The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Jakarta tahun 1980-an yang diceritakan untuk mengenang Bapak dan juga bagaimana bapak memberikan pendidikan yang hangat di rumah.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by seniasiati, 2020-07-14 01:34:00

Kisahku Bersama Bapak

Jakarta tahun 1980-an yang diceritakan untuk mengenang Bapak dan juga bagaimana bapak memberikan pendidikan yang hangat di rumah.

Keywords: Novel

Kisahku Bersama Bapak

SENI ASIATI BASIN

Pengalaman 2020

Persembahan

Kisah ini adalah persembahanku pada
„Bapak” agar tak hilang kenangan kami ber
sama Bapak

Penulis
Seni Asiati Basin

PROLOG

Semua orang pasti punya bapak. setiap orang pasti punya cerita te
ntang bapak. Setiap cerita tentang bapak pastilah bermakna. Bapak
untuk kami, anak-anaknya adalah sosok inspiratif yang selalu ada
dengan segala ide dan candanya. Ajaran bapak pada kami anak-ana
knya agar kami berani, jujur, dan disiplin baik dalam waktu maupun
kebiasaan. Disiplin yang diterapkan di rumah, menjadikan kami pri
badi yang tangguh. Bapak mendidik kami seperti yang diterimanya
di tempat kerja sebuah institusi penjaga negara. Kenangan bersama
bapak pasti akan selalu menjadi kisah yang teramat indah. Untuk
anak-anaknya tak ada yang terlewat dari sosok bapak.
Waktu itu bulan Ramadhan cuaca panas terik. Bapak baru pulang
dari dinasnya, masih dua jam lagi waktu berbuka. Waktu itu aku
dan adikku masih berusia 9 dan 8 tahun, kami berbaring saja di so
fa depan. Lapar dan haus yang melanda karena sudah seharian ber
puasa membuat kami malas untuk bergerak, bahkan bermain saja
kami enggan. Seperti anak-anak lain, hanya jam di dinding yang se
lalu kami tengok.

“Anak bapak, puasa semua nih?” tanya bapak pada kami yang
lemas tanpa tulang. Aku mengangguk dan melanjutkan dengan
mengambil bantal sofa. “Puasa kok lemas terus, yuk kita cari ke
rang di pantai Cilincing,” kata bapak pada kami yang langsung
melompat kegirangan. Kegiatan di pantai Cilincing kalau sore
apalagi di bulan puasa menjadi kegiatan yang mengasyikan. Bia
sanya aku dan adikku yang selalu diajak bapak, kata bapak kare
na kami berdua yang muat di boncengan motor. Kali ini bapak
mengajak kakakku ikut.

Bapak baru pulang dari dinas harusnya bapak istrahat, tapi meli
hat buah hatinya lemas karena puasa, bapak mengajak kami
„ngabuburit‟ alias jalan-jalan menunggu waktu berbuka di pan
tai dekat rumah. Pantai ini tidak begitu jauh dari rumah dan se
lalu ramai oleh pengunjung apalagi kalau bulan Ramadahan. Ka
dang bapak mengajak kakakku sehingga motor bapak penuh
dengan anak-anak bapak. Motor bapak akan memuat empat
orang penumpang. Aku, adikku, dan kakakku juga bapak, akan
memenuhi sadel motor dengan tubuh kami yang sudah mulai
besar.

Sambil menunggu waktu berbuka aku dan adikku akan diajak
bapak mencari kerang yang banyak bertebaran di pantai. Kaka
kku sibuk mengukir nama di pantai. Sesekali bapak mengang
kat adikku yang memang badannya kecil ke udara dan memu
tar seolah-olah akan melempar. Kenangan itu terekam jelas
olehku karena permainan itu membuat aku berebut untuk ikut
diangkat. Sesekali bapak mengangkatku, tapi adikku pasti aka
n berteriak untuk diangkat juga.

Malam takbiran atau sehari sebelum lebaran, malah lebih seru
lagi, bapak akan mengajak kami berkeliling kompleks sambil
bertakbir. Bapak selalu ada untuk kami sesibuk apapun. Aku
dan saudara-saudaraku akan ikut kemana saja bapak menga
jak kami tinggal. Tidak heran kalau kami merasakan pindah ru
mah sebanyak empat kali. Bukan karena habis kontrakan, mela
inkan tugas bapak yang membuat kami harus ikut bapak. Ba
pak ingin keluarga kami berkumpul walaupun harus sering ber
pindah tempat tinggal.

“Dimanapun kita, kalau keluarga berkumpul semua, masalah
akan baik-baik saja.” Kata bapak ketika kami harus pindah untuk
yang ketiga kalinya. Kalau kami mengeluh, bapak pasti akan ber
cerita pengalamannya pertama kali harus keluar dari rumah nen
ek hingga terdampar di pulau Jawa. Perjuangan bapak hingga bi
sa ada di ibukota merupakan kisah yang sungguh menginspirasi.

“Dulu untuk sekolah saja bapak harus ke kota kabupaten, jalan
kaki 15 km.” Kenang bapak. Ketika itu aku mendapat nilai raport
yang tidak memuaskan bapak. Bapak bercerita kalau sekolah da
sar saja jauh, harus melewati 5 dusun. Jarak setiap dusun 1-3 km
. Dusun atau kampung bapak masih hutan. Wah terbayang sera
mnya melewati daerah itu. Setelah tamat SMP, bapak bekerja di
kebun sawit milik saudara. Waktu itu pendidikan SMP saja sudah
bagus karena jarang anak kampung yang bersekolah. Hingga su
atu hari ada kabar gembira datang, bapak ditawari menjadi agen
polisi (dulu namanya seperti itu). Syaratnya mendaftar di ibukota
provinsi. Itu artinya bapak harus merantau dan jauh dari kam
pung lagi.

Kenangan bersama Bapak

Episode pertama

Rumah Masa Kecil

*** Rumah Mambo

Rumah masa kecil memang menorehkan kesan yang dalam. Aku dan
keluargaku pindah ke rumah ini tahun 1976. Sebenarnya rumah ini bu
kan rumah masa kecil, karena aku dilahirkan di Cipanas, Jawa Barat. Ke
mudian bapak pindah tugas ke Jakarta dan tinggal di kompleks perum
ahan yang disediakan pemerintah. Mambo, begitu orang menyebut wi
layah tempat aku tinggal. Entah mengapa orang menyebut begitu ti
dak jelas benar. Pastinya teringat mambo teringat es mambo. Mungkin
dinamakan “Mambo” karena banyak yang menjual es mambo di kom
pleks kami. Yah, es yang yang selalu dibuat mamaku dengan plastik pa
njang diikat karet. Kulkas kami tak pernah sepi dengan es ini. Mama
membuat hanya untuk anak-anaknya, kata mamah kalau dibuat sendiri
kebersihannya lebih terjamin, yang pasti aku dan saudara-saudaraku ta
k perlu merengek minta dibelikan es mambo. Di zamanku dulu tahun
80-an, es ini sangat terkenal dan aku selalu berebut dengan adik-adik
ku sepulang sekolah. Bahkan, karena seringnya kami minum es mambo
, mamah mengajari kami membuat dan menjualnya.

“Ri, bantu mamah yah?” kata mamah sepulang aku
sekolah.

“Bantu apa mah? Aku menaruh tas dan berganti
pakaian siap untuk makan. Sudah terbayang sedap
nya sayur asam buatan mama. Aku lihat mamah m
engangkat baskom berisi air berwarna merah haru
m sirop merasuk lubang hidungku. “Mamah mau
membuat es mambo?” tanganku sudah menjangka
u centong yang ada di baskom dan mengaduk-ad
uk isi baskom.

“Iya, ini mamah kasih selasih dan biji mutiara.” Ma
mah menaruh selasih dan biji mutiara di baskom.
Sekarang air merah itu sudah ramai dengan berta
mbahnya pasukan selasih dan biji mutiara. Wah se
dap tentunya, yang pasti aku akan membawa ke se
kolah dua dan menyimpan dua untuk siang.

“Aku bantu tuang ke plastik ya, Mah.” Mulutku mas
ih penuh nasi dan tangan kiriku menjangkau plasti
k es.

“Makan dulu nanti bantunya habis Nuri makan.”
Mamah menjauhkan tanganku dari plastik es.

“Asyik, bikin es mambo.” Adikku Tita berseru sam
bil memegang baskom air merah. Tangan mungil
nya sibuk menyendok air dan mengangkat biji mu
tiara dengan sendok. Sambil tertawa Tita mema
kan biji mutiara.

“Yah, kurang manis mah.” Seru Tita.

“Masa sih kurang manis.” Mamah mengambil air si
rop dengan ujung tangannya. Tak lama sesendok
gula pasir yang putih sudah tertuang di baskom.

Hari inilah dimulai usaha es mambo aku dan adikku Tita. Es
mambo Ini resmi menjadi dagangan aku dan adik. Kenangan
masa kecil tentang es mambo dan cara kami berjualan begitu
terpatri. Aku dan Tita tidak berdagang keliling kompleks hanya
menaruh termos es di depan rumah dan iklan jualan kami ha
nya omonganku pada teman-teman kalau kami berjualan es m
ambo. Pelanggan kami tentu saja teman-teman kami sendiri,te
tangga kiri-kanan di kompleks. Bahkan aku ingat untuk menari
k perhatian pembeli aku dan Tita pernah berebut es mambo.
Teman-teman yang melerai ikut penasaran mengapa es terseb
ut jadi rebutan. Ahaaa taktik jualan kami berhasil, semakin ba
nyak yang membeli, bahkan jenis es mambo yang tadinya han
ya berwarna mulai bervariasi. Mamah memang selalu punya
ide. Ada es mambo rasa coklat yang dibuat dari susu coklat
dan diberi meisis, ada es kacang hijau, ada es ketan hitam, ba
hkan ada es teh susu. Dagangan kami selalu habis apalagi di
samping rumah ada lapangan tempat anak-anak bermain.

Yang pasti aku bahagia menghabiskan masa kecilku be
rsama keluarga di rumah yang kami sebut “rumah ma
mbo”. Rumah inilah pertama kalinya keluarga kami ting
gal dan menginjakkan kaki di ibukota Jakarta. Padahal
aku lebih senang tinggal di kota kelahiranku yang seju
k dan hijau di daerah Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Ru
mah mambo mengisahkan masa kecilku di belantara ib
ukota yang bernama Tanjung Priuk.

Rumah mambo wilayahnya persis dekat dengan pelabu
han Tanjung Priuk. Hanya karena tidak banyak yang a
ku ingat di Rumah Cipanaslah, sehingga Rumah mam
bo menjadi rumah masa kecil dari ingatanku tentang
sebuah rumah. Aku dan ketiga saudaraku dilahirkan di
Cipanas, tapi tumbuh dan menghabiskan masa kecil di
rumah mambo. Sebenarnya ini kompleks perumahan
untuk para pengawal keamanan masyarakat. Sebuah
rumah kompleks “anak kolong”, itu julukan untuk kami
anak kompleks.

Pindah ke Jakarta tidak ada dalam benakku sebagai seorang
anak. Kami anak-anak bapak pastinya harus ikut kemana
orangtua akan membawa. Pindah ke Jakarta siapa yang tidak
mau, tetapi pindah ke daerah pantai dari daerah pegunungan,
sungguh jauh dari keinginan mamah. Aku dan saudara-sauda
raku masih kecil belum mengerti apa yang diinginkan. Aku per
nah bertanya pada bapak mengapa harus pindah ke Tanjung
Priuk dan tidak meminta ke wilayah selatan yang katanya lebih
sejuk dan tidak gersang. Bapak bilang tempat inilah yang co
cok dengan bapak. Kompleks ini dekat dengan tempat bapak
bekerja.

“Nuri mau tahu gak mengapa dinamakan Tanjung priuk?” ma
lam itu bapak menemani aku dan saudaraku belajar. Kami diha
ruskan membaca apa saja bacaan yang ada di rumah. Aku pa
ling senang membaca buku cerita terutama cerita sejarah.

“Cerita Pak, ayo cerita!” aku memeluk bapak meminta bapak
cerita. kalau bapak bercerita pastinya seru karena bumbu ceri
ta bapak selalu sayang untuk dilewatkan.

“Asyikkk, kita dengar cerita yah Pak?” adikku ikut bergelayut di
pundak bapak yang duduk santai di sofa.

Kakakku yang sedang membaca novel di kamar ikut bangkit dan me
ngambil posisi di sebelahku. Mulailah bapak bercerita. Bapak berceri
ta tentang asal-usul nama Tanjung Priok, yang antara lain konon ber

asal dari kata tanjung dan priok. Kata bapak kata tanjung artinya da
ratan yang menjorok ke laut dan kata priok (periuk) yakni semacam

panci masak dari tanah liat yang merupakan komoditas perdagangan
sejak zaman prasejarah.

“Jadi panci itu namanya periuk yah Pak?” tanya kakakku.

“Katanya seperti itu.” Bapak menyerumput teh hangat yang diberikan
mamah.

“Loh, kok bisa disandingkan dengan Periuk? Kalau Tanjung aku tahu
karena di Ancol aku melihat, tapi mengapa Periuk Pak? Memang di
Tanjung itu ada pabrik pembuatan Periuk?” tanyaku masih belum pa
ham mengapa harus kata Periuk.

“Jadi dinamakan periuk, karena orang-orang yang bekerja di perahu
atau para nelayan selalu membawa periuk untuk menanak nasi, sela
ma mereka di laut periuk nasi itulah yang menemani untuk mema
sak.” Penjelasan bapak mulai masuk akal. Bapak melanjutkan lagi ceri
ta daerah yang menjadi tempat kami tinggal.

Belanda mengembangkan kawasan Tanjung Priok seba
gai pelabuhan baru Batavia pada akhir abad ke-19 un
tuk menggantikan pelabuhan Sunda Kelapa yang bera
da di sebelah baratnya. Sebab, pelabuhan tersebut su
dah menjadi terlalu kecil untuk menampung peningkat
an lalu lintas perdagangan yang terjadi akibat pembu
kaan Terusan Suez. Pembangunan pelabuhan baru di
mulai pada 1877 oleh Gubernur Jendaral Johan Wilhel
m van Lansberge (1875-1881). Beberapa fasilitas diban
gun untuk mendukung fungsi pelabuhan baru, diantar
anya stasiun kereta api Tanjung Priok pada 1914.

“Oh pantas, ada rel kereta api yang melintas di komp
leks kita yah pak.” Kali ini mamah menyahut sambil me
nidurkan adikku. Waktu itu kadang-kadang ada kereta
barang yang melintas di kompleks kami.

“Ada lagi cerita tentang asal usul Tanjung Priuk ini, mau denga
r gak?” tanya bapak melihat adikku sudah menguap. Mataku
masih terang benderang. Cerita yang disampaikan bapak mem
buat aku seperti berada di Jakarta ketika masih Batavia. Kalau
ini yah pastinya lebay banget yah.

“Mauuuuu, aku teriak lebih dahulu, Dek jangan ngantuk yah,
nanti gak selesai cerita bapak.” Aku membujuk adikku yang
mulai meredup kedua matanya. Aku lihat adikku mengangguk.
Tita paling takut tidak kebagian cerita bapak, karena bapak tak
akan mengulang kembali cerita yang sudah disampaikan.

“Mah, masih ada teh gak yah.” Bapak berjalan ke dapur. Sebe
lum bapak sampai dapur mamah sudah membawakan teh ha
ngat. Bukan hanya untuk bapak, tapi empat gelas teh hangat
mamah bawa. Yang pasti bapak akan dapat satu gela, aku,
adikku, dan kakakku.

“Mah, berdua yah.” Kata Tita dengan mata setengah mengan
tuknya. Mamah tertawa dan mengusap muka Tita.

Bapak melanjutkan ceritanya mengenai sejarah Tanjung
Priuk. “Versi lain menyatakan, nama daerah ini bermula

dari nama pohon tanjung (mimusops elengi) yang tum

buh menandai makam Mbah Priok (Habib Ali Al-Hadda
d). Versi yang lebih lengkap tentang sejarah Tanjung
Priuk, dikisahkan bahwa Mbah Priok yang biasa dipang
gil Habib, adalah seorang ulama kelahiran Palembang
pada 1727. Dia kemudian ke pulau Jawa untuk menyeb
arkan agama Islam. Bersama pengikutnya, Habib berla
yar menuju Batavia selama dua bulan. Lolos dari kejara
n perahu Belanda, kapalnya digulung ombak besar. Se
hingga semua perlengkapan di dalam kapal hanya di
bawah gelombang. Akibatnya, yang tersisa hanya alat
penanak nasi dan beberapa liter beras yang berserakan
. Habib sendiri ditemukan tewas di sebuah semenan
jung yang saat itu belum punya nama.” Bapak menge
ndong Awan yang bangun dari tidurnya.

“Di samping jenazahnya ditemukan pula periuk dan sebuah dayung. Kem
udian oleh warga, sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayu
ng, sedangkan periuk diletakkan di sisi makam itu. Konon, dayung terseb
ut tumbuh menjadi pohon tanjung. Sedangkan priuknya hanyut terbawa
ombak. Tetapi, setelah empat tahun, periuk itu konon kembali lagi ke sisi
makam Habib.Nah, cerita ini bapak baca di buku tentang sejarah Jakarta
loh.“ Bapak men jelaskan darimana bapak mendapat cerita ini.

“Aku mau baca Pak bukunya.” Kataku antusias.

“Nanti bapak pinjamkan dari perpustakaan kota tua yah, Ri.” Jawaban ba
pak membuat aku semangat. “Sekarang bapak lanjutkan cerita bapak yah
.” Kami semua mengangguk dengan menyeruput teh hangat yang disedi
akan mamah.

“Kisah periuk nasi dan dayung yang menjadi pohon tanjung itulah yang
kemudian diyakini sebagai asal usul nama Tanjung Priok. Sedangkan pan
ggilan Mbah Priok merupakan penghormatan untuk Habib, yang makam
nya kini masih ada di daerah Tanjung Priuk dan sering diziarahi warga.”
Bapak menghabiskan teh yang tersisa di cangkir.

“Dimana Pak, makam Mbah Priuk?” Mamah antusias sekali menanyakan
ba pak. Rupanyan mamah ikut juga mendengarkan cerita bapak.

“Nanti kita berkunjung ke sana yah, sekarang karena sudah ma
lam, seperti biasa sikat gigi, cuci kaki dan ti........

“Durrrrr,” serempak kami melanjutkan kata-kata bapak. Berebu
tan aku dan saudaraku ke kamar mandi. Celotehan kami masih
nyaring terdengar. Malam ini ada cerita yang bisa aku bangga
kan pada teman-temanku kalau aku tahu sejarah Tanjung priuk.
Tapi sampai kami pindah dari rumah mambo, bapak belum me
ngajak kami pergi ke makam Mbah Priuk.

Cerita bapak membawa kami untuk lebih mencintai di mana ka
mi tinggal. Jakarta waktu itu masih sepi belum ada kemacetan
yang kerap terjadi. Kami masih bebas menggunakan jalan, aku
dan teman-teman sering menggowes sepeda melintasi jalan ra
ya tanpa takut kendaraan yang melintas. Bahkan jalan raya di
depan kompleks perumahan kami, yang lebar itu kami perguna
kan untuk bermain “gobak sodor”. Kami akan kapur tulis yang
diambil dari sekolah dan menggambarkan garis-garis untuk me
mainkan “gobak sodor”. Permainan anak-anak yang seru dan
perlu kekompakan tim.

Suara yang acap kami dengar dari rumah mambo adalah klak
son mobil besar pengangkut barang atau kontener. Kalau perg
antian tahun suara terompet kapal dari pelabuhan menjadi tra
disi yang sayang untuk dilewatkan. Seingatku bapak tak mem
bolehkan kami menunggu malam pergantian tahun. Pukul 21.
00 setelah menonton acara di televisi, bapak menyuruh kami ti
dur. Biasanya mama yang menyuruh katanya disuruh bapak,
kalau ini pasti kekompakkan orangtua untuk menyuruh anakny
a tidur.

Bapak setiap pergantian tahun tak pernah pulang. Jawaban ya
ng aku dengar dari mama kalau aku tanya mengapa bapak ti
dak pulang setiap malam pergantian tahun, katanya bapak ha
rus menjaga keamanan Jakarta. Aku dan adikku sering terbang
un bahkan menunggu bunyi terompet kapal dengan sembunyi
-sembunyi. Terompet itu bersahut-sahutan dan berirama indah
, yang mampu membuat kami bersorak tanpa sadar karena in
gat besok sudah berganti tahun (padahal tak ada bedanya
ganti tahun atau tidak hahahaha).

Bapak dan para cucunya



“Mah, kenapa bapak selalu tidak pulang kalau tahun baru?” tanyaku
pada mamah.

“Bapak sibuk menjaga keamanan Jakarta.” Jawab mamah sambil
menggendong adikku yang bungsu. Adik bungsuku ini satu-satunya
keluarga kami yang lahir di rumah mambo dan kini menjadi satu-sa
tunya anak laki-laki di dalam keluarga kami setelah kepergian kakak
ku.

“Kenapa bapak terus, kan banyak anggota keamanan yang lain?” ta
nya kakak sulungku.

“Semua punya tugas masing-masing, dan bapak bertugas setiap per
gantian tahun.” Kata mama menjelaskan. Kakakku hanya menganggu
k entah setuju entah tak peduli dengan penjelasan mama.

“Tapi kenapa bapak selalu bertugas di malam pergantian tahun, jadi
kami tak pernah dengan bapak. Aku mau lihat bunyi kapal dari de
kat Mah.” Kataku dengan nada protes.

“Kembang api dari Ancol, pasti bagus deh kalau kita lihatnya dari de
kat.” Adikku menambahkan lagi. Pergantian tahun di Jakarta setelah
kepindahan kami dari Cipanas, memang tak pernah bersama bapak,
walaupun kenangan pergantian tahun di Cipanas juga tak ada yang
aku ingat. Biasanya pergantian tahun di Cipanas selalu diguyur hujan
dan kami sudah menarik selimut, selain karena udara yang dingin, ju
ga suasana Cipanas yang sepi.

Kali ini mama hanya diam saja. Mama mungkin tak mau ribut
apalagi adikku yang bungsu rewel. Pertanyaan yang tak bisa di
jawab itulah yang membuat esok harinya tepat tanggal 1 seti
ap awal tahun, bapak mengajak kami berwisata ke Ancol atau
Taman Mini. Bapak menebus apa yang tidak bisa diberikan di
malam pergantian tahun dengan kami, anak-anaknya.

Mamah akan membawa tikar yang cukup lebar sehingga bapa
k dapat beristirahat sambil menunggu aku dan saudara-sauda
raku mandi di laut Ancol. Laut ancol yang selalu saja ramai,
masih bersih belum banyak sampah seperti sekarang. Air laut
masih jernih belum tercemar.

“Ayo bangun, mau ikut gak berenang?” bapak membangunkan
aku dan adikku yang masih tertidur nyenyak. Tapi mendengar
kata „berenang‟ dengan segera aku bangun dan teriak memba
ngunkan adikku. Tempat tidur yang kami tempati adalah tem
pat tidur dengan ranjang besi bertingkat dua. Aku dan adikku
tidur satu tempat tidur di atas. Tempat tidur bawah kakak pe
rempuanku. Kakak laki-lakiku tidur di kamar lain.

Kawasan ancol memiliki pantai yang bersih dan landai yang dapat
digunakan untuk bermain air atau berenang dan aman bagi oran
g dewasa maupun anak - anak. Di sekitar pantai terdapat pepoho
nan rindang yang dapat digunakan untuk berteduh dari terik ma
tahari ketika waktu siang, ada juga tenda - tenda pantai dan alas
tikar yang disewakan di sekitar pantai ancol bagi yang membutuh
kannya. Tempat wisata ini dekat dengan rumah kami hanya berja
rak 2 km. Bapak selalu mengajak wisata kesini. Kata bapak membi
asakan untukmencintai laut. Setelah semalaman dipenuhi lautan
manusia, pagi hari ke Ancol memang kenikmatan tersendiri.

Setelah aku dewasa aku mengerti lelahnya bapak setelah semala
man menjaga keamanan Jakarta kemudian pagi harinya harus me
ngajak anak-anaknya berwisata. Lelah bapak tak pernah ditampak
kan, malah kadang adikku meminta bapak menemaninya berenan
g. Sampai di rumahpun, bapak masih membantu mamah membe
reskan rumah, entah kompor yang sumbunya pendek, atau kran
kamar mandi yang rusak gara-gara ulah kami yang berebut man
di. Maafkan kami pak.



Kompleks kami disebut daerah Pos 9. Dekat sekali dengan terminal Tanjung Pri
uk dan pelabuhan Tanjung Priuk. Daerah kami sangat ramai dan menjadi sen
tral perindustrian yang sibuk dengan lalu lalang angkutan barang impor dan
ekspor ke berbagai negara. Angkutan umum yang melintas masih bisa dihitun
g. Aku ingat pada tahun itu, ada transportasi yang sering kami gunakan bila
bepergian yaitu oplet. Kalau ingat atau pernah menonton sinetron di salah sa
tu televisi swasta tentu tahu jenis angkutan ini. Yah, angkutan ini adalah transp
ortasi andalan dalam sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”. Oplet masa kini digan
tikan oleh kendaraan yang lebih layak atau angkutan penumpang kota. Pada
1960-an dan 1970-an oplet menjadi kendaraan umum paling populer di Jakart
a. Tak terkecuali daerah Priuk yang menjadi target operasi oplet.

Anak-anak zaman sekarang bila melihat oplet akan menganggap kendaraan
kuno. Waktu itu kalau mamah mengajak naik oplet, aku dan saudaraku senang
bukan kepalang. Kami tahu akan diajak pergi jauh dan pastinya ke tempat wi
sata. Oplet memang kendaraan yang unik dan sekarang menjadi antik. Oplet
memiliki lampu sen—lampu tanda penunjuk belok—yang sangat unik, berada
di luar sisi kanan dan kiri. Kalau akan berbelok ke kanan, maka tongkat kecil
berwarna kuning jreng akan naik seperti portal. Begitu juga yang sebelah kiri.
Klakson oplet juga unik karena terdapat di bagian luar. Memakainya harus di
pencet-pencet karena terbuat dari karet. Bunyinya teot-teot-teot. Wahhh kalau
semua oplet berpapasan jalan akan riuh bunyinya.

Mengenang Bapak

Rumah mambo inilah masa kecilku di kota Jakarta dimulai. Di seberan
g jalan kompleks rumah mambo atau dekat dengan pasar Koja, letak
sekolahku dan saudara-saudaraku. Sekolah dasar Sulawesi 02 naman
ya. Ingatanku melayang ke tahun 70-an, ketika petinju legendari Muh
ammad Ali bertarung dan kami siswa sekolah diliburkan. Sampai seka
rang aku tak tahu mengapa harus diliburkan. Pada saat itu merupakan
hari yang sungguh menyenangkan bagi para murid. Aku dan teman-
temanku bisa bermain „gobak sodor‟ sepuasnya di jalan raya Pelabuha
n. Jalanan sepi hanya sorak sorai para penonton televisi yang menyak
sikan pertandingan petinju Muhammad Ali.

Bapak menjadi orang yang paling sibuk bila ada siaran tinju Muhamm
ad Ali di televisi. Kata bapak, di kantor semua mata tertuju pada ben
da kotak ajaib hanya demi melihat pertarungan petinju legendari itu.
Bahkan cerita dan berita setelah pertandingan menjadi bahan perbin
cangan di mana-mana. Aku cukup menyimak bagaimana bapak meng
ajak mamah yang hanya mengangguk-angguk setuju ketika bapak de
ngan gayanya mendemonstrasikan bagaimana pukulan Ali yang berha
sil meng-KO lawannya. Masa itu sebuah berita menjadi santapan yang
murah untuk bahan perbincangan.

Rumah mambo dan kenangan yang membalutnya menjadi sak
si bahwa kaki kami anak-anak bapak siap bertarung dengan
buasnya Jakarta. Tak lama kami tinggal di rumah mambo, kare
na daerah tempat tinggal kami harus menjadi bagian perluasa
n dari area pelabuhan, kami harus pindah. Rumah mambo me
ngisyaratkan kami bahwa kami sudah menjadi bagian dari war
ga Jakarta. Kami sudah di kota Jakarta dengan ragam masyara
kat dan lingkungan yang mungkin tak ramah. Polusi dan pana
snya udara laut membuat kulit kami menjadi sedikit demi sedi
kit menjadi coklat. Aku yang belum terbiasa tinggal di daerah
berhawa panas jatuh sakit selama sebulan. Kata dokter yang
merawat, seiring waktu aku akan beradaptasi dengan lingkung
an.

“Ri, kok sedikit makannya?” tanya bapak sepulang dari berdina
s. Sudah tiga hari aku sakit, makanpun sedikit yang masuk ke
perutku. Pagi itu bapak membelikan bubur ayam, makanan ke
gemaranku.”Makan Ri, bapak beli bubur ayam nih.” Bapak me
nunjukkan kantong plastik yang dibawanya. Bapak yang baru
pulang setelah piket semalaman masih sempat mampir untuk
membeli bubur makanan kegemaran anaknya.

“Nuri lagi gak mau makan pak, tadi sudah makan roti dengan teh hangat.” Ka
taku dengan malas. Kulihat bapak malah menuangkan bubur ke mangkok dan
menggoda dengan menyendok bubur seolah-olah akan memakannya.

“Wihhh enak banget yah buburnya.” Bapak terus menggoda.

“Sini, Pak kalau Nuri gak mau aku mau.” kata kakakku Susi yang bersiap beran
gkat sekolah. Susi mengambil mangkok bubur dari tangan bapak dan memaka
n bubur dengan lahapnya. Aku hanya tersenyum, paling tidak bubur yang di
beli bapak tidak sia-sia masih dapat nyaman masuk ke dalam perut walaupun
bukan perutku.

“Yah, sudah habis Ri.” Kata bapak menunjukkan mangkok yang kosong. “Nanti
kalau Nuri pengen, biar bapak pergi beli lagi yah.” Tangan bapak mengusap ke
palaku. Aku hanya tersenyum aku tahu kalaupun aku mau, rasanya tak tega
membiarkan bapak yang pastinya sudah semalaman tidak tidur untuk pergi ke
pasar lagi.

“Gak, Pak, Nuri sudah kenyang, nih lihat perut Nuri sudah gendut kekenyanga
n.” Aku tunjukkan perutku yang pastinya bapak tahu tak banyak makanan yan
g masuk. Anak bapak yang terlahir gendut yah aku. Waktu tinggal di Cipanas,
karena badanku yang gendut dan kulitku yang putih banyak ibu-ibu kompleks
yang gemas dan selalu mencubit pipiku. Bahkan ada julukan ibu-ibu komplek
Cipanas untukku yaitu “Mpok”. Mereka akan menggodaku setiap pulang sekol
ah dengan badan yang gendut dan tas di punggung berjalan tertatih-tahih m
embawa beban badan yang besar.

“Mpok, kembangnya jatuh, Mpok.” Bu Yani menggodaku sambil
mencubit pipiku. Aku meringis walaupun tidak sakit aku kesal dip
anggil “Mpok.” Kata bapak mereka banyak yang menonton film
Benyamin. Aku hanya mengangguk tak mengerti siapa Benyamin.
Setelah tinggal di Jakarta dan di lapangan dekat rumah ada per
tunjukkan film dengan layar lebar yang orang bilang “layar tan
cap” baru aku paham ada bintang film namanya Benyamin S den
gan lagu yang sering dinyanyikan ibu-ibu kompleks. Panggilan “
Mpok” melekat di diriku hingga aku sekolah. Kadang aku malu
kalau teman-teman mamah yang main ke rumah atau bertemu d
i jalan memanggilku “Mpok.” Seiring berjalannya waktu panggi
lan itu aku rindukan.

Tak lama rumah mambo harus kami tinggalkan. Kawan-kawan m
asa kecil harus terpisah, karena pemerintah menyediakan tiga ko
mpleks yang bisa dipilih. Bapak memilih kompleks di Cilincing ta
k jauh dari rumah mambo, berjarak 5 km. Tetapi panggilan
“Mpok” masih melekat di diriku, bahkan orang rumah dan sauda
ra-saudaraku di kampung lebih mengenal nama “Mpok” ketimba
ng nama asliku.

Kompleks perumahan ini masih dihuni oleh para pasukan pe
ngaman masyarakat. Masyarakat masih tetap menyebut anak-
anak penghuni kompleks sebagai “anak kolong,” entah lah me
ngapa kami disebut “anak kolong”. Kata masyarakat karena
orangtua kami adalah pasukan keamanan yang biasa menjaga
hingga kolong-kolong daerah, ah aku tak pa ham maksud
nya. Hari itu sepulang sekolah aku ditanya teman sekolah di
mana tinggal.

“Ri, pulang bareng yah?” kata Heni sepulang sekolah. “Oh, ya
rumahmu di mana?”

“Aku tinggal di kompleks asrama Hen.” Jawabku sambil me be
reskan buku-buku.”

“Oh, anak kolong rupanya.” Aku langsung berhenti memasuk
kan buku-buku.

“Kok, anak kolong sih Hen.” Kali ini aku benar-benar tidak su
ka Heni yang baru aku kenal mengatakan kalau aku anak kolo
ng. Aku harus minta jawaban apa alasan Heni menyebut anak
kolong padaku.

• ***Rumah Cilincing

• Rumah ketiga keluargaku ini sama dengan rumah mambo, kompleks
khusus untuk pasukan keamanan. Masyarakat sekitar menyebut kompleks
rumah kami ini dengan sebutan „rumah asrama‟. Daerah rumah kami de
kat dengan pantai Cilincing. Bapak bercerita bahwa daerah Cilincing dahu
lu adalah daerah perniagaan yang cukup ramai. Daerah Cilincing sejak da
hulu hingga sekarang menjadi termpat transit yang paling dekat bagi par
a awak kapal serta pekerja pelabuhan. Mengapa daerah itu diberi nama
demikian? Bapak pernah bercerita mengenai asal usul nama Cilincing. Me
nurut kisahnya, Cilincing diambil dari nama anak sungai yang mengalir
dari selatan ke utara, yaitu “Ci” merupakan bahasa Sunda yang artinya su
mber atau aliran air atau sungai. Selain itu nama Cilincing juga berasal
dari nama jenis pohon yang tumbuh di daerah tersebut pada masa itu, y
ang diperkirakan mirip dengan pohon belimbing wuluh (averhrhoa caram
bola). Pohon buah tersebut banyak tumbuh di tepi dan sekitar sungai. Ja
di, nama Cilincing adalah kombinasi atau gabungan dari nama sungai
dan nama pohon buah sejenis belimbih wuluh.

• Sedangkan dalam sejarah kota Batavia, kawasan Cilincing memegang pe
ranan cukup penting. Di daerah itulah pada 4 Agustus 1811 pasukan bala
tentara Inggris yang jumlahnya hampir 12.000 mendarat. Pasukan balaten
tara Inggris mendarat tanpa perlawanan dari pihak Belanda, yang pada
masa itu berada di bawah kekuasaan Prancis. Demikianlah sejarah Cilin
cing tempat kami akan menghabiskan waktu. Dari tempat yang dingin
dan sejuk, keluargaku harus pindah ke tempat yang panas dan sibuk.

• “Yah, kata orang sini kalau anak yang tinggal di kompleks
asrama yah anak kolong, itu sebutannya.” Aku tetap tak pua
s dengan jawaban Heni. Tanpa menghiraukan Heni , aku ber
gegas jalan pulang. Aku harus cepat sampai rumah, bapak
pulang tadi pagi setelah semalaman tidak pulang. Akan aku
tanyakan pada bapak arti anak kolong.

• Aku masuk pintu gerbang kompleks dengan bergegas, bah
kan Tita adikku setengah berlari mengejarku. Rumah kami
ada di barak sebelah selatan menghadap ke utara. Setiap
barak ada tujuh rumah dan setiap barak saling berhadap-ha
dapan. Rumah kami paling ujung atau biasa disebut ru
mah huk. Kata orang kompleks, keluarga yang menempati
rumah huk adalah para anggota pasukan yang sudah berpa
ngkat lebih tinggi daripada penghuni rumah lainnya. Pang
kat bapak saja aku tidak tahu.

• “Assalamualaikum, Mah.” Aku sampai rumah dan bergegas
berganti pakaian.

• “Adiknya mana, Ri?” mamah keluar dari kamar sambil meng
gendong adikku.

“Tuh, Tita di depan langsung main dempkrak.” Aku menunjukkan tas
Tita yang aku bawa. Kebiasaan Tita kalau ada temannya di lapangan
depan rumah pasti langsung main.

“Kebiasaan deh Tita.” Mamah ke depan rumah dan berteriak
mema nggil Tita yang bermain. Demprak adalah permainan yang se
ru. Kalau aku bermain demprak sore, karena aku tak tahan lapar. Aku
tengok bapak masih tidur. Rasanya jahat kalau aku ganggu hanya
karena pertanyaan sepele. Sambil menunggu bapak, aku ambil piring
dan kutata di atas meja makan. Mamah belum sempat menata hida
ngan gara-gara Tita yang bermain.

“Mamah sudah bilang kalau pulang sekolah ganti baju, makan tidur
siang Tita.” Kudengar mamah memarahi Tita sambil mengandeng tan
gan Tita. Aku lirik Tita dengan ujung mataku hemmm pasti Tita akan
marah padaku.

“Mah, Tita main di depan rumah kok gak jauh-jauh.” Tita menjawab
dengan menunduk. Adikku ini perawakannya kurus dan kecil.

“Ganti baju dan makan, lihat Nuri langsung makan bukan main.” Ma
mah menurunkan adikku dari gendongan dan membuka baju Tita.
Walau mamah marah tahu bagaimana memperlakukan adikku Tita ya
ng kalau merajuk pasti tidak akan membuka bajunya.

“Ri, tadi aku sudah hampir menang loh.” Tita menjelaskan permainan
yang dia lakukan. “Aku sedang melempar, eh mamah datang.” Aku
mendengar cerita Tita sambil tersenyum. Kalau sudah main Tita suka
lupa waktu. Apalagi permainan demprak, Tita paling mahir. Anak-se
karang mungkin tidak tahu permainan demprak. Untuk Memainkan
Permainan ini kita membutuhkan alat berupa : 1. Kapur jika bermain
di semen atau aspal , Jika Bermain di tanah hanyan membutuhkan bi
te/Keramik . Fungsi dari kapur tersebut untuk menggambarkan per
mainan ini. 2. Pecahan Bite/Keramik untuk meleparkan ke arah temp
at yang bertujuan .Permainan Deprak terdiri dari 8 kotak dan 1 sete
ngah lingkaran . dimana kota 1 , 2 dan 3 tersendiri , kotak nomor 4
dan 5 bergabung menjadi 2 kotak , kotak 6 Sendiri , kotak 7 dan 8
bergabung menjadi 2 kotak dan setengah lingkaran tersebut menja
di bulan. Sebenarnya inti dari permainan ini adalah kebersamaan. Per
mainan tradisional yang nyaris punah. Adikku mungkin bangga bila
menang. Pemenang dalam permainan ini adalah pemain yang terban
yak mendapatkan bintang .

“Nanti sore, Ta lanjutkan lagi, aku ikut yah.” Aku sorongkan piring ke
Tita yang tentunya masih sibuk akan cerita. Tita senang sekali karena
nanti sore permainan lebih semarak karena aku akan ikut.



“Eh, anak-anak bapak sudah pulang sekolah.” Bapak keluar dari kamar
dan mengangkat Tita dari kursi. Tita tertawa senang karena bapak me
ngangkatnya lebih dahulu daripada Awan adik bungsu kami. “Nuri ju
g mau?” bapak menurunkan Tita dan mendudukkan di kursi.

“Ah, gak pak udah besar.” Aku tahu diri badanku lebih besar dari Tita,
pastinya bapak kepaya han mengangkatku.

“Yuk, kita makan.” Bapak duduk di kursi dan meminta piring padaku. H
ari ini kami makan ber empat. Kedua kakakku belum pulang. Mereka s
elalu pulang lebih lama karena jadwal pelajarannya lebih banyak. Kulih
at Tita sudah sibuk dengan ayam goreng kesukaannya. Mulutnya penu
h.

“Pak, Nuri mau tanya nih.” Aku membuka percakapan setelah piring-pi
ring bekas makan aku letakkan di dapur.

“Mau tanya apa?” jawab bapak. “Ada PR yah?” kali ini bapak menyuruh
ku duduk di sebelahnya. “Mah, kopi yah enak nih habis makan minum
kopi.”

“Kenapa teman-teman menyebut aku anak kolong.” Akhirnya pertanya
an yang mengusik hatiku aku luapkan pada bapak.

“Lah, kenapa ga tanya ke mamah.” Jawab bapak. Aku memang lebih co
ndong bertukar pikiran dengan bapak. Bukan karena mamah hanya ib
u rumah tangga yang tidak tahu apa-apa. Aku menganggap jawaban
bapak adalah hasil kajian dari luar.

Sebutan "anak kolong" sudah begitu melekat bagi mereka
yang orangtuanya dari kalangan militer. Bapak menjelaskan
apa yang aku tanyakan lengkap dengan cerita. Hal inilah yang
berbe da jika aku tanyakan pada mamah. Istilah anak kolong
lahir dari proses yang panjang dan ba rangkali tak pernah ter
bayangkan oleh mereka yang senang dapat julukan anak kolo
ng. Sebutan ini sudah ada sejak era Koninklijk Nederlandsche
Indische Leger (KNIL) alias Tentara Keraja an Hindia Belanda.
Sebuah angkatan darat kolonial yang eksis sejak 4 Desember
1830 hingga 26 Juli 1950. Sekitar 75 persen anggotanya ada
lah orang-orang Indonesia dari berbagai suku di Indonesia se
perti Jawa, Ambon, Minahasa, dan lainnya. Di masa kolonial,
sebutan anak kolong belum seumum sekarang. Pada masa itu,
sebutan anak kolong hanya ditujukan kepada anak-anak serda
du rendahan, alias anak serdadu yang berpangkat di bawah ko
pral seperti soldaat, fuselier atau infanteris. Intinya, anak ko
long adalah serdadu-serdadu bergaji paling cekak se-Hindia B
elanda.

“Jadi seperti itu ceritanya Ri.” Bapak menepuk pundakku dan meng
angkat tanganku untuk bangga menjadi anak kolong. Penjelasan ba
pak membuatku tahu bahwa tidak selamanya anak kolong itu ber
makna negatif. Tidak apalah mereka menyebutku anak kolong yang
penting aku punya bapak yang sudah berjuang juga untuk negara.

“Siap pak, Nuri bangga kok jadi anak kolong.” Aku berdiri dan meng
angkat tanganku dan meletakkan di pinggir kening tanda hormat.

“Ayo, Ri kita tidur kata adikku Tita yang sudah membawa buku cerita.
” Aku tahu Tita akan memintaku membacakan buku cerita yang tadi
malam baru setengahnya aku bacakan.

Tinggal di kompleks asrama dengan sebutan anak kolong sudah sud
ah tak menjadi beban lagi buatku. Layaknya rumah-rumah di kom
pleks ada tiga kamar di rumah kami. Bapak dan mama menempati
kamar di depan dekat dengan ruang tamu. Aku bertiga dengan ka
kak dan adikku yang perempuan di kamar kedua. Ada satu kamar
mandi yang selalu berebut kami gunakan di pagi dan sore hari apala
gi kalau berangkat sekolah. Tempat tidur tingkat kami gunakan, kata
mama agar kami anak perempuan satu kamar karena satu kamar bu
at kakakku yang laki-laki. Aku dan adikku mendapat bagian tempat ti
dur di atas. Bagian bawah ditempati kakakku.

Tunggu kelanjutannya yah


Click to View FlipBook Version