamu sayang kepada petani?” Sambil ketakutan kontal menjawab, “Tidak apa-apa, ayah.” Ayahnya masih penasaran, mengapa anaknya sayang sekali kepada petani. Perlahanlahan ayahnya mendekati kontal dan berbisik, “Nak ada apa dengan petani, coba ceritakan.” “Tapi ayah, jangan marah ya!” “Ya, Nak! Bapak tidak akan marah.” Beberapa hari yang lalu Kontal, Kantil, dan teman-teman sedang makan di sawah Pak Tani. Kita bersuka ria, tetapi petani sedih melihat padinya sebagian rusak oleh kita. Petani itu sedih, mendekati Kontal dan teman-teman. Petani berkata, “Belalang, bapak sudah dua bulan memelihara tanaman padi, dan sebentar lagi akan panen. Tapi kalian semua datang, dan


Sang Inspirasi | 113 merusak tanaman padi bapak. Rusaklah tanaman padi bapak. Tolong, Dik, jangan merusak tanaman padi para petani. Kalau kalian merusak tanaman padi, tamatlah para petani, karena tidak bisa panen. Sekarang kalian pergi ke seberang sana ya!” sambil menunjuk hutan yang rimbun daun-daun. Kontal dan kawan-kawan serentak menjawab, “Baik, Pak Tani. Kami akan pindah.” Sambil melihat petani, Kontal mengucapkan, “Da.. daa.., tetapi alangkah terkejutnya melihat petani itu menangis dan sambil mengangkat kedua tangannya sambil berkata, “Terima kasih ya Allah, atas ridhoMu semua belalang menjauh dari persawahan yang sedang tumbuh padi.” Begitulah ayah, mengapa Kontal sangat sayang dengan petani. Petani sayang kepada kita, makanya kita juga harus sayang dengan petani. “Oo, begitu…” sahut ayah. Kalau maumu seperti itu, ayah akan mengumpulkan keluarga besar belalang untuk tidak merusak tanaman milik petani.


114 | Asosiasi Guru Belajar Setelah dua minggu berlalu, berkumpulah keluarga-keluarga belalang untuk bermusyawarah. Ayah Kontal selaku ketua keluarga besar belalang membuka musyawarah. Pak Sarikum berkata, “Keluargaku sekalian… Menurut anakku, Kontal beberapa minggu yang lalu, petani mengucapkan kata-kata yang membuat anakku dan teman-temannya merasa kasihan. Tanaman padi yang mereka tanam sudah mau panen dan dirusak oleh kita. Tetapi mereka tidak meracuninya kita dan meminta kita untuk beralih memakan daun-daun di hutan. Saya mohon pendapat para belalang yang datang hari ini, untuk bermusyawarah. Salah satu belalang memberi tanggapan, “Saya pikir, benar. Para petani ingin bersahabat dengan kita. Saya setuju untuk meninggalkan lahan persawahan, kita beralih ke hutan alang-alang, mudahmudahan petani dapat panen dengan hasil yang baik.” “Bagaimana teman-teman yang lain?” tanya Pak Sarikum. “Saya sangat setuju kita pindah


Sang Inspirasi | 115 saja,” sahut belalang lainnya. Akhirnya Pak Sarikum berkata, “Saudaraku, apakah kita semua setuju meninggalkan lahan persawahan milik petani?” Seluruh peserta yang hadir dalam musyawarah kelurga besar belalang menyetujui untuk pindah. “Baik saudaraku semua, nanti sore kita semua bersama-sama meninggalkan persawahan menuju ladang ilalang.” Keluarga belalang meninggalkan tempat musyawarah untuk siapsiap meninggalkan persawahan. Tepat jam tiga sore keluarga besar belalang bersama-sama meninggalkan persawahan milik petani. Petani kaget melihat para belalang meninggalkan persawahannya. Lalu petani itu berucap, “Ya Allah, berkat kehendak-Mu belalang telah pergi jauh dari keluargaku.” Para petani pun bersuka ria dan dalam hati, “Semoga belalang juga memperoleh makanan yang enak di hutan.”


116 | Asosiasi Guru Belajar Hari Si Penyelemat Karya: Syafitri Liyani


Sang Inspirasi | 117 amaku Hari. Kata manusia, aku dan keluargaku adalah kucing terbesar di bumi. Kami hidup di hutan hujan tropis pulau Sumatera. Manusia menamai kami harimau Sumatera, satwa kritis yang hampir punah. Populasi kami tinggal 400 individu saja di alam bebas. Perburuan liar oleh manusia dan menipisnya habitat kami menjadi penyebabnya. Beberapa waktu lalu, ayahku mati ditembak pemburu. Kini aku hanya tinggal bersama ibu. Meski demikian, aku bahagia sekarang. Kata ibu, aku akan punya adik. Nanti aku bisa bermain dengannya, membantu ibu mencari makanan, dan melawan pemburu liar. Setelah tiga setengah bulan, ibu melahirkan. Adikku dinamai Ara. Kami sangat menyayanginya. Karena ibu masih kepayahan, malam ini aku menggantikannya mencari mangsa sebagai makanan. “Hati-hati, Hari! Jangan mendekati area manusia. Ibu tak ingin kau mendapat masalah,” seru ibu. Aku N


118 | Asosiasi Guru Belajar mengangguk mantap lalu berjalan menyusuri hutan. Gelap bukan halangan. Mataku berpendar saat gelap, telapak tanganku yang tebal dan lebar membuatku mampu berjalan dalam senyap, lima sensor di tubuhku dapat mendeteksi keadaan sekeliling. Aku melihat seekor babi hutan. Aku mengintainya dari kejauhan, mengendap, dan menunggu waktu yang tepat untuk melompat dan menyergapnya. Hap! Aku menyergap si babi hutan. Ia terhuyung dan kehilangan keseimbangan lalu terguling. Dengan mudah aku membawanya pulang untuk jadi santapan kami. Aku bergegas pulang. Dari balik semak, aku mengintip ibu sedang menjaga Ara dengan penuh kasih sayang. Langkahku terhenti, “Apakah ibu masih menyayangiku setelah ada Ara?” tanyaku dalam hati. Aku sedih. Ingin rasanya berbalik dan pergi. Tapi aku urungkan. Kasihan mereka pasti kelaparan. “Ibu! Ara! Lihatlah apa yang kubawa?”, aku berseru. Ibu tersenyum. Mata Ara berbinar.


Sang Inspirasi | 119 “Wah, Kak Hari hebat!” Ara bersorak. “Terimakasih, Hari!” ibu sumringah. Kami makan hingga kenyang. Malam berlalu, hari berganti. Ibu mengajari Ara berbagai hal untuk bertahan hidup. Aku sesekali ikut membantunya. Melompat, mengintai, mengendap, menyergap, menggaruk tanah dan batang pohon. Ibu juga kerap mengajaknya berjalan-jalan menyusuri tepian sungai di dalam hutan atau melihat-lihat mangsa. Melihat kedekatan ibu dan Ara aku semakin iri. Ibu tak lagi mengajakku berkeliling hutan atau mengamati mangsa semenjak ada Ara. Dulu, aku selalu menjadi kesayangan ibu dan ayah. “Kakak, ayo kita ke tepian sungai! Aku ingin sekali mengintip kawanan rusa!” ajak Ara bersemangat. Aku mendengus malas. “Temanilah adikmu, Hari!” pinta ibu. “Hmm!” jawabku kesal. “Jangan begitu, Hari! Pergilah!” bujuk ibu.


120 | Asosiasi Guru Belajar Dengan terpaksa aku menemani Ara. Ia begitu riang. Sepanjang jalan, ia terus berceloteh. Bertanya banyak hal. Aku hanya menjawab seperlunya. Menggeram, “Hmm.” Tibalah kami di tepian sungai. Beberapa rusa sedang asyik minum, mandi, atau bermain air. Kami mengintip dari balik rimbunan semak. Ara girang. Aku tak berniat menghabisi rusa hari ini. Apalagi mereka dalam rombongan. Tapi Ara memaksa, “Ayolah, Kak!” “Kita tunggu ada yang menyendiri dan menjauhi rombongannya,” kataku. Tapi ia tak sabar ingin memangsa rusa itu. Ia tiba-tiba melompat hendak menyergap si rusa. Sayangnya, rusa itu segera berlari mendekati rombongannya. Lalu rusa-rusa itu berkerumun. Ara ketakutan. Nyalinya ciut. Rusa-rusa itu hampir saja berbalik memangsa Ara karena ia sendirian. Aku segera melompat dari balik semak dan mengaum. “Aummmm”, suaraku menggelegar. Mereka mundur beberapa langkah melihat kedatanganku. “Kakak!” pekik Ara. Ia berbalik


Sang Inspirasi | 121 mendekatiku. Aku mengaum sekali lagi. Kali ini aku bersuara lebih keras dan melangkah maju. Aku terus mengaum hingga kawanan rusa itu mundur teratur dan menjauhi kami, menghilang di balik pepohonan. Tiba-tiba ibu datang memanggil Ara. “Ara! Ara!” teriak ibu. Tuhan, ibu hanya mencari Ara, tetapi tidak mencariku. Aku kecewa. “Ibu, kami di sini!” seru Ara. “Hari, kenapa kau tak mengajak adikmu segera pulang? Ini sudah petang. Aku cemas mencarinya. Ayo kita pulang, Ara!” ibu memarahiku sambil mengajak Ara pulang. Aku hanya diam, Ara menyahut, “Kakak menyelamatkanku, Ibu! Jangan marah padanya.” Dalam perjalanan pulang, Ara menceritakan peristiwa tadi kepada ibunya. Mendengar cerita itu, ibu lalu berhenti dan berbalik badan, “Hey, mana kakakmu?” Mereka berbalik arah mencariku. “Hari, maafkan ibu, Nak! Ibu hanya khawatir pada adikmu yang masih kecil. Terima kasih karena kau telah menyelamatkannya. Kau sungguh hebat,” kata ibu tulus.


122 | Asosiasi Guru Belajar “Apakah ibu masih menyayangiku?” aku malah menanyakan hal lain dengan cemas. Karena tak penting bagiku hebat itu jika ibu tak menyayangiku lagi. Ibu menatapku dalam, “Kau tak akan pernah tergantikan, Hari!” “Meski ada Ara?” aku penasaran. “Meski ada Ara, Hari. Kalian berdua kesayangan ibu, Nak!” tegas ibu. Aku tersenyum lega. Ara pun ikut tersenyum. Kami mengaum bahagia dan berjalan pulang bersama.


Sang Inspirasi | 123 FOUNDER ASOSIASI GURU BELAJAR Rugi Astutik, lahir di Gunungkidul, 23 Maret 1992. Tutik mempunyai moto dalam hidupnya, “Buat apa hidup jika tidak untuk mempermudah hidup orang lain?” Moto tersebut yang membuatnya mendirikan Griya Impian tahun 2016-2018 yaitu mengajar anakanak gratis di Pondok Cabe, Tangerang. 28 Oktober 2018 mendirikan Taman Baca Griya Impian 1. 27 Juni 2019 mendirikan Taman Baca Griya Impian 2. 19 Mei 2019 mendirikan Asosiasi Guru Belajar yaitu kumpulan guru seIndonesia yang belajar online setiap Jumat/Sabtu melalui WAG dan youtube. Saat ini terdapat 600 lebih guru dari seluruh Indonesia yang bergabung dengan AGB.


124 | Asosiasi Guru Belajar Banyak mahasiswa yang tertarik mengikuti kelas online AGB. Akhirnya, pada 06 September 2020, Tutik mendirikan AMBI (Asosiasi Mahasiswa Belajar Indonesia) yaitu perkumpulan para mahasiswa lintas universitas dan program studi. Saat ini ada 70 lebih mahasiswa di seluruh Indonesia yang bergabung dengan AMBI. Tutik adalah seorang pendidik. Kegemarannya dalam menulis ditularkan kepada para siswa yang telah ia didik. Hasil buku antologi yang telah ia bimbing berjudul, “Kenangan, San Francisco” dan “Kembar Kegelapan”. Buku, “Bersih Dulu, Baru Belajar” merupakan hasil bimbingan pertamanya kepada para guru di Asosiasi Guru Belajar. Buku “The Power of Kepepet” ini adalah hasil bimbingannya yang kedua. Buku cerita anak ini merupakan antologi kedua yang bergenre cerita anak yang diselenggarakan oleh Asosiasi Guru Belajar.


Sang Inspirasi | 125 CV Jejak akan terus bertransformasi untuk menjadi media penerbitan dengan visi memajukan dunia literasi di Indonesia. Kami menerima berbagai naskah untuk diterbitkan. Silakan kunjungi web jejakpublisher.com untuk info lebih lanjut ------------------------------------------------ ---------------------------- ------------


Click to View FlipBook Version