43 “Barang-barang kalian ditaruh disini saja, istirahat dulu, kalian pasti lelah nanti beresinnya besok pagi saja,” ujar nenek, “Baik!” kami serempak menjawab, nenek pun tersenyum lalu pergi meninggalkan kami. “Eh btw kamar kita dimana?” tanya winda. “Oh iya aku hampir lupa, sini ikuti aku, akan ku tunjukkin,” Winda, Cindy, dan Bunga segera mengikutiku. Kamar kita terletak di lorong paling ujung di sebelah kamar mandi, “Disini!” aku membuka pintu kamar, terlihat kamar yang berukuran lumayan luas dan kasur yang besar, mungkin cukup untuk kami berempat. “Eh Lin, ngomong-ngomong Nenekmu kemana?” tanya Cindy, memang sedari tadi aku tidak melihat nenek. “Oh itu Nenek!” aku segera berlari menghampiri nenek, “loh Nenek mau pergi kemana?” tanyaku heran melihat nenek berpakaian Jawa. “Nenek ingin pergi menonton latihan tari Bedhaya ketawang, mau ikut?” “Wah kedengarannya seru, mau Nek, aku ajak teman-teman juga ya!” aku memanggil teman-temanku dan mengajak mereka menonton tari bedhaya “Wah boleh, kita juga bosan nih,” ujar Winda mengangguk setuju, yang lain pun juga mengangguk tanda setuju. Kami pun segera menuju ke Keraton Solo.
44 Sesampainya di sana kami melihat bangunan keraton yang sangat besar. Sebelum memasuki keraton, kami diberikan samir yang kata nenek itu diberikan agar kita terhindar dari gangguan selama ada di keraton. Saat masuk, kami disambut dengan suara gamelan yang menggema di seluruh ruangan, bangunannya sangat besar dan luas, juga sangat terang dan banyak sesaji dan dupa. Di sana kami melihat panggung Sangga Buwana, kata nenek itu adalah tempat untuk bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, hanya orang tertentu dan abdi dalam yang bisa masuk ke sana. Lalu kami pergi ke Sasano sewaka, bangunan di tengah keraton, di kanan dan di kirinya terdapat banyak pohon sawo, tanahnya ditutup pasir gunung merapi. Nenek mengajak kami untuk duduk di belakang, katanya tamu biasa duduknya di belakang, yang boleh duduk di depan hanya abdi dalam dan orang-orang tertentu. “Di sini ada aturan yang tidak boleh dilanggar, kita tidak boleh makan, mengobrol selama pertunjukan, merokok dan tidak boleh memotret atau merekam pertunjukan tari.” ujar nenek menjelaskan, kami pun hanya mengangguk tanda mengerti. Pertunjukan pun dimulai lampu mulai redup, tari ini dimainkan 9 orang penari, katanya penarinya itu harus masih perawan dan tidak boleh dalam keadaan haid. Tari Bedhaya Ketawang menceritakan tentang hubungan asmara, yaitu raja Mataram dengan Kanjeng Ratu Kidul, tari tersebut berdurasi sekitar 1 jam. Aku, Winda, Cindy, dan Bunga menonton tari Bedhaya sambil terpukau melihat keindahan tari tersebut. ***
45 “Bagaimana, seru gak?” tanya nenek, “Seru banget nek!” Cindy berseru “Iya seru banget!” sahut Bunga. Nenek tersenyum “Nenek pikir kalian tidak akan suka menonton tari seperti ini.” “Kenapa menurut nenek kami tidak akan suka?” aku bertanya heran, “Zaman sekarang budaya seni seperti tarian sangat jarang sekali diminati, jadi tarian-tarian menjadi sedikit dikenal oleh orangorang,” ujar nenek sedih. “Tenang saja nek, kami akan merekomendasikan tari Bedhaya ini agar dikenal oleh orang-orang!” ucap Cindy, “Tapi, bagaimana caranya?” tanya nenek ragu. “Aku bisa menulis pengalamanku selama menonton tari Bedhaya agar orang-orang penasaran dan tertarik untuk menontonnya,” jawab Cindy, “Wah, ide bagus!” sahut Winda, Kami berempat pun tersenyum. “Terima kasih anak-anak kalian mau membantu untuk melestarikan tari Bedhaya.” “Tidak masalah Nek, kami ingin orang-orang bisa lebih mengenal budaya-budaya di Indonesia dan melestarikannya!” ujarku, “Ya sudah, ayo kita segera pulang. Kalian kan harus istirahat, besok siang kalian akan pulang,”
46 “Oke nek!” kita menjawab serempak lalu tertawa sambil berjalan pulang. Aku berharap kita bisa lebih mengenal seni dan budaya di Indonesia dan te tap melestarikannya hingga saat ini.
47
48 AMICA Azka Auliya Rahma Sana bergegas menuju kantin sekolah setelah bel berbunyi. Suara bising terdengar ketika sana memasuki kantin, Sana pun langsung menuju Daisy yang sedari tadi sudah menunggu kehadiran Sana di meja kantin dengan kedua batagor yang sudah Daisy pesankan. Dan mereka pun akhirnya menyantap makanan mereka. … Sana, perempuan kelahiran Bandung dan ada darah jepang sedikit dari sang ayah, Sana berparas cantik, tinggi Sana sekitar 154cm. Dia begitu menyukai makanan khas Jepang, terutama Mochi. Sana memiliki teman bernama Daisy. Daisy, perempuan asli Bandung yang berparas manis, ditambah dengan gingsulnya. Daisy pun sangat suka memasak, berbeda hal nya dengan Sana. … Sana dan Daisy pun bergegas pergi dari kantin, menuju taman belakang sekolah yang sepi, untuk mereka berbincang bincang dengan santai, tanpa adanya suara bising yang mengganggu mereka. “Haduh, akhir-akhir ini uangku cepat sekali habisnya.” keluh Daisy setelah mereka mendudukan diri di kursi taman.
49 “Benar, bahkan uang tabunganku juga hampir habis.” balas Sana “Hmm bagaimana cara mendapatkan uang tanpa meminta” “aku tidak mau terlalu merepotkan kedua orang tuaku.” “Iya juga” “Bagaimana dengan bekerja di café” seru Sana “Ah iya dengan menjadi barista” “Tapi apakah mereka akan menerima kita..?” “Iya juga ya, sepertinya mereka tidak akan menerima kita..” “Bagaimana dengan berjualan saja“ “Kita bisa menjual yang sedang banyak di perbincangkan oleh banyak orang” “OHH IYA DENGAN BERJUALAN” seru Daisy “Tapi.. kita harus menjual apaya..” “Bagaimana kalau kita menjual makanan?” tanya Sana
50 “Makanan apa yang banyak orang perbincangkan ya” “Bagaimana kalau rice bowl?” “Apakah tidak susah untuk membuatnya?“ “Ah iya juga ya” “Coba kupikirkan terlebih dahulu” Sana dan Daisy pun sibuk memikirkan makanan apa yang harus mereka jual “Hmm” “BAGAIMANA DENGAN MENJUAL MOCHI” seru Sana dengan bersemangat “Ahh itu si kesukaanmu san” “Hehehe, tapi akhir-akhir ini mochi sedang ramai di perbincangkan orang tauu”
51 “ Benar juga, ayoo kita menjualnya” “Namun bagaimana kita memulai nya..??” tanya Sana dengan muka kebingungan. “Bagaimana kalau kita mulai menabung untuk membeli bahanbahannya, lalu kita akan mencoba bikin dirumahku“ “Apakah kamu setuju San??” “AKU SANGATT SETUJUU!!” “Kira-kira berapa lama kita menabung?” “Bagaimana dengan 2 bulan, nanti kita menabung di celengan sajaa” “Bolehh tuuh” Akhirnya mereka pun setuju untuk menabung selama 2 bulan. …
52 2 bulan pun berlalu. Selama 2 bulan mereka pun benar-benar menyisihkan uang jajan mereka. Minggu pagi yang cerah ini, Sana sudah siap untuk pergi menuju rumah Daisy. Mereka akan membuka celengan, dan juga akan mencoba membikin mochi. Setelah sampai dirumah Daisy, mereka berdua langsung saja membuka celengan nya, dan betapa terkejut nya mereka setelah mengetahui jumlah uang yang sudah mereka kumpulkan, hasil menabung mereka ada 320rb. Sehabis membuka celengan, mereka pun langsung membeli bahan-bahan untuk membikin mochi. Dan mereka pun membuat mochi, setelah 3 kali percobaan mereka pun berhasil membuat mochi yang sanggatttt lezattt. “Akhirnya selesai juga ya” ujar Daisy “Iya nihhh, akhirnya selesai juga” “Eum.. bagaimana kita menjual nya ya..?” tanya Sana “Ahh iya, bagaimana ya caranya, aku bahkan melupakan bagaimana cara agar mochi kita terjual habis” “AHH BAGAIMANA JIKA KITA MENITIPKAN SAJA KE IBU KANTIN!!” seru Sana bersemangat “Bolehh tuhh“
53 … Pada akhirnya mereka pun menitipkan mochi jualan mereka kepada ibu kantin. Sore harinya mereka berjalan menuju kantin, untuk mengambil uang hasil jualan mereka, betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui jumlah uang yang di dapati. Dikarenakan mochi yang dijual nya banyak diminati banyak murid, Sana dan Daisy pun membuat mochi setiap paginya. Sudah 1 bulan berlalu Sana dan Daisy menjual mochi, hingga hari ini mereka masih berjualan mochi. Hasil dari berjualan pun banyak. “Wah ternyata mochi yang kita jual sangat laku ya San” “Iya benar, aku tidak memyangka hingga saat ini aku masih berjualan mochi” balas Sana Pada akhirnya mereka pun mendapatkan uang tanpa meminta kepada orang tua. Mereka berdua pun sangat gembira karena berhasil menghasilkan uang dengan kerja keras mereka. Dan dengan adanya rasa saling percaya satu sama lain, Sana dan Daisy pun bisa seperti ini.
54
55 KISAH DI DESA CIWINDU Donita Aria Tungga Dewi Haii perkenalkan nama aku nita,aku akan bercerita tentang desa ciwindu... Pada suatu hari di Desa Ciwindu aku dan temanku menginap di suatu rumah warga. Kami menginap selama satu hari satu malam mereka di sana merasa senang dan nyaman. Namun, entah kenapa aku seorang diri yang sangat tidak merasa nyaman. Entah mengapa aku merasa takuk, gelisah, dan mempunyai firasat yang benar-benar tidak enak. Perasaanku sangat campur aduk saat itu. Aku gelisah, sedih, dan lebih parahnya lagi yang membuat aku sedih adalah aku bertengkar dengan teman kelompokku. Jujur di situ aku sedih dan gelisah, tetapi aku tidak tahu cara memperbaiki pertemenanku dengannya. Kabar buruknya lagi temanku yang terdiri tiga orang perkelompok, jadi tinggal kami berdua. Temanku yang tidak ikut kami ke Desa Ciwindu itu sedang berhalangan karena sepupu neneknya meninggal dunia. Dia bernama Tiara dan teman yang bertengkar denganku itu bernama Kekey. Saat itu aku gelisah sekali dan benar-benar merasakan kegelisahan dan kekhawatiran berlebih. Tiara tidak ikut, padahal dialah selama ini yang bisa mencairkan suasana kelompok kami. Aku hanya bisa pasrah. Karena bingung dan gelisah, saat itu aku hanya mementingkan diri aku sendiri. Aku hanya memikirkan nasib dan kebahagiaan diri sendiri.
56 Saat aku benar-benar tidak menghargai warga desa itu, terutama penghuni rumah yang aku tempati. Saat malam tiba, aku tidak tidur di rumah ibu, tetapi aku tidur di rumah temanku yang berbeda kelas. Selain itu, aku sangat jarang ke tempat kelompokku sendiri karena aku merasa sangat kesal dengan teman kelompokku. Aku bener-bener jengkel dan saat itu aku pun tidak sadar bahwa aku sangat tidak sopan.
57 TENTANG PENULIS Hafidz Fachri, Biasa di panggil hafidz, apia lebih bagus ko hehe. Usiaku 14 tahun, tanggerang, 2009. Cita – citaku ga terlalu tinggiku. S1 Fakultas kedokteran UI, hehe. Kalo engga bisa di ITB juga bolee ko. “Masa lalu hanya fantasi belaka, membandingkan masa lalu dengan masa yang kau jalani, sama saja kau membandingkan kehidupan dengan kematian “ hehe. Kisahku akan berjalan di sini @5hafidzfach Nayla Marsya Ardini, Aku datang Bagai embun pagi, yang menyejukan hatimu. Perkenalkan aku Marsya. Pada tanggal 28 bulan Januari, tahun 2009, aku lahir ke dunia, di kota Cilegon. Aku penulis cerpen Perajin Seni, lalu aku mempunyai hobi membaca buku, mendengarkan music juga menggambar, dan motto ku “Use the pressure to repay them for their trust”. Jangan lupa follow Instagram @page.syya Muhammad Nadhif Fikri Alghifari , Biasa dipanggil Nadhif, Lahir di Pandeglang, 5 September 2008. Hobinya main basket & dengerin music. Kalo motto hidup “The best revenge is to be better” Instagram : @nadippkriii Lucky Fahri Setiawan, Biasa dipanggil Lucky, lahir di Cilegon, 3 Mei 2009, Hobinya main game & mendengarkan musik. Motto hidup ku “Fokus pada tujuan, bukan hambatan”. Jangan lupa follow Instagram @luckyfahris yaa!
58 Firas Luthfy Aisy Hafiy, Biasa dipanggil Firas, Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 12 Desember 2008, Hobi saya bermain bulu tangkis dan membaca buku dan motto hidup saya adalah “Jika omongan teman masih dimasukkan ke hati, pulang sana main barbie”. Mazaya Dewi Karnasih, Biasa dipangil Ayaa, Usiaku 13 tahun, lahir di Cilegon, tanggal 7 April 2010, Hobiku menggambar, mendengar musik, dan nonton Windah, mottoku “Life is roblox”. Instagramku @ayaywwa di follow yaa! Azka Auliya Rahma, Biasa dipanggil Auliya, aku lahir di Serang pada tanggal 2 september 2008. Hobiku adalah menonton drama, mottoku adalah “Tetap semangat walau tugas menumpuk”. Silahkan di followww ig saya @azkaaaull :D. Donita Aria Tungga Dewi, Biasa dipanggil Donita, Lahir di Cilegon, 5 Mei 2009, hobiku mendengar musik.motoku adalah “hiduplah seakan kamu mati besok,belajarlah seakan kamu hidup selamanya”oiya jangan lupa followww ig aku yaaa @nitaalyx.