STATUS POLA HIDUP SEHAT SERTA TINGKAT AKTIVITAS
OLAHRAGA PADA LANSIA SAAT PANDEMI COVID-19 DI
DESA LINGGANG BIGUNG
SKRIPSI
Oleh
ELMA KRISTINA
NIM: 18161039
PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2022
STATUS POLA HIDUP SEHAT SERTA TINGKAT AKTIVITAS
OLAHRAGA PADA LANSIA SAAT PANDEMI COVID-19 DI
DESA LINGGANG BIGUNG
SKRIPSI
Diajukan Kepada Program Studi Ilmu Keolahragaan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana
OLEH
ELMA KRISTINA
18161039
PROGRAM STUDI ILMU KEOLAHRAGAAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2022
ii
iii
iv
v
PERSEMBAHAN
Kuersembahkan karya sederhana ini kepada :
1. Tuhan Yesus Kristus Juru Slamatku.
2. Kedua Orang tuaku, Bapak Simpin dan Ibu Rima yang selalu mendoakan dan
memberikan dukungan di setiap waktu.
3. Ketiga kakak ku, Eva Laura Sari, Baswan, dan Dian Wahyudi yang senantiasa
mendoakan dan juga memberikan semangat kepadaku.
4. Untuk semua Dosen Prodi Ilmu Keolahragaan Universitas Mercu Buana
Yogyakarta tanpa terkecuali, yang telah banyak pelajaran semasa saya menimba
ilmu di kampus tercinta.
5. Dosen Pembimbing, Ibu Ginanjar Nugraheningsih,S.Pd.Jas., M.Or, yang telah
membantu saya dan memberikan semangat dalam menyelesaikan karya sederhana
ini.
6. Teman-teman Ilmu Keolahragaan satu angkatan yang tidak bisa saya sebutkan
satu persatu.
7. Untuk Sahabat-sahabatku tersayang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu,
yang secara tidak langsung memberikan semangat untuk menyelesaikan Tugas
Akhir ini.
vi
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar status pola hidup
sehat pada lansia yang ada di Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat,
Kalimantan Timur. Penelitan ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif.
Penelitian deskriptif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa penelitian, tidak
mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan seberapa besar status pola hidup sehat
serta tingkat aktivitas olahraga pada lansia saat pandemi covid-19 yang ada di Desa
Linggang Bigung. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang ada di Linggang
Bigung berjumlah 40 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak
40 responden. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan
angket. Hasil uji validasi instrument total skor dari setiap variabel menunjukan hasil
yang signifikan, dan menunjukan bahwa rhitung > 0,327. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa semua item pernyataan dinyatakan valid. Hasil Uji reliabilitas instrument
menggunakan rumus Cronbach’s Alpha, sebesar 0,608. Teknik analisis data yang
digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase (%). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa status pola hidup sehat di Kecamatan Linggang
Bigung berada pada kategori yang “baik” pola hidup sehat yang baik sebanyak 28
orang dan yang kurang menerapkan pola hidup sehat sebanyak 12 orang.
Kata Kunci: pola, hidup, sehat, lansia
vii
ABSTRACT
This study aims to determine how much the status of a healthy lifestyle for the
elderly in Linggang Bigung District, West Kutai Regency, East Kalimantan. This
research is a quantitative descriptive study. Descriptive research only describes
research situations or events, does not seek or explain relationships, does not test
hypotheses or make predictions. This study aims to explain how much is the status of
a healthy lifestyle and the level of exercise activity in the elderly during the COVID-
19 pandemic in Linggang Bigung Village. The population in this study were the
elderly in Linggang Bigung totaling 40 people. The sample used in this study were
40 respondents. The data collection technique in this study was using a
questionnaire. The results of the instrument validation test for the total score of each
variable showed significant results, and showed that rcount > 0.327. So it can be
concluded that all statement items are declared valid. The results of the instrument
reliability test using the Cronbach's Alpha formula, amounting to 0.608. The data
analysis technique used is a quantitative descriptive analysis technique with a
percentage (%). The results showed that the status of a healthy lifestyle in Linggang
Bigung District was in the "good" category, with a good healthy lifestyle as many as
28 people and 12 people who did not apply a healthy lifestyle.
Keywords: pattern, life, healthy, elderly
viii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena yang
telah memberikan Rahmat dan Karuia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Skripsi ini dengan judul “Status Pola Hidup Sehat Serta Tingkat Aktivitas Olahraga
Pada Lansia Saat Pandemi Covid-19 Di Desa Linggang Bigung”
Penyusunan Skripsi ini untuk memenuhi sebagian persyaratan akademik untuk
menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Ilmu Keolahragaan Universitas
Mercu Buana Yogyakarta”
Penulis menyadari dalam menyusun Skripsi ini banyak mendapat dukungan,
bimbingan bantuan dan kemudahan dari berbagai pihak sehingga Skripsi ini dapat
diselesaikan. Dengan ketulusan hati, penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada :
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Bpk Nuryadi S.Pd. Si., M.Pd,
yang telah memberikan persetujuan pelaksanaan Tugas Akhir Skripsi.
2. Ketua Program Studi Ilmu Keolahragaan, Bpk Ardhika Falaahudin, S.Pd. Jas.,
M.Or, beserta dosen dan staf yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama
proses penyususnan pra proposal sampai dengan selesainya Tugas Akhir Skripsi
ini.
3. Dosen Pembimbing Skripsi Ibu Ginanjar Nugraheningsih, S.Pd. Jas., M.Or., yang
bersedia meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan serta pengarahan,
semangat, dan dorongan sehingga Tugas Akhir Skripsi ini bisa selesai dengan
sebaik-baiknya.
4. Dosen Pembimbing Akademik Bpk Antonius Tri Wibowo, S.Pd.Kor., M.Or.,
yang telah membimbing dari awal perkuliahan hingga selesainya Tugas Akhir ini
dan memberikan motivasi dan semangat sehigga Tugas Akhir ini dapat selesai.
5. Sekretaris dan Penguji yang sudah memberikan koreksi perbaikan secara
komprehensif terhadap Tugas Akhir Skripsi ini.
6. Seluruh mahasiswa Ilmu Keolahragaan Universitas Mercu Buana Yogyakarta
yang telah banyak membantu penulis dalam menemukan arti hidup, memahami
tujuan hidup dan pentingnya berbagi sesama dan berjuangan dalam mewujudkan
ix
cita-cita. Teruslah yakin bahwa apa yang kita lakukan bisa memberikan manfaat
untuk orang lain.
7. Terima kasih penulis juga untuk semua pihak yang telah membantu peneliti
dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Akhir kata penulis menyadari bahwa tidak ada yang sempurna, penulis masih
melakukan kesalahan dalam penyusunan skripsi. Oleh karena itu, penulis meminta
maaf atas kesalahan yang dilakukan penulis.
Besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat menjadi salah satu sumbangan
pemikiran yang dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun para pembaca.
Yogyakarta, 16 Maret 2022
Penulis
Elma Kristina
NIM. 18161039
x
MOTTO
“Hal paling menyakitkan adalah kehilangan diri sendiri ketika terlalu mencintai
seseorang, dan lupa bahwa dirimu juga istimewa”
(Ernest Hemingway)
“Teruntuk diriku jangan malas-malasan tiada manusia tempat mengadu, tulang
harus dibanting, otak harus diputar, jangan letakkan diri di bawah kaki orang lain
biar tidak terus diinjak”.
“Ingatlah! Suatu saat kita hanya akan menjadi memori untuk sebagian orang,
maka lakukanlah yang terbaik untuk menjadi orang baik.
Salah satu tujuan terbesarku adalah menjadi kaya tanpa orang tau aku kaya.
Kalau ada yang susah, kenapa harus yang mudah”
(Elma Kristina)
xi
DAFTAR ISI
COVER .......................................................................................................... i
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................... v
PERSEMBAHAN .......................................................................................... vi
ABSTRAK ..................................................................................................... vii
ABSTRACT .................................................................................................... viii
KATA PENGANTAR ................................................................................... ix
MOTTO ......................................................................................................... xi
DAFTAR ISI ................................................................................................. xii
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xv
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ......................................................................... 5
C. Pembatasan Masalah.......................................................................... 5
D. Rumusan Masalah ............................................................................. 5
E. Tujuan Penelitian .............................................................................. 5
F. Manfaat Penelitian ............................................................................ 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA......................................................................... 7
A. Kajian Teori ......................................................................................... 7
B. Kajian Penelitian yang Relevan ........................................................... 31
C. Kerangka Pikir ..................................................................................... 32
D. Pertanyaan Peneliti .............................................................................. 34
BAB III METODE PENELITIAN............................................................... 35
A. Jenis Penelitian .................................................................................. 35
B. Lokasi/Tempat dan Waktu Penelitian ............................................... 35
C. Populasi dan Sampel Penelitian ........................................................ 36
D. Variabel Panelitian ............................................................................ 36
E. Teknik dan Instrumen Pengumpula Data .......................................... 37
F. Validasi dan Reliabilitas Instrumen .................................................. 38
G. Teknik Analisis Data ........................................................................ 41
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................... 43
A. Deskripsi Hasil Penelitian ................................................................. 43
B. Pembahasan ...................................................................................... 50
C. Keterbatasan Penelitian...................................................................... 52
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 54
A. Kesimpulan ......................................................................................... 54
B. Implikasi ............................................................................................. 54
C. Saran ................................................................................................... 55
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 56
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Data Covid-19 Kampung Linggang Bigung....................................... 60
Tabel 2 Jadwal Penelitian ................................................................................ 60
Tabel 3 Skala Penilaian.................................................................................... 61
Tabel 4 Kisi-kisi Penerapan Pola Hidup Sehat ................................................ 61
Tabel 5 Validasi Angket .................................................................................. 62
Tabel 6 Reliabilitas .......................................................................................... 63
Tabel 7 Penilaian Acuan Norma (PAN) .......................................................... 63
Tabel 8 Pola Hidup Sehat Lansia di Desa Linggang Bigung .......................... 63
Tabel 9 Distribusi Frekuensi Pola Hidup Sehat di Desa Linggang Bigung..... 63
Tabel 10 Faktor Gizi ........................................................................................ 64
Tabel 11 Distribusi Frekuensi Faktor Gizi Lansia di Linggang Bigung.......... 64
Tabel 12 Olahraga............................................................................................ 64
Tabel 13 Distribusi Frekuensi Olahraga Lansia di Linggang Bigung ............. 64
Tabel 14 Kesehatan.......................................................................................... 65
Tabel 15 Distribusi Frekuensi Kesehatan Lansia di Linggang Bigung ........... 65
Tabel 16 Frekuensi Usia Lansia di Desa Linggang Bigung ............................ 65
Tabel 17 Frekuensi Pola Hidup Sehat.............................................................. 66
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Diagram Pie Pola Hidup Sehat Lansia di Linggang Bigung........... 68
Gambar 2 Diagram Pie Faktor Gizi Lansia di Linggang Bigung .................... 68
Gambar 3 Diagram Pie Olahraga Lansia di Linggang Bigung ........................ 68
Gambar 4 Diagram Pie Kesehatan Lansia di Linggang Bigung ...................... 69
Gambar 5 Diagram Pie Frekuensi Pola Hidup Sehat....................................... 69
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Izin Penelitian ................................................................... 71
Lampiran 2. Surat Balasan Tempat Penelitian ................................................ 72
Lampiran 3. Surat Pernyataan Validasi .......................................................... 73
Lampiran 4. Kartu Bimbingan Tugas Akhir Skripsi ....................................... 74
Lampiran 5. Uji Validitas dan Reliabilitas ..................................................... 75
Lampiran 6. Angket Penelitian ....................................................................... 76
Lampiran 7. Hasil Perhitungan SPSS .............................................................. 79
Lampiran 8. Data rtabel...................................................................................... 82
Lampiran 9. Data Penelitian ............................................................................ 83
Lampiran 10. Dokumentasi.............................................................................. 84
xv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebuah bentuk baru dari coronavirus yang disebut Sars-CoV-2, yang
pertama kali muncul di Wuhan, Cina, pada 31 Desember 2019, bertanggung
jawab atas penyakit yang dikenal sebagai COVID-19 (coronavirus disease
2019). Manusia yang terpapar COVID-19 ini mungkin memiliki tanda-tanda
penyakit pernapasan akut seperti suhu di atas 38 °C, batuk, dan sesak napas.
Mungkin juga disertai dengan kelemahan, nyeri pada otot, dan diare. Ini dapat
menyebabkan gagal ginjal, pneumonia, sindrom pernapasan akut, dan
kemungkinan kematian pada individu dengan COVID-19 yang parah. Alih-alih
melalui udara, COVID-19 dapat menyebar dari orang ke orang melalui kontak
dekat dan droplet (percikan cairan dari batuk dan bersin) (Kementrian
kesehatan republik indonesia, 2020).
Pola hidup sehat juga mulai menurun di masa COVID-19 ini seiring
dengan penerapan pola hidup sehat seperti olahraga yang mulai dibatasi. Salah
satu cara untuk menjaga kesehatan adalah melalui olahraga. Olahraga memiliki
beberapa manfaat kesehatan bagi tubuh, tetapi juga dapat meningkatkan
kekuatan psikologis dan mental seseorang.
Olahraga adalah jenis latihan fisik yang menggunakan seluruh tubuh
dengan cara tertentu menuju tujuan yang telah ditentukan. Olahraga dapat
dimainkan untuk berbagai tujuan, seperti kesenangan, penyembuhan, atau
rehabilitasi. Seiring dengan pilihan gaya hidup termasuk kebiasaan makan,
jadwal tidur, mengelola stres, dan menjaga kebersihan pribadi, olahraga
merupakan salah satu aspek penunjang kesehatan manusia. Ada banyak jenis
olahraga yang tersedia saat ini. termasuk aktivitas yang kuat dan lembut.
Sudah ada banyak pilihan, dan kita tentu dapat memilihnya berdasarkan bakat
dan preferensi kita saat ini (Ismail, 2010: 6 ).
Gaya hidup sehat adalah gaya hidup yang mempertimbangkan semua
faktor yang mempengaruhi kesehatan kita, termasuk apa yang kita makan dan
minum, nutrisi yang kita konsumsi, dan bagaimana kita berperilaku sehari-
1
hari. Gaya hidup sehat tidak diragukan lagi akan mempertahankan kesehatan
yang baik sekaligus menghindari apa pun yang mungkin berbahaya. Setiap
orang dari kita ingin sehat dan tidak membuat penyakit dalam tubuh kita.
Kekayaan jasmani dan rohani tidak ada gunanya jika kita masih terjebak
dalam keadaan atau skenario sakit, entah itu karena perilaku yang tidak
memperhatikan kondisi tubuh, yang jelas diperlukan untuk menjalani
kehidupan yang sehat. Secara alami, tujuan atau keuntungan dari menjalani
pola hidup sehat adalah menjaga kondisi tubuh agar tidak sering sakit. Namun,
menerapkan gaya hidup sehat juga memiliki alasan lain, seperti memastikan
bahwa kesehatan fisik, mental, dan spiritual seseorang selalu terjaga dan
mencegah episode stres atau depresi yang sering terjadi.
Seseorang harus menerapkan gaya hidup sehat sejak usia muda dengan
makan makanan yang seimbang, bergizi, melakukan aktivitas fisik yang sesuai
dan teratur, dan berhenti merokok. Jauh sebelum mencapai usia tua, rencana
hidup yang realistis seharusnya sudah dibuat, sehingga setidaknya orang
tersebut tahu apa yang akan dia lakukan ketika dia pensiun di masa depan
berdasarkan keterampilan dan minatnya. Menurut teori ini, usia lanjut adalah
usia yang penuh kebebasan dalam aktivitas sehari-hari, pekerjaan, dan atletik
(Dunitz, 2001).
Orang tersebut akhirnya akan menghadapinya ketika mereka sudah
lanjut usia (berusia). Sementara banyak orang mungkin menikmati usia tua,
kadang-kadang orang menjadi sakit dan meninggal sebelum mereka dapat
melakukannya. Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (2020)
menunjukkan bahwa kelompok usia lanjut dalam pandemi COVID-19
merupakan salah satu kategori rentan terkena dampak, dengan 12,2% kasus
terkonfirmasi positif pada lansia di Indonesia.
2
Tabel 1.1 DATA COVID-19 KAMPUNG LINGGANG BIGUNG TAHUN
2021
No Bulan L P Jumlah Faskes Hasil Keterangan
1 Januari 4 Pemeriksaan
2 Februari -
3 Maret 1 3 7 PKM Linggang Bigung Positif (+) Karantina Mandiri
4 April 1
5 Mei 2 4 4 PKM Liggang Bigung Positif (+) Karantina Mandiri
6 Juni 4
2 3 PKM Liggang Bigung Positif (+) Karantina Mandiri
6 7 PKM Liggang Bigung Positif (+) Karantina Mandiri
1 3 PKM Liggang Bigung Positif (+) Karantina Mandiri
6 10 PKM Liggang Bigung Positif (+) Karantina Mandiri
Linggang Bigung,
Balikpapan,
Pontianak, AWS
SMD
2 Orang Meninggal
Dunia Laki-laki : 1
orang perempuan :
1 orang
7 Juli
8 Agustus
9 September
10 Oktober
11 November
12 Desember
(sumber data: Laporan Bulanan Positif Covid-19)
Untuk berbagai alasan, orang tua dianggap rentan. Salah satu
indikatornya adalah usia tua. Hidup lebih lama tidak selalu berarti sehat.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bertambahnya usia juga disertai
dengan peningkatan kemungkinan sakit dan memiliki keterbatasan fisik (cacat)
karena penurunan tajam kemampuan fisik (Christensen, et al., 2009; Gatimu et
al., 2016). Banyak penyakit kronis dapat muncul seiring bertambahnya usia,
dan banyak orang lanjut usia memiliki kondisi kronis termasuk kanker,
diabetes, asma, atau penyakit jantung (Ady Waluya1, 2021).
Setiap orang perlu memiliki usia lanjut yang bahagia namun keinginan
itu tidak selalu terwujud. Semua hal dipertimbangkan, banyak orang tua
menjadi putus asa, tertekan, dan lemah. Kami menemukan banyak orang tua
yang dikirim dari panti jompo dan tidak terlalu diperhatikan oleh keluarga
mereka, ada orang tua yang dibuang dari keberadaan anak-anak. Kesehatan
yang lebih tua adalah dengan berolahraga. Dalam ilmu keolahragaan ada
beberapa ajaran yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan lansia, salah
satunya adalah ilmu fisiologi praktek. Fisiologi olahraga adalah ilmu yang
3
mempelajari tentang perubahan kemampuan organ, baik yang singkat (intens)
maupun yang sangat tahan lama karena aktivitas.
Kondisi fisiologis lansia yang mengalami penurunan berbagai fungsi sel
hingga organ, dapat meningkatkan risiko terpapar infeksi dari virus SarsCov 2.
Kondisi infeksi dari virus juga lebih berat pada lansia (Perrotta, et al., 2020).
Faktor penuaan dan komorbiditas penyerta menjadi factor risiko tertinggi pada
lansia untuk terpapar Sars Cov2. Setelah usia 30 tahun, para ilmuwan telah
menemukan bahwa kapasitas organ turun 1% per tahun. Orang tua perlu
memainkan permainan tradisional, menjalani pola hidup sehat, istirahat,
berhenti merokok, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin agar
dapat menghadapi lansia yang dapat berpartisipasi dalam kehidupannya serta
menjaga kesehatan dan kebugarannya (Duwi Kurnianto, 2015).
Linggang Bigung adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kutai Barat,
Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kecamatan Linggang Bigung dihuni
oleh 3.953 KK. Jumlah keseluruhan penduduk Kecamatan Linggang Bigung
adalah 13.657 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 7.190 orang dan jumlah
penduduk perempuan 6.467 orang. Tingkat kepadatan penduduk di Kecamatan
Linggang Bigung adalah 19 jiwa/km². Mayoritas Suku yang mendiami
Kampung Linggang Bigung adalah Suku Dayak Tunjung.
Namun sekarang suku bangsa yang mendiami Kampung Linggang
Bigung tidak hanya Kelompok yang berasal Dari Suku Dayak Tunjung saja,
tetapi sudah banyak Sub Etnis Dayak Lain seperti Suku Dayak Bahau, Suku
Dayak Benuaq, Suku Dayak Kenyah dll. selain itu ada banyak suku pendatang
seperti Suku Jawa, Suku Bugis, Suku Batak, Suku Manado dll. Walaupun
terdiri dari berbagaimacam suku Bangsa, kehidupan Masyarakat Linggang
Bigung cukup harmonis satu dengan yang lainnya (Wikipedia, 2020).
Pada masa pandemi covid-19, pemerintah mengeluarkan instruksi
pemberlakuan kembali pembatasan kegiatan masyarakat mikro (PPKM) di desa
linggang bigung dengan kasus penyebaran covid yang tinggi sedang
digunakan. Restoran, kegiatan kantor, dan rumah ibadah semuanya dibatasi
50%, aktivitas atau kegiatan masyarakat di desa linggang bigung sehari-hari
4
juga mulai dibatasi sehingga masyarakat desa linggang bigung tidak dapat
beraktivitas seperti biasanya. Selama masa pandemi covid-19 lansia yang ada
di desa linggang bigung kurang dalam menerapkan pola hidup yang sehat
seperti, kurang berolahraga, merokok, bermalas-malasan dan lainnya. Terdapat
beberapa lansia yang ada di linggang bigung hidupnya menjadi tidak sehat
mudah terkena berbagai macam penyakit dan juga terpapar virus covid-19.
Berdasarkan uraian di atas peneliti menganggap penting untuk diangkat dalam
bentuk penelitian. Selain menerapkan pola hidup yang sehat aktivitas olahraga
juga mendukung kebugaran kaum lansia. Oleh karena itu penulis tertarik untuk
melakukan penelitian mengenai status pola hidup sehat serta tingkat aktivitas
olahraga pada lansia saat pandemi covid-19 di desa linggang bigung.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas dapat disimpulkan identifikasi
masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Banyak lansia yang terpapar covid-19 di desa Linggang Bigung
2. Belum diketahui status pola hidup sehat pada lansia di desa Linggang
Bigung
3. Belum diketahui tingkat aktivitas olahraga pada lansia di desa Linggag
Bigung
C. Pembatasan Masalah
Fokus penelitian dimaksudkan membatasi penelitian agar penelitian
terarah pada permasalahan seberapa besar status pola hidup sehat serta aktivitas
olahraga pada lansia saat pandemi covid-19 di desa linggang bigung.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan dalam
penelitian ini seberapa besar status pola hidup sehat serta tingkat aktivitas
olahraga pada lansia saat pandemi covid-19 di desa Linggang Bigung?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus dan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui seberapa besar status pola hidup sehat serta
tingkat aktivitas olahraga pada lansia saat pandemic covid-19.
5
F. Manfaat Penelitian
Sesuai dengan pokok-pokok masalah yang diajukan di atas, maka
manfaat penelitian ini dapat adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini juga diharapkan bisa memberi manfaat secara praktis agar
lebih mengetahui status hidup sehat pada lansia serta tingkat aktivitas
olahraga pada masa pandemi covid-19.
2. Penelitian ini juga memberikan manfaat bagi pembaca secara praktis
sehingga menambah wawasan tentang pentingnya berolahraga pada saat
pandemi terutama pada lansia serta menerapkan hidup sehat.
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Pandemi Covid-19
Kelas virus yang dikenal sebagai coronavirus dapat menginfeksi
manusia dan hewan dengan penyakit. Manusia diketahui terkena infeksi
saluran pernapasan dari berbagai virus corona, mulai dari pilek dan batuk
hingga kondisi yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome
(MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Penyakit COVID-
19 disebabkan oleh coronavirus baru (WHO, 2020). Sindrom Pernafasan
Akut Parah Coronavirus 2 adalah penyakit menular yang menyebabkan
Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) (SARS-CoV-2). SARS-CoV-2
adalah coronavirus baru yang belum pernah terlihat pada manusia
sebelumnya. Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) dan Sindrom
Pernafasan Akut Parah hanyalah dua contoh penyakit parah yang diketahui
disebabkan oleh setidaknya dua jenis virus corona (SARS) yang berbeda.
Gejala gangguan pernapasan akut dari infeksi COVID-19 sering
bermanifestasi sebagai demam, batuk, dan sesak napas. Durasi inkubasi
terpanjang adalah 14 hari, dengan rata-rata 5 hingga 6 hari. Jika COVID-19
sudah parah, dapat mengakibatkan gagal ginjal, sindrom pernafasan akut,
pneumonia, bahkan kematian
Selain virus Corona yang telah menjamin kehidupan baik di beberapa
negara tercemar maupun di Indonesia, selain dampak umum yang menimpa
fisik dan kehidupan seseorang, dampak Virus Corona di bidang kesehatan
lainnya juga berdampak pada kesehatan psikologis. Dibalik hilangnya
nyawa individu yang terjangkit virus Corona dan masuknya virus Corona ke
Indonesia, membuat individu menjadi stres, resah, karena kondisi dan
kondisi yang memicunya dengan lockdown dan strategi pemerintah lainnya
yang membuat hidup menjadi tidak biasa. seperti sebelum Coronavirus 19
datang, ini dapat memicu kesehatan emosional secara lokal.
7
Efek yang digambarkan di atas adalah konsekuensi buruk pada area
kesejahteraan yang ditimbulkan oleh pandemi Coronavirus. Wabah virus
corona telah menjamin kehidupan, namun di bidang kesejahteraan,
perkembangan virus corona telah memicu perilaku disfungsional yang
serius bagi wilayah setempat. Dari berbagai isu yang tampak selama kurun
waktu virus Corona, inilah yang melatar belakangi mengapa individu dapat
memiliki perilaku disfungsional, sehingga korban jiwa tidak hanya
disebabkan oleh lingkungan yang tercemar, namun juga berasal dari
berbagai penyakit yang memicunya. meningkatnya jumlah kematian,
penyakit ini adalah penyesuaian psikologis (Matdio Siahaan, 2020).
2. Pengertian Pola Hidup Sehat
Pengertian pola hidup menurut Soekidjo adalah gaya hidup dengan
memperhatikan aspek-aspek tertentu yang berdampak pada aktivitas sehari-
hari. Hanlon mengklaim bahwa seseorang dapat memiliki kehidupan yang
sehat jika mereka mampu melakukan semua fungsi fisiologis dan psikologis
normal mereka sementara juga berada dalam kesehatan fisik dan mental
yang baik. Menurut Rusli Ruthan, memimpin gaya hidup sehat adalah setiap
perilaku yang meningkatkan prospek semua efek tubuh dalam jangka
pendek atau panjang (Zaenuddin HM, 2014; 54).
Menurut sudut pandang yang berbeda, gaya hidup sehat adalah di mana
kita memperhatikan aspek kehidupan kita sehari-hari, seperti makan dan
olahraga, yang berdampak pada kesehatan kita. Kesanggupan seseorang
untuk terhindar dari penyakit yang menderanya baik lahir maupun batin
menunjukkan bahwa ia dalam keadaan sehat wal afiat ( Husein Bahreisj,
Islam dan kesehatan, 2010).
Dengan demikian, dapat disimpulkan dari perspektif di atas bahwa
menjalani gaya hidup sehat melibatkan upaya untuk melestarikan dan
meningkatkan kesehatan seseorang melalui interaksi dengan lingkungan,
terutama yang relevan dengan kesehatan. Eksistensi yang sehat adalah
keadaan sejahtera yang meliputi semua komponen, yaitu ciri-ciri jasmani,
rohani, sosial, dan produktif secara ekonomi, meskipun kesehatan adalah
8
keadaan yang meliputi kesehatan jasmani, rohani, dan sosial. Ide gaya
hidup, di sisi lain, mengacu pada aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang
yang menghasilkan perilaku atau sikap sebagai akibat dari stimulus yang
diterima, terlihat oleh orang lain, dan dilakukan untuk mencapai tujuan
tertentu.
a. Perilaku Hidup Sehat
Tak seorang pun ingin menjadi sakit karena perawatan kesehatan itu
mahal. Namun, penyakit sering menyerang secara tiba-tiba hanya karena
orang tidak menjaga kesehatannya. Tanpa disadari, rutinitas rutin
seseorang terkadang berkontribusi pada penyakit. Gaya hidup sehat
adalah cara hidup yang menjunjung tinggi gagasan untuk menjaga
kesehatan seseorang. Menjaga pola hidup sehat memang tidak mudah.
Mirip dengan pelancong yang mencapai persimpangan jalan dan harus
memilih antara rute yang tinggi, pegunungan, dan jauh dan alternatif
yang lebih pendek, lebih mudah, tetapi padat, meski jalanan padat,
mayoritas masyarakat akan memilih jalur sederhana.
Manusia sering memilih pilihan yang lebih mudah, mengonsumsi
makanan yang lezat, lesu di tempat kerja, tidur nyenyak, dan lamban
bergerak. Masalah kesehatan jangka panjang, kemalasan, dan kehilangan
identitas diakibatkan oleh orang yang memilih jalan hidup yang mudah
dan tidak menentu karena kurangnya pengendalian diri dan disiplin
dalam kehidupan sehari-hari.
Profesor Arma Abdullah, M.Si., guru besar pendidikan jasmani dan
olahraga di FIK UNY, adalah sosok yang patut diteladani karena cara
hidupnya yang disiplin; bahkan pada usia lebih dari 80, ia terus bermain
golf, mengendarai kendaraan sendiri, dan jarang sakit. Tidur teratur,
makan teratur, olahraga teratur, dan berhenti merokok adalah kunci
kebahagiaannya (Suharjana, 2012). Menurut Guang (2002: 6), gaya
hidup yang tidak tepat adalah penyebab 80% dari penyakit kronis yang
mempengaruhi orang, dengan variabel lain bertanggung jawab untuk
20% lainnya. Menjalani kehidupan moral dengan demikian penting bagi
9
setiap orang jika mereka ingin hidup panjang umur dan bahagia. Irianto
(2000:16) berpendapat bahwa untuk menjadi bugar dan sehat, seseorang
perlu mengontrol pola makan, cukup tidur, dan sering berolahraga. Untuk
menjalani gaya hidup sehat, seseorang harus mengikuti kebiasaan makan
tertentu, menjaga kesehatannya sendiri, cukup tidur, dan berpartisipasi
dalam aktivitas fisik.Kesehatan itu mahal harganya sehingga tidak
seorangpun ingin sakit.
Tetapi, seringkali penyakit datang dengan tiba-tiba hanya karena
manusia lalai menjaga kesehatan. Tanpa disadari, terkadang pola hidup
sehari-hari dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit. Pola hidup sehat
merupakan kebiasaan hidup yang berpegang pada prinsip menjaga
kesehatan. Menjalani pola hidup sehat merupakan pekerjaan yang tidak
mudah. Ibarat orang dalam perjalanan dan menemukan persimpangan
jalan, satu arah merupakan jalan yang terjal, berbukit-bukit dan jauh
sementara jalan yang lain mudah dan lebih dekat, tetapi macet.
b. Mengatur Makanan dan Pola Makan
Manajemen makanan adalah diet. Hal ini menunjukkan bahwa
makan harus disesuaikan dengan kebutuhan energi seseorang. Seseorang
membutuhkan banyak makanan jika melakukan pekerjaan yang
membutuhkan banyak energi, seperti tukang batu, tukang becak, atau
atlet. Di sisi lain, seseorang yang bekerja di meja, seperti sekretaris atau
manajer kantor, membutuhkan lebih sedikit makanan karena
pekerjaannya tidak membutuhkan banyak energi. Akibatnya, asupan
makanan harus sesuai dengan kebutuhan energi. Ini berarti bahwa asupan
dan keluaran energi harus sama. Ingatlah bahwa makan berlebihan dapat
menyebabkan kenaikan berat badan dan kelebihan berat badan, yang
kemudian dapat menyebabkan penyakit jantung, diabetes, dan kondisi
lainnya, serta ketidaknyamanan dan kesedihan sosial.
Sebaliknya, mengonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan
kriteria kecukupan gizi juga membuat tubuh tidak sehat, tampak kurus,
dan membuat penampilan kurang percaya diri. Oleh karena itu, setiap
10
orang harus dapat makan secara teratur dan mengakses makanan yang
memberikan keseimbangan nutrisi agar tetap sehat. Menurut Pedoman
Umum Gizi Seimbang (PUGS), protein harus membentuk 10% sampai
15% dari diet seseorang, dengan lemak membuat 60% sampai 70%
sisanya dari kebutuhan energi mereka (Suharjana, 2012).
c. Menjaga Kesehatan Pribadi
Merawat kesehatan sendiri adalah pekerjaan dalam pencarian
kesehatan yang baik. Kesehatan pribadi dapat dilihat sebagai perilaku
umum yang dilakukan setiap orang, seperti mencuci, menggosok gigi,
berpakaian, dan membersihkan rambut (Irianto (2004: 83).
d. Mengatur Istirahat
Mengorganisir relaksasi adalah merencanakan keseimbangan antara
persalinan dan istirahat. Kapan harus bekerja dan kapan harus bersantai,
tenaga manusia ada batasnya. Tubuh mungkin menjadi tidak nyaman dan
mengalami ketidaknyamanan jika ada ketidakseimbangan antara
pekerjaan dan relaksasi. Tubuh perlu istirahat untuk memberi kesempatan
pada organ-organnya untuk melambat secara fisik sehingga dapat
menjalankan tugas sehari-hari dengan efektif. Jumlah tidur yang ideal
setiap malam adalah 7-8 jam. Setelah seharian bekerja, seseorang harus
tidur di malam hari.
e. Berolahraga Teratur
Olahraga yang dilakukan dua kali seminggu dikenal dengan
olahraga teratur. Kegiatan aerobik seperti berjalan, berlari, latihan
aerobik, berenang, bersepeda, atau permainan ringan seperti tenis meja
atau golf adalah tepat dan sederhana untuk diikuti oleh semua orang.
Banyak orang menyukai permainan olahraga karena menghibur.
Perkembangan motorik anak lebih baik dilayani dengan kegiatan
olahraga (Poppen, 2002: 41). Isu yang ada di masyarakat adalah budaya
tidak aktif. Dengan kata lain, tidak semua orang senang berolahraga.
Agar individu dapat menikmati bermain atau berolahraga, kegiatan ini
harus dimulai sendiri, dipilih sesuai dengan kemampuan mereka, namun
11
memungkinkan tubuh untuk mengatur baik bentuk maupun kecepatan
gerakan (Mechikoff, 2010:5). Tubuh akan menjadi lelah jika seseorang
melakukan overtraining melalui aktivitas. Jika Anda sering melakukan
ini, Anda akhirnya bisa sakit dan kehilangan keinginan untuk berolahraga
(Richardson, 2008:9).
f. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Pengertian PHBS. sekelompok perilaku yang digunakan dalam lima
konteks — pengaturan rumah tangga, pengaturan pendidikan, pengaturan
perawatan kesehatan, tempat kerja, dan tempat umum — yang digunakan
berdasarkan kesadaran diri sebagai efek dari pembelajaran praktik hidup
bersih dan sehat. Melalui komunikasi, informasi, pembelajaran, dan
peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku hidup bersih
dan sehat melalui pendekatan kepemimpinan (advokasi), pembangunan
suasana (support), dan pengembangan masyarakat, program ini
mengajarkan dan mewujudkan kondisi individu, keluarga , kelompok,
dan komunitas. Tujuan PHBS adalah untuk memberdayakan masyarakat
(Kementerian Kesehatan Direktorat Promosi Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat, 2016).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi PHBS Menurut L. Green yang
menulis topik ini dalam buku Notoatmodjo tahun 2007, ada tiga unsur
yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk menjalani pola hidup
bersih dan sehat: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor
penguat.
1) Isu Remaja (faktor predisposisi) Faktor ini meliputi pengetahuan dan
sikap anggota keluarga terhadap hidup bersih dan sehat, sehingga
faktor ini menjadi faktor pendorong perilaku karena adat dan
kebiasaan, kepercayaan, tingkat pendidikan, dan status sosial
ekonomi, seperti sebagai pengetahuan, sikap, dan tindakan yang
dimiliki oleh seseorang yang tidak merokok karena mengamati
kebiasaan salah satu anggota keluarganya yang tidak merokok.
12
2) Unsur pendukung (enabling factors) Unsur ini merupakan penggerak
perilaku yang dapat digunakan untuk melakukan suatu motivator atau
tindakan. Unsur-unsur tersebut antara lain tersedianya akses anggota
keluarga terhadap jamban, air bersih, fasilitas pembuangan sampah,
dan makanan sehat, serta pelayanan dan prasarana kesehatan.
Lembaga ini pada dasarnya mendorong atau memfasilitasi penerapan
pola hidup bersih dan sehat.
3) Unsur Pendukung Unsur ini merupakan unsur yang mempengaruhi
dapat atau tidaknya upaya kesehatan. Cara pengasuh anak berperilaku
dan berpikir, memberi contoh dengan selalu minum air mendidih atau
mencuci tangan sebelum makan, memiliki kemampuan untuk
mengajari anak-anaknya cara hidup bersih dan sehat, yang akan
dibutuhkan masyarakat sebagai referensi. untuk bertindak sesuai
dengan aturan atau undang-undang yang ditetapkan oleh pemerintah
federal atau lokal, tokoh masyarakat dan agama, dan profesional
kesehatan setempat. Indikasi PHBS di setiap lingkungan. Lima
indikasi tercakup dalam setiap setting dalam kumpulan aktivitas
sehari-hari seseorang yang memberikan rekomendasi perilaku sehat
(Bahiyatun, 2009)
3. Indikator PHBS di setiap tatanan.
Lima indikasi tercakup dalam setiap setting dalam kumpulan
aktivitas sehari-hari seseorang yang memberikan rekomendasi perilaku
sehat (Proverawati, 2012).
a. PHBS di rumah tangga.
Mewujudkan PHBS rumah adalah tujuan utama PHBS di rumah.
Rumah tangga PHBS adalah rumah tangga yang melaksanakan 10
PHBS di dalam rumah, antara lain:
1) Tenaga kesehatan membantu dalam persalinan
2) Hanya menyusui
3) Pemeriksaan berat badan bayi setiap bulan
4) Gunakan air murni
13
5) Gunakan sabun dan air untuk mencuci tangan.
6) Menggunakan toilet sanitasi
7) Membasmi jentik seminggu sekali di rumah
8) Konsisten mengkonsumsi buah dan sayur.
9) Terlibat dalam aktivitas fisik secara teratur
10) Tempat tinggal adalah zona dilarang merokok.
b. PHBS di tempat-tempat umum.
Pengertian PHBS di ruang publik adalah upaya agar masyarakat
yang berkunjung dan pengelola tempat umum mengetahui, mau dan
mampu mengadopsi PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan
tempat umum yang sehat. Berikut 6 indikator yang digunakan sebagai
tolok ukur penilaian di ruang publik:
1) Memanfaatkan air murni
2) Kamar mandi
3) Buanglah sampah pada tempatnya.
4) Dilarang merokok di tempat umum.
5) Jangan sembarangan meludah
6) Membasmi jentik nyamuk
Pengunjung atau pembeli, pedagang, petugas kebersihan,
keamanan pasar, pelanggan, pengelola atau pelayan, jamaah, penjaga
atau pengelola tempat ibadah, penumpang, awak angkutan umum, dan
pengelola angkutan umum menjadi sasaran PHBS di lokasi umum.
c. PHBS di tempat kerja.
PHBS di tempat kerja mengacu pada inisiatif untuk memberikan
karyawan pengetahuan, motivasi, dan keterampilan yang diperlukan
untuk mengadopsi praktik gaya hidup sehat dan mengambil bagian
lebih aktif dalam membina tempat kerja yang sehat. Ada sembilan tanda
PHBS di tempat kerja, antara lain:
1) Tidak merokok di tempat kerja
2) Membeli dan makan makanan dari tempat kerja
3) Terlibat dalam aktivitas fisik secara teratur
14
4) Membasmi jentik nyamuk di kantor
5) Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah dari kamar
kecil dan sebelum makan
6) Menggunakan air bersih
7) Gunakan kamar kecil saat ingin buang air kecil,
8) buang sampah pada tempatnya.
9) Memilih Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai untuk pekerjaan
Tujuan PHBS di tempat kerja adalah untuk mempengaruhi semua
karyawan.
d. PHBS berbasis lingkungan.
Tujuan PHBS di rumah adalah untuk mendorong anggota keluarga
menjadi berpengetahuan, bersemangat untuk berlatih, dan berpartisipasi
aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat saat ini. Untuk mewujudkan
PHBS rumah tangga dilaksanakan tujuan PHBS dalam rumah tangga
(Proverawati, 2012). Rumah tangga PHBS adalah rumah tangga yang
melaksanakan 10 PHBS di dalam rumah, antara lain:
1) Tenaga kesehatan membantu dalam persalinan
2) Hanya menyusui bayinya;
3) menimbang bayi setiap bulan;
4) menggunakan air bersih
5) Gunakan sabun dan air untuk mencuci tangan.
6) Menggunakan toilet yang luas dan bersih
7) Pemberantasan jentik di rumah seminggu sekali; makan buah dan
sayuran setiap hari;
8) melakukan latihan fisik setiap hari
9) menahan diri dari merokok di dalam.
e. Menggunakan air bersih.
Yang dimaksud dengan air adalah air bersih untuk minum, air untuk
kolam renang, dan air untuk mandi umum. Air bersih adalah air yang
digunakan untuk keperluan sehari-hari yang memenuhi standar
kesehatan dan dapat dikonsumsi setelah dimasak, sedangkan air minum
15
adalah air yang memenuhi standar kesehatan dan dapat dikonsumsi
tanpa dipanaskan (Permenkes No. 416/Menkes/PER/ IX/1990). Sanitasi
rumah yang baik didefinisikan sebagai memiliki akses terhadap air
bersih serta air minum yang aman dan layak. Manfaat air bersih antara
lain mencegah penyakit seperti kolera, tipus, dan lain-lain seperti diare.
Air dari mata air, sumur, atau pompa, keran, hujan, atau air minum
kemasan merupakan sumber air bersih yang dapat diterima (Depkes RI,
2013). Berikut syarat air bersih :
1) Jernih (tidak berwarna), tidak berasa, dan pada suhu yang lebih
rendah dari suhu udara sekitar merupakan prasyarat fisik air
minum yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Sangat mudah
untuk mengenali air yang memenuhi kriteria fisik ini.
2) Air harus bebas dari segala kuman, terutama bakteri berbahaya, agar
layak untuk dikonsumsi manusia. Memeriksa sampel air akan
mengungkapkan apakah itu tercemar kuman berbahaya untuk
dikonsumsi. Dan jika bakteri E coli ditemukan kurang dari 4
setelah pemeriksaan 100 cc air, maka air tersebut memenuhi
standar kesehatan.
3) Air minum yang aman harus mengandung campuran unsur-unsur
tertentu dalam proporsi yang tepat. Kelainan fisiologis manusia
akan dihasilkan dari bahan kimia di dalam air yang tidak ada atau
ada secara berlebihan.
Lansia harus berolahraga secara teratur sebagai bagian dari gaya
hidup sehat. Olahraga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh,
meningkatkan proses metabolisme tubuh, dan menangkis perkembangan
sejumlah penyakit tidak menular, antara lain diabetes mellitus, penyakit
jantung koroner, stroke, hipertensi, obesitas, dan sejumlah penyakit
potensial lainnya yang sering ditemukan di tubuh. Orang tua. Orang tua
juga dapat berkontribusi untuk pemeliharaan kebugaran, kesehatan sendi
dan tendon, dan pencegahan cedera. (Alodokter, 2020)
16
1) Berjalan di pagi hari, yoga senior, dan bersepeda senior adalah
beberapa contoh olahraga yang aman. Lansia dapat memperoleh
manfaat dari olahraga teratur dan aktivitas fisik dengan menjadi lebih
sehat, bugar, dan lebih berenergi. Namun, beberapa orang tua sering
tidak menyadari hal ini dan menghabiskan seluruh waktunya untuk
duduk dan berbaring. Pada kenyataannya, tidak aktif atau jarang
berolahraga dapat meningkatkan risiko orang tua untuk sejumlah
masalah kesehatan, termasuk diabetes, tekanan darah tinggi, demensia
pikun, ketidaknyamanan sendi dan otot, dan tekanan darah tinggi.
Oleh karena itu, agar dapat hidup sehat di masa pensiun, lansia perlu
sering berolahraga dan melakukan aktivitas fisik.
2) Tidak ada kata terlambat untuk mulai berolahraga atau melakukan
aktivitas fisik secara teratur jika Anda lebih tua dan belum terbiasa.
Berikut ini adalah beberapa keuntungan dari kebugaran untuk manula:
1. Membuat sendi dan otot lebih kuat
2. Mendorong aliran darah
3. Menurunkan risiko penyakit tertentu, seperti diabetes tipe 2,
penyakit jantung, dan stroke
4. Menjaga otak tetap sehat dan berfungsi sambil menurunkan
kemungkinan penyakit mental seperti demensia.
3) Selain menurunkan stres dan kemungkinan penyakit mental seperti
depresi atau power syndrome, yang mungkin dialami di masa pensiun,
orang lanjut usia yang sering berolahraga juga dapat terus bekerja dan
memiliki kehidupan yang lebih mandiri.
Berbagai Olahraga Lansia Tersedia Lansia didorong untuk
mempertahankan tingkat aktivitas mereka dan melakukan olahraga teratur
setidaknya 150 menit per minggu atau 30 menit per hari. Orang tua
memiliki berbagai kemungkinan atletik, seperti:
17
1. Jalan kaki
Berjalan-jalan santai adalah salah satu latihan terbesar dan termudah
untuk manula. Latihan ini dapat memperkuat jantung, membakar lebih
banyak kalori, dan meningkatkan stamina. Orang tua tidak perlu
berjalan terlalu jauh atau terlalu lama untuk tetap bugar. Cukup dengan
rutin berpindah-pindah rumah atau pekarangan. Namun, perlu diingat
bahwa lansia harus mengikuti tindakan pencegahan kesehatan dan
menggunakan masker saat ingin beraktivitas di luar rumah selama
wabah Covid-19 ini.
2. Bersepeda
Bersepeda bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung serta
meningkatkan kekuatan tulang dan sendi. Namun, selalu gunakan
pelindung saat berkendara, seperti helm, untuk menghindari
kecelakaan. Selain itu, sesuaikan jok dan setang sepeda dengan posisi
tubuh Anda.
3. Berenang
Salah satu bentuk olahraga terbaik untuk manula adalah berenang.
Kegiatan ini bermanfaat untuk jantung, otak, dan paru-paru, serta
untuk memperkuat otot dan persendian serta memperlancar aliran
darah.
4. Pilates
Individu muda sering berlatih aktivitas fisik yang dikenal sebagai
pilates. Namun, hari ini, beberapa kursus Pilates juga menawarkan
rejimen latihan khusus senior. Aktivitas fisik ini bermanfaat untuk
meningkatkan kekuatan otot, keseimbangan tubuh, serta meningkatkan
energi dan stamina. Tapi tidak semua orang tua bisa melakukan Pilates.
Karena itu, jika Anda ingin melakukan latihan semacam ini, bicarakan
dengan dokter Anda terlebih dahulu.
5. Yoga
Yoga adalah jenis latihan yang mencoba untuk meningkatkan
pernapasan dan konsentrasi mental. Hal ini bermanfaat bagi kesehatan
18
mental lansia serta kesehatan fisik mereka, menurunkan risiko stres
dan bahkan keputusasaan.
4. Upaya Hidup Sehat
Seperti yang telah ditetapkan, organ tubuh telah mengalami
sejumlah kemunduran seiring bertambahnya usia. Namun, tidak perlu
menyerah; Anda harus selalu memiliki pandangan positif, optimis, dan
berusaha untuk sehat sepanjang hidup Anda. Direktorat Gizi Masyarakat
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1991) dalam Siti Bandiyah
(2009: 74) Berikut beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga
kesehatan seiring bertambahnya usia:
1) Faktor Gizi
a. Panduan membuat makanan untuk orang tua dibuat oleh Siti
Bandiyah (2009: 74), dan isinya dapat diurutkan sebagai berikut:
b. Menu harus mencakup nutrisi yang berasal dari berbagai komponen
makanan, seperti sumber energi, komponen struktural, dan
komponen regulasi.
c. Karbohidrat kompleks menyumbang 50% dari kalori yang sehat
untuk dikonsumsi orang tua (sayuran, kacang-kacangan, biji-
bijian).
d. Lemak makanan dijaga seminimal mungkin, membentuk 25-30%
dari semua kalori.
e. 8-10% dari total kalori harus terdiri dari protein.
f. Makanan harus banyak mengandung serat, yang berasal dari
berbagai karbohidrat, buah-buahan, dan sayuran yang dicerna
secara bertahap.
g. Makan makanan kaya kalsium termasuk susu tanpa lemak, yogurt,
dan makanan laut.
h. Makanan tinggi zat besi Fe, seperti bayam, sayuran hijau, kacang-
kacangan, hati, dan daging.
19
i. Gunakan garam secukupnya. Perhatikan label barang yang
mengandung garam untuk informasi tentang monosodium
glutamat, natrium bikarbonat, dan natrium sitrat.
j. Makanan segar dan mudah dicerna harus digunakan sebagai
sumber nutrisi.
k. Hindari makanan yang sangat beralkohol.
l. Makanan harus mudah dikunyah, seperti makanan lunak.
2) Olahraga
Setelah usia 40 tahun, penurunan kebugaran fisik menjadi semakin
nyata, dan pada saat seseorang berusia lanjut, kapasitasnya menurun
antara 30 dan 50% (Benny Kartawijaya, 2015). Akibatnya, jika lansia
ingin berolahraga, mereka harus memilih aktivitas yang sesuai dengan
usia mereka dan potensi masalah kesehatan apa pun. Olahraga lansia
harus memenuhi berbagai kriteria, seperti beban sedang hingga
sedang, durasi yang relatif lama, aktivitas kardiovaskular, dan non-
kompetitif. Contoh olahraga yang mematuhi larangan tersebut di atas
antara lain jalan kaki, segala aktivitas yang memiliki aspek jalan kaki,
golf, lari lintas alam, panjat tebing, senam dengan tingkat kesulitan
rendah, dan olahraga rekreasi. Orang tua dapat memperlambat laju
perubahan degeneratif dengan latihan otot.
3) Kesehatan: Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk
menjaga kesehatan yang baik, antara lain sebagai berikut:
a. Pekerjaan ringan: Hindari menjadi malas. tanpa mengurangi
relaksasi dan tidur.
b. Perokok sebaiknya tidak melakukannya karena merokok
meningkatkan bahaya tertular sejumlah penyakit, termasuk
serangan jantung, kanker, paru-paru, tekanan darah tinggi, dan
kanker.
c. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, walaupun tidak
sakit, dan mendapat pertolongan yang benar sekali jika sakit (Farid,
2015 dalam Siti Bandiyah, 2009: 74.)
20
5. Lansia
Seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih dianggap
lanjut usia. Istilah "lansia" mengacu pada kelompok usia orang yang telah
mencapai akhir siklus hidup mereka. Populasi lansia ini akan mengalami
proses yang dikenal dengan proses penuaan (Nauli1 et al., 2014) Siapa
pun yang telah berusia 60 tahun atau lebih baik pria maupun wanita
dianggap lanjut usia. Yang lama berada di akhir siklus hidup dan melalui
banyak perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Karena perubahan ini
saling terkait, lansia mungkin memiliki masalah kesehatan fisik dan
mental (Cabrera, 2015.)
Seseorang yang sudah lanjut usia (lansia) telah mencapai akhir fase
hidupnya. Proses penuaan akan dialami oleh kelompok lansia ini
(Wahyudi, 2008.) Manusia mengalami kondisi penuaan. Proses menua
adalah proses seumur hidup yang dimulai sejak pembuahan bukan hanya
pada titik waktu tertentu. Bertambah tua merupakan proses alamiah,
artinya seseorang telah mengalami ketiga fase kehidupan: masa kanak-
kanak, dewasa, dan usia tua (Nugroho, 2006 dalam Kholifah, 2016.)
Tahap terakhir dari penuaan adalah menjadi tua. Menjadi tua
adalah proses yang akan dilalui oleh setiap orang. Tahap terakhir dari
keberadaan manusia adalah usia tua, dimana seseorang secara progresif
mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial hingga tidak dapat
melaksanakan tanggung jawab sehari-hari (tahap penurunan). Penuaan
adalah serangkaian perubahan yang mempengaruhi semua makhluk hidup,
termasuk tubuh, jaringan, dan sel, yang kehilangan kemampuannya untuk
beroperasi. Perubahan degeneratif terkait usia pada kulit, tulang, jantung,
pembuluh darah, paru-paru, saraf, dan komponen tubuh lainnya sering
terjadi pada manusia. Mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit,
gangguan, dan penyakit dibandingkan orang dewasa lainnya karena
mereka memiliki kapasitas regenerasi yang terbatas (Kholifah, 2016.)
Lansia merupakan tahap kehidupan yang lebih lanjut yang ditandai
dengan penurunan kapasitas tubuh dalam merespon stres dari lingkungan.
21
Seseorang yang lanjut usia adalah orang yang tidak dapat menjaga
keseimbangan terhadap situasi stres fisiologis. Seseorang dikatakan lanjut
usia jika berusia di atas 60 tahun dan tidak mampu menghidupi dirinya
sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (Ratnawati, 2017.)
Menurut Ratnawati (2017) dan Darmojo & Martono (2006), lanjut
usia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Usia Lanjut usia didefinisikan sebagai mereka yang berusia di atas 60
tahun berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 Tentang
Kesejahteraan Lanjut Usia (Ratnawati, 2017.)
2. Jenis Kelamin. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia (2015), wanita lebih banyak daripada pria di antara orang tua.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki usia harapan hidup
yang lebih tinggi (Ratnawati, 2017.)
3. Status Hubungan Menurut Badan Pusat Statistik RI SUPAS 2015,
mayoritas penduduk lanjut usia menikah (60%) dan bercerai (37%),
menurut status perkawinan mereka. Menurut statistik, 82,84% pria
menikah dan 56,04% wanita lanjut usia yang baru saja bercerai
meninggal dunia. Hal ini disebabkan karena laki-laki yang lebih tua
yang bercerai cenderung menikah lagi dan perempuan yang lebih tua
memiliki proporsi status cerai yang lebih besar karena usia harapan
hidup perempuan yang lebih panjang (Ratnawati, 2017.)
a. Klasifikasi lansia
Menurut WHO (2013), klasifikasi lansia adalah sebagai berikut :
1)Usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45-54 tahun.
2)Lansia (elderly), yaitu kelompok usia 55-65 tahun.
3)Lansia muda (young old), yaitu kelompok usia 66-74 tahun.
4)Lansia tua (old), yaitu kelompok usia 75-90 tahun.
5) Lansia sangat tua (very old), yaitu kelompok usia lebih dari 90
tahun.
Profil lansia dalam penelitian ini menggunakan klasifikasi usia lansia
pertengahan (middle age) pada kelompok usia 45-54 tahun, dan usia
22
lansia (elderly) pada kelompok usia 55-56 tahun. Kelompok lansia yang
diteliti dalam penelitian ini berada di desa Linggang Bigung.
b. Masalah Kesehatan Pada Lansia
Orang lanjut usia seringkali memiliki masalah kesehatan yang
berbeda dengan orang dewasa. Sindrom geriatri adalah kumpulan
gejala kesehatan yang sering dilaporkan oleh lanjut usia dan/atau
kerabatnya serta berkaitan dengan masalah kesehatan pada lanjut
usia (istilah 14 I), antara lain:
1) Immobility (kurang bergerak)
kondisi terbaring di tempat tidur selama tiga hari atau lebih.
Nyeri, otot melemah, ketidakseimbangan, masalah psikologis,
depresi, atau demensia adalah alasan utama imobilitas. Infeksi
paru-paru dan sistem kemih, sembelit, kelemahan otot, kontraktur
(kekakuan otot dan sendi), lecet, dan bahkan luka di daerah yang
terkena tekanan konstan dapat berkembang sebagai komplikasi.
Penanganannya dengan melakukan aktivitas fisik, sering
berpindah posisi, menggunakan matras anti dekubitus,
memperhatikan asupan cairan, dan mengonsumsi makanan tinggi
serat.
2) Instability (mudah jatuh)
Kecelakaan termasuk terpeleset, sinkop/kehilangan kesadaran
secara tiba-tiba, vertigo/sakit, hipotensi ortostatik, proses
penyakit, dan lain-lain merupakan salah satu penyebab jatuh.
Dipengaruhi oleh faktor intrinsik (faktor risiko yang ada pada
pasien seperti kekakuan sendi, kelemahan otot, gangguan
pendengaran, gangguan penglihatan, gangguan keseimbangan,
penyakit seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dll), serta
permukaan licin, permukaan tidak rata, pencahayaan yang buruk,
benda-benda di lantai yang menyebabkan tergelincir, dll). Cedera
kepala, cedera jaringan lunak, dan patah tulang yang dapat
mengakibatkan imobilitas adalah akibat dari jatuh.
23
Pedoman dasar untuk mengelola pasien lanjut usia dengan
masalah ketidakstabilan dan riwayat jatuh termasuk mengobati
berbagai kondisi yang berkontribusi terhadap ketidakstabilan dan
jatuh, menawarkan terapi fisik dan konseling dalam bentuk
latihan berjalan, latihan penguatan otot, alat bantu, sepatu atau
sandal yang sesuai. , dan mengubah lingkungan agar lebih aman.
termasuk pencahayaan yang cukup, pegangan, dan lantai non-slip.
3) Incontinence (beser BAB/BAK)
Pengeluaran urin yang tidak diinginkan dalam jumlah dan
frekuensi tertentu yang mengakibatkan masalah sosial dan/atau
kesehatan dikenal sebagai inkontinensia urin. Inkontinensia urin
yang akut, seperti yang disebabkan oleh infeksi saluran kemih,
suatu kondisi yang mengganggu kesadaran, narkotika, masalah
kejiwaan, atau skizofrenia, dapat diatasi jika kondisi yang
mendasarinya juga diobati.
Kategori untuk inkontinensia persisten adalah sebagai
berikut: Jenis urgensi, atau ketidakmampuan untuk menahan
keinginan untuk buang air kecil akibat otot detrusor berkontraksi
secara berlebihan akibat hilangnya kontrol neurologis, terapi
dengan obat antimuskarinik dengan prognosis yang baik, dan
stres. jenis yang disebabkan oleh ketidakmampuan sfingter urin
atau mekanisme katup untuk menutup saat ada.
Bersin, batuk, tertawa, terapi dengan latihan otot dasar
panggul, prognosis baik, tipe overflow, atau kandung kemih
membesar melebihi volume normal, dan residu pasca berkemih >
100 cc tergantung penyebabnya, seperti mengatasi
obstruksi/retensi urin, adalah contoh dari peningkatan mendadak
tekanan intra-abdomen. Penyebab kerusakan panggul, operasi
dubur/rektal, prolaps rektum, tumor, dll., serta transit spontan
tinja melalui anus atau ketidakmampuan untuk mengaturnya.
Dalam kasus inkontinensia urin, pasien sering mengurangi
24
minum, yang membuat mereka dehidrasi.
4) Intellectual impairment (gangguan intelektual/ demensia)
Demensia adalah kondisi kognitif dan memori yang didapat
yang disebabkan oleh penyakit otak yang tidak terkait dengan
gangguan kesadaran dan memiliki dampak besar pada pekerjaan
dan aktivitas sosial. Memiliki demensia mempengaruhi lebih dari
sekedar memori. Demensia menyebabkan pasien kehilangan indra
peraba, menjadi sensitif, dan mengalami penurunan perilaku di
samping kapasitas yang berkurang untuk mengidentifikasi,
memahami, menyimpan, atau mengingat kejadian sebelumnya.
Hipertensi, diabetes, masalah jantung, PPOK, dan obesitas
merupakan faktor risiko.
Kondisi mental organik yang dikenal sebagai sindrom
delirium akut ditandai dengan perubahan kognitif yang fluktuatif
atau masalah persepsi yang berumur pendek, serta penurunan
kesadaran dan konsentrasi. Kehilangan memori jangka pendek,
kelainan persepsi (halusinasi, ilusi), proses mental yang terganggu
(berorientasi pada waktu, lokasi, atau orang), percakapan yang
tidak relevan, omelan pasien, bicara yang melompat-lompat, dan
gangguan siklus tidur adalah semua gejala gangguan kognitif
global.
5) Infection (infeksi)
Lansia cenderung memiliki banyak penyakit sekaligus,
penurunan daya tahan dan kekebalan terhadap infeksi, gangguan
kemampuan berbicara yang membuat mereka sulit atau tidak
biasa untuk mengeluh, dan kesulitan menemukan indikasi awal
infeksi. Ciri utama dari semua penyakit menular sering kali
adalah peningkatan suhu tubuh, yang sering kali tidak ada pada
orang tua, yang justru sering memiliki suhu tubuh yang rendah.
Keluhan dan gejala yang berhubungan dengan infeksi, seperti
kebingungan/delirium hingga koma, nafsu makan menurun
25
dengan cepat, kelemahan fisik, dan kelainan perilaku yang sering
menyerang pasien lanjut usia, menjadi semakin tidak biasa.
6) Impairement of hearing, vision and smell (gangguan
pendengaran, penglihatan dan penciuman)
Orang lanjut usia sering mengalami gangguan pendengaran,
sehingga sulit bagi mereka untuk berkomunikasi. Gangguan
pendengaran geriatri dapat diobati dengan pembedahan, dengan
implantasi koklea, atau secara medis, dengan alat bantu dengar.
Kelainan refraksi, katarak, atau efek samping dari kondisi lain
seperti DM, HT, dll. semuanya dapat mengganggu penglihatan,
yang dapat diobati dengan kacamata atau dengan operasi katarak.
7) Isolation (Depression)
Depresi dan isolasi. Penyebab utama depresi pada orang tua
adalah kematian orang yang dicintai, pasangan hidup, anak-anak,
atau bahkan hewan peliharaan. Selain itu, kecenderungannya
untuk menarik diri dari lingkungannya membuatnya kesepian dan
melankolis. Pasien merasa sendirian dan tidak bahagia ketika
keluarga mereka mulai mengabaikan mereka karena mereka
terganggu oleh mereka. Depresi kronis dapat menyebabkan upaya
bunuh diri pada individu tertentu.
8) Inanition (malnutrisi)
Pada usia 40 hingga 70 tahun, jumlah makanan yang
dikonsumsi berkurang sekitar 25% karena kurang gizi
(malnutrisi). Anoreksia dipengaruhi oleh variabel fisiologis,
psikologis, dan sosial yang mempengaruhi nafsu makan dan
asupan makanan, seperti perubahan rasa, bau, kesulitan
mengunyah, masalah usus, dan lain-lain.
9) Impecunity (kemiskinan)
Kemampuan fisik dan mental terus menurun seiring
bertambahnya usia, sehingga tidak memungkinkan bagi tubuh
untuk melakukan atau menyelesaikan pekerjaan dan
26
menghasilkan pendapatan. Usia pensiun, ketika beberapa orang
tua secara eksklusif bergantung pada manfaat pensiun mereka
untuk bertahan hidup. Pensiun membawa serta tidak hanya
masalah keuangan tetapi juga kehilangan rekan kerja, yang
mengurangi hubungan sosial dan membuatnya lebih mudah bagi
orang tua untuk menderita keputusasaan.
10) Iatrogenic (penyakit karena pemakaian obat-obatan)
Apalagi sebagian lansia sering mengkonsumsi obat dalam
jangka waktu lama tanpa pengawasan dokter sehingga dapat
menyebabkan penyakit, lansia terkadang menderita lebih dari satu
bentuk penyakit sehingga memerlukan pengobatan tambahan.
Hasilnya mungkin termasuk efek samping yang berpotensi fatal
dan hasil interaksi obat-obat.
11) Insomnia (sulit tidur)
Orang yang sudah lanjut usia mungkin mengalaminya
sebagai akibat dari kesulitan hidup yang membuat mereka
depresi. Selain itu, berbagai penyakit, seperti diabetes mellitus
dan masalah kelenjar tiroid, serta beberapa masalah otak, juga
dapat menyebabkan sulit tidur. Perubahan jadwal tidur juga bisa
menjadi penyebabnya. Lansia sering mengeluhkan berbagai
macam kesulitan tidur, antara lain sulit untuk tertidur, tidur yang
dangkal sehingga mudah untuk bangun, sulit untuk kembali tidur
setelah bangun, bangun pagi-pagi, dan merasa lelah setelah
bangun tidur.
Hindari berolahraga tiga hingga empat jam sebelum tidur,
bersantai sesaat sebelum tidur, tidak merokok sebelum tidur,
menghindari konsumsi minuman berkafein di sore hari,
membatasi asupan cairan setelah makan malam jika terjadi
nokturia, menjaga tidur siang hingga 30 menit atau kurang, dan
menahan diri untuk tidak menggunakan tempat tidur untuk
membaca, menulis cek, atau menonton televisi.
27
12) Immuno-defficiency (penurunan sistem kekebalan tubuh)
Daya tahan tubuh menurun bisa disebabkan oleh proses
menua disertai penurunan fungsi organ tubuh, juga disebabkan
penyakit yang diderita, penggunaan obat-obatan, keadaan gizi
yang menurun.
13) Impotence(Gangguan seksual)
Impotence (Gangguan seksual), Impotensi ketidakmampuan
melakukan aktivitas seksual pada usia lanjut terutama disebabkan
oleh gangguan organik seperti gangguan hormon, syaraf, dan
pembuluh darah dan juga depresi
14) Impaction (sulit buang air besar)
Variabel yang mempengaruhi antara lain kurang olahraga,
diet rendah serat, kurang konsumsi alkohol, dan penggunaan obat-
obatan tertentu. Akibatnya, tinja di usus menjadi keras dan kering,
pengosongan usus menjadi sulit atau isi usus tertahan, dan dalam
kasus ekstrim, obstruksi usus dan ketidaknyamanan perut dapat
terjadi.
6. Olahraga
1. Pengertian Olahraga
Istilah olahraga terdapat dalam bahasa Jawa yaitu olahrogo.
Olah artinya melatih diri menjadi seorang yang terampil sedangkan
rogo artinya badan. jadi olahraga adalah suatu bentuk pendidikan
individu dan masyarakat yang mengutamakan gerakan-gerakan jasmani
yang dilakukan secara sadar dan sistematis menuju suatu kualitas yang
lebih tinggi. Menurut wikipedia, arti olahraga adalah aktivitas untuk
melatih tubuh seseorang, tidak hanya secara jasmani tetapi juga rohani
(misalkan catur). Berdasarkan arti kata dalam undangundang ketentuan
pokok olahraga tahun 1997 pasal 1, yang di maksud dengan olahraga
adalah semua kegiatan jasmani yang dilandasi semangat untuk
melelahkan diri sendiri maupun orang lain, yang dilaksanakan secara
ksatria sehingga olahraga merupakan sarana menuju peningkatan
28
kualitas dan ekspresi hidup yang lebih luhur bersama sesama manusia.
Utamanya olahraga berfungsi untuk menyehatkan badan dan
memastikan organ tubuh masih sehat. Olahraga penting, karena di
dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. (rays, 2013.)
2. Manfaat Olahraga Bagi Lansia
Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang membutuhkan
energi untuk mengerjakannya, seperti berjalan, menari, mengasuh cucu,
dan lain sebagainya. Aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur, yang
melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang serta ditujukan untuk
meningkatkan kebugaran jasmani disebut olahraga (Farizati, 2002).
Manfaat olahraga pada Lansia antara lain dapat memperpanjang usia,
menyehatkan jantung, otot, dan tulang, membuat Lansia lebih mandiri,
mencegah obesitas, mengurangi kecemasan dan depresi, dan
memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi. Olahraga dikatakan
dapat memperbaiki komposisi tubuh, seperti lemak tubuh, kesehatan
tulang, massa otot, dan meningkatkan daya tahan, massa otot dan
kekuatan otot, serta fleksibilitas sehingga lansia lebih sehat dan bugar
dan risiko jatuh berkurang.
Olahraga dikatakan juga dapat menurunkan risiko penyakit
diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung. Secara umum
dikatakan bahwa olahraga pada lansia dapat menunjang kesehatan,
yaitu dengan meningkatkan nafsu makan, membuat kualitas tidur lebih
baik, dan mengurangi kebutuhan terhadap obat-obatan. Selain itu,
olahraga atau aktivitas fisik bermanfaat secara fisiologis, psikologis
maupun sosial. Menurut Nina (2007), secara fisiologis, olahraga dapat
meningkatkan kapasitas aerobik, kekuatan, fleksibilitas, dan
keseimbangan. Secara psikologis, olahraga dapat meningkatkan mood,
mengurangi risiko pikun, dan mencegah depresi. Secara sosial, olahraga
dapat mengurangi ketergantungan pada orang lain, mendapat banyak
teman, dan meningkatkan produktivitas.
29
3. Jenis Aktivitas Fisik Pada Lansia
Aktivitas fisik yang bermanfaat untuk kesehatan Lansia
sebaiknya memenuhi kriteria FITT (frequency, intensity, time, type).
Frekuensi adalah seberapa sering aktivitas dilakukan, berapa hari dalam
satu minggu. Intensitas adalah seberapa keras suatu aktivitas dilakukan.
Biasanya diklasifikasikan menjadi intensitas rendah, sedang, dan tinggi.
Waktu mengacu pada durasi, seberapa lama suatu aktivitas dilakukan
dalam satu pertemuan, sedangkan jenis aktivitas adalah jenis-jenis
aktivitas fisik yang dilakukan. Jenis-jenis aktivitas fisik pada Lansia
menurut Kathy (2002), meliputi latihan aerobik, penguatan otot (muscle
strengthening)), fleksibilitas, dan latihan keseimbangan. Seberapa
banyak suatu latihan dilakukan tergantung dari tujuan setiap 5 individu,
apakah untuk kemandirian, kesehatan, kebugaran, atau untuk perbaikan
kinerja (performance). (Rachmah Laksmi Ambardini, 2011.)
Linggang Bigung adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kutai
Barat, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kecamatan Linggang
Bigung dihuni oleh 3.953 KK. Jumlah keseluruhan penduduk
Kecamatan Linggang Bigung adalah 13.657 jiwa dengan jumlah
penduduk laki-laki 7.190 orang dan jumlah penduduk perempuan 6.467
orang. Tingkat kepadatan penduduk di Kecamatan Linggang Bigung
adalah 19 jiwa/km². Di Linggang Bigung terdapat 7 RT dan jumlah
keseluruhan data lansia di setiap RT Linggang Bigung berjumlah 163
lansia. Mayoritas Suku yang mendiami Kampung Linggang Bigung
adalah Suku Dayak Tunjung. Namun sekarang suku bangsa yang
mendiami Kampung Linggang Bigung tidak hanya Kelompok yang
berasal Dari Suku Dayak Tunjung saja, tetapi sudah banyak Sub Etnis
Dayak Lain seperti Suku Dayak Bahau, Suku Dayak Benuaq, Suku
Dayak Kenyah dll. Selain itu ada banyak suku pendatang seperti Suku
Jawa, Suku Bugis, Suku Batak, Suku Manado dll. Walaupun terdiri dari
berbagaimacam suku Bangsa, kehidupan Masyarakat Linggang Bigung
cukup harmonis satu dengan yang lainnya (Wikipedia, 2020).
30
B. Kajian Penelitian yang Relevan
1. Penelitian yang telah dilakukan oleh Hanjaya Saiputra, Andini
Emmiati, Evelyn Fajar Wibisono, Andita Widjaja dengan judul Pola
Perilaku Hidup Sehat Pra Lansia Dalam Mengkonsumsi Makanan
Sehari-hari. Pola hidup sehat merupakan hal yang sedang tren pada
jaman sekarang dijadikan sebuah gaya hidup dikalangan masyarakat.
Penelitian ini dilakukan mengetahui bagaimana pola perilaku hidup
sehat pra lansia dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari di Maureen
Studio. Metode analisa yang dilakukan adalah kualitatif deskriptif,
dengan melakukan wawancara terhadap pola perilaku hidup sehat dan
makanan sehat kepada pra lansia di Maureen Studio.
Hasil wawancara ini akan membuktikan pola perilaku hidup sehat dan
makanan sehat dapat mempengaruhi perilaku hidup sehat pra lansia.
Pola perilaku hidup sehat yang dimiliki oleh pra lansia di Maureen
Studio adalah makan makanan yang seimbang sesuai dengan
kebutuhan masing-masing, olahraga minimal 3 kali seminggu, tidak
mengkonsumsi hal-hal yang mengakibatkan kecanduan, dan tidur yang
terartur. (Evelyn Fajar Wibisono, Andita Widjaja, Hanjaya Siaputra,
2015)
2. Penelitian yang telah dilakukan oleh Hartono Identifikasi Pola Hidup
Sehat pada Lansia di Kelurahan Rahandouna Kota Kendari Tahun
2017. Pola hidup sehat adalah segala upaya untuk menerapkan
kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan
menghindari kebiasaan yang buruk yang dapat mengganggu kesehatan.
Indikator pola hidup sehat antara lain: perilaku tidak merokok, pola
makan sehat dan seimbang dan aktivitas fisik yang teratur. Dalam
penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola hidup sehat pada
lansia di Kelurahan Rahandouna Kota Kendari. Variabel penelitian ini
yaitu pola makan sehat dan seimbang serta aktivitas fisik yang teratur.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain
deskriptif survey. Penelitian ini dilakukan sejak 14 – 20 Juli 2017.
31
Populasi dalam penelitian ini adalah lanjut usia di Kelurahan
Rahandouna. Sampel penelitian berjumlah 40 orang yang diambil
secara proportional stratified random sampling.
Data diperoleh dari data sekunder dan primer dengan intrumen
penelitin adalah lembar kuesioner. Data disajikan dengan secara
deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi dan dinarasikan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada kategori pola makan sehat dan
seimbang, didapatkan pola makan sehat sebanyak 38 orang (95,00 %)
dan pola makan yang tidak sehat sebanyak 2 orang (5,00 %); pada
kategori aktivitas fisik yang teratur didapatkan aktivitas fisik yang
tidak teratur sebanyak 27 orang (67,50 %) dan aktivitas fisik yang
teratur sebanyak 13 orang (32,50 %). Kesimpulan pada penelitian ini
adalah terdapat 29 lansia (72,50 %) yang dikategorikan melakukan
pola hidup sehat dan 11 lansia (27,50 %) yang dikategorikan
melakukan pola hidup tidak sehat. Adapun saran yang dapat diberikan
peneliti yaitu bagi lansia di Kelurahan Rahandouna harus
meningkatkan pola hidup sehat terutama aktivitas fisik yang teratur.
(Hartono, 2017)
C. Kerangka Berfikir
Faktor Gizi
Olahraga Pola Hidup
Sehat
Kesehatan
Gambar 1. Kerangka Pikir
32
1. Pola Hidup Sehat
Pendapat lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pola hidup
sehat adalah suatu gaya hidup dengan memperhatikan faktor-faktor
tertentu yang mempengaruhi kesehatan, antara lain makanan dan
olahraga, hal ini dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Orang yang memiliki kesehatan dalam hidupnya berarti ia telah dapat
melepaskan diri dari penyakit yang menyiksanya baik berupa penyakit
rohani maupun jasmani (Husein Bahreisj, Islam dan kesehatan
(Surabaya: Al-Ikhlas, t.t).
2. Faktor Gizi
1) Panduan membuat makanan untuk orang tua dibuat oleh Siti
Bandiyah (2009: 74), dan isinya dapat diurutkan sebagai berikut:
2) Menu harus mencakup nutrisi yang berasal dari berbagai komponen
makanan, seperti sumber energi, komponen struktural, dan
komponen regulasi.
3) Karbohidrat kompleks menyumbang 50% dari kalori yang sehat
untuk dikonsumsi orang tua (sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian).
4) Lemak makanan dijaga seminimal mungkin, membentuk 25-30%
dari semua kalori.
5) 8-10% dari total kalori harus terdiri dari protein.
6) Makanan harus banyak mengandung serat, yang berasal dari
berbagai karbohidrat, buah-buahan, dan sayuran yang dicerna secara
bertahap.
7) Makan makanan kaya kalsium termasuk susu tanpa lemak, yogurt,
dan makanan laut.
8) Makanan tinggi zat besi Fe, seperti bayam, sayuran hijau, kacang-
kacangan, hati, dan daging.
9) Gunakan garam secukupnya. Perhatikan label barang yang
mengandung garam untuk informasi tentang monosodium glutamat,
natrium bikarbonat, dan natrium sitrat.
33
10) Makanan segar dan mudah dicerna harus digunakan sebagai
sumber nutrisi.
11) Hindari makanan yang sangat beralkohol.
12) Makanan harus mudah dikunyah, seperti makanan lunak.
3. Olahraga
Setelah usia 40 tahun, penurunan kebugaran fisik menjadi semakin
nyata, dan pada saat seseorang berusia lanjut, kapasitasnya menurun
antara 30 dan 50% (Benny Kartawijaya, 2015). Akibatnya, jika lansia
ingin berolahraga, mereka harus memilih aktivitas yang sesuai dengan
usia mereka dan potensi masalah kesehatan apa pun. Olahraga lansia
harus memenuhi berbagai kriteria, seperti beban sedang hingga sedang,
durasi yang relatif lama, aktivitas kardiovaskular, dan non-kompetitif.
Contoh olahraga yang mematuhi larangan tersebut di atas antara lain
jalan kaki, segala aktivitas yang memiliki aspek jalan kaki, golf, lari
lintas alam, panjat tebing, senam dengan tingkat kesulitan rendah, dan
olahraga rekreasi. Orang tua dapat memperlambat laju perubahan
degeneratif dengan latihan otot.
4. Kesehatan: Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk menjaga
kesehatan yang baik, antara lain sebagai berikut:
1. Pekerjaan ringan: Hindari menjadi malas. tanpa mengurangi
relaksasi dan tidur.
2. Perokok sebaiknya tidak melakukannya karena merokok
meningkatkan bahaya tertular sejumlah penyakit, termasuk serangan
jantung, kanker, paru-paru, tekanan darah tinggi, dan kanker.
3. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, walaupun tidak
sakit, dan mendapat pertolongan yang benar sekali jika sakit (Farid,
2015 dalam Siti Bandiyah, 2009: 74.)
D. Pertanyaan penelitian
Seberapa besar status pola hidup sehat pada lansia serta manfaat
berolahraga disaat pandemi covid-19 di desa Linggang Bigung?
34
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif,
menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat sekarang ini
berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian
deskriptif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa penelitian, tidak
mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat
prediksi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan seberapa besar status pola
hidup sehat serta tingkat aktivitas olahraga pada lansia saat pandemi covid-19
yang ada di desa linggang bigung.
B. Lokasi/Tempat dan Waktu Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini dilaksanakan di desa Linggang Bigung,
Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Pengambilan Data
menggunakan kuesioner/angket yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus
2022.
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
No Kegiatan Tahun 2021/2022
Sep Okt Nov Des Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep
1. Pembuatan
proposal
2. Seminar proposal
dan pembuatan
instrument
3. Revisi proposal
4. Penelitian
lapangan
5. Analisis data
6. Penyusunan
laporan
35