The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by HAFIDZ FACHRI, 2023-10-16 00:31:49

Rembulan Bertarung

Ceerpen

Keywords: Antalogi Cerpen

REMBULAN BERTARUNG Hafidz Fachri, dkk.


i HAK CIPTA Hak cipta dilindungi oleh undang undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku penerbitan ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari SMPIT Raudhatul Jannah Cilegon. Penulis : Nayla Marsya Ardini, Mazaya Dewi Karnasi, Hafidz Fachri, Lucky Fahri Setiawan, Muhammad Nadhif Fikri Alghifari, Firas Luthfy Aisy Hafiy, Donita Aria Tungga Dewi, Azka Aulia Rahma. Editor : Firas Luthfy Aisy Hafiy, Lucky Fahri Setiawan, Hafidz Fachri. Layout : Lucky Fahri Setiawan, Firas Luthfy Aisy Hafiy, Azka Aulia Rahma. Illustrator : Mazaya Dewi Karnasi, Nayla Marsya Ardini. Kata Pengantar : Hafidz Fachri


ii KATA PENGANTAR Hafidz Fachri-Ketua Kelompok Antologi Cerpen BISMILLAHIRAHMANIRAHIM Assalamualaikum Wr. Wb Tiada kata yang patut diucapkan selain ucapan syukur atas segala nikmat, yang di berikan kita semua. Shalawat serta salam marilah kita curahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Saat ini Alhamdulillah, sudah mulai pembelajaran tatap muka dan langsung bisa menghasilkan karya antologi cerpen disetiap kelasnya. “Kita tidak bisa membuat sesuatu jika tidak adanya niat, tetapi jika adanya niat dan usaha kita semua pasti bisa.” Ucapan terima kasih tidak lupa saya ucapkan kepada teman teman anggota saya, dan Bu Peti yang sudah memberi pembelajaran tentang adanya cerpen. Buku ini akan menjadi kenangan Bersama, semoga cerpen ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk anak murid Angkatan selanjutnya, Semoga hal yang sudah saya dan anggota saya lakukan akan menjadi cerita atau kisah yang akan bisa membawa ke surgaNya kelak.


iii Saya haturkan terima kasih Kembali yang sebesar besarnya kepada Ibu Peti Priani, S. Pd. Pak Heri Santoso, S. S., dan kepada anggota saya. Wassalamualaikum Wr. Wb. Cilegon, 23 Agustus 2023


iv DAFTAR ISI HAK CIPTA ............................................................................... i KATA PENGANTAR................................................................ii DAFTAR ISI............................................................................. iv REMBULAN BERTARUNG................................................... 2 Hafidz Fachri .....................................................................................2 PERAJIN SENI....................................................................... 10 Nayla Marsya Ardini........................................................................10 SATU ATAP WARNA-WARNI.............................................. 19 Lucky Fahri Setiawan ......................................................................19 THE BOXER........................................................................... 24 Muhammad Nadhif Fikri Alghifari ..................................................24 LILIN YANG REDUP ............................................................ 32 Firas Luthfy Aisy Hafiy.....................................................................32 MENONTON PERTUNJUKAN TARI BEDHAYA KETAWANG ........................................................................... 39 Mazaya Dewi Karnasih....................................................................39 AMICA..................................................................................... 48 Azka Auliya Rahma .........................................................................48 KISAH DI DESA CIWINDU................................................. 55 Donita Aria Tungga Dewi ................................................................55


v TENTANG PENULIS............................................................. 57


2 REMBULAN BERTARUNG Hafidz Fachri Cerah cahaya rembulan menyinari malamku, desis suara angin terlarut di benak kepalaku. Rasanya indah, cahaya rembulan terpapar hingga menembus kaca kamarku. Tengah malam adalah waktu yang aku tunggu-tunggu. Meminum secangkir es teh, sembari mendengar lantunan nada playlist laguku, ( Voor Dilan #V: Di Mana Kamu ). Semakin malam angin semakin dingin. Gerimis air hujan pun mulai muncul. Kring kring kring! suara nada dering ponselku terpancar hingga telinga, nada yang dari tadi terulang-ulang terus menerus. Aku mencoba untuk meraih ponselku, untuk melihat siapa yang menelponku di tengah sunyi malam ini. “Sha, kamu masih bangun kan ?“ tanya seorang perempuan, dengan nada yang rendah dan suara yang lembut dari speaker ponselku. Di malam itu ternyata aku mengangkat telpon dari temanku, dia adalah teman kelasku. Orang yang periang, tetapi terkadang suka tiba-tiba menelponku, aneh. “Kalo aku tidur juga ga bisa angkat telpon darimu dong, Ling.“ jawabku kepadanya, dengan nada yang kesal dan ucapku yang cetus kepadanya. Mungkin dia akan merasa bersalah sesaat, tetapi dia akan melakukanya lagi. Terik rembulan semakin meningkat sejalannya waktu malam berjalan. Aku tidak sadar bahwa aku sudah berjam-jam, hanya untuk menghabiskan tawa di malam hari. Aku hanya


3 berpikir untuk menghabiskan obrolanku di akhir hari. Hinggahingga, aku lupa dengan sekitarku. Ini malam di mana orangtuaku pulang ke rumah. Aku harus menjaga suaraku agar tidak terdengar sampai lantai bawah. Pada akhirnya aku selesai mengobrol dengan Ling, menghabiskan waktu bersama temanku adalah hal yang membuatku Bahagia. Aku beranjak dari kursi tempatku belajar, dan melompatkan diriku ke kasur yang sudah ku tunggu tunggu sejak tadi telfonan. Aku hanya bisa terbaring di kasur, di pikiranku hanya terdapat “surga dunia”. Aku melihat ke arah ujung kamarku, aku meratap ke jendela di mana terpancarnya keindahan rembulan malam hari, aku terpesona dengan cahayanya. Walaupun gelap gulita, hanya dialah yang membuat malam ini indah karena cahayanya. Sebelum kelopak mataku menutup mataku, aku tersenyum karena melihat gantunganku. Aku merasa bangga banyak namaku di sana, sebuah sertifikat lomba yang sudah aku impikan dari kecil, menjadi milikku. Nayasha Amizah, terpampang jelas namaku di sana. Aku meratapinya dengan wajah tersenyum, hingga mataku tertutup dan tertidur nyenyak. *** Terpapar sinar cahaya Mentari di pagi hari, cuitan burung yang merdu, disambut lalu-lalang motor dan mobil di pagi hari. Di jalan Ciwastra, Bandung. Dinginnya cuaca pagi ini, walau terangnya pancaran sinar matahari hingga mataku, membuatku terpana untuk memakai jaket ke sekolah. Aku bergegas membawa tas, dan memakan sarapan pagiku, agar tidak terlambat pergi ke sekolahku.


4 Aku menelusuri jalan yang ku lewati, hanya ada aku dan matahari di atas kepalaku. Aku berlari untuk mengejar waktu agar tidak telat untuk masuk sekolah. Jalan demi jalan ku lewati, sampai pada akhirnya aku tiba di depan gerbang sekolahku. Terpampang jelas nama indah yang ada di tugunya, SMAN 20 Bandung. Ini adalah sekolahku, banyak hal yang terjadi di sini. Mulai dari kenangan pertemanan hingga prestasi yang kuraih di sekolah ini. Banyak hal yang ku cintai di sekolah satu ini. Akupun duduk di bangku kelasku, membuka satu makanan yang ku buat dari rumah, sebuah roti berisi coklat yang membuatku ketagihan untuk menyantapnya. Sembari aku memakan roti miliku, aku membuka satu buku untukku baca di pagi ini. Buku yang popular di kalangan nya, ( DILAN 1990 ) buku yang aku sukai dari dulu. “Sha, apa kabar ? udah lama banget engga ketemu kamu.“ kejut Alan, seorang teman laki-laki ku, perawakan yang pendek dengan rambutnya yang di sisir ke samping kanan. Alan jarang masuk sekolah, karna pelatihan atlit Taekwondho provinsi Jawa barat, dan yang terpilih salah satu nya Alan. “Hai Lan, baik, kalau kamu gimana? sehat kan.“ jawabku kepada teman cowoku, yang mungkin ku bilang di adalah yang paling dekat denganku. Alan adalah teman baiku dari kecil, kami sering main bareng “Alhamdulillah, rambutmu tambah pendek aja sha. Baru potong rambut yah“ ujarnya dengan wajah Alan yang sangat senang karena bisa bertemu denganku lagi. Benar saja kata alan, aku baru saja memotong rambutku menjadi pendek. Terkadang aku terlihat


5 tomboy di mata orang, tetapi aku tidak menyukainya, aneh untukku mendapatkan julukan tomboy. Bel istirahat pun berbunyi, telah selesainya pekerjaan untuk di jam pelajaran pertama dan kedua. Banyak sekali anak anak yang senang, karena akhirnya mereka bisa jajan di kantin kesukaan mereka. Aku duduk di bangku kantin sekolahku, membuka ponselku di waktu yang lengah. Membaca banyaknya berita, mulai dari artikel hingga berita terkini lainya. Ketika aku melihat media sosial milikku, aku melihat berita beredarnya video perkelahian seorang remaja, karena adanya saling menjelekkan bela diri negara lain. Di video itu adanya anak silat yang sangat rasis dan sara, hingga membuat keributan kepada pemuda bela diri lainya. Aku panik atas berita terbaru itu, hal yang sangat mengancamku seorang atlit silat putri. Aku takut banyak orang yang terpengaruh oleh video tersebut. Apalagi sampai teman-teman dekatku yang marah kepadaku. Aku berlari secepatnya ke kelas Ling, hanya untuk memberi tau kepada ling bahwa berita yang beredar tidak boleh bisa sampai menghasutnya. “Sha, sini cepet“ sambut Ling dengan wajah ketakutan. Aku sudah merasa bahwa dia juga sepertinya tau apa yang terjadi, yang mungkin bersangkutan dengan berita tersebut. “Ling, kamu sudah lihat berita ? tentang ributnya seorang remaja bela diri kan.” timpaku kepadanya. Aku sudah menyadari dari awal bahwa Ling sudah tau tentang hal ini. “Aku juga ingin membahas itu Sha. Aku takut, bagaimana kalau nanti Alan marah ke kita. Hanya karna berita ini.“ jawab Ling


6 kepadaku, dengan wajah yang pucat ketakutan. Terlihat dari kelopakmataku bahwa satu badan nya bergetar. “Kita harus membuat alan tidak marah kepada kita, tetapi aku tidak tau bagaimana caranya. Sepertinya dia marah deh“ ucapku kepadanya. Aku berharap untuk Alan tidak mempermasalahkan, masalah ini. Terik matahari siang mulai meraja lela, cahaya matahari hingga menembus ke dalam kornea mataku. Larian anak-anak, bisingnya Lorong koridor kelas membuat perasaanku terganggu. Sangat bising bagiku untuk melihat aktivitas murid siang ini. Aku bergegas untuk mencari alan, aku berlari dari pintu kelas ke kelas, hanya untuk mencari teman laki-laki ku. Sampai pada akhirnya aku menemukan Alan di lapangan basket. Mukanya nya memerah, memberi tahuku bahwa dia sedang marah. Aku merasa bahwa dia sudah terhasut untuk bertarung denganku, seperti saat kecil. Hanya untuk mempeributkan nama kelompok kita, yang sampai sekarang bernama, “Petarung Rembulan“. Aku bergegas menghampirinya, belum saja aku sampai kepadanya, dia sudah beranjak dari tempat duduknya di lapangan itu. Jantungku tambah berdebar debar, satu badanku bergemetar, sepertinya aku memunculkan wajah ketakutanku. “Sini lo !“ teriaknya seorang laki-laki yang sudah lama sekali aku tidak mendengarnya marah. “Lan ? jangan ke hasut berita tidak benar itu dulu. Kita bisa bicarakan Bersama Ling, bisa baik-baik kan.“ timpa suaraku, untuk menyadarkan Alan agar dia tidak terhasut secepat itu. Mungkin cara ini akan berhasil, tapi.


7 “Tau apa lo, video nya sudah terampang jelas. Emng seharusnya lo ga bela diri si situ, sampah, ga ada gunanya juga.“ ujarnya dengan suara yang keras, hingga membuatku kaget seketika. “Kita selesaikan bareng Ling, kita sudah dewasa bukan seperti dulu lagi. Kamu mau grup rembulan hancur ? bisa sekali saja tidak egois. Pulang sekolah kita bahas di bawah tangga masjid. Paham ?“ jawabku dengan nada sebal, kesabaranku mulai habis. Jika aku melanjutkanya pasti akan lama lagi yang aku perdebatkan, hanya untuk bercekcok melawannya. Aku pergi meninggalkanya, berjalan untuk ke tempat duduk di kelasku. Aku hanya merenung di siang yang cerah itu. Ting Ting Ting!! Bunyi bel pulang sekolah sudah di gema kan. Waktu dimana warga sekolah sangat senang, beristirahatnya seorang remaja-remaja sekolah dari pekerjaan mereka. Sore ini senja terpancar indah di mataku. Aku duduk sendirian, menunggu dua sahabatku di bawah terik indahnya matahari sore. Di lapangan yang sunyi tanpa adanya bising seorang remaja, hanya ada aku dan suara bising motor yang lalu-lalang. “Sha !!, kami berdua datang.“ ucap suara seorang teman perempuanku, dengan nada suara yang keras. Aku melihat wajah mereka berdua di bawah terik matahari sore, hanya ada senyuman dan wajah amarah yang ku lihat dari kejauhan, aku hanya bisa bersabar, agar tidak mengeluarkan emosi dari diriku kepada Alan. “Akhirnya kalian berdua datang, yuk kita selesaikan agar Alan bisa tenang dan ga marah lagi. Kaya sekarang, hahaha.“ sahutku


8 kepada sahabatku, untuk membuka topik pembicaraan di sore ini. Aku berharap dengan car aini kita berhasil. “Gua lagi yang kena, ga jelas ya lo nih Sha.“ timpanya seorang Alan, dengan wajah yang masih murung. “Gini ya lan, aku jelasin. Kita sudah dewasakan ? hanya karna berita yang beredar, dan belum tentu benar, kamu sudah marah. Aku tau bela diriku salah, tetapi itu belum benar. Sebagai perminta maafanku gimana kalau kita makan bareng, aku traktirin nanti.“ ujarku kepada kedua sahabatku, dengan memberi aspirasi dariku untuk mereka agar kita selalu damai. “Ucapanmu selalu membuatku merasa salah Sha. Aku terlalu egois, maaf sahabatku. Aku mau, tapi aku saja yang bayar. Sebagai perminta maafanku.” jawabnya dengan wajah bersalah, nada bicaranya mulai rendah dan gerakan Alan terlihat seperti tidak enak. “Aku, pasti, mau!!“ timpa Xiang ling dengan wajah gembiranya, hingga hingga matanya tertutup. Pada akhirnya, aku berdamai dengan sahabatku. Menghabiskan waktu Bersama mereka. Hanya ada canda, tawa di malam terik rembulan itu. memandang rembulan Bersama, hingga larut malam. Rasa Bahagia yang ku dapatkan dalam hidupku, dan di sini kisah persahabatanku berakhir.


9


10 PERAJIN SENI Nayla Marsya Ardini Sinar matahari terlihat menyinari kerajaan mewah yang begitu asri, banyak tanaman berwarna hijau tumbuh dengan subur serta bunga yang terlihat cantik dengan warna-warni di mahkota bunganya. Di balik keindahan yang terdapat di kerajaan, ada seseorang yang merawat ini semua, yaitu sang Permaisuri sendiri. Istri sang pangeran, Permaisuri sangat suka dengan estetika, keanggunan, dan keindahan. "Hey Jelita, apakah kita perlu menambahkan hiasan lagi di ruang utama kerajaan?" tanya Permaisuri sembari melihat sekitar ruang utama kerajaan dengan asisten pribadinya, Jelita tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya. Kalau Permaisuri sendiri yang memilih, aku tidak akan ragu untuk menjawab. Jawabnya. Permaisuri dan Jelita masih berbincang di ruang utama kerajaan, namun, pengawal pribadi pangeran, yaitu Agung. Ia menghampiri permaisuri, ia berkata bahwa pangeran menyuruh Jelita dan dirinya untuk menemuinya. Karena ini perintah pangeran, tidak akan ada yang bisa membatahnya.


11 "Ada apa, wahai Pangeran?" tanya Jelita dan Agung sambil menunduk salam. Pangeran yang sedang melihat taman di kerajaan, berbalik badan dan membenarkan posisinya. "Saya ingin membuatkan hadiah untuk Permaisuriku, saya perintahkan kalian untuk menyuruh pendudukku membuat suatu karya seni, lalu jika Permaisuriku menyukainya, akan saya berikan pangan yang banyak." ucap Pangeran tegas. Setelah diizinkan pergi, Jelita dan Agung langsung melaksanakan perintah Pangeran. Mereka pergi tempat pengumuman informasi penduduk kerajaan, dan mengumumkan tentang Pangeran yang mencari karya seni untuk Permaisurinya, jika Permaisuri menyukainya, akan diberikan pangan yang banyak sekali. Tentu semua penduduk kerajaan begitu heboh dan terkejut dengan berita ini. Penduduk yang merupakan perajin disana, tentunya bersemangat dengan berita ini, sebegitunya berita tersebar, mereka langsung membuat kerajinan seni yang seindah mungkin. Tak ketinggalan, penduduk yang berprofesi pemahat juga membikin karya seni dengan teknik pahatan. *** "Yu, gamau buat sesuatu ke Permaisuri?" tanya Anis pada Bayu, mereka termasuk penduduk kerajaan disana, mereka juga teman dekat dari kecil.


12 "Buat apa? Aku juga tak pintar buat begitu," ucap Bayu sambil menggotong kayu-kayu yang akan dibakar untuk memasak nanti malam di keluarganya. Anis hanya melihatnya dan melamun. “Kamu suka kan buat itu, apa namanya, Nis? Yang kamu buat diatas kain terus ada motif apalah itu.” lanjut Bayu yang masih mengurusi kayu-kayu ini. “Tapi yang aku buat enggak bagus-bagus banget, emangnya bakal suka?” tanya Anis. Bayu terbatuk-batuk karena serpihan debu pada kayu, lalu menatap Anis. “Kalau enggak kamu coba, mana mungkin tahu itu bakal disukain atau enggak.” ucap Bayu, lalu pergi meninggalkan Anis yang masuk berdiri di dapur rumah Bayu. *** “Penduduk kerajaan akan membuatkanku hadiah?” gembira sang Permaisuri. Berita itu tersampaikan pada permaisuri, tentunya ia sangat senang dengan napa yang dilakukan Pangerannya “Iya, baru saja tadi aku mengumumkan berita itu bersama Agung,” ucap Jelita tersenyum pada Permaisuri. Dan dilanjuti dengan obrolan kecil. Tak lama Pangeran menghampiri mereka berdua, Jelita yang ada disana langsung izin untuk pergi agar tidak menganggu sang Permaisuri maupun sang Pangeran. “Permaisuri ku, kamu tahu kan? Aku akan memberimu hadiah special yang bisa kamu pilih sendiri,” ujar Pangeran sembari membenarkan posisi di sebelah Permaisuri. Permaisuri


13 mengangguk pada pangeran, ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya. “Lalu barang yang telah dibuat, akan dikirimkan ke kerajaan?” tanya permaisuri menatap mata Pangeran. “Benar sekali Permaisuri ku, barang mereka akan dikirimkan ke kerajaan ini. Namun, aku tahu bahwa barangnya akan banyak sekali, aku tidak akan memaksamu untuk melihat semua itu dalam sehari, kamu bisa kapan saja untuk melihatnya.” jelas Pangeran. Seminggu kemudian, semua barang yang dibuat oleh penduduk dikirimkan ke kerajaan. Banyak sekali yang terbuat, Permaisuri tidak menyangka akan sebanyak ini yang datang, akan juga membingungkan dirinya. Permaisuri melihat satu-satu barang yang dikirim, melihat dengan teliti. Semua terlihat bagus, indah, dan cantik. Namun, Permaisuri merasa tidak ada yang cocok pada dirinya dengan barang ini semua. Rata-rata barang yang dikirim berupa kain batik, lukisan flora, dan beberapa patung hasil pahatan. Pangeran yang baru saja datang, melihat ekspresi sang Permaisuri tampak bingung langsung menghampirinya dan menanyakan, apa yang terjadi?. “Aku menyukainya, tapi aku merasa tidak ada yang melekat pada diriku,” lesu sang Permaisuri, Pangeran langsung mendekati Permaisuri untuk menenanginya.


14 “Ada apa? Mengapa begitu? Apakah benar semua ini tidak cocok pada dirimu?” tanya sang Pangeran yang panik melihat reaksi yang dikeluarkan, tentu saja bingung dengan keadaan ini, ia pikir akan baik-baik saja. Permaisuri langsung berjalan ke taman untuk menghilangkan kebingungannya ini, Permaisuri duduk dan mengamati tanamantanaman yang indah ini. Di lain tempat, Pangeran tahu bahwa Permaisuri kalua bingung seperti ini, butuh ruang sendiri sebelum ia berbicara padanya. Pangeran begitu memahami Permaisurinya. *** “Loh, Barang buat Permaisuri udah pada dikirim semua?” tanya Bayu bingung, melihat Anis yang daritadi melamun memikirkan sesuatu di depan rumahnya. Kebetulan Bayu berjalan melewati teman masa kecilnya, langsung menghampiri karena merasa aneh pada temannya. “Iya, aku cuman takut beliau tidak menyukai seni yang aku buat,” jelas Anis pada Bayu, ia menghela nafas sebentar. “Namun, aku adalah penerus perajin kain, tentunya aku harus bisa membuat Permaisuri terpukau.” lanjut Anis. Bayu yang daritadi berdiri, merubah posisinya menjadi duduk disebelah Anis. “Punyamu udah dikirim kesana?” tanya Bayu, Anis mengangguk. Bayu memang awalnya tidak tertarik dengan berita yang disebar, tapi baru sekarang ia ingin mengirimnya juga, tetapi sepertinya sangat terlambat jika mengirimnya sekarang, jadi. Ia akan mengirimnya besok oleh dirinya sendiri.


15 “Anis, Aku pulang dulu. Sampai besok.” ucap Bayu, lalu pergi dari hadapan Anis. Di lain tempat, Bayu menggeledah isi rumahnya, bertujuan untuk membikin lukisan di atas kain, atau bisa disebut kain batik. Bayu memang tidak bisa membuat seperti itu, tetapi ia pernah sesekali melihat Anis melakukannya, jadi, kemungkinan Bayu akan mengikuti metode yang ia lihat dari Anis selama ini. Sekitar seminggu ia membuat kain batik diam-diam tanpa sepengetahuan orang sekitar. Walau terlambat, ia tetap ingin memberikan kain batik yang berupa selendang ke Permaisuri, ia memikirkan teknik apa agar bisa tetap memasuki kerajaan dan memberikannya langsung kepada Permaisuri, walau dampaknya akan menyeramkan. Setelah berpikir cukup lama, yang akan ia lakukan ialah memanjat tembok kerajaan bagian belakang yaitu jalan menuju taman kerajaan. Ia bergegas kesana dan mulai mempraktikkan. Namun rencana tidak selamanya berhasil, ia tergelincir dan jatuh pas pada taman kerajaan, di sebelah pohon yang daunnya berwarna jingga. Permaisuri yang masih di taman, tampak terkejut mendengar dentuman keras dari arah sebelah kanannya, ia mengintip sedikit, melihat keadaannya, dan ternyata ada sesuatu yang bergerak. Tentu terkejut, tetapi Permaisuri langsung menghampirinya. Ternyata seorang remaja laki-laki. Ia berkata, ia ingin memberikan selendang dengan motif batik yang ia buat dan terinspirasi dari teman masa kecilnya. Bayu dan Permaisuri mengobrol ria di tempat duduk taman. Namun, pengawal kerajaan langsung menarik keberadaan Bayu, karena penduduk biasa tidak boleh masuk sembarangan, dan Bayu pun keluar dari


16 kerajaan. Pangeran langsung menghampiri Permaisuri dan menanyakan keadaannya. “Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Pangeran khawatir, Permaisuri mengangguk dan melihat barang yang dikasih oleh remaja tadi, ia bahkan belum sempat menanyakan namanya. “Aku sangat suka ini,” gumam Permaisuri menatap indah pada selendang batik ini, Pangeran tersenyum lalu menanyakan, siapa yang membuat ini. Permaisuri memberitahu kejadian barusan dan Pangeran langsung menyuruh pengawal kerajaan mengurusi semua pangan yang akan dikirim pada remaja laki-laki yang disebut oleh Permaisuri. *** “Maaf, ini beneran saya yang mendapatkan ini?” tanya Bayu sekali lagi pada pengawal kerajaan, lalu Anis menghampiri Bayu yang berada di depan pintu, menanyakan apa yang terjadi sampaisampai pengawal kerajaan berada di rumah Bayu. “Kami akan langsung memberikan semua ini, dan satu catatan dari Permaisuri. Tingkatkan keahlianmu sampai pada puncak tertinggi. Kami pamit pergi, terima kasih.” lalu pengawal pergi dari hadapan mereka berdua. “Kamu… Kamu ngirim juga?” tanya Anis, Bayu mengangguk. Tidak berkata apapun, Bayu meninggalkan Anis di pintu. Anis tampak bingung, bukankah Bayu sama sekali tidak tertarik hal ini dan bahkan tidak pernah mempraktikkannya. Anis bahkan juga kesal, padahal ia yang sering berlatih, tapi mengapa Bayu yang dipilih? Jelas, ia tidak ada pengalaman.


17 Anis berjalan pulang ke rumahnya dengan perasaan kesal karena kejadian tak terduga tadi, ia kesal karena iri dengan temannya, temannya bahkan tidak belajar keras, tidak seperti dirinya yang selalu berlatih merajin kain. Memangnya sebagus apa barang yang Bayu buat dengan semampu dia.


18


19 SATU ATAP WARNA-WARNI Lucky Fahri Setiawan Di sebuah desa kecil bernama Ciwindu, hiduplah beragam suku, budaya, dan kepercayaan. Meskipun berbeda-beda, mereka hidup dengan damai dan harmonis. Rumah-rumah berjajar rapi di bawah sinar matahari yang cerah, dan bunga yang indah menghiasi setiap sudut desa. Masyarakatnya saling menghormati, serta berbagi cerita dan keajaiban budaya mereka yang berbeda. *** Di tengah-tengah desa, ada sebuah madrasah yang menjadi tempat berkumpul warga. Madrasah itu adalah kediaman seorang pria bijaksana bernama Farrel, yang menjadi madrasah desa. David adalah seorang yang sangat menghargai keberagaman budaya dan akulturasi yang terjadi di desanya. Dia percaya bahwa melalui pemahaman akan budaya satu sama lain, mereka bisa hidup dalam damai dan kerukunan. *** Suatu hari, datanglah seorang pemuda bernama David dari kota besar. David adalah seorang fotografi berbakat yang ingin mencari inspirasi di desa ini. Dia tiba di desa dengan membawa tas besar di punggungnya yang berisi alat-alat seperti kamera dan lain-lain. ***


20 Ketika David berjalan menyusuri jalan-jalan desa, dia bertemu dengan, seorang pria desa yang penuh semangat dan senang. Anton adalah seorang penari tradisional yang sudah mendalami seni tari sejak kecil. Kedua mata mereka bertemu, dengan segala kepolosan, mereka pun saling menyapa. *** "Selamat datang di desa kami, namaku Anton. Kamu pasti berasal dari kota besar, bukan?" tanya Anton dengan ramah. David tersenyum, "Ya, benar sekali. Namaku David , aku datang mencari inspirasi untuk membuat foto di desa ini. Aku terpesona dengan keindahan desa ini." *** Anton tersenyum, "Jika kamu mencari inspirasi, ada banyak cerita dan keajaiban di desa ini yang bisa kamu temukan." *** David tertarik mendengar itu, dan mereka pun menghabiskan waktu bersama, berjalan-jalan mengunjungi berbagai tempat menarik di desa. Anton mengenalkan David pada berbagai kesenian dan tarian tradisional. Sementara David, dengan lembutnya, mengajak Anton melihat dunia dari perspektif yang lebih luas melalui karya-karyanya. *** Suatu hari, ketika matahari tengah terbenam, Anton membawa David ke sebuah acara di desa. Ratusan warga berkumpul di


21 lapangan terbuka, membawa makanan dari berbagai suku dan budaya. Mereka merayakan keberagaman budaya mereka melalui festival kuliner. *** "Wow, ini luar biasa! Semua makanan dari berbagai daerah terlihat menggugah selera," kata David kagum. *** Anton tersenyum, "Ya, inilah yang kami rayakan. Keberagaman kami adalah harta yang tak ternilai. Kami berbagi makanan dan cerita dari seluruh pelosok nusantara." *** David merasa terinspirasi dan terpikirkan ide untuk membuat dokumentasi foto warga desa dengan berbagai pakaian tradisional dan makanan dari berbagai suku. Dia ingin menunjukkan keindahan akulturasi budaya di desa Ciwindu. *** Ketika akhirnya hari perayaan tiba, semua warga desa berkumpul di madrasah nya Farrel. Mereka berdandan dengan pakaian tradisional dan tersenyum bahagia. David melihatkan hasil fotonya dengan bangga, sementara Anton dan teman-temannya menampilkan tarian tradisional yang menawan. *** Farrel berdiri di depan semua orang, "Inilah contoh nyata keindahan keberagaman dan akulturasi budaya. Kita semua adalah satu keluarga di bawah langit yang sama."


22 *** Perayaan itu menjadi momen berharga yang mengikat semua warga desa menjadi lebih erat. Mereka belajar bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan akulturasi budaya memberi mereka kesempatan untuk saling belajar dan menghargai satu sama lain. *** Sejak itu, Desa Ciwindu menjadi semakin terkenal karena menjadi contoh damai dan harmonis dalam menghadapi keberagaman dan akulturasi budaya. Dan di madrasah Farrel, terpampang hasil foto karya David yang menggambarkan betapa indahnya hidup bermasyarakat dalam satu atap warna-warni.


23


24 THE BOXER Muhammad Nadhif Fikri Alghifari Namanya Jendra, remaja yang memiliki keluarga yang bisa dibilang lebih dari cukup. menduduki kelas 1 SMA di salah satu sekolah di Surabaya, dengan perawakannya yang kecil selalu membuatnya menjadi sasaran bully teman-teman sekelasnya, salah satunya ialah Derrick, anak pejabat yang membuatnya merasa berada diatas teman-temannya. Derrick juga mempunyai bakat yakni bela diri yang berasal dari Yunani, Boxing. *** Bel istirahat menggema, Jendra mengambil bekal makan siang yang telah dibuat oleh ibunya lalu memakannya dengan lahap. Setelah selesai makan, Jendra merasa sakit perut lalu pergi ke kamar mandi. Saat memasuki kamar mandi, Jendra melihat Derrick yang sedang membully teman sekelasnya, Andre. “Woi ndre, kalo lu ga selesain tugas Bahasa Indonesia gua dari Pak Yanto, abis lu sama gua.” ucap Derrick sembari memukul kearah tembok tepat disamping kepala Andre. “I-Iya rick, nanti ku kerjain kok.” balas Andre dengan nada ketakutan. Jendra yang melihatnya pun ikut ketakutan hingga rasa sakit perutnya hilang seketika. Jendra terbeku sejenak dan tanpa


25 disadari Derrick melihatnya, Derrick pun menghampiri Jendra dan hanya menatapnya lalu pergi sembari tertawa lepas. “Hahaha, dasar orang aneh!” Jendra pun kebingungan dan langsung membantu Andre yang duduk termenung di lantai. “Lo gapapa ndre?” tanya Jendra. “Gapapa kok ndra, udah biasa juga diginiin.” seru Andre. “Biasa? Apa maksudnya?” Jendra terkejut. “Sejak SMP gue selalu dibully. Jadi yang seperti ini udah jadi makanan sehari-hari. Karena nasib gue yang selalu dibully, orang-orang jadi ngejauhin gue karena gak mau mereka ikutan dibully.” ucap Andre dengan santai. Jendra yang mendengarnya tidak percaya akan hal itu dan langsung keluar dari kamar mandi bersama Andre menuju ke kelas, Di jalan menuju ke kelas Jendra dan Andre mengobrol. “Ndre, si Derrick pukulannya cepat juga ya!” seru Jendra. “Iya tapi dia salah cara pakai bakatnya, bukannya buat perlindungan tapi malah membully orang seenaknya.” keluh Andre. Tidak lama setelah Andre dan Jendra mengobrol, Bel masuk berbunyi lalu dengan cepat mereka masuk ke kelas. Pelajaran Matematika yang saat itu jamkos dan Bu Hana hanya memberi tugas kepada murid-murid membuat Derrick merasa bosan,


26 Jendra dan Andre yang saat itu sudah menyelesaikan tugasnya pergi ke kantor guru untuk mengumpulkannya namun saat itu Derrick sedang shadowboxing di dekat pintu dan tidak sengaja tersenggol oleh Jendra yang ingin lewat. “Maksud lo apaan, Berani lo sama gua ha?” Derrick dengan amarahnya menonjok Jendra di bagian perut. “Ugh!” Seketika Jendra pingsan terjatuh ke lantai. “JENDRA!!!” Andre yang panik saat itu langsung membawanya ke UKS. Saat Jendra siuman, ia bingung mengapa dirinya berada di UKS, Andre yang saat itu disebelahnya langsung menceritakan kejadian yang dialami Jendra. *** “Jadi gitu ndra, lu pingsan gara gara pukulan Derrick tapi gapapa, Derrick sekarang ada di ruang BK.” “Sekuat itu ya pukulan Derrick sampai bikin gua pingsan…” ucap Jendra yang sedang memikirkan sesuatu. “Iya ndra, pukulan Derrick kan cepat dan kuat tapi kok lu kaya lagi mikirin sesuatu sih?” tanya Andre. “Iya nih, gua kepikiran buat belajar dan latihan Boxing juga biar gak ada yang dibully lagi kayak kita berdua.” seru Jendra dengan muka tersenyum. “Tapikan badan lu kecil ndra.” sela Andre sambil tertawa.


27 “Minimal semangatin bukan ngeledek.” ujar Jendra dengan muka kesal. *** Keesokan harinya Jendra mulai belajar teknik Boxing dengan video YouTube dan juga melatih tubuhnya dengan cara workout dan Andre selalu mendukungnya melalui chat WhatsApp atau langsung di depan Jendra yang sedang berlatih. Berbeda dengan Derrick yang selalu berfoya-foya dan terus membully anak kelas lain, Derrick juga tidak mengasah bakatnya ketika memiliki waktu luang dan lebih memilih menghabiskan waktu bermain game. *** Sudah 6 bulan berlalu, Tinggi dan berat badan Jendra kini sudah bertambah banyak, badan Jendra pun berotot. Jendra yang sekarang tidak lagi dapat dikalahkan dalam sekali pukul dan juga Andre yang setia memotivasi Jendra ketika dirinya kehilangan semangat berlatih. Derrick yang sekarang masih suka membully dan berfoya-foya dengan uang orang tua nya, Bakat pukulan cepat nan kuat Derrick pun tidak pernah di asah oleh dirinya. Jendra yang mengetahui bahwa Derrick tidak mengasah bakatnya pun ingin mengajaknya satu lawan satu. “Derrick ga ngasah bakatnya ndre?” ucap Jendra. “Setau gue sih begitu ndra.” jawab Andre. “Pengen deh gua ajak buat satu lawan satu!” seru Jendra dengan lantang sampai tak sadar ada teman Derrick yang mendengarnya.


28 *** “Derrr!” teman Derrick memanggil. “Apaan? Lo sampe lari lari gitu” ucap Derrick. “Jendra!, Anak yang pernah lo pukul sekali langsung pingsan itu, Gua tadi nguping kalo dia pengen ngajak lu satu lawan satu!” jawab teman Derrick. “Haaaa? Jangan bercanda deh..” ucap Derrick dengan muka tidak percaya. “Seriusan Der!” seru Temannya. “Yaudah kalo gitu, besok kita datengin!” Derrick dengan kesombongannya ingin mengalahkan Jendra sekali lagi tetapi ia tidak tau bahwa Jendra selama ini berlatih dengan sangat keras. *** Keesokan harinya di kelas, Derrick menghampiri Jendra dan Andre yang saat itu sedang asyik mengobrol. “Woi lemah!, katanya lo mau ngajak gua satu lawan satu ya?!” Derrick dengan amarahnya yang melonjak. “Boleh rick, tapi satu rules! yaitu kita satu lawan satu di ring.” dengan santai Jendra menjawab. “Oke kalo gitu!, Gua tunggu lu di ring Hellionz Camp hari Minggu besok” ujar Derrick dengan suara yang lantang. “Deal!” seru Jendra yang bersemangat. ***


29 Hari Minggu pun tiba, Derrick sudah lebih dulu sampai di tempat bertarung dan sudah melakukan pemanasan. Saat Jendra tiba, dia juga langsung melakukan pemanasan, Andre pun ikut bersamanya sebagai motivator. Sebelum memasuki arena mereka memakai pelindung kepala dan sarung tinju. “Udah siap buat kalah belum??” tanya Derrick dengan sombong. “Haha!” Jendra hanya tertawa. “1.. 2.. 3!” Wasit berteriak memulai pertandingan. Derrick memulai dengan kombinasi pukulan jab – jab – cross, Jendra dapat menahannya. Derrick pun terkejut, Bagaimana bisa orang yang 6 bulan lalu ia kalahkan dalam sekali pukul bisa menjadi kuat dalam 6 bulan. “Kok bisa lu nahan kombinasi pukulan cepat gua?!” Derrick terkejut “Karena lu belum tau kerja keras gua selama ini Rick!” seru Jendra. Jendra pun membalasnya dengan kombinasi pukulan jab – cross – uppercut – cross, Seketika Derrick terjatuh dan kebingungan serta bertanya-tanya apa yang barusan terjadi. “?!” Derrick terjatuh setelah menerima pukulan Jendra yang seperti kilat. “Dari mana lo dapet kecepatan dan kekuatan itu ndra!?” Derrick bertanya-tanya karena Jendra menjadi kuat dalam waktu yang terbilang singkat.


30 “KEREN NDRA!!!” Andre berteriak dari luar ring. “Gua belajar semuanya otodidak Rick, Tapi ga semudah itu karena 6 bulan gua mati-matian belajar Boxing demi bisa menghilangkan kebiasaan bullying yang lu lakuin rick!” Jendra menjawab Derrick dengan tegas. Derrick pun bangun dan melawan kembali namun sayang, Jendra yang sekarang lebih kuat dan lebih cepat darinya hingga bisa mengalahkannya hanya dengan 4 kombinasi pukulan, Derrick pun tersadar bahwa bakat dapat dikalahkan kerja keras jika bakat tidak bekerja keras. “NDRA!! GUA AKUIN LU LEBIH HEBAT DARI GUA DAN GUA JUGA BAKAL BERHENTI NGEBULLY ORANG MULAI DETIK INI!” seru Derrick dengan suara yang sangat keras. “Gua bersyukur banget rick kalo lu udah sadar bahwa kelakuan lu selama ini salah! dan gua juga maafin lu pas mukul gua sampai pingsan Rick!” jawab Jendra dengan suara yang juga keras. Setelah bertanding satu lawan satu Jendra dan Derrick pun akhirnya berjabat tangan dan mereka pun akhirnya berdamai. Jendra, Derrick juga Andre menjadi sahabat. Saat kelas 3 SMA Jendra dan Derrick sudah mengharumkan nama sekolahnya dengan memenangkan banyak sekali prestasi non-akademik yakni Boxing baik di tingkat kota hingga nasional.


31


32 LILIN YANG REDUP Firas Luthfy Aisy Hafiy Perkenalkan namaku Fathi. Aku sangat menyukai bela diri, bukan karena suka menghajar orang atau mem-bully orang lain, tetapi untuk pertahanan diri jika ada yang ingin melukaiku. Aku sangat menyukai taekwondo, dikarenakan tendangannya selalu membuatku terpaku setiap ada yang mempraktekannya, itulah yang kupikirkan saat masih kecil sekitar umur empat tahun. Aku akhirnya mengikuti les taekwondo untuk menjadi semakin kuat. Akan tetapi, guru yang melatih kami atau lebih sering disebut “Sabem”, mendidik kami dengan sangat keras aku tidak tahu kenapa beliau melakukan itu. Aku dimarahi berkali-kali sampai menangis dan bahkan ada beberapa yang keluar karena sabem tersebut terlalu keras dalam mengajari murid-muridnya. Jika para murid mengikuti suruhan sabem dalam mempraktikkan gerakan dengan benar maka sabem tidak akan banyak berbicara dan lebih tenang. Aku ingat saat aku salah sedikit mempraktikkan gerakan yang disuruh oleh sabem tehniknya adalah tendangan (Chagi). Aku disuruh untuk mengulang gerakan tersebut sampai bisa pada


33 akhirnya saat adzan maghrib berkumandang aku menguasai tehnik tersebut dan shalat maghrib bersama ayahku dan makan malam bersama. Sambil menceritakan banyaknya yang telah dilakukan sabem kepadaku, ibuku menyarankan untuk berhenti, namun aku langsung menolak dengan cepat. *** 10 Tahun telah berlalu. Aku sekarang kelas 3 SMP dan bersekolah di SMP Negeri 1 Jakarta dan juga aku sekarang memiliki beberapa teman yang baik dan selalu mendukungku saat sedang sedih, nama mereka adalah Andra dan Kinan bisa dibilang mereka adalah sahabatku. “FATHIIIIII!” Aku menoleh ke belakang dan melihat Andra yang memanggilku dengan keras. “Apaan, Ndra? Masih pagi udah teriak aja.” Aku membalas Andra dengan tatapan yang curiga. “Eh…Lu udah ngerjain PR bahasa Inggris belum?” Menanyakan PR yang dibagikan 3 hari lalu sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. “Udah tau gua kalo lu bakal ngomong kayak gitu, udah prediksi dari tadi malem” Aku menjawab Andra yang ingin mencontek PR punyaku sambil tertawa pelan.


34 Saat istirahat aku dan teman temanku memutuskan untuk pergi ke kantin karena lapar sambil mengobrol tentang topik yang menarik untuk dibahas. Tidak disangka ada guru yang tiba tiba datang dan mengajakku untuk mengobrol sebentar, beliau menawarkanku untuk mengikuti perlombaan taekwondo, aku pun terkejut mendengarnya dan mengiyakan penawaran pak guru tersebut. Aku pun kembali mengobrol bersama teman temanku dan mereka bertanya. “Tadi lu ngapain aja sama pak guru?,” Salah satu temanku bertanya padaku namanya adalah Kinan, dia orangnya kepo dan suka mempelajari hal hal baru. “Tadi gua diajak ngikut lomba taekwondo, kaget gw juga dengernya,” Aku menjawab pertanyaan kinan. Bel sekolah menandakan istirahat sudah berakhir, aku dan teman teman pun kembali ke kelas untuk melanjutkan belajar. *** 1 Minggu setelahnya aku pun mendatangi tempat dilaksanakannya lomba tersebut dan di waktu yang sudah ditentukan oleh panitia lomba tersebut. Aku merasa gugup, aku bersiap siap untuk lomba taekwondo tersebut. Aku berhasil menang dipertandingan ke 1 dan ke 2, namun saat akan masuk semi-final, aku kalah telak. Setelah lomba berakhir aku pun keluar dari arena pertandingan tersebut dan memutuskan untuk


35 jajan makanan ringan. Akan tetapi rasa sesak di dada yang tak kunjung hilang itu lah yang kupikirkan. “Mungkin karena gua kalah jadinya agak sesak.” Mengatakannya dengan ekspresi cemberut, mungkin aku kalah karena kakiku yang masih sakit bekas latihan kemarin sore yang tidak sengaja menendang tembok dengan kencang hingga bengkak. Aku pun ditanyai oleh Andra tentang lomba yang kuikuti, aku menjawab kalau aku telah kalah dalam pertandingan tersebut karena kakiku yang masih sakit. Salah satu teman kelasku yang mendengar itu pun langsung berekspresi marah, mungkin karena aku telah kalah dalam pertandingan tersebut dan mereka ingin membuktikan bahwa mereka jauh lebih kuat dariku dan lebih layak. *** Sepulang sekolah aku memutuskan untuk menonton pertandingan sepak bola yang terletak dibelakang sekolah sambil menikmati mie goreng yang ku makan, tidak disangka tiba tiba kerahku ditarik oleh seseorang dan mereka membawaku ke tempat sepi dan aku pun bertanya kepada mereka. “Ada apa ini? Gua lagi menonton pertandingan sepak bola loh, padahal tadi udah deket sama gawang musuh” Aku bertanya dengan polos.


36 Tiba tiba salah satu dari mereka melayangkan tinjunya ke arah mukaku, aku menghindarinya dengan mudah. Namun mereka semua secara bersama sama menendang dan memukulku, akhirnya aku sadar kalau sedang dibully oleh teman sekelasku yang memang punya reputasi buruk disekolah. Aku akhirnya mempertahankan diriku dan secara tidak sengaja menumbangkan mereka semua dengan beberapa tendangan mengarah ke muka mereka. Aku berusaha melupakan kejadian kemarin dan tidak akan menceritakannya kepada siapa siapa, beberapa minggu kemudian aku diundang lagi untuk berpartisipasi di perlombaan taekwondo ini, aku menerima tawaran yang diberikan pak guru dan akan berlomba dengan orang lain. Mungkin karena aku terlalu banyak menenangkan diri jadi kemampuan fisikku berkurang, aku akan pergi ke gym untuk melatih otot kaki dan tangan. 1 Minggu telah berlalu. Aku sudah siap untuk mengikuti lomba taekwondo dan aku berniat untuk menang di pertandingan kali ini karena sudah berlatih pagi hingga malam. Ayahku mengantarkanku ke tempat dilaksanakannya lomba taekwondo dan sesampainya disana, aku duduk untuk istirahat sebentar sambil menunggu. Tidak lama kemudian namaku dipanggil oleh panitia. ***


37 Perlombaan telah berakhir. Aku memenangkan perlombaan tersebut dengan mendapat peringkat pertama. Aku pun merasa lega karena rasa sesak di dada sudah hilang. Setelah aku keluar dari stadiun, aku kelaparan karena membutuhkan energy, kemudian aku memutuskan untuk membeli beberapa jajanan manis untuk dikonsumsi. Setelah kenyang aku kembali ke rumah untuk bermain handphone karena bosan dan tidak ada teman untuk bermain di komplekku. Keesokan harinya ada upacara dan penyampaian informasi untuk seluruh murid SMP Negeri 1 Jakarta. Aku diberikan penghargaan oleh kepala sekolah secara langsung dan seluruh murid bertepuk tangan karena prestasiku bahkan orang yang ingin membullyku secara fisik juga ikut bertepuk tangan. Aku merasa gembira. “Jadi ini rasanya jika mendapat prestasi, Alhamdulillah.” Adalah kalimat yang kuucapkan saat berada di atas panggung. Aku terlalu bersemangat dalam menjalani hariku, pagi tadi aku diberi apresiasi oleh teman teman kelasku termasuk Andra dan Kinan. “Fathi selamat ya udah menang lomba….Traktirnya kapan nih?” Mereka berdua memintaku untuk mentraktir mereka karena sudah menang lomba.


38 “Enteng amat kalian ngomongnya yah, Istirahat deh gw traktir nasi bakar.” Siapa sangka, bahkan yang pernah membullyku juga memberikan apresiasi hangat kepadaku. “Selamat ya sudah memenangkan perlombaan taekwondo, aku sudah salah menilaimu aku ingin meminta maaf atas perbuatanku beberapa hari lalu, Fathi.” Mantan bully mengatakan itu kepadaku “ Aku tidak percaya ini…dia mengatakan itu kepadaku, mana dengan nada yang lembut lagi.” Ucapku dalam hati. Aku memaafkan mantan bully tersebut dan aku kembali menjalani hari hari yang “Normal” dan aku menantikan tantangan yang menantiku di masa mendatang.


39 MENONTON PERTUNJUKAN TARI BEDHAYA KETAWANG Mazaya Dewi Karnasih Matahari bersinar sangat terik, suara kipas angin yang sedari tadi menyala, dan seorang gadis remaja berusia 15 tahun yang sedang menonton drama Korea sambil cekikikan sendiri. Saat sedang asyik menonton aku terkejut karena pintu tiba-tiba pintu didobrak dengan keras dan terdengar suara teriakan yang menggelegar ke seisi rumah. “ALIN!” “Aduh anak ini, liburan kerjanya bangun, mandi, makan, tidur,” lanjut ibuku. Ya, itu adalah ibuku setiap hari kerjanya marahmarah melulu, walau begitu aku tetap menyayanginya. Ya, sebenarnya aku juga bosan sih dengan rutinitasku saat ini, tetapi aku juga tidak tahu ingin melakukan aktivitas apa. “Tadi Nenek menelepon Ibu, katanya Nenek kangen kepadamu,” aku baru ingat aku sudah lama tidak mengunjungi rumah nenek yang berada di Solo. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikiranku, bagaimana kalau aku mengajak teman-temanku pergi ke Solo, sekalian mengunjungi nenek. Aku segera mengambil handphone ku dan menelepon temanku. “Halo Win,” ucapku sambil mengecek apakah teleponku sudah tersambung.


40 “Halo Lin, tumben meneleponku siang-siang, ada apa?” sahut Winda dengan suara yang sedikit patah-patah, sepertinya jaringannya sedang tidak bagus. “Aku ingin mengajakmu pergi ke solo sekalian mengunjung rumah Nenekku, sekalian healing lah ya,” jawabku “Boleh lagi pula aku juga bosan di rumah terus.” “Jadi, kapan kita akan pergi ke Solo?” tanya Winda “Hmm, mungkin lusa. Oh iya jangan lupa ajak Bunga dan Cindy.” “Boleh itu, aku akan chat mereka nanti, sudah dulu ya, Aku disuruh Ibu mengantar daging ke tetangga, dahh,” Winda pun segera mematikan telepon, aku pun melompat-lompat kegirangan dan segera mengemas barang-barangku. *** Suara dering alarm dari handphone ku menggema ke seluruh ruangan, waktu menunjukkan pukul 7 pagi, aku segera melompat dari kasur dan bersiap-siap akan mandi dan mengganti pakaianku. Saat sedang menuruni tangga tercium aroma nasi goreng spesial buatan ibu, aku pun segera menyantapnya. Selesai menyantap nasi goreng, terdengar ada orang yang memanggilku dari pintu depan aku pun segera mengecek lewat jendela, ternyata itu adalah Cindy dan mamahnya, aku pergi ke Solo menggunakan mobil mamah Cindy, sedangkan Winda naik mobilnya Bunga. Aku pun segera pamit kepada ibu “Hati-hati di jalan ya Nak” aku pun tersenyum.


41


42 “Aku berangkat ya Bu, Assalamualaikum.” Aku membuka pintu dan menyapa mamah Cindy lalu segera menaiki mobil, mamah Cindy langsung menginjak rem dan mobil pun melaju. *** “Lin, Lin, ayo bangun!” aku pun membuka mata “Oh, sudah sampai ya?” aku bertanya sembari mengucek-ucek mata. “Iya, sudah sampai. Ayo turun Bunga dan Winda sudah nungguin tuh,” aku pun turun sambil meregangkan badan, kami tiba di rumah nenek pada jam 5 sore. “Cindy, Mamah pergi dulu ya, nanti Mamah jemput besok siang,” mamah Cindy segera berpamitan kepada kami dan menaiki mobil lalu pergi. Tiba-tiba terlihat seorang wanita paruh baya yang keluar dari salah satu rumah dengan tembok berwarna hijau. “Nenek!” aku segera berlari ke arah nenek, “Alin sudah lama tidak bertemu, ayo masuk ajak temantemanmu juga.” “Ok nek!” aku segera mempersilahkan temantemanku untuk masuk. Kami disambut dengan suara burung peliharaan nenek dan wangi pisang goreng saat memasuki rumah nenek. “Ayo silakan dimakan jangan sungkan!” “Terima kasih Nek, maaf merepotkan,” ujar Bunga.


Click to View FlipBook Version