GENDIS SEWU BERKARYA AKU & SAHABAT Antologi Cerita Pendek Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Bekerja Sama dengan SD Taquma Surabaya
AKU & SAHABAT Penulis : Anatasya Dwi Zaskia, Aqilah Fajri Ramadhan, Salsabila Putri Mufidah, dkk. Desain Sampul : Vivi Ardiyanti Penyunting : Vivi Ardiyanti, Abdullah Fuad, Masrifah Penyunting Akhir : Faradilla Elifin Malidin, Vivi Sulviana, Amelia Rizky C, Rici Alric K, Vegasari Yuniati Diterbitkan pada tahun 2022 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Jl. Rungkut Asri Tengah 5-7 Surabaya Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas partisipasi yang telah diberikan dalam gerakan melahirkan 1000 penulis dan 1000 pendongeng. Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang
KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang begitu besar, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan buku ini sebagai bentuk apresiasi kepada para bibit penulis yang mengikuti Gerakan Melahirkan 1000 Penulis dan 1000 Pendongeng (Gendis Sewu) dengan baik dan lancar. Antologi merupakan kumpulan karya dari para penulis. Yang merupakan bibit Gendis Sewu Berkarya tahun 2022 dari SD Taquma Surabaya. Kisah yang ditulis adalah ungkapan perasaan dan pengalaman serta imajinasi mereka dalam kehidupan. Penulis yang merupakan siswa dan siswi usia anak penuh imajinasi rasa dan pikiran, membuat buku ini memiliki banyak pesan yang penuh makna dari tiap cerita. Kami menyadari bahwa sebuah karya memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam penyusunan buku ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih ada kekurangan kami mengharap kritik dan saran yang bisa membangun dari segenap pembaca buku ini. Surabaya, 2022 Tim Penulis Kecamatan Wonocolo
KATA SAMBUTAN Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam ikut serta membangun Kota Surabaya yang kita cintai. Kita patut bangga dan memberi apreasiasi kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit Pendongeng), para editor penulis Dispusip di Kota Surabaya yang telah bekerja keras membuat karya tulis berjudul Aku & Sahabat. Buku para bibit Gendis Sewu menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas yang telah melalui proses panjang dan berjenjang merupakan karya-karya imajinatif yang mengandung pesan moral dengan bahasa yang mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.
Semoga ke depannya akan menjadi inspirasi untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata, semoga buku Gendis Sewu Berkarya dengan judul Aku & Sahabat bermanfaat bagi semua pihak dan perkembangan para bibit Gendis Sewu. Surabaya, 2022 Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Mia Santi Dewi, SH, M.Si
SEKAPUR SIRIH Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami sangat bersyukur atas kehadirat-Nya, hanya dengan kemurahan Allah SWT, kami dapat menghimpun berbagai karya tulis para bibit penulis Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam sebuah buku antologi cerpen dengan judul Aku & Sahabat. Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya yang bernama Taman Kalimas. Taman Kalimas yang merupakan singkatan dari Tempat Menampung Karya Literasi Masyarakat memberikan layanan literasi yang di dalamnya terdapat tiga layanan sekaligus, antara lain layanan Taman Kalimas Pembelajaran, Taman Kalimas Karya dan Taman Kalimas Publikasi.
Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja Tim Penulis Dispusip Kecamatan Wonocolo yang berkolaborasi dengan SD Taquma Surabaya. Membangun kota maka perlu disertai 'membangun' manusia di dalamnya. Tentu tidaklah mudah, karena awal membangun seringkali terlihat abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun begitu, tetap terus 'membangun' karena 'membangun' manusia melalui literasi adalah sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta kita Kota Surabaya. Salam Literasi. Surabaya, 2022 Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KotaSurabaya Dani Arijanti, SE, M.Si
DAFTAR ISI Sahabat Sejati 1 Kejutan untuk Tata 8 Mogok Saat Kerja Kelompok 13 Dua Sahabat 18 Tetap Bersahabat Walau Berbeda 22 Cetakan Kue dari Nanta 27 Fokus, Nana! 34 Segelas Es Buah 40 Gelang Persahabatan 45 Tiga Serangkai 51 Mata Biru yang Lucu 57 Hujan Jadi Saksi 63 Tanpa Pamrih 68 Pertemuan Singkat 74 Dari Sebuah Pensil 79
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [1] ----------- SAHABAT SEJATI Oleh Anatasya Dwi Zaskia Perkenalkan namaku Anatasya Dwi Zaskia biasa dipanggil Tasya. Aku mempunyai sahabat yang bernama Ara, Nisa, dan juga kakak kandungku Tika. Kami memang sudah bersahabat sejak kecil. Walaupun kami berbeda suku, penampilan, dan bahasa, tetapi kami tetap saling menghargai antara satu dengan yang lainnya. Aku dan Kak Tika dari Suku Jawa, Ara dari Suku Madura, sedangkan Nisa dari Suku Sunda. Kami sudah bersepakat bahkan saling berjanji akan bersepeda bersama di hari Minggu yang merupakan hari libur kami semua. Sekarang sudah tiba hari yang dinantikan yaitu hari Minggu. Ara terbangun dari mimpinya yang indah. “Huaaah…!" Ara menguap sambil mengusap kedua matanya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [2] ----------- "Oh iya, hari ini ‘kan aku ada janji mau bersepeda bersama Tasya, Kak Tika, dan Nisa. Sepertinya aku harus segera mandi," ucap Ara. Pukul 06:00, di tempat yang lain Nisa masih tertidur lelap. Aku pun terbangun dari tidur. Setelah berusaha membuka mata yang masih terasa lengket, aku pun beranjak dari tempat tidur. "Oh iya, aku ‘kan punya janji sama mereka semua, kalau hari ini akan bersepeda bersama,” ucapku. Aku membangunkan Kak Tika dulu pikirku, karena kulihat pintu kamar tidurnya masih tertutup rapat. Setelah mengetuk daun pintu, aku pun mulai masuk dengan perlahan. Aku sudah memasuki kamar Kak Tika dan membangunkannya. "Kak, bangun udah pagi, kita ‘kan ada janji dengan teman-teman mau bersepeda bersama," jelasku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Lalu dia membuka kedua matanya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [3] ----------- "Oh iya ya, kita ‘kan ada janji akan bersepeda bersama teman-teman," ujar Kak Tika sambil menuju kamar mandi. "Aku bersiap ganti baju dulu ya, setelah itu aku jemput Ara dan Nisa," ucapku dengan gembira. Kemudian aku berangkat menjemput Ara dan Nisa. Aku yakin mereka sudah menunggu kedatangan kami berdua. Pengalaman dari kegiatan sebelumnya, mereka selalu tepat waktu apabila ada janji bermain bersama. “Eh … tunggu jangan berangkat dulu!” ujar Kak Tika. "Baiklah aku tunggu, Kak," ucapku. BYURRR ... BYURRR …. Asal suara dari kamar mandi. "Aduh ... dingin sekali airnya," ucap Kak Tika sambil gemetaran keluar dari kamar mandi. “Ya sudah sana Kakak ganti baju!" ucapku tegas. "Iya, iya, sebentar," ucap Kak Tika.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [4] ----------- Kak Tika pun langsung ganti baju untuk bermain. Kemudian kami berdua langsung menjemput Nisa dan Ara. Pertama, aku akan menjemput Ara terlebih dahulu di rumahnya. "Araa ... Araa ...!" panggilku dan Kakak. "Oh iya, sebentar ya," jawab Ara. "Iya agak cepat ya!" ucap Kak Tika sebal. "Sudah, aku sudah selesai kok," ucap Ara dengan gembira. "Ya sudah, sekarang ayo kita jemput Nisa," ucapku "Nisa ... Ayo kita berangkat bersepeda ke taman!" kataku, Ara, dan Kak Tika. "Oh iya sebentar, ya," jawab Nisa sambil berlari masuk ke rumah. Nisa langsung menuju kamar mandi. Nisa sudah selesai mandi kemudian langsung ganti baju. "Ya sudah ayo kita berangkat tunggu apa lagi?" tanyaku. "Ayo ... Siapa takut?" jawab Nisa seperti menantang.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [5] ----------- Akhirnya, kami berempat berangkat bersepeda bersama. Sepanjang perjalanan, kami mengayuh sepeda dengan penuh semangat sambil bercanda dan mengobrol. Kami menjalaninya dengan riang gembira penuh suka cita. Setelah sampai di taman perumahan, kami memutuskan untuk beristirahat karena merasa capek. Di bawah rindangnya pohon, kami mengobrol cukup lama. Setelah sekian lama kami berbincang-bincang, hujan pun turun dengan begitu deras. Kami ingin pulang tetapi hujan masih belum reda. Di sisi lain, pasti Mama dan Papa sangat mengkhawatirkan kondisi kami. Hujan siang ini mengakibatkan jalan menjadi basah dan tergenang air. "Siapa yang di sini membawa jas hujan?" tanyaku. Semua tidak ada yang membawa jas hujan.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [6] ----------- "Ya sudah, ayo kita terobos saja hujan ini!" ajakku dengan percaya diri. Pada akhirnya, kami menerobos hujan itu. Namun, ada sedikit musibah saat perjalanan pulang. Nisa terjatuh dari sepedanya dan terjungkal ke aspal. "Astagfirullah, kamu kok bisa jatuh sih, Nis?" tanyaku. "Iya nih, ada gundukan aspal yang tinggi sekali, jadi aku terjatuh," jelas Nisa. "Ya sudah, Kak Tika antar sampai rumah.” Aku dan Ara yang membawakan sepeda Nisa sampai pulang ke rumahnya. Kejadian ini, membuat kami semakin menyadari tentang pentingnya arti sebuah persahabatan. Ketika ada teman yang sedang mengalami kesusahan, kami saling menguatkan dengan menghiburnya. Sesampai di rumah Nisa, kami memohon maaf kepada Papa dan Mamanya karena kecerobohan kami yang nekat menerobos derasnya air hujan. Sehingga Nisa terjatuh dari
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [7] ----------- sepedanya. Namun, kami juga menjelaskan bahwa kami mau bertanggung jawab dengan mengantarkannya pulang sampai ke rumahnya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [8] ----------- KEJUTAN UNTUK TATA Oleh Tiara Marda Apresya Siang hari yang begitu terik, Tiara melamun melihat tugas begitu banyak dan menumpuk. Tiara pun mengumpulkan niat dan semangat untuk mengerjakan tugas yang banyak itu. Akhirnya setelah satu jam berlalu dengan semangat membara, Tiara berhasil menyelesaikan tugasnya. “Alhamdulillah, akhirnya selesai juga tugasku hari ini,” ucap Tiara. “Selesai mengerjakan tugas, jangan lupa makan ya, Nak!” kata Mama. “Iya, Ma,” jawab Tiara Setelah makan siang, Tiara teringat hari Sabtu ini hari ulang tahun Tata. Dia begitu panik karena belum menyiapkan kado dan kejutan untuk Tata. Setelah berpikir sejenak, kemudian dia menelepon sahabatnya Naya dan Syifa. “Halo Nay, apakah kamu nanti sore bisa ke rumahku?” tanya Tiara.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [9] ----------- “Iya bisa, ada acara apa Tiara?” tanya Naya balik. “Tata minggu ini ‘kan ulang tahun, kita kasih kejutan yuk!” ajak Tiara. “Baiklah, nanti sama Syifa juga ya,” kata Naya. Sore hari tiba, mereka bertiga berkumpul di ruang tamu rumah Tiara. Mama menghidangkan kue kesukaan Tiara dan teh hangat. Ketiga sahabat ini berdiskusi untuk membuat kejutan di hari ulang tahun Tata. Mereka ingin membuat acara yang spesial dan sangat bermakna di hari ulang tahun sahabatnya itu. “Kita harus membuat acara yang penuh kejutan buat Tata,” ucap Tiara. “Tapi itu membutuhkan dana,” sahut Syifa. “Oh iya, aku punya ide, bagaimana kalau kita sisihkan uang jajan kita untuk membeli kue tar?” usul Naya. “Baiklah, masalah dekorasi nanti biar Kakakku yang membuatkan,” kata Tiara.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [10] ----------- Hari telah beranjak malam, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya, saat pulang sekolah tiga sahabat ini berkumpul. Mereka mematangkan lagi rencana memberi kejutan di hari ulang tahun Tata di taman belakang. Tiara, Naya, dan Syifa sedang berdiskusi membicarakan tentang tempat ulang tahun Tata. Tak disangka, ada seorang Ibu yang ternyata ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Ibu tersebut datang menghampiri, ternyata beliau adalah Mamanya Tata. “Loh, Tante, aku kira penculik,” kata Syifa sambil bercanda. “Sedang membicarakan tentang tempat ulang tahun Tata, ya?” tanya Mamanya Tata. “Iya, Te,” jawab Naya. “Di rumah Tante saja, hari Minggu ini Tante mau pergi sama Tata sampai jam 10 nanti kalian kalau mau dekorasi dibantu Papanya Tata.”
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [11] ----------- Hari Minggu yang ditunggu pun datang. Sejak pagi mereka bertiga sudah berkumpul di rumah Tata. Mereka begitu bersemangat untuk memberi kejutan kepada Tata di hari bahagianya. “Teman-teman, sekarang kita akan mendekorasi ruangan,” kata Tiara. “Baiklah, ayo kita percepat proses dekorasinya!” sahut Naya. Setelah satu jam berlalu, ruang tamu di rumah Tata sudah berubah menjadi begitu indah, penuh dengan dekorasi ulang tahun. Beberapa waktu kemudian Tata dan Mamanya tiba di rumah. “Ma, rumah kita kok gelap semua?” tanya Tata kebingungan. “Ada apa ya?” kata Mama Tata yang pura-pura tidak tahu. “Selamat Ulang Tahun!” teriak kami semua mengagetkan Tata. “Wow … kalian luar biasa,” kata Tata terkejut.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [12] ----------- “Maaf kami membuatmu terkejut,” kata Tiara. “Ayo tiup lilinnya!” kata Naya. Setelah meniup lilin dan potong kue tar, mereka makan kue bersama. Kemudian Tata membuka kado dari sahabat-sahabatnya. Dia begitu terkejut setelah mengetahui isinya adalah boneka beruang besar yang sudah lama diinginkannya. “Terima kasih sahabat-sahabatku!” kata Tata sambil tersenyum bahagia.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [13] ----------- MOGOK SAAT KERJA KELOMPOK Oleh Najwa Dayu safira Namaku Lea, aku mempunyai sahabat yang bernama Lia. Nama kami berdua hampir sama, sehingga teman-temanku sering kali salah saat memanggil nama kami. Awal semester ini, kami mendapat tugas kelompok dari Bu Guru. Tugas ini mengharuskan kami mengerjakannya di rumah. Saat istirahat tiba, aku, Lia, Ifah, dan Veve beranjak pergi ke kantin sekolah untuk merencanakan kegiatan tugas kelompok tersebut. “Lea, kerja kelompok ini akan kita kerjakan di mana ya?” tanya Lia. “Kalau aku sih, terserah teman-teman saja,” jawab Ifah. “Di rumahmu saja ya, Lia,” kataku. “Tapi rumahku jauh loh,” jawab Lia. “Kalau aku terserah kalian saja, yang penting tugas kita bisa diselesaikan dengan baik,” sahut Veve.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [14] ----------- Di antara kami semua, rumah Lia memang cukup luas. Ada taman yang sangat asri ditambah dengan air terjun mini di depan rumahnya. Selain itu, juga ada kucing dan kelinci yang menjadi hewan peliharaannya. Tentu, suasana tersebut sangat mendukung kami dalam mengerjakan tugas kelompok. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Lia. Dia juga tidak keberatan dan bersedia menyediakan konsumsi. Pagi hari yang cerah, saat sinar mentari menyelinap masuk melalui celah jendela kamarku. Aku bergegas bangun dari tidur kemudian beranjak menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, aku teringat mempunyai tugas kerja kelompok di rumah Lia. Sesudah sarapan, aku bergegas pamit ke Mama. “Ma, hari ini aku mau ke rumah Lia, ya,” kataku. “Ada acara apa, Nak?” tanya Mama.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [15] ----------- “Mengerjakan tugas kelompok,” jawabku. “Hati-hati, ya!” sahut Mama. Setelah berpamitan, aku langsung mengambil motor di garasi kemudian mengendarainya menuju rumah Lia. Di tengah perjalanan, motorku berhenti. Aku sangat panik, karena sebelumnya motorku tidak pernah mogok. Setelah menenangkan diri, aku baru sadar kalau motorku kehabisan bensin. Aku langsung menelepon Lia dengan harapan dia bisa menjemputku. Ternyata, Lia tidak bisa menjemputku karena motornya sedang dipakai Kakaknya. Saat itu, aku kebingungan. Setelah membuka dompet, aku baru menyadari kalau tidak membawa uang. Di tengah kebingungan, kulihat Veve melintas. Langsung saja aku berteriak memanggilnya. “Veve …,” panggilku. “Oh, kamu Lia,” jawab Veve lalu menghampiriku.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [16] ----------- “Iya Ve, motorku mogok kehabisan bensin,” jelasku. “Aku minta tolong, pinjamkan uang untuk membeli bensin,” pintaku. “Baiklah, Lea, kamu tunggu di sini aku belikan,” jawab Veve. “Terima kasih, Veve!” Akhirnya dengan bantuan Veve yang membelikan bensin, aku bisa melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Lia. Sesampai di rumah Lia, ternyata Ifah sudah datang. “Maaf ya, teman-teman, aku terlambat datang,” kataku. “Tidak apa-apa kok, Lea,” jawab Lia dan Ifah bersamaan. “Tadi motorku mogok di tengah jalan, kemudian ditolong Veve,” kataku. “Sudahlah Lea, itu sudah kewajiban kita sebagai teman,” sahut Veve kemudian.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [17] ----------- Kejadian ini, membuatku semakin menyadari pentingnya memiliki sahabat yang selalu siap menolong kita. Hanya sahabat sejati yang selalu ada dalam suka maupun duka.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [18] ----------- DUA SAHABAT Oleh Valena Keisa Renata Siang itu, angin berhembus sangat kencang, udara terasa begitu panas. Aku bergegas mandi kemudian berganti baju. Hari ini sangat bersejarah bagiku, karena hari ini aku akan mengikuti lomba Tari Remo tingkat Kota Surabaya. Tergesa-gesa kuambil kostum beserta perlengkapan menariku. “Ayo Nak, jangan sampai kita terlambat loh!” teriak Mama. “Iya, Ma,” sahutku. Mama sibuk mempersiapkan peralatan make up dan kostum menariku. Kami berangkat ke tempat berlangsungnya lomba menari tingkat kota. Perjalanan siang itu sangat panas, jalanan juga macet karena ada buruh pabrik yang sedang demo menuntut kenaikan upah. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya, kami pun sampai di tempat tujuan.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [19] ----------- Sampai di tempat lomba, aku dan Mama segera mencari tempat yang nyaman untuk mulai merias. Di sini anak-anak dari sanggar kecamatan lain sudah berdatangan dan bergegas mempersiapkan diri mereka untuk tampil. Ada seorang yang menepuk pundakku. “Hai, kamu ikut lomba juga, Leni?” suara dari belakang bertanya. “Iya,” jawabku singkat, segera aku menengok ke belakang melihatnya. Ternyata, anak itu Niki, teman sanggarku yang sekarang sudah pindah ke luar kota untuk ikut orang tuanya yang mendapat tugas di luar kota. Saat pertama berkenalan, anak itu terkesan judes dan sombong. Mungkin karena dia anak dari orang kaya atau memang karena sifat dan wataknya. Aku tidak tahu. Setiap perlombaan yang diadakan di sanggar, kami selalu mengikutinya. Suatu saat, Niki tidak diikutsertakan dalam perlombaan di tingkat kecamatan. Dia merasa kesal terhadapku,
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [20] ----------- sehingga membujuk teman-temannya untuk ikut memusuhiku. Aku tetap berusaha sabar menghadapinya. Suatu saat nanti, dia akan membutuhkanku sebagai temannya. Aku akan buktikan kalau bisa menang di lomba tingkat kecamatan. Niki pun menyadari kekeliruannya dan meminta maaf kepadaku. Akhirnya sampai sekarang kami masih menjadi sahabat yang saling mendukung. Walaupun kami saat ini saling berjauhan tempat, tetapi kami sering berkirim kabar dan bertukar pikiran. Setelah saling melepas rindu, kami bersiap menuju depan panggung menunggu panggilan nomor urut peserta. Begitu namaku dipanggil, aku pun bergegas menuju panggung. Jantungku berdetak cukup kencang karena sudah lama tidak pentas akibat adanya pandemi ini. ”Ayo semangat, Len …” teriak Niki dari kejauhan. Aku pun hanya mangacungkan jempol tanda setuju. Musik segera dimainkan dan aku pun
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [21] ----------- segera melenggak-lenggokkan tubuhku sesuai dengan iringan musik yang ada. Aku mulai bersemangat dengan gerakan Tari Remo yang kubawakan bisa membuat penonton dan juri terpana. BRAK …. Aku sudah tidak ingat apa-apa. Dimana ini? aku melihat sekelilingku. Aku kebingungan di mana orang-orang, di mana juri-juri kok tidak ada. Hingga akhirnya aku melihat Mama, Leni, dan Mama Niki datang. “Bagaimana keadaanmu, Len?” tanya Niki. Aku hanya tersenyum lemah. “Lain kali kalau mau ikut lomba atau mau latihan makan dulu ya, disuruh makan kok susah sekali, sekarang jadi pingsan ‘kan,” kata Mama. ”Cepat sehat ya, Leni!” kata Niki. “Aku bawakan piala dan sertifikat hasil lomba tadi, kamu memang juara,” puji Niki. “Kamu juga hebat Nik.” Kami pun akhirnya saling berpelukan.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [22] ----------- TETAP BERSAHABAT WALAU BERBEDA Oleh Arsyla'la Muzakki Elmasya Pagi yang cerah sang mentari bersinar dengan gagahnya. Aku disuruh Ibu ke warung tetangga untuk membeli garam dan gula. Aku bergegas ke warung untuk membeli garam dan gula tanpa membantah. Setiap perintah dari ibu selalu kukerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Di tengah perjalanan, saat hendak menyeberang ada motor yang menabrakku. Kemudian orang itu menghentikan motor dan menolongku yang sedang tergeletak di jalan. "Maaf ya, Dik. Saya tidak sengaja menabrakmu," kata orang itu. "Aku tidak apa-apa kok, Kak," jawabku. "Apakah kamu ada yang luka?" kata orang itu sambil melihatku dari atas ke bawah memperhatikan dengan seksama. "Tidak ada Kak, aku baik-baik saja kok," jawabku. "Oh iya nama Kakak siapa?" tanyaku.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [23] ----------- "Namaku Arka Tri Cahyo panggil saja Arka, kalo kamu siapa?" "Namaku Rehan," jawabku. "Oh iya aku baru ingat, aku harus ke warung membeli garam dan gula," ucapku tergesa-gesa hendak meninggalkannya. "Baiklah, tapi boleh tidak aku ikut menemanimu ke warung?" tanya Arka. "Boleh," jawabku. Aku pergi ke warung dibonceng Arka. Sepanjang perjalanan berulang kali Arka meminta maaf karena telah menabrakku tadi. Dia sangat menyesal atas kecerobohannya dalam berkendara. Sepulang dari warung, aku mengajak Arka untuk mampir di rumah. "Ini Bu, garam sama gulanya," ucapku sambil menyerahkan kantong plastik berisi gula dan garam. “Terima kasih ya Re!"
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [24] ----------- "Bu, aku izin main ke rumah Arka boleh ya?" pamitku. "Boleh kok nak, hati-hati di jalan ya!" jawab Ibu. Setelah itu kami bergegas menuju rumah Arka. Aku dibonceng motor sahabat baruku itu. Kali ini Arka mengendarai motor dengan sangat hati-hati dan penuh konsentrasi. Di tengah perjalanan, terdengar suara azan zuhur. "Udah azan nih ayo salat!" ajakkku. "Ta..." jawab Arka bingung. "Sudah ayo berhenti dulu, kita salat di masjid!" ajakku memaksa. Saat tiba di masjid Arka berkata, "Rehan tapi aku bukan Islam, agamaku Kristen." "Loh jadi, kamu bukan seorang muslim?" jawab Rehan. "Iya maaf ya," jawab Arka. "Kamu tunggu di luar saja, aku salat sebentar ya!" kataku. "Oh iya silakan!" jawab Arka.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [25] ----------- Selesai salat aku ke luar masjid menghampiri Arka. "Maaf ya sahabatku, aku tidak tahu kalau kita berbeda keyakinan,” ucapku. "Tidak apa-apa yang penting kita saling menghormati," jawab Arka. Kami pun bergegas ke rumah Arka. Ternyata di rumah Arka banyak makanan karena ia sedang merayakan natal. Ada kue jahe, Sup ayam, Feast of Seven Fishes, Sachertorte, Gingerbread, Kalkun Panggang. Aku dan Arka menikmati makanan sampai kenyang. Aku paling suka Kue Jahe karena bentuknya yang lucu, rasanya enak, dan aroma menggoda lidah. "Terima kasih Arka," kataku karena diajak mencicipi makanan khas Natal. Teman-teman kita boleh, berteman dengan siapapun dan agama apapun. Namun kita tidak boleh ikut ibadah mereka. Itulah makna toleransi yang sesungguhnya. Seperti aku dan Arka yang
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [26] ----------- tetap bersahabat, meskipun keyakinan kami berbeda.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [27] ----------- CETAKAN KUE DARI NANTA Oleh Risky Pratama Pagi itu Ibu menyuruhku berbelanja di pasar. Ini bukan pertama kali aku melakukannya. Ibu sering menerima pesanan nasi kotak dan kue. Aku yang membantu Ibu, jika Ayah sedang ada pekerjaan lain. Biarpun anak laki-laki, aku tidak malu membantu Ibu berbelanja di pasar. Saat itu, aku mengajak sahabatku Nanta. Awalnya Nanta menolak, karena dia tidak pernah berbelanja di pasar sepertiku. Namun, aku merayunya, akhirnya dia menerima ajakanku. "Nanta, kamu nanti jangan kaget ya! Belanjaanku banyak," kataku. "Iya, tenang saja. Nanti kalau aku tidak bisa bawa, kutinggal saja barang belanjaanmu," goda Nanta sambil tertawa. Selama perjalanan, aku dan Nanta bercerita tanpa henti. Tak terasa kami sudah sampai di pasar. Aku membuka catatan yang berisi apa saja yang harus kubeli. Tak butuh waktu lama
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [28] ----------- tas belanjaanku sudah penuh dengan sayur dan bahan-bahan makanan lainnya. Ketika hampir selesai, aku melihat ada cetakan kue seperti punya Ibu yang sudah rusak. Aku segera membelinya. Kebetulan aku membawa sebagian uang tabungan. Besok adalah ulang tahun Ibu, aku akan memberikannya sebagai hadiah. "Kamu membeli apa itu, Ki?" tanya Nanta. "Aku membeli cetakan kue untuk Ibu. Punya Ibu sudah rusak. Aku akan memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya besok," jawabku. "Ibumu pasti senang mendapat hadiah dari kamu, Ki. Kamu hebat ya, bisa hafal di mana kamu harus membeli semua bahan makanan ini. Padahal penjual di sini sangat banyak," kata Nanta memujiku. "Aku sudah terbiasa, Nanta," balasku. "Sini aku bantuin membawa belanjaanmu!" pinta Nanta.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [29] ----------- "Itulah gunanya aku mengajak kamu," kataku sambil tersenyum. Nanta memang sahabatku yang baik dan pengertian. Kami sudah bersahabat sejak kecil. Karena rumah kami memang berdekatan dan kami juga satu kelas di sekolah. Nanta berasal dari keluarga yang kaya raya. Meskipun begitu Nanta bukan anak yang sombong. Dia tidak pernah membeda-bedakan teman. Seperti saat itu, dia mau menemaniku berbelanja di pasar. Setelah semua daftar belanjaan sudah masuk di tas, aku dan Nanta memutuskan pulang ke rumah. Saat akan pulang, perut Nanta sakit. Aku mengantar Nanta mencari kamar mandi terdekat. Kami menemukannya di dekat pintu keluar pasar. Nanta segera masuk ke kamar mandi dan aku mencari tempat duduk untuk menunggu Nanta. Tak lama Nanta sudah keluar dari kamar mandi. Kami pun segera pulang. Sesampai di rumahku, Nanta memberikan barang belanjaanku yang dibawakannya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [30] ----------- "Terima kasih Nanta, kamu sudah membantuku berbelanja di pasar," kataku "Sama-sama. Ternyata seru juga ya, berbelanja di pasar," kata Nanta. "Ini kue buat kamu, Nanta," kataku sambil memberikan bungkusan kue. "Wah, terima kasih, Ki. Kapan kamu membelinya?" tanya Nanta. "Kue itu kubeli saat menunggu kamu sedang di kamar mandi. Besok aku minta Ibu buatin. Aku tadi 'kan sudah beli cetakan kue untuk Ibu," kataku sambil mencari cetakan kue yang kubeli. "Kenapa, Ki?" tanya Nanta. "Cetakan kue ku enggak ada, tadi 'kan kamu yang bawa," kataku Kemudian aku melanjutkan mencari cetakan kue, tapi aku tidak menemukannya. Nanta membantuku membongkar tas belanjaan dan kami tidak menemukannya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [31] ----------- "Gimana, Ki? Apa mungkin ketinggalan di pasar atau terjatuh di jalan, ya?" kata Nanta. "Entahlah. Aku tidak ada waktu untuk mencarinya, aku harus membantu Ibuku sekarang. Sudahlah Nanta, pulanglah! Mungkin lain kali saja aku memberi kado untuk Ibu," kataku kesal. Nanta merasa bersalah, karena dia yang membawa cetakan kue itu. Nanta kembali ke pasar sendirian. Dia menyusuri tempat yang tadi dilewatinya, tetapi dia tidak menemukan cetakan kue itu. Nanta kembali ke tempat di mana aku membeli cetakan kue itu, tapi cetakan kuenya sudah habis. Nanta tahu cetakan kue itu akan kuhadiahkan untuk ulang tahun Ibu besok. Kemudian Nanta pulang ke rumah dengan tangan kosong. Sesampai di rumahnya, Nanta meminta Ayahnya mengantar ke toko yang menjual cetakan kue. Beruntung Nanta menemukan cetakan kue yang mirip dengan cetakan kue yang kubeli di
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [32] ----------- pasar. Nanta segera membeli kemudian membungkus dan memberikannya kepadaku sepulang dari toko itu. Nanta juga meminta maaf padaku atas kelalaiannya. Aku menerima bungkusan yang berisi cetakan kue itu, tetapi aku masih kesal pada Nanta. Keesokan hari tepat di hari ulang tahun Ibu, aku memberikan cetakan kue dari Nanta sebagai hadiah. Ibuku sangat senang setelah membuka bungkusannya. Aku menceritakan kejadian di pasar Ibu menasihatiku agar memaafkan Nanta, karena sebenarnya tidak sengaja menghilangkan cetakan itu dan sudah menggantinya. Aku pun sadar, kalau Nanta tidak bersalah. Aku segera pergi ke rumah Nanta. "Nanta, maafkan aku, ya! Tidak seharusnya aku marah sama kamu. Aku harusnya berterima kasih, karena kamu mau menemaniku," kataku menyesal.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [33] ----------- "Apa sih, Ki. Aku sudah memaafkanmu. Besok kalau ke pasar lagi, ajak aku lagi, ya!" kata Nanta sambil tersenyum. Aku mengeluarkan kotak berisi kue buatanku dan Ibu. Aku memberikan kue itu untuk Nanta dan dia menyukainya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [34] ----------- FOKUS, NANA! Oleh Inayatus Sholehah Matahari tersenyum Indah, seindah senyum Nana pagi itu. Hari itu adalah hari libur. Nana bangun lebih awal, karena dia sudah mempunyai janji dengan temannya yang bernama Ata. Mereka akan bersepeda di sekeliling taman yang letaknya lumayan jauh dari rumah mereka. Tak lupa Nana sarapan dulu sebelum pergi ke rumah Ata. Mereka akan berangkat ke taman bersama-sama. Suasana di taman saat hari libur selalu ramai pengunjung. Tak hanya bersepeda, banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sana. Seperti bermain ayunan, lari pagi, senam, atau hanya sekedar berfoto dengan latar belakang taman yang indah. Selain itu, kita bisa menikmati kuliner yang beraneka macam pilihan. "Ata, orang itu jual makanan apa ya? Ayo kita beli," kata Nana sambil menunjuk penjual makanan.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [35] ----------- "Aduh Nana, lagi-lagi makanan. Kita 'kan baru sampai. Ayo kita bersepeda dulu!" sahut Ata yang sudah mengerti kalau Nana hobi makan. "Tapi nanti kita mampir ke situ ya," imbuh Nana. "Siap, tapi traktir aku ya?" kata Ata menggoda Nana. Nana dan Ata melanjutkan bersepeda. Di sana mereka bertemu dengan Mimi dan Evan. Bersepeda menjadi semakin seru. Beberapa kali mereka mengelilingi taman. Tak terasa hari sudah siang, tapi cuaca sedang mendung, sepertinya akan turun hujan. Mimi dan Evan memutuskan untuk pulang ke rumah lebih dulu, sedangkan Ata memenuhi janjinya menemani Nana membeli makanan. Mereka tidak memakannya di tempat, tapi mereka membawa makanan itu pulang takut turun hujan. Nana membawa pulang banyak makanan. Karena tergoda dengan aroma makanan yang dibelinya, Nana makan sambil bersepeda.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [36] ----------- Di tengah perjalanan pulang, Nana menghindari jalanan yang berlubang, dengan tangan masih memegang makanan. Nana kehilangan keseimbangan sehingga membuatnya terjatuh dari sepeda. GUBRAK! Ata sontak menoleh ke arah Nana yang berada di belakangnya. “Nana, apakah kamu baik-baik saja, tidak ada yang luka 'kan?” tanya Ata cemas. "Makananku jatuh berhamburan," jawab Nana mencari makanannya dan tidak memperhatikan lukanya. "Aku tanya lukamu, kamu malah bingung makananmu. Bisa-bisanya kamu makan sambil bersepeda," kata Ata. “Hihihi, sepertinya makanan ini enak, jadi aku ingin memakannya. Sekarang lututku sakit, tapi makananku bagaimana?” jawab Nana meringis sambil menahan sakit.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [37] ----------- Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat. Terdengar suara petir dan hujanpun turun. Sedangkan Nana masih duduk dijalan raya. "Jangan memikirkan makananmu, pikirkan lukamu. Ayo kita menepi dulu, hujan sudah turun, nih. Untung jalanan sedang sepi," kata Ata panik. Nampak darah keluar dari lutut Nana. Dia mencoba berjalan, tapi mengalami kesulitan. Ata membantu Nana berjalan menuju tempat duduk yang ada di seberang jalan. Baju mereka pun basah terkena air hujan. Kemudian Ata kembali lagi ke jalan untuk mengambil sepeda mereka. Ata melihat ke sekeliling, tidak ada toko yang menjual obat dan hanya ada orang yang berkendara yang lewat karena mereka sedang berada di pinggir jalan raya. Nana dan Ata tidak membawa ponsel, jadi mereka tidak bisa menghubungi keluarga Nana. Mereka berencana menunggu hujan reda, tapi Ata melihat ada orang yang dikenalnya mengendarai sepeda motor lewat di depan mereka.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [38] ----------- "Kak Syifa," teriak Ata. Orang itu menoleh ke arah Ata dan menghampiri. Ternyata benar, orang itu adalah Kak Syifa. "Loh Ata, kamu kok di sini ngapain hujan-hujan?" tanya Kak Syifa sambil melepas jas hujannya dan mengamati Nana yang sedang kesakitan. Kak Syifa adalah tetangga Ata. Ata menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Kak Syifa. Kak Syifa kemudian mengambil ponselnya di dalam tas dan menghubungi Ayah Nana dan memintanya agar menjemput Nana. Hujan sudah berhenti. Kak Syifa melihat Nana memegangi perutnya, membuat Kak Syifa teringat tadi habis membeli roti. Kemudian Kak Syifa mengeluarkan Roti dari dalam tasnya. "Ini, makanlah! Sepertinya kalian lapar ya?" tanya Kak Syifa sambil memberikan kue kepada Nana dan Ata.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [39] ----------- "Hehehe, iya Kak. Terima kasih Kak," jawab Nana malu. "Lain kali lebih hati-hati Nana, kamu sih hanya memikirkan makanan saja. Sampai-sampai makan sambil bersepeda," sahut Ata. "Iya, betul kata Ata. Beruntung jalanan sedang sepi. Bagaimana kalau jalanan sedang ramai? Bersepeda harus fokus, Nana. Tidak boleh sambil makan ataupun bergurau dengan teman karena bisa berbahaya," kata Kak Syifa menasihati. Nana hanya mengangguk sambil menghabiskan roti dari Kak Syifa. Tak lama kemudian Ayah Nana datang. Ayah Nana melipat sepeda Nana dan Ata dan memasukkannya ke mobil. Setelah itu, Ayah Nana meminta Ata masuk ke mobil dan membantu Nana duduk di Mobil. Tak lupa Ayah Nana mengucapkan terima kasih kepada Kak Syifa dan Ata. Ayah juga menasihati Nana agar lebih berhati-hati.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [40] ----------- SEGELAS ES BUAH Oleh Aqila Fajri Ramdhan Di suatu pagi yang cerah, Budi memulai harinya dengan penuh semangat. Bangun dari tidur, Budi langsung membereskan tempat tidurnya. Setelah itu, Budi teringat dengan sesuatu. Ternyata ia punya janji bertemu dengan sahabatnya, Udin. Budi langsung mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah mandi, dia mengambil pakaian dan mengenakannya. Sesudah semua siap, Budi menghampiri Ibunya untuk berpamitan agar tidak khawatir. ”Bu, Budi pergi ke rumah Udin ya. Assalamualaikum,” pamit Budi. “Iya. Alaikumsalam. Hati-hati, Nak,” pesan Ibu. Budi mulai berjalan menuju ke rumah Udin, tetapi dia tidak memperhatikan jalan, malah sibuk memainkan ponselnya. Rumah Udin memang