The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Dari KONSULTAN DOMESTIK Menjadi PEMAIN GLOBAL

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Konstruksi Media, 2025-12-05 03:14:37

KM E-Magz Nov - Des 2025

Dari KONSULTAN DOMESTIK Menjadi PEMAIN GLOBAL

membebani pihak kampus secara finansial. “Kami tidak mencari pendanaan dari kampus. Ini murni kolaborasi untuk mengangkat pencapaian UNIKAL sebagai inspirasi bagi perguruan tinggi lainnya,” jelasnya.Rektor UNIKAL mengapresiasi semua pihak yang telah menunjukkan dukungan dan optimisme terhadap perkembangan kampus. “Predikat unggul ini bukan milik rektor atau dosen semata, tetapi milik seluruh keluarga besar UNIKAL. Semoga dari Pekalongan, kita bisa memberikan warna baru bagi dunia pendidikan Indonesia,” beber Dr. Andi dengan penuh harapan.MEMBANGUN REPUTASI LEWAT ALUMNIUNIKAL menegaskan bahwa keberhasilan membangun reputasi perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada capaian akademik, melainkan juga pada kiprah para alumninya. Rektor UNIKAL menyebut alumni sebagai bagian penting dari wajah kampus, sehingga keterlibatan mereka harus terus diperkuat. Dalam waktu dekat, UNIKAL bahkan akan menggelar acara bertajuk Alumni Coming Home untuk merangkul kembali para lulusan dari berbagai angkatan.“Alumni adalah bagian dari branding kita. Kami percaya, keberhasilan mereka di luar kampus adalah cerminan kualitas UNIKAL. Karena itu, Alumni Coming Home kami siapkan untuk menegaskan bahwa alumni UNIKAL adalah figur-figur hebat yang bisa menjadi inspirasi, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring bagi mahasiswa aktif,” kata Rektor.Ia menegaskan, acara tersebut bukan sekadar nostalgia melainkan bagian dari strategi branding kampus. “Kami ingin membangun kebanggaan. Dulu para alumni pernah berjalan di lorong kampus ini, dan hari ini mereka kembali dengan kisah sukses. Cerita itu akan menjadi teladan berharga bagi generasi berikutnya,” jelasnya.Selain menguatkan peran alumni, Rektor menekankan tiga faktor utama dalam menjaga daya saing UNIKAL, yakni kualitas, fasilitas, dan ekuitas. Kualitas diwujudkan melalui sistem penjaminan mutu internal, termasuk pengawasan terhadap dosen dan metode pembelajaran. “Kami tidak hanya mengandalkan dosen internal, tetapi juga melibatkan praktisi untuk memberi wawasan dunia kerja secara nyata,” bebernya.Dari sisi fasilitas, UNIKAL secara konsisten mengalokasikan anggaran setiap semester guna memenuhi standar pendidikan modern, mulai dari laboratorium, ruang belajar kreatif, hingga pengembangan suprastruktur kampus. “Kami tidak ingin fasilitas kalah dari kampus lain di Jawa Tengah. Fasilitas harus menopang kreativitas dan kualitas pembelajaran,” tuturnya.Ekuitas, menurut Rektor, berarti membangun rasa memiliki dan kebanggaan bersama. “Kami ingin mahasiswa maupun alumni merasa bangga menjadi bagian dari UNIKAL. Rasa bangga itulah yang akan mengikat mereka dan membuat nama UNIKAL harum di masyarakat,” katanya menuturkan.Seiring dengan target menjadi universitas berdaya saing internasional pada 2035, UNIKAL juga tengah menyiapkan kurikulum adaptif. Kolaborasi dengan praktisi industri, penerapan Learning Management System (LMS), serta program magang internasional menjadi langkah strategis yang sedang digarap. “Kami ingin memastikan kurikulum selalu relevan dengan kebutuhan zaman,” ungkapnya.Dalam proses pembelajaran, UNIKAL terinspirasi dari model pendidikan di kampus-kampus dunia, seperti Deakin University, Australia. Rektor menilai, pendekatan humanis antara dosen dan mahasiswa, serta ruang-ruang belajar yang fleksibel, menjadi contoh baik yang perlu diadaptasi. “Hubungan dosen dan mahasiswa di sana begitu dekat, suasananya mendukung kreativitas. Itu yang ingin kami wujudkan di UNIKAL,” jelasnya.Meski berada di kota kecil di Jawa Tengah, UNIKAL bertekad menjadi pelopor kampus berorientasi internasional. Hal itu ditunjukkan melalui penguatan riset bersama perguruan tinggi luar negeri serta pembukaan program studi inovatif, seperti Magister Hukum Konstruksi. Program ini bahkan sudah diminati mahasiswa dengan latar belakang yang kuat sejak awal masuk.Fondasi nilai IKHLAS menjadi pendorong transformasi UNIKAL menuju visi besar 2035. Dirinya membeberkan, kerendahan hati dan keikhlasan adalah kemewahan sejati. UNIKAL hadir bukan sekadar untuk unggul, melainkan memberi dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat luas.Dengan langkah konsisten itu, UNIKAL optimistis mampu menjaga relevansi di tengah perubahan zaman. Kehadiran alumni, kualitas pendidikan yang terjamin, fasilitas memadai, dan semangat kebersamaan diyakini menjadi modal kuat bagi UNIKAL untuk menapaki panggung internasional. (*)PROFILE www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR | 47


PROFILEDalam lanskap energi nasional yang kian dinamis, nama PT Jateng Petro Energi (Perseroda) (JPEN) kini mencuat sebagai salah satu BUMD energi paling progresif di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Dwi Budi Sulistiyana, Direktur Utama JPEN, perusahaan milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu sedang menapaki babak baru transformasi dari sekadar pelaksana distribusi gas bumi menjadi pionir energi hijau berbasis teknologi dan efisiensi digital.“Kami ingin JPEN bukan hanya menjadi perusahaan gas daerah, tapi juga agent of change dalam transisi energi Jawa Tengah. Energi yang lebih bersih, efisien, dan membawa manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Dwi Budi saat ditemui tim Konstruksi Media di kantor JPEN, Semarang.JPEN berdiri dengan mandat besar: mendukung kemandirian energi daerah melalui pengelolaan dan distribusi gas bumi. Selama bertahun-tahun, JPEN menjadi penghubung vital antara sumber gas di wilayah Jawa bagian timur dan barat dengan konsumen industri di berbagai kawasan Jawa Tengah.Namun, tantangan global dan nasional mendorong perubahan besar. Harga energi dunia yang fluktuatif, tuntutan efisiensi karbon, serta meningkatnya kesadaran publik terhadap energi bersih membuat JPEN harus beradaptasi cepat.“Kalau dulu bicara gas, kita bicara pipeline dan volume. Sekarang, kita bicara efisiensi, jejak karbon, dan value creation,” kata Dwi Budi. “Kuncinya ada pada inovasi dan sinergi lintas sektor.”Transformasi itu diwujudkan melalui tiga pilar utama: penguatan infrastruktur gas bumi, inovasi energi terbarukan (biomethane), dan digitalisasi proses bisnis.1. Memperluas Akses Energi Melalui Jaringan Gas dan CNGSelama dua tahun terakhir, JPEN memperluas jangkauan layanan Compressed Natural Gas (CNG) hingga menjangkau kawasan industri yang belum tersambung jaringan pipa. Langkah ini menjadi solusi strategis untuk pemerataan energi, terutama bagi pelaku industri kecil dan menengah di daerah.“CNG itu seperti jembatan energi. Ia membawa gas bumi ke tempat-tempat yang belum punya jaringan tetap,” jelas Dwi Budi. “Dengan teknologi mother station dan daughter station, distribusi gas menjadi lebih fleksibel dan efisien.”Program ini terbukti menurunkan biaya energi hingga 20 persen di beberapa klien industri, sekaligus mendorong daya saing manufaktur lokal. Tak hanya itu, JPEN juga terus memperluas kerja sama dengan BUMD dan BUMN migas untuk memperkuat pasokan dan logistik energi lintas provinsi.2. Biomethane: Menyulap Limbah Jadi Energi Masa DepanDi tengah transisi energi nasional, JPEN juga melihat potensi pengembangan biomethane, gas terbarukan yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik.“Ini bukan sekadar inovasi teknologi, tapi perubahan paradigma,” tegas Dwi Budi. “Limbah yang dulu dianggap masalah, sekarang bisa jadi sumber energi.”Saat ini sedang dalam tahap pemetaan dan analisa potensi, jika diperhitungkan limbah organik yang terdapat di beberapa wilayah di Jawa Tengah dapat menghasilkan gas mencapai 400 meter kubik per hari. Energi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan energi di beberapa wilayah desa. Lebih dari itu, jika proyek biomethane dapat berjalan makaini membuka peluang besar bagi ekonomi sirkular daerah. Limbah peternakan yang sebelumnya mencemari lingkungan kini menjadi bahan bakar bersih yang bisa dijual ke industri atau diserap oleh jaringan CNG JPEN.“Kalau saja proyek serupa dapat berhasil dan bisa direplikasi, kita bukan hanya bicara energi bersih, tapi juga kesejahteraan masyarakat desa,” imbuhnya.3. Digitalisasi: Dari Operasi ke Tata KelolaJPEN juga menjadi contoh BUMD yang serius menjalankan transformasi digital secara menyeluruh. Mulai dari sistem pemantauan distribusi gas berbasis real-time dashboard, digitalisasi laporan keuangan, hingga penerapan Enterprise Resource Planning (ERP).“Digitalisasi bukan hanya soal efisiensi, tapi juga transparansi. Kita ingin semua lini dari operasional sampai NYALAKANENERGI HIJAUDARI JAWA48 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


PROFILE keuangan, bisa termonitor dengan akurat,” ujar Dwi Budi.Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Dengan sistem digital yang kuat, JPEN kini lebih siap untuk ekspansi investasi dan kerja sama lintas daerah, serta membuka peluang menuju status go public di masa depan.Transformasi energi dan digital tak mungkin berjalan tanpa manusia yang kompeten. Karena itu, JPEN berinvestasi besar dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM).“Di JPEN, setiap karyawan harus bisa berpikir seperti problem solver. Kita berikan pelatihan intensif, rotasi tugas, hingga pembinaan berbasis kinerja,” jelas Dwi Budi.Ia percaya, budaya kerja adaptif adalah pondasi dari keberlanjutan. Di bawah kepemimpinannya, JPEN menanamkan nilai “Satu Energi, Satu Tujuan” semangat kolaboratif yang menyatukan seluruh elemen perusahaan dalam satu arah visi.ENERGI UNTUK NEGERI: MENUJU MASA DEPAN ENERGI JAWA TENGAHSebagai BUMD strategis, JPEN berperan tidak hanya dalam bisnis, tetapi juga dalam pembangunan daerah. Melalui kemitraan dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, JPEN turut serta mendukung program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk pemerataan energi.“Energi harus dirasakan manfaatnya sampai ke bawah. Karena itu, JPEN tidak boleh hanya jadi perusahaan komersial. Kita harus jadi mitra pemerintah dalam mengentaskan ketimpangan energi,” tegas Dwi Budi.JPEN juga membuka ruang kolaborasi dengan universitas dan startup energi untuk penelitian bersama di bidang efisiensi gas, pengolahan biomethane, dan sensor digitalisasi distribusi.Perjalanan JPEN masih panjang, namun pijakan transformasinya kini semakin kuat. Dengan kombinasi inovasi, digitalisasi, dan semangat kolaborasi, JPEN siap menjadi motor utama transisi energi di wilayah tengah Indonesia.Dwi Budi menyadari, tantangan energi ke depan bukan hanya soal pasokan, tetapi juga keberlanjutan. “Kita harus memastikan bahwa setiap langkah JPEN memberi dampak nyata pada lingkungan yang lebih bersih, masyarakat yang lebih sejahtera, dan ekonomi daerah yang lebih kuat,” ujarnya menutup wawancara.DARI HOTELKE DAPUR MBGJPEN sebagai BUMD Provinsi Jawa Tengah memiliki peran strategis dalam mendukung kebijakan energi nasional dan daerah sesuai dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI Nomor 2 untuk dapat mewujudkan swasembada pangan dan energi. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Hulu dan Hilir Minyak dan Gas (Migas), Energi Baru Terbarukan (EBT), Mineral, dan Jasa Penunjang, PT JPEN berkomitmen untuk menciptakan ekosistem energi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.Dalam mendukung program pemerintah, khususnya kebijakan konversi energi dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke Compressed Natural Gas (CNG), PT JPEN mengambil langkah nyata melalui inovasi produk CNG Tabung dengan kegiatan Launching CNG Tabung/Ritel.Langkah inovatif JPEN sejatinya bukan muncul tiba-tiba. Sejak awal 2025, BUMD ini telah mengembangkan distribusi gas CNG untuk sektor HORECA (Hotel, Restoran, dan Katering). Kini, teknologi dan jaringan distribusi yang sama mulai diterapkan untuk mendukung ratusan dapur MBG di seluruh Jawa Tengah.“Dapur Mandiri Marwa menjadi dapur EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 49


keempat yang disuplai CNG oleh JPEN,” ujar Direktur Utama JPEN, Dwi Budi Sulistiyana. Tiga dapur lainnya, lanjutnya, berada di Kabupaten Wonogiri. “Mulai Juli, suplai akan meluas ke 18 dapur MBG tambahan, ditambah sektor horeka yang saat ini menyerap 7.000 m³ CNG per bulan. Bulan depan kami tambah 22.000 m³ lagi. CNG ini 100 persen dari reservoir Jawa Tengah, mendukung swasembada energi,” tegasnya.Menurut Dwi Budi, upaya ini bukan sekadar bisnis distribusi gas, melainkan gerakan energi daerah. “JPEN ingin menunjukkan bahwa energi bersih bisa dikelola dari sumber daya lokal. Ini bagian dari kedaulatan energi daerah, sesuai Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden yang menargetkan swasembada pangan dan energi,” jelasnya.“CNG ini gas metana (CH) murni dari dalam negeri. Sementara LPG masih impor sekitar 80 persen. Nilai impor LPG pada 2024 saja mencapai Rp60 triliun. Jadi setiap dapur MBG yang beralih ke CNG sebenarnya ikut mengurangi ketergantungan energi impor,” tambah Dwi Budi.Ia menambahkan, JPEN tidak hanya menyediakan gasnya, tetapi juga membantu seluruh proses instalasi dan penyediaan tabung secara gratis. “Kami ingin membuktikan bahwa transisi energi bersih bisa dilakukan tanpa membebani pelaku usaha kecil dan penyelenggara dapur MBG. Kami bantu pasang, kami pinjami tabung, mereka tinggal pakai,” katanya.JPEN kini menyiapkan langkah lanjutan untuk memperluas distribusi gas alam terkompresi ke berbagai wilayah di Jawa Tengah. Dwi Budi menyebut, pihaknya telah menunjuk agen resmi distribusi CNG di Ungaran dan Wonogiri untuk menyuplai dapur MBG di Baturetno, Manyaran, dan Purwantoro, dengan volume mencapai 4.800 m³ per Mei 2025.“Per Juli, kami akan memperluas pasokan ke 15 dapur MBG lain dan beberapa industri furnitur di Yogyakarta, dengan total volume hingga 22.000 m³,” ujarnya.Program MBG yang diluncurkan pemerintah menjadi momentum penting bagi JPEN untuk memperkuat peran BUMD dalam ekosistem energi daerah. Bagi Dwi Budi, dukungan terhadap program gizi nasional bukan hanya soal bisnis, tapi juga misi sosial.“Dapur MBG bukan sekadar tempat memasak. Di sana ada ribuan anak sekolah yang tergantung pada pasokan energi setiap harinya. Kalau energinya bersih, efisien, dan terjangkau, maka dampaknya langsung terasa ke pendidikan dan kesehatan generasi muda,” ungkapnya.Dengan teknologi CNG, dapur-dapur MBG kini bisa beroperasi dengan lebih aman, stabil, dan ramah lingkungan. Tidak ada lagi risiko tabung bocor atau residu pembakaran tinggi seperti pada LPG. “Kami pastikan setiap dapur mendapat pendampingan teknis dan pengawasan ketat,” tambahnya.MENUJU SWASEMBADA ENERGI JAWA TENGAHVisi besar JPEN tidak berhenti di dapur MBG. Ke depan, perusahaan berencana memperluas penggunaan CNG ke sektor transportasi dan industri menengah. Dwi Budi menjelaskan bahwa JPEN tengah menyiapkan roadmap “CNG for All”, yang menargetkan 100 persen pasokan gas berasal dari reservoir dalam negeri.“Kalau kita bisa memanfaatkan potensi gas di Grobogan dan Blora secara maksimal, Jawa Tengah bisa mandiri energi tanpa bergantung pada impor LPG. Ini sejalan dengan upaya nasional menuju net zero emission,” jelasnya.Provinsi Jawa Tengah sendiri diperkirakan membutuhkan 3.470 dapur MBG untuk melayani sekitar 8 juta penerima manfaat di 35 kabupaten/kota. Hingga April 2025, sudah terdapat 129 dapur aktif atau dikenal dengan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang beroperasi. Dengan ekspansi CNG JPEN, angka ini diharapkan terus meningkat dalam dua tahun mendatang.Dwi Budi menegaskan bahwa kunci keberhasilan program CNG ini adalah kolaborasi dan komitmen pemerintah daerah. “Kami bersyukur Gubernur sangat mendukung. Ini membuktikan bahwa sinergi antara BUMD, pemerintah, dan masyarakat bisa menghasilkan solusi konkret,” katanya.Ia berharap, inisiatif energi bersih berbasis CNG ini dapat menjadi model nasional bagi daerah lain. “CNG bukan hanya efisien dan murah, tapi juga simbol kebangkitan energi daerah. Cuma modal tabung, masak bisa gratis, itu bukan slogan, tapi kenyataan,” tutupnya sambil tersenyum. ( *)PROFILE50 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


fifffflffiflflflfflffflff PEKERJAAN UMUMInfrastruktur BerkeadilanRakyat SejahteraIndonesia MajuAdhi Karya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginyakepada seluruh insan Pekerjaan Umum yang telah mendedikasikan karya, keahlian,dan pengabdiannya bagi pembangunan infrastruktur Indonesia.Semoga semangat pelayanan, profesionalisme, serta integritas yang telah diwariskanselama delapan dekade terus menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan kemajuan bangsa.https://adhi.co.id adhikaryaid [email protected] adhikaryaIDSIGAP MEMBANGUN NEGERI UNTUK RAKYATKEMENPUfifffflffiflflflfflffflff PEKERJAAN UMUMInfrastruktur BerkeadilanRakyat SejahteraIndonesia MajuAdhi Karya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginyakepada seluruh insan Pekerjaan Umum yang telah mendedikasikan karya, keahlian,dan pengabdiannya bagi pembangunan infrastruktur Indonesia.Semoga semangat pelayanan, profesionalisme, serta integritas yang telah diwariskanselama delapan dekade terus menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan kemajuan bangsa.https://adhi.co.id adhikaryaid [email protected] adhikaryaIDSIGAP MEMBANGUN NEGERI UNTUK RAKYATKEMENPU


PROFILETWIN TOWER UNDIP PROYEK PERDANA YANG TERAPKAN LEAN CONSTRUCTIONPembangunan Twin Tower Universitas Diponegoro (UNDIP) di Kampus Pleburan, Semarang, tidak hanya menjadi simbol kemajuan infrastruktur pendidikan, tetapi juga menandai era baru dalam manajemen proyek konstruksi di Indonesia. Di bawah komando PT PP (Persero) Tbk, proyek ini menjadi pilot project pertama di lingkungan BUMN Karya yang menerapkan konsep Lean Construction sejak tahap awal pembangunan.Hal tersebut diungkapkan oleh Ardhianto Gutomo, Project Manager Twin Tower UNDIP dari PT PP, yang memimpin langsung proses implementasi Lean Construction dalam proyek yang dibangun secara design and build ini. Menurutnya, penerapan metode tersebut membawa perubahan besar dalam cara berpikir, berkolaborasi, dan mengelola risiko di lapangan.“Kunci keberhasilan proyek ini adalah mindset bahwa semua pihak, mulai dari PPK, MK, hingga kontraktor adalah satu tim,” tegas Adhianto Gutomo membuka penjelasannya.Ia menuturkan bahwa sejak awal, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) telah menciptakan suasana kerja yang kolaboratif dan egaliter. Tidak ada sekat atau hirarki yang kaku antara pemilik proyek, manajemen konstruksi (MK), dan kontraktor pelaksana. Semua pihak ditempatkan dalam posisi sejajar untuk mengejar satu tujuan bersama: menyelesaikan proyek tepat waktu dengan kualitas terbaik.“PPK memang punya kewenangan tertinggi, tapi beliau tidak menempatkan diri seperti ‘atasan’. Beliau justru menciptakan kondisi bahwa proyek ini adalah kerja bersama. Jadi kalau sukses satu, sukses semua. Kalau gagal satu, ya gagal bersama,” jelas Ardhianto.Pendekatan tersebut menjadi fondasi penerapan Lean Construction, yang menekankan nilai kolaborasi, keterbukaan, dan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Dalam praktiknya, setiap persoalan teknis atau manajerial selalu diselesaikan melalui diskusi dua arah dan pengambilan keputusan kolektif.52 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


PROFILE LEAN CONSTRUCTION: DARI KONSEP KE IMPLEMENTASILean Construction sendiri merupakan pendekatan yang berasal dari filosofi Lean Manufacturing di industri otomotif Jepang. Konsep ini menitikberatkan pada efisiensi alur kerja, pengurangan pemborosan (waste), peningkatan kolaborasi antar tim, serta fokus pada nilai akhir bagi pengguna (value for the customer).Ardhianto menjelaskan bahwa di proyek Twin Tower UNDIP, Lean Construction tidak hanya menjadi jargon manajemen, melainkan benar-benar diterapkan secara sistemik sejak tahap perencanaan, desain, hingga konstruksi.“Dari awal proyek, kami melakukan workshop dan training kecil untuk menyamakan mindset seluruh tim. Tidak hanya internal PT PP, tapi juga MK dan PPK. Dalam satu ruang, kita duduk dan belajar bersama, bagaimana menerapkan prinsip lean di lapangan,” ujarnya.Workshop tersebut meliputi pelatihan Last Planner System (LPS), Value Stream Mapping, serta integrasi metode kerja dengan teknologi Building Information Modeling (BIM). Dengan BIM, setiap elemen desain dan jadwal kerja bisa dimodelkan secara tiga dimensi dan terintegrasi dengan data lapangan.“BIM membantu kami dalam hal clash detection, jadi potensi benturan antar elemen bisa diidentifikasi lebih awal. Semakin cepat kami menemukan dan memperbaikinya di model, semakin lean pekerjaan di lapangan. Semua data schedule, volume pekerjaan, hingga risiko konstruksi bisa diekstrak dan dianalisis langsung,” jelasnya.Salah satu kekuatan utama penerapan Lean Construction di proyek Twin Tower UNDIP adalah transparansi dan fleksibilitas dalam menyikapi dinamika proyek. Ardhianto mencontohkan situasi ketika tim menemui hambatan teknis di tahap pekerjaan fondasi.“Saat proses pengeboran, ternyata di lapangan banyak sekali ditemukan batu yang mana hal tersebut di luar prediksi. Dampaknya, pekerjaan fondasi mengalami delay. Tapi karena sudah ada sistem komunikasi terbuka, MK, PPK, dan Ownerbisa langsung memahami kondisi tersebut,” tutur Adhianto.Melalui mekanisme diskusi cepat, tim kemudian sepakat untuk merubah metode kerja dan urutan (sequence) tanpa mengganggu target keseluruhan. PPK dan MK memberikan dukungan penuh agar kontraktor bisa melakukan mitigasi risiko dan langkah percepatan (acceleration plan) secara fleksibel.“Kami ubah schedule, ubah sequence, tapi tetap terkontrol. Semua telah disepakati bersama. Jadi kalau ada masalah di struktur, pekerjaan arsitektur bisa menyesuaikan. Fasad dan interior juga kami atur agar tidak mengalami gap yang terlalu jauh dengan pekerjaan struktur,” jelasnya.Dengan pendekatan ini, setiap keputusan strategis dapat diambil dengan cepat dan terukur. Proses revisi desain, perubahan metode, maupun penyesuaian waktu dilakukan melalui komunikasi langsung lintas tim, tanpa birokrasi panjang.SINERGI BIM, LEAN, DAN GREEN BUILDINGSelain lean, proyek Twin Tower UNDIP juga menerapkan konsep Bangunan Gedung Hijau (BGH) dari Kementerian PU dengan target kategori Madya. Konsep ini menuntut efisiensi energi, pengelolaan material ramah lingkungan, dan kenyamanan ruang dalam jangka panjang.“Di proyek ini, lean, BIM, dan BGH itu saling berkaitan,” ujar Ardhianto.Menurutnya, efisiensi desain yang dihasilkan oleh BIM berkontribusi langsung pada capaian green building, karena setiap material dan sistem instalasi dapat dioptimalkan untuk mengurangi pemborosan energi dan sumber daya.EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 53


PROFILE“Lean itu tools-nya, BIM perangkatnya, dan green building itu hasilnya. Dengan lean, pekerjaan menjadi lebih efisien. Dengan BIM, kita bisa mensimulasikan setiap elemen desain; dan hasil akhirnya adalah bangunan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan,” jelasnya.Salah satu penerapan konkret adalah analisis intensitas cahaya alami dan efisiensi sistem tata udara (MEP) yang disimulasikan sejak tahap desain. Pemilihan material fasad dan shading devicejuga mengacu pada parameter efisiensi termal dan pencahayaan alami.KETERLIBATAN MAHASISWA DALAM PROYEK NYATASebagai proyek pendidikan yang dibangun di lingkungan kampus, PT PP juga memberikan ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa Universitas Diponegoro. Menurut Ardhianto, lebih dari 70 mahasiswa telah ikut serta dalam kegiatan kerja praktik di lokasi proyek.“Kami siapkan ruang khusus dan sistem bergiliran untuk mahasiswa. Mereka belajar langsung di proyek, tapi tetap dalam koridor akademik. Prinsipnya, mereka datang untuk belajar, bukan bekerja,” katanya.Mahasiswa diberi tugas menganalisis metode konstruksi, mempelajari manajemen waktu, dan memahami sistem BIM serta Lean Constructiondi lapangan. Mereka juga dilatih berpikir sebagai calon engineeryang mampu memecahkan masalah, bukan sekadar aplikator teknis.“Kami arahkan agar mereka memahami proses berpikir dibalik setiap keputusan proyek. Ini supaya mereka siap jadi pemikir dan perencana, bukan hanya pelaksana,” tambahnya.Sebagai proyek besar dengan sistem design and build, tantangan tentu tidak sedikit. Selain kondisi tanah dan cuaca, Ardhianto menyebut aspek koordinasi dan manajemen risiko sebagai kunci utama keberhasilan.“Masalah teknis itu pasti ada. Tapi bagaimana kita menghadapinya, itu yang menentukan hasil akhirnya. Kalau di proyek ini, setiap kendala selalu kami bahas bersama dan disepakati jalan keluarnya,” ujarnya.Dalam beberapa situasi, PT PP bahkan melakukan percepatan struktur untuk mengejar target topping off. Ketika satu bidang mengalami hambatan, tim langsung menyusun recovery plan agar pekerjaan lain tetap dapat bergerak paralel. Semua langkah percepatan dan mitigasi dirancang bersama MK dan disetujui PPK.“Langkah-langkah percepatan itu tidak bisa asal dilakukan. Harus ada persetujuan bersama dengan pertimbangan keselamatan, mutu, dan efisiensi waktu. Alhamdulillah, koordinasi di proyek ini berjalan dengan sangat smooth,” ungkap Ardhianto.Dalam kontrak design and build, PT PP memiliki tanggung jawab penuh terhadap desain dan pelaksanaan konstruksi. Namun ruang 54 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


PROFILE kreativitas tetap dibatasi oleh owner’s requirement dan brand corridor yang ditetapkan oleh pihak universitas.“Jadi kami bergerak dalam batasanbatasan yang sudah ditetapkan. Tetapi dari hal tersebutlah muncul ruang inovasi. Kami ‘meramu’ desain agar tetap sesuai dengan keinginan owner, efisien secara teknis, dan memenuhi target green building,” jelasnya.Misalnya dalam perencanaan ruang kuliah dan laboratorium, tim desain PT PP harus menyesuaikan dengan kebutuhan kapasitas mahasiswa dan aktivitas akademik yang dinamis. Setiap revisi desain selalu melewati tahap presentasi dan diskusi bersama pihak UNDIP, sehingga setiap keputusan bersifat partisipatif.DARI LEAN MENUJU STANDAR BARU KONSTRUKSI NASIONALPenerapan Lean Construction di proyek Twin Tower UNDIP menjadi momentum penting bagi industri konstruksi nasional. PT PP, sebagai salah satu BUMN Karya tertua di Indonesia, menjadikan proyek ini sebagai laboratorium penerapan metode baru yang berorientasi pada efisiensi dan kolaborasi lintas fungsi.Ardhianto meyakini bahwa hasil dari proyek ini akan menjadi model implementasi Lean Construction di proyekproyek pemerintah dan pendidikan lainnya di masa depan.“Lean Construction bukan sekadar metode, tapi budaya baru dalam bekerja. Ini bukan tentang menghemat biaya semata, tapi tentang menciptakan nilai tambah di setiap proses,” tuturnya.Keberhasilan penerapan Lean di Twin Tower UNDIP, lanjutnya, adalah hasil dari perubahan pola pikir seluruh pihak yang terlibat. “Kalau mindset-nya sudah satu visi dari awal, komunikasi lancar, koordinasi berjalan dengan baik, maka masalah teknis apa pun bisa diselesaikan bersama,” pungkasnya.MEMBANGUN SIMBOL PENDIDIKAN & INOVASIKetika nanti kedua menara megah dengan jembatan yang menghubungkan keduanya ini selesai dibangun, Twin Tower UNDIP bukan hanya akan menjadi ikon baru kampus Pleburan, tetapi juga simbol perubahan paradigma di dunia konstruksi Indonesia dari proyek yang hanya berorientasi pada hasil menjadi proyek yang berorientasi pada proses dan kolaborasi.Dengan pendekatan Lean Construction, dukungan teknologi BIM, dan komitmen green building, PT PP dan Universitas Diponegoro bersama-sama melahirkan sebuah karya yang bukan sekadar bangunan, tetapi manifestasi inovasi, efisiensi, dan sinergi.“Proyek ini bukan hanya tentang membangun gedung tinggi,” ujar Ardhianto Gutomo menutup pernyataannya, “tapi tentang membangun cara baru dalam berpikir, bekerja, dan berkolaborasi di dunia konstruksi Indonesia.”Intinya, proyek Twin Tower UNDIP terdiri dari dua gedung pendidikan dengan jumlah 15 lantai masing-masing tower yang difungsikan sebagai Gedung Kuliah Bersama, laboratorium, ruang administrasi, dan area pendukung lainnya. Tahap pertama pembangunan berlangsung dari Oktober 2024 hingga Maret 2026, dilanjutkan tahap kedua hingga April 2027.Dengan penerapan Lean Construction sejak awal, proyek ini menjadi benchmark baru bagi dunia konstruksi pendidikan di Indonesia, dimana kolaborasi, efisiensi, dan inovasi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. (*)EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 55


TOLSOLOӧYOFY@K@RT@ӧYI@KULONPROFOPembangunan Jalan Tol Solo–Yogyakarta–YIA Kulon Progo sepanjang 96,57 kilometer bukan sekadar proyek konektivitas, tetapi juga perjalanan panjang menautkan dua pusat peradaban Jawa—Surakarta dan Yogyakarta—melalui rekayasa modern yang berpadu dengan kearifan budaya lokal.Dikelola oleh PT Jasamarga Jogja Solo (PT JMJ), proyek ini menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diamanatkan melalui Perpres No. 3/2016 dan revisinya No. 109/2020. PT JMJ merupakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang bertanggung jawab penuh atas pendanaan, perencanaan, konstruksi, hingga operasi dan pemeliharaan ruas tol.Sejak adendum Shareholders Agreement(SHA) pada pertengahan 2023, PT Jasa Marga (Persero) Tbk mengambil alih kendali operasional penuh PT JMJ. Struktur kepemilikan terdiri atas 52,82% saham milik Jasa Marga dan 47,18% milik Adhi Karya, namun pengendalian teknis dan strategis kini lebih terpusat.Tol ini dibagi menjadi tiga seksi besar, pertama adalah Seksi 1 – Kartasura–Purwomartani (±42,38 km), kedua yakni Seksi 2 – Purwomartani–Gamping (±23,43 km) dan ketiga yaitu Seksi 3 – Gamping–YIA Kulon Progo (±30,77 km)Struktur proyek dibuat lebih terperinci ke dalam paket-paket pelaksanaan untuk mempermudah manajemen konstruksi, pendanaan, dan pembebasan lahan. “Kami Tidak Ingin Membangun Jalan yang Hanya Dilewati, Tapi Jalan yang Menghidupkan,” kata Ahmad Izzi Staf Ahli Direksi Bidang Umum, Humas dan Administrasi PT JMJ, saat berbincang mengenai filosofi pembangunan tol ini dengan Majalah Konstruksi Media. SINERGI REKAYASA MODERN & KEARIFAN LOKALPROFILE56 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


Ia menegaskan bahwa jalan tol bukan sekadar infrastruktur beton dan aspal, tetapi juga ruang hidup baru bagi masyarakat di sepanjang jalurnya. “Setiap jembatan, box, dan flyover kami desain bukan hanya untuk kendaraan lewat, tapi juga untuk memastikan aliran air, akses warga, dan keberlanjutan fungsi sosial,” ujarnya.TANTANGAN GEOTEKNIK DAN SOLUSI REKAYASAIzzi mengungkapkan bahwa trase tol melintasi kawasan dengan karakter tanah yang sangat beragam, termasuk area dengan potensi likuifaksi dan sesar aktif. Hal ini membuat rekayasa struktur dan geoteknik menjadi sangat krusial.“Di beberapa titik ada likuifaksi, jadi kita pakai flexible pavement agar struktur bisa menyesuaikan deformasi tanah. Tapi sebagian besar ruas tetap menggunakan rigid pavement untuk daya tahan jangka panjang,” jelasnya.Selain itu, terdapat bentang jembatan di area sungai diperpanjang hingga empat bentang (±160 meter) dengan memperhitungkan debit banjir rencana Q500–Q1000 untuk mengantisipasi perubahan iklim ekstrem.Sebagai proyek yang melintasi jalur aktif dan padat, seperti Jalan Ring Road Yogyakarta, PT JMJ menerapkan teknologi Sosrobahu, inovasi asli Indonesia yang memungkinkan pemasangan girder secara horizontal kemudian diputar tanpa menutup arus lalu lintas.“Karena kami membangun di atas jalan nasional yang tidak boleh terganggu, teknologi paling tepat memang Sosrobahu,” ujar Izzi.Selain itu, sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan, seluruh proyek telah menggunakan Building Information Modeling (BIM). Sistem PROFILEAhmad IzziStaf Ahli Direksi Bidang Umum,Humas dan Administrasi PT Jasamarga Jogja Solo (PT JMJ)EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 57


PROFILEini mensinkronkan seluruh data struktur, topografi, dan jadwal kerja secara digital.“Data BIM digunakan untuk mensingkronkan seluruh rencana kerja dari bawah sampai finish grade. Semua pihak, baik kontraktor, konsultan, dan mengacu pada satu model yang sama,” tambahnya.MENEMBUSJALUR BUDAYA & KEARIFAN LOKALWilayah Yogyakarta adalah ruang dengan sensitivitas sosial dan budaya tinggi. Banyak situs, petilasan, dan pandangan filosofis yang harus dijaga keberadaannya.Izzi menegaskan bahwa adaptasi budaya menjadi prioritas. Misalnya, di sekitar Sumbu Filosofis Yogyakarta, garis imajiner dari Gunung Merapi ke Keraton yang diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia, konstruksi elevated tidak diperbolehkan.“Di titik Monjali, jalan yang awalnya dirancang elevated akhirnya kami turunkan ke permukaan agar tidak menghalangi pandangan sakral/garis imajiner dari Merapi ke Keraton hingga Laut Selatan,” tuturnya.Bahkan, pada lokasi tertentu, PT JMJ menyesuaikan desain agar tidak mengganggu situs budaya dan makam keramat. Pemindahan atau penyesuaian dilakukan dengan pendampingan ritual adat setempat, bekerja sama dengan lembaga Panitikismo di bawah Kesultanan Yogyakarta.“Ini bukan sekadar proyek teknik, tapi juga dialog antara teknologi modern dan nilai tradisi,” ucap Izzi dengan nada reflektif.Sementara untuk pendanaan proyek ini bersumber dari kombinasi modal sendiri dan kredit sindikasi perbankan senilai Rp 9,893 triliun untuk tahap satu (sekitar 70% dari total biaya konstruksi fase pertama).“Untuk konstruksi tahap 1 sekitar 49 km saja sudah butuh Rp 14,8 triliun. Kami bersyukur karena ada dukungan dari 13 perbankan dan 1 lembaga keuangan,” kata Izzi.Sementara itu, pembebasan lahan menjadi tanggung jawab pemerintah melalui APBN. Namun pendekatan sosial yang dilakukan PT JMJ mengubah paradigma dari “Uang Ganti Rugi (UGK)” menjadi “Uang Ganti Untung (UGU)”.“Ini soal rasa keadilan dan partisipasi. Warga merasa diuntungkan, bukan dikorbankan,” tegasnya.KOORDINASI LINTAS LEMBAGA DAN MANAJEMEN SOSIALDalam pelaksanaannya, PT JMJ tidak hanya berurusan dengan aspek teknik, tetapi juga sosial dan budaya. “Koordinasi kami melibatkan Bina Marga, BPJT, BPN, LMAN, Pemda, Kesultanan, sampai perangkat desa,” ujar Izzi.Sosialisasi dilakukan melalui FGD, audiensi publik, spanduk, dan media sosial resmi, 58 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


PROFILEguna memastikan masyarakat memahami manfaat dan mekanisme proyek. “Kalau masyarakat sudah paham, proyek jadi milik bersama, bukan milik kontraktor,” tambahnya.Hingga pertengahan 2025, progres pembangunan fisik di sejumlah paket menunjukkan hasil nyata; pertama adalah Segmen Kartasura – Klaten (diresmikan 19 September 2024) ditambah Segmen Klaten – Prambanan (total 30 KM) telah beroperasi dan diberlakukan tarif resmi (Agustus 2025); kedua Paket 1.2B Segmen Prambanan – Purwomartani progres telah mencapai 80,4%; ketiga Paket 2.1A Segmen Purwomartani – Maguwoharjo progress sebesar 11,9%; keempat adalah Paket 2.2B Segmen Trihanggo – Junction Sleman sebesar 64,9%.Tahap 2 yang menghubungkan Junction Sleman ke YIA Kulon Progo masih berfokus pada pembebasan lahan, sedangkan Tahap 3 (ruas dalam kota, seluruhnya elevated) dalam tahap desain final. Sesuai PPJT, proyek ini ditargetkan tuntas pada akhir 2027 dan siap beroperasi penuh paling lambat 2028.Perlu diketahui, tol ini bukan sekadar jalan bebas hambatan, tetapi juga koridor ekonomi strategis yang memperkuat jaringan Joglosemar (Yogyakarta–Solo–Semarang).Manfaat utamanya antara lain: pertama, memperpendek waktu tempuh Solo–Yogyakarta–Kulon Progo menjadi kurang dari 1,5 jam. Kedua, meningkatkan akses menuju YIA Kulon Progo dan kawasan wisata Borobudur serta Prambanan. Ketiga, menumbuhkan kawasan industri dan logistik baru di Klaten dan Sleman. Keempat mengurai kemacetan di jalan nasional Yogyakarta. FILOSOFI DAN REFLEKSIIzzi menyebut tol ini sebagai bagian penting dari integrasi Trans Java Corridor di jalur selatan, sekaligus mendukung pertumbuhan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Bagi Ahmad Izzi, pembangunan tol ini adalah simbol persilangan antara modernitas dan kebijaksanaan Jawa.“Kami ingin membangun jalan yang tidak memutus masa lalu, tapi membuka masa depan. Jalan ini harus bisa menghidupkan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.Ia menutup dengan keyakinan bahwa rekayasa teknik yang cerdas harus selalu bersanding dengan kearifan sosial. “Kalau hanya mengejar beton, proyek ini cepat selesai tapi tak berumur panjang. Tapi kalau kita bangun dengan hati dan budaya, hasilnya akan hidup selama-lamanya.”Jalan Tol Solo–Yogyakarta–YIA Kulon Progo kini bukan sekadar infrastruktur, melainkan jalur peradaban yang menghubungkan logistik dan spiritualitas, ekonomi dan estetika, beton dan budaya. Dan di baliknya, ada tangan-tangan insinyur seperti Ahmad Izzi yang merajut kemajuan dengan penuh kebijaksanaan. (*)www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR | 59


PROFILEPT Rancang Semesta Nusantara merupakan perusahaan konsultan perencana dan pengawasan konstruksi yang tumbuh dari semangat untuk menghadirkan karya-karya infrastruktur yang berkelanjutan dan berorientasi pada kualitas. Berdiri dengan visi menjadi mitra terpercaya dalam setiap pembangunan nasional, perusahaan ini telah berkiprah dalam berbagai proyek strategis, mulai dari perencanaan kawasan, desain bangunan publik, hingga supervisi teknis di berbagai daerah di Indonesia. Didukung oleh tenaga profesional lintas disiplin, Rancang Semesta Nusantara menjunjung tinggi prinsip ketepatan, efisiensi, serta integritas dalam setiap tahapan pekerjaan.Di bawah kepemimpinan baru, Rancang Semesta Nusantara berhasil bangkit dari masa sulit menuju fase pertumbuhan yang lebih matang. Strategi restrukturisasi organisasi, digitalisasi proses kerja, dan penguatan kompetensi sumber daya manusia menjadi langkah nyata perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan industri modern. Kini, perusahaan tak hanya fokus pada layanan konsultansi teknik, tetapi juga berperan aktif dalam mendorong penerapan teknologi informasi dan prinsip keberlanjutan di sektor konstruksi. Dengan semangat “Bangkit dari Mati Suri menjemput Harapan Baru”, Perseroan kembali menegaskan eksistensinya sebagai konsultan nasional yang siap bersaing dan berkontribusi bagi pembangunan Indonesia.Dalam bincang-bincang tim Majalah Konstruksi Media, President Director PT Rancang Semesta Nusantara, Danang Sektiawan menyampaikan bahwa Rancang Semesta Nusantara dari mati suri ke gelombang kedua kebangkitan konsultan air dan infrastruktur.Ketika Danang Sektiawan bergabung pada tahun 2023, perusahaan itu ibarat kapal tua yang “nyaris karam”. Beberapa tahun sebelumnya, aktivitas proyek nyaris tak terdengar, hanya satu dua paket yang berjalan. Kini, dua tahun berselang, semangat baru itu menjelma menjadi 20 paket proyek aktif yang tersebar di berbagai daerah.“Dulu perusahaan ini bisa dikatakan mati suri. Hampir tidak ada proyek yang jalan. Tapi sekarang, Alhamdulillah, sejak 2023 kami sudah pegang sekitar 20 paket di seluruh Indonesia,” terang Danang membuka percakapan dengan nada syukur dan bangga.Rancang Semesta Nusantara bukan pemain baru di dunia konstruksi. Berdiri sejak tahun 1993 (32 tahun lalu) di Bali, perusahaan ini dikenal sebagai konsultan yang berfokus pada infrastruktur sumber PT RANCANG SEMESTA NUSANTARABANGKIT, MENJEMPUT HARAPAN BARUCOMPANYPROFILE2025˪˪˪ʡ˥˔ˡ˖˔ˡ˚˦ˡʡ˖ˢʡ˜˗MORE INFOPT RANCANGSEMESTANUSANTARA60 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


daya air (SDA), pengawasan air minum (IPAL), dan sistem limbah perkotaan. Namun, seiring waktu, kiprahnya sempat meredup hingga akhirnya mendapatkan nafas baru ketika Danang dipercaya memimpin.Pria kelahiran era 1978 itu bukan berlatar teknik sipil seperti kebanyakan pemimpin konsultan infrastruktur. Ia justru lulusan teknik informatika yang meniti karier dari bawah. “Zaman saya dulu, cari gaji lima juta aja susah. Akhirnya saya sadar, konstruksi itu tempatnya di lapangan, bukan di balik layar komputer,” bebernya tersenyum.Karirnya menanjak saat ia bergabung dalam berbagai proyek nasional bersama tokoh-tokoh berpengaruh di dunia konstruksi. Hingga akhirnya pada 2023, Danang diberi kepercayaan untuk menahkodai Rancang Semesta Nusantara, menggantikan generasi pendiri yang mulai sibuk di bidang organisasi profesi.“Begitu saya masuk, saya tahu ini perusahaan punya sejarah panjang. Jadi sayang kalau dibiarkan begitu saja. Saya ingin menghidupkannya kembali,” imbuhnya.Kebangkitan itu tidak datang instan. Ia dimulai dengan keberhasilan Rancang Semesta memenangkan beberapa proyek sosial dan pemberdayaan masyarakat di bidang pengelolaan sampah. “Saya dapat lima dari enam paket proyek nasional tentang pengelolaan sampah. Fokusnya bukan di teknis, tapi di sosial bagaimana mengedukasi masyarakat supaya buang sampah jadi kebiasaan positif,” papar Danang.Pendekatan ini menunjukkan bahwa Rancang Semesta Nusantara tidak hanya bergerak di ranah fisik proyek, tapi juga menyentuh aspek perilaku masyarakat. Dalam pandangan Danang, konstruksi tidak boleh berhenti pada beton dan baja, tetapi harus menyentuh manusia di baliknya.Selain proyek sosial, perusahaan juga memperluas portofolionya pada sektor air minum dan pengelolaan limbah perkotaan. “Kami fokus di air minum. Jadi, proyekproyek pengawasan SPAM itu lumayan besar. Terakhir, kami punya porsi di proyek senilai Rp 23 miliar untuk pengawasan sistem air minum,” tuturnya.Tak berhenti di situ, Rancang Semesta juga dipercaya mengawasi proyek CISP PISC (Citywitt Inclusive Sanitation Project, Project Implementation and Supervision Construction) di Pontianak proyek besar senilai Rp 102 miliar yang dikerjakan bersama perusahaan asal Korea. “Kami bekerja sama dengan Dohwa dari Korea. Proyeknya cukup kompleks, melibatkan air putih dan air hitam pengelolaan air minum dan limbah perkotaan,” imbuhnya lagi.Bagi Danang, pengalaman kerja lintas proyek membuat Rancang Semesta semakin matang dalam memahami konteks urbanisasi, lingkungan, dan tata kelola air. “Kami mengawasi dua-duanya, air bersih dan limbahnya. Dalam satu proyek, bisa lima kontraktor sekaligus yang kami awasi. Jadi trafiknya padat sekali, apalagi di perkotaan,” jelasnya.Selain air dan limbah, Rancang Semesta juga berperan dalam proyek-proyek bendungan yang bekerja sama dengan BUMN karya seperti Indra Karya (Persero). Rancang Semesta Nusantara masuk sebagai mitra lokal, menyiapkan tenaga ahli daerah, sementara mereka menyediakan tenaga ekspatriat. “Jadi kami ibaratnya satu rumah beda kamar, tapi job desk-nya sama,” paparnya.Dengan pendekatan kolaboratif itu, Danang berhasil menempatkan Rancang Semesta dalam posisi strategis sebagai konsultan menengah yang adaptif dan tangguh. Ia menolak anggapan bahwa perusahaan lokal tidak bisa bersaing. “Kami menyiapkan tenaga lokal yang kompeten. Karena kolaborasi itu bukan soal besar atau kecilnya perusahaan, tapi tentang kepercayaan dan kemampuan berbagi peran,” tegasnya.PROFILE Danang SektiawanPresident Director PT Rancang Semesta Nusantarawww.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR | 61


TANTANGANKLASIKDI PROYEKNamun, di balik semangat kerja dan inovasi yang terus dikobarkan, Danang tak menutup mata terhadap tantangan klasik yang masih membayangi industri konstruksi, terutama sistem tender dengan prinsip biaya terendah. Menurutnya, pola ini kerap menjadi akar dari berbagai persoalan di lapangan mulai dari menurunnya kualitas pekerjaan, tekanan terhadap margin keuntungan, hingga ketimpangan dalam penghargaan terhadap profesionalisme dan inovasi teknis. Dalam banyak kasus, prinsip “yang termurah yang menang” seringkali mengabaikan nilai tambah dari aspek pengalaman, metode kerja, serta keberlanjutan hasil proyek.Danang menegaskan, perubahan paradigma menjadi kunci untuk menumbuhkan ekosistem konstruksi yang sehat. Ia mendorong agar proses tender di masa depan tidak semata berorientasi pada angka, tetapi juga menimbang kualitas, kapabilitas tim, serta rekam jejak kinerja penyedia jasa. “Selama tender masih pakai konsep biaya terendah, semua pihak itu hidupnya was-was. Direksi, PPK, kontraktor, semuanya harap-harap cemas. Kalau yang dihargai hanya harga, maka kita tidak akan pernah maju,” katanya.Prinsip ini pula yang dipegang teguh Rancang Semesta Nusantara dalam setiap proyek yang ditanganinya bahwa pembangunan sejati bukan sekadar soal menyelesaikan pekerjaan, tetapi tentang membangun nilai dan kepercayaan jangka panjang.Ia bahkan menyebut bahwa sistem ini seringkali menjadi sumber masalah pasca-proyek. “Bayangin, proyek baru kontrak, kontraktornya sudah minta ganti MEP semua. Karena biaya yang ditawar terlalu rendah. Akhirnya, yang dirugikan bukan cuma Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), tapi juga perencana dan pengawas,” imbuhnya.Danang berharap pemerintah dan asosiasi profesi berani mengambil langkah korektif terhadap sistem tender yang selama ini terlalu menitikberatkan pada biaya terendah. Menurutnya, pola tersebut justru menimbulkan efek domino terhadap kualitas hasil pekerjaan dan kesejahteraan para pelaku jasa konstruksi. Ia menilai sudah saatnya industri ini bergerak menuju mekanisme yang lebih adil dan profesional, di mana penilaian tidak hanya berdasarkan harga, tetapi juga mencakup aspek kemampuan teknis, pengalaman, dan integritas penyedia jasa.“Coba lah digunakan sistem biaya kewajaran, bukan biaya terendah. Kita adu kewajaran, kemampuan, dan kejujuran,” kata Danang. Ia menambahkan, jika sistem yang tidak sehat ini terus dibiarkan, maka pihak yang dirugikan bukan hanya Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atau konsultan, tetapi juga masyarakat sebagai penerima manfaat pembangunan. Bagi Danang, perubahan sistem tender menjadi langkah mendasar untuk memperkuat fondasi industri konstruksi nasional agar lebih berdaya saing dan berkelanjutan.TEKNOLOGI KECERDASAN BUATANDalam pandangan Danang Sektiawan, kemajuan teknologi tidak bisa dihindari, termasuk masuknya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) ke dalam dunia konstruksi. Ia melihat bahwa AI memang memberikan banyak kemudahan, mulai dari perencanaan PROFILE62 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


hingga simulasi teknis, tetapi di sisi lain, juga membawa potensi ancaman terhadap kualitas profesionalisme di lapangan. “Sekarang pekerjaan kelihatan gampang. Orang bisa bikin teknis tanpa benar-benar paham lapangan. Itu yang bahaya,” ujarnya serius. Bagi Danang, kecepatan teknologi tak boleh mengorbankan kedalaman pemahaman dan tanggung jawab moral dalam setiap pekerjaan teknik.Ia menyoroti fenomena yang kini terjadi di berbagai sektor jasa konsultansi, di mana profesi arsitek dan perencana mulai digantikan oleh algoritma desain otomatis. Teknologi kini mampu menghasilkan rancangan bangunan, struktur, hingga estimasi biaya hanya dalam hitungan menit. Namun, bagi Danang, ada hal yang tak bisa dihapuskan oleh mesin secanggih apapun yaitu sentuhan manusia dan kepekaan terhadap kondisi nyata di lapangan. “Tinggal klik-klik aja, semua muncul. Tapi ada satu yang AI nggak bisa gantikan, pengawasan lapangan,” imbuhnya.Dirinya menambahkan, peran Manajemen Konstruksi (MK) tetap akan menjadi jantung dari dunia pembangunan. “MK itu nggak bisa hilang. Karena pengawasan itu harus hadir di lapangan. Nggak bisa digantikan AI, BIM, atau teknologi apapun. Selama masih ada pembangunan, MK akan tetap hidup,” ujar Danang penuh keyakinan. Menurut Danang, kehadiran fisik dan interaksi manusia di lapangan merupakan elemen penting yang menjamin kualitas dan keamanan hasil pekerjaan, sesuatu yang tak mungkin diotomatisasi.Pernyataan itu seakan menjadi refleksi dari filosofi kepemimpinan Danang yakni keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia mendorong Rancang Semesta Nusantara untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi tanpa kehilangan jati diri sebagai perusahaan yang menjunjung integritas, profesionalitas, dan empati sosial. “Teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti nurani,” ujarnya menegaskan prinsip yang ia pegang.Di bawah arahannya, Rancang Semesta Nusantara kini tak hanya fokus pada perolehan proyek, tetapi juga pada penciptaan nilai yang lebih luas. Danang menekankan pentingnya kualitas hasil, kepuasan klien, dan keberlanjutan sosial dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Lebih jauh, ia ingin setiap proyek perusahaan mencerminkan komitmen untuk membangun bukan hanya fisik, tetapi juga kepercayaan dan reputasi jangka panjang.Transformasi ini juga disertai dengan penguatan kapasitas tim internal melalui pelatihan digital, pembaruan metode kerja, dan kolaborasi lintas generasi. Danang sadar, regenerasi menjadi kunci agar perusahaan tetap relevan dan berdaya saing. “Anak muda sekarang cepat belajar, tapi mereka butuh panduan nilai. Itu tugas kami. Pendekatan tersebut membuat Rancang Semesta Nusantara tampil sebagai konsultan yang progresif namun tetap berakar kuat pada etika profesi,” tuturnya menambahkan.Lebih jauh, Danang juga berkomitmen agar perusahaannya ikut berperan dalam mendorong praktik pembangunan berkelanjutan. Ia percaya bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan harus menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar tren. Dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam desain dan pengawasan proyek, perusahaan berupaya menghadirkan solusi yang tidak hanya efisien tetapi juga ramah terhadap ekosistem dan masyarakat sekitar.“Saya ingin perusahaan ini dikenal bukan hanya karena proyek besar, tapi karena cara kami menjaga amanah. Kalimat itu mencerminkan misi pribadi Danang bahwa keberhasilan sejati bukan diukur dari jumlah proyek yang diraih, melainkan dari nilai dan kepercayaan yang ditinggalkan,” katanya.Bagi Danang Sektiawan, menghidupkan kembali Rancang Semesta Nusantara bukan sekadar perjalanan bisnis. Ini adalah panggilan jiwa untuk membangkitkan kembali semangat konsultan Indonesia agar mampu berdiri sejajar dengan dunia, tanpa kehilangan akar idealisme dan nurani. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kompetisi global, Rancang Semesta Nusantara ingin membuktikan bahwa keunggulan sejati tetap lahir dari keseimbangan antara teknologi, nilai, dan kemanusiaan. (*)PROFILE www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR | 63


Ar. Desy Natalia, IAI adalah sosok perempuan tangguh yang berhasil menorehkan kisah inspiratif dalam dunia bisnis. Di balik kesuksesannya dengan latar gender wanita memimpin perusahaan di sektor property dan konstruksi, tersimpan perjalanan panjang penuh tantangan, kegigihan, dan ketekunan. Perempuan yang bernama lengkap Desy Natalia Romaito Siburian, bukan hanya sekadar pebisnis, tetapi juga seorang visioner yang mampu membaca peluang, mengubah kegagalan menjadi pelajaran, dan menjadikan mimpi masa muda sebagai kenyataan yang kini berdampak luas bagi banyak orang.Kiprah Desy dalam membangun kerajaan bisnisnya tidak terjadi dalam semalam. Perjalanan yang ia tempuh ibarat mendaki tebing terjal penuh ujian, pengorbanan, dan kerja keras tanpa henti. Dari mulai merintis usaha kecil dengan modal terbatas hingga akhirnya mampu mengelola banyak project, setiap langkahnya mencerminkan semangat pantang menyerah. Bagi Desy, perempuan yang berdarah batak ini, keberhasilan bukan hanya tentang angka atau posisi, tetapi tentang proses panjang membentuk karakter, kepercayaan, dan keberanian untuk terus maju di tengah dinamika dunia bisnis yang kompetitif.Sosok Desy, merupakan arsitek visioner sekaligus Ketua Badan Otonom Womenpreneur (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumatera Selatan, awalnya justru bercita-cita menjadi seorang dokter. Dunia kesehatan adalah impiannya sejak kecil, impian yang umum dimiliki banyak anak di masa itu. Namun, hidup berkata lain. Jalan hidupnya membelok ke arah yang sama sekali tak ia rencanakan dan justru di situlah titik awal dari kisah luar biasa seorang perempuan yang kini menjadi simbol ketangguhan dan kreativitas di dunia arsitektur, konstruksi dan properti.Sejak kecil, Desy telah menunjukkan bakat di bidang seni. Ia kerap menjuarai lomba mewarnai, menggambar, hingga melukis. Tapi di masa itu, ia belum sepenuhnya sadar bahwa disitulah letak kekuatan sejatinya. Jalan menuju dunia arsitektur pun tak langsung mulus. Ketika gagal masuk ke universitas negeri karena kondisi ekonomi keluarga, Desy sempat menganggur selama setahun. Ia menjalani masa kosong itu dengan mengikuti lomba menyanyi tingkat nasional. Menyemangati diri dalam berkreasi pada bidang seni dan tetap menjaga semangatnya untuk terus berjuang.Tahun berikutnya, ia mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi sekali lagi. Tanpa persiapan berarti, hanya berbekal insting dan kecintaan pada dunia seni, ia memilih jurusan arsitektur, dan dari situlah semuanya berubah. Meski sempat merasa kaget dan lelah menghadapi dunia perkuliahan yang penuh tuntutan teknis, ia memilih bertahan. Komitmen, tekad, dan beasiswa yang ia peroleh menjadi bahan bakar utama untuk terus maju.Di semester akhir kuliah, Desy mulai bekerja sebagai freelancer hingga ditarik menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan otomotif yang didalamnya juga bermain bidang property. Dari sana karirnya melesat cepat, dengan loyalitas dan kerja kerasnya ia sampai diberikan fasilitas mobil dan gaji menjanjikan. Namun semua itu ia tinggalkan demi menyelesaikan gelar sarjananya dulu. Ia sadar, tanpa gelar sarjana, keahliannya tak akan pernah diakui penuh oleh siapapun. Ia memilih untuk menyelesaikan kuliahnya demi memenuhi janji kepada kedua orangtuanya, sekaligus menjadi sebuah keputusan berani yang akhirnya membuahkan hasil manis.Selepas wisuda, Desy sempat bekerja di sebuah perusahaan Konsultan Arsitek ternama, di Jakarta, namun merasa bahwa jiwanya terpanggil untuk membangun sesuatu dari nol, untuk memimpin, bukan hanya mengikuti. Dia memilih kembali ke Palembang, untuk melanjutkan jiwa entrepreneurship dalam dirinya yang tak bisa dibendung. Dia pun kembali ke Palembang, dan dihubungi lagi oleh perusahaannya terdahulu dan bekerja hingga lima tahun sebagai arsitek. Semua ia kerjakan tanpa hitung-hutingan mulai dari mendesain, mengawasi proyek, hingga mengatur cash flow perusahaan. Meskipun pada minggu ke-2 setiap bulan dia harus berpuasa makan siang karena gaji yang tidak cukup. Tetapi Gaji yang kecil tak menghalangi semangatnya untuk mempelajari semua MENGUKIR MIMPI BANGUN MASA DEPANDARI NOLHINGGAKE KANCAHPROPERTIAr. Desy NataliaK`qr[Wlj[kmo`k`roHipmi SumselPROFILE64 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


aspek property dari A sampai Z. Tak puas hanya menjadi arsitek, Desy kemudian memberanikan diri menjadi kontraktor. Ia mulai dari proyek hotel, di mana project itu selesai dalam waktu 8 bulan saja. Di titik inilah, ia mulai memberanikan diri untuk bertaruh di dunia yang sebenarnya, ia membangun jaringan, dan perlahan mulai membentuk perusahaannya sendiri. Dari kontraktor, ia berkembang menjadi developer dengan sistem partnership dan mulai mewujudkan cita-citanya sedikit demi sedikit, satu demi satu. “Lima tahun bekerja disana, saya memutuskan untuk keluar dan bergerak sendiri. Berbekal bekerja lima tahun mengatur cash flow perusahaan dari AZ, akhirnya saya memberanikan diri menghandle pekerjaan konstruksi sendiri dan membuat perusahaan sendiri, menjadi kontraktor hingga developer,” katanya mengisahkan.Kini, Desy tak hanya dikenal sebagai arsitek dan developer saja, tapi juga sebagai pengusaha perempuan yang disegani di Sumatera Selatan lewat Kepemimpinannya di Womenpreneur BPD HIPMI Sumsel. Desy yang lugas dan gaya komunikasinya yang jujur membuatnya mudah diterima banyak kalangan. Ia mengandalkan pengalaman dari nol, dari basah hingga kering, untuk memimpin dengan empati dan ketegasan. “Jangan main-main sama saya. Saya ini dari bawah sekali, saya orang lapangan dan saya tahu medan,” ungkapnya.Namun, di balik kesuksesan itu, ada banyak dilema yang harus dihadapi. Sebagai arsitek, ia harus menjaga etika dan idealisme. Lalu, sebagai pengusaha konstruksi, ia harus berpikir praktis dan strategis. Dua dunia ini kerap bertabrakan, bahkan membuatnya pernah ditegur oleh rekan Ikatan Arsitek Indonesia yang mana dulu Desy juga sempat menjabat sebagai Majelis Kehormatan Ikatan Arsitek Indonesia. Wanita, Alumni Universitas Sriwijaya (UNSRI), Palembang itu, tidak hanya sukses secara profesional, tapi juga terus menjadi inspirasi bagi perempuan lain. Ia menyadari bahwa menjadi arsitek sekaligus ibu, pengusaha, dan pemimpin bukanlah perkara yang mudah.Jam kerja yang tak kenal waktu, tekanan proyek, dan tuntutan organisasi adalah tantangan yang nyata. Namun ia membuktikan bahwa dengan komitmen, kerja keras dan keberanian, semuanya bisa diatasi.Di dunia yang masih didominasi laki-laki, Desy hadir sebagai bukti bahwa perempuan pun bisa berdiri di garis depan bidang konstruksi. “Kalau orangnya gigih dan nekat, pasti bisa,” ujarnya. Ia tak hanya menghancurkan batas, tapi juga membuka jalan bagi perempuan lain untuk berkarya lebih jauh dalam dunia arsitektur dan property.Dalam karyanya, Desy memegang teguh prinsip komitmen. Baginya, desain harus memberikan nilai estetika dan fungsionalitas, sementara konstruksi harus efisien dan bertanggung jawab. Ia pun rela menanggung kerugian ratusan juta di proyek-proyek awal, hanya demi menjaga nama baik, komitmen dan integritas. Namun hal itu tidak membuat langkahnya berhenti. Walaupun pada saat itu, beberapa karyawannya bingung dan menganggap Desy sebagai pimpinan mereka, mengambil keputusan gila. Namun Desy tetap mencoba mengambil project tersebut untuk kedua kali demi untuk membuktikan bahwa dia bisa. “Saya penasaran. Kok orang lain bisa untung, saya tidak?,” paparnyaHari ini, Desy bukan hanya seorang arsitek. Ia adalah kontraktor, developer, pengusaha, pemimpin organisasi, dan inspirasi bagi banyak orang khususnya kaum perempuan. Perjalanannya yang berliku menjadibukti bahwa kegigihan, keberanian, dan komitmen mampu mengubah nasib siapa pun, bahkan dari titik terendah sekalipun.“All is well, asal dijalani dengan sungguh-sungguh, dari hati, dan tak pernah takut jatuh,” imbuhnya.MENJAHIT RUANG, MERANGKAI PELUANG: ARSITEK DAN PENGUSAHAMenjadi arsitek bukan hanya soal menorehkan garis indah di atas kertas. Bagi Desy, arsitektur adalah seni memahami manusia dan ruang serta bagaimana keduanya bisa saling memperkuat dalam konteks ekonomi dan sosial. Berawal dari proyek-proyek kecil hingga dipercaya menangani desain villa dan resort di Pulau Jawa dan Bali, perjalanan kariernya tak selalu mulus. Namun dari setiap proses, ia belajar hal PROFILEEDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 65


yang tidak kalah penting, yaitu keseimbangan antara estetika dan efisiensi bangunan. “Kalau saya sebagai arsitek, kontraktor, dan developer, saya harus bisa menyeimbangkan dua nilai yang berbeda. Sebagai arsitek, saya ingin hasil yang bagus; sebagai kontraktor, saya harus berpikir efisien dan ekonomis. Tapi yang utama, klien harus puas dulu dengan produk yang saya desain,” bebernya.Sebagai perempuan yang meniti karier di dunia konstruksi, sektor yang identik dengan dominasi laki-laki, Desy menghadapi berbagai pandangan dan perlakuan yang meremehkan dirinya. Namun justru di situlah ia menempa keteguhan hatinya. Ia bercerita tentang pengalaman di masa muda saat sempat diremehkan oleh salah satu keluarga pimpinan tempatnya bekerja. Alih-alih patah semangat, penghinaan itu menjadi cambuk untuk sukses.“Saya waktu itu dipandang rendah banget. Tapi justru dari situ saya bilang dalam hati, saya harus sukses. Saya harus bisa beli property dari dia, dan beli mobil dari dia. Dan sekarang semua itu sudah saya capai,” ungkapnya tersenyum, namun dengan nada yang sarat keteguhan.Kini, kiprahnya tidak hanya berhenti di dunia arsitektur dan konstruksi. Desy juga aktif memimpin Womenpreneur di BPD HIPMI Sumsel, sebuah wadah yang berfokus pada pemberdayaan dan pengembangan pengusaha perempuan. “Saya cuma ingin ninggalin jejak yang baik, selain itu saya mau semua anggota mendapatkan manfaat, dan bergerak bareng-bareng, sehingga semua usaha setiap anggota semakin meningkat,” jelasnya.Visinya sederhana namun berdampak besar membangun kekuatan dari dalam. Ia ingin para anggota memahami dulu makna kehadiran mereka di komunitas, bukan sekadar ikut-ikutan. “Program utama kami itu edukasi dan kolaborasi. Banyak anggota yang punya produk bagus tapi nggak tahu mau menyalurkan ke mana. Di situ kita bantu, bahkan menjembatani kerja sama dengan stakeholder dan pemerintah,” katanya menjelaskan.Namun, Desy juga realistis. Ia memahami bahwa tidak semua anggota Womenpreneur datang dari latar belakang bisnis besar. “Ada yang UMKM kecil, sederhana, tapi mereka punya semangat besar. Kita nggak boleh pilih-pilih,” urainya menuturkan.Tantangan terbesar bagi perempuan Indonesia, menurutnya, bukan hanya datang dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. “Kalau perempuan itu kan kodratnya di rumah, ngurus keluarga. Kadang suami ngijinin, kadang nggak. Tapi tantangan terbesarnya itu ego dan waktu. Kita harus bagi fokus antara keluarga dan usaha. Tapi kalau gigih, pasti bisa,” katanya mantap.Ia pun menilai, banyak perempuan sebenarnya memiliki potensi luar biasa untuk memimpin, namun terhambat oleh rasa tidak percaya diri. “Perempuan itu kuat, tapi kadang suka ragu sama dirinya sendiri. Padahal kalau udah jalan terus, hasilnya bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan,” tambahnya.Dalam kariernya sebagai arsitek, Desy dikenal perfeksionis dalam detail, namun fleksibel dalam pendekatan. “Kalau saya cuma dikasih kerjaan desain aja, saya bisa lebih eksplor. Tapi kalau saya juga kontraktornya, saya harus melakukan penyesuaian. Desain tetap estetik, tapi lebih efisien. Intinya, klien harus puas,” paparnya menjelaskan.Selain berkiprah di dunia profesional, Desy juga memberi perhatian besar pada pengembangan lingkungan dan infrastruktur di Sumatera Selatan. Ia melihat daerahnya punya potensi besar untuk berkembang. Tidak usah jauh-jauh dengan Singapore, cukup seperti kawasan BSD di Tangerang. “Sebenarnya kita bisa banget kayak Singapura atau BSD. Tapi pemerintah kita sering kurang berani menekan tombol untuk bergerak ke arah modernitas,” ungkapnya.Meski begitu, ia tetap menghargai nilai-nilai budaya lokal. “Saya nggak mau merusak cagar budaya. Tapi harus ada titik di mana kita bergerak, bikin kota yang modern dan nyaman,” katanya.Sebagai seorang arsitek, ia sangat mendukung program pemerintah dalam mempercepat pembangunan yang inklusif dan berkeadilan sosial, muncul gerakan baru yang menempatkan anak-anak sebagai pusat perhatian pembangunan. Program infrastruktur ramah anak kini menjadi salah satu fokus nasional, bukan sekadar jargon, tetapi diwujudkan melalui kebijakan dan proyek nyata yang mengintegrasikan aspek perlindungan, pendidikan, serta kesejahteraan anak. Prinsipnya sederhana, setiap jalan, gedung, taman, hingga ruang publik harus aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak Indonesia generasi penerus bangsa yang akan memegang kendali masa depan.Menurut dia, salah satu wujud konkret dari pendekatan ini adalah lahirnya program Sekolah Rakyat, yang menyediakan fasilitas pendidikan berasrama gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sekolah ini bukan hanya bangunan belajar, melainkan juga ruang harapan, di mana anak-anak yang PROFILE66 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


sebelumnya terpinggirkan kini memiliki akses terhadap pendidikan bermutu dan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter. Infrastruktur pendidikan semacam ini dirancang bukan hanya efisien, tetapi juga manusiawi dengan perhatian terhadap pencahayaan alami, ruang bermain, sanitasi, dan keamanan tentunya. Di sisi lain, hadir pula inovasi sosial seperti infrastruktur Satuan layanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi pusat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi bagian dari infrastruktur sosial baru di berbagai daerah. Program ini tidak sekadar membangun dapur fisik, tetapi menciptakan ekosistem gotong-royong untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi seimbang. Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan dunia usaha, Dapur MBG menjadi simbol nyata bahwa pembangunan infrastruktur bukan hanya tentang beton dan baja, melainkan tentang membangun masa depan yang layak bagi setiap anak Indonesia.“Pembangunan itu bisa kita sebut ‘infrastruktur for kids’. Pembangunan fasilitas ramah anak, terutama di sekolah-sekolah. Yang paling penting itu keamanan dan kesehatan materialnya. Banyak bangunan sekolah yang masih pakai bahan tidak aman, contoh kecilnya asbes tanpa plafon. Padahal anak-anak paling rentan. Kita harus lebih perhatian ke situ,” ungkap Desy.Melalui berbagai pengalaman proyeknya, ia juga melihat sisi lain dari pembangunan publik. “Saya pernah ngerjain proyek sekolah. Yang bikin sedih, fasilitasnya minim banget. Saya jadi mikir, harusnya anak-anak ini butuh ruang yang layak,” katanya lirih.KEMAJUAN INFRASTRUKTUR SUMATERA SELATANPembangunan infrastruktur di Sumatera Selatan terus menunjukkan kemajuan signifikan dalam satu dekade terakhir, terutama sejak momentum Asian Games 2018 yang dulu digelar di Palembang. Perhelatan olahraga internasional tersebut menjadi titik awal kebangkitan pembangunan di provinsi ini, memacu percepatan berbagai proyek strategis seperti pembangunan LRT, jalan tol, jembatan, transportasi publik, dan revitalisasi kawasan perkotaan. “Kemajuan Sumatera Selatan mulai terasa sejak event besar seperti ASEAN Games digelar. Dulu orang nggak tahuPalembang itu apa. Setelah ada ASEAN Games dan LRT, baru banyak investor berani masuk. Sekarang udah ada ParamonLand, Trinity, Ciputra, Citraland dan lain-lain, itu artinya Sumsel terus berkembang,” ujarnya optimistis.Dukungan pemerintah pusat dan daerah kala itu membuka jalan bagi Sumatera Selatan untuk menegaskan diri sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur di wilayah barat Indonesia. Berbagai infrastruktur monumental lahir dari semangat tersebut, mulai dari Light Rail Transit (LRT) Palembang sebagai moda transportasi massal modern pertama di luar Pulau Jawa, hingga pengembangan Jalan Tol Palembang–Indralaya (Palindra) yang menjadi bagian penting dari jaringan Tol Trans-Sumatera. Selain itu, pembangunan Jembatan Musi VI dan Musi IV, perluasan Pelabuhan Boom Baru, serta pengembangan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi simbol nyata kemajuan yang terus berlanjut pasca-Asian Games. Proyek-proyek tersebut tidak hanya memperkuat konektivitas antar wilayah, tetapi juga mendorong peningkatan investasi dan pertumbuhan sektor industri.Kini, arah pembangunan Sumatera Selatan semakin berorientasi pada infrastruktur berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pemerintah provinsi bersama BUMN dan swasta berupaya menciptakan ekosistem pembangunan yang inklusif, efisien, dan adaptif terhadap tantangan masa depan. Pengembangan kawasan industri hijau, infrastruktur energi baru terbarukan, hingga modernisasi sarana publik menjadi langkah strategis dalam mewujudkan visi “Sumatera Selatan Maju, Inovatif, dan Berdaya Saing”. Dengan pondasi kuat yang telah dibangun, Sumsel kini bersiap menjadi salah satu model pembangunan berkelanjutan di Indonesia.Kini, perjalanan panjang Desy menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan bukan sekadar hasil dari keberuntungan, melainkan buah dari kerja keras, ketekunan, dan keyakinan terhadap diri sendiri. Dari gadis sederhana yang bermimpi menjadi dokter, ia menjelma menjadi arsitek, kontraktor, dan pengusaha sukses yang menginspirasi banyak orang. Setiap langkahnya mencerminkan filosofi hidup yang kuat, bahwa impian hanya bisa diwujudkan ketika seseorang berani menghadapi tantangan dan tidak takut untuk memulai dari bawah.Dalam setiap rancangan dan keputusannya, Desy selalu menyelipkan semangat untuk terus membangun bukan hanya ruang, tetapi juga masa depan. Ia menjadi simbol dari keteguhan dan keberanian perempuan Indonesia yang tak berhenti bermimpi, berinovasi, dan berkontribusi. Bagi Desy, keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi gedung yang berdiri, melainkan dari seberapa dalam jejak yang ia tinggalkan untuk generasi setelahnya. (*)PROFILE www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR | 67


PROFILEPembangunan kawasan hunian di Tangerang Selatan (Tangsel) masih menunjukkan geliatnya dengan hadirnya proyek perumahanbaru dari Greenwoods Group, salah satu pengembang properti nasional yang dikenal dengan desain inovatif dan visi berkelanjutan.Terletak di lokasi strategis yang menghubungkan area Serpong, BSD, dan Pamulang, proyek ini menjadi wujud nyata komitmen Greenwoods Group dalam menghadirkan hunian berkualitas yang tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga nilai investasi tinggi di tengah pesatnya pertumbuhan kawasan Tangsel.Mengusung konsep “Escape the City”, Greenwoods Country Serpong, dibawah naungan Greenwoods Group menghadirkan pengalaman tinggal yang memberikan keseimbangan antara kehidupan modern dan ketenangan alami. Konsep ini dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan masyarakat urban yang mendambakan tempat tinggal nyaman dan tenang, namun tetap dekat dengan pusat aktivitas perkotaan. Dalam bincang-bincang dengan majalah Konstruksi Media, Director Greenwoods Country Serpong Antonius Congles, mengungkapkan bahwa melalui tata ruang yang lapang, pemandangan hijau yang mendominasi, serta desain arsitektur yang harmonis dengan alam, kawasan ini menjadi oase GREENWOODSCOUNTRY SERPONGOASEHIJAUBARUDI TENGAHRIMBA BETONTANGERANGSELATANAntonius ConglesDirector Greenwoods Country Serpong68 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


PROFILEbaru bagi mereka yang ingin beristirahat sejenak dari rutinitas kota.Dia menambahkan, selain mengedepankan desain dan kenyamanan, proyek ini juga didukung oleh infrastruktur modern dan fasilitas penunjang gaya hidup, mulai dari area hijau, jalur pedestrian yang teduh, hingga ruang komunal untuk interaksi antarwarga. Akses menuju kawasan pun sangat mudah dijangkau dari berbagai arah, termasuk dari tol Serpong–Cinere dan jalur utama BSD.Dengan pendekatan yang menyatukan unsur alam, desain, dan konektivitas, Greenwoods Group kembali menegaskan perannya sebagai pengembang yang memahami kebutuhan generasi modern akan hunian ideal masa kini. Ia menambahkan kembali, Greenwoods Country Serpong merupakan perumahan multicluster dan dibagi menjadi: Damara Village Serpong (Dayana, Damita, Daksa),…” dengan“menghadirkan harmoni antara hunian dan aktivitas komersial melalui 3 kawasan: Damara Village Serpong.Greenwoods Country Serpong – Damara Village Serpong menghadirkan tiga tipe hunian yang mengusung konsep resort yakni DAYANA yang memiliki luas 90 meter persegi dan bangunan 115 persegi, DAMITA dengan luas tanah 120 meter persegi dan luas bangunan 169 meter persegi, serta DAKSA yang memiliki luas tanah 150 meter persegi dengan luas bangunan 201 meter persegi, yang masing-masing memiliki tiga kamar tidur, tiga kamar mandi.“Kami ingin menghadirkan hunian yang menjadi pelarian alami dari rutinitas urban. Karena itu, kami menamainya Escape the City,” ujar Antonius.Bagi Antonius, Greenwoods bukan sekadar nama proyek, tetapi sudah menjelma menjadi identitas. Didirikan sejak 2005, Greenwoods menapaki dua dekade perjalanan panjang melewati berbagai krisis, dari gejolak finansial global hingga pandemi COVID-19. “Kami tumbuh dari semangat bertahan. Dari sebuah klaster kecil bernama Greenwoods, kini nama itu menjadi brand yang dipercaya masyarakat,” paparnya.Sejak awal, Greenwoods konsisten mengusung nilai green living. Tak hanya sekadar memenuhi syarat regulasi ruang hijau, mereka menjadikan area hijau sebagai pusat nilai estetik dan kenyamanan. “Kami rela tidak menjual sebagian lahanhanya demi menghadirkan ruang hijau yang benar-benar hidup,” beber Antonius.BUTIK DEVELOPERKonsistensi itu membuat Greenwoods dikenal sebagai “butik developer” pengembang yang fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Antonius mengatakan pihaknya tidak membangun secara masif, tetapi menyebar di berbagai daerah seperti Bogor, Cibubur, Bintaro, hingga Bali dan Yogyakarta. “Kami memilih menjadi pengembang butik karena lebih lincah dan dekat dengan konsumen,” tuturnya mengungkapkan.Salah satu tonggak kesuksesan Greenwoods adalah proyek Damara Village di Bali. Proyek ini lahir di tengah pandemi, ketika masyarakat mulai mencari hunian dengan udara segar dan ruang terbuka. “Pandemi mengubah cara pandang orang. Rumah bukan lagi tempat singgah, tapi tempat hidup yang menenangkan,” ucap Antonius.Konsep green open living yang dibangun di Damara Village Bali menuai respons luar biasa. Unit-unitnya terjual cepat, bahkan di tengah keterbatasan mobilitas saat itu. Orang rela menempuh perjalanan darat ke Bali hanya untuk melihat unitnya.Kini, kesuksesan konsep itu mereka bawa ke Serpong lewat proyek Greenwoods Country Serpong yang berada di atas lahan kurang lebih 8 hektare. Kawasan ini menawarkan pengalaman hidup tenang tanpa meninggalkan akses kota. “Kami ingin orang yang tinggal di sini merasa seperti sedang berada di Bali, tapi cukup 30 menit dari Jakarta,” tutur Antonius sambil tersenyum.Proyek ini juga mendapat momentum besar berkat pembangunan jalur MRT dari Lebak Bulus menuju Serpong. Dua stasiun baru, yakni Rawa Buntu dan Puspitek, akan mengapit kawasan Greenwoods Country Serpong. “Dukungan infrastruktur ini bukan kebetulan. Kami yakin ini akan menjadi katalis besar bagi kawasan,” jelas pria lulusan Master of Business Administration (MBA) Strategic Leadership Universitas Gadjah Mada (UGM).MENGGANDENGARSITEK TERNAMADalam pengembangannya, Greenwoods Country Serpong menggandeng Masterplanner ternama Sofian Sibarani dari Urban+, sosok di balik rancangan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dikenal memiliki pendekatan desain berkarakter dan visioner. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk menghadirkan kawasan hunian yang tidak sekadar indah secara visual, tetapi juga memiliki nilai ruang dan pengalaman hidup yang mendalam bagi penghuninya.“Kami mengundang beliau (Sofian Sibarani) karena kami ingin sesuatu yang berbeda, bukan hanya perumahan, tapi kawasan yang punya jiwa,” ungkap Antonius.Melalui kerja sama ini, Greenwoods berharap proyek berkonsep Escape the City ini mampu menjadi ikon baru di Tangerang Selatan, di mana setiap detail desain menghadirkan harmoni antara estetika, kenyamanan, dan keterhubungan dengan alam.www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR | 69


Area depan Greenwoods Country Serpong bahkan dirancang menjadi Greenwoods Innovation District, pusat kreatif bagi arsitek muda dan komunitas desain. “Kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi antara seni, arsitektur, dan lingkungan,” ucapnya.“Kami ingin tempat ini menjadi rumah bagi para kreator yang mencintai alam,” sambungnya mengatakan.Bagi Greenwoods, konsep “green” bukan sekadar lanskap hijau, tetapi filosofi hidup. Mereka mengutamakan efisiensi energi, pencahayaan alami, serta sirkulasi udara yang sehat di setiap hunian. “Kami ingin penghuni merasa damai tanpa harus menyalakan pendingin ruangan sepanjang hari,” kata Antonius.Tak hanya itu, Greenwoods juga menaruh perhatian pada sustainability chain dalam konstruksi. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT Propan Raya, produsen cat ramah lingkungan lokal. “Kami uji semua merek cat, dan Propan terbukti unggul dari sisi kualitas dan komitmen produksi,” jelas Antonius.Menurutnya, kemitraan dengan industri lokal seperti Propan adalah bentuk dukungan terhadap ekosistem hijau Indonesia. “Greenwoods bukan hanya membangun rumah, tapi juga membangun kesadaran ekologi,” ujarnya menegaskan.Greenwoods percaya, pasar hunian masa depan adalah mereka yang mencari meaningful living (hidup yang selaras dengan alam dan spiritualitas). “Kenyamanan tidak diukur dari luas rumah, tapi dari kedamaian yang dirasakan setiap hari,” imbuhnya Antonius.Dengan berbagai proyek di lebih dari 14 lokasi di Indonesia, Greenwoods berhasil menempatkan diri sebagai pengembang dengan karakter kuat. Greenwoods tidak hanya mengejar volume, tapi value. “Kami ingin setiap proyek kami punya cerita dan makna,” ungkap Antonius.Kini, Greenwoods Country Serpong siap menjadi representasi terbaik dari perjalanan dua dekade Greenwoods. Menggabungkan keindahan alam Bali dengan modernitas Tangerang Selatan, kawasan ini menjadi oase baru bagi warga kota yang haus akan ketenangan.“Kalau dulu orang harus ke Bali untuk merasakan kedamaian, kini cukup datang ke Serpong,” katanya penuh senyum.Bagi banyak orang, Greenwoods Country Serpong bukan sekadar hunian, tapi merupakan tempat untuk kembali pada keseimbangan antara alam, diri, dan kehidupan.KEMBALI KE TANGSELAntonius menyatakan bahwa proyek Greenwoods Country Serpong ini menjadi bukti nyata komitmen Greenwoods Group dalam memperluas kehadirannya di Tangerang Selatan, wilayah yang sejak awal menjadi tempat kelahiran dan basis kuat perusahaan ini. Sejak pertama kali berdiri, Greenwoods telah dikenal lewat deretan kluster-kluster townhouse yang menonjol dengan desain berkarakter dan kualitas konstruksi yang terjaga. “Jadi, Greenwoods ini mulanya sebenarnya dari Tangsel. Bu Evi adalah salah satu pionirnya, dan Tangsel bisa dibilang adalah rumah pertama kami,” ungkap Antonius.Menurut Antonius, loyalitas konsumen di kawasan Tangerang Selatan menjadi kekuatan utama Greenwoods. “Kalau orang sudah tahu ada nama Greenwoods, mereka tidak terlalu banyak bertanya. Sudah tahu desainnya pasti bagus, dan kami benar-benar mau mendengarkan klien atau pembeli,” jelasnya. Bagi Greenwoods, kedekatan dengan konsumen adalah nilai tambah yang membuat setiap proyeknya memiliki ciri khas tersendiri. Bahkan, permintaan spesifik dari konsumen kerap difasilitasi, tentunya dengan biaya tambahan, agar rumah yang mereka beli sesuai dengan keinginan pribadi.Setelah sempat vakum akibat keterbatasan lahan di Tangsel, dua tahun terakhir menjadi momentum kebangkitan Greenwoods di wilayah tersebut. “Akhirnya kami dapat kesempatan lagi. Bahkan tanah 4.000 meter pun kami kerjakan, karena kami percaya desain dan kualitas itu tetap bisa jadi nilai jual utama,” papar Antonius. Dengan pendekatan ‘Butik Developer’, Greenwoods Group fokus pada pengawasan detail dari setiap proyek yang dikembangkan. “Kami day by daynya masih kami kontrol dan monitor. Detailnya diperhatikan agar kualitasnya PROFILE70 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


PROFILE lebih baik,” tambahnya.Dalam menentukan lokasi pengembangan, Greenwoods selalu menitikberatkan pada riset pasar dan potensi infrastruktur. “Yang utama itu marketnya dulu. Karena kalau daya beli tidak maksimal, percuma. Setelah itu baru kami lihat infrastruktur dan aksesibilitas,” jelas Antonius. Menurutnya, kemudahan akses menuju jalan tol, stasiun, atau halte menjadi faktor penting, terutama bagi segmen first home buyer. Sementara untuk segmen premium, nilai investasi jangka panjang menjadi pertimbangan utama.Untuk kawasan Serpong sendiri, Greenwoods Country Serpong telah melakukan pre-launch sejak pertengahan tahun 2025 dan menargetkan grand launching pada kuartal ketiga tahun 2026. “Kami ingin saat launching nanti, infrastruktur sudah matang, show unit siap, dan paling tidak sudah terjual 30 persen dari total pengembangan,” harapnya.Selain itu, Antonius juga menegaskan bahwa momentum pembelian di tahap awal menjadi peluang investasi menarik karena harga pre-launch biasanya lebih rendah dibandingkan setelah fasilitas lengkap dan kawasan berkembang.Greenwoods Country Serpong juga dirancang dengan berbagai fasilitas penunjang kehidupan modern. Di area depan akan hadir Greenwoods Innovation District, ruang kolaboratif bagi para arsitek dan pelaku real estate yang mengedepankan inovasi desain. Tak hanya itu, kawasan ini juga dilengkapi clubhouse, fasilitas ibadah, klinik, area komersial, jogging track, serta kolam retensi multifungsi yang dapat beralih menjadi ruang hijau ketika musim kemarau. Selain mengandalkan penjualan konvensional, Greenwoods juga memaksimalkan kanal digital dan kolaborasi dengan perbankan besar seperti BCA, Mandiri, BNI, BTN, dan Syariah. “Kami ikut di berbagai pameran seperti Mandiri Expo dan LivinFest 2025 untuk menjangkau lebih banyak calon pembeli,” ujar Antonius. Strategi ini menjadi bagian dari upaya memperluas pasar sambil memperkuat citra Greenwoods sebagai butik developer yang adaptif terhadap tren pemasaran modern.Meski dikenal sebagai pengembang yang mengedepankan desain dan estetika, Greenwoods juga mulai melangkah ke arah green construction. Di proyek sebelumnya yakni di Bogor, Jawa Barat, Greenwoods telah mencoba menggunakan prefab panel hasil daur ulang puing bangunan sebagai pengganti dinding konvensional. “Kami ingin mulai beralih ke arah green, tapi memang belum semua market siap. Effort-nya tinggi, tapi pasar belum menjadikan itu faktor utama membeli rumah,” ujar Antonius. Meski begitu, ia menilai edukasi publik tentang konsep green living tetap penting agar kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan terus meningkat.Lebih jauh, Greenwoods juga menyadari pentingnya mengikuti arah kebijakan pemerintah yang kini semakin fokus pada konsep pembangunan hijau dan berkelanjutan. Dengan reputasi sebagai pengembang yang kreatif dan berani bereksperimen, Greenwoods berkomitmen terus melahirkan proyek yang tidak hanya indah secara desain, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan. “Bagi kami, bukan hanya soal bangunan, tapi bagaimana menciptakan kawasan yang punya jiwa,” tandas Antonius dengan optimis menutup bincang-bincang siang itu. (*)EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 71


Dalam dunia konstruksi, kualitas dan kekuatan sebuah bangunan tidak hanya ditentukan oleh desain arsitektur dan struktur. Ada elemen penting lainnya, yakni kekuatan dan kestabilan tanah. Di bidang inilah, PT. Geotekindo menjalankan peran dalam hal penerapan metode dan teknologi perbaikan tanah (ground improvement) yang mendukung infrastruktur nasional. “Semua yang dibangun di atas tanah memerlukan fondasi yang kuat. Jika tidak kuat, sebagus apapun strukturnya, bangunan akan mengalami masalah,” ujar Marcello Wisal Djunaidy, Managing Director PT Geotekindo.PT. Geotekindo menginduk pada Geoharbour Group, perusahaan teknik sipil berbasis di Shanghai yang berdiri tahun 2000 dengan spesialisasi utama pada perbaikan tanah (ground improvement) dan rekayasa geoteknik. Pada tahun 2007, Geoharbour memulai jejaknya di Indonesia, ketika bekerjasama dengan perusahaan lokal untuk menggarap proyek PLTU Teluk Naga, Banten, serta proyek PLTU Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kemudian pada Februari 2012, Geoharbour Group memantapkan entitasnya di Indonesia dengan mendirikan PT. Geotekindo di bawah kepemimpinan Marcello. “Awalnya cuma saya dan satu office boy. Kantor pertama kami sewa di Gading Serpong, Tangerang,” kenangnya. Mengawali ini, Marcello memacu dirinya untuk terus bergerak memperkenalkan keberadaan dan keahlian yang dimiliki perusahaan di kalangan konsultan teknik sipil dan calon klien. “Waktu itu saya berpikir, kalau saya tidak terus bergerak, perusahaan yang baru dirintis ini mati.”Dukungan teknis pertama dari kantor pusat Geoharbour adalah dengan menempatkan Dr. Liu Yu, seorang doktor di bidang geoteknik sejak Mei 2012 di PT. Geotekindo. “Hingga sekarang, kami bahu-membahu menjalankan perusahaan ini. Saat memulai, kami targetkan mendapat proyek pertama dalam waktu enam bulan sejak PT. Geotekindo berdiri.”Tepat di bulan Agustus 2012, target itu tercapai. PT. Geotekindo menggarap proyek pertamanya dari PT. Krakatau Engineering untuk menangani isu likuifaksi dan daya dukung tanah di Tarahan Port Expansion Bukit Asam, Lampung. Proyek itu menjadi tonggak penting suksesnya PT. Geotekindo menerapkan metode pekerjaan geoteknik kompleks dengan standar internasional di Indonesia.“Klien kami berikutnya adalah PT. Cikarang Listrindo untuk pembangunan PLTU Babelan, Bekasi. Salah satu klien utama kami dengan pembangunan berkesinambungan sejak awal tahun 2013 sampai saat ini adalah Agung Sedayu Group, dengan proyek pertama adalah Golf Island,” papar Marcello. Pada proyek Golf Island, PT. Geotekindo menangani perbaikan tanah dengan metode Dynamic Compaction, Vibroflotation dan PVD. Tidak hanya sebagai pelaksana, PT. Geotekindo juga berperan dalam desain teknis pelaksanaan.“Mereka punya konsultan perencana, tapi kami yang mendesain pelaksanaan, antara lain mencakup bagaimana cara mencapai kepadatan yang ditargetkan oleh konsultan, kapasitas alat (misal berat hammer), dan sebagainya. Kami lakukan uji coba di lapangan hingga terbukti berhasil, kemudian kami kerjakan GEOTEKINDOATASI TANAH LUNAKUNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN NUSANTARAPROFILEMarcelloWisal DjunaidyManaging Director PT Geotekindo.72 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


secara masif,” ungkapnya.Kini, setelah lebih dari 13 tahun beroperasi, PT. Geotekindo telah mengerjakan lebih dari 110 proyek di seluruh Indonesia. SPEKTRUM LAYANAN DAN TEKNOLOGI: DARI PVD HINGGA RIGID INCLUSIONPT. Geotekindo menguasai pengerjaan berbagai metode rekayasa tanah yang bertujuan untuk meningkatkan daya dukung tanah, memitigasi post dan different settlement tanah serta menstabilkan lahan lunak seperti aplikasi PVD dan Vacuum Preloading, Dynamic Compaction, Vibroflotation, Stone Column, Rigid Inclusion, Deep Cement Mixing, dan borepile.Beberapa proyek besar nasional yang telah digarap PT. Geotekindo antara lain:• IKN Nusantara, pada pekerjaan borepile, PVD, dan Deep Cement Mixinguntuk gedung ASN 2, Kemenko 4, bandara VVIP serta jalan tol seksi 1B, dalam lingkup tanggung jawab beberapa kontraktor BUMN.• Amazon Data Center, pada konstruksi borepile dengan tingkat presisi tinggi untuk fondasi peralatan hyperscale.• Kereta Cepat Jakarta–Bandung denganmetode Rigid Inclusion dan borepile.• Terminal Kalibaru 1B dengan aplikasi Double-Stage Vacuum Preloading.• Dan masih banyak yang lainnya.Adapun manfaat Teknologi Prefabricated Vertical Drain (PVD) dan Vacuum Preloading adalah memungkinkan percepatan konsolidasi tanah lunak dalam waktu jauhlebih singkat dibanding metode konvensional seperti Soil Preloading. Sedangkan Rigid Inclusion digunakan untuk memperkuat lapisan tanah dengan kolom kaku (biasanya beton) tanpa mengganti keseluruhan material. Metode lainnya, Deep Cement Mixing (DCM), dapat digunakanuntuk memperkuat lapisan dasar dengan material semen yang dicampur tanahasli, menghasilkan kolom tanah-semen dengan daya dukung yang tinggi. Kombinasi metode tersebut efektif mengurangi penurunan (settlement) dan meningkatkan stabilitas dalam jangka panjang.Salah satu tantangan terbesar sebagai praktisi geoteknik, menurut Marcello, bukan hanya pada aspek teknis, melainkan dalam hal mengedukasi tentang pentingnya perbaikan tanah. “Banyak klien melihat perbaikan tanah itu hanya sebagai biaya tambahan,” ujarnya.Ia mencontohkan kasus di sebuah kawasan industri di Jawa Tengah. “Beban lantai pergudangan umumnya 3–5 ton per meter persegi. Jika tanpa perbaikan PROFILE EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 73


tanah, solusi yang digunakan adalah tiang pancang pada keseluruhan lantai dengan kedalaman bisa mencapai 50 sampai 60 meter. Biaya bisa mencapai 3,5 juta Rupiah per meter persegi,” paparnya. Namun ketika dilakukan ground improvement dengan pendekatan konsolidasi, biaya fondasi bisa turun drastis. “Dengan ground improvement, biayanya di bawah 1 juta Rupiah per meter persegi. Jauh lebih efisien dari sisi biaya. Tapi, karena klien tidak melakukan perbandingan dari berbagai aspek, mereka melihat biaya perbaikan hanya sebagai biaya tambahan.”Marcello menegaskan, “Dalam banyak kasus, perbaikan tanah justru menurunkan biaya serta meningkatkan kualitas proyek secara keseluruhan. Setelah klien paham, mereka akan memperoleh manfaat atas perbaikan tanah sebagai nilai tambah dalam investasi.”Contoh nyata dapat dilihat pada proyek PIK 2. “Jalan yang ada di sana, tanah dasarnya sama dengan di sekitarnya, yakni lempung lunak sedalam 12 sampai 29 m. Kalau konstruksi jalan langsung dilakukan pada tanah dasar seperti itu, tentu hasilnya tidak akan stabil, bergelombang dan pada akhirnya mengakibatkan biaya perawatan yang tinggi. Setelah kami lakukan perbaikan, hasilnya jalan yang mulus dan stabil dalam jangka panjang. Lereng di sekitar danau juga bisa stabil sesudah dilakukan perbaikan tanah minimum di sisi lereng sebelum open-cut dilaksanakan,” jelasnya.MENDUKUNG MASA DEPAN KETAHANAN INFRASTRUKTUR NASIONALPeran PT. Geotekindo tidak hanya sebatas kontraktor spesialis, tetapi juga berkontribusi bagi tersedianya solusi rekayasa geoteknik dalam berbagai proyek strategis nasional. Sementara mendukung pemerintah untuk membangun IKN, jaringan tol, pelabuhan, dan kawasan industri baru, teknologi perbaikan tanah menjadi elemen vital yang menentukan keberhaPROFILE74 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


silan konstruksi. Jika lahan tidak tangani dengan benar, struktur atau infrastruktur yang berdiri di atasnya beresiko mengalami ketidakstabilan sehingga menuntut dilakukannya rekonstruksi dan rehabilitasi saat timbul masalah di kemudian hari.“Kalau kita bicara efisiensi dan waktu, pemilihan metode yang tepat sangat penting, apalagi untuk proyek skala besar yang dikejar tenggat waktu dan kualitas yang ketat,” ujar Marcello.Meski sudah banyak bukti keberhasilan, Marcello mengakui bahwa industri masih menghadapi tantangan. “Kita bicara soal awareness. Banyak orang masih melihat perbaikan tanah itu tidak perlu. Karena tidak ada perbandingan resiko andai tidak dilakukan perbaikan tanah,” ujarnya.Untuk memantapkan edukasi teknis kepada klien, PT. Geotekindo selalu menggunakan data yang diperoleh dari berbagai hasil uji lapangan yang menunjukkan efektivitas metode yang digunakan. Ia menekankan, metode yang berbasis pengetahuan, data dan teknik yang baik adalah prinsip dasar PT. Geotekindo. “Kami ingin setiap pekerjaan yang kami lakukan menjadi solusi yang nyata bagi peningkatan efisiensi dan kualitas konstruksi di Indonesia.”Marcello berharap, selain menjaga kualitas, PT. Geotekindo juga selalu beradaptasi dan berinovasi. “Sebagai wujud pertumbuhan perusahaan, sekarang ada puluhan karyawan PT. Geotekindo yang berkantor di Jakarta, ditambah ratusan staf di proyek-proyek berbagai daerah di Indonesia. Yang terpenting adalah terus belajar dan menyesuaikan diri dengan tantangan baru,” ujarnya.Di masa depan, PT. Geotekindo berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan lembaga penelitian, universitas, dan asosiasi teknik sipil nasional guna mendukung standarisasi metode perbaikan tanah yang lebih efisien dan ramah lingkungan. “Tanah Indonesia itu unik, setiap daerah beda karakter. Maka, solusinya harus adaptif. Tapi, prinsipnya satu: kondisi tanah dasar yang stabil adalah kunci keberhasilan konstruksi,” kata Marcello. (*)PROFILEwww.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR | 75


World Class University (WCU), merupakan salah satu tujuan setiap perguruan tinggi menuju universitas berskala internasional. Melalui status tersebut, perguruan tinggi tidak hanya diakui secara nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global melalui keunggulan tridarma, inovasi riset, jejaring internasional, dan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.Di tengah dinamika global yang menuntut perguruan tinggi untuk adaptif, inovatif, dan berdaya saing tinggi, Universitas Syiah Kuala (USK) hadir dengan visi kuat menjadi universitas sosio-teknopreneur yang inovatif, mandiri, dan terkemuka di tingkat global.Cita-cita besar ini dirancang bukan hanya untuk mengejar peringkat, tetapi untuk meneguhkan peran USK sebagai poros kemajuan dari barat Indonesia yang berkontribusi bagi masa depan pendidikan global.Hal ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing akademik, meningkatkan reputasi internasional, serta mewujudkan visi sebagai universitas unggul berbasis sumber daya lokal yang berdampak global.Dalam bincang-bincang Majalah Konstruksi Media dengan Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan. Ia mengatakan bahwa langkah menuju universitas kelas dunia bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga komitmen terhadap kontribusi nyata bagi bangsa dan dunia.Perjalanan menuju WCU bukan perkara mudah, namun USK memilih untuk menapakinya dengan strategi yang matang dan berkelanjutan. Mulai dari peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa, penguatan kolaborasi internasional, hingga optimalisasi riset yang relevan dengan kebutuhan zaman, semua diarahkan untuk membangun reputasi akademik bertaraf dunia.Semangat inilah yang membuat USK tak hanya berkembang sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan intelektual dan inovasi dari Aceh untuk dunia.Prof. Marwan menegaskan bahwa langkah menuju universitas kelas dunia bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga komitmen terhadap kontribusi nyata bagi bangsa dan dunia. “USK harus menjadi universitas yang tidak hanya dikenal karena reputasinya, tapi karena dampaknya,” katanya, saat ditemui di selasela perhelatan Employer Meeting USK 2025 di Jakarta.Rektor menjelaskan USK secara konsisten mendukung program-program pemerintah, terutama yang terkait dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dan isu perubahan iklim (climate change). USK mengambil peran strategis dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam riset, pengajaran, dan pengabdian masyarakat. Beberapa proyek riset unggulan kampus bahkan diarahkan untuk mendukung energi terbarukan, konservasi air, serta mitigasi bencana alam di wilayah Aceh dan sekitarnya.“Perubahan iklim bukan isu global semata, tetapi nyata dirasakan di tingkat lokal. Karena itu, USK harus hadir dengan solusi berbasis riset,” jelas Prof. Marwan. Dirinya mengemukakan bahwa kolaborasi lintas disiplin ilmu menjadi kunci untuk menciptakan inovasi berkelanjutan yang mampu menjawab tantangan lingkungan dan sosial.Dalam menghadapi era digital, USK juga berfokus pada peningkatan digital skill baik untuk mahasiswa maupun tenaga pendidik. Melalui kerja sama antara universitas dan Kominfo USK, berbagai pelatihan teknologi informasi, literasi data, hingga keamanan siber telah diadakan secara berkala. Tujuannya, agar sivitas akademika mampu beradaptasi dengan cepat terhadap disrupsi digital yang tengah terjadi.“Mahasiswa USK harus siap menjadi bagian dari generasi digital yang produktif, bukan sekadar pengguna teknologi,” jelas Prof. Marwan. Ia juga menekankan pentingnya digital mindset bagi dosen agar proses pembelajaran semakin interaktif, kreatif, dan sesuai kebutuhan zaman. Salah satu inovasi signifikan USK adalah pendirian program studi S2 Artificial Intelligence(AI) yang kini tengah berkembang pesat. Program ini diharapkan menjadi pusat unggulan dalam pengembangan teknologi cerdas, analisis data, dan otomatisasi sistem. USK ingin memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga produsen pengetahuan dan inovasi di bidang ini.Seperti halnya pada Fakultas Hukum yang mulai mencoba menerapkan sistem berbasis AI untuk membantu analisis kasus hukum STRATEGI USK MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITYProf. MarwanRektor Universitas Sve[dKr[h[ҫUSKҬPROFILE76 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


tertentu. Menurut Prof. Marwan, AI dapat berfungsi sebagai alat bantu yang mempercepat pemrosesan dokumen dan mendukung pencarian preseden hukum. “Teknologi tidak akan menggantikan peran manusia, tetapi membantu agar proses hukum menjadi lebih efisien dan transparan,” terang Dosen tetap Jurusan Teknik Kimia USK tersebut.Dalam bidang akademik, USK terus memperbarui kurikulum agar relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan global. Pendekatan outcome-based education (OBE) diterapkan secara menyeluruh, di mana setiap program studi didorong untuk memiliki keunggulan spesifik. Saat ini, sekitar 50% dari seluruh program studi USK telah berstatus “unggul” dan menargetkan 100% akreditasi unggul seluruhnya.PENINGKATAN REPUTASI GLOBALMeski telah banyak kemajuan, Prof. Marwan tidak menutup mata terhadap sejumlah tantangan. Di antaranya, peningkatan reputasi global, daya tarik masyarakat untuk kuliah di USK, serta masalah pendanaan pendidikan. Untuk mengatasinya, lanjut dia, kampus mengembangkan strategi endowmentfund dan memperluas kemitraan dengan industri serta lembaga donor internasional. Selain itu, USK berkomitmen untuk terus menciptakan iklim akademik yang sehat dan kolaboratif. Ia menegaskan bahwa reputasi universitas bukan hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi oleh kualitas SDM, integritas, dan semangat inovasi di dalamnya. “Reputasi adalah buah dari kerja konsisten seluruh elemen kampus,” jelas Pria peraih gelar doktor (Ph.D)- Universitas of Birmingham, Inggris (1998).USK juga telah menyiapkan Rencana Strategis Jangka Panjang 2025-2029 sebagai panduan pengembangan universitas lintas kepemimpinan. Prof. Marwan menegaskan bahwa siapapun rektor yang memimpin ke depan, harus menjadikan dokumen ini sebagai acuan agar arah pengembangan USK tetap konsisten. “Kami membangun pondasi agar visi besar ini berkelanjutan, bukan tergantung pada satu periode kepemimpinan,” ucapnya.Demi memperkuat posisi di tingkat regional, USK juga menargetkan peningkatan daya saing di kawasan Asia. Melalui kerja sama dengan universitas di Jepang, Malaysia, dan Australia, USK aktif mendorong program student exchange, riset kolaboratif, dan pengiriman dosen untuk studi lanjut. Langkah ini menjadi bagian dari strategi internasionalisasi yang telah menghasilkan banyak kemitraan produktif. Selain pertukaran mahasiswa keluar negeri, USK juga membuka peluang bagi mahasiswa asing untuk belajar di Aceh. Kampus ini telah menjadi destinasi pendidikan internasional yang menawarkan pengalaman belajar lintas budaya dan riset di bidang kebencanaan serta kelautan. “Kami ingin menjadikan USK sebagai rumah bagi mahasiswa dunia yang mencintai ilmu pengetahuan dan keberagaman,” beber Prof. Marwan.Dalam kegiatan Employer Meeting USK 2025 bertema “Strengthening Employer and Alumni Engagement for Quality Education, Sustainability, and Global Recognition”, Prof. Marwan mengajak seluruh alumni untuk memperkuat jejaring dan berkontribusi dalam pembangunan kampus. Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa, dosen, dan alumni untuk saling berbagi pengalaman dan membuka peluang kerja sama profesional. “Ini bukan hanya reuni, tetapi momentum memperkuat solidaritas dan reputasi USK di dunia kerja,” tuturnya menjelaskan.Dengan semangat kebersamaan, inovasi, dan keberlanjutan, Prof. Marwan optimistis USK akan terus melangkah menuju level internasional tanpa kehilangan jati diri sebagai universitas kebanggaan Aceh. “Kami ingin USK menjadi universitas yang unggul di dunia, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai lokal, budaya, dan kemanusiaan,” bebernya.Upaya USK dalam meraih predikat World Class University sejatinya adalah perjalanan panjang menuju kualitas dan reputasi yang berkelanjutan. Dengan menanamkan budaya riset, kolaborasi global, serta inovasi dalam setiap lini akademik, USK membuktikan bahwa kampus di ujung barat Indonesia mampu berdiri sejajar dengan universitas terkemuka dunia. Ke depan, USK berkomitmen untuk terus memperkuat fondasi akademik dan memperluas jejaring internasional tanpa kehilangan jati diri sebagai kampus yang berakar kuat pada nilai-nilai keindonesiaan. Dengan semangat kolaboratif dan visi global, USK tidak hanya mengejar pengakuan dunia, tetapi juga menegaskan perannya sebagai agen perubahan yang membawa cahaya pengetahuan dari Aceh untuk dunia. (*)PROFILE EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 77


64 TH UNIVERSITAS SYIAH KUALAMENJAGA NADIDARI ‘JANTONGHATEE RAKYAT’Enam puluh empat tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah universitas untuk bertahan, tumbuh, dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Bagi Universitas Syiah Kuala (USK), usia ini bukan sekadar angka, tetapi cermin perjalanan panjang yang penuh dedikasi, tantangan, dan transformasi. PROFILE78 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


Sejak berdirinya pada 2 September 1961 silam, USK telah meneguhkan dirinya sebagai “Jantong Hatee Rakyat Aceh”, jantung pengetahuan dan kebanggaan masyarakat di ujung barat Indonesia.Bagi masyarakat Aceh, nama USK bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi simbol harapan dan kebangkitan. Di masa awal berdirinya, lembaga pendidikan ini hadir untuk menjawab keterbatasan akses pendidikan tinggi di daerah yang baru pulih dari pergolakan. Kini, enam dekade kemudian, USK telah menjelma menjadi institusi pendidikan unggul yang berkontribusi besar terhadap kemajuan daerah dan bangsa.Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan, IPU., menegaskan bahwa usia ke-64 ini adalah momentum refleksi dan pembuktian diri. “USK bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi ruang lahirnya peradaban. Kami ingin memastikan setiap langkah universitas ini memberi manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus menjaga semangat keilmuan yang berpijak pada nilai kemanusiaan,” ungkap Prof. Marwan kepada Majalah Konstruksi Media.Dia menyampaikan, perjalanan USK sejak awal berdirinya adalah kisah tentang tekad dan kemandirian. Dari kampus sederhana di Darussalam, Banda Aceh, universitas ini berkembang menjadi lembaga dengan 12 fakultas dan puluhan pusat riset unggulan. Kini setiap fakultas memiliki kontribusinya masing-masing dalam membangun Aceh, dari bidang pertanian dan kelautan hingga teknologi, kesehatan, dan humaniora.Prof. Marwan mengungkapkan makna “Jantong Hatee Rakyat Aceh” bukan sekadar semboyan. Melainkan, telah menjadi roh yang menggerakkan seluruh civitas akademika untuk selalu dekat dengan masyarakat. Di tengah perubahan sosial dan tantangan global, lanjutnya, USK tetap menjaga kedekatan itu melalui riset berbasis kebutuhan daerah, pengabdian masyarakat, dan berbagai program kolaborasi yang berdampak langsung bagi kehidupan.Prof. Marwan menyebut, nilai historis inilah yang membuat USK berbeda. “Kami tumbuh dari tanah Aceh, dari denyut kehidupan rakyatnya. Maka sebesar apa pun kami melangkah ke dunia, akar itu tidak akan kami lupakan. USK akan terus menjadi kampus yang membumi di Aceh, namun berpengaruh di dunia,” urainya.Dalam refleksi enam dekade lebih ini, USK menegaskan kembali komitmennya untuk melahirkan generasi unggul. Ribuan alumninya kini tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara, menjadi pemimpin di berbagai bidang seperti pemerintahan, pendidikan, hukum, ekonomi, teknologi, hingga sektor sosial. “Mereka membawa semangat keilmuan USK sebagai bagian dari kontribusi nyata bagi bangsa,” jelasnya.Perjalanan panjang itu juga menegaskan peran USK sebagai mitra strategis dalam pembangunan Aceh pasca-konflik dan tsunami 2004. Banyak riset dan inovasi yang dihasilkan kampus ini menjadi fondasi kebijakan pembangunan daerah, dari mitigasi bencana, rekonstruksi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.MENEMBUS PANGGUNG PENDIDIKAN GLOBAL Seiring perkembangan waktu, USK bertransformasi dari universitas regional menjadi perguruan tinggi nasional dengan reputasi internasional. Dalam satu dekade terakhir, USK PROFILE EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 79


mencatat sejumlah capaian membanggakan yang menandai era baru dalam sejarahnya.“Untuk pertama kalinya, USK menembus pemeringkatan dunia QS World University Rankings (QS WUR) 2026, menempati posisi 1400+ global dan peringkat 14 nasional. Ini adalah tonggak penting yang menunjukkan pengakuan internasional terhadap mutu pendidikan, riset, dan reputasi akademik USK,” ucap Rektor.Tak hanya itu, dalam Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2025, USK mencatat prestasi luar biasa: peringkat 66 dunia untuk Quality Education(SDG 4), peringkat 79 untuk Life Below Water (SDG 14), serta posisi 101–200 dunia untuk Partnerships for the Goals(SDG 17). Pencapaian ini menunjukkan kontribusi nyata USK terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan dunia.“Capaian ini adalah hasil kerja kolektif seluruh civitas akademika USK. Kami tidak mengejar peringkat semata, tetapi ingin memastikan bahwa setiap aktivitas pendidikan, riset, dan pengabdian kami benar-benar berdampak bagi masyarakat,” tutur Prof. Marwan menambahkan.Transformasi menuju World Class University menjadi agenda besar USK dan menjadi universitas sosio-teknopreneur yang inovatif, mandiri, dan terkemuka di tingkat global. Visi tersebut diwujudkan melalui penguatan tata kelola akademik, digitalisasi pembelajaran, dan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). “Setiap langkah diarahkan agar mahasiswa memiliki kompetensi global tanpa kehilangan jati diri lokal,” jelasnya.USK juga memperluas jejaring internasional dengan lebih dari 170 nota kesepahaman (MoU) aktif di Asia, Eropa, Australia, dan Amerika. Kolaborasi ini melahirkan program double degree, student exchange,serta riset lintas negara yang memperkaya pengalaman akademik mahasiswa dan dosen.Dalam bidang riset dan inovasi, USK menjadi rumah bagi berbagai pusat unggulan, seperti Atsiri Research Center (ARC) yang menghasilkan produk berbasis minyak atsiri Aceh hingga pusat-pusat penelitian energi, pangan, dan lingkungan yang relevan dengan kebutuhan lokal. Pendekatan riset berbasis solusi membuat kampus ini semakin dikenal sebagai penggerak inovasi regional.“Prinsip kami jelas. Riset harus menjawab persoalan masyarakat. Karena itu, kami mendorong dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan karya yang aplikatif, berkelanjutan, dan memberi nilai tambah bagi kehidupan,” bebernya menambahkan.Transformasi yang dilakukan USK juga menyentuh aspek sosial dan budaya. Melalui program Saweu Kuburan Tgk. Syiah Kuala, kampus ini memperkuat nilai spiritualitas dan penghormatan terhadap sejarah. Sementara, di sisi lain, program KKN Internasional dan KKN Tematik membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung di tengah masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri.USK pun memperkuat perannya sebagai pusat budaya dan diplomasi Aceh. Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) serta promosi budaya Aceh kepada mahasiswa internasional menjadi jembatan dialog antarbangsa yang memperkenalkan Aceh sebagai wilayah kaya nilai dan tradisi.Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, USK juga tengah menyiapkan konsep green campusyang terintegrasi dengan sistem pembelajaran digital. Lingkungan kampus di Darussalam kini dirancang sebagai ekosistem ramah lingkungan yang mendukung aktivitas riset, inovasi, dan kenyamanan belajar.Namun di balik deretan prestasi dan modernisasi, USK tidak melupakan akar sosialnya. Kampus ini terus hadir di tengah masyarakat Aceh, membantu petani dengan riset pertanian berkelanjutan, mendukung industri kecil melalui inovasi teknologi, dan menjadi mitra pemerintah dalam penyusunan kebijakan berbasis riset. “Menjadi universitas kelas dunia tidak berarti menjauh dari rakyat,” tegas Prof. Marwan.“Justru semakin tinggi reputasi kami, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan kehadiran USK benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” sambungnya.PROFILE80 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


USK UNTUK NEGERITantangan ke depan tentu tidak ringan. USK harus menghadapi persaingan global dalam publikasi ilmiah, keterbatasan infrastruktur riset, hingga peningkatan kualitas SDM dosen dan peneliti. Namun universitas ini telah menyiapkan langkah strategis seperti memperbanyak dosen bergelar doktor, memperkuat kolaborasi profesor internasional, dan memperluas akses hibah penelitian.Modernisasi laboratorium, pembangunan fasilitas pembelajaran digital, serta pengembangan kampus hijau berstandar internasional juga menjadi prioritas. Semua diarahkan untuk mempercepat transisi USK menjadi universitas riset unggul berkelas dunia.Bagi mahasiswa, momentum usia ke-64 ini menjadi ajakan untuk belajar lebih giat, berinovasi, dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Prof. Marwan menegaskan, USK ingin melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, kreatif, dan berdaya saing global.Kepada para dosen dan tenaga kependidikan, Prof. Marwan sebagai pimpinan universitas menaruh harapan besar agar terus meningkatkan kualitas pembelajaran, riset, dan pengabdian. Sementara kepada alumni, kampus berharap agar mereka tetap menjadi duta-duta ilmu yang menjaga nama baik almamater di manapun berada.Kepada masyarakat Aceh, Prof. Marwan menegaskan kembali komitmennya untuk tetap menjadi bagian dari denyut kehidupan rakyat. Predikat “Jantong Hatee Rakyat Aceh” akan terus diwujudkan melalui karya nyata, solusi berbasis riset, dan kontribusi sosial yang berdampak langsung.“USK ingin menjadi kampus yang tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi hadir di hati masyarakat,” katanya. “Kami percaya, universitas yang kuat bukan hanya diukur dari gedung megah atau peringkat global, tetapi dari seberapa besar manfaatnya bagi manusia,” jelasnya menambahkan.Kini, di usia ke-64, Universitas Syiah Kuala berdiri dengan penuh kebanggaan dan kerendahan hati. Dari Darussalam, denyut keilmuan terus mengalir, menembus batas Aceh, menginspirasi Indonesia, dan memberi makna bagi dunia.USK telah menempuh perjalanan panjang, dari universitas daerah menjadi lembaga dengan reputasi global. Namun bagi rakyat Aceh, kampus ini tetaplah “Jantong Hatee” sumber pengetahuan, kebanggaan, dan cahaya peradaban yang tak pernah padam.Dan seperti yang ditegaskan Prof. Marwan dalam refleksi milad tahun ini, “USK akan terus bergerak maju, menebar ilmu dan manfaat. Kami ingin setiap langkah USK selalu bernilai bagi manusia, karena sejatinya pendidikan adalah tentang memberi kehidupan”.Enam puluh empat tahun perjalanan Universitas Syiah Kuala bukan sekadar kisah tentang lembaga pendidikan yang tumbuh dan beradaptasi. Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang daya tahan, pengabdian, dan komitmen yang terus menyala di tengah perubahan zaman. Di setiap langkahnya, USK membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya untuk menaklukkan tantangan global, tetapi juga untuk menyejukkan hati rakyat Aceh dan membangun kemajuan bangsa dengan akar kearifan lokal yang kokoh.Menatap masa depan, USK berdiri dengan keyakinan baru bahwa universitas tidak lagi sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ruang penciptaan masa depan. Di bawah kepemimpinan yang visioner dan semangat kolektif seluruh civitas akademika, USK siap menulis babak berikutnya, menjadi universitas berkelas dunia yang tetap berjiwa Aceh, menghadirkan ilmu yang membumi sekaligus menjangkau cakrawala global. (*)PROFILEwww.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR | 81


PROFILEKebutuhan konstruksi nasional dan tuntutan terhadap bangunan yang aman, efisien, dan berkelanjutan terus meningkat. Di tengah tuntutan ini, terdapat satu irisan keahlian yang krusial namun belum sepenuhnya dikenal publik: teknik arsitektur.Profesi ini berdiri di persimpangan antara estetika desain dan keteknikan konstruksi. Selama ini, konstruksi kerap dipersepsikan secara terpisah. Arsitek disebut sebagai pihak yang merancang bentuk, sementara insinyur dianggap sebagai penjaga kekuatan struktur.Pada periode 2025–2028, tanggung jawab memperkuat dan memperluas eksistensi profesi ini di lingkungan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) diemban oleh Ir. Sigit Wijaksono, M.Si., IPU, Ketua Badan Keahlian Teknik Arsitektur (BKTA) yang baru.Ditemui di Universitas Bina Nusantara (Binus), tempat ia mengajar, Sigit menyampaikan misinya dengan nada serius. “Secara profesional saya harus bisa memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa ada yang namanya profesi teknik arsitektur,” tuturnya, sambil menekankan pentingnya pengakuan profesi tersebut.Dengan fondasi profesionalisme yang kuat, teknik arsitektur bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi bagian integral dari ekosistem konstruksi nasional yang mendorong bangunan lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.Indonesia sebagai negara kepulauan yang rawan bencana alam, mulai dari gempa bumi hingga perubahan iklim, sangat membutuhkan ahli yang mampu menjembatani desain estetis dengan realita geologis dan struktural. Arsitektur harus melampaui keindahan visual; ia harus menjadi garda terdepan ketahanan dan mitigasi risiko. Oleh karena itu, profesi teknik arsitektur hadir bukan sebagai kemewahan, melainkan sebagai kebutuhan esensial. Keahlian mereka memastikan bahwa investasi besar dalam infrastruktur dan properti tidak berakhir sia-sia akibat kegagalan teknis. Teknik arsitektur dituntut untuk menyediakan solusi terintegrasi, mulai dari pemilihan material yang ramah lingkungan hingga penerapan teknologi bangunan cerdas. Hal ini memerlukan pemahaman mendalam tentang standar internasional dan adaptasi terhadap regulasi lokal yang ketat. Sigit memahami betul bahwa tantangan ini tidak dapat dihadapi dengan pendekatan lama. Misi utamanya adalah membentuk profesional yang memiliki wawasan futuristik, namun tetap membumi pada kebutuhan konstruksi di Indonesia.Pria lulusan Teknik Arsitektur Universitas Indonesia ini ingin membawa misi yang tegas. Ia ingin memberikan wawasan luas kepada masyarakat bahwa teknik arsitektur adalah profesi strategis yang menjamin ketahanan bangunan, bukan sekadar memoles tampilan.“Itu belum populer,” kata Sigit singkat, menekankan bahwa popularitas Teknik Arsitektur masih tertinggal dibandingkan dengan insinyur sipil dan insinyur elektro.MENJEMBATANI RUANG KOSONG YANG SELAMA INI TERABAIKANSigit memaknai jabatan Ketua BKTA bukan sekadar posisi organisasi. Baginya, ini menjadi sebuah amanah untuk merapikan satu ruang profesi yang selama ini “menggantung” di tengah ekosistem konstruksi.“Kami memiliki pengetahuan bukan hanya estetika, tapi kami juga punya kemampuan tentang keteknikan untuk menjamin bangunan yang dibuat itu akan aman dan nyaman,” ia menegaskan.Di lapangan, masyarakat lebih familiar dengan insinyur sipil atau elektro, sementara arsitek dipahami sebatas perancang desain. Padahal, ada keahlian yang secara khusus menghubungkan peranIr. Sigit Wijaksono, M.Si., IPUK`qr[A[_[kK`[dhe[kT`gkeg@opeq`gqroҫAKT@ҬPersatuan Insinyur Indonesia (PII).BK TEKNIK ARSITEKTUR PIIBUKAN HANYA SEKADAR DESAINTETAPIMENJAGA RUANG KEHIDUPAN82 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


PROFILEcangan dengan keamanan, operasional, dan keberlanjutan bangunan.Sigit melihat kekosongan besar dalam siklus pembangunan. Arsitek berhenti pada desain, sementara insinyur dari disiplin lain bekerja di sektornya masing-masing. Tidak ada yang secara khusus memastikan desain dapat diterjemahkan menjadi bangunan yang aman dieksekusi dan layak dioperasikan. Di sinilah teknik arsitektur hadir.Ketidakjelasan peran ini, yang Sigit sebut sebagai “ruang kosong”, berpotensi menimbulkan kerugian besar. Ketika desain estetis tidak dikontrol oleh pemahaman teknis yang memadai, risiko kegagalan struktur, pemborosan material, dan biaya operasional jangka panjang yang tinggi menjadi tak terhindarkan. Dalam proyek skala besar, ketidakhadiran ahli teknik arsitektur dapat memperlambat proses perizinan, menyebabkan revisi berulang, dan bahkan mengancam keselamatan pengguna bangunan. Keselamatan publik adalah taruhan tertinggi dari “ruang kosong” ini.Inilah mengapa Sigit begitu bersemangat dalam memosisikan teknik arsitektur. Profesi ini bertindak sebagai “Quality Control” yang menjamin keselarasan antara visi artistik arsitek dan kepatuhan terhadap kaidah keteknikan yang diterapkan oleh insinyur sipil, mekanikal, dan elektrikal. Sigit lantas menggarisbawahi posisinya. Profesi ini, tegasnya, tidak sedikit pun mengambil alih ranah arsitek. Sebaliknya, teknik arsitektur justru melengkapi pekerjaan arsitek. Peran mereka adalah memastikan bahwa setiap desain yang telah dibuat aman secara konstruksi, tepat secara teknis, dan dapat diterapkan sesuai standar keselamatan. “Kami memiliki pengetahuan bukan hanya estetika, tapi juga keteknikan untuk menjamin bangunan yang dibuat itu aman,” jelasnya serius.Kemampuan membaca beban, material, utilitas, hingga risiko penggunaan bangunan adalah inti dari profesi ini. Hal ini pula yang ditekuni Sigit dalam pengalaman profesionalnya, baik saat menjabat Architect di PT Andika Daratama maupun Engineer di PT Gamawahyu Indratama, keduanya merupakan konsultan di Jakarta.Dengan bekal tersebut, insinyur arsitektur memastikan bahwa ide indah di atas kertas dapat berdiri menjadi bangunan yang kokoh dan berfungsi. Namun, profesi sepenting ini belum dikenal luas karena minimnya upaya branding dan sosialisasi.Tantangan pertama yang dihadapi teknik arsitektur adalah kurangnya pengakuan sosial, baik dari publik maupun dari ekosistem konstruksi sendiri. Untuk itu, langkah strategis mendesak diperlukan agar profesi ini dapat diakui sebagaimana mestinya.MENGANGKAT KOMPETENSI, IDENTITAS, DAN PERAN PROFESIBKTA PII di bawah kepemimpinannya, Sigit ingin mengisi ruang kosong itu dengan membangun identitas publik profesi teknik arsitektur. Langkah awalnya jelas, yakni dengan cara melakukan branding dan edukasi. “Yang pertama branding dulu. Upayakan branding lewat berbagai kegiatan,” tuturnya.Branding ini bukan sekadar mengenalkan nama, tetapi memberikan edukasi teknis kepada masyarakat, pelaku konstruksi, dan akademisi melalui seminar, diskusi profesi, hingga publikasi yang sistematis. BKTA PII juga ingin memperkuat narasi bahwa teknik arsitektur juga berbicara tentang menjaga ruang dalam kehidupan memiliki arti arsitektur merupakan profesi yang berperan menjaga keberlanjutan hidup, bukan sekadar menciptakan bentuk.Selain membangun identitas profesi, BKTA PII akan memperluas kolaborasi lintas asosiasi dan dunia industri agar peran EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 83


teknik arsitektur semakin hadir dalam wacana pembangunan nasional.Untuk membentuk profesi yang terstruktur, kompetensi anggotanya harus diperkuat. Hal ini juga yang akan diperbaiki oleh Sigit. Ia ingin meningkatkan kompetensi dengan mengadakan pelatihan, berbagi pengetahuan, dan kerja sama dengan dunia industri.Salah satu misi penting BKTA PII adalah membuka jalur karir yang lebih jelas bagi lulusan arsitektur yang ingin bekerja sebagai engineer, bukan hanya sebagai perancang. Banyak bidang konstruksi yang membutuhkan keahlian lulusan arsitektur, tetapi tidak dapat diisi arsitek konvensional karena tidak diarahkan ke situ.BKTA ingin menjembataninya dengan skema pelatihan dan sertifikasi yang terstandar. “Dengan skema itu, lulusan arsitektur dapat mengisi kekosongan tenaga ahli di sektor konstruksi yang terus berkembang,” ujarnya.Untuk memperkuat standar profesi, BKTA PII juga telah melakukan kolaborasi lintas kejuruan. Bersama BK Sipil, BKTA PII akan mengembangkan peningkatan kompetensi di bidang manajemen konstruksi. Dengan BK Kehutanan, mereka mendorong pemanfaatan kayu sebagai konstruksi yang berkelanjutan untuk bangunan.Kolaborasi ini menjadi fondasi penting agar teknik arsitektur memiliki perspektif lintas disiplin, memperluas wawasan, dan memperkuat integrasi dalam siklus konstruksi.TEKNIK ARSITEKTUR DAN MASA DEPAN AISigit menyadari bahwa profesinya akan menghadapi transformasi besar seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI). Namun, ia memandang AI bukan sebagai ancaman, melainkan alat yang mempercepat proses teknis dan analisis.“AI akan sangat membantu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan bisa dikerjakan. Kita tidak menentang, tetapi berkolaborasi,” ujarnya.Contoh konkretnya, AI dapat memproses ribuan simulasi struktural dalam hitungan menit, yang secara tradisional membutuhkan waktu berminggu-minggu. AI juga memungkinkan analisis siklus hidup bangunan (LCA) secara real-time, membantu insinyur arsitektur memilih material dengan jejak karbon terendah. Selain pengembangan internal profesi dan pemanfaatan teknologi, Sigit juga berkomitmen untuk menghadirkan peran BKTA PII secara nyata di tengah masyarakat. Salah satu rencana jangka pendeknya adalah keterlibatan dalam proyek pembangunan fasilitas pesantren. Menurut Sigit, banyak pesantren yang membangun fasilitas sendiri, dan para santri sering menjadi pengawas lapangan tanpa bekal teknis yang cukup. “Kami sedang menyiapkan pelatihan bagi santri agar mereka punya kapasitas mengawasi pekerjaan konstruksi,” jelas dosen tetap Universitas Bina Nusantara ini.Program ini, yang dirancang melibatkan Kementerian Agama, Menko Kesra (Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan/PMK), dan Kementerian PU menunjukkan bahwa BKTA PII memiliki misi lebih luas, yaitu tidak hanya membangun profesinya, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan sosial dan pemberdayaan masyarakat.Di balik misi pengabdian dan peningkatan profesi tersebut, Sigit menekankan bahwa pada prinsip dasar teknik arsitektur, desain adalah permulaan, tetapi keselamatan adalah tujuan akhir. Profesi ini memastikan keduanya terhubung dan berjalan selaras.Dengan filosofi mengutamakan keberlanjutan dan menjaga lingkungan, serta menghadirkan desain yang relevan untuk masa depan, visi tiga tahun Sigit akan menjadikan BKTA PII sebagai rumah besar bagi para lulusan arsitektur dan profesional yang ingin bekerja sebagai engineerdi dunia arsitektural. Untuk mencapai hal ini, ia berencana menata jalur kompetensi, memperkuat branding, mendorong sertifikasi, dan melibatkan BKTA PII dalam proyek-proyek yang lebih luas.Semua upaya ini pada akhirnya ia rangkum dalam satu kalimat kunci, yaitu kolaborasi. “Kita perlu kolaborasi dan saling menghargai untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” tutupnya.Di bawah kepemimpinan Sigit, profesi ini diharapkan tidak lagi berdiri di antara bayang-bayang. Akan tetapi menjadi pilar penting dalam memastikan Indonesia membangun dengan fondasi yang kokoh secara visual, teknis, dan struktural. (*)PROFILE84 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


fifffflffiflflflfflffflff PEKERJAAN UMUMInfrastruktur BerkeadilanRakyat SejahteraIndonesia MajuApresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh insan Pekerjaan Umumyang telah berdedikasi membangun infrastruktur bangsa.Terus Melaju Membangun Negeri,Salam hormat dan bakti untuk Indonesia.Wisma NH Ground Floor, Jl. Raya Pasar Minggu No.2 B-C 021-7987946 [email protected]. KANTA KARYA UTAMASIGAP MEMBANGUN NEGERI UNTUK RAKYATKEMENPUfifffflffiflflflfflffflff PEKERJAAN UMUMInfrastruktur BerkeadilanRakyat SejahteraIndonesia MajuApresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh insan Pekerjaan Umumyang telah berdedikasi membangun infrastruktur bangsa.Terus Melaju Membangun Negeri,Salam hormat dan bakti untuk Indonesia.Wisma NH Ground Floor, Jl. Raya Pasar Minggu No.2 B-C 021-7987946 [email protected]. KANTA KARYA UTAMASIGAP MEMBANGUN NEGERI UNTUK RAKYATKEMENPU


PROFILEDi tengah hiruk pikuk Jakarta dan kompleksitas pembangunan infrastruktur nasional, isu perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) seringkali terperangkap dalam perdebatan desain semata. Namun, bagi Joko Adianto, pendiri Research Center For Housing and Policy (RECEHPOL) dan Chairperson of Center for Sustainable Development Studies Universitas Indonesia (UI), rumah jauh melampaui bata dan beton. Ia adalah hasil dari relasi kompleks antara manusia, tanah, hukum, kebijakan, dan ekonomi.Perjalanan profesional Joko Adianto, yang dimulai sebagai seorang arsitek praktisi pada tahun 2004, mengalami turning point signifikan pada tahun 2008.TITIK BALIK: DARI ARSITEK RUMAH PRIVAT KE PERUMAHAN RAKYATJoko Adianto mengenang bahwa awal kariernya didominasi oleh proyek rumah tinggal untuk klien swasta. Namun, pada tahun 2008, ia mulai terlibat dalam program standarisasi rusunawa (rumah susun sewa) di bawah program “Seribu Menara” Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). “Saya mulai banyak terlibat di program-program kementerian, mayoritas rusunawa,” ujarnya, saat berbincang dengan Konstruksi Media di Kampus UI Salemba.Aspirasi untuk menyelesaikan masalah perumahan membawanya masuk ke segmen perumahan kampung kota pada tahun 2011. Puncak eksplorasi intelektualnya terjadi ketika ia melanjutkan studi doktoral di University of Tokyo pada tahun 2014. Di sana, ia berhadapan dengan perdebatan mendasar dengan profesornya: Apakah pengetahuan dan gagasan untuk menyelesaikan isu perumahan hanya dari disiplin ilmu arsitektur, atau sesuatu yang lebih kompleks?Disertasinya memberikan jawaban tegas: “Hasil disertasi saya menjelaskan fenomena bahwa rumah itu adalah ruang hidup hasil relasi orang dengan tanah untuk bertahan dan mengembangkan hidupnya.” Pengamatan ini diperkuat saat ia menghadiri konferensi Habitat 3 pada tahun 2016, di mana masalah universal yang dihadapi kota-kota global adalah sama: bukan hanya desain bangunannya yang kurang, melainkan isu tanah dan kebijakan.Fenomena ini mendorong formulasi bahwa merencanakan dan merancang rumah, perumahan dan permukiman mempertimbangkan hak atas tanah, keamanan bermukim, kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan peraturan pembangunan setempat. Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 2017, Joko Adianto mengembangkan kelompok ilmu perumahan pemukiman di Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada tahun 2018 bersama (alm.) Prof. Triatno Yudo Harjoko dan Rossa Turpuk Gabe.KELAHIRAN RECEHPOL: KETIKA ARSITEKTUR TIDAK CUKUPMenyadari bahwa desain arsitektur saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah perumahan yang berakar pada ekosistem yang rapuh, Joko Adianto mulai berpikir tentang kebutuhan akan pendekatan yang lebih holistik. Ekosistem perumahan yang dimaksudkannya mencakup hak atas tanah, keamanan bermukim, tata ruang, desain, pembiayaan, kondisi sosial ekonomi dan demografi hingga pengelolaan.“Saya bilang ke temanteman sejawat saya para arsitek, ada berapa sayembara rusun, rumah sehat, dan berapa yang terbangun. Ternyata ekosistem kita enggak lengkap. Kadang desain bagus, tapi biaya enggak ada. Nanti sudah oke, tanahnya selesai statusnya, tata ruanRECEHPOLRUANGINTERDISIPLIN KOLABORATIF EKOSISTEM PERUMAHAN INDONESIAJoko Adianto, pendiri Research Center For Housing and Policy (RECEHPOL)86 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


PROFILE gnya belum diselaraskan,” jelasnya.Pemikiran inilah yang melahirkan RECEHPOL (Research Center for Housing and Policy). Penerimaan hibah Pusat Kolaborasi Riset dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) pada tahun 2025 menjadi katalisnya. Kata “Policy” (Kebijakan) menegaskan bahwa tanpa payung kebijakan dan peraturan yang relevan, mulai dari tata ruang hukum, pertanahan, hingga sosial dan ekonomi, intervensi desain akan sia-sia.RECEHPOL pun didirikan oleh Joko Adianto dan Rossa Turpuk Gabe sebagai pusat studi interdisipliner, melampaui batas teknik, merangkul humaniora, dan ekonomi pembangunan. Meskipun secara administratif Joko Adianto masih terafiliasi di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, afiliasi utama RECEHPOL saat ini berada di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, mencerminkan kompleksitas isu perumahan.PROGRAM DAN INTERVENSI STRATEGIS RECEHPOLAktivitas RECEHPOL difokuskan pada intervensi kebijakan dan solusi desain yang menjawab masalah riil di lapangan, khususnya bagi MBR.Program awal RECEHPOL pada tahun 2022, yang dikembangkan Joko Adianto dan diampu bersama Rossa Turpuk Gabe, saat itu masih bernama RECEH (Research Course of Housing). RECEH merupakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dibiayai dana hibah LPDP MBKM RISPRO tahun 2021 dan berfokus pada pemberian hak keamanan bermukim di pemukiman MBR di wilayah Jakarta Utara hingga Jakarta Barat. Program ini diikuti oleh peserta dari beragam disiplin ilmu seperti arsitektur, geografi, antropologi, psikologi, hukum, hingga kesehatan masyarakat, baik dari Universitas Indonesia maupun universitas lainnya. Hasilnya menjadi salah satu landasan yang memungkinkan berdirinya beberapa kampung susun di Jakarta Utara, sebuah model solusi perumahan yang melibatkan program Reforma Agraria Perkotaan untuk menyediakan hak atas tanah dan keamanan bermukim bagi warga. Kini, setelah memperoleh hibah Pusat Kolaborasi Riset (PKR) dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2025, RECEHPOL berdiri dengan bermitra dengan Pusat Studi Kebijakan Publik BRIN, bersama Institut Teknologi Sumatera (Lampung) Universitas Brawijaya (Jawa Timur), Universitas Palangka Raya (Kalimantan Tengah), dan Universitas Halu Oleo (Sulawesi Tenggara) guna memproduksi pengetahuan ekosistem perumahan sesuai konteks lokal sehingga kebijakan perumahan tidak selalu bias kota oleh konteks metropolitan seperti Jakarta. RECEHPOL saat ini sedang menyusun gagasan untuk menyediakan Rusunawa bagi generasi muda dengan memanfaatkan ruang di atas fasilitas publik milik Pemda, seperti yang ada di Pasar Rumput. Hal ini juga memunculkan tantangan baru terkait kelembagaan, seperti siapa yang akan mengelola fasilitas tersebut setelah desain selesai?Salah satu kegiatan menarik RECEHPOL adalah program WOLESS (Water On Land: The Ecology of the Sinking Settlements). Program ini menyikapi bantuan di pemukiman pesisir. Joko Adianto mencatat, peraturan konstruksi di darat menjadi tidak relevan ketika diterapkan di kawasan pesisir, termasuk soal material, infrastruktur, hingga septic tank.Fenomena ini bahkan memunculkan inovasi seperti rumah kapal yang dirancang oleh rekan dari BRIN, yang akan dihibahkan di dekat sebuah sungai di Kalimantan. Namun, fenomena ini menimbulkan kebingungan otoritas setempat: apakah ini diklasifikasikan sebagai rumah, yang seyogyanya berada di darat dengan standar bangunan pada lazimnya, atau kapal yang seyogyanya bersandar di pelabuhan?“Dengan adanya fenomena baru, kita harus mulai mempelajari kembali cara bertinggal nenek moyang kita sebagai pelaut,” ujarnya, menggarisbawahi bahwa adaptasi berbasis sejarah maritim perlu dipertimbangkan dalam kebijakan baru.RECEHPOL juga berupaya mencakup isu adaptasi sosial baru akibat disrupsi ekonomi dan pekerjaan remote seperti Work From Anywhere (WFA). Joko Adianto sempat menjumpai fenomena keluarga yang memilih tinggal di mobil setelah kehilangan pekerjaan saat pandemi COVID-19 dan menjual rumah mereka.Meskipun mereka tidak tergolong miEDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 87


skin, mereka tidak dapat mengakses KPR karena tidak memiliki slip gaji yang tetap. Kelompok sosial ini hidup berpindah-pindah, sering numpang tidur di rest areayang menyediakan fasilitas listrik dan toilet. Fenomena ini menunjukkan adanya segmen masyarakat yang membutuhkan solusi bermukim baru yang fleksibel dan tidak terikat pada kepemilikan formal, menantang definisi tradisional tentang rumah dan akses perbankan.Kegiatan terkini RECEHPOL melibatkan pengerjaan desain ulang rumah sosial milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Jakarta Timur. Tantangannya adalah rumah sosial tersebut mengalami over capacitykarena harus mengakomodasi lansia yang ditelantarkan dari provinsi lain. Di sini, arsitektur harus berperan dalam mendesain rumah lansia yang sesuai dengan isu sosial dan kebutuhan penghuni, mengingat dinas sosial yang mengelolanya seringkali memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai konstruksi.RECEHPOL juga berupaya melakukan intervensi kesehatan di daerah padat. Mereka mencoba menggagas intervensi di Kecamatan Senen yang memiliki indikasi kasus TBC tinggi. Gagasan yang diusulkan adalah Konsolidasi Tanah Vertikal dengan membangun fasilitas empat lantai sebagai tempat isolasi sementara, menghubungkan isu kesehatan masyarakat dengan solusi desain arsitektur.MENGUJI KRITERIA GREEN BUILDING UNTUK MBRSelain intervensi kebijakan dan desain sosial, RECEHPOL juga terlibat dalam pengembangan alat ukur Green Buildingyang lebih universal dan terjangkau. Bekerja sama dengan tesis mahasiswa bimbingan Joko Adianto dan Lita Sari Barus, RECEHPOL berusaha mengembangkan kriteria universal untuk mengukur bangunan hijau.Poin-poin utama alat ukur ini mencakup kinerja bangunan, lingkungan, ketersediaan transportasi publik (seperti shuttle atau jalur pedestrian), serta aspek bluescape(pengelolaan air bersih dan limbah).Tantangan terbesar dalam penerapan bangunan hijau adalah biaya sertifikasi yang mahal. Joko Adianto menyoroti bahwa biaya memperoleh sertifikasi tentunya sangat memberatkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. “Jangan-jangan biaya sertifikasinya bisa mahal,” katanya.Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk menciptakan sistem pengakuan green building yang lebih inklusif dan tidak membutuhkan dana besar, sehingga praktik konstruksi berkelanjutan bisa diterapkan secara massal di sektor perumahan rakyat.Melalui pendekatan interdisipliner, RECEHPOL terus berusaha memposisikan diri sebagai pusat studi yang berfokus pada solusi kebijakan untuk perumahan pemukiman. Dengan afiliasi di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, RECEHPOL terus berupaya menyumbangkan buah pikir beragam isu perumahan dan permukiman melalui kolaborasi akademisi, pemerintah, badan usaha, praktisi, dan masyarakat. Semangat RECEHPOL kini terwujud dalam Program Peminatan Perumahan dan Permukiman di bawah Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia. Dengan slogan “Housing, Unlearned!” program yang berdiri di tahun 2025 dan dibuka setiap semester, menawarkan ruang nalar kritis untuk membongkar dan menyusun kembali pengetahuan perumahan dan permukiman agar relevan menjawab isu-isu terkini, di tengah dinamika sosio-ekonomi dan politik global dan nasional, juga perubahan iklim dan lingkungan yang tidak terprediksi. Percakapan ini juga terekam dalam acara podcast SOK TAHU! (Seeds of Knowledge: Talks on Housing Unlearned!) bersama para pakar mengupas topik-topik ekosistem perumahan terkini di Indonesia secara kritis.Ini adalah langkah maju untuk secara kolaboratif menemukenali dan menyumbangkan gagasan solusi untuk masalah ekosistem perumahan. Masa depan perumahan rakyat Indonesia terletak pada sinergi kebijakan yang adaptif dan desain yang responsif terhadap kondisi sosial-ekonomi yang terus berubah. “RECEHPOL secara kolaboratif berusaha untuk mempercakapkan isu-isu terkini untuk memenuhi hak dasar warganegara akan rumah layak huni dan keamanan bermukim,” tutup Joko. (*)PROFILE88 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


PARTNERS5fl-fl /Gfi1ff5flAfl6.-flCfl2GPT.17fl52Ffl1,fi5fl1,fi/fl7fl1OSROQ-21fiJNPOKURUNTVQNflBJNPOKURUNQSPV37'HOWD6\\VWHFK,QGRQHVLDº»ÂÊ·ƔºÉ¿º»ÂÊ·ƖÉÏÉÊ»¹¾Ɣ¹ÅƔ¿ºSAFER. STRONGER. SMARTER.7GERJSVQSVIMRJS


PRODUCTSAAT PABRIK BETON APB BICARA LINGKUNGANKISAH HIJAU DARI MARGOREJOPagi itu, sinar matahari menembus lembut kawasan industri Margorejo, Jawa Tengah. Di balik deretan mesin produksi dan hamparan material konstruksi, berdiri kokoh sebuah pabrik yang tengah menjadi sorotan nasional yakni Plant Precast Beton milik PT Adhi Persada Beton (APB/ADHI Beton). Suasana terasa berbeda ketika Tim Konstruksi Media melakukan site visit melangkah masuk. Bukan sekadar pabrik beton biasa, fasilitas ini baru saja mengukir prestasi dengan meraih Penghargaan Industri Hijau 2025 dari Kementerian Perindustrian.Sejak pertama kali memasuki area pabrik, aroma khas material konstruksi seakan tersamarkan oleh tata kelola lingkungan hijau yang rapi. Jalan-jalan dalam kawasan pabrik bersih, area produksi tertata, dan sistem penyiraman otomatis bekerja mencegah debu beterbangan yang mengganggu kenyamanan. Gambaran ini jauh dari kesan “kumuh” yang kerap melekat pada industri beton.Plant Pabrik Margorejo menjadi bukti nyata bahwa industri konstruksi dapat bertransformasi menuju keberlanjutan. Di tengah anggapan bahwa produksi beton identik dengan polusi debu, air limbah, dan residu material, APB justru membalikkan stigma tersebut menjadi lingkungan hijau yang asri. Pabrik ini didesain dengan sistem pengelolaan lingkungan yang ketat, mulai dari pemanfaatan kembali air limbah produksi, pengendalian emisi, hingga penerapan prinsip sirkular ekonomi dalam penggunaan material.Dalam kunjungan tim Majalah Konstruksi Media ke pabrik beton precast milik APB yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta tersebut disambut hangat oleh Kepala Pabrik Margorejo Priyono beserta jajaran.Sebeluxm berbincang, tim Majalah Konstruksi Media diajak menyusuri jalur produksi, terlihat bagaimana teknologi modern tertata rapi dengan penerapan secara terintegrasi. “Alur pencampuran bahan baku beton berlangsung dalam sistem tertutup, sehingga meminimalkan pencemaran udara. Bahkan, residu dari proses produksi dimanfaatkan ulang sebagai agregat alternatif,” ungkap Priyono di Pabrik Margorejo, Yogyakarta, pertengahan September lalu.Priyono menyampaikan bahwa pihaknya ingin membuktikan bahwa industri beton juga bisa hijau. “Kami ingin membuktikan bahwa industri beton juga bisa asri dengan konsep lingkungan hijau, efisien, sekaligus memiliki daya saing” terangnya.Lingkungan hijau terletak salah satu sudut pabrik, dengan pepohonan yang ditanam di sekeliling pabrik tersusun rapi dengan gemercik air dari kolam ikan koi turut menambah kesan asri. ADHI Beton sadar bahwa keberlanjutan bukan hanya soal teknologi, melainkan juga tentang menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan ramah bagi karyawan dan masyarakat sekitar.90 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


PRODUCT Bukan sekadar pabrik beton biasa, tata Kelola penghijauan dalam pabrik ini baru saja menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Penghargaan Industri Hijau 2025 dari Kementerian Perindustrian RI. Penghargaan ini menjadi bukti pengakuan atas konsistensi ADHI Beton dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar konstruksi dan kepedulian lingkungan. “Industri hijau bukan pilihan, melainkan keharusan. Kami mengapresiasi komitmen Adhi Persada Beton yang berhasil membuktikan praktik ini di lapangan,” ungkapnya bangga.Bagi ADHI Beton, pencapaian ini bukan sekadar penghargaan, melainkan tantangan untuk terus berinovasi. Salah satunya melalui pengembangan beton ramah lingkungan dengan formula khusus yang lebih hemat energi dalam proses produksinya. Beton jenis ini tengah dipersiapkan untuk mendukung berbagai proyek strategis nasional, sekaligus memberi nilai tambah pada pembangunan berkelanjutan di Indonesia.Kunjungan ke Plant Margorejo juga menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana perusahaan mampu menyeimbangkan kecepatan produksi, kualitas material, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. PT Adhi Persada Beton membuktikan bahwa efisiensi biaya tidak harus mengorbankan aspek keberlanjutan.Lebih dari sekadar kunjungan, kegiatan site visit ini menghadirkan inspirasi bahwa masa depan industri konstruksi Indonesia tidak lagi bisa berorientasi pada kuantitas semata. Kecepatan dan harga bersaing memang penting, namun tidak kalah penting komitmen mengenai hasil Pembangunan yang tidak merusak lingkungan untuk generasi mendatang.Plant Margorejo menjadi simbol paradigma baru, industri yang tangguh sekaligus peduli, efisien namun ramah lingkungan. Dari pabrik beton di jantung Jawa Tengah inilah, muncul harapan bahwa Indonesia bisa menjadi pelopor industri hijau di kawasan Asia Tenggara.MENUJU PABRIK HIJAU BERBASIS DATA: MUTU, INOVASI JADI KOMITMEN TEKNIK NAFAS APB Di tengah ketatnya persaingan industri beton pracetak, pabrik Margorejo PT Adhi Beton Precast (APB) di Yogyakarta menegaskan diri sebagai salah satu pabrik hijau dengan performa terbaik di Indonesia. Di balik kesuksesan itu, ada strategi sederhana namun fundamental: menjaga mutu, mengedepankan inovasi, dan Kerjaharushappy, dengan happy ide keluar sehinggaberbuahinovasiPriyonoEDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 91


memperkuat komitmen layanan teknik.Plant Margorejo kini sepenuhnya mengadopsi sistem digital berbasis data. Semua proses dari input material, komposisi campuran, hingga hasil akhir, terintegrasi dalam perangkat lunak pemantau yang memungkinkan pengendalian kualitas secara presisi. “Dengan digitalisasi ini, waste bisa ditekan, akurasi meningkat, dan efisiensi energi tercapai,” tambahnya.Bagi Priyono, transformasi hijau hanyalah satu sisi dari misi besar Margorejo. Sisi lainnya adalah mutu dan inovasi teknik, dua hal yang ia sebut sebagai “napas” pabrik. “Kuncinya ada di mutu. Di kami, kualitas itu bukan slogan, tapi budaya kerja yang kami jaga setiap hari,” tegasnya.Di bawah kepemimpinannya, Margorejo tumbuh menjadi pabrik pracetak dengan performa terbaik di internal APB. Dengan bangga dua kali berturut-turut, pabrik ini meraih predikat Best Performance Plantdalam ajang High Achievement Competition (HAC). Tidak hanya kinerja produksi, tetapi juga karena kedisiplinan menjaga lingkungan kerja dan efisiensi.Pabrik Margorejo berdiri di atas lahan luas dengan kapasitas produksi hingga Rp50 miliar per bulan, memasok berbagai proyek strategis nasional, termasuk Tol Jogja–Bawen, Semarang–Demak, Probowangi, hingga proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN).Ia menyebut hal-hal kecil seperti bubble di permukaan beton sebagai tantangan mutu. “Bubble itu sulit dihindari, tapi bisa dikendalikan. Di situlah letak keunggulan kami,” katanya. “Produk APB Margorejo harus punya ciri khas. Orang yang melihat tahu bahwa ini produk kami karena permukaannya rapi, halus, nyaris tanpa belang,” ujar Priyono.Tidak hanya menjual beton, tim Margorejo juga membangun reputasi lewat pelayanan teknik (engineering service). “Kami tidak sekadar menerima desain lalu memproduksi. Kami ikut mengawal sejak awal dari perhitungan, desain, sampai produk terpasang di lapangan,” tutur Priyono.Pendekatan aktif ini membuat Margorejo dipercaya oleh banyak kontraktor besar. Bahkan, timnya kerap dilibatkan dalam presentasi desain bersama pemilik proyek dan konsultan. “Kami bantu hitung ulang, pastikan spesifikasi tepat. Itu tanggung jawab moral kami,” tambahnya.INOVASI CUTTING OPTIMIZED: DARI FLY ASH HINGGA EKOLABEL DAN SERATUS PERSEN MATERIAL LOKALSalah satu inovasi unggulan Margorejo adalah sistem cutting optimized, PRODUCT92 | EDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR www.konstruksimedia.com


perangkat lunak untuk mengurangi limbah besi pada proses pemotongan. “Biasanya waste material di industri precast itu sekitar 3%. Dengan sistem ini kami tekan hingga 1–1,5%,” jelas Priyono.Potongan besi sisa bahkan dimanfaatkan untuk elemen lain seperti tendon atau penguat pendek. Efisiensi kecil itu berdampak besar pada profitabilitas sekaligus memperkuat komitmen hijau. “Kalau dikalikan ribuan batang besi, angka 1% itu luar biasa,” ujarnya bangga.Selain itu, terobosan penting Pabrik Margorejo adalah penggunaan fly ash, limbah pembakaran batu bara yang kini menjadi bahan substitusi beton ramah lingkungan. “Dulu fly ash dianggap musuh. Sekarang justru jadi teman sejati,” ungkap Priyono.Hasil riset tim menunjukkan bahwa penggunaan fly ash hingga 40% mampu menurunkan suhu beton sebesar 1°C, sesuai standar fast concrete. “Kami trial berkali-kali sampai hasilnya stabil,” ujarnya.Penerapan inovasi berkelanjutan ini membawa Margorejo selangkah lebih dekat menuju sertifikasi Ekolabel, yang akan menjadikan APB sebagai salah satu pelopor industri beton hijau di Indonesia.Dalam hal pasokan bahan baku, Margorejo berkomitmen penuh menggunakan material lokal. “Seratus persen bahan baku kami ambil dari sekitar sini yakni Surumbung, Kulonprogo, Magelang. Semua lokal,” kata Priyono, agar dengan keberadaan pabrik kami perekonomian di sekitar pabrik akan meningkat.Langkah ini bukan hanya memperkuat ekonomi daerah, tetapi juga mengurangi jejak karbon transportasi, sekaligus memastikan rantai pasok tetap efisien dan berkelanjutan.VISI KE DEPAN: DARI MARGOREJO UNTUK INDONESIAMeski selama ini fokus pada proyekproyek pemerintah, APB Margorejo mulai membidik sektor swasta. “Ke depan kami ingin lebih agresif masuk proyek swasta. Kualitas produk dan layanan teknik adalah modal utama kami,” ujar Priyono.Keunggulan mereka tidak hanya pada kekuatan struktur, tetapi juga ketepatan waktu dan fleksibilitas desain. “Kami punya nilai tambah di engineering service. Itu yang membuat kami berbeda,” tambahnya.Salah satu kunci kesuksesan Margorejo adalah budaya kerja dengan melakukan evaluasi yang terbuka. “Setiap ada tamu dari kontraktor, vendor, atau konsultan, saya minta testimoni. Kritik kami catat dan tindak lanjuti,” ujarnya.Keterbukaan ini bahkan berbuah manissaat kunjungan Sumiden Jepang, yang kemudian mempercayakan proyek senilai Rp5 miliar kepada pabrik Margorejo.Kerapihan dan kebersihan menjadi identitas pabrik ini. “Lingkungan kerja yang rapi itu cerminan kualitas. Orang senang datang, pekerja nyaman, dan produk pun lebih baik,” ujar Priyono.Pabrik Margorejo terlihat asri dengan pepohonan di sekeliling area produksi. Semua limbah cair diolah hingga pH netral, sedangkan limbah padat dimanfaatkan untuk urukan atau dijadikan produk tambahan seperti barrier, roster, dan pumping block.Prestasi Margorejo yang gemilang tidak membuat timnya berpuas diri. “Saya selalu bilang ke staff, mempertahankan jauh lebih berat daripada mencapai. Jadi standar mutu harus terus meningkat,” kata Priyono.Setiap tahun, pabrik ini menjalani audit rutin dari Kementerian Perindustrian dan lembaga sertifikasi seperti TUV Nord untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan proses.Menutup perbincangan, Priyono menegaskan bahwa pabrik Margorejo tidak ingin berhenti di zona nyaman. “Kami ingin dikenal bukan hanya karena produk kami, tapi karena ide dan inovasi kami,” ujarnya.Baginya, masa depan industri konstruksi bukan lagi soal siapa yang besar, melainkan siapa yang paling adaptif dan berinovasi. “Kami akan terus berlari. Karena kami tahu, masa depan industri ini milik mereka yang mau berproses,” pungkasnya. (*)PRODUCT EDISI XVIIIwww.konstruksimedia.com NOVDMADRӥCDSDMADR | 93


PRODUCTDi tengah pesatnya pembangunan infrastruktur nasional, kebutuhan akan material konstruksi yang tangguh dan berdaya tahan tinggi semakin mendesak. Salah satu material penting yang kini menjadi tulang punggung berbagai proyek besar adalah sheet pile alias lembaran baja berprofil khusus yang dirancang untuk menahan tekanan tanah dan mencegah aliran air. Sebagai pemain global di industri fondasi dan infrastruktur, PT Mlion Internasional Indonesia tidak hanya menjual material, tetapi membangun kepercayaan. Filosofi inilah yang menjadi dasar langkah perusahaan dalam setiap proyek yang digarap. Bagi MLion, kepuasan klien bukan hanya diukur dari pengiriman tepat waktu atau spesifikasi teknis yang presisi, melainkan juga dari kemitraan jangka panjang yang dilandasi integritas dan tanggung jawab. “Masalah Anda adalah masalah kami, kami menyelesaikannya bersama,” ujar Country Manager Mlion Corporation, Ong Song Yi saat membuka perbincangan dengan Majalah Konstruksi Media di bilangan Cawang, Jakarta, seklaigus menegaskan etos kerja perusahaan yang menempatkan relasi sebagai fondasi utama kesuksesan bisnisnya.Kepercayaan itu tumbuh melalui konsistensi dan komitmen Mlion menghadirkan produk unggulan seperti MHZ24 Sheet Pile, yang telah terbukti tangguh di berbagai proyek strategis nasional, termasuk proyek Jetty di Muara Pahu. Jetty tersebut diperuntukan untuk memuat Batubara dari darat ke tongkang yang membutuhkan struktur penahan dinding tanah yang kuat dan efisien. Dalam penggunaan Sheet PileMHZ ini, risiko longsor dan rembesan air dapat diminimalkan, sekaligus memastikan keberlanjutan infrastruktur bawah tanah yang aman dan efisien. Material ini dirancang dengan presisi tinggi untuk menahan tekanan tanah, mencegah rembesan air, menjaga stabilitas konstruksi sekaligus memperpanjang umur infrastruktur. Melalui pendekatan menyeluruh, mulai dari desain, perhituMLIONINTERNASIONALINDONESIAMENYULAM KEPERCAYAAN, MERAWATREPUTASI94 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


PRODUCTngan teknis, hingga dukungan purna jual, Mlion berhasil merawat reputasinya sebagai mitra yang bukan sekadar memasok, tetapi juga menyulam kepercayaan di setiap lapisan tanah tempat fondasi bangsa ditegakkan. Dengan reputasi internasional dan standar kualitas tinggi, Mlion hadir membawa solusi inovatif bagi stabilitas dan keselamatan konstruksi di berbagai sektor.Lebih dari sekadar penyedia material, Mlion juga menghadirkan dukungan teknis dan desain melalui tim engineering profesionalnya. Pendekatan ini memungkinkan setiap proyek memperoleh solusi yang optimal sesuai dengan kondisi tanah dan kebutuhan lapangan. “Kami tidak hanya menjual produk, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa konsultasi dan perhitungan teknis. Dengan cara ini, kami membantu kontraktor dan pemilik proyek mencapai efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas maupun keselamatan,” tutur Ong Song Yi.Komitmen Mlion terhadap kualitas dan inovasi menjadikannya mitra terpercaya di berbagai proyek penting di Indonesia. Dengan produk andalan seperti MHZ820 Sheet Pile yang terbukti lebih ringan, kuat, dan ramah lingkungan. Untuk itu, perusahaan terus memperkuat perannya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Mlion berambisi memperluas kontribusinya tidak hanya sebagai pemasok material, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pembangunan nasional yang berorientasi pada efisiensi, keamanan, dan masa depan hijau Indonesia.MENYULAP MASALAH, MENJADI SOLUSIMeski ketatnya persaingan penyedia material konstruksi, Mlion Indonesia tampil dengan pendekatan yang berbeda. Ong Song Yi mengatakan, perusahaan tidak memposisikan diri sekadar sebagai pemasok barang, melainkan sebagai mitra solusi yang memahami kebutuhan teknis setiap proyek secara mendalam. Filosofi ini menjadi pembeda utama yang membuat Mlion dipercaya menangani proyek-proyek dengan kompleksitas tinggi di berbagai sektor. Alih-alih langsung menawarkan produk, tim Mlion memulai setiap kerja sama dengan proses konsultasi teknik yang komprehensif. Mereka menelaah akar persoalan di lapangan, merancang opsi penyelesaian yang paling tepat, dan mempertimbangkan faktor keselamatan serta efisiensi biaya. Pendekatan berbasis analisis ini memastikan bahwa setiap solusi yang ditawarkan bukan hanya fungsional, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.“Kalau pelanggan mau sesuatu yang berbeda, kami memberikan solusi desain. Kami benar-benar mendengarkan apa masalah mereka. Kami menawarkan solusi yang dirancang khusus untuk setiap kebutuhan proyek, dengan memahami persoalan teknis di lapangan dan merancang pendekatan yang paling efisien serta aman,” ujar Ong Song Yi, menegaskan komitmen perusahaan terhadap pelayanan yang adaptif dan berbasis kebutuhan nyata klien.“Kami mulai dari kecil [sulit mendapat pertemuan atau proyek] tapi perlahan kami tumbuh karena pendekatan yang berbeda yakni mendengar dan memberi solusi [kepada klien],” jelasnya.Dengan filosofi tersebut, Mlion mampu menjangkau berbagai skala proyek, mulai dari pembangunan lokal hingga proyek nasional berskala besar, tanpa kehilangan ketepatan solusi. Fleksibilitas menjadi kekuatan utama perusahaan dalam merespons kebutuhan pasar konstruksi yang semakin dinamis dan penuh tantangan.Pendekatan konsultatif ini juga mencerminkan orientasi jangka panjang Mlion dalam membangun kepercayaan, bukan sekadar transaksi. Dalam industri yang sering kali berfokus pada harga dan volume, Mlion memilih jalur berbeda yakni membangun hubungan kemitraan yang didasarkan pada pemahaman teknis, integritas, dan nilai tambah nyata bagi setiap pelanggan.www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR | 95


PRODUK UNGGULAN YANG LAHIR DARI SOLUSIDalam dunia konstruksi, sheet pile menempati posisi vital sebagai elemen penahan tanah dan struktur tepi air yang menjaga kestabilan proyek. Namun, seiring meningkatnya tuntutan efisiensi dan keselamatan, kebutuhan terhadap desain yang lebih canggih dan ekonomis semakin mendesak. Di titik inilah Mlion Indonesia mengambil peran penting, memperkenalkan seri sheet pile MHZ yang berevolusi menjadi MHZ-820 dan MHZ-24, hasil inovasi teknis yang membawa angin segar bagi industri.Meski sheet pile bukanlah teknologi baru, pendekatan Mlion terhadap pengembangannya menghadirkan standar baru dalam performa dan efisiensi. Seri MHZ lahir dari riset mendalam dan pengalaman panjang di lapangan, menjawab tantangan klasik yang dihadapi para kontraktor, bobot berat, waktu pemasangan yang lama, serta tingginya biaya logistik dan sambungan. Melalui penyempurnaan desain, Mlion berhasil menghadirkan solusi yang lebih ringan, cepat dipasang, dan tetap kuat secara struktural.Keunggulan utama dari MHZ dan generasi penerusnya, MHZ-820 serta MHZ-24, terletak pada efisiensi total yang ditawarkan. Desain barunya mampu mengurangi berat unit secara signifikan tanpa mengorbankan daya dukung, sehingga biaya transportasi berkurang. Bagi proyek berskala besar yang memerlukan volumematerial tinggi, penghematan ini menjadi faktor penentu yang berdampak langsung pada total cost of ownership.Selain bobot yang lebih ringan, pengurangan jumlah sambungan (joint) menjadi salah satu terobosan teknis yang berharga. Dengan lebih sedikit titik sambungan, waktu instalasi berkurang drastis dan potensi kebocoran struktur dapat diminimalkan. Efisiensi ini bukan hanya menghemat waktu, tetapi juga menurunkan risiko kesalahan pemasangan di lapangan sesuatu yang sering menjadi momok dalam proyek dengan jadwal padat.Efek domino dari efisiensi tersebut terasa nyata pada pengerjaan proyek di area tepi air dan struktur penahan tanah. Seri MHZ-820 dan MHZ-24 mampu mempercepat proses konstruksi dengan presisi tinggi, menjadikan pekerjaan yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu dapat diselesaikan dalam hitungan hari. Dalam konteks proyek infrastruktur nasional, efisiensi seperti ini adalah keuntungan strategis yang tak ternilai. Mlion menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar perubahan bentuk fisik, melainkan hasil perhitungan teknis yang ketat. Dia menambahkan, setiap pengembangan dilakukan dengan mempertimbangkan beban desain, tekanan tanah, hingga gaya lateral yang bekerja di lapangan. Dengan demikian, produk yang dihasilkan bukan hanya efisien, tetapi juga aman dan andal untuk digunakan dalam berbagai kondisi tanah dan lingkungan.Pendekatan ilmiah tersebut menjadi cerminan filosofi Mlion, “setiap produk lahir dari kebutuhan nyata, bukan dari tren pasar semata”. Tim teknik Mlion terlibat langsung dalam tahap perancangan dan pengujian, memastikan setiap varian memenuhi standar global dan dapat diimplementasikan secara efektif di proyek-proyek Indonesia yang memiliki karakteristik geografis unik.Lebih jauh, inovasi pada seri MHZ juga memperkuat posisi Mlion sebagai pionir dalam efisiensi desain struktural. Dengan memadukan prinsip rekayasa presisi dan praktik berkelanjutan, perusahaan ini tidak hanya menjual material, tetapi juga menawarkan nilai tambah berupa keandalan dan produktivitas tinggi di lapangan. Pendekatan ini menegaskan komitmen Mlion untuk menjadi mitra solusi, bukan sekadar pemasok. Keberhasilan pengembangan MHZ-820 dan MHZ-24 juga memperlihatkan sinergi antara pengalaman lapangan dan kecerdasan rekayasa. Mlion memahami bahwa setiap proyek memiliki konteks unik dari karakteristik PRODUCT96 | www.konstruksimedia.comEDISI XVIIINOVDMADRӥCDSDMADR


Click to View FlipBook Version