c. Identifikasi Flavonoid Deskripsi Hasil Ket.
Pengamatan (+/-)
No. Deskripsi Cara Kerja
1. Fraksi air + Serbuk Mg
2. + HCl pekat
d. Identifikasi Fenolik Deskripsi Hasil Ket.
No. Deskripsi Cara Kerja Pengamatan (+/-)
1. Fraksi air + FeCl3
e. Identifikasi Saponin Deskripsi Hasil Ket.
No. Deskripsi Cara Kerja Pengamatan (+/-)
1. Fraksi air
Pada kegiatan ini setelah dilakukan uji fitokimia dari ekstrak
tanaman hutan tropis, maka hasilnya dapat disajikan pada Tabel 4
berikut.
Tabel 4. Hasil Rekapitulasi Uji Fitokimia (tanda +, berarti
mengandung metabolit yang bersangkutan dan
tanda–, berarti tidak)
No Sampel Terpenoid Steroid Hasil uji Fitokimia Saponin Tanin
Flavonoid Fenolid
Bajakah
01. dalam
pelarut air
Bajakah
dlm
02 ekstrak
etanol
38 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
38 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
Akar
Kuning
03 dalam
ekstrak air
Akar
Kuning
O4 dalam
ekstrak air
Jenitri
05 dalam
ekstrak air
Jenitri
dalam
06 ekstrak
etanol
Taxus
Sumatrana
07 dalam
ekstrak air
Taxus
Sumatrana
08 dalam
ekstrak
etanol
Mangrove
09 dalam
ekstrak air
Mangrove
dalam
19 eskstrak
etanol
Mengacu hasil percobaan yang telah dilakukan mohon saudara
bahas mengenai hasil pengamatan dengan mengkaitkan teori, buku
teks, artikel riset sebelumnya, dan berbagai sumber pustaka yang lain.
F. SIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dan analisis data yang diperoleh,
maka tuliskan simpulan dari percobaan inkuiri ini
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 39
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 39
G. TUGAS DAN UMPAN BALIK
Hasil kegiatan Percobaan ini, maka mahasiswa, baik secara
individu maupun kelompoknya telah mendapat pengetahuan faktual,
konseptual, dan prosedural mengenai uji Fitokimia dari sampel ektrak
tanaman hutan tropis Indonesia. Pada tahap berikutnya adalah
Mahasiswa secara menurut kelompoknya untuk merancang suatu
pembelajaran Inkuiri terintegrasi etnosains, dalam hal ini mengenai
kegiatan inkuiri kinerja ilmah uji fitokimia dari sampel tanaman kearifan
lokal Indonesia
Tugas 1
Tugas saudara selanjutnya adalah melakukan diskusi kelompok
untuk merancang suatu desain model pembelajaran inkuiri terintegrasi
etnosains dan STEM mengacu dari aktivitas percobaan yang telah
dilakukan. Untuk memberika arahan yang jelas, mohon setiap
kelompok berdiskusi untuk (1) mendeskripsikan mengenai rumusan
masalah dari kegiatan percobaan yang telah dilaksanakan, (2)
menuliskan rumusan hipotesis yang dapat diajukan dari percobaan
tersebut; (3) menuliskan secara singkat mengenai rancangan percobaan
untuk menguji hipotesis yang diajukan, (4) menuliskan secara singkat
jenis-jenis percobaan yang akan dilakukan untuk membuktikan hipotesi
yang diajukan, (5) mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan;
serta analisis data dari percobaan secara singkat dan jelas, (6)
menuliskan hasil kesimpulan dari diskusi hasil percobaaan.
Tugas 2:
Pada pembahasan ini, kelompok diberikan tugas untuk
menganalisis hasil percobaan dalam kerangka konten dan konteks
STEM, dan menuliskannya pada Tabel 5 berikut.
40 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
40 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
Tabel 5. Hasil analisis STEM dalam percobaan Isolasi metabolit
sekunder.
Komponen STEM Tuliskan hasil analisis saudara mengacu semua
konten dan konteks dalam bahan kajian ini
Sains
Teknologi
Engineering
Matematika
Untuk memberikan gambaran yang jelas, maka pada Tabel 6
dibawah ini diberikan contoh analisis STEM untuk percobaan uji
Fitokimia pada sampel ekstrak tanaman hutan tropis.
Tabel 6. Analisis STEM untuk Percobaan Fitokimia dari
sampel metabolit sekunder
No Analisis STEM
Percobaan Sains Tehnologi Engineering Matematika
Identifikasi
01. alkaloid Alkaloid Identifikasi Tulis contoh Penghitungan
adalah dengan rekayasa rendemen, ...
02 Terpenoid metabolit Mayer dan alkaloid agar
dan Steroid sekunder Dragendorff lebih ber-
... manfaat, ..
03 Flavonoid ...
04 Fenolik
05 Saponin ...
..
..
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 41
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 41
BBAABB IVV
ANALISIS STRUKTUR SENYAWA
METABOLIT SEKUNDER DENGAN ALAT
SPEKTROSKOPI
A. DESKRIPSI PEMBELAJARAN
Pada kegiatan pembelajaran ini akan uj struktur dari ekstrak
dari berbagai isolat tanaman hutan tropis Indonesia yaitu Bajakah,
Akar Kuning, Taxus Sumtrana, Jenitri, dan Mangrove. Hasil dari uji
struktur dari ekstrak dengan FTIR dianalisis, kemudian temuan ini
disinkronisasikan dari hasil uji Fitokimia, sehingga dapat disimpulkan
secara komprehensif.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Pengetahuan :
Mahasiswa memiliki pengrtahuan faktual, konseptual, dan
prosedural mengenai analisis jumlah komponen, renemen dan
struktur dari sampel dari ekstrak Bajakah, Akar Kuning, Taxus
Sumatrana, Jenitri, dan Mangrove sebagai tanaman hutan tropis
Indonesia menggunakan alat Kromatografi Gas-Spektrokopi
Massa (KG-SM) dan FTIR.
2. Keterampilan :
a) Mahasiswa terampil melakukan percobaan inkuiri berbasis
laboratorium untuk membuktikan adanya jumlah komponen,
kadar; serta kandungan serapan gugus fungsional dari metabolit
sekunder tertentu dari sampel ekstrak tanaman hutan tropis di
indonesia, yaitu Bajakah, Taxus Sumatrana, Mangrove, Jenitri, dan
Akar Kuning.
b) Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil percobaan jumlah
komponen, kadar dan uji struktur pada kegiatan ilmiah melalui
presentasi di depan kelas, seminar atau publikasi ilmiah Jurnal.
42 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
42 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
3. Sikap : Mengembangkan sikap kerja ilmiah, konservasi
keanekaragaman hayati, berpikir secara matematis, berpikir kritis,
kreatif, dan pemecahan masalah.
C. LANDASAN TEORI
1. Spektroskpi FTIR dan Karakteristik Frekuensi uluran
Gugus Fungsi
Karakterisasi Senyawa Secara Spektroskopi Salah satu teknik
yang dapat digunakan dalam penentuan struktur dari suatu senyawa
organik adalah teknik spektroskopi. Teknik spektroskopi ini didasarkan
pada interaksi antara radiasi elektromagnetik (Fessenden, 1999). Radiasi
elektromagnetik tersebut dapat berupa radiasi sinar γ, sianar-X ( X-ray),
UV-Vis (ultra ungu-tampak), infra merah (IR), gelombang mikro, dan
gelombang radio. Metode spektroskopi yang dipakai dalam pengujian
struktur selain IR dapat juga, spektroskopi ultra ungu-tampak (UV-
Vis), Spektroskopi Massa, spektroskopi resonansi magnetik nuklir
(NMR). Spektroskopi UV-Vis biasanya digunakan untuk
mengidentifikasi adanya gugus kromofor (fenolik dan ikatan rangkap),
spektroskopi IR/FTIR untuk mengidentifikasi adanya gugus
fungsional (hidroksil, aromatik, amina dan karbonil ), spektroskopi
NMR (1H dan 13C), 1H NMR dan untuk menentukan jumlah dan
lingkungan proton (atom H dalam senyawa), spektroskopi massa (SM)
untuk menentukan struktur molekul berdasarkan fragmen pecahan
massa,), sedangkan 13C NMR untuk menentukan jumlah atom karbon
pada suatu senyawa organik (Sastrohamidjojo, 2007).
Spektroskopi Infra Merah memiliki daerah spektrum antara
spektrum radiasi elektromagnetik cahaya tampak dan spektrum radiasi
radio, yakni antara 4000 dan 400 cm-1 . Jika radiasi infra merah
dilewatkan melalui sampel senyawa organik, maka terdapat sejumlah
energi yang diserap dan yang ditransmisikan tanpa diserap. Molekul
yang menyerap energi infra merah akan mengalami perubahan energi
vibrasi dan perubahan tingkat energi rotasi sehingga menghasilkan
suatu frekuensi yang khas. Karakteristik frekuensi uluran beberapa
gugus molekul senyawa organnik ditunjukkan pada Tabel 7.
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 43
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 43
Tabel 7. Karakteristik frekuensi uluran beberapa gugus fungsi
Gugus Frekunsi uluran Gugus Frekuensi uluran
(cm-1) (cm-1)
-OH
-NH2 3600 -CH2 - 2930-1470
-CH3
Ar-H 3400 C-O- 1200-1000
=CH2
C-N 3300 H2C=CH2 1650
3060-3030 H2C=NH2 1600
2870-1375 C-C 1200-1000
1200-1000 C=O 1750-1600
2. Memahami Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa
Pada penelitian ini akan dilakukan juga uji struktur dari ekstrak
dari tanaman hutan tropis menggunakan alat Kromatografi Gas -
Spektroskopi Massa (KG-SM). Alat KG-SM merupakan metode
pemisahan senyawa organik yang menggunakan dua metode analisis
senyawa yaitu kromatografi gas (KG) untuk menganalisis jumlah
senyawa secara kuantitatif dan Spektrometri Massa (SM) untuk
menganalisis struktur molekul senyawa analit. Kromatografi gas-
spektrometer massa (KG-SM) adalah metode yang mengkombinasikan
kromatografi gas dan spektrometri massa untuk mengidentifikasi
senyawa yang berbeda dalam analisis sampel. Kromatografi gas dan
spketometer masa memilki keunikan masing-masing dimana keduanya
memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan menggambungkan kedua
teknik tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemamapuan dalam
menganalisis sampel dengan mengambil kelebihan masing-masing
teknik dan meminimalisir kekurangannya.
Kromatografi gas dan Spketometer Massa dalam banyak hal
memiliki banyak kesamaan dalam tekniknya. Untuk kedua teknik
tersebut, sampel yang dibutuhkan dalam bentuk fase uap, dan keduanya
juga sama-sama membutuhkan jumlah sampel yang sedikit ( umumnya
kurang dari 1 ng). Disisi lain, kedua teknik tersebut memiliki perbedaan
yang cukup besar yakni pada kondisi operasinya. Senyawa yang terdapat
pada kromatografi gas adalah senyawa yang digunakan untuk sebagai
gas pembawa dalam alat GC dengan tekanan kurang lebih 760 torr,
sedangkan spketometer massa beroperasi pada kondisi vakum dengan
kondisi tekanan 10-6 – 10-5 torr. Gas kromatografi merupakan salah satu
44 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
44 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
teknik spektroskopi yang menggunakan prinsip pemisahan campuran
berdasarkan perbedaan kecepatan migrasi -komponen penyusunnya.
Gas kromatografi biasa digunakan untuk mengidentifikasi suatu
senyawa yang terdapat pada campuran gas dan juga menentukan
konsentrasi suatu senyawa dalam fase gas.
Spektroskopi massa adalah suatu metode untuk mendapatkan
berat molekul dengan cara mencari perbandingan massa terhadap
muatan dari ion yang muatannya diketahui dengan mengukur jari-jari
orbit melingkarnya dalam medan magnetik seragam. Penggunaan
kromatografi gas dapat dipadukan dengan spektroskopi massa. Paduan
keduanya dapat menghasilkan data yang lebih akurat dalam
pengidentifikasian senyawa yang dilengakapi dengan struktur
molekulnya. Metode analisis KG –SM adalah dengan membaca spektra
yang terdapat pada kedua metode yang digabung tersebut.
D. ALAT DAN BAHAN, SERTA PROSEDUR KERJA
1. Alat dan Bahan
Alat utama dalam percobaan ini adalah alat Spektrofotometer
FT-IR Nicolet Avatar 360 IR, yang ada di Laboratorium di Kimia
UNNES. Bahan yang digunakan adalah sampel ekstrak hasil isolasi dan
ekstraksi dari Bajakah, Akar Kuning, Taxus Sumatrana, Jenitri, dan
Mangrove. Selain Spektrofometer FTIR, maka alat yang digunakan
adalah KG-SM.
2. Prosedur Kerja
1. Analisis Jumlah komponen dan Struktur denag KG-SM
Menginjeksikan campuran larutan ke kolom GC lewat heated
injection port. Kg-SM Campuran dibawa gas pembawa (biasanya
Helium) dengan laju alir tertentu melewati kolom GC yang dipanaskan
dalam pemanas. Kromtogram dan Spektra massa dari sampel yang
diteliti dapat teridentifikasi dengan referensi komputerisasi dan muncul
pada layar komputer dan siap diprint out.
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 45
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 45
2. Uji Struktur dengan FTIR
Sampel kristal hasil isolasi yang telah murni dianalisis
menggunakan spektrofotometerinframerah. Kristal yang telah murni
dibebaskan dari air kemudian digerus bersama-sama dengan halida
anorganik, KBr. Gerusan kristal murni dengan KBr dibentuk menjadi
lempeng tipis atau pelet dengan bantuan alat penekan berkekuatan 8-
10 ton per satuan luas kemudian pelet tersebut diukur puncak
serapannya
E. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Kromatogram dan Spektra Massa
Pada percobaan ini dihasilkan gambar Spektra dan
Kromatogram dari sampel ekstrak Bajakah, Akar kuning, Taxus
Sumatrana, Jenitri, dan Mangrove. Adapun hasil Spekra dari FTIR dari
percobaan ini diasjikan pada beberapa gambar kromatogram dan
Spekra Massa berikut.
Gambar 6. Kromtogram dan Spektra Massa dari Sampel Bajakah
(* contoh)
Pada Gambar 6 di atas, maka jumlah peak kromatogram dari
KG-SM adalah berjumlah .....peak, sehingga diketahui bahwa jumah
metabolit sekunder dalam ekstrak sampel (misal Bajakah) tersebut
adalah. komponen.
46 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
46 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
2. Hasil Spektra dari Sampel dengan FTIR
Pada percobaan ini dihasilkan gambar Spektra FTIR sampel
ekstrak Bajakah, Akar kuning, Taxus Sumatrana, Jenitri, dan Mangrove.
Adapun hasil Spekra dari FTIR dari percobaan ini diasjikan pada
beberapa Gambar Spekra FTIR disajikan sebagai berikut.
102 33 3 7.4 0c m -21970.29cm -1
100
1153.42cm-1
95
%T
90
1215.77cm-1
85 1368.59cm-1
80 1739.37cm-1
75 1028.83cm-1
70 3500 3000 2500 2000 1500 1000 650
65 cm-1
62
4000
Gambar 7. Spktra FTIR dari Sampel Bajakah (Sudarmin, 2020)
Pada Gambar 7 diatas, maka serapan uluran frekuensi yang
muncul pada diatas Spektra sampel Bajakah, yang mana serapan
frekuensinya adalah.
Tabel 8. Serapan uluran frekuensi dari sampel ekstrak batang Bajakah
No Serapan uluran frekunse Seapan gugus fungsi
(cm-1)
01 3420- 3400 Gugus hidrosil
02 1720 - 1700 Gugus karbonil
03 1330 – 1310, dan 1290 Adanya –CH2 dan metil –CH3
04 1100 - 1000 Adanya rentangan –C-O dari
karbonil/ hidrosil.
Berdasarkan Tabel 8, maka Bajakah memiliki gugus fungsi
hidroksil, karbonil, adanya metil, dan metilena. Pada percobaan ini
selain Bajakah sebagai sampel untuk dilakukan uji struktur juga
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 47
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 47
dilakukan uji struktur pada sampel akar kuning, dan spektranya sebagai
berikut.
Gambar 8. Spktra FTIR dari Sampel Akar Kuning
Pada Gambar 8 diatas, maka serapan uluran frekuensi yang muncul
pada diatas Spektra sampel akar kuning , yang mana serapan
frekuensinya adalah.
Tabel 9. Serapan uluran frekuensi dari sampel ekstrak batang
Akar kuning
No Serapan uluran frekunse Seapan gugus fungsi
(cm-1)
01
02
03
04
Berdasarkan pada Tabel 9, maka akar kuning memiliki gugus
fungsi ...............................................................................................................
48 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
48 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
3. Pembahasan
Berdasarkan percobaan ini, maka hasil penelitian ini adalah....
F. SIMPULAN
Bedasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka simpulannya adalah....
G. TUGAS DAN UMPAN BALIK
Tugas 1.
Tugas saudara selanjutnya adalah melakukan diskusi kelompok
untuk merancang suatu desain model pembelajaran inkuiri terintegrasi
etnosains dan STEM. Setiap kelompok berdiskusi mengenai (1)
rumusan masalah dari kegiatan percobaan yang telah dilaksanakan, (2)
menuliskan rumusan hipotesis yang dapat diajukan dari percobaan
tersebut; (3) menuliskan secara singkat mengenai rancangan percobaan
untuk menguji hipotesis yang diajukan, (4) menuliskan secara singkat
jenis-jenis percobaan yang akan dilakukan untuk membuktikan hipotesi
yang diajukan, (5) mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan;
serta analisis data dari percobaan secara singkat dan jelas, (6)
menuliskan hasil kesimpulan dari diskusi mengenai percobaaan yang
telah dilakukan.
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 49
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 49
Tugas 2
Pada bagian ini, saudara analisis kegiatan percobaan ini dalam
konteks STEM dan hasilnya disajikan pada Tabel Kerja berikut.
Komponen STEM Deskripsikan kajiannya
Sains [S]
Teknologi [T]
Engineering [E]
Matematika [M]
50 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
50 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
BBAABB VV
PERCOBAAN BIOAKTIVITAS
ANTIBAKTERI EKSTRAK METABOLIT
SEKUNDER TANAMAN HUTAN TROPIS
INDONESIA
A. DESKRIPSI PERMBELAJARAN
Pada kegiatan pembelajaran iniakan dibahas bahan kajian
terkait tanaman lokal yang berkhasiat anti bakteri, dan beberapa riset
terkait bahan kajian antibakteri, selanjutnya mengajak mahasiswa
untuk melakukan percobaan inkuiri tentang uji aktivitas antibakteri
dari ekstrak isolat dari tanaman hutan tropis, yaitu Bajakah, Taxus
Sumatrana, Akar Kuning, dan Mangrove. Pada akhir pembelajaran
mahasiswa dituntut untuk membahas dan mengerjakan tugas.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Pengetahuan :
Tujuan percobaan ini untuk membekali kemampuan suatu
pengetahuan prosedural mengenai uji biokativitas antibakteri dari
sampel senyawa metabolit sekunder dari tanaman hutan tropis
Indonesia, serta pengetahuan terdapatnya senyawa metabolit
sekunder yang menunjukan khasiat sebagai antibakteri.
2. Keterampilan :
a) Mahasiswa terampil melakukan percobaan untuk
membuktikan adanya aktivitas daya hambat dari sampel
ekstrak hutan tropis Indonesia terhadap Bakteri gram positip
dan Bakteri gram negatif.
b) Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil percobaan uji
anti bakteri dari sampel ekstrak hutan tropis melalui presentasi
di depan kelas, seminar atau publikasi ilmiah Jurnal.
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 51
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 51
3. Sikap :
a) Mengembangkan sikap konservasi keanekaragaman hayati,
berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah.
b) Mengembangkan sikap kinerja ilmiah seperti rasa ingin tahu,
jujur, teliti, dan tanggung jawab.
C. LANDASAN TEORI
Indonesia memiliki lebih dari 25.000-30.000 spesies tumbuhan
dan memiliki lebih dari 17.000 pulau serta memiliki lebih dari 50 tipe
ekosistem (Kartawinata, 2010) dan dihuni sekitar 300-700 etnis.
Keragaman etnis Indonesia menghasilkan keragaman budaya, tradisi,
dan kearifan lokal berbeda. Salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh
etnis Indonesia adalah memanfaatkan keanekaragaman hayati di
sekitarnya sebagai obat anti bakteri. Telah diketahui bahwa mikroba ada
yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan, adapun mikroba
yang merugikan dapat disingkirkan, dihambat dengan atau dibunuh
menggunakan bahan kimia, pertumbuhan bakteri dapat dihambat oleh
faktor-faktor lain yaitu oleh sinar matahari, logam suhu, dan lain-lain.
Pada saat ini dalam perkembangannya, senyawa-senyawa hasil
isolasi suatu tumbuhan saat ini banyak dikembangkan sebagai obat dari
bahan alam, salah satunya yaitu obat antibakteri. Tumbuhan yang
diketahui memiliki aktivitas antibakteri yaitu tumbuhan Erythrina
variegate. Akar tumbuhan Erythrina variegate diketahui mengandung
senyawa 2-[2,4- dihidroksi-5-(3-metil-2-en-1-il)pen-1-il]-6-hidroksi-
7(3-metil-2-en-1-il)-1- benzofuran-3-karbaldehid (9) yang memiliki
aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan
konsentrasi hambat minimum 3,13 μg/mL. Selain itu pada saat ini telah
ditemukan berbagai ekstrak tanaman tertentu oleh suatu masyarakat
dan dimanfaatkan untuk menyembuhka luka dan telah diuji khasiatnya,
zat yang demikian disebut dengan zat antiseptic. Pada pengamatan ini
sangat penting sekali untuk dilakukan untuk dapat mengetahui
antiseptic yang mana dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Pada percobaan saat ini akan dilakukan uji sentifitas bakteri merupakan
suatu metode untuk menetukan tingkat kerendahan bakteri terhadap
zat anti bakteri dan untuk mengetahui metabolit sekunder terhadap
antibakteri.
52 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
52 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
Metode uji sensifitas bakteri adalah metode cara bagaimana
mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai
bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat
pertumbuhan atau mematikan bakteri pada kosentrasi yang rendah. Uji
sentsitiifitas bakteri merupakan satuan metode untuk menentukan
tingkat kerentanan bakteri terhadap zat anti bakteri dan untuk
mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas anti bakteri.
Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukan sensitifitas
bakteri terhadap zat anti bakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin
tebar diameter zona tambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin
sansitif. Yang melatar belakangi percobaan ini yaitu praktikan dapat
mengetahui beberapa zat anti mikrobial yang mempunyai daya hambat,
kekuatan klasifikasi anti bacterial, pengukuran zat anti bakterial dan
faktorfaktor yang mempunyai ukuran diameter zona hambatan.
D. ALAT DAN BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA
1. Alat dan Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan: Ekstrak dan isolat dari berbagai
tanaman hutan tropis (Bajakah, Akar Kuning, Taxus Sumatrana, dan
Mangrove), nutrient agar (Merck), agar bakteriologikal (Hi-Media),
Akuades, n-heksan (Merck), etil asetat (Merck), etanol (Merck), DMSO
(Merck), kloramfenikol, ampisilin (Generik), isolat bakteri Escherichia
coli, Bacilus Subtili, dan Staphylococcus aureus dari Laboratorium Biologi
Fakultas MIPA UNNES.
2. Cara Kerja
Tahapan persiapan meliputi peremajaan bakteri, pembuatan
suspensi bakteri, pembuatan cakram kertas, persiapan kontrol negatif,
persiapan kontrol positif, dan pembuatan seri konsentrasi yaitu
konsentrasi 300; 400; dan 500 mg/mL. Uji aktivitas antibakteri
menggunakan adalah metode Disc Diffusion (Tes Kirby-Bauer).
Suspensi bakteri uji sebanyak 20 μL di masukkan pada media dalam
petri kemudian goreskan dengan kapas ulas steril diatas media uji
(Difco,1977). Kapas ulas steril diputar beberapa kali. Prosedur ini
diulangi sebanyak dua kali. Cakram kertas dengan diameter berukuran
6 mm. Kontrol positif berupa Siprofloksasin 50 μg, kontrol negatif
DMSO 20%, ekstrak etanol dari isolat Bajakah dengan setiap
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 53
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 53
kosentrasi 300mg/mL, 400mg/mL dan 500 mg/mL. Kemudian
cakram ditempatkan diatas permukaan media sesuai dengan posisi yang
diinginkan. Media selanjutnya diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24
jam, kemudian dilakukan pengukuran diameter zona hambat dengan
jangka sorong yang dinyatakan dalam satuan milimeter.
E. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Percobaan melalui dokumen foto dan video
1) Dokumen foto uji antibakteri untuk Ekstrak Bajakah
Foto hasil percobaan daya hambat bakteri
2). Dokumen foto uji antibakteri untuk ekstrak akar kuning
Foto hasil percobaan daya hambat bakteri
54 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
54 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
3) Dokumen foto uji antibakteri untuk Ekstrak Taxus Sumatrana
Foto hasil percobaan daya hambat bakteri
4). Dokumen foto uji antibakteri untuk Ekstrak Mangrove
Foto hasil percobaan daya hambat bakteri
2. Hasil Pengamatan Percobaan
Pada percobaan ini telah dilakukan percobaan daya hambat
bakteri dengan menggunakan ekstrak isolat dari Bajakah, Akar Kuning,
Magrove, danTaxus Sumatrana. Berdasarkan percobaan tersebut,
mohon saudara tuliskan dari setiap hasil percobaan pada Tabel kerja
berikut.
a) Ekstrak untuk Bajakah
Tuliskan hasil percobaan yang telah diperoleh dalam Tabel 10
dibawah ini.
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 55
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 55
Tabel 10. Hasil uji daya hambat Bakteri dengan sampel ekstrak
Bajakah
Bakteri
Konsentrasi Diameter Zone Penghambatan
S. Aures pelarut Etanol n-heksana Etil asetat
E. Colli
B. Subtili
Pada Tabel 10 diketahui ekstrak bajakah memiliki daya hambat untuk
bakteri. .................................................................................................dengan
daya hambat paling kuat untuk bakteri........................................................
b) Ekstrak untuk Akar Kuning
Tuliskan hasil percobaan yang telah diperoleh pada Tabel 11
dibawah ini.
Tabel 11. Hasil uji daya hambat bakteri dengan sampel Akar
Kuning
Bakteri Konsentrasi Diameter Zone Penghambatan
pelarut Etanol n-heksana Etil asetat
S. Aures
E. Colli
B. Subtili
Pada Tabel 11 diketahui bahwa ekstrak akar kuning memiliki daya
hambat untuk bakteri ...................dengan daya hambat paling kuat
untuk bakteri........................................................
c) Ekstrak untuk Taxus Sumatrana
Tuliskan hasil percobaan yang telah diperoleh dalam Tabel 12
dibawah ini.
56 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
56 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
Tabel 12. Hasil uji daya hambat bakteri dengan sampel Taxus
Sumatrana
Bakteri
Konsentrasi Diameter Zone Penghambatan
S. Aures pelarut Etanol n-heksana Etil asetat
E. Colli
B. Subtili
Pada Tabel 12 diketahui bahwa ekstrak akar kuning memiliki daya
hambat untuk bakteri.........................................................................dengan
daya hambat paling kuat untuk bakteri ......................................................
d) Ekstrak untuk Mangrove
Tuliskan hasil percobaan yang telah diperoleh pada Tabel
dibawah ini.
Tabel 13. Hasil uji daya hambat Bakteri dengan sampel
ekstrak Mangrove
Bakteri Konsentrasi Diameter Zone Penghambatan
pelarut Etanol n-heksana Etil asetat
S. Aures
E. Colli
B. Subtili
Pada Tabel 13 diketahui bahwa ekstrak Mangrove memiliki daya
hambat untuk bakteri. .......................................................................dengan
daya hambat paling kuat untuk bakteri ......................................................
3. Pembahasan:
Berdasarkan data dari percobaan diatas, maka bagaimana
hubungan antara ekstrak dari berbagai tanaman hutan tropis tersebut
terhadap aktiviats anti bakteri untuk S. Aures, E, Coli, dan B. Subtili.
Pada pembahasan ini juga dibahas analisis kritis saudara dengan daya
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 57
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 57
hambat bakteri dikaitkan dengan pengetahuan masyarakat manfaat
tentang tanaman obat itu terhadap suatu penyakit tertentu.
F. SIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan, tuliskan kesimpulan dari kegiatan
percobaan ini.
G. TUGAS DAN UMPAN BALIK
Tugas 1.
Pada Percobaan ini telah dilakukan berbagai percobaan anti
bakteri dari berbagai ekstrak atau isolat dari berbagai tanaman hutan
tropis Indonesia. Setelah itu carikan empat artikel topik ini dan
hasilnya disajikan pada Tabel 14 berikut.
Tabel 14. Judul artikel dan temuan hasil percobaan
No Judul artikel dan link dari Temuan hasil percobaan
artikel
01
02
03
04
Tugas 2.
Tugas saudara selanjutnya adalah melakukan diskusi kelompok
untuk merancang suatu desain model pembelajaran inkuiri terintegrasi
etnosains dan STEM mengacu dari aktivitas percobaan yang telah
dilakukan. Untuk memberika arahan yang jelas, mohon setiap
kelompok berdiskusi untuk (1) mendeskripsikan mengenai rumusan
masalah dari kegiatan percobaan yang telah dilaksanakan, (2)
menuliskan rumusan hipotesis yang dapat diajukan dari percobaan
tersebut; (3) menuliskan secara singkat mengenai rancangan percobaan
untuk menguji hipotesis yang diajukan, (4) menuliskan secara singkat
jenis-jenis percobaan yang akan dilakukan untuk membuktikan hipotesi
58 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
58 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
yang diajukan, (5) mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan;
serta analisis data dari percobaan secara singkat dan jelas, (6)
menuliskan hasil kesimpulan dari diskusi mengenai percobaaan.
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 59
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 59
BABBABVVI
PERCOBAAN AKTIVITAS ANTI RAYAP
EKSTRAK METABOLIT SEKUNDER DARI
TANAMAN HUTAN TROPIS
A. DESKRIPSI PEMBELAJARAN
Pada kegiatan pembelajaran iniakan dibahas bahan kajian
terkait tanaman lokal yang berkhasiat anti rayap, dan beberapa riset
terkait bahan kajian antirayap, selanjutnya mengajak mahasiswa untuk
melakukan percobaan inkuiri tentang uji aktivitas antirayap dari ekstrak
isolat dari tanaman hutan tropis, yaitu sampel Bajakah, Taxus
Sumatrana, Akar Kuning, dan Mangrove. Pada akhir pembelajaran
mahasiswa dituntut untuk membahas dan mengerjakan tugas.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Pengetahuan : Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan
pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural dalam
melakukan kinerja ilmiah mengenai uji bioaktivitas sebagai
antikanker dari sampel ekstrak tanaman hutan tropis Indonesia.
2. Keterampilan :
a) Mahasiswa terampil melakukan percobaan untuk
membuktikan adanya daya hambat dari sampel ekstrak
metabolit sekunder (alkaloid, steroid, terpenoid, flavonoid,
fenolik, dan saponin) dari tanaman hutan tropis Indonesia
terhadap hewan rayap.
b) Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil percobaan
aktivitas daya hambat terhadap hewan rayap melalui
presentasi di depan kelas, atau publis artikel di dalam Jurnal.
3. Sikap :
a) Mengembangkan sikap konservasi keanekaragaman hayati
dari hutan tropis Indonesia, sikap cinta tanah air, dan peduli
lingkungan.
b) Mengembangkan sikap kinerja ilmiah seperti rasa ingin tahu,
jujur, kerja kerap, disiplin, dan tanggung jawab.
60 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
60 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
C. LANDASAN TEORI
Indonesia memiliki lebih dari 25.000-30.000 spesies tumbuhan
dan memiliki lebih dari 17.000 pulau serta memiliki lebih dari 50 tipe
ekosistem (Kartawinata, 2010) dan dihuni sekitar 300-700 etnis.
Keragaman etnis Indonesia menghasilkan keragaman budaya, tradisi,
dan kearifan lokal berbeda. Salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh
etnis Indonesia adalah memanfaatkan keanekaragaman hayati di
sekitarnya sebagai obat, anti bakteri, adan anti rayap. Pada penelitian
ini akan dikaji terkait pemanfaatan ekstrak alami sebagai daya hambat
hewan rayap dalam erusak kayu. Penelitian ini menarik, karena saat ini
meningkatnya teknologi dan industri pengolahan kayu Indonesia
menyebabkan semakin banyak pula aneka produk olahan kayu. Di sisi
lain persediaan kayu kelas kuat dan kelas awet tinggi terbatas karena
peningkatan jumlah penduduk dan eksploitasi hutan. Jenis kayu yang
tersedia saat ini mempunyai kualitas dan kelas awet alami yang rendah
sampai sedang, itu disebabkan kayu-kayu tersebut didominasi oleh
jenis-jenis kayu yang berasal dari Hutan Tanaman Industri dengan
pertumbuhan kayu yang cepat dan kegunaannya sebagai bahan baku
industri pulp, kertas, dan rayon (Budiman, 2010).
Daerah tropis dengan suhu dan kelembaban yang relatif tinggi
merupakan kondisi yang sangat cocok bagi pertumbuhan dan
perkembangan organisme perusak kayu kususnya rayap dan jamur
pelapuk kayu. Di Indonesia terdapat 200 jenis rayap, yang dilaporkan
banyak menyerang gedung sejak tahun 1982 sampai saat ini (Nandika,
Yudi & Diba, 2003). Semakin banyaknya kerusakan bangunan akibat
serangan rayap pada kayu maka perlu adanya pengawetan kayu
terhadap jenis-jenis kayu yang kurang awet atau tidak awet agar tidak
mudah dirusak oleh organisme perusak kayu, untuk memperpanjang
umur pakai kayu perlu dilakukan proses pengawetan kayu yang dapat
mencegah dan memperlambat pertumbuhan jasadjasad perusak kayu.
(Nandika dkk, 2003). Saat ini metode pengawetan kayu menggunakan
bahan kimia (sintetis) yang bersifat racun terhadap manusia dan
mencemari lingkungan. Salah satu upaya untuk menghindari
pencemaran tersebut yaitu dengan memanfaatkan bahan alami yang
mengandung insektisida sebagai bahan pengawet kayu yaitu ekstrak
yang terkandung di dalam bagian tumbuhan.
Pada penelitian ini akan memanfaatkan berbagai ekstrak dari
tanaman hutan tropis sebagai insektisida alami. Hasil analisis beberapa
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 61
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 61
artikel diketahui bahwa pada saat ini terdapat 3 jenis lempuyang sebagai
insektida alami untu rayap; yaitu lempuyang emprit, lempuyang gajah
dan lempuyang wangi. Kemampuan suatu tanaman suatu tanaman
menjadi obat alami untuk rayap, karena terdapat senyawa metabolit
yang mampu mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan rayap
yaitu komponen bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, terpenoid,
kumarin, sterol dan glikosida (Hernani, Ma'mun, Tritianingsih, 1999).
Padahal dalam penelitian ekstrak dari berbagai tanaman hutan tropis
Indonesia mengandung senyawa metabolit sekunder tersebut, sehingga
penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh berbagai ekstrak tanaman
hutan tropis terhadap serangan kayu.
D. ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA
1. Alat dan Bahan
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia FMIPA
UNNES. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah berbagai
ekstrak dari serbuk tanaman hutan tropis Indonesia, hewan rayap lokal,
metanol, kertas Whatman. Alat yang digunakan dalam penelitian
meliputi cawan uji, kawat, kasa plastik, kapas, botol kaca, erlemeyer,
higrometer, oven, gelas ukur, kawat kasa, dan kasa plastik.
Gambar 9. Alat untuk uji aktivitas antirayap
62 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
62 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
2. Prosedur Kerja
Pengujian anti rayap dilakukan dengan metode Sellulosa pads
temodifikasi (Normasari, Leka 2007 dan Sudrajat 2012). Menggunakan
rayap rumah (Cryptotemes sp) rayap ini sebenarnya merupakan rayap kayu
kering family kalotermitidae karna hidupnya di tempat kering dan tidak
berhubungan dengan tanah. Rayap ini merusak bangunan-rumah sepeti
meja, almari, dan kursi. Pengmbilan rayap ini dilakukan di dalam rumah
pada dinding yang di rambati rumah koloni rayap.
Kayu (Mangrove) uji ukuran 4x1 yang sudah diberikan 4
perlakuan yaitu tanpa perendaman, perendaman dengan terusi
(CuSO4), air payau, tembakau hitam dimasukan kedalam gelas uji yang
sudah berisikan tanah lembab 2 cm diatas permukaan gelas uji.
Kemudian 20 rayap (15 prajurit rayap, 5 rayap pekerja) diletakkan
disamping kayu uji dan penutup gelas uji diberi lubang sebagai lubang
udara. Sebelumnya, kayu sudah ditimbang beratnya dan pengujian
antirayap tehadap kayu mangrove diletakkan di tempat gelap selama 3
hari. Setiap harinya diamati rayap yang mati. Pada hari ketika diamati
sisa rayap hidup dan ditimbang berap kayu.
Mortalitas rayap dapat dihitung menggunakan rumus
M% = x 100%
1. M2 = Rayap mati
2. M1 = Rayap awal
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 63
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 63
Dan kehilangan berat kayu uji dihitung dengan rumus
K = − x 100%
1. W1-W2 ==berat setelah 3 hari
2. W1 = berat awal
E. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Percobaan
Dokumen foto pengamatan uji anti rayap
2. Hasil Pengamatan
Tabel. 15 Hasil Pengamatan berat sampel kayu*) dan jumlah
rayap yang meninggal
Sampel Selesih berat kayu dan Jumlah rayap
No percobaan dari yang mati pada minggu ke-
ekstrak .. I II III
01. Bajakah
02 Taxus
Sumatrana
03. Akar Kuning
04. Mangrove
05 Jenitri
64 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
64 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
Tabel 16. Hasil Pengamatan berat sampel kertas *) dan jumlah
rayap yang meninggal
No Sampel Selesih berat kertas saring dan Jumlah
percobaan dari rayap yang mati pada minggu ke-
ekstrak .. I II III
01. Bajakah
02 Taxus
Sumatrana
03. Akar Kuning
04. Mangrove
05 Jenitri
Beradasrkan kedua tabel diatas, maka dapat diketahui bahwa
aktivitas dari sampel yang memiliki daya hambat adalah ........
3. Pembahasan :
Berdasarkan hasil percobaan, mohon saudara jelaskan
mengenai data-data yangdiperoleh dari percobaan; serta keterakitan
antara metabolit sekunder dari ekstrak (cairan) sampel Bajakah, Akar
kuning, Taxus Sumatrana, Jenitri, dan Mangrove.
F. SIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dan pembahasan, maka tulislah
kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan percobaan ini.
G. TUGAS DAN UMPAN BALIK
Tugas 1.
Tugas saudara selanjutnya adalah melakukan diskusi kelompok
untuk merancang suatu desain model pembelajaran inkuiri terintegrasi
etnosains dan STEM mengacu dari aktivitas percobaan yang telah
dilakukan. Untuk memberika arahan yang jelas, mohon setiap
kelompok berdiskusi untuk (1) mendeskripsikan mengenai rumusan
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 65
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 65
masalah dari kegiatan percobaan yang telah dilaksanakan, (2)
menuliskan rumusan hipotesis yang dapat diajukan dari percobaan
tersebut; (3) menuliskan secara singkat mengenai rancangan percobaan
untuk menguji hipotesis yang diajukan, (4) menuliskan secara singkat
jenis-jenis percobaan yang akan dilakukan untuk membuktikan hipotesi
yang diajukan, (5) mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan;
serta analisis data dari percobaan secara singkat dan jelas, (6)
menuliskan hasil kesimpulan dari diskusi mengenai percobaaan yang
telah dilakukan.
Tugas 2 :
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dalam
percobaan ini ditinjau dalam kontek STEM, mohon saudara isi Tabel
Kerja dibawah ini.
Tabel 17. Analisis dalam Konten dan Konteks STEM
Komponen STEM Analisis Komponen
Sains [S]
Teknologi [T]
Engineering [E]
Matematika [M]
66 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
66 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
BABBABVVII
PERCOBAAN UJI BIOAKTIVITAS
ANTIKANKER EKSTRAK METABOLIT
SEKUNDER DARI TANAMAN HUTAN
TROPIS INDONESIA
A. DESKRIPSI PEMBELAJARAN
Pada kegiatan pembelajaran ini akan dibahas bahan kajian
terkait tanaman lokal yang berkhasiat anti kanker, dan beberapa riset
terkait bahan kajian antikanker, selanjutnya mengajak mahasiswa
untuk melakukan percobaan inkuiri tentang uji aktivitas antikanker
dari ekstrak isolat dari tanaman hutan tropis, yaitu sampel Bajakah,
Taxus Sumatrana, Akar Kuning, Jenitri dan Mangrove.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Pengetahuan :
Mahasiswa mampu memahami mengenai pengetahuan prosedural
terkait dengan uji aktivitas antikanker dari ekstrak isolat dari
tanaman hutan tropis, yaitu yaitu Bajakah, Taxus sumatrana,
Jenitri, Akar Kuning, dan Mangrove.
2. Keterampilan :
a) Mahasiswa terampil melakukan percobaan untuk
membuktikan adanya daya hambat pertumbuhan sela bakteri
dari kandungan senyawa metabolit sekunder dari berbagai
tanaman hutan tropis Indonesia.
b) Mahasiswa mampu mengkomunikasikan hasil percobaan dai
uji biokativitas antikanker dari ekstrak tanaman hutan tropis
Indonesia.
3. Sikap :
a). Mengembangkan sikap konservasi keanekaragaman hayatai,
konservasi cinta tanah air, dan peduli lingkungan.
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 67
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 67
b). Mengembangkan sikap kinerja ilmiah, sikap jujur, disiplin,
rasa ingin tahu, dan tanggung jawab.
C. LANDASAN TEORI
Kanker merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan
hilangnya fungsi kontrol sel terhadap regulasi siklus hidup sehingga sel
tidak dapat berpoliferasi secara normal. Pertumbuhan sel yang tidak
normal ini akan menyerang jaringan biologis sekitarnya serta mampu
bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau
sistem limfatik sehingga menyebabkan kematian (Farida, et al., 2010).
Secara teoritis, timbulnya sel kanker umumnya terjadi oleh senyawa-
senyawa karsinogenik yang berinteraksi dengan DNA sehingga terjadi
mutasi. Senyawa-senyawa tersebut membentuk senyawa intermediet
menghasilkan alkilasi DNA yang menyebabkan kesalahan pasangan
basa DNA. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perubahan urutan
basa atau terjadi kesalahan pembacaan informasi genetik dan
mengakibatkan terjadinya mutasi. Mutasi DNA dapat memicu
perkembangan neoplastik yang menghasilkan sel tumor atau kanker
(Jagetia, et al., 2 006).
Proses pembentukan kanker terdiri atas empat tahap. Tahapan
pertama adalah inisiasi, yaitu tahapan terjadinya perusakan DNA atau
mutasi yang mengatur penggandaan sel. Tahapan kedua adalah
promosi, yaitu tahap peningkatan penggandaan sel abnormal akibat
proses inisiasi. Munculnya sel-sel kanker yang diikuti perubahan genetik
menandai perkembangan tahapan yang 15 ketiga yaitu tahap progresi.
Tahap an terakhir ialah metatasis, yaitu tahapan sel kanker melakukan
ekspansi ke jaringan pembuluh darah lain. Sel e kspansif akan
membentuk kanker sekunder di jaringan yang ditulari (Ren, et al., 2003).
Pengobatan kanker umumnya menggabungkan pembedahan
dan radiasi dengan pengobatan kemoterapi. Kemoterapi merupakan
pengobatan kanker menggunakan suatu obat sitostatika yang merusak
sel kanker. Beberapa obat sitostatika yang sudah digunakan sebagai
agen kemoterapi ialah taksol, bleomisin, 5-flurourasil, klorambusil,
tiotepa, serta alkaloid indol seperti vinblastin dan vinkristin. Obat
sitostatika bekerja dengan mempengaruhi metabolisme asam nukleat
terutama DNA atau biosintesis protein. Hal inilah yang menyebabkan
obat sitostatika bekerja tidak selektif karena bersifat toksik baik pada
sel kanker maupun sel normal, terutama sel normal yang kecepatan
68 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
68 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
proliferasinya tinggi seperti pada sum-sum tulang belakang. Obat-
obatan tersebut memberikan efek samping berupa mual, muntah,
rambut rontok, iritasi kandung kemih disertai terdapatnya darah dalam
air kemih (Sukmarianti, et al., 2013). Hal ini mendorong para peneliti
untuk mengeksplorasis enyawa-senyawa bioaktif antikanker dari bahan
alam untuk mengurangi efek samping. Sampai saat ini pencarian obat
untuk antikanker dari senyawa bahan alam masih terus dikembangkan.
Pada satu sisi, Indonesia memiliki lebih dari 25.000-30.000
spesies tumbuhan dan memiliki lebih dari 17.000 pulau serta memiliki
lebih dari 50 tipe ekosistem (Kartawinata, 2010) dan dihuni sekitar 300-
700 etnis. Keragaman etnis Indonesia menghasilkan keragaman
budaya, tradisi, dan kearifan lokal berbeda. Salah satu kearifan lokal
yang dimiliki oleh etnis Indonesia adalah memanfaatkan
keanekaragaman hayati di sekitarnya sebagai obat. Setiap masyarakat
lokal memanfaatkan tanaman lokal untuk menjaga kesehatannya dan
dikenal seabagai tumbuhan obat. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan
obat pada umumnya diwariskan secara lisan sehingga pengetahuan
tersebut hanya terbatas pada sekelompok masyarakat dan dikenal
sebagai Indegenous Science. Pengetahuan masyarakat rentan
terdegradasi karena akulturasi budaya maupun modernisasi, sehingga
perlu dikonservasi. Hasil riset diketahui lebih 80% metabolit sekunder
dalam tanaman lokal dimanfaatkan sebagai penyedia senyawa awal
untuk obat yang beredar dalam industri farmasi (Fabricant dan
Farnsworth, 2001). Penemuan dan produksi obat yang beredar di
masyarakat saat ini, terdapat juga diawali oleh pengetahuan masyarakat
lokal mengenai manfaat suatu tanaman tertentu untuk obat tertenu
sebagai contoh penyakit kanker, yang mana pengobatannya masih
banyak melaui ekstrak jamu yang diperoleh dengan cara ekstrak
langsung dari tumbuhan, dalam hal ini tanaman Bajakah Kalimantan.
Pada saat ini terdapat tanaman Bajakah Kalimantan yang
diyakini sebagian masyarakat Dayak Kalimantan sebagai obat kanker,
tumor, menghentikan pendarahan, meningkatkan stamina, dan
antibakteri (Moris, 2020). Pada riset sebagai upaya memberikan
penjelasan ilmiah tentang khasiat ekstrak Bajakah Kalimantan yang
mampu mampu menyelamatkan tikus yang diinduksi zat pertumbuhan
sel tumor atau kanker yang dihasilkan dari percobaan siswa SMAN 2
Palangkaraya (Yazid, et al, 2018). Hasil tersebut pada kajian ilmiah
sebagai dasar temuan awal untuk dikaji mengapa ekstrak bajakah
mampu sebagai penghambat sel kanker atau tumor .
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 69
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 69
D. ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA
1. Alat Dan bahan Percobaan
Alata danbahan percobaan inkuiri berbasis laboratorium ini
adalah ekstrak islat dari tanaman hutan tropis yaitu Bajakah, Taxus
sumatrana, Jenitri, Akar Kuning, dan Mangrove. Percobaan ini
dilakukan di laboratorium Kimia UNNES atau di Laboratorium.
Kedokteran di UGM Yogyakarta.
2. Cara Kerja Uji sitotoksik dengan metode MTT
a) Suspensi sel dalam media lengkap sebanyak 100 µL (kepadatan
10.000 sel/sumuran) dimasukkan ke dalam plate 96 dan plate
diinkubasi selama 24 jam dalam inkubator CO2 5%.
b) Di akhir inkubasi, media pada masing-masing sumuran dibuang,
kemudian ditambahkan media baru dan sampel 100 µL dalam tiap
sumuran yang berbeda sehingga diperoleh kadar akhir sampel
dengan variasi kadar tertentu (sampel: 250, 150, 100, 50, 25
µg/mL).
c) Selanjutnya plate diinkubasi dalam inkubator CO2 5% selama 24
jam pada suhu 37°C.
d) Pada akhir inkubasi, medium pada masing-masing sumuran
dibuang, dicuci dengan PBS sebanyak 100 µL, kemudian
ditambahkan 100 µL MTT 5 mg/ mL dalam PBS. Plate diinkubasi
lagi selama 4 jam pada suhu 37°C. Sel hidup akan bereaksi dengan
MTT (3-(4,5-dimetil thiazol -2il)-2,5-difeniltetrazoliumbromid)
membentuk formazan yang berwarna ungu.
e) Reaksi pembentukan formazan dihentikan dengan menambahkan
larutan SDS (Sodium Dodecyl Sulphate) 10% dalam HCl 0,01N,
lalu diinkubasi selama semalam pada suhu kamar.
f) Pada akhir masa inkubasi serapan dibaca dengan ELISA reader
pada panjang gelombang 550 nm. Persentase sel hidup dihitung
melalui data absorbansi sel kemudian dibuat kurva hubungan log
konsentrasi versus nilai % sel hidup dan dihitung harga IC50-nya.
70 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
70 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
E. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
Tabel 18. Hasil Pengamatan berat sampel kayu*) dan jumlah
rayap yang meninggal
Sampel Selesih berat kayu dan Jumlah rayap
No percobaan dari yang mati pada minggu ke-
ekstrak .. I II III
01. Bajakah
02 Taxus
Sumatrana
03. Akar Kuning
04. Mangrove
05 Jenitri
Pembahasan :
Berdasarkan hasil percobaan, mohon saudara jelaskan
mengenai data-data yangdiperoleh dari percobaan; serta keterakitan
antara metabolit sekunder dari ekstrak (cairan) sampel Bajakah, Akar
kuning, Taxus Sumatrana, Jenitri, dan Mangrove.
F. SIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dan pembahasan, maka tulislah
kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan percobaan ini.
G. TUGAS DAN UMPAN BALIK
Tugas 1.
Tugas saudara selanjutnya adalah melakukan diskusi kelompok
untuk merancang suatu desain model pembelajaran inkuiri terintegrasi
etnosains dan STEM mengacu dari aktivitas percobaan yang telah
dilakukan. Untuk memberika arahan yang jelas, mohon setiap
kelompok berdiskusi untuk (1) mendeskripsikan mengenai rumusan
masalah dari kegiatan percobaan yang telah dilaksanakan, (2)
menuliskan rumusan hipotesis yang dapat diajukan dari percobaan
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 71
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 71
tersebut; (3) menuliskan secara singkat mengenai rancangan percobaan
untuk menguji hipotesis yang diajukan, (4) menuliskan secara singkat
jenis-jenis percobaan yang akan dilakukan untuk membuktikan hipotesi
yang diajukan, (5) mendeskripsikan hasil penelitian dan pembahasan;
serta analisis data dari percobaan secara singkat dan jelas, (6)
menuliskan hasil kesimpulan dari diskusi mengenai percobaaan yang
telah dilakukan.
Tugas 2.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dalam
percobaan ini ditinjau dalam kontek STEM, mohon saudara isi Tabel
19 dibawah ini.
Tabel 19. Analisis dalam Konten dan Konteks STEM
Komponen STEM Analisis Komponen
Sains [S]
Teknologi [T]
Engineering [E]
Matematika [M]
72 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
72 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
BABBABVIVIII
DESAIN PENELITIAN ETNOMEDISIN
DAN KARAKTER KONSERVASI
MASYARAKAT DI HUTAN TROPIS
A. DESKRIPSI PEMBELAJARAN
Pada kegiatan ini, akan dilakuan mini riset tentang Etnomedisin
dan karakter konservasi masyarakat lingkar hutan tropis Indonesia.
Pada kegiatan ini para mahasiswa diharapkan menetapkan satu kawasan
hutan tropis [lokasi tertentu] untuk melakukan observasi tentang
tanaman yang diteliti, serta menanyakan kepada narasumber terkait
nama tanaman, karakteristiknya, manfaatnya bagi kesehatan, bagian
yang tanaman bermanfaat, bagaimana ekstraksinya atau pembuatan
simplisia, bagaimana cara pemakaianya, dan budaya masayrakat lingkar
hutan tropis dalam menjaga tanaman hutan tropis.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Pengetahuan : Mahasiswa mampu memahami mengenai
pengetahuan prosedural terkait dengan uji aktivitas antikanker dari
ekstrak isolat dari tanaman hutan tropis, yaitu yaitu Bajakah, Taxus
sumatrana, Jenitri, Akar Kuning, dan Mangrove.
2. Keterampilan :
a) Mahasiswa terampil melakukan penelitian pendekatan
etnomedisin untuk tanaman hutan tropis di Indonesia.
b) Mahasiswa terampil mengkomunikasikan hasil percobaan
dalam kegiatan ilmiah seperti seminar atau publikasi ilmiah di
Jurnal Ilmiah.
3. Sikap :
a). Mengembangkan sikap konservasi keanekaragaman hayatai,
konservasi cinta tanah air, dan peduli lingkungan.
b). Mengembangkan sikap kinerja ilmiah, sikap jujur, disiplin,
rasa ingin tahu, dan tanggung jawab.
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 73
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 73
C. LANDASAN TEORI
Kebutuhan akan pengetahuan ilmiah mengenai tanaman obat
dari suatu tanaman untuk saat ini semakin meningkat seiring dengan
semakin meningkatnya ketergantungan manusia terhadap tumbuhan.
Bahkan berbagai penyakit baru yang muncul dan mengancam
kelangsungan hidup manusia, obatnya harus dicari dari beragam
senyawa metabolit yang terkandung dalam tumbuhan. Hidayat, A et al
(2014) telah mengkaji secara ilmiah dari berbagai tanaman lokal hutan
tropis dari Taxus Sumatrana atau cemara Sumatra yang tumbuh di hutan
subtropis lembab dan hutan hujan pegunungan pada ketinggian 1.400–
2.800 m dpl.
Secara alamiah, penyebaran tanamanTaxus sumtrana ini
meliputi Philiphina, Vietnam, Taiwan, Cina, dan termasuk Indonesia.
Di Indonesia, T. sumatrana tumbuh secara alami sebagai di hutan
pegunungan ataupun punggung pegunungan di Sumatra: Gunung
Kerinci, Jambi, Kawasan Hutan Lindung Dolok Sibuaton, Sumatra
Utara, dan Gunung Dempo, Sumatra Selatan (Hidayat, A. J dan S.
Tachibana, 2013) yang merupakan metabolit sekunder sebagai obat
tradisional antikanker untuk masyarakat. Secara penemuan inkuiri,
senyawa antikanker yang ditemukan pada tanaman Taxus Sumatrana
adalah metabolit sekunder taxol paclitaxel yang merupakan golongan
diterpen yang sangat kompleks dengan keberagaman struktur berikut.
Gambar 10. Struktur molekul dari 10-deacetylbaccatin III (A), baccatin
III (B), dan paclitaxel (C) (Sumber Hidayat A et al, 2014)
74 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
74 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
Secara etnohistoris, sejak ribuan tahun yang lalu sampai dengan
sekarang di abad 21, tumbuhan lokal hutan telah dikenal sebagai
sumber penting dari berbagai senyawa yang bersifat obat. Lebih dari
100.000 struktur metabolit sekunder yang berbeda satu sama lain
teridentifikasi, 80% di antaranya disintesis oleh tumbuhan, dan
selanjutnya diekstraksi untuk memenuhi berbagai keperluan umat
manusia. Secara epistemologi, proses pemerolehan pengetahuan
moderen sebagai pengetahuan Ilmiah (Scientific Knowledge) manusia
tentang manfaat tumbuhan tidak dapat dilepaskan dari sumbangan ilmu
pengetahuan masyarakat (Indegenous Science) yang tersebar di berbagai
masyarakat tradisional dan dikenal sebagai Etnosains (Carlson, T. J., &
Maffi, L. 2004, Sudarmin, 2016). Pentingnya sumbangan pengetahuan
masyarakat dari kelompok masyarakat tersebut dalam mengembangkan
pengetahuan ilmiah mengenai manfaat tumbuhan sebagai obat perlu
didukung oleh masyarakat ilmiah di Perguruan Tinggi. Karena
keuntungan suatu penelitian yang memanfaatkan suatu metabolit
sekunder dari tumbuhan lokal hutan tropis, antara lain memupuk
karakter konservasi yang menjadi visi UNNES, yaitu keuntungannya
adalah untuk:
1. Masyarakat dan Pemerintah, sehingga mereka merasa memiliki dan
peduli akan hutan tropis. Masyarakat dan Pemerintah sadar bahwa
hutan tropis sebagai pabrik senyawa kimia untuk obat farmasi
modern yang saat ini berkembang sebenarnya ditopang
keberadaan senyawa hasil alam atau turunannya.
2. Masyarakat akademik dan mahasiswa untuk memanfaatkan hutan
tropis tersebut secara bijaksana untuk penelitiannya, karena pada
saat ini masyarakat akademik masih berinkuiri dan menemukan
obat baru dari sumber alami; misalnya obat kanker, obat deman
berdarah, obat kencing manis, obat virus HIV, dan lain-lain.
3. Masyarakat lingkar hutan tropis di Indonesia, akan keberadaan
tanaman lokal hutan tropis yang berkhasiat sebagai obat, sehingga
masyarakat lingkar hutan tropis selalu menjaga, merawat, dan
melestarikannya melaui pengetahuan masyarakat setempat dan
kepercayaannya.
Pada beberapa literatur ilmiah menyatakan tanaman hutan tropis
memiliki bioaktivitas, karena mengandung senyawa metabolit
sekunder yang “berkontribusi” sebagai obat; serta peran lain bagi
kehidupan masyarakat. Hasil analisis secara inkuiri berbasis lesson
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 75
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 75
disimpulkan bahwa peran metabolit sekunder dari tanaman lokal hutan
tropis mampu sebagai hormon tanaman, antioksidan, antirayap, anti
virus HIV, pewarna alami, dan lain-lain (Sjamsul, A. 2009, dan Matjseh,
S., 2009). Dengan demikian mengkonservasi hutan tropis oleh
mahasiswa atau masyarakat berarti juga konservasi berjuta metabolit
sekunder, karena dengan:
1. Merawat dan menggunakan tanaman obat hutan tropis, berarti
mahasiswa telah melakukan konservasi tumbuhan dan varietas
tanaman tersebut, serta konservasi sumberdaya hayati lainnya
2. Menjaga dan menjamin keberlanjutan persediaan tanaman obat
hutan tropis, berarti mahasiswa ikut mengkonservasi tanaman
obat dan juga sumberdaya hutan non-kayu, serta menyelamatkan
praktek kegiatan pemanfaatan sumberdaya yang tidak lestari dan
terhindarnya tanaman hutan tropis yang semakin terancam punah
karena kemajuan jaman
3. Merawat hutan tropis, berarti mahasiswa ikut memperkuat identitas
etnik dan nasionalisme, menghindari kerusakan lahan, dan
pengakuan hak masyarakat lokal terhadap kekayaan sumberdaya
dan akses terhadapnya.
D. PROSEDUR KERJA PENGAMBILAN DATA
ETNOMEDISIN
Penelitian ini termasuk kajian etnomedisin, yangmana data
penelitian diperoleh dari pengiriman dokumen wawancara dengan
narasumber melalui daring dan email. Pada riset ini pertanyaan
difokuskan pada (1) nama lokal tanaman hutan tropis, (2) Ciri dan
karakteristik tanaman hutan tropis, (3) bagian tanaman hutan tropis
yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional, (4) cara meracik ekstrak
tanaman hutan tropis, (5) bahan tambahan untuk ekstrak tanaman
hutan tropis, (6) komponen apa yang berkhasiat obat, (7) cara
konservasi masyarakat terhadap hutan tropis di Indonesia, (8) pola
pembibitan atau mempertahankan tanaman hutan tropis Indonesia.
Pada penelitian ini hasil wawancara dengan nara sumber, selanjutnya
data pengetahuan dari masyarakat (Indegenous Science) dilakukan proses
rekontruksi menjadi pengetahuan ilmiah sebagai bentuk eksplansai
sains. Prosedur untuk rekontruksi sains yaitu pengumpulan data,
76 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
76 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
verifikasi dan reduksi data, konseptualisasi pengetahuan ilmiah, validasi
dan dokumentasi pengetahuan imiah dalam bahan ajar.
E. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Dokumentasi Wawancara dengan Nara sumber terkait
Etnomedisin
2. Hasil Penelitian
Pada penelitian ini telah dilakuan penelitian observasi dan tanya
jawab kepada narasumber mengenai “Etnomedisine” tanaman hutan
tropis sebagai obat tradisional. Hasil wawancara dengan narasumber
dapat disajikan pada Tabel berikut :
Nama Narasumber : ....
Alamat : ....
Pendidikan Terakhir : ....
Usia : ....
Tempat Observasi :
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 77
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 77
No Fokus Pertanyaan Jawaban narasumber
01. Nama Tanaman Daerah
02. Ciri tanaman (Daun, Batang,
Akar, Bunga, Biji, Warna Daun,
dll)
03. Kegunaan Tanaman Bagi
Masyarakat
04. Bagian yang bermanfaat bagi
tanaman untuk obat
05. Cara pembuatan ekstrak atau
produk jamu
06. Cara pemakaian ekstrak jamu
07. Pola perilaku masyarakat dalam
mengkonservasi atau melindungi
tanaman taxus
08. Bagaimana cara memperbanyak
tanaman taxus
09. Mengapa tanaman taxus bisa
berkhasiat
3. Pembahasan
Berdasarkan hasil wawncara dan informasi yang diperoleh dari
narasumber, mohon saudara melakukan rekontruksi pengetahuan
ilmiah berbasis pengetahuan masyarakat, dengan tahapan sebagai
berikut:
1. Pengumpulan data mengenai pengetahuan masyarakat terkait
tanaman hutan tropis tertentu yang berkhasiat sebagai obat.
2. Data dan informasi yang terkumpul dan dicatat dengan baik
dilakukan verifikasi dan reduksi. Artinya pernyataan atau
jawaban dari narasumber mana yang mengandung konsep sains
(pengetahuan ilmiah),
3. Setelah diverifikasi dan reduksi, maka diperoleh data
pengetahuan masyarakat dapat dikonseptualisasikan atau
direkontruksi menjadi pengetahuan ilmiah dengan mencari
makna ilmiah dari pengetahuan masyarakat melalui inkuiri
78 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
78 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
berbasis lesson. Inkuiri berbasis leeson artinya pernyataan,
simbol, atau pengetahuan masyarakat itu dianalisis makna
ilmiahnya apa bedasarkan buku teks, pakar, atau sumber
informasi lain yang valid dan benar.
4. Setelah pengetahuan ilmiah telah teronseptualkan dengan baik,
maka dilanjutkan validasi data melalui diskusi dengan pakar
atau tim apakah konsep yang diperoleh dari literarur itu benar,
jika benar menjadi pengetahuan ilmiah, dan siap diintegrasikan
dalam materi pembelajaran KOBA atau mata kuliah yang
sesuai.
5. Pada perkembangan saat ini, proses validasi suatu pengetahuan
yang telah dianggap benar, diperkuat lagi proses pembuktikan
di dalam Laboratoriu, dalam hal ini dikenal sebagai Inkuiri
berbasis laboratorium.
Tugas :
Pada saat BKM ini, Indonesia terkena wabah Covid 19, maka
karena kondisi yang tidak memungkinkan, maka pada bagian ini
disajikan beberapa informasi yang diakses dari Internet dari beberpa,
saudara mahasiswa untuk mengakses link yang diberikan dibawah ini,
setelah itu saudara rekontruksi pengetahuan ilmiah berdasarkan informasi
dari beberapa link channel berikut.
Link Akar kuning:
1. Link 1 : https://www.youtube.com/watch?v=GNOuGJlJqyk
2. Link 2 : https://www.youtube.com/watch?v=aZ_R8EMJezs
3. Link 3 : https://balitbangkota.palangkaraya.go.id/khasiat-akar-
kuning-kalimantan-untuk-kesehatan/
Link Bajakah:
1. Link : https://balitbangkota.palangkaraya.go.id/khasiat-akar-
kuning-kalimantan- untuk-kesehatan/
2. Link : https://www.youtube.com/watch?v=Yo8UUxHiaVU
3. Link : https://www.youtube.com/watch?v=o_ilMGIUiqA
4. Link : https://www.youtube.com/watch?v=mzqpwqbTo8k
Link Taxus Sumatrana
1. Link : http://klikpositif.com/baca/65794/tanaman-langka-
ditemukan-di-gunung-singgalang
2. Link :
https://www.youtube.com/watch?v=XVVhTL1GMXM
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 79
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 79
Link Jenitri
1. Link : https://www.balipuspanews.com/jenitri-pohon-air-mata-
dewa-siwa-yang-banyak-khasiat.html
Link Mangrove:
1. Link
https://journal.trunojoyo.ac.id/jurnalkelautan/article/view/792/700
1. https://www.youtube.com/watch?v=0JhmAMWRIug
2. https://www.youtube.com/watch?v=k_N4v6yB8lE
3. https://www.youtube.com/watch?v=0JhmAMWRIug
4. https://www.youtube.com/watch?v=sAVR46i7cPQ
Kesimpulan :
Hasil analisis dari Video tersebut terdapat beberapa pengetahuan
ilmiah berbasis pengetahun masyarakat, yaitu.
No Link Channel Pengetahuan Pengetahuan
Masyarakat Ilmiiah
01. Akar Kuning
02. Taxus Sumatrana
03 Mangrove
04. Bajakah
05. Jenitri
80 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
80 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
LAMPIRAN -LAMPIRAN
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 81
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 81
Lampiran 1 : Instrumen Tabel Kerja Model Pembelajaran
Inkuiri Terintegrasi Etnosains dan STEM.
Pada bagian Tbel berikut ini disajikan Tabel Kerja untuk tahapan
Model pembelajaran Inkuiri Terintegrasi Inkuiri dan STEM, mahan saudara
dapat mengisi tahaapan sintaks selanjutnya beserta deskripsi kegiaan
pembelajaran dalam konteks Etnosains dan STEM.
No Sintaks Pembelajaran Deskripsi kegiatan pembelajaran
Inkuiri
01 Orientasi Masalah/
Rumusan Masalah
02. -----
03. ----
04.
05.
06.
07.
Berdasarkan pada Tabel kerja tersebut, saudara dapat menyuun
desain model pembelajarn Inkuiri Terintegrasi Etnosains dan STEM,
silakan mendesainnya.
82 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
82 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
Lampiran 2 : Foto Penelitian Etnomedisine Tanaman Taxus
Sumatrana di Kawasan Hutan Sumatra
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 83
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 83
Lampiran 3 : Foto Penelitian Etnomedisine Tanaman Akar kuning
dari di Kawasan Hutan Sumatra
84 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
84 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
Lampiran 4 : Foto Penelitian Etnomedisine Tanaman Bajakah
dari Dayak Kalimantan
[
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 85
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 85
Lampiran 5 : Foto Penelitian Etnomedisine Tanaman Jenitri dari
Banyumas Jawa Tengah
86 | Buku Lembar Kerja Mahasiswa Kegiatan
86 | BUKU LEMBAR KERJA MAHASISWA
Lampiran 6 : Foto Penelitian Etnomedisine Tanaman Mangrove
dari Tanah Mas Semarang Jawa Tengah
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 87
Prof. Dr. Sudarmin, M.Si., dkk. | 87