The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by gilangilhammahendra, 2023-01-03 23:01:27

Kumpulan Cerpen Kelas 9C

Kumpulan Cerpen Kelas 9C

Tim Penyusun

Penanggung jawab : Maya Anidya Citra
Wakil : Azis Novian Ardavi
Pengumpul : -Azis Novian Ardavi

Desain -Frisca Aulia
: -Abdul Aziz
Editor
-Navaria Marsha Suntawinarsyah
: -Nashwa Ashar Az-Zahra

-Zia Mazaya Qanita
-Navaria Marsha Suntawinarsyah
-Frisca Aulia
-Maya Anidya Citra

Kata Pengantar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Salam sejahtera. Om
Swastiastuh.

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyusun tugas
kumpulan cerpen dengan baik.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada guru kami Bogie Assasulillah Maharani S.Pd. selaku pembimbing dalam
pembelajaran bahasa Indonesia. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang turut membantu dalam penyusunan karya ini.

Karya tulis ini berisi kumpulan cerpen dan merupakan tugas akhir dalam
materi cerita pendek (cerpen) di kelas IX. Setiap karya yang ada disini dibuat
berdasarkan imajinasi milik masing-masing siswa. Harapan kami dengan adanya
karya ini dapat menginspirasi banyak orang sekaligus dapat menghibur.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa karya kami masih banyak kesalahan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami dengan ikhlas menerima kritik
dan saran yang membangun dari seluruh pembaca.
Terima kasih.

Sidoarjo, 04 Januari 2022

Penulis

i

Daftar Isi

Kata Pengantar ..................................................................................................... i
Daftar Isi .............................................................................................................. ii
Lebih Baik Jujur .................................................................................................. 1
Perselisihan Saat Lomba Pidato ........................................................................... 3
Bersikap Rendah Hati .......................................................................................... 5
Kebaikan Dari Si Rafli ......................................................................................... 7
Last Flight ............................................................................................................ 9
Indahnya Persahabatan .........................................................................................11
Cerita Horor .........................................................................................................12
Gelang Persahabatan ............................................................................................14
Takdir ..................................................................................................................16
Doni Yang Tobat .................................................................................................20
Taman Rahasia ....................................................................................................22
Langit dan Dendamnya ........................................................................................25
Art Definity .........................................................................................................29
Langit Gelap Bercerita .........................................................................................34
My Friend My Boyfriend .....................................................................................36
Aku dan Kamu .....................................................................................................38
Persahabatan ........................................................................................................40
Insecure ...............................................................................................................41
Yang Tak Sempat Terucap ...................................................................................45
Ingin Menjadi Raja Bajak Laut ............................................................................49
Welcome Back To School ....................................................................................51
Sahabat Sejati ......................................................................................................52
Hari Pertama Setelah Liburan Sekolah .................................................................54
Kita Itu Beda! ......................................................................................................56
Inikah Kebahagiaan? ............................................................................................63
Profil IX-C ...........................................................................................................67

ii

Lebih Baik Jujur

Karya
ABDUL AZIZ

Hari ini aku sekolah seperti biasanya. Tapi aku merasa lemas sekali. Ini karena aku
bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan. Aku juga lupa tidak membawa bekal. Rasanya aku
ingin sekali makan saat ini juga. Cacing-cacing yang ada di dalam perutku sudah meronta-ronta.
Aku jadi tidak fokus dengan penjelasan Bu Guru tentang materi fotosintesis.

Sekarang guruku meminta semua siswa untuk mengerjakan latihan soal yang ada di buku
siswa. Aku masih belum paham dengan materi yang diajarkan oleh Guruku. Aku berusaha
memahami soal-soal yang ada di buku sambil mengingat yang diajarkan oleh Guruku. Hendra,
teman sebelahku melihat heran ke arahku. “Lif kamu kok lemas begitu?” Tanya Hendra sambil
menyenggolku. “Hah? Kamu tanya apa?” Jawabku kebingungan. “Kamu itu kenapa kok lemas?
Nggak fokus juga sama pelajaran. Kamu sakit?” Ulang Hendra. “Nggak sakit kok, cuma lapar
aja.” Jawabku jujur. “Oh lapar ternyata, aku kira sakit.” Hendra terkekeh mendengar jawabanku.
“Aku tadi nggak sempat sarapan karena bangun kesiangan. Makanya sekarang aku lapar.”
Jelasku padanya. “Ya udah tahan dulu Lif. Sebentar lagi bel istirahat. Sekarang kamu kerjain aja
soal-soal ini, siapa tahu laparmu hilang.” Mendengar jawaban Hendra membuatku kesal
kepadanya. Memang Hendra ini teman yang humoris dan suka memberikan candaan pada
temannya.

Akhirnya aku kembali mengerjakan soal-soal yang ada di buku siswaku. Soal-soal itu
sangat sulit, hanya 5 dari 25 soal saja yang sudah ku jawab. Jam masih menunjukkan pukul
09.10 yang artinya waktu istirahat masih kurang 10 menit lagi. Karena aku sudah tidak sanggup
lagi mengerjakan soal, aku memutuskan untuk menggambar di buku tulisku. Aku memang suka
menggambar. Aku mencoba menggambar kartun kesukaanku, dragon ball. Tidak lama
kemudian, bel istirahat berbunyi. “Anak-anak, sekarang kalian istirahat terlebih dahulu. Nanti
bisa dilanjutkan lagi untuk mengerjakan tugasnya.” Ucap Guruku.

Aku langsung keluar kelas dengan Hendra untuk menuju kantin kejujuran. Kantin
kejujuran merupakan salah satu cara dari sekolahku untuk menanamkan nilai kejujuran pada
siswa. Sistem dari kantin kejujuran yaitu, pembeli mengambil barang sendiri dan meletakkan
uang ke dalam wadah yang telah ditentukan sesuai dengan harga yang tertera pada setiap barang.

Saat tiba di kantin, aku berpisah dengan Hendra dan memutuskan untuk bertemu lagi di
depan kantin kejujuran. Aku langsung memutuskan untuk membeli sebuah roti sandwich dan 2
bungkus biskuit. Keduanya adalah makanan favoritku, apalagi roti sandwichnya. Dengan isi
telur, keju, selada, timun, mayonnaise, dan saus tomat membuat sandwich ini memiliki rasa yang
nikmat dan cukup mengenyangkan. Aku merogoh saku kanan celanaku, namun aku tidak
menemukan selembar uangpun, begitu juga dengan saku sebelah kiri. Aku berusaha mengingat
dimana aku meletakkan uangku. Aku lupa jika tadi aku belum mendapatkan uang saku dari
ayahku. Aku bingung, bagaimana aku membayar makanan ini. “Apa aku harus meminjam uang
pada Hendra ya?” Batinku. Tapi aku mengurungkan niat itu, karena uangnya Hendra pasti tidak
cukup untuk membayar makananku. Sebuah ide muncul di otakku untuk membawa makanan ini
tanpa membayarnya. Sebenarnya aku ragu dengan ideku karena ini tindakan yang tidak jujur.
Dengan terpaksa aku melakukan ini, tapi aku berjanji akan membayarnya besok.

Aku menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihatku.
Sekarang kondisi kantin mulai sepi, aku langsung berlari menghampiri Hendra dan mengajaknya
kembali ke kelas. Tanpa sadar, ada seseorang yang melihat tindakanku. Saat di kelas, aku
langsung memakan makanan yang kubeli tadi dengan lahap.

1

Bel masuk kelas berbunyi. Pelajaran berlangsung seperti biasa. Tidak terasa, sudah jam
13.00 yang berarti waktunya pulang. “Anak-anak, sekarang kalian boleh mengemasi barang-
barang dan pulang. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang telah Ibu berikan dan belajar
materi berikutnya. Untuk Alif jangan pulang dulu ya, Ibu ingin bicara denganmu.” Ucap bu guru.

Aku kaget, kenapa bu guru tiba-tiba ingin bicara denganku. Kelas akhirnya kosong dan
menyisakan aku dengan Bu Guru. “Alif, tadi IIbu melihatmu membeli makanan di kantin. Apa
benar begitu?” Tanya Bu Guru. “Iya Bu.” Jawabku ketakutan. “Lalu, tadi Ibu melihatmu belum
membayar makananmu. Apa benar begitu?” Tanya Bu Guru lagi. Ternyata Bu Guru melihat
tindakanku tadi. Aku bingung harus menjawab apa. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk
menjawab dengan jujur. “Maafkan saya Bu. Saya terpaksa melakukan itu karena saya sangat
lapar dan saya lupa membawa uang. Tapi, saya janji besok akan membayarnya.” Jawabku
ketakutan. “Alif lain kali jangan begitu lagi ya. Kalau kamu tidak membawa uang, kamu bisa
meminjam uang pada teman-temanmu atau pada Ibu.” Ucap Bu Guru sambil mengelus kepalaku.
“Untuk makananmu tadi sudah Ibu bayar. Kamu tidak perlu menggantinya.” Sambungnya.

Aku sangat malu sekali. Aku berterima kasih dan meminta maaf lagi pada Bu Guru. Aku
berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi.

2

Perselisihan Saat Lomba Pidato

Karya
ADRIAN DWI PRAYOGA

Ada seorang anak bernama Abdul, dia merupakan siswa kelas 9 yang sangat pintar dan
baik hati. Anak-anak di sekolah itu banyak yang menyukainya karena sikapnya tersebut. Tidak
heran jika semua ingin berteman dengan Abdul. Ada juga anak laki-laki bernama Azis, ia
berbanding terbalik dengan Abdul, ia pintar namun sangat sombong. Ia hanya memiliki dua
teman saja, yaitu Jefri dan Dani. Azis selalu iri dengan Abdul karena kepintarannya sama dengan
dirinya. Pada saat pembelajaran bahasa Indonesia, mereka akan bersaing satu sama lain. Azis
selalu tak ingin kalah dengan Abdul, ia akan menyombongkan dirinya di hadapan teman-
temannya terkait nilai-nilainya. Saat ada soal di papan tulis yang ditulis oleh gurunya, Abdul pun
ditunjuk untuk menjawab soal tersebut, dan semua jawaban yang ia tulis selalu benar. Hal ini
yang menyebabkan Azis selalu merasa iri dengan Abdul.Namun ketika Azis mendapatkan nilai
lebih tinggi dari Abdul, ia selalu sombong dan memamerkan nilainya kepada teman-teman
lainnya. Teman-temannya menanggapi biasa saja karena sudah tau wataknya Azis yang sombong
itu. Kemudian saat jam istirahat, Azis selalu bermain dengan 2 orang temannya saja, dia tidak
mau berteman dengan teman lainnya. Sedangkan Abdul akrab dengan semua murid di sekolah,
karena dia mempunyai sikap yang ramah dan rendah hati.

Suatu hari, Pak Guru mengumumkan bahwa akan diadakan lomba pidato di sekolahnya.
Lomba tersebut akan dilaksanakan dua minggu lagi. Pak Koesmoko selaku wali kelas 9
membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin mengikuti lomba tersebut.
Abdul dan Azis jelas akan ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Setiap hari, mereka selalu berlatih
membaca pidato agar lolos. Hingga akhirnya hari penyeleksian tiba, keduanya memberikan
penampilan yang sangat memukau dan mereka berdua dinyatakan lolos dan akan tampil lagi di
babak berikutnya.

Dan di kemudian hari saat penyeleksian pidato, Abdul menjadi lebih giat berlatih agar
menjadi juara dalam lomba pidato tersebut. Akan tetapi, Azis selalu meremehkan perlombaan
ini. Azis berleha-leha, ia tidak memikirkan lomba tersebut karena ia yakin akan memenangkan
lomba pidato ini. Sehari sebelum dilaksanakannya lomba pidato itu, Pak guru memberikan soal
yang cukup sulit, tetapi Abdul berhasil mengerjakan soal itu dengan mudah. Sedangkan Azis
terlihat sangat meremehkannya saat mengerjakan soal itu. “Azis, kenapa kamu tidak
mengerjakan soal yang diberikan Pak Guru itu? Apakah kamu kesulitan?” Tanya Abdul kepada
Azis. Lalu Azis menjawabnya, “Tidak, ini sangat mudah. Aku bisa mengerjakan ini sendiri.”
Jawab Azis dengan penuh kesombongannya. Lalu Abdul menjawab “Baiklah kalau begitu,
waktunya sudah mepet loh.” Azis menghiraukan perkataan Abdul “Sudah santai aja, aku bisa
mengerjakan ini dengan cepat, karena soal ini cukup mudah.”

Tiba waktu pengumpulan tugas, terlihat Azis sangat tergesa-gesa mengerjakan tugasnya,
karena waktu untuk mengerjakan soal sudah habis, tetapi dia belum selesai. Lalu Abdul
menghampiri Azis dan berkata “Ayo cepat kumpulkan tugasmu!” Azis menjawab, “Aku belum
selesai.” Hingga waktu pelajaran Pak Guru itu sudah habis, Azis belum juga mengumpulkannya.
Meski begitu, Azis terlihat sangat biasa saja. Dia tidak menyesali perbuatan yang ia lakukan tadi.

Keesokan harinya, setibanya di sekolah Azis berbincang dengan murid-murid lainnya.
Seperti biasa, ia akan menyombongkan dirinya “Aku pasti akan memenangkan lomba ini, tidak
ada orang yang bisa mengalahkan aku.” Ucap Azis yang dengan percaya dirinya. Kemudian
Abdul menjawab, “Hey Azis, janganlah kamu sombong terlebih dahulu. Apakah kamu sudah
yakin memenangkan lomba ini?” Lalu Azis berkata, “Ya, aku sudah yakin jika aku akan menjadi
pemenangnya.” “Baiklah kalau begitu, jika kalah jangan nangis ya.” Ucap Abdul kepada Azis.

3

Teman sekelasnya pun tertawa dan Azis merasa malu. Ia pun segera kembali ke tempat
duduknya.

Saat hari perlombaan tiba, Azis terus saja menyombongkan dirinya. Ia selalu menyatakan
bahwa ia pasti akan juara. Sebab sebelumnya, dia pernah menjadi juara lomba pidato saat kelas 8
SMP. Berbeda dengan Abdul, ia tidak henti-hentinya berdoa dan berlatih. Ia mencoba menghafal
kembali teks pidato miliknya. Dan waktu perlombaan telah dimulai, Azis dipanggil terlebih
dahulu untuk menampilkan pidatonya. Sang juara pidato saat kelas 8, kini mendadak lupa teks
pidato yang sudah dihafalnya. Ia merasa gelisah dan mau tidak mau ia tetap melanjutkan
pidatonya dengan kalimat seadanya. Setelah Azis selesai berpidato, kini giliran Abdul maju ke
depan dan ia memberikan penampilan yang sangat luar biasa. Semua juri terpukau melihat
penampilannya, termasuk Pak Koesmoko yang saat itu datang untuk menemani mereka lomba.

Pengumuman hasil lomba pun tiba. Abdul menjadi juara 1 dalam lomba pidato,
sedangkan Azis harus menahan air matanya karena kali ini dia tidak menang. Azis tidak terima
bahwa ia harus kalah dengan Abdul, ia mengajak para temannya yang lain untuk menghajar
Abdul atas kekalahannya. Azis mempunyai sebuah rencana yang sudah ia siapkan matang-
matang. “Eh woy, aku punya rencana buat si Abdul, aku ga terima ya aku kalah gitu aja. Nanti
kita kumpul di tempat biasa buat bahas rencananya.” “Oke.” jawab serempak temannya.

Saat tiba di tempat yang dimaksud dan teman-temannya sudah berkumpul semua, Azis
mulai membicarakan rencananya. “Jadi aku punya rencana gini, pas waktu pulang sekolah Abdul
kan lewat gang sebelah warung itu kan, kita sebar kelereng supaya dia kepleset dan jatuh.
Gimana setuju ga?” Tanya Azis pada temannya. “Kenapa ga kita pukuli aja? Kan seru.” Usul
salah satu temannya. “Ya, kau pikir aja, nanti kita masuk BK gimana?” “Oh ya juga.” “Oke
besok ya, aku yang bawa kelerengnya.” Ucap Azis. Keesokan harinya saat pulang, Abdul
mempunyai firasat yang tidak enak sekali, tetapi ia menepisnya jauh-jauh. Selanjutnya saat
berjalan di gang, ia merasa ada yang mengawasinya terus, tetapi ia tetap berjalan.

Hari esok bersekolah, Abdul tidak masuk karena terpeleset kemarin hingga masuk
Rumah Sakit. Di benak Azis, ia merasa bersalah kemudian ia menjenguk Abdul dan mengatakan
yang sejujur-jujurnya. Abdul yang mendengar itu sedikit sakit hati tapi dia tetap memaafkan
kesalahan Azis.

Dan semenjak kejadian waktu itu, Azis menjadi lebih giat belajar agar dapat
memenangkan lomba pidato selanjutnya, dan juga hubungan antara Azis dan Abdul semakin
dekat tidak seperti dahulu lagi.

4

Bersikap Rendah Hati

Karya
AFIF MAHDIYANTO

Ada seorang anak bernama Nabila, dia merupakan murid kelas 3 SMP yang sangat pintar
dan baik hati. Tidak heran jika ia memiliki banyak teman karena sikapnya itu. Ada lagi anak
perempuan bernama Risa, ia berbanding terbalik dengan Nabila. Risa juga merupakan salah satu
murid, namun ia sangat sombong. Temannya hanya dua yaitu Fitri dan Lisa, gadis kembar di
sekolahnya.

Suatu hari Ibu Guru mengumumkan bahwa ada lomba membaca pidato yang di gelar
minggu lagi. Bu Erni selaku kepala sekolah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja
yang ingin mengikuti seleksi. Nabila dan Risa tentu saja berpartisipasi. Fitri dan Lisa membantu
Risa untuk berlatih tetapi ia tidak mau berlatih karena dirinya percaya bahwa dialah yang akan
memenangkan lomba pidato. Berbeda dengan Risa, Nabila terus berlatih membaca pidato agar
bisa lolos seleksi.

Sampai hari penyeleksian tiba, keduanya memberikan tampilan yang memukau hingga
akhirnya juri menyatakan bahwa mereka lolos.

Lalu saat mereka akan pulang, Risa dan temannya membully Nabila. Risa mengejek
Nabila, lalu Fitri mendorong Nabila hingga terjatuh. Nabila merasa punggungnya sakit. Namun,
Risa dan temannya hanya tertawa terbahak-bahak. Setelah itu Risa dan temannya pulang,
meninggalkan Nabila yang kesakitan. Untung saja ada temannya yang belum pulang dan
membantu Nabila berdiri dan mengantarkannya pulang ke rumah. Temannya yang membantu
tersebut namanya Arita. Arita adalah teman baik Nabila.

Sesampainya di rumah, Nabila berterimakasih kepadaa Arita yang sudah
mengantarkannya pulang. Awalnya Nabila sudah meminta Arita untuk pulang, namun Arita
menolak, dia ingin membantu Nabila berlatih berpidato sejenak. Setelah selesai, Arita segera
pulang ke rumahnya. Nabila berterimakasih lagi kepada Arita.“Nabila jika kamu butuh bantuan,
katakan saja padaku!” Ucap Arita yang lalu hanya di jawab anggukan oleh Nabila. Setelah Arita
pulang dari rumahnya, ia segera istirahat agar punggungnya pulih kembali.

Beralih pada Risa. Sesampainya di rumah, ia tidak akan berlatih berpidato karena dia
yakin sudah bisa, malah Risa mengajak dua temannya pergi ke luar untuk bermain bersama.
Kemudian saat bermain, mereka pun merencanakan sesuatu hal pada Nabila saat sebelum lomba
di mulai. Rencananya Mereka akan menggangu Nabila agar Nabila tidak bisa berpidato. Fitri dan
Lisa setuju dengan apa yang di rencakan Risa. Mereka tertawa seperti orang jahat yang ada di
film-film.

Hari perlombaan tiba, Risa dan temannya akan memulai rencananya. Dengan
mengendap-endap Fitri dan Lisa memasukkan obat diare ke botol minum Nabila. Setelah itu
mereka segera pergi dari tempatnya. Tak lama datanglah Nabila, ia merasa sangat haus.
Akhirnya ia langsung meneguk habis air yang ada di dalam botol minumnya. Setelah 5 menit ia
merasakan perutnya mules. Dengan terburu-buru ia pergi ke kamar mandi. Fitri dan Lisa diam-
diam mengambil kunci kamar mandi di ruang guru. Dua bersaudara itu mengikuti dan mengunci
Nabila dari luar kamar mandi.

Setelah Nabila selesai dengan urusannya, ia ingin segera pergi ke kelas karena ia akan
berlatih lagi sebelum lomba di mulai. Dia mencoba membuka pintunya, namun gagal. Pintu itu
tak kunjung terbuka. Dengan panik ia berteriak meminta pertolongan. Fitri dan Lisa pun segera

5

pergi ke kelas dan memberi tau Risa bahwa Nabila sudah di kunci di dalam kamar mandi. “Ris,
tugas kita udah selesai nih. Si Nabila udah kekunci. Bagus kan kerja kita?” Lapor Fitri dengan
suara pelan. “Yayayaya siplah. Btw siapa dulu dong yang punya ide?” Bisik Risa dengan
bangga. Risa merasa senang sekali karena ia akan memenangkan lomba pidato dengan mudah.
Perlombaan akan dimulai 20 menit lagi. Risa pun segera pergi ke tempat perlombaan tersebut.

Sementara Nabila terus meminta pertolongan. Untungnya Arita ke kamar mandi sehingga
mendengar teriakannya. Arita merasa tidak asing dengan suara tersebut akhirnya sadar. “Sabar
ya! Aku cari pertolongan dulu.” Arita sesegera mungkin memanggil petugas kebersihan untuk
membukanya. Sesudah di buka Nabila sangat berterimakasih kepada Arita dan petugas
kebersihan. “Pak, Terimakasih telah menolong saya.” Kata Nabila sopan. “Oh ya makasih juga
Arita. Untung aja tadi kamu lewat kamar mandi dan denger suaraku, kalau ngga mungkin aku
bisa kekurung di situ sampe gabisa ikut lomba pidato.” Lanjutnya. “Iya sama-sama Bila, eh iya
lombanya mau mulai ayo cepat kesana bila takut kamu telat, aku nyusul di belakang.” Arita
memberitahu. Nabila pun terburu-buru.

Lomba pidato sudah di mulai dan Sang juara kelas 8 SMP yaitu Risa di panggil terlebih
dahulu, sayang seribu sayang Risa mendadak lupa akan teks pidatonya yang sudah di hafalnya.
Ia pun berhenti sebentar dan mengingat-ingat lalu melanjutkannya lagi. Tentu saja itu dapat
mengurangi poin. Sesudah Risa berpidato, Nabila datang tepat waktu dan segera maju disusul
Arita yang ada di belakangnya. Terlihat jelas dari raut Risa dan temannya bahwa mereka
terkejud. Arita memperhatikan sekitarnya kemudian matanya menangkap ekspresi aneh dari Risa
dan dua temannya itu, Arita sontak mencurigai mereka lalu mendekat kearah ketiga orang
tersebut berniat menguping pembicaraan. “Loh, kok... Nabila ada disini?? Bukannya kalian udah
ngunci dia?” Tanya Risa dengan nada berbisik. “Lah iya kok bisa sih? Padahal tadi beneran deh
udah kita kunci Ris.” jawab Fitri. “Aduhh… semoga aja ga ada yang tahu kalau kita yang
ngerencanain ini buat Nabila.” Cemas Risa.

Saat Nabila maju , ia memberikan penampilan yang bagus. Semua juri kagum melihat
penampilannya yang luar biasa. Setelah itu pengumuman pun tiba, Nabila keluar menjadi juara 1
sedangkan Risa menahan air matanya karena dia tidak memenangkan lomba pidato dan
rencananya yang sudah ia susun matang-matang telah hancur. Sepeninggal Risa, Arita memberi
tau Nabila siapa yang menguncinya di dalam kamar mandi. Nabila terkejut dan berencana akan
memarahi mereka bertiga. Tetapi Arita menahannya dan Nabila membiarkan hal itu terjadi dan
bersabar. Hal ini mengajarkan kita bahwa harus menjadi orang yang rendah hati, tidak sombong
dan tidak berbuat keburukan.

6

Kebaikan Dari Si Rafli

Karya
AHMAD SOFYAN WAHIDIN

Disuatu desa lahirnya anak dari keluarga yang cukup sederhana,bernama Rafli. Ia tinggal
didesa Kedung Anom. Rafli ini adalah seorang anak petani apel sejak kecil dan dia mempunyai
cita cita menjadi TNI-Angkatan Darat. Di masa kecilnya yang masih berumur 13 tahun dia sudah
diajarkan cara untuk sopan dan santun kepada orang lain juga membantu orang yang kesusahan.
Meskipun dia anak dari keluarga susah tapi hatinya tidak gentar untuk membantu orang yang
disekitarnya dan tetap semangat.

Suatu hari…..

Dia berjumpa dengan seorang anak yang sepertinya sedang kesusahan dan butuh bantuan,
lalu rafli bertanya “Hallo, salam kenal namaku Rafli, kalau boleh tau siapa namamu?” ucap si
Rafli. Anak itu pun menjawab “Hallo salam kenal juga, namaku adalah Bagas” lalu si rafli
membalas dengan senyuman bagai cerahnya sinar matahari. Si Rafli kembali bertanya “Gas,
apakah kamu lagi kesusahan?”. “iya fli, aku lagi kesusahan dan butuh teman untuk berbicara”
jawab Bagas. tanya rafli “lantas apa yang kau ingin bicarakan?”.

Singkat cerita akhirnya mereka bercerita Dari A-Z. Kesimpulannya adalah, Bagas
mempunyai keluarga yang ekonominya sulit/miskin. Bagas sangat butuh dana untuk biaya
sekolah atau kalau tidak dia akan putus sekolah, bagas tidak mau putus sekolah karena cita –
citanya adalah menjadi seorang Doktor. Menanggapi hal tersebut rafli dengan ketulusan hatinya
bersiap mengulurkan tangannya untuk memberikan bantuan kepada bagas. Setelah mereka
berbincang cukup lama, Rafli membuat sekotak kardus yang nantinya dibuat untuk uang
sumbangan dan diberikan kepada Bagas. Oleh itu Rafli langsung gerak cepat meminta
sumbangan kepada warga desa Kedung Anom. Dari pagi – sore dia jalani membawa pikul
sekotak uang untuk diberikan kepada temannya tersebut. Hari demi hari dia berkeliling desa, dan
setelah 1 minggu uang sumbangannya telah terkumpul 1 kotak penuh. Si Rafli pun sangat
senang. senyumnya yang lebar sekali tidak pernah luntur dari wajahnya. Dia langsung bergegas
menuju rumah bagas di desa sebelah yang bernama Kedung Babat.Rafli pun bertanya – tanya
kepada orang orang desa tersebut tentang keberadaan rumah Bagas. setelah bertanya pada warga
desa cukup lama. Akhirnya Rafli menemukan rumahnya Bagas. Lantas seketika hati rafli pun
retak karena melihat rumah bagas yang sangat tidak layak untuk dihuni. Seketika itu tiba-tiba
Rafli menangis didepan rumah bagas. Bagas yang tiba-tiba mendengar tangisan itu keluar dari
rumah untuk melihat siapa yang menangis didepan rumahnya. Bagas membuka pintu dan melihat
Rafli sudah banjir air mata, Bagas merasa sangat bingung kenapa Rafli menangis didepan
rumahnya. Bagas memutuskan untuk bertanya “kenapa kau menangis Rafli?”. Rafli pun
menjawab “seketika hatiku remuk melihat rumahmu yang tidak layak untuk ditinggali.” Bagas
terdiam dan mencoba menenangkan rafli dengan seduhan teh panas dirumahnya. Bagas dan Rafli
bercerita diteras rumahnya. Mereka bercerita empat mata antara si Rafli dan Bagas. Ternyata
Bagas mempunyai banyak masalah, mulai dari ibunya yang sakit-sakitan, ayahnya kerja
serabutan dan Ekonomi dari keluarga Bagas ini membengkak parah.

Singkat cerita, Rafli segera memberi segumpal uang yang cukup banyak untuk diberikan
kepada bagas, Bagas pun lantas terkejut dan bertanya tanya kepada Rafli “bagaimana kau
mendapatkan uang sebanyak ini kawan?” rafli pun menjawab dengan raut wajah yang sangat
senang dan gembira “ini adalah uang dari warga desa kedung anom untuk diberikan kepada

7

kamu gas.” Seketika muka bagas tiba tiba berlinang Air mata dan berterima kasih kepada si
Rafli karena telah membantunya memberi segumpal uang yang sangat banyak, Rafli pun ikut
senang dengan sikap bagas yang ceria dan bisa bersekolah lagi untuk mencapai cita citanya
menjadi doktor.

Setelah itu rafli kembali pulang ke desa kedung Anom dengan berjalan kaki dengan hati
yang riang. Saat di perjalanan, dia menemukan seorang kakek yang sudah sangat tua dan sudah
tidak kuat dengan beban yang dipikulnya. Tanpa basa-basi dia pun segera mengangkat bebannya
ke badannya tersebut untuk diantar ke tujuan tersebut, dengan kondisi yang sangat panas
menyengat si Rafli pun mencoba mengangkat sekuat tenaga. Saat sudah sampai ketujuan, kakek
tersebut pun berterima kasih kepada si rafli atas ketulusan dan tenaganya untuk membantu si
kakek sampai tujuan yang diinginkan. Rafli pun kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang .
Setelah menempuh waktu selama 30 menit, akhirnya si rafli pun sampai rumah dengan gembira
dan ceria karena telah membantu orang. Rafli menceritakan kepada orangtuanya. Ayahnyayang
mendengar cerita anaknya itu sangat bangga, karena memiliki anak yang sangat gemar
membantu orang yang membutuhkan, dan ia juga tidak gagal dalam mendidiknya.

Keesokan harinya disekolah….

si Rafli bertemu dengan Bagas yang menampilkan raut sangat gembira karena dia bisa
sekolah lagi. Rafli yang melihat hal tersebut seketika tersenyum lebar melihat temannya yang
bahagia tersebut. Rafli pun menghampiri si Bagas dengan berkata “Hai Gas, gimana kabarmu?”.
Bagas menjawab dengan senang hati “baik Flii, terima kasih ya Fli telah membantuku, kalau
bukan kamu siapa lagi yang akan membantuku.” “tidak masalah bagas, jangan dipikirkan yang
penting kamu bisa sekolah kembali dan bisa mencapai cita cita mu untuk menjadi doktor.”ucap
Rafli.

Bel masuk berbunyi. Mereka masuk kelas masing-masing. setelah pulang sekolah Rafli
mengajak Bagas untuk kerumahnya, Bagas pun dengan gembira hati ikut kerumah Rafli, dan
bertanya tanya tentang masa depannya Mereka berdua.

“Rafli, kamu mau jadi apa” Tanya Bagas. Rafli pun menjawab dengan tersenyum “saya
mau menjadi abdi negara atau TNI.” “Oh iya Gas, jika kamu ingin meraih cita cita mu kamu
harus belajar sungguh dan buktikan bahwa kamu bisa dan tunjukkan bahwa kamu bisa sekolah
tinggi, semangat untuk menjadi doktor!” lanjutnya. Seketika motivasi dari Rafli pun tiba tiba
tertanam dihati bagas. Setelah berbincang bincang cukup lama mereka berdua pun di suguhi
makanan yang cukup istimewa dirumah rafli dan menyantapnya dengan selahap mungkin. Tidak
lama kemudian selepas makan, Bagas pamit untuk pulang. Mengingat kondisi ibunya yang sakit
dan tidak ada yang merawat. Setelah sampai di rumah. ia langsung ganti pakaian lalu merawat
ibunya sambil belajar agar impiannya tercapai untuk menjadi doktor. Meskipun baginya menjadi
doktor itu adalah hal yang mustahil baginya karena dia adalah keluarga yang tidak mampu, tetapi
dia tidak peduli, dia akan terus berjuang dan menanamkan hatinya untuk menjadi dokter dan
mengingat motivasi yang baru saja tadi disampaikan oleh temannya yaitu, si Rafli.

Beberapa tahun kemudian….

ereka telah berhasil mencapai cita cita nya masing masing. Rafli sangat bangga menjadi
abdi negara karena TNI adalah cita cita nya sejak kecil. Juga Bagas sangat sangat sekali bangga
dengan biaya tidak tercukupi dia berhasil kuliah diluar negeri dan melanjutkan sampai ke jenjang
doktor, dia mendapat beasiswa dari sekolahnya karena dia termasuk anak rajin dan teladan.Dan
kebaikan dari si Rafli tidak akan dilupakan oleh si Bagas saat ia kesusahan akibat perekonomian
keluarganya. Dengan kemampuannya, juga nasigat dari orangtuanya, kebaikan si Rafli terlihat.

8

Last Flight

Karya
ANAN DHITA FEBRIYANTI

Tidak hanya laki laki sekarang perempuan pun banyak yang tertarik menjadi seorang
pilot. Seperti Kareen, gadis berusia 17 tahun ini tertarik menjadi seorang pilot, agar sama dengan
sang papa. Gadis dengan nama lengkap Leticia Kareen Dirgantara ini mengenal dunia
penerbangan sejak kecil karena pekerjaan ayahnya.

Pak Dirga atau Kapten biasa Kareen memanggilnya sosok yang pundaknya begitu tegap
dan dadanya menjadi tempat bersandar ternyaman, dia memainkan dua peran kehidupan sebagai
ayah dan ibu untuk sang anak. Istrinya meninggal akibat serangan jantung ketika anak mereka
baru berusia 5 tahun. Hidup dengan salah satu orang tua tentu berat bagi Kareen apalagi papanya
jarang di rumah, beruntunglah dia mempunyai Tama di sampingnya sebagai sosok papa, kakak
sekaligus temannya. Tama adalah teman Dirga sejak masa SMA. Kedekatan mereka sudah
seperti saudara kandung.

Pagi ini Kareen berangkat sekolah dengan diantar sang papa yang sekaligus akan pergi
dinas keluar negeri untuk beberapa hari. Sepanjang perjalanan hanya terjadi keheningan dengan
Kareen yang fokus memandang ke arah papanya, menurutnya papanya itu begitu keren dengan
usia yang tidak lagi muda namun ketampanan nya tidak berkurang. "Belajarlah dengan rajin juga
jangan merepotkan Om. Papa berangkat dulu oke? Jangan lupa untuk menunggu papa pulang."
"Siap laksanakan kapten!" Ucap Kareen dengan tangan membentuk hormat, Dirga kemudian
mencium kedua pipi nya pergantian. Tidak jauh berbeda dengan remaja pada umumnya Kareen
mempunyai banyak teman di sekolah nya. Dia memfokuskan masa sekolahnya pada pendidikan
dan mengesampingkan kisah asmaranya menurutnya masih terlalu dini untuk memikirkan itu.
Dirga tidak pernah menuntutnya untuk juara namun Kareen berhasil meraih juara kelas sejak
SMP dan memenangkan beberapa lomba sains tingkat nasional.

Sekolah sekarang pulang pukul 3 sore, baru saja Kareen akan memesan ojek jika klakson
sebuah mobil tidak mengejutkan nya. Wah sebuah keajaiban karena Tama sudah menjemputnya
yang diketahui bahwasanya dia adalah pemalas. "Tumben sekali sudah nangkring di sekolah?
berubah menjadi pengangguran?" "Eh astaga mulutmu, ya Tuhan sopan sedikit aku ini seumuran
dengan papamu Kareen. Ayo ikut aku menemui klien sebentar sekalian ku belikan makanan
nanti." "Baik tuan Aditama yang terhormat."

Sesampainya di rumah setelah mengikuti Tama bertemu klien Kareen segera
membersihkan dirinya dan mengulang materi sekolah kemudian dia melanjutkan dengan makan
malam. "Ah lelahnya, omo omo jam berapa sekarang? Apa papa belum nelpon atau aku yang
harus menelepon nya?” tutt tutt~~ tutt tutt~~"Aish kenapa tidak tersambung ke mana papa ini?"
Karena telepon yang tidak kunjung tersambung Kareen memutuskan untuk mengirimkan
beberapa pesan kepada ayahnya sebelum dia tertidur malam itu.

Pagi yang buruk, begitu Kareen menyebutnya. Dia bangun dengan perasaan yang tidak
menentu, sedih, takut dan merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Karen segera mengambil
ponselnya untuk mengecek apakah dia mendapat balasan dari sang papa. Senyumnya mereka
karena membaca pesan yang mengatakan papa nya ketiduran tadi malam dan akan bersiap
terbang untuk pagi ini menuju rute penerbangan selanjutnya. Setelah membalas pesan sang papa
Kareen segera bersiap untuk berangkat sekolah cuaca hari ini cukup cerah dan Kareen berharap
agar suasana hatinya juga cepat cerah.

Sore itu entah bagaimana cuaca tiba-tiba berubah menjadi mendung dan hujan mulai
turun. Kareen segera memencet nomor telepon Tama untuk menjemputnya. 1 jam kira-kira
Kareen menunggu tapi Tama tak kunjung datang oh sungguh gadis itu akan mengumpati nya jika

9

dia datang nanti. 'Akhirnya datang' ucap Kareen dalam hati, Kareen segera bersiap untuk
mengomeli Tama jika dia tidak tiba tiba memeluk nya. Karen merasakan bajunya mulai basah,
tunggu… Apa Tama menangis? Seorang Aditama? "Ada apa? Kenapa tiba tiba menangis? Hei
Om tenanglah, bercerita pelan pelan." Tama mendongak menatap kedua mata Kareen kemudian
mencium kening gadis itu lama. Terlihat jelas matanya yang telah sembab. "Putri kecil, maaf
karena sang kapten memilih mengudara selamanya." JEDARRR~~ Seakan tahu terdapat duka,
petir menyambar dengan keras dan detik itu juga Kareen pingsan dalam pelukan Tama.

Perlahan Kareen mencoba mengumpulkan kesadarannya kepalanya pening bukan main.
Di ingatan terakhirnya ketika Tama memeluknya di depan sekolah tadi. "Minumlah ini dengan
perlahan." Kareen menoleh mendapati Tama disamping yang memberinya segelas air. Tidak
menanggapi uluran air, Kareen bangkit dan meraih tangan Tama. "Om… Bilang ini mimpi! Ini
mimpi kan? Papa pulang kan? JAWAB AKU TUAN ADITAMA YANG TERHORMAT!!!"
Diam. Tama hanya diam. Dia bahkan tidak mampu menatap Kareen. "Putri kecil, ikhlas yaa??
Kapten menunggu di bawah, kau tidak mau menyambut nya? ayo sambut dengan senyuman,
Kapten suka senyum manismu, yaa??" Ah… rupanya ini bukan mimpi. Kareen usap air matanya
kasar. Tama benar, Kapten lebih suka disambut dengan senyum daripada air mata.

Mobil jenazah itu sampai, orang orang segera mengeluarkan petinya untuk diletakan di
ruang tamu. Dengan sekuat tenaga Kareen menahan air matanya dan mendekat ke arah peti.
"Selamat datang ke rumah kapten, kenapa yang pulang hanya raga? Papa sudah terlalu nyaman
di udara ya sampai sampai memilih untuk tinggal? Oh ya apa sekarang Papa bertemu dengan
Mama? Teganya Kareen ditinggal sendiri kalian malah pacaran di sana, tapi tidak apa Kareen
bahagia kalau kalian bahagia, Kareen akan baik baik disini dengan Om Tama. Selamat tidur sang
Kapten." Tanpa aba aba air mata Kareen menetes, dengan segera dia usap dan berjalan mundur
kebelakang.

Kesedihan tidak hanya dirasakan Kareen namun juga Tama sebagai sahabat Dirga.
"Definisi lupa daratan lu ye, bener bener si Dirga. Dir… Dulu lu marahin gua kalau gua bikin
Kareen nangis. Nah ini lu yang bikin dia nangis gimana sih? bapak bego. Baik baik ya Dir
disana, jangan lupa dateng ke mimpi Kareen, dia pasti cepat kangen sama lu. Selamat tidur sang
Kapten."

Setelah proses pemakaman selesai Kareen pulang kembali kerumah dengan Tama.
Suasana rumah sudah sepi dan benar benar kosong, tidak akan ada lagi candaan ke narsisan
Dirga atau acara makan bersama. "Menangislah, aku bisa menunggu sampai kapan pun." Ucap
Tama sembari mengusap punggung Kareen lembut. "Ah iya, om tunggu disini saja, Kareen akan
mengemas barang sebentar." Jawab Kareen sambil menyeka air matanya yang dibalas anggukan
oleh Tama. Iya Tama memutuskan untuk membawa Kareen tinggal bersama nya dan kedua
orang tuanya, dia tak tega jika meninggalkan gadis itu di rumah sendirian dan Kareen pun setuju
untuk hal itu, dia tidak ingin berlarut sedih jika tetap di rumah ini.

Ikhlaskan masa lalumu untuk keberlangsungan masa depan mu.

10

Indahnya Persahabatan

Karya
ANDRIAN ADI NUGROHO

Pada suatu hari aku pergi berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah aku bertemu
dengan sahabatku yaitu, Della, Nani, dan Lista. Mereka adalah sahabat terbaikku. Mereka selalu
menemaniku dalam suka dan duka. Aku sangat nyaman saat bersama mereka, karena mereka
dapat membuatku tertawa lepas tanpa harus menanggung malu sendiri. Begitupun sebaliknya.
Aku juga memiliki teman sekelas yang bernama Agus. Ia anak yang lucu dan baik. Agus adalah
yang suka bercanda dan mudah bergaul. Biasanya ia akan membuat lelucon di depan teman
temannya, bahkan tak jarang dia juga membuat lelucon di depan para guru.

Contohnya seperti saat ini, ketika guru pelajaran baru saja selesai menjelaskan materi
Agus mengangkat tangannya berniat untuk bertanya. Guru pelajaran tentu saja
mempersilahkannya. Agus mulai bertanya dengan gaya khasnya, yaitu mengatakan dengan suara
yang agak terbata bata juga sebuah pertanyaan yang sedikit tidak masuk akal. Tentu saja itu
mengundang gelak tawa dari teman teman sekelasku termasuk guru pelajaran. Kulihat Agus ikut
tertawa dengan wajah tanpa bersalahnya. Agus sendiri sebenarnya tidak masalah, justru ia
merasa senang bisa membuat semua orang tertawa dengan leluconnya itu.

Lalu beberapa jam kemudian lonceng berbunyi sebagai tanda waktunya jam istirahat.
Guru pelajaran pun segera membereskan buku lalu pergi setelah mempersilahkan murid
muridnya untuk istirahat. Para murid segera berhambur meninggalkan kelas menuju kantin. Aku
dan ketiga temanku pun berpikir untuk pergi ke kantin karena aku merasa lapar, namun tak
sengaja aku melihat Agus yang duduk di mejanya dengan wajah sedih. Aku dan temanku
menghampirinya. Kemudian dia menceritakan pada kami semua bahwa dirinya tidak punya uang
untuk belanja di kantin. Saat itu aku dan sahabatku berniat untuk membantunya agar ia bisa
membeli makanan di kantin seperti teman-teman yang lain. Setelah itu, dia tidak merasa sedih
lagi karena dia sudah mempunyai uang untuk membeli makanan di kantin. Uang tersebut berasal
dari kita. Akhirnya, kita ikut senang bisa melihat dia ceria lagi dan bisa membantu dia dari segala
kekurangannya.

11

Cerita Horor

Karya
AZIS NOVIAN ARDAVI

Disuatu malam pada hari Kamis, terdapat sekumpulan remaja yang sedang bercerita
horror. Remaja-remaja ini bernama Farel, Robby, Somad, dan Ahmad. "Eh gantian dong yang
cerita, masa aku saja yang cerita?" Ucap Robby kepada ketiga temannya.“Oke gantian aku ya
yang cerita.” Ucap Farel. Ahmad hanya terdiam dan menunduk. “Yang serem loh yaa ceritanya!”
Ucap Somad. “Tenangg... pasti serem ini.” Balas Farel. Farel memulai bercerita. “Jadi ada
sebuah sekolah yang mengalami kasus penembakan massal hingga 45% siswa disana meninggal
dunia. Pada akhirnya sekolah itupun ditutup karena banyak rumor yang beredar bahwa sekolah
itu menjadi angker. Pernah ada cerita, salah satu siswa disana diganggu oleh makhluk tanpa
kepala. Di waktu yang sama, ia menemukan sebuah kertas yang di tuliskan dengan darah dan isi
tulisannya ialah ‘TOLONG AKU’. Kertas itu ada disalah satu loker meja milik siswa yang
pernah membully salah satu korban penembakan massal itu. Tak lama kemudian, siswa yang
pernah membully salah satu korban penembakan massal itu bunuh diri dilantai tiga sekolah
karena merasa diteror.”

“Serem banget ceritamu.” Ucap Somad yang mulai merinding dan kesal. “HAHAHA,
katanya harus serem yaudah.” Balas Farel. “Bentar, sepertinya aku kaya pernah denger cerita
ini... tapi dimana ya?” Ucap Ahmad dalam hati. Waktu semakin berlalu dan jam sudah
menunjukkan pukul 11.00 malam. "Eh kayaknya kalo kita pesan makan, enak nih. "Ucap Somad.
“Wah kebetulan banget aku juga lapar banget, gara-gara tadi siang belum sempet makan.” Ucap
Robby. “Gasss lah! Pesan Gofood. Oh iya Ahmad, kamu kok dari tadi cuman nunduk dan diam
saja sih?? Kamu mau makan apa?” tanya Farel. “E-enggak kok gapapa, aku ga pesen apa-apa
kalian aja yang pesen.” Jawab Ahmad terbata-bata.“Oh, oke deh.” Ucap ketiga temannya.

Kemudian, mereka melanjutkan cerita horro rmereka sembari menunggu pesanan
makanan mereka tiba. Mereka yang sedang asik bercerita, tiba-tiba saja... JLEP. Lampu rumah
mati dan tiba-tiba saja mereka berempat melihat kearah jendela dan di jendela terlihat sekilas ada
bayangan putih yang lewat. “APAAA ITUU? Kalian ngeliat juga kan!??” Teriak Farel.“IYA!
Sekelibat bayangan putih lewat dengan cepat kann??!” balas Robby. “Ini gara-gara kamu sih
ceritanya terlalu seram Farel!!!” ucap Somad kesal. Sedangkan Ahmad hanya diam dan tak
berkata sedikitpun.

Lampupun menyala, dan tiba-tiba terdapat kertas di meja tepat mereka bercerita.
Kertas itu terdapat tulisan yang bercampur darah, kertas itu bertuliskan ‘Apakah kalian tidak
sadar?’ Semua matapun sekarang tertuju pada Ahmad. “Ahmad! Kamu dari tadi diam saja. Apa
kamu yang menulisi kertas itu??!” tanya Somad. “Hey sudah-sudah. Jangan menuduh begitu!
Siapa tau yang nulis kertas ini hanya orang iseng.” ucap Robby menenangkan suasana. “Iya
benar itu, lagi pula ini Gofoodnya sudah deket.” Sahut Farel.

"Farel, coba kamu liat WhatsApp digrup kita!" bisik Ahmad ke Farel. Farelpun melihat
pesan itu. Pesan itu ternyata berisikan berita kecelakaan motor, yang korbannya terlindas truk
dan diketahui korban bernama ‘Robby’. Seketika farel terkejut akan hal itu dan pelan-pelan
mengajak Ahmad dan Somad untuk pulang duluan karena urusan mendadak. Seketika wajah
Robby berubah, wajahnya hancur dan badannya dipenuhi darah. Ia berkata "kalian mau kemana?
Aku mau ikut!"

12

Seketika Ahmad terbangun dari khayalannya. "Hey Ahmad! Kamu jadi pesen apa??"
tanya Farel menyadarkan Ahmad. “Ah tidak, aku tidak lapar.” Ucap Ahmad terhadap Farel. “Oh
oke lah, nanti kamu makan berdua saja sama aku.” Balas Farel.

Gojek pun tiba. Robby: “Eh Ahmad, kamu saja sana yang ambil pesanannya!” Perintah
Robby. Ahmad pun berjalan keluar ingin mengambil pesanan gofood, seketika Ahmad pun
dibuat bingung oleh Driver Gofoodnya. “Alhamdulillah, saya kira pesanan ini penipuan.” Ucap
driver Gofood itu. Ahmad dengan bingung menjawab perkataan driver Gofood itu. "Loh maksud
mas apa??" Driver Gofood pun menjawab "Ini kan rumah kosong mas, saya kira gaada
penghuninya. "Ahmad seketika menjadi panik, lalu segera melihat rumah yang tepat dia tadi
berkumpul dengan teman-temannya. Dan benar saja rumah itu terlihat gelap, seperti tidak ada
penghuninya. Ahmad pun baru tersadar, bahwa ketiga temannya tadi merupakan korban dari
penembakan massal di sekolahnya. Dan rumah itu menjadi tempat biasa mereka nongkrong.

13

Gelang Persahabatan

Karya
FARAH NUR FADHILAH

Putri memakai sepatunya dengan malas. Kalau bisa, selama seminggu ini ia ingin bolos
sekolah saja. Namun, Bunda pasti akan marah. Ulangan tengah semester telah selesai. Pada
Minggu ini, di sekolah sedang berlangsung pekan olahraga.“Sudah siang, Putri. Ayo cepat
berangkat, nanti terlambat.” Tegur Bunda.“Enggak belajar kok, Bunda. Minggu ini Lagi ada
pekan olahraga.” jawabnya.“Oh iya, kamu ikut olahraga apa, Putri?” Tanya Bunda. “Aku
dimasukkan ke tim lari estafet oleh Pak Guru. Aku satu tim dengan Tikah.” Suara Putri terdengar
pelan. “Bagus, dong! Lari kalian, kan, memang cepat. Tapi, kenapa kamu seperti tidak
semangat? Ada apa?” Bunda menyelidik.Putri menunduk dan Menggelengkan kepalanya.
“Putri?” Bunda tidak suka dengan gelengan kepala Putri.“Putri tidak mau satu tim dengan
Tikah.” Ucap Putri.“Putri mau satu tim dengan Sabil saja.Tapi, Pak guru bilang tidak bisa
ditukar.”“Bukankah seharusnya kamu senang. Kalian, kan bersahabat.”“Tidak lagi.” jawab Putri
dalam hatinya.

Mereka bertengkar gara-gara Putri tidak mau memberikan contekan Matematika saat
Ujian Tengah Semester kemarin. Sampai hari ini mereka belum bicara dan bercanda lagi. Jika
bertemu di koridor sekolah, Putri dan Tikah pura-pura tidak melihat satu sama lain. Di dalam
kelas pun mereka seperti tidak saling mengenal. Putri tidak mau minta maaf duluan. Seperti
kejadian waktu itu, buku PR Tikah tersiram air. Doni yang sebagai pelaku penumpahan air itu
langsung melarikan diri. Saat peristiwa itu terjadi hanya Putri yang duduk di sana, Tikah
langsung menyalahkannya. Sementara ia tidak sempat membela diri. Dan sebagai tanda
permintaan maaf, Putri membuat gelang yang ia buat sendiri. Warnanya biru. Satu untuknya dan
satu untuk Tikah. Waktu memakai gelang itu, mereka berjanji untuk tidak musuhan lagi. Putri
melirik pergelangan tangannya. Gelang biru tanda persahabatan itu sudah ia lepas dari kemarin.
Putri juga melihat Tikah tidak memakainya lagi. Mereka benar-benar tidak lagi sahabatan
sekarang.“Ayo Bunda, berangkat.” Ujar Putri selesai memakai sepatu. la tidak ingin Bunda
bertanya ada apa dengannya dan Tikah.

Lina memanggil Putri untuk mendekat karena nama mereka sudah dipanggil untuk masuk
ke lapangan. Lomba lari estafet putri akan segera dimulai. Dengan malas, Putri mendekat
juga.“Yang semangat, dong!” Tepuk Ratih di pundak Putri.Tadi Ratih yang sedang mengobrol
dengan Tikah langsung membuang pandangannya ke pinggir lapangan. Setelah Putri mendekat.
Putri menguatkan diri. Dengan perasaan kesal dan sebal pada Tikah masih ada di hatinya, karena
Tikah marah-marah tidak diberi contekan.Demi pertandingan lari estafet ini, aku akan berjuang,
ucap Putri dalam hati. Untungnya, Putri menjadi pelari yang pertama membawa tongkat.
Dilanjutkan oleh Tikah, pelari yang menerima tongkat terakhir. Maka, Putri tidak perlu menatap
dan bersentuhan tangan dengan Tikah. Ternyata, tim Putri kalah oleh tim Sabil. Tikah marah-
marah dan menyalahkan Putri atas kekalahan itu.“Seharusnya Putri tidak satu tim dengan kita.
Larinya lambatsekali tadi. Semua gara-gara dia.” Ucap Tikah mengomel.Putri ingin menangis
tadi. Selalu saja, Tikah menyalahkan dirinya. Untunglah teman yang lain tidak ikutan
menyalahkannya. Lari tim mereka memang kalah cepat dari teman-teman di tim Sabil.

14

Keesokan harinya…
“Bunda baru tahu kalau kamu bertengkar sama Tikah,”Bunda meletakkan secangkir

cokelat panas di meja belajar.Putri berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Kepalanya masih terasa
pusing. Hari ini Putri tidak sekolah. Tadi pagi dia sudah mau berangkat ke sekolah, tetapi ketika
Putri berpamitan, Bunda merasakan tangan Putri panas sekali dan melarang Putri pergi ke
sekolah.

“Bunda tahu dari mana? Ada yang ngadu ke Bunda, ya?”“Enggak baik bertengkar lama-
lama. Selama ini kan, kalian memang sering bertengkar, tapi tidak lama sudah baikan lagi.”Putri
melengos tak suka mendengar ucapan Bunda. Mereka memang selalu berbaikan. Namun, selama
ini Putri yang selalu mengalah dan meminta maaf duluan.“Mengalah, tidak apa-apa kok.” Bujuk
Bunda seperti tahu apa yang Putri pikirkan.“Tikah mau menang sendiri Bunda. Putri capek
ngalah terus-terusan.”

Bunda tersenyum. “Mengalah bukan berarti kalah.” Bunda membantu Putri untuk duduk
dan meminum cokelatnya. “Itu malah menandakan, kalau kamu anak Bunda yang punya jiwa
besar.” Bunda menekan hidung Putri. “Lagi pula, kamu adalah anak Bunda yang paling baik.”
lanjut Bundanya. Putri hanya menunduk. “Nah, sekarang, Bunda suruh Tikah masuk ke
kamarmu, ya?” izin bundanya. “Tikah datang ke sini, Bunda?” tanya Putri tidak percaya
mendengarnya. “Iya. Dia mau minta maaf, katanya.Tikah datang membawa puding, lo. Nanti
Bunda iris dan bawa ke kamar, ya. Biar bisa kalian makan berdua.” Bunda tersenyum. Saat itu,
Putri melihat gelang tanda persahabatan yang pernah dibuatnya. Ah, meski tanpa gelang
persahabatan itu, mereka akan tetap menjadisahabat.

15

Takdir

Karya
FRISCA AULIA

Suatu ketika 4 bocah laki-laki sedang bermain bola di taman. Tetapi kemudian mereka
melihat seorang bocah perempuan yang diejek karena tidak mempunyai seorang ayah.
"Huuuuuuu ga punya ayah, ga punya ayah huuu." Olok seorang gadis pada Cila. "Gausa temenan
sama dia, dia ga punya ayah." "Iya ayok pergi huuu." Lanjut gadis yang lain. Tak lama kemudian
terdengar isakan dari bocah perempuan itu. "Hiks -hiks bb bunda hiks bundaa...." Tangisan
tersebut terdengar sangat pilu.

4 orang bocah laki-laki menghampirinya. "Sssttt, jangan nangis mereka yang nakal ga
usah ditemenin oke!!" Ucap salah satu dari mereka sambil mengusap air mata bocah itu. Dan
tangis bocah perempuan itu tak lagi terdengar. "hai" ucap mereka. " Eumm.. Hai" Kata dia
sambil malu-malu. " Mau temenan sama kita ngga ??" Ucap bocah yang disebut dengan Zeyy.
“Ayo temenan, nnti kita ajak kerumah main sama-sama.” "Tunggu-tunggu aku mau kenalan
duluannn!!Nama aku Rajendra Bumiputra, panggil aja Jendra ya." "Kamu lucu. Nama aku
Gercyla Putri Graflesia, bisa dipanggil Cyla." Balas Cyla dengan senyum manis. "Oooooo...
Cylaaa." Kata mereka bersamaan."Aku Zeyland Abimanyu Cakra Raharja, panggil Zey. Tapi
mama selalu panggil aku Jey.” Ucap Zey memperkenalkan diri. "Aku Racky Deon Anantasyo,
dipanggil Racky.” Lanjut seorang yang lain. "Dan aku Jehan Geonanda Bagaskara, dipanggil
Geo." Terakhir, Geo memperkenalkan diri.

Setelah pertemuan itu mereka selalu kemana-mana bersama, hubungan mereka sangatlah
erat. Hingga pada suatu hari mama Grecyla menikah lagi dengan seorang pria asal Bandung dan
mereka akan pindah ke Bandung.

"Bun." Kata Cyla sambil menarik-narik baju bundanya."Hm? Kenapa sayang?" Tanya
Bunda Cyla. "Apa ga boleh tinggal disini aja sama temen-temen?" Cyla menunduk, menyiapkan
diri untuk jawaban bunda. "Cyla, dengarkan bunda ya... Sekarang kan Cyla punya Papa, Cyla
senang bukan? Nah kalau kita ga pindah kasian Papa kan sendiri disana." Jelas bundanya.Dan
Cyla pun menggangukkan kepalanya sebagai tanda mengerti atas penjelasan bundanya. Terlihat
jelas di wajahnya bahwa ia sedikit kecewa."Kalau gitu Cyla boleh main sama teman-teman buat
yang terakhir kalinya ga?” Cyla berharap-harap cemas. "Boleh sayang, tetapi jam 5 harus udah
pulang ya!" Kata sang Papa sambil mengusap rambut bocah perempuan yang kini statusnya
sebagai anaknya. "Oke Papa, terimakasih.”

Cyla segera menuju rumah teman-temannya untuk bermain dan memberitahu bahwa ia
akan pindah. Setelah semua berkumpul mereka menuju taman awal mereka bertemu. "Jey,
Racky, Geo, Jendra." Panggil Cyla. "Iya apa Lala??" kompak mereka. Iya, Lala adalah nama
mereka berikan pada Cyla secara khusus. "Aku mau pindah rumah ikut Papa." Ucap Cyla sedih.
"Kalau pindah rumah, berarti kamu gabisa main lagi dong sama kita??" Tanya Jendra dengan
wajah murung. "Eumm... Iya, maaf ya." Sesal Cyla. "Gakpapa deh.Oh iya, jangan pernah lupain
kita ya Lala!" Mereka berkumpul dan memeluk satu sama lain. "Oke, aku janji gaakan lupain
kalian. Kalian juga ya jangan lupain Lala, makasih udah mau jadi temen Lala disini." sambil
menyodorkan kelingkingnya pada keempat temannya dan disambut oleh mereka. "Janji!!"
12 tahun kemudian.

Pagi hari cerah disambut oleh mahasiswi baru yang sedang bersiap-siap untuk memulai
pembelajaran ke jenjang yang lebih tinggi. “Cylaaa!!! Cepetan ini Papa mau berangkat, kamu

16

lama banget ya, anak satu cewe aja dandan setengah jam lebih.” Omel Bunda sambil berkacak
pinggang di depan kamar Cyla. “Iya Bundaaaakuu tersayang.” Cyla semakin mempercepat

aktivitasnya. Sang kepala keluarga hanya bisa menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan.
“Bunda Cyla berangkat ya, doain semoga ospek ini gak berat-berat ya Bun, capek cyla.”
Pamitnya.“Iya-iya Bunda doain, udah sana udah ditunggu papa.”

Sesampainya di kampus para mahasiswa dan mahasiswi berbaris mengikuti arahan dari

pembina. Setelah selesai kemudian tinggal menunggu pembagian kelas. Tiba- tiba ada seorang
mahasiswi. Brukk.. “Eh maaf Kak, saya gak lihat.“ Ucap seorang gadis sambil menundukan
pandangannya. “Mangkanya kalau jalan itu matanya juga dipake, jangan cuman kaki
doang!”Bentak orang yang tertabrak. “Iya kak maaf...” Cyla yang melihat itu pun merasa iba.
Segera ia menghampiri gadis itu. “Eum... sini ku bantu beresin.” “E-eh gausah.” Tolak gadis itu
cepat. “Gak papa.” Mereka bersama sama memunguti buku buku yang berserakan di tanah.
“Nahhh, udah selesai nih.”Cyla menyerahkan buku yang jatuh tadi pada gadis itu. “Makasih ya.
Sebagai ucapan terimakasih, aku bakal traktir kamu ke kantin.” Ucapnya sambil menggandeng

tangan Cyla.

Sesampai di kantin
“Duhh rame amat ni kantin. Kamu tunggu sini aja ya, biar aku yang pesan.” Tawar Gadis

itu setelah mengedarkan pandangannya, melihat keadaan kantin yang benar benar penuh.
“Gausa, kita bareng-bareng aja pesannya.”Tolak Cyla sambil menawarkan diri. “Okelah.” Tak

berselang lama, pesanan mereka datang. Mereka langsung makan tanpa banyak bicara.
“Eumm.. makasih ya.” Cyla membuka percakapan. “Iya sama sama, santai aja. Oh iya

nama aku Rebecca Angelica Raharja.” Seketika Cyla mengingat teman kecilnya yang nama

belakangnya juga terdapat Raharjanya, tetapi kemudian ia langsung menepis pemikiran itu. Cyla

tersenyum dan mengangguk, setelah itu mereka kembali diam. Tanpa sadar Cyla melamun

memikirnya teman teman kecilnya. Ditengah tengah lamunannya Cyla tidak sadar bahwa sedari

tadi Rebecca memanggilnya. Rebecca yang heran akhirnya menepuk bahu Cyla cukup keras.
“Oitt!!!” Teriak Rebecca. “ Eh, maaf-maaf aku tadi ngelamun. Hai Becca, eum nama aku Gerca
Putri Graflesia dipanggil Cyla.”Cyla dengan cepat membaca situasi. “Ooo Cyla.... Oke mulai
sekarang kamu temen aku dan aku temen kamu, gaada bantahan titik!!” Riang Rebecca dengan
senyum cerah. “Hahaha iya iya.”“Eh Cyla ga kerasa udah jam 8 lebih 10 ayok ke kelas!” Ajak
Rebecca. Kemudian Rebecca tersadar sesuatu dan hanya cengengesan. “Hehe hehe hehe, kamu
kelas apa??” Tanya Cyla heran. “Aku kelas-” “Ahhhh.. kebetulan kelas kita sama ya” Potong

Cyla cepat. Akhirnya mereka menuju ke kelas bersama.

Sampai di kelas mereka langsung duduk berdampingan. Tak berselang lama Dosen yang

mengajar kelas Cyla dan Rebecca masuk kedalam. Baru saja Dosen menyapa mahasiswa yang
ada di kelas, terdengar suara ketuka pada depan pintu kelas mereka. Tok tok tok.. “Masuk.”

Sahut guru yang mengajar di kelas Rebecca dan Cyla.Dilihatnya 4 orang lelaki yang gagah dan

tampan masuk ke kelas mereka. Entah kenapa Cyla merasa tidak asing. Ah mungkin hanya
perasannya saja. “Permisi pak. Kami ingin mendemokan salah satu ekstrakurikuler di sekolah
ini.” Ucap salah satu dari mereka. “Iya silahkan nak.” Pak Dosen mempersilahkan. “Permisi

adek- adek sekalian. Kami izin meminta waktunya sebentar ya!! Kakak- kakak disini akan

menjelaskan salah satu ekstrakurikuler yang terkenal dari sekolah kita yaitu basket, jadi
begini....” “Pst.. pst.. Cyl... Cyl!” Ketika 4 pemuda itu sedang sibuk menjelaskan, Becca dengan
heboh menepuk pundak Cyla lalu berbisik. “Apa sih Becca??” Dengan terpaksa Cyla
mengalihkan Atensinya. “Kakak-kakak didepan ganteng-ganteng banget ya cyl...”

Obrolan dua orang akhirnya berlanjut hingga terdengar suara orang yang menginterupsi.
“Itu yang dipojok siapa namanya ??” Tanya salah satu pemuda tersebut.“Eumm.. saya Rebecca
Angelica Raharja, panggil aja Becca atau sayang juga boleh kak.” Ucap Becca dengan nada
menggoda dan membuat seluruh orang di kelas menyahutinya “huuuuuu” Sedangkan Cyla hanya

17

tersenyum pelan sambil menggelengkah kepalanya. “Bercanda kali.” Sewot Becca. Keempat
lelaki tersebut hanya terkekeh melihatnya. “Yang sebelahnya namanya siapa?” Tanya pemuda
lainnya. “Eumm... Saya grecyla putri graflesia.”Deg...Seketika keempat pemuda itu melotot dan
merasa tidak asing dengan nama itu. “Oo-ooke kakak akhiri ya, terimakasih perhatiannya. Kami
undur diri ya.” Pamit ke empat pemuda itu dengan canggung. “Terima kasih pak.” Setelah Dosen
mengangguk mereka pergi meninggalkan kelas Cyla. Dosen pun memulai materi di kelas.

Sedangkan di lain sisi. “Jen gue ga mimpi kan? Tadi itu lala??” Heboh salah satu pemuda
yang baru saja keluar dari kelas Cyla. “Ga deh, namanya doang kali yang persis.” Balas pemuda
yang lain dengan Ragu. “Udahlah nanti aja kita cari tau, sekarang kita fokus promosi dulu.
Waktu Pulang.

“Duluan ya Cyla, aku udah dijemput nih. Bye-Bye.” Rebecca melambaikan tangannya
kepada Cyla. Kelas hari ini memang sudah selesai. Jadi Cyla dan Becca memutuskan untuk
langsung pulang. “Oke Becca , hati-hati!” Setelah Becca pergi disinilah Cyla sekarang. Berdiri di
depan IndoJanuari yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kampus. “Huh.. Papa kemana si, kok
belum jemput.” Helaan nafas keluar dari bibir Cyla. “Ah iya aku telepon aja.” Terlewat sebuah
ide di kepala Cyla. Dengan gerakan cepat Cyla mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.
“Halo Papa, Papa jadi jemput kan??” Terdengar di seberang telepon suara seorang Pria. Entah
apa yang Pria itu katakan, tapi terlihat Cyla mengerutkan dahinya dalam. “ Yah... Jadi Cyla
pulangnya gimana?” Terdengar kekecewaan dalam ucapan Cyla. “Hmmm ... Okelah.” Dengan
terpaksa Cyla mematikan panggilannya. Papa tidak dapat menjemput Cyla karena Papa memiliki
pekerjaan yang tidak dapat di tunda.

Dengan putus asa Cyla melangkahkan kakinya pada trotoar pinggir jalan sambil
mengedarkan pandangannya berharap lewat sebuah taksi yang dapat mengantarnya pulang. Di
tengah keputus asaanya tiba-tiba terdapat sebuah mobil bewarna biru yang berhenti di
sampingnya. “Hai Lala.” Deg... Cyla tertegun sesaat. Ia masih ingat siapa orang yang dengan
khusus memanggilnya Lala. Apakah dugaanya sedari pagi benar? Cyla menggelengkan
kepalanya kembali berpikir bahwa mereka orang yang berbeda, lalu dia kembali memandang
empat pemuda di dalam mobil yang saat ini sedang memandangnya dengan senyum. “Ee-eeh,
iya kak. Ada apa ya?” Tanya Cyla sedikit kikuk. “Mau bareng??” Tawar salah satu pemuda.
“Gausa deh kak, aku bisa naik taksi.” Tolak Cyla halus.“Jam segini gaada taksi yang lewat, dan
juga mau hujan, yakin gamau bareng??” Setelah menimang-nimang akhirnya Cyla menerima
tawaran dari kakak kelasnya itu. Suasana di dalam mobil sangat hening. “Kamu bingung kan,
kenapa kita panggil kamu Lala?” Ucap salah satu pemuda memecah keheningan. “Iya
kak?”“Kamu masih ingat janji kita 10 tahun lalu? Kamu ingat sama 4 bocah laki-laki yang
nolong kamu dulu?” Sontak Cyla menolehkan kepalanya ke sumber suara dan matanya berkaca-
kaca.“Itu kami Lala.”“Hiks..hiks...”Cyla pun menangis. Setelah sekian lama akhirnya ia dapat
bertemu dengan teman masa kecilnya. “Sebelah kamu itu Jendra, aku Geo, pojok kanan Racky,
dan pojok kiri Zey.” Cecar Geo dengan senyuman rindu. Setelah itu Racky menghentikan
mobilnya membiarkan mereka berpelukan untuk sesaat. Sejak pertemuan kembali itu mereka
seperti sedia kala saling bersama-sama. Hingga pada suatu hari ...

18

"Cyla, ditunggu seseorang di gudang belakang Cyl, katanya mau ngomong sesuatu." Kata
salah satu teman sekelasnya."Hah?? Siapa emangnya?? Kenapa ga kesini aja??" Tanya Cyla
heran. "Eum-mm a-akuu ggatau Cyl, pokoknya kamu harus kesana!" Setelahnya teman sekelas
Cyla lari dan meninggalkan sebuah tanda tanya di kepala Cyla. "Jangan Cyl bahaya. Aku
temenin ya." Baru saja Cyla berdiri dari duduknya berniat pergi ke gudang belakang, namun
Becca menahannya dan memberikan tawaran. "Gausa Beccaa aku gakpapa.” Tolak Cyla. "O-
ookelah." Pasrah Becca. Becca yang merasa khawatir, dia pun mengatakan bahwa Cyla ke
gudang belakang kepada Jendra, Geo, Racky, dan Zey. Sontak mereka berempat berlari
kesetanan karena takut terjadi apa-apa terhadap Cyla.

Dan dugaan mereka benar. Mereka menemukan Cyla yang pingsan dengan luka lebam di
pipi, lengan, dan kakinya. Tentu saja itu membuat amarah mereka meluap, tanpa pikir panjang
mereka ke arah tempat cctv dan melihatnya setelah itu terlihat bahwa Cyla sedang di bully oleh
segerombol perempuan yang menyukai mereka. Dan mereka pun melaporkannya ke Guru BK
lalu meminta kepada guru tersebut agar diberi pelajaran yang jera. Kemudian para siswi tersebut
meminta maaf kepada Cyla. “Makasih kak, udah jaga aku. Makasih juga udah nolong aku.”
“Kamu udah kita anggap adik Lala. Jadi ga perlu merasa begitu oke!” “Kami bakal lindungin
kamu semampu kami Cyla.”

19

Doni Yang Tobat

Karya

JEFRI EKA RAKHMANSYAH

Namaku Doni. Aku tinggal di daerah Tangerang. Aku merupakan pindahan dari
Jombang. Aku baru duduk di SMK Arjuna. Hari pertama sekolah, aku masuk seperti biasa. Aku
duduk di belakang sendiri dengan anak yang tidak naik kelas, lalu ku berkenalan dengannya, ia
bernama Udin. Lalu aku di ajak berkeliling sekolah, dan di kenalkan kepada teman temannya.

Ternyata Udin adalah siswa yang terkenal paling nakal di kelas 1 sehingga siswa lain
takut kepadanya. Tetapi aku tidak menakutinya karena dulu pas SMP aku juga sama persis
seperti dia. Aku di ajak bergabung ke gengnya yang bernama ANKER. Geng tersebut di pimpin
oleh anak kelas 3 yang katanya paling di takuti di SMK Arjuna ini. Pada suatu ketika, aku diajak
Udin ke lapangan desa. Aku berpikir kita akan bermain sepak bola ternyata setelah Sampai
disana sudah banyak anak geng ANKER sedang membawa bambu,dan berbagai senjata tajam.
Rupanya disana aku diajak untuk tawuran melawan sekolah lain. Setelah menunggu lama,
akhirnya musuhnya datang. Jumlah musuhnya lebih banyak 3 kali lipat dari geng kita. Tetapi itu
tidak membuat kita semua takut justru membuat kita lebih ganas. Akhirnya kami saling serang,
kami saling mempertahankan kelompok masing masing. Waktu di tengah perkelahian, teman ku
yang bernama Eka tiba tiba kepalanya di pukul dari belakang. Aku yang melihatnya langsung
menghampiri dan memukul orang tersebut. Melihat kondisi Eka, teman-teman membawanya ke
tempat yang lebih aman. Terdengar suara sirine polisi yang sangat keras, lalu semua yang di
tempat kabur mencari keamanan sendiri-sendiri untuk menghindari polisi tersebut.

Kita berkumpul di warung bu Eni. “Bu Eni itu siapa Din?” Tanyaku kepada Udin. Udin
menjawab “Oh iya, warung Bu Eni ini tempat base campnya para anak geng ANKER, dan Bu
Eni sudah di anggap sebagai Ibunya anak anak geng ANKER.” Lalu bu Eni memberi obat
kepada Eka dan sambil berkata “Tawuran lagi Ka?” Eka menjawab “Iya Bu hehe, biasa kan
sekarang hari sabtu, harinya anak anak ANKER hehe.” “itu siapa Dinn yang pakai jaket putihh?”
Tanya Bu Eni kepada Udin. “Ohh ituu murid baru pindahan dari Jombang namanya Doni.”
Jawab Udin. “Salam kenal Bu Eni, saya Donipindahan dari Jombang.”Ucap Doni. “Ooo...
Panggil saja Ibu biasanya sih anak anak manggilnya Mak Eni.” Jawab Bu eni. “siap Mak.” Jawab
Udin. Bu eni bertanya “Lohh.. Kamu kok pindah kesini emang nya ada apaa?” “Itu Bu ngikut
Ayah soalnya ayah pindah kerja ke Tangerang.” Jawab si Doni. “Ooo.. Begituu.” Kata Bu Eni.
Setelah lama berbincang bincang akhirnya kita semua pulang kerumah masing masing karena
waktu sudah malam.

Sebulan setelah kejadian itu aku dan teman teman lainnya merayakan ulang tahun Eka.
Setelah itu aku dan anggota geng ANKER langsung menuju warung bu Eni karena mereka
merayakan ulang tahun disana. Begitu sampai di sana mereka sudah mendapati beberapa anak
geng ANKER yang sedang menunggu traktiran dari Eka. “Boss besar dateng nih.” Ucap salah
satu anggota geng ANKER yang bisanya cuma ngelawak. Sebutan ‘Bos besar’ sendiri diberikan
kepada Eka karena ia mau mentraktir teman temannya. Saat sedang asik asiknya merayakan
ulang tahunnya Eka kami ditantang oleh sekolah rival kami yaitu SMA Devil. Eka dan Udin
yang masih sibuk dengan gorengan yang mereka lahap langsung menerima tantangan tersebut.
Berbeda dengan Doni, anak itu sekarang sedang duduk di kursi warung bu Eni sambil melamun.
Entah mengapa ia mendadak gelisah, seperti tidak ada niatan untuk tawuran kali ini, sampai Eka
datang sambil membawa sebuah tahu isi untuknya dan memaksanya agar tetap ikut tawuran
nanti. Setelah selesai semuanya kami menyusun strategi untuk nanti di medan tawuran. Tepat
pukul 13.30, kami mulai menuju tempat dimana tawuran melawan SMA Devil dilaksanakan.
Kami berangkat menggunakan truk yang sudah kita bajak. Setelah sampai di sana ternyata SMA

20

Devil sudah mengepung jalan tengah dengan anggota yang sama banyaknya dengan anggota
SMK Arjuna . Belum apa-apa, truk yang ditumpangi SMK Arjuna dilempari dengan batu oleh
STM Karya Bakti di jalan tengah. Truk itu pergi setelah para murid SMK Arjuna turun dengan
diawali oleh si Eka yang telah menggenggam clurit di tangannya. Tak lama dari itu
segerombolan anak dengan membawa senjata tajam datang dari arah lawan sehingga anggota
SMA Devil bertambah banyak. kini anggotanya kalah banyak dengan anggota SMA Devil,
mereka memang selalu bermain curang. Samurai yang tajam itu berhasil menusuk perut Udin,
dan sedetik kemudian ia pun terjatuh. “Udinn!” Doni yang menyadari kejadian tersebut langsung
mencoba menyelamatkan sahabatnya walaupun ia sedang dihadang dengan beberapa anak SMA
Devil.

‘bughh...’ Tongkat baseball milik anak SMA Devil berhasil mendarat di bagian belakang
kepala Doni. Darah yang mulai bercucuran membuat ia tak kuat lagi dan berakhir seperti Udin.
Kini mataku sudah benar-benar gelap, di benaknya ia seperti mengenang kembali kenangan
kenangan bersama sahabat-sahabatnya. Ia juga mengingat kedua orang tuanya yang pasti
sedang khawatir di rumah. Akhirnya polisi datang, seluruh anak SMA Devil dan SMK Arjuna
yang selamat melarikan diri meninggalkan banyak korban.

Setelah sadar doni langsung menangis di depan orang tuanya dan benar benar meminta
maaf kepadanya. Hanya dialah yang nyawanya bisa selamat dari kejadian tersebut. Ketika itu,
Udin sudah tewas di tempat, Eka sudah tidak dapat terselamatkan lagi ketika perjalanan menuju
rumah sakit, dan masih banyak lagj korban dari SMK Arjuna yang lain. kini tinggal dia lah yang
masih hidup sampai sekarang.

Sejak tragedi itu Doni sama sekali tidak pernah mengikuti tawuran lagi. Baginya,
mengikuti tawuran adalah hal yang paling bodoh. Tawuran hampir saja merengut nyawanya,
tawuran bahkan sudah merengut nyawa para sahabatnya. Dan akhirnya geng ANKER bubar.

21

Taman Rahasia

Karya
KARINA MALIKA BALQIS

Dulu saat aku masih kecil Kakek sangat gemar bercerita untuk menghantarkan tidur kami
para cucu-cucunya yang bandel ini. Tentu saja cerita Kakek selalu sukses membuat kami para
cucu-cucunya tertidur dengan pulas. Salah satu cerita yang paling sering Kakek ceritakan ulang
dan yang menjadi favoritku dari semua cerita yang pernah Kakek ceritakan adalah cerita tentang
sebuah Taman Rahasia yang terletak di tengah-tengah hutan dan di sebelah itu juga ada mata air
yang sangat jernih. Tetapi karena Taman itu disebut taman rahasia, tentu saja sangat sulit sekali
mencari lokasi keberadaan Taman Rahasia tersebut. Dari yang kuingat menurut cerita kakek,
Taman Rahasia itu sangatlah indah, yang akan membuatmu terlena oleh taman tersebut dan
rasanya waktu berlalu terlalu cepat. Terdapat berbagai jenis bunga yang akan langsung menarik
perhatianmu begitu tiba disana. Bentuk bunganya pun bermacam-macam dan memiliki berbagai
macam bau yang sangat harum, sungguh akan membuatmu terpesona.Dan pohonnya yang
rindang, membawa hawa sejuk seperti siap mengantarmu ke dalam dunia mimpi. Bagian yang
paling menarik adalah ketika Kakek mengatakan bahwa Taman Rahasia itu ternyata menjadi
tempat tinggal naga raksasa yang memiliki kekuatan sakti dan bertugas menjaga Taman Rahasia.
Selain itu juga, katanya ada hewan ajaib yang berbentuk bulat sebesar bola sepak dan bulunya
sangatlah halus dan lebat, hebatnya lagi bulunya sangat berkilau.

Awalnya kukira cerita-cerita kakek benar-benar nyata, tetapi itukan dulu saat usiaku
masih baru menginjak 6 tahun. Pengatahuanku yang masih minim, tentunya lebih mudah untuk
diperdaya oleh saudara-saudara yang usianya lebih tua. Si kembar Fred dan Goerge si duo jahil,
sifat jahil mereka sudah mendarah daging. Aku yang masih berusia 6 tahun selalu menjadi
kelinci percobaan atas kejahilan mereka. Kini aku bukanlah bocah berusia 6 tahun lagi
melainkan sudah menginjak umur 15 tahun, yang artinya aku tidak akan lagi termakan tipu
muslihat Fred dan Goerge, apalagi cerita omong kosong tentang Taman Rahasia.

Beberapa hari yang lalu Ayah dan Ibu tiba-tiba merencanakan liburan bersama keluarga.
Ini terasa aneh sungguh aneh kerena biasanya Ayah tipe orang yang memilih bekerja sepanjang
waktu dari pada harus buang-buang hanya untuk berlibur. Karena aku merindukan rumah Kakek
jadi aku mengusulkan untuk berlibur di rumah Kakek. Ternyata mereka pun merencanakan hal
yang sama, berlibur ke rumah Kakek. Kemudian akupun langsung berkemas. Kami sampai di
rumah Kakek saat pagi menjelang siang. Aku bertemu dengan Fred dan Goerge yang sudah
sampai terlebih dahulu dari kemarin. “Halo Harry apa kabar? Lama tidak berjumpa.” Goerge
menyambutku dengan hangat, aku pun tersenyum mendengar sapaan hangat dari Goerge, tidak
sampai Fred menyela “Tentu saja Harry baik baik saja Goerge, tidakah kau melihat wajahnya
yang sudah tidak sepucat dahulu saat ada ulat yang jatuh dari atas pohon lalu hinggap
dikepalanya, padahal Kakek sendiri telah memperingati.“ Saut Fred dengan nada mengejek.
Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak akuseorang diri. “Ya ya ya. Terserah kalian sajalah.
Ejek aku sepuas kalian, sampai kalian lelah.” Ku jawab dengan nada malas. Harry pun pergi
meninggalkan mereka berdua.

Sudah lumayan lama sejak Harry meninggalkan si kembar dan berdiam diri di kamar,
Harry pun mulai merasa bosan. Harry pun menghampiri Ibunya untuk meminta ijin agar
diperbolehkan untuk keluar rumah. “Bu, bolehkah aku keluar sebentar untuk mencari angin?”

22

Tanyaku dengan memelas agar diijinkan untuk keluar rumah. “Tentu saja boleh, tetapi ingatlah
jangan pulang terlalu larut malam dan jangan lupa hati-hati” Dengan tegas Ibu memperingatiku.
“Siap Bu bos!” Jawabku dengan penuh semangat, dengan sikap hormat seperti tentara.Saat
sedang berjalan-jalan sambil menghirup udara segar, ternyata Harry melewati hutan yang tampak
cukup misterius, seperti ada sesuatu yang memanggilnya, tanpa sadar Harry mengikuti suara
yang memanggilnya di hutan. Saat suara itu menghilang Harry baru sadar bahwa dia sudah
dikelilingi pohon-pohon yang sangat tinggi. Tiba-tiba mata Harry merasakan sesuatu yang
menyilaukan. Entahlah bentuknya bulat seperti bola, ukurannya sebesar bola sepak, bulunya
lebat, berkilau dan terlihat bulunya selembut kapas. Sulit sekali untuk mengenali makhluk apa
itu, tiba-tiba Harry malah jadi teringat cerita Kakeknya atau ini hanya kebetulan saja. Dari
pergerakannya makhluk itu seperti ingin Harry mengikutinya, tanpa pikir panjang Harry pun
langsung setuju untuk mengikuti kemana makhluk itu mengajaknya.

Saat tiba ditujuan makhluk itu menunjukkan diri. Harry pun sangat takjub dengan apa
yang dilihatnya, pemandangan yang disuguhkan sangatlah indah. Seperti gambaran dari cerita
Kakek. Sepertinya cerita Kakek memanglah nyata. Tetapi Harry merasakan seperti ada sesuatu
yang mengganjal. Rupanya ada sang naga yang sedang tertidur, Harry yang tak mengetahui
keberadaan sang naga, tiba- tiba malah membangunkannya tanpa sengaja saat mengagumi
keindahan Taman Rahasia. Harry mengira bahwa ia akan langsung dihabisi oleh sang naga.
Ketika sang naga mulai sadar akan keberadaan Harry, dengan segera sang naga menghampiri
Harry yang sedang mematung sambil menunggu untuk menjadi santapan sang naga.

“Hei, bukankah kau manusia? Akhirnya… Setelah sekian lama kami kedatangan manusia
lagi.” Ternyata dugaanku salah naga itu tidak ingin memakanku. Tapi tentu saja Harry harus
tetap harus waspada, bagaimana kalau tiba-tiba Harry dimakan oleh naga itu tanpa adanya
peringatan sekalipun. Disaat ada kesempatan Harry dengan cepat lari keluar Taman Rahasia
untuk menghindari naga itu. Fred dan Goerge yang melihat Harry yang sedang lari dengan raut
wajah ketakutan pun heran, dan bertanya apa yang terjadi. Setelah Harry menceritakan tentang
sang naga dan Taman Rahasia mereka berdua pun tertawa dan Fred pun mulai mengejek Harry
kembali.“Harry memangnya kau masih bocah? Semuanya jelas sekali terdengar seperti omong
kosong tahu!” Mendengar Fred mengejekku dengan kata bocah benar-benar membuatku kesal.
“Kalau kau kau memang tak percaya dengan apa yang barusan kuceritakan tentang naga dan
Taman Rahasia yang baru saja kutemukan kau bisa ikut aku Fred untuk buktikan ini omong
kosong atau bukan, itupun kalau kau mau.” Dengan sedikit nada meremehkan. Mendengar
tantangan dariku, Fred tanpa pikir panjang langsung mengiyakan saja. Goerge terkejut
mendengar jawaban Fred memutuskan untuk ikut serta pergi ke hutan bersamaku untuk
memastikan kembarannya yang sembrono ini tetap aman.

Saat tiba di Taman Rahasia Fred dan Goerge benar-benar terkejut dengan apa yang
mereka lihat, kaki mereka pun sampai terasa sangat lemah sehingga tidak dapat menopang tubuh
mereka sendiri karena saking terkejutnya oleh perawakan sang naga. Tapi disisi lain, sepertinya
Fred dan Goerge benar-benar terpesona dengan keindahan pemandangan yang disuguhkan. Sang
naga masih belum sadar akan kehadiran kami bertiga, namun sialnya makhluk kecil yang
mengantarku kesini malah menyadarkan kehadiran kami bertiga kepada sang naga yang sedang
menikmati waktu minum tehnya dengan anggun. Aneh bukan main, melihat naga yang
berukuran lima kali lipat dari ukuran asli tubuhmu sedang minum teh, bayangkan LIMA KALI
LIPAT!!! Sementara itu Fred dan Goerge sedang berbisik satu sama lain, aku sama sekali tidak
bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.Setelah sang naga menyadari
keberadaan kami bertiga sang dengan cepat langsung terbang menghampiri kami. Fred dan
Goerge baru saja bersiap untuk kabur tiba-tiba tidak bisa bergerak sama sekali, mungkin saja kali
ini sang naga menggunakan kekuatan sihirnya, aku ternyata bisa melihat aura tidak biasa samar-
samar. “Bukankanh kau bocah yang baru saja kemari? Kupikir kau tidak akan kembali lagi,

23

karna biasanya orang-orang kabur setelah kemari dan tidak akan pernah kembali lagi, entah apa
penyebabnya.” Tadinya aku kesal ketika dia memanggilku dengan sebutan bocah. Belum lagi
Fred dan Goerge yang memberikan respon tidak menyenangkan, menahan tawa mereka ketika
mendengar kata bocah. Tapi melihat naga yang memasang ekspresi memelas membuatku
kasihan.Akupun mencoba bertanya pada sang naga. “Pertama-tama aku ingin tahu namamu
terlebih dahulu, rasanya kurang pas bukan saling berbicara tanpa saling mengenal bukan?” Sang
naga pun membalas “Ah…iya kurasa kau ada benarnya juga. Kalau begitu perkenalkan namaku
Chandara yang artinya Bulan.” Chandara dengan bangga memperkenalkan dirinya sendiri. “Oh,
kalau begitu senang berkenalan denganmu. Aku Harry lalu disebelahku ini Goerge dan saudara
kembarnya Fred.” Fred dan Goerge pun melambaikan tangan mereka dengan lemah sambil
tersenyum tipis, mereka berdua kelihatannya masih waspada dengan Chandara. “Senang bertemu
dengan kalian semua!” Chandara pun menyambut kami bertiga dengan senyum yang cukup
mengerikan dengan memperlihatkan giginya yang runcing. “Hei, C-candara sepertinya tadi kau
bilang kau bingung mengapa orang-orang kabur setelah mengunjungi tempat ini kan?” Tanyaku
dengan gagap karna aku takut dengan Chandara. “Kurasa kau salah paham mereka kabur bukan
karena mengunjungi tempat ini melainkan karena melihatmu. Maafkan kalau aku
menyinggungmu.” Dengan perasaan bersalah aku mengatakannya pada Chandara. Chandara
yang mendengar perkataanku ternyata sama sekali tidak tersinggung malahan Chandara senang
karna ia jadi tahu penyebab orang-orang selalu kabur begitu kemari. Chandara pun mengubah
perawakan tubuhnya yang tadinya naga besar dan juga mengerikan menjadi seorang gadis cantik
dengan rambut hitam legam dengan panjang sepundak. “Woah!!” Satu kata yang keluar dari
mulut kami bertiga yang terpesona akan dengan kecantikan Chandara. “Dari raut wajah kalian
sepertinya sekarang aku sudah terlihat lebih baik sekarang” saut Chandara. Harry, Fred dan
Goerge pun langsung gelagapan sendiri ketika tahu tahu Chandara ternyata memperhatikan
mereka bertiga. Setelah itu Chandara mengajak kami untuk bermain bersama. Ketika hari sudah
mulai gelap aku mengajak Goerge dan Fred untuk kembali pulang bersama-sama. “Tunggu!
Sebelum kalian pulang aku ingin memastikan satu hal, maukah kalian kembali kemari?”
Chandara sepertinya sangat menyayangkan kepulangan kami bertiga. “Tentu saja kami akan
kembali lagi.” Jawab Goerge. “Kalau begitu berjanjilah kepadaku!!” Chandara menjawab
senyumnya yang kali ini lebih manis dari sebelumnya sambil menunjukkan jari kelingkingnya
sebagai tanda perjanjian. Kami pun secara bergantian mdngaitkan jari kelinking kami ke jari
kelingking Chandara. Lalu kami bertiga pun pergi pulang meninggalkan Chandara di taman itu.
Jadi selama liburan ini kami menghabiskan waktu bermain bersama Chandara.

24

Langit dan Dendamnya

Karya

KARTIKA TANTRI CAHYANI

Zamorra Natyashina Alisya, atau biasa di panggil Aca. Gadis cantik yang tinggal
berdua saja dengan Bi Surti pembantu di rumah semegah istana. Ibunya meninggal karena
kecelakaan saat mengantarkannya ke sekolah. Kematian ibunya, membuat Ayahnya benci
terhadap Aca sampai saat ini. Sifat kasar dan ringan tangan sudah menjadi hal yang sangat
biasa yang Aca dapatkan dari Ayahnya. Keadaanlah yang memaksakan dia untuk terlatih
dewasa, namun ia juga sangat pintar dalam menyembunyikan luka. Ia duduk di kelas 10
dan tepat 4 hari lagi dia akan merayakan sweet seventeen. Azka Adijaya Addison, ia adalah
pacar sekaligus cowok terbaik dalam hidup Aca. Sudah 2 tahun lebih ia menjalin hubungan.
Azka salah satu laki-laki yang bisa membuat Aca merasa sedikit tenang disaat dia ada
masalah. Aca juga memiliki tiga sahabat yaitu, Dara, Chay, dan Silly. Mereka bersahabat sejak
Sekolah Menengah Atas di SMA Garuda Bangsa, mereka juga orang yang paling berharga dalam
hidup Aca, mulai dari tempat curhat, susah, sedih, dan senang selalu sama-sama.

Sore hari sepulang sekolah, Azka mengajak Aca untuk ke rumahnya, karena
bundanya menyuruhnya. Anita adalah nama bundanya Azka. Oh iya, Aca sudah sangat dekat
dengan Anita. Ia juga sudah dianggap seperti anaknya sendiri, jadi tidak heran jika Aca juga
memanggil dengan sebutan bunda. Hari ini Anita memasak makanan kesukaan mereka berdua.
Apalagi kalo bukan Nasi goreng seafood. Mereka semua pun makan bersama-sama. Setelah
selesai makan, Azka mengajak Aca untuk pergi ke taman dekat rumah seperti biasa,
menghabiskan waktu bersama selalu dilakukan sepulang sekolah. Namun, tiba-tiba
hidung Aca mengeluarkan darah segar.

"Aca kamu kenapa?!" "Aduh bentar, gatau nih tiba-tiba pusing banget." Azka pun sangat
panik, karena dari pagi Aca memang terlihat pucat tidak seperti biasanya. Dalam hati
kecil Aca pun berkata, "Tolong jangan sekarang Tuhan, apa memang hari ini aku harus
menceritakan semuanya ke Azka?" Aca sebenarnya menderita kanker otak. Sudah dua tahun
terakhir, namun ia tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun, bahkan sahabatnya sendiri
pun tidak tahu tentang penyakitnya. Akhirnya Ia berani mengatakannya sekarang karena hasil tes
yang di berikan dokter tertulis bahwa usianya tidak sampai satu tahun lagi. Siap atau tidak, cepat
atau lambat, Aca pasti akan pergi meninggalkan Azka.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Azka mengantarkan Aca untuk
pulang. Saat sampai rumah Aca tidak melihat Johan. Ya, dia adalah ayah kandung Aca yang
tidak pernah segan-segan untuk memukulinya. Aca berfikir bahwa Johan sedang tidak ada di
rumah, ia merasa keadaan ini aman dan dia tidak akan di pukuli lagi. Saat Azka sudah
meninggalkan pekarangan rumah Aca, ia membuka pintu rumahnya, ternyata Johan sudah duduk
di ruang tamu dan memasang wajah penuh amarah. Aca yang ingin menghindari sudah tidak bisa
lagi karena Ayahnya dengan cepat mencengkeram tangannya. ‘Plakk’ satu tamparan mendarat di
pipi Aca. "Engga lihat ini sudah jam berapa HAHH?!" "Ayah maafin Aca, Aca mohon jangan
dipukuli lagi, Aca capek yah.. dari kemarin dipukulin terus. Aca dirumah sendiri, Ayah juga
tidak ada waktu untuk Aca, lalu Aca harus gimana Ayah?! Hikksss." Aca pun terisak. "Pak sudah
pak kasian neng Aca." "Jangan ikut campur! Anak ini harus diberi pelajaran.” Ucapan Aca dan bi
Surti tidak di hiraukan, Ayahnya pun menyeretnya dari ruang tamu menuju kamar mandi. Keran
air dinyalakan, Aca hanya bisa menangis dan berteriak menyebut nama ‘Bunda', namun Ayahnya
masih terus memukulinya. Dengan keadaan basah kuyup, Aca menangis di dalam kamar mandi
tersebut hingga tertidur. Kanker otak yang dialaminya itu benar-benar membuatnya merasa
tersiksa. Ayahnya selalu saja berbuat seperti itu seakan tidak ingin melihat anaknya senang.
Tetapi, disisi lain Ayahnya juga tidak ada waktu untuknya. Setiap hari, Ayahnya pulang larut
malam bahkan terkadang pun tidak pulang berminggu-minggu. Lantas apa yang
harus Aca lakukan? Mau sebaik apapun hal yang sudah dilakukannya tetap saja rasa benci pada
diri ayahnya pada Aca tidak akan hilang.

Disisi lain, Azka menghawatirkan Aca karena sampai pukul 11 malam Aca masih belum
mengabarinya. Ia berkali-kali menelfon, namun tidak ada jawaban. Ia terus menunggunya. Ia
sempat berfikir apakah Aca dipukuli lagi oleh ayahnya, tapi ia juga berfikir jika di rumah Aca

25

tadi sepi tidak ada orang. Tak lama kemudian pesan Azka akhirnya dijawab oleh Aca. Dia pun
menanyakan apakah Aca baik-baik saja. Jawaban yang diberikan Aca baik-baik saja. Namun
Azka tidak yakin dengan jawaban Aca, ia pun akhirnya menelepon Aca.

Dipertengahan percakapan, Azka ingin berpamitan dengan Aca jika 4 hari lagi ia harus
pergi ke Itali untuk bertemu dengan Ayahnya. Kehidupan Azka sangat berbeda dengan Aca,
sejak ia selalu mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya meskipun sering ditinggal. Tetapi,
4 hari lagi itu adalah hari spesial Aca karena itu tepat dia sweet seventeen. Aca yang mengetahui
itu sangat sedih disaat hari spesialnya orang yang spesial dalam hidupnya justru tidak bisa
merayakan ulang tahunnya. Setiap tahun sejak Aca menjalin hubungan dengan Azka, ia selalu
melakukan tiup lilin bersama. Mau tidak mau Aca pun tetap membiarkan Azka pergi, karena ia
sangat tahu waktu-waktu bersama orang tua pasti akan sangat berharga. Ya, dia mempunyai
pikiran seperti itu karena ia tidak pernah merasakannya.

Pagi ini di sekolah, seperti biasa Aca dan ketiga sahabatnya duduk di depan kelas sambil
menikmati kue coklat. Dari kejauhan terlihat Azka menuju ke arah Aca. Ketiga sahabatnya pergi
meninggalkan Aca saat Azka datang menghampirinya. Ia memberikan kado untuk Aca lebih
awal karena tepat Aca ulang tahun nanti Azka sudah berada di luar negeri. "Saat kamu tiup lilin
nanti terus aku belum dateng, kamu buka kado ini. Aca jangan pernah ngerasa sendiri ya, jangan
pernah ngerasa kalo kamu ini engga berguna, aku yakin kamu pasti sehat kamu pasti sembuh,
aku janji deh aku bakalan terus ada buat kamu, aku pergi cuma 2 hari aja kok Ca, jangan nangis
lagi ya." Ucap Azka. Azka memberikan kado padanya, sebenarnya ia tidak ingin memberikan
kado itu sekarang. Ia ingin memberikannya secara langsung pada saat tiup lilin nanti. Aca hanya
bisa tersenyum manis saat mendapat kado dari Azka.

Malam ini adalah malam dimana usia Aca mendekati tujuh belas tahun. Ia duduk sendiri
di taman dekat rumah Azka sambil memandangi ponselnya, ia merenung dan berfikir bahkan
sampai usianya menginjak tujuh belas tahun pun Ayahnya tidak pernah memberikannya kado
lagi. Jangankan kado, ucapan selamat ulang tahun saja tidak pernah lagi. Saat ini ia
sedang video call dengan Azka. Jika dilihat-lihat Aca memang sangat sedih. Azka saat ini sedang
berada di bandara bersama keluarganya karena akan menaiki pesawat untuk rute balik Jakarta.
Tiba-tiba ketiga sahabatnya datang, Aca benar-benar senang sekali malam itu. Akhirnya ada
yang menemaninya untuk meniup lilin. Setelah lilin ditiup, Aca pun membuka kado dari Azka.
Boneka dan sebuah botol kaca yang ada di dalamnya. Aca pun mulai membuka botolnya,
ternyata di dalamnya ada sebuah surat, ia pun mulai membacanya.

Teruntuk Zamorra Natyashina Alisya

Hayy penghuni bulan Desember, udah sweet seventeen aja nih hahaha. Maaf ya kalo Azka belum
bisa jadi orang terbaik dalam hidup Aca, mungkin kado ini emang engga mewah, tapi inget ini
spesial loh. Aca tau ngga kenapa aku kasih Aca surat ini? Hayo ngga tau kan? Jadi aku kasih
surat ini 2 hari sebelum aku pergi, biar aku bisa ngasih ucapan dan terbaik walau cuma lewat

surat. Sebenernya Azka berharap udah dateng sih pas waktu Aca tiup lilin,
biar Aca engga susah-susah buka dan baca suratnya ajasih. Aca dengerin Azka
ya, Aca harus tetep semangat jalani hari-hari ini, kalo dilihat emang berat banget. Azka
yakin Aca pasti bisa kok, jangan pernah berfikir kalo Aca ga bisa bahagia ya! Inget, Azka
sayang banget sama Aca. Kalo Aca lagi sakit hati ataupun sedih gapapa nangis aja, Azka akan

selalu ada buat Aca.
Ngelewatin fase hampir gila dalam hidup karena harus perang dengan isi kepala
itu emang harus di apresiasi banget loh Ca, rela ngerusak mood sendiri, terus dibenerin lagi,

terus stress lagi, nyalahin diri sendiri, abis itu damai
lagi deh. Turns out you're great, you're strong, and proud of yourself dear.

26

Jadi lebih baik ya di tujuh belas tahunmu ini, terima apapun yang datang, jalani apa
adanya, and Never blame yourself, semoga di tujuh belas tahunmu yang spesial

ini Aca bisa bener-bener ikhlas nerima semuanya. Jangan pernah nyalahin siapapun tentang
sesuatu yang datang, dan yang engga pernah Aca harapin, apalagi nyalahin diri sendiri. Azka

harap Aca engga benci sama om Johan ya, gimanapun juga dia tetep ayah Aca. Inget ini
semua tuh takdir dan takdir engga ada yang bisa dipilih. Tinggalkan dan lupakan semua hal

yang bikin Aca sedih.
Jangan pernah berhenti untuk berdoa yang terbaik untuk masa depan Aca, terus bersyukur

juga yaa setiap hari, gabolehh sampee lupaaa! Ingat harus ikhlas pakek hati hahaa.
Semoga Aca makin kuat ya, semoga semua ada titik terangnya, semoga Aca makin super sabar
lagi kedepannya, tetep rendah hati dan semangat hidup ya. Azka yakin Aca pasti sembuh kok,
lebih rajin juga minum obatnya. Semoga Aca menjadi lebih baik lagi, semoga siapapun yang
ada di dekat Aca sekarang, selalu sehat dan baik-baik saja. Semua itu memang keinginan yang

selalu Aca aminkan, sama aku juga mengaminkan hal itu. Harapan Azka semoga itu semua
terwujud ya aamiinn...

Semoga tahun depan Azka masih terus ada buat Aca, doain aku sehat juga biar aku bisa
berusaha nenangin kamu terus kalo lagi down , rajin-rajin minum obat ya sayang. Sok dramatis

banget ngga sihh aku ini wahai sayang? tapi gapapa dong ini tulus banget dari
hati ehemm. Untuk Zamorra Natyashina Alisya happy birthday, Ibadahnya lebih giat lagi, dan

satu lagi jangan terlalu berharap sama manusia okey. Berusahalah menjadi baik
untuk Tuhanmu, karena kalau Aca mengikuti standart manusia sebaik apapun Aca pasti
ada celahnya juga. Jangan pernah takut untuk melangkah, semoga Aca selalu sehat, biar bisa

makan eskrim coklat banyak-banyak hahah, jalani hari-harimu dengan senyum,
semangat and happy birthday, your prayers my amen♡.

From: Azka Adijaya Addison

Udara pagi ini sangat cerah hingga membangunkan gadis cantik dan baik hati. Akan
tetapi, Dara tiba-tiba datang kerumahnya dengan keadaan menangis sesenggukan. Aca pun
bingung kenapa. Ternyata, Dara mendapat kabar bahwa pesawat yang dinaiki Azka mengalami
kecelakaan pada saat rute balik Jakarta. Pesawat hilang kontak saat berada di ketinggian
40.000ft dan diketahui jatuh ke laut. Tujuh puluh persen dari penumpang pesawat tersebut
meninggal dunia dan hanya sebagian yang di temukan jasadnya. Aca yang mendengar berita itu
seperti manusia yang sudah kehilangan tulang, ia hanya bisa menangis karena tidak tahu harus
berbuat apa lagi. Ia pun hanya bisa berharap jika Azka bukanlah penumpang dari pesawat
itu. Tak lama kemudian, ia pun memilih untuk pergi ke bandara dekat rumahnya untuk mengecek
berita tersebut. Ternyata tertulis nama Azka Adijaya Addison dengan keterangan penumpang
pesawat yang belum di temukan keberadaan.

Setelah tiga hari pencarian, akhirnya jenazah Azka sudah ditemukan dalam keadaan
membusuk. Tetapi mama dan papanya masih belum ditemukan dimana keberadaannya. Aca
terbaring lemas di rumah sakit, kanker otaknya tiba-tiba kambuh semalam hingga membuatnya
tak sadarkan diri. Ia juga masih belum mengetahui hal ini. Ketiga sahabatnya tidak ingin
memberi tahunya, karena takut kondisinya akan semakin drop lagi. Kondisi Aca sangat buruk
karena semalam ia mengalami kritis. Ayahnya pun datang dengan keadaan menangis
sesenggukan karena takut kehilangan Aca. Entah ini tulus hati ayahnya atau hanya pencitraan
dihadapan semua sahabat Aca.

Pada saat Aca pingsan karena kelelahan mencari Azka, saat itulah Ayahnya tahu bahwa
sebenarnya putrinya ini menderita penyakit kanker otak. Aca yang melihat ayahnya menangis di
hadapannya terasa sangat tersentuh. Tetapi ia juga berfikir apakah Ayahnya ini benar-benar
menangis untuknya. "Aca ini Ayah sayang, maafin Ayah ya selama ini engga pernah ada
buat Aca. Selalu nyalahin Aca atas segala hal yang sebenarnya bukan salah Aca. Hukum Ayah
nak, Ayah rela apapun, Ayah minta maaf sayang." Tangis Ayahnya pecah. "Ayah, sampai kapan
pun Aca engga pernah benci sama Ayah. Gimana pun juga Ayah tetap superhero Aca, maafin
Aca kalo Aca selama ini engga pernah bahagiain Papa.” Balas Aca.

Polisi dan tenaga medis sedang mengotopsi jenazah Azka. Saat jenazah Azka tiba di
rumah, semua pihak keluarga menangis histeris dan masih tidak percaya bahwa Azka yang

27

biasanya ceria dan selalu memberi semangat pada orang lain kini sudah tak bernyawa. Disisi
lain, Aca terus menanyakan apakah Azka sudah ditemukan. Mau tidak mau sahabat mereka pun
memberi tahu bahwa Azka sudah tidak ada dan hari ini tepat pemakamannya. Namun Aca tidak
percaya jika dia tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Dokter melarang Aca untuk pergi
karena kondisinya masih belum membaik, namun ia tetap bersikeras untuk pergi. Keempat
sahabatnya pun pasrah, sampai pada akhirnya mereka mengantarkan Aca untuk pergi ke makam
Azka. Dan ternyata hal yang di katakan sahabatnya benar, bahwa jenazah yang ada dalam peti itu
memang Azka.

28

Art Definity

Karya
MAYA ANIDYA CITRA

ASAC dikenal juga sebagai Art School And Creativity. Sekolah ini merupakan sekolah
elite yang hanya menerima mereka yang memiliki jiwa akan kreativitas serta seni yang tinggi.
Lalu, aku adalah DevantaArelo. Siswa yang telah mendapat beasiswa setelah melewati
perjuangannya yang pahit dan manis. Dari awal Devan melewati gerbang sekolah tersebut ia
hanya bisa geleng kepala karena takjub akan keunikan arsitektur dari pintu gerbangnya yang
terlihat modern antara arsitektur neo-Gothic. Bentuk gedungnya pun unik dengan satu sisinya
berbentuk seperti berlian yang tidak mengkristal. Lalu pada sisi lain, bangunan dilapisi lembaran
baja yang disikat khas Gehry. Devan kemudian berjalan lebih ke dalam lagi dan menemukan
gedung yang berdesain struktur molekul.Tiba-tiba ia jadi teringat dengan sesuai dan segera
meraih sesuatu yang ada di kantung celananya."Kakak, aku percaya kita akan bertemu lagi."
Gumamnya sambil melihat bolpoin coklat tua yang sudah terlihat usang. 'Kita berjuang sama-
sama ya!' Ucap seorang gadis kecil. Hanya kalimat itu yang terpikirkan dikepala Devan saat ini.
Kemudian ia segera menyimpan kembali benda tersebut di saku celananya.Devan segera
bergegas dari sana dan menuju ke gedung para guru yang mempunyai desain modern dengan
motif lingkaran yang ditempatkan secara acak. Dia menemui seorang wanita yang masih terlihat
masih muda.

"Ini hari pertama sekolah, kenapa kamu telat?" Baru saja Devan menempatkannya di
salah satu bangku yang ada disitu ia sudah hadang oleh pertanyaan tersebut. Ia pun
mengeluarkan berbagai alasan hingga obrolan tersebut berkelanjutan lama.Setelah itu ia segera
menuju kelas dan menempati salah satu kursi yang kosong. Baru sampai di kelas ia sudah
diperhatikan oleh seluruh mata yang ada di dalam kelas tersebut. Devan hanya mengabaikannya,
tiba-tiba seorang wanita yang rambutnya mulai memutih masuk ke dalam kelas dan langsung
memberikan tugas."Siapkan alat gambar kalian, tugas pertama kalian adalah membuat still life."
Ucapnya bersamaan dengan beberapa orang yang membawa sebuah patung ke dalam kelas.
"Waktu yang kalian punya hanya 1 jam. Cepat diam dan kerjakan!" perintah Bu Sastra dan hanya
dilanda keheningan setelah itu. Ia adalah guru yang mengajar di kelas teknik dan fundamental
menggambar.

"Akan kutunjukkan seluruh kemampuanku," Batin Devan dan segera menyelesaikan
tugas tersebut. Hingga beberapa saat kemudian ia lah yang pertama kali mengumpulkan
duluan."Bu ini adalah tugas milik saya" Ucap Devan. "Gambar still life seperti ini, adalah
gambar terburuk yang pernah saya lihat. Ini adalah gambar yang tidak paham apa sebenarnya
fundamental ini," kata Bu Nanda dengan enteng menyobek gambar milik Devan dan segera pergi
keluar kelas. "Hahahaha.. disini tu ASAC, sekolah elit bukan buat yang cuma main-main. Atau
lu malah berpikir kalau gambar anime lu setara kastanya sama karya seni yang elit?" ujar teman
sebangku Devan, kemudian keluar dari kelas dan disusul dengan teman-temannya yang lain.

"Apakah aku bisa bertahan disekolah ini?" keluh Devan dengan nada putus asa.Setelah
latihan menggambar beberapa hari dan menerapkan teori menggambar agar menjadi sempurna
menghasilkan kantung mata yang menghitam. "Akhirnya datang juga" Batin Devan.

"Pagi. Letakkan tugas kalian diatas meja sekarang juga." Ucap Bu Sastra sambil berkacak
pinggang. "Bu ini tugas saya!" Teriak Devan dengan lantang yang langsung diambil oleh Bu
Sastra. "Apa maksud kamu mengumpulkan gambar tanpa perubahan ini? Kamu main-main ya?
Kamu bahkan tidak paham teknik menggambar! Kamu tidak belajar dari kesalahanmu minggu
lalu?" Omel Bu Sastra sambil menyobek-nyobek tugas Devan. Setelah diam beberapa saat ia
berkata lagi. "Gambarmu memang tidak sesuai dengan standar Ibu. Tapi saya dapat melihat

29

semangat belajar menggambarmu. Pelajari lagi ilmu dasar dan sempurnakan gambarmu agar
menjadi realistis. Yang merasa gambarnya belum pantas silakan menggambar ulang!! Kalau
masih juga gagal, Ibu kasih nilai jempol ini di rapor kalian semua!" Teriak Bu Sastra dengan
lantang sambil mengacungkan jempol dengan terbalik. Para murid lainnya pun mulai
mengerjakan gambarnya masing-masing.

Beberapa hari berlalu, terhitung hampir 1 minggu Devan sekolah disini. Sekarang sedang
kelas Bu Sastra, tanpa disadari guru wali kelas Devan yang sedaritadi mengintip dari balik pintu,
saat dirasa pelajaran Bu Sastra selesai, ia mulai memasuki kelas dan menyampaikan kepada
Devan untuk menghadapnya ke kantor.Saat Devan sudah dikantor Bu Aisya pun
menjelaskan."Ibu sedikit menjelaskan ya, seperti yang kamu tahu kita disini belajar ilmu teori
serta praktiknya. Ada beberapa kelas yang dapat kamu pilih nanti ketika penjurusan di kelas 2.
Terdapat wawancara yang dapat menentukan penjurusan kalian nanti. Dan ada juga pameran
hasil karya akhir sekolah yang diadakan tiap tahun. Pameran ini cukup bergengsi karena dihadiri
oleh berbagai orang yang terkenal, untuk karya terbaikdapat mengikuti pameran diluar negeri.
Hasil karya siswa setiap tahun akan diseleksi dan hanya yang terbaik yang akan dipajang. Jadi
terus semangat ya!" Ujar Bu Aisya dengan menarik ke atas kedua ujung bibirnya. "Siap Bu."
Jawab Devan dengan memperagakan satu tangannya seperti sedang hormat."Kalau soal nilai
kamu sih tidak perlu khawatir, kamu kan anak--" DEGUcapan Bu Aisya terpotong saat ia kaget
membaca berkas yang ada ditangannya. "A-anak!! Anak beasiswa!!" Lanjutnya dengan sedikit
terkejut. "Iya?" Heran Devan. "Iya kamu tidak perlu khawatir. Sudah Hanya itu yang mau Ibu
sampaikan." Jawab Bu Aisya dengan cepat."Baik Bu! Terima kasih" Kata Devan sambil berlalu.

'Kemampuan menggambarku memang belum bisa dihargai apa-apa. Tapi aku menjadi
murid yang berbakat dan gambarku dipajang, mungkin aku bisa bertemu dengan kakak teman
masa kecilku' batin Devan sambil menuju kelas dengan semangat dan tujuan baru. Namun
apakah itu akan berjalan sesuai rencananya? Tidak ada yang tahu.Disisi lain..

"Aduh.. Hampir saja aku kelepasan. Benar juga kata Bu Sastra. Anak yang satu ini
memang harus diperhatikan khusus. Aku khawatir ia akan bernasib sama seperti temannya.
Tidak mungkin Devan.. Kamu itu dari awal 'spesial'.." Keluh Bu Aisya dengan pelan.

Saat sudah jam pulang sekolah Devan pergi belajar kelompok dengan 2 orang
kenalannya. "Sebenarnya.. Karena aku dapat beasiswa aku harus belajar agar nilaiku tetap bagus.
Apalagi aku tidak terlalu pintar." Jelas Devan kepada temannya. "Hm aku mengerti sih.. Tapi
aku penasaran beasiswa yang kamu dapat itu jenis ada dan syaratnya apa? Misalnya kamu dapat
dana bantuan atau saat tes masuk nilaimu sangat bagus-bagus? Ehh bukannya apa-apa sih. Aku
hanya penasaran beasiswa apa yang ada di sekolah ini." Tanya Eza. 'Eza..! memang tidak apa-
apa ya? bertanya hal seperti itu?!' Batin Arsa temannya yang lain."E-eh beasiswa ada banyak
jenisnya? Disuratnya hanya ada pemberitahuan aku dapat beasiswa dan dapat sekolah gratis.
Tidak ada info lebih lanjut." Bingung Devan.'Aku jadi kepikiran, tapi apa pun jenis beasiswa aku
percaya kemampuanku dilihat oleh pihak sekolah.' Batin Devan yang sedang bergelut dengan
batinnya.Lalu berlalu begitu saja, obrolan Devan mengenai beasiswa pun terlupakan. Karena
akhir semester semakin dekat, anak-anak menjadi semakin rajin belajar. Hari-hari pun berlalu
dengan damai.

30

"Hm ko berisik? Ibu lagi apa?" Bingung Devan saat mendengar Ibunya berteriak-teriak
dengan suara yang terdengar marah."Sekarang kamu baru kasih tau semuanya?! Sudah lama
kamu tidak mengabari dan tiba-tiba kamu bilang begitu? Kamu pikir aku akan berterima kasih?!
Tidak usah bercanda, yang selama ini menghilang itu siapa?! Sembarangan kalau ngomong dasar
tidak tahu diri! Asal kamu tau-" Ucapan Ibu Devan terpotong saat melihat anaknya berada di
belakangnya. "Ibu aku pulang.." Kata Devan. "Ada yang ingin ibu bicarakan terlebih dahulu.
Apa kamu serius sekolah disitu? Apakah tidak ingin pindah kesekolah umum saja?" Tanya Ibu
Devan. "Ibu kenapa sih? Devan senang sekolah disitu, lagian Devan dapat beasiswa." Bela
Devan. "Yah.. Ibu juga mengizinkan kamu sekolah disitu karena beasiswa sih. Tapi Ibu baru tau
kalau beasiswa itu dari ayahmu. Ayahmu yang udah lama ngilang itu tiba-tiba nelpon. Ngasih tau
kalau beasiswa yang kamu dapat itu karena ayahmu kenal dengan pengurus sekolahnya." Jelas
Ibu Devan."Ta-tapi kan, mana mungkin ayah yang udah lama ngilang itu tiba-tiba ngebayarin
sekolah ku. Apa dia tiba-tiba tobat?" Sarkas Devan dengan nada yang tidak
mengenakkan."Entahlah dia bilang dia melihat namamu di formulir pendaftaran sekolah. Dia
memutuskan seenaknya kalau kamu itu bisa masuk hanya karena ia alumni dan kenal dengan
seluruh pengurus sekolah itu. Ibu sendiri tidak tahu apakah dia senang sebab kamu dapat masuk
disekolah itu? Atau dia hanya ingin pamer kekuasaan saja?" Bingung Ibu Devan.'Selama ini aku
kira, aku bisa masuk dan dapat beasiswa karena aku selalu belajar setiap malam. Tapi ternyata
kemampuan ku tidak ada bandingnya daripada kekuasaan yang ayah miliki? Selama ini usahaku
sia-sia?' Batin Devan melihat kedua tangannya dengan tatapan kosong."Ya sudah aku mau ke
kamar dulu ngerjain PR, cerita soal ayah besok aja lanjutinnya." Alih Devan kemudian berlalu
menuju kamar."Dasar.. dia pasti kepikiran soal ayahnya. Seharusnya aku tau saat dia mendapat
beasiswa disekolah elit seni itu." Gumam Ibu Devan. "Berbeda dengan ayahnya, gambaran
Devan itu-" 'Jelek.' Lanjut Ibu Devan dalam hati. Kemudian ia berlalu menuju bilik kamar milik
Devan dan malah menemukan anaknya sedang membaca komik.

"Kamu itu sebenarnya mengerjakan tugas atau baca komik sih. Mana kamarnya juga
berantakan banget, lagian apa bagusnya komik ini sih sampai kamu punya lengkap edisinya?"
Heran Ibu Devan."Iya ceritanya seru dan karakternya lucu. Penuh petualangan yang
mendebarkan dan Best seller selama 15 tahun." Jelas Devan. "Komik sialan ini sebagus itu ya?
Saya gasuka kamu baca ini. Ada yang ingin ibu bicarakan mengenai komik ini." Umpat Ibu
Devan. "Ya-iya?" Gugup Devan. "Sebenarnya-"Flashback

'Aku tidak ingat kapan itu akan terjadi, tapi yang pasti orang tuaku selalu bertengkar
dan susah akur. Saat itu aku masih berusia 5 tahun, dan hari-hariku hanya dipenuhi teriakan
amarah Ayah dan Ibu. Aku yang masih kecil belum mengerti penyebab kemarahan mereka,'

"Dasar sial udah gue bilang sabar juga! Gini-gini gue masih berusaha gambar buat
nyari duit." Umpat Ayah.'Kemudian ia melihat ku dipojokkan dan menghampiri,'"Loh itu kan
komik ayah. Kamu suka baca ya? Memang anak ayah satu ini."'Setiap aku membaca komik
dihadapan ayah ia selalu terlihat senang. Seminggu berlalu, aku tidak melihat ayah sama sekali.
Tiba-tiba aku bertemu dengannya di jalan dan ia bilang bahwa ia akan mencari harta karun dan
tidak tahu kapan akan pulang. Kemudian aku menceritakannya kepada Ibu. Hari itu hari
terakhirku melihat ayah dan aku tidak bisa melupakan ekspres Ibu saat itu. Sejak saat itu Ibu
menjadi tulang punggung keluarga dan ia menentang aku saat melihat aku suka menggambar.
Mungkin karena Ibu teringat dengan ayah. Meskipun begitu aku mempunyai kakak tetangga
yang suka menemani ku untuk belajar menggambar. Tapi akhirnya ia pindah dan meninggalkan
sebuah bolpoin padaku. Ia ingin melanjutkan sekolah ke ASAC dan berkata kita pasti bisa
bertemu kembali dan berjuang bersama-sama. Menurutku dengan menggambar kita bisa
menjadi dekat dengan orang yang memiliki jarak yang jauh dari kita,'Flashback off

"Suasana dirumah lagi gaenak, lebih aku ke coffeshop aja." Ucap Devan kepada dirinya
sendiri. Kemudian berlalu menuju keluar rumah.

31

"Wah lumayan ada diskon." Senang Devan sambil membuka gagang pintu. Tapi saat
berada didalam ada sesuatu yang mengejutkannya. "Kak Anya?!" Teriak Devan dengan
kaget."Ya, siapa ya? Em Devan?!" Kaget Anya."Sekarang udah besar ya. Makin ganteng." Puji
Anya."Hahahaha aku masih nyimpen bolpoin dari kak lo, berkat itu aku jadi semangat untuk
belajar menggambar hingga bisa masuk e ASAC." Jelas Devan penuh semangat. "Wah kamu
masuk situ? kamu emang ga nyariin aku?" Tanya Anya."Nyari, tapi aku takut nanya ke kakak
kelas jadi aku berencana menjadi murid berprestasi. Terkenal di pameran kemudian mudah untuk
menemui kakak." Jawab Devan dengan percaya diri."Emang kamu yakin? kamu padahal tinggal
2 tahun lo, emang keburu? Dan sebenarnya aku didropout dari sekolah itu hehe karna nilai ku
yang semakin menurun serta skill menggambarku yang kurang." Jelas Anya yang membuat
Devan melongo."Pantas saja aku tidak pernah bertemu dengan kakak!" Kesal Devan."Hehe tapi
sekarang aku menemukan bakat ku sendiri. Sekarang aku seorang barista yang tentu saja dapat
menghasilkan sebuah uang." Bela Anya.

Kemudian Devan menjelaskan perihal ayahnya yang kenal dengan pengurus sekolah dan
Anya tidak percaya, lalu Devan juga mengatakan bahwa ayahnya adalah pelukis komik yang
terkenal dan ayahnya yang kemarin menelfon Ibunya setelah sekian lama yang membuat Anya
semakin bingung. Setelah itu Anya memberikan saran dan mereka berdua larut dalam obrolan
tersebut. Kemudian Devan pamit pulang ke rumah.

'Setelah bertemu kak Anya aku jadi tau apa tujuanku.' Batin Devan. Tidak terasa waktu
telah berlalu begitu cepat. Beban dihati semakin berat dan apa yang sangat tidak ditunggu-tunggu
oleh para murid tiba. Ujian Akhir Semester di sekolah ini terbagi menjadi 2, yaitu teori dan
praktik. Pada ujian praktik gambar yang paling unggul akan dipajang beberapa di pameran.
Semua orang sibuk menyiapkan, termasuk Devan. Ia fokus mengerjakan lukisannya agar dapat
membuktikan kepada Ibunya bahwa ia bisa masuk kesekolah ini karena kemampuannya sendiri.
Yang namanya ujian pasti akan berlalu begitu pun dengan ini. Akhirnya hari-hari yang
melelahkan banyak orang telah selesai. Seluruh murid pasrah dan khawatir dengan nilainya
masing-masing. Tak terasa waktu pun berlalu dengan damai di ASAC.

"Pemberitahuan, ada anak dari kelas kita yang lukisannya akan dipajang di pameran.
Yang pertama adalah Arsa Dwiyantara dan yang kedua adalah-" Semua murid was-was
menunggu Bu Aisya melanjutkan kalimatnya. "-Devanta Arelo!" Sambung Bu Aisya dan
membuat semua orang dikelas berteriak senang dan memberi selamat kepada mereka berdua.
'Eh-apakah ini karena aku telah berjuang? Atau karena aku adalah murid beasiswa?' Batin Devan
tidak percaya."Ide serta konsep kalian juga diperhatikan dalam pemilihan ini," kata Bu Aisya.
'Eh? Apakah ini berarti aku terpilih karena usaha ku sendiri? Apa iya? Aku masih tidak percaya.
Bisa saja ayah yang mengatur semuanya. Seperti beasiswa ini, aku tidak percaya siapa-siapa!'
Devan bergelut dengan batinnya sendiri. Kemudian ia memutuskan bertanya kepada gurunya dan
hatinya sedikit tenang mendengar penjelasannya.

Tapi beberapa hari dilaluinya masih belum tenang, hingga pameran sekolahpun tiba.
Devan dan kedua temannya memasuki ruangan pameran dan menjadi sorotan seluruh ruangan
karena lukisannya dipajang. Ternyata lukisan milik Devan dan Arsa dipajang
bersebelahan.'Walaupun lukisannya dipajang, tapi lukisan Arsa banyak yang melihat sedangkan
aku tidak. Semua orang terlihat senang melihat lukisan Arsa. Tapi lukisanku bahkan tidak dilihat

32

orang?' Batin Devan dengan sedikit murung. Tetapi tiba-tiba ada seorang anak-anak yang
menarik tangan Ibunya untuk merengek melihat lukisan milik Devan. Anak itu berkata bahwa
lukisannya lucu dan ceria, dan itu membuat Devan tersenyum dan senang bukan main. 'Aku akan
terus menggambar dan membuat orang lain tersenyum melihat lukisanku.' Batin Devan
kemudian berlalu dari ruangan itu bersama kedua temannya.

"Luar biasa. Memang anakku, gambarmu memiliki ciri khas tersendiri. Dan yang paling
penting, aku bisa merasakan emosi dan tujuanmu membuat lukisan ini. Teruslah menggambar
Devan. Selama kamu tidak menyerah, kamu pasti bisa meraih cita-citamu," Ujar pria berjas
hitam dengan senyum misterius dan pergi menuju keluar ruangan.'Eh perasaan bahagia apa ini?
Apa pun itu semoga perasaan ini bisa menetap dihatiku,' batin Devan ditempat lain.

33

Langit Gelap Bercerita

Karya
MEILANI SINDI PUSPITASARI

Di sebuah desa, terdapat rumah yang dihuni oleh satu keluarga beranggotakan lima orang.
Tiap anggota keluarga memiliki kelebihan masing-masing. Dari kelebihan yang mereka miliki,
mereka dapat mencetak prestasi-prestasi dengan caranya sendiri. Sang kepala keluarga yang
bernama Jono yakni berperan sebagai ayah, selalu mengeluarkan lawakan receh yang bisa
membuat semua orang tertawa ketika mendengarnya. Beliau juga pernah mengikuti lomba lawak
yang diadakan oleh kabupaten di daerahnya dan mendapatkan juara pertama. Selain itu, pak Jono
juga memiliki keahlian dibidang komputer. Sedangkan istrinya yang bernama Tina, mempunyai
kelebihan dalam hal memasak yakni membuat jajanan pasar yang rasanya sangat enak dengan
cara bantingan. Kedengarannya lucu bukan? Tentu dengan caranya inilah yang membuat orang
lain terkagum bahkan terkaget-kaget. Lalu beliau membuka usaha didepan teras rumahnya,
dengan cara memasaknya yang unik ini jajanan yang dibuatnya bisa viral hingga keluar kota.
Dan anak pertama memiliki keahlian dibidang perancangan. Anak pertamanya ini bernama Deni,
dia paling mahir dan menyukai kegiatan merancang seperti dekorasi, ataupun merancang bentuk
bangunan yang indah. Dia sering mendapat panggilan di sebuah proyek untuk merancangkan
bangunan yang diinginkan oleh sang client. Dan anak yang kedua bernama Sani yang memiliki
keahlian berbicara. Dia sangat mahir dan pandai dalam berbincang-bincang serta memiliki
kepercayaan diri yang tinggi. Dia tak malu bila berbicara didepan banyak orang, jadi tidak heran
jika dia sering mandapat job dari orang lain untuk menjadi MC di sebuah acara. Dan anak yang
terakhir ini bernama Sari, dia memilki kemahiran dalam hal bernyanyi dan memasak. Hampir
setiap hari dia selalu bernyanyi saat sedang melakukan sesuatu, seperti pada saat dia sedang
menyapu. Dia juga sering mengikuti lomba-lomba menyanyi yang ada disekitarnya.

Pada saat makan malam, pak Jono berbicara kepada istri dan anak-anaknya, beliau ingin
merayakan ulang tahun anaknya yang terakhir yaitu yang bernama Sari dengan mengundang
keluarga besar dan teman-teman Sari. Anak dan istrinya pun setuju atas rencana pak Jono
tersebut. Dan rencana ulang tahun ini akan diadakan 3 hari lagi, tepatnya pada malam hari. Lalu
pak Jono memberikan tugas pada masing-masing anaknya untuk menunjukkan bakat yang
dimilikinya. Si anak pertama diberikan tugas untuk mendekor konsep ulang tahun adeknya
tersebut. Si anak kedua diberikan tugas untuk menjadi MC diacara itu, dan istri serta anak yang
terakhir diberikan tugas untuk memasak masakan yang paling enak serta membuat jajanan viral
yang dijual oleh istrinya itu. Pak jono pun membantu anak pertamanya mendekor konsep acara
tersebut serta menyiapkan tempat yang cocok untuk acara itu. Serta menyiapkan undangan bagi
keluarga dan teman-teman Sari nantinya. Mereka semua saling bekerjasama dan menggunakan
keahlian mereka semaksimal mungkin agar acara tersebut bisa berjalan lancar.

Keesokan harinya, mereka pun bersiap untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Serta
menyiapkan peralatan dan kebutuhan yang akan diperlukan untuk 3 hari mendatang. Satu per
satu bahan serta peralatan sudah mulai terkumpul dan undangan pun sudah jadi dan siap untuk
disebarkan. Adapun beberapa bahan yang masih belum ada, seperti makanan-makanan yang
akan disajikan, dan juga jajanan yang akan dibagikan untuk para tamu undangan yang datang
pada acara tersebut. Konsep acara ini dibuat dengan tema outdoor, yakni memanfaatkan keadaan
pada malam hari agar bisa menikmati dinginnya angin malam yangditemani oleh banyaknya
bintang yang menghiasi langit-langit. Makanan yang akan disajikan nantinya pada acara tersebut
berkonsep bakaran, seperti sosis bakar, jagung bakar, ikan bakar, dan lain sebagainya. Serta
minuman yang akan di sajikan yaitu es campur dan susu jahe hangat untuk menyesuaikan
suasana malam hari yang dingin, tak lupa juga kue tart sebagai simbol acara ulang tahun.

34

Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, semua yang dibutuhkan di acara tersebut sudah
siap. Para tamu undangan pun satu-persatu berdatangan, termasuk keluarga besar dan teman-
teman Sari. Mereka juga sudah mempersiapkan hadiah yang spesial untuk Sari. Sari pun sudah
mempersiapkan diri dan terlihat menawan dengan balutan gaun yang berwarna putih. Acara pun
sudah dimulai, anak ke dua dari pak Jono yang bernama Sani akan menjadi MC pada acara
tersebut. Setelah itu, pak Jono mengeluarkan bakat melawaknya untuk menggantikan peran
badut di acara ulang tahun putrinya. Kemudian para tamu pun dipersilahkan untuk menyantap
hidangan yang telah disajikan dengan ditemanni iringan lagu yang dinyanyikan oleh putri sulung
pak Jono. Setelah mempersilahkan para tamu untuk menyantap hidangan yang telah disajikan,
selanjutnya masuk ke acara inti yaitu acara memotong kue ulang tahun yang telah dipersiapkan
oleh keluarganya. Potongan pertama diberikan kepada kedua orang tuanya, dan potongan yang
lain dibagikan kepada seluruh keluarga beserta semua para tamu undangan. Acara selanjutnya
yaitu menyalakan kembang api dan mengadakan bakaran sembari menikmati angin malam.
Malam itu benar-benar sangat berkesan bagi Sari karena acara tersebut bisa berjalan lancar
seperti yang diharapkan. Bintang-bintang pun ikut hadir untuk memeriahkan acara ulang
tahunnya dengan cara menghiasi langit malam sehingga nampak lebih indah. Sari merasa sangat
senang pada malam itu, dirinya bisa bertemu dan berkumpul bersama keluarga beserta teman-
temannya. Hadiah yang diberikan dari keluarga dan temannya sangat banyak, sampai dia
kewalahan untuk membukanya. Tak bisa dipungkiri bila malam itu menyimpan cerita-cerita
indah yang tak bisa dilupakan. Benar-benar malam paling istimewa yang pernah dia lalui,
dengan langit malam yang ditemani semilir angin serta bintang yang bertaburan. Sungguh
bersyukur sekali akan hal ini. Dia berterimakasih kepada kedua orang tuanya yang sudah
mengadakan acara semeriah ini. Dan mengucapkan terimakasih kepada keluarga serta para tamu
yang sudah ikut memeriahkan acaranya ini.

35

My Friend My Boyfriend

Karya
MOCHAMMAD SYAHRUL GUFRON

Kicauan burung dan udara pagi ini sangatlah sejuk sekali, membangunkan seorang gadis
cantik yang bernama Yura Azzura atau biasa dipanggil Yura. Dia memiliki sahabat dari kecil
yang bernama Ashraf Mararungga, atau dipanggil Mara. Mereka berdua bersekolah di SMA
KEBANGSAAN. Mereka selalu berangkat sekolah bersama-sama, karena jarak antara rumah
mereka hanya selisih 3 rumah saja.

“Mara!! Bangun ihh!” Teriak Yura. “Apa sih, lima menit lagi deh aku bangun, huammm”
Jawab Mara sambil menguap. “Loh… Lima menit gimana, sekarang hari Senin nanti kita bisa
telat upacara Mara” Protes Yura. “Hah?? Apa?? Berarti 10 menit lagi dong gerbangnya ditutup.
Bentar-bentar ya tunggu aku mandi dulu.” Kemudian Mara bergegas untuk mandi dengan
keadaan yang super panik. Selesai mandi, Mara pun langsung mengambil sebuah roti atau sebut
saja sandwich di dapur yang sudah disiapkan oleh pembantunya, lalu mereka bergegas berangkat
ke sekolah.

Sesampainya di sekolah mereka pun bergegas meletakkan tas mereka dan mengikuti
upacara. “Ura, mana tas kamu biar aku yang taruh di kelas, kamu cari barisan sana!” Ucap Mara
kepada Yura. “Oh yaudah, bentar aku ambil topi dulu. Aku langsung ke lapangan ya Mar.”
Jawab Yura. Mara hanya menggangguk dan mengiyakan pertanyaan temannya itu. Mereka
mengikuti upacara dengan khidmat sampai selesai.

Mereka sudah bersahabat selama 10 tahun lamanya. Sejak mereka duduk di bangku
Sekolah Dasar hingga saat ini. Kedekatan mereka sudah seperti layaknya adik dan kakak karena
kemana pun diantaranya pergi pasti salah satunya ikut. Namun, ada sedikit perbedaan pada Yura,
ia mengidap penyakit kanker otak. Mara yang mengetahui itu, sangat amat terpukul karena
sahabatnya itu dipastikan oleh dokter bahwa umurnya tidak akan bisa bertahan lama. Ya, itu
semua karena penyakit yang dideritanya. Dengan kebenaran yang diungkapkan oleh dokter
tersebut, Mara semakin tekun menjaga Yura.
Pelajaran dikelas dimulai.

“Ura kamu udah ngerjain belum?” Tanya Mara kepada Yura.“Udah, kenapa? Mau
nyontek lagi?” Jawab Yura dengan wajah cemberut.“Hehehehe.. Iya nih.” Yura pun memberikan
bukunya kepada Mara dan membiarkan sahabatnya itu menyalin jawaban dari tugasnya. Pada
saat guru menjelaskan, tiba-tiba saja wajah Yura menjadi sangat pucat, hidungnya juga
mengeluarkan darah. “Loh, Yura kamu kenapa pucet banget, hidung kamu mimisan!” Mara
melihat itupun sangat panik dan berusaha bertanya kepada Yura tentang apa yang dirasakan

36

pada saat ini. “Aku gapapa kok” Singkat Yura.“Gapapa gimana? jelas-jelas kamu itu mimisan.”
Cecar Mara. Kemudian ia segera meminta izin kepada guru untuk membawa Yura ke ruang
UKS. Tetapi belum selesai ia berbicara kepada gurunya, Yura sudah jatuh pingsan. “Ya ampun
Yura, Bu ini bagaimana Bu??” Panik Mara.“Ayo nak salah satu pergi ke UKS cepat, panggil
petugas UKS untuk bawa dia kesana!” Perintah Gurunya. “Tidak Bu, biar saya saja yang
membawa Yura kesana.” Tolak Mara.

Akhirnya Mara pun menggendong Yura dan membawanya ke ruang UKS. Badan Yura
terasa sangat panas sekali, belum lagi hidungnya yang tidak berhenti mengeluarkan darah.
Dengan kondisi Yura seperti ini membuat Mara semakin takut dan sangat panik.“Ura, kamu
bertahan ya cantik, aku mohon kamu yang kuat.” Ternyata Mara menangis saat membawa Yura
menuju UKS. Sesampainya di UKS, petugas kesehatan langsung memberikan selang infus. “Ini
pasti karena dia belum makan sama minum obat. Ya Tuhan, aku sayang banget sama Yura,
jangan ambil dia dari aku Tuhan.” Mara terus mengucapkan doa-doa sambil mondar-mandir di
depan ruang UKS.Tak terasa hampir satu jam Mara menunggu Yura hingga Yura pun tersadar.
Yura memang sedikit keras kepala, sudah tau dia sakit namun susah untuk menyuruhnya makan
dan minum obat. Sedari kecil Yura tidak memiliki orang tua, ia hanya tinggal bersama neneknya
saja. Ibunya meninggal saat melahirkan dia, dan Ayahnya meninggal karena kecelakaan di saat
Yura masih kelas 2 SD. Yura memang anak mandiri sejak kecil, ia juga sangat amat pintar dalam
pelajaran. Ia mengidap penyakit kanker tersebut sudah hampir tiga tahun lamanya. Berkali-kali
Mararungga meminta Yura untuk melakukan operasi pengangkatan penyakit itu agar dia bisa
sehat kembali. Namun Yura tetap Yura gadis keras kepala, dia tidak mau melakukan operasi.
Padahal, melihat kondisi Yura bisa dibilang sudah parah sekali. Yura seringkali mengalami drop.
“Mara, kalau misalnya aku udah ngga ada, kamu jangan bosen buat datang ke tempat
peristirahatanku ya.” Ucap Yura. “Kamu ngomong apasih!!” jawab Mara dengan nada marah.
“Aku udah engga kuat lagi, aku capek kepalaku sakit terus-menerus.” Keluh Yura. “Yura,
dengerin aku ya, kamu itu sahabat sekaligus pacar aku. Aku gamau kehilangan kamu, aku sayang
banget sama kamu.” Mara meneteskan air mata saat mengucapkan hal tersebut. “Maafin aku ya
Mara.”

Setelah berbincang-bincang Mara pun mengantarkan Yura pulang kerumahnya. Setelah
itu Yura beristirahat seperti biasanya. Keesokan harinya, Mara dibuat terkejut saat memasuki
kamar Yura. Tubuh Yura sangat dingin dan kaku. Mara terus membangunkan Yura, namun tetap
saja ia tertidur sangat lelap. Dengan rasa khawatirnya Mara menelfon ambulance untuk
membawa Yura ke Rumah Sakit.

Sesampainya di Rumah Sakit, Yura langsung dibawa ke ruang UGD dan segera ditangani
oleh dokter. Setelah menunggu lama, dokter keluar dengan wajah yang sedih. “Permisi, apakah
anda temannya?” tanya dokter itu kepada Mara. “Iya dok, bagaimana keadaan teman saya??”
tanya balik Mara. “Mohon maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan
berkehendak lain. Teman anda sudah tiada. Saya harap anda bisa ikhlas dan tabah, saya turut
berdukacita.” Jelas si Dokter. Bagai dihantam ombak, sesakit ini hati Mara sekarang. Sahabat
sekaligus pacar yang sangat ia sayang sudah pergi selamanya. Ia pun hanya bisa menangis dan
memohon kepada Tuhan agar sahabatnya itu bisa bangun lagi, namun sangat mustahil Yura bisa
bangun lagi.

Waktu berjalan sangat cepat, tidak terasa kini sudah satu tahun sahabatnya sekaligus
pacarnya itu meninggalkannya selama-lamanya, ia hanya bisa memberikan Yura sebuah do’a-
do’a. Namun, sampai detik ini, jam ini, hari ini, bulan ini, Mararungga belum bisa melupakan
sesosok gadis yang bernama Yura Azzura.

37

Aku dan Kamu

Karya
MOHAMMAD DANI PRAKOSO

‘Kerikil di setapak merintih tak pernah istirah.
Membaurkan harum tubuhmu yang meranggas’

Dua larik puisi itu kulihat tertulis dalam kertas coklat di mading jurusan. Setiap minggu,
BEM prodi di jurusan kami selalu mengadakan program ‘Puisi Berantai’ yang mempersilahkan
seluruh mahasiswa dapat menyumbangkan beberapa baris puisi sehingga bisa membuat puisi
yang utuh secara bersamaan. Beberapa menit kupandangi dua baris puisi tersebut, kebetulan
sunyi sangat terasa di lorong jurusan. Hanya menyisakan aku dengan dinding mading yang ada
di hadapan. Sejenak aku berpikir, tidak ada salahnya untuk menuliskan beberapa kalimat. Ku
keluarkan bolpoin yang tintanya hanya tinggal sisa. Satu persatu huruf yang tadinya hanya ada di
kepala, kini sudah tertuang dalam kertas tersebut. Kukeluarkan diksi yang setidaknya nyambung
dengan baris puisi sebelumnya.

“Angin pun mengeluarkan suara angan,
dan meminta bahwa kau adalah impian.”

Esok harinya, saat aku terburu-buru masuk kelas di pagi hari, kulihat sudah ada dua baris
puisi lagi di bawah pusiku. Ternyata balasan untuk puisiku dibalas tak lebih dari 24 jam. Aku
cukup berdecak kagum dan tertegun, siapa orang yang menulis puisi se pagi ini di lorong
jurusan? Melihat tulisan itu, segera ku balas puisi itu kembali. “Laras! Ayo masuk kelas!” Aku
tersadarkan oleh suara nyaring yang berasal dari belakang. Ternyata Rana, temanku dari zaman
mahasiswa baru yang sampai saat ini masih doyan masuk kelas terlambat. Segera aku
menyusulnya yang telah menaiki beberapa anak tangga. Tanpa memperhatikan sekitar, kaki ku
tersandung dan menabrak seseorang yang hendak turun. Tanpa babibu lagi, aku langsung minta
maaf dan menancapkan gas untuk pergi saat itu juga. Bukan hanya karena terlambat masuk
kelas, tetapi aku tak berani menatap dan berurusan dengan orang yang telah kutabrak.

Nyawaku masih bisa diselamatkan karena dosen masih boleh mempersilahkan aku
memasuki kelasnya. Tentu saja tidak gratis, setelah kelas pastinya aku akan mendapatkan
beberapa tugas tambahan. Tetapi, hal itu tentu saja masih untung dibandingkan dengan absen
kehadiranku yang berkurang. Alhasil, setelah pembelajaran selesai. aku harus menyelesaikan
tugasnya. Saat semua orang sudah keluar kelas, tinggalah aku seorang diri. Tiba-tiba datang
seorang lelaki yang mengetuk pintu kelas. “Sorry kelasnya masih dipakai ya?” Tanya Orang itu
masih berdiri di depan pintu. “Oh nggak kok. Cuma numpang ngerjain tugas aja. Mau ada kelas
juga ya, Kak?” Akupun memasukan buku dan segera meninggalkan kelas. Entah siapa lelaki itu,
tapi kuyakin dia adalah kakak tingkat.“Nanti sih habis istirahat. Jam 1” Jawabnya singkat.
“Okey kak, silakan.”Ia hanya tersenyum tipis dan menaruh tas nya di bangku. Untungnya, tugas
tersebut sudah selesai kukerjakan dan bisa aku langsung kumpulkan di ruang dosen.

Saat aku menuruni tangga, sekitar 4-5 orang berkerumun di mading. Setelah lihat dari
dekat, ternyata mereka memfoto dan terkagum-kagum dengan puisi berantai minggu
ini.“Ini so sweet banget, Ras! Pasti salah satu penulis puisi ini Kak Deo.” Rana yang melihat
kehadiranku dengan heboh menarikku masuk ke kerumunan. Salah satu tangannya bergerak
memukul pundaku brutal. Sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk menutup mulutnya,
pandangannya terfokus pada deretan puisi di mading. Pasrah dengan perlakuan Rana yang
berlebihan, aku hanya mengerutkan dahidan membatin, ‘Kenapa seheboh ini?’ “Siapa tuh Kak

38

Deo?”Aku yang antisosial memang tak tahu menahu tentang orang populer di jurusan. Rana
dengan semangat menjelaskan sosok orang bernama Deo yang merupakan pemenang lomba
cipta puisi tingkat nasional. Oke, sekarang aku sudah paham alasan mengapa Rana dan
mahasiswa lain terlihat heboh, tapi bukankah mereka sedikit berlebihan? Lagi pula Kak Deo
hanya membalas puisinya, tidak lebih. Tak ingin pikir panjang aku pun menarik lengan Rana
keluar dari kerumunan untuk mengajaknya pulang, yang tentu saja mendapat decakan dari Ratna.
Tapi aku sama sekali tidak peduli. Kami pun pergi meninggalkan gedung dan akan kembali
saat matkul terakhir di jam sore.

Tak mau terlambat Lagi. Sore ini aku menjadi yang pertama memasuki kelas. Namun,
sebelum itu, ku sisihkan waktuku untuk melihat puisi berantai di mading. Puisi dua bait itu
berhasil membuatku bergerak untuk menuliskan beberapa patah balasan. Namun tanpa kusadari,
ada sosok lelaki yang entah sejak kapan memperhatikanku menulis.“Jadi selama ini kamu yang
membalas puisiku. Perkenalkan, aku Deo.” Ucap laki laki itu sopan dengan sebuah senyum yang
terpasang di wajahnya. Sebuah senyum yang sangat indah hinggamemberikanku nyawa untuk
bisa memperlihatkan senyuman manis yang kupunya.

39

Persahabatan

Karya
MOHAMMAD NAFIS IRSYADUDDIN

Dulu waktu masih SD dan SMP aku mempunyai 4 orang sahabat yang selalu setia
bersamaku. Mereka adalah temanku dari kecil. Mereka adalah Hairil, Hasby, Jafar, dan Untung.

Pernah suatu saat di sekolah waktu kami sudah SMP, salah seorang teman ku ribut di
dalam kelas. Saat itu, aku yang bertindak sebagai ketua kelas memberitahu temanku, "Bro,
jangan kamu terlalu ribut nanti kita dimarahi sama Pak Guru." Tapi anehnya dia malah tambah
ribut, mungkin dia sengaja untuk membuatku emosi. Pikiranku seperti itu sama mereka, tapi aku
tidak ambil hati karena aku berpikir mereka adalah teman dekatku. Karena aku sudah lelah
menegur mereka, aku pun memilih untuk meninggalkan kelas. Bukannya diam, mereka malah
mengikutiku keluar dari kelas. Berapa jam kemudian salah seorang teman perempuanku
melaporkan kami yang keluar meninggalkan ruangan kelas. Akhirnya kami dipanggil
menghadap ke kantor. Setelah kami sampai di kantor kami dihukum oleh Bu guru, dan setelah
keluar dari kantor teman ku tertawa lantaran mereka yang berbuat salah tetapi aku juga ikut kena
batunya. Tapi tidak apa-apa karena mereka adalah teman ku, kataku dalam hati.

Beberapa tahun kami bersama menghabiskan waktu yang tidak akan pernah terlupakan
sejak dari SD-SMP akhirnya kami berpisah lantaran kami melanjutkan sekolah kami dijenjang
SMA. Setelah kami berpisah aku dan teman ku tidak bisa lagi berkomunikasi lantaran waktu dan
jarak yang memisahkan kami.

Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa teman ku ada yang putus sekolah
mereka adalah Jafar dan Hasbi, katanya sih karena pergaulan disana. Kini tinggal lah aku, Hairil
dan Untung yang masih bertahan tapi sayangnya kami berbeda tempat dan aku juga tidak tau
kabar teman ku yang dua orang ini bagaimana sekarang.

Beberapa tahun kemudian baru lah aku mendengar kabar mereka, tapi diantara teman ku
ini ternyata satu teman ku tersiksa di tempat tinggalnya dan dia tidak betah lagi tinggal di rumah
itu. Aku juga tidak tau apa alasannya. Dia sempat mengeluarkan air mata ketika dia berbicara
denganku lewat hp. Aku memberinya saran, "Memang gitu tinggal di rumah orang tidak ada
enaknya dan kita anggap saja sebagai cobaan."

Beberapa bulan kemudian dia kabur dari rumah tempat tinggalnya tanpa sepengetahuan
yang punya rumah dan orang tuanya. Setelah tau dia kabur dari rumah, bapaknya sempat
mencarinya tetapi tidak ketemu, ternyata selama ini temanku bersembunyi di masjid dan tidur di
situ. Bapaknya pun akhirnya paham tentang apa yang menimpa temanku. Akhirnya bapaknya
mengizinkan temanku untuk pindah sekolah. Aku pun sempat bertemu dengannya, karena saat
itu dia pindah di sekolah yang sama denganku. Lalu, dia bicara sesuatu kepadaku, "Hmmpp
lamanya baru bertemu Sob, sudah hampir dua tahun." Dia juga sempat bertanya, "Gimana kabar
teman kita yang lain..?" Saya menjawab, "Saya kurang tau juga Sob."

Setelah kami lulus dari SMA kami pulang di kampung halaman dan akhirnya kami
berkumpul lagi seperti yang dulu lagi, waktu SD dan SMP. Beberapa bulan lamanya kami disana
melanjutkan pendidikan kami lagi yaitu kuliah. Lalu akhirnya kami berpisah lagi. Tidak terlalu
jauh. Kecuali Untung, ia kuliah di negara orang yang jauh karena keinginan orang tuanya.
Untungnya kita masih dapat menjalin komunikasi dalam jarak jauh lewat hp. Aku bersyukur
karena masih bisa bersama temanku Hairil. Aku juga tidak lupa dengan temanku yang putus
sekolah. Meskipun kami jarang berkomunikasi aku selalu ingat mereka karena mereka adalah
sahabatku sejak kecil.

40

Insecure

Karya
NASHWA ASHAR AZ-ZAHRA

Adosha baru saja keluar dari perpustakaan kota, ia baru saja meminjam beberapa buku
yang sekiranya bisa membantunya belajar. Ia menggerakan kakinya, berjalan menyusuri trotoar
dengan perlahan. Tak jarang dirinya terbatuk karena polusi udara yang di sebabkan oleh
kendaraan yang lewat di sampingnya. Tangan Adosha bergerak memeluk dirinya sendiri. Jujur
saja, angin malam yang berhembus membuat bulu kuduknya meremang. Padahal dirinya sudah
menggunakan jaket, tapi ia masih kedinginan. Adosha menghentikan langkahnya. Berdiri di
samping jembatan. Adosha sedikit berjinjit hingga ia dapat melihat pantulan dirinya yang kecil di
atas air sungai yang tenang.Perasaannya kalut. Ia kehilangan kepercayaan dirinya.Dirinya merasa
sangat lelah. Lelah raga maupun batin. Adosha benar benar sudah muak. Hari ini adalah hari
yang sangat buruk. Oh, haruskah ia menyiapkan diri untuk hari esok yang bisa jadi lebih
buruk? Omong-omong, sepertinya seru jika ia berenang malam malam di sungai. Melompat dari
sini lalu meneriakan kalimat ‘HIDUP SEPERTI LARRY!’ Adosa sedikit terkekeh dengan ide
gilanya. Ia kembali terdiam memandangi pantulan wajahnya di bawah sana. Ting!~ Cukup lama
ia berdiam diri hingga sebuah notifikasi tanda masuknya pesan mengalihkan pikirannya.
Ayah
Adosha, pulang! Jangan kira kamu bisa main sama temen-temenmu ketika nilai mu turun gini!
Lihat dong si Alesha! Dia aja bisa mahir semua segala mata pelajaran? Kenapa kamu enggak?
Harusnya kamu makin semangat belajar dong biar gak kalah sama adek kembarmu itu.

'Huhhhhh.' Sebuah helaan nafas berat keluar dari bibirnya, pesan itu terasa
sangat menyesakan. Lagi lagi dirinya dibandingkan dengan orang lain, dipaksa melakukan
sesuatu yang sejak awal bukan keahliannya. Ia segera mematikan ponselnya tanpa membalas
pesan itu. Untuk apa membalas? Adosha sudah berkali kali menjelaskan bahwa keahliannya ada
di bidang seni, tapi Ayahnya menentang keras dan memaksa dirinya untuk menjadi
seperti Alesha. Ia mengacak rambutnya, memilih untuk melanjutkan perjalanannya menuju halte
karena hari semakin dingin.Di tengah acara jalan santainya, ia merasakan tetesan air mengenai
wajahnya. Ia mengangkat wajahnya menatap langit. Sama sekali tidak ada bintang, hanya ada
kegelapan yang di selimuti mendung. Sama seperti hatinya. Tak lama kemudian hujan turun
membuat Adosha harus mempercepat langkahnya mencari tempat untuk berteduh.

Sekarang dirinya berada di depan sebuah ruko untuk berteduh. Matanya bergerak
memandangi jalanan yang mulai sepi kendaraan karena hujan. "Bahkan langit gak merestui
waktu damaiku setelah dari pagi di roasting sana sini, sampe gumoh aku dengernya.
Keknya aku reinkarnasi dari kriminal dimasa lalu deh, Salah mulu aku di matamu. Besok
pindahlah aku di hidungmu." Lantur Adosha. Tanpa sengaja matanya menatap halte bus yang
ternyata berada tepat di seberang jalan tempat dirinya berteduh. Adosha berdiri, dan melirik ke
kanan dan kiri, berniat untuk menyeberang lalu menunggu kedatangan bus malam sembari
berteduh dihalte.

Setelah memastikan bahwa tidak ada kendaraan, Adosha mulai berjalan dengan langkah
lebar. Berusaha menghindari air hujan yang turun dari langit meskipun usahanya tentu saja
sia sia. Sret~ Adosha terpeleset di tengah jalan raya karena ia menginjak tali sepatunya sendiri,
di tambah faktor jalanan yang licin karena hujan. Tin tin tin!! Sesegera mungkin Adosha ingin
bangkit, namun ia malah diam membeku setelah mendengar suara klakson yang dibunyikan
dengan brutal diikuti sinar kendaraan yang mendekat. Adosha merasa jantungnya berdegub lebih

41

cepat dari yang seharusnya, namun ia tetap diam tanpa bergerak sedikit pun hingga akhirnya ia
merasa tubuhnya ditarik dengan kasar dan dilempar ke belakang. Nyeri, punggung dan tulang
ekornya terasa sangat nyeri. Adosha memegangi pinggulnya dengan rintihan kecil yang keluar
dari bibirnya. Ia menutup matanya berharap pusing yang menyerang kepalanya berkurang.
Namun, ia merasa ada orang yang menggerakan badannya dengan brutal berharap Adosha tidak
kehilangan kesadaran. Dengan terpaksa Adosha membuka mata, dilihatnya seorang anak
laki laki yang menatapnya penuh kekhawatiran. "Kamu yang nolongin aku?"
Tanya Adosha setelah kesadarannya benar benar utuh. Anak laki laki yang
terlihat seumuran Adosha itu awalnya hanya diam sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Mm, makasih udah nolongin aku. Entah gimana nasibku kalo kamu gak seret aku tadi."
Sejujurnya Adosha masih syok. Dirinya hampir saja kembali ke pelukan Tuhan bila anak laki
laki ini tidak menariknya. "Dek dek, kalian nggak papa? Maaf tadi saya hampir nabrak kamu.
Saya nggak bisa ngerem karena jalannya licin." Panik seorang Bapak yang menghampiri Adosha.
Sepertinya ia adalah orang yang hampir menabrak Adosha. "Ayo saya antar ke rumah sakit, biar
saya tanggung jawab sama luka lukamu." Ajak Bapak itu. "Nggak us-" Baru saja Adosha ingin
menolak, namun anak laki lali yang tadi menolongnya memegang tangannya, membantunya
berdiri dan menarik Adosha untuk ikut Bapak itu ke rumah sakit. Adosha dengan pasrah
mengikuti anak laki laki dan Bapak itu. Entahlah akan di bawa kemana. Tadi ia memang selamat
dari kecelakaan, tapi mungkin saja besok terdapat informasi bahwa terjadi penculikan anak yang
seluruh organnya menghilang di majalah harian lalu muncul wajah Adosha yang dinyatakan
sebagai korban.

Sampai di rumah sakit tadi secara bergantian Adosha dan anak laki laki itu di periksa.
Memang tidak ada luka yang serius pada keduanya, mungkin hanya terdapat luka
gesek. Adosha bersyukur bahwa mereka benar benar di bawa ke rumah sakit, bukan ke pasar
gelap atau ke pasar perdagangan manusia. Sekarang Adosha dan anak laki laki itu menunggu di
ruang tunggu. Hanya keheningan yang menemani mereka kedua. "Hmm kita belom kenalan tadi.
Aku Adosha, biasanya di panggil Ocha. Kamu?" Ucap Adosha memecah keheningan sambil
mengulurkan tangan. Membuat anak laki laki di sampingnya ini menatap Adosha. Di balasnya
uluran tangan itu, lalu mereka kembali berada dalam keheningan. Cukup
lama Adosha menunggu, tapi anak laki laki itu tak kunjung membuka suara dan membuatnya
kebingungan. 'Dia lagi sakit gigi ya? Atau abis pasang behel? Makanya ga mau ngomong? Atau
dia emang anti sosial? Tapi masa segitunya sih?' Kira kira begitulah isi kepala Adosha saat ini.
Sadar akan lawan bicaranya yang kebingungan, anak laki laki itu tersenyum dan menyudahi
acara jabat tangan yang canggung lalu mengeluarkan sebuah buku kecil dan mulai menuliskan
sesuatu di sana. 'Namaku Luka. Maaf aku bisu, jadi gak bisa balas pertanyaanmu langsung.' Tulis
Anak laki laki bernama Luka masih dengan senyuman, namun malah membuat Adosha terdiam,
merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak tidak. "Luka, senyumnya manis ya"
Ucap Adosha tidak sadar lalu segera menutup mulutnya sendiri. Sedangkan Luka hanya
mengalihkan pandangannya ke segala arah. Terlihat jelas bahwa dirinya saat ini menahan malu.
"Ekhm sorry, gak maksud" Adosha malu sekarang. Sedangkan Luka akhirnya kembali
menatap Adosha lalu kembali tersenyum. Setelah itu mereka mulai bertukar cerita. Banyak sekali
yang mereka bahas. Adosha sedikit terkejut ketika mengetahui fakta bahwa Luka berhenti
sekolah karena harus bekerja untuk menghidupi adik adiknya, sedangkan kedua orang tuanya
sudah pergi ketika menjadi korban kecelakaan pesawat saat  sedang dalam perjalanan kerja.
Cukup menakjubkan bagi Adosha melihat bagimana Luka menerima keadaan dengan tabah,
mengikhlaskan mereka yang sudah di takdirkan untuk pergi, dan berani
mengambil langkah besar meskipun ia harus mengorbankan masa depannya sendiri.

Mengobrol dengan Luka sejenak membuat Adosha melupakan rasa sesaknya beberapa
waktu yang lalu. Kali ini Luka meminta Adosha untuk menceritakan kehidupannya.

42

Namun Adosha hanya diam, ia tahu kalau anak laki laki di depannya ini adalah orang yang baik,
tapi mengingat pengalamannya yang selalu mendapat cacian dan makian setiap ia mengeluh
tentang hidupnya membuat Adosha ragu. Melihat Adosha yang tak kunjung membuka suara
membuat Luka seakan mengerti. Tangannya bergerak mulai menuliskan sesuatu di buku
kecilnya. 'Gapapa, aku gak kaya mereka. Kamu bisa keluarin semua perasaan mu di sini.' Tulis
Luka sembari memegang jemari Adosha. Setelah Adosha pikir pikir lagi tak ada salahnya bila ia
menceritakan keseharian nya yang memuakan. Jika Luka menganggapnya sebagai gadis
yang lebay dan kurang bersyukur seperti yang sudah sudah ia tidak keberatan. Toh ia sudah
terbiasa menerima cacian dari orang orang di sekitarnya, jika Luka menghinanya itu hanya akan
menyebabkan luka kecil di hatinya. Yah, semoga saja.

Adosha mulai membuka suaranya. Menceritakan semua yang terjadi padanya hari ini.
Menceritakan apa yang mengganggu pikirannya selama ini. "Tau gak sih? Gue itu aslinya iri
banget sama temen temen gue apalagi sama Alesha. Mereka punya kelebihan masing masing.
Mereka punya keahlian yang bisa dibanggain. Mereka bisa jadi diri sendiri tanpa harus debat
sama Ayah mereka. Mereka punya banyak dukungan dari orang tuanya disetiap langkah yang
mereka pilih. Lah gue? Pfft. Padahal kita hidup di lingkungan yang sama, makan makanan yang
sama, hirup oksigen dan udara yang sama. Padahal aku juga udah usahain yang terbaik
buat penuhin harapan semua orang, tapi kenapa aku masih dipandang penuh kekurangan?
Kenapa aku gak pernah bener dimata mereka? Aku bahkan di paksa buat buang jati
diriku yang sebenernya dan jadi orang lain demi mereka. Tapi apa yang aku dapet dapet?
Sama aja. Aku masi dapet cacian, makian, kalimat sarkas. Hahaha, emang aku seburuk itu ya?
Cape deh aku jadi manusia. Lama-lama jadi umbi-umbian nih aku." Adosha tersenyum kecut. Ia
menunduk menatap kedua tangannya, melihat dirinya sebagai pengecut. Namun, setelah sekian
lama Adosha memendam semua perasaan sesaknya, akhirnya ia mengeluarkannya di sini, di
depan anak laki laki yang baru ia kenal beberapa waktu lalu. Ingin sekali ia menangis, tapi ia
menahannya. Mau di taruh mana wajahnya jika ia tertangkap basah menangis di depan orang
asing. Sedangkan Luka hanya tersenyum, masih dengan senyum yang sama ketika mereka
bertemu tadi. Tangan Luka bergerak untuk mengusap surai legam milik Adosha sebelum
akhirnya ia mulai menuliskan sesuatu di bukunya.

'Adosha, kamu pernah liat bintang yang bersinar di malam hari gak? Mereka cantik kan?'
Adosha mengerutkan dahi tidak mengerti, tapi dirinya mengangguk setuju. 'Bahkan waktu
matahari terbenam, mereka masih meninggalkan senja yang nggak kalah cantik kan? Mereka
semua punya warna yang unik ya.' Lagi lagi Adosha di buat kebingungan oleh seorang Luka.
"Maksudmu apa sih? Jangan bertele tele dong!" Kesal Adosha cemberut. Sedangkan Luka hanya
tergelak tanpa suara lalu mulai menulis lagi. 'Ketika segala sesuatu di dunia kembali ke
posisinya, mereka akan lebih cantik Cha. Sama kaya kamu. Kamu udah cukup cantik dengan jadi
dirimu sendiri. Lihat dirimu sendiri dengan bangga! Kamu cantik apa adanya. Kamu itu satu
satunya di dunia ini. Gak perlu terlalu pikirin apa kata mereka... Nanti waktu kamu udah percaya
diri sama dirimu sendiri, itu waktunya Cha! Waktu yang tepat buat nunjukin ke dunia kalo kamu
juga cantik dan berharga! Kali ini kamu bisa menghadapi hujan, lain kali kamu bisa
mengalahkan rasa sakit. Tetep senyum Cha, tertawa sampai akhir! Aku tau kamu
bisa.' Adosha terdiam, ini tak seperti yang ia bayangkan. Ia pikir Luka akan mencacinya dan
mengatakan bahwa Adosha adalah gadis tukang sambat atau sebagainya seperti pengalamannya
dulu. Namun sebaliknya, laki laki di depannya ini malah memberinya dorongan motivasi dan

43

kepeduliannya. Adosha menatap Luka yang senantiasa tersenyum, kali ini dengan senyuman
lebih lebar. Tanpa dikomando Adosha merasa air matanya meluruh, ia merasa hati yang tadinya
penuh sesak berganti penuh kehangatan. Adosha langsung menutup wajahnya, merasa malu
ketika ia sadar bahwa dirinya benar benar menangis di depan laki laki ini. Sedangkan Luka
lagi lagi hanya tersenyum lebar sembari menepuk nepuk pundah Adosha berusaha
menenangkannya. "Makasih Luka... Aku gak tau mau ngomong apa lagi." Ucap Adosha sedikit
canggung, yang lalu hanya di balas anggukan kecil dari Luka.

Keheningan kembali melanda. Tiba-tiba, "Adosha ya ampun kamu gak papa nak? Ayah
tunggu di rumah, pesan Ayah gak di balas ternyata kamu disini... Ayah hampir kehilangan
kamu..." Ayah langsung berlutut memeluk Adosha yang sedang duduk. Diikuti Bunda
dan Alesha yang menyusul di belakang Ayah lalu ikut memeluknya. Adosha tak mengira ayah
akan menghampirinya, bagaimana Ayahnya tau jika ia ada disini? Ah iya, Bapak yang tadi
hampir menabraknya sempat meminjam kartu pelajarnya, mungkin dia yang menghubungi
Ayahnya. Adosha kembali memfokuskan dirinya pada keluarganya yang terlihat sangat khawatir.
Ia merasakan kehangatan menyelimuti mereka. Dari sini akhirnya ia tau bahwa ia juga
berharga."Aku gak papa kok. Untungnya tadi ada Luka yang nolongin aku, om om tadi juga baik
karena bawa aku kerumah sakit. Tapi aku gak ada luka serius kok, cuma ada lecet karena
gesekan sama aspal." Adosha menjelaskan kondisinya sambil menunjuk Luka di sampingnya.
Mereka bernafas lega. Lalu Bapak yang hampir menabrak Adosha itu memanggil Ayahnya.
Cukup lama mereka berbicara, entah apa yang mereka bicarakan. Bunda pun juga mengajak
Luka berbicara yang lalu di tanggapi dengan sopan oleh Luka hingga membuat Bunda gemas
dengan tingkahnya. Wah damainya.

"Ocha..." Alesha langsung memeluknya lalu menangis. Membuat Adosha sedikit terkejut
lalu tersenyum dan mengusap kepala adik kembarnya. "Echa kenapa?" Tanya Adosha. "Maaf..
Ini pasti karena Echa. Maaf karena Echa sama sekali gak paham sama situasi Ocha. Maaf karena
Echa bodoh banget ngira Ocha selama ini baik baik aja. Habis ini Echa bantu bilangin ke ayah
ya?..." Alesha merasa bersalah. Adosha tersenyum, lalu menggeleng. "Makasih Cha, tapi
Ocha udah ga pengen itu. Ocha udah punya tujuan baru. Biarin Ocha ngabulin permintaan Ayah,
tapi biarin Ocha raih impian Ocha juga." Jelas Adosha tenang. "Tapi nanti Ocha gak bisa fokus
dong? Karena harus kebagi sama permintaan Ayah." "Gapapa Cha, Ocha pasti bisa, soalnya kan
ada Echa." Alesha tersenyum, "Yaudah nanti Echa bantu belajar aja." Adosha mengangguk
senang, itu lebih dari cukup untuk membantunya. Interaksi mereka pun tak luput dari pandangan
Luka yang kini tersenyum tipis. Luka membatin, 'Kamu pasti bisa Ocha!!' Tak lama Ayah
kembali dan mengajak Adosha untuk pulang karena malam semakin larut. Adosha pun
mengangguk, lagi pula besok dirinya masih harus sekolah, Luka pun harus segera pulang karena
adik adiknya menunggu di rumah.

Mereka berpisah di depan pintu rumah sakit. Luka melemparkan senyuman khasnya
pada Adosha lalu berbalik. Sejujurnya Luka merasa berat untuk meninggalkan Adosha, tapi ia
sadar diri bahwa dirinya hanyalah orang asing yang di temui Adosha beberapa waktu yang lalu.
"LUKA!" Belum sempat Luka melangkah, namun Adosha memanggilnya. Ia
pun membalikan badannya menghadap Adosha. "Makasih, Aku harap kita bisa ketemu lagi.
Tolong tunggu hari dimana aku bener bener dapetin kepercayaan diriku lagi. Di hari
itu aku bakal nyari kamu sampe ke ujung dunia sekalipun." Ucap Adosha sambil tersenyum
lebar, yang di balas dengan senyuman tak kalah lebar dari Luka. Setelah itu keduanya berbalik,
mereka benar benar berpisah. Dalam hati, keduanya memantapkan tekad mereka.
Setidaknya Adosha akan berusaha.

44

Yang Tak Sempat Terucap

Karya
NAVARIA MARSHA SUNTAWINARSYAH

Semilir angin berhembus hingga beberapa helai rambut gadis itu berterbangan. Gadis itu
duduk di teras dengan ditemani oleh kucing kecilnya Leci yang juga menikmati sejuknya angin
sore yang berhembus. "Leci, aku bingung, kenapa ayah beberapa waktu ini sikapnya berubah
ya?" Curhat Diba kepada kucing kecilnya itu. "Meong... Meong..." Jawab Kucing tersebut yang
hanya bisa mengeong saja. "Ayah tuh belakangan ini kayak beda banget gitu, sering beliin
barang yang selalu aku minta. Padahal aku tau barang itu lumayan mahal." Cerita Diba.
"Meong... Meong..." "Leci ah, bilang sesuatu kek jangan meong meong mulu!" kesal Diba
dengan kucingnya itu. "Ya kan dia kucing Diba, bisanya cuman meong meong aja, kalo bisa
ngomong siluman kucing dong." Canda abang Diba, Agam yang tiba-tiba muncul. "Aishh...
Abang ih bikin kaget aja, bisa gak sekali aja gak bikin kaget Diba?" kesal Diba. "Ya sorry Dek,
abang kan cuman jawab pernyataan konyol mu itu." "Serah dah serah." Diba berdiri dan segera
memasuki rumahnya tersebut. "Yah... abang kok ditinggal sih dek, bener-bener ye ni anak."

Waktu malam pun tiba, waktu dimana ayah Diba pulang dari kantornya.
"Assalamu'alaikum." Salam ayah Diba. "Waalaikumsalam." Bunda menjawab salam Ayah.
"Diba sama Abang dimana Bun?" tanya Ayah kepada Bunda. "Oh, Abang keluar sama
temannya. Kalau Diba ada tuh di kamar mungkin lagi ngerjain tugasnya." Ayah pun hanya
ngangguk ngangguk saja. "Ayah bawa apa itu?" Tanya Bunda. "Oh ini, buat Diba sama Abang
Bun." "Ayah kok sering beliin mereka barang?" Heran Bunda. "Gapapa Bun, biar mereka
seneng. Ayah mau ke kamar Diba dulu bun, mau ngasih ini." "Iya Yah." Ayah berjalan menuju
kamar Diba yang berada di lantai 2. Ayah sampai di depan kamar Diba lalu mengetuk pintu
kamar Diba dengan pelan. "Masuk!" Teriak Diba dari dalam kamar. "Nak, ini ada hadiah buat
kamu." Ucap Ayah sambil menyodorkan sebuah paper bag kepada Diba. "Ayah, eh apa ini yah?"
Tanya Diba kepada Ayah. "Buka aja nak." "Eh Ayah ini kan barang yang aku mau dari kemarin,
Ayah kok tau?" "Tau dong, apa sih yang Ayah gak tau dari kemauan anak Ayah?" Senyum
Ayah. "Hehehe, makasih ya Yah." Waktu cepat berlalu, semua kemauan Diba dan Abangnya
selalu diturutin oleh ayahnya.

Dan tepat pada suatu hari, Ayah Diba dikabarkan masuk ke rumah sakit. "Abang, ayah
masuk rumah sakit." Ucap Bunda. "Loh, kenapa Ayah Bun?" Tanya Agam yang mulai cemas.
"Ayah sakit kanker otak stadium akhir bang." Sedih Bunda. "Hah? Yang bener deh Bun." "Iya
abang, ini beneran udah dari lama Ayah mengidap sakit ini dan Ayah juga gamau kalian tahu."
Ucap Bunda yang mulai menangis. "Astaghfirullah Ayah..." "Jangan bilang ini dulu ke Diba ya
Bang, Bunda ga tega sama Diba." Mohon Bunda. "Iya Bun."

5 hari sudah berlalu, ayah Diba masih dirawat di rumah sakit. Diba mulai heran kenapa
Ayahnya tidak kunjung pulang ke rumah. Diba pun akhirnya bertanya kepada Bundanya. "Bun
Bunda, Ayah kemana? Kok ga pulang dari Senin?" Tanya Diba. "Eh... Emm Ayah itu sayang...
Ayah lagi kerja di luar kota." Jawab Bunda yang sengaja membohongi Diba akan keadaan
Ayahnya sekarang. "Kok ga bilang Diba sih bun?" Diba kesal karena tidak diberitahu. "Iya maaf
ya sayang, Bunda lupa mau ngasih tau soalnya kamu keliatan sibuk banget dari kemarin." "Iya
sih Diba sibuk banget sama urusan sekolah dari seminggu yang lalu bahkan. Eh bun.. Diba boleh
ga telpon ayah?" "Ha... oh jangan sayang" larang bunda. "Loh.. kenapa ga boleh sih bun?" Heran
Diba. "Sekarang itu Ayah lagi ngurusin proyeknya jadi ga boleh megang hp sama sekali,

45

jadi nanti aja ya sayang telpon Ayahnya." Jelas Bunda. "Ah... Gitu, oke deh Bun. Oh ya Diba
mau pergi ke rumah Anin Bun, buat ngerjain tugas." "Iya Diba, hati-hati."

Menjelang malam, Diba yang baru pulang dari rumah Anin terkejut akan bunda yang
sudah siap dengan mobil abang dan satu tas besar. Diba bingung ada apa ini. Diba merasakan ada
sesuatu yang disembunyikan oleh Bunda dan Abang dari Diba selama ini. Diba ingin tahu,
namun niat Diba terhalang karena mobil Abang sudah melaju. Diba ingin bertanya kepada
Bunda, tetapi... Ada pikiran lain yang selalu menghalangi niat Diba. Bunda dan Abang pulang di
keesokan harinya. Diba pun menyambutnya dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya, dan
berfikir apa semua masalah ini menyangkut Ayah. "Abang, Abang darimana sama Bunda? kok
baru pulang sekarang?" Tanya Diba. Abang Diba hanya terdiam dan tidak mau menjawab
pertanyaan Diba. "Aishh... Abang jawab Diba kek jangan diem aja!" Diba mulai emosi. "Apa ini
semua menyangkut Ayah?" "Apa sih Dek, ga usah ganggu Abang bisa ga?!!" Marah Agam.
"Hah... Kan Diba cuman tanya, kalian habis darimana kemarin sehari ga pulang kenapa malah ga
jawab dan malah marah marah? Pasti Abang sama Bunda nyembunyikan sesuatu dari aku kan?
Bilang ke Diba sekarang apa itu!!" Emosi Diba semakin meluap. "KONYOL BANGET
PERTANYAANMU, UDAH PERGI DARI KAMAR ABANG SEKARANG!!!" Usir Abang
sambil membentak Diba. Diba kaget akan bentakan abang, abang yang sama sekali tidak pernah
membentak Diba, sekarang ia membentak Diba dengan sangat keras di depan mata Diba.

"Abang bentak Diba? Hahaha oke gapapa." Diba pergi dari kamar abang dan mulai
mengeluarkan air matanya. "A-a-aku harus tanya Bunda soal ini. Lebih baik aku tanya sama
Bunda daripada Abang yang malah membentakku." Diba menghapus air matanya dan segera
menuju ke kamar Bunda. Diba melihat bunda yang bengong dan duduk di pinggiran kasur.
"Bunda..." Panggil Diba. "Eh... Iya sayang kenapa?" Jawab bunda yang terlihat seperti habis
menangis. "Bunda kenapa? Dan ada apa selama ini? Kenapa kalian semua terlihat menutupi
sesuatu dariku, beritahu aku Bun apa masalahnya!" "Maaf sayang, Bunda ga bisa beritahu ke
kamu." "Hah? kenapa ga bisa sih bu? Aku kan anak Bunda dan juga Ayah, harusnya aku tau
dong masalah yang dialami keluarga aku, kenapa malah aku tidak boleh mengetahuinya?" Tanya
Diba yang mulai terheran heran kenapa masalah yang dialami keluarganya tidak boleh Ia
ketahui. "Maaf sayang... Bunda ga bisa beritahu kamu." JelasBbunda. "OH, GA BISA YA? GA
BISA APA EMANG GA MAU NGASIH TAU DIBA?" Emosi Diba semakin meluap. "Sayang...
Bukan ga mau, emang bunda ga bisa ngasih tau Diba soal ini." Jelas Bunda yang ingin
menenangkan Diba. "Oh ga bisa ya? hahahaha oke bun gapapa, kan kalo urusan keluarga Diba
paling yang tolol dan Diba yang ga boleh tau apa masalahnya." "DIBA!! JANGAN ANEH
ANEH KAMU!! KAM-" Bunda yang mulai tersulut emosi dengan ucapan Diba. "APA?!! MAU
BENTAK DIBA LAGI? BENTAK AJA BUN, TADI ABANG UDAH BENTAK DIBA
SEKARANG WAKTUNYA UNTUK BUNDA BENTAK DIBA!!" Diba memutus bentakan
bundanya karena Diba sudah tidak kuat akan bentakan keluarganya. "Bu-bukan gitu sayang".
Diba pergi dari kamar bunda yang dimana bunda ingin memberi penjelasan kepada Diba. Diba
pergi ke kamarnya menutup pintunya dengan keras. Diba menangis sejadi-jadinya, Diba sedih
kenapa dirinya tidak boleh tahu apa masalah yang ada di keluarganya. Diba menangis sepanjang
malam hingga Ia tertidur.

Keesokan harinya, rumahnya ramai akan orang orang yang sedang berlalu lalang. Dirinya
tidak tahu ada apa di rumahnya, sudah kemarin ada masalah, dan sekarang ada aja masalah yang
datang lagi. Diba pun segera turun dan kaget dengan apa yang dilihatnya. "Kok Ayah baring
disit? Kok Ayah ditutup sama kain? Kok itu tulisan kertasnya kenapa ada kata Innalilahi? A-ada
apa ini?" Diba bertanya dengan suara isaknya yang mulai terdengar. "Diba...." Panggil Bunda.
"Bun, ini kenapa? Ada apa? Kenapa Ayah disitu?" Bunda tidak sanggup menjawab pertanyaan
Diba. "BUNDA!! INI KENAPA, AYAH KENAPAAA??!!!" Teriak Diba. "Maaf sayang... Ayah
udah ga ada." "HAH?! GA GA MUNGKIN AH BUNDA BERCANDA YA??" Elak Diba yang

46


Click to View FlipBook Version