Modul Proyek Kearifan Lokal “Kearifan Lokal di Provinsi Banten” Panduan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Bagi Guru SMA Fase E SMA Negeri 7 Kota Serang Disusun oleh : Susi Maeli Daryani
Tujuan Berdasarkan pada dimensi dan elemen profil pelajar Pancasila dan mengangkat tema ‘Kearifan lokal” proyek dengan topik Kearifan lokal di Provinsi Banten diharapkan dapat membuat para peserta didik lebih mengenal dan memahami berbagai jenis kearifan lokal yang ada di Provinsi Banten (Seni budaya, kuliner, kerajinan seni kriya, dan mitos di daerah Banten). Alur Proyek ini dimulai dengan tahap Orientasi/Pengenalan, peserta didik diajak untuk mengenali bentuk dan fungsi kearifan lokal yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan kearifan lokal provinsi Banten. Kearifan lokal jenis seni budaya, kuliner,kerajinan seni kriya dan mitos daerah Banten. Setelah tahap Orientasi/pengenalan dilanjutkan dengan tahap kontekstual. Pada tahap ini peserta didik mengenali jenis kearifan lokal yang ada di wilayahnya. Di sini peserta didik diminta untuk mendeskripsikan ke empat jenis kearifan lokal tersebut. Proyek dilanjutkan dengan tahap aksi yang bertujuan mempersiapkan peserta didik untuk menggaungkan kearifan lokal di Provinsi Banten. Proyek ini diakhiri dengan tahap aktualisasi dan sosialisasi kepada warga sekolah, guru,dan perwakilan masyarakat. Pada tahap refleksi, Guru akan mendampingi dan mengevaluasi berbagai jenis kearifan lokal di Provinsi Banten sebagai hasil akhir dari proyek ini. Target : Peserta didik diharapkan telah mengembangkan tiga dimensi Profil Pelajar Pancasila, yaitu Beriman dan Takwa, Bernalar Kritis, dan Berkebinekaan Global. Tujuan, Alur, dan Target Pencapaian Proyek Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memulai Proyek ➢ Komitmen seluruh warga sekolah untuk sadar, konsisten, dan berkomitmen untuk menghargai berbagai bentuk keberagaman yang ada di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. ➢ Persepsi akan suatu budaya atau pengetahuan lokal akan rentan bias, sehingga penting bagi kelompok guru secara sadar memahami kemungkinan tersebut sehingga pengetahuan lokal yang diambil adalah yang paling berguna bagi kebutuhan pembelajaran
Tahapan dalam proyek “Kearifan Lokal di Provinsi Banten” Tahap Orientasi: Mengenali dan membangun kesadaran peserta didik terhadap kearifan lokal 1. Pengantar Materi Kearifan Lokal (3 JP) 2. Jenis kearifan lokal Provinsi Banten (3 JP) 3. Pengenalan potensi diripeserta didik terkait kearifan lokal provinsi Banten (3 JP) Tahap Kontekstualisasi: Menggali Informasi kearifan lokal yang ada di Provinsi Banten 4. Mengidentifikasi kearifan lokal di lingkungan sekitar (3 JP) 5. Menghadirkan narasumber komite sekolah (3 JP) 6. Melakukan kunjungan/Outing Class (9 JP) 7. Menyampaikan laporan kunjungan (4 JP) Tahap Aksi : Mengimplementasikan dan melestarikan kearifan lokal Provinsi Banten 8. Mengumpulkan jenis-jenis kearifan lokal Provinsi Banten (4 JP) 9. Pembutan poster kearifan lokal Provinsi Banten (6 JP) 10. Pembuatan konten kearifan lokal Provinsi Banten (3 JP) 11. Pertunjukan seni dan kearifan lokal Provinsi Banten (6 JP) Tahap Refleksi : Melakukan evaluasi dan refleksi 12. Lestari Budaya Lokalku (1 JP) 13. Evaluasi (1 JP) 14. Refleks (1 JP) Total : 50 JP 1 JP = 45
Dimensi, elemen dan sub-elemen Profil Pelajar Pancasila Dimensi Profil Pelajar Pancasila terkait Sub-elemen Profil Pelajar Pancasila Target pencapaian di akhir fase E Aktivitas terkait Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan YME Memahami keterkaitan antara kearifan lokal dengan nilai-nilai spriritual Memahami konsep kearifan lokal yang di provinsi Banten sebagai nilai-nilai spiritual yang diwariskan secara turuntemurun. 1, 2 Bernalar kritis Mengidentifikasi dan mengolah informasi Secara kritis mengidentifikasi serta menganalisis gagasan dan informasi yang kompleks dan abstrak dari berbagai sumber. Memprioritaskan suatu gagasan yang paling relevan dari hasil analisis. 4, 5, 7 Merefleksi dan mengevaluasi pemikirannya sendiri Menjelaskan alasan untuk mendukung pemikirannya dan memikirkan pandangan yang mungkin berlawanan dengan pemikirannya dan mengubah pemikirannya jika diperlukan. 13, 14 Berkebinekaan Global Mendalami budaya dan identitas budaya Menganalisis pengaruh keanggotaan kelompok lokal, regional, nasional, dan global terhadap pembentukan identitas, termasuk identitas dirinya. Mulai menginternalisasi identitas diri sebagai bagian dari budaya bangsa. 3 Mengeksplorasi dan membandingkan pengetahuan budaya, Menganalisis dinamika budaya yang mencakup pemahaman, kepercayaan, dan praktik 6, 8
kepercayaan, serta praktiknya. keseharian dalam rentang waktu yang panjang dan konteks yang luas. Menumbuhkan rasa menghormati terhadap keanekaragaman budaya. Memahami pentingnya saling menghormati dalam mempromosikan pertukaran budaya dan kolaborasi dalam dunia yang saling terhubung sertamenunjukkannya dalam perilaku. 9, 10, 11 Aktif membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. Berinisiatif melakukan suatu tindakan berdasarkan identifikasi masalah untuk mempromosikan keadilan, keamanan ekonomi, menopang ekologi sambil menghindari kerugian jangka panjang terhadap manusia, alam ataupun masyarakat. 12
(Referensi) Perkembangan Sub-elemen Antarfase Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan YME Belum berkembang Mulai berkembang Berkembang sesuai harapan Sudah melebihi harapan Memahami keterkaitan antara kearifan lokal dengan nilai-nilai spiriual Mengetahui nilainilai spiriual yang ada di masyarakat provinsi Banten Mampu menggali jenisjenis kearifan lokal di provinsi Bantenserta memahami konsekuensi dari nilai-nilai spiritual di provinsiBanten Menyadari adanya hubungan keterkaitan antara keterkaitan kearifan lokal dengan nilainilai spiritual yang menjadi bagian cirikhas masyarakat Banten Menyadari dan menerapkan nilainilai spiritual yang terdapat pada kearifan lokal dalamkehidupan bermasyarakatdi provinsi Banten Bernalar Kritis Belum berkembang Mulai berkembang Berkembang sesuai harapan Sudah melebihi harapan Mengidentifikasi, dan mengolah informasi Mengumpulkan, mengklasifikasika n, membandingkan dan memilih informasi dan gagasan dari berbagai sumber. Mengumpulkan, mengklasifikasi kan, membandingkan , dan memilih informasi dari berbagai sumber,serta memperjelas informasi dengan bimbingan dewan guru. Mengidentifik asi, mengklarifikas i, dan menganalisis informasi yang relevan serta memprioritask an beberapa gagasan tertentu. Secara kritis mengklarifikasi serta menganalisis gagasan dan informasi yang kompleks dan abstrak dari berbagai sumber. Memprioritaskan suatu gagasan yang paling relevandari hasil
Berkebinekaan Global Belum berkembang Mulai berkembang Berkembang sesuai harapan Sudah melebihi harapan Mendalami budaya dan identitas budaya Mengidentifikasi dan mendeskripsikan keragaman budaya di sekitarnya; serta menjelaskan peran budaya dan Bahasa dalam membentuk identitas dirinya. Mengidentifikasi dan mendeskripsikan keragaman budaya di sekitarnya; serta menjelaskan peran budaya dan Bahasa dalam membentuk identitas dirinya. Menganalisis pengaruh keanggotaan kelompok lokal, regional, nasional, dan global terhadap pembentukan identitas, termasuk identitas dirinya. Mulai menginternalisasi identitas diri sebagai bagian dari budaya Menginternalisasi identitas diri sebagai bagian dari budaya kemudian mengeksternalisasi kapasitas diri yang dimiliki sebagai upaya melestarikan budaya bangsa klarifikasi dan analisis. Merefleksi dan mengevaluasi pemikirannya sendiri Menyampaikan apa yang sedang dipikirkan dan menjelaskan alasan dari hal yang dipikirkan Memberikan alasan dari hal yangdipikirkan, serta menyadari kemungkinan adanya bias pada pemikirannya sendiri Menjelaskan asumsi yang digunakan, menyadari kecenderungan dan konsekuensi bias pada pemikirannya, serta berusaha mempertimbang kan perspektif yang berbeda. Menjelaskan alasan untuk mendukung pemikirannya dan memikirkan pandanganyang mungkin berlawanan dengan pemikirannya dan mengubah pemikirannya jika diperlukan.
bangsa. Mengeksplorasi dan membandingkan pengetahuan budaya, kepercayaan, serta praktiknya Mendeskripsikan dan membandingkan pengetahuan, kepercayaan, dan praktik dari berbagai kelompok budaya. Memahami dinamika budaya yang mencakup pemahaman, kepercayaan, dan praktik keseharian dalam konteks personal dan sosial. Menganalisis dinamika budaya yang mencakup pemahaman, kepercayaan, dan praktik keseharian dalam rentang waktu yang panjang dan konteks yang luas. Menemukan hubungan sebab akibat dari hasil analisis dinamika budaya yang kompleks dalam rentang waktu yang panjang dan konteks yang luas, kemudian menemukan pola berulang yang terjadi. Menumbuhkan rasa menghormati terhadap keanekaragaman budaya Menemukan hubungan sebab akibat dari hasil analisis dinamika budaya yang kompleks dalam rentang waktu yang panjang dan konteks yang luas, kemudian menemukan pola berulang yang terjadi. Memahami pentingnya melestarikan dan merayakan tradisi budaya untuk mengembangkan identitas pribadi, sosial, dan bangsa Indonesia serta mulai berupaya melestarikan budaya dalam kehidupan sehari- hari. Memahami pentingnya saling menghormati dalam mempromosikan pertukaran budaya dan kolaborasi dalam dunia yang saling terhubung serta menunjukkannya dalam perilaku. Mampu mengelola perbedaan secara konstruktif sehingga dapat beradaptasi di tengah perbedaan dan mewujudkan toleransi budaya multikultural Aktif membangun masyarakat yang inklusif, adil, Membandingkan beberapa tindakan dan praktik perbaikan Mengidentifikasi masalah yang ada di sekitarnya sebagai akibat Berinisiatif melakukan suatu tindakan berdasarkan Berinisiatif melakukan berbagai tindakan strategis dalam
dan berkelanjutan lingkungan sekolah yang inklusif, adil, dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan dampaknya secara jangka panjang terhadap manusia, alam, dan masyarakat dari pilihan yang dilakukan oleh manusia, serta dampak masalah tersebut terhadap sistem ekonomi, sosial dan lingkungan, serta mencari solusi yang memperhatikan prinsip-prinsip keadilan terhadap manusia, alam dan masyarakat identifikasi masalah untuk mempromosikan keadilan, keamanan ekonomi, menopang ekologi dan demokrasi sambil menghindari kerugian jangka panjang terhadap manusia, alam ataupun masyarakat. jangka waktu panjang dan terukur berdasarkan identifikasi masalah untuk mempromosikan keadilan, keamanan ekonomi, menopang ekologi dan demokrasi sambil menghindari kerugian jangka panjang terhadap manusia, alam ataupun masyarakat.
Relevansi proyek ini bagi sekolah dan semua guru mata pelajaran Kearifan Lokal Di Provinsi Banten Kearifan lokal terdiri dari dua kata yakni kearifan (wisdom) yang berarti kebijaksanaan dan lokal berarti tempat. Kearifan lokal adalah suatu kegiatan atau budaya yang terdapat pada suatu tempat yang masyarakat pada suatu tempat tersebut meyakini dan melakukan apa yang menjadi hal yang sudah turun-menurun tersebut. Kearifan lokal pada suatu daerah tentulah berbeda-beda, hal disebabkan karena pada setiap daerah memiliki kearifan lokal yang berbeda dari daerah satu dengan daerah yang lainnya yang mana perbedaan ini didasarkan pada latar belakang, suku budaya, dan adat istiadat yang berbeda-beda pula. Di dalam provinsi Banten ini terdapat beberapa kota/kabupaten yang ada didalamnya yaitu kota Serang, Cilegon, Pandeglang, Tangerang, dan Tangerang Selatan. Serta kabupaten yang meliputi kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, dan Tangerang. Semua kota/kabupaten tersebut memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda karena pada pada keempat kota/kabupaten tersebut masing-masing memiliki suku, bahasa, budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda pula. Seperti yang kita ketahui bahwa di provinsi Banten yang tidak begitu luas ini memiliki sekumpulan kelompok yang masih memiliki kearifan lokal yang sangat kuat. Kearifan lokal di Kota Serang ialah ketika sedang memperingati hari besar umat muslim, contohnya maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi adalah suatu peringatan dimana pada bulan Rabbiul Awal diperingati hari/bulan lahirnya NabiMuhammad SAW. Dibulan tersebut masyarakat muslim di Kota Serang beramai- ramai ikut memeriahkan peringatan tersebut dengan cara ikut Dzikir dan membuat suatu sedekah yang dibuat secara unik yakni “panjang Mulud”. Panjang ialah suatu benda yang didalamnya berisi suatu sedekah berupa lauk-pauk atau sandang dan pangan atau bahkan sembako yang dibentuk menyerupai suatu bentuk mislanya masjid, kapal, pesawat terbang, rumah, binatang besar, dan lain-lain.
Seni Budaya di Provinsi Banten Tari Rudat Banten Rudat Banten merupakan gabungan antara seni gerak dan vokal yang diiringi oleh tabuhan ritmis dari waditra. Kes enian ini mendapat pengaruh yang kuat dari agama Islam. Syair-syair yang dinyanyikan ketika mengiringi Seni Rudat sendiri berisikan puji-pujian terhadap Allah dan shalawat pada Nabi Muhammad S.A.W. Kesenian yang dikategorikan sebagai seni tradisi ini, sejak 2018 telah dimasukkan ke dalam Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Seni Rudat berkembang luas hampir di seluruh wilayah Banten. Adapun wilayah persebarannya meliputi Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang dan Kota Cilegon. Sedangkan untuk wilayah Tangerang, tersebar di bagian Utara Kabupaten Tangerang, meliputi Kec. Kronjo dan sekitarnya. Kemunculan Seni Rudat Banten diperkirakan sudah ada sejak abad XVI yakni sejak zaman Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten. Namun, sebenarnya Rudat Banten sudah ada sejak Kesultanan Banten belum berdiri, karena upaya penyebaran agama Islam telah dilakukan oleh salah satu Wali Songo yakni Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, erat hubungannya dengan perkembangan seni Rudat Banten. Ketika menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa Barat dan Banten, Sunan Gunung Jati dibantu oleh para murid-muridnya. Antara tahun 1450-1500, Sunan Gunung Jati mengutus lima orang dari Cirebon yakni Sacapati, Madapati, Jayapati, Margapati, dan Warga Kusumah untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat yang ketika itu masih banyak memeluk agama Hindu. Kelima utusan tersebut juga diperintahkan untuk mengembangkan pertunjukkan kesenian dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Gunung Jati memberikan petunjuk untuk meniru kesenian di Mekkah, yaitu Genjring yang terbuat dari potongan-potongan kayu. Kesenian itulah yang kemudian menjadi awal kemunculan Rudat Banten. Perkembangan seni Rudat Banten mengalami pasang surut saat era kesultanan di Banten mengalami kemunduran. Periode pasang surut tersebut terjadi hingga masa-masa penjajahan. Ketika Indonesia memasuki periode kemerdekaan, seni Rudat Banten kembali hidup di masyarakat. Kelompokkelompok seni rudat banyak tersebar di kampung-kampung di Banten. Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan bahwa Seni Rudat Banten diperkirakan sudah ada sejak masa-masa awal sebelum Kesultanan Banten berdiri (sebelum tahun 1525 M), sedangkan pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683 M) sebenarnya adalah masa pengembangan selanjutnya.
Bendrong Lesung Bendrong Lesung merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Cilegon-Banten, yang tumbuh dan berkembang secara turun-temurun di masyarakat hingga saat ini. Awalnya kesenian ini merupakan tradisi masyarakat setempat dalam menyambut panen raya. Tujuannya untuk mengungkapkan kebahagiaan atas jerih payah yang dilakukan, dan telah membuahkan hasil. Dalam perkembangannya Bendrong Lesung tidak hanya ditampilkan pada penyambutan panen raya tetapi ditampilkan juga pada upacara peresmian. Bendrong Lesung memadukan musik Lesung atau Lisung (tempat menumbuk padi) dengan musik lainnya yang dimainkan oleh beberapa orang.
Rampak Beduk Rampak Beduk merupakan sajian instrumen berupa perkusi,yang diiringi suara bedug berbagai ukuran. Ada empat bedug diikat kain merah biru yang dipukul oleh pemain yang berdiri ditengah. Di pinggirnya, kelompok musik menimpali dengan bedug berbagai ukuran. Seni Rampak Bedung berawal dari kebiasaan penduduk berkeliling kampung sambil memukul bedug kala sahur di bulan puasa,yang kemudian dijadikan ajang untuk beradu keras memukul bedug. Alhasil terjadilah pertempuan antar mereka, saling beradu kekuatan bedug. Tari Rampak Bedug Banten dimainkan secara massal. .
Pencak Silat Bandrong Asal usul nama Bandrong diambil dari nama sejenis ikan terbang yang sangat gesit dan dapat melompat tinggi dan jauh, menyerang kerang dengan moncongnya yang sangat panjang dan bergerigi sangat tajam. Ikan ini sangat berbahaya karena sekali menyerang dapat membinasakan musuhnya. Ki Patih Jaga Laut atau Patih sangat menyukai dan sering memperhatikan gerak-gerik dari ikan bandrong, karena ikan tersebut mempunyai gerakan yang tangkas dan gesit juga memiliki jangkauan lompatan dengan jarak jauh. Akhirnya ia menggunakan nama ikan itu untuk nama ilmu ketangkasan bela diri yang dimilikinya yaitu pencak silat Bandrong. Silat Bandrong lahir sekitar tahun 1500 Masehi, yaitu sebelumnya berdirinya kesultanan Banten. Tokoh yang diketahui pertama menyebarkan aliran ini adalah seorang kiai bernama Ki Agus Jo, yang dikenal dengan Ki Beji. Ia terkenal sebagai kiai sekaligus pendekar dan merupakan guru besar bandrong yang menetap di salah satu lereng Gunung Santri. Di antara para muridnya yang terkenal adalah Ki Sarap danKi Ragil yang berasal dari Kampung Gudang Batu, Waringin Kurung.
Kuliner di Provinsi Banten Sate Bandeng Sate Bandeng merupakan salah satu kuliner khas Banten. Makanan yang merupakan perpaduan daging ikan bandeng, santan, dan rempah-rempah ini, diketahui sudah ada sejak erasultan pertama Banten, Sultan Maulana Hasanuddin, pada 1552-1570. Menurut cerita, makanan khas ini bermula ketika Sang Sultan ingin memakan ikan bandeng. Koki kerajaan kebingungan lantaran ikan ini memiliki banyak duri halus dan berbahaya jika diolah secara langsung seperti dibakar atau dikukus untuk Sultan maupun petinggi-petinggi kesultanan. Akhirnya koki tersebut berinisiatif untuk menghancurkan daging dari ikan dan menarik tulang dan duri-durinya terlebih dahulu, lalu daging ikan bandeng dihaluskan dan disaring untuk memisahkan tulang dan duri yang keras. Daging yang sudah halus inilah yang campur dengan rempah sebagai adonan sebelum dimasukan ke bambu dan dibakar hingga matang. Hidangan baru ini tak dinyana disukai oleh sultan dan petinggi lainnya. Akhirnya sate bandeng yang mirip dengan sate lilit ini menjadi salah satu makanan wajib masyarakat Banten kala itu dan terus diturunkan hingga sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, sate bandeng ini tidak lagi hanya disantap oleh keluarga bangsawan saja. Masyarakat umum juga mulai membuatnyauntuk santapan sehari-hari, juga dipasarkan sebagai oleh-oleh untuk wisatawan yang datang keSerang atau kawasan pesisir di Provinsi Banten.
Tape Ketan Tape ketan merupakan makanan tradisional yang sangat populer di masyarakat Jawa. Biasanya, makanan ini disajikan sebagai hidangan spesial pada saat Lebaran atau saat-saat tertentu seperti upacara adat, hajatan, dan acara keagamaanlainnya. Makanan ini terbuat dari beras ketan yang difermentasi dan memiliki rasa yang manis dan lengket. Menurut beberapa ahli kuliner, tape ketan memiliki manfaat kesehatan yang cukup besar bagi tubuh manusia. Makanan ini mengandung banyak bakteri baik yang mampu membantu sistem pencernaan manusia. Selain itu, tape ketan juga mengandung banyak vitamin B kompleks, yang penting untuk kesehatan saraf dan sirkulasi darah. Makanan tradisional seperti tape ketan perlu dijaga kelestariannya agar tidak hilang begitu saja. Oleh karena itu, kita perlu terus melestarikan dan mengembangkan budaya kuliner yang sudah ada, termasuk tape ketan.
Seni Kriya di Provinsi Banten Seni Kriya Seni kriya adalah seni yang dihasilkan menggunakan tangan, melalui berbagai media seni. Istilah seni kriya berasal dari bahasa Sansekerta,yakni kata "krya" berarti mengerjakan. Kata tersebut kemudian berkembang menjadi karya, kriya, dan kerja. Menurut KBBI kriya adalah pekerjaan (kerajinan tangan). Sedangkan dalam bahasa inggris,kriya disebut craft, berarti energi atau kekuatan yang digambarkan dengan suatu keterampilan untuk mengerjakan atau membuat sesuatu. Seni kriya memiliki 5 jenis yaitu seni kriya pahat, seni kriya batik, seni kriya tenun, seni kriya ayaman dan seni kriya bordir.
Mitos di Provinsi Banten Gunung Pinang Gunung Pinang terletak di Kecamatan Kramatwau, Kabupaten Serang. Gunung Pinang merupakan sebuah bukit dengan tingginya kira- kira 300m dari permukaan air laut dan luas 222 hektar. Gunung Pinang masuk ke dalam salah satu kekayaan alam di daerah Banten yang menjadi destinasi alam, diolah menjadi tempat wisata yang banyak di datangi pariwisata dalam kota maupun luar kota. Gunung Pinang selain menjadi tempat rekreasi ternyata di dalamnya terdapat legenda tersendiri yang dipercaya oleh warga setempat. Sesuai namanya Gunung Pinang, diambil dari mayoritas tumbuhan di sana adalah pohon pinang. Cerita Gunung Pinang bermula di sebuah pesisir pantai hidup seorang janda beserta satu anak laki-lakinya, Dampu Awang. Dampu Awang yang melihat sebuah kapal besar menepi di dergama terkesima dengan keindahan kapal tersebut, nan megah dan besar. Memilikisebuah kapal adalah keinginan Dampu Awang sejak dulu. Saudagar tua yang melihat Dampu Awang kemudian mengajak dia untuk menjadi anak buah dikapalnya. Dampu Awang langsung menerima tawaran tersebut, tetapi harus dengan persetujuan orang tuanya. Saat meminta ijin kepada ibunya, awalnya tidak diijinkan karena Dampu Awang merupakan anak satu satunya, namun setelah beberapawaktu Dampu Awang diijinkan dan ikut pergi. Kerjanya yang rajin dan cekatan membuat Dampu Awang naik jabatan lebih cepat. Ia dinikahkan oleh anak satu-satunya Saudagar tua. Beberapa tahun kemudian Saudagar tua itu meninggal, Dampu Awang menjadi pengganti kedudukan Saudagar tua tersebut yang merupakan mertuanya. Beberapa tahun kemudian, Dampu Awang dan istrinya merapatkan kapal mereka ke pelabungan tempat Dampu Awang dulu tinggal. IbuDampu Awang yang mengetahui itu anaknya memberitahu bahwa Saudagar kaya raya itu anaknya namun karena malu Dampu Awang tak mengakui perempuan tua itu ibunya. Karena merasa tersakiti, ibu Dampu Awang berdoa dan meminta balasan yang setimpa untuk anaknnya. Tak lama petir dan angin menyambar kapal yang dampu awang tumpangi dan menerbalikan kapal tersebut. Tak lama kemudian kapal tersebut berubah menjadi gunung yang disebut warga setempat Gunung Pinang. Itulah asal mula terciptanyaGunung Pinang yang dipercayai warga setempat dulu yang tinggal disana.
Kapal Bosok Masjid berbentuk kapal bernama Kapal Bosok di Kota Serang, Banten memang terbukti unik. Cerita di baliknya juga menarik yaitu berhubungan sama kisah Ki Angga Derpa dalam mengusir penjajah Belanda Masjid Kapal Bosok terinspirasi dari kisah Ki Angga Derpa yang ingin menyelamatkan dokumen dan harta kekayaan dari para penjajah Belanda. Belanda yang marah kemudian mencari Ki Angga Derpa. Pria ini ditemukan di Kampung Aon yang sekarang berganti nama menjadi Lingkungan Drangong. Ia lalu dihukum di dalam kapal dan ditinggalkan di dalam kapal beserta dokumen dan sebagainya Singkat cerita, kapal tersebut kemudian terbawa air sampai daerah Curug yang jauh dari pesisir. Ki Angga Derpa kemudian mengambil cambuk dan memukulkan ke kapal, sampai kapal tersebut membusuk. Pembuatan Masjid Kapal Bosok Masjid Kapal Bosok yang berlokasi di Lingkungan Drangong, Kelurahan Curugmanis, Kecamatan Curug dibangun oleh 17 santri Pesantren Darul Salam selama 4 tahun. Masjid dibangun menyerupai kapal karena terinspirasi dari kapal yang membusuk di kampung tersebut. Makanya, Masjid Kapal Bosok artinya masjid kapal yang membusuk. Masjid Kapal Bosok terdiri dari dua ruangan untuk beribadah. Di antaranya lantai dua dan lantai tiga yang dilengkapi dengan sajadah dan Al-Qur'an.
Bendungan Lama Pamarayan Ada sebanyak dua pintu bendungan yang terdapat di Kecamatan Pamarayan Kabupaten Serang ini, yang salah satunya sudah menjadi cagar budaya. Pintu Bendungan Pamarayan lama yang sudah menjadi sebuah cagar budaya tersebut diketahui sudah dibangun sejak tahun 1901. Bendungan Pamarayan yang sudah lama berdiri itu diketahui merupakan bendungan terbesar pertama dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Namun, kini Bendungan Pamarayan yang dibangun pemerintah Hindia Belanda itu sudah tidak dioperasikan kembali. Saat ini, pintu bendungan kuno itu telah banyak dikenal dan disebut sebagai Bendungan Pamarayan lama. Namun, apakah Anda mengetahui tentang adanya sebuah mitos yang melegenda di Bendungan Pamarayan? ternyata dibalik kisah panjang bangunan Bendungan Pamarayan yang sudah berdiri lebih dari seratus tahun itu ada mitos yang melegenda di masyarakat. Mitos legenda ini berbalutkan cerita-cerita mistis yang tidak luput menjadi kisah yang diceritakan secara turun temurun terkait Bendungan Pamarayan. Sementara, diketahui juga bahwa mitos yang beredar di kalangan masyarakat sudah kuat dipercaya sejak lama. Bahkan, masyarakat sekitar juga telah menjadikan mitos tersebut sebagai himbauan kepada masyarakat luar untuk tidak berbuat semena mena. Jika itu terjadi (masyarakat berbuat semena mena) maka dipercaya hal tersebut akan jadi pemicu terjadinya sebuah malapetaka. Tentunya, malapetaka tersebut akan menimpa kepada mereka yang sudah berbuat semena mena. Konon berdasarkan cerita yang beredar, mitos yang telah melegenda di masyarakat sekitar Bendungan Pamarayan ini terkait dengan kisah dari Nyai Mujibah. Kisah Nyai Mujibah ini sudah menjadi rangkaian cerita mistis yang paling sering diceritakan dan diperdengarkan oleh masyarakat sekitar kepada anak cucu keturunan mereka. Bukan hanya itu, mitos legenda kisah Nyai Mujibah ini juga sampai ke telinga masyarakat umum yang datang ke Bendungan Pamarayan. Dari mitos yang ada, Nyai Mujibah ini dikenal sebagai penunggu dari Bendungan Pamarayan dan Sungai Ciujung. Perlu diketahui, bahwa aliran air dari pintu Bendungan Pamarayan ini terhubung langsung ke Sungai Ciujung. Nyai Mujibah, menurut cerita yang beredar diketahui adalah sosok yang merajai jin dan siluman pada dua lokasi itu. Konon katanya, Nyai Mujibah ini memiliki dua orang anak siluman buaya yang memiliki nama Si Buntung dan Si Koneng. Kemudian, masyarakat setempat memiliki kepercayaan bahwa Nyai Mujibah kerap meminta tumbal dari kalangan manusia. Namun, tumbal yang akan diambil Nyai Mujibah ini adalah dari manusia-manusia yang membuat kerusakan di Bendungan Pamarayan ataupun sungai Ciujung.
Mitos dan Sejarah Suku Baduy : Dari Batara Cikal Hingga Arca Domas Suku Baduy adalah salah satu suku asli Indonesia yang hidup di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Suku ini dikenal memiliki kehidupan yang sederhana, alami, dan taat pada adat leluhur. Suku Baduy juga memiliki berbagai mitos yang berkaitan dengan asal-usul, kepercayaan, dan tradisi mereka. Salah satu mitos yang paling mendasar adalah tentang asal-usul suku Baduy itu sendiri. Dalam kepercayaan suku Baduy, mereka meyakini nenek moyang warga Baduy sudah ribuan tahun tinggal di wilayah Kaolotan secara turun-temurun. Adapun mereka meyakini keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal-usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Mitos lain yang berkaitan dengan asal-usul suku Baduy adalah tentang Prabu Pucuk Umun, yang diyakini sebagai wakil Raja Sunda untuk daerah Banten dan leluhur para puun suku Baduy. Prabu Pucuk Umun pernah bertarung dengan Maulana Hasanudin, putra Sunan Gunung Jati, yang datang untuk mengislamkan wilayah barat Kerajaan Sunda. Pertarungan itu dilakukan dengan cara mengadu ayam sakti, yaitu Jalak Rarawe milik Prabu Pucuk Umun dan Jalak Putih milik Maulana Hasanudin. Jalak Putih berhasil mengalahkan Jalak Rarawe, namun Prabu Pucuk Umun tidak mau memeluk Islam dan memilih untuk berubah menjadi burung beo dan terbang meninggalkan Maulana Hasanudin. Selain mitos tentang asal-usul, suku Baduy juga memiliki mitos tentang kepercayaan mereka. Salah satu yang paling penting adalah tentang Arca Domas, sebuah batu besar yang berada di tengah hutan Baduy. Arca Domas diyakini sebagai pusat dunia dan sumber kekuatan bagi suku Baduy. Arca Domas juga merupakan tempat bersemayamnya Batara Cikal dan tempat berkumpulnya para puun suku Baduy untuk melakukan ritual adat setiap tahunnya. Menurut keyakinan suku Baduy, asal mula terjadinya bumi terletak di wilayah Baduy, karena itu warga Baduy sangat meyakini wilayahnya sebagai pancer bumi atau inti jagat. Mitos-mitos suku Baduy juga mencerminkan tradisi dan budaya mereka. Misalnya, ada mitos yang berlaku bagi laki-laki suku Baduy agar tidak menyentuh alat menenun yang terbuat dari kayu. Menurut mitos itu, bila pihak laki-laki tersentuh alat menenun tersebut maka laki-laki tersebut akan berubah perilakunya menyerupai tingkah laku perempuan. Tradisi menenun ini menghasilkan kain tenun yang digunakan dalam pakaian adat suku Baduy. Ada pula mitos tentang Nyi Pohaci, ratu Sunda dari Baduy, yang diyakini sebagai dewi perempuan cantik yang memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat adat Baduy. Nyi Pohaci merupakan keturunan dari Dewi Ular Anta, yang dibunuh oleh para dewi lain karena kecantikannya mengganggu kayangan. Jasad Nyi Pohaci jatuh ke bumi dan berubah menjadi berbagai tanaman yang bermanfaat bagi manusia, seperti padi, kelapa, rempahrempah, buah-buahan, dan lain-lain. Mitos-mitos suku Baduy merupakan bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan dan dihormati. Mitos-mitos ini tidak hanya menarik untuk diketahui, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur dan hikmah bagi kehidupan manusia.
Kegiatan 1: Pengantar materi kearifan lokal Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat mengetahui definisi kerarifan lokal. Waktu : 3 JP Bahan : Materi, Video, Proyektor, Laptop. Peran Guru : Narasumber dan fasilitator. Persiapan: ➢ Sebagai kegiatan awal dari tema, guru akan memperkenalkan tema kearifan lokal dengan proyek kearifan lokal di provinsi Banten. ➢ Diskusi tentang harapan siswa akan pelaksanaan program ini. ➢ Pembuatan perjanjian kelas tentang sikap belajar. Pelaksanaan: ➢ Guru mengawali proyek dengan menggali informasi apakah peserta didik mengetahui tentang kearifan lokal di provins Banten melalu video (https://www.youtube.com/watch?v=t1sgDqOZr9c) ➢ Guru bertanya kepada peserta didik tentang pengertian dan jenis kearifan lokal yang diketahui oleh peserta didik. Beberapa pertanyaan pemantik yang bisa dipakai : a. Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata kearifan lokal? b. Menurutmu, apa itu kearifan lokal? Ada berapa jenis kearifan lokal? c. Kearifan lokal apa yang kamu ketahui? Berasal dari daerah mana kearifan lokal tersebut? d. Bagaimana kamu bisa mengetahui jenis-jenis kearifan lokal tersebut? e. Apakah kamu tahu atau pernah mencari tahu makna dibalik kearifan lokal tersebut? Tugas: ➢ Peserta didik diminta untuk mencari tahu tentang jenis kearifan lokal seperti seni budaya, kuliner, seni kriya dan mitos di provinsi Banten dari berbagai sumber. ➢ Peserta didik diminta untuk menuliskannya di lembar kerja, kemudian di unggah ke Google Classroom.
LEMBAR KEGIATAN 1 Lembar kerja setelah membaca artikel / menonton video. Kerjakan tabel di bawah ini : No. Jenis Kearifan Lokal Contoh 1. Seni Budaya 2. Kuliner 3. Seni Kriya 4. Mitos Nama : ……………………………………… Kelas : ………………………………………
Kegiatan 2: Jenis kearifan lokal provinsi Banten Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat mendeskripsikan jenis-jenis kearifan lokal yang ada di provinsi Banten Waktu : 3 JP Bahan : Materi, Video, Proyektor, Laptop Peran Guru : Narasumber dan fasilitator Persiapan: ➢ Guru membekali diri dengan pengetahuan akan berbagai jenis kearifan lokal di provinsi Banten. Pelaksanaan: ➢ Guru meminta peserta didik untuk menceritakan hasil temuan dari tugas aktifitas 1 tentang“ jenis-jenis kearifan lokal”. ➢ Guru memutar video tentang berbagai jenis kearifan lokal di provinsi Banten a. Seni budaya (https://www.youtube.com/watch?v=74C53KZXQME) b. Kuliner (https://www.youtube.com/watch?v=ci4rdCO7De8) c. Seni kriya (https://www.youtube.com/watch?v=zJ3E3gM2oZg) d. Mitos di provinsi Banten (https://www.youtube.com/watch?v=IxW2ZkN2E84 ) ➢ Guru menggali lebih dalam pengetahuan peserta didik akan “ jenis-jenis kearifan lokal” beberapa pertanyaan pemantik yang dapat dipakai adalah sebagai berikut : a. Apa yang kamu ketahui tentang seni budaya di provinsi Banten? b. Sebutkan kuliner-kuliner yang ada di provinsi Banten! c. Sebutkan macam-macam seni kriya di provinsi Banten! d. Apa saja mitos yang berkembang di provinsi Banten? Tugas: ➢ Peserta didik membuat kesimpulan dari video yang disajikan pada lembar kerja, kemudian di unggah ke Google Classroom.
LEMBAR KEGIATAN 2 Lembar kerja setelah menonton video. Buatlah kesimpulan dari video tersebut! Kesimpulan : …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………… Nama : …………………………………… Kelas : ……………………………………
Kegiatan 3: Pengenalan potensi diri peserta didik terkait kearifan lokal provinsi Banten Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat mengetahui karakter yang terdapat dalam diri Waktu : 3 JP Bahan : Kartu bermain peran, lembar kerja “Siapakah aku?” Peran Guru : Narasumber dan fasilitator Persiapan: ➢ Guru mempersiapkan kartu bermain peran dan menjelaskan cara bermain peran tentang kearifan lokal. Pelaksanaan: ➢ Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok (6 atau 7 kelompok) sesuai temanya masing-masing. ➢ Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk menampilkan peran masingmasing. ➢ Guru mengevaluasi cara bermain peran peserta didik. ➢ Guru mengantar peserta didik untuk mengenali potensi diri tiap orang di dalam kelompok tersebut dengan beberapa pertanyaaan seperti : a. Hal apa yang dapat digali dari karakter peran yang dimainkan. b. Ceritakan bagaimana proses pendalaman karakter. c. Masing-masing kelompok memberikan tanggapan tentang kelebihan dan kekurangan dari cara bermain peran tersebut. Tugas: ➢ Guru meminta peserta didik untuk memetakan potensi diri yang melekat dari permainan yang telah ditampilkan dengan melengkapai lembar kerja.
H k k k h h l y a n g h a r u s d i p e r h a t i k a n : K e t i k a k e l o m p o k l a i n m e n e b aLEMBAR KEGIATAN 3 Pengenalan potensi diri peserta didik terkait kearifan lokal di provinsi Banten Hal yang harus diperhatikan: Ketika kelompok lain menebak peran kelompok yang tampil beserta alasannya, guru sebagai fasilitator bertanya kembali apakah betul alasan yang diberikan sudah pasti menjadi ciri khas / identitas kelompok? Cara bermain: 1. Bagi peserta didik menjadi 6 atau 7 kelompok. 2. Setiap kelompok mendapat satu kartu peran kelompok yang akan dimainkan, kartu ini tidak boleh diketahui oleh kelompok lain. 3. Peserta didik diberi waktu + 15 menit untuk mempersiapkan kelompok untuk memainkan peran kelompok yang didapat. peserta didik dibebaskan untuk mengekspresikan peran dengan mengatur gaya rambut, gaya berpakaian, tarian, atau nyanyian yang menunjukkan ciri khas dari peran tersebut. 4. Setelah waktu persiapan selesai, setiap kelompok menampilkan peran mereka di depan kelas. Setelah selesai, kelompok lain menebak peran apa yang baru saja dimainkan disertai dengan alasannya. 5. Setelah seluruh kelompok tampil, guru bersama peserta didik mengapresiasi seluruh penampilan dengan tepuk tangan bersama.
Kartu bermain peran
Kegiatan 4: Mengidentifikasi kearifan lokal di lingkungan sekitar Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat mengidentifikasi kearifan lokal yang ada di lingkungan sekitar Waktu : 3 JP Bahan : Lembar kerja dan alat peraga Peran Guru : Narasumber dan fasilitator Persiapan: ➢ Guru mempersiapkan beberapa alat peraga dan lembar kerja. Pelaksanaan: ➢ Guru mengajak peserta didik untuk mengidentifikasi tentang kearifan lokal yang ada di lingkungan sekolah dengan menggunakan panca indra. ➢ Peserta didik diminta menuliskannya pada lembar kerja. ➢ Peserta didik diminta untuk mendokumentasikan berbagai kearifan lokal yang ditemukan dilingkungan sekitar. Tugas: ➢ Guru meminta peserta didik untuk melengkapi lembar kerja. ➢ Guru membagi peserta didik menjadi 3 kelompok (untuk persiapan outclass).
LEMBAR KEGIATAN 4 Hasil temuan yang membuatku resah dan tidak nyaman Hasil temuan
Kegiatan 5: Menghadirkan narasumber komite sekolah Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat mengumpulkan informasi dari narasumber terkait Waktu : 3 JP Bahan: jurnal siswa, alat tulis, buku bacaan, perangkat audio visual, narasumber, Peran Guru: Fasilitator Persiapan: ➢ Guru menyapa dan menanyakan kesulitan yang dialami oleh peserta didik dalam menyusun daftar pertanyaan. Pelaksanaan: ➢ Peserta didik diminta untuk menggali informasi dengan membuat daftar pertanyaan yang disusun secara berkelompok. ➢ Peserta didik mendokumentasi kegiatan berupa foto dan video. ➢ Peserta didik diminta membuat kesimpulan. Tugas: ➢ Peserta didik mengunggah dokumentasi wawancara melalui Learning Management System (LMS) seperti Google Classroom atau media lain yang disetujui oleh guru.
LEMBAR KEGIATAN 5 Peserta didik diminta mengunggah hasil wawancara dengan narasumber sekolah melalui Learning management System (LMS) seperti Googleclassroom.
Kegiatan 6: Melakukan kunjungan / outing class Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat memperluas pengetahuan destinasi tentang kearifan lokal di wilayah Banten Waktu : 9 JP Bahan : Alat tulis, jurnal, perangkat audio visual Peran Guru : Fasilitator Persiapan: ➢ Guru mempersiapkan kunjungan / outing class menuju destinasi yang ada di wilayah provinsi Banten. ➢ Persiapan ini dimulai darisurvey lokasi, alokasi biaya, transportasi, narasumber terkait dan surat izin. Pelaksanaan: ➢ Guru membagi peserta didik ke dalam 3 kelompok dan memberi arahan apa saja Diskusi tentang apa yang perlu dipersiapkan oleh peserta didik sebelum memulai kunjungan / outing class. ➢ Guru bersama dengan peserta didik menuju lokasi outing class. ➢ Peserta didik diminta untuk menelusuri dan mengamati secara langsung jenisjenis kearifan lokal yang ada di wilayah tersebut. ➢ Peserta didik melakukan wawancara pada narasumber terkait. ➢ Peserta didik diminta untuk mencari tahu atau manfaat dari kearifan lokal yang ditemukan. ➢ Peserta didik mendokumentasi kegiatan secara lengkap. ➢ Setelah selesai peserta didik diminta untuk melengkapi tugas. Tugas: ➢ Menyusun laporan hasil kunjungan / outing class terdiri dari : 1. Membuat video film dokumenter perjalanan outclass yang di unggah ke youtube, instagram, tiktok atau media sosial lainnya. (durasi waktu 10 s.d 20 menit). 2. Membuat bulletin kegiatan P5 pada saat pembelajaran di kelas atau pada saat outclass dengan menggunkan media canva dan media lainnya, kemudian di cetak dalam format A3. ➢ Peserta didik membeli dan mengumpulkan produk lokal dari hasil outclass.
Kegiatan 7: Menyampaikan laporan kunjungan Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat mempresentasikan hasil laporan kunjungan / outing class. Waktu : 5 JP Bahan : Proyektor, Laptop Peran Guru : Fasilitator Persiapan: ➢ Guru memberikan kesempatan untuk masing-masing kelompok melakukan presentasi. Pelaksanaan: ➢ Guru meminta masing-masing kelompok untuk menyampaikan laporan kunjungan / outingclass tentang kearifan lokal di provinsi Banten. ➢ Guru meminta masing-masing kelompok untuk mendiskusikan hasilnya. Tugas: ➢ Mengumpulkan laporan kunjungan / outing class, masing-masing peserta didik menempelkan link youtube film dokumenter, bulletin, instragram dan tiktok ke Gsite (Menu Penilaian Outclass). ➢ Menyimpulkan hasil diskusi antar kelompok.
Kegiatan 8: Mengumpulkan jenis-jenis kearifan lokal provinsi Banten Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat menghubungkan jenis kearifan lokal dengan nilaispiritual yang terdapat dilingkungan masyarakat. Waktu : 4 JP Bahan : Lembar kerja, Alat tulis Peran Guru : Fasilitator Persiapan: ➢ Guru menyiapkan lembar kerja dan memberikan penjelasan kepada peserta didik terkait lembar kerja tersebut. Pelaksanaan: ➢ Guru meminta peserta didik untuk mengumpulkan jenis-jenis kearifan lokal yang ada diprovinsi Banten. ➢ Guru meminta peserta didik untuk mengidentifikasi kearifan lokal yang ditemukan danhubungannya dengan kondisi masyarakat, kondisi sumber daya alam dan sumber daya lokal. ➢ Guru memberikan beberapa pertanyaan kepada peserta didik antara lain: a. Apakah jenis kearifan lokal yang ditemukan bersifat ritual dan spiritual? b. Apakah jenis kearifan lokal tersebut merupakan cara berinteraksi antar masyarakat? c. Apakah jenis kearifan lokal tersebut bertujuan untuk menjaga sumber daya alam atau sumber daya lokal yang tersedia? d. Bagaimana kearifan lokal ini dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal? e. Apa saja nilai-nilai yang ingin dibangun dari kearifan lokal tersebut? Tugas: ➢ Peserta didik diminta mengidentifikasi hubungan antara kearifan lokal di provinsi Banten dengan nilai-nilai spiritual yang ada di masyarakat sekitar pada lembar kerja. ➢ Peserta didik diminta untuk mempersiapkan 1 grup untuk latihan seni tari budaya Banten.
LEMBAR KEGIATAN 8 APA (bentuk kearifan lokal seni/ desain/ simbol/ loga Yang ditemui) tokoh/ pahlawan cara berpakaian/ tampilan seseorang humor tata letak bangunan sistem reward atau hukuman cara menyapa bentuk bangunan/ dekorasi desain organisasi tarian/ lagu/ makanan khas pepatah/ peribahasa mitos ritual/ upacara adat cara berkomunikasi tradisi/ kebiasaaan jargon PERILAKU ATAU KEJADIAN MENGAPA (makna/ asal muasal nilai religi dari bentuk kearifan pengelolaan sumber daya alam lokal yang ditemui) nilai relasi manusia dengan semesta filosofi nilai gotong royong nilai relasi manusia dengan Tuhan nilai ekonomi kesehatan Masyarakat nilai relasi dengan sesama manusia pengelolaan sumber daya local KEPERCAYAAN, NILAI DAN POLA PIKIR BERULANG
Kegiatan 9: Pembuatan poster kearifan lokal provinsi Banten Tujuan Pembelajaran: Peserta didik membuat poster tentang kearifan lokal di provinsi Banten Waktu : 6 JP Bahan : Alat tulis, media elektronik (handphone/laptop) Peran Guru : Fasilitator Persiapan: ➢ Guru memberikan arahan terkait pembuatan poster dan menyiapkan sarana untuk membuat poster. Pelaksanaan: ➢ Guru mengajak peserta didik untuk mengingat kembali kegiatan sebelumnya dengan beberapa pertanyaan pemantik seperti berikut: a. Bagaimana perasaanmu setelah menemukan berbagai jenis kearifan lokal yang diprovinsi Banten? b. Sebutkan nilai-niali spiritual yang terdapat pada setiap jenis kearifan lokal yang ditemui. ➢ Guru meminta peserta didik untuk membuat poster. ➢ Guru meminta peserta didik untuk menceritakan hasil analisis yang dituangkan dalam bentuk poster. Tugas: ➢ Peserta didik membuat poster tentang kearifan lokal yang ada di provinsi Banten dengan menggunkan media canva dan media lainnya. ➢ Peserta didik mencetak poster tersebut dalam format A3 dan mengkreasikan nya untuk ditampilkan dalam pertunjukan seni kearifan lokal Provinsi Banten.
Kegiatan 10: Pembuatan konten kearifan lokal provinsi Banten Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat membuat konten dengan tema kearifan lokal di provinsi Banten. Waktu: 3 JP Bahan : Media elektronik (handphone/laptop) Peran Guru : Fasilitator Persiapan: ➢ Guru memberikan arahan tentang pembuatan video. Pelaksanaan: ➢ Guru meminta peserta didik untuk membuat video dokumentasi kegiatan proyek dengan tema kearifan lokal di provinsi Banten dari awal hingga akhir. ➢ Peserta didik diajak untuk memberikan keterangan / penjelasan dari video tersebut. Tugas: ➢ Peserta didik diminta untuk mengunggah video tersebut ke media sosial (FB, Instagram,dan Tiktok) dalam durasi maksimal 10 menit.
LEMBAR KEGIATAN 10 Peserta didik diminta mengunggah video tersebut ke media sosial (FB, Instgram, dan TikTok) dalam durasi maksimal 10 menit.
Kegiatan 11: Pertunjukkan seni dan kearifan lokal provinsi Banten Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat menampilkan berbagai jenis kearifan lokal di provinsi Banten Waktu : 6 JP Bahan : Panggung seni dan alat peraga. Peran Guru : Fasilitator. Persiapan: ➢ Guru mempersiapkan bentuk-bentuk aksi yang ditampilkan dalam pertunjukan kearifan lokal diprovinsi Banten antara lain seni budaya tarian, kuliner, seni kriya, mitos provinsi Banten dan film documenter perjalanan outclass. Pelaksanaan: ➢ Guru membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan tema kearifan lokal (seni budaya tarian, kuliner, seni kriya dan mitos provinsi Banten). ➢ Peserta didik menujukkan aksi dari tema kearifan lokal yang dipilih. ➢ Guru memberikan asesmen formatif dan sumatif (terlampir). Tugas: ➢ Setiap kelompok menunjukan aksi dari tema kearifan lokal yang dipilih.
Kegiatan 12: Lestari budaya lokalku Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat memberikan ide / gasan terkait pelestarian budaya lokalku. Waktu : 1 JP Bahan : Lembar kerja, alat tulis Peran Guru : Fasilitator Persiapan: ➢ Guru mempersiapkan lembar kerja aksi pelestarian budaya lokalku. Pelaksanaan: ➢ Guru membagi peserta didik menjadi 3 kelompok. ➢ Guru meminta peserta didik untuk mengumpulkan ide aksi sebanyakbanyaknya dalam upaya melestarikan kearifan lokal dengan cara yang paling mungkin ia lakukan berdasarkan kemampuan kelompok. ➢ Peserta didik melakukan voting terhadap ide-ide yang dihasilkan dan memilih 1-2 ide aksi yang paling mungkin diwujudkan dalam masa yang akan datang. Tugas: ➢ Peserta didik mengerjakan lembar kerja aksi pelestarian budaya lokal secara mandiri sesuai kelompoknya masing- masing, dan mengunggahnya ke GoogleClassroom.
LEMBAR KEGIATAN 12 : AKSI PELESTARIAN BUADAYA LOKALKU No Jenis Kearifan Lokal Ide Aksi Pelestarian Budaya Lokalku Kelompok : Nama Anggota : 1. …………………………………………… 7. ……………………………………. 2. …………………………………………… 8. ……………………………………. 3. …………………………………………… 9. ……………………………………. 4. . ………………………………………….. 10…………………………………….. 5. …………………………………………… 11. …………………………………… 6. …………………………………………… 12. ……………………………………
Kegiatan 13: Evaluasi Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat mengevaluasi kegiatan proyek dengan tema kearifan lokal di provinsi Banten. Waktu : 1 JP Bahan : Lembar evaluasi. Peran Guru : Fasilitator. Persiapan: ➢ Guru menyiapkan lembar evaluasi. Pelaksanaan: ➢ Peserta didik mengumpulkan umpan balik yang diberikan oleh guru. ➢ Peserta didik di dalam kelompok bersama-sama mendiskusikan umpan balik tersebut dan memberikategori pada setiap umpan balik : a. Hal yang sudah berjalan baik. b. Hal yang dapat menjadi pengembangan ke depan. c. Pertanyaan yang di dapat. d. Ide baru yang muncul. Tugas: ➢ Mengisi lembar evaluasi aksi, dan mengunggahnya ke GoogleClassroom.
LEMBAR KEGIATAN 13 : EVALUASI Hal yang sudah berjalan baik Hal yang dapat menjadi pengembangan kedepan Pertanyaan yang didapat Ide yang baru muncul
Kegiatan 14: Refleksi Tujuan Pembelajaran: Peserta didik dapat merefleksikan pengalaman belajar tentang proyek dengan tema kearifan lokaldi provinsi Banten. Waktu : 1 JP Bahan : Lembar refleksi. Peran Guru : Fasilitator. Persiapan: ➢ Guru menyiapkan lembar refleksi. Pelaksanaan: ➢ Guru meminta peserta didik untuk menceritakan pengalaman selama mengerjakan proyek dengan tema kearifan lokal di provinsi. ➢ Guru meminta peserta didik mengisi lembar refleksi. Tugas: ➢ Peserta Didik mengerjakan G_form refleksi yang ada di G_Site. ➢ Peserta didik mengumpulkan lembar refleksi yang sudah dilengkapi, dan mengunggahnya ke GoogleClassroom.
LEMBAR KEGIATAN 14 : REFLEKSI Hal yang paling berkesan Hal yang paling menantang dan kendala saat melakukan aksi Hal baru yang kamu dapat Hal yang membantu kamu berproses Perubahan cara berfikir, perilaku, hubungan dengan lingkungan, kebiasaan sehari-hari yang dialami Perasaan yang paling dominan muncul selama proyek
ASSESMENT
INSTRUMEN PENILAIAN FORMATIF LEMBAR KEGIATAN 7 PENILAIAN DISKUSI No Sikap/Aspek yang dinilai Nama kelompok Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif Penilaian kelompok 1. Menyelesaikan tugas kelompok dengan baik 2. Kerjasama kelompok (komunikasi) 3. Hasil tugas (relevansi dengan bahan) 4. Pembagian Job 5. Sistematisasi Pelaksanaan Jumlah Nilai Kelompok Lembar Penilaian Diskusi (Individu Peserta Didik) No Sikap/Aspek yang dinilai Nama peserta didik Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif Penilaian Individu Peserta didik 1. Berani mengemukakan pendapat 2. Berani menjawab pertanyaan 3. Inisiatif 4. Ketelitian 5. Jiwa kepemimpinan 6. Bermain peran Jumlah Nilai Individu Kriteria Penilaian Kriteria Indikator Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif 80-100 Memuaskan 4 70-79 Baik 3 60-69 Cukup 2 45-59 Kurang cukup 1
Lembar Keaktifan dalam Diskusi No Aspek yang dinilai Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif 1. Bertanya (cara) 2. Menjawab pertanyaan 3. Kesesuaian dengan topik kajian 4. Cara menyampaikan pendapat 5. Antusiasme mengikuti pembelajaran KRITERIA PENILAIAN Kriteria Indikator Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif 80-100 Memuaskan 4 70-79 Baik 3 60-69 Cukup 2 45-59 Kurang 1