The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by marcomm.hga, 2021-09-29 07:25:22

Persyaratan Khusus RSU-HGA

RSU. Hasanah Graha Afiah

PEDOMAN KERJA
PENCEGAHAN DAN

PENGENDALIAN
INFEKSI (PPI)

PEDOMAN KERJA
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI)

RSU. HASANAH GRAHA AFIAH
2019

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI)













Lampiran Surat Keputusan Direktur RSU.HGA
Nomor : 995/SK-DIR/RSHGA/IX/2019
Tanggal : 19 September 2019
Perihal : Pedoman Kerja Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan

dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan

masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalam

Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

Infeksi merupakan interaksi antara mikroorganisme dengan pejamu rentan yang terjadi

melalui kode transmisi kuman yang tertentu. Cara transmisi mikroorganisme dapat terjadi
melalui darah, udara baik droplet maupun airbone, dan dengan kontak langsung. Di Rumah

Sakit dan sarana kesehatan lainnya, infeksi dapat terjadi antar pasien, dari pasien ke petugas,

dari petugas ke petugas, dari petugas ke pasien dan antar petugas. Dengan berbekal

pengetahuan tentang patogenesis infeksi yang meliputi interaksi mikroorganisme dan pejamu,

serta cara transmisi atau penularan infeksi, dan dengan kemampuan memutuskan interaksi

antara mikroorganisme dan pejamu, maka segala bentuk infeksi dapat dicegah.

Infeksi rumah sakit merupakan masalah utama bagi semua rumah sakit karena dampak

yang ditimbulkan meningkatkan lama masa rawat, angka kematian, biaya perawatan dan

pengobatan membebani rumah sakit maupun pasien.

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit (PPIRS) merupakan suatu upaya

penting dalam meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit. Hal ini hanya dapat dicapai

dengan keterlibatan secara aktif semua personil rumah sakit, mulai dari petugas kebersihan

sampai dengan dokter dan mulai dari pekarya sampai dengan jajaran direksi. Kegiatan tersebut

dilakukan secara baik dan benar disemua sarana rumah sakit, peralatan medis dan non medis,

ruang perawatan dan prosedur serta lingkungan.

Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit di RSU Hasanah Graha

Afiah merupakan tugas Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit dalam upaya

mencegah dan mengendalikan kejadian infeksi di rumah sakit ketingkat serendah – rendahnya.

Infeksi tidak hanya di ruang perawatan, tetapi dapat juga terjadi disetiap ruangan yang ada

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 1

di rumah sakit. Sumber penularan infeksi tidak hanya berasal dari petugas kesehatan,
peralatan, pasien, pengunjung, tetapi dapat pula dari bangunan, dan air. Untuk itu surveilans
merupakan kegiatan yang teramat penting dan dilaksanakan di seluruh tempat.

Terjadinya infeksi rumah sakit dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Banyaknya pasien yang dirawat yang menjadi sumber infeksi bagi lingkungan dan pasien

lainnya.
2. Interaksi antara petugas , pasien dan pengunjung yang menjadi sumber infeksi .
3. Kontak langsung antara petugas rumah sakit yang tercemar kuman atau cairan dari tubuh

pasien.
4. Penggunaan alat atau peralatan medis yang tercemar oleh mikroorganisme.
5. Kondisi pasien yang lemah akibat penyakit yang dideritanya.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka rumah sakit Hasanah Graha Afiah perlu adanya
pengorganisasian Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang merupakan salah satu faktor
pendukung yang sangat penting untuk mendapat dukungan dan komitmen dari pimpinan
rumah sakit dan seluruh petugas

B. Tujuan.
1. Tujuan Umum.
Terciptanya kondisi lingkungan rumah sakit yang memenuhi standar pencegahan dan
pengendalian infeksi dalam upaya menekan angka kejadian infeksi HAIs.
2. Tujuan Khusus
a. Telah tersebarnya informasi yang merata berkaitan dengan pengendalian infeksi
bagi tenaga rumah sakit, pasien dan keluarga serta pengunjung lainnya. Sebagai
pedoman dalam melaksanakan tugas, program, wewenang, dan tanggung jawab
secara jelas.
b. Menggerakkan segala sumber daya yang ada di rumah sakit secara efektif dan
efisien dalam melaksanakan PPI.
c. Menurunkan angka kejadian infeksi di rumah sakit secara bermakna.
d. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program PPI.

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 2

C . Landasan Hukum.
PPI di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian penerapan

standar pelayanan rumah sakit . Sebagai dasar hukum :
1. Undang – undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Undang – undang RI No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit.
3. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.27 tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan

pengendalian Infeksi di fasilitas pelayanan Kesehatan.
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI no 27 tahun 2017 Lampiran II tentang Pedoman

Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan kesehatan.
5. Pedoman Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi 1
6. Keputusan Direktur Utama RSU Hasanah Graha Afiah Nomor 905/SK-DIR/RSHGA/IX/2019

Tanggal 11 September 2019 tentang pembentukan Komite PPI.

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 3

BAB II
KONSEP DASAR PENYAKIT

Berdasarkan sumber infeksi, maka infeksi dapat berasal dari masyarakat atau komunitas

( Community Acquired Infections ) atau dari rumah ( Healthcare Associated Infections/HAIs ).

Penyakit infeksi yang didapat di rumah sakit beberapa waktu yang lalu disebut sebagai Infeksi

Nosokomial ( Hospital Acquired Infection ). Saat ini penyebutan menjadi Infeksi terkait layanan

kesehatan atau HAIs ( Healthcare Associated Infections ) dengan pengertian yang lebih luas,

yaitu kejadian infeksi tidak hanya berasal dari rumah sakit, tetapi juga dapat dari fasilitas

pelayanan kesehatan lainnya. Tidak terbatas infeksi kepada pasien namun dapat juga kepada

petugas kesehatan dan pengunjung yang tertular pada saat di dalam lingkungan fasilitas

pelayanan kesehatan.

Untuk memastikan adanya infeksi terkait layanan kesehatan ( HAIs ) serta menyusun

strategi pencegahan dan pengendalian infeksi dibutuhkan pengertian infeksi, infeksi terkait

pelayanan kesehatan ( HAIs ), jenis HAIs dan faktor resikonya

1. Infeksi merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen, dengan

atau tanpa disertai gejala klinik. Infeksi terkait layanan kesehatan ( Healthcare Associated

Infections ) yang selanjutnya disingkat HAIs merupakan infeksi yang terjadi pada pasien

selama perawatan dirumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dimana ketika

masuk tidak ada infeksi dalam rumah sakit tetapi muncul setelah pasien pulang, juga

infeksi karena pekerjaan pada petugas rumah sakit dan tenaga kesehatan terkait proses

pelayanan kesehatan difasilitas pelayanan kesehatan

2. Rantai Infeksi ( chain of infectious ) merupakan rangkaian yang harus ada untuk

menimbulkan infeksi. Dalam melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi

dengan efektif, perlu dipahami secara cemat rantai infeksi. Kejadian infeksi difasilitas

pelayanan kesehatan dapat disebabkan oleh 6 komponen rantai penularan, apabila suatu

mata rantai diputus atau dihilangkan, maka penularan infeksi dapat dicegah dan

dihentikan. 6 komponen rantai penularan infeksi, yaitu :

a) infectious agent ( Agen Infeksi ) adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan

infeksi pada manusia, dapat berupa bakteri, virus, riketsia, jamur dan parasit. Ada tiga

faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu : virulensi, patogenesis, jumlah

dosis. Makin cepat diketahui agen infeksi dengan pemeriksaan klinis atau laboratorium

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 4

mikrobiologi, serta makin cepat pula upaya pencegahan dan penanggulangannya bisa
dilaksanakan.
b) Reservoir atau wadah tempat atau sumber agen infeksi dapat hidup, tumbuh,
berkembang biak dan siap ditularkan kepada penjamu atau manusiannya. Berdasarkan
penellitian reservoir terbanyank adalah pada manusia, alat medis, binatang, tumbuh-
tumbuhan, tanah, air, lingkungan dan bahan-bahan organik lainnya. Dapat juga
ditemukan pada orang sehat, permukaan kulit, selapot lendir mulut, saluran napas
atas, usus dan vagina juga merupakan reservoir.
c) Portal of exit ( pintu keluar ) adalah lokasi tempat agen infeksi (mikroorganisme)
meninggalkan reservoir melalui saluran napas, saluran cerna, saluran kemih serta
transplasenta.
d) Metode transmisi atau cara penularan adalah metode transportamikroorganisme dari
wadah atau reservoir ke penjamu yang rentan. Ada beberapa metode penularan yaitu :

1) Kontak : langsung atau tidak langsung
2) Droplet
3) Airborne
4) Melalui vehikulum ( makanan/minuman dan darah )
5) Melalui vaktor ( biasanya serangga dan binatang pengganggu )
e) Portal of entry ( pintu masuk ) adalah lokasi agen infeksi memasuki pejamu yang
rentan dapat melaluiluran saluran cerna, saluran kemih dan kelamin, saluran nafas,
atau kulit yang tidak utuh
f) Susceptible Host ( penjamu rentan ) adalah seseorang dengan kekebalan tubuh
menurun sehingga tidak mampu melawan agen infeksi. Faktor yang dapat
mempengaruhi kekebalan adalah umur, status gizi, status imunisasi, penyakit kronis,
luka bakar yang luas, trauma, pasca pembedahan dan pengobatan dengan
imunosupresanus
Faktor lain yang berpengaruh adalah jenis kelamin, ras atau etnis tertentu, status
ekonomi, pola hidup dan pekerjaan

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 5

Agen

Host / Reservoir
Penjamu
Rentan

Tempat Tempat
Masuk Keluar

Metode
Penularan

Gambar 1. Skema rantai penularan peyakit infeksi

3. Jenis dan Faktor Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan atau Healthcare Associated

Infections (HAIs) meliputi:

a) Jenis HAIs yang paling sering terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama rumah

sakit mencakup :

1) Ventilator associated pneumonia ( VAP )

2) Infeksi Aliran Darah ( IAD )

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 6

3) Infeksi Saluran Kemih ( ISK )
4) Infeksi Daerah Operasi ( IDO )
b) Faktor resiko HAIs meliputi :
1) Umur : neonatus dan orang lanjut usia lebih rentan.
2) Status imun yang rendah atau terganggu ( immunocompromised ) : penderita

dengan penyakit kronik, penderita tumor ganas, pengguna obat-obat
imunosupresan
3) Gangguan atau Interupsi barier anatomis :
 Kateter urin : meningkatkan kejadian infeksi saluran kemih (ISK).
 Prosedur operasi : dapat menyebabkan infeksi daerah operasi (IDO) atau

surgical site infection (SSI).
 Intubasi dan pemakaian ventilator : meningkatkan kejadian Ventilator

Associated Pneumonia (VAP).
 Kanula vena dan arteri: Plebitis, IAD
 Luka bakar dan trauma
4) Implantasi benda asing
 Pemakaian implant pada operasi tulang, kontrasepsi, alat pacu jantung.
 cerebrospinal fluid shunts.
 valvular / vascular prostheses.
5) Perubahan mikroflora normal: pemakaian antibiotika yang tidak bijak dapat
menyebabkan pertumbuhan jamur berlebihan dan timbulnya bakteri resisten
terhadap berbagai antimikroba.

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 7

BAB III
PELAKSANAAN PELAYANAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

1. SURVEILANS INFEKSI TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN
A. Definisi Surveilans

Surveilans kesehatan adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus menerus
terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi
yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah kesehatan
untuk memperoleh dan memberikan informasi guna mengarahkan tindakan pengendalian
dan penanggulangan secara efektif dan efisien.Salah satu dari bagian surveilans kesehatan
adalah Surveilans infeksi terkait pelayanan kesehatan (Health Care Associated
Infections/HAIs).

Surveilans infeksi terkait pelayanan kesehatan (Health Care Associated Infections/HAIs)
adalah suatu proses yang dinamis, sistematis, terus menerus dalam pengumpulan,
identifikasi, analisis dan interpretasi data kesehatanyang penting di fasilitas pelayanan
kesehatan pada suatu populasi spesifik dan didiseminasikan secara berkala kepada pihak-
pihak yang memerlukan untuk digunakan dalam perencanaan, penerapan, serta evaluasi
suatu tindakan yang berhubungan dengan kesehatan.

B. Tujuan Surveilans
1. Tersedianya informasi tentang situasi dan kecenderungan kejadian HAIs di fasilitas
pelayanan kesehatan dan faktor risiko yang mempengaruhinya.
2. Terselenggaranya kewaspadaan dini terhadap kemungkinan terjadinya fenomena
abnormal (penyimpangan) pada hasil pengamatan dan dampak HAIs di fasilitas pelayanan
kesehatan.
3. Terselenggaranya investigasi dan pengendalian kejadian penyimpangan pada hasil
pengamatan dan dampak HAIs di fasilitas pelayanan kesehatan

C. Metode Surveilans

Surveilans Target (Targetted Surveillance)

Metode surveilans ini berfokus pada ruangan atau pasien dengan risiko infeksi spesifik

seperti ruang perawatan intensif, ruang perawatan bayi baru lahir, ruang perawatan pasien

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 8

transplan, ruang perawatan pasien hemodialisa atau pasien dengan risiko: ISK, Surgical Site
Infection (SSI)/IDO, Blood Stream Infection (BSI)/IAD, Pneumonia (HAP, VAP). Surveilans
target dapat memberikan hasil yang lebih tajam dan memerlukan sumber daya manusia
yang sedikit.

D. Langkah-langkah Surveilans
1. Perencanaan
a) Tahap 1 : Mengkaji populasi pasien
Tentukan populasi pasien yang akan dilakukan survei apakah semua
pasien/sekelompok pasien/pasien yang berisiko tinggi saja.
b) Tahap 2 : Menseleksi hasil/proses surveilans
Lakukan seleksi hasil surveilans dengan pertimbangan kejadian paling sering/dampak
biaya/diagnosis yang paling sering.
c) Tahap 3 : Penggunaan definisi infeksi
Gunakan definisi infeksi yang mudah dipahami dan mudah diaplikasikan, Nosocomial
Infection Surveillance System (NISS)misalnya menggunakan National Health Safety
Network (NHSN), Center for Disease Control (CDC) atau Kementerian Kesehatan.
2. Pengumpulan data
Tahap 4 : mengumpulkan data surveilans
Mengumpulkan data surveilans oleh orang yang kompeten, profesional, berpegalaman,
dilakukan oleh IPCN.
3. Analisis
Data harus dianalisa dengan cepat dan tepat untuk mendapatkan informasi apakah ada
masalah infeksi Rumah Sakit yang memerlukan penanggulangan atau investigasi lebih
lanjut.
Tahap 5 : Penghitungan dan stratifikasi

a. Incidence rate
Numerator adalah jumlah kejadian infeksi dalam kurun waktu tertentu.
Denominator adalah jumlah hari pemasangan alat dalam kurun waktu tertentu atau
jumlah pasien yang dilakukan tindakan pembedahan dalam kurun waktu tertentu.

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 9

b. Menganalisis incidence rate infeksi
Data harus dianalisa dengan cepat dan tepat untuk mendapatkan informasi apakah
ada masalah infeksi Rumah Sakit yang memerlukan penanggulangan atau investigasi
lebih lanjut.

Kamus Indikator Infeksi Daerah Operasi ( IDO )

Area Klinis 20

Judul Indikator Infeksi Daerah Operasi (IDO)

Definisi Infeksi pasca operasi adalah adanya infeksi rumah sakit (HAIs) pada

Operasional semua kategori luka sayatan operasi yang dilaksanakan di rumah sakit

dan ditandai oleh rasa panas (kalor), nyeri (dolor), kemerahan (rubor),

bengkak (tumor) gangguan fungsi (fungsiolesa) dan keluarnya nanah

(pus) yang muncul dalam waktu lebih 3 x 24 jam sampai dengan 30 hari

pasca operasi, atau sampai dengan 1 tahun jika terdapat implant

Tujuan Tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasien

khususnya HAIs (Health Care Associated Infections)

Tipe Indikator Input & Outcome

Dimensi Mutu Keselamatan Pasien

Dasar Pemikiran 1. Meningkatkan standar akreditasi nasional

2. Meningkatkan patient safety

Numerator Jumlah pasien yang mengalami infeksi pasca operasi

Denominator Jumlah seluruh pasien yang dioperasi di seluruh RS

Formula Jumlah pasien yang mengalami infeksi pasca operasi dibagi Jumlah

Pengukuran seluruh pasien yang dioperasi di seluruh RS dikali 100%

Metodologi Sensus Harian

Pengumpulan

Data

Cakupan Data Instalasi Rawat Inap, Instalasi Pelayanan Intensif, dan Instalasi Rawat

Jalan

Frekuensi Bulanan

Pengumpulan

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 10

Frekuensi 3 Bulanan
Analisis Data Concurrent
Metodologi Infeksi Daerah Operasi (IDO) diambil dari rekam medis
Analisis Data
Sumber Data

Penanggung Kriteria Inklusi: Semua infeksi pada daerah operasi yang terjadi minimal 3
Jawab x 24 jam pasca operasi sampai dengan 30 hari atau satu tahun jika
Pengumpulan dipasang implant.
Data Kriteria Eksklusi: Jejunostomy, ileostomy, colostomy
Standar PJ Pengumpul Data IPCLN

2%

Kamus Indikator Sepsis

Area Klinis 21
Judul Indikator Sepsis
Definisi Sepsis yang terjadi setelah pasien dirawat di rumah sakit
Operasional
Tujuan Tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasien
khususnya HAIs (Health Care Associated Infections)
Tipe Indikator Input & Outcome
Dimensi Mutu Keselamatan Pasien
Dasar Pemikiran 1. Meningkatkan standar akreditasi nasional
2. Meningkatkan patient safety
Numerator Jumlah pasien sepsis
Denominator Jumlah pasien rawat inap
Formula Jumlah pasien sepsis dibagi Jumlah pasien rawat inap dikali 100%

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 11

Pengukuran Sensus Harian
Metodologi
Pengumpulan Instalasi Rawat Inap, Instalasi Pelayanan Intensif
Data Bulanan
Cakupan Data 3 Bulanan
Frekuensi Concurrent
Pengumpulan Data sepsis diambil dari Rekam Medis
Frekuensi
Analisis Data
Metodologi
Analisis Data
Sumber Data

Penanggung Kriteria Inklusi: Gejala yang timbul : panas, hiperventilasi,
Jawab alkalosis respiratoris, perubahan status mental, hipotensi, shock (Sepsis
Pengumpulan ditentukan oleh dokter yang merawat)
Data Kriteria Eksklusi: Pasien masuk rumah sakit dengan sepsis
Standar PJ Pengumpul Data IPCLN

1%

Kamus Indikator Plebitis

Area Klinis 22
Judul Indikator Infeksi Luka Infus (ILI / Plebitis)
Definisi Keadaan infeksi yang terjadi disekitar tusukan atau bekas tusukan jarum
Operasional infus di pembuluh darah perifer dan timbul minimal 48 jam setelah
pemasangan (sesuai pedoman surveilans infeksi Kemenkes RI tahun
2011).

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 12

Tujuan Tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasien
khususnya HAIs (Health Care Associated Infections)
Tipe Indikator Input & Outcome
Dimensi Mutu Keselamatan Pasien
Dasar Pemikiran Patient safety dan mencegah terjadinya plebitis
Numerator Jumlah kasus infeksi luka infus
Denominator Jumlah hari pemasangan infus
Formula Jumlah kasus infeksi luka infus dibagi Jumlah hari pemasangan infus dikali
Pengukuran 1000‰
Metodologi Sensus Harian
Pengumpulan
Data Instalasi Rawat Inap, Instalasi Pelayanan Intensif
Cakupan Data Bulanan
Frekuensi
Pengumpulan 3 Bulanan
Frekuensi
Analisis Data Concurrent
Metodologi
Analisis Data Data Infeksi Luka Infus (ILI / Plebitis) diambil dari rekam medis
Sumber Data

Penanggung Kriteria Inklusi: Pada daerah bekas tusukan dan daerah sekitarnya
Jawab terdapat peradangan yang ditandai dengan salah satu dari gejala ini: rasa
Pengumpulan panas, pengerasan/ bengkak, kemerahan, dan terasa sakit bila ditekan
(kalor, dolor, tumor, rubor dan functiolaesa) dengan atau tanpa nanah
(pus) tanpa dilengkapi pemeriksaan kultur.
Kriteria Eksklusi: Infeksi kulit karena sebab-sebab lain, Adanya bakteremia
dengan pemeriksaan kultur, Usia ≤ 1 tahun
PJ Pengumpul Data IPCLN

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 13

Data 20‰
Standar

Kamus Indikator IADP

Area Klinis 23
Judul Indikator Infeksi Aliran Darah Primer (IADP)
Definisi Keadaan infeksi yang terjadi akibat masuknya mikroba melalui peralatan
Operasional yang dimasukkan langsung ke sistem pembuluh darah melalui insersi
intravena kateter, baik berupa kateter vena maupun arteri dalam rangka
Tujuan perawatan maupun diagnostik (CVC/ Central Venous Catheter, vena
perifer/ infus, double lumen untuk hemodialisa) infeksi timbul minimal 3
Tipe Indikator kali 24 jam (72 jam) setelah pemasangan.
Dimensi Mutu Tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasien
Dasar Pemikiran khususnya HAIs (Health Care Associated Infections)
Input & Outcome
Numerator Keselamatan Pasien
1. Meningkatkan standar akreditasi nasional
Denominator 2. Meningkatkan patient safety
Formula Jumlah kasus infeksi aliran darah primer karena pemasangan intravaskular
Pengukuran kateter
Jumlah hari pemasangan intravaskular kateter
Metodologi Jumlah kasus infeksi aliran darah primer karena pemasangan intravaskular
Pengumpulan kateter dibagi Jumlah hari pemasangan intravaskular kateter dikali
Data 1000‰
Cakupan Data Sensus Harian
Frekuensi
Pengumpulan Instalasi Rawat Inap, Instalasi Pelayanan Intensif
Bulanan

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 14

Frekuensi 3 Bulanan
Analisis Data Concurrent
Metodologi Data Infeksi Aliran Darah Primer (IADP) diambil dari Rekam Medis
Analisis Data
Sumber Data

Penanggung Kriteria Inklusi:
Jawab  Pasien menunjukkan minimal satu dari gejala klinik: (suhu > 38°C),
Pengumpulan
Data menggigil, hipotensi, untuk usia ≤ 1 tahun ditambah dengan hipotermi
Standar (suhu < 37°C), apnea, dan bradikardi.
 Hasil positif dari pemeriksaan kultur darah dan tidak berhubungan
dengan infeksi dibagian lain dari tubuh pasien.
 Ditemukan kuman patogen pada kultur darah pasien positif
 Hasil kultur darah didapatkan mikroba kontaminan kulit yang umum
(corynebacterium, bacilus, propionibacterium, satphylococcus
epidermidis, streptococcus viridans, aerococcus, micrococcus)
Kriteria Eksklusi: Infeksi kulit karena sebab-sebab lain, Tidak disertai
dengan hasil kultur darah
PJ Pengumpul Data IPCLN

10‰

Kamus Indikator ISK

Area Klinis 24
Judul Indikator Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Definisi Keadaan infeksi yang terjadi di sekitar uretra atau selang kateter dan
Operasional timbul setelah 3 kali 24 jam dilakukan pemasangan kateter di rumah sakit.
Tujuan Tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasien
khususnya HAIs (Health Care Associated Infections)

PEDOMAN KERJA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI) 15


Click to View FlipBook Version