The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Portofolio dan Jurnal Belajar Biologi
Callista Fransisca Tulus
XI IPA 1

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by callistafransisca.tulus, 2021-06-14 04:19:59

Portofolio Biologi (Callista Fransisca Tulus XI IPA 1)

Portofolio dan Jurnal Belajar Biologi
Callista Fransisca Tulus
XI IPA 1

Jurnal Belajar 4
Pada hari ini Selasa tanggal 27 April 2021, kami kembali melaksanakan pembelajaran
Biologi melalui Google Meet. Kegiatan pembelajaran kali ini diawali dengan berdoa yang di
pimpin oleh Ilhan. Hari ini kami telah membahas tentang hidung, lidah, dan mata.

96

Jurnal Belajar 5
Pada hari ini Kamis tanggal 29 April 2021, kami kembali melaksanakan pembelajaran
Biologi melalui Google Meet. Dan kali ini kami melanjutkan materi telinga dan kulit, kemudian
Bu Puspa memberi kesempatan kepada kami untuk berbicara mengenai materi tersebut dan
cleonny menjelaskan mengenai mekanisme pendengaran, setelah itu Bu Puspa menambahkan
untuk memperjelas.

97

B. Tugas-Tugas

ANALISIS TERHADAP STRUKTUR, FUNGSI, DAN PENGELOMPOKKAN SEL
SARAF, SISTEM SARAF PUSAT, DAN SISTEM SARAF TEPI
Callista Fransisca Tulus XI IPA 1

Sistem saraf adalah sistem organ yang paling rumit, tersusun dari jutaan sel-sel saraf
(neuron) yang berbentuk serabut dan saling terhubung untuk persepsi sensor, aktivitas motor
sadar maupun tidak sadar, homeostatis proses fisiologis tubuh, serta perkembangan pikiran dan
ingatan.

A. Neuron (Sel Saraf)

a) Neuron merupakan unit fungsional sistem saraf, berukuran panjang sekitar 39
inci, serta terdiri atas bagian badan sel, dendrit, dan akson (neurit).
 Badan sel (perikarion), berfungsi mengendalikan 98acula98e9898
keseluruhan neuron. Badan sel memiliki nukelus (inti) di tengah dan nucleolus
yang menonjol. Nukleus tidak memiliki sentriol dan tidak dapat bereplikasi.
Organel lain pada badan sel adalah Golgi, mitokondria, dan neurofibril.
 Dendrit merupakan juluran sitoplasma yang 98acula98e pendek, bercabang-
cabang, dan berfungsi untuk menerima impuls (sinyal) dari sel lain untuk
dikirimkan ke badan sel.

98

 Akson merupakan juluran sitoplasma yang panjang (berkisar 1 mm – 1 m)
atau cabang tunggal berbentuk silindris yang berasal dari badan sel. Ujung
akson bercabang-cabang seperti ranting, berfungsi untuk mengirimkan impuls
ke neuron lainnya. Akson dibungkus selubung 99acula. Bagian akson tanpa
99acula disebut nodus Ranvier untuk mempercepat jalannya impuls. Mielin
ditutupi oleh selubung Schwann (neurilema). Akson berasal bagian hillock
akson (bukit akson) dari badan sel, yaitu bagian yang tidak mengandung
badan Nissl.

Neuron tidak dapat membelah secara mitosis, tetapi serabutnya dapat
beregenerasi jika badan selnya masih utuh. Jika akson mengalami kerusakan
berat, neurilema (lapisan sel-sel Schwann) melakukan pembelahan mitosis untuk
menurutp luka.

b) Neuron berdasarkan fungsi:
 Neuron sensor (aferen), berfungsi menghantarkan impuls dari organ
sensor ke pusat saraf (otak atau sumsum tulang belakang).
 Neuron motor (eferen), berfungsi menghantarkan impuls dari saraf pusat
ke organ motor atau kelenjar.
 Neuron konektor, berfungsi menghubungkan neuron yang satu dengan
neuron lainnya.

c) Neuron berdasarkan strukturnya (juluran sitoplasma):
 Neuron multipolar, memiliki satu akson dan dua dendrit atau lebih.
 Neuron bipolar, memiliki dua juluran berupa dendrit dan akson.
 Neuron unipolar, merupakan neuron bipolar yang tampak hanya
memiliki satu juluran dari badan sel karena akson dan dendritnya berfusi.

B. Sistem Saraf Pusat (SSP)
Sistem saraf pusat meliputi otak (serebral) dan sumsum tulang belakang (99acula99
spinalis). Keduanya dilapisi jaringan ikat yang disebut meninges, yang terdiri atas:
 Pia meter, lapisan paling dalam dan mengandung pembuluh darah.
 Araknoid, lapisan tengah dan mengandung sedikit pembuluh darah.
 Dura meter, lapisan terluar yang terdiri atas dua lapisan. Lapisan terluar melekat
pada 99acula99.

Otak dan 99acula99 spinalis memiliki substansi abu-abu (bagian luar) dan substansi
putih (bagian dalam).

 Substansi abu-abu, membentuk bagian luar (korteks) otak dan bagian dalam
medulla spinalis.

99

 Substansi putih, membentuk bagian dalam otak dan bagian luar medulla
spinalis.

1. Otak

Tersusun dari 100 milyar neuron yang terhubung oleh sinapsis membentuk anyaman
kompleks.
Bagian-bagian otak:

1) Serebrum (otak besar), mengisi bagian depan dan atas rongga tengkorak.
Bagian terluarnya disebut korteks serebral, dan bagian dalamnya disebut
nukleus (ganglia) basal. Area fungsional korteks serebral:
(a). Area motor primer, mengendalikan kemampuan bicara.
(b).Area sensor korteks, meliputi area sensor, area visual, area auditori,
area alfaktori, dan area pengecap.
(c). Area asosiasi, meliputi area frontal (pusat intelektual dan fisik), area
100acula100 (pusat interpretasi), area visual, dan area wicara
Wernicke.
Nukleus basal merupakan pusat koordinasi motor.

2) Diensefalon, terletak di antara serebrum dan otak tengah. Terdiri atas:
 Talamus, berfungsi menerima dan meneruskan impuls ke korteks
otak besar, serta berperan dalam sistem kesadaran dan 100acula100
motor.
100

 Hipotalamus, berfungsi mengendalikan sistem saraf otonom, pusat
pengaturan emosi, dan memengaruhi sistem endokrin.

 Epitalamus, berperan dalam dorongan emosi.

3) Sistem 101acula, yaitu cincin struktur otak depan yang mengelilingi otak dan
berfungsi dalam pengaturan emosi, mempertahankan kelangsungan hidup,
pola perilaku sosioseksual, motivasi, dan belajar.

4) Mesensefalon (otak tengah), menghubungkan pons dan serebelum (otak
kecil) dengan otak besar, berfungsi sebagai jalur penghantar dan pusat

101acula, serta meneruskan informasi penglihatan dan pendengaran.

5) Pons Varolii (jembatan varol), mengatur frekuensi dan kekuatan bernapas.

6) Serebelum (otak kecil), mempertahankan keseimbangan, 101acula101
gerakan mata, meningkatkan kontraksi otot, serta koordinasi gerakan sadar
yang berkaitan dengan keterampilan.

7) Medula oblongata, berfungsi dalam pengendalian ferkuensi denyut jantung,
tekanan darah, pernapasan, gerakan alat pencernaan makanan, menelan,
muntah, sekresi kelenjar pencernaan, dan mengatur gerak 101acula.

8) Formasi retikuler, berfungsi memicu dan mempertahankan kewaspadaan
serta kesadaran.

2. Medula Spinalis (Sumsum Tulang Belakang)
Medula spinalis berbentuk silinder langsing yang memanjang dari batang otak
medulla oblongata hingga ruas ke-2 tulang pinggang. Panjang medulla spinalis sekitar
45 cm dengan diameter 2 cm. Berfungsi mengendalikan aktivitas 101acula,
komunikasi antara otak dengan semua bagian tubuh, serta menghantarkan rangsangan
koordinasi antara otot dan sendi ke serebelum. Substansi abu-abu mengisi struktur
dalam dan substansi putih mengisi struktur bagian luar.

101

C. Sistem Saraf Tepi (SST)
1. Saraf Kranial, terdiri atas 12 pasang saraf. Sebagian besar tersusun dari serabut
sensori dan motor, tetapi beberapa saraf hanya tersusun dari serabut sensori.
Berikut adalah tabel dari nama yang disusun dengan angka romawi beserta
fungsinya.

No Nama saraf kranial Fungsi

1 Saraf olfaktori (CN I) Indra penciuman

2 Saraf optik (CN II) Indra penglihatan

3 Saraf okulomotor (CN III) Impuls dari dan ke otot mata

4 Saraf troklear (CN IV) Impuls dari dan ke otot sadar mata

5 Saraf trigeminal (CN V) Impuls otot mastikasi, wajah, hidung, dan mulut

6 Saraf abdusen (CN VI) Impuls dari dan ke otot rektus lateral mata

7 Saraf fasial (CN VII) Impuls ekspresi wajah, lidah, kelenjar air mata dan saliva

8 Saraf vestibulokoklear (CN Impuls dari indra pendengaran
VIII)

9 Saraf glosofaring (CN IX) Impuls otot bicara, menelan, kelenjar liudah, rasa pada
lidah

10 Saraf vagus (CN X) Impuls organ pada toraks dan abdomen

11 Saraf aksesori spinal (CN XI) Impuls faring, laring, trapezius, dan sternokleidomastoid

12 Saraf hipoglosal (CN XII) Impuls dari dan ke otot lidah

102

2. Saraf Spinal
Terdiri atas 31 pasang saraf yang muncul dari segmen-segmen 103acula103
spinalis dan diberi nama sesuai nama ruas tulang belakang.

Berdasarkan arah impuls, SST dibagi menjadi divisi aferen (membawa informasi
dari reseptor ke SSP dan divisi eferen (membawa instruksi dari SSP ke organ
efektor.

 Divisi eferen: sistem saraf 103acula103 (neuron motor pada otot rangka)
dan sistem saraf otonom (neuron motor pada otot polos)

Berdasarkan fungsinya sistem saraf otonom dibagi menjadi dua yaitu sistem
saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis. Berikut adalah perbedaan saraf
simpatis dengan saraf parasimpatis.

Perbedaan Saraf Simpatis Saraf Parasimpatis

Asal serat saraf Berasal dari bagian toraks Berasal dari area kranium
dan lumbar medula spinalis (kepala) dan sakrum

Ukuran serat Pendek Panjang
praganglion Panjang Pendek

Ukuran serat
pascaganglion

103

Jenis Aaasetilkolin dan Asetilkolin
neurotransmiter noradrenalin Untuk keadaan tenang

efek Untuk aktivitas fisik berat

104

MENGANALISIS STRUKTUR, FUNGSI DAN PENGELOMPOKKAN HORMON
SEBAGAI SISTEM KOORDINASI PADA MANUSIA
Callista Fransisca Tulus XI IPA 1

Sistem Endokrin (Hormon)

Sistem endokrin adalah sekumpulan kelenjar dan organ yang memproduksi 105acula105, yaitu
senyawa 105acula105 pembawa pesan kimiawi di dalam aliran darah menuju sel atau jaringan
tubuh.
Sistem endokrin berinteraksi dengan sistem saraf berfungsi mengatur aktivitas tubuh seperti
105acula105e105105, homeostasis, pertumbuhan, perkembangan seksual dan siklus reproduksi,
siklus tidur, serta siklus nutrisi.

A. Karakteristik Kelenjar Endokrin
Kelenjar endokrin memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut.
 Merupakan kelenjar buntu, karena tidak memiliki saluran dan menyekresikan
105acula105 langsung ke dalam cairan di sekitar sel.
 Menyekresi lebih dari satu jenis 105acula105, kecuali kelenjar paratiroid.
 Memiliki sejumlah sel sekretori yang dikelilingi banyak pembuluh darah dan
ditopang oleh jaringan ikat.
 Masa aktif kelenjar endokrin dalam menghasilkan 105acula105 berbeda-beda.
 Sekresi 105acula105 dapat distimulasi atau dihambat oleh kadar 105acula105
lainnya dan senyawa nonhormon dalam darah, serta impuls saraf.

B. Kelenjar Endokrin dan Sekresi Hormon
Kelenjar endokrin pada manusia meliputi hipofisis (105acula105e105), tiroid,
paratiroid, adrenal, pankreas, pineal, dan timus.

105

1. Hipofisis (Pituitari), organ berbentuk oval, melekat di bagian dasar hipotalamus

otak, sebesar kacang, dan memiliki berat 0,5 gram. Hipofisis terbagi menjadi tiga

bagian, yaitu lobus anterior, intermedia, dan posterior.

a. Hipofisis lobus anterior, menghasilkan hormone-hormon sebagai berikut.

1) Hormon pertumbuhan (growth hormone/GH): Mengendalikan

pertumbuhan sel, tulang, dan kartilago; mengatur laju sintesis

protein; serta mengatur pemakaian lemak.

2) Hormon perangsang tiroid (tirotropin, thyroid stimulating

hormone/TSH): meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan

kelenjar tiroid (gondok), laju produksi hormonnya (tiroksin), dan

106acula106e106106 sel.

3) Hormon adrenokortikotropik (adrenocorticotropic

hormone/ACTH): merangsang kelenjar korteks adrenal untuk

menyekresi glukokortikoid.

4) Hormon gonadotropin atau gonadotropik yang mengatur fungsi

gonad. Hormon ini terdiri atas:

Follicle Stimulating Hormone (FSH):
 menstimulasi pertumbuhan foliker ovarium dan

memproduksi 106acula106 estrogen (wanita); menstimulasi

pertumbuhan dan perkembangan spermatozoa (laki-laki)

Luteinizing Hormone (LH):
 bekerjasama dengan FSH menstimulasi produksi

106acula106e, berperan dalam ovulasi dan sekresi

106acula106e106106106e (wanita); menstimulasi produksi

106acula106e106106106e (laki-laki)

5) Hormon prolactin (PRL), dieksresikan pada saat hamil dan

menyusui.

106

b. Hipofisis lobus intermedia (tengah), menghasilkan Endorfin
mengilangkan nyeri alamiah, merespon 107acula, dan aktivitas seperti
olahraga dan melanocyte stimulating hormone (MSH) (merangsang
pembentukan pigmen dan penyebaran sel penghasilnya (melanosit) pada
epidermis.

c. Hipofisis lobus posterior, menghasilkan antidiuretic hormone (ADH)
menurunkan volume air yang hilang dalam urine dan Oksitosin
menstimulasi kontraksi otot polos saat melahirkan dan pengeluaran ASI
pada ibu menyusui.

2. Tiroid (kelenjar gondok), terdiri atas folikel-folikel dalam dua lobus lateral yang
terletak di bawah laring. Tiroid menghasilkan 107acula107 tiroksin meningkatkan
laju 107acula107e107107 sel, menstimulasi konsumsi oksigen, meningkatkan
pengeluaran 107acula panas, serta mengatur pertumbuhan dan perkembangan
normal tulang, gigi, jaringan ikat, dan saraf dan triiodotironin.

3. Paratiroid (kelenjar anak gondok), terdiri atas empat organ kecil berukuran
sebesar biji apel, terletak pada permukaan belakang tiroid. Menghasilkan
107acula107 parathormon (parathyroid Hormone/PTH) untuk mengendalikan
keseimbangan kalsium dan fosfat dalam tubuh melalui stimulasi aktivitas
osteoklas (sel penghancur tulang), aktivasi vitamin D, dan stimulasi reabsorpsi
kalsium dari tubulus ginjal.

4. Adrenal (suprarenalis/kelenjar anak ginjal), terletak di kutub atas ginjal,
berwarna kuning, dan tertanam pada jaringan 107acula107.

 Adrenal bagian 107acula107 menghasilkan Adrenalin (Epinefrin)
meningkatkan frekuensi jantung, 107acula107e107107, dan konsumsi
oksigen dan Noradrenalin (Norepinefrin), meningkatkan tekanan darah
dan menstimulasi otot jantung.

 Adrenal bagian korteks menghasilkan Aldosteron mengatur
keseimbangan air dan elektrolit, Glukokortikoid memengaruhi
107acula107e107107 glukosa, protein, lemak, dan menjaga 107acula107e
lisosom, dan Gonadokortikoid sebagai 107acula107e107 pengubahan
107acula107e107107107e dan estrogen oleh jaringan lain.

107

5. Pankreas, organ berbentuk pipih, terletak di bagian belakang bawah lambung.
Pankreas sebagai endokrin menghasilkan 108acula108 Glukagon meningkatkan
penguraian glikogen di hati menjadi glukosa, dan sintesis glukosa dari sumber
nonkarbohidrat, Insulin menurunkan katabolisme lemak dan protein, menurunkan
kadar gula darah, serta meningkatkan sintesis protein dan lemak, Somatostatin
penghalang 108acula108 pertumbuhan dan penghambat sekresi 108acula108e dan
insulin, dan Polipeptida pankreas fungsi belum diketahui.

6. Pineal (epifisis serebri), terletak di langit-langit otak, menghasilkan melatonin
yang berpengaruh pada pelepasan gonadotropin dan menghambat produksi
melanin.

7. Timus, terdiri atas dua lobus berwarna kemerah-merahan dan terletak di bagian
posterior toraks di atas jantung. Menghasilkan timosin untuk pengendalian
perkembangan sistem imun.

8. Ovarium, testis, dan plasenta, Ovarium menghasilkan estrogen dan
progesterone. Testis menghasilkan testosterone. Plasenta menghasilkan
gonadotropin korion, estrogen, 108acula108e108108108e, dan somatotropin.

C. Perbedaan Sistem Saraf dengan Sistem Endokrin
Sistem saraf dengan sistem endokrin memiliki perbedaan sebagai berikut.

No Aspek Sistem Hormon Sistem Saraf
Pembeda Lambat Cepat atau segera

1. Aksi

2. Respons Tidak langsung, Langsung, distribusi lebih
3. Pengaturan distribusi lebih luas sempit
4. Sekresi
Jangka panjang (misal Jangka pendek (misal
pertumbuhan) kontraksi otot jantung)

Hormon Neurotransmiter

108

5. Komunikasi Melalui sistem sirkulasi Antarneuron melalui sinapsis

109

MENGANALISIS STRUKTUR DAN FUNGSI KELIMA INDERA MANUSIA YANG
MENDUKUNG SISTEM KOORDINASI

Callista Fransisca Tulus XI IPA 1

Sistem Indra

A. Indra Penglihat (Mata)
Mata adalah sistem 110acul yang memfokuskan berkas cahaya pada fotoreseptor dan
mengubah 110acula cahaya menjadi impuls saraf. Bagian-bagian mata sebagai berikut :
1. Aksesori mata, meliputi : alis, orbita, kelopak mata, otot mata, dan air mata.
2. Struktur mata
a. Lapisan luar bola mata: tunika fibrosa, 110acula, dan kornea (untuk
mentransmisikan dan memfokuskan cahaya).
b. Lapisan tengah bola mata: koroid, badan siliari, iris (bagian yang
berwarna, mengendalikan diameter pupil), dan pupil (ruang terbuka yang
dilalui cahaya)
c. Lensa, struktur bikonveks yang bening.
d. Rongga mata, ruang anterior berisi aqueous humor (mengandung nutrisi
untuk lensa dan kornea) dan ruang posterior berisi vitreous humor
(mempertahankan bentuk bola mata dan posisi retina terhadap kornea).
e. Retina, lapisan paling dalam, tersusun dari:
 Bagian luar, terpigmentasi dan menyimpan vitamin A
 Bagian dalam, terdapat sel batang (berpigmen 110acula110e110,
tidak 110acula110e110 terhadap warna) dan sel kerucut
(berpigmen iodopsin, 110acula110e110 terhadap warna).
 Lutea 110acula
 Fovea sentralis (bintik kuning). Jika bayangan benda tepat jatuh di
bintik kuning, bayangan akan terlihat jelas.
 Saraf mata, terhubung di sisi superior kelenjar hipofisis.
 Bintik buta, bagian yang tidak mengandung fotoreseptor.

110

1). Mekanisme Melihat
 Cahaya yang dipantulkan oleh benda ditangkap mata, menembus kornea
dan pupil.
 Inttensitas cahaya diatur oleh pupil, lalu cahaya diteruskan menembus lensa
mata ke retina.
 Daya akomodasi mata mengatur cahaya agar tepat jatuh di bintik kuning
retina.
 Impuls cahaya disampaikan saraf 111acul ke otak.
 Cahaya akan diinterpretasikan sehingga kita bisa mengetahui apa yang kita
lihat.

Titik jauh: jarak benda terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas.
Titik dekat: jarak benda terdekat yang masih dapat dilihat dengan jelas.

2). Adaptasi terhadap Gelap dan Terang, adalah penyesuaian penglihatan secara
otomatis terhadap intensitas cahaya yang memasuki retina saat bergerak dari tempat
gelap ke tempat terang, atau sebaliknya. Dalam cahaya terang, semua
111acula111e111 akan terurai dengan cepat dan hanya tersisa sedikit. Berpindah
tempat dari terang ke gelap akan membutuhkan waktu untuk menyintesis ulang
111acula111e111 agar dapat melihat jelas pada kondisi gelap. Sintesis
111acula111e111 dan iodopsin perlu vitamin A. Pupil akan melebar dalam ruang
gelap dan menyempit dalam ruang terang.

3). GANGGUAN/KELAINAN MATA

 Miopia (rabun dekat)
 Hipermetropia (rabun jauh)
 Presbiopia
 Kebutaan
 Kerabunan
 Rabun senja
 Buta warna
 Katarak
 Astigmatisma
 Mata juling (strabismus)

111

B. Indra Pembau (Hidung)
Hidung memiliki kemoreseptor olfaktori untuk menerima rangsangan berupa bau atau zat
kimia yang berbentuk gas. Epitelium olfaktori mengandung sel penunjang, sel basal, dan
sel olfaktori. Mekanisme mencium bau: gas masuk ke hidung → larut pada selaput
mukosa merangsang silia sel reseptor → rangsangan diteruskan ke otak untuk diolah
→ jenis bau dapat diketahui.
Gangguan indra pembau: hiposmia dan anosmia, hiperosmia, sinusitis, dan polip.

C. Indra Pengecap (Lidah)
Lidah memiliki kemoreseptor berupa kuncup pengecap yang terdapat pada 112acula112
lidah langit-langit lunak, 112acula112e112112, dan faring.
Bentuk 112acula112: filiformis (kerucut), fungiformis (bulat), sirkumvalata (menonjol
dan tersusun seperti huruf V), dan 112acula112 (seperti daun).
Area kepekaan rasa:
 Rasa manis, di ujung lidah.
 Rasa asin, reseptor banyak di bagian samping.
 Resa asam, bagian samping lidah agak ke belakang.
 Rasa pahit, bagian belakang pangkal lidah.

D. Indra Pendengar (Telinga)
Telinga berfungsi sebagai indra pendengar yang mampu mendeteksi gelombang
bunyi/suara, serta berperan penting dalam keseimbangan dan menentukan posisi tubuh.
1. Struktur telinga, meliputi :

112

 Telinga luar: pinna/aurikula (daun telinga) dan 113acula113e
113acula113e (gendang pendengar).

 Telinga tengah: tabung Eustachius (penghubung telinga dengan faring,
berfungsi menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi 113acula113e
113acula113e) dan osikel auditori (tulang pendengaran maleus (martil),
inkus (landasan), dan stapes (sanggurdi)).

 Telinga dalam: labirin tulang (terbagi menjadi vestibula (mengandung
reseptor keseimbangan tubuh), kanalis semisirkularis (tiga saluran
setengah lingkaran), dan koklea (mengandung reseptor pendengaran)) dan
labirin membranosa (terdiri dari utrikulus dan sakulus yang dihubungkan
oleh duktus endolimfa).

2. Mekanisme Mendengar
Gelombang bunyi ditangkap daun telinga → ke kanal auditori eksternal →
membantuk getaran pada 113acula113e 113acula113e → ke osikel auditori → ke
fenestra 113acula113e113 → terbentuk gelombang tekanan pada perilimfa skala
113acula113e113 → ke skala timpani → getaran pada 113acula113e basilar →
sel-sel rambut melengkung → memicu impuls saraf → ke serabut saraf
vestibulokoklear (CN VIII) → ke korteks auditori di otak → bunyi
diinterpretasikan.

3. Peranan Telinga dalam Keseimbangan (Ekuilibrium)
 Ekuilibrium statis : kesadaran akan posisi kepala terhadap gaya gravitasi
jika tubuh diam. Reseptor yang berperan: 113acula pada dinding utrikulus
dan sakulus. Makula terdiri atas sel penunjang dan sel rambut. Kumpulan
sel rambut membentuk masa gelatin yang mengandung otolit. Jika posisi
kepala tegak lurus, otolit berada di puncak sel rambut. Jika kepala miring
arah otolit berubah dan sel rambut melengkung aktivasi sel reseptor
ke saraf vestibulokoklear.
 Ekuilibrium dinamis : kesadaran akan posisi kepala saat merespons
gerakan. Reseptor yang berperan: ampula yang berisi krista, pada duktus
semisirkular. Krista terdiri atas sel penunjang dan sel rambut yang
menonjol membentuk lapisan gelatin kupula

4. Gangguan Indra Pendengar
 Tuli (tuna rungu)
 Furunkulosis
 Otitis media
 Mastoiditis

113

E. Indra Peraba (Kulit)
Kulit sebagai indra peraba memiliki beberapa reseptor sensor untuk mentransduksi
stimulus dari lingkungan menjadi impuls saraf. Reseptor sensor pada kulit, sebagai
berikut.
 Korpuskula Paccini, mendeteksi tekanan yang dalam (kuat) dan getaran.
 Korpuskula Meissner, mendeteksi sentuhan.
 Cakram Merkel, mendeteksi sentuhan dan sebagai reseptor raba yang
beradaptasi lambat.
 Korpuskula Ruffini, reseptor tekanan dan tegangan di sekitar jaringan ikat.
 Ujung bulbus Krause, mendeteksi tekanan sentuhan, kesadaran posisi, dan
gerakan.
 Ujung saraf bebas, mendeteksi rasa nyeri, sentuhan ringan, dan suhu
(panas/dingin).

114

BAB 10
SISTEM REPRODUKSI
A. Jurnal Belajar
Pada pembelajaran hari ini, kami kembali melaksanakan pembelajaran Biologi
melalui Google Meet, kali ini Bu Puspa akan menyelesaikan semua materi BAB 9
mengenai sistem reproduksi hari ini, karena waktu yang sudah tersisa sedikit. Bu Puspa
menjelaskan sistem reproduksi laki-laki dan sistem reproduksi perempuan. Bu Puspa juga
membahas mengenai menstruasi, ibu menyusui dan juga Keluarga Bencana (KB).

115

BAB 11

SISTEM PERTAHANAN TUBUH

A. Jurnal Belajar

Pada pembelajaran hari ini, kami kembali melaksanakan pembalajaran Biologi
melalui Google Meet, dan membahas bab terakhir yaitu mengenai sistem pertahanan
tubuh. Bu Puspa menjelaskan mulai dari fungsi sistem sampai mekanisme pertahanan
tubuh, kemudian ada pertahanan spesifik, dan lainnya.

116

REFLEKSI

Peristiwa

Pembelajaran Biologi selama setahun ini kami diminta untuk menulis jurnal dan mengerjakan
tugas-tugas potofolio yang diminta Bu Puspa. Tugas-tugas ini dikerjakan dengan cara diketik
kemudian jika sudah selesai kirim ke Google Classroom untuk dinilai. Selama pengerjaan tugas
kami juga bisa menuangkan kreativitas dalam tugas-tugas yang diberikan.

Perasaan

Perasaan yang penulis rasakan dalam pengerjaan tugas portofolio ini pastinya tidak menentu
karena ada rasa senang, sedih dan lainnya, apalagi kalau sudah banyak tugas pasti muncul rasa
yang namanya “malas”, tetapi hal tersebut tidak menghalangi penulis untuk menyelesaikan
tugasnya. Memang pertamanya pasti malas, tetapi ketika sudah dikerjakan pelan-pelan hingga
selesai rasanya sangat lega dan sudah merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas.
Rasa inilah yang membuat penulis senang.

Pembelajaran

Pembelajaran dari pembuatan jurnal dan tugas-tugas portofolio ini tentu banyak manfaat yang
dapat diambil, karena hal inilah yang dibutuhkan untuk pembelajaran di tingkat selanjutnya.
Tidak hanya jurnal dan tugas-tugas portofolio tetapi seperti tugas menganalisis dan laporan-
laporan juga sangat bermanfaat bagi kami.

Perubahan

Perubahan yang penulis rasakan dalam penyelesaian tugas jurnal dan portofolio ini, menjadi
lebih rajin dalam mengerjakan tugas dan mengetahui fitur-fitur yang ada di aplikasi Microsoft
Word, dan hal-hal baru yang dapat menyelesaikan tugas tugas ini. Dengan hal ini pastinya akan
membantu penulis untuk di jenjang selanjutnya.

117


Click to View FlipBook Version