------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [41] ----------- cukup jauh dari rumah Budi. Di tengah perjalanan, Budi sadar jika ia salah jalan. “Di mana aku? Aduh, seharusnya aku tidak bermain ponsel saat berjalan, agar tidak salah jalan seperti ini,” kata Budi panik. Ia takut kalau Udin akan marah padanya, karena terlalu lama menunggu. Lalu, Budi berniat untuk bertanya kepada orang lain, tetapi di sekitarnya tidak ada orang sama sekali. Ia kebingungan dan berfikir keras agar segera sampai ke rumah Udin. “Oh iya! Kenapa aku tidak kepikiran untuk memesan ojek online?” kata Budi pelan. Budi membuka aplikasi ojek online, tapi tidak bisa tersambung, ternyata ada pemberitahuan kalau paket datanya habis. Budi berusaha mengingat-ingat jalan yang sedang dilewatinya. Tapi dia lupa jalan itu. Dia melihat ada penjual es buah keliling sedang mendorong gerobak dagangannya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [42] ----------- Wah sepertinya enak ya, es buah itu. Aku juga haus dari tadi berjalan dan cuaca panas sekali. Aku juga bisa bertanya pada Bapak itu, batinnya sambil menelan ludah. Budi kaget ketika akan mendekati penjual es buah itu. Tak disangka, penjual es buah itu jatuh tergeletak di jalan. Budi melihat ke sekeliling, tetapi tidak ada orang lain di sana. Budi segera menghampiri penjual es buah itu dan berteriak meminta pertolongan. Tak lama kemudian ada beberapa orang yang datang. Salah satunya mengenal penjual es buah itu, dan Budi menceritakan kejadian yang dilihatnya. Kejadian itu terjadi, diduga karena penjual es itu mempunyai penyakit asam lambung dan mungkin belum sarapan. Mereka membawa penjual es buah Rumah Sakit terdekat. Sebagian orang, mengantar gerobak es buah ke rumah pemiliknya, yang ternyata tak jauh dari tempat kejadian.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [43] ----------- Budi meminta tolong kepada orang yang masih tersisa di sana untuk memesankan tukang ojek online untuknya. Budi lega akhirnya ada yang menolongnya. Beberapa menit kemudian Budi sudah sampai di rumah Udin. “Dari mana saja kamu, Budi? pasti baru bangun tidur,” tanya Udin kesal. “Maafkan aku Udin, aku tadi tersesat karena jalan sambil mainan ponsel,” jawab Budi membela diri. Budi menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada Udin. “Lain kali jangan diulangi lagi, main ponsel di jalan. Itu berbahaya. Untung jalanan sepi. Tapi aku salut sama kamu, tidak lari saat melihat penjual es buah itu tergeletak di jalan. Kamu dengan sigap mencarikan pertolongan untuk beliau,” kata Udin memuji Budi.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [44] ----------- “Terima kasih Udin. Sekarang bolehkah aku minta minum. Aku kehausan,” kata Budi sambil tersenyum malu. “Eh iya, sebentar aku ambilkan. Kebetulan Ibuku tadi membuat es buah, sepertinya ini balasan untukmu karena kamu tadi menolong penjual es buah,” kata Udin lagi-lagi memuji Budi. Udin mengambil es buah buatan Ibunya di kulkas dan memberikannya pada Budi. Tak butuh waktu lama, Budi menghabiskan segelas es yang disuguhkan oleh Udin. Setelah hilang rasa hausnya, Budi melanjutkan mengobrol dan bermain bersama Udin. .
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [45] ----------- GELANG PERSAHABATAN Oleh Anindya Setya Ariyanti Namaku Alia. Aku tinggal di Desa Rambutan. Aku adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Abangku bernama Andi. Abangku sudah seperti sahabat bagiku karena usia kami hanya terpaut tiga tahun. Aku juga mempunyai sahabat yang bernama Nia. Dia berumur satu tahun lebih tua dariku. Dia juga sangat pandai dalam membuat kerajinan tangan seperti gelang. Suatu hari, aku, Nia, dan Abang bermain di rumah Nia. Nia mengajak aku dan Abang untuk membuat gelang dari sebuah pita, tetapi Abang tidak suka membuat kerajinan tangan. Abang hanya melihat aku dan Nia membuat gelang. Nia biasa membeli pita dari tukang jahit keliling. Saat itu, ada seorang tukang jahit keliling lewat di depan rumahnya. “Bang,” teriak Nia memanggil tukang jahit yang berhenti mendengar panggilan Nia.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [46] ----------- Nia menghampiri tukang jahit yang sudah berhenti di depan rumahnya. “Bang … Aku beli pitanya yang warna biru,” kata Nia. “Wah, yang warna biru habis, Dik,” kata tukang jahit. Nia sedikit kecewa karena tukang jahit tidak menjuat pita berwarna biru. Nia sangat menyukai warna biru. Namun, kami tetap melanjutkan membuat gelang dengan pita seadanya. Hari sudah sore, sedangkan gelang persahabatan kami belum selesai. Aku dan Abang harus segera pulang. Kami berencana melanjutkannya besok di rumahku. Jadi, semua bahan membuat pita, aku bawa pulang. Keesokan hari, keluargaku harus pindah kota karena Ayah dipindah tugaskan. Aku lupa tidak memberi tahu Nia kalau kami harus pindah. Aku juga lupa kalau kami akan melanjutkan membuat gelang persahabatan.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [47] ----------- Nia datang ke rumahku sesuai janji yang sudah kami buat. Namun, dia mendapati rumahku yang sepi. Ada tetanggaku yang memberitahu dia, kalau aku sudah pindah kota. Kemudian dia meneleponku, tetapi tidak tersambung. Di rumah baru, aku menelepon Nia untuk mengabarinya, tetapi malah ditolak. Sepertinya Nia marah padaku karena banyak panggilan di ponsel yang tak terjawab. Aku mencoba meneleponnya lagi, ternyata nomorku di WhatsApp sudah diblokir. Aku mencoba menelepon menggunakan telepon biasa. Tiiit … Maaf pulsa anda tidak cukup. Bunyi suara operator di ponselku. Aku langsung mematikan panggilan tersebut. Ibu yang melihat kekesalanku menyarankan untuk membelikan hadiah untuk Nia melalui gojek. Aku mengikuti saran Ibu. Beberapa jam kemudian, gojek tadi meneleponku. “Halo, Kak ini pesanan …,” kata sopir gojek di ponselku yang mendadak terputus.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [48] ----------- Ternyata ponselku mati. Bagus. Ini mau minta maaf saja susah, batinku. Aku melihat pita yang tergeletak di lantai dan memikirkan sebuah ide. Aku mencoba membuat gelang dari pita itu. Selesai membuat gelang, aku membangunkan Abang yang sedang tidur. “Bang, antarkan aku ke rumah Nia dong, please,” kataku. “Hah, buat apa? Lagi pula jauh juga rumahnya, itu di desa loh,” kata Abang. Aku berusaha membujuknya untuk mengantarkanku ke rumah Nia. Setelah berhasil, aku membungkus gelang itu untuk kuhadiahkan pada Nia. Sesampai di rumah Nia aku meminta maaf kepada Nia. dan memberi hadiah gelang persahabatan buatanku untuk Nia. “Nia, maafkan aku karena tidak menepati janji. Aku lupa memberitahumu karena aku masih
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [49] ----------- sibuk membantu Ayah dan Ibu beres-beres,” kataku. “Iya Nia, kita masih bisa bertemu dan bermain bersama. Kita ‘kan masih satu sekolahan,” imbuh Abangku. Nia langsung memelukku. “Aku enggak marah sama kalian. Aku hanya kecewa jauh dari kalian,” balas Nia. Nia kembali memelukku. Abang ikut senang melihat kami. Kemudian aku mengeluarkan bungkusan cantik dan memberikannya kepada Nia. Nia sangat senang dan segera membukanya. “Wah bagus sekali Alia. Ternyata kamu juga pandai membuat gelang,” kata Nia memujiku. Aku dan Abang juga memakai gelang yang sama dengan Nia. Aku juga membawa makanan kesukaan kami bertiga, nasi goreng. Saat perjalanan aku mampir untuk membelinya. Kami pun makan dengan lahap.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [50] ----------- Sejak saat itu kami berjanji walaupun rumah kami sekarang berjauhan, kami akan tetap berkomunikasi dan selalu bersahabat.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [51] ----------- TIGA SERANGKAI Oleh Ardhani Putra Purwantaka Aku memiliki dua sahabat yang selalu ada. Yang pertama namanya Azka, dia adalah sahabat yang paling dekat denganku. Azka juga tinggal di dekat rumah. Setiap hari aku selalu bermain dengannya, karena kebetulan rumah dia dekat denganku. Berangkat sekolah dan bermain selalu bersamanya. Yang kedua namanya Saputra, dia adalah sahabat yang selalu aku jemput ketika hendak berangkat mengaji. Putra selalu rajin belajar mengaji dan itulah yang membuatku senang bermain dengannya. Suatu hari kami bertiga berangkat les bersama-sama. Sesampai di tempat les, seperti biasa kami berdoa terlebih dahulu dan mengeluarkan buku masing-masing. Karena aku dan Putra berada di kelas yang sama, maka kami belajar bersama terlebih dahulu. Sedangkan Azka tidak satu kelas dengan kami, maka dia diperbolehkan bermain di luar. Saat kami belajar,
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [52] ----------- terdengar suara Azka yang sedang asyik bermain pesawat kertas. Hal itu sangat menggangguku dan Putra, sampai suatu ketika pesawatnya tidak sengaja terbang ke arahku dan mengenai mata. Azka bergegas menghampiri. “Azkaaa … Pesawatmu mengenai mata,” teriakku. Mataku terasa sedikit sakit dan aku marah pada Azka. Seketika suasana menjadi hening. “Kamu ini bagaimana sih, Azka. Bermain pesawat tidak hati-hati sampai mengenai mata Dani,” tegur Dani. Azka pun langsung ditegur dan dinasihati oleh guru les kami. “Maafkan aku ya, Dani. Aku tidak sengaja,” pinta Azka sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda permintaan maaf. “Iya, sudah aku maafkan. Jangan diulangi lagi ya. Mataku jadi sakit ‘kan.” balasku sambil menjabat tangan Azka.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [53] ----------- Setelah itu kami belajar dan bermain bersama lagi. Keesokan hari di tempat les, aku, Azka, dan Putra belajar bersama. Saat itu aku haus dan meminta tolong Putra mengambilkan botol minumnya, karena tempat botol minumku dekat dengan tempat duduk Putra. Ketika membuka tutup botol minumku, tanpa sengaja Putra menyenggol tangan dan botol minumku jatuh. Airnya tumpah mengenai buku catatan Azka. “Dani … Kamu kok enggak hati-hati sih. Ini ‘kan buku catatanku. Nanti malam mau aku pakai belajar untuk ulangan besok.” teriak Azka kesal. Azka sangat marah karena bukunya basah. “Maafkan aku Azka. Aku benar-benar tidak sengaja. Tadi tanganku kesenggol Putra, saat dia mengambil pensilnya,” aku berusaha menjelaskan. “Terus aku harus bagaimana? Buku ini penting untuk ulangan besokM” kata Azka masih marah.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [54] ----------- “Dani ‘kan tidak sengaja, Azka. Aku yang menyenggolnya. Maafkan aku juga ya,” kata Putra. “Kamu pinjam catatanku saja ya, Azka!” saranku. Namun, Azka tidak menghiraukanku. Dia meninggalkan buku yang kutawarkan padanya. Sehabis magrib aku minta tolong Ayah mengantarku ke rumah Azka untuk meminjamkan buku catatan. Namun, Azka sedang tidak di rumah. Aku menitipkan buku catatanku pada Ibunya. Keesokan hari, saat bertemu di tempat les, Azka mendekati dan tersenyum padaku. Sedangkan Putra sama herannya denganku melihat kelakuan Azka. “Ini buku catatanmu, Dani. Terima kasih ya. Tadi aku jadi lancar mengerjakan ulangan. Buku catatanmu lengkap dan tulisanmu sangat rapi,” kata Azka memujiku, kemudian mengembalikan buku catatanku. “Oh iya, Azka. Syukurlah, kamu lancar mengerjakan ulangan,” balasku sambil tersenyum.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [55] ----------- “Dani, aku tadi menemukan ini,” kata Azka. Ternyata Azka menemukan kertas berisi komik karyaku. Aku memang suka membuat komik dan baru ingat kalau pernah membuat komik itu dan kuselipkan di buku catatan. Aku menceritakan persahabatan antara Aku, Azka, dan Putra dalam komik itu. Terkadang kami sering bertengkar masalah mainan, sering berebut mainan yang kami punya dan sering tidak mau mengalah satu sama lain. Persahabatan kami sering terjadi pertengkaran. Banyak hal yang membuat kami bertiga bertengkar karena masalah sepele. Akhirnya kami selalu meminta maaf satu sama lain, agar permasalahan bisa cepat selesai. Hal itu diajarkan oleh guru kami di sekolah, agar tidak saling bermusuhan. Namun, dibalik itu semua sebenarnya kami saling menyayangi, saling membantu jika salah satu dari kami sedang dalam masalah. Kami juga senang berbagi makanan yang kami punya. Maka
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [56] ----------- dari itu kami sering disebut ‘Tiga Serangkai’ oleh teman-teman lainnya karena sering bersama setiap hari.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [57] ----------- MATA BIRU YANG LUCU Oleh Naila Nur Aisyah Pagi itu nampak cerah, mentari tersenyum indah di ufuk timur. Aku terbangun dari tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Aku bergegas keluar dari kamar. “Mila, ayo mandi dan sarapan!” ucap Ibu. “Baik Bu,” jawabku semangat. Aku segera mandi dan sarapan. Aku pun pamit kepada Ayah dan Ibu untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Seperti biasanya, sekolahku masuk pukul 07.30. Saat di perjalanan menuju sekolah, aku mendengar lirih suara. MEONG … MEONG … MEONG …. Aku mencari sumber suara tersebut. Kudekati semak-semak yang ada di dekat sana. Wah, ada seekor kucing kecil berbulu putih yang sangat lucu. Kucing itu hanya terduduk seraya mengeong seolah mencari induknya. Aku dekati kucing itu dan menggendongnya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [58] ----------- “Halo, kucing lucu. Kamu ngapain di sini?” kataku pada kucing itu. Matanya yang berwarna biru pun menatap seolah bertanya balik siapa aku ini. Kucing itu terdiam begitu aku menggendongnya. Bulu kucing ini juga cukup lembut, tetapi kaki belakangnya nampak terluka, entah karena apa. “Waduh, sudah jam segini! Aku harus buru-buru nih. Sudah dulu ya, kucing lucu. Aku mau berangkat ke sekolah, nanti aku ke sini lagi kok!” ucapku pada kucing itu. Aku bergegas menuju ke sekolah. Aku sampai meskipun sedikit terlambat. Jam pelajaran dimulai seperti biasa. Aku dan teman-teman belajar dengan tekun di kelas. Hingga jam istirahatpun tiba. Aku dan Kia, temanku pergi ke kantin. “Mila, kenapa kamu tadi terlambat masuk kelas?” tanya Kia. “Oh iya, aku tadi terpesona melihat anak kucing yang lucu, makanya aku sampai tak sadar
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [59] ----------- bahwa aku harus sekolah. Jadi aku lari deh ke sekolahnya,” jawab Mila. Kia hanya menganggukan kepala saja mendengar ceritaku. KRING …. Jam masuk kembali berbunyi. Kami kembali mengikuti pelajaran seperti biasa sampai tiba waktu pulang sekolah. Sepulang sekolah, Mila menghampiri kucing kecil yang tadi. Ternyata kucing itu masih di sana karena kakinya yang terluka. “Duh, kok kasihan ya kamu! Ikut aku pulang ya,” kataku. Kucing kecil itu hanya mengeong seolah mengiyakan perkataanku. Aku menggendongnya dan membawanya pulang. Sesampai di rumah, aku meletakkannya di kardus kosong di samping rumah. “Tunggu sini, ya,” kataku lagi pada kucing itu.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [60] ----------- Aku masuk ke dalam rumah dan segera menemui Ibu. Aku mengucap salam dan mencium tangan Ibu. “Ibu, aku mau tanya sesuatu, tapi Ibu jangan marah ya,” kataku pada Ibu. “Apa itu, Mila?” tanya Ibu. “Begini Bu, aku mau pelihara kucing. Boleh tidak? Tadi aku menemukan kucing kecil yang lucu di jalan,” jawabku berharap Ibu tidak marah. “Tentu boleh saying. Asalkan kamu merawatnya dengan baik,” jawab Ibu sambil tersenyum. “Asyik,” kataku spontan. Aku mengajak Ibu melihat kucing itu ke samping rumah. Ibu ternyata sependapat denganku bahwa kucing ini lucu. “Kamu beli makan kucing sana, yang makanan basah ya. Sepertinya dia kelaparan. Jangan lupa ambilkan air di tempat kecil ya untuk minumnya,” kata Ibu padaku.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [61] ----------- “Siap, Bu,” jawabku segera bergegas pergi mengambil air di tempat kecil dan membeli makanan kucing. Setelah dapat makanan kucing, segera kuberikan pada kucing itu. Ternyata benar, dia sangat kelaparan. Anak kucing itu makan dengan sangat lahap. “Oh, iya, apakah Ibu mau mengantarkan aku ke dokter hewan karena kaki kucing ini terluka?” tanyaku pada Ibu. “Iya, Mila,” jawab Ibu. Aku dan Ibu pun siap-siap. Aku membawa anak kucing itu dengan kardus, sedangkan Ibu yang nanti memboncengku. Saat hendak menyalakan motor, ternyata ban motornya bocor sehingga tidak bisa dipakai. Akhirnya, aku dan Ibu memutuskan untuk menaiki angkutan umum. Sesampai di tempat praktek dokter hewan, Ibu mengambil nomer antrean. Tak lama kemudian, giliranku untuk masuk dan memeriksakan anak kucing ini. Dokter mulai
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [62] ----------- melihat luka di kaki kucing itu kemudian memeriksa anggota tubuh lainnya. Dokter pun memberikan resep obat untuk anak kucing ini. Setelah itu, aku dan Ibu pulang. Sesampai di rumah, aku memberi makan anak kucing itu lagi dan menamainya Mochi. Tidak lupa, aku juga memberikan obat dari dokter secara teratur. Selang beberapa waktu kemudian, Mochi sudah sembuh dari lukanya. Dia selalu bermain bersama denganku, bahkan tidur bersamaku. Aku juga secara rajin memandikannya agar terlihat lebih cantik.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [63] ----------- HUJAN JADI SAKSI Oleh Alifah Kartika Rahayu Minggu pagi yang mendung itu, aku bermain bersama teman-teman. Mereka adalah Mila, Putri, Alifah, dan Tania. Kami bermain egrang. Egrang adalah sebuah permainan tradisional yang menggunakan sepasang bambu untuk berjalan. Kami memang biasa memainkan permainan ini. Biasanya, kami akan balapan untuk sampai di garis finish yang sudah ditentukan. BRUK … Namun, karena tidak hati-hati Putri terjatuh. Lututnya berdarah cukup banyak. “Putri, kamu tidak apa-apa?” tanya Mila. “Aduh, sakit sekali!” jawab Putri sambil meringis kesakitan memegang lututnya. “Wah, itu lutut kamu berdarah. Ayo pulang saja, kami antar,” sahut Tania nampak khawatir. Kami membantu Putri untuk berdiri dan berencana mengantarnya pulang. GLUDUK … GLUDUK …
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [64] ----------- Suara guntur mulai terdengar dan langit nampak lebih gelap. Kami bergantian memapah Putri untuk berjalan. Tak lama kemudian, air mulai menetes dari langit. Kami mempercepat langkah untuk bisa sampai di rumah Putri. Akan tetapi, hujan deras pun turun. “Ayo berteduh di sana,” ujar Alifah sambil menunjuk sebuah warung yang masih tutup. Kami ke sana dan berteduh di terasnya hingga hujan reda. Saat akan melanjutkan perjalanan, sebuah mobil berhenti di depan kami. Itu adalah mobil orang tua Putri. Kami menjelaskan kejadian yang tadi menimpa Putri kepada kedua orang tuanya dan mereka berterima kasih sebelum akhirnya membawa Putri pulang. Keesokan paginya, ia izin tidak masuk sekolah dan kami menjenguknya. Putri juga mengundang kami untuk datang lagi ke rumahnya esok hari. Setelah Putri sembuh, kami berencana bermain bersama lagi. Lagi-lagi hari ini mendung.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [65] ----------- Saat tengah asyik bermain, hujan pun turun. Tak hanya deras, tapi juga sangat lama. Hingga sore hari hujan tak kunjung reda. “Ayo kita pulang saja,” ajak Alifah. “Jangan pulang dulu. Hujan masih sangat deras! Nanti kalau kita hujan-hujan, badan kita kedinginan dan akan jatuh sakit,” sahut Tania. Kami jadi ragu dan memutuskan untuk tetap tinggal. Tampak kilat mulai bersahutan dengan suara guntur yang membuat kami ketakutan. Menjelang malam, hujan baru berhenti dan kami memutuskan untuk pulang. “Aduh, bagaimana ini? Aku takut pulang malam,” kata Tania dengan raut cemas. “Jangan takut, Tania. Kita pulang bersama, ya,” kata Mila. Kami mulai berjalan pulang. Namun, dari kejauhan terlihat orang tua Alifah yang nampak mencarinya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [66] ----------- “Ayah, Bunda,” panggil Alifah sedikit berteriak. Kedua orang tuanya pun menghampirinya. “Ayah Bunda cemas, kamu main lama sekali!” kata Ayah Alifah. “Maaf, Yah, hujannya deras sekali tadi,” sahut Alifah. Tak lama setelah itu, sebuah kilatan cahaya mobil mendekati mereka. Saat kaca mobil dibuka, nampak Putri bersama keluarganya. “Alhamdulillah sudah ketemu ya, Bu?” tanya seseorang dari dalam mobil yang ternyata Ibu dari Putri. “Iya, Bu, untunglah. Saya sudah berpikir macam-macam!” jawab Ibu dari Alifah dengan raut muka lega. Kami semua hanya terdiam karena merasa bersalah. “Ya sudah, ayo semua masuk sini. Tante antar pulang semua,” ajak Ibu dari Putri. “Iya, ayo pulang bareng!” tambah Putri.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [67] ----------- Tanpa berpikir panjang, aku, Tania, dan Mila naik ke mobil Putri. Alifah tampak melihat ke arah kedua orang tuanya, berharap diizinkan pulang bersama teman-temannya. “Iya, kamu boleh pulang sama teman-teman,” kata Ayah Alifah. Alifah tampak sangat senang dan segera ikut naik ke mobil Putri. “Makasih, Yah,” ucapnya kemudian dari balik jendela mobil. Mobil mulai melaju mengantarkan kami semua pulang dengan aman dan selamat. Hujan jadi saksi bahwa persahabatan kami itu sejati.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [68] ----------- TANPA PAMRIH Oleh Salsabila Putri Mufidah Lala dan Lani adalah dua orang sahabat. Lala merupakan anak dari pasangan dokter dan polisi. Ia hidup berkecukupan sejak kecil. Keluarga Lala adalah orang yang baik dan tidak sombong. Sedangkan, Lani merupakan anak dari pasangan seorang pedagang sayur di pasar yang sederhana. Hidupnya pas-pasan, tetapi ia tak pernah mengeluh. Mereka sudah bersahabat sejak mereka duduk di sekolah dasar. Meskipun latar belakang perekonomian berbeda, tetapi tidak menghalangi persahabatan mereka. TET … TET … TET …. Bel sekolah berbunyi. Menandakan semua siswa harus masuk ke dalam kelas masing-masing. “Lani, tunggu aku,” teriak seseorang dari kejauhan. Lani spontan menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata, suara itu berasal dari
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [69] ----------- sahabatnya, Lala. Lani menghentikan langkahnya dan menunggu sahabatnya itu. “Lala, kamu baru datang?” tanya Lani. “Iya nih, aku kesiangan. Tadi malam aku melihat drakor sampai malam,” jawab Lala dengan nafas ngos-ngosan. “Dasar kamu tuh! Ya sudah, ayo cepat kita masuk kelas,” balas Lani. Akhirnya mereka sampai di kelas 5A. Mereka pun duduk di bangku masing-masing. Suasanan kelas yang gaduh seketika menjadi hening. Pak Robi, seorang guru Matematika muncul dari balik pintu. “Anak-anak hari ini ulangan harian Matematika!” kata Pak Robi tanpa basa-basi. Seketika kelas mulai gaduh kembali. Semua siswa terlihat panik. Begitu juga dengan Lala. Lala melemparkan secarik kertas dan mendarat di dahi Lani. “Aduh! Apaan, sih?” kata Lani spontan kemudian memungut kertas tadi.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [70] ----------- Ternyata kertas tersebut itu berasal dari Lala. Mati aku! Aku lupa belajar tadi malam… tulis Lala dalam kertasnya. Lani pun tertawa membacanya. Kelas menjadi hening kembali karena siswa-siswi sedang mengerjakan ulangan yang di berikan Pak Robi. KRING … KRING … KRING …. “Oke, anak-anak kumpulkan kertas ulangannya di meja Bapak!” perintah Pak Robi. Semua siswa maju mengumpulkan kertas ulangan itu ke meja Pak Robi. “Lani, ayo kita ke kantin,” ajak Lala. “Ayo La, aku sudah kelaparan!” sahut Lani. Mereka pun ke kantin bersama. Sesampai di kantin, mereka memesan makanan masing-masing. Mereka makan bersama. Setelahnya, mereka tidak lupa membayar. Tak terasa, jam istirahat sudah berakhir dan mereka kembali masuk kelas untuk melanjutkan pembelajaran hari ini.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [71] ----------- TET … TET … TET …. Bel pulang sekolah pun berbunyi. “Lani, aku pulang dulu ya, karena sudah dijemput,” kata Lala. “Iya Lala, bye,” balas Lani. “Bye juga,” sahut Lala lagi. Keesokan harinya, Lala berangkat sekolah seperti biasanya. Sesampai di sekolah, Lala mencari keberadaan Lani. Akan tetapi, ia tidak menemukannya. Hingga sekolah berakhir, Lani tak juga terlihat hari ini. Beberapa hari Lani tidak terlihat di sekolah. Lala jadi penasaran. Sepulang sekolah Lala menghampiri rumah Lani. Ternyata rumahnya kosong. Lala sangat bingung, kemudian Lala menghampiri tetangga Lani untuk bertanya kemana sebenarnya Lani. Tetangga Lani bercerita, jika Ayahnya Lani sedang dirawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan saat berangkat kerja.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [72] ----------- Setelah tahu keberadaan Lani, Lala bergegas berangkat ke rumah sakit. Tempat Ayah Lani dirawat. Terlihat dari kejauhan Lani dan Ibunya sedang duduk di depan ruang operasi. “Lani,” panggil Lala. “Loh, Lala?” sahut Lani kaget. “Bagaimana keadaan Ayah kamu Lani?” tanya Lala. “Ayahku sedang dioperasi untuk kedua kalinya,” jawab Lani sedih. “Sabar Lani, semoga Allah cepat memberikan kesembuhan kepada Ayahmu Lani,” kata Lala menenangkan Lani. Setelah mereka berbincang panjang lebar, Lala menghampiri Ibu Lani. Lala memberikan sebuah amplop yang berisi uang untuk membantu membayar pengobatan Ayah Lani. Ibu Lani terharu menerima amplop tersebut. Lala berpamitan dan berjanji untuk kembali lagi keesokan harinya. Tiga hari kemudian, Lani sudah bisa masuk sekolah dengan raut wajah yang bahagia. Lala ikut
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [73] ----------- senang melihat sahabatnya itu kembali. Mereka menjalankan aktivitas di sekolah seperti biasanya.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [74] ----------- PERTEMUAN SINGKAT Oleh Dzakiyah Naila Syahidah Siti dan Lani sudah bersahabat sejak lama. Mereka senang pergi ke taman untuk bermain. Mereka juga senang membantu satu sama lain. Suatu ketika, Ayah Lani menyusul mereka saat tengah asyik bermain di taman. Ayah Lani mengabarkan juga, jika mereka akan pindah keluar kota. Hal ini karena, Ayah Lani mendapatkan pekerjaan lain di luar kota. Mendengar itu, Siti merasa sedih. Begitu pun dengan Lani. Lani dan keluarganya akan pindah ke Sidoarjo, sedangkan Siti tetap di Surabaya. Keesokan harinya, Lani berpamitan pada Siti. Mereka saling berpelukan dan tampak air mata yang menetes dari masing-masing mata mereka. “Sampai jumpa lagi, Lani,” kata Siti seraya mengusap air matanya. “Sampai jumpa lagi, Siti,” jawab Lani sedih.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [75] ----------- Hari-hari berlalu, Siti merasa kesepian dan sangat ingin bertemu dengan Lani. Akan tetapi, hal itu tidak mungkin. Pagi ini, matahari terbit dengan cerah, terdengar kicauan burung, bunga-bunga pun bermekaran. Namun, Siti terlihat murung dan terduduk sendiri di taman. Ia sangat kehilangan sahabatnya. Tak lama kemudian, datang sekumpulan teman Siti dengan wajah ceria menghampirinya. “Hai Siti, kenapa kamu sendirian?” tanya Dani. “Aku sedang menikmati udara sejuk di pagi hari,” jawab Siti dengan wajah yang sedih. “Ayo, bermain bersama kami!” ajak Ata. “Iya, ayo bermain bersama,” kata Siti. Akhirnya, mereka bermain bersama, bercanda, bergembira satu sama lain. Sedikit demi sedikit kesedihan Siti menghilang. “Kita ‘kan sering bermain di taman ini, bagaimana kalau kita bermain di taman yang agak
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [76] ----------- jauh? Supaya kita mendapatkan pengalaman dan suasana yang baru,” usul Ata. “Ide bagus itu,” sahut Doni. “Bagusnya di mana ya, taman yang asyik untuk bermain?” tanya Vania. “Bagaimana kalau kita main ke taman di Sidoarjo?” tanya Doni. “Wah, ide bagus itu!” sahut Siti dengan semangat karena mendengar kata Sidoarjo. Percakapan mereka pun menjadi serius. Akhirnya diputuskan mereka pergi ke taman Sidoarjo besok pagi. Hari yang ditentukan sudah tiba, mereka pun segera menyusul teman-teman lainnya. Doni menyusul Ata, Ata dan Doni menyusul Siti begitu juga seterusnya. Akhirnya, mereka berangkat ke Taman Abhirama Sidoarjo. Sesampai di taman tersebut, mereka bermain, bersenang-senang, tertawa, dan bercanda. “Teman-teman kita main di situ, yuk!” ajak Doni.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [77] ----------- “Ayo!” sahut semua temannya. Mereka mulai bermain mengelilingi taman tersebut. Siti melihat seseorang yang sepertinya ia kenal dari kejauhan. Alangkah terkejutnya Siti, ternyata orang tersebut adalah Lani. “Itu sepertinya Lani, ya?” kata Doni yang ternyata menyadari hal yang sama. “Iya, itu Lani. Ayo, kita mendekat,” jawab Siti dengan semangat. Mereka pun mendatangi Lani dan menyapanya. “Halo, sahabatku,” sapa Siti. Lani menoleh ke belakang dan mendapati sahabatnya, Siti berada di sana. “Siti? Kamu di sini juga?” sahut Lani seolah tak percaya. Mereka berpelukan kembali. Hari-hari sunyi yang kemarin terlewati seolah menghilang dengan pertemuan singkat ini. Mereka menyempatkan diri bermain bersama sebelum akhirnya kembali pulang
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [78] ----------- ke rumah masing-masing. Mereka berjanji setiap minggu akan bertemu lagi.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [79] ----------- DARI SEBUAH PENSIL Oleh Tamma Hanifan Rahman Hari ini adalah hari pertamaku, di mana aku telah masuk kelas 1 SD. Kuedarkan pandangan ke sekeliling kelas. Tampak sangat asing bagiku. Aku melihat di sebelah tempat duduk, ada dua anak yang sedang bercengkrama. “Oh, mungkin mereka sudah saling kenal ya,” kataku pelan. Sedangkan yang lainnya seperti aku yang diam tak bergeming. Tak saling menyapa satu sama lain. Mereka adalah teman-teman baruku. Tak lama kemudian, aku melihat seseorang berjilbab masuk ke dalam kelas dan menyapa semua anak. “Assalamu’alaikum, anak-anak,” sapa beliau. “Alaikum salam, Bu,” balas kami kompak. “Eh, itu ternyata guruku,” gumamku. “Hari ini kita akan belajar Bahasa Indonesia, sudah siap?” tanya Bu Guru.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [80] ----------- “Siaaappp …,” jawab kami semua. Ada sebuah pensil dari bangku sebelah kiri jatuh tepat di kakiku. Pemiliknya hanya memandangi pensil tersebut seolah tidak berani mengambil. Aku pun mengambilnya. “Ini pensilmu, ya?” tanyaku. “Iya, makasih ya,” jawab anak itu. “Oh, iya, namamu siapa?” tanyaku lagi. “Namaku Vano,” jawabnya dengan suara pelan. “Kalau namaku, Tamma,” balasku. “Senang berkenalan sama kamu!” kata Vano sambil tersenyum. “Aku juga!” jawabku juga senang. Hari itu aku sangat senang sekali. Sesampai di rumah, aku bercerita pada Bunda bahwa aku punya teman baru. “Bunda, tadi aku punya teman baru,” kataku dengan semangat. “Wah, awalnya bagaimana? Kamu ‘kan pemalu,” kata Bunda penasaran.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [81] ----------- “Awalnya, dia tidak sengaja menjatuhkan pensilnya, lalu jadi kenalan deh,” jelasku pada Bunda. Bunda merasa senang karena aku melalui hari pertamaku dengan baik. Hari-hari berlalu, aku selalu bermain dengan Vano. Mengerjakan tugas dan duduk sebangku dengannya, bahkan kemana-mana selalu bersama. Aku menganggap dia seperti sahabat sejati, karena dia tak pernah marah. Namun, semester kedua ada sesuatu yang terjadi. Ada seorang anak yang tidak suka dengan persahabatan kami. Ia bernama Mifta. Mifta bilang padaku bahwa Vano pernah berkata jika aku adalah sahabat bodoh yang pernah ia miliki. Mendengar itu, aku pun marah. Akhirnya, aku dan Vano bertengkar karena hal tersebut. “Tamma, kamu bilang bahwa aku jelek ya?” tanya Vano dengan emosi.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [82] ----------- “Kamu juga bilang aku sahabat bodohmu, ‘kan?” balasku tidak mau kalah. Kami hampir saja berkelahi, jika tidak dilerai oleh teman yang lain. “Hei, berhenti. Kalian sedang diadu domba sama Mifta!” kata temanku yang bernama Rio melerai pertengkaran kami. “Apa?” kataku dan Vano bersamaan. Mengetahui hal tersebut akhirnya kami pun berbaikan kembali. Persahabatanku dan Vano akhirnya berlanjut sampai kami naik ke kelas 2 SD. Bahkan semakin erat meski kami berbeda kelas. Sebelum masuk kelas kami selalu berbagi cerita. Bercerita tentang apa saja yang bisa membuat kami bisa tertawa dan bahagia. Ketika pelajaran olahraga, kami sering bermain Volly bersama. Aku tak menyadari bahwa sudah semester dua, aku dan Vano sering bermain bersama. Saat istirahat kami membeli jajanan ke
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [83] ----------- kantin. Seringkali Vano mentraktirku, tentu saja aku senang. Ketika di perpustakaan, kami sering membaca buku kesukaan kami yaitu “Ultra Wonder World” yang bercerita tentang keindahan dunia. Kami jadi tahu tentang tempat-tempat indah di dunia. Bahkan kami pernah berkhayal kelak bisa melihat tempat-tempat itu. Kami senang sekali membaca buku di perpustakaan. Tak jarang kami membaca buku satu dengan bergantian, alasannya agar kami cepat membacanya. Nanti jika sudah selesai kami saling menceritakan isi buku itu. Tahun berganti, kami pun sekarang sudah kelas 3 SD. Namun, ada kejadian besar yaitu adanya Covid-19 hingga sekolah diliburkan. Kami harus sekolah daring. Aku jarang sekali mendengar kabar tentang Vano. Aku bahkan tidak bisa menghubunginya lagi secara langsung karena Covid-19.
------------ Gendis Sewu Berkarya : Aku dan Sahabat [84] ----------- Setelah satu tahun, aku baru tahu bahwa dia pindah sekolah. Aku merasa sangat sedih sekali karena dia sahabat sejatiku tetapi tidak bisa kutemui lagi sekarang. Aku tak tahu ke mana dia pindah sekolah, yang kudengar hanyalah dia pindah ke kota Malang. Sampai kini, aku tidak bisa mendapatkan kabarnya. Harapanku, suatu saat nanti aku bisa bertemu kembali dengan Vano. Entah ketika aku di bangku SMP atau ketika kami sudah dewasa. Mudah-mudahan Tuhan mendengar doaku. Aku ingin sahabatku yang hilang kembali bersamaku.